Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan sistem usaha pembagunan masyarakat supaya lebih
produktif dan efesien, diperlukan teknologi. Pengenalan teknologi yang telah
berkembang di dalam masyarakat adalah teknologi yang telah dikembangkan secara
tradisonal, atau yang dikenal dengan “teknologi tepat guna” atau teknologi sederhana dan
proses pengenalannya banyak di tentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian
pokok masyarakat tertentu.
Pertumbuhan dan perkembangan teknologi, di tentukan oleh kondisi dan tingkat
isolasi dan keterbukaan masyarakat serta tingkat pertumbuhan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat tersebut. Untuk memperkenalkan teknologi tepat guna perlu disesuaikan
dengan kebutuhan, yaitu kebutuhan yang berorientasi kepada keadaan lingkungan
geografis atau profesi kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Teknologi yang
demikian itu merupakan barang baru bagi masyarakat dan perlu dimanfaatkan dan
diketahui oleh masyarakat dan perlu dimanfaatkan dan diketahui oleh masyarakat tentang
nilai dan kegunaannya. Teknologi tersebut merupakan faktor ekstern dan diperkenalkan
dengan maksud agar masyarakat yang bersangkutan dapat merubah kebiasaan tradisional
dalam proses pembagunan atau peningakatan kesejahteraan masyarakat.
Teknologi tepat guna adalah suatu alat yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat
berguna serta sesuai dengan fungsinya. Selain itu, teknologi tepat guna atau yang
disingkat dengan TTG adalah teknologi yang digunkan dengan sesuai (tepat guna).
B. Rumusan Masalah
1) Apa saja alat dalam teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan?
2) Bagaimana sistem dalam teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan?
3) Apa saja vaksin dalam teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan?
4) Bagaimana prosedure screening dan deteksi dini dalam pelayanan kehamilan?
C. Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui alat dalam teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan.
2) Untuk mengetahui sistem dalam teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan.

Page 1
3) Untuk mengetahui vaksin dalam teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan.
4) Untuk mengetahui prosedure screening dan deteksi dini dalam pelayanan kehamilan.

Page 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Alat Dalam Teknologi Terapan Pelayanan Kehamilan
1) Stetoskop pinard

Menggunakan stetoskop pinard memungkinkan bidan menginformasi bahwa


denyutan yang terdengar adalah denyutan jantung janin : alat litrik dapat
menyebabkan kebingungan antara frekuensi jantung janin dan maternal. Bidan harus
melakukan palpasi denyut radialis maternal saat mendengarkan jantung janin guna
memastikan bahwa bunyi jantung yang terdengar adalah bunyi jantung janin.
Stetoskop pinard dapat digunakan sejak 24 minggu usia kehamilan tetapi banyak
bidan tidak akan menggunakanya sampai minggu ke 28 gestasi. Janin yang lebih kecil
yang bergerak secara signifikan mungkin akan sulit “distabilkan” dan karenanya
dapat mempersulit untuk mendengar denyut jantung bayi.
Terdapat beberapa posisi maternal yang membuat pinard sulit untuk tidak
mungkin digunakan (pada posisi merangkak atau sangattegak, terutama saat janin
telah turun dikala dua persalinan). Ultrasonografi Doppler dapat digunakan pada saat
ini, atau wanita dapat dipersiapkan untuk mneyesuaikan posisinya dalam waktu
sementara yang singkat.
PROSEDUR : menggunakan stetoskop pinard
a) Lakukan pemeriksaan abdomen
b) Letakkan stetoskop pinard diatas area tempat perkiraan antara jantung suara
jantung terdengar.
c) Letakkan lubang stetoskop ditelinga dan lepaskan tangan sehingga telinga,
stetoskop, dan abdomen berada dalam kontak langsung (ini meningkatkan
variansi suara), dibutuhkan tekanan yang lembut.

Page 3
d) Dengarkan dan hitung denyut jantung janin selama 1 menit, palpasi denyut
radialis wanita secara bersamaan
e) Diskusikan hasil pemeriksaan dengan wanita.
f) Dokumentasikan hasil pemeriksaan dan tindak lanjuti sesuai dengan hasil
pemeriksaan tersebut.
2) Fetal Doppler

Adalah merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi denyut jantung bayi, yang
menggunakan prinsip pantulan gelombang elegtromagnetik, alat ini adalah sangat
berguna untuk mengetahui kondisi kesehatan janin, sangat disarankan untuk dimiliki
dirumah sebagai deteksi harian, selain aman juga mudah dalam penggunaanya serta
harga yang sangat terjangkau untuk dimiliki.
Prosedure : menggunakan Doppler janin
a) Lakukan pemeriksaan abdomen dan auskultasi janutng janin menggunakan
stetoskop pinard.
b) Lubrikasi porbe Doppler dengan gel konduktif yang tepat.
c) Letakkan sonicaid diatas area tempat bunyi jantung diperkirakan terdengar.
d) Hitung denyut jantung selama 1 menit (beberapa sonicaid memberikan
perhitungan digital) sementara secara bersamaan menghitung denyut nadi
maternal.
e) Jelaskan kepada wanita tentang suara lain yang dapat di dengar
f) Bersihkan gel dengan kertas tisu
g) Diskusikan hasil pemeriksaan dan tindak lanjuti sesuai hasil pemeriksaan
tersebut.

Page 4
3) Kardiotokografi

CTG juga dikenal sebagai alat elektronik pemantau janin (electronic fetal monitoring,
EFM) telah meningktakan angka intervensi maternal, tetaoi tidak mengurangi
mortlitas perinatal atau palsi serebal (NICE, 2007). Wanita resiko rendah tidak boleh
ditawarkan CTG pada periode antenatal atau selama persalinan karana tidak terbukti
manfaatnya, dan CTG hanya ditawarkan pada wanita yang memiliki kemungkinan
atau memang memiliki faktor risiko. Faktor risiko ini mencakup :
a) Penurunan pergerakan janin
b) Persalinan permatur, cairan ketuban yang tercampur mekonium secara signifikan,
perdarahan antepartum atau intrapartum, penggunaan oksitosin
c) Berdasarkan permintaan maternal
d) Abnormalitas yang ditemukan saat auskultasi yang dilakukan secraa
berkala/intermiten (bradikardi,takikardi,atau deselerasi)
e) Pireksia maternal
f) Janin yang lain berisiko: kecil masa kehamilan (KMK), kehamilan multipel,
diabetes, dan preeklamsi.
CTG harus digunakan dua kali seminggu untuk usia kehamilan >42 minggu dan
selama 30 menit setelah analgesia epidural diberikan dan setiap setelah tambahan
bolus diberikan. Frekuensi denyut jantung dan aktivitas uteri dicetak pada kertas
grafik, monitor harus dijalankan sesuai dengan prtokol local sering kali 1 cm per
menit. Saat janin bergerak akan terjadi kehilangan kontak yang mungkin disertai
peningkatan frekuensi denyut jantung, lama monitor terpasang ditempatnya akan
bergantung pada kondisi dan janin, memungkinkan waktu yang cukup untuk
melaksanakan pengkajian tentang normalitas.

Page 5
PROSEDUR : aplikasi monitor CTG
a) Dapatkan dan catat persetujuan tindakan; anjurkan wanita untuk mengosongkan
kandung kemihnya.
b) Lakukan observasi maternal; suhu tubuh, tekanan darah, dan nadi.
c) Lakukan pemeriksaan abdomen dan auskultasi jantung janin menggunakan
stetoskop pinard.
d) Posisikan wanita dalam posisi duduk atas semi recumbent; posisinya dapat dig
anti setelah mpnitor terpasang, pastikan dua sabuk terpasang pada posisinya dan
wanita cukup tetutupi
e) Berikan gel ketransduser diatas area tempat suara jantung diperkirakan terdengar;
f) Tentukan bahwa setiap data yang tercetak secara otomatis (kis, jam, tanggal)
g) Anjurkan wanita untuk mencatat pergerakan janin. Pastikan bahwa ia memahami
keistimewaan pemantauan, mis., signifikan hilangnya kontak, suara lain yang
dapat didengar
h) Catat indikasi dan permulaan pemantauan didalam catatan dengan tanggal waktu,
dan tanda tangan.
i) Pastikan bahwa setiap orang yang melihat trace ini harus memberikan tanda
tangan disertai tanggal dan waktu serta pada hasil pemantauan di trace dan di
dalam catatan.
j) Lepaskan monitor jika telah puas bahwa hasil trace berada dalam batas normal.
Lap gel dari abdomen
k) Tanda tangani dan simpan trace dengan tepat, catat penyelesaian pemantauan dan
indikasi untuk perawatan. Jika kelahiran telah terjadi, tanggal, waktu dan metode
pelahiran harus dicatat pada trace.
l) Diskusikan hasil pemantauan dengan wanita
m) Bersihkan, stok ulang, dan simpan perlengkapan dengan benar.

Page 6
4) Sonicaid

Salah satu penggunaan sonicaid adalah ibu dapat mendengar denyut jantung janin dan
dapat menyakinkannya. Cara ini sangat bermanfaat bagi usia gestasi kurang dari 28
minggu, disaat bunyi jantung janin belum dapat di dengar dengan jelas menggunakan
stetoskop pinard. Untuk dapat mendengar bunyi jantung janin, sonicaid sering kali
perlu diletakkan langsung diatas bahu janin.
Prosedur penggunaan sonicaid
a) Lakukan pemeriksaan abdomen (gunakan stetoskop pinard bila tepat)
b) Oleskan jeli konduktif yang sesuai pada sonicaid
c) Letakkan sonicaid ditempat bunyi jantung janin diperkirakan dapat terdengar.
d) Hitung denyut jantung dalam satu menit ( beberapa sonicaid memberikan hasil
pembacaan digital)
e) Jelaskan pada ibu bunyi lain yang mungkin terdengar, seperti bunyi gerakan janin,
aliran darah uterin atau pulsasi tali pusat
f) Bersihkan jeli yang menempel di abdomen dan sonicaid.
g) Diskusikan pada ibu tentang hasil pemeriksaan
h) Dokumentasi hasil pemeriksaan dan lakukan tindakan yang sesuai.
5) USG
Pemeriksaan USG obstetri dapat dikerjakan melalui cara transabdominal (USG-TA)
atau transvaginal (USG-TV).
a) Pemeriksaan USG Transabdominal
Transduser (probe) yang digunakan untuk pemeriksaan USG-TA adalah jenis
linear atau konveks. Transduser jenis konveks lebih popular digunakan pada saat
ini karena dapat menampilkan lapang pandangan yang lebih luas dibandingkan

Page 7
jenis linear. Pemeriksaan USG-TA terutama dikerjakan pada kehamilan trimester
II da III.
Pada kehamilan trimester I pemeriksaan USG-TA sebaiknya dikerjakan melalui
kandung kemih yang terisi penuh (sehingga disebut juga pemeriksaan USG
transvesikal), gunanya untuk menyingkirkan usus keluar dari rongga pelvik,
sehingga tidak menghalangi pemeriksaan genetalia interna. Massa usus yang
berisi gas akan menghambat transmisi gelombang ultrasonik.
Sebelum memulai pemeriksaan, dinding abdomen ibu harus dilumuri jel (gel)
untuk lubrikasi dan menghilangkan udara di antara permukaan transduser dan
dinding abdomen.
Pemeriksaan USG-TA mempunyai beberapa kerugian. Kandung kemih yang
penuh akan mengganggu kenyamanan pasien dan pemeriksa. Kandung kemih
yang terlampau penuh akan mendesak genetalia interna ke posterior , sehingga
letaknya diluar daya jangkau transduser. Uterus mudah mengalami kontaksi,
sehingga kandung gestasi di dalam uterus ikut tertekan dan bentuknya mengalami
distorsi. Keadaan-keadaan ini akan dipersulit pemeriksaan. Adanya mudigah di
dalam kantung gestasi dapat luput dari pemeriksaan.
Pemeriksaan USG-TA tanpa persiapan kandung kemih pada kehamilan trimester
I dapat dikerjakan dengan cukup memuaskan memuaskan pada pasien yang
kurus, dengan dinding perut yang tipis dan uterus anteversi.
Pada kehamilan trimester II dan III uterus telah cukup besar dan letakknya di luar
rongga pelvik. Volume cairan amnion sudah cukup banyak. Pemeriksaan USG-
TA dapat dikerjakan tanpa memerlukan persiapan kandung kemih.
b) Pemeriksaan USG Transvaginal
Berbeda dengan USG-TA, pemeriksaan USG-TA harus dilakukan dalam keadaan
kandung kemih yang kosong agar organ pelvik berada dekat dengan permukaan
transduser dan berada di dalam area penetrasi transduser. Jika dibandingkan
USG-TA (yang harus dikerjakan dalam keadaan kandung kemih terisi penuh),
pemeriksaan USG-TV pada kehamilan trimester I lebih dapat diterima oleh
pasien. Pemeriksaan USG-TV dapat dilakukan setiap saat, dan organ pelvik
berada dalam posisi yang sebenarnya.

Page 8
Dalam persiapan transduser terlebih dulu diberi jel pada permukaan elemennya
(untuk menghilangkan udara di permukaan transduser), kemudan dibungkus
dengan alat pembungkus khusus atau kondom (berfungsi sebagai alat pelindung).
Sebelum dimasukkan ke dalam vagina, ujung pembungkus transduser diberi jel
lagi (berfungsi sebagai lubrikan dan menghilangkan udara di antara permukaan
elemen transduser dan serviks uteri). Transduser dimasukkan de dalam vagina
hingga mencapai daerah forniks. Manuver gerakan transduser di dalam vagina
merupakan kombinasi gerakan maju-mundur, gerakan memutar (rotasi), dan
gerakan angulasi ke samping kiri-kanan atau ke atas bawah.
c) Indikasi Pemeriksaan USG
 Indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester I
Pemeriksaan indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester I, misalnya
penentuan adanya kehamilan intrauterin, penentuan adanya denyut jantung
mudigah atau janin, penentuan usia kehamilan, penentuan kehamilan kembar;
perdarahan pervaginam, terduga kehamilan ektopik, terdapat nyeri pelvik,
terduga kehamilan mola, terduga adanya tumor pelvik atau kelainan uterus, dan
membantu tindakan invasif, seperti pengambilan sampel jaringan vili koriales
(chrorionic villus sampling), pengangkatan IUD.
 Indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III
Beberapa indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III,
misalnya: penentuan usia kehamilan, evaluasi pertumbuhan janin, terduga
kematian janin, terduga kehamilan kembar, terduga kelainan volume cairan
amnion, evaluasi kesejahteraan janin, ketuban pecah dini atau persalinan
preterm, penentuan presentasi janin, membantu tindakan versi luar, terduga
inkompetesia serviks, terduga plasenta previa, terduga solusio plasenta, terduga
kehamilan mola, terdapat nyeri pelvik atau nyeri abdomen, terduga kehamilam
ektopik, kecurigaan adanya kelainan kromosomal (usia ibu ≥35 tahun, atau hasil
tes biokimiawi abnormal), evaluasi kelainan kongenital, riwayat kelainan
kongenital pada kehamilan sebelumnya, terduga adanya tumor pelvik atau
kelainan uterus; dan membantu tindakan invasif, seperti amniosentesis,
kordosentesis, atau amnioinfusi.

Page 9
Pemeriksaan USG diagnostik cara scanning bersifat aman dan noninvasif.
Sejauh ini tidak ada kontraindikasi untuk pemeriksaan USG dalam kehamilan.
d) Staturmeter

Adalah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi badan, alat ini adalah sangat
sederhana pada desainnya karena hanya ditempelkan pada tembok bagian atas dan
ketika akan digunakan hanya perlu untuk menariknya sampai kebagian kepala teratas,
sehingga dpt diketahui tinggi badan orang tersebut.
e) Lingkar lengan ibu hamil

Adalah tanda yang digunakan untuk mempermudah mengidentifikasi bayi dan


bundanya, pada umumnya dipakaikan pada bayi dan bundanya dirumah sakit bersalin.
f) Reflek hammer/reflek patella

Sejenis hammer yang dilapisi dengan karet yang digunakan untuk mengetahui respon
syaraf dari anggota tubuh biasanya kaki.

Page 10
2.2 Sistem Dalam Teknologi Terapan Pelayanan Kehamilan
1) Sistem informasi dan monitoring perkembangan janin berbasis android
Pada penelitian ini dikembangkan aplikasi perangkat bergerak berbasis android yang
memungkinkan pengguna mengetahui kondisi janin dengan menggunakan citra USG
serta menggunakan metode pengukuran tinggi fundus uteri. Menghitung biometri janin
dan memprediksi usia serta berat janin dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa
pendekatan. Pendekatan yang dilakukan antara lain dengan menghitung biparetal
diameter(BPD), occipito-frontal diameter (OFD), head circumference (HC) dan femur
length (FL). Penelitian mengenai bagaimana menghitung biometri janin secara otomatis
melalui citra USG juga telah dilakukan beberapa tahun belakangan ini. Pendekatan yang
dilakukan oleh Carneiro adalah dengan menerapkan boosting tree classifier, Vikram
menggunakan pendekatan active contour model, sedangkan Sandra menggunakan
deformable model. Dong dan Imaduddin menerapkan adaboost-RHT classifier untuk
mendeteksi lokasi janin dan melakukan aproksimasi bentuk elips.
Penerapan Pada Aplikasi Mobile:
Implementasi Pengukuran Janin
Proses penerapan algoritma perhitungan biometri janin berdasarkan citra USG pada
perangkat bergerak dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah proses pelatihan atau
pembelajaran dengan menggunakan citra positif dan negatif. Proses ini dilakukan untuk
mendapatkan model yang membedakan antara objek janin dan selain janin. Tahap
pertama ini membutuhkan waktu dan sumberdaya komputasi yang besar, sehingga harus
dilakukan di komputer dengan sumberdaya yang cukup besar. Tahap kedua adalah proses
deteksi dan aproksimasi bentuk janin pada perangkat bergerak. Deteksi lokasi janin
dilakukan dengan membaca citra USG yang didapat melalui kamera perangkat maupun
proses unggah. Citra tersebut dihitung nilai fiturnya untuk kemudian dilakukan proses
deteksi mengunakan model yang sebelumnya telah dilatih dengan metode cascade
classifier. Hasil dari proses ini adalah lokasi janin pada citra USG. Selanjutnya
berdasarkan lokasi janin tersebut dilakukan prediksi bentuk janin dengan menggunakan
metode IRHT. Hasil prediksi bentuk geometri tersebut kemudian diukur nilai diameter
untuk menghitung berat dan usia janin. Penerapan algoritma pendeteksi janin dilakukan
dengan menggunakan bahasa C++ serta membutuhkan pustaka opencv. Untuk

Page 11
menerapkannya kode tersebut pada aplikasi android maka digunakan NDK (Native
Development Kit) dimana pengembang dapat menyertakan kode dengan bahasa selain
java (seperti C++) kedalam aplikasi android. Citra USG yang digunakan untuk
pengukuran adalah citra yang didapatkan melalui kamera device. Pengguna melakukan
proses pengambilan gambar melalui kamera perangkat pada objek foto maupun dari
monitor alat USG. Selain itu citra USG juga dapat diperoleh dengan melakukan proses
unggah file gambar USG kedalam perangkat. Proses untuk mendapatkan data hasil
pengukuran tinggi fundus uteri dilakukan secara manual. Sebelumnya pengguna
melakukan pengukuran secara manual, baik dengan alat ukur maupun dengan jari.
Pengguna kemudian melakukan proses input data hasil pengukuran ini kedalam perangkat
dengan menggunakan form yang disediakan aplikasi.
2) Maternal Emergency Screening (MES)
Maternal Emergency Screening (MES) yang direncanakan untuk dibuat rancangan
aplikasi akan memuat semua informasi yang berkaitan dengan faktor resiko selama
kehamilan untuk mendeteksi adanya kegawatdaruratan. Manfaat yang diharapkan dengan
penggunaan Maternal Emergency Screening (MES) bagi ibu hamil adalah menyediakan
informasi penting mengenai faktor resiko kegawatdaruratan kehamilan dengan
menggunakan sistem pakar sedemikian rupa sehingga ibu hamil mampu membuat
keputusan terkait tindakan apa yang dapat dilakukan. Maternal Emergency Screening
(MES) dirancang dengan penggunaan kata-kata yang dapat dipahami oleh masyarakat
awam sehingga dapat dengan mudah menerima informasi yang diberikan dan membuat
keputusan layaknya seorang pakar tanpa perlu mengeluarkan biaya hanya untuk sekedar
berkonsultasi dengan dokter.
Secara umum yang menjadi hambatan dalam penggunaan Maternal Emergency Screening
(MES) ini adalah kesiapan pengguna dan sistem yang akan dijalankan. Semua hal yang
menjadi informasi sebagai faktor resiko dalam kegawatdaruratan harus dibuat sedemikian
rupa sehingga masyarakat awam dapat memahami dengan mudah informasi yang
diberikan. Biaya yang diperlukan dalam pembuatan aplikasi serta pengumpulan informasi
menjadi hambatan tersendiri dalam pengembangan sistem ini.

Page 12
3) Penerapan Model SMS Gateway
Peningkatan kapasitas pengetahuan Ibu melalui pendidikan kesehatan baik secara
langsung maupun tidak langsung penting dilakukan. Meskipun dukungan tenaga
kesehatan sudah memberikan pelayanan konseling pada ibu hamil saat pemeriksaan ANC
(Antenatalcare), namun tidak menjangkau kelompok ibu hamil masih rendah
kesadarannya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Terbatasnya jumlah tenaga
kesehatan terutama dalam penyampaian komunikasi informasi dan edukasi (KIE) masih
menjadi kendala dalam pelayanan kesehatan, sehingga diperlukan strategi alternatif
massal sebagai sarana komunikasi efektif yang berpotensi untuk memberikan informasi
kesehatan kepada masyarakat pada geografi sulit hingga mampu menjangkau dan
mempengaruhi serta memotivasi dirinya agar mau belajar dan memahami kondisi
kesehatan sehingga mampu untuk mengetahui gejala sedini mungkin yaitu melalui
pemanfaatan telepon seluler (mobilephone). penerapan SMS Gateway sebagai media
promosi kesehatan dalam upaya pencegahan penyulit dan komplikasi kehamilan. Program
Intervensi menggunakan SMS gateway dirancang secara otomatis untuk mengirimkan
pesan singkat ( SMS Gateway) selama 1,5 bulan setiap hari pada semua responden.
Analisis persepsi ibu terhadap media promosi berbasis SMS dilakukan secara deskriptif.
4) ANC Class
Tujuan dari kelas ibu hamil untuk lebih tahu dan paham mengenai kehamilan, dan untuk
mengurangi angka kematian ibu hamil, nifas dan bayi. pelaksanaan kelas ibu hamil
meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tentang
kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan,
persalinan, perawatan nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir,
mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran. (Depkes
RI, 2009). Materi yang diberikan dalam kegiatan kelas ibu hamil bahwa kader
berpedoman pada buku kelas ibu hamil, lembar balik yang di berikan oleh Dinkes selain
itu juga menggunakan buku KIA. Materinya berisi seputar kehamilan, persalinan sampai
dengan merawat bayi. Metode yang digunakan dalam kegiatan kelas ibu hamil antara lain
ceramah, tanya jawab, curah pendapat, demonstrasi dan praktek. Untuk kelengkapan
fasilitas berdasarkan wawancara dengan bidan fasilitas berupa tikar, papan tulis, kertas,
spidol, bantal, kursi tidak diberikan oleh Dinkes. Dinkes hanya memberikan media

Page 13
berupa 1 paket tas yang berisi buku kelas ibu hamil, lembar balik mengenai kehamilan
untuk kegiatan kelas ibu hamil.
2.3 Vaksin
Vaksinasi adalah cara terbaik untuk memberikan kekebalan bagi manusia. Pemberian vaksin
selama kehamilan harus mempertimbangkan risiko dari vaksinasi dengan keuntungan
perlindungan pada situasi tertentu, walaupun vaksin aktif atau tidak aktif yang digunakan.
Ada tiga macam vaksinasi selama kehamilan yaitu yang direkomendasikan aman, tidak
direkomendasikan selama kehamilan dan rekomendasi khusus. Vaksin yang
direkomendasikan aman adalah vaksin tetanus toksoid, diptheri, hepatitis B, influenza,
meningococal, dan rabies. Vaksin yang tidak direkomendasikan selama kehamilan berasal
dari mikroorganisme hidup yang dilemahkan. Mikroorganisme tersebut dapat tumbuh dan
menyebabkan penyakit pada inangnya. Vaksin yang tidak direkomendasikan adalah BCG,
measless, mumps, rubella, dan varicella. Vaksin yang direkomendasikan khusus digunakan
untuk daerah-daerah endemik atau wanita hamil yang berpergian ke tempat endemik
penyakit tersebut yaitu, antrax, hepatitis A, Japanese Enchepalitis, pneumococcal, polio
(IPV), typhoid, vaccinia dan yellow fever. Vaksin Tetanus Toksoid (TT) di Indonesia
dianjurkan diberikan pada saat pelayanan karena angka kejadian tetanus neonatorum di
Indonesia masih sangat tinggi.
Di Indonesia masih banyak persalinan yang ditolong oleh bukan tenaga kesehatan atau
oleh dukun beranak, sehingga persalinan tidak bersih dan steril yang dapat
mengakibatkan infeksi.
Beberapa jenis vaksin yang diberikan selama kehamilan yaitu:
1) Imunisasi TT
a) Injeksi 1 : Pada kunjungan ANC Pertama.
b) Injeksi ke-2 : 4 minggu setelah injeksi pertama.
c) Injeksi ke-3 : minimal 6 bulan setelah injeksi kedua.
d) Injeksi ke-4 : 1 hingga 3 tahun setelah injeksi ketiga.
e) Injeksi ke-5 : 1 hingga 5 tahun setelah injeksi keempat.
Apabila jarak injeksi pertama dan kedua terlalu jauh, maka selama kehamilan, ibu
dapat diberikan injeksi TT sebanyak 2 kali, asalkan injeksi kedua minimal 4 minggu
sebelum akhir kehamilan.

Page 14
2) Influenza
Imunisasi influenza dengan virus yang tidak aktif ini bisa diberikan pada ibu hamil,
bila ada indikasi ibu hamil tersebut berisiko terkena flu dalam kondisi parah, seperti
yang terjadi di Amerika Serikat. Pada musim flu (menjelang dan pada musim
dingin), penyakit flu di Amerika bisa berkembang sangat parah sampai-sampai perlu
dirawat di rumah sakit. Jadi, ibu yang menjalani kehamilan trimester kedua dan tiga
di musim dingin, sebaiknya diimunisasi influeza.
Secara umum, imunisasi ini aman diberikan pada ibu hamil. Bahkan, berdasarkan
Paduan Pemberian Imunisasi bagi Wanita Hamil dan Menyusui yang dikeluarkan
Centers for Disease Control and Prevention, sebuah studi yang dilakukan terhadap
2.000 ibu hamil yang diimunisasi influenza, menunjukkan tidak adanya pengaruh
terhadap janin akibat imunisasi tersebut. hasil serupa diperoleh terhadap 252 ibu
yang mendapat imunisasi influenza enam bulan setelah melahirkan. Sementara di
Indonesia, flu umumnya dianggap sebagai penyakit yang sangat umum dan biasanya
tidak membahayakan. Apalagi, di Indonesia tidak terdapat flu musiman seperti di
Amerika yang bisa menyebabkan flu sangat berat. Jadi, imunisasi influenza jarang
sekali diberikan pada ibu hamil.
3) Hepatitis
Dalam Paduan Pemberian Imunisasi bagi Wanita Hanil dan Menyusui (dikeluarkan
CDC) disebutkan, keamanan pemberian imunisasi Hepatitis A masih belum bisa
dipastikan. Namun, karena vaksin ini dibuat dari virus mati atau tidak aktif, secara
teoritis risiko janin terpengaruh sangat rendah. Jadi, imunisasi ini bisa diberikan pada
ibu hamil, jika ada indikasi berisiko tinggi terkena penyakit tersebut. misalnya,
memiliki kelainan hati, hidup di lingkungan yang berisiko terinfeksi Hepatitis A,
sering berada di Tempat Penitipan Anak (TPA), atau akan bepergian ke negara di
mana penyakit ini menjadi endemis. Walau imunisasi ini dikatakan aman bagi ibu
hamil, sebaiknya hanya diberikan bila ia berisiko tinggi terjangkit Hepatitis B.
Misalnya, ibu hamil merupakan pekerja kesehatan yang punya kemungkinan terpapar
atau tertusuk jarum suntik yang bisa menularkan virus Hepatitis B, dan lain-lain.

Page 15
4) Meningococcal Polysaccharide Vaccine (MCV4)
Studi mengenai pemberian imunisasi ini pada ibu hamil memang belum pernah
menunjukkan adanya efek merugikan bagi sang ibu maupun bayinya. Jadi, imunisasi
Meningococcal bisa diberikan, terutama bagi ibu hamil yang terindikasi akan
terpapar virus tersebut. misalnya, mereka yang berencana melakukan perjalanan ke
negara-negara dengan risiko terpapar virus meningococcal. Meski begitu, pemberian
imunisasi ini tetap harus didasarkan pada indikasi, serta turut pula memperhitungkan
faktor risiko dan keuntungannya.
5) Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV23)
Pemberian imunisasi Pneumococcal pada trimester pertama kehamilan belum pernah
dievaluasi keamanannya. Meski begitu, belum pernah dilaporkan adanya efek
merugikan terkait pemberian imunisasi ini pada janin yang dikandung ibu. Tentu
saja, jika ibu hamil tidak berisiko tinggi terkena virus tersebut, imunisasi ini tidak
perlu diberikan.
6) Diphtheria, Pertussis, dan Tetanus (DPT)
Yang umum diberikan adalah imunisasi DT (Diphtheria dan Tetanus Toxoid).
Pemberian DPT bisa dipertimbangkan, jika ibu hamil memiliki kemungkinan untuk
terpapar penyakit pertussis atau batuk rejan. Misalnya, pekerja kesehatan atau
mereka yang bekerja di tempat penitipan anak (TPA) dimana terdapat banyak kasus
pertussis.
Imunisasi yang harus dihindari
Ada beberapa jenis imunisasi yang harus dihindari atau tidak disarankan untuk diberikan
pada ibu hamil, yakni imunisasi yang mengandung virus hidup. Hal itu disebabkan virus
itu dikhawatirkan akan masuk ke janin melalui plasenta. Selain MMR dan Varicella,
imunisasi lain yang tidak boleh diberikan pada ibu hamil adalah HPV (Human Papilloma
Virus), serta BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Meski belum ada penelitian yang
menunjukkan adanya efek negatif bagi ibu ataupun janin, pemberian imunisasi HPV
sangat tidak disarankan bagi ibu hamil. Imunisasi ini baru diluncurkan, serta masih dalam
tahap dikaji dan diamati. Pemberian imunisasi saat hamil memang harus benar-benar
melibatkan pertimbangan cermat atas faktor keuntungan dan risiko dari vaksin yang
diberikan terhadap janin dalam kandungan.

Page 16
2.4 Prosedure skrinning dan deteksi dini
1) Early ANC Detection
Idealnya wanita yang merasa hamil agar memeriksakan diri ketika haidnya terlambat
sekurang-kurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilanya
tersebut akan segera diketahui dan dapat diatasi secara cepat dan tepat. Oleh karena itu,
setiap waktu hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya sekali pada
trismester I (sebelum minggu ke 14).
Pemeriksaan yang dilakukan pada kehamilan dini, yaitu:
a. Anamnesa
Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini
banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosis dan
prognosa kehamilan.
1. Anamnesa social (biodata dan latar belakang social)
2. Anamnesa keluarga
3. Anamnesa medic
4. Anamnesa haid
5. Anamnesa kebidanan
b. Pemeriksaan umum
1. Tinggi badan
2. Berat badan
3. Tanda-tanda vital
4. Pemeriksaan kepala dan badan
5. Pemeriksaan payudara
6. Pemeriksaan jantung, paru, dan organ dalam tubuh lainya
7. Pemeriksaan abdominal
8. Pemeriksaan genetalia
9. Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah
c. Pemeriksaan labolatorium
Tes labolatorium perlu dilakukan pada ibu hamil. Pemeriksaan ini ditunjukan untuk
memeriksa golongan darah, hb, protein urine dan glukosa urine.

Page 17
2) Kontak dini kehamilan trismester I
Pada trimester I, menurunya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar.
Jika dalam anamnesis terdapat riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang,
sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. Pada minggu ke 16 ini, plasenta
telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. Pada umumnya, koitus
diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir
kehamilan, jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat
menimbulkan persaan sakit dan pendarahan.
3) Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu
Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda-beda
sesuai kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya. Persetujuan ANC yang diberikan
terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya berbeda dengan pelayanan yang diberikan
kepada ibu hamil dengan varies.
4) Skrinning untuk deteksi dini
a. USG
USG merupakan suatu media diagnostic dengan menggunakan gelombang ultrasonic
untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang
ultra sonic. Pemeriksaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang
aman.
Pemeriksaan USG pada kehamilan yang normal usia 5 minggu, struktur kantong
gestasi intrauterine dapat dideteksi di mana diameternya sudah mencapai 6000-6500
mIU/ml. Dari kenyataan ini bisa juga di artikan bahwa kadar HCG yang lebih dari
6500 mIU/ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterine, maka kemungkinan
kehamilan ektopik.

Antenatal Care Berkualitas


Pelayanan antenatal yang berkualitas dapat mendeteksi terjadinya risiko pada kehamilan
yaitu mendapatkan akses perawatan kehamilan berkualitas, memperoleh kesempatan
dalam deteksi secara dini terhadap komplikasi yang mungkin timbul sehingga kematian
maternal dapat dihindari (Mufdlilah, 2009). Kualitas pelayanan antenatal diberikan
selama masa hamil secara berkala sesuai dengan pedoman pelayanan antenatal yang telah
ditentukan untuk memelihara serta meningkatkan kesehatan ibu selama hamil sesuai

Page 18
dengan kebutuhan sehingga dapat menyelesaikan kehamilan dengan baik dan melahirkan
bayi yang sehat.
Beberapa jenis pelayanan antenatal antara lain meliputi (Carolli et al, 2001):
1. Permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan secara umum serta deteksi dini
terhadap risiko tinggi pada kehamilan
2. Screening untuk mengidentifikasi faktor risiko, upaya pengobatan penyakit yang
diderita juga untuk mencegah komplikasi, serta intervensi dalam upaya mencegah
penyakit yang timbul.

Melalui deteksi dini terhadap ibu hamil yang mempunyai peluang dan persalinan yang
beresiko tinggi pada fasilitas kesehatan yang mempunyai peralatan yang lengkap,
perawatan antenatal yang dilakukan secara benar, dapat mengurangi kesakitan dan
kematian secara langsung. Pelayanan antenatal yang sesuai standar dapat mendeteksi
gejala dan tanda yang berkembang selama kehamilan.

Sedangkan sesuai rekomendasi Depkes RI (2007), pelayanan antenatal antara lain:

1. Identifikasi ibu hamil yaitu bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi
dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu,
suami dan anggota keluarga agar mendorong ibu untuk memeriksakan
kehamilannya sejak dini secara teratur
2. Pemantauan dan pelayanan antenatal yaitu bidan memberikan sedikitnya 4 kali
pelayanan antenatal. Beberapa pelayanan tersebut antara lain seperti anamnesis dan
pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan
berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risiko tinggi atau
kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, penyakit menular seksual
(PMS) dan infeksi human immune deficiency virus/aquired immune deficiency
syndrome (HIV/AIDS), memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan
kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Bidan harus
mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, bidan
harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan melakukan rujukan
3. Palpasi abdominal yaitu bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama
dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, bila umur kehamilan

Page 19
bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya kepala janin ke dalam
rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu
4. Pengelolaan anemia pada kehamilan yaitu bidan melakukan tindakan pencegahan,
penemuan, penanganan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku
5. Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan yaitu bidan menemukan secara dini
setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gej ala
preeklamsi serta mengambil tindakan yang tepat untuk merujuk
6. Persiapan persalinan yaitu bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil,
suami serta keluarganya pada trimester III, untuk memastikan bahwa persiapan
persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan
direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya untuk
merujuk bila terjadi keadaan gawat darurat.
Menurut standar WHO, seorang ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal
dengan minimal 4 kali selama kehamilannya, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 1 kali
pada trimester ke dua, dan 2 kali pada trimester ke tiga untuk memantau keadaan ibu
dan janin secara seksama sehingga dapat mendeteksi secara dini dan dapat memberikan
intervensi secara tepat (WHO, 2007).

Page 20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Alat Dalam Teknologi Terapan Dalam Pelayanan Kehamilan : stetoskop pinard,
Doppler, Kardiotokografi, Sonicaid, USG, Staturmeter, Lingkar lengan ibu
hamil, Reflek hammer/reflek patella.
2) Sistem Dalam Teknologi Terapan Pelayanan Kehamilan: Sistem informasi dan
monitoring perkembangan janin berbasis android, Maternal Emergency
Screening (MES), Penerapan Model SMS Gateway, ANC Class.
3) Beberapa jenis vaksin yang diberikan selama kehamilan yaitu: Imunisasi TT,
Influenza, Hepatitis, Meningococcal Polysaccharide Vaccine (MCV4),
Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV23), Diphtheria, Pertussis, dan
Tetanus (DPT).
4) Ada beberapa jenis imunisasi yang harus dihindari atau tidak disarankan untuk
diberikan pada ibu hamil, yakni imunisasi yang mengandung virus hidup. Hal itu
disebabkan virus itu dikhawatirkan akan masuk ke janin melalui plasenta. Selain
MMR dan Varicella, imunisasi lain yang tidak boleh diberikan pada ibu hamil
adalah HPV (Human Papilloma Virus), serta BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
5) Prosedure skrinning dan deteksi dini: Early ANC Detection, Kontak dini
kehamilan trismester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu.
B. Saran
Semoga dengan makalah ini dapat membantu kita sebagai pemberi pelayanan
kesehatan terutama sebagai bidan agar dapat meningkatkan pengetahuan mengenai
teknologi terapan dalam pelayanan kehamilan. Dan agar masyarakat yang
bersangkutan dapat merubah kebiasaan tradisional dalam proses pembangunan atau
peningakatan kesejahteraan masyarakat.

Page 21