Anda di halaman 1dari 10

GEREJA GKPB GALANG NING HYANG

Arsitektur Indonesia

27 DESEMBER 2017
UNIVERSITAS UDAYANA
Tahun Ajaran 2017 - 2018
ARSITEKTUR INDONESIA
GEREJA GKPB GALANG NING HYANG, ABIAN BASE

Dosen Pengampu:
Dr.Ir.Ni Ketut Ayu Siwalatri. MT.
Ni Luh Putu Eka Pebriyanti.ST., M.Sc.

Mahasiswa:
Putu Genta Ananda E.B 1605521033
Gustu Ketut Sanggrama AV 1605521048
I Gusti Gede Suma Arisudana 1605521049
A.A. Ngurah Agung Wicaksana 1605521068
Gwen Nathanael Kurnia Putra 1605521079
I Gede Putu Cahya Adi Legawa 1605521083

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
1. PENDAHULUAN
Definisi Gereja
Gereja GKPB Abian Base, kata gereja dalam bahasa Yunani (Ekklesia),
bahasa Inggris (Church) adalah suatu perkumpulan atau juga bisa dikatakan sebagai
lembaga dari penganut iman kristiani. Ada beberapa arti dari kata “Gereja”. Pertama
ialah umat atau lebih tepatnya persekutuan umat Kristiani. Arti kedua ialah sebuah
himpunan atau pertemuan ibadaah umat kristiani, bisa bertempat di rumah kediaman,
lapangan, ruangan pada hotel atau gedung serbaguna, maupun tempat rekreasi. Arti
ketiga ialah mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristiani, Gereja katolik,
Gereja Protestan, dan lain-lain. Arti keempat ialah lembaga (administratif). Arti
terakhir atau juga umum ialah sebagai tempat umat berdoa atau bersembahyang. Gerja
GKPB Abian Base ialah sebagai tempat ibadah umat katholik. Gereja ini berada di
jalan

Rumusan Masalah
1. Jenis arsitektur gereja yang digunakan pada Gereja GKPB Galang Ning Hyang
Jenis arsitektur yang di gunakan di Gereja GKPB Galang Ning Hyang ini adalah
menggunakan arsitektur neo-gotik.
Submasalah :
a. Apa perbedaan antara neo gotik dengan gotik ?
b. Mengapa gereja tersebut dikatakan menggunakan arsitektur neo gotik ?
2. Apa dasar penggunaan banyaknya bukaan jendela yang lebar pada gereja
Bangunan gereja dengan konsep yang memberi kelulassan pada cahya dalam
gedung gereja, Allah dipahami hadir dimana saja seperti cahaya.
3. Apa dasar penggunaan kaca bergambar / kaca patri warna ( Stained Glass )
pada bukaan jendela
Penggunaan stain glass pada arsitektur gereja ...... merupakan yang terindah
dari sumbangan gothik terhadap konsep cahaya adalah pemakaian stained glass adalah
sebagai pencerahan mistik.
4. Dasar penggunaan ragam ornamen dan dekorasi arsitektur bali pada gereja
5. Dasar dari perbedaan tinggi elevasi antara mimbar dan jemaat.
2. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Arsitektur Gothik dan Neo - Gothik

Gambar 1 : Gambar Fasad GKPB Ning Hyang

Arsitektur Gothik mulai berasal dan berkembang dari Perancis sekitar abad 13
hingga 16. Cirinya dapat kita kenali salah satunya dari seni atap dengan apsis
setengah lingkaran, apsis bertudung di jendela dan pintu mulai dibentuh sehingga
mempunyai kuncup seperti bawang.Ciri yang lain adalah bangunan dengan konsep
yang memberi keleluasaan cahaya dalam gedung gereja, Allah dipahami hadir di
mana saja seperti cahaya. Cahaya dihayati sebagai sifat ilahi. Interior gereja dibuat
dengan masuknya cahaya matahari secara estetis dengan sebutan struktur diafan,
artinya tembus cahaya (diaphanous = jernih, terang, bening). Bagian terindah yang
merupakan sumbangan Era Gothik terhadap konsep cahaya adalah pemakaian kaca
yang berwarna – warni yang disusun dalam motif rangka khusus menyerupai mozaik
membentuk gambar yang disebut stained glass sebagai pencerahan mistik. Abas
Suger (1081-1151) merupakan salah satu penggagas efek kaca pada benda-benda agar
kecerlangan dan kesan dirasakan di dalam gereja. Pada gereja juga terdapat dekorasi
dekorasi rumit berupa bentuk ukiran/stilir flora dan fauna yang digunakan pada
beberapa bagian gereja hal ini berbeda dengan arsitektur gereja pada saat masa Neo –
Gothik yang lebih mengikuti unsur simplifitas dari tatanan dekorasi arsitektur yang
berawal setalah masa Gothik, kemudian diikuti masa Rennaisans, Barok, dan Rokoko
yang melahirkan era baru bagi arsitektur gereja yaitu Era Neo Gothik. Perbedaan
utama langgam Neo - Gothik dan Gothik adalah kesederhanaan dekorasi bangunan,
terlihat dengan tidak adanya ukiran dan patung yang rumit. Neo - Gotik adalah
perpaduan dari Gotik, Noe Klasik dan Romantisme. Sedangkan pada zaman modern,
bentuk Gotik masih digunakan, namun lebih praktis. Gereja Katedral di Jakarta adalah
salah satu contoh aliran neo-gothik.
Alasan dibalik mengapa aliran arsitektur gereja yang dipakai merupakan
aliran Neo – Gothik.
Arsitektur gereja tersebut diatas mengikuti aliran neo – gothik karena ciri –
ciri sebagai berikut :
a. Arsitektur Neo – Gotik adalah bentuk aliran arsitektur Gotik yang mendapatkan
aspek simplifitas atau penyederhanaan sebagai bentuk pengaruh budaya
modern.
b. Pada arsitektur Neo – Gotik, semua ukiran rumit yang terdapat pada bagian
gereja digantikan dengan bentuk dekorasi cetakan / molding yang lebih
sederhana.
c. Transformasi bentuk gereja aliran neo – gotik yang lebih ramping karena
berkembangnya pemahaman modern tentang penggunaan konstruksi beton dan
kayu sebagai alternative konstruksi batualam ,sehingga bentuk penopang layang
dari batu alam bisa dihilangkan.

2.2. Dasar penggunaan banyaknya bukaan jendela yang lebar pada gereja
Gambar 2 : Bukaan yang lebar pada GKPB Ning Hyang

Bangunan bergaya Neo-Gotik menekankan vertikalitas dan ketinggian


bangunan dengan jendela kaca yang ssangat besar tersebut memiliki fungsi agar
cahaya lebih banyak masuk ke dalam bangunan. Jendela-jendela tersebut bersudut
lengkung patah (pointed arch) dan sangat dekoratif. Ornamen yang digunakan pada
bangunan Neo-Gotik berupa permainan molding (ornamen hias) yang lebih
sederhana dibandingkan dengan yang bergaya Gotik. Diantaranya gargoyle, yaitu
ornamen ukir makhluk imajiner dari batu atau kayu yang mereprensentasikan sosok
manusia atau binatang. Selain itu, pada pangkal pilar ada pula ornamen berbentuk
tumbuhan atau dedaunan yang disebut Foliage sculpture. Material yang digunakan
dalam gaya Neo-Gotik menggunakan maerial beton, kayu, dan konstruksi baja yang
memungkinkan bentuk bangunan menjadi lebih ramping. Penggunaan material ini
bukan hanya pada bangunan namun juga ornamen-ornamen bangunan.

2.3. Dasar penggunaan kaca bergambar / kaca patri warna ( Stained Glass ) pada
bukaan jendela
Gambar 3 : Stained Glass pada Jendela GKPB Ning Hyang
Kaca patri / stained glass merupakan sebuah bentuk karya seni berupa susunan
potongan potongan kaca beragam warna yang disusun menjadi sebuah pola gambar
yang kemudian ditempatkan pada bukaan dalam hal ini gereja. Peyusunan potongan
kaca tersebut dibuat dengan melekatkan potongan – potongan kaca pada bingkai baja
kaku lengkung menggunakan media timbal. Karya Seni Kaca Patri pada Gereja
memiliki nilai religius dengan memuat gambar – gambar yang menceritakan kejadian
– kejadian pada kitab injil bagi umat kristen. Penggunaan ragam warna yang kaya
ditujukan untuk menimbulkan kesan megah dan sinematik dan religius. Ukuran kaca
patri yang digunakan pada gereja pun memiliki dimensi bingkai gambar total yang
besar sehingga memudahkan cahaya yang dipercaya sebagai salah satu bentuk
kehadiran tuhan bagi umat kristen, dengan harapan segala kegiatan yang dilakukan
selalu diberkati dan diberikan karunia-Nya.

2.4. Dasar penggunaan ragam ornamen dan dekorasi arsitektur bali pada gereja
Penggunaan motif arsitektur bali pada bangunan gereja ini merupakan salah
satu bentuk akulturasi budaya antara budaya secara religi eropa dengan budaya bali
dari sisi arsitektur. Gereja ini dibangun dengan mengacu pada makna simbolis gunung
berapi. Bagi orang Bali, gunung berapi mempunyai arti yang sangat dalam dan
istimewa, dijadikan lambing kehidupan. Gunung adalah tempat air, udara bersih, dan
api. Berdasarkan filosofi ini, maka gereja ini dibangun dengan bentuk sebuah gunung,
yang diwujudkan sesuai dengan konsep Kristen. Umat Kristen menyembah Tuhan
Allah sebagai sumber kehidupan. Allah, pencipta, pemelihara, dan pengatur hidup
manusia. Dalam bangunan ini tampak secara nyata ketiga unsur sebagai sumber
kehidupan yang disediakan Allah, dengan dekorasi stilir yang memiliki bentuk kurva
yang mengalir pada gereja sebagai simbol air, udara dengan sirkulasi bebas tanpa
terhalang oleh tembok yang rapat sehingga udara bersih mengalir terus menerus ke
dalam ruangangereja, dan simbol api diwujudkan dari panas sinar matahari yang
langsung menembus kedalam gereja melalui kaca patri / stained glass pada yang
terdapat pada dinding bangunan utama gereja.

Gambar 4 : Bentuknya menyerupai Kori yang ada di Bali


2.5. Dasar dari perbedaan tinggi elevasi antara mimbar dan jemaat.
Mengapa terdapat elevasi antara posisi jemaat dan mimbar adalah sebagai
bentuk kemudahan aksesbilitas secara teknikal untuk menaikkan tingkat perhatian
kepada pendeta yang berbicara di mimbar. Selain itu tempat yang lebih tinggi pada
mimbar secara bentok normatif norma sosial berarti sebagai satu bentuk
penghormatan kepada pendeta yang jelas tingkatannya secara sosial lebih tinggi
daripada jemaat pada gereja dan ini juga berlaku pada norma susila karena seorang
pendeta lebih suci sehingga bentuk apresiasi religius posisi mimbar diletakkan lebih
tinggi daripada posisi tempat duduk jemaat.
3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gereja GKPB Galang Ning Hyang merupakan salah satu gereja katedral
kristen protestan di Bali yang mendapatkan pengaruh akulturasi budaya dari adat dan
kebudayaan setempat di daerah Badung Denpasar, yang dicerminkan dengan
penggunaan ragam dan filosofi arsitektur bali didalamnya seperti transformasi dan
adaptasi bentuk akses masuk masyarakat bali yaitu “ Kori “ kedalam bentuk akses
masuk utama dari gereja, kemudian penggunaan filosofi Panca Maha Butha dalam
kepercayaan umat Hindu yang ditranslasikan / analogikan dengan kepercayaan umat
kristen protestan. Walaupun banyak mendapat pengaruh budaya setempat, tetapi citra
gereja pada Gereja Galang Ning Hyang tidak hilang karena bentuk gereja ini sendiri
masih mempertahankan gaya arsitektur gereja gothik dan neo – gothik yang terletak
pada bentuk atap yang mengerucut tinggi pada menara lonceng, bentuk pointed arch
pada bukaan jendela maupun akses pintu utama, serta tetap mempertahankan
penggunaan kaca patri / stained glass berwarna sebagai bentuk dekorasi gereja pada
umumnya. Ini merupakan keunggulan dari fleksibilitas kepercayaan kristen protestan
yang mudah beradaptasi dengan budaya setempat dengan cara menggabungkan
budaya yang dalam hal ini budaya arsitektur sehingga rupa keseluruhan bangunan
gereja bisa selaras dengan bangunan sekitarnya pada daerah itu.