Anda di halaman 1dari 8

DESAIN INSTRUMEN ASESMEN BAGI PESERTA DIDIK DALAM

PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS PBL (PROBLEM


BASED LEARNING)

Rika Aprianiwati

Prodi Tadris Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Abstrak
Penelitian ini bertujuan menghasilkan instrumen asesmen bagi peserta didik dalam proses pembelajaran
biologi yang berbasis model pembelajaran PBL (Problem Based Learning). Instrumen yang dihasilkan
merupakan instrumen asesmen ranah sikap peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian
pengembangan instrumen yang menggunakan model ADDIE. Metode pengujian dilakukan secara dua
tahap yaitu validasi pakar dan uji coba. Validasi pakar dan uji coba dilakukan untuk menetapkan tingkat
kelayakan instrumen. Validator terdiri dari pakar evaluasi, pakar strategi, dan pakar bahasa yang
menilai produk melalui angket validasi untuk menetapkan kelayakan produk. Sedangkan uji coba terdiri
dari uji coba kelompok kecil (small group try-out) dan uji coba lapangan (field try-out) yang dilakukan
untuk memperkuat kelayakan instrumen yang telah divalidasi oleh pakar. Implementasi instrumen
dilakukan untuk menetapkan keefektifan dan kepraktisan instrumen melalui angket saat digunakan oleh
pendidik. Hasil validasi pakar dan uji coba terhadap instrumen adalah sangat layak untuk digunakan dan
hasil implementasi instrumen adalah sangat praktis dan sangat efektif.

Kata kunci: pengembangan instrumen asesmen, problem based learning.

Abstract
[Title: Design of Assessment Instrument for Students in Biology Learning Process Based on PBL
(Problem Based Learning)] This study aims produce assessment instruments for students in the process of
biology learning based on PBL (Problem Based Learning) model. The resulting instrument is an
assessment instrument of students affective domain. This research type is instrument development
research using ADDIE model. Testing methods there are two stages of expert validation and testing
conducted to determine the level of feasibility of the instrument. The validator is an evaluation expert,
strategy expertt, and language expert to assess the product through a validation questionnaire. While the
trials have small group try-outs and field try-outs conducted to strengthen the feasibility of instruments
that have been validated by experts. Implementation of the instrument is performed to determine the
effectiveness and practicality of the instrument through questionnaires when used by teachers. Expert
validation and test results on the instrument are highly feasible to use and the result of the implementation
of the instrument is very practical and very effective.

Keywords: development of assessment instruments, problem based learning.

Pendahuluan dapat diaplikasikan pada proses pembelajaran di sekolah


Pendidikan memiliki peranan penting dalam yang melibatkan komponen pendidikan seperti pendidik
membentuk karakteristik anak bangsa yang berdasarkan dan peserta didik serta dalam menjalankan proses
pada asas-asas Pancasila, Undang-Undang Republik pendidikan juga harus sesuai dengan kurikulum yang
Indonesia, dan sesuai dengan kebudayaan kebangsaan ditetapkan. Kurikulum yang diterapkan saat ini adalah
Indonesia. Dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut kurikulum 2013. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Nomor 81a Tahun 2013 tentang digunakan. Maka dibutuhkan instrumen asesmen yang
Implementasi Kurikulum mengemukakan; dapat digunakan oleh pendidik untuk menilai peserta
Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa didik pada saat proses pembelajaran. Pelaksanaan
pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja asesmen berfungsi sebagai upaya pendidik untuk dapat
dari guru ke peserta didik. Proses pembelajaran menemukan kelemahan atau kekurangan proses
bukan model banking atau transfer of knowledge pembelajaran yang telah dilakukan atau yang sedang
semata, melainkan merupakan pemberian stimulan berlangsung.
kepada peserta didik supaya mampu berpikir kritis Berdasarkan konsep dari model pembelajaran
dan menjadi problem solver. Peserta didik adalah Problem Based Learning, supaya proses pembelajaran
subjek yang memiliki kemampuan untuk secara berjalan aktif dan sesuai dengan tujuan pendidikan,
aktif mencari, mengolah, mengkontruksi dan kurikulum maupun model pembelajaran yang
menggunakan pengetahuan. (Fathurrohman, 2015, digunakan. Maka dibutuhkan instrumen asesmen yang
hlm. 115). dapat digunakan oleh pendidik untuk menilai peserta
Peserta didik merupakan salah satu komponen didik pada saat proses pembelajaran. Pelaksanaan
pendidikan yang juga menjadi sasaran dalam asesmen berfungsi sebagai upaya pendidik untuk dapat
pendidikan. Menurut Fathurrohman, peserta didik menemukan kelemahan atau kekurangan proses
sebagai salah satu komponen pendidikan berperan pembelajaran yang telah dilakukan atau yang sedang
sebagai seseorang yang bertindak sebagai pencari, berlangsung.
penerima, dan penyimpan isi pembelajaran yang Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan
dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa salah satu disebutkan bahwa “ Standar Kompetensi Lulusan
kriteria kurikulum 2013 adalah aktifnya peserta didik merupakan kriteria kualifikasi kemampuasn lulusan
saat proses pembelajaran atau pembelajaran yang yang mencakup sikap, keterampilan, dan pengetahuan”
berpusat pada peserta didik (student centered oriented). (Sani, Pramuniati, & Mucktianty, 2015, hlm. 39).
Penerapan pembelajaran kurikulum 2013 dapat Berdasarkan pengertian Standar Kompetensi Lulusan
dilakukan dengan menggunakan model-model tersebut, dapat diketahui bahwa kriteria yang harus
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik seperti dicapai oleh peserta didik yaitu sikap, pengetahuan, dan
salah satunya yaitu model Problem Based Learning. keterampilan. Dalam mencapai ketiga ranah itu,
Fathurrohman (2015) mengemukakan bahwa; diperlukan instrumen penilaian yang digunakan oleh
Di dalam Problem Based Learning (Problem Based pendidik dalam menilai sikap, pengetahuan dan
Instruction), pusat pembelajaran adalah peserta didik keterampilan peserta didik.
(student-centered), sementara guru berperan sebagai Penilaian peserta didik dapat dilakukan dengan
fasilitator yang memfasilitasi peserta didik untuk menggunakan teknik penilaian tes dan non tes. Teknik
secara aktif menyelesaikan masalah dan membangun penilaian tes terdiri dari tes uraian dan tes objektif,
pengetahuannya secara berpasangan ataupun sedangkan teknik penilaian non tes terdiri dari penilaian
berkelompok (kolaborasi antar-peserta didik). unjuk kerja, penilaian produk, penilaian proyek,
Peranan guru dalam model pembelajaran berbasis portofolio, dan penilaian sikap.
masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan Berdasarkan observasi awal yang berupa kegiatan
pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan wawancara kepada pendidik mata pelajaran biologi yang
dialog. Lebih penting lagi adalah guru melakukan dilakukan pada tanggal 26 Februari 2018 di Madrasah
scaffolding. Scaffolding merupakan proses ketika Aliyah Negeri Model Kota Jambi, pada tanggal 08
guru membantu peserta didik untuk menuntaskan Maret 2018 di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Muaro
suatu masalah melampaui tingkat pengetahuannya Jambi, dan pada tanggal 13 Maret 2018 di Sekolah
saat itu. (Fathurrohman, 2015, hlm. 115). Menengah Atas Negeri 5 Kota Jambi. Pendidik dari
Rusman (2011) mengemukakan bahwa “Problem masing-masing sekolah mengatakan bahwa selalu
Based Learning adalah pembelajaran yang ditemukan peserta didik yang pasif dan aktif dalam
menggunakan masalah nyata (autentik) yang tidak proses pembelajaran di kelas. Pendidik dari masing-
terstruktur (ill-structured) dan bersifat terbuka sebagai masing sekolah sudah menggunakan beberapa model
konteks bagi peserta didik untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik seperti
keterampilan menyelesikan masalah dan berpikir kritis model STAD (Student Teams Achievment Division),
serta sekaligus membangun pengetahuan baru”. Inquiry, dan Problem Based Learning.
(Fathurrohman, 2015, hlm. 112-113). Pada kegiatan wawancara dikatakan pula bahwa
Berdasarkan konsep dari model pembelajaran penilaian kepada peserta didik sudah sesuai dengan
Problem Based Learning, supaya proses pembelajaran kurikulum 2013 yang terdiri dari tiga ranah yaitu
berjalan aktif dan sesuai dengan tujuan pendidikan, kognitif, afektif dan psikomotor. Instrumen penilaian
kurikulum maupun model pembelajaran yang yang digunakan oleh pendidik dari setiap sekolah berupa
penilaian kognitif yang disesuaikan dengan setiap dipahami sebagai mekanisme untuk mengukur suatu
kompetensi dasar dan penilaian psikomotor digunakan peristiwa yang digunakan secara bersamaan, sebagai alat
pada saat melakukan kegiatan praktikum. Sedangkan memperoleh informasi tentang penilaian, membuat
penilaian sikap yang digunakan oleh pendidik keputusan, yang akhirnya dapat dimengerti (Firdaos,
merupakan instrumen yang sama untuk setiap 2016, hlm. 10).
pertemuan, padahal model pembelajaran yang
digunakan berbeda-beda. 2. Penilaian (Asesmen)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan Anthony J. Nitko (1996) berpendapat bahwa;
tersebut, maka dapat diketahui bahwa penilaian sikap Assessment didefenisikan sebagai sebuah proses
peserta didik kurang efektif jika menggunakan yang ditempuh untuk mendapatkan informasi yang
instrumen yang sama untuk setiap pertemuan. Hal ini digunakan dalam rangka membuat keputusan-
dikarenakan pada setiap pertemuan memiliki model keputusan mengenai para siswa, kurikulum,
pembelajaran yang berbeda-beda. Model pembelajaran program-program, dan kebijakan pendidikan, metode
yang diterapkan tersebut memiliki respon yang berbeda atau instrumen pendidikan lainnya oleh suatu badan,
pula dari peserta didik, respon tersebut dapat berupa lembaga, organisasi atau institusi resmi yang
tindakan/aksi yang dilakukan oleh peserta didik dalam menyelenggarakan suatu aktivitas tertentu (Uno &
proses pelaksanaan pembelajaran. Koni, 2014, hlm. 1).
Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti ingin Uno & Koni (2014, hlm. 2) berpendapat bahwa;
mendesain instrumen asesmen sikap peserta didik dalam Assessment sering pula disebut sebagai salah satu
proses pembelajaran yang berbasis PBL (Problem Based bentuk penilaian, sedangkan penilaian merupakan
Learning). Pemilihan model PBL sebagai model salah satu komponen dalam evaluasi. Secara umum
pembelajaran yang digunakan dalam instrumen asesmen assessment dapat diartikan sebagai proses untuk
peserta didik dikarenakan, model PBL merupakan model mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan
centered oriented) dan sesuai dengan kurikulum 2013 tentang siswa, baik yang menyangkut kurikulum,
yang menuntut agar peserta didik aktif dalam proses program pembelajaran, iklim sekolah maupun
pembelajaran. Model ini berlandaskan teori kebijakan-kebijakan sekolah.
konstruktivisme, dimana peserta didik belajar untuk Teknik penilaian (asesmen) terdiri dati tes dan non
mengonstruksi pengetahuannya sendiri dan pendidik tes; Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan
hanya berperan sebagai fasilitator. Peserta didik atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh
membentuk pengetahuannya dengan memecahkan peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan
masalah yang diberikan oleh pendidik, sehingga dalam penguasaannya terhadap cakupan materi yang
proses memecahkan masalah terdapat sikap-sikap dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran
peserta didik yang dapat dilihat dan dinilai. tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada
Maka dari itu, peneliti ingin melakukan penelitian dasarnya tes merupakan alat ukur yang sering digunakan
yang berjudul “Desain Instrumen Asesmen Bagi dalam assessment pembelajaran selain alat ukur lain
Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran Biologi (Uno & Koni, 2014, hlm. 34). Tes terdiri dari tes uraian
Berbasis PBL (Problem Based Learning)”. dan tes objektif. Sedangkan non tes; menurut Uno &
Koni, teknik penilaian non tes terdiri dari penilaian
Kajian Teoritik unjuk kerja, penilaian produk, penilaian proyek,
1. Instrumen portofolio, dan penilaian sikap (Uno & Koni, 2014, hlm.
Purwanto berpendapat bahwa; 19–32).
Instrumen sebagai alat bantu yang digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara 3. Model PBL (Problem Based Learning)
melakukan pengukuran. Cara ini dilakukan untuk Problem Based Learning pertama kali digunakan di
memperoleh data yang objektif yang diperlukan perguruan tinggi dalam perkuliahan medis di Southern
untuk menghasilkan kesimpulan penelitian yang Illionois University School of Medicine. Dr. Howard
objektif pula. Data yang dihasilkan tentunya sangat Barrows dari sekolah tersebut mendefenisikan PBL
bervariatif. Bisa data yang berbentuk angka, kata- sebagai: a learning method based on the principle of
kata, situasi sosial, dokumentasi, dsb (Firdaos, 2016, using problems as a starting point for the acquisition
hlm. 9). and integration of new knowledge (Barrows, 1982).
Colton dan Covert (2007) mengemukakan bahwa
“Instrument is a mechanism for measuring phenomena, Pembelajaran dengan metode PBL memungkinkan
which is used to gather and record information for siswa untuk terlibat dalam mempelajari hal-hal, antara
assessment, decision making, and ultimately lain:
understanding” (hlm. 5). Instrumen dalam hal ini
a) Permasalahan dunia nyata; Metode Penelitian
b) Keterampilan berpikir tingkat tinggi; Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
c) Keterampilan menyelesaikan permasalahan; adalah penelitian pengembangan instrumen. Penelitian
d) Belajar antardisiplin ilmu; pengembangan yang dilakukan adalah instrumen
e) Belajar mandiri; asesmen peserta didik dalam proses pembelajaran
f) Belajar menggali informasi; biologi yang berbasis model PBL (Problem Based
g) Belajar bekerja sama; learning). Instrumen yang dikembangan merupakan
h) Belajar keterampilan berkomunikasi (Sani, 2015, instrumen sikap peserta didik. Penelitian ini
hlm. 127) dilaksanakan pada tahun ajaran 2017/2018 dan
Tan berpendapat bahwa “tujuan belajar dengan instrumen yang dikembangkan merupakan instrumen
menggunakan PBL terkait dengan penguasaan materi penilaian untuk peserta didik jenjang SMA/MA.
pengetahuan, keterampilan menyelesaikan masalah, Prosedur pengembangan instrumen menggunakan model
belajar multidisiplin, dan keterampilan hidup” (Sani, ADDIE, yaitu Analysis, Desain, Development,
2015, hlm. 129). Implementation, and Evaluation. Penskalaan yang
Kelebihan dan Kelemahan Model PBL (Problem Based digunakan dalam menilai sikap peserta didik saat proses
Learning): pembelajaran berbasis model PBL (Problem Based
Menurut Mudlofir dan Rusidiyah, kelebihan dan learning) adalah rating scale atau Skala Likert yang
kekurangan model pembelajaran ini adalah: disertai rubrik penilaian dengan ketentuan interval yaitu
a) Kelebihan “SB; Sangat Baik”, “B; Baik”, “CB; Cukup Baik”. KB;
(1) Pemecahan masalah dapat merangsang Kurang Baik”, dan “TB; Tidak Baik”.
kemampuan peserta didik serta memberikan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kepuasan peserta didik untuk menemukan kelayakan, keefektifan dan kepraktisan dari instrumen
pengetahuan yang baru dan mengembangkan asesmen peserta didik berbasis model PBL (Problem
pengetahuan baru tersebut. Based learning) dalam proses pembelajaran. Kelayakan
(2) Pemecahan masalah dapat mengembangkan instrumen diketahui dengan melakukan telaah
kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, pakar/validasi ahli, uji coba kelompok kecil dan uji coba
inovatif, meningkatkan motivasi dari dalam diri lapangan. Keefektifan dan kepraktisan instrumen
peserta didik untuk belajar dan mengembangkan diperoleh dari implementasi instrumen di sekolah oleh
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pendidik. Berikut analisis data kelayakan, keefektifan,
pengetahuan yang baru. dan kepraktisan instrumen:
(3) Pemecahan masalah dapat memberikan 1. Kelayakan
kesempatan bagi peserta didik untuk Uji kelayakan ini dilakukan untuk mengetahui
mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam tingkat kelayakan instrumen asesmen. Untuk dapat
dunia nyata. mengetahui tingkat kelayakannya, peneliti menggunakan
(4) Pemecahan masalah dapat mendorong peserta kategori sebagai berikut:
didik untuk belajar sepanjang hayat. Tabel 3.6
Kriteria Penilaian Kelayakan
(5) Pemecahan masalah tidak hanya memberikan
kesadaran kepada peserta didik bahwa belajar Rentang Skor Kriteria
tidak tergantung pada kehadiran guru namun 81 % – 100 % Sangat Layak
tergantung pada motivasi instrinsik peserta didik. 61 % – 80 % Layak
b) Kekurangan 41 % – 60 % Cukup Layak
(1) Apabila peserta didik memiliki minat dan 21 % – 40 % Kurang Layak
memandang bahwa masalah yang diselidiki 0 % – 20% Tidak Layak
Catatan. Tabel 3.6 dimodifikasi dari Riduwan (2013:38), dalam buku Dasar-
adalah sulit, maka mereka akan merasa enggan dasar Statistika.
untuk mencoba. Data yang diperoleh dideskripsikan dengan teknik
(2) Membutuhkan waktu untuk persiapan, apabila analisis data dengan rumus sebagai berikut:
guru tidak mempersiapkan secara matang strategi
ini, maka tujuan pembelajaran tidak tercapai. Nilai Kelayakan =
(3) Pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah Data yang diperoleh dari masing-masing pakar
di masyarakat atau di dunia nyata terkadang kemudian dihitung untuk memperoleh nilai rata-rata
kurang, sehingga proses pembelajaran berbasis kelayakan produk, sebagai berikut:
masalah terhambat oleh faktor ini (Mudlofir &
Rusydiyah, 2016, hlm. 76–77). Rata-rata Nilai Kelayakan =
2. Keefektifan 1. Hasil Pengembangan Instrumen
Uji keefektifan dilakukan untuk mengetahui apakah
instrumen asesmen yang dibuat sesuai dan berguna atau
diperlukan oleh pendidik dalam menilai proses belajar
peserta didik. Kategori yang digunakan tertera pada
tabel 3.7 sebagai berikut:
Tabel 3.7 (sambungan)
Kriteria Penilaian Efektifitas
Rentang Skor Kriteria
81 % – 100 % Sangat Efektif
61 % – 80 % Efektif
41 % – 60 % Cukup Efektif
21 % – 40 % Kurang Efektif
0 % – 20% Tidak Efektif
Catatan. Tabel 3.7 dimodifikasi dari Riduwan (2013:38), dalam buku
Dasar-dasar Statistika.
Data yang diperoleh dari masing-masing pendidik
kemudian dihitung untuk memperoleh nilai rata-rata
keefektifan produk, sebagai berikut: Gambar 4.1 Cover Instrumen
Sumber: Dokumen Pribadi
Rata-rata Nilai Efektifitas = Instrumen yang dihasilkan terdiri dari cover
instrumen, kisi-kisi instrumen, pengantar dan petunjuk,
lembar instrumen asesmen, dan rubrik instrumen
asesmen peserta didik.
3. Praktikalitas 2. Kelayakan Instrumen
Uji praktikalitas dilakukan untuk mengetahui apakah a) Validasi Pakar Evaluasi
instrumen asesmen mudah untuk digunakan dan Validator Evaluasi pada penelitian pengembangan
dipahami dalam melaksanakan penilaian proses belajar instrumen ini adalah dosen Fakultas Tarbiyah dan
peserta didik. Kategori yang digunakan tertera pada Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha
tabel 3.8 sebagai berikut: Saifuddin Jambi yaitu Bapak Zawaqi Afdal Jamil,
Tabel 3.8 S.Ag., M.Pd. I.
Kriteria Penilaian Praktikalitas
Berdasarkan hasil penilaian yang diberikan oleh
Rentang Skor Kriteria validator evaluasi, diketahui jumlah skor validasi
81 % – 100 % Sangat Praktis evaluasi untuk produk instrumen asesmen peserta
61 % – 80 % Praktis didik berbasis model pembelajaran PBL (Problem
41 % – 60 % Cukup Praktis Based Learning) ini adalah 25. Data yang diperoleh
21 % – 40 % Kurang Praktis dideskripsikan dengan rumus:
0 % – 20% Tidak Praktis
Catatan. Tabel 3.8 dimodifikasi dari Riduwan (2013:38), dalam buku Nilai Kelayakan =
Dasar-dasar Statistika.
Data yang diperoleh dari masing-masing pendidik =
kemudian dihitung untuk memperoleh nilai rata-rata = 1 x 100 % = 100 %
kepraktisan produk, sebagai berikut: Hasil perhitungan nilai kelayakan disesuaikan
dengan kriteria penilaian kelayakan. Berdasarkan dari
Rata-rata Nilai Praktikalitas = kriteria penilaian kelayakan, diperoleh nilai kelayakan
evaluasi dari instrumen asesmen peserta didik berbasis
model pembelajaran PBL (Problem Based Learning)
ini adalah “Sangat Layak”. Validator evaluasi
Hasil Penelitian Dan Pembahasan menuliskan komentar dan saran pada lembar aspek
Hasil utama dari penelitian pengembangan ini adalah penilaian instrumen, yaitu “Dapat digunakan”.
instrumen asesmen peserta didik dalam proses b) Validasi Pakar Strategi
pembelajaran biologi berbasis PBL (Problem Based Validator Strategi pada penelitian pengembangan
Learning). Berikut hasil pada tahap prosedur penelitian: instrumen ini adalah dosen Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi yaitu Ibu Nining Nuraida, M.Pd.
Berdasarkan hasil penilaian yang diberikan oleh
validator strategi, diketahui jumlah skor validasi
strategi untuk produk instrumen asesmen peserta didik Instrumen asesmen peserta didik berbasis model
berbasis model pembelajaran PBL (Problem Based pembelajaran PBL (Problem Based Learning) “Sangat
Learning) ini adalah 21. Data yang diperoleh Layak” digunakan dan dapat dilanjutkan ke uji coba
dideskripsikan dengan rumus: selanjutnya yaitu uji coba kecil (small group try-out)
dan uji coba lapangan (field try-out). Berdasarkan uji
Nilai Kelayakan = coba kelompok kecil (small group try-out) dan uji
coba lapangan (field try-out) tidak ditemukan butir
= instrumen yg harus diperbaiki atau dihapus.
Berdasarkan hal tersebut instrumen dapatt dikatakan
= 0, 84 x 100 % = 84 % layak dan siap untuk diimplementasikan atau disebar
Hasil perhitungan nilai kelayakan disesuaikan ke pendidik di sekolah-sekolah.
dengan kriteria penilaian kelayakan. Berdasarkan dari
kriteria penilaian kelayakan, diperoleh nilai kelayakan 3. Efektifitas Instrumen
strategi dari instrumen asesmen peserta didik berbasis Instrumen yang telah divalidasi dan diuji coba
model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) kemudian diimplementasikan atau disebar ke 3 pendidik
ini adalah “Sangat Layak”. Validator strategi di sekolah yang berbeda untuk mengetahui keefektifan
menuliskan komentar dan saran pada lembar aspek instrumen saat digunakan.
penilaian instrumen, yaitu “Sebaiknya instrumen Tabel 4.9
dibukukan, berarti dibuat covernya dan instrumen bisa Angket Efektifitas Instrumen Asesmen
dikembangkan untuk mata pelajaran lain“.

c) Validasi Pakar Bahasa


Validator Bahasa pada penelitian pengembangan
instrumen ini adalah dosen Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi yaitu bapak Drs. Mursyid, M.Pd.
Berdasarkan hasil penilaian yang diberikan oleh
validator bahasa, diketahui jumlah skor validasi
bahasa untuk produk instrumen asesmen peserta didik
berbasis model pembelajaran PBL (Problem Based
Learning) ini adalah 20. Data yang diperoleh
dideskripsikan dengan rumus:
Nilai Kelayakan =

=
Berdasarkan hasil penilaian efektifitas yang
= 0,8 x 100 % = 80 % diberikan oleh pendidik mata pelajaran biologi diketiga
Hasil perhitungan nilai kelayakan disesuaikan sekolah, diketahui jumlah skor keefektifan instrumen
dengan kriteria penilaian kelayakan. Berdasarkan dari asesmen peserta didik berbasis model pembelajaran PBL
kriteria penilaian kelayakan, diperoleh nilai kelayakan (Problem Based Learning) ini adalah 63.
bahasa dari instrumen asesmen peserta didik berbasis
model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) Rata-rata Nilai Efektifitas =
ini adalah “Layak”. Validator bahasa menuliskan
komentar dan saran pada lembar aspek penilaian
instrumen, yaitu “Perhatikan dalam menggunakan
= =
diksi dan sudah layak digunakan“.
Berdasarkan validasi yang dilakukan oleh 3 pakar = 0,84 x 100 % = 84 %
tesebut, data yang diperoleh kemudian di hitung
kembali untuk memperoleh nilai rata-rata kelayakan Hasil perhitungan nilai rata-rata keefektifan produk
instrumen. Berikut nilai rata-rata kelayakan disesuaikan dengan kriteria penilaian efektifitas.
instrumen: Berdasarkan dari kriteria penilaian efektifitas, diperoleh
Rata-rata Nilai Kelayakan = nilai keefektifan instrumen asesmen peserta didik
berbasis model pembelajaran PBL (Problem Based
Learning) ini adalah “Sangat Efektif”.
= = = 88 %
4. Praktikalitas Instrumen
Instrumen yang telah divalidasi dan diuji coba Daftar Pustaka
kemudian diimplementasikan atau disebar ke 3 pendidik
di sekolah yang berbeda untuk mengetahui kepraktisan Adi, D. (2001). Kamus Praktis Bahasa Indonesia.
instrumen saat digunakan. Surabaya: Fajar Mulya.
Tabel 4.10 (sambungan) Amri. (2016). Pengembangan Instrumen Penilaian
Angket Praktikalitas Instrumen Asesmen
Ranah Afektif pada Maata Pelajaran Biologi di
SMA, 18.
Fathurrohman, M. (2015). Model-model Pembelajaran
Inovatif: Alternatif Desain Pembelajaran yang
Menyenangkan (1 ed.). Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Firdaos, R. (2016). Desain Instrumen Pengukur Afektif.
Lampung: CV. Anugrah Utama Raharja (AURA).
Hartono, R. (2013). Ragam Model Mengajar yang
Mudah Diterima Murid (1 ed.). Jogjakarta: Diva
Press.
Kotimah, E. K., Rosidin, U., & Wahyudi, I. (2014).
Pengembangan Instrumen Assessment Sikap
Ilmiah dan Keterampilan Proses Sains dengan
Scientific ApproachE, 13.
Berdasarkan hasil penilaian praktikalitas yang Mudlofir, A., & Rusydiyah, E. F. (2016). Desain
diberikan oleh pendidik mata pelajaran biologi diketiga Pembelajaran Inovatif: Dari Teori ke Praktik (1
sekolah, diketahui jumlah skor kepraktisan instrumen ed.). Jakarta: Rajawali Pers.
asesmen peserta didik berbasis model pembelajaran PBL Mulyatiningsih, E. (2014). Metode Penelitian Terapan
(Problem Based Learning) ini adalah 66. Bidang Pendidikan (3 ed.). Bandung: CV.
Alfabeta.
Rata-rata Nilai Praktikalitas = Nurliana (2017). Pengembangan Modul Pembelajaran
Matematika dengan Pendekatan Problem Based
Learning untuk Madrasah Tsanawiyah.
= = Pinilih, F. W., Budiharti, R., & Ekawati, E. Y. (2013).
= 0,88 x 100 % = 88 % Pengembangan Instrumen Penilaian Produk pada
Pembelajaran IPA untuk Siswa SMP, 5.
Hasil perhitungan nilai rata-rata kepraktisan produk Qur'an. Surah At-Taubah Ayat 105.
disesuaikan dengan kriteria penilaian praktikalitas. Riduwan. (2013). Dasar-dasar Statistika. Bandung: CV.
Berdasarkan dari kriteria penilaian praktikalitas, Alfabeta.
diperoleh nilai kepraktisan instrumen asesmen peserta Sani, R. A. (2015). Pembelajaran Saintifik untuk
didik berbasis model pembelajaran PBL (Problem Based Implementasi Kurikulum 2013 (3 ed.). Jakarta: PT.
Learning) ini adalah “Sangat Praktis”. Bumi Aksara.
Sani, R. A., Pramuniati, I., & Mucktianty, A. (2015).
Kesimpulan Penjaminan Mutu Sekolah (1 ed.). Jakarta: PT.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, Bumi Aksara.
diperoleh kesimpulan yaitu, Instrumen asesmen bagi Siallagan, T. D., Syamsurizal, & Hariyadi, B. (2016).
peserta peserta didik dalam proses pembelajaran biologi Pengembangan Instrumen Penilaian Autentik
berbasis PBL (Problem Based Learning) dikatakan Berbasis PBL Pada Materi Dampak Pencemaran
layak, efektif, dan praktis untuk digunakan. Bagi Kehidupan Di Sekolah Menengah Pertama |
Edu-Sains: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu
Saran Pengetahuan Alam. Diambil 5 Mei 2018, dari
Produk yang dihasilkan dalam penelitian https://online-
pengembangan ini adalah instrumen asesmen sikap journal.unja.ac.id/index.php/edusains/article/view/33
peserta didik berbasis model pembelajaran PBL 92
(Problem Based Learning) dalam proses pembelajaran Sim, S.-M., Tan, C. P., Azila, N. M. A., & Lian, L.-H.
biologi untuk peserta didik tingkat SMA/MA. Instrumen (2001). A Simple Instrument for the Assessment of
yang dihasilkan dapat digunakan sebagai saran untuk Student Performance in Problem-based Learning
keperluan pemanfaatan instrumen, desiminasi instrumen Tutorials, 35(9), 8.
ke sasaran yang lebih luas, dan keperluan untuk
pengembangan lebih lanjut.
Sudijono, A. (2008). Pengantar Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sukardi, H. M. (2015). Evaluasi Pendidikan: Prinsip
dan Operasionalnya (1 ed.). Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Supardi. (2016). Penilaian Autentik: Pembelajaran
Afektif, Kognitif, dan Psikomotor (Konsep dan
Aplikasi) (1 ed.). Jakarta: Rajawali Pers.
Uno, H. B., & Koni, S. (2014). Assessment
Pembelajaran (1 ed.). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Yamin, M. (2013). Paradigma Baru Pembelajaran.
Jakarta: Referensi.
Yusuf, A. M. (2015). Asesmen dan Evaluasi
Pendidikan: Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan
Pengendalian Mutu Pendidikan (1 ed.). Jakarta:
Prenadamedia Group.