Anda di halaman 1dari 2

Drug Related Problem (DRP) atau masalah terkait obat didefinisikan sebagai suatu

peristiwa atau keadaan yang memungkinkan atau berpotensi menimbulkan masalah


pada hasil pengobatan yang diberikan. Farmasi klinis memiliki peran aktif dalam
penyelesaian masalah terkait obat seperti resep yang tidak tepat secara
klinis, interaksi obat-obat yang relevan, ketidakpatuhan pasien dalam minum obat,
dosis subterapi, dan overdosis dengan memulai perubahan dalam terapi obat
melalui pelayanan klinis kefarmasian (Kumar et al, 2012)
Drug Related Problems (DRPs) merupakan bagian dari suatu medication error yang dihadapi hampir
semua negara di dunia (Cipolle et al., 1998). Identifikasi, pencegahan dan pemecahan terhadap
timbulnya DRPs merupakan aktivitas utama dalam pharmaceutical care. DRPs merupakan suatu
masalah yang timbul dalam penggunaan obat atau terapi obat yang secara potensial maupun aktual
dapat mempengaruhi outcome terapi pasien, meningkatkan biaya perawatan serta dapat
menghambat tercapainya tujuan terapi (Van Mill et al., 2004). DRPs terdiri dari tujuh kategori, empat
kategori diantaranya adalah ketidaktepatan pemilihan obat, dosis kurang, dosis lebih dan interaksi
obat. Ketidaktepatan pemilihan obat dapat menyebabkan obat tidak efektif, menimbulkan toksisitas
atau efek samping obat, dan membengkakan biaya pengobatan. Faktor pendukung yang
menyebabkan pasien menerima dosis lebih atau kurang, antara lain ialah obat diresepkan dengan
metode fixed-model (hanya merujuk pada dosis lazim) tanpa mempertimbangkan lebih lanjut usia,
berat badan, jenis kelamin dan kondisi penyakit pasien sehingga terjadi kesalahan pada peresepan,
adanya asumsi dari tenaga kesehatan yang lebih menekankan keamanan obat dan meminimalisir
efek toksik sampai mengorbankan sisi efektivitas terapi (Strand, 1998). Interaksi obat merupakan
salah satu kesalahan pengobatan yang paling banyak dilakukan. Namun, terjadinya kesalahan atau
kegagalan pengobatan karena interaksi obat jarang diungkapkan. Padahal kemungkinan interaksi
obat ini cukup besar terutama pada pasien yang mengkonsumsi lebih dari 5 macam obat secara
bersamaan (Sinaga, 2004).
Munculnya DRPs dapat dipicu dengan semakin meningkatnya jenis dan jumlah obat yang dikonsumsi
pasien untuk mengatasi berbagai penyakit yang diderita, seperti pada beberapa penyakit kronik
(Rakhmawati et al., 2007). Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) salah satu penyakit kronik yang
banyak diderita adalah asma, dilaporkan 300 juta orang menderita asma dan 255.000 pasien
meninggal karena asma pada tahun 2005 dan 80% terjadi di negara berkembang (Depkes, 2008).

Komponen primer dari Drug Related Problems: a. Pasien mengalami keadaan yang tidak
dikehendaki. Pasien mengalami keluhan medis, gejala, diagnosa penyakit kerusakan, cacat atau
sindrom dan dapat mengakibatkan gangguan psikologis, fisiologis, sosial, bahkan kondisi ekonomi. b.
Ada hubungan antara keadaan yang tidak dikehendaki dengan terapi obat. Sifat hubungan ini
tergantung akan kekhususan Drug Related Problems (DRPs). Hubungan yang biasanya terjadi antara
keadaan yang tidak dikehendaki dengan terapi obat adalah kejadiaan itu akibat dari terapi obat atau
kejadian itu membutuhkan terapi obat ( Cipolle et al., 1998).

Drug Related Problems (DRPs) terdiri dari DRPs aktual dan DRPs potensial. DRPs aktual adalah
problem yang sedang terjadi berkaitan dengan terapi obat yang sedang diberikan pada pasien. DRPs
potensial adalah problem yang diperkirakan akan terjadi yang berkaitan dengan terapi obat yang
sedang digunakan oleh pasien (Yunita et al., 2004). Kategori umum Drug Related Problems (DRPs) :
a. Membutuhkan obat tambahan. Penyebabnya yaitu pasien membutuhkan obat tambahan
misalnya untuk profilaksis atau pramedikasi, memiliki penyakit kronik yang memerlukan pengobatan
kontinu, memerlukan terapi kombinasi untuk menghasilkan efek sinergis atau potensiasi dan atau
ada kondisi kesehatan baru yang memerlukan terapi obat.
b. Menerima obat tanpa indikasi yang sesuai atau tidak perlu obat
Hal ini dapat terjadi sebagai berikut : menggunakan obat tanpa indikasi yang tepat, dapat membaik
kondisinya dengan terapi non obat, minum beberapa obat padahal hanya satu terapi obat yang
diindikasikan atau minum obat untuk mengobati efek samping. c. Menerima obat yang salah. Kasus
yang mungkin terjadi adalah : obat tidak efektif, ketidaktepatan pemilihan obat, alergi, adanya resiko
kontraindikasi, resisten terhadap obat yang diberikan, kombinasi obat yang tidak perlu dan atau
obat bukan yang paling aman.

d. Dosis terlalu besar. Beberapa penyebabnya adalah dosis salah, frekuensi tidak tepat, dan jangka
waktu tidak tepat. e. Dosis terlalu kecil. Penyebabnya antara lain : dosis terlalu kecil untuk
menghasilkan respon yang diinginkan, jangka waktu terlalu pendek, pemilihan obat, dosis, rute
pemberian, dan sediaan yang tidak tepat. f. Pasien mengalami adverse drug reactions. Penyebab
umum untuk kategori ini : pasien menerima obat yang tidak aman, pemakaian obat tidak tepat,
interaksi dengan obat lain, dosis dinaikkan atau diturunkan terlalu cepat sehingga menyebabkan
adverse drug reaction dan atau pasien mengalami efek yang tak dikehendaki yang
tidak diprediksi. g. Pasien mengalami kondisi keadaan yang tidak diinginkan akibat tidak minum obat
secara benar (non compliance). Beberapa penyebabnya adalah : obat yang dibutuhkan tidak ada,
pasien tidak mampu membeli, pasien tidak memahami instruksi, pasien memilih untuk tidak mau
minum obat karena alasan pribadi dan atau pasien lupa minum obat (Cipolle et al., 1998). Identifikasi
dan pemecahan masalah pada Drug Related Problems (DRPs) tergantung pada beberapa faktor.
Faktor pertama adalah adanya semua data esensial dan farmasis bertugas menentukan data apa
yang dibutuhkan (Cipolle et al., 1998).

Tn MB 45th, MRS dengan keluhan mual, muntah 3 hari berturut-turut. Mengaku memiliki riwayat
DM 7 tahun dan sudah mendapat insulin Humulin N 14 U malam hari sejak 1 bulan lalu. Pasien
mengaku malas suntik karena sakit sejak 5 hari lalu. Hasil observasi perawat temperatur 37,8oC, TD
135/80mmHg, Nadi 82x/menit. RR 18x/menit. Hasil Lab GDA 480mg/dl, HbA1C 8,2%, WBC
8000/mm3, Na 129 meq/L, K 3,1 meq/L. Dokter mendiagnosa pre-KAD
Subyektif • Mual, muntah 3hr, • RP:DM 7tahun • RO:Humulin N 0-0-14 U sejak 1 bulan lalu, malas
suntik sejak 5 hari lalu.
Obyektif TTV: Temp. 37,8oC, Lab: GDA 480mg/dl, HbA1C 8,2%, K 3,1 meq/L.
Asesmen • Hasil asesmen yang ditulis adalah berupa DRP. • Proses asesmen/analisis hingga
menghasilkan DRP tidak perlu dinyatakan dalam rekam medik. • Bahasa penulisan DRP sebaiknya
tidak bersifat kaku tetapi lebih menerangkan problem terkait obat yang akan kita sampaikan,
sehingga bisa dinyatakan dalam bentuk kalimat. • Bahasa penulisan DRP tidak harus mengikuti
kategori DRP yang tercantum dalam berbagai literatur farmasi klinik (PCNE, dll). • Bahasa penulisan
DRP harus non-judgmental • Hindari kata : salah, tidak tepat, error, • Rekomendasi sebaiknya
diawali dengan kata disarankan
Asesmen  The therapeutic appropriateness of the patient’s drug regimen, including the route and
method of administration.  Therapeutic duplication in the patient’s drug regimen.  The degree of
patient compliance with the prescribed drug regimen.  Actual and potential drug–drug, drug–food,
drug– laboratory test, and drug–disease interactions.  Clinical and pharmacokinetic laboratory data
pertinent to the drug regimen.  Actual and potential drug toxicity and adverse effects.