Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

SKIZOFRENIA AFEKTIF

Disusun untuk memenuhi tugas


Stase Keperawatan Jiwa

Disusun oleh:

KINASIH BAYU NURSETO


J.230165056

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
SKIZOFRENIA AFEKTIF

A. DEFINISI
Skizofrenia afektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan afektif.
Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat
bersamaan juga memiliki gejala afektif yang menonjol (Maramis, 2014, Stuart dan
Sudden, 2012). Skizofrenia afektif adalah:
1. Suatu perasaan euphoris meliputi rasa gembira yang tidak ada taranya, seolah-olah
dunia ini dikuasainya. Dia mempunyai perasaan optimis yang sangat berlebihan, jalan
pikirannya cepat, tidak mengenal lelah, menganggap semua persoalan enteng, tapi
perasaan ini nantinya beralih menjadi rasa sedih yang sangat mendalam pula
(Kuntjoro, 2013).
2. Gangguan utama yang disebabkan karena gangguan afek (alam perasaan atau mood)
yang disertai oleh sindrom manik atau depresif yang lengkap ataupun tidak lengkap
yang tidak disebabkan oleh gangguan fisik atau gangguan jiwa lainnya (Maramis,
2014).
3. Gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga
gejala perilaku diwarnai oleh ketergantungan keadaan emosi (Kuntjoro, 2013).

B. ETIOLOGI
Manurut Stuart Gail W (2014), sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah
berubah begitu banyak dari waktu ke waktu. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan
skizoafektif mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu teori etiologi
mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan. Penyebab
gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model konseptual telah
diajukan.
1 Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe
gangguan mood.
2 Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia
dan gangguan mood.
3 Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda,
tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood.
4 Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama. Sebagian

18
besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif sebagai suatu
kelompok heterogen.
Etiologi skizofrenia Afektif:
1. Data genetic
Seseorang menderita skizofrenia jika anggota keluarga lainnya juga menderita
skizofrenia dan kemungkinan seseorang menderita skizofrenia adalah berhubungan
dengan dekatnya hubungan persaudaraan tersebut. Pada hubungan antara tempat
kromosom tertentu dengan skizofrenia telah dilaporkan, lebih dari setengah
kromosom telah dihubungkan dengan skizofrenia.
2. Faktor Biokimia
Faktor biokimia terdiri dari aktifitas dopamine dimana skizofrenia disebabkan dari
terlalu banyaknya aktifitas dopaminergik. Neuron dopaminergik dalam jalur
mesokortial dan jalur mesolumbik berjalan dari badan selnya diotak tengah ke neuron
dopaminoseptik di sistem limbik dan korteks serebral. Peran penting dopamine adalah
konsisten dengan penelitian yang telah mengukur plasma metabolic dopamine utama,
yaitu homovanilic acid. Dalam kondisi eksperimental yang terkontrol cermat,
konsentrasi homovenilic acid dalam sistem saraf pusat.

C. KLASIFIKASI DAN TANDA GEJALA


Menurut Generald (2014), terjadi waham atau halusinasi selama paling sedikit 2 minggu
tanpa gejala dan alam perasaan yang menonjol. Gangguan skizoafektif diklasifikasikan
menjadi 2 yaitu:
1. Melankolia involusi
Kelainan fisik yang disebabkan oleh kemunduran fungsi endokrin yang belum jelas
pengaruhnya tetapi terdapat hal yang menunjukkan bahwa pengaruh ini tidak
sepenting faktor psikologik yang diakibatkan oleh masa involusi. Tanda dan gejalanya
pada permulaan gangguan, antara lain:
a. Hipokondrik
b. Lekas marah
c. Pesimis,
d. Insomnia
e. Mulai tidak suka bekerja
f. Sering menangis.
g. Ragu-ragu dan tidak dapat mengambil keputusan,

18
h. Lapangan minatnya menyempit
i. Menarik diri
Bila penyakit sudah jelas maka timbul tanda gejala sebagai berikut:
a. Depresi berat,
b. Cemas
c. Agitasi
d. Hipokindriasis
e. Waham dosa
f. Waham penyakit dan rasa akan mati sampai dengan waham nihilistik
g. Sering keluar ucapan yang menyatakan keputusannya.
2. Psikoza Manik Depresif
Kadang-kadang timbul satu atau dua kali serangan saja seumur hidup orang
itu. Interval antara dua fase tidak tentu lamanya, kadang-kadang lama, tetapi
terkadang tidak ada sama sekali. Ada dua jenis psikoza manik depresif, yaitu:
a. Jenis Mania
Tanda dan gejala:
1) Gangguan emosi: penderita merasa senang dan optimistic. Terlalu percaya
diri. Setiap usaha dan pekerjaan dianggap enteng, kadang-kadang percaya diri.
Kadang-kadang disertai halusinasi dan waham kebesaran.
2) Aktifitas yang berlebihan: penderita sangat gelisah, tidak dapat duduk diam
dan tinggal ditempat tidur, terus berbicara dan menyanyi-nyanyi, sering
berbicara dengan kata yang tidak sopan, tidak mau makan, tidak bisa tidur,
tidak merasa lelah akibat kegelisahan yang tinggi sehingga timbul bahaya
dehidrasi dan kolaps.
3) Gangguan proses berfikir: dalam keadaan mania arus pikiran menjadi cepat,
pikiran melayang dan asosiasi bunyi. Perhatian sangat terganggu, mudah
tertarik pada hal-hal lain. Halusinasi mungkin timbul tetapi jarang, sering
timbul ilusi, waham sering berupa waham kebesaran dan tidak simetris.
b. Jenis Depresif
1) Gangguan emosi
Tampak selalu lelah dan khawatir. Penderita merasa tidak mampu
menyelesaikan atau melakukan sesuatu. Segala masalah ditinjau secara
pesimistik. Merasa sangat rendah diri kadang-kadang rasa sedih yang
berlebihan sehingga putus asa dan timbul bahaya bunuh diri. Keinginan bunuh
18
diri sering dilakukan dengan sungguh-sungguh dan direncanakan secara
matang. Terkadang membunuh keluarganya lebih dulu dengan maksud hendak
membebaskan mereka dari penderitaan.
2) Penghambatan aktifitas
Dapat dilihat dari roman muka dengan lipatan nasolabial yang jelas, sudut
mulut yang turun dan banyak lipatan di dahi dan di sudut mata. Gerakan
berkurang dan menjadi sangat lambat. Penderita menghindari pergaulan dan
teman-temannya. Pada penderita wanita sering tidak dapat menyelesaikan
pekerjaan rumah tangga pada waktunya serta kurang memeperhatikan dirinya
sendiri.
3) Gangguan proses berfikir
Arus pikiran tidak lancar lagi seperti biasa. Kemampuan untuk mengutarakan
isi hati berkurang. Penderita tidak sanggup mengambil keputusan, selain itu
penderita menjadi cemas dan takut. Halusinasi jarang timbul lebih sering ilusi.
4) Keluhan badaniah yang menyertai
Perasaan lelah, perasaan tertekan pada kepala dan dada, kedua tungkai berat
sekali, sukar tidur, nafsu makan berkurang,obstipasi, pada wanita haid
terganggu dan pada pria terjadi impotensi.
c. Jenis sirkular
Pada jenis ini terdapat episode mania dan depresi berganti-ganti, diselingi oleh
suatu interval yang normal. Diagnosa dari interval ini harus kurang dari 12 bulan,
bila lebih maka didiagnosa sebagai jenis mania atau jenis depresi.

RENTANG RESPON EMOSIONAL


Respon Adaptif Respon Maladaptif

Respon reaksi berduka supresi penundaan depresi/mania


Emosional tak terkomplikasi emosi reaksi berduka

Jika memandang ekspresi emosi dalam suatu rentang sehat sakit akan tampak beberapa
parameter yang relevan, antara lain:
1. Respon emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif dalam dunia internal
dan eksternal seseorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan sadar akan
perasaan sendiri
18
2. Reaksi berduka tak terkomplikasi terjadi sebagai respon terhadap kehilangan tersirat
bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilangan yang nyata serta terbenam
dalam proses berduka.
3. Supresi Emosi mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan
dirinya sendiri, terlepas dari perasaan tersebut, atau internalisasi terhadap semua
aspek dari dunia afektif seseorang.
4. Penundaan reaksi berduka adalah ketiadaan yang persisten respon emosional terhadap
kehilangan. Ini dapat terjadi pada awal proses bergabung, dan menjadi nyata pada
proses berduka, atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang
terjadi bertahun-tahun adalah ketiadaan yang persisten respon emosonal terhadap
kehilangan. Ini dapat terjadi pada awal proses berkabung, dan menjadi nyata pada
proses berduka, atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang
terjadi bertahun- tahun.
5. Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan dan perasaan duka yang
berkepanjangan atau abnormal. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai
fenomena, seperti tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional,reaksi, penyakit atau
intitas klinik.
6. Mania ditandai dengan alam perasaan yang meningkat, bersemangat, atau mudah
terganggu. Hipomania digunakan untuk menggambarkan sindrom klinis serupa, tetapi
tidak separah mania atau episode manik.

18
D. PSIKOFISIOLOGI
Skizofrenia

Genetika Neurologis Biokimia Otak

Implikasi mutasi DNA Trauma


Peningkatan
oleh trinukleat > 1 reseptor
serotonin

Kelainan gen selama Pengurangan ukuran Gangguan


gerakan
dalam kandungan system limbie (daerah
amihdala, hipokampus,
girus hipokampus)

Resiko
Kelainan struktur & mencederai diri
fungsi otak saat tumbuh Defisit lobus di Penurunan pusat
kembang garis depan kontrol emosi

Tingkat II (kakek, Gangguan transfer Paramimi,


nenek, paman,bibi, dan control parathimi, emosi,
keponakan) asosiasi, memori berlebih
bahasa, suara

Tingkat I (orang tua Apatis


Resiko mencederai diri
Saudara) sendiri dan orang lain

Isolasi sosial Menarik diri


Isolasi sosial (Maryono, 2011)
18
E. PSIKOPATOLOGI
Skizofrenia

Faktor eksternal

Keluarga Sosiokultural Lingkungan

Konflik keluarga Pernikahan lintas Tuntutan hidup


budaya

Hum-bang anak Perbedaan adat Stressor ekonomi


tidak optimal istiadat dan
kebiasaan

Anak merasa tidak Konflik hubungan Kebutuhan


hidup
diperhatikan meningkat pendapat
tidak mencukupi

Menarik diri
Stressor Dikucilkan oleh
masyarakat

Pendapat tidak
dihargai
Isolasi sosial
Isolasi sosial

Resiko perilaku
kekerasan

(Maryono, 2011)
18
F. PENGKAJIAN
Menurut Schultz & Sheila (2015) :
a. Identitas
Nama, umur. jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan.
b. Alasan masuk
Sebab klien datang ke rumah sakit, usaha untuk mengatasi masalah, dan hasil.
c. Faktor Presdiposisi
1. Tanyakan pada klien atau keluarga berapa lamanya (bulan/tahun) klien
mengalami gangguan jiwa.
2. Tanyakan pada klien berapa kali masuk rumah sakit.
3. Tanyakan kepada klien atau keluarga apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa di masa lalu, apakah klien pernah mengalami perasaan senang
atau sedih yang berlebihan, percaya diri yang terlalu besar, dan aktivitas
berlebih-lebihan seperti terus berbicara atau menyanyi-nyanyi.
4. Tanyakan apakah ada anggota keluarga lainnya yang mengalami gangguan
jiwa dan bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga tersebut.
5. Tanyakan tentang pengalaman yang tidak menyenangkan yang pernah di
alami klien.
d. Riwayat penyakit dahulu
1. Riwayat penyakit sekarang
2. Riwayat penyakit keluarga
e. Faktor fisik
1. Trauma
2. Ukur tanda- tanda vital: tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan.
3. Ukur tinggi dan berat badan.
4. Tanyakan pada klien atau keluarga apakah ada keluhan fisik yang dirasakan
oleh klien.
f. Faktor psikososial
1. Genogram yang menggambarkan hubungan klien dengan keluarga dalam 2
generasi.
2. Konsep diri
Tanyakan tentang gambaran diri klien, identitas atau status klien, peran klien
dalam keluarga/kelompok/masyarakat, ideal diri dan harapan terhadap dirinya,
harga diri tentang bagaimana klien berhubungan dengan orang lain.
18
3. Hubungan social
Tanyakan pada klien siapa orang yang berarti. Kelompok apa yang di ikuti
dalam masyarakat.
4. Spiritual
Tanyakan tentang pandangan dan keyakinan klien dan bagaimana kegiatan
ibadahnya.
g. Status mental
1. Penampilan klien.
2. Pembicaraan yang dikemukakan klien.
3. Aktivitas motorik klien seperti lesu, gelisah, agitasi, tremor.
4. Alam perasaan seperti apakah klien sedih, putus asa, takut, khawatir.
5. Afek klien yaitu datar, tumpul, labil, atau tidak sesuai.
6. Interaksi selama wawancara.
7. Persepsi klien.
8. Proses pikir.
9. Isi pikiran.
10. Waham.
11. Tingkat kesadaran.
12. Memori/ ingatan.
h. Kebutuhan persiapan pulang
i. Mekanisme koping
j. Masalah psikososial dan lingkungan
k. Pengetahuan
l. Aspek medis
m. Daftar masalah keperawatan
n. Daftar diagnosa keperawatan

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Schultz & Sheila (2015) :
1. Isolasi sosial berhubungan dengan ketidakberdayaan, dan keputusasaan terhadap
interaksi sosial masyarakat.
2. Resiko tinggi terhadap kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan
dengan agitasi dan harga diri rendah.
18
3. Menarik diri berhubungan dengan penyangkalan terhadap realita.
4. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perasaan tidak berguna dan harga diri
rendah.
5. Gangguan perawatan diri berhubungan dengan rasa tidak berharga, dan kurangnya
perhatian terhadap kebutuhan dirinya sendiri.

18
H. RENCANA KEPERAWATAN DAN RASIONAL
Nama: Perencanaan
No Hari/Tgl Diagnosa Keperawatan Tujuan & kriteria hasil Tindakan keperawata
1 Isolasi sosial b/d Tujuan jangka panjang: 1 Bina hubungan saling p
ketidakberdayaan, dan Klien dapat secara sukarela antara perawat dengan k
keputusasaan terhadap meluangkan waktu bersama 2 Atur setiap hari
interaksi social pasien lain dan perawat menyusun rencana
masyarakat dalam aktivitas kelompok untuk berinteraksi
beraktivitas dengan klie
Tujuan jangka pendek: 3 Identifikasi faktor sign
Setelah dilakukan asuhan support individu klie
keperawatan dalam waktu mendorong mereka
tertentu klien diharapkan : berinteraksi dengan
 Klien dapat percakapan dite
mendemonstrasikan beraktivitas
keinginan dan hasrat mengunjunginya.
untuk bersosialisasi 4 Bantu klien membe
dengan orang lain. antara isolasi sosial dan
untuk menyendiri. Li
klien apabila ada TAK.
KH: 5 Bantu klien menemukan
 Pasien melakukan lain untuk sosialisasi d
pendekatan interaksi satu- orang yang me
satu dengan orang lain kesukaan yang sama.
dengan cara yang sesuai/ 6 Perlihatkan sikap men
dapat diterima. dengan cara mela
kontak yang sering
singkat.
7 Perlihatkan penguatan
kepada klien.
8 Temani klien
memperlihatkan duk
selama aktivitas kelo
yang mungkin merupak
yang menakutkan atau
bagi klien.
9 Jujur dan menepati janji

18
2 Resiko tinggi terhadap Tujuan Umum: 1 Observasi secara
kekerasan pada diri Klien tidak membahayakan perilaku klien (seti
sendiri dan orang lain dirinya dan orang lain selama menit)
b.d agitasi dan harga di rumah sakit 2 Pertahankan lingk
diri rendah dengan stimulus t
Tujuan jangka pendek : rendah.
Setelah dilakukan asuhan 3 Singkirkan semua
keperawatan dalam waktu yang dapat membaha
tertentu klien diharapkan : diri dan lingkungan k
 Ansietas 4 Bimbing klien
dipertahankan pada menyalurkan pe
tingkat dimana klien merusak diri k
tidak menjadi agresif kegiatan fisik
klien memperlihatkan menurunkan ansietas
rasa percaya pada 5 Jika paien belum
orang lain di tenang, gunakan al
sekitarnya. pembatasan gerak (f
jika diperlukan.
KH: 6 Begitu kegelisahan
 Klien dapat menurun, kaji ke
mengidentifikasi cara- klien untuk dilepaska
cara menggunakan fiksasi.

18
kontrol dan 7 Beri obat-obatan
mempengaruhi hasil. transquilizer
 Klien dapat program terapi peng
mengidentifikasi aspek- pantau keefektifan ob
aspek positif diri. efek sampingnya.

3 Menarik diri b.d Tujuan jangka panjang: 1 Bina hubungan


penyangkalan trhadap Pasien dapat melakukan percaya antara klie
realita interaksi dengan orang lain. perawat.
2 Memotivasi klien
Tujuan jangka pendek : mengungkapkan pe
Klien dapat berkomunikasi yang dialami.
dengan lingkungan sekitar 3 Beri kesempatan
dan dapat mengungkapkan untuk mengungk
perasaannya kepada orang perasaan penyebab m
lain. diri atau tidak mau be
KH:
 Klien dapat
berkomunikasi dengan
lingkungan sekitar dan
dapat mengungkapkan
perasaannya kepada
orang lain.

4 Gangguan konsep diri Tujuan jangka panjang: 1 Bantu klien


b.d perasaan tidak Mengembalikan rasa percaya membangkitkan per
berguna dan harga diri diri pasien. terutama perasaan
rendah. saat klien tidak
Tujuan jangka pendek : kekuatan.
Setelah dilakukan asuhan 2 Beri klien umpan
keperawatan dalam waktu positif sehingga klie
tertentu klien diharapkan : untuk mengidentifika
 Pasien dapat yang sulit untuk dirin

18
mengaktualisasikan 3 Tanya klien
dirinya pada orng mengklarifikasi
lain. merasakan
diekspresikan secara
KH: 4 Jika klien bingung
Pasien dapat mengungkapkan mendiskusikan topik
dan mendemonstrasikan sensitif atau tidak sa
peningkatan perasaan akan mengekspresikan d
konsep diri. kembalikan klien ke
topik yang netral, ata
klien untuk mela
aktivitas yang tidak
tenaga dan menyenan
5 Damping klien
mengembangkan pera
selanjutnya
dibutuhkan.
6 Memberikan pujian k
klien.

5 Gangguan perawatan Tujuan jangka panjang: 1 Perhatikan kebutuhan


diri b.d rasa tidak Klien dapat meningkatkan pasien
berharga, dan minat atau motivasi dan  Berhias
kurangnya perhatian mempertahnkan kebersihan 2 Setiap hari klien dia
terhadap kebutuhan diri. untuk menyisir rambu
dirinya sendiri. 3 Gunakan kalimat yan
Tujuan jangka pendek : dan langsung, minta
Setelah dilakukan asuhan untuk melaksanakan
keperawatan dalam waktu bagian dari latihan s
tertentu klien diharapkan : juga.
 Klien mampu 4 Jangan memaksa
melakukan perawatan untuk memilih, k
diri secara rutin dan kepada klien waktu
teratur tanpa perintah. tepat untuk makan
memakai baju da
KH: menawarkan makan
Setiap hari klien sudah berpakaian.
mampu berpenampilan rapi. 5 Klien yang tidak
menyelesaikan
jangan terbur
meminta klien
mencoba.
6 Bantu klien untuk m
kelangsungan
sehari-hari dan pe
hygiene yang adekuat
7 Puji klien untuk ak

18
dari kehidupan seha
untuk perawatan d
awal.

18
DAFTAR PUSTAKA

Generald, C. Davidson. (2014). Abnormal Psikologi. California: University of Southern.

Maramis, W.F. 2014. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Maryono. 2011. Psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara.

Schultz, Judith. M dan Sheila Clark Videkeck. (2015). Psichiatric Nursing Care Plane.
Philadelphia New York: Lipincolt.

Stuart & Sunden. 2012. Buku Saku Keperawatn Jiwa. Jakarta: EGC.

Stuart Gail W. 2014. Buku Saku Keperawatn Jiwa. Jakarta: EGC.

Kuntjoro. (2013). Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC.

18

Anda mungkin juga menyukai