Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemeriksaan kehamilan adalah pengawasan terhadap ibu hamil dengan
mempersiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental ibu dalam kehamilan, persalinan dan
post partum sehingga selalu dalam keadaan sehat dan normal (Prawiroharjo, 2002).
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah
kesehatan yang dialami klien. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengumpulkan data
tentang kesehatan pasien, menambah informasi, menyangkal data yang diperoleh dari
riwayat pasien, mengidentifikasi masalah pasien, menilai perubahan status pasien, dan
mengevaluasi pelaksaan tindakan yang telah diberikan.
Dalam melakukan pemeriksaan fisik terdapat teknik dasar yang perlu
dipahami, antara lain inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi (ketukan), dan
auskultasi (mendengar). Kunjungan pemeriksaan fisik kehamilan adalah kontak ibu
hamil dengan pemberi perawatan/asuhan dalam mengkaji kesehatan dan kesejahteraan
bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu
dan petugas kesehatan (Henderson, 2006).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pemeriksaan fisik ibu hamil ?
2. Apa tujuan dari pemeriksaan fisik ibu hamil ?
3. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil ?
4. Bagaimana standar operasional prosedur pada pemeriksaan fisik ibu hamil ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari pemeriksaan fisik ibu hamil
2. Untuk mengetahui tujuan dari pemeriksaan fisik ibu hamil
3. Untuk mengetahui cara melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil
4. Untuk mengetahui standar operasional prosedur pada pemeriksaan fisik ibu hamil

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik ibu hamil merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan
mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa
nifas sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI
dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008).
Pemeriksaan dilakukan pada klien yang baru pertama kali datang pemeriksaan,
ini dilakukan dengan lengkap. Pada pemeriksaan ulangan, dilakukan yang perlu saja
jadi tidak semuanya. Waktu persalinan, untuk penderita yang belum pernah diperiksa
dilakukan dengan lengkap bila masih ada waktu dan bagi ibu yang pernah periksa
dilakukan yang perlu saja.

B. Pemeriksaan Fisik Pada Ibu Hamil


Pemeriksaan pada ibu hamil dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan
secara umum, meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan kebidanan.
1. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan pada ibu hamil bertujuan untuk menilai keadaan umum ibu, status
gizi, tingat kesadaran, serta ada tidaknya kelainan bentuk badan. Selain itu
pemeriksaan umum juga meliputi pemeriksaan, jantung, paru, reflex, serta tanda-
tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, suhu dan pernafasan.

Umur kehamilan Tinggi fundus uteri

20 minggu 18 cm

24 minggu 20 cm

28 minggu 24,5 cm

32 minggu 28 cm

36 minggu 31,5 cm

40 minggu 35 cm

2
Jelaskan pada ibu bahwa perutnya akan semakin membesar karena pertumbuhan
janin. Pada kunjungan pertama, tingginya fundus dicocokkan dengan perhitungan umur
kehamilan hanya dapat diperkirakan dari hari pertama haid (HPHT). Bila HPHT tidak
diketahui maka umur kehamilan hanya dapat diperkirakan dari tingginya fundus uteri.
Pada setiap kunjungan, tingginya fundus uteri perlu diperiksa untuk melihat pertumbuhan
janin normal, terlalu kecil atau terlalu besar.

2. Pemeriksaan Kebidanan
a. Inspeksi
Dilakukan untuk menilai keadaan ada tidaknya cloasma gravidarum pada
muka/wajah, pucat atau tidak, pada selaput mata, ada tidaknya edema.
Pemeriksaan selanjutnya adalah leher untuk menilai ada tidaknya pembesaran
kelenjar gondok/kelenjar limfe. Pemeriksaan dada untuk menilai apakah perut
membesar kedepan atau kesamping dan pemeriksaan ekstremistar untuk
menilai ada tidaknya varises (dari ujung rambut hingga ujung kaki)
(Keterampilan Dasar Praktik Klinik).
b. Palpasi
Dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dengan menentukan usia
kehamilan serta menentukan letak janin atau rahim. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan beberapa metode yaitu :
1) Leopold I
Digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian apa yang ada
dalam fundus. Cara pelaksanaannya adalah:
a) Pemeriksa menghadap pasien
b) Kedua tangan meraba bagian fundus dan mengukur beberapa tinggi
fundus uteri.
c) Meraba bagian apa yang ada didalam fundus. Jika teraba benda bulat,
melenting, mudah digerakkan, maka itu adalah kepala. Namun jika
teraba benda bulat,besar, lunak, tidak melentingdan susah digerakkan
maka itu adalah bokong.
2) Leopold II
Leopold II ini digunakan untuk menentukan bagian janin yang ada
disebelah kanan atau kiri. Cara pelaksanaannya sebagai berikut.
a) Kedua tangan pemeriksa berada di sebelah kanan dan kiri perut ibu.

3
b) Ketika memeriksa sebelah kanan, maka tangan kanan menahan perut
sebelah kiri kea arah kanan.
c) Raba perut sebelah kanan menggunakan tangan kiri dan rasakan
bagian apa yang ada di sebelah kanan (jika teraba benda yang rata,
atau tidak teraba bagian kecil, terasa ada tahanan, maka itu adalah
punggung bayi, namun jika teraba bagian-bagian yang kecil dan
menonjol maka itu adalah bagian kecil janin).
3. Leopold III
Leopold III ini digunakan untuk menentukan bagian janin yang ada
dibawah uterus. Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
a) Tangan kiri menahan fundus uteri.
b) Tangan kanan meraba bagian yang ada di bagian bawah uterus. Jika
teraba bagian tang bulat, melenting keras, dan dapat digoyangkan
maka itu adalah kepala. Namun jika teraba bagian yang bulat, besar,
lunak, dan sulit digerakkan, maka itu adalah bokong. Jika dibagian
bawah tidak ditemukan kedua bagian seperti yang diatas, maka
pertimbangan apakah janin dalam letak melintang.
c) Pada letak sungsang (melintang) dapat dirasakan ketika tangan kanan
menggoyangkan bagian bawah, tangan kiri akan merasakan
ballottement (pantulan dari kepala janin, terutama ini ditemukan pada
usia kehamilan 5-7 bulan).
d) Tangan kanan meraba bagian bawah (jika teraba kepala, goyangkan,
jika masih mudah digoyangkan, berarti kepala belum masuk panggul,
namun jika tidak dapat digoyangkan, berarti kepala sudah masuk
panggul). Lalu lanjutkan pada pemeriksaan Leopold VI untuk
mengetahui seberapa jauh kepala sudah masuk panggul.
4. Leopold IV
Leopald IV ini digunakan untuk menentukan apa yanag menjadi bagian
bawah dan seberapa masuknya, bagian bawah tersebut ke dalam rongga
panggul. Cara pelaksanaannya sebagai berikut.
a) Pemeriksa menghadap ke kaki pasien
b) Kedua tangan meraba bagian janin yang ada dibawah
c) Jika teraba kepala, tempatkan kedua tangan di dua belah pihak yang
berlawanandi bagian bawah

4
d) Jika kedua tangan konvergen (dapat saling bertemu) berarti kepala
belum masuk ke panggul
e) Jika kedua tangan divergen (tidak saling bertemu) berarti kepala sudah
masuk ke panggul ( Asuhan kebidanan pada masa kehamilan).
c. Auskultasi
Dilakukan umumnya dengan stetoskop monoaural untuk
mendengarkan bunyi jantung anak, bising pusat, gerakan anak, bising rahim,
bunyi aorta, serta bising usus. Bunyi jantung anak dapat didengar pada akhir
bulan ke-5, walaupun dengan ultrasonografi dapat diketahui pada pada akhir
bulan ke-3. Bunyi jantung anak dapat di dengar dikiri dan kanan dibawah
pusat bila presentasi kepala. Bila terdengar setinggi pusat, maka presentasi
bokong. Bila pada pihak berlawanan dengan bagian kecil, maka anak fleksi
dan bila sepihak maka defleksi. Dalam keadaan sehat, bunyi jantung antara
120-140 kali per menit. Bunyi jantung dihitung dengan mendengarkannya
selama satu menit penuh. Bila kurang dari 120 kali per menit atau lebih dari
140 per menit, kemungkinan janin dalam keadaan gawat janin. Selain bunyi
jantung anak, dapat didengarkan bising tali pusat seperti meniup. Kemudian
bising rahim seperti bising yang frekuensinya sama seperti denyut nadi ibu,
bunyi aorta frekuensinya sama seperti denyut nadi dan bising usus yang
sifatnya tidak teratur (Keterampilan Dasar Praktik Klinik).
d. Perkusi reflex patella
Refleks Patela (KPR) : ketukan pada tendon patella dengan hammer.
Respon : plantar fleksi longlegs karena kontraksi m.quadrises femoris
(Keterampilan Dasar Praktik Klinik).

C. Peralatan Pemeriksaan
Alat yang dipakai bervariasi namun yang terpenting adalah bagaimana seorang
perawat memanfaatkan mata, telinga, hidung dan tangannya untukk mengetahui
hamper semua hal penting tentang ibu hamil yang diperiksanya.Peralatan hanyalah
penunjang bila ada dapat membantu pemeriksaan bila tidak semua tersedia,
pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan dengan baik dengan ketrampilan
memanfaatkan inderanya dan mempunyai kemampuan untuk menilai serta
menangkap hal-hal yang perlu diperhatikan pada ibu hamil.Peralatan yang
dipergunakan harus dalam keadaan bersih dan siap pakai.

5
Adapun alat – alat yang dibutuhkan untuk pemeriksaan ibu hamil diantaranya adalah:
1. Timbangan
2. Stetoskop
3. Termometer
4. Meteran
5. Tensimeter
6. Fetoskop
7. Reflex patela
8. Selimut
9. Handscoon
10. Kapas steril
11. Kassa steril
12. Alkohol
13. Sabun antiseptik

D. Prinsip Pelaksaan Pemeriksaan Fisik


Prinsip pada melakukan pemeriksaan fisik pada ibu hamil antara lain :
1. Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan.
2. Pastikan bahwa kuku jari bersih tidak panjang, sehingga tidak menyakiti pasien.
3. Terlebih dahulu hangatkan tangan dengan air hangat sebelum menyentuh pasien
atau gosok bersama-sama kedua telapak tangan dengan telapak tangan satunya.
4. Jelaskan pada pasien secara umum apa yang akan dilakukan.
5. Gunakan sentuhan yang lembut tetapi,tidak menggelitik pasien dan cukup kuat
untuk memeperoleh informasi yamg akurat.
6. Buatlah pendekatan dan sentuhan sehingga menghargai jasmani pasien dengan
baik, serta sesuai dengan hak pasien terhadap kepantasan dan atas hak pribadi.
7. Tutupi badan pasien selama pemeriksaan dan hanya bagian yang di periksa yang
terbuka.

E. Pemeriksaan fisik umum :


a. Tinggi Badan
b. Berat badan
c. Tanda – tanda vital : tekanan darah, denyut nadi, suhu

6
F. Pemeriksaan fisik khusus :
a. Kepala dan leher:
1) Edema diwajah
2) Ikterus pada mata
3) Mulut pucat
4) Leher : meliputi pembengkakan saluran limfe atau pembengkakan kelenjar
thyroid

b. Pemeriksaan ekstremitas :
Untuk melihat adanya edema pada jari (perhatikan apakah cincin menjadi
terlalu sempit dan tanyakan apakah lebih sempit dari biasanya, tanyakan juga
apakah ia tidak mengenakan cincin yang biasa ia kenakan karena sudah terlalu
sempit, atau apakah ia memindahkan cinicin tersebut ke jari yang lain).

c. Pemeriksaan ekstremitas bawah untuk meilhat adanya :


1) Edema pada pergelangan kaki dan pretibia
2) Refleks tendon dalam pada kuadrisep (kedutan-lutut (knet-jerk)
3) Varises dan tanda humans, jika ada indikasi.

d. Payudara:
1) Ukuran simetris
2) Putting menonjol / masuk
3) keluarnya kolostrom atau cairan lain
4) Retraksi
5) Massa
6) Nodul axilla

e. Abdomen
Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui :
1) Letak, presentasi, posisi, dan jumlah(jika>36 minggu)
2) Penancapan (engagement)
3) Pengukuran tinggi fundus (jika>12 minggu)
4) Evaluasi kasar volume cairan amnion
5) Observasi atau palpasi gerakan janin.

7
6) Perkiraan berat badan janin (bandingkan dengan perkiraan berat badan pada
kinjungan sebelumnya)
7) Denyut jantung janin (catat frekuemsi dam lokasinya ) (jika>18 minggu)

f. Genetalia luar (externa)


1) Varises
2) Perdarahan
3) Luka
4) Cairan yang keluar
5) Pengeluaran dari uretra dan skene
6) Kelenjar bartholini : bengkak (massa), ciaran yang keluar

g. Genetalia dalam (interna)


1) Servik meliputi cairan yang keluar, luka (lesi), kelunakan, posisi, mobilitas,
tertutup atau terbuka
2) Vagina meliputi cairan yang keluar, luka, darah
3) Ukuran adneksa, bentuk, posisi, nyeri, kelunakan, massa (pada trimester
pertama)
4) Uterus meliputi : ukuran, bentuk, mobilitas, kelunakan, massa pada trimester
petama.

h. Pemeriksaan Panggul
Setelah pemeriksaan awal, bidan harus melakukan beberapa atau semua
komponen pemeriksaan panggul berikut sesuai indikasi, yakni:
1) Pemeriksaan dengan speculum jika wanita tersebut mengeluh terdapat rabas
pervagina.
a) Perhatikan adanya tanda-tanda infeksi vagima yang muncul dan ambil
materi untuk pemeriksaan diagnostic dengan menggunakan preparat
apusan basah; ambil specimen gonokokus dan klamidia untuk tes
diagnostic.
b) Evaluasi terapi yang telah dilakukan untuk mengatasi infeksi vagina (tes
penyembuhan) jika muncul gejala; evaluasi tidak perlu dilakukan bila
wanita tidak menunjukkan gejala
c) Ulangi pap smear, jika diperlukan

8
d) Ulangi tes diagnostic gonokokus dan klamidia pada trimester ke tiga.
e) Konfirmasi atau singkirkan kemungkinan pecah ketuban dini
2) Pelvimetri klinis pada akhir trimester ketiga jika panggul perlu dievaluasi ulang
atau jika tidak memungkinkan untuk memperoleh informasi ini pada pemeriksaan
awal karena wanita tersebut menolak diperiksa.
3) Pemeriksaan dalam jika wanita menunjukkan tanda/ gejala persalinan premature
untuk mengkaji:
a) Konsistensi serviks
b) Penipisan (effacement)
c) Pembukaan
d) Kondisi membrane
e) Penancapan / stasiun
f) Bagian presentasi

Beberapa pemeriksa juga melakukan pemeriksaan pervaginan secara rutin


pada kehamilan 40 minggu menurut penanggalan dan setelahnya guna
menentukan “kematangan” (kesiapan)seviks untuk menghadapi persalinan.
Banyak pemeriksa, meski tidak semua, yakin bahwa mereka harus melakukan
pemeriksaan panggul pada kehamilan 36 minggu termasuk mengulangipelvimetri
klinis, mengambil specimen untuk tes diagnostic gonokokus, klamidia dan GBS
dan mengevaluasi kondisi serviks. Para pemeriksa memandang hal ini sebagai
bagian evaluasi ulang total pada seorang wanita pada saat tersebut. Evaluasi ulang
total ini juga mencakup setiap tes laboratorium.

i. Pemeriksaan fisik, waspadai tiap ketidak sesuaian antara cerita pasien dan hasil
pemeriksaan fisik.

j. Diskusikan semua hal yang ditemukan pada pasien (Asuhan Kebidanan


Antenatal:).

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemeriksaan kehamilan adalah pengawasan terhadap ibu hamil degan
mempersiapakn sebaik-baiknya fisik dan mental ibu dalam kehamilan, persalinan dan
post partum sehingga selalu dalam keadaan sehat dan normal (Prawiroharjo, 2002).
Pemeriksaan fisik ibu pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaam
pandang (inspeksi0, pemeriksaan raba (palpasi), periksa dengar (auskultasi), periksa
ketuk (perkusi) yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara sistematis atau
berurutan. Pemeriksaan fisik berguna untuk mengetahui keadaan kesehatan ibu dan
janin serta perubahan yang terjadi pada suatu pemeriksaan ke pemeriksaan
berikutnya. Pada pemeriksaa pertama perlu ditentukan apakah ibu sedang hamil, dan
bila hamil maka perlu ditentukan umur kehamilannya. Pada setiap pemeriksaan
kehamilan dengan melihat dan meraba ditentukan apakah ibu sehat dan janin tumbuh
dengan baik. Tinggi fundus uteri sesuai dengan perhitungan umut kehamilan dan pada
umur kehamilan lebih lanjut ditentukan letak janin.

B. Saran
Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi pembaca.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Untuk
penyempurnaan kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

10
Daftar Pustaka

Henderson. C., Jones, K. 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika

Manuaba, IBG. 2008. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

Marmi. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Antenatal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Prawiroharjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC

11