Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Begitu masalah penelitian telah dirumuskan dan desain penelitian telah
dipilih untuk memecahkan masalah, tugas peneliti selanjutnya adalah memilih
teknik pegukuran (measurement) dan mendesain instrumen penelitian. Teknik
pengukuran pada dasarnya membicarakan mengenai aturan dan prosedur yang
digunakan untuk menjembatani antara apa yang ada dalam dunia konsep
dengan apa yang terjadi dalam dunia konsep dengan apa yang terjadi didunia
nyata. Misalnya, jika peneliti ingin mengukur kepuasan kerja karyawan
Perumka, teknik pengukuran akan berusaha meyakinkan bahwa tingkat
kepuasan kerja benar-benar dapat diukur dengan skala pengukuran tertentu
(Kuncoro, 2013: 169)

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, dapat kita lihat beberapa permasalahan yang
dapat diangkat, yaitu:
1. Apa saja proses yang menjadi bagian dari pengukuran?
2. Bagaiman Karakteristik aturan pemetaan?
3. Apa sumber eror utama yang dapat mempengaruhi penelitian?
4. Apa kriteria utama untuk mengevaluasi pengukuran yang baik?
5. Apa saja yang termasuk proses dalam pengukuran?
6. Apa faktor yang mempengaruhi kehandalan, keabsahan, dan kepraktisan
skala?
7. Apa saja jenis jenis skala rating?

1.3 Tujuan Penulisan

Dari Rumusan masalah diatas, dapat kita ketahui tujuan dari penulisan
makalah ini, adalah:

1
1. Untuk mengetahui proses yang menjadi bagian dari pengukuran.
2. Untuk mengetahui Karakteristik aturan pemetaan.
3. Untuk mengetahui sumber eror utama yang dapat mempengaruhi
penelitian.
4. Untuk mengetahui kriteria utama untuk mengevaluasi pengukuran
yang baik.
5. Untuk mengetahui proses dalam pengukuran.
6. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kehandalan,
keabsahan, dan kepraktisan skala.
7. Untuk mengetahui jenis jenis skala rating.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengukuran
A. Sifat Pengukuran
Menurut Cooper & Pamela (2006: 4-5), Dalam penggunaan
sehari–hari, pengukuran terjadi ketika indeks yang ditetapkan digunakan
untuk memeriksa tinggi, berat dan lain sebagainya. Pengukuran dalam
riset merupakan penetapan bilangan – bilangan pada kejadian – kejadian
empiris, objek atau sifat – sifat atau aktivitas dalam memenuhi
serangkaian aturan. Definisi ini menandakan bahwa pengukuran
merupakan sebuah proses yang mencakup tiga bagian, yaitu:
1) Memilih empiris yang dapat diamati.
2) Mengembangkan serangkaian aturan pemetaan: sebuah skema untuk
menetapkan bilangan – bilangan atau simbol – simbol yang mewakili
aspek – aspek kejadian yang akan diukur.
3) Menerapkan aturan pemetaan untuk setiap observasi dari kejadian
tersebut.

Menurut Cooper & Pamela (2006: 6), Variabel – variabel yang


diteliti dalam riset dapat dikelompokkan sebagai objek atau sebagai
sifat. Objek meliputi konsep pengalaman biasa, seperti sesuatu yang
nyata, misalnya perabotan, orang, atau mobil. Objek juga meliputi
sesuatu yang tidak terlalu nyata, seperti gen, sikap, dan tekanan rekan –
rekan sejawat. Sifat merupakan karaktersitik dari objek. Sifat fisik
seseorang dapat dinyatakan dalam istilah berat, tinggi, dan postur, dan
lain-lain. Sifat fisiologis meliputi sikap dan kecerdasan. Sifat sosial
meliputi kemampuan memimpin, hubungan dengan masyarakat dan
status. Dalam sebuah penelitian, sifat – sifat tersebut dan sifat lain dari
seorang individu dapat diukur.
Secara harfiah, periset tidak mengukur objek maupun sifat.
Mereka mengukur indikasi dari sifat – sifat atau indikasi dari sifat

3
objek. Misalnya anda sedang menganalisis anggota sebuah tim
pemasaran yang terdiri dari beberapa ratus orang untuk mempelajari
sifat – sifat yang mempengaruhi kesuksesan pemasaran. Sifat – sifat
tersebut adalah umur, pengalaman, dan jumlah panggilan telpon yang
dibuat setiap minggu. Indikasi dalam kasus – kasus ini dapat diterima
sehingga ada yang menganggap sifat – sifat tersebut harus diamati
secara langsung.
Sebaliknya tidak mudah untuk mengukur sifat – sifat konstruk
seperti gaya hidup, pendapat mengenai kepemimpinan, dan pendekatan.
Oleh karena masing – masing sifat tidak dapat diukur secara langsung,
seseorang harus menduga kehadiran atau ketidakhadirannya dengan
mengamati beberapa indikasi atau pengukuran yang mengarah.

B. Skala Pengukuran
Menurut Cooper & Pamela (2006: 8), Dalam pengukuran, kita
mengunakan aturan pemetaan dan kemudian menerjemahkan observasi
indikasi-indikasi sifat menggunakan peraturan ini. Untuk masing-masing
konsep atau konstruk, dapat menggunakan beberapa jenis pengukuran.
Masing-masing aturan pemetaan mempunyai sejumlah asumsi yang
menjadi dasar bagaiman simbol-simbol numerik berkaitan dengan
observasi dunia nyata.
Aturan pemetaan mempunyai empat karakteristik, yaitu:
1) Klasifikasi. Bilangan-bilangan yang digunakan untuk
mengelompokkan atau memilah tanggapan. Tidak ada urutan.
2) Urutan. Bilangan-bilangan yang diurutkan. Satu bilangan bisa lebih
dari, kurang dari, atau sama dengan bilangan lainnya.
3) Jarak. Perbedaan antara bilangan-bilangan yang diurutkan.
Perbedaan antara pasangan bilangan adalah lebih dari, kurang dari,
atau sama dengan perbedaan antara pasangan bilangan yang lain.

4
4) Asal mula. Barisan bilangan mempunyai asal mula yang unik yang
diindikasikan oleh bilangan nol yang merupakan sebuah titik nol
yang mutlak dan berarti.
Kombinasi dari karakteristik-karakteristik klasifikasi, urutan, jarak,
dan asal mula menciptakan empat klasifikasi skala pengukuran yang
banyak digunakan yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio. Menurut
Cooper & Pamela (2006: 8).

a. Skala Nominal
Dalam riset bisnis, data nominal banyak digunakan. Dengan
skala nominal, anda akan mengumpulkan informasi sebuah variabel
yang dapat dikelompokkan secara alami ataupun berdasarkan
rancangan ke dalam dua kategori atau lebih yang eksklusif dan
mendalam secara kolektif. Contohnya: laki – laki dan perempuan
untuk jenis kelamin.
Skala nominal adalah yang paling lemah di antara keempat
jenis data. Dalam skala ini tidak ada urutan atau hubungan jarak dan
tidak mempunyai asal mula aritmatika. Skala tersebut membuang
informasi yang mungkin dimiliki oleh sampel tentang tingkat variasi
sifat yang diukur. Oleh karena satu-satunya kuantifikasi adalah
hitungan bilangan dari kasus-kasus dalam setiap kategori (distribusi
frekuensi), periset dibatasi untuk menggunakan modus sebagai
ukuran kecenderungan terpusat. Modus adalah yang paling sering
muncul. Anda hanya dapat menyimpulkan kategori mana yang
mempunyai anggota paling banyak. Tidak ada ukuran dispersi
(penyebaran) yang digunakan untuk skala nominal. Melalui variabel
nominal tabulasi-silang dengan variabel lain, Anda dapat memulai
melihat pola data. Meskipun data nominal lemah secara statistik,
namun data tersebut masih berguna. Ukuran nominal secara khusus
berguna dalam penelitian penelitian eksplorasi yang bertujuan untuk

5
mengungkap huubungan daripada menemukan ketepatan
pengukuran.

b. Skala Ordinal
Skala ordinal mencakup karakteristik skala nominal ditambah
sebuah indikasi urutan. Data ordinal memerlukan pencocokan
dengan postulat logis, yang menyatakan: jika a lebih dari b dan b
lebih dari c, maka a lebih dari c. Penggunaan skala ordinal
mengakibatkan pernyataan “lebih dari”, “kurang dari”, (pernyataan
sama dengan juga dapat diterima) tanpa menyatakan seberapa besar
lebih atau kurangnya.
Pengembangan lain dari konsep ordinal muncul apabila
terdapat lebih dari satu sifat yang diamati. Misalnya, penilaian sistem
penggajian (kurang,baik,sangat baik). Oleh karena bilangan-bilangan
yang digunakan dalam skala ordinal hanya mempunyai makna
peringkat, maka ukuran yang tepat dari kecenderungan terpusat
adalah median (titik tengah dari sebuah distribusi).

c. Skala Interval
Skala interval lebih baik dibandingkan dengan data nominal
dan ordinal. Ditambah satu kelebihan tambahan yaitu: skala interval
menggabungkan konsep kesamaan interval. Waktu kalender
merupakan contoh skala interval. Contoh lain misalnya waktu antara
pukul 3 dan 6 sama dengan waktu antara pukul 4 dan 7.

d. Skala Rasio
Skala rasio menggabungkan semua kekuatan skala-skala
lainnya ditambah ketentuan untuk titik nol yang mutlak atau asal
mula. Data rasio mewakili jumlah aktual dari sebuah variabel.
Contohnya adalah ukuran dimensi fisik seperti berat, tinggi, jarak,
dan luas. Dalam riset bisnis, kita menemukan skala rasio dalam

6
banyak bidang, di antaranya adalah nilai uang, hitungan populasi,
jarak, tingkat produktivitas, dan jumlah waktu. Semua teknik
statistik yang telah disebutkan sebelumnya dapat digunakan untuk
skala rasio. Manipulasi lain yang melibatkan bilangan riil dapat
dilakukan dengan nilai skala rasio.

C. Sumber Perbedaan Pengukuran


Menurut Cooper & Pamela (2006: 14), Penelitian yang seharusnya
dirancang dan dikendalikan agar diperoleh pengukuran yang tepat dan
variabel-variabel tidak bersifat ambigu. Oleh karena itu tidak mungkin
untuk melakukan pengendalian secara penuh, maka eror akan muncul.
Terdapat empat sumber eror utama yang dapat mempengaruhi hasilnya (1)
responden, (2) situasi. (3) pengukuiran, dan (4) alat pengumpulan data.

a. Sumber Eror
a. Responden
Perbedaan pendapat yang mempengaruhi pengukuran
berasal dari karakteristik responden yang relatif stabil. Responden
mungkin enggan memperlihatkan perasaan negatif (atau positif)
yang kuat, yang mungkin diperkirakan akan memperlihatkan sikap
yang berbeda dibandingkan responden lainnya, atau mungkin
hanya mempunyai sedikit pengetahuan tentang hal ditanyakan
tetapi enggan untuk mengakui ketidaktahuannya. Keengganan
untuk mengakui ketidaktahuan tentang sebuah hal tersebut dapat
mengarah pada wawancara yang berisi “tebak-tebakan” atau
asumsi, yang pada gilirannya, akan menghasilkan data yang salah.
Responden mungkin juga mengalami faktor-faktor
sementara seperti kelelahan, kebosanan, kegelisahan, lapar,
ketidaksabaran, atau variasi umum perasaan atau gangguan lain;
hal itu akan membatasi kemampuannya memberi tanggapan secara
akurat dan lengkap.

7
b. Faktor Situasional
Kondisi apapun yang menempatkan ketegangan dalam
wawancara atau sesi pengukuran dapat memberikan dampak serius
terhadap hubungan pewawancara-responden. Wawancara di pinggir
jalan atau dengan cara mencegat sepertinya tidak akan
mendatangkan tanggapan yang serius dibandingkan wawancara
yang dilakukan di rumah.

c. Pengukur
Pewawancara dapat mengubah tanggapan dengan cara
menyusun kata-katanya kembali, menguraikan dengan kata-
katanya sendiri, atau mengurut ulang pertanyaan. Stereotip dalam
penampilan dan tindakan akan menghasilkan bias. Proses mekanis
yang tidak teliti (memeriksa tanggapan yang salah atau kegagalan
merekam semua jawaban) jelas akan mendistorsi temuan. Pada
tahap analisis data, penyandian yang salah, tabulasi yang tidak
teliti, dan perhitungan statistik yang keliru dapat mengakibatkan
eror yang lebih besar.

d. Instrumen
Instrumen yang tidak sempurna dapat mengakibatkan
distorsi dalam dua cara. Pertama, instrumen tersebut bisa terlalu
membingungkan dan bersifat ambigu. Penggunaan kata-kata dan
istilah yang rumit di luar pemahaman partisipan adalah kesalahan
tipikal. Pertanyaan-pertanyaan pancingan makna yang ambigu,
cacat mekanis (ruang yang tak mencukupi untuk menulis jawaban,
kelalaian pilihan-tanggapan, dan cetakan yang buruk), serta
pertanyaan ganda akan mendatangkan sejumlah masalah.
Kebanyakan masalah-masalah ini merupakan hasil langsung dari
definisi operasional yang tidak memadai, yang menyebabkan
pemilihan atau pengembangan skala yang tidak tepat.

8
Jenis Ketidaksempurnaan instrumen yang lebih sulit
dipahami adalah pilihan yang buruk dari seluruh isi pertanyaan.
Instrumen sendiri jarang menggali semua masalah penting yang
potensial.

D. Karakteristik Pengukuran Yang Baik


Menurut Cooper & Pamela (2006: 16), Karakteristik pengukuran
yang baik adalah bahwa alat tersebut seharusnya merupakan alat
penghitung yang akurat atau indikator bagi sesuatu yang menarik untuk
kita ukur. Selanjutnya, alat tersebut seharusnya dapat digunakan dengan
mudah dan efisien. Terdapat tiga kriteria utama untuk mengevaluasi
sebuah alat, yaitu: validitas, kehandalan, dan kepraktisan.

1. Validitas
Validitas merupakan tingkat di mana sebuah pengujian
mengukur apa yang benar-benar ingin diukur. Bentuk validitas ada
dua, yaitu validitas eskternal dan validitas internal. Validitas eksternal
dari hasil riset merupakan kemampuan data untuk digeneralisasi
terhadap orang-orang, tempat, dan waktu. Dalam pembahasan ini,
validitas internal dibatasi sebagai kemampuan instrumen riset untuk
mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur.

a. Validitas Isi
Validitas isi dari sebuah instrumen pengukuran merupakan
tingkat di mana instrumen tersebut memberikan cakupan yang
memadai dari pertanyaan-pertanyaan investigatif yang
mengarahkan penelitian. Jika instrumen mengandung sebah sampel
representatif dari seluruh pokok pembahasan, maka validitas isi
adalah baik.
Penentuan validitas ini melibatkan penilaian. Pertama,
perancang dapat menentukannya melalui definisi topik yang

9
cermat, item-item yang akan dibuat skalanya, dan skala-skala yang
akan digunakan. Kedua, adalah menggunakan sebuah panel yang
terdiri dari beberapa orang untuk menilai seberapa baik instrumen
memenuhi standar.

b. Validitas Kriteria-Terkait
Validitas kriteria-terkait mencerminkan keberhasilan
penggunaan pengukuran untuk prediksi atas estimasi. Anda
mungkin ingin memprediksi sebuah hasil atau memperkirakan
keberadaan perilaku saat ini atau perpektif waktu.
Periset harus yakin bahwa kriteria validitas yang digunakan
adalah “valid” untuk dirinya sendiri. Ukuran kriteria apapun harus
dinilai berdasarkan empat kualitas: (1) relevansi, (2) bebas dari
bias, (3) kehandalan, dan (4) ketersediaan).

c. Validitas Kontruk
Dalam upaya mengevaluasi validitas konstruk, kita
mempertimbangkan baik teori maupun instrumen pengukuran yang
digunakan. Jika kita tertarik untuk mengukur dampak kepercayaan
dalam tim lintas-fungsi, definisi “kepercayaan” secara operasional
seharusnya berhubungan dengan teori empiris. Jika tersedia sebuah
ukuran kepercayaan, maka kita dapat membuat korelasi hasil teori
empiris. Jika tersedia sebuah ukuran kepercayaan, maka kita dapat
membuat korelasi hasil yang diperoleh menggunakan ukuran ini
dengan ukuran yang didapatkan dari instrumen baru. Metode lain
untuk mengetahui validitas konstruk kepercayaan akan dapat
memisahkannya dari konstruk-konstruk lainnya dalam teori atau
teori terkait.

10
2. Kehandalan
Kehandalan berkaitan dengan akurasi dan presisi dari sebuah
prosedur pengukuran. Sebuah ukuran dinilai handal jika memberikan
hasil yang konsisten. Kehandalan merupakan pendukung penting bagi
validitas tetapi bukan syarat cukup untuk mendapatkan validitas.

a. Stabilitas
Sebuah ukuran dikatakan memiliki stabilitas jika kita dapat
menjamin hasil yang konsisten atas pengukuran yang dilakukan
berulang kali atas orang yang sama dengan instrument yang sama.
Beberapa kesulitan yang dapat muncul dalam metodologi uji-uji
ulang dan menyebabkan menurunnya bias dalam stabilitas
meliputi: (1) Jeda waktu di antara pengukuran, (2) Waktu yang tak
cukup di antara pengukuran, (3) Ketajaman respon terhadap tujuan
kajian yang disamarkan, (4) Kepekaan topik.

b. Ekuivalensi (Kesetaraan)
Ekuivalensi terkait dengan variasi pada satu titik di antara
pengobservasi dan sampel item dalam waktu yang sama. Cara yang
baik untuk menguju ekuivalensi pengukuran oleh pengobservasi
yang berbeda adalah dengan membandingkan skor yang mereka
buat (penilaian) atas kejadian yang sama. Masalah utama dalam
ekuivalensi biasanya bukan pada perbedaan tanggapan responden
dan item ke item tetapi seberapa baik sekumpulan item yang
diketahui dikelompokkansecara individual.

c. Konsistensi Internal
Pendekatan ketiga untuk mengukur kehandalan hanya
menggunakan satu pengaturan instrumen atau pengujian untuk
menilai konsistensi internal atau homogenitas di antara item-item.

11
3. Kepraktisan
Kepraktisan berkaitan dengan rentang yang luas dari faktor-
faktor ekonomi, kenyamanan dan kemudahan penafsiran. Kepraktisan
didefinisikan sebagai ekonomis, nyaman, dan dapat ditafsirkan.

a. Ekonomi
Suatu pertukaran biasanya terjadi antara proyek riset yang
ideal dan anggaran. Data yang diperoleh tidak gratis, dan panjang
instrumen merupakan salah satu hal yang membuat adanya tekanan
ekonomis.

b. Kenyamanan
Alat pengukuran dinilai lulus pengujian kenyamanan jika
alat tersebut mudah dijalankan. Dalam sebuah penelitian yang
disiapkan dengan baik, merupakan hal yang tidak umum ketika
instruksi pewawancara menjadi beberapa kali lebih panjang
daripada pertanyaan wawancara.

c. Dapat Ditafsirkan
Perancang instrumen pengumpulan data memberikan
beberapa kunci dari informasi agar memungkinkan untuk
melakukan penafsiran: (1) Penyataan fungsi-fungsi di mana
pengujian dirancang untuk mengukur dan dimana prosedur-
prosedur yang digunakan untuk mengembangkannya, (2) Instruksi-
instruksi yang rinci untuk administrasi, (3) Kunci-kunci dan
instruksi pembuatan skor, (4) Norma-norma untuk kelompok
refrensi yang tepat, (5) Bukti atas kehandalan, (6) Bukti yang
berkaitan dengan insterkorelasi sub-skor, (6) Bukti yang berkaitan
dengan hubungan antara pengujian dengan ukuran-ukuran lain, (7)
Petunjuk penggunaan pengujian.

12
E. Proses Pengukuran
Menurut Kuncoro (2013: 171), terdapat 6 proses dalam
pengukuran, yaitu:
1. Mengisolasi kejadian Empiris
2. Mengembangkan konsep kepentingan
3. Mendefinisikan konsep secara konstitutif
4. Mengembangkan skala pengukuran
5. Mengevaluasi skala berdasarkan reliabilitas dan validitasnya
6. Penggunaan skala

2.2 Skala Pengukuran


A. Sifat Sikap
Sebuah Sikap adalah sesuatu yang dapat diamati mengenai
kecenderungan yang stabil untuk bereaksi pada diri sendiri, orang lain,
obyek-obyek, atau masalah dengan cara yang menyenangkan secara
komitmen (Cooper & Pamela, 2006: 30).

1. Hubungan Antar Sikap dan Perilaku

Hubungan sikap – perilaku bukan merupakan hubungan


langsung, meskipun mungkin saja terdapat kaitan yang erat diantara
keduanya. Sikap dan perilaku tidak selalu mengarah pada perilaku
aktual. Meskipun sikap serta perilaku diharapkan konsisten satu sama
lainnya, namun kejadiannya tidak selalu demikian. Lebih dari itu,
perilaku dapat mempengaruhi sikap.

2. Pengambilan Skala Sikap

Pengambilan skala sikap merupakan proses penilaian


kecenderungan sikap menggunakan sebuah bilangan yang mewakili
skor seseorang dalam rangkaian sikap, dari sangat menyenangkan
hingga sangat tidak menyenangkan. Pengambilan skala merupakan
“Prosedur penetapan bilangan (atau simbol lain) terhadap sifat obyek

13
dalam rangka memberikan karakteristik bilangan bagi sifat-sifat yang
diamati”

B. Memilih Skala Pengukuran


Memilih dan membangun sebuah skala pengukuran harus
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kehandalan,
keabsahan, dan kepraktisan skala:

 Tujuan riset
 Jenis tanggapan
 Sifat-sifat data
 Banyaknya Dimensi
 Seimbang atau tak seimbang
 Pilihan terpaksa atau pilihan bebas
 Banyaknya titik skala
 Eror penilai

1. Tujuan periset

Tujuan periset melakukan kajian terlalu banyak untuk dibuat


dalam sebuah daftar (termasuk diantaranya adalah, kajian sikap,
perubahan sikap, persuasi, kepedulian, maksud pembelian, pemahaman
dan tindakan, pembelian aktual dan berulang). Namun, ada dua tujuan
umum pengambilan skala:

 Untuk mengukur karakteristik partisipan yang berpartisipasi


dalam kajian.
 Untuk menggunakan partisipan sebagai juri atas obyek-obyek
atau indikasi yang diberikan kepada mereka.

14
2. Jenis Tanggapan

Skala pengukuran dibagi menjadi empat jenis umum: rating


(penilaian), rangking (pemeringkatan), kategorisasi, dan sorting
(penyortiran). Skala rating digunakan ketika partisipan memberi skor
sebuah obyek atau indikasi tanpa melakukan perbandingan langsung
dengan obyek atau sikap lain. Skala rangking meminta partisipan
untuk membuat perbandingan dan menentukan urutan diantara dua
atau lebih sifat atau obyek (atau indikasinya). Kategorisasi meminta
partisipan untuk menempatkan diri mereka sendiri atau indikasi sifat
kedalam kelompok-kelompok atau kategori-kategori. Penyortiran
(sorting) meminta partisipan memilah kartu-kartu (mewakili konsep
atau konstruk) kedalam tumpukan menggunakan kriteria yang
ditetapkan oleh periset.

3. Sifat – Sifat Data

Keputusan-keputusan pemilihan skala pengukuran seringkali


dibuat dengan memperhatikan sifat-sifat data yang dibentuk oleh
masing-masing skala. Skala diklasifikasikan berdasar peningkatan
kemampuan skala: skala-skala tersebut adalah nominal, ordinal,
interval, atau rasio.

4. Banyaknya Dimensi

Skala pengukuran selain berdimensi tunggal, juga


multidimensi. Dalam skala dimensi tunggal, dicari satu dimensi untuk
mengumpul sebuah atribut dari partisipan atau obyek. Dalam skala
multidimensi sebuah obyek bisa digambarkan dengan lebih baik jika
menggunakan beberapa dimensi dibandingkan dimensi tunggal.

5. Seimbang atau Tak Seimbang

Skala rating seimbang mempunyai jumlah kategori yang sama


diatas dan dibawah titik tengah. Secara umum, skala rating seharusnya

15
seimbang, yaitu memiliki jumlah tanggapan yang menyenangkan dan
tak menyenangkan yang sama banyak. Skala rating tak seimbang
mempunyai jumlah tanggapan menyenangkan dan tidak
menyenangkan yang tidak sama banyak.

6. Pilihan Terpaksa atau Pilihan Bebas

Skala rating pilihan bebas memungkinkan partisipan untuk


tidak berpendapat apabila mereka tidak mampu membuat sebuah
pilihan diantara alternatif yang ditawarkan. Skala rating pilihan
terpakasa mengharuskan partisipan memilih satu dari alternatif-
alternatif yang ditawarkan.

7. Jumlah Titik Skala

Sebuah skala harus sesuai dengan tujuannya. Agar sebuah skala


berguna, maka skala tersebut harus sesuai dengan stimulus yang ada
dan dapat menyaring informasi yang proporsional dengan
kompleksitas obyek sikap, konsep, atau konstruk.

8. Eror Penilai

Nilai skala rating bergantung pada asumsi bahwa seseorang


dapat dan akan membuat penilaian yang baik. Sebelum menerima
rating partisipan, kita harus mempertimbangkan kemungkinan mereka
untuk membuat eror kecenderungan terpusat (error of central
tendency) dan efek halo. Beberapa penilai enggan memberikan
penilaian ekstrem, dan hal lain menyebabkan timbulnya eror
kecenderungan terpusat. Disamping itu, partisipan juga bisa menjadi
“penilai mudah” atau “penilai sulit”, yang menyebabkan timbulnya
eror kelonggaran (error of leniency).

16
C. Skala Rating
(Menurut Cooper & Pamela (2006: 39), Skala rating mempunyai
beberapa kegunaan, fitur desain, dan persyaratan. Skala kategori
sederhana memberikan dua pilihan tanggapan yang harus dipilih salah
satunya. Skala pilihan ganda, tanggapan tunggal, memberi penilai
beberapa pilihan, termasuk pilihan alternatif “lainnya.” Skala pilihan-
ganda, tanggapan ganda (juga disebut daftar periksa) memungkinkan
penilai memilih satu atau beberapa alternatif, sehingga memberikan fitur
kumulatif.

1. Skala Likert

Skala Likert terdiri dari serangkaian pernyataan, dan partisipan


diminta menyetujui atau tidak menyetujui setiap pernyataan. Skala ini
memungkinkan penjumlahan atas tanggapan meskipun penjumlahan
tersebut tidak perlu dilakukan dan dalam beberapa hal tidak ingin
dilakukan.

2. Skala Diferensial Semantik

Skala diferensial semantik (SD) mengukur makna psikologis


dari sebuah obyek sikap. Periset menggunakan skala ini untuk menilai
merek dan citra perusahaan. Metode ini terdiri dari sejumlah skala
rating bipolar, biasanya dengan 7 titik, dimana satu partisipan atau
lebih menilai satu konsep atau lebih dalam masing-masing skala.
Skala Stapel digunakan sebagai alternatif deferensial semantik,
terutama ketika sulit menemukan kata-kata sifat bikolar yang sesuai
dengan pernyataan investigatif. Partisipan memilih sebuah bilangan
positif bagi karakteristik yang menggambarkan obyek sikap. Rentan
rating dari +5 hingga -5, dimana partisipan memilih sebuah bilangan
yang menggambarkan obyek dengan sangat akurat hingga yang sangat
tidak akurat.

17
3. Skala Daftar Rating Numerik/Ganda

Skala numerik mempunyai interval yang sama yang


memisahkan titik-titik skala numeriknya. Jangkar verbal (verbal
anchors) digunakan sebagai label untuk titik-titik ekstrem. Skala
numerik sering kali merupakan skala 5-titik tetapi mungkin saja
mempunyai 7 atau 10 titik. Skala rating daftar ganda serupa dengan
skala numerik tetapi menerima tanggapan melingkar (circled
response) dari penilai, dan tata letaknya memungkinkan visualisasi
hasil-hasilnya.

4. Skala Stapel

Skalas stapel digunakan sebagai alternatif diferensial semantik,


apabila sulit menemukan kata-kata sifat bipolar yang sesuai dengan
pertanyaan investigatif.

5. Skala Jumlah-Konstan

Skala yang membantu periset menemukan proporsi tanggapan


adalah skala jumlah konstan. Partisipan mendistribusikan nilai 100
diantara kategori-kategori, paling banyak 10 kategori. Skala rating
grafik pada awalnya diciptakan agar periset bisa menemukan
perbedaan dengan baik. Penilai memberi tanda silang disepanjang
rangkaian tidak terputus. Skala rating grafik lainnya menggunakan
gambar-gambar, ikon, atau visual lain untuk berkomunikasi dengan
anak-anak atau mereka yang memiliki keterbatasan perbendaharaan
kata sehingga penggunaan skala yang dipandi dengan kata-kata dapat
dihindari.

D. Skala Ranking
(Menurut Cooper & Pamela (2006: 49), Skala rangking
memungkinkan partisipan membandingkan dua obyek atau lebih dan
membuat pilihan diantara obyek-obyek tersebut. Seringkali partisipan

18
diminta memilih salah satu sebagai “yang terbaik” atau “yang paling
disukai”. Apabila hanya terdapat dua pilihan, seperti pada skala
perbandingan pasangan, partisipan dapat mengekspresikan sikap tidak
mendua dengan memilih salah satu diantara kedua obyek tersebut.
Skala rangking terpaksa mendaftar atribut yang diperingkatkan relatif
terhadap yang lain. Metode ini lebih cepat daripada perbandingan
pasangan dan lebih mudah digunakan. Seringkali periset tertarik
dengan standarisasi. Hal ini memerlukan sebuah standar dimana
program pelatihan, proses, merek, tempat pembelian eceran, atau
orang-orang dapat diperbandingkan. Skala komparatif tepat untuk
perbandingan seperti itu jika partisipan mengenal baik standar
tersebut.

E. Penyortiran
(Menurut Cooper & Pamela (2006: 53), Q-sort merupakan
sebuah bentuk pengambilan skala yang memerlukan penyortiran
serangkaian kartu menjadi tumpukan-tumpukan yang mewakili titik-
titik disepanjang garis tidak terputus. Tujuan penyortiran adalah untuk
mendapatkan representasi konseptual dari sikap penyortir terhadap
obyek sikap dan membandingkan hubungan diantara orang-orang.
Jika diketahui skor total seseorang, adalah mungkin untuk
memperkirakan item-item mana yang dijawab secara positif dan
negatif dalam skala kumulatif. Pelopor skala kumulatif adalah
skalogram, yaitu sebuah prosedur untuk menentukan apakah item-
item membentuk sebuah skala dimensi tunggal.

19
BAB III

KESIMPULAN

Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa:

pengukuran merupakan sebuah proses yang mencakup tiga bagian, yaitu:


1) Memilih empiris yang dapat diamati.
2) Mengembangkan serangkaian aturan pemetaan: sebuah skema untuk
menetapkan bilangan – bilangan atau simbol – simbol yang mewakili aspek
– aspek kejadian yang akan diukur.
3) Menerapkan aturan pemetaan untuk setiap observasi dari kejadian tersebut.

Aturan pemetaan mempunyai empat karakteristik, yaitu:


1) Klasifikasi
2) Urutan
3) Jarak
4) Asal mula

Terdapat empat sumber eror utama yang dapat mempengaruhi penelitian


(1) responden
(2) situasi
(3) pengukuiran
(4) alat pengumpulan data

Terdapat tiga kriteria utama untuk mengevaluasi pengukuran yang baik, yaitu:
1. Validitas
2. Kehandalan
3. Kepraktisan.

terdapat 6 proses dalam pengukuran, yaitu:


1. Mengisolasi kejadian Empiris

20
2. Mengembangkan konsep kepentingan
3. Mendefinisikan konsep secara konstitutif
4. Mengembangkan skala pengukuran
5. Mengevaluasi skala berdasarkan reliabilitas dan validitasnya
6. Penggunaan skala

Faktor-faktor yang mempengaruhi kehandalan, keabsahan, dan kepraktisan skala


yaitu:

 Tujuan riset
 Jenis tanggapan
 Sifat-sifat data
 Banyaknya Dimensi
 Seimbang atau tak seimbang
 Pilihan terpaksa atau pilihan bebas
 Banyaknya titik skala
 Eror penilai

Jenis jenis skala Rating yaitu:

1. Skala Likert
2. Skala Diferensial Semantik
3. Skala Daftar Rating Numerik/Ganda
4. Skala Stapel
5. Skala Jumlah-Konstan

21
DAFTAR PUSTAKA
Cooper, Domald R., Pamela S. Schindler. 2006. Metode Riset Bisnis, Volume 2,
Jakarta: PT Media Global Edukasi
Kuncoro, Mudrajad. 2013. Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi: Edisi 4,
Jakarta: Erlangga

22