Anda di halaman 1dari 4

Jainul Rahmat A 17.201.29.

0471
M Handoko 17.201.29.0458 Tata kelola etis dan perusahaan
Indah Puji L 17.201.29.0454

Pemegang saham dan para pemangku kepentingan lainnya menaruh harapan besar
terhadap bisnis, direksi, eksekutif, dan akuntan profesional tentang apa yang dikerjakan dan
bagaimana cara mereka melakukannya. Pada saat yang sama, lingkungan tempat bisnis
beroperasi semakin kompleks sehingga hal tersebut menjadi tantangan etika bagi mereka.
Jika mereka sampai melakukan tindakan yang melanggar etika, maka hal tersebut dapat
menimbulkan risiko yang besar dan akan berpengaruh buruk bagi reputasi dan pencapaian
tujuan perusahaan secara keseluruhan. Jadi, sangat dibutuhkan sistem tata kelola perusahaan
yang menyediakan aturan serta akuntabilitas yang tepat untuk kepentingan pemegang saham
dan semua pemangku kepentingan lainnya.
Kerangka Tata Kelola dan Akuntabilitas Modern untuk Pemegang Saham dan Para
Pemangku Kepentingan Lainnya.
Kasus pelanggaran etika yang berujung pada kegagalan bisnis, audit, dan tata kelola
perusahaan berskala besar seperti Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom telah
mengakibatkan hilangnya kepercayaan investor terhadap perusahaan-perusahaan di Amerika.
Hal ini merupakan suatu bencana besar di lingkungan bisnis, dan telah menjadi pemicu
harapan baru dalam tata kelola dan akuntabilitas perusahaan. Menyikapi hal tersebut, para
politisi Amerika menciptakan kerangka tata kelola dan akuntabilitas baru yang dikenal
dengan Sarbanes-Oxley Act (SOX) yang bertujuan untuk memulihkan kembali kepercayaan
investor dan memfokuskan kembali tata kelola perusahaan pada tanggung jawab direksi
terhadap kewajiban fidusia mereka, yakni tanggung jawab terhadap kepentingan pemegang
saham dan para pemangku kepentingan lainnya.
Ancaman Bagi Tata Kelola dan Akuntabilitas yang Baik
Dalam menanggapi ancaman-ancaman yang terkait dengan tata kelola dan akuntabilitas
yang baik, maka suatu pedoman yang jelas sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan
mengatasi ancaman-ancaman tersebut. Tiga ancaman yang signifikan meliputi:
· Salah mengartikan tujuan dan kewajiban fidusia.
Misalnya pada kasus Enron, banyak direksi dan karyawannya percaya bahwa tujuan
perusahaan terpenuhi dengan baik oleh tindakan-tindakan yang membawa keuntungan jangka
pendek, sehingga perusahaan melakukan manipulasi untuk memperoleh keuntungan tersebut
yang ternyata berujung pada kehancuran perusahan tersebut.
· Kegagalan dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko etika.
Seiring dengan meningkatnya kompleksitas, volatilitas, dan risiko yang melekat pada
kepentingan dan operasi perusahaan, maka risiko harus dapat diidentifikasi, dinilai, dan
dikelola dengan hati-hati. Prinsipnya yaitu, risiko etika terjadi ketika terdapat kemungkinan
harapan stakeholder tidak terpenuhi. Menemukan dan memperbaikinya adalah sangat penting
untuk menghindari krisis atau kehilangan dukungan dari para pemangku kepentingan. Hal itu
dapat dilakukan dengan menetapkan tanggung jawab, mengembangkan proses tahunan, dan
tinjauan dari dewan organisasi.

· Konflik Kepentingan
Seluruh karyawan dan pimpinan perusahaan harus dapat menjaga kondisi yang bebas dari
konflik kepentingan. Konflik kepentingan terjadi ketika penilaian independen seseorang
menjadi goyah, atau ada kemungkinan goyah dalam membuat keputusan terkait dengan
kepentingan terbaik lainnya yang bergantung pada penilaian tersebut. Hal ini bisa saja terjadi
karena karyawan dan pimpinan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung
memiliki kepentingan pribadi dalam mengambil suatu keputusan yang seharusnya diambil
secara objektif, bebas dari keragu-raguan, dan demi kepentingan terbaik dari perusahaan.
Konflik kepentingan ini lebih dari sekedar bias, dimana dapat diukur dan disesuaikan. Jadi
karena ketidakjelasan sifat dan besarnya pegaruh, perhatian harus benar-benar diberikan pada
setiap kecenderungan yang menuju kepada bias.
Elemen Kunci dari Tata Kelola Perusahaan dan Akuntabilitas
ü Mengembangkan, Menerapkan, dan Mengelola Budaya Perusahaan Secara Etis
Direksi, pemilik, manajemen senior, dan karyawan semuanya harus memahami bahwa suatu
organisasi akan lebih bernilai jika mempertimbangkan kepentingan seluruh pemangku
kepentingannya, tidak hanya pemegang saham, dan dalam membuat keputusan
mempertimbangkan nilai-nilai etika yang tepat. Direksi dan para eksekutif harus cermat
dalam mengatur bisnis dan risiko etika perusahaannya. Mereka harus memastikan bahwa
budaya etis telah berjalan dengan efektif dalam perusahaan. Oleh karena itu, dibutuhkan
pengembangan kode etik sehingga dapat menciptakan pemahaman yang tepat mengenai
perilaku-perilaku etis, memperkuat perilaku-perilaku tersebut, dan memastikan bahwa nilai-
nilai yang mendasarinya melekat pada strategi dan operasi perusahaan. Hal-hal seperti
konflik kepentingan, pelecehan seksual, dan hal-hal serupa lainnya harus segera diatasi
dengan pengawasan yang memadai untuk menjaga agar budaya perusahaan tetap sejalan
dengan harapan saat ini.

ü Kode Etik Perusahaan


Kode etik dalam tingkah laku bisnis di perusahaan merupakan implementasi salah satu
prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Kode etik dapat didefinisikan sebagai mekanisme
struktural perusahaan yang digunakan sebagai tanda komitmen mereka terhadap prinsip-
prinsip etika. Mekanisme tersebut dipandang sebagai suatu cara yang efektif untuk
mendukung kebiasaan etika dalam menjalankan bisnis. Kode etik menuntut karyawan dan
pimpinan perusahaan untuk melakukan praktik-praktik etika bisnis terbaik dalam semua hal
yang dilakukan atas nama perusahaan. Jika prinsip tersebut telah mengakar di dalam budaya
perusahaan, maka seluruh karyawan dan pimpinan perusahaan akan berusaha memahami dan
berusaha mematuhi mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dalam aktivitas
bisnis perusahaan. Pelanggaran kode etik merupakan hal yang serius, bahkan dapat
dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.

ü Kepemimpinan Etika
Salah satu unsur penting dari tata kelola dan akuntabilitas perusahaan adalah “tone at the top”
dan peran pimpinan dalam membangun, membina, melaksanakan, dan memantau budaya
perusahaan yang diharapkan. Jika para pemimpin senior atau junior hanya bersuara untuk
menyatakan nilai-nilai yang diinginkan di dalam perusahaan, maka karyawan akan
mempertimbangkan hal tersebut sebagai suatu yang tidak patut diperhatikan. Meskipun
budaya formal organisasi menetapkan nilai tersebut, namun jika tidak didukung oleh budaya
informal maka hal tersebut hanya akan diangap sebagai suatu ocehan atau istilah lainnya
“window dressing”.

Kewajiban Direksi dan Pekerja


Tata kelola etika dan akuntabilitas perusahaan bukan hanya sekedar bisnis yang bagus,
namun merupakan suatu hukum. SOX Seksi 404 mengharuskan perusahaan meneliti
efektivitas sistem pengendalian internal mereka terkait dengan pelaporan keuangan. CEO,
CFO, dan auditor harus melaporkan dan menyatakan efektivitas tersebut. Pendekatan COSO
terkait dengan sistem pengendalian internal menjelaskan bagaimana cara suatu perusahaan
mencapai tujuannnya melalui 4 dimensi, yaitu strategi, operasi, pelaporan, dan kepatuhan.
Melalui 4 dimensi tersebut, kerangka manajemen etika melibatkan 8 unsur yang saling terkait
mengenai cara manajemen menjalankan perusahaan dan bagaimana mereka terintegrasi
dengan proses manajemen yang meliputi lingkungan internal, penetapan tujuan, identifikasi
kejadian, penilaian risiko, tanggapan terhadap risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan
komunikasi, dan pemantauan (monitoring).
Etika dan budaya etis perusahaan memainkan peran penting dalam penetapan
pengendalian lingkungan, dan juga dalam menciptakan manajemen risiko etika yang efektif
yang berorientasi pada sistem pengendalian internal dan perilaku yang dihasilkan. Oleh
karena itu, hal tersebut dapat menentukan “tone at the top”, kode etik, kepedulian pegawai,
tekanan untuk memperoleh tujuan yang tidak realistis, kesediaan manajemen untuk
mengabaikan pengendalian, kepatuhan dalam penilaian kinerja, pemantauan terhadap
efektivitas pengendalian internal, program “whistle-blowing”, dan tindakan perbaikan dalam
menanggapi pelanggaran kode etik.

Tolak Ukur Akuntabilitas Publik


Salah satu perkembangan terkini yang perlu dipertimbangkan oleh dewan direksi dan
manajemen ketika mengembangkan nilai-nilai, kebijakan, dan prinsip-prinsip yang mendasari
budaya perusahaan dan tindakan karyawan mereka adalah gelombang baru dalam
pengawasan pemangku kepentingan dan kebutuhan untuk transparansi dan akuntabilitas
publik. Jika direksi mampu mengenali dan mempersiapkan perusahaan mereka di era baru
dimana akan berhadapan dengan akuntabilitas para pemangku kepentingan yang efektif dan
juga sistem tata kelola yang beretika, mereka tidak hanya akan mengurangi risiko, tapi juga
akan menghasilkan keuntungan kompetitif dari perlanggan, karyawan, mitra, lingkungan, dan
para stakeholder lainnya yang tentunya menarik bagi pemegang saham. Intinya, direksi,
eksekutif, dan akuntan profesional harus fokus sepenuhnya terhadap pengembangan dan
pemeliharaan budaya integritas jika mereka ingin memuaskan harapan seluruh pemangku
kepentingannya.