Anda di halaman 1dari 191

PERSPEKTIF TEORI POSTMODERN

TERHADAP PROBLEMA SOSIAL POLITIK


KONTEMPORER

Penulis :
Umi Salamah

Pengantar:
1. Prof. Dr. Wahyudi Winaryo, M.Si
2. Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd

Ilustrasi Gambar dan Sampul :


Wibisono

Diterbitkan oleh :
Penerbit KAFNUN
Anggota IKAPI No. ……….................
Alamat : ………………………………………
……………………………………….
……………………………………….

Cetakan Pertama, November 2015

Ukuran : 15 x 21 cm
Jumlah : xvii + 175 halaman
ISBN : ………………………………………….
Ketentuan Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
Undang-Undang Nomer 19 Tahun 2002
tentang Perubahan Undang-Undang Nomer 12 Tahun 1997
tentang Hak Cipta

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 2


Moto:
Bukan ilmu pengetahuan yang membuat

kerusakan dan kemiskinan, tetapi

ketidakseimbangan akal budi dalam

menerapkannya.

Untuk mencapai perdamaian dan

kemakmuran akal budi harus seimbang.

Jangan mendidik dengan akal saja, nanti

hanya bisa akal-akalan, bekali juga budi

pekerti yang sesuai agar menjadi pribadi

arif, pencerah peradaban.

Kuwariskan buku ini kepada:

Generasiku, mahasiswaku, dan pembaca yang


mencintai ilmu dan kebenaran.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 3


SEKAPUR SIRIH
Promotor

Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan


Mahakasih, yang telah memberikan spirit bagi
diterbitkannya buku yang berjudul: Perspektif Teori
Posmodern terhadap Problema Sosial-Politik
Kontemporer. Perasaan bangga dan bahagia tercurahkan
kepada Ibu Umi, yang dalam kesibukan penulisan penelitian
disertasi, masih mampu menuangkan hasrat akademiknya ke
dalam karya tulisan ilmiah ini. Meskipun harus diakui masih
terdapat beberapa kelemahan dalam penjelasan
epistemologis, namun karya ini tetap saja mempunyai
makna akademik yang signifikan. Lebih baik pernah
menuliskan gagasannya ke dalam karya tulisan meski belum
sempurna, daripada tidak pernah berbuat sama sekali. Tidak
ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, no one perfect,
termasuk di dalamnya karya buku ini.
Buku yang bergenre posmo ini merupakan hasil
dekonstruksi dan rekonstruksi Sang Penulis terhadap
beberapa perspektif posmodern yang dikontekstualisasikan
dengan realita di Indonesia. Meskipun buku ini tidak
mewakili seluruh gagasan posmodern, namun karya ilmiah
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 4
ini patut menjadi dukungan bacaan bagi siapa saja yang
bermaksud mendalami pemikiran-pemikiran posmodernism,
khususnya yang ditautkan dengan dinamika persoalan sosial
politik kontemporer di Indonesia.
Mempelajari, mengkaji, mendalami, dan merenungi
teori posmodern adalah sesuaatu yang menggairahkana. Kita
akan terbuai mimpi, terbawa obsesi, dan terdorong untuk
bersikap dan/atau berperilaku yang praksis-emansipatoris
sebagaimana digagas oleh Karl Marx ataupun kaum
Marxian umumnya. Namun lacur apa yang mau dikata,
arena kehidupan modern seperti yang kita alami bersama
ini, telah menggurita habis-habis-an sisi humanitas kita.
Seolah tiada lagi lubang sekecil apapun untuk kita bisa
keluar dari jebakan modernitas si biang persoalan kehidupan
itu. Sang Powerless tidak pernah bisa menjadi aktor bagi
dirinya. Mereka tersubordinasi, terkooptasi, tereksploitasi,
terhegemoni, terkomodifikasi, teralienasi, dan terjajah oleh
Sang Strong Power, yang bisa mengejawantah dalam wujud
kapitalisme dengan segala derivasinya yang embeded pada
market, global impersonal system, demokrasi, serta tata
sistem kehidupan lainnya.
Memperhatikan nasib Sang Powerless yang terpuruk
sebagaimana digambarkan di atas, teori posmodern
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 5
bermaksud membangkitkan kembali visi-misi pencerahan
yang semula diembankan amanahnya pada peran fungsional
ilmu pengetahuan. Teori-teori posmo bergandengan tangan
untuk menagih ikrar suci ilmu pengetahuan yang dulunya
hendak menjadi bagian dari cara manusia dalam
memecahkan persoalan nyata kehidupannya. Teori-teori
posmo ingin membawa kembali agar rasio benar-benar
dapat membebaskan manusia, bukan malah menghamba
pada ‘kekuasaan’ yang senantiasa menghisap darah Sang
Powerless. Teori-teori posmo bertekad mendorong setiap
subyek menjadi otonom, independen atas dirinya sendiri,
serta atas keyakinan dan perspektif sendiri. Teori-teori
posmo menggugah kesadaran humanis terdalam setiap
subyek agar menggunakannya secara optimal sehingga tidak
menjadi sosok lemah yang selalu dipaksa, terpaksa, dan
dibuat terbiasa oleh hasrat penjajang Sang impersonal
systems yang tidak manusiawi itu.
Dalam keyakinan posmodern, setiap ilmu
pengetahuan mengemban misi yang mulia, dan tidak
sekedar selebar perspektif grand narative sebagaimana kita
jumpai dalam naskah-naskah agama, filsafat, serta teori-
teori besar di abad modern ini. Eksemplar yang terpapar
dalam narasi besar tersebut telah terkontaminasi oleh vested
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 6
interest Sang Penyampai yang absurd. Banalitas ilmu
pengetahuan tersebut telah menjadi materi inti gugatan
teori-teori posmodern. Teori-teori posmo menolak keras
industrialisasi ilmu pengetahuan yang sejauh ini telah
mencampakkan sisi humanitas Sang Pewaris Sah Pemimpin
di muka bumi, manusia.
Semoga buku ini, mampu menjadi salah satu pilar
visi-misi teori posmodern.

Malang, Nopember 2015


Promotor,

Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si


Email: wahwahyudi@yahoo.com

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 7


Pengantar Buku Perspektif Teori Postmodern
terhadap Problema Sosial-Politik Kontemporer
Guru Besar Universitas Negeri Malang

Saat manusia berada dalam kungkungan alam,


pemikirannya sangat sederhana. Kebiasaan dan peralatan
yang mereka gunakan pun hanya untuk mempertahankan
diri agar biasa hidup dari alam. Begitu mereka bisa
mengelola alam, kebiasaan mengelola benda-benda yang
mereka hasilkan menjadi tidak sederhana lagi. Pola pikir
mereka dalam mengelola alam menjadi semakin teratur dan
lebih bijak. Keselarasan dengan alam pun dijaga dengan
baik, hingga tiba masa revolusi industri.
Munculnya revolusi industri membuat manusia
berpikir efektif dan efisien. Kecepatan menjadi obsesi.
Kendaraan berlomba adu cepat, produksi, pengiriman, dan
penjualan barang harus serba cepat, bekerja pun dituntut
harus cepat.
Revolusi industri berpengaruh pada cara pandang
manusia di berbagai sisi kehidupan: ilmu pengetahuan, mata
pencarian, teknologi, seni kerajinan, arsitektur, bahkan
sistem pemerintahan. Rasionalitas menjadi tumpuan.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 8


Kapitalisme dan industrialisme tidak bisa
dihindarkan. Semuanya diukur dengan uang, semuanya
menjadi lahan industri. Kelas sosial antara pemilik modal
dan buruh semakin nyata terbelah.Tidak hanya melirik milik
tetangga, mereka juga ekspansi ke negara tetangga. Hingga
menyuburkan niat dan hasrat untuk menjajah. Hal inilah
yang memunculkan pemikiran modern.
Dalam alam pikiran modern, semua yang bersifat
tradisional, pelan, harmonis, emosional, irasional,
ditinggalkan. Mereka beralih pada hal-hal yang bersifat
praktis dan pragmatis. Baik disadari maupun tidak,
kebudayaan lama mulai ditinggalkan dan berubah bentuk.
Penghancuran dan kehancuran nilai-nilai budaya luhur, situs
kebudayaan, kearifan lokal, adat istiadat, norma, kebiasaan,
pola kebiasan, benda budaya, seni, kerajinan, arsitektur,
tatanan bermasyarakat, tatanan keluarga, terjadi pada semua
negara. Hal inilah yang menimbulkan keprihatinan tokoh-
tokoh pascamodernisme.
Munculnya penikiran pascamodernisme ini cukup
beragam. Bahkan, ada pemikiran dalam pascamodernisme
yang sulit dipertemukan, misalnya Lyotard dan Geldner,
berpendapat bahwa pascamodernisme merupakan
pemutusan secara total dari modernisme. Derrida, Foucault
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 9
dan Baudrillard menyatakan bahwa pemikiran ini
merupakan bentuk radikal dari kemodernan yang akhirnya
mengarah ke teori yang sulit diseragamkan. David Graffin
berpendapat bahwa pascamodernisme adalah hubungan
beberapa aspek dari moderinisme. Sementara itu, bagi
Giddens, pascamodernisme adalah bentuk modernisme yang
sudah sadar diri dan menjadi bijak. Habermas berpendapat
bahwa pemikiran ini merupakan satu tahap dari modernisme
yang belum selesai.
Sudah ada beberapa buku yang ditulis tentang
pascamodernisme baik dalam bahasa asing maupun dalam
bahasa Indonesia. Sayangnya, pemikiran pascamodernisme
yang lumayan perlu perenungan ini sering sulit dipahami
karena disampaikan dengan bahasa yang tidak lugas dan
contoh yang tidak akrab dengan pembacanya di Indonesia.
Di tengah keingintahuan orang tentang pasca-
modernisme, buku Umi Salamah ini juga menyajikan
pascamodernisme mulai dari pengertian, sejarah; tokoh
tokoh pascamodernisme beserta pemikiran mereka;
hubungan pascamodernisme dengan strukturalisme dan
poststrukturalisme; postmodern sebagai kerangka berpikir
kajian sosiologis. Yang membedakan dengan buku lain
adalah cara penyajiannya. Buku ini dikemas dengan bahasa
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 10
yang mengalir dan mudah untuk dipahami. Buku ini
semakin menarik karena menggunakan contoh-contoh yang
digunakan untuk menjelaskan konsep pemikiran dengan
contoh konkret berupa puisi dan peristiwa nyata yang bisa
kita pahami dalam keseharian kita. Saya banyak belajar dari
buku ini karena peristiwa yang selama ini remang-remang
ternyata bisa dijelaskan dengan gamblang dalam buku ini.
Buku ini menyajikan pemikiran pascamodernisme dengan
rasa Indonesia.

Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd


Email: wahyudisiswantofsum@gmail,com

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 11


PENGANTAR DARI PENULIS
Fenomena masalah sosial yang terjadi di zaman
kontemporer saat ini sangat unik dan beragam.Teori
modernis yang mengandalkan rasio tidak akan mampu
memecahkan masalah sosial yang sangat unik, seperti makin
maraknya dunia pencitraan dalam media masa, makin
pesatnya teknologi dalam menampilkan film dunia fantasi,
ilusi, dan intuisi, dan hubungan sek dengan produktivitas
karya. Teori modernis yang bersifat universal juga tidak
mampu menjelaskan berbagai fenomena sosial yang sangat
beragam, di antaranya perbedaan persepsi terhadap
peristiwa sosial, perbedaan sudut pandang konteks historis
dan sosial, serta berbagai temuan rekayasa teknologi.
Sehubungan dengan itu, prinsip homologi (kesatuan
ontologis) dalam teori modernisme harus didelegitimasi oleh
paralogi (pluralisme) yang menjadi substansi teori Postmo
dengan tujuan agar kekuasaan, termasuk kekuasaan oleh
ilmu pengetahuan, tidak lagi jatuh pada sistem totaliter yang
biasanya bersifat hegemonik dan pro status-quo.
Dalam disiplin sosiologi terdapat nama Norman
Denzin dengan kajian film dan Pierre Bourdieu dengan
theatrum politicum. Dan dalam wilayah filsafat terdapat

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 12


nama Jean Francois Lyotard dengan konsep paralogi,
disensus dan delegitimasi, Jacques Derrida dengan
dekonstruksi, Michel Foucault dengan kajian tentang
arkeologi pengetahuan, genealogi sejarah seksualitas dan
teknologi kekuasaan, serta Jean Baudrillard dengan kajian
budaya tentang dunia simulasi, hiperrealitas, simulacra dan
dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realitas
kebudayaan dewasa ini (Featherstone, 1988:196).
Kesemarakan dan kegairahan kepada tema
postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah
pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai
reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme
yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan
menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas
(Rosenau, 1992:10).
Alhamdulillah, akhirnya buku kecil tentang
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial-
Politik Kontemporer, ini dapat diwujudkan. Ucapan terima
kasih dan penghargaan yang setingi-tingginya disampaikan
kepada Bapak Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si,
pembimbing matakuliah pendalaman Teori Disertasi yang
dengan sabar dan runtut memberikan arahan penulisan ini.
Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kesejahteraan,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 13
dan kebahagiaan kepada Beliau dan keluarga. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepaad Prof. Dr. H. Wahyudi
Siswanto, M.Pd yang telah ikhlas membaca dan
memberikan pengantar buku ini, semoga Allah juga selalu
memberikan rahmat dan ridla-Nya kepada Beliau dan
keluarga.
Dalam buku kecil ini, dibahas Perspektif Posmo
dalam kajian Sosial-Politik saat ini dengan bahasa yang
sederhana, sehingga mudah dipahami. Sebutan istilah
postmodern (posmo) dalam buku ini menyiratkan adanya
perkembangan pasca teori modern. Gagasan ini
menggambarkan sesuatu yang paling akhir dan yang paling
baru. Hal ini disebabkan oleh pergeseran teori yang
dianggap ada masalah dengan modernitas. Inilah yang ingin
ditunjukkan dan dijelaskan oleh pakar postmo.
Meskipun demikian, dalam teori sosiologi, teori
modern dan teori klasik masih tetap penting dalam disiplin
ini. Akan tetapi postmo makin besar pengaruhnya atas teori
sosiologi, karena teori posmo paling dekat dengan
kemanusiaan dan dapat menjawab berbagai fenomena
keunikan dan keragaman di bidang sains, budaya, ilmu
pengetahuan dan tekologi saat ini. Diharapkan oleh teoretisi

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 14


sosiologi, teori posmo akan menjadi teori yang paling
terbuka terhadap kajian masalah sosial kontemporer saat ini.
Untuk mengetahui teori posmo lebih lanjut, dalam
buku kecil ini akan dibahas enam halyang berkaitan dengan
ihwal posmo. Yang pertama dibahas sejarah postmo, kedua
dibahas huhungan pandangan strukturalis, poststrukturalis,
dan posmo, ketiga dibahas postmo sebagai kerangka
berpikir kajian sosiologis, keempat tokoh-tokoh postmo dan
pemikirannya, kelima dibahas kekuatan teori Postmo, dan
keenam dibahas epilog penulis sebagai penutup buku ini.
Semoga buku kecil yang disampaikan dengan bahasa
yang lantur dan sederhana ini dapat menambah pemahaman
terhadap teori Postmo, khususnya dalam ilmu sosial dan
politik. Ibarat tidak ada gading yag tak retak, kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan dari para
pembaca yang bijak untuk perbaikan tulisan ini.

Malang, November 2015


Penulis,

Umi Salamah
Email: yumasumi1908@gmail.com

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 15


DAFTAR ISI

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........ ii


PENGANTAR PROMOTOR .................................... iii
PENGANTAR GURU BESAR UNIVERSITAS
NEGERI MALANG .................................................... vii
PENGANTAR PENULIS ........................................... xi
DAFTAR ISI ............................................................... xv
DAFTAR TABEL ....................................................... xvii
DAFTAR GAMBAR .................................................. xvii
BAB I SEJARAH POSTMODERN .............. 1
BAB II HUBUNGAN PANDANGAN
STRUKTURALIS,
POSTSTRUKTURALIS, DAN
POSTMODERN …............................. 14
A. Strukturalisme ………………..… 14
B. Post – Strukturalisme ………....... 20
C. Hubungan konseptual antara
Strukturalis dengan Post –
Strukturalis ………………...…… 28
D. Perbedaan Modern dan
Postmodern (Posmo) ……........… 33
BAB III POSTMODERN SEBAGAI
KERANGKA BERPIKIR
KAJIAN SOSIOLOGIS ..................... 40
BAB IV TOKOH-TOKOH POSTMODERN
DAN PEMIKIRANNYA ................... 61
A. JACQUES DERRIDA ………….. 61
1. Biografi Jacques Derrida .............. 61
2. Pemikiran Jacques Derrida
tentang Postmodern ...................... 64
3. Skema Pemikiran Jacques
Derrida ....................................... 75
B. JEAN FRANCOIS LYOTARD ... 76
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 16
1. Biografi Jean-François Lyotard.... 76
2. Pemikiran Jean-François Lyotard
tentang Postmodern ..................... 77
3. Skema Pemikiran Jean-François
Lyotard ......................................... 88
C. MICHEL FOUCAULT ………… 89
1. Biografi Michel Foucault ............. 89
2. Pemikiran Michel Foucault
tentang Postmodern ...................... 90
3. Skema Pemikiran Michel
Foucault ........................................ 98
D. BAUDRILLARD ………..…....... 99
1. Biografi Baudrillard ..................... 99
2. Pemikiran Baudrillard tentang
Postmodern ................................... 101
3. Skema Pemikiran .......................... 116
E. PIERRE BOURDIEU .………….. 118
1. Biografi Bourdieu ......................... 118
2. Pemikiran Bourdieu tentang
Postmodern ................................... 120
3. Skema Pemikiran Baourdieu ........ 132
F. JACQUES MARIE ÉMILE
LACAN ………………................ 134
1. Biografi Jacques Marie Émile
Lacan ............................................ 134
2. Pemikiran Jacques Marie Émile
Lacan tentang Postmodern .......... 137
3. Skema Pemikiran Jacques Marie
Émile Lacan .................................. 150
BAB V KEKUATAN POSTMODERN .......... 155
BAB VI EPILOG .............................................. 160
REFERENSI ……………...……................................. 169

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 17


DAFTAR TABEL

TABEL 2.1 Perbedaan Strukturalis dengan


33
Poststrukturalis .........................................

TABEL 2.2 Perbedaan Modernisme dengan


38
Postmodernisme .......................................

TABEL 4.1 Pemikiran Modernism versus Pemikiran


87
Postmo Lyotard

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 4.1 Skema Pemaknaan Teks Dekonstruksi


75
Derrida ………...........

GAMBAR 4.2 Skema Pemikiran Lyotard ………... 88

GAMBAR 4.3 Skema Pemikiran Foucault ………. 98

GAMBAR 4.4 Skema Pemikiran Baudrillard ........... 116

GAMBAR 4.5 Skema Pemikiran Bourdieu ............. 132

GAMBAR 4.6 Skema Pemikiran Lacan ................... 150

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 18


BAB I
SEJARAH POSTMODERN

Turner (2010) menjelaskan sejarah teori Postmodern


berawal dari Miletos, kota kecil di gugusan kepulauan
Yunani abad ke-6 SM yang merupakan tempat bermulanya
cerita besar tentang penaklukan alam oleh manusia. Di kota
itulah bermula runtuhnya mitos-mitos arkhaik tentang alam
yang berupa dongeng, fabel dan kepercayaan. Sejak saat itu
manusia melakukan pemberontakan dari kungkungan
kebudayaan mitologis dan mulai menggunakan akalnya
untuk menjelaskan dunia.
Sejarah penaklukan alam yang berdasarkan
pandangan akal pikiran kemudian bergulir. Sokrates, filsuf
besar Yunani, mempertegas usaha ini dengan semboyannya
yang sangat terkenal, “Kenalilah dirimu sendiri”. Salah
seorang murid Sokrates, Plato, seraya menggemakan
pemikiran sang guru, menarik garis lebih tajam mengenai
konsep manusia. Menurut Plato, manusia terdiri atas tiga
tingkatan fungsi yakni, tubuh (epithymia), kehendak
(thymos) dan rasio (logos). Rasio adalah tingkatan tertinggi,
sekaligus mengatur dan melingkupi fungsi-fungsi yang lain.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 19


Pandangan Plato tentang manusia ini membawanya pada
konsepsi negara ideal yang dianalogkan dengan tingkatan
fungsi dalam diri manusia. Pertama, para pemimpin (analog
dengan rasio), kedua, para prajurit (analog dengan
kehendak), dan ketiga, para petani dan tukang (analog
dengan tubuh) (Santoso, 2009:43-44). Dengan konsepsi
seperti ini Plato memperteguh keyakinan subjektivitas
manusia dengan konstruksi kebudayaan (negara) yang
berpijak pada rasio.
Sejarah filsafat berikutnya bergulir sampai pada satu
titik yang memiliki makna penting bagi kelahiran era
modernitas. Dipicu oleh gerakan humanisme Italia abad ke-
14 M, Renaisans lahir sebagai jawaban terhadap kebekuan
pemi-kiran abad pertengahan. Renaisans yang berarti
kelahiran kembali, membawa semangat pembebasan dari
dogma agama yang beku selama abad pertengahan.
Semangat pembebasan yang dibawa Renaisansyaitu
keberanian menerima dan menghadapi dunia nyata;
keyakinan menemukan kebenaran dengan kemampuan
sendiri; kebangkitan mempelajari kembali sastra dan budaya
klasik; serta keinginan mengangkat harkat dan martabat
manusia (Santoso, 2009:11-12). Makna penting Renaisans
dalam sejarah filsafat Barat adalah peranannya sebagai
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 20
tempat persemaian benih pencerahan abad ke-18 M yang
menjadi embrio kebudayaan modern.
Seorang filsuf besar yang menjejakkan pengaruhnya
pada masa ini adalah Rene Descartes, Bapak Rasionalisme,
sekaligus arsitek utama filsafat modern. Dengan
mengadopsi dan mensintesiskan pemikiran filsuf-filsuf
sebelumnya, Descartes membangun metode pengetahuan
yang berlaku untuk setiap bentuk pengetahuan. Menurutnya,
kepastian kebenaran dapat diperoleh melalui strategi
kesangsian metodis. Dengan meragukan segala sesuatu,
Descartes ingin menemukan adanya hal yang tetap yang
tidak dapat diragukan. Itulah kepastian bahwa “Aku sedang
ragu-ragu tentang segala sesuatu”. Rumusan terkenal dari
pemikiran Descartes ini adalah diktum, “Cogito ergo sum”
artinya “Aku berpikir maka aku ada”. Dengan diktum ini,
rasio diyakini mampu mengatasi kekuatan metafisis dan
transendental. Kemampuan rasio inilah yang menjadi kunci
kebenaran pengetahuan dan kebudayaan modern.
Sejarah kematangan kebudayaan modern selanjutnya
ditunjukkan oleh pemikiran dua filsuf Jerman, yaitu
Immanuel Kant dan Frederich Hegel. Melalui kedua pemikir
inilah nilai-nilai modernisme ditancapkan dalam alur sejarah
dunia, yakni Kant dengan ide-ide absolut yang sudah terberi
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 21
(kategori) dan Hegel dengan filsafat identitas (idealisme
absolut) (Sugiharto, 2007). Konstruksi kebudayaan modern
kemudian tegak berdiri dengan prinsip-prinsip rasio, subjek,
identitas, ego, totalitas, ide-ide absolut, kemajuan linear,
objektivitas, otonomi, emansipasi serta oposisi biner.
Sejarah pemikiran dan kebudayaan yang dibangun
di atas prinsip-prinsip modernitas selanjutnya masuk ke
berbagai bidang kehidupan. Seni modern hadir sebagai
kekuatan emansipatoris yang mengantar manusia pada
realitas baru (Turner, 2003). Sementara itu dalam dunia ilmu
dan kebudayaan, modernitas ditandai dengan berkembang-
nya teknologi yang sangat pesat, penemuan teori-teori fisika
kontemporer, kejayaan kapitalisme lanjut, konsumerisme,
merebaknya budaya massa, budaya populer, maraknya
industri informasi, televisi, koran, iklan, film, internet,
dan berkembangnya konsep nation-state (negara-bangsa),
demokratisasi, dan pluralisme.
Meskipun demikian, dalam penampilannya yang
mutakhir tersebut, modernisme mulai menampakkan
kekurangan-kekurangannya, yakni penuh kontradiksi
ideologis dan justru melahirkan berbagai patologi
modernisme. Sejak kemenangan Amerika dan para
sekutunya dalam Perang Dunia II (Heryanto, 1994:80),
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 22
modernisme bercorak monoton, positivistik, teknosentris
dan rasionalistik; fanatik pada kemajuan sejarah linear,
kebenaran ilmiah yang mutlak, kecanggihan rekayasa
masyarakat yang diidealkan, serta pembakuan secara ketat
pengetahuan dan sistem produksi, sehingga tidak lagi kaya
watak seperti saat awal kelahirannya.
Unsur-unsur utama modernisme adalah rasio, ilmu,
dan antropo-morphisme, yang justru menyebabkan reduksi
hakekat manusia. Memang benar, di satu sisi modernisme
telah memberikan sumbangannya terhadap bangunan
kebudayaan manusia dengan paham otonomi subjek,
kemajuan teknologi, industrialisasi, penyebaran informasi,
penegakan HAM serta demokratisasi. Akan tetapi, di sisi
lain modernisme juga telah menyebabkan lahirnya berbagai
patologi, yakni dehumanisasi, alienasi, deskriminasi,
rasisme, pengangguran, jurang perbedaan kaya dan miskin,
materialisme, dan konsumerisme. Berbagai patologi inilah
yang menjadi alasan penting gugatan pemikiran postmo
terhadap modernisme. Dengan demikian, Posmo lahir
sebagai bentuk jawaban terhadap kekurangan-kekurangan
teori modern.
Jejak-jejak pemikiran yang bernaung di bawah
payung postmo dalam banyak bidang kehidupan, yakni seni,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 23
sastra, politik, ekonomi, arsitektur, sosiologi, antropologi
dan filsafat sebenarnya sudah dapat dilacak jauh ke alur
sejarah modernisme. Adapun lahirnya beragam bentuk
realitas baru, seperti seni bumi, seni video, sastra marjinal,
sastra yang terdiam, arsitektur dekonstruksi, antropologi
kesadaran, paradigma Thomas Kuhn dan pemberontakan
terhadap filsafat modern semenjak Nietzsche, Husserl,
Heidegger, hingga Mahzab Frankfrut adalah benih-benih
lahirnya pemikiran postmo.
Dalam dunia filsafat, Posmo mendapatkan
pendasaran ontologis dan epistemologis, melalui pemikiran
Jean Francois Lyotard seorang filsuf Perancis. Melalui
bukunya yang merupakan laporan penelitian kondisi
masyarakat komputerisasi di Quebec, Kanada, The
Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984),
Lyotard secara radikal menolak ide dasar filsafat modern
semenjak era Renaisans hingga sekarang yang
dilegitimasikan oleh prinsip kesatuan ontologis (Benyamin,
1989 dan Lyotard, 2009). Menurut Lyotard, dalam dunia
yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, prinsip
kesatuan ontologis sudah tidak relevan lagi. Kekuasaan telah
dibagi-bagi dan tersebar berkat demokratisasi teknologi.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 24


Oleh karena itu, prinsip kesatuan ontologis harus
didelegitimasi dengan prinsip paralogi.
Paralogi berarti prinsip yang menerima keberagaman
realitas, unsur, permainan dengan logikanya masing-masing
tanpa harus saling menindas atau menguasai (Turner,
2003:161). Persis permainan catur, di mana setiap bidak
memiliki aturan dan langkah tersendiri, tanpa harus
mengganggu langkah bidak lain. Kondisi ini, menurut
Sontag seorang kritikus seni, merupakan indikasi lahirnya
sensibilitas baru, yakni sebuah kesadaran akan
kemajemukan, bermain dan menikmati realitas secara
bersama-sama, tanpa ngotot untuk menang atau menaklukan
realitas lain (Sugiharto, 2007:234).
Lebih jauh Lyotard menyatakan prinsip-prinsip yang
menegakkan modern-isme adalah rasio, ego, ide absolut,
totalitas, oposisi biner, subjek, kemajuan sejarah
linear yang disebutnya Grand Narrative (narasi besar) telah
kehilangan legitimasi (Turner, 2003:158-161). Cerita-cerita
besar modernisme tersebut lebih bersifat mistifikasi,
ideologis, eksploitatif, dominatif dan semu.Dari arah yang
berbeda dengan fokus filsafat bahasa Derrida, seorang filsuf
Perancis yang lain, bersepakat dengan Lyotard. Derrida
mengajukan strategi pemeriksaan asumsi-asumsi
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 25
modernisme yang seolah-olah sudah terberi itu dengan
dekonstruksi.
Dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa
struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma
modernisme yang senantiasa dimapankan batas-batasnya
dan ditunggalkan pengertiannya (Coker, 2003). Dengan
dekonstruksi, cerita-cerita besar modernitas dipertanyakan,
dirongrong dan disingkap sifat paradoksnya. Lebih jauh,
dekonstruksi hendak memunculkan dimensi-dimensi yang
tertindas di bawah totalitas modernisme. Implikasi logis
strategi ini adalah melumernya batas-batas yang selama ini
dipertahankan antara konsep-metafor, kebenaran-fiksi,
filsafat-puisi, serta keseriusan-permainan. Wacana-wacana
yang sebelumnya tertindas, seperti kelompok etnis, kaum
feminis, dunia ketiga, ras kulit hitam, kelompok gay,
hippies, punk, atau gerakan peduli lingkungan kini mulai
diperhatikan. Dengan dekonstruksi, sejarah modernisme
hendak ditampilkan tanpa kedok, apa adanya.
Strategi yang sarat emansipasi ini pula yang
mendorong seorang filsuf sejarawan Perancis Foucault
untuk menyingkap mistifikasi hubungan pengetahuan dan
kekuasaan yang disodorkan modernisme. Berbeda dengan
pandangan modernisme yang menyatakan adanya distingsi
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 26
antara pengetahuan murni dan pengetahuan
ideologis, Foucault menyatakan pengetahuan dan
kekuasaan adalah dua sisi mata uang yang sama. Tidak ada
pengetahuan tanpa kekuasaan, dan sebaliknya tidak ada
kekuasaan tanpa pengetahuan.
Selanjutnya menurut Foucault kekuasaan tidaklah
seperti yang dipahami kaum Weberian atau Marxian. Kaum
Weberian memahami kekuasaan sebagai kemampuan
subjektif untuk mempengaruhi orang lain. Sementara kaum
Marxian memahami kekuasaan sebagai artefak material
yang bisa dikuasai dan digunakan untuk menindas kelas
lain. Secara cerdas Foucault menyatakan bahwa di era yang
dihidupi oleh perkembangan ilmu dan teknologi seperti saat
ini, kekuasaan bukan lagi institusi, struktur atau kekuatan
yang menundukkan. Kekuasaan tidak dimiliki, melainkan
merupakan relasi kompleks yang menyebar dan hadir di
mana-mana (Sugiharto, 2002). Pandangan tentang
kuasa/pengetahuan yang tidak berpusat, tidak mendominasi
dan menyebar ini kemudian membawa Foucault untuk
menolak asumsi rasio-kritis yang universal ala Kantian.
Baginya rasio tidak universal, karena seperti disuarakan
Baudelaire, seorang penyair Perancis, ada tanggapan lain
terhadap modernisme yakni, ironi. Oleh karena itu, Foucault
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 27
sama sekali tidak berambisi membangun teori-teori yang
universal. Ia memilih membaca realitas pada ukuran mikro.
Tema-tema tidak jamak, misalnya penjara, orang gila,
rumah sakit, barak-barak tentara, pabrik, seks, pasien dan
kriminal adalah pilihan yang disadarinya. Dan dengan
pilihan ini, Foucault meneguhkan semangat emansipasi
kaum tertindas yang telah diawali oleh Lyotard dan Derrida.
Posmo secara umum dikenal sebagai antitesis dari
modernisme. Sementara itu modernisme itu diartikan oleh
Lyotard (Berstens, 1996) sebagai proyek intelektual dalam
sejarah dan kebudayaan Barat yang mencari kesatuan di
bawah bimbingan suatu ide pokok yang terarah kepada
kemajuan, ketika Aufklarung (masa pencerahan) pada abad
ke-18 menandai proyek besar ini.
Sebagai gerakan pemikiran, Posmo ‘berhasil’
menawarkan opini, melon-tarkan apresiasi dan memberikan
kritik yang tajam terhadap wacana modernitas dan
kapitalisme (global) mutakhir. Di tengah kemapanan dan
pesona yang ditawarkan oleh proyek modernisasi dengan
rasionalitasnya, postmo justru ditampilkan dengan sejumlah
evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian
masyarakat modern. Kritik tersebut, tidak saja mengagetkan
dunia publik intelektualitas Barat yang sejak beberapa abad
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 28
terbuaikan oleh modernisme yang membius melalui ciptaan
sains dan teknologinya.
Istilah Posmo diketahui muncul pada tahun 1917
ketika seorang filsuf Jerman, Pannwitz menggunakan istilah
itu untuk menangkap adanya gejala nihilisme kebudayaan
Barat modern. Federico de Onis sekitar tahun 1930-an
menggunakan dalam sebuah karyanya untuk menunjukkan
reaksi yang muncul dari modernisme. Kemudian di bidang
historiografi digunakan oleh Arnold Toynbee dalam A Study
of History tahun 1947, dan sekitar tahun 1970, Ilhab Hasan
menerapkan istilah ini dalam dunia seni dan arsitektur. Pada
akhirnya istilah Posmo menjadi lebih populer ketika
digunakan oleh para seniman, pelukis dan kritikus.
Dengan demikian ada banyak ragam dan terminologi
serta makna dalam istilah Posmo tergantung pada wilayah
pendekatan yang berbeda sebagai berikut:
(1) “Kian berkembangnya kecenderungan-kecenderungan
yang saling bertolak belakang, yang bersamaan dengan
semakin bebasnya daya instingual dan kian membubungnya
kesenangan dan keinginan” (Daniel Bell dalam Beyond
Modernism; Beyond Self) dan (2) “Logika kultural yang
membawa transformasi dalam suasana kebudayaan

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 29


umumnya” (Frederic Jameson dalam “New Left Review”
tahun 1984)
Pada perkembangan selanjutnya, istilah Posmo
dilembagakan dalam konstelasi filsafat oleh Lyotard dalam
bukunya The Postmodern Condition: A Report on
Knowledge tahun 1984. Lyotard menjelaskan bahwa akibat
pengaruh teknologi informasi, maka prinsip kesatuan
ontologis yang selama ini mendasari ide dasar filsafat
modern sudah tidak lagi relevan dengan realitas
kontemporer (Anderson, 1998).
Sehubungan dengan itu, prinsip homologi (kesatuan
ontologis) harus didelegitimasi oleh paralogi (pluralisme)
dengan tujuan agar kekuasaan, termasuk kekuasaan oleh
ilmu pengetahuan, tidak lagi jatuh pada sistem totaliter yang
biasanya bersifat hegemonik dan pro status-quo. Dengan
meminjam terminologi Ibrahim Ali Fauzi bahwa Posmo
adalah sebuah gerakan global renaissans atas renaissans
yang diartikan sebagai ketidakpercayaan atas segala bentuk
narasi besar, penolakan filsafat metafisis, filsafat sejarah dan
segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi seperti
Hegelianisme, Kapitalisme, Liberalisme, Marxisme,
Nasionalisme, Komunisme, Sosialisme dan lainnya (dalam
Sugiharto. 2002)
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 30
Cukup banyak peristiwa yang bisa dikumpulkan
akibat ide narasi besar (meta-narasi) yang menandai
kegagalan dari modernisme seperti kekejaman pasukan Nazi
pada perang dunia kedua yang menandai kegagalan
nasionalisme. Pemberontakan kaum buruh terhadap partai
komunis yang terjadi di Berlin (1953), Budapest (1956) dan
Polandia (1980) yang menunjukkan betapa komunisme
sebagai ideologi totaliter mengandung banyak kotradiksi,
yaitu bahwa pekerja memberontak terhadap partai yang
memperjuangkan nasib mereka sendiri. Dan banyak
kejadian lainnya seperti aneksasi neo-liberalisme dan neo-
kapitalisme Amerika Serikat terhadap Irak.
Dalam konteks ini tidak berlebihan apabila janji
modernitas, yang dibangun oleh rasionalitas, untuk
mencapai emansipasi manusia dari kemiskinan, kebodohan,
prasangka dan tidak adanya rasa aman dianggap gagal dan
tidak masuk akal. Modernisme disamping menciptakan
kemajuan teknologi juga menciptakan totalitarianisme,
pembunuhan yang lebih massif (genosida) dan aneksasi
kolonialisme yang membabi buta. Dengan demikian,
Lyotard menolak segala macam bentuk metanarasi, yang
ada bukan kebenaran universal tetapi kebenaran-plural yaitu
kebenaran majemuk dan lokal (mini-narasi).
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 31
BAB II
HUBUNGAN TEORI STRUKTURALIS, POST
STRUKTURALIS, DAN POSTMODERN

A. Strukturalisme
Bahasan dalam topik ini berkaitan dengan
kemunculan pemikiran setelah adanya teori sosial modern
yang diawali oleh strukturalisme hingga post-strukturalisme
yang akhirnya dikenal sebagai teori Postmodern
(Posmo).Strukturalisme merupakan praktik signifikansi
yang membangun makna sebagai hasil struktur atau
regularitas yang dapat diperkirakan dan berada diluar diri
individu. Bersifat antihumanis karena mengesampingkan
agen manusia dari inti penyelidikannya. Fenomena hanya
memiliki makna ketika dikaitkan dengan sutruktur
sistematis yang sumbernya bukan terletak pada individu.
Pemahaman strukturtalis terhadap kebudayaan memusatkan
perhatian pada sistem relasi struktur yang mendasarinya
(Barker, 2004:17)
Strukturalisme memusatkan perhatian pada struktur,
namun tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang
menjadi sasaran perhatian teori fungsionalisme struktural.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 32


Strukturalisme lebih memusatkan perthatian pada struktur
linguistik. Terjadi pergeseran dari struktur linguistik ke
struktur sosial. Saussure yang merupakan tokoh
strukturalisme, memberikan pembedaan antara langue dan
parole. Menurutnya, Langue adalah sistem tata bahasa
formal, sistem elemen phonic yang hubungannya ditentukan
oleh hukum yang tetap. Langue memungkinkan adanya
parole yang merupakan percakapan sebenarnya, cara
pembicara menggunakan bahasa untuk mengatakan dirinya
sendiri(Ritzer dan Goodman, 2004:604)
Strukturalisme muncul di tahun 1960-an berbasis
karya Saussure yang diorientasikan untuk memahami
struktur-struktur yang mendasari bahasa. Basis teorinya
berasal dari linguistik. Menurut aliran ini, setiap orang di
masyarakat mengetahui bagaimana caranya menggunakan
bahasa meskipun mereka tidak peduli akan aturan-aturan
berkenaan dengan tata bahasa. Strukturalisme didasarkan
pada kepercayaan bahwa objek budaya itu seperti literatur,
seni dan arsitektur, harus dipahami dalam konteks-konteks
yang lebih besar di tempat berada dan berkembang. Tujuan
yang ingin dicapai adalah untuk mengemukakan prinsip-
prinsip universal dari pikiran manusia yang menjadi dasar

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 33


karakter budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan
manusia (Haryanto, 2010).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
strukturalisme melihat makna sebagai hasil struktur
atau regularitas, bersifat anti humanis dan berada
diluar individu. Hal ini dapat ditelusuri dari penggunaan
bahasa berdasarkan prinsip-prinsip universal dari pikiran
manusia yang menjadi dasar karakter budaya dan kebiasaan-
kebiasaan yang dilakukan manusia. Sebagai contoh,
penggunaan sistem tanda pengaturan lampu lalu lintas. Ada
peraturan yang dimaknai bersama, bahwa warna merah
kendaraan harus berhenti, kuning harus hati-hati dan hijau
boleh jalan. Hal tersebut dimaknai secara konsisten dan
hampir semua masyarakat mengetahuinya. Bahasa manusia
disini merupakan hasil rancangan dari pemikiran dan
tindakan-tindakannya yang membentuk pola universal yang
menghasilkan realitas sosial.

Contoh Pemaknaan Strukturalis


Pemaknaan berdasarkan strukturalis digunakan untuk
mendapatkan satu penafsiran yang universal. Oleh karena itu,
pemaknaan dimulai dengan pembacaan secara heruistik (berdasarkan
kaidah bahasa yang lengkap dan benar) kemudian ditafsirkan secara

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 34


hermeneutis (berdasarkan konteks sejarah yang melatarbelakangi
diciptakannya puisi). Perhatikan puisi berikut ini yang akan dimaknai
berdasarkan perspektif strukturalis.
Aku Memberi Kesaksian
Karya W.S. Rendra

Aku memberi kesaksian


bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai
Filsafat mati
dan penghayatan kenyataan dikekang
diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.
Kepatuhan diutamakan,
kesangsian dianggap durhaka.
Dan pertanyaan-pertanyaan
dianggap pembangkangan.
Pembodohan bangsa akan terjadi
karena nalar dicurigai dan diawasi

Puisi di atas jika dimanai berdasaran pandangan strukturalis,


dapat dibaca secara heuristik dengan kaidah bahasa baku, seperti
berikut ini:
Aku memberi (kan) kesaksian
bahwa di dalam (negara yang dikuasai oleh) peradaban pejabat dan
pegawai,
Filsafat (di)mati(kan)
dan penghayatan (terhadap)kenyataan dikekang
diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi(dari negara).
Kepatuhan (menjadi) diutamakan (dan kebebasan berpikir dikekang),
kesangsian dianggap durhaka (kepada pemerintah).
Dan pertanyaan-pertanyaan (kritis)
dianggap pembangkangan (kepada pemerintah).
Pembodohan bangsa akan terjadi(di negara yang dikuasai oleh
peradaban pejabat dan pegawai seperti itu)
karena nalar dicurigai dan diawasi(oleh aparatus negara).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 35


Berdasarkan pembacaan heuristik, maka pemaknaan puisi di
atas menjadi:
Aku memberikan kesaksian, bahwa di dalam negara yang dikuasai oleh
peradaban pejabat dan pegawai, filsafat dimatikan, dan penghayatan
terhadap kenyataan dikekang, diganti dengan bimbingan dan pedoman
resmi dari negara. Kepatuhan menjadi diutamakan, kebebasan berpikir
danberpendapat menjadi dmenjadi pengekangan. Artinya semua lapisan
masyaraat hanya boleh menjalankan peerjaan sesuai dengan aturan
pemeritah dan lembaganya tida boleh bertanya apalagi berpendapat.
Kesangsian dianggap durhaka kepada pemerintah, dan pertanyaan-
pertanyaan kritis terhadap pemerintah dianggap pembangkangan kepada
pemerintah. Pembangkangan berarti harus menerima konsekuensi
hukuman. Hukuman yang diberikan sangat tergantung pada penguasa
bukan hukum yang berlaku. Dengan demikian, pembodohan bangsa
akan terjadi di negara yang dikuasai oleh peradaban pejabat dan pegawai
seperti ini, karena nalar dicurigai dan diawasi oleh aparatus negara.
Setelah dilakukan pembacaan secara heruistik kemudian
ditafsirkan secara hermeneutis. Pemaknaan secara hermeneutis
disesuaikan dengan sudut pandang tertentu, pengetahuan, pengalaman,
historis, dan konteks penulisan. Pembacaan secara hermeneutis pada
teks di atas, dapat ditafsirkan sebagai berikut: apakah yang
melatarbelakangi W.S. Rendra menulis puisi “Aku Memberi Kesaksian
Mastodon-mastodon” di atas terjadi pada tahun 1973? Bagaimanakah
peradaban pejabat dan pegawai (birokrat) pada saat itu? Apakah di
negeri ini sedang dalam titik kritis, menuju kematian filsafat pada saat
itu? Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat membantu memahami latar

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 36


belakang puisi ini diciptakan untuk memperoleh pemahaman makna
puisi secara hermeneutis.
Berdasarkan historisnya, peradaban birokrat pada masa itu,
eselonisasi, strukturisasi, hierarki, dan doktrinasi dikemas dalam bentuk
petunjuk pelaksanaan dan istilah formal lainnya, mengindikasikan
bahwa kebudayaan/peradaban birokrat bersifat kaku, instruksi top-
bottom, loyalitas dinomorsatukan dan struktur adalah segala-galanya.
Seorang Pejabat Eselon II, misalnya, memiliki beberapa
bawahan Eselon III, Eselon IV dan Pelaksana. Institusi birokrasi yang
dikuasai oleh pejabat umumnya menganut sistem semi militer, maka apa
yang dikatakan Pejabat Eselon II harus dilaksanakan oleh Pejabat dan
Pelaksana di bawahnya. Tidak boleh ada yang mengkritik apalagi
mencela. Bahkan masyarakat sering menyaksikan tingkah laku para
Pejabat yang menyebalkan dan merepotkan anak buahnya. Akan tetapi,
karena ketakutan memberikan kritik dan saran, akhirnya mereka hanya
bisa kasak kusuk sesama pelaksana atau pejabat selevel tanpa berani
mengritik pejabat dengan level di atasnya. Gagasan kreatif terbelenggu
oleh aturan kepatuhan, sehingga tidak ada kreativitas dan inovasi dalam
layanan publik.
Menurut W.S. Rendra, semua kebobrokan itu bermula ketika
birokrat berhenti menghidupkan filsafat. Filsafat berasal dari bahasa
Yunani yaitu philosophia yang bermakna orang yang mencintai
kebijaksanaan.Filsafat menekankan pada cara berpikir kritis;
menimbang-nimbang segala sesuatu dari benar atau salah, melihat
segala permasalahan dari perspektif yang lebih luas, meninggalkan
taklid (tunduk buta) terhadap sebuah doktrin, baik dari ideologi maupun
agama.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 37


Dengan demikian, menurut W.S. Rendra apabila dalam
demokrasi dihidupkan budaya berfilsafat maka dalam kebudayaan
birokrasi akan muncul birokrat-birokrat yang berjuang di jalan
kebenaran, birokrat-birokrat yang selalu kreatif dan inovatif dalam
melaksanakan layanan publik; bukan birokrat-birokrat yang membela
atasannya, seperti anjing membela tuannya.
Konsekuensinya, menurut W.S. Rendra, institusi birokrasi
harus berani menerima kritik dan konsekuensi apabila ada salah satu
anggotanya melaporkan kebobrokan institusinya kepada pihak yang
berwewenang, seperti institusi pengawasan (KPK dan Inspektorat
Jenderal). Institusi birokrasi harus bersifat terbuka terhadap kritik, saran,
dan inovasi, agar birokrasi dapat berkembang dalam melayani
masyarakat dan membangun negara dengan penuh tanggung jawab.
Untuk itu diperlukan revolusi birokrasi secara menyeluruh dan
mengakar dengan menghidupkan filsafat.
Dengan menghidupkan kembali filsafat di institusi masing-
masing, W.S. Rendra yakin bahwa birokrat-birokrat yang berfilsafatakan
mengembalikan rusaknya peradaban yang cenderung dehumanisasi di
negeri ini menjadi peradaban yang humanis dan berpihak pada
kebenaran.

B. Post-Strukturalisme
Bila strukturalis melihat keteraturan dan stabilitas
dalam sistem bahasa, maka Derrida, tokoh utama
pendekatan post-strukturalisme melihat bahasa tidak teratur
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 38
dan tidak stabil. Derrida menurunkan peran bahasa yang
menurutnya hanya sekedar “tulisan” yang tidak memaksa
penggunanya. Dia juga melihat bahwa lembaga sosial tidak
lain hanya sebagai tulisan, karena itu tidak mampu memaksa
orang/pembacanya. Konteks yang berlainan memberikan
kata-kata dengan arti yang berlainan pula. Akibatnya sistem
bahasa tidak mempunyai kekuatan memaksa terhadap orang,
yang menurut pandangan teoretisi strukturalis justru
memaksa. Lebih lanjut, menurut Derrida mustahil bagi
ilmuwan untuk menemukan hukum umum yang mendasari
bahasa. Ia mengkritik masyarakat pada umumnya yang
diperbudak oleh logosentrisme (pencarian sistem berpikir
universal yang mengungkapkan apa yang benar, tepat, indah
dan seterusnya) (Ritzer dan Goodman, 2004:607-608)
Post-strukturalisme mengandung pengertian kritik
maupun penyerapan. Menyerap berbagai aspek linguistik
struktural sekaligus menjadikannya sebagai kritik yang
dianggap mampu melampaui strukturalisme. Singkatnya,
post-strukturalisme menolak ide tentang struktur stabil yang
melandasi makna melalui pasangan biner (hitam-putih, baik-
buruk). Makna adalah sesuatu yang tidak stabil, yang selalu
tergelincir dalam prosesnya, tidak hanya dibatasi pada kata,

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 39


kalimat atau teks tertentu yang bersifat tunggal, namun hasil
hubungan antarteks. (Barker, 2004:20)
Foucault adalah ahli sosiologi tubuh dan sekaligus
ahli teori post-strukturalisme. Karya-karyanya yang
berkaitan erat dengan teori-teori post-strukturalime untuk
menjelaskan bahwa faktor sosial budaya berpengaruh dalam
mendefinisikan tubuh dengan karakter ilmiah, universal,
yang tergantung pada waktu dan tempat. Bahwa ciri-ciri
alamiah tubuh (laki-laki dan perempuan) bisa bermakna
berbeda dalam tataran kebudayaan yang berbeda. Sebagai
seorang post-strukturalis Foucoult tertarik pada cara
berbagai bentuk ilmu pengetahuan menghasilkan cara-cara
hidup. Menurutnya, aspek masyarakat yang paling
signifikan untuk menjadi modern bukanlah fakta bahwa
masyarakat itu ekonomi kapitalis (Marx), atau suatu bentuk
baru solidaritas (Weber) atau bersikap rasional (Weber),
melainkan cara hidup dimana bentuk-bentuk baru
pengetahuan yang tidak dikenal pada masa pramodernitas
itu muncul dan dapat mendefinisikan kehidupan modern
(Suharnadji, 2009:373)
Salah satu karya Foucoult adalah Archeology of
Knowledge yang merupakan tujuan dari studinya mencari
struktur pengetahuan, ide-ide dan modus dari wacana. Ia
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 40
mempertentangkan arekeologinya itu dengan sejarah atau
sejarah ide-ide. Dalam karyanya itu, Foucoult juga ingin
mempelajari pernyataan-pernyataan baik lisan maupun
tertulis sehinga ia dapat menemukan kondisi dasar yang
memungkinkan sebuah wacana bisa berlangsung. Konsep
kunci dari Foucoult adalah arkeologi, geneologi dan
kekuasaan. Bila arkeologi memfokuskan pada kondisi
historis yang ada, sementara geneologi lebih
mempermasalahkan tentang proses historis yang merupakan
proses tentang jaringan-jaringan wacana (Suhrnadji,
2009:377--378).
Pemahaman kekuasaan, menurut Foucoult bertolak
belakang dengan pemahaman Karl Marx yang melihat
kekuasaan hanya menjadi milik masyarakat kelas atas,
dominasi dan monopoli kaum borjuis menentukan
kehidupan seluruh masyarakat. Juga berbeda dengan
gagasan Hobbes yang mengartikan kekuasaan hanya
menjadi milik lembaga yang disebut negaradan negara
memiliki kuasa mutlak untuk menentukan kehidupan
masyarakat tetapi kekuasaan menyangkut relasi antara
subjek dan peran dari lembaga-lembaga yang menjalankan
fungsi tertentu dalam masyarakat. Sumbangan kekuatan dari

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 41


setiap subjek dan lembaga-lembaga yang menjalankan peran
sebaik-baiknya, itulah yang menunjukan arti kekuasaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
Post-strukturalis berpandangan bahwa sistem bahasa itu
tidak stabil dan tidak universal. Makna ditentukan oleh
konteks sosial budaya dan penggunanya (subjek), makna
bersifat khusus, sehingga memungkinkan terciptanya
bermacam-macam makna.Terdapat hubungan timbal balik
antara kekuasaan, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Dengan
bahasa orang dapat mengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan ilmu pengetahuan, orang dapat menggunakan
wacana pembangunan untuk melanggengkan kekuasaan.
Sebaliknya dengan kekuasaan bahasa dan ilmu pengetahuan
dapat berkembang.

Contoh Pemaknaan Post-strukturalis


Aku Memberi Kesaksian
Karya W.S. Rendra

Aku memberi kesaksian


bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai
Filsafat mati
dan penghayatan kenyataan dikekang
diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.
Kepatuhan diutamakan,
kesangsian dianggap durhaka.
Dan pertanyaan-pertanyaan
dianggap pembangkangan.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 42
Pembodohan bangsa akan terjadi
karena nalar dicurigai dan diawasi

Pemaknaan post-strukturalis memiliki keragaman penafsiran.


Setiap subjek sangat dimungkinkan memiliki hasil penafsiran yang
berbeda. Perbedaan itu bisa disebabkan oleh pengetahuan, pengalaman,
pendekatan, dan sudut pandang, kontradiktif, paradoks, dan ironi-
ironinya yang digunakan oleh pembaca dalam memaknai.
Membaca kembali puisi W.S. Rendra di atas, jika dimaknai
berdasarkan sudur pandang Michel Foucault (salah seorang tokoh Post
Strukturalis), maka puisi di atas tidaklah dipahami sebagai serangkaian
kata atau proposisi dalam teks, melainkan penggunaan bahasa dalam
praktek budaya secara umum dilihat sebagai sesuatu yang bersifat
dialogis, yakni dalam dialog dan konflik potensial dalampenggunaan
bahasa tesebut. Dalam pengertian ini maka wacana tidak bisa
dipisahkan dengan kekuasaan. Wacana adalah alat untuk mendapatkan
dan melanggengkan kekuasaannya. Kekuasaan terlaksana melalui
wacana dan wacana selalu berakar pada kekuasaan.
Pemikiran Foucault yang utama adalah penggunaan analisis
wacana untuk memahami kekuasaan yang tersembunyi di balik
pengetahuan. Analisisnya terhadap kekuasaan dan pengetahuan
memberikan pemahaman bahwa peran pengetahuan pembangunan telah
mampu melanggengkan dominasi terhadap kaum marjinal. Ia
mencontohkan bahwa pembangunan di negara Dunia Ketiga merupakan
tempat berbagai kekuasaan dunia sekaligus adanya hubungan penting
tentang berperanannya kekuasaan di negara-negara tersebut. Dalam
karyanya tentang A Critique of Our Historical Era (dalam Wahyudi,

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 43


2006), Foucault melihat ada problematika dalam bentuk modern
pengetahuan, rasionalitas, institusi sosial, dan subjektivitas. Semua itu,
menurutnya terkesan given and natural, tetapi dalam faktanya semua itu
adalah konstruk sosiokultural tentang kekuasaan dan dominasi. Lebih
lanjut, menurut argumentasinya bahwa hubungan antara bentuk
kekuasaan modern dan pengetahuan modern telah menciptakan bentuk
dominasi baru.
Bagi Foucault, selain eksploitasi dan dominasi, ada satu bentuk
yang diakibatkan oleh suatu wacana, yakni subjection (bentuk
penyerahan seseorang pada orang lain sebagai individu). Oleh karena
itu, yang perlu dipelajari adalah upaya untuk membangkitkan kembali
local centres dari power knowledge, pola transformasinya, dan upaya
untuk masukkan ke dalam strategi dan akhirnya menjadikan
pengetahuan mampu mensupport kekuasaan.
Menurut pemikirannya, bahwa setiap strategi yang
mengabaikan berbagai bentuk powerakan terjadi kegagalan. Untuk
melipatgandakan power, harus berusaha bertahan dan melawan dengan
jalan melipatgandakan resistensi dan kontra-ofensif. Localize-resistence
tersebut haruslah bersifat radikal dan tanpa kompromi untuk melawan
totalitas kekuasaan (daripada memakai cara revolusi massa), dengan
strategi yang ditujukan untuk mengembangkan jaringan kerja
perjuangan, kantong-kantong resistensi dan popular base. Yang perlu
mendapatkan perhatian adalah analisis power tertentu (antar individu,
kelompok, kegiatan dan lain-lain) dalam rangka mengembangkan
knowledge strategies dan membawa skema baru politisi, intelektual,
buruh dan kelompok tertindas lainnya, ketika kekuasaan tersebut akan
digugat.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 44


Berdasarkan pandangan Foucault di atas, maka wacana “Aku
Memberi Kesaksian” merupakan strategi kekuasaan Orde Baru pada
masa itu untuk melanggenggkan kekuasaan. Dengan menciptakan
wacana neraga pejabat dan mematikan filsafat, maka para birokrasi
dimanfaatkan sebagai stake holder-stake holder kekuasaan yang patuh,
tunduk, takut, dan harus melakukan semua perintah atasan tanpa
perlawanan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sebelum memasuki jajaran
birokrasi, diadakan pelatihan Kesamaptaan (bina fisik dan LKD) sebagai
pengetahuan, wawasan, dan dotrin yang harus dilakukan oleh para
birokrat sebagai stake holder untuk melanggenggkan kekuasaan. Dalam
pelatihan kesemaptaan itu, birokrat ditempa dan didoktrin arti
pentingnya korsa (kekompakan/penyeragaman) dan loyalitas.
Bagaimana mematuhi perintah dengan cepat dan tepat, bagaimana
menunjukan sikap hormat di depan atasan dan bagaimana merasakan
penderitaan secara kolektif adalah menusehar-hari dalam Diklat
Kesamaptaan.
Hasilnya adalah birokrat-birokrat yang patuh, tunduk dan
enggan untuk berinovasi. Hal itu disebabkan oleh tudingan bahwa
inovasi, kreativitas, pertanyaan-pertanyaan terhadap kebijakan
pemerintah dianggap sebagai pembangkangan. Lebih tragis lagi bahwa
jawaban atas tudingan pembangkangan adalah ancaman mutasi ke
daerah terpencil atau dipindahkan ke bagian lain yang tidak sesuai
dengan kompetensinya dan sanksi sosial berupa bullying (pelecehan).
Dengan demikian wacana pembangunan yang diterapkan oleh Orde
Baru dalam membentuk Negara pejabat dan mematikan filsafat dapat
digunakan untuk melanggenggakan kekuasaan status quo tanpa

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 45


perlawanan, serta berhasil membangun budaya subjection (bentuk
penyerahan para birokrat pada epada penguasa Orde Baru).
Pemaknaan itu akan berbeda jika dimaknai dari sudut pandang
Derrida. Menurut Derrida, pemahaman teks wacana di atas tidak bersifat
final tetapi bersifat perspektivis. Derrida dengan dekonstruksinya tidak
hanya menggambarkan teks, melainkan juga mengungkap kontradiksi
yang terletak di dalam detil teks, sehingga pemaknaan dan arti baru yang
sebelumnya tidak terpikirkan justru bisa tampil menjadi dominan dan
mengubahnya ke arah yang sama sekali tidak terduga. Menurut Derrida,
tidak ada bagian teks yang sifatnya stagnan atau permanen. Apabila
tidak ada yang sifatnya permanen di dalam teks, maka teks selalu bisa
dibaca dan dimengerti dengan cara yang selalu berbeda. Tidak ada
tafsiran dominan yang sifatnya otoritatif. Dengan demikian
dimungkinkan dalam kurun waktu yang berbeda atau oleh pembaca
yang berbeda ditemukan makna yang berbeda pula, misalnya makna
kekuasaan bagi seorang eksekutif akan berbeda jika ditafsirkan oleh
rakyat biasa. Makna Negara pejabat bagi eksekutif akan berbeda dengan
birokrat pelaksana, apalagi bagi rakyat biasa.

C. Hubungan Konseptual antara Strukturalis dan Pos-


strukturalis
Berdasarkan namanya, post-strukturalisme dibangun
diatas gagasan strukturalisme, namun bergerak keluar dan
menciptakan model berpikir yang berbeda dari strukturalis.
Apabila Strukturalisme dipengaruhi oleh ilmu bahasa yang
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 46
diteorikan oleh Ferdinan de Saussure, bahwa bahasa sebagai
simbol dapat menciptakan makna yang berlaku secara stabil
dan universal, maka pos-strukturalisme tidak melihat adanya
kestabilan dan universalitas makna dalam bahasa. Bahkan
Derrida berupaya untuk melakukan “dekonstruksi
logosentrisme”. Dia ingin melihat masyarakat terbebas dari
gagasan semua penguasa intelektual yang telah menciptakan
pemikiran dominan.
Adapun Foucault mengemukakan pandangannya
tentang pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan dan
kekuasaan saling berkaitan, artinya bahwa orang yang
memiliki pengetahuan maka dia yang akan berkuasa.
Hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan secara
sederhana dapat dilihat pada hubungan manusia dan kartu
kredit sebagai berikut:

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 47


Gambar 2.1: Hubungan Pengetahuan dan Kekuasaan
Kenyataan empiris yang terjadi saat ini, dapat diambil contoh
penggunaan kartu kredit sebagai sarana untuk pembayaran dan
pembelian suatu produk barang atau jasa. Pendekatan Strukturalis
melihat bahwa ada pemaknaan bahasa dalam kartu kredit yang
dikeluarkan oleh sistem perbankan dan berlaku universal. Pemohon
kartu kredit harus memiliki persyaratan tertentu untuk mendapatkannya.
Simbol yang ada di kartu dimaknai bersama, baik oleh pembeli maupun
penjual, bahwa penggunaannya hanya dengan “menggesekkan” kartu ke
alat terentu dan bank akan mengeluarkan kredit pinjaman kepada
pemegang kartu. Kata-kata dalam bahasa “tinggal gesek” dimaknai
secara strukturalis sebagai alat kemudahan membayar.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 48


Sementara itu, post-strukturalis melihatnya bahwa kartu kredit
tersebut kurang atau tidak bermanfaat. Simbol kartu yang dimaknai
sebagai alat tukar bergengsi justru dimaknai oleh post-strukturalis
sebagai penciptaan masalah baru. Ada unsur ketidakstabilan, makna
“kewajiban” membayar berbeda pemakna-annya oleh pemakai kartu,
karena ketidakmampuannya untuk membayar atau karena
ketidakdisiplinannya dalam membayar cicilan. Bila kewajiban yang
harus dipenuhi oleh pemegang kartu kredit untuk melunasi atau mencicil
hutang tidak dijalankan, maka ada sanksi tertentu terhadap pemegang
kartu, baik denda maupun sanksi hukum, bila tidak sanggup membayar.
Bila dilihat dari sudut pandang pengetahuan/kekuasaan, maka
orang-orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan kartu kredit,
tentu akan “menguasai” kartu tersebut, dalam arti dapat memanfaatkan
sebaik-baiknya. Dia akan mempelajari, berapa beban bunganya dalam
sebulan atau setahun, berapa biaya adiministrasinya, berapa dendanya
bila terlambat, berapa iuran anggotanya pertahun, dan setiap tanggal
berapa dia harus membayar tagihan serta berapa yang harus dibayar.
Pengetahuan ini yang menurut pandangan Foucoult berkaitan dengan
kekuasaan. Bila nasabah/pemegang kartu memiliki pengetahuan, maka
dia akan berkuasa/menguasai kartu (kartu tersebut bermanfaat) namun
bila tidak, maka pihak bank yang akan berkuasa (beruntung).
Hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan banyak
digunakan oleh dunia pertama/Negara-negara maju. Dengan
pengetahuan, mereka menciptakan wacana pembangunan untuk
melanggengkan kekuasaan terhadap dunia ketiga/Negara-negara
berkembang. Di Indonesia, Soeharto dengan menggunakan wacana

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 49


pembangunan dapat melanggengkan kekuasaan Orde Baru sampai 32
tahun.

Gambar 2.2: Hubungan Pengetahuan dan Kekuasaan (penggunaan


wacana pembangunan untuk melanggengkan kekuasaan)

Berdasarkan uraian di atas, hubungan antara


strukturalis dan post strukturalis terletak pada pandangannya
terhadap sistem bahasa dan keberadaan subjek. Strukturalis
berpandangan bahwa sistem bahasa itu stabil, teratur, makna
ditentukan oleh aturan, berada di luar subjek, dan bersifat
universal; sedangkan Post-strukturalis berpandangan bahwa
sistem bahasa itu tidak stabil, makna ditentukan oleh
konteks dan penggunanya (subjek), makna bersifat khusus/
bermacam-macam makna.
Perbedaan penafsiran antara strukturalis dan
poststrukturalis dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 50
Tabel 2.1: Perbedaan Strukturalis dan Poststrukturalis

Strukturalis Post Strukturalis


1. Dibangun dipengaruhi oleh 1. Dibangun oleh teori Derrida
ilmu bahasa yang diteorikan bahwa bahasa hanya sekedar
oleh F.de Saussure, bahwa tulisan, maka makna bahasa
bahasa sebagai simbol dapat itu tidak stabil dan tidak
menciptakan makna yang universal. Makna ditentukan
berlaku secara stabil dan oleh konteks sosial budaya dan
universal. penggunanya, maka makna
bersifat khusus, dan
bermacam-macam.
2. Makna ditentukan oleh aturan 2. Makna teks lepas dari otoritas
dan otoritas penulis. penulis. Otoritas makna
terletak pada pembaca/pemberi
makna.
3. Masyarakat pembaca terikat 3. Masyarakat terbebas dari
atau dipaksa oleh kaidah yang gagasan semua penguasa
diciptakan oleh penguasa intelektual bahasa, karena
intelektual yang telah bahasa dianggap sekedar
menciptakan pemikiran “tulisan”, sehingga sistem
dominan dalam menciptakan bahasa tidak mempunyai
makna. kekuatan memak-sa terhadap
orang.
4. Ilmuwan menemukan hukum 4. Ilmuwan tidak bisa
umum yang mendasari bahasa. menemukan hu-kum umum
yang mendasari bahasa.

D. Perbedaan Modern dan Postmodern (Postmo)


Saat ini kita sudah memasuki epos sosial baru yaitu
postmodern (Dunn, 1991). Ada banyak cara untuk
mengkarakterisasikan perbedaan-perbedaan antara dunia
modern dan postmodern (postmo). Sebagai suatu ilustrasi,

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 51


salah satunya adalah perbedaanya dari sudut pandang.
Pertama, apakah ada kemungkinan menemukan suatu solusi
rasional (rasionalitas merupakan konsep yang secara dekat
diasosiasikan dengan modernitas) (Dahrendorf, 1979)
terhadap solusi persoalan-persoalan masyarakat yang
kontemporer dan cenderung unik dan beragam ini. Sebagian
besar tokoh modernis kesulitan dan bahkan enggan
membicarakan transisi historis dari modernitas ke postmo.
Kedua, postmo tidak dapat dipisahkan dari domain kultural
ketika harus menguraikan bahwa produk postmo cenderung
menggantikan produk modern. Ketiga, yang langsung
berhubungan dengan pembahasan postmo adalah
kemunculan teori sosial postmo dan perbedaannya dengan
teori modern. Secara umum, teori sosial modern cenderung
menjadi absolut, rasional, dan menerima posibilitas
penemuan kebenaran. Sebaliknya teori sosial postmo
cenderung menjadi relatifistik dan terbuka kemungkinan
irrasionalitas.
Mulanya, Rosenau mendefinisikan teori postmo
secara gamblang dalam istilah yang berlawanan.
Postmodiartikan sebagai kritik kepada teoretisi modern atas
kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Hal itu disebabkan
oleh peristiwa yang mengerikan selama abad ke dua puluh,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 52
di antaranya terjadinya perang dunia II dengan bom nuklir,
terjadinya kesenjangan yang sangat dalam antara kapitalis
dan buruh, makin memudarnya nilai-nilai kemanusiaan dan
makin suburnya dehumanisasi. Postmo menanyakan
bagaimana seorang dapat percaya bahwa modernitas dapat
membawa kemajuan dan harapan bagi masa depan yang
lebih cemerlang. Oleh karena itu, postmo cenderung
mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan sebagai
modernitas.
Kedua, teoretisi postmo cenderung menolak apa
yang biasa dikenal dengan pandangan dunia (world view),
totalitas dan sebagainya. Pada umumnya teoretis postmo
menolak teoretis Marxian, dan akibatnya mereka selalu
berusaha mengambil jarak dari narasi besar yang
menyifatkan posisi tersebut. Postmo lebih konsen untuk
mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat spesifik,
sehingga masing-masing teoretisi menghasilkan narasi yang
berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh beberapa teoretisi
postmo menciptakan narasi masing-masing.
Ketiga, pemikir postmodern juga tidak apatis
terhadap pandangan pramodern seperti “emosi, perasaan,
intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan,
kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 53
sentiment keagamaan, dan pengalaman mistik”. Oleh karena
itu, postmo dapat memasuki wilayah kajian yang unik,
spesifik, dan pluralistik.
Keempat, teoretisi postmodern menolak
kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara
hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, “budaya dan
kehidupan, fiksi dan teori, image dan realitas”, maka, kajian
sebagian besar pemikir postmo cenderung mengembangkan
lebih dari itu. Dengan demikian fenomena yang terjadi di
luar realitas seperti yang marak saat ini–sebagai hiperealitas
dan simulacra dapat dikaji dari teori postmo.
Kelima, banyak postmo menolak gaya wacana
akademis modern yang teliti dan bernalar. Tujuan utama
postmo adalah mengejutkan dan mengagetkan pembaca
untuk membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan
argumentatif yang beragam. Hal ini juga cenderung lebih
literal daripada gaya akademis.
Dengan demikian, postmo bukannya memfokuskan
pada inti masyarakat modern. Akan tetapi teoretisi postmo
justru mengkhususkan perhatian mereka pada bagian yang
termarginalkan, yaitu “Perihal apa yang telah diambil begitu
saja, apa yang telah diabaikan, daerah-daerah resistensi,
kealpaan, ketidak-rasionalan, ketidaksignifikasian,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 54
penindasan, batas garis, klasik, kerahasiaan, ketradisionalan,
kesintingan, kesublimasian, penolakan, ketidaksensian,
kemarjinalan, keperiferian, ketiadaan, kelemahan,
kediaman, kecelakaan, pembubaran, diskualifikasi,
penundaan, dan ketidakikutan” (Rosenau, 1992:8 dalam
Ritzer 2010:20).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, teoretisi
postmo menawarkan intermediasi daripada determinasi,
perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity), analitis
daripada sintesis, dan kompleksitas daripada simplifikasi.
Dengan begitu modernisme dan posmo memiliki sudut
pandang dan bidang kajian yang berbeda.
Sementara itu hubungan antara strukturalis, post
strukturalis, dan postmo adalah (a) hubungan antara
strukturalis dan post strukturalis terletak pada pandangannya
terhadap sistem bahasa dan keberadaan subjek. Strukturalis
berpandangan bahwa sistem bahasa itu stabil, teratur,
makna ditentukan oleh aturan, makna berada di luar subjek,
dan bersifat universal; sedangkan Post-strukturalis
berpandangan bahwa sistem bahasa itu tidak stabil, makna
ditentukan oleh konteks dan penggunanya (subjek), makna
bersifat khusus/bermacam-macam makna. Dengan demikian
pandangan Modernisme cenderung bersifat strukturalis,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 55
sedangkan Postmo cenderung bersifat poststrukturalis.
Perbedaan antara Modernisme dengan Postmodern dapat
dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.2: Perbedaan Modernisme dan Postmodernisme


Modern Postmodern
1. Mengutamakan rasionalitas 1. Menggunakan rasionalitas
dengan logika yang sama logika dan alasan argumentatif
(tunggal)berdasarkan wacana yang beragamdan tidak
akademis modern yang teliti menafikkan terhadap
dan bernalar; dan menafikkan pandangan pramodern seperti
emosi, perasaan, intuisi, emosi, perasaan, intuisi,
refleksi, spekulasi, pengalaman refleksi, spekulasi, pengalaman
personal, kebiasaan, kekeras-an, personal, kebiasaan, kekerasan,
metafisika, tradisi, kosmologi, metafisika, tradisi, kosmologi,
magis, mitos, sentiment magis, mitos, sentiment
keagamaan, dan penga-laman keagamaan, dan pengalaman
mistik. mistik.

2. Memfokuskan pada inti 2. Lebih memfokuskan pada


masyarakat modern untuk bagian yang termarginalkan,
menciptakan kesatuan/unity dan yang telah diabaikan,
makna yang bersifat universal seperti daerah-daerah
dan final, sehingga resistensi, kealpaan,
mengabaikan yang kecil- ketidakrasionalan, ketidaksig-
kecil/marginal. nifikansian, penindasan, batas
garis, klasik, kerahasiaan,
ketradisionalan, kesintingan,
kesublimasian, penolakan,
ketidaksensian, kemarjinalan,
keperiferian, ketiadaan,
kelemahan, kediaman,
kecelakaan, pembubaran,
diskualifikasi,penundaan, dan
ketidakikutan untuk
menciptakan makna yang

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 56


beragam karena makna bersifat
relatif.
3. Modern cenderung 3. Postmo cenderung
meletakkan batas-batas mengembang-kan lebih dari,
antardisiplin akademis, seperti sehingga potensi kreativitas
batas antara budaya dan dan inovasi memiliki peluang
kehidupan, fiksi dan teori, yang besar untuk berkembang.
image dan realitas, sehingga
potensi kreativitas dan inovasi
terabaikan.
4. Mengedepankan pembuatan 4. Mengedepankan analisis
sintesis terhadap realitas. terhadap berbagai fenomena
dalam realitas.
5. Pola pikir Modern bersifat 5. Pola pikir Postmo lebih bersifat
simplifikasi teori untuk kompleksitas teori untuk
menghasilkan generalisasi mendapatkan
teori besar (grand narative) paralogi/pluralitas teori yang
kasuistis
6. Cenderung ke arah 6. Cenderung ke arah humanisasi
dehumanisasi karena bersifat karena bersifat intermediasi ke
determinasi ke pandangan pandangan yang beragam.
dunia (word view).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 57


BAB III
POSTMODERN SEBAGAI KERANGKA BERPIKIR
KAJIAN SOSIOLOGIS

Mengenai Postmo, Eagleton (1996), mengungkapkan


dalam The Illusions of Postmodernism bahwa dibedakan
antara Postmodern dan postmodernitas. Akan tetapi, dia
sendiri lebih senang menggunakan istilah Posmodern, sebab
istilah ini dapat mencakup keduanya. Postmodernitas
biasanya dimengerti sebagai gaya berpikir yang curiga
terhadap pengertian klasik tentang kebenaran-rasionalitas-
identitas-objektivitas, curiga terhadap ide kemajuan
universal atau emansipasi, curiga akan satu kerangka kerja,
grand narrative atau dasar-dasar terdalam dalam penjelasan.
Berlawanan dengan norma-norma pencerahan ini,
postmodernitas melihat dunia sebagai yang kontigen, tidak
berdasar, tidak seragam, tidak stabil, tidak dapat ditentukan,
seperangkat kebudayaan yang plural atau penafsiran yang
melahirkan skeptisisme terhadap objektivitas kebenaran,
sejarah dan norma-norma, kodrat yang terberikan serta
koherensi identitas. Sementara itu,Postmodern dimengerti
sebagai gaya kebudayaan yang merefleksikan sesuatu dalam
perubahan zaman ini ke dalam suatu seni yang diwarnai
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 58
oleh seni yang self-reflexive, penuh permainan, ekletik,
serta pluralistik. Seni semacam ini mengaburkan batas
antara budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘pop’, antara seni dan
hidup harian (Eagleton, 1996:vii-viii).
Lebih lanjut, Anderson (1998) menjelaskan bahwa
Postmodern (Postmo) adalah paham yang berkembang
setelah era modern dengan modernismenya. Postmo
bukanlah paham tunggal sebuah teori, namun justru
menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik
temu yang tunggal. Banyak tokoh-tokoh yang memberikan
arti Postmo sebagai kelanjutan dari modernisme. Meskipun
demikian, kelanjutan itu menjadi sangat beragam.
Bagi Lyotard dan Geldner, Postmo adalah
pemutusan secara total dari modernisme. Pernyataan ini
mengisyaratkan adanya antitesa antara prinsip teori
Modernisme yang bersifat unity, universal, dan menolak
hal-hal yang di luar rasio. Sebaliknya Postmo lebih
menekankan pada paralogi/keberagaman logika dan
mengakomodasi hal-hal yang di luar rasio dalam memaknai
suatu fenomena kontemporer, di antaranya ilusi, intuisi,
mistis, dan sebagainya. Perhatikan contoh di bawah ini:

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 59


Tadi siang berbincang-bicang dengan salah satu rekan peneliti
dari Papua. Beliau menceritakan kondisi mantan mahasiswa yang sudah
lama membantu mengambil data penelitiannya di Papua. Saat ini,
mantan mahasiswa itu dalam kondisi lumpuh.
Menurut penjelasan Beliau, kejadian lumpuh itu bermula ketika
Kepala Suku mengingatkan agar tidak mengambil data penelitian di
daerah mereka. Jika itu dilanggar, dia tidak akan pernah bisa berjalan.
Lumpuhnya si mantan mahasiswasebagai pengambil data penelitian ini
tidak dapat diditeksi secara medis, sehingga tidak bisa disembuhkan
secara medis.
Menurut Kepala Suku, mantan mahasiswanya itu akan sembuh
jika Sang Kepala Suku berenan memaafkan dan mengambil kutukannya.
Kejadian seperti ini tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan teori
Modern dengan analisis rasional dan metanarasinya. Akan tetapi Postmo
dengan memasukkan unsur di luar rasio dapat menjelaskan fenomena
ini.

Sementara itu, bagi Derrida, Foucault dan Baudrillard,


Postmo adalah bentuk radikal dari kemodernan yang
akhirnya bunuh diri karena sulit menyeragamkan teori-teori.
Pernyataan Derrida, Foucault dan Baudrillard tersebut
mengindikasikan bahwa,bahwa Postmo memang tidak
memiliki tujuan sama sekali untuk menyeragamkan teori
dengan sudut pandang rasional sebagaimana yang dilakukan
oleh kaum modernis. Akan tetapi Postmo sangat menghargai

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 60


pluralitas logika atau paralogi, sehingga akan diperoleh
makna yang sangat banyak dan beragam. Hal ini sesuai
dengan hakikat jiwa manusia tidak ada yang sama.
Perhatikan contoh di bawah ini. Derrida dengan metode
dekonstruksinya menolak pandangan bahwa bahasa
memiliki makna yang pasti, tertentu, dan konstan. Tidak ada
ungakapan atau bentuk-bentuk kebahasaan yang bermakana
tertentu dan pasti. Dengan menggunakan metode
dekonstruksi dalam membaca teks diharapkan pembaca
dapat melihat fakta-fakta lain dalam teks karya sastra,
sehingga tidak ada kemutlakan dalam memaknai karya
sastra dan menghilangkan anggapan-anggapan yang absolut
serta menemukan hal-hal baru yang pada awalnya
terabaikan. Caranya dengan dua prinsip, yaitu (1) melacak
unsur-unsur aporia (makna paradoks, makna kontradiktif,
dan makna ironi) dan (2) membalikkan atau merubah
makna-makna yang sudah dikonvensionalkan (Culler,
1983:86-87).
Perhatikan contoh sebagai berikut:
Cara pembacaan dengan dekonstruksi dapat digunakan terhadap
novel-novel pada umumnya. Disini penulis mengambil contoh cara
pembacaan dengan dekonstruksi pada novel Siti Nurbaya.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 61


Pada umumnya pembaca beranggapan bahwa Samsul Bahri
merupakan tokoh protagonis pemuda yang hero, tokoh putih, sedang
Datuk Maringgih merupakan tokoh antagonis yang serba jahat dan tokoh
hitam. Melalui cara dekonstruksi, keadaan itu justru akan terbalik.
Samsul Bahri bukanlah seorang pemuda hero, melainkan seorang
pemuda cengeng dan berperasaan nasionalisme sempit. Hanya karena
kegagalan cintanya terhadap seorang gadis (yang kemudian ternyata
sudah janda), ia lupa akan dirinya, dia putus asa dan bunuh diri. Hal itu
menunjukkan secara mental, ia bukanlah seorang pemuda yang kuat.
Setelah ternyata usaha bunuh dirinya gagal juga, ia memutuskan
untuk masuk serdadu kompeni. Pada akhirnya, ketika di daerah Sumatra
Barat, yang merupakan tanah kelahirannya terjadi pemberontakan
karena masalah blasting, ia ditugaskan untuk menumpas pemberontakan
itu. Dengan bersemangat, ia berangkat ke medan tempur karena
sekaligus bermaksud membalas dendam terhadap Datuk Maringgih yang
menjadi biang keladi kegagalan cintanya. Apapun alasannya hal itu
berarti ia memerangi bangsanya sendiri dan justru berdiri di pihak
membela kepentingan penjajah.
Dilihat dari dekonstruksi Jaus, yaitu yang mempertimbangkan
aspek historis yang berwujud “sejarah” tanggapan pembaca dari masa ke
masa, perbuatan Samsul Bahri dewasa ini, sesuai dengan konteks sosial
yang ada, justru dapat ditanggapai sebagai perbuatan menghianati
bangsa. Terhadap bangsa sendiri ia sampai hati untuk memeranginya,
semata-mata hanya didorong oleh motivasi yang bersifat pribadi. Ia
sama sekali bukan seorang pahlawan, bahkan bukan pahlawan cinta
sekalipun.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 62


Datuk Maringgih, di pihak lain, walau dia diakui banyak orang
sebagai tokoh jahat, bandot tua yang doyan perempuan namun hal ini
pun yang menganggapnya baik, misalnya ia justru dipandang sebagai
pahlawan cinta seperti dalam nyanyian kelompok bimbo justru dapat
dipandang sebagai tokoh yang kuat dan berdimensi baik. Dialah yang
menjadi salah seorang tokoh yang menggerakkan pemberontakan
terhadap penjajah Belanda itu, walau hal itu dilakukan terutama juga
karena motivasi pribadi: dia yang paling banyak kena pajak. Apapun
motivasinya, ia menjadi tokoh pemberontak. Artinya, dia adalah tokoh
pejuang bangsa, yang seberapa pun kecil andilnya, bermaksud
mengenyahkan penjajah dari bumi Indonesia. Dengan demikian, justru
dialah yang “berhak” disebut pahlawan dan bukannya Samsul Bahri.

Ahmad Maulana dan Halimah, dalam novel Siti Nurbaya itu, hanya
merupakan tokoh pinggiran yang umumnya dianggap kurang penting.
Namun, jika dipahami betul pesan-pesan penting yang ingin
disampaikan lewat novel itu, akan terlihat kedua tokoh itu sebenarnya
amat berperan. Dengan perbincangannya dengan Nurbaya, Ahmad
Maulana inilah yang mengungkapkan kejelekan-kejelekan perkawinan
poligami yang sebenarnya lebih baik menyengsarakan wanita dan anak-
anaknya. Sikap dan pandangan hidup Nurbaya, sebenarnya, banyak
dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup kedua tokoh tersebut.

Inila contoh pembacaan sastra dengan dekonstruksi. Pemahaman


dan keyakinan yang telah dikonvensional selama ini diruntuhkan dengan
teori ini, dimana posisi dan kondisi yang telah dikonvensionalkan itu
berubah menjadi bertolak belakang.

Sumber: http://susdamitasyaridomo.blogspot.com.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 63


Lebih lanjut bagi David Graffin (Ritzer, 2004),
Postmo adalah koreksi beberapa aspek dari modernisme.
Lalu bagi Giddens, Postmo adalah bentuk modernisme yang
sudah sadar diri dan menjadi bijak. Dikatakan sadar diri dan
lebih bijak karena tidak ada pemaksaan terhadap kesatuan
logika, tetapi mengakomogasi pluralitas logika atau
paralogi.
Bagian ini merupakan pengantar bagi pembaca untuk
masuk ke dalam diskusi yang lebih detail dan mendalam
seputar teori sosial Postmo. Bagian ini sekaligus juga
merupakan sketsa yang sangat selektif tentang teori sosial
postmodern yang dimaksudkan untuk memperkenalkan
pembaca pada gagasan-gagasan atau pemikir-pemikir lain
seperti: Sontag, Venturi, Jencks, Nietzsche, Rorty, Freud,
Saussure, dan Levi-Strauss. Dalam pembahasan ini,
diasumsikan bahwa pembaca sudah cukup mengenal
pemikiran para teoretikus sosial yang memainkan peranan
penting, baik positif maupun negatif dalam pembentukan
teori sosial postmodern seperti Marx, Durkheim dan Weber.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 64


Secara garis besar pemikiran Marx, Durkheim, dan Weber
serta kontribusinya terhadap lahirnya teori Postmodern sebagai berikut:
A. KARL MARX (1818-1883)
Ia lahir di Trier, Jerman tahun 1818. Tahun 1841 tamat dari perguruan
tinggi. Ia mengawali karirernya sebagai editor surat kabar di Jerman.
Pandanganya amat kritis terhadap penindasan yang hadir bersama sistem
kapitalisme yang mewarnai peradaban Eropa Barat.
Pemkiran-Pemikiran Marx
Ada dua teori yang berkontribusi terhadap lahirnya teori postmo dari
Marx, yaitu teori tentang Fakta Sosial dan teori tentang Solidaritas
Sosial.
1. Teori Pertentangan Kelas
Pertama kali, Marx mendefinisikan kelas-kelas sosial
melaluiteori hubungan produksi. Marx mengategorikan tiga stratifikasi
sosial dalam hubungan produksi, yaitu borjuis, borjuis kecil, dan
proletar. Kaum borjuis adalah kelompok pemilik modal, sedangkan para
‘borjuis kecil’ terdiri atas para tukang/pengrajin, pedagang, notaris,
pengacara dan seluruh birokrat. Adapun kaum proletar adalah mereka
yang menjual tenaga dalam bekerja.
Yang terpenting bagi Marx bukanlah membuat deskripsi
tentang stratifikasi sosial tetapi dinamika sebuah masyarakat yang
menurut pendapatnya bergerak dalam satu konflik sentral yaitu
perjuangan kelas, antara kelas borjuis dengan kelas proletar. Kaum
borjuis yang didorong oleh persaingan dan haus akan keuntungan yang
sebanyak-banyaknya bergerak semaksimal mungkinuntuk
mengeksploitasi kaum proletar. Sementara itu, kaum proletar yang
disebabkan oleh kemelaratan dan pengangguran yang bersifat endemik

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 65


hanya memiliki satu-satunya jalan keluar yaitu pemberontakan sporadis
atau melakukan revolusi. Pergulatan antar kelas inilah yang
menyebabkan terjadinya perubahan dalam masyarakat maka
pemberontakan haruslah bertransformasi dalam bentuk revolusi.
Pergulatan antarkelas inilah yang berkontribusi terhadap lahirnya teori
Postmodern.
2. Teori Perjuangan Kelas (sejarah manusia adalah sejarah
perjuangan kelas)
“Historis Matrealisme” bergerak pada wilayah yang oleh marx
disebut the mode of economic productionsebagaimana terdapat dalam
pemikiran “Marx tua”. Pemikiran Marx terbagi menjadi dua: Marx
muda dan Marx tua. Marx muda, berfikiran filosofis (yang kemudian
banyak melahirkan teori kritis).Pemikiran Marx muda banyak terdapat
dalam karyanya berjudul The Poverty of philosophy. Sementara itu,
Marx tua, adalah Marx yang berfikiran ekonomi diterministik dan
kemudian menjadi ideologi. Keberpihakan Marx pada kaum tertindas
bersifat diterministik. Inilah yang menjadi embrio lahirnya teori
Postmodern.
Dalam teori itu dijelaskan bahwa, gerak kehidupan manusia ada
dua hal yang tidak bisa pisahkan, yaitu superstructures dan
infrastructure. Superstructuresmeliputi politik, agama, pendidikan,
pengetahuan, keluarga, dan sebagaianya, sedangkan infrastructure
meliputi ekonomi. Ekonomi adalah elemen dasar atau fondasi yang
menopang superstructures. Hubungan sosial yang melembagakan sifat
ketergantungan dan mengontrol atau menguasai sumber ekonomi oleh
Marx disebut the mode of economic production. Dengan demikian, the
mode of economic production tidak lebih merupakan upaya Marx untuk

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 66


membalik teori idealis Hegel (Mind-Matter) menjadi matrialisme
(Matter-Mind).

B. EMILE DURKHEIM (1858-1917)


Pemikiran-Pemikiran Durkheim
Durkheim mengembangkan teori sosial yang melihat pada perilaku
sosial manusia sebagai individu yang merupakan bagian dari suatu
system sosial dan berorientasi kepada lingkungan si pelaku. Dalam
melihat perilaku sosial manusia, Durkheim melihatnya sebagai
fenomena sosial dengan memperlihatkan pada 2 asumsi dasar, yaitu:
1. Bersifat riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya
yang berbeda dari karakteristik psikologi, biologi atau karakteristik
individu lainnya.
2. Dapat dipelajari dengan metode empiric yang memungkinkan ilmu
sejati tentang masyarakat yang harus dikembangkan.
Ada dua teori yang berkontribusi terhadap lahirnya teori postmo dari
Durkheim, yaitu teori tentang Fakta Sosial dan teori tentang Solidaritas
Sosial.

1. Teori Fakta Sosial


Menurut Durkheim, fenomena sosial terdiri atasfakta Sosial
dan solidaritas sosial. Fakta sosial merupakan objek penyelidikan
sosiologi yang membedakan dengan ilmu lainnya terutama psikologi
dan filsafat. Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baik baku
maupun tidak baku yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:(1) bersifat
eksternal terhadap individu artinya fakta sosial berada di luar individu;

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 67


(2) bersifat memaksa individu; dan (3) bersifat umum atau tersebar
secara meluas dalam satu masyarakat.
Berdasarkan konsep fakta sosial tersebut, muncullah konsep
tetang “Kesadaran kolektif”. Hal itu disebabkan oleh keberadaan
manusia sebagai individu yang hidup dalam sebuah komunitas yang
bernama Masyarakat, yang di dalamnya terdapat norma-norma, nilai-
nilai, dan pegangan hidup yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh
setiap individu sebagai proses adaptasi. Dari rasa kebersamaan untuk
menjalani aturan yang sudah disepakati maka timbullah kesadaran
kolektif pada sesama anggota masyarakat yang melampaui kesadaran-
kesadaran individualnya. Kesadaran kolektif itu terdiri atas sejumlah
kepercayaan, perasaan, norma dan tekad yang dibagi bersama. Ada 3
argumentasi untuk membuktikan adanya kesadaran kolektif, yaitu (a)
adanya kejadian-kejadian ketika orang bertindak atas cara yang
sebenarnya tidak sesuai dengan pikiran individual mereka; (b) kesadaran
kolektif yang berlainan dari kesadaran individual yang tampak pada
tingkah laku grup yang berlainan dengan tingkah laku individu; dan (c)
gejala sosialdapat dilihat secara nyata dari individu-individu yang
melakukannya berdasarkan kemauan individu dan kesadaran kolektif.

2. Teori Solidaritas Sosial


Durkheim mengelompokkan solidaritas sosial menjadi 2, yaitu (1)
solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas mekanis yaitu
anggota-anggota yang ada secara spontan mempunyai kecenderungan
kepada suatu pola hidup bersama. Ini merupakan ciri khas masyarakat
kuno. Adapun solidaritas organis, yaitu perbedaan-perbedaan yang
timbul antar individu dalam hidup bermasyarakat, sehingga berkembang

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 68


prinsip saling membutuhkan dan ketergantungan. Ciri ini dapat ditemui
pada masyarakat modern.Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan
kedua solidaritas sosial ini, dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

No Solidritas Mekanik Solidaritas Organik

1 Pembagian kerja rendah Pembagian kerja Tinggi

2 Kesadaran kolektif kuat Kesadaran kolektif lemah

Hukum represif (pidana) Hukum restitutif (perdata)


3
dominan dominan

4 Individualitasnya rendah Individualitasnya tinggi

Konsensus terhadap pola- Konsensus pada nilai-nilai


5
pola normative penting abstrak dan umum itu penting
Keterlibatan komunitas Badan-badan control sosial
6 dalam menghukum orang yang menghukum orang yang
yang menyimpang menyimpang

C. MAX WEBER (1864-1920)


Max Weber lahir di Erfurt pada tahun 1864. Menyelesaikan studi
di bidang hukum, ekonomi, sejarah, filsafat, teologi dan mengajar
disiplin ilmu-ilmu tersebut di berbagai universitas di Jerman. Weber
jejak muda sudah menyebarluaskan terbentuknya ilmu sosiologi secara
kontinu. Weber sangat berminat terhadap bidang politik tetapi tidak
pernah terlibat benar-benar dalam aksi politik. Ia Banyak melakukan
riset dan menulis buku dan esei.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 69


Pemikiran-pemikiran Weber
Ada dua teori yang berkontribusi terhadap lahirnya teori postmo
dari Weber, yaitu teori tentang Perilaku Sosial dan teori tentang
Kharisma dan Retuniasasi

1. Teori Perilaku Sosial


Pada mulanya, Weber menjelaskan bahwa sosiologi adalah
ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Masyarakat adalah produk
dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi
nilai, motif, dan kalkulasi rasional. Hanya individu-individu yang riil
secara objektif dan masyarakat adalah salah satu nama yang menunjuk
pada sekumpulan individu yang menjalin hubungan. Dengan demikian,
Sosiologi menurut Weber adalah ilmu pengetahuan yang berusaha
memahami dengan cara melakukan interprestasi atas aktivitas sosial.
Bertolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial, Weber
menyebutkan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian ilmu
sosiologi: (1) tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung
makna yang subjektif; (2) tindakan nyata dan yang bersifat membatin
sepenuhnya dan bersifat subjektif; (3) tindakan yang meliputi pengaruh
positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan
dalam bentuk persetujuan secara diam-diam; (4) tindakan itu diarahkan
kepada seseorang atau kepada beberapa individu; dan (5) tindakan itu
memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

2. Kharisma dan retuniasasi


Kharisma adalah kekuasaan yang dimiliki oleh orang tertentu,
sedangkan rutinisasi adalah struktur aktivitas yang berjalan karena ada

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 70


kharisma. Tiga ciri utama kharisma adalah luar biasa, spontan, dan
sebagai sumber dari bentuk gerakan baru. Adapun fungsi kharisma bagi
masyarakat sebagai sumber kegoncangan dan pembaharuan. Dengan
begitu, kharisma dapat melahirkan panggilan bagi pengikutnya. Ada
kewajiban mereka yang terpanggil pada misi kharismatik untuk
mengakui kualitasnya dan bertindak sesuai dengan tokoh yang
kharismatik.

Beberapa kalangan modern menganggap golongan


Postmo tidak pernah dapat memberikan satu solusi yang
pasti, mereka seolah mengurai satu masalah dan
menghamparkannya dalam lantai dialektika wacana,
akhirnya merangkai dan membuat satu solusi kongkrit dari
masalah yang telah dibedahnya. Hal ini menurut MacKenzie
bukan karena Postmo tidak dapat menjawab berbagai
pertanyaan ini akan tetapi karena terdapat berbagai
kemungkinan jawaban yang berbeda-beda yang
kemungkinan bertentangan antara teori yang satu dengan
teori yang lainnya (Ahmed, 1992).
Berbagai nilai dan ide dasar dalam teori Postmo
seperti relativitas dan pluralisme serta kesepakatannya untuk
menerima emosi dan intuisi adalah salah satu cara
memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan begitu, Postmo
adalah suatu dimensi dalam ilmu politik yang didalamnya
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 71
terdapat berbagai aliran pemikiran yang satu sama lainnya
bisa saling bertentangan.
Pendekatan seperti ini dapat memperbaiki cara
pandang dalam melihat suatu fenomena masyarakat yang
semakin kontemporer dan unik dan bahkan dapat
menemukan berbagai solusi yang relevan terhadap realita
sosial saat ini, ketika masyarakat modern menjadi lebih
apatis, konsumtif, antisosial, dan opresif dalam usahanya
melakukan homogenisasi dengan menolak keberagaman
atau pluralitas. Walaupun pada akhirnya penggunaan bahasa
yang ambigu dan multi intrepretatif dalam aliran ini menjadi
salah satu kendala dalam memaknai apa yang sebenarnya
dikandung dalam teori ini.
Ahmed (1992) dalam bukunya Postmodernisme dan
Islam menyebutkan delapan karakter sosiologis Postmo
yang menonjol, yaitu: Satu, timbulnya pemberontakan
secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya
kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (meta-
narasi); dan diterimanya pandangan pluralisme relativisme
kebenaran. Dua, meledaknya industri media massa,
sehingga Postmo bagaikan perpanjangan dari sistem indera,
organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia
menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media massa
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 72
telah menjelma bagaikan “agama” atau “tuhan” sekuler,
dalam arti perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-
agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh
media massa, seperti program televisi. Tiga, munculnya
radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul
diduga sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin
meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat
yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan
manusia, tetapi sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan.
Empat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan
identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan
masa lalu. Lima, semakin menguatnya wilayah perkotaan
(urban) sebagai pusat kebudayaan, dan wilayah pedesaan
sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi
menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang.
Ibaratnya negara maju sebagai “titik pusat” yang
menentukan gerak pada “lingkaran pinggir”. Enam, semakin
terbukanya peluang bagi kelas-kelas sosial atau kelompok
untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan
kata lain, era Postmo telah ikut mendorong bagi proses
demokratisasi. Tujuh, era Postmo juga ditandai dengan
munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme
dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 73
serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk
ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya secara
eksklusif. Delapan, bahasa yang digunakan dalam wacana
Postmo seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan
inkonsistensi sehingga apa yang disebut “era Postmo”
banyak mengandung paradoks.
Sementara itu, menurut Pauline Rosenau dalam
(Norris, 1982:99), Postmo menganggap modernisme telah
gagal dalam beberapa hal penting antara lain sebagai
berikut. Pertama, modernisme gagal mewujudkan
perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para
pedukung fanatiknya. Perbaikan-perbaikan yang dimaksud
berupa keinginan untuk menyejahterakan seluruh umat
manusia, tetapi justru sebaliknya bahwa aliran modernisme
dianggap merusak tatanan kehidupan masyarakat menjadi
individualistik, yakni yang kaya memiskinkan yang miskin,
yang pintar membodohi yang bodoh, dan yang kuat
menjajah negara yang lemah. Yang lebih fatal, ketika bom
atom diledakan di Hiroshima dan Nagasaki, ribuan umat
manusia mati dan alam semesta rusak diakibatkan oleh
ledakan tersebut. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak
mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan
penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 74
preferensi yang sering mendahului hasil penelitian. Ketiga,
ada kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan
ilmu-ilmu modern. Keempat, ada keyakinan yang
sesungguhnya tidak berdasar, bahwa ilmu pengetahuan
modern mampu memecahkan segala persoalan yang
dihadapi manusia dan lingkungannya. Ternyata keyakinan
ini keliru ketika kita menyaksikan bahwa kelaparan,
kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi
menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dan Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan
dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia
karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu.
Postmo muncul untuk “meluruskan” kembali
interpretasi sejarah yang dianggap otoriter. Untuk itu
Postmo menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk
mengakui adanya identitas lain (the other) yang berada di
luar wacana hegemoni.Postmo mencoba mengingatkan kita
untuk tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan
menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam
kerangka genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak
pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak
“sentral”)

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 75


Postmo mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya
memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan
produktivitas dan keuntungan saja, tetapi juga melihat pada
hal-hal yang berada pada alur vulgarmaterial yang selama
ini dianggap sebagai penyakit dan objek pelecehan saja.
Postmo sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya
merupakan sebuah oto-kritik dalam filsafat Barat yang
mengajak untuk melakukan perombakan filosofis secara
total agar tidak lagi melihat hubungan antarparadigma
maupun antarwacana sebagai suatu “dialektika” seperti yang
diajarkan Hegel. Postmo menyangkal bahwa kemunculan
suatu wacana baru pasti meniadakan wacana sebelumnya.
Sebaliknya gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat
hubungan antar wacana sebagai hubungan “dialogis” yang
saling memperkuat satu sama lain.
Berkaitan dengan kapitalisme dunia misalnya,
Postmo menyatakan bahwa krisis yang terjadi saat ini adalah
akibat keteledoran ekonomi modern dalam beberapa hal,
yaitu: (1) kapitalisme modern terlalu tergantung pada
otoritas teoretisi sosial-ekonomi seperti Adam Smith,
J.S.Mill, Max Weber, Keynes, Samuelson, dan lain-lain
yang menciptakan postulasi teoretis untuk secara sewenang-
wenang merancang skenario bagi berlangsungnya prinsip
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 76
kapitalisme; (2) modernisme memahami perkembangan
sejarah secara keliru ketika menganggap sejarah sebagai
suatu gerakan linear menuju suatu titik yang sudah pasti.
Postmo muncul dengan gagasan bahwa sejarah merupakan
suatu genealogi, yakni proses yang polivalen, dan (3) erat
kaitannya dengan kekeliruan dalam menginterpretasi
perkembangan sejarah, ekonomi modern cenderung untuk
hanya meperhitungkan aspek-aspek noble material dan
mengesampingkan vulgarmaterial sehingga berbagai upaya
penyelesaian krisis seringkali justru berubah menjadi
pelecehan. Inkonsistensi yang terjadi adalah akibat
rendahnya empati para pembuat keputusan terhadap
persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Postmo bukanlah
suatu gerakan homogen atau suatu kebulatan yang utuh.
Heterogenitas inilah yang menyebabkan sulitnya
pemahaman orang awam terhadap Postmo. Dalam wujudnya
yang bukan merupakan suatu kebulatan, Postmo tidak dapat
dianggap sebagai suatu paradigma alternatif yang
berpretensi untuk menawarkan solusi bagi persoalan-
persoalan yang ditimbulkan oleh modernisme, melainkan
lebih merupakan sebuah kritik permanen yang selalu
mengingatkan kita untuk lebih mengenali esensi segala
sesuatu dan mengurangi kecenderungan untuk secara
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 77
sewenang-wenang membuat suatu standar interpretasi
yang belum tentu benar.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 78


BAB IV
TOKOH-TOKOH POSTMODERN DAN
PEMIKIRANNYA

A. JACQUES DERRIDA
1. Biografi Singkat Jacques Derrida
Coker, John C (2003) menjelaskan Jacques Derrida
adalah seorang filosof Prancis sebagai tokoh penting post-
strukturalis dan Postmodernis. Ia lahir dalam lingkungan
keluarga Yahudi pada 15 Juli 1930 di Aljazair. Pada tahun
1949 ia pindah ke Prancis sampai akhir hayatnya. Ia kuliah
sambil di École Normale Supérieure di Paris Prancis dalam
rangka melaksanakan tugas militernya bersama Hegel dan
Jean Hyppolite. Dia menghabiskan waktu satu tahun di
Harvard untuk menyelesaikan kesarjanaannya, dari tahun
1956-1957.
Dari tahun 1960-1964, Derrida mengajar di
Sorbonne dan sejak tahun 1965 Derrida mengajar sejarah
filsafat di Ecole Normale Superieure.Setiap tahun Derrida
mengajar sebagai dosen tamu di Yale University, Amerika
serikat. Pada masa muda, Derrida pernah menjadi anggota
Partai komunis Prancis.Sejak tahun 1974 Derrida ikut aktif

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 79


dalam kegiatan-kegiatan himpunan dosen filsafat yang
memperjuangkan agar filsafat dapa diajarkan mulai sekolah
menengah. Kelompok ini merupakan kelompok penelitian
pengajaran filsafat yang didirikan dalam rangka rencana
pembaharuan pendidikan peranan filsafat pada sekolah
menengah mulai dipersoalkan.Pada tahun 1962, Derrida
memenangkan hadiah Prix Cavilles atas karya perdananya,
dengan menerbtkan terjemahan karangan Husserl
yakniAsal-Usul Ilmu Ukur.
Derrida muda dibesarkan dalam lingkungan yang
agak bersikap deskriminatif. Ia dipaksa mundur sedikitnya
dari dua sekolah, yaitu ketika ia masih anak-anak.
Pemaksaan itu semata-mata karena ia seorang Yahudi. Ia
dipaksa keluar dari sebuah sekolah, karena ada batas kuota 7
persen bagi warga Yahudi. Meskipun Derrida tidak suka,
jika dikatakan bahwa karyanya diwarnai oleh latar belakang
kehidupannya, tetapi pengalaman kehidupannya tampak
berperan besar pada sikap Derrida yang begitu menekankan
pentingnya kaum marginal dalam pemikirannya kemudian.
Karya awal Derrida di bidang filsafat sebagian besar
berkaitan dengan fenomenologi. Latihan awalnya sebagai
filsuf dilakukan melalui kacamata Edmund Husserl.
Inspirasi penting lain bagi pemikiran awalnya berasal dari
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 80
Nietzsche, Heidegger, De Saussure, Levinas, dan Freud.
Derrida mengakui bahwa gagasan-gagasannya terinspirasi
dari para pemikir itu dalam pengembangan pendekatannya
terhadap teks, yang kemudian dikenal sebagai
'dekonstruksi'.
Pada 1967, Derrida sudah menjadi filsuf penting
kelas dunia. Ia menerbitkan tiga karya utama (Of
Grammatology, Writing and Differance, dan Speech and
Phenomena). Seluruh karyanya ini memberi pengaruh yang
berbeda-beda, namun Of Grammatology tetap karyanya
yang paling terkenal. Pada Of Grammatology, Derrida
mengungkapkan dan kemudian merusak oposisi ujaran-
tulisan, yang menurut Derrida telah menjadi faktor yang
begitu berpengaruh pada pemikiran Barat.
Keasyikan Derrida dengan bahasa dalam teks ini
menjadi ciri khas sebagian besar karya awalnya. Sejak
penerbitan karya-karya tersebut serta teks-teks penting
lainnya (termasuk Dissemination, Glass, The Postcard,
Spectres of Marx, The Gift of Death, dan Politics of
Friendship), dekonstruksi secara bertahap meningkat, dari
memainkan peran utama di benua Eropa, kemudian juga
berperan penting dalam konteks filosofis Anglo-Amerika.
Peran ini khususnya terasa di bidang kritik sastra, dan kajian
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 81
budaya, yakni ketika metode analisis tekstual dekonstruksi
memberi inspirasi kepada ahli teori, seperti Paul de Man.
Dekonstruksi sering menjadi subjek kontroversi.
Ketika Derrida diberi gelar Doctor Honoris Causa di
Cambridge pada 1992, banyak protes bermunculan dari
kalangan filsuf “analitis.” Sejak itu, Derrida juga
mengadakan banyak dialog dengan filsuf-filsuf seperti John
Searle, salah satu filsuf yang sering mengritiknya.
Bagaimanapun, dari banyaknya antipati tersebut,
tampak bahwa dekon-struksi memang telah menantang
filsafat tradisional melalui berbagai cara penting. Derrida
dianggap sebagai salah satu filsuf terpenting abad ke-20 dan
ke-21. Istilah-istilah falsafinya yang terpenting adalah
différance dan dekonstruksi.

2. Pemikiran-pemikiran Jacques Derrida


1) Derrida memulai pemikirannya dari bahasa. Ia
mendekonstruksi pandangan Noam Chomsky tentang
strukturalis bahasa ke pandangan tindak tutur bahasa
yang dipelopori oleh Austin. Menurut Derrida struktur
bahasa itu bersifat kaku dalam membentuk makna.
Derrida keluar dari strukturalis ke post strukturalis
dengan kerangka pemikiran bahwa teks adalah tanda,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 82
sedangkan tandabukan sarana untuk menghadirkan
makna tetapi tanda sama nilainya dengan kehadiran
makna, maka makna hakikatnya adalah teks itu sendiri.
Dengan demikian, Derrida menolak pandangan
strukturalis yang menyatakan bahwa makna hanya
ditentukan oleh kaidah/sistem yang berada di luar subjek.
Menurutnya makna ditentukan oleh teks itu sendiri
(konteks) dan subjek (pembaca).
2) Pemikiran Derrida tentang Dekonstruksi dan Defferance
adalah pembong-karan makna. Pembongkaran makna itu
menampakkan aneka ragam aturan yang sebelumnya
tersembunyi untuk menentukan teks. Derrida
menyebutnya dengan istilah dekonstruksi. Satu hal
yangdapat ditampakkan melalui proses pembongkaran
makna yang mendapat perhatian khusus dalam filsafat
Derrida adalah “yang tak dipikirkan” dan “yang tak
terpikir”. Metode dekonstruksi Jacques Derrida tentang
“yang tak dipikirkan” dan “yang tak terpikir” inilah yang
kemudian membuat Derrida melakukan kritik terhadap
pemikiran para penganut metafisika. “Yang tak
dipikirkan” maksudnya adalah “yang mustahil
dipikirkan”, menurut Derrida, hal itu merupakan hal yang
belum dapat dipikirkan oleh para penganut metafisika
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 83
(mungkin teks-teks tersebut dianggap suci, jadi tidak ada
yang berani untuk menyentuhnya), sedangkan “yang tak
terpikir”, maksudnya adalah hal-hal yang bisa dipikirkan
kembali dari pemikiran filosofis penganut metafisika.
Dengan demikian, penafsiran yang dianggap mustahil
atau tabu karena dianggap suci bagi kaum metafisika atau
agamawan, menjadi sesuatu yang wajar untuk
ditafsirkan.
3) Dekonstruksi juga tidak hanya bergerak di tataran
filsafat, melainkan juga menyentuh literatur, politik, seni,
arsitektur, dan bahkan ilmu-ilmu alam. Di dalam kajian
lintas ilmu, dekonstruksi dapat digambarkan sebagai
suatu kekuatan untuk mengubah dan membelah
kepastian, serta pakem-pakem lama yang tidak lagi
dipertanyakan. Di dalam tulisan-tulisannya, Derrida
berulang kali menuliskan bahwa kekuatan untuk
mengubah dan membelah makna itu sebenarnya sudah
terkandung di dalam teks itu sendiri. Yang dilakukan
hanyalah mengaktifkan kekuatan itu, dan kemudian
menyebarkannya ke keseluruhan teks. Derrida mau
melakukan desedimentasi terhadap teks, dan membuka
kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tidak
terpikirkan. Dalam arti ini ia mau menciptakan gempa di
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 84
dalam teks, maksudnya bahwa makna tidak bersifat
tunggal melainkan plural.
4) Dekonstruksi Derrida tidak hanya menggambarkan teks,
melainkan juga mengungkap kontradiksi yang terletak di
dalam detil teks, sehingga pemaknaan dan arti baru yang
sebelumnya tidak terpikirkan justru bisa tampil menjadi
dominan dan mengubahnya ke arah yang sama sekali
tidak terduga. Tidak ada bagian teks yang sifatnya
stagnan atau permanen. Apabila tidak ada yang
sifatnya permanen di dalam teks, maka teks selalu bisa
dibaca dan dimengerti dengan cara yang selalu
berbeda. Tidak ada tafsiran dominan yang sifatnya
otoritatif. Dengan demikian dimungkinkan dalam kurun
waktu yang berbeda atau oleh pembaca yang berbeda
ditemukan makna yang berbeda pula, misalnya makna
kekuasaan bagi seorang eksekutif akan berbeda jika
ditafsirkan oleh rakyat biasa.
5) Di dalam kajian lintas ilmu, dekonstruksi dapat
digambarkan sebagai suatu kekuatan untuk mengubah
dan membelah kepastian dan pakem-pakem lama yang
tidak lagi dipertanyakan. Konsep dekonstruksi dapat
dipahami dengan konsep differance, jejak-jejak makna
(trace), dan iterabilitas.Kata differance terdiri atas dua
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 85
kata yakni membedakan (to differ), dan menunda
kepastian (to defer). Jadi kebenaran dan makna di dalam
teks harus terus dibedakan dan ditangguhkan
kepastiannya, karena kebenaran harusditangguhkan dan
dibedakan terus menerus, maka kebenaran mutlak itu
pada dasarnya tidak ada. Menurut Derrida, yang bisa
ditemukan dan diketahui adalah jejak-jejak dari
kebenaran, dan bukan kebenaran mutlak. Inilah yang
dimaksud dengan konsep jejak (trace) di dalam
pemikiran Derrida. Sementara iterabilitas adalah
kemampuan suatu teks untuk selalu dimaknai terus
menerus di dalam konteks yang berbeda-beda. Teks
adalah sesuatu yang lentur dan lincah. Teks adalah tanda
yang bisa terus diulang dan dibedakan sesuai dengan
horison pembaca dan penafsirnya.

3. Kelemahan
Kelemahan metode dekonstruksi adalah
mengantarkan kita pada sebuah model semiotika
ketidakberaturan atau semiotics of chaos, sehingga era
dekontruktivisme dianggap era matinya makna. Makna
menjadi tidak berarti lagi, maksudnya tidak ada satu makna
yang mengandung kebenaran mutlak. Kebebasan tanpa
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 86
batas menjadikan makna kehilangan ‘roh’. Yang ada adalah
massalisasi makna yang dapat mengurangi nilai dan objek
tidak lagi memiliki kemewahan ruang pemaknaan untuk
ditelaah. Ketidakbernilaian makna, ke-chaos-an makna
dapat menimbulkan apatisme dan ketidakpercayaan
terhadap makna. Dekonstruksi tidak menyediakan shelter-
shelter untuk persinggahan khusus dalam proses perjalanan
pemaknaan, sehingga tidak ada upaya untuk menghargai
puing-puing hasil penghancuran makna karena makna-
makna baru dianggap lebih bernilai. Padahal, makna-makna
lama ada kemungkinan memberi nilai tambah bagi makna-
makna baru.

4. Kelebihan
Kelebihan metode Dekonstruksi yaitu menolak
kemapanan, menolak objektivitas tunggal dan menolak
kestabilan makna sehingga membuka ruang kreatif seluas-
luasnya dalam proses pemaknaan dan penafsiran.
Dekonstruksi membuat penghancuran terhadap suatu makna
oleh makna baru, sehingga melahirkan makna-makna lain.
Setiap orang bebas memberi makna dan menafsiri suatu
objek tanpa batas, sehingga ruang makna terbuka luas.
Tafsiran-tafsiran makna berkembang biak secara terus-
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 87
menerus. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu. Pemikiran
Derrida ini memberikan ekses yang sangat besar terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi saat ini. Terbukanya
pemaknaan terhadap teks mendorong para pembaca untuk
menciptakan makna yang seluas-luasnya sesuai dengan
konteks dan subjek pembaca, sehingga pemaknaan terhadap
teks tidak lagi tunggal dan sakral tetapi beragam dan sangat
kaya wawasan.

Perhatikan contoh di bawah ini:


Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
diharu-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta


Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 88
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima


Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi


Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan


Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 89


Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya

Kalian adalah sebagian kaum penganggur yang mereka ciptakan


Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban

Pelacur-pelacur kota Jakarta


Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengawini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 90
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

Pandangan W.S. Rendra dalam konteks wacana di atas sangat


bertolak belakang dari pandangan pakem masyarakat terhadap pelacur.
Apabila masyarakat pada umumnya memandang pelacur sebagai wanita
yang memiliki moralitas rendah ‘bejat’, sebagai penggoda para laki-laki
sekaligus sebagai aib, baik bagi keluarga maupun bagi masyarakat,
maka W.S. Rendra memandang dari sudut pandang humanis terhadap
sesama manusia dan menafikkan kemunafikan masyarakat kelompok
lain yang memandang dirinya lebih terhormat (para politisi, pejabat dan
birokrat) serta menempatkan para pelacur pada kelas “sampah” di
masyarakat.
Rendra melihat sebaliknya, dari kacamata humanis, dia
memandang pelacur sebagai korban kebiadaban dan
ketidakmanusiawian para birorat dan politisi. Menurut Rendra,
pekerjaan pelajur merupakan korban keserakahan para penguasa yang
menjadikan mereka kelaparan dan sulit mendapatkan pekerjaan. Itu
sebabnya, Rendra menyebut mereka sebagai teman sesame rakyat yang
menjadi korban kebiadaban, keserakahan, dan kemunafikan para
birokrat.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 91


Sementara itu, di pihak para politisi dan birokrat, untuk
memenuhi kebutuhan biologisnya, para birokrat sangat membutuhkan
kehadiran para pelacur /sebagai inspirasi revolusi, kekuatan perjuangan
pembangunan/, namun di sisi lain, untuk menunjukkan kehormatannya
di masyarakat, dia berteriak pelacur sebagai sampah masyarakat. Itu
sebabnya, Rendra menyebut mereka sebagai /Politisi dan pegawai tinggi
adalah caluk yang rapi. Kongres-kongres dan konferensi tak pernah
berjalan tanpa kalian/.
Derrida mengatakan, pembaca bebas memaknai teks ketika
sudah menjadi milik masyarakat pembaca. Perbedaan dan pemekaran
makna tersebut menurut Derrida dapat dilakukan dengan cara (1)
melacak unsur makna paradoks, makna kontradiktif, dan makna ironi
dan (2) membalikkan atau mengubah makna yang sudah
dikonvensionalkan. Dengan demikian, puisi di atas juga dapat
ditafsirkan menjadi berbagai macam makna, misalnya paradoks dari
sudut pandang si pelacur, pejabat, politisi, masyarakat awam, ustadz,
pendidik, sosiolog, psikolog, dan sebagainya. Masing-masing sudut
pandang akan menghasilkan penafsiran yang berbeda dari masing-
masing persepsi pembaca, sehingga satu teks wacana puisi dia atas dapat
menghasilkan jutaan penafsiran makna oleh subjek pembaca yang
berbeda dari sudut pandang yang berbeda pula. Dari berbagai penafsiran
tersebut semua mengandung kebenaran dan tidak ada satu penafsiran
pun yang dinilai paling benar.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 92


Pemikiran Derrida dapat digambarkan melalui skema/bagan
sebagai berikut:

ITERABILITAS TEKS

PROSES PEMAKNAAN
DEKONSTRUKSI

1. OPOSISI BINNER  KONTEKS


2. DIFFERENCE  PENGETAHUAN
3. DIFFERANCE  PENGALAMAN

HASIL DEKONSTRUKSI

TRACE 1 TRACE 2 TRACE 3 TRACE N

Gambar 4.1 : Skema Pemaknaan Teks Dekonstruksi Derrida

Berdasarkan skema di atas dapat dijelaskan bahwa


iterabilitas teks (kemampuan suatu teks untuk selalu
dimaknai terus-menerus di dalam konteks yang berbeda-
beda) menurut Derrida didasarkan pada 3 hal yaitu (1)
Oposisi Binner (makna yang berlawanan); (2) Difference
(makna yang belum terpikirkan); (3) Defferance (makna
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 93
yang tidak terpikirkan). Untuk memperoleh makna tersebut
penafsir dipengaruhi oleh (1) konteks (sejarah dan tempat
teks itu ditafsirkan); (2) pengalaman penafsir; (3)
pengetahuan penafsir. Artinya banyaknya pengalaman dan
dalamnya pengetahuan penafsir akan berpengaruh terhadap
hasil dekonstruksi makna. Dengan demikian akan diperoleh
jenis makna yang berbeda antara penafsir yang satu dengan
penafsir yang lain dalam konteks yang berbeda. Inilah yang
disebut Derrida sebagai trace (jejak-jejak makna).

B. JEAN FRANCOIS LYOTARD

1. Biografi Singkat Jean-François Lyotard


Jean-François Lyotard dilahirkan di Versailles pada
tahun 1924. Setelah Perang Dunia II, ia diterima di
Universitas Sorbonne dan mengambil filsafat sebagai pokok
studinya. Setelah itu, ia menjadi dosen di beberapa
universitas.Sepuluh tahun mengajar di Universitas Paris
VIII Saint Denisd dari tahun 1956 sampai 1966. Lyotard
menjadi anggota dewan redaksi jurnal sosialis, Socialisme
ou Barbarie dan surat kabar sosialis Pouvoir Ouvrier. Di
samping itu, dia menjadi perserta aktif dalam upaya
menentang pemerintahan Perancis saat berlangsungnya

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 94


perang di Aljazair. Pemikiran filsafatnya dipengaruhi oleh
Marx dan Kant.
Meskipun demikian pengaruh Marx dalam politiknya
hanya disetujuinya pada tahun 1950-an, sebab pada tahun
1960-an dia sudah menjadi seorang filsuf postmodernitas
non-Marxis. Ia meninggal pada tahun 1998 dalam usia yang
ke-74.

2. Pemikiran Jean-François Lyotard tentang Postmo


Jean-Francois Lyotard, dalam bukunya The
Postmodernt Condition: A Report on Knowledge (1979),
adalah salah satu pemikir pertama yang menulis secara
lengkap mengenai postmo sebagai fenomena budaya yang
lebih luas, diantaranya adalah gerakan perpindahan dari
fondasionalisme menuju anti-fondasionalisme, dari
teori besar (grand theory) menuju teori spesifik, dari sesuatu
yang universal menuju sesuatu yang sebagian dan lokal, dari
kebenaran yang tunggal menuju kebenaran yang beragam.
Semua gerakan tersebut adalah mencerminkan tantangan
postmo kepada modernis. Pemahaman pemikiran postmo
menjadi penting untuk memahami berbagai perkembangan
ilmu pengetahuan dan budaya yang tidak lagi memadai
untuk dianalisis hanya berdasarkan paradigma ilmiah
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 95
modern yang lebih menekankan kesatuan, homogenitas,
objektivitas, dan universalitas. Sementara ilmu pengetahuan
dalam pandangan postmo lebih menekankan pada pluralitas,
perbedaan, heterogenitas, budaya lokal/etnis, dan
pengalaman hidup sehari-hari.
Menurut Lyotard (1979), bahwa awalan post pada
postmo, merupakan upaya untuk memutus hubungan masa
lalu dengan tradisi modern dengan cara memunculkan
pemikiran baru. Pemutusan dengan masa lalu (zaman
modern) merupakan jalan untuk melupakan dan merepresi
masa lalu. Dalam pandang-an modernisme, ilmu
pengetahuan berkembang sebagai pemenuhan keinginan
untuk keluar dari mitos-mitos yang digunakan masyarakat
primitif dalam menjelaskan fenomena alam, sedangkan
modernitas adalah proyek intelektual yang mencari kesatuan
berdasarkan fondasi sebagai jalan menuju kemajuan.
Dalam pandangan modernisme, sains dianggap
sebagai iderasionalitas dan humanisasi yang merupakan
konstruk metanarasi. Sementara dalam pandangan postmo,
ide rasionalitas dan humanisme merupakan konstruksi
historis dan konstruksi sosial budaya yang tidak universal,
sehingga kedua hal tersebut tidak dapat diseragamkan
tanpa mempertimbangkan kondisi sosial-historis serta
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 96
budaya lokal. Keanekaragaman pemikiran menurut Lyotard
hanya dapat dicapai dengan melakukan penolakan terhadap
kesatuan (unity ), dengan mencari disensus
(ketidaksepakatan) secara radikal.
Lyotard merupakan pemikir postmo yang penting
karena memberikan fondasi filosofis pada gerakan postmo.
Pemikiran-pemikirannya dijelaskan sebagai berikut:

1) Penolakan terhadap Grand Narative (Meta Narasi)


Bagi Lyotard (1979), penolakan postmo terhadap
metanarasi merupakan salah satu ciri utama dari postmo,
dan menjadi dasar baginya untuk melepaskan diri dari
Grand-Narative. Baginya ilmu pengetahuan pra-modern dan
modern mempunyai bentuk kesatuan (unity) yang
didasarkan pada metanarasi (Grand-Naratives) yang
menjadi kerangka untuk menjelaskan berbagai
permasalahan penelitian dalam skala mikro bahkan terpencil
sekalipun. Metanarasi itu menjadi kerangka penelitian
ilmiah dan sekaligus sebagai justifikasi keilmiahan. Grand
Naratives (Metanarasi) adalah teori-teori atau konstruksi
dunia yang mencakup segala hal dan menetapkan kriteria
kebenaran dan objektivias ilmu pengetahuan sebagai satu-
satunya yang ilmiah/benar. Dengan konsekuensi bahwa
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 97
narasi-narasi lain di luar narasi besar dianggap
sebagai narasi non-ilmiah.
Penolakan terhadap metanarasi berarti menolak
penjelasan yang sifatnya universal/global tentang realitas.
Lyotard (1979) juga menyatakan bahwa pengetahuan
tidak bersifat metafisis, universal, atau transendental
(esensialis), melainkan bersifat spesifik, terkait dengan
ruang-waktu (historis). Bagi pemikir postmo, ilmu
pengetahuan memiliki sifat perspektifal, posisional dan
tidak mungkin ada satu perspektif yang dapat menjangkau
karakter dunia secara objektif-universal. Pandangan Lyotard
menumbuhkembangkan ilmuwan-ilmuwan kreatif dan
inovatif di segala bidang keilmuan.
Memudarnya kepercayaan terhadap metanarasi
disebabkan oleh proses delegitimasi atau krisis legitimasi,
yakni ketika fungsi legitimasi metanarasi mendapatkan
tantangan berat. Pengetahuan sains tidak lagi dihasilkan
demi pengetahuan melainkan demi profit di mana kriterium
yang berlaku bukan lagi benar/salah, melainkan kriterium
performatif: maximum out put with a minimum
input (menghasilkan semaksimal mungkin dengan biaya
sekecil mungkin).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 98


Lyotard yakin bahwa kita memasuki fase ketika
logika tunggal yang diyakini kaum modernis sudah mati
digantikan oleh pluralitas logika atau paralogi.
Perspektivisme tentang ilmu pengetahuan yang berasal dari
Nietzche digunakan Lyotard untuk menolak pandangan ilmu
pengetahuan yang universal dan total. Menurutnya tidak ada
perspektif tunggal tentang realitas objektif yang universal,
yang ada adalah bermacam-macam perspektif sesuai dengan
konteks dan cara pandang terhadap ilmu pengetahuan.Pada
situasi postmo ini, ilmu pengetahuan dan filsafat bertujuan
untuk penemuan bermacam-macam kebenaran dan
performatif, serta nilai-nilai pragmatis.
Dalam pandangan Lyotard (1979), relativisme
dan kebenaran absolut sama-sama memiliki kelemahan.
Kelemahan pandangan kebenaran absolut-universal
adalah pada kenyataannya parailmuwan memiliki
keterbatasan ketika menghadapi (meneliti) realitas. Apalagi
kebenaran teori juga bersifat tentatif (percobaan). Dengan
demikian pandangan yang menyatakan bahwa teori bersifat
benar secara absolut-universal tidak ada dan tidak dapat
dibenarkan.
Di sisi lain perspektivisme mengarahkan pada
relativisme ilmiah yang mengakui kebenaran ilmu yang
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 99
relatif, yaitu kebenaran sesuai dengan perspektif/paradigma
yang digunakan. Artinya, bisa jadi perspektif tertentu
dianggap lebih memilki kesempurnaan dibanding perspektif
yang lain karena metode dan hasilnya lebih akurat, lebih
mendekati kebenaran, dan lebih berguna

2) Language Games
Menurut Lyotard (1979), sains adalah permainan
bahasa yang di dalamnya terkandung aturan-aturan normatif
(misalnya pihak pertama sebagai pembuat proposisi yang
harus menyediakan bukti yang memperkuat proposisinya,
sedangkan pihak kedua hanya boleh memberikan
persetujuan atau penolakannya). Sains dihadapkan
pada kenyataan bahwa ia tidak bisa memberlakukan aturan
mainnya secara universal sehingga berhak menilai mana
pengetahuan absah dan mana yang tidak.
Menurut Lyotard, sains setelah mengalami krisis
legitimasi terbukti bukan lagi pemonopoli kebenaran
tunggal, karena dihadapkan pada kenyataan sekedar satu
dari sekian banyak permainan bahasa. Permainan bahasa
sains adalah permainan bahasa denotatif. Aturan main
permainan bahasa denotatif adalah sebuah pernyataan untuk
meyakinkan pihak kedua sebagai pihak yang wajib
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 100
memberikan persetujuan atau penolakan berdasarkan bukti
yang diajukan pihak pertama.
Terjadinya pergantian paradigma ilmiah dari mono-
paradigma menjadi multi-paradigma ini dianggap sebagai
terjadinya keterputusan epistimologis. Ia kemudian
membatasi ilmu pengetahuan sebagai permainan bahasa dan
mengungkapkan konsep Language Games yang mengacu
pada keanekaragaman penggunaan bahasa dalam kehidupan
sehari-hari.
Konsep permainan bahasa merupakan pergeseran
dari bahasa sebagai cermin realitas kepada bahasa sebagai
suatu permainan, yang memiliki aturan sebagai berikut: (a)
pernyataan atau proposisi ilmiah adalah pernyataan
denotatif; (b) proposisi ilmiah berbeda dengan proposisi
yang menekankan ikatan sosial atau yang terkait dengan
asal-usul; (c) kompetensi hanya diperlukan pada pengirim
bukan pada penerima; (d) proposisi ilmiah adalah
sekumpulan pertanyaan yang dapat diuji oleh bukti dan
argumen; (e) berkaitan dengan empat poin tersebut,
konsep ini mengharuskan pemahaman tentang situasi
pengetahuan ilmiah yang sedang berlangsung. Untuk
legitimasi ilmiah, ilmu pengetahuan tidak memerlukan satu
narasi karena aturan-aturan ilmiah bersifat imanen dalam
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 101
permainannya (paradigmanya sendiri) (Leche,1994 dan
Lubis, 2006).Dalam pandangan Lyotard, sains dianalogikan
sebagai permainan bahasa. Sebagai permainan bahasa, sains
tidak memiliki aturan tunggal yang permanen tetapi
disesuaikan dengan kebutuhan permainan (perspektif dan
historis). Dengan demikian, kebenaran dalam sains bersifat
relatif dan pluralistik.
3) Anti-Fondasionalisme
Menurut Lyotard anti fondasionalisme dalam teori
sosial budaya dan filsafat menegaskan bahwa metanarasi
(metode, humanisme, sosialisme, dan universalisme) yang
dijadikan fondasi dalam modernitas barat dan hak-hak
istimewanya adalah cacat, maka harus ada model
pengetahuan yang lebih sensitif terhadap perbedaan (Bertens,
2006). Pandangan ini sejalan dengan Perry (1998) yang
mengemukakan bahwa ciri kaum postmo adalah tidak
adanya kemutlakan dalam ilmu pengetahuan dan budaya,
namun justru mendukung pluralisme dengan menyatakan
bahwa setiap ilmuwan harus berhadapan dengan yang
lainnya sebagai peneliti/penemu dengan informasi, cerita
dan visi-visi yang berbeda
Pemikiran Lyotard sebagai postmo secara umum
sejalan dengan pemikiran para postmo lainnya yaitu
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 102
menawarkan intermediasi daripada determinasi
dan perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity).
Antifondasionalis dalam filsafat dan ilmu pengetahuan
sosial budaya menegaskan bahwa metanarasi yang dijadikan
fondasi ilmu pengetahuan, humanisme, sosialisme dan lain-
lain, adalah cacat. Untuk itu metode pengetahuan harus
lebih sensitif terhadap berbagai perbedaan. Peran para
intelektual sebagai legislator kepercayaan digantikan dengan
interpreter. Konsep perbedaan, perspektif, multi vokalitas,
language game dan hal-hal yang bersifat lokal lainnya
menjadi perhatian khusus dalam pemikiran postmo menurut
Lyotard (Perry,1998). Pandangan esensialisme yang
didukung oleh paradigma positivisme dianggap tidak
realistis dan tidak mampu menjelaskan fenomena sosial
budaya yang begitu beraneka ragam. Sehingga pemikiran
dan konsep-konsep tersebut mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan
dan kajian sosial-budaya.
Kelemahan pandangan Lyotard adalah bahwa teori
yang dibangun tidak bertahan lama/jangka pendek karena
bersifat pragmatis dan historis sehingga teori ini tidak dapat
berlanjut ke tahap transendental. Munculnya banyak teori
yang bersifat spesifik, pragmatis, perspektif menyebabkan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 103
kesulitan bagi peneliti pemula. Dengan demikian, oleh para
pengikut Modernis, budaya postmo diangap sebagai budaya
dangkal karena tidak bertujuan menemukan esensi realitas
(kebenaran objektif universal).
Adapun kekuatan atau kelebihan pandangan ini
adalah munculnya banyak teori baru yang lebih spesifik dan
pragmatis, sehingga teori-teori yang diciptakan menurut
pandangan ini bersifat dinamis sesuai dengan perspektif dan
konteks masing-masing lokal. Pemikiran Lyotardini
memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi terutama munculnya
teori-teori baru yang sesuai dengan konteks dan pragmatis.
Dengan penolakannya terhadap metanarasi berarti tidak ada
lagi universalisasi teori, sehingga dunia pengetahuan makin
marak berkembang, eksperimen-eksperimen makin banyak
dilakukan untuk menemukan teori baru sesuai dengan
bidang, konteks, dan kebutuhan, di antaranya makin
meningkatnya rekayasa di bidang pertanian, rekayasa
perikanan dan peternakan, juga rekayasa di bidang
teknologi.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 104


Tabel 4.1: Pemikiran Modernis versus Pemikiran Posmo
Lyotard

Modernism Post Modernism Lyotard


Fondasionalisme Anti Fondasionalime
`1. Metanarasi Metanarasi cacat yang ada
spesifik dan multinarasi
2. Grand Theory Grand theory tidak ada, yang
ada paralogi theory
3. Mono Paradigma Mono Paradigma itu tidak ada
yang ada multi Paradigma
4. Kebenaran Tunggal Kebenaran universal itu tidak
ada yang ada kebenaran relative
dan pluralistik karena ilmu
bersifat eksperimen
5. Realitas Universal Realitas universal itu tidak ada
yang ada realitas itu spesifik,
perspektif, dan pragmatis
6. Makna Transendental Tidak ada makna transenden
yang ada makna bersifat
dinamis sesuai dengan konteks
dan historis
7. Pengetahuan bersifat makro Pengetahuan bersifat mikro
8. Kriteria benar-salah Kriteria maksimum dan
minimum
9. Bersifat Determinasi Bersifat Intermediasi
10. Menekankan Unity Menekankan Deversifikasi
11. Menghasilkan ilmuwan Menghasilkan ilmuwan-
besar ilmuwan kreatif dan inovatif di
segala bidang keilmuan.

Tabel 4.1 di atas dapat disederhanakan dalam gambar


berikut ini:

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 105


FONDASIONALISM
LANGUAGE
ANTI
FONDASIONAL GAMES
KEBENARA
METANARA N
TUNGGAL
PARALO

Gambar 4.2 : Pemikiran Modernis versus Pemikiran Posmo


Lyotard

Berdasarkan gambar 4.2 di atas dapat dijelaskan


bahwa pemikiran Lyotard tentang posmo merupakan
pemikiran besar dalam aliran Modernism. Menurut Lyotard,
memudarnya kepercayaan terhadap metanarasi disebabkan
oleh krisis legitimasi, yakni ketika fungsi legitimasi
metanarasi mendapatkan tantangan berat. Pengetahuan sains
tidak lagi dihasilkan demi pengetahuan melainkan demi
profit dan kriterium yang berlaku bukan lagi benar/salah,
melainkan kriterium performatif: maximum out put with a
minimum input (menghasilkan semaksimal mungkin dengan
biaya sekecil mungkin). Lyotard yakin bahwa logika tunggal
yang diyakini kaum modernis sudah mati digantikan oleh
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 106
pluralitas logika atau paralogi. Sementara itu, language
game (permainan bahasa) merupakan langkah untuk
menjembatani krisis legitimasi monopoli kebenaran di
bidang sains. Adapun anti fondasionalisme, menurut
Lyotard dalam teori sosial budaya dan filsafat menegaskan
bahwa metanarasi (metode, humanisme, sosialisme, dan
universalisme) yang dijadikan fondasi dalam modernitas
barat a adalah cacat, maka harus ada model pengetahuan
yang lebih sensitif terhadap perbedaan yang disebut dengan
antifondasionalisme.

C. PAUL MICHEL FOUCAULT


1. Biografi Singkat Paul Michel Foucault
Paul Michel Foucault (Poitiers, 15 Oktober 1926–
Paris, 25 Juni 1984) adalah seorang filsuf asal Perancis. Ia
salah satu pemikir paling berpengaruh pada zaman pasca
Perang Dunia II. Foucault dikenal akan penelaahannya yang
kritis terhadap berbagai institusi sosial, terutama psikiatri,
kedokteran, dan sistem penjara, serta akan karya-karyanya
tentang riwayat seksualitas. Karyanya yang terkait
kekuasaan dan hubungan antara kekuasaan dengan
pengetahuan telah banyak didiskusikan dan diterapkan,
selain pemikirannya yang terkait dengan “wacana” dalam
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 107
konteks sejarah filsafat Barat.Pada tahun 1980, Foucault
diidentikkan dengan gerakan Postmodernisme, yaitu ketika
ia menuangkan pemikirannya dalam beberapa tulisan, yaitu
diantaranya The Order of Things, The Archeology of
Knowledge, Dicipline and Punish, Language, Counter
Memory, Practise, The History of Sexuality dan Power
Knowledge. Analisisnya yang terkait dengan discourse,
power dan knowledge merupakan sumbangan yang besar
terhadap kritik pembangunan.Michel Foucault merupakan
salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam gerakan
Postmodernisme, yang menyumbangkan perkembangan
teori kritik terhadap teori pembangunan dan modernisasi
dari perspektif yang sangat berbeda dengan teori-teori kritik
lainnya (Sarup, 1993; Berten, 2002; Fakih, 2002).

2. Pemikiran Paul Michel Foucault


1) Menurut Foucault (Sarup 1993 dan Berten 2002), wacana
pembangunan merupakan alat untuk mendominasi
kekuasaan. Pemikiran Foucault yang utama adalah
penggunaan analisis wacana untuk memahami kekuasaan
yang tersembunyi di balik pengetahuan. Analisisnya
terhadap hubungan kekuasaan dan pengetahuan
memberikan pemahaman bahwa peran pengetahuan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 108
tentang pembangunan telah mampu melanggengkan
dominasi terhadap kaum marjinal. Pandangan tersebut
dimasukkan dalam karyanya tentang A Critique of Our
Historical Era (dalam Wahyudi, 2006). Foucault melihat
ada problematika dalam bentuk modern pengetahuan,
rasionalitas, institusi sosial, dan subjektivitas. Semua itu,
menurutnya terkesan given and natural, tetapi dalam
faktanya semua itu adalah “serangkaian konstruk
sosiokultural tentang kekuasaan dan dominasi”. Pendapat
ini didasarkan pada studi tentang dominasi kekuasaan
(penjajahan/kolonialisme) negara-negara dunia pertama
(Negara Maju) terhadap negara-negara dunia ketiga
(negara berkembang). Melalui pengetahuan, negara-
negara maju menciptakan konsep pembangunan yang
digunakan sebagai alasan dan strategi untuk memecahkan
masalah “keterbelakangan” di negara-negara
berkembang. Akan tetapi, faktanya alasan dan strategi
membangun “keterbelakangan masyarakat” di negara-
negara berkembang tersebut justru digunakan sebagai
kedok untuk melanggengkan penjajahan, eksploitasi, dan
dominasi kekuasaan terhadap negara-negara berkembang.
Konsep pembangunan tersebut tidak hanya
melanggengkan dominasi dan ekploitasi pada negara-
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 109
negara berkembang tetapi juga untuk menghancurkan
ideologi-ideologi negara-negara berkembang dan
menggan-tikannya dengan ideologi kapitalis. Pemikiran
Foucault tentang kontrol penciptaan wacana dan
bekerjanya kekuasaan pada pengetahuan sangat
membantu para teoretisi dan praktisi perubahan
sosial untuk melakukan pembongkaran terhadap
teori dan praktek pembangunan. Hal ini perlu
diperhatikan karena tanpa menganalisis pembangunan
sebagai suatu wacana, maka akan sulit untuk memahami
bagaimana Negara Barat mampu melanggengkan kontrol
secara sistematik dan bahkan menciptakan
ketergantungan negara Dunia Ketiga secara politik,
budaya dan sosiologi kepada Negara Barat tersebut.
2) Sejarah dominasi tersebut telah terjadi sejak abad
penaklukan “dunia baru” hingga saat ini. Sebelum tahun
1945, strategi dominasi dilakukan dengan menggunakan
wacana “dunia terbelakang”. Selanjutnya, pada era pasca
kolonialisme, negara-negara maju mendirikan IBRD
(bank dunia) tahun 1940-an dan 1950-an dengan wacana
pembangunan untuk melakukan dominasi terhadap
negara-negara berkembang. Negara-negara maju atau
negara-negara kaya, dengan kekayaan dan teknologinya,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 110
merasa mampu untuk menyelamatkan kemajuan dunia
dengan menciptakan Marshall Plan, yang ditujukan
untuk menjadikan negara miskin menjadi kaya dan
keterbelakangan berubah menjadi pembangunan.
Organisasi internasional diciptakan untuk tujuan tersebut,
yang diperkuat dengan pengetahuan ekonomi baru dan
diperkaya dengan desain sistem manajemen yang
canggih, sehingga membuat negara-negara berkembang
menjadi yakin akan keberhasilannya (Berten, 2002).
3) Selanjutnya, menurut argumentasinya bahwa hubungan
antara bentuk kekuasaan modern dan pengetahuan
modern telah menciptakan bentuk dominasi baru. Bagi
Foucault, selain eksploitasi dan dominasi, ada satu
bentuk yang diakibatkan oleh suatu wacana
pembangunan, yakni subjection (bentuk penyerahan
seseorang pada orang lain sebagai individu, seperti
pasien pada psikiater). Oleh karena itu, yang perlu
dipelajari adalah upaya untuk membangkitkan kembali
local centres dari power knowledge, pola
transformasinya, dan upaya untuk masukkan ke dalam
strategi dan akhirnya menjadikan pengetahuan mampu
men-support kekuasaan (Sarup, 1993).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 111


4) Menurut pemikiran Foucault (Sarup,1993), bahwa setiap
strategi yang mengabaikan berbagai bentuk power akan
mengalami kegagalan. Untuk melipatgandakan power,
harus berusaha bertahan dan melawan dengan jalan
melipatgandakan resistensi dan kontra-ofensif. Localize-
resistence tersebut haruslah bersifat radikal dan tanpa
kompromi untuk melawan totalitas kekuasaan (daripada
memakai cara revolusi massa), dengan strategi yang
ditujukan untuk mengembangkan jaringan kerja
perjuangan, kantong-kantong resistensi dan popular base.
5) Yang perlu mendapatkan perhatian adalah analisis power
tertentu (antar individu, kelompok, kegiatan dan lain-
lain) dalam rangka mengembangkan strategi pengetahuan
dan membawa skema baru politisi, intelektual, buruh dan
kelompok tertindas lainnya, maka power tersebut akan
digugat. Apabila umumnya kekuasaan hanya tertuju pada
negara dan kelas elit, pemikiran Foucault membuka
kemungkinan untuk membongkar semua dominasi dan
relasi kekuasaan, seperti kekuasaan dalam pengetahuan
antara para pencipta wacana, seperti birokrat dan
akademisi terhadap rakyat miskin dan siswa yang
dianggap “tidak beradab” dan harus didisiplinkan,
diregulasi dan “dibina”.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 112
6) Bila dalam paradigma modern, kesadaran dan
objektivitas adalah dua unsur yang membentuk subjek
rasional-otonom, bagi Foucault konsep diri manusia
sebenarnya hanyalah produk bentukan wacana, praktik-
praktik, institusi, hukum ataupun sistem-sistem
administrasi, yang anonim dan impersonal itu sebenarnya
sangat kuat mengontrol (Madness and Civilization
(1988); The Order of Things dan The Archeology of
Knowledge, (1982). Bahkan, Iebih dalam lagi, Foucault
ingin membongkar keterkaitan yang biasanya dianggap
niscaya antara kesadaran, refleksi-diri dan kebebasan.
Skeptisisme epistemologis yang ekstrim telah membuat
Foucault menyejajarkan pengetahuan, subjektivitas
dengan kekuasaan, dan karenanya menganggap segala
bentuk kemajuan/pencerahan, baik di bidang psikiatri,
perilaku seksual, maupun pembaharuan hukum–selalu
saja sebagai tanda-tanda kian meningkatnya bentuk
kontrol atas kesadaran dan perilaku individu. Bukan oleh
agen atau rezim tertentu, melainkan oleh jaringan relasi-
relasi semiotis, diskursif dan administratif, yang
sebetulnya anonim-impersonal tadi (Sarup, 1993).
7) Salah satu hal yang paling inspiratif bagi Postmo adalah
sikapnya dalam memahami fenomena modern yang
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 113
bernama “pengetahuan”, terutama Pengetahuan sosial. Ia
membahas tentang “Apa itu pengetahuan”, secara
genealogis dan arkeologis; artinya, dengan melacak
bagaimana pengetahuan itu telah beroperasi dan
mengembangkan diri selama ini. Kategori-kategori
konseptual seperti “kegilaan”, “seksualitas”, “manusia”,
dan sebagainya yang biasanya dianggap “natural” itu
sebetulnya adalah situs-situs produksi pengetahuan, yang
membawa mekanisme-mekanisme dan aparatus
kekuasaan, yakni kekuasaan untuk “mendefinisikan”
siapa kita. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan adalah
agen-agen kekuasaan itu. Meskipun demikian, kekuasaan
itu tidak selalu negatif-repressif melainkan juga positif-
produktif (menciptakan kemampuan dan peluang baru),
karena mehamami kemodernan bukan lagi sebagai
pembebasan, melainkan sebagai proses kian intensif dan
ekstensifnya pengawasan (surveillance), melalui
“penormalan”, regulasi dan disiplin (Berten, 2002).
8) Sementara itu menurut Foucault (1979), sejarah adalah
permainan dominasi dan resistensi yang bergeser-geser,
grouping dan regrouping. Dalam sejarah, manusia
memang sempat terbebas dari rantai kontrol eksternal-
fisik, tetapi hanya untuk dibelenggu oleh rantai kontrol
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 114
internal-mental oleh diri sendiri ( Madness and
Civilization, 1988).
Berdasarkan pemikiran Foucault di atas dapat
diketahui bahwa berbagai macam pengetahuan yang
digunakan sebagai jargon pembangunan dan demokrasi
seperti kesederajatan, kebebasan, dan keadilan, serta
diciptakannya Marshall Plan, yang ditujukan untuk
menjadikan negara miskin menjadi kaya, keterbelakangan
menjadi pembangunan adalah alat-alat permainan dalam
relasi kekuasaan untuk mendapatkan kekuasaan terhadap
orang-orang yang tertindas. Dalam aplikasi dan kenyataan
yang ada di negara Dunia Ketiga, telah terjadi intervensi
yang mendalam atau terbentuk kekuasaan dan kontrol baru
yang sangat halus, baik Dalam bidang ekonomi, politik,
sosial dan bidang lainnya. Dengan kata lain, Dunia Ketiga
menjadi target dari kekuasaan dalam berbagai bentuk dari
lembaga kekuasaan baru Amerika dan Eropa, lembaga
internasional, pemodal besar (perusahaan transnasional)
sehingga dalam beberapa tahun telah mencapai ke semua
lapisan masyarakat. Selanjutnya, ketika pembangunan
mengalami krisis, wacana baru telah dilontarkan, yaitu
globalisasi, untuk melanggengkan subjection, dominasi dan
eksploitasi yang dilakukan oleh Negara Barat terhadap
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 115
Dunia Ketiga. Di ASEAN juga dilontarkan wacana baru
tentang MEA 2015 oleh pemilik modal besar yang dikontrol
oleh lembaga kekuasaan baru di regional ASEAN yaitu
Singapura dan Malaysia.

Secara skematis pemikiran Michel Foucault dapat


dijelaskan sebagai berikut:

KEKUASAAN PENGETAHUAN
MODERN MODERN

WACANA PEMBANGUNAN

DOMINASI BARU

MELANGGENGKAN MARJINALISASI PEMISKINAN NEGARA KETERGANTUNGAN


KEKUASAAN KAUM TERTINDAS BERKEMBANG PADA NEGARA MAJU

RESISTENSI

Gambar : 4.3 : Skema Pemikiran Foucault


Berdasarkan skema diatas dapat diketahui bahwa
kekuasaan modern menggunakan pengetahuan modern
untuk menciptakan wacana pembangunan yang digunakan
sebagai alat dominasi kekuasaan. Selanjutnya dominasi
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 116
kekuasaan digunakan oleh kekuasaan modern untuk
melanggengkan kekuasaan, memarjinalisasi kaum tertindas.
Adapun oleh negara-negara maju dominasi kekuasaan
digunakan untuk memiskinkan negara-negara berkembang,
menguasai kekayaan negara-negara berkembang dan
membuat ketergantungan serta penyerahan diri negara
berkembang kepada negara maju/imperialis. Akibat dari
dominasi kekuasaan tersebut akan menimbulkan resistensi
oleh rakyat yang tertindas dan termarjinalisasi serta negara-
negara yang termiskinkan.

D. BAUDRILLARD
1. Biografi Singkat Baudrillard
Baudrillard lahir di Reims, Perancis Timur Laut,
pada 27 Juli 1929. Pada Tahun 1956-1966, ia menjadi guru
sekolah menengah; mengkhususkan pada teori sosial Jerman
dan kesusasteraan. Baudrillard adalah seorang filsuf
sekaligus nabi postmodern. Tulisan-tulisannya memiliki
gaya yang khas dan orisinal deklaratif, hiperbolik, aforistik,
skeptis, fatalis, nihilis, namun tajam dan cerdas.
Tulisan-tulisan Baudrillard seperti bom yang
meledakkan suasana, dan menyajikan cara pandang baru
terhadap realitas sosial postmodern. Pada tahun 1962-1963,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 117
ia mengulas tulisan-tulisan di Les Temps Moderne,
termasuk sebuah esai tentang Italo Calvino. Pada tahun
1964-1968, ia menerjemahkan naskah-naskah Jerman
kedalam bahasa Perancis, termasuk beberapa karya
dramawan Peter Weiss (Marat/Sade, The German Ideology-
nya Marx dan Engels, Messianisme revolutionairre du tiers
monde dari Muhlmann) dan Bertold Brecht.
Pada Maret 1965, ia mempertahankan disertasinya
Thèse de Troisème Cycle dalam bidang sosiologi,
Universitas Paris X – Nanterre yang diterbitkan menjadi Le
systèm des objets. Pada Mei 1968 berperan aktif sebagai
intelektual dalam demonstrasi mahasiswa di Paris. Pada
tahun 1970-1976, ia menjadi maître-assistant di Nanterre.
Pada tahun 1977-1978, ia meluncurkan serial provokatif
tentang esai antisosialis dan anti strukturalis dalam
bentuknya yang sangat atraktif, publikasi gaya pamplet yang
menutup kariernya sebagai akademisi dan political outsider.
Pada tahun 1995 ia mulai mengundurkan diri dari
kehidupan kampus, tetapi tetap aktif sebagai jurnalis, esais,
dan intelektual profesional bête noir. Berikut essai-essai
yang diterbitkan dari Baudrillard: Understanding Media,
Marshall-McLuhan dalam jurnal Marxis humanis L’homme
et la société (1966); Le système des objets (1967); De la
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 118
séduction (1980); Simulacres et simulation (1981);
menerbitkan Les stratégies fatales (1982); Amérique (1986);
À l’ombre des majorités silencieuses, ou la fin du social
(1978) / In the Shadow of Silent Majorities or, The End of
the Social and Other Essays (1983); L’autre par luimême
(1987); La Guerre du Golfe n’a pas eu lieu (1991); La
transparence du mal (1990), Cool Memories II (1990), dan
L’illusion de la fin (1992)
Baudrillard banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh
diantaranya Karl Marx, Frederich Nietzsche, Claude levi-
Strauss, Louis Althusser, Georges Batalille, Marel Mauss,
Henri Lafebvre, Jacques Lacan, Roger Caillois, Gilles
Deleuze, filsuf Madzhab Frankfurt, dan Marshall McLuhan.

2. Pokok-pokok pikiran Baudrillard


Baudrillard mengembangkan teori yang berusaha
memahami sifat dan pengaruh komunikasi massa.
Pemikirannya yang paling terkenal adalah tentang simulasi,
simulacra, dan hiperealitas.

1) Pikiran Baudrillard terhadap Simulasi


Baudrillard mendefinisikan simulasi sebagai proses
penciptaan bentuk nyata melalui model-model yang tidak
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 119
ada asal-usul atau referensi realtitasnya, sehingga
memampukan manusia membuat yang supernatural, ilusi,
fantasi, khayali menjadi tampak nyata. Model ini menjadi
faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan. Segala
yang dapat menarik minat manusia–seperti seni, rumah,
kebutuhan rumah tangga dan lainnya–ditayangkan melalui
berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah
batas antara simulasi dan kenyataan menjadi bias sehingga
menciptakan hyperreality dimana yang nyata dan yang tidak
nyata menjadi tidak jelas.
Paul Virilio (Ritzer, 2003), bahkan melihat lebih
jauh lagi, bahwa trik-trik tertentu dalam produksi (terutama
di dalam media massa, film, dan video) telah memampukan
manusia kini hidup di dalam dua dunia. Sebagaimana yang
dikemukakannya bahwa, “trik, yang secara cerdik
diterapkan, kini memampukan kita membuat yang
supernatural, khayali, bahkan yang tidak mungkin tampak
menjadi seakan-akan nyata.
Kebudayaan industri menyamarkan jarak antara
fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment,
antara entertainment dan ekses-ekses politik. Masyarakat
tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda, hal ini
membuat mereka kerap kali berani dan ingin mencoba hal
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 120
yang baru yang ditawarkan oleh keadaan simulasi membeli,
memilih, bekerja dan sebagainya.
Baudrillard membantah bahwa kebudayaan
postmoadalah dunia tanda-tanda yang membuat hal yang
fondamental–mengacu pada kenyataan–menjadi kabur atau
tidak jelas. Dalam semiotika, bila segala sesuatu yang dalam
terminologi semiotika disebut sebagai tanda (sign), semata
alat untuk berdusta, maka setiap tanda akan selalu
mengandung muatan dusta; setiap makna (meaning) adalah
dusta; setiap pengguna tanda adalah para pendusta; setiap
proses pertandaan (signification) adalah kedustaan.Lebih
lanjut, Baudillard menjelaskan bahwa simulasi adalah
proses/strategi intelektual untuk menciptakan simulacra.

2) Pikiran Baudrillard terhadap Simulacra


Baudrillard mengatakan bahwa “The simulacrum is
never what hides the truth - it is truth that hides the fact that
there is none. The simulacrum is true. ”(Baudrillard, 1994).
Pemahaman mengenai simulakra menurut Baudrillard ialah
sebuah duplikasi, yang aslinya tidak pernah ada, sehingga
perbedaan antara duplikasi dan asli menjadi kabur.
Simulakra menunjukkan sebuah kondisi simulasi yang
sudah demikian akut. Artinya bahwa sebuah tanda, ikon,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 121
simbol dan citra yang ditampakkan bukan saja tidak
memiliki referensi dalam realitas, tetapi justru dianggap
sebagai representasi dari tanda, ikon, simbol dan citra yang
juga merupakan hasil dari simulasi.
Di tengah kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi yang dahsyat, realitas telah hilang dan
manguap. Kini kita hidup di zaman simulasi, di mana
realitas tidak hanya diceritakan, direpresentasikan, dan
disebarluaskan, tetapi kini dapat direkayasa, dibuat, dan
disimulasi. Realitas buatan ini bercampur-baur, menandakan
datangnya era kebudayaan postmo. Simulasi mengaburkan
dan mengikis perbedaan antara yang nyata dengan yang
imajiner, yang benar dengan yang palsu. Proses simulasi
inilah yang menghasilkan simulacra yang kemudian
mendorong lahirnya term ‘hiperrealitas’, di mana tidak ada
lagi yang lebih realistis sebab yang nyata tidak lagi menjadi
rujukan.
Simulakra bekerja dalam sebuah proses sosial yang
disebutnya sebagai proses diseminasi sosial (social
dissemination). Proses diseminasi sosial merupakan proses
pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial, tanda, citra,
informasi dan tanda-tanda komoditas yang berkembang

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 122


secara seketika (instant neousness), mengikuti model
pertumbuhan kode genetika.

Contoh: Proses pembuatan trik-trik tertentu dalam sinema, video klip,


iklan, pencitraaan tokoh-tokoh, dan sebagainya. Hal itu, di antaranya
dapat dilihat pada iklan parfum. Setelah model menggunakan parfum
seolah-olah tokoh mandi bunga dan ke mana-mana bertabur bunga
sehingga menarik perhatian lawan jenis untuk mendekatinya.

Dalam film horror, hantu seakan-akan mudah sekali dilihat dan


berinteraksi dengan manusia. Hantu bisa adu kesaktian dengan manusia
atau bahkan bisa bermesraan dengan manusia. Padahal realitaanya,
hantu tida bisa dijangkau oleh indra manusia.

Dalam film action, spiderman seolah-olah dapat terbang dan


melompat dari gedung tinggi yang satu ke gedung tinggi lainnya dengan
dengan mudah. Superman dan Batman bisa terbang dan memiliki
kekuatan super melampaui manusia biasa. Manusia bias dengan mudah
berubah menjadi manusia super.

3) Pikiran Baudrillard tentang Hiperealitas


Bagi Baudrillard, sebagaimana yang telah dibahas
sebelumnya, simulasi adalah proses atau strategi intelektual,
sedangkan hiperealitas adalah efek, keadaan, atau
pengalaman kebendaan atau ruang yang dihasilkan dari
proses tersebut. Awal dari era hiperealitas, menurut
Baudrillard, ditandai dengan lenyapnya petanda, dan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 123
metafisika representasi; runtuhnya ideologi, kebangkrutan
realitas yang kemudian diambil alih oleh duplikasi dari
dunia nostalgia dan fantasi.
Tanda kemudian tidak lagi merepresentasikan
sesuatu. Oleh karena petanda sudah mati, maka satu-satunya
referensi dari tanda yang ada adalah massa. Massa menurut
Baudrillard adalah mayoritas konsumen yang diam. Massa
ini menyerap informasi, tanda, pesan-pesan maupun norma
akan tetapi tidak pernah merefleksikan tanda, pesan, makna
atau gaya-gaya yang diambil dari berbagai sumber mitologi,
ideologi, kebudayaan masa lalu atau masa kini. Massa
bercampur aduk, berinteraksi, saling silang, saling tumpang
tindih membentuk jaringan skizofrenik (dunianya sendiri).
Sebelum Baudrillard (Ritzer, 2002), Umberto Eco
juga pernah menulis tentang hiperealitas dalam bukunya
Travels in Hyperreality. Eco dan Baudrillard sama-sama
menyatakan bahwa apa yang direproduksi dalam dunia
hiperealitas tidak saja realitas yang hilang, akan tetapi juga
dunia yang tidak nyata, seperti fantasi, mimpi, ilusi,
halusinasi, danscience fiction. Menurut Eco, ada dua jenis
hiperealitas, yakni: (1) Museum Lilin (Monalisa, Eiffel,
Menara Pisa) dan (2) Kota Hantu (Science Fiction seperti
Cinderella, Batman, dll). Dalam “Simulacra and
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 124
Simulation”, Baudrillard mencontohkan Disneyland sebagai
suatu yang hiperealitas. Disneyland ini lebih hiperealistis
daripada Kota Hantu yang disebutkan oleh Eco.

Berikut ini contoh hiperealitas di zaman potmo adalah makin


maraknya film fantasi yang seperti benar-benar terjadi, seperti
Disneyland, Walking with Dynosaurus, The Mummy Action Adventure,
The Legend of Red Reaper, Harry Potter, Super Man, Spider Man, dan
lain-lain merupakan simulakra yag menyebabkan penonton benar-benar
sulit membedakan yang asli dan yang fantastik. Di samping itu juga
makin maraknya iklan tokoh politik yang membuat masyarakat bias
membedakan yang asli dan yang pencitraan.

Di Disneyland kita tidak lagi sadar bahwa apa yang kita


saksikan adalah fantasi. Ini tidak lain karena pengaruh dari unsur-unsur
fiksi yang bekerja dengan bantuan kecanggihan teknologi science fiction
yang kemudian menciptakan sebuah halusinasi yang menggiring para
pengunjung mengambil bagian dalam teater total.
Dalam dunia hiperealitas tidak hanya seni dan realitas sejarah
(yang hilang) yang direproduksi, namun alam yang musnah pun bisa
direproduksi. Dalam hal ini di Amerika ada Taman Satwa Liar, Marine
Land, Dunia Bawah Laut, Taman Dinosaurus, game online, dan lain
lain.

Menurut Baudrillard, tidak ada tempat yang lebih


hiperealistis selain dari padang pasir, yakni Amerika.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 125


Amerika dianalogikan seperti itu karena banyaknya aspek-
aspek halusinasi dan fatamorgana yang telah menguasai
kebudayaan Amerika. Ini adalah padang pasir yang gersang
ketika seseorang yang berada di dalam kegersangannya akan
kehilangan identitas. Di tengah padang pasir, seseorang bisa
menyaksikan citra fatamorgana. Hal ini layaknya jika
seseorang berada di depan televisi dan video game. Totalitas
hidup seseorang (kegembiraan, kesedihan, kemarahan,
harapan, dan lain-lainnya) secara tidak sadar terperangkap di
dalam dunia hiperealisme media. Meskipun demikian, jika
orang tersebut mencoba melihat media dengan kesadaran,
maka ia akan menyadari bahwa itu semua hanyalah fiksi
atau fatamorgana belaka.
Sulit dibedakan antara dunia realitas dan dunia
hiperealitas dalam media/televisi. Televisi bahkan lebih
nyata dari dunia realitas, sebab tidak saja realitas yang telah
terserap secara total dalam citraan televisi, tetapi juga
karena televisi mampu membuat pemirsanya tenggelam
dalam citra simulakranya. Di dalam televisi, realitas, fantasi,
halusinasi, ilusi dan fatamorgana telah melebur menjadi
satu. Bahkan di Amerika hampir semua sisi kehidupan
disimulakrakan, seperti simulasi penyakit, simulasi
kebutuhan; dan simulasi spiritual.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 126
4) Hubungan antara Simulasi, Simulacra, dan
Hiperrealitas
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
hubungan antara simulasi, simulacra, dan hiperealitas
dijelaskan sebagai berikut. Simulasi merupakan
proses/strategi intelektual untuk menciptakan simulacra.
Simulacra merupakan hasil simulasi yang berupa realitas
buatan/duplikasi/imitasi, yang aslinya tidak pernah ada,
sehingga perbedaan antara duplikasi dan asli menjadi kabur.
Adapun hiperealitas merupakan efek atau akibat yang
ditimbulkan oleh adanya simulacra, yaitu hilangnya realitas
dan munculnya dunia yang tidak nyata, seperti fantasi,
mimpi, ilusi, halusinasi, dan science fiction.
Berdasarkan uraian di atas, berikut dijelaskan
perkembangan simulacra sejak zaman Renaissance hingga
kini telah terjadi tiga kali revolusi simulacra, yaitu
counterfeit, production, dan simulation, yang merupakan
nama yang berbeda untuk arti yang sama yaitu, imitasi atau
reproduksi dari image atau objek. Pertama, image
merupakan representasi dari realitas. Kedua, image
menutupi realitas. Ketiga, image menggantikan realitas yang
telah sirna, menjadi simulacrum murni. Baudrillard (Sarup,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 127
1993) kemudian menambahkan tahapan keempat yang
disebut fractal atau viral. Kini kita pada tahapan fractal,
yaitu image mengubah secara radikal cara pandang.

Pembuatan film Rambo yang mengubah secara radikal cara


pandang terhadap realitas yang sebenarnya merupakan contoh tahapan
simulacra tahap keempat, yaitu fractal/viral. Dalam flm tersebut, Rambo
sebagai simbol keperkasaan tentara Amerika digambarkan sebagai
superhero yang gagah perkasa, banyak akal, dan tidak pernah kalah.
Dalam film tersebut juga dicitrakan Rambo berhasil mengalahkan
tentara Vietnam. Padahal realitas yang sebenarnya adalah justru tentara
Vietnam yang berhasil membuat tentara Amerika kalang kabut porak
poranda lari tunggang langgang pulang ke negaranya, dan berhasil
mengusir tentara Amerika dari negaranya.
Contoh yang lain adalah fenomena teroris dan ISIS yang
dicitrakan sebagai gerakan Islam garis keras untuk memperburuk citra
Islam dimata dunia agar Islam tidak berkembang pesat terutama di
Barat. Cara itu juga digunakan sebagai upaya untuk mengubah cara
pandang secara radikal konsep jihad dalam Islam sebagai suatu
kejahatan. Padahal Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin yang
berarti agama yang menebarkan kasih saying kepada semua amat,
sehingga di mana pun Islam berkembang maka tempat tersebut menjadi
aman sentosa sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan
Umar Bin Hatab.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 128


Berikut ini digambarkan tahapan simulacra mulai
zaman Renaisanse sampai tahapan terkiti yaitu (1) image
merupakan representasi dari realitas, (2) image menutupi
realitas, (3) image menggantikan realitas yang telah
sirna, menjadi simulacrum murni, dan (4) image mengubah
secara radikal cara pandang terhadap dunia yang disebut
fractal atau viral.
Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia
simulacra. Manusia postmo hidup dalam dunia yang penuh
dengan simulasi, tidak ada yang nyata di luar simulasi, tidak
ada yang asli yang dapat ditiru. Baudrillard menguraikan
bahwa pada zaman kini "masyarakat" sudah sirna dan
digantikan oleh massa. Massa tidak mempunyai predikat,
atribut, kualitas maupun reference. Pendeknya, massa tidak
mempunyai realitas sosiologikal (Baudrillard:1978).
Di zaman ini konsumsi telah menjadi basis pokok
dalam tatanan sosial (Baudrillard, 1967). Objek konsumen
menata perilaku melalui suatu sign function (fungsi tanda)
secara linguistik. Iklan (advertising) telah mengambil alih
tanggungjawab moral atau moralitas puritan masyarakat dan
menggantikannya dengan moralitas hedonistik yang hanya
mengacu pada kesenangan. Parahnya lagi, hedonistik itu

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 129


telah dijadikan sebagai barometer dari hyper-civilization
(peradaban hiper).
Kebebasan dan kemerdekaan pun akhirnya diperoleh
dari sistem komoditas: "bebas menjadi diri-sendiri" pun
lantas diterjemahkan sebagai "bebas untuk memproyeksikan
keinginan seseorang pada barang-barang industri"; bebas
menikmati hidup berarti bebas menjadi orang yang irasional.
Mentalitas ini pun merasuki masyarakat, dan seolah-olah
tidak dapat dihindarkan, bahkan telah menjadi keutamaan
dalam moralitas masyarakat, maka wajarapabila individu
secara simultan menyelaraskan kebutuhan dirinya dengan
kelompok di sekitarnya.
Menurut Baudrillard (Ritzer, 2009), membeli
komoditas adalah tindakan yang sudah direkayasa
sebelumnya dan terjadi pada persilangan dua sistem.
Pertama, relasi individual yang bersifat cair, tidak saling
berhubungan dengan individu lainnya. Kedua relasi
produksi, yang dikodifikasi, berkelanjutan dan merupakan
sebuah kesatuan.
Pada masyarakat (konsumen) objek menandai status
sosial dan meng-gantikan segala macam perbedaan hirarki
sosial yang ada. Pengenalan suatu kode universal
memberitahukan kepada kita bahwa orang yang memakai
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 130
jam Rolex berada pada status sosial yang tinggi dan
pemakai ponsel buatan China sebagai orang biasa-biasa
saja. Demikianlah keberadaan objek telah mendahului
masyarakat. Objek hadir di luar dan di atas aspek kegunaaan
dan pertukaran. Baudrillard menyebutnya sebagai symbolic
exchange, sesuatu yang menempatkan objek sebagai cermin
dari subjek sebagaimana halnya cermin dan adegan.
Cermin dan adegan kini sudah digantikan oleh
monitor dan jaringan (network). Tidak ada lagi transendensi
dan kedalaman, yang ada hanyalah permukaan fungsional
dari komunikasi. Dalam televisi, prototipe objek adalah
yang paling indah pada zaman ini. Alam dan tubuh kita pun
kini telah berubah menjadi layar monitor.
Dalam sistem kapitalis hubungan manusia telah
ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol
oleh kode atau tanda tertentu. Perbedaan status dimaknai
sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan
diukur dari banyaknya tanda yang dikonsumsi.
Mengkonsumsi objek tertentu menandakan perbedaan atau
persamaan dengan kelompok sosial tertentu.
Bagi Baudrillard, dunia dewasa ini tidak ada lagi
adegan cermin, yang ada hanyalah layar dan jaringan.
Periode produksi dan konsumsi telah membanjiri jalanan.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 131
Manusia abad kontemporer hidup dalam ekstasi komunikasi
yang karut marut, sejalan dengan lenyapnya ruang privat.
Ruang publik pun tak lagi menjadi tontonan dan ruang
privat pun tidak lagi menjadi rahasia. Hapusnya perbedaan
antara bagian dalam dan bagian luar, sejalan dengan
rancunya batas antara ruang publik dan ruang privat.
Kehidupan yang paling intim, sekarang menjadi penopang
hidup virtual media.
Akhirnya menjadi mustahil membedakan yang nyata
dari suatu tontonan. Dalam kehidupan nyata masyarakat
pemirsa reality show, kejadian-kejadian nyata semakin
mengambil ciri hiperriil (hyperreal). Tidak ada lagi realitas
yang ada hanyalah hiper-realitas. Dampak yang dihasilkan
dari hiperreality adalah adanya kepercayaan masyarakat
terhadap kenyataan yang sebenarnya bukan kenyataan.
Pembodohan atas realitas ini dapat menghasilkan pola
budaya yang mudah meniru (imitasi) apa yang dilihatnya
sebagai sebuah kenyataan di media televisi direalisasikan
dalam kehidupan keseharian. Serta terbentuknya pola pikir
yang serba instans, membentuk manusia yang segala
sesuatunya ingin cepat saji (Baudrillard, 2004).
Fokus utama Baudrillad dalam kajian kebudayaan
postmodern didasarkan pada beberapa asumsi hubungan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 132
antara manusia dengan media. Media massa menyimbolkan
zaman baru, di mana bentuk produksi dan konsumsi telah
memberi jalan bagi semesta komunikasi yang baru. Fungsi
media massa adalah membentuk institusi-institusi baru
masyarakat yang disebut budaya massa dan budaya populer.
Tujuan utama pembentukan budaya massa tentu saja untuk
memperoleh keuntungan yang besar melalui penciptaan
produk-produk budaya massa untuk dikonsumsi secara
massal pula (Sarup, 2003).
Membicarakan ‘media’ berarti melibatkan kata
‘massa’, dan memang media massa memiliki fungsi penting
dalam perjalanan kebudayaan postmo. Media massa telah
menginvasi ruang publik dan privat, dan mengaburkan
batas-batasnya, dan pada akhirnya media massa menjadi
ukuran baru moral masyarakat mengantikan institusi
tradisional seperti agama.

Contoh, sebagai ukuran baik buruk dalam bersikap, berbusana,


berpenampilan, maupun berkomunikasi tidak lagi didasarkan pada
ajaran agama atau nilai moral yang berlaku di masyarakat melainkan
berdasarkan model iklan atau pun artis yang dilihat di layar kaca atau
pun media massa lainnya. Padahal apa yang dilihat dalam layar kaca
maupun media massa lainnya bukanlah realitas tetapi sebuah simulacra
( hasil rekayasa teknologi dari realitas menjadi duplikasi yang
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 133
mengganti realitas tetapi dipercaya oleh masyarakat sebagai kenyataan
yang sebenarnya). Fatalnya, masyarakat menjadi kurang kritis dan
cenderung meniru (imitasi) terhadap apa yang dilihatnya di media
televisi/film/media masa lainnya sebagai sebuah kenyataan dan
direalisasikan dalam kehidupan keseharian. Hal itu mengakibatkan
terbentuknya pola pikir yang serba instans dan membentuk manusia
yang segala sesuatunya ingin cepat saji. Inilah yang disebut sebagai
hiper-reality

Pemikiran Baudrillard dapatdijelaskan dalam skema


dibawah ini ;

REALITA
 COUNTERFIT
 PRODUCTION
 SIMULATION
SIMULASI  FRACTAL/VIRAL

MEDIA
SIMULACRA
MASSA

HIPER-REALITAS
Gambar 4.4: Skema pemikiran Baudrilard

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 134


Berdasarkan skema 4.4 di atas dapat dijelaskan
bahwa hubungan antara simulasi, simulacra, dan hiperealitas
dijelaskan sebagai berikut. Simulasi merupakan
proses/strategi intelektual untuk menciptakan simulacra
yang terdiri atas 4 tahapan yaitu (1) Counterfeit
(menciptakan images yang merepresentasikan realitas,
misalnya mesin fotocopy yang menduplikasi dokumen asli,
kamera yang memproduksi gambar sesuai dengan aslinya);
(2) Production (penciptaan images yang menutupi realitas,
misalnya pembuatan video clip untuk produk kosmetika dan
alat-alat kesehatan; (3) simulation (penciptaan images yang
menggantikan realitas yang telah sirna sebagai simulacrum
murni, misalnya pencitraan terhadap tokoh, dalam iklan
calon legislative, calon kepala daerah hingga calon kepala
negara); dan (4) Fractal/Viral (tahapan yang mengubah cara
pandang secara radikal terhadap dunia, seperti pembuatan
film Ramboo, film G-30-S PKI). Simulacra merupakan hasil
simulasi yang berupa realitas buatan/duplikasi/imitasi, yang
aslinya tidak pernah ada, sehingga perbedaan antara
duplikasi dan asli menjadi kabur. Simulacra yang paling
radikal mampu mengubah cara pandang dunia. Simulacra
sebaga hasil proses simulasi itu digunakan untuk
menginvasi publik dengan menggunakan media massa baik
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 135
cetak, elektronik maupun internet/jaringan agar memperoleh
efek ekonomis dan kepercayaan masyarakat terhadap
simulacra tersebut. Efek itulah yang disebut sebagai Hiper-
realitas.

E. PIERRE BOURDIEU
1. Biografi singkat Pierre Bourdieu
Pierre Bourdieu, lahir pada tahun 1930 di Denguin,
Pyrenia Atlantik (Prancis). Ia berasal dari keluarga
sederhana, ayahnya adalah pegawai kantor pos. Bourdieu
muda mulai belajar di lycee Pau, kemudian lycee Louis-le
Grand (Paris), lalu melanjutkan ke Fakultas Sastra di Paris,
Ecole Normale Superieure. Pada tahun 1951, Ia mendapat
Agregasi Filsafat. Ia menolak menulis tesis, karena
keberatan dengan kualitas pendidikannya yang di bawah
rata-rata disebabkan oleh struktur otoriter sekolah. Ia merasa
muak dengan kuatnya orientasi komunis, khususnya Stalinis
di sekolah tersebut. Padahal kampus itu merupakan tempat
pemikir-pemikir besar, seperti Sartre, Levinas, Foucault,
yang pernah melewatkan masa studi mereka.
Pada tahun 1955 Bourdieu diangkat menjadi pengajar
di lycee Maulins, kemudian dipanggil mengikuti wajib
militer pada tahun 1956 dan menghabiskan waktu dua tahun
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 136
di Aljazair dengan Angkatan Barsenjata Prancis. Ia menulis
buku tentang pengalaman-pengalamannya dan tetap berada
di Aljazair dua tahun setelah masa wajib kemiliterannya
usai. Kembali ke Prancis pada tahun 1960 dan bekerja
selama satu tahun sebagai asisten di Universitas Paris. Ia
mengikuti kuliah antropolog Levi-Strauss di College de
France dan bekerja sebagai asisten sosiolog Raymond Aron.
Tahun 1962, Bourdieu menikah dan kemudian dikarunai
tiga orang anak laki-laki. Ia berpindah-pindah mengajar di
Fakultas Sastra di Alger 1958-1960, di Lille 1961-1964, dan
sejak tahun 1964 di Ecole des Hautes Etudes en Sciences
Sociales (EHESS).
Pada tahun-tahun berikutnya Bourdieu menjadi
tokoh utama dalam lingkungan intelektual Paris, Prancis.
Karyanya mempengaruhi sejumlah bidang berbeda,
termasuk pendidikan, antropologi dan sosiologi. Pada tahun
1968 Center de Sosiologie Europeene didirikan, dan
Bourdieu menjadi direktur sampai Ia wafat. Ia juga menjadi
direktur pada majalah Actes de la Recherche en Sciences
Sociales (ARSS) yang didirikannya pada tahun 1975. Pada
tahun 1981, ketika Raymond Aron meninggal dunia,
Bourdieu dipercayakan untuk menduduki jabatan prestisius
Jurusan Sosiologi College de France, dan pada periode ini
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 137
pula didaulat menjadi pakar sosiologi. Tahun 1993, pusat
penelitiannya menerima medali emas dari CNRS (Pusat
Riset Ilmiah Nasional), Pierre Bourdieu meninggal pada
tanggal 23 Januari 2002.

2. Pemikiran-pemikiran Pierre Bourdieu


1) Pemikiran Pierre Bourdieu tentang Habitus
Habitus adalah kebiasaan masyarakat yang melekat
pada diri seseorang dalam bentuk disposisi abadi, atau
kapasitas terlatih dan kecenderungan terstruktur untuk
berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara determinan,
yang kemudian membimbing mereka(Bourdieu, 1996).
Sementara itu, menurut Sektiyanto (2011), habitus
merupakan hasil ketrampilan yang menjadi tindakan praktis
(tidak selalu disadari) yang diterjemahkan menjadi
kemampuan yang terlihat secara alamiah. Jadi Habitus
tumbuh dalam masyarakat secara alami melalui proses
sosial yang sangat panjang, terinternalisasi dan terakulturasi
dalam diri di masyarakat menjadi kebiasaan yang terstruktur
secara sendirinya.
Habitus dibuat melalui proses sosial, bukan individu
yang mengarah ke pola yang abadi dan ditransfer dari satu
konteks ke konteks lainnya, tetapi yang bisa bergeser dalam
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 138
kaitannya dengan konteks tertentu dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, habitus tidak tetap atau permanen, dan
dapat berubah di bawah situasi yang tidak terduga atau
selama periode sejarah panjang (Navano, 2006).
Lebih lajut Bourdieu menyatakan bahwa “The
habitus is not only a structuring structure, which organizes
practices and the perception of practices, but also a
structured structure: the principle of division into logical
classes which organizes the perception of the social world is
itself the products of internalization of the division into
social classes (1984,:170).

Aplikasi dari konsep habitus yang dikemukakan oleh Bourdieu itu bisa
dilihat dari beberapa contoh kasus dimasyarakat, misalnya dalam budaya
Jawa.
Di masyarakat Jawa, dikenal budaya patrimonial, yaitu ketundukan
seorang rakyat pada raja (penguasa). Tabu bagi masyarakat Jawa untuk
menentang apa pun titah raja. Kebiasaan ini sudah melekat dalam tradisi
masyarakat Jawa, yakni sejak para raja dianggap sebagai titisan Tuhan
dimuka bumi. Budaya patrimonial ini bisa dilihat pada masa
pemerintahan Orde Baru dengan sistem pemerintahan yang otoriter.
Semua struktur pemerintahan terpusat dibawah tampuk komando
Presiden Soeharto. Hal itu membuat segala titah Presiden Soeharto harus
dilaksanakan. Budaya “ABS” atau asal bapak senang juga sudah
terinternalisasi dalam sebagian besar masyarakat Indonesia selama 32
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 139
tahun masa pemerintahan Soeharto, terutama dalam tubuh birokrasi di
Indonesia, yang sampai saat ini masih bisa dirasakan.
Selain itu, contoh lainnya adalah adanya budaya “Patriarki”
atau kedudukan perempuan dalam struktur sosial masyarakat sebagai
subordinat dari laki-laki. Dalam adat budaya timur, khususnya
Indonesia, perempuan selalu menjadi subordinat dari laki–laki dalam
berbagai hal. Posisi subordinat dalam masyarakat ini terbentuk secara
alami dan terinternalisasi dalam waktu yang lama, sehingga sudah
menjadi asumsi umum bahwa perempuan berada dibawah laki–laki.
Seaktif apapun peranan perempuan diluar (publik), baik dalam berbagai
ranah seperti politik, bisnis, hukum, maupun ekonomi, saat kembali ke
rumahnya tetap berkedudukan sebagai istri dan anggota keluarga,
sedangkan laki–laki sebagai pemimpin keluarga. Perilaku ini menjadi
kebiasaan dalam kultur sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga
tabu bagi perempuan untuk melakukan fungsi laki–laki sebagai
pemimpin keluarga. Sebagian besar masih mengikuti ungkapan “Suarga
nunut neraka katut”, yang artinya baik-buruknya keluarga tergantung
pada suami.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, perilaku ini
sedikit bergeser. Sebagian masyarakat Timur sudah mengubah sudut
pandang yang memandang laki-laki dan perempuan memiliki keseteraan
jender. Sudut pandang inilah yang menuntun perilaku perempuan dan
laki-laki memiliki kesederajatan. Hak dan kewajiban diatu secara
seimbang. Tidak ada lagi dominasi laki-laki dalam suatu keluarga.

Dalam pengertian ini habitus dibuat dan direproduksi


melalui internalisasi dan proses yang panjang dalam suatu
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 140
masyarakat, sehingga menciptakan kebiasaan yang
dilakukan dalam bawah sadar pelaku. Habitus bisa berubah
jika sudut pandang masyarakat terhadap nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat juga berubah.

2) Pierre Bourdieu tentang Capital (Modal)


Selain konsep habitus, kelanjutan dari pemikiran
Bourdieu adalah mengenai capital (modal). Modal adalah
hal yang memungkinkan orang untuk mendapatkan
kesempatan-kesempatan di dalam hidup. Ada banyak jenis
modal, antara lainmodal intelektual (pendidikan), modal
ekonomi (uang), modal budaya dan modal
jaringan/networking. Modal bisa mudah diperoleh, jika
orang memiliki habitus yang baik dalam hidupnya
(Wattimena,2012).
Modal memainkan peran yang cukup sentral dalam
hubungan kekuatan sosial, sebab modal dapat menyediakan
sarana dalam berbagai bentuk, baik ekonomi maupun non-
ekonomi, seperti dominasi dan hierarkis. Modal merupakan
simbolik yang bisa menyebabkan adanya ketimpangan
dalam masyarakat, karena masyarakat terstratifikasi dari
kepemilikan modal. Contoh peranan modal dalam konsep
Bourdieu dapat dijelaskan melalui contoh sebagai berikut:
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 141
Contoh pentingnya peranan modal oleh seseorang di
masyarakat adalah adanya kelas miskin dan kaya, adanya pengusaha dan
buruh. Hal itu mencerminkan adanya ketimpangan dalam hal
kepemilikan modal. Barang siapa yang memiliki modal, maka dia akan
menguasai arena, atau mudah menyesuaikan diri dengan arena yang ada.
Demikian juga dalam konteks politik, saat seseorang memiliki
modal politik (sumber daya politik), maka ia akan berperan aktif dalam
ranah atau arena politik untuk mendaptkan sumber–sumber kekuasaan
dalam politik, baik itu jabatan, kedudukan, maupun kewenangan lainnya
dalam ranah politk.

3) Pierre Bourdieu tentang Arena


Arena adalah ruang khusus yang ada di dalam
masyarakat. Ada beragam arena, seperti arena pendidikan,
arena bisnis, arena seniman, dan arena politik. Jika orang
ingin berhasil di dalam suatu arena, maka ia harus
mempunyai habitus dan modal yang tepat (Bourdieu, 1996).
Sementara itu, Sektiyanto (2011) mengemukakan bahwa
arena merupakan ruang yang terstruktur dengan aturan
keberfungsiannya yang khas, namun tidak secara kaku
terpisah dari arena-arena lainnya dalam sebuah dunia sosial.
Arena membentuk habitus yang sesuai dengan
struktur dan cara kerjanya secara otonomi, namun habitus

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 142


juga membentuk dan mengubah arena sesuai dengan
strukturnya. Otonomisasi arena mensyaratkan agen yang
menempati berbagai posisi yang tersedia dalam arena
apapun, terlibat dalam usaha perjuangan memperebutkan
sumber daya atau modal yang diperlukan guna memperoleh
akses terhadap kekuasaan dan posisi dalam sebuah arena.

Aplikasi dari konsep habitus, kapital (modal) dan arena ini


dapat dianalisis dari realitas yang ada di Indonesia. Pada masa
runtuhnya rezim orde lama, sentiment masyarakat Indonesia sangatlah
besar kepada Partai Komunis. Paham komunis dianggap sebagai paham
yang negatif, identik dengan kekerasan, dan anti Tuhan. Dari stigma
negatif tersebut, muncul persepsi dalam masyarakat yang menolak
paham komunisme berkembang di tengah–tengah masyarakat.
Soeharto saat memulai rezimnya memanfaatkan habitus
masyarakat saat itu yang membenci komunisme, untuk menguasai arena
politik pada saat itu. Soeharto pun memainkan peranannya sebagai
sosok protagonis yang memiliki modal (capital) sebagai dewa
penyelamat dari pemberontakan G30S/PKI untuk menggantikan
Soekarno menjadi Presiden Indonesia. Saat sumber kekuasaan telah
dimiliki, modal politik sebagai presiden sudah ditangan, selanjutnya
Soeharto memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk membentuk
habitus masyarakat Indonesia yang anti komunis dan pro pembangunan
untuk melanggengkan kekuasaannya.
Soeharto mampu melakukan permainannya dengan sangat baik.
Dengan dilandasi kultur budaya masyarakat Indonesia yang bersifat
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 143
patrimonial, Soeharto menerapkan sistem pemerintahan sentralistik
dalam gaya kepemimpinannya. Menjadikan kekuasaan terpusat
ditangannya. Dengan cara demikian, Soeharto dijadikan satu-satunya
panutan bagi seluruh rakyat Indonesia. Budaya sentralistik dan
Patrimonial yang diterapkan Soeharto dalam gaya kepemimpinannya
mampu menginternalisasi dalam masyarakat dengan sendirinya,
sehingga Soeharto mampu bertahan menjadi Presiden selama 32 tahun.

4) Pierre Bourdieu tentang Distinction


Pierre Bourdieu menuangkan pemikirannya dalam
sebuah buku yakni “Distinction: a social critique of the
Judgement of Taste”. Dalam bukunya itu dijelaskan
bagaimana usaha kelompok individu dalam ruang sosial
masing-masing mengembangkan kekhasan budayanya untuk
menandai perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya
(1996). Usaha kelompok individu dalam ruang sosial
masing-masing untuk mengembangkan kekhasan budayanya
dalam upaya menandai perbedaan antara kelompok yang
satu dengan yang lainnya itulah yang disebut dengan
distingsi (distinction). Perbedaan ini dapat menjadi fokus
perjuangan simbolik (perjuangan untuk pembedaan),yakni
usaha anggota suatu kelompok berusaha untuk membangun
keunggulan dari kelompok lainnya. Perjuangan simbolis ini
pada dasarnya adalah aspek perjuangan kelas, sebagai
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 144
kontrol atas pengetahuan yang dimiliki oleh setiap
kelompok.
Lebih lanjut, dalam 'Distinction' Bourdieu
jugamemperluas konsep distingsi untuk menjelaskan konsep
bentuk dominan penghakiman rasa. Contoh konsep bentuk
dominan rasa itu adalah munculnya konsep budaya populer
seperti musik pop, budaya pop, mode pop, yaitu konsumen
berada dalam oposisi yang konstan dengan industri budaya,
karena mereka memanfaatkan teknologi untuk memproduksi
atau menghasilkan budaya yang mereka sukai.

Contoh dari konsep distinction ini sangat beragam dari


berbagai arena yang ada,baik arena politik, ekonomi, sosial, maupun
budaya. Misalnya dalam konteks gaya hidup (life style) pembedaan ini
bisa dilihat dengan adanya si kaya dan si miskin. Si kaya memiliki gaya
hidup mewah, seperti memakai pakaian bermerek impor, memakai
mobil, berdandan fashion, dan sering makan di restaurant mahal.
Berbeda dengan gaya hidup si miskin yang sederhana, dengan pakaian,
rumah, dan gaya segala hal yang serba terbatas. Pembedaan ini adalah
upaya dari salah satu kelompok untuk mendominasi kelompok lain
dengan menunjukkan strata sosialnya, dan berdampak pada kesenjangan
sosial dalam masyarakat.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 145


Dengan demikian, konsep distinction ini bukan
hanya untuk memunculkan ciri khas yang membedakan
salah satu golongan atau kelompok sosial, namun juga
sebagai upaya perjuangan simbolik dari salah satu
kelompok, misalnya adanya aktivis feminisme di Amerika
Serikat, yang terus berjuang menjunjung tinggi kesetaraan
gender. Dengan segala perjuangan sosial politiknya, mereka
melakukan aktivitas–aktivitas yang berbeda dengan
kelompok lainnya. Perjuangan sosial ini merupakan cara
untuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya.

5) Pierre Bourdieu tentang Dominasi Simbolik


Dominasi simbolik adalah penindasan dengan
menggunakan simbol-simbol. Penindasan ini tidak dirasakan
sebagai penindasan, tetapi sebagai sesuatu yang secara
normal perlu dilakukan. Artinya, penindasan tersebut telah
mendapatkan persetujuan dari pihak yang ditindas
(Bourdieu, 1996).

Contoh dominasi simbolik dalam keluarga, misalnya seorang


istri yang tidak dapat membela diri, walaupun telah dirugikan oleh
suaminya, karena ia, secara tidak sadar, telah menerima statusnya

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 146


sebagai yang tertindas oleh suaminya, ia menerima semua perlakuan
dari suaminya meskipun perlakuan suaminya itu merugikan dirinya.
Contoh dominasi simbolik dalam masyarakat, misalnya seorang
buruh yang di-PHK oleh pihak perusahaan dan tidak dapat membela
haknya, walaupun ia sadar telah dirugikan oleh pihak perusahaan. Ia
secara tidak sadar telah menerima statusnya sebagai yang teraianya oleh
pemilik perusahaan. Ia menerima semua keputusan perusahaan tanpa
melakukan perlawanan, meskipun ia sadar hal itu menyebabkan
keluarganya ikut menanggung efek dari kesewenang-wenangan
perusahaan.

Konsep dominasi simbolik (penindasan simbolik)


juga dapat dengan mudah dilihat dalam konsep sensor
panopticon. Sensor panopticon adalah konsep yang
menjelaskan mekanisme kekuasaan yang tetap dirasakan
dan dilakukan oleh orang-orang yang dikuasai, walaupun
sang penguasa tidak lagi mencurahkan perhatiannya untuk
melakukan kontrol kekuasaan secara nyata terhadap mereka
(Ritzser, 2002).

Contoh yang bisa diambil konsep sensor panopticon adalah


kekuasaan Keraton Yogyakarta dengan sosok Sri Sultan
Hamengkubuwono sebagai simbol kekuasaan di masyarakat daerah
Yogyakarta. Tanpa menyentuh langsung rakyatnya, Sri Sultan sebagai
simbol kekuasaan kerajaan sangat dikagumi dan diakui kharismanya

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 147


oleh masyarakat Yogyakarta. Sri Sultan menjadi panutan dalam
kehidupan masyarakat Yogyakarta. Oleh karena itu, walaupun tanpa
memberikan perintah, masyarakat Yogyakarta dengan sendirinya hidup
tertib, aman, nyaman sebagai imbas kewibawaan kekuasaan Sri Sultan.

Mekanisme dominasi simbolik pada akhirnya


mengacu pada pemikiran Bourdieu tentang doxa. Secara
singkat, doxa adalah pandangan penguasa yang dianggap
sebagai pandangan seluruh masyarakat. Masyarakat tidak
lagi memiliki sikap kritis pada pandangan penguasa.
Pandangan penguasa itu biasanya bersifat sloganistik,
sederhana, populer, dan amat mudah dicerna oleh rakyat
banyak, walaupun secara konseptual, bisa jadi pandangan
tersebut mengandung banyak kesesatan.
Doxa menunjukkan, bagaimana penguasa bisa
meraih, mempertahankan, dan mengembangkan
kekuasaannya dengan mempermainkan simbol yang berhasil
memasuki pikiran yang dikuasai, sehingga mereka
kehilangan sikap kritisnya pada penguasa. Pihak yang
dikuasai melihat dirinya sama dengan penguasa. Mereka
ditindas, tetapi tidak pernah merasa ditindas, karena mereka
hidup dalam doxa.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 148


Dengan konsep ini, dapat diketahui bahwa Bourdieu
ingin memperlihatkan bentuk yang tersembunyi dalam
kegiatan sehari-hari. Kekerasan dalam bentuk yang sangat
halus, kekerasan yang dikenakan pada agen-agen sosial
tanpa mengandung resistensi, sebaliknya malah
mengandung konformitas sebab sudah terlegitimasi secara
sosial karena bentuknya yang sangat halus. Bahasa, makna,
dan sistem simbolik para pemilik kekuasaan ditanamkan
dalam benak individu-individu melalui suatu mekanisme
yang tersembunyi dari kesadaran. Dalam konteks ini,
tawaran habitus and field menjadi bermakna untuk
mengungkap realitas empirik kekerasan simbolik yang tidak
disadari itu.
Pemikiran Bourdieu dapat digambarkan dalam
skema sebagai berikut:

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 149


HABITUS-HABITUS BAIK

CAPITAL (MODAL)
 INTELEKTUAL
 EKONOMI
 BUDAYA
 NETWORKING

Distinction

PERJUANGAN KELAS KARAKTER (CIRI KHAS)

Dominasi Simbolik

Doxa

Konformitas

Gambar 4.5: Skema Pemikiran Bourdieu

Berdasarkan skema 4.5 di atas dapat dijelaskan


bahwa dalam suatu arena terdapat berbagai habitus. Habitus
adalah kebiasaan masyarakat yang melekat pada diri
seseorang yang dibentuk dari proses sosial yang panjang
melalui internalisasi dari nilai-nilai sosial masyarakatnya
(arena). Arena adalah ruang khusus dalam suatu masyaraat,
misalnya arena pendidikan, arena bisnis, arena politik, arena
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 150
seni, dan sebagainya. Arena dapat membentuk habitus
sesuai dengan struktur dan cara kerjanya secara otonom,
sebaliknya habitus yang kuat juga dapat membentuk dan
mengubah arena sesuai dengan strukturnya. Seseorang yang
memiliki habitus yang baik dapat memiliki modal untuk
menguasai suatu arena. Terdapat 4 modal yang dapat
digunakan oleh seseorang yang memiliki habitus yang baik
untuk menguasai suatu arena, yaitu modal intelektual, modal
ekonomi, modal budaya, dan modal networking (jaringan).
Perjuangan seseorang dan kelompok sosial yang
memiliki capital (modal) untuk memperjuangkan kelas
sosial maupun karakter yang has sebagai penguasa itu
disebut distiction. Distiction dilakukan melalui dominasi
simbolis, sehingga terbentuk doxa. Dominasi simbolik
adalah penindasan yang dilakukan oleh penguasa melalui
simbol-simbol sebagai sesuatu yang normal. Doxa adalah
pandangan penguasa yang bersifat sloganistik, populer, dan
sederhana yang diterima sebagai pandangan seluruh
masyarakat, sehingga masyarakat tidak memiliki sikap kritis
terhadap pandangan tersebut meskipun secara konseptual
pandangan tersebut mengandung kesesatan. Masyakat yang
hidup dalam doxa adalah masyarakat yang ditindas oleh
penguasa namun tidak merasa tertindas, sehingga mereka
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 151
cenderung menerima penindasan tersebut sebagai kewajaran
(konfirmitas).

E. JACQUES MARIE ÉMILE LACAN


1. Biografi Singkat Jacques Marie Émile Lacan
Jacques Marie Émile Lacan lahir tahun 1901 dari
keluarga Katolik borjuis. Dia adalah seorang mahasiswa
yang mengagumkan, dan unggul terutama pada penguasaan
bahasa Latin dan filsafat. Dia melanjutkan ke sekolah
kedokteran, dan mulai belajar psikoanalisis pada tahun 1920
dengan psikiater Gaitan de Clérambault. Ia belajar di
Faculté de Medecine de Paris, dan bekerja dengan pasien
yang menderita délires deux Ý, atau "otomatisme," kondisi
di mana pasien percaya bahwa tindakannya, tulisanya, dan
bicaranya, dikendalikan oleh kekuatan luar dan yang
Mahakuasa.
Sebuah gerakan psikoanalitis tumbuh di Perancis
telah menunjukkan minat tertentu pada pasien yang sama.
Lacan menulis disertasi untuk doctoratnya d'état tahun 1932
berjudul De La Psychose Paranoïaque Dans Ses Rapports
Avec La Personnalité, yakni menarik hubungan antara obat
phsychiatric dan psikoanalisis. Itu adalah kombinasi dari
teoritis dan klinis yang akan menjadi praktek Lacan dan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 152
menginformasikan apa yang disebutnya "kembali ke Freud."
Dalam masa hidupnya, Lacan memperluas bidang
psikoanalisis ke dalam filsafat, linguistik, sastra, dan
matematika, melalui pengujian ulang Freud dan praktek
klinis lanjutan.
Jacques Lacan adalah tokoh yang sangat
berpengaruh dalam psikoanalis dengan teorinya yang
menafsirkan ulang karya-karya Freud. Selain dianggap
memberikan terobosan di dalam psikoanalis,Lacan juga
dianggap mengacaukan teori psikoanalis konvensional.
Lacan juga seorang terapis Perancis yang memiliki
latar belakang filsafat dan surealisme. Ia menganggap
psikoanalis khususnya Amerika sudah bergeser dari konsep
awal yang dicetuskan oleh Freud karena Lacan menganggap
para terapis telah menjadikan pasien-pasiennya sebagai
objek penelitian. Lacan beranggapan bahwa psikoanalis
adalah ilmu pengobatan yang didalam prakteknya seorang
terapis tidak boleh ikut campur dalam perkembangan
pasiennya, kecuali hanya membuka jalan kepada wilayah
tidak sadar pasiennya, dan membiarkan pasiennya untuk
menemukan jalan keluar permasalahannya sendiri.
Lacan juga menyadari bahwa pemikiran Freud yang
dipelajarinya selama ini adalah pemikiran yang keliru,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 153
karena yang dipelajarinya adalah Freud berdasarkan
pemahaman Freudian Perancis dan Freud yang
mendominasi Amerika. Kemudian ia memutuskan untuk
membaca ulang karya Freud dan berusaha untuk memahami
pemikiran Freud yang sesungguhnya.
Secara garis besar pengaruh yang dominan dalam
teori Lacan adalah pemikiran Freud, filsafat Hegel dan
filsafat strukturalis dan post strukturalis.
Lacan dengan mengacu pada teori Freud melakukan
beberapa terobosan dalam pandangannya mengenai wilayah
bawah sadar yang menurut pandangannya bukan sebagai
penyebab neurosis. Penjelasannya ini sekaligus meluruskan
kesalahpahaman terhadap teori Freud yang selama ini
menyatakan bahwa wilayah bawah sadar adalah penyebab
neurosis. Lacan menyatakan “wilayah bawah sadar
merupakan diskursus dari yang lain” wilayah bawah-sadar
adalah yang lain itu sendiri, asing dan tidak terpahami,
kemudian peranan terapis berfungsi sebagai sarana bagi
wilayah bawah sadar itu untuk menampilkan dirinya.
Di dalam wilayah tidak sadar sendiri terdapat
hasrat yang menurut Freud merupakan harapan atau
keinginan yang bersifat tidak disadari dan menjadi
pendorong bagi tindakan seseorang untuk mencari
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 154
pemenuhan akan hasratnya. AdapunLacan dengan
memadukan pengaruh filsafat Hegel memandang hasrat
sebagai pengakuan atau perjuangan untuk mendapatkan
pengakuan dari sesamanya agar mendapatkan
kepastian/status akan dirinya. Lacan juga menyebutkan
bahwa subjek terletak dalam wilayah tidak sadar, dan hasrat
adalah kebenaran sang subjek, sedangkan subjek
merealisasikan dirinya melalui bahasa. Jadi bahasa
merupakan cara untuk menyampaikan kebenaran bagi sang
subjek.

2. Pemikiran Jacques Marie Émile Lacan


Pembahasan terhadap pemikiran Lacan, tidak bisa
dipisahkan daripemikiran Freud mengenai Id, Ego, dan
Superego (Lacan, 1977:155-156). Lacan menyinggung tiga
konsep penting, yaitu kebutuhan (need), permintaan
(demand), dan hasrat (desire). Perkembangan ketiga konsep
itu dihubungkan dengan tiga fase perkembangan manusia
yaitu: yang real, imajiner, dan simbolik. (Hill, 2002: 8-11).
Pada ketiga tahapan itu, tatanan simbolik merupakan
tahapan terpenting dalam psikoanalisa. Konsep tatanan
simbolik diilhami dari pemikiran Lévi-Strauss tentang
hubungan kekeluargaan dalam dunia sosial.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 155
1) Pemikiran tentang FaseThe Real
Fase the real adalah masa ketika seorang subjek
berada didalam suatu keadaan yang serba berkecukupan
dalam arti segala sesuatu yang dibutuhkan sudah terpenuhi
dengan sendirinya, contohnya adalah bayi yang berada
didalam rahim ibuhingga lahir sampai berumur kurang dari
6 bulan. Ketika dalam kandungan, sang bayi berada dalam
keadaan nyaman dan serba terpenuhisemua yang dibutuhkan
karena selalu disuplai secara otomatis oleh tubuh ibunya.
Hal ini disebabkan oleh menyatunya ibu dan anak didalam
satu tubuh. Sang bayi hidup digerakkan oleh kebutuhan
(need) akan makanan, minuman, kenyamanan, dan lain-lain.
Bayi itu selalu mendapatkan kebutuhannya, dalam arti ia
mendapatkan kepuasan dari konsumsi objek itu (http://
escape.freud. diunduh 2 Desember 2014)
Sang bayi dengan kata lain berada dalam situasi
‘keterpenuhan’. Belum ada konsep ‘pribadi’ yang muncul
pada tahapan ini, relasi yang terjadi hanyalah keinginan bayi
dan objek pemuas yang didapatkan bayi itu. Keterpenuhan
dapat terjadi tanpa adanya ketiadaan. Perlu digarisbawahi
bahwa the real bukanlah realitas.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 156


The real adalah gagasan realitas yang dibentuk dari
konstruksi sosial yang ada di masyarakat. Bayi tidak
mengenal konsep keterpisahan dengan ibunya (“The
Other”). Bayi adalah individu yang tidak memiliki
pemahaman atas ‘kediriannya’ dengan kata lain sang bayi
tidak memiliki subjektivitas tentang konsep diri sebagai
individu.
Tahapan the real akan terhenti ketika sang bayi
menyadari ia berbeda dengan ibunya (The Other). Ketika
dirinya adalah sesuatu yang berdiri sendiri selain sesuatu di
luar dirinya, tepat pada saat itulah kebutuhan (need) sang
bayi menjadi permintaan (demand). Kesadarannya akan
keterpisahan dengan sang ibu, mengenal The Other, secara
langsung menjadikan ia kehilangan sesuatu dan tidak
merasa penuh. Terjadinya ketidakpenuhan yang diakibatkan
dari timbulnya permintaan ini menjadi awal mula tahapan
imajiner atau le stade de mirroir (Lacan, 2004).

2) Pemikiran tentang Fase Imajiner


Fase imajiner ini terjadi antara usia 6-18 bulan. Fase
ini ditandai dengan kesadaran bayi bahwa ia merupakan
individu yang terpisah dari ibunya, yaitu satu kondisi ketika
subjek telah menyadari bahwa ia terpisah dari tubuh ibunya
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 157
dan memiliki satu kebutuhan yang berbeda dari ibunya.
Pembentukkan ilusi ego yang terjadi disebabkan oleh
adanya identifikasi imajiner atas pantulan diri di cermin
yang menjadi ‘pembenaran’ bagi sang bayi sebagai identitas
yang terpisah dari ibunya. Hal inilah yang disebut Lacan
saat sang bayi mengalami méconnaisance atau
kesalahpahaman sang bayi mengenali pantulannya. Sang
bayi berpikir pantulan itu adalah dirinya namun sebenarnya
pantulan itu bukanlah dirinya, kemudian sang bayi
merepresentasikan pantulan dirinya di cermin sebagai ‘diri’
dan darisanalah tercipta ‘ego’.
Selain itu,menurut Lacan dalam fase cermin, telah
terjadi alienasi didalam diri subjek yaitu citra yang
dipantulkan dan diidentifikasikan oleh subjek sebagai
sebuah pengharapan “the other” terhadap diri subjek. Jadi
alienasi didalam pemikiran Lacan adalah masuknya
pengharapan “the other” kedalam diri seorang anak,
misalnyaapakah memilih makanan, minuman, dan pakaian
merupakan keinginan murni dari anak tersebut? Apakah
tidak ada kontribusi keinginan “the other” terhadap si anak
yang kemudian ia memutuskan untuk makanan, minuman,
dan pakaian yang disukai sesuai dengan keterpenuhan dan
kenyamannannya? The other dalam Lacan adalah orang lain
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 158
yang ada disekeliling subjek, yaitu bisa keluarga, saudara,
tetangga dan lain-lain (Lacan, 2004).
Dalam proses inilah pemahaman ‘keakuan’ sang bayi
terbentuk seperti konsep kompleks Oedipus pada teori
Freud, yakni ketika sang anak merasakan adanya gangguan
atas hubungannya dengan The other terhadap identifikasi
yang dilakukannya melalui pantulan cermin, sehingga
menimbulkan konflik dengan ‘ketidakpenuhan’ yang terjadi
dalam dirinya. Perpecahan dalam diri itulah yang
menyebabkan sang anak lalu membuat gambaran tentang
ego ideal yang diperolah dari keadaan “The other” dan akan
berusaha terus menerus mencapai kepenuhan itu dengan
mencapai ideal ego.

3) Pemikiran tentang Fase Symbolik


Fase simbolik ditandai dengan adanya konsep hasrat
(desire). Simbolik juga merupakan struktur bahasa yang
menjadikan manusia sebagai subjek yang berbicara untuk
menjadi ‘aku’ dan berkata sebagai ‘aku’ untuk mencapai
suatu kondisi yang stabil sebagai individu. Sang anak mulai
masuk ke dalam fase simbolik ketika ia mengetahui konsep
“The other” yang teridentifikasi dari gambaran pantulan
cermin (Lacan, 2004).
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 159
Lebih lanjut Lacan menjelaskan bahwa fase imajiner
dan simbolik merupakan fase yang bersinggungan.
Kebersinggungan ini terjadi pada saat anak menyadari
‘keakuannya’ ketika melihat pantulan cermin dan melihat
gambar ‘yang lain’ dalam cermin itu. Anak sebagai subjek
dapat dikatakan mulai masuk ke dalam tatanan simbolik
pada saat ia mengikuti hal-hal yang ada dalam tatanan
simbolik, sama seperti yang dirasakan dalam tahapan
imajiner.
Meskipun demikian, perasaan akan keinginan untuk
mencapai keterpenuhan diri tidak akan pernah ditemukan
dalam individu, dan disanalah ironi kehidupan manusia
mulai terjadi. Lacan menyebutkan tatanan simbolik sebagai
perubahan ke arah‘The Other’. Ketidaksadaran adalah
wacana atas ‘The Other’. Tatanan simbolik berisikan hukum
dan peraturan yang mengatur keinginan/hasrat (desire) yang
bertentangan dalam dunia imajiner. Dengan demikian fase
simbolik adalah faktor yang menentukan subjektivitas,
yakni subjek selalu berada dalam fase imajiner dan
simbolik, tetapi imajiner hanyalah fatamorgana dari apa
yang terjadi pada fase simbolik.
Bentuk lain dari hasrat (desire) adalah “keinginan
untuk menjadi” sebuah subjek yang utuh, tidak terbelah,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 160
tanpa kekurangan, dan penuh dengan pemenuhan. Dengan
begitu, timbulnya hasrat pada fase simbolik berarti
kembalinya individu pada the real, yang telah menghilang
saat dikenakan bahasa. Jadi hasrat pada fase ini adalah
kembalinya pada sesuatu yang tidak mungkin lagi dijelajahi
oleh bahasa dan simbol.
Dengan demikian, identitas sebenarnya hanyalah
kesemuan yang disebabkan adanya efek penandaan.
Keterjebakan dalam bahasa membuat manusia secara tidak
sadar masuk dalam lingkaran penanda (circle of signifiers)
ini. Konsekuensi logisnya, hasrat tidak dapat menunggangi
bahasa, dan bahasalah yang memanipulasi hasrat (Lacan,
2004).

4) Pemikiran tentang Phallus (nom-du-père)


Konsep Lacan (2004) mengenai nom-du-père
berasal dari kompleks Oedipus Freud yang dikembangkan
secara sosial-budaya. Nom-du-père adalah konsep inti dari
fase simbolik. Ketika Freud menyatakan penis sebagai
sebuah simbol ‘utuh’ dari sisi biologis dan pembeda antara
laki-laki dan perempuan, Lacan menyatakan nom-du-pere
adalah “The Other” atau sering juga disebut sebagai phallus.
Phallus yang dimaksud Lacan bukanlah penis secara
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 161
biologis tetapi sesuatu yang secara simbolik mengisyaratkan
adanya‘keterpenuhan’ dan menjadi inti dari pusat tatanan
simbolik.
Phallus menjadi representasi sistem nilai, norma,
dan kekuasaan partriarkal yang menjadi dasar fase simbolik.
Sama halnya dengan bahasa, phallus merupakan struktur
dari bahasa itu sendiri, sebagai pusat yang mengatur
ke’ajeg’an simbolik. Phallus adalah penanda yang berada
dalam tataran ketidaksadaran yang bersifat tidak stagnan.
Oleh karena itu, phallus dapat menjadikan sebuah makna
menjadi tegas.
Dalam memahami pengertian phallus, harus
dipahami juga peran kastrasi. Definisi mengenai perbedaan
laki-laki dan perempuan dapat dijelaskan dari ketakutan
akan kastrasi, yakni ketika Lacan menggambarkan individu
takut kehilangan sesuatu (dalam hal ini penis), seperti
dijelaskan di atas, Lacan mengandaikan phallus pada
perempuan sama halnya dengan vagina, payudara, dan
klitoris. Konsep penis merupakan simbol keutuhan, yang
diperlukan oleh semua orang. Phallus is what no one can
have but everyone wants: a belief in bodily unity wholeness
perfect(Robertus, 2008:3).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 162


Sebagaimana dikatakan Lacan sebelumnya bahwa
bahasa menjadi penting karena adanya rantai penanda dan
petanda yang terikat satu dengan yang lain dan tidak pernah
terputus, maka konsep ini pun diadaptasi dari Saussurean.
Sungguhpun demikian, Lacan mengoreksi Saussure, dengan
menyatakan bahwa petanda bukan merupakan sesuatu yang
‘ajeg’melainkan merupakan sesuatu yang cair atau tidak
tetap.

6) Pemikiran tentang Jouissance dan desire


Jouissance adalah suatu ‘kenikmatan’. Dalam hal ini,
Lacan menjelaskan Jouissance merupakan kenikmatan yang
melebihi kenikmatan itu sendiri, namun kenikmatan ini
hanyalah berada pada satu titik dan dari kenikmatan itu juga
dirasakan penderitaan dan kesakitan yang tidak berujung.
Jouissance bukan merupakan pengalaman ‘kenikmatan’
murni. Sama seperti dua keping mata uang, kenikmatan
akan didapatkan karena adanya sensasi dari ‘kesakitan’
tertentu. Lacan menjelaskan adanya perasaan ingin
mencapai jouissance diakibatkan adanya situasi ‘la manque’
terhadap hal tertentu, bersamaan ketika kita meniadakan
rasa itulah, kita mendapatkan kenikmatan dalam tanda-tanda
pada tataran simbolik the real (Robertus, 2008:6).
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 163
Jouissance dapat dikaitkan dengan konsep masokis,
yakni ketika individu menyakiti dirinya untuk mencapai
kepuasan tertentu, hal ini tidak hanya berada pada ranah
seksual, tapi juga dalam ranah sosial, seseorang merepresi
keinginannya untuk menemukan sebuah kepuasan dari rasa
sakit atas penekanannya pada keinginannya itu. Jouissance
menjadi alasan dari keinginan sehingga kenikmatan dari
mengingini sesuatu akan terus terjadi demi proses
pencapaian keinginan itu sendiri, karena individu
menemukan kepuasan dalam mengingini di dalam ketiadaan
kepuasan.

Dalam budaya Jawa upaya untuk mencapai kenikmatan hidup


atau terkabulnya semua yang diinginkan dilakukan dengan melakukan
prihatin dan tirakat. Kenikmatan hidup dalam persepsi budaya Jawa
setara dengan yang disebut sebagai Jouissance, sedangkan laku prihatin
dan tirakat setara masokis dalam konsep Lacan.
Prihatin adalah sikap menahan diri, menjauhi perilaku
bersenang-senang, dan enak-enakan. Tirakat adalah usaha-usaha
tertentu untuk terkabulnya suatu keinginan. Hakekat dan tujuan dari laku
prihatin dan tirakat adalah usaha untuk menjaga agar kehidupan
manusia selalu mendapat kebahagiaan, selamat, dan sejahtera dalam
lindungan Tuhan, agar dihindarkan dari kesulitan-kesulitan dan terkabul
keinginan-keinginannya. Proses laku prihatin dan tirakat ini mendorong
dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu bersikap positif dan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 164
menjauhi hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bijaksana, demi
tercapainya tujuan hidup.
Laku prihatin pada prinsipnya adalah perbuatan sengaja
untuk menahan diri terhadap kesenangan-kesenangan, keinginan-
keinginan, dan nafsu/hasrat yang tidak baik dan tidak bijaksana dalam
kehidupan. Laku prihatin juga dimaksudkan sebagai upaya
menggembleng diri untuk mendapatkan kekuatan jiwa dan raga dalam
menghadapi gelombang-gelombang dan kesulitan hidup. Orang yang
tidak biasa laku prihatin, tidak biasa menahan diri, dan akan merasakan
beratnya menjalani laku prihatin.
Laku prihatin dapat dilihat dari sikap seseorang yang menjalani
hidup ini secara tidak berlebih-lebihan. Idealnya, hidup ini dijalani
secara proporsional, selaras dengan apa yang benar-benar menjadi
kebutuhan hidup, dan tidak melebihi batas nilai kepantasan atau
kewajaran (tidak berlebihan dan tidak pamer). Walaupun kepemilikan
kebendaan seringkali dianggap sebagai ukuran kualitas dan keberhasilan
hidup seseorang, dan sekalipun seseorang sudah jaya dan berkecukupan.
Laku prihatin juga dapat dilihat dari sikapnya yang menahan diri dari
perbuatan-perbuatan tidak baik, tidak pantas, tidak bijaksana, dan dari
perilaku konsumtif berlebihan. Menjalani laku prihatin juga tidak sama
dengan menahan diri karena hidup yang serba kekurangan.
Orang Jawa mengatakan bahwa hidup harus selalu eling lan
waspada. Artinya selalu ingat Tuhan. Tetapi biasanya manusia hanya
mengejar kesuksesan saja, keberhasilan, keberuntungan, dan sebagainya,
tetapi tidak tahu pengapesannya (saat kesialannya tiba).
Orang Jawa menyakini bahwa orang-orang yang selalu ingat
kepada Tuhan dan menjaga moralitas, seringkali hidupnya banyak

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 165


godaan dan banyak kesusahan. Kalau eling ya harus tulus, jangan ada
rasa sombong, jangan merasa lebih baik atau lebih benar dibanding
orang lain, jangan ada pikiran jelek tentang orang lain, karena kalau
bersikap begitu sama saja bersikap negatif dan menumbuhkan aura
negatif dalam diri sendiri. Aura negatif akan menarik hal-hal yang
negatif juga, sehingga kehidupan akan berisi hal-hal yang negatif.
Di sisi lain orang Jawa juga harus sadar, bahwa orang-orang
yang terlalu banyak menahan diri, membatasi perbuatan-perbuatannya,
sering menjadi kurang kreatif. Oleh karena itu, agar dapat berkembang
optimal, kreatif, dan inovatif harus menyadari dan mengembangkan
kemampuan, potensi diri, dan peluang-peluangnya dengan tindakan
nyata agar dapat menghasilkan banyak hal yang bermanfaat untuk
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa harus melupakan
Tuhan dan merusak moralitasnya.
Sebaliknya, orang Jawa meyakini bahwa orang-orang yang
tidak ingat Tuhan atau tidak menjaga moralitas, hidupnya terlihat lebih
bebas, dapat bersenang-senang tanpa beban moral, dan dapat melakukan
apa saja walaupun tidak baik dan tercela. Beban hidupnya lebih ringan
daripada yang menahan diri. Mereka bisa mendapatkan kesenangan dan
kebebasan lebih banyak, karena mereka tidak banyak menahan diri.
Dalam tradisi Jawa, laku prihatin dan tirakat adalah bentuk
upaya spiritual/kerohanian seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa
dan raga, ditambah dengan laku-laku tertentu, untuk tujuan
mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup, kesejahteraan
lahiriah maupun batin, atau juga untuk mendapatkan keberkahan
tertentu, suatu ilmu tertentu, kekayaan, kesaktian, pangkat atau
kemuliaan hidup. Laku prihatin dan tirakat ini, selain merupakan bagian

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 166


dari usaha dan doa kepada Tuhan, juga merupakan suatu ‘keharusan’
yang sudah menjadi tradisi, yang diajarkan oleh para pendahulu orang
Jawa.Ada beberapa bentuk formal laku prihatin dan tirakat, dilakukan
dengan cara:
1. Membersihkan hati dan batin dan membentuk hati yang tulus dan
iklas.
2. Hidup sederhana dan tidak tamak, selalu bersyukur atas apa yang
dimiliki.
3. Mengurangi makan dan tidur.
4. Tidak melulu mengejar kesenangan hidup.
5. Menjaga sikap eling lan waspada.

Dari pemikiran-pemikiran Lacan di atas dapat


disimpulkan bahwa pemikiran Lacan dalam Postmo adalah
bahwa keinginan tertinggi manusia itu adalah mencapai
identitas dengan bahasa (Phalus/inti simbol) yang oleh
Saussure disebut makna. Sementara identitas itu hakikatnya
semu, maka tidak ada suatu identitas/makna yang sifatnya
stagnan/tegas/selesai. Jadi pencarian kebutuhan tertinggi
oleh manusia hakikatnya tidak pernah selesai. Selain itu,
kenikmatan hidup tertinggi manusia hanya bisa dicapai
dengan cara menahan berbagai kesenangan atau menjalani
berbagai jerih payah dan penderitaan (masokis yang dalam
konsep Jawa prihatin dan tirakat). Ini berarti kenikmatan

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 167


hidup tidak bisa dicapai hanya dengan rasio tetapi juga
melalui usaha tradisi dan metafisis.
Pemikiran Lacan secara skematis dapat digambarkan
berikut ini:

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 168


Berdasarkan skema 4.6 di atas dapat dijelaskan bahwa
pemikiran Lacan, menyinggung tiga konsep penting, yaitu
kebutuhan (need), permintaan (demand), dan hasrat (desire).
Perkembangan ketiga konsep itu dihubungkan dengan tiga
fase perkembangan manusia yaitu: yang real, imajiner, dan
simbolik. Setiap fase memuat tidak konsep penting, yakni
kebutuhan (need), permintaan (demand), dan hasrat (desire).
Dari ketiga tahapan itu, tatanan simbolik merupakan tahapan
terpenting dalam psikoanalisa yang di dalamnya terdapat
phallus yang merupakan inti dari pusat tatanan simbolik.
Oleh karena itu, untuk menguatkan phallus diperlukan satu
konsep lagi yang disebut Jouissance
Fase the real adalah masa ketika seorang subjek
berada didalam suatu keadaan yang serba berkecukupan
dalam arti segala sesuatu yang dibutuhkan sudah terpenuhi
dengan sendirinya, seperti bayi yang berada didalam rahim
sang ibuhingga lahir sampai berumur kurang dari 6 bulan.
Dalam konsep sosial, The real adalah gagasan realitas yang
dibentuk dari konstruksi sosial yang ada di masyarakat.
Tahapan the real akan terhenti ketika dirinya merasa sebagai
sesuatu yang berdiri sendiri, tepat pada saat itulah
kebutuhan (need) menjadi permintaan (demand).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 169


Fase imaginer ini ditandai dengan kesadaran bahwa ia
merupakan individu yang memiliki satu kebutuhan yang
berbeda dari the other. Dalam proses inilah pemahaman
‘keakuan’ seperti konsep kompleks Oedipus pada teori
Freud, yakni ketika dia merasakan adanya gangguan atas
hubungannya dengan the other terhadap identifikasi yang
dilakukannya, sehingga menimbulkan konflik dengan
‘ketidakpenuhan’ yang terjadi dalam dirinya. Perpecahan
dalam diri itulah yang menyebabkan seseorang akan
membuat gambaran tentang ego ideal yang diperoleh dari
keadaan “The other” dan akan berusaha terus menerus
mencapai kepenuhan itu dengan mencapai ideal ego.
Fase symbolik merupakan struktur bahasa yang
menjadikan manusia sebagai subjek yang berbicara untuk
menjadi ‘aku’ dan berkata sebagai ‘aku’ untuk mencapai
suatu kondisi yang stabil sebagai individu. Seseorang
dikatakan mulai masuk ke dalam tatanan simbolik pada saat
ia mengikuti hal-hal yang ada dalam tatanan simbolik.
Tatanan simbolik berisikan hukum dan peraturan yang
mengatur keinginan/hasrat (desire) yang bertentangan dalam
dunia imajiner. Dengan demikian fase simbolik adalah
faktor yang menentukan subjektivitas menjadi sebuah

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 170


subjek yang utuh, tidak terbelah, tanpa kekurangan, dan
penuh dengan pemenuhan.
Phallus yang dimaksud Lacan adalah sesuatu yang
secara simbolik mengisyaratkan adanya ‘keterpenuhan’ dan
menjadi inti dari pusat tatanan simbolik. Phallus menjadi
representasi sistem nilai, norma, dan kekuasaan partriarkal
yang menjadi dasar fase simbolik. Sama halnya dengan
bahasa, phallus merupakan struktur dari bahasa itu sendiri,
sebagai pusat yang mengatur ke’ajeg’an simbolik. Phallus
adalah penanda yang berada dalam tataran ketidaksadaran
yang bersifat tidak stagnan. Oleh karena itu, phallus dapat
menjadikan sebuah makna menjadi tegas.
Jouissance adalah suatu ‘kenikmatan’ yang
melebihi kenikmatan itu sendiri, namun kenikmatan ini
hanyalah berada pada satu titik dan dari kenikmatan itu juga
dirasakan penderitaan dan kesakitan yang tidak berujung.
Jouissance bukan merupakan pengalaman ‘kenikmatan’
murni. Sama seperti dua keping mata uang, kenikmatan
akan didapatkan karena adanya sensasi dari ‘kesakitan’
tertentu. Jouissance dapat dikaitkan dengan konsep masokis
(prihatin dan tirakat dalam konsep budaya Jawa). Prihatin
adalah sikap menahan diri dan menjauhi perilaku bersenang-
senang, sedangkan tirakat adalah usaha-usaha tertentu
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 171
sebagai tambahan untuk terkabulnya suatu keinginan.
Berdasarkan konsep tersebut, Jouissance merupakan sikap
dan perilaku untuk menahan diri dan menjauhi perilaku
bersenang-senang serta melakukan usaha-usaha tertentu
sebagai tambahan untuk tercapainya suatu keinginan.
Dengan demikian, Jouissance menjadi alasan untuk
mencapai suatu keinginan dalam memperoleh kenikmatan
hingga menemukan kepuasan hidup.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 172


BAB V
KEKUATAN TEORI SOSIOLOGI
POSTMODERN

Postmodernisme muncul untuk “meluruskan”


kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter.
Postmodernisme mencoba mengingatkan untuk tidak
terjerumus pada kesalahan yang fatal dengan menawarkan
pemahaman perkembangan sejarah peradaban dunia dalam
kerangka genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak
pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak
“sentral”).
Para Postmodern melihat proyek pendemokrasian
sebagai akibat dari modernisme. Sebab dalam modernism
terdapat satu ciri penting, yaitu universalisme dalam segala
bidang. Selain universalisme, ada juga karakter penting dari
modernism yaitu Oposisi Biner (jika A benar, maka B pasti
salah). Modernism beranggapan bahwa demokrasi Amerika
Serikat sudah benar, maka sesuai dengan prinsip oposisi
biner, semua sistem di luar itu dianggap salah.
Postmodern lahir untuk mengkritik semua ambisi
dan proyek mahabesar modernism tersebut. Universalisme
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 173
yang ditawarkan oleh modernism tidak mungkin bisa
tercapai, sebab dunia ini dipenuhi oleh perbedaan dan
keanekaragaman baik dalam hal ekonomi, sosial,
politik dan terlebih lagi budaya. Merupakan sesuatu yang
mustahil jika modernisme ingin membuat semua negara
yang penuh dengan warna dan perbedaan tersebut hidup
dengan satu cara yang sama.
Selain hal tersebut di atas, satu karakter penting
modernism yang dikritik oleh Postmodern adalah Oposisi
biner. Tidak ada yang salah dan benar dalam dunia ini. Akan
tetapi semuanya memiliki kebenaran masing-masing.
Contoh yang paling sering diangkat oleh para Postmodern
adalah masalah budaya dan agama. Semua budaya yang
terdapat di muka bumi ini memiliki cerita dan makna
masing-masing. Demikian juga halnya dengan agama,
semua agama mempunyai kebenaran tersendiri. Tidak ada
agama yang salah dan agama yang paling benar, namun
semua agama memiliki dan membawa kebenarannya
masing-masing. Puisi sebagai salah satu produk budaya juga
tidak memiliki universalitas makna. Tidak ada satu makna
puisi yang paling benar dan tidak ada makna puisi yang
salah. Semua penafsiran memiliki kebenaran dan perspektif
masing-masing.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 174
Demikian juga, dengan sistem politik yang akan
dianut oleh setiap negara. Postmodern memandang bahwa
demokrasi yang dianut oleh Amerika serikat mempunyai
kebenaran, tetapi sistem kerajaan yang dianut oleh Inggris
dan negara lainnya juga mempunyai kebenarannya sendiri.
Begitu juga dengan sistem politik di suatu negara atau
daerah lain yang tidak mengacu pada demokrasi ala
Amerika juga mempunyai kebenaran tersendiri.

Contoh:
Jika dilihat dan ditelaah dari konteks politik hari ini, masalah
Postmodern sering menjadi topik yang menarik untuk dikaji.
Modernisme dengan konsep universalismenya menghendaki semua
Negara satu model. Demokrasi Amerika dianggap sebagian besar negara
paling demokratis. Amerika serikat juga didaulat sebagai negara
penjunjung tinggi HAM. Berdasarkan karakter Modernisme yang
bersifat oposisi biner, maka negara yang dianggap menjunjung tinggi
HAM adalah negara yang menganut sistem demokrasi ala Amerika.
Jadi, Negara manapun yang ingin menghargai Hak Azasi warganya
harus menerapkan sistem demokrasi ala Amerika Serikat. Hal itu
disebabkan oleh anggapan sebagaian besar negara bahwa Amerika
Serikat sebagai Negara terdepan yang mengimplementasi demokrasi.
Hal tersebut kemudian diperkuat dalam peraturan lembaga internasional
(United Nation), bahwa semua negara yang menjadi anggota United
Nation (PBB) diwajibkan untuk menjunjung tinggi HAM.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 175


Sebenarnya tidak ada masalah jika negara anggota United
Nation diwajibkan menjunjung tinggi HAM, sebaliknya yang menjadi
masalah adalah ketika demokrasi ala Amerika yang dianggap sebagai
satu-satunya jalan untuk menjunjung tinggi HAM. Secara tidak
langsung, anggapan sebagian besar negara itu telah menafikan sistem
lain seperti Kerajaan dan sistem politik lokal. Oleh karena itu,
demokrasi merupakan satu-satunya jalan, maka negara yang ingin
menjunjung tinggi HAM harus pula menganut sistem demokrasi. Barang
siapa (negara) yang tidak mau menjunjung tinggi HAM (menganut
demokrasi), maka akan dikenai sanksi oleh lembaga tertinggi dunia
tersebut. Sanksi dapat beraneka ragam, mulai dari embargo sampai
penjajahan yang berkedok penyelamatan umat manusia.
Berkaitan dengan masalah HAM juga demikian halnya,
Amerika serikat mengaku sebagai penjunjung tinggi Ham, tetapi mereka
pulalah yang membunuh puluhan bahkan ratusan ribu rakyat sipil di
Irak. Amerika pulalah yang membuat dan menghidupkan penjara
Guantanamo, yang sebenarnya merupakan bentuk pelanggaran besar
terhadap HAM. Dengan label menjunjung tinggi HAM pulalah,
Amerika Serikat kerap melakukan genosida (pembunuhan secara
massal). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa artinya HAM
yang dijunjung tinggi tersebut? Inilah salah satu pertanyaan yang
merupakan kesangsian teoretisi Postmodern terhadap universalitas
Modernism, yang kemudian dibongkar dengan dengan teori paralogi
Postmodern, sehingga mampu menjawab berbagai fenomena sosial-
politik, keilmuan, dan teknologi kontemporer (yang berkembang saat
ini).
(http://ahmadhariantosilaban.blogspot.com/postmodernisme.html)

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 176


Untuk dapat menjelaskan berbagai perbedaan dan
keberagaman kebenaran tersebut, maka kajian Postmodern
menawarkan satu prinsip baru, yaitu Paralogi. Yang
dimaksud paralogi adalah bahwa semua bisa hidup dalam
keberagaman, yang dibingkai dalam prinsip
multikulturalisme dan pluralisme. Penghargaan terhadap
keberagaman dan pemaknaan kebenaran yang beragam
inilah yang menjadi penekanan kajian Postmodern. Dengan
demikian, hanya kajian Postmodern yang menjelaskan
terjadinya keberagaman di muka bumi ini.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 177


BAB VI

EPILOG

Postmodern (Postmo) secara umum dikenal sebagai


antitesis dari modernisme (Silalaban, 2011). Postmodern
melihat fakta bahwa ternyata Modernisme, di samping
menciptakan kemajuan teknologi juga menciptakan
totalitarianisme yang menyebabkan pembunuhan yang lebih
massif, marjinalisasi, (genosida) dan aneksasi kolonialisme
yang membabi buta sepanjang sejarah. Dalam konteks
inilah, Postmodern menganggap janji modernisme yang
dibangun oleh rasionalitas, untuk mencapai emansipasi
manusia dari kemiskinan, kebodohan, prasangka dan tidak
adanya rasa aman gagal dan tidak masuk akal.
Munculnya Postmodern merupakan gugatan
terhadap teori modernism yang menganggap unsur-unsur
utama modernisme berupa rasio, ilmu, dan antropo-
morphisme yang merupakan reduksi dan totalisasi hakekat
manusia justru menyebabkan lahirnya berbagai patologi,
yakni dehumanisasi, alienasi, deskriminasi, rasisme,
pengangguran, jurang perbedaan kaya dan miskin,
materialisme, konsumerisme, kolonialisme, ancaman nuklir,
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 178
dan hegemoni budaya serta ekonomi. Berbagai patologi
inilah yang menjadi alasan penting gugatan pemikiran
Postmodern terhadap modernisme. Di samping itu karakter
Modernisme yang selalu universal dan oposisi biner tidak
dapat menjelaskan fenomena-fenomena kecil-kecil, unik,
dan yang termarjinalkan. Bagi modernisme yang diakui
hanya yang besar, padahal yang memberikan makna pada
dunia justru yang kecil-kecil, yang unik-unik, dan yang
termarjinalkan.

Contoh yang lagi menjadi trending topik saat ini


adalah gaya komunikasi Ahok (yang nama aslinya
Basuki Tjahaya Purnama saat Gubernur DKI Jakarta
saat ini).
Sebagai Gubernur, dia dinilai oleh para ahli komunikasi dan
anggota Dewan sebagai cara komunikasi pemimpin yang melanggar
prinsip sopan santun. Tentu saja penilaian ini didasarkan pada satu teori
modernisme yang universal. Akan tetapi kasus Ahok berbeda dengan
ilustrasi dari teori universal.
Ahok menggunakan teori Postmodern, bahwa komunikasi yang
efektif itu adalah komunikasi yang cepat dapat dipahami oleh lawan
bicara, apa pun caranya. Lawan bicara Ahok adalah Anggota Dewan
yang kebal rasa malu. Mereka tidak akan pernah malu dengan
perbuatannya. Dengan komunikasi yang santun mereka tidak pernah

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 179


merasa malu dan pura-pura tidak paham kalau mereka telah merampok
uang rakyat 12 trilyun lebih. Akan tetapi dengan gaya komunikasi Ahok
yang langsung menohok pada karakter mereka, justru berhasil membuat
mereka merasa malu dan berusaha menyelamatkan perbuatannya. Jadi
itu menurut Ahok adalah cara komunikasi yang efektif dengan anggota
Dewan DKI yang bermental “maling” tetapi berkedok pembela rakyat.

Prinsip homologi (kesatuan ontologis) yang dianut


oleh Modernisme menurut Postmodern harus didelegitimasi
oleh paralogi (pluralisme) dengan tujuan agar kekuasaan,
termasuk kekuasaan ilmu pengetahuan, tidak lagi jatuh pada
sistem totaliter yang biasanya bersifat hegemonik dan pro
status-quo.
Postmodern adalah sebuah gerakan global yang
diartikan sebagai ketidakpercayaan atas segala bentuk narasi
besar, penolakan segala bentuk pemikiran yang
mentotalisasi seperti Hegelianisme, Kapitalisme,
Liberalisme, Marxisme, Komunisme, Sosialisme dan
lainnya. Penolakan itu disebabkan oleh akibat yang
ditimbukan ide narasi besar (metanarasi) yang menandai
kegagalan dari modernisme seperti kekejaman pasukan Nazi
pada perang dunia kedua yang menandai kegagalan
nasionalisme; pemberontakan kaum buruh terhadap partai
komunis yang terjadi di Berlin (1953), Budapest (1956) dan
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 180
Polandia (1980). Pemberontakan buruh itu menunjukkan
betapa komunisme sebagai ideologi totaliter mengandung
banyak kotradiksi. Masih banyak kejadian lainnya yang bisa
disebutkan termasuk aneksasi neo-liberalisme dan neo-
kapitalisme Amerika Serikat terhadap Irak.
Di sisi lain, Postmodern merupakan sebuah
pemikiran yang unik, plural, dan parsial yang berusaha
untuk mengkaji kembali sesuatu yang dinilai kurang dari
dan belum dapat dijelaskan dalam teori-teori sebelumnya.
Postmodern dapat menjelaskan fenomena-fenomena
kontemporer yang tidak dapat dijelaskan oleh teori
modernis, seperti faktor yang menyebabkan pemberontakan
buruh di berbagai perusahaaan, akibat eksplorasi tambang
dan hutan secara besar-besaran, akibat kejiwaan terhadap
penjajahan, munculnya fenomena hiperalitas, seperti dunia
fantasi, Disneyland, pencitraan (baik dalam iklan maupun
politik), pertarungan simbolik kekuasaan, penyebab
terjadinya perang, perlawanan sosial, dan revolusi sosial.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat dipahami
bahwa teoretisi Postmodern lebih memusatkan kajiannya
pada intermediasi daripada determinasi, perbedaan
(diversity) daripada persatuan (unity), dan paralogi daripada
homologi. Penulis sepakat dengan berbagai nilai dan ide
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 181
dasar dalam teori Postmodern seperti relativitas dan
pluralitas sebagai salah satu cara memperoleh ilmu
pengetahuan. Sebagaimana pendapat Derrida yang
menciptakan metode dekonstruksi menolak teori
kemapanan, objektivitas tunggal, dan kestabilan makna
sehingga membuka ruang kreatif seluas-luasnya dalam
proses pemaknaan dan penafsiran terhadap suatu teks.
Dengan demikian makna teks bersifat plural dan imanen
tidak bersifat permanen dan tunggal, maka pemaknaan teks
tidak lagi ditentukan oleh kaidah yang berada di luar subjek
melainkan oleh konteks dan subjek yang memaknai dan
dimaknai.
Demikian juga dengan penolakan Lyotard terhadap
narasi besar/metanarasi. Universalitas, transendentalitas, dan
esensialiatas sebagai inti dari metanarasi merupakan suatu
kemustahilan dalam menjawab perkembangan sains dan
teknologi. Perkembangan sains dan teknologi itu bersifat
spesifik karena perkembangan pengetahuan dan teknologi
itu bersifat eksperimen selalu terikat oleh konteks pragmatis,
ruang, dan waktu.
Lebih lanjut, Lyotard juga menyatakan bahwa sains
merupakan permainan bahasa. Aturan mainnya tidak lagi
merupakan pernyataan untuk meyakinkan pihak kedua
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 182
sebagai pihak yang wajib memberikan persetujuan atau
penolakan berdasarkan bukti yang diajukan pihak pertama
tetapi memberikan keterbukaan untuk mengubah aturan
sehingga permainan menjadi lebih bermakna, karena akan
diperoleh banyak model pengetahuan yang lebih sensitif
terhadap konteks, inovasi, dan kreativitas perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang ada saat saat
ini.
Munculnya dominasi pengetahuan, membuat
Foucault menolak penggunaan ilmu pengetahuan sebagai
instrumen pembangunan dan dijadikan alat untuk
mendominasi kekuasaan. Pemikiran Foucault melakukan
analisis wacana untuk memahami kekuasaan yang
tersembunyi di balik pengetahuan. Analisisnya terhadap
hubungan kekuasaan dan pengetahuan memberikan
pemahaman bahwa peran pengetahuan tentang
pembangunan digunakan oleh negara dunia pertama untuk
melanggengkan dominasi terhadap negara dunia ketiga,
termasuk ide/konsep globalisasi yang diciptakan oleh negara
maju (kelompok modernis) hakikatnya tetap digunakan agar
dapat melanggengkan kekuasaannya terhadap negara dunia
ketiga.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 183


Sementara itu, Bodillard menciptakan tiga buah
pikiran tentang simulasi, simulacra, dan hiperealitas untuk
menjelaskan hilangnya realitas yang menjadi andalan kaum
modernis di zaman kontemporer saat ini dan makin
maraknya dunia ilusi, khayali, serta science fiction seperti
dalam berbagai dunia fantasi (seperti: dysneyland, komik,
game, dunia Dinosaurus), wacana iklan, film, arsitektur, dan
berbagai macam permainan simulasi saat ini.
Selanjutnya, Pierre Bourdieu memandang kekuasaan
dalam konteks teori masyarakat. Ia melihat kekuasaan
sebagai budaya simbolis yang dibuat dan dilegitimasi secara
terus-menerus melalui interaksi agen dan struktur dengan
konsep relasi antara habitus, modal, dan arena. Habitus
merupakan kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat
secara alami melalui proses sosial yang sangat panjang,
terinternalisasi dan terakulturasi dalam masyarakat yang
terstruktur secara sendirinya. Modal yang memungkinkan
untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan di dalam hidup
akibat dibentuk oleh habitus. Kedua kombinasi ini akan
ditempatkan di sebuah arena yaitu ruang khusus yang ada di
dalam masyarakat. Arena membentuk habitus yang sesuai
dengan struktur dan cara kerjanya, namun habitus juga
membentuk dan mengubah arena sesuai dengan strukturnya.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 184
Konsep relasi ini bersifat kontekstual, sehingga akan
diperoleh berbagai ragam model relasi.
Sementara itu Lacan yang terkenal dengan teori
wilayah tak sadar dengan mengombinasi pemikiran Freud,
filsafat Hegel, filsafat strukturalis dan post strukturalis,
mengembangan sekaligus menentang teori Freud dengan
menciptakan tiga fase kebutuhan manusia yaitu fase The
Real, Imajiner, dan Symbolik. Ketiga fase ini adalah tahapan
pencarian jadi diri manusia demi tercapainya rasio dan
logika dari setiap individu untuk mencari identitas. Lacan
beranggapan bahwa kebutuhan tertinggi manusia itu adalah
mencapai identitas dengan bahasa/simbol. Sementara
identitas itu hakikatnya semu. Jadi tidak ada suatu
identitas/simbol/ makna yang sifatnya stagnan atau tegas.
Dengan demikian, hakikatnya pencarian kebutuhan oleh
manusia itu tidak pernah selesai.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
Postmodern menjadi solusi yang tepat untuk memecahkan
masalah-masalah di zaman kontemporer saat ini yang tidak
mampu dipecahkan melalui teori modernisme. Hal itu
disebabkan oleh pemikiran-pemikiran Postmodern yang
sangat menghargai perbedaan dan memberikan ruang yang
seluas-luasnya untuk menciptakan makna baru. Postmodern
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 185
juga memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi subjek
untuk tumbuh kembangnya inovasi dan kreativitas sesuai
dengan tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi saat ini.

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 186


DAFTAR REFERENSI

Anderson, Perry. 1998. The Origins of Postmodernity.


Diterjemahkan oleh Robby H. Abror. 2008.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Andrew,Chtor. A Critical Review Of Pierre Bourdieus


Distinction A Social Critique Of The Judgement Of
Taste. (online) diakses dari
http://andrewchatora.wordpress.com/2010/03/26/a-
critical-review-of-pierre-bourdieus-distinction-a-
social-critique-of-the-judgement-of-taste/tanggal 24
April 2013.

Agger, Ben. 2003. Teori Sosial kritis: Kritik, Penerapan dan


Implikasinya. Kreasi Wacana: Yogyakarta

Ahmed, Akbar S. 1992. Postmo: Bahaya dan Harapan Bagi


Islam. Mizan: Bandung

Barker, Chris.2004.Cultural Studies:Teori & Praktik.


Yogyakarta. Kreasi Wacana.

Benjamin, Andrew (ed.). 1989. The Lyotard Reader.


Oxford: Blackwell.

Bertens, K. 2002. Sejarah Filsafat Kontemporer.


Yogyakarta: Kanisius

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 187


Bourdieu, Pierre. 1996. Distinction : a social critique of the
judgement of taste. Cetakan ke-8, translated by
Richard Nice. Cambridge. Harvard University Press.

Coker, John C, 2003. Derrida dalam The World’s Great


Philosophers oleh Robert L Arrington (ed). Oxford:
Blackwell

Cutrofello, Andrew. 1998.Jaques Derrida dalam Routledge


Encyclopedia of Philosophy oleh Edward Craig, dkk
(eds) Vol. II, London: Routledge

Finlayson, Alan. 2003.Contemporary Political Thought.


Edinburgh: Edinburgh University Press.Ltd

Foucault, Michel. 1992. The Archaeology of Knowledge&


the Discourse on Language. Amazon: Vintage.

Haryanto, Sindung. 2010. Teori Strukturalisme,


dalam Anatomi dan Perkembangan Ilmu
Sosial. Bagong Suyanto dan M Khusna Amal
(ed) Aditya Media

Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Teori


Fungsionalisme Hingga Post-Modernisme.
Yayasan Obor Indonesia: Jakarta

Lacan, Jacques. 1977. Écrits: A Selection, terj. Alan


Sheridan. London: Tavistock.

Lyotard, Jean-Francois. (2009). Kondisi Postmodern: Suatu


laporan mengenai Pengetahuan (Edisi
Terjemahan). Surabaya: Selasar Surabaya
Publishing.
Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 188
Navano,2006. Hal :16 diakses dari
http://www.powercube.net/other-forms-of-
power/bourdieu-and-habitus/ tanggal 24 April 2013.

Ritzer, George. (2003). Teori Sosial Postmodern (Edisi


Terjemahan). Yogyakarta: Juxtapose-Kreasi
Wacana.

Ritzer, George. 2004. Teori Sosial Postmodern. Juxtapose


bekerjasama dengan Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2004.Teori


Sosiologi Modern. Kencana

Ritzer, George. 2009. Modern Sociological Theory. Mc


Graw Hill.

Santoso, Listiyono. 2009. Posmmodern: Kritik atas


Epistemologi Modern (dalam “Epistemologi
Kiri”). Ar Ruzz Media Cetakan Ke-VI.

Sarup, Madan. 1993. An Introductory Guide to Post


Structuralism and Pos Modernsm. Diterjemahkan
oleh Medhy Aginta Hidayat.Yogyakarta: Jalasutra

Silalaban, Ahmad Herianto.


http://ahmadhariantosilaban.blogspot.
com/2011/06/makalah-postmodernisme.html

Spivak, Gayatri Chakravorty. 1999. A Critique of Postcoloni


al Reason: Toward A History of The Vanishing
Present. Harvard: Harvard University Press,

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 189


Sugiharto, I Bambang. 1996 . Postmodernisme Tantangan
bagi Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sugiharto, I. Bambang. Foucault dan Postmodernisme.


http://www.geocities.
com/kajianbudaya/index.html diakses pada tanggal
8 September 2007

Sugiharto, I Bambang. Percah-Percah Postmodernisme,


yang diakses dari
http://neumann.f2o.org/filsafat/post1.htm pada
tanggal 26 April 2007

Suyanto , Bagong dan Amal, M Khusna (ed) 2010. Teori


Strukturalisme. Dalam Anatomi
dan Perkembangan Ilmu Sosial. Aditya Media

Turner, Bryan S. 2000.Teori-teori Sosiologi Modernitas-


Postmodernitas. Yogyakarta. Pustidaka Pelajar.

http://librarianship-umir.blogspot.com/2010/08/pendekatan-
postmodernisme-dalam.html#uds-search-results
diakses pada tanggal 27 Agustus 2010

http://umum.mpasiana.com/2009/07/07/postmodernisme-
101/ko diakses pada tanggal 27 Agustus 2014

http://learning-of.slametwidodo.com/?s=modernisme
diakses pada tanggal 27 Agustus 2010.

Wattimena, Reza AA. 2012. Berpikir Kritis bersama


Pierre Bourdieu. (online). (diakses dari

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 190


http://rumahfilsafat.com/2012/04/14/sosiologi-kritis-
dan-sosiologi-reflektif-pemikiran-pierre-bourdieu/
tanggal 24 April 2013).

Perspektif Teori Postmodern terhadap Problema Sosial Politik Kontemporer 191