Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................1

DAFTAR ISI.................................................................................................................3

PENYELESAIAN AUDIT ...........................................................................................4

MENYELESAIKAN PEKERJAAN LAPANGAN ....................................................4

MELAKUKAN RIVIEW ATAS PERISTIWA KEMUDIAN .....................................5

 Jenis Peristiwa...................................................................................................5
 Proses Audit dalam Periode Setelah Tanggal Neraca ......................................5
 Pengaruh Terhadap Laporan Auditor................................................................6

MEMBACA NOTULEN RAPAT ................................................................................6

MENDAPATKAN BUKTI MENGENAI LITIGASI, KLAIM,

DAN PENILAIAN........................................................................................................7

 Pertimbangan Audit ..........................................................................................7


 Surat Pernyataan Audit .....................................................................................8
 Pengaruh Jawaban Terhadap Laporan Auditor .................................................8

MENDAPATKAN SURAT REPRESENTASI KLIEN ...............................................9

 Isi Surat Representasi ........................................................................................9


 Pengaruh Terhadap Laporan Auditor

MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS .........................................................10

MENGEVALUASI TEMUAN ...................................................................................11

 Membuat Penilaian Akhir Atas Materialitas dan Risiko Audit ......................11


 Mengevaluasi Kelanjutan Usaha.....................................................................12
 Melakukan Riview Teknis Atas Laporan Keuangan ......................................13
 Merumuskan Pendapat dan Menulis Naskah Laporan Audit ........................13
 Melakukan Riview Akhir Atas Kertas Kerja ..................................................14

KOMUNIKASI DENGAN KLIEN ............................................................................14

 Mengkomunikasikan Hal-Hal Yang Berkaitan dengan


Pengendalian Internal......................................................................................14
 Mengkomunikasikan Hal-Hal Yang Berkaitan dengan
Pelaksaan Audit ..............................................................................................15

1
 Menyiapkan Surat Manajemen .......................................................................16

TANGGUNG JAWAB SETELAH AUDIT ...............................................................17

 Peristiwa Kemudian Antara Tanggal dan Penerbitan Laporan .......................17


 Penemuan Fakta Yang ada Pada Tanggal Laporan.........................................17
 Penemuan Prosedur Yang Dihilangkan ..........................................................17

2
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat,
anugrah dan kasih karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Audit yang berjudul
Penyelesaian Audit/Tanggung Jawab Sesudah Audit. Terima kasih sebelum dan sesudahnya
kami ucapkan kepada Dosen serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan
berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah
ditentukan.

Makalah ini dibuat bermaksud untuk mempermudah mahasiswa/i semester 6


Akuntasi di Fakultas Ekonomi Atma Jaya Makassar untuk memahami lebih jelas mengenai
elemen desain penelitian. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Makassar, 30 Mei 2018

Tim Penyusun,

3
PENYELESAIAN AUDIT

Prosedur yang dilaksanakan dalam aktivitas penyelesaian audit mempunyai beberapa


karasteristik yang berbeda, antara lain :

1. Prosedur itu tidak bersangkutan dengan siklus transaksi atau akun-akun spesifik.
2. Prosedur itu dilaksanakan sesudah tanggal neraca.
3. Prosedur itu melibatkan banyak pertimbangan subyektif oleh auditor.
4. Prosedur itu biasanya dilaksanakan oleh manajer audit atau anggota senior lainnya
dari tim auit yang mempunyai pengalaman yang luas dengan klien.

Ungkapan, “last but not least” , berlaku dalam penyelesaian audit. Jadi, keputusan
yang diambil oleh auditor dalam bagian audit ini biasanya sangat penting bagi hasil akhir dari
audit tersebut. Sebagai contoh, dalam menetukan prosedur yang akan digunakan dan dalam
mengevaluasi bukti yang diperoleh, auditor harus menyedari sepenuhnya risiko audityang
berkaitan dengan penugasan itu. Lebih lanjut, kesimpulan yang ditarik auditor dalam
penyelesaian audit sering mempunyai dampak langsung terhadap pendapat yang akan
dinyatakan pada laporan keuangan klien.
Dalam menyelesaikan audit, auditor seringkali menghadapi masalah atau kendala
untuk waktu yang ketat, terutama ketika klien berusaha mendapatkan tanggal yang paling
cepat untuk penerbitan laporan audit. Tanggung jawab auditor dalam menyelesaikan audit
dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :
1. Menyelesaikan pekerjaan lapangan
2. Mengevaluasi temuan
3. Berkomunikasi dengan klien

Setelah menjelaskan aktivitas yang terlibat dalam penyelesaian audit, kemudian harus
diberikan pertimbangan pada tanggung jawab auditor sesudah audit di maan bersangkutan
dengan peristiwa yang terjadi sesudah tanggal laporan auditor.

A. MENYELESAIKAN PEKERJAAN LAPANGAN


Dalam hal ini auditor harus melaksanakan prosedur audit yang spesifik untuk
mendapatkan bukti audit tambahan. Setiap prosedur dapat dijelaskan sebagai berikut :

4
1. MELAKUKAN REVIEW ATAS PERISTIWA KEMUDIAN
Tanggungjawab auditor untuk menilai kewajaran laporan keuangan klien tidak
terbatas pada pemeriksaan atas peristiwa dan transaksi yang terjadi hingga tanggal
neraca. SAS 1, Codifacation of Statements on Auditing Standars (AU 560, Subsequent
Events), menyatakan bahwa auditor juga mempunyai tanggung jawab spesifik atas
peristiwa dan transaksi, yaitu :
 Mempunyai pengaruh material terhadap laporan keuangan
 Tejadi sesudah tanggal neraca tetapi sebelum penerbitan laporan keuangan
serta laporan auditor.

Peristiwa-peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa kemudian (subsequent events).

Periode peristiwa kemudian (subsequent events) terindentifikasi dari tanggal


neraca sampai akhir pekerjaan lapangan. Selama periode ini, auditor diwajibkan
menurut GAAP untuk menemukan peristiwa kemudian.

Jenis Peristiwa

AU 560.03 dan 05 menunjukkan bahwa ada dua jenis peristiwa kemudian :


 Peristiwa kemudian Jenis 1 memberikan bukti tambahan berkenaan dengan
kondisi yang ada pada tanggal neraca dan mempengaruhi estimasi yang
inheren dalam proses penyusunan laporan keuangan.
 Peristiwa kemudian jenis 2 memberikan bukti berkenaan dengan bukti yang
tidak ada pada tanggal neraca tapi muncul setelah tanggal itu.

Peristiwa jenis 1 memerlukan penyesuaian atas laporan keuangan; sementara


peristiwa jenis 2 memerlukan pengungkapan dalam laporan atau dalam kasus yang
sangat material, menyertakan data pro-forma pada laporan keuangan.

Proses Audit dalam Periode Setelah Tanggal Neraca

Auditor harus mengidentifikasi dan mengevaluasi peristiwa kemudian sampai tanggal


laporan auditor, yang biasanya merupakan akhir dari pekerjaan lapangan. Tanggung
jawab ini dapat dilaksanakan dalam dua cara berikut : (1) dengan mewaspadai
peristiwa kemudian dengan melaksanakan pengujian substantif akhir tahun seperti
pengujian pisah batas dan mencari kewajiban yang belum tercatat serta (2) dengan

5
melaksanakan prosedur audit dalam AU 560.12 atau mendekati pekerjaan lapangan,
yang terdiri atas :

 Membaca laporan keuangan interim terakhir yang tersedia serta


membandingkannya dengan laporan yang sedang dilaporkan dan melakukan
perbandingan lainnya yang sesuai dalam situasi-situasi itu.
 Menanyakan kepada manjemen yang bertanggung jawab atas hal-hal keuangan
dan akuntansi mengenai :
 Setiap kewajiban kontinjen atau komitmen besar yang ada pada tanggal
neraca atau tanggal pertanyaan itu diajukan.
 Setiap perubahan yang signifikansi pada modal saham, hutang jangka
panjang, atau modal kerja sampai tanggal pertanyaan diajukan.
 Status saat ini dari pos-pos yang sebelumnya dipertanggungjawabkan
atas dasar dat sementara, pendahuluan, atau tidak konklusif.
 Apakah setiap penyesuaian yang tidak biasa telah dilakukan sejak
tanggal neraca.
 Membaca notulen rapat dewan komisaris, pemegang saham, dan komite
lainnya yang sesuai.
 Menanyakan ahli hukum klien mengenai litigasi, klaim, dan penilaian.
 Mendapatkan surat representasi dari klien mengenai peristiwa kemudian yang
menurut pendapatnya akan memerlukan penyesuaian atau pengungkapan.
 Melakukan tanya jawab tambahan atau melaksanakan prosedur tambahan yang
dipandang perlu dalam situasi-situasi itu.

Pengaruh Terhadap Laporan Auditor

Untuk mencatat atau mengungkapkan secara tepat peristiwa


dalam laporan keuangan akan menimbulkan penyimpangan dari laporan standar
auditor. Tergantung pada materialitas, auditor harus menyatakan baik pendapat wajar dengan
pengecualian atau pun pendapat tidak wajar karena laporangan keuangan tidak disajikan
secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2. MEMBACA NOTULEN RAPAT


Rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan subkomitenya,
komite keuangan dan komite audit, dapat memuat hal-hal yang

6
signifikansi audit. Auditor harus menentukan bahwa semua notulen rapat
dewan yang diadakan selama periode yang sedang diaudit dan selama periode dari
tanggal neraca sampai akhir pekerjaan lapangan harus dierahkan kepadanya untuk
diriview atau ditelaah. Pembacaan notulen rapat biasanya dilakukan segera setalah hal
itu tersedia, guna memberikan auditor kesempatan maksimum untuk menilai
signifikansi auditnya. Misalnya, informasi yang dipelajari dari catatan itu dapat
menyebabkan auditor mengubah pengujan substantif yang telah direncanakan, atau
meminta klien untuk menyertakan pengungkapan peristiwa kemudian dalam laporan
keuangan. Pembacaan notulen rapat oleh auditor harus didokumentasikan dalam
kertas kerja.
3. MENDAPATKAN BUKTI MENGENAI LITIGASI, KLAIM, DAN
PENILAIAN
SFAS 5, Accounting for Contingencies, mendefenisikan kontijensi
sebagai kondisi, situasi, atau serangkaian situasi yang ada yang melibatkan
ketidakpastian mengenai kemungkinan keuntungan (kontinjensi keuntungan) atau
kerugian (kontinjensi kerugian) yang akan diperoleh apabila satu atau lebih peristiwa
masa depan terhadi atau tidak terjadi. Kontinjensi keuntungan, seperti klaim oleh
klien terhadap pihak lain atau pelanggaran paten, hanya akan menimbulkan masalah
yang relatif kecil bagi auditor karena menurut GAAP hal itu biasanya tidak akan
dicatat sampai terealisasi. Kontinjensi kerugian, di pihak lain, seringkali merupakan
masalah yang signifikan bagi auditor. Tergantung pada evaluasi yang subyektif atas
kemungkinan masa depan, GAAP mempersyaratkan bahwa kontinjensi kerugian
harus (1) dicatat sebagai kewajiban kontinjen, (2) diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan, atau (3) diabaikan. Kontinjensi ini meliputi kewajiban yang
potensial dari perselisihan pajak penghasilan; jaminan produk; jaminan kewajiban
pihak lain; dan litigasi, klaim serta penilaian.

Pertimbangan Audit
SAS 12, Inquiry of a Client’s Lawyer Concerning Ligitation, Claims, and
Assessments (AU 337.04) menyatakan bahwa auditor harus mendapatkan bukti
tentang :
 Eksistensi kondisi, situasi, atau serangkaian situasi yang menunjukkan
ketidakpastian mengenai kemungkinan terjadinya kerugian pada suatu entitas
dari litigasi, klaim, dan penilaian (litigation, claims, and assessments-LCA)
7
 Periode di mana penyebab yang mendasari tindakan hukum terjadi.
 Tingkat probabilitas hasil yang tidak menguntungkan.
 Jumlah atau rentang kerugian yang potensial.

Karena biasanya LCA berada dalam pengetahuan langsung manajemen, maka


manajemen merupakan sumber utama informasi tentang hal-hal tersebut. Dengan
demikian auditor harus (1) melakukan tanya jawab dan diskusi dengan manajemen
tentang arti dari identifikasi LCA, (2) mendapatkan dari manjemen suatu uraian dan
evaluasi atas LCA yang terjadi pada tanggal neraca, dan (3) mendapatkan kepastian
dari manajemen, lebih baik dalam bentuk tertulias, tentang eksistensi setiap klaim
yang belum ditegaskan.

Surat Pertanyaan Audit

Harus diakui bahwa biasanya auditor tidak meiliki keahlian hukum yang
mencukupi untuk membuat pertimbangan yang jelas mengenai semua LCA. Jadi, AU
337.08 menunjukkan bahwa surat pertanyaan audit (letter of audit inquiry) kepada
ahli hukum klien merupakan sarana utama bagi auditir untuk mendapatkan informasi
pendukung tentang LCA yang diserahkan oleh manajemen. Surat pertanyaan audit
harus dikirimkan oleh manajemen kepada setia ahli hukum yang telah ditugaskan oleh
klien, dan telah memberikan perhatian yang cukup besar selama tahun berjalan pada
LCA atau kalim signifikan yang belum ditegaskan yang mungkin bersifat material.

Pengaruh Jawaban Terhadap Laporan Auditor

Jawaban ahli hukum mungkin tidak mempunyai pengaruh terhadap laporan


auditor. Yaitu, auditor dapat mengeluarkan suatu laporan standar dengan pendapat
wajar tanpa pengecualian. Ini dapat terjadi apabila jawabannya menunjukkan
bahwa, berdasarkan penyelidikan yang layak atas masalah yang dihadapi, terdapat (1)
probabilitas yang tinggi atas hasil yang menguntungkan atau (2) masalah yang
dihadapi adalah tidak material. Penolakan seorang ahli hukum untuk menjawab surat
pertanyaan audit meruakan pembatas atas ruang lingkup audit. Tergantung pada
materialitas dari pos-pos yang ada, auditor harus menyatakan pendapat wajar dengan
pengecualian atau menolak memberikan pendapat atas laporan keuangan.

8
4. MENDAPATKAN SURAT REPRESENTASI KLIEN
Auditor diwajibakan untuk mendaptkan representasi tertulis tertentu dari menajemen
dalam memenuhi standar ketiga pekerjaan lapangan. Ini dapat dicapai melalui surat
representasi klien (client representation letter), yang umumnya dikenal sebagai
surat rep. AU 333, Management Representations (SAS 85 dan SAS 89), menjelaskan
bahwa representasi merupakan bagian dari barang bukti tetapi bukan pengganti
penerapan prosedur audit yang diperlukan untuk mendapatkan dasar yang layak atas
suatu pendapat.

Isi Surat Representasi

AU 333.06 memberikan pedoman atas empat kategori utama dari representasi spesifik
yang harus termasuk dalam surat rep. surat rep itu harus mencakup representasi
mengenai:

 Laporan Keuangan
 Kelengkapan informasi
 Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
 Peristiwa kemudian
Sebagai contoh, sesuai dengan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan,
manajemen harus mengetahui bahwa mereka bertanggung jawab menyesuaikan
laporan keuangan atas setiap salah saji material yang dideteksi oleh auditor, dan setiap
salah saji yang belum dikoreksi yang telah dikumpulkan oleh auditor selama
penugasan masa berjalan adalah tidak material, baik secara individual maupun
agregat, terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.

Pengaruh terhadap Laporan Auditor


Apabila auditor menerima surat rep dan ia mampu mendukung representasi
manajemen, maka suatu laporan audit standard dapat dikeluarkan. Akan tetapi, ada
keterbatasan pada lingkup audit jika auditor tidak dapat (1) memperoleh surat rep atau
(2) mendukung representasi manajemen yang bersifat material bagi laporan keuangan
dengan prosedur audit lainnya. Suatu pembatasan lingkup akan mengakibatkan
penyimpangan dari laporan standar auditor baik melalui pendapat wajar dengan
kualifikasi maupun penolakan pemberian pendapat. Penolakan manajemen untuk

9
memberikan represenasi tertulis mungkin cukup, menurut pertimbangan auditor,
untuk membuat auditor menarik diri dari penugasan.
5. MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS
Bab-bab terdahulu telah menjelaskan serta menggambarkan penerapan prosedur
analitis dalam perencanaan audit dan dalam pelaksanaan pengujian substantive akhir
tahun. Perlu diingat kembali bahwa prosedur analitis melibatkan penggunaan rasio
dan teknik-teknik komparatif lainnya. Prosedur analitis juga disyaratkan dalam
penyelesaian audit sebagai review keseluruhan (atau akhir)atas laporan keuangan.
SAS 56,Analytical Procedures (AU 329.22), menyatakan bahwa tujuan dari review
keseluruhan adalah untuk membantu auditor menilai kesimpulan yang dicapai audit
dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
Dalam melakukan review keseluruhan, auditor membaca laporan keuangan
dan catatan yang menyertainya serta mempertimbangkan kelayakan bukti yang
diperoleh dalam menanggapi saldo dan hubungan yang tidak biasa serta tidak terduga
(1) yang diantisipasi dalam perencanaan audit, atau (2) diidentifikasi selama audit
dalam pengujian substantive. Prosedur analitis kemudian diterapkan pada laporan
keuangan untuk menentukan apakah ada hubungan tambahan yang tidak biasa atau
tidak terduga. Jika terjadi hubungan semacam itu, maka prosedur audit tambahan
harus dilaksanakan dalam penyelesaian audit.
Prosedur analitis untuk review keselurruhan harus dilaksanakan oleh pribadi
yang mempunyai pengetahuan komprehensif mengenai bisnis dan industry klien
seperti partner atau manajer audit. Berbagai prosedur analitis dapat digunakan.
Prosedur itu harus
Diterapkan pada bidang-bidang audit yang kritis yang diidentifikasi selama audit.
Dodasarkan atas data laporan keuangan sesudah semua penyesuaian dan reklasifikasi
audit telah diakui.
Dalam melakukan review keseluruhan atas kewajaran penyajian laporan
keuangan, data perusahaan dapat dibandingkan dengan (1) hasil yang diharapkan
entitas berdasarkan dinamika bisnis yang mendasarinya, (2) data yang tersedia
mengenai kinerja industry, dan (3) data nonkeuangan yang relevan seperti unit yang
diproduksi atau dijual serta jumlah karyawan. Suatu review keseluruhan biasanya
akan membandingkan kinerja keuangan entitas yang dilaporkan dengan sasaran
strategisnya atas pendapatan, pelangga, dan pangsa pasar, atas efisiensi dari proses

10
inti, serta kesesuaian ukuran nonkeuangan dengan gambaran keseluruhan yang
dilaporkan dalam laporan keuangan.

B. MENGEVALUASI TEMUAN
Auditor mempunyai dua tujuan berikut dalam mengevaluasi teuan-temuan : (1)
menentukan jenis pendapat yang harus dinyatakan dan (2) melihat apakah GAAS
telah dipenuhi dalam audit. Untuk mencapainya auditor meyelesaikan langkah-
langkah berikut
 Melakukan penilaian akhir atas materialitas dan risiko audit
 Mengevaluasi apakah ada keraguan yang besar mengenai kemampuan entitas
untuk mempertahankan kelanjutan usahanya (going concern).
 Melakukan review teknis atas laporan keuangan
 Merumuskan pendapat dan membuat naskah laporan audit.
 Melakukan review akhir atas kertas kerja.

1. MEMBUAT PENILAIAN AKHIR ATAS MATERIALITAS DAN RISIKO


AUDIT
Dalam merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan, auditor harus
menggabungkan semua bukti yang diperoleh selama audit. Prasyarat yang esensial
dalam memutuskan suatu pendapat yang akan dikeluarkan adalah penilaian akhir atas
materialitas dan risiko audit. Titik tolak untuk melakukan proses ini adalah
menjumlahkan salah saji yang ditemukan ketika memerikasa semua akun yang belum
dikoreksi oleh klien.
Penentuan auditor atas salah saji dalam suatu akun dapat mencakup komponen
berikut :
Salah saji yang belum dikoreksi yang secara spesifik diidentifikasi melalui pengujian
substantive atas rincian transaksi dan saldo (dikenal sebagai salah saji yang diketahui)
Proyeksi salah saji yang belum dikoreksi yang diestimasi melalui teknik sampling
audit.
Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis dan dikuantifikasi oleh
prosedur audit lainnya.
Semua komponen-komponen ini yang terdapat pada suatu akun dikenal
sebagai salah saji yang mungkin (likely misstatement). Sementara jumlah salah saji
yang mungkin dalam semua akun disebut sebagai salah saji agregat yang mungkin

11
(aggregate likely misstatement). Penilaian auditor atas salah saji agregat yaang
bmungkin dapa juga mencakup pengaruh dari semua salah saji yang mungkin yang
belum dikoreksi selama periode sebelumnya terhadap laporan keuangan periode
berjalan. Penilaian ini dilakukan apabila hal itu dapat mengarah pada kesimpulan
bahwa terdapat risiko yang tinggi yang tidak dapat diterima bahwa laporan keuangan
periode berjalan mengandung salah saji yang material.

2. MENGEVALUASI KELANJUTAN USAHA


AU 341, The Auditor’s Consideration of an Entity Ability to Continue as a Going
Concern, menetapkan tanggung jawab auditor untiuk mengevaluasi apakah ada
keraguan yang substansial tentang kemampuan klien untuk mempertahankan
kelanjutan usahanya selama suatu periode waktu yang layak, yaitu tidak melebihi satu
tahun di luar tanggal pelaporan keuangan ytang sedang diaudit (biasanya satu tahun
dari tanggal neraca). Biasanya, informasi yang akan menimbulkan keraguan yang
substansial tentang asumsi kelanjutan usaha (going concern) berkaitan dengan
ketidakmampuan entitas untuk terus memenuhi kewajibannya ketika jatuh tempo
tanpa disposisi aktiva yang besar di luar arah bisnis yang biasa, merestrukturisasi
hutang, merevisi operasinya yang dipaksa dari luar, atau ,melakukan tindakan yang
serupa.
Auditor biasanya mengevaluasi apakah ada keraguan yang substansial
mengenai kemampuan klien untuk mempertahankan kelanjutan usahanya berdasarkan
hasil-hasil dari prosedur audit normal yang dilaksanakan dalam perencanaan,
pengumpulan bukti untuk pendukung berbagai tujuan audit, dan penyelesaian audit.
Mungkin perlu untuk mendapatkan informasi tambahan guna mendukung informasi
yang mengurangi keraguanb auditor.
Jika, setelah mengevaluasi rencana manajemen, auditor menyimpulkan
bahwa terdapat keraguan yang substansial mengenai kelanjutan usaha, maka ia harus
(1) mempertimbangkan kelayakan pengungkapan mengenai kemungkinan
ketidakmampuan entitas untuk mempertahankan kelanjutan usahanya, selama periode
waktu yang layak, dan (2) menyertakan suatu paragraph penjelasan (sesudah
paragraph pendapat) dalam laporan audit untuk mencerminkan kesimpulannya. Jika
auditor menyimpulkan bahwa tidakl ada keraguan yang substansial, maka ia tetap
harus mempertimbangkan kebutuhan akan pengungkapan. Beberapa informasi yang
mungkin diungkapkan mencakup :

12
 Kondisi dan peristiwa bersangkutan yang menimbulkan penilaian atas
keraguan yang substansial mengenai kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelanjutan usahanya selama periode waktu yang layak.
 Kemungkinan pengaruh kondisi dan peristiwa tersebut.
 Evaluasi manajemen atas signifikan dari kondisi-kondisi dan peristiwa itu
serta setiap faktor yang dapat mengurangi.
 Kemungkinan penghentian operasi.
 Rencana manajemen (termasuk informasi keuangan propektif yang relevan)
 Informasi tentang mpemulihan atau klasifikasi jumlah aktiva yang tercatat
atau jumlah atau klasifikasi kewajiban.

3. MELAKUKAN REVIEW TEKNIS ATAS LAPORAN KEUANGAN


Banyak kantor akuntan publik mempunyai daftar periksa laporan keuangan terinci
yang diselesaikan oleh auditor yang melaksanakan review awal atas laporan keuangan
bersangkutan. Ddaftar periksa yang lengkap itu kemudian direview oleh manajer dan
partner yang bertanggung jawab atas penugasan tersebut. Sebelum mengeluarkan
laporan audit atas klien yang merupakan perusahan terbuka,; review teknis juga harus
dilakukan atas laporan itu oleh partner yang bukan anggota tim audit.
Daftar periksa mencakup hal-hal yang berkenaan dengan bentuk dan isi dari
masing-masing laporan keuangan dasar termasuk pengungkapan yang diisyarratkan.
Kebanyakan kantor akuntan sekarang mempunyai daftar periksa terpisah untuk klien
SEC dan non-SEC. Daftar periksa yang lengkap dan temuan dari para pereview harus
tercantum dalam kertas kerja.

4. MERUMUSKAN PENDAPAT DAN MENULIS MENULIS NASKAH


LAPORAN AUDIT
Dalam penyelesaian audit, auditor perlu memisahkan temuan-temuan dengan
menghtisarkan dan mengevaluasi untuk tujuan menyatakan pendapat atas laporan
keuangan secara keseluruhan. Tanggung jawab akhir atas langkah-langkah ini terletak
pada partner yang melakukan penugasan itu.
Sebelum mengambil keputusan akhir tentang pendapat, biasasnya diadakan
suatu konferensi dengan klien. Pada pertemuan ini, auditor melaporkan semua
temuannya secara lisan dan berusaha memberikan dasar pemikiran untuk melakukan
penyesuaian yang diusulkan dan/atau pengungkapan tambahan.

13
5. MELAKUKAN REVIEW AKHIR ATAS KERTAS KERJA
Review ini dilakukan untuk mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan, bukti yang
diperoleh, dan kesimpulan yang dibuat oleh penyusun kertas kerja. Review tambahan
atas kertas kerja dapat dilakukan pada akhir pekerjaan lapangan oleh anggota tim
audit.

C. KOMUNIKASI DENGAN KLIEN

Komunikasi antara auditor dengan klien pada penutupan audit melibatkan komite audit dan
manajemen. Komunikasi dengan komite audit membicarakan hal-hal berkenaan dengan

(1) Pengendalian internal klien dan


(2) Pelaksanaan audit

Sementara komunikasi dengan manajemen dilakukan melalui surat manajemen.

1. MENGKOMUNIKASIKAN HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN


PENGENDALIAN INTERNAL
Selama melakukan audit, auditor mungkin menyadari hal-hal yang berkaitan
dengan pengendalian internal yang harus menjadi kepentingan dari komite audit klien
atau pribadi dengan wewenang dan tanggung jawab yang sama. AU 325,
Communication of Internal Control Related Maters Noted in an Audit,
mempersyaratkan auditor untuk menyampaikan kondisi-kondisi yang dapat
dilaporkan (reportable conditions), yang didefinisikan sebagai hal yang merupakan
kekurangan yang signifikan dalam perancanaan atau operasi pengendalan internal,
yang dapat berpengaruh buruk terhadap kemampuan organisasi untuk mencatat,,
memroses, mengiktisarkan, dan melaporkan data keuangan yang konsisten dengan
asersi manajemen dalam laporan keuangan.
Penentuan suatu kekurangan atau definisi sebagai kondisi yang dapat
dilaporkan dipengaruhi oleh hal-hal seperti ukuran entitias, kerumitan operasinya,
struktur organisasinya, dan karakteristik kepemilikannya. Komunikasi sebaiknya
dilakukan dalam bentuk tertulis. Pembagian laporan biasanya harus dibatasi kepada
komite audit, manajemen, dan pihak lain di dalam organisasi. Akan tetapi, apabila
suatu laporan diisyaratkan oleh otoritas pemerintah, maka rujukan khusus harus
dinyatakan dalam laporan tersebut. AU 325.11 menyatakan bahwa setiap laporan
yang diterbitkan mengenai kondisi yang dapat dilaporkan harus :

14
 Menunjukkan bahwa tujuan audit adalah melaporkan tentang laporan
keuangan dan bukan memberikan kepastian tentang pengendalian
internal.
 Menyertakan definisi tentang kondisi yang dapat dilaporkan
 Menyertakan pembatasan pembagian.

Suatu kondisi yang dapat dilaporkan begitu besar sehingga merupakan kelemahan
yang material. AU 325.15 mendefinisikan kelemahan yang material sebagai : suatu
kondisi yang dapat dilaporkan di mana rancangan atau operasi dari satu atau lebih
komponen pengendalian internal tidak mengurangi risiko hinggah tingkat yang relatif
rendah, sehingga salah saji yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan dalam
jumlah material dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang sedang diaudit
mungkin terjadi dan tidak terdeteksi pada periode yang tepat waktu oleh karyawan
ketika melaksanakan kegiatan normal dan fungsi yang telah dibebankan kepadanya.

2. MENGKOMUNIKASIKAN HAL-HAL YANG BERKENAAN DENGAN


PELAKSANAAN AUDIT

AU 380, Komunikasi Dengan Komite Audit, mempersyaratkan auditor untuk


menyampaikan hal-hal tertentu berkenaan dengan pelaksanaan audit kepada mereka
yang bertanggung jawab mengawasi proses pelaksanaan keuangan. Biasanya
tanggung jawab ini dibebankan ke suatu komite audit dari dewan komisaris atau ke
satu kelompok dengan wewenang yang sama seperti komite keuangan. Komunikasi
itu biasanya dilakukan secara lisan atau tertulis.

AU 380.06-14 menyatakan bahwa komunikasi dengan komite audit dapat mencakup


hal-hal berikut :

Tanggung jawab auditor menurut GAAS

1. Kebijakan akuntansi yang signifikan


2. Pertimbangan auditor tentang mutu prinsip akuntansi entitas
3. Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi
4. Penyesuaian audit yang signifikan
5. Ketidaksepakatan dengan manajemen
6. Konsultasi dengan akuntansi lain
7. Masalah penting yang dibahas dengan manajemen sebelum penarikan diri
15
8. Kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan audit

3. MENYIAPKAN SURAT MANAJEMEN


Ketika menyelesaikan suatu audit, banyak auditor menganggap bermanfaat untuk
menulis surat kepada manajemen, yang dikenal sebagai surat manajemen
(management letter), yang memuat rekomendasi yang tidak termasuk dalam
komunikasi yang disyaratkan dengan komite audit. Rekomendasi ini biasanya
berkaitan dengan peningkatan efisieni dan efektivitas operasi perusahaan. Surat
manajemen dengan jelas memperlihatkan kepentingan yang berkelanjutan dari auditor
dalam hal kesejahteraan dan masa depan klien. Penyususan surat manajemen ini tidak
disyaratkan oleh GAAS.
Surat manajemen dapat mencakup komentar tentang
1. Hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian internal yang tidak di pertimbangkan
sebagai kondisi yang dapat dilaporakan.
2. Rekomendasi mengenai pengelolaan sumber daya dan jasa bernilai tambah yang
tercatat selama audit.
3. Hal-hal yang bersangkutan dengan pajak.

16
TANGGUNG JAWAB SETELAH AUDIT

Bagian ini akan membahas tanggung jawab auditor setelah penyelesaian pekerjaan lapangan.
Tanggung jawab setelah audit (postaudit responsibility) mencakup pertimbangan atas :

1. Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal dan penerbitan laporan audit
2. Penemuan fakta yang ada
3. Penemuan prosedur yang dihilangkan

A. PERISTIWA KEMUDIAN ANTARA TANGGAL DAN PENERBITAN


LAPORAN
Dating of the Independent Auditor’s Report (AU 530), menyatakan bahwa auditor
tidak mempunyai tanggung jawab untuk mengajukan pertanyaan atau melaksanakan
suatu prosedur audit apapun selama periode waktu ini guna menemukan peristiwa
kemudian yang material.
Selain itu, auditor juga dapat menggunakan tanggal ganda atau dua tanggal (dual
dating) dalam laporan audit. Jika tindakan ini dilakukan, maka tanggal yang semula
akan dipertahankan kecuali tanggal peristiwa kemudian. Tanggal ganda itu ditunjukan
dalam laporan audit langsung di bawah tanda tangan kantor akuntan dengan cara yang
sama seperti postcript dalam surat.
B. PENEMUAN FAKTA YANG ADA PADA TANGGAL LAPORAN
Auditor tidak mempunyai tanggung jawab untuk menemukan fakta yang ada setelah
audit (tetapi tidak diketahui) pada tanggal laporan audit. Auditor diberikan sanksi
apabila auditor baru menemukan fakta, baru menemukan bahwa ada prosedur yang
tidak ditetapkan. Namun, SAS 1, Subsequent Discovery of Facts Existing at the Date
of the Auditor’s Report (AU 561), menunjukkan dalam AU 561.04 bahwa jika (1)
auditor menyadari adanya fakta tersebut, (2) fakta itu mungkin mempengaruhi laporan
yang telah dikeluarkan, maka auditor diwajibkan untuk memastikan reliabilitas
informasi itu.

C. PENEMUAN PROSEDUR YANG DIHILANGKAN


Setelah tanggal laporan audit, auditor dapat menyimpulkan bahwa satu atau lebih
prosedur audit yang dipandang perlu dalam situasi-situasi bersangkutan telah
dihilangkan dari audit. Standar auditing tidak mempersyaratkan auditor untuk
melaksanakan setiap review setelah audit atas pekerjaannya. Akan tetapi, penemuan

17
prosedur yang dihilangkan dapat berasal dari review setelah penugasan yang
dilaksanakan selama program pengendalian mutu perusahaan atau selama review
horizontal (peer review) oleh akuntan publik luar.

18