Anda di halaman 1dari 13

PERIKATAN

Kelompok 5 :

Ayu Sartika (1601025052) Marisca Tirza (1601025072)

Dedy D (1301035445) Rinto Ade Rombe (1601025150)

Devi Mu’tazilah (1601025230) Rio Rahman (1601025204)

Dori karnoval J.E (1601025233) Safitri Surya Reski (1601025051)

Fajar Huzairi (1601025068) Siti Sarah (1601025060)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Prodi Manajemen

UniversitasMulawarman

1
2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Marilah kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang telah
melimpahkan Rahmat dan karuniaNYA kepada kita semua, sehingga melalui proses yang
begitu singkat dan kerjasama yang baik, tugas makalah “Hukum Bisnis“ ini dapat
diselesaikan.
Makalah ini dibuat dengan maksud untuk menyelesaikan tugas Hukum Bisnis yang
berjudul “Perikatan”, disamping itu makalah ini juga memberikan manfaat pengetahuan
kepada kita semua tentang Perbedaan perikatan dan perjanjian.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing mata kuliah hukum
bisnis yang telah memberikan bimbingan, dan semua pihak yang telah membantu, sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Kami menyadari bahwa makalah yang disusun ini masih kurang sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semuanya yang sifatnya membangun
sehingga untuk masa yang akan datang bisa lebih jelas dan lebih bagus.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah mendukung,
membantu dan bekerja sama dalam penyusunan makalah (artikel) ini.

Samarinda, 18 Februari 2017

Penulis,
Kelompok 7

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………

DAFTAR ISI………………………………………………...................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………….…...............................

1.2 Rumusan Masalah……………………………….….............................

1.3 Tujuan………………………………………………….………………

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perikatan .....…………………………………………………

2.2 Bentuk-Bentuk Perikatan……………………………………………..…

2.3 Perbedaan Perikatan Dan Perjanjian……………………………………

2.4 Studi Kasus ……………………………………………………………

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan………………………………………….…...…………….

3.2 Saran…………………………………………………..………………

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang

Perikatan adalah suatu hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua
orang atau lebih di mana pihak yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban
atas sesuatu. Hubungan hukum dalam harta kekayaan ini merupakan suatu akibat hukum,
akibat hukum dari suatu perjanjian atau peristiwa hukum lain yang menimbulkan
perikatan.

Suatu persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di
dalamnya melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifatnya persetujuan dituntut
berdasarkan keadilan, kebiasaan atau undang-undang. Syarat-syarat yang selalu
diperjanjikan menurut kebiasaan, harus dianggap telah termasuk dalam suatu persetujuan,
walaupun tidak dengan tegas dimasukkan di dalamnya.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebgai berikut :
1. Apa definisi perikatan?
2. Apa saja bentuk-bentuk dari perikatan ?
3. Apa perbedaan antara perikatan dan perjanjian ?

1.3 Tujuan Makalah


Berdasarkan dari rumusan masalah, didapatkan tujuan pembuatan makalah ini yaitu
sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi dari perikatan
2. Mengetahui bentuk-bentuk dari perikatan
3. Mengetahui perbedaan perikatan dan perjanjian

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perikatan
Hukum perikatan adalah suatu hubungan hukum yang dilakukan oleh dua subyek
hukum atau lebih, dimana kedua belah pihak saling mengikatkan diri untuk memberikan
prestasinya dalam hal ini berwujud hak dan kewajiban masing-masing.
Adapun sumber-sumber perikatan berasal dari :
1. Perjanjian
Perikatan yang timbul akibat adanya perjanjian jual beli, sewa-menyewa, tukar-
menukar, persekutuan, dan lain-lain.
2. Undang-undang
Perikatan yang timbul dari Undang-undang ada 2 macam, yaitu :
a. Perbuatan yang khusus karena Undang-undang
Misalnya : hubungan yang mengatur kedudukan antara orang tua dengan anak
b. Perbuatan yang khusus dari tindakan orang lain
Misalnya : perjanjian perkawinan, perjanjian jual-beli, dan lain-lain.
3. Hubungan moral / lain-lain
Perikatan yang berhubungan dengan moral pada umumnya terjadi karena adanya
pemberian atau balas jasa.
Misalnya : hubungan seseorang dengan tokoh-tokoh ulama, hubungan murid dengan
guru, dan lain-lain.

2.2 Bentuk-bentuk Perikatan

Bentuk-bentuk perikatan ada 9 macam, yaitu:

1. Perikatan Timbal Balik


Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya dilakukan secara timbal balik, artinya
masing-masing pihak saling memberikan prestasinya
2. Perikatan Sepihak
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya hanya dilakukan sepihak, artinya pihak
yang satu tidak mengharapkan imbalan dari pihak lain.

5
3. Perikatan Sederhana
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya amat mudah dan tidak berbelit-belit.

4. Perikatan Bersyarat
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya dengan cara-cara tertentu atau jika ada
suatu peristiwa tertentu.
5. Perikatan Penetapan Waktu
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya ditentukan oleh jangka waktu tertentu
6. Perikatan Tanggung Menanggung
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya berhubungan dengan hak dan kewajiban
masing-masing
7. Perikatan yang tidak dapat dibagi-bagi
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya dengan benda yang tidak dapat dibagi-
bagi
8. Perikatan dengan ancaman hukum
Perikatan ini cara pemenuhan prestasinya dengan ancaman hukuman jika salah atu
pihak melakukan pelanggaran
9. Perikatan manasuka
Perikanan ini cara pemenuhan prestasinya dengan memilih salah satu dari
beberapa alternatif yang tersedia

Suatu perikatan dapat terhapus jika masing-masing pihak telah memenuhi prestasinya,
sedang prestasi tersebut dapat berupa penyerahan barang dan jasa, perbuatan, dan bentuk-
bentuk lainnya.

Cara memperbarui perikatan

1. Bersifat obyektif
Dalam cara ini pembaruan perikatan dilakukan dengan mengganti obyeknya.
Misalnya : barang yang menjadi jaminannya atau barang-barang lainnya namun
penggantian obyek itu atau nilai barangnya harus seimbang atau mendekat sama, lebih
besar, atau lebih kecil.
2. Bersifat subyektif aktif
Dalam cara ini pembaruan perikatan dilakukan dengan mengganti subyek yang aktif.
Misalnya orang, lembaga dan kreditur (A, B dan C). Perikatan ini subyeknya dapat

6
diganti jika subyek yang pertama menyatakan ketidaksanggupan atau berhalangan
sehingga diperlukan penggantian, namun harus ada kesepakatan terlebih dahulu
dengan kliennya.
3. Bersifat subyektif pasif
Dalam cara ini pembaruan perikatan dilakukan dengan mengganti debiturnya,
orangnya, atau lembaganya. Misalnya : X, Y, atau Z. Debitur (klien) juga dapat
diganti jika berhalangan atau menyatakan ketidaksanggupan, namun harus terdapat
alasan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak misalnya antara debitur dan
kreditur.

2.3 Perbedaan perikatan dan perjanjian

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau
dimana dua oang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal sedangkan Perikatan
adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak
yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak lain, dan pihak yg lain berkewajiban untuk
memenuhi tuntuan itu.

7
KASUS SURABAYA DELTA PLAZA
:Sewa - Menyewa Ruangan :

A. Kronologis Kasus
Pada permulaan PT Surabaya Delta Plaza (PT SDP) dibuka dan disewakan untuk
pertokoan, pihak pengelola merasa kesulitan untuk memasarkannya. Salah satu cara untuk
memasarkannya adalah secara persuasif mengajak para pedagang meramaikan komplek
pertokoan di pusat kota Surabaya itu. Salah seorang diantara pedagang yang menerima
ajakan PT surabaya Delta Plaza adalah Tarmin Kusno, yang tinggal di Sunter-Jakarta.
Tarmin memanfaatkan ruangan seluas 888,71 M2 Lantai III itu untuk menjual
perabotan rumah tangga dengan nama Combi Furniture. Empat bulan berlalu Tarmin
menempati ruangan itu, pengelola SDP mengajak Tarmin membuat “Perjanjian Sewa
Menyewa” dihadapan Notaris. Dua belah pihak bersepakat mengenai penggunaan ruangan,
harga sewa, Service Charge, sanksi dan segala hal yang bersangkut paut dengan sewa
menyewa ruangan. Tarmin bersedia membayar semua kewajibannya pada PT SDP, tiap
bulan terhitung sejak Mei 1988 s/d 30 April 1998 paling lambat pembayaran disetorkan
tanggal 10 dan denda 2 0/00 (dua permil) perhari untuk kelambatan pembayaran.
Kesepakatan antara pengelola PT SDP dengan Tarmin dilakukan dalam Akte Notaris
Stefanus Sindhunatha No. 40 Tanggal 8/8/1988.
Tetapi perjanjian antara keduanya agaknya hanya tinggal perjanjian. Kewajiban
Tarmin ternyata tidak pernah dipenuhi, Tarmin menganggap kesepakatan itu sekedar
formalitas, sehingga tagihan demi tagihan pengelola SDP tidak pernah dipedulikannya.
Bahkan menurutnya, Akte No. 40 tersebut, tidak berlaku karena pihak SDP telah
membatalkan “Gentlement agreement” dan kesempatan yang diberikan untuk menunda
pembayaran. Hanya sewa ruangan, menurut Tarmin akan dibicarakan kembali di akhir tahun
1991. Namun pengelola SDP berpendapat sebaliknya. Akte No. 40 tetap berlaku dan harga
sewa ruangan tetap seperti yang tercantum pada Akta tersebut.

Hingga 10 Maret 1991, Tarmin seharusnya membayar US$311.048,50 dan Rp.


12.406.279,44 kepada PT SDP. Meski kian hari jumlah uang yang harus dibayarkan untuk
ruangan yang ditempatinya terus bertambah, Tarmin tetap berkeras untuk tidak
membayarnya. Pengelola SDP, yang mengajak Tarmin meramaikan pertokoan itu.
Pihak pengelola SDP menutup COMBI Furniture secara paksa. Selain itu, pengelola
SDP menggugat Tarmin di Pengadilan Negeri Surabaya.

8
B. Konsep Hukum Perdata Tentang Perikatan (Perjanjian)
1. Macam-macam Perikatan
Berdasarkan KHU Perdata, macam-macam perikatan diuraikan sebagai berikut :
a. Perikatan Bersyarat
Suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian dikemudian hari yang masih
belum tentu akan atau tidak terjadi. Sehingga perjanjian seperti ini akan terjadi jika syarat-
syarat yang ditentukan itu terjadi.
b. Perikatan dengan ketetapan waktu
Suatu perikatan yang pelaksanaannya ditangguhkan sampai pada waktu yang ditentukan.
Sehingga segala kewajiban oleh pihak yang terikat tidak dapat ditagih sebelum waktu yang
diperjanjikan itu tiba.
c. Perikatan Alternatif
Suatu perikatan yang mana debitor dalam memenuhi kewajibannyadapat memilih salah
satu diantara yang telah ditentukan.

d. Perikatan Tanggung-menanggung
Dimana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan
satu orang yang menghutangkan atau sebaliknya.
e. Perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
Suatu perikatan dimana setiap debitor hanya bertanggungjawab sebesar bagiannya
terhadap pemenuhan prestasinya.
f. Perikatan dengan ancaman hukuman
Suatu perikatan dimana seseorang untuk jaminan pelaksanaan diwajibkan melakukan
sesuatu jika perikatan itu tidak dipenuhi.

2. Berakhirnya Perikatan
Undang-undang menyebutkan ada sepuluh macam cara terhapusnya perikatan, yaitu
antara lain :
Karena pembayaran, pembaharuan hutang, penawaran pembayaran tunai, diikuti oleh
penitipan, kompensasi atau perjumpaan hutang, percampuran hutang, pembebasan hutang,
hapusnya barang yang dimaksudkan dalam perjanjian, pembatalan perjanjian, akibat
berlakunya syarat pembatalan dan sudah lewat waktu.
3. Sistem pengaturan hukum perikatan

9
Sistem pengaturan hukum perikatan adalah bersifat terbuka, artinya bahwa setiap
orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur
dalam UU. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam pasal 1338 ayat 1
yang berbunyi “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya”. Dari ketentuan pasal ini memberikan kebebasan kepada
para pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan
siapapun, menemukan isi perjanjian dan bebas menetukan bentuk perjanjian baik tertulis
maupun tidak tertulis.
Dalam menentukan suatu perikatan, maka tidak boleh melakukan perbuatan yang
melawan hukum. Sebagaimana dalam H.R. 1919 yang mengartikan perbuatan melawan
hukum sebagai berikut :
a. Melanggar hak orang lain
b. Bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku yang dirumuskan dalam UU
c. Bertentangan dengan kesusilaan
d. Bertentangan dengan kecermatan yang harus diindahkan dalam masyarakat,
aturan kecermatan ini menyangkut aturan-aturan yang mencegah orang lain
terjerumus dalam bahaya dan aturan-aturan yang melarang merugikan orang lain
ketika hendak menyelenggarakan kepentinagn sendiri.

C. Analisis kasus
Setelah pihak PT Surabaya Delta Plaza (PT SDP) mengajak Tarmin Kusno untuk
meramaikan sekaligus berjualan di komplek pertokoan di pusat kota Surabaya, maka secara
tidak langsung PT Surabaya Delta Plaza (PT SDP) telah melaksanakan kerjasama kontrak
dengan Tarmin Kusno yang dibuktikan dengan membuat perjanjian sewa-menyewa di depan
Notaris. Maka berdasarkan pasal 1338 BW yang menjelaskan bahwa “Suatu perjanjian yang
dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” sehingga
dengan adanya perjanjian/ikatan kontrak tersebut maka pihak PT SDP dan Tarmin Kusno
mempunyai keterikatan untuk memberikan atau berbuat sesuatu sesuai dengan isi perjanjian.
Perjanjian tersebut tidak boleh dilangggar oleh kedua belah pihak, karena perjanjian yang
telah dilakukan oleh PT SDP dan Tarmin Kusno tersebut dianggap sudah memenuhi syarat,
sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 1320 BW. Untuk sahnya suatu perjanjian
diperlukan empat syarat :
a) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

10
b) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c) Suatu hal tertentu;
d) Suatu sebab yang halal.
Perjanjian diatas bisa dikatakan sudah adanta kesepakatan, karena pihak PT SDP dan
Tarmin Kusno dengan rela tanpa ada paksaan menandatangani isi perjanjian Sewa-menyewa
yang diajukan oleh pihak PT SDP yang dibuktikan dihadapan Notaris.
Namun pada kenyataannya, Tarmin Kusno tidak pernah memenuhi kewajibannya
untuk membayar semua kewajibannya kepada PT SDP, dia tidak pernah peduli walaupun
tagihan demi tagihan yang datang kepanya, tapi dia tetap berisi keras untuk tidak
membayarnya. Maka dari sini Tarmin Kusno bisa dinyatakan sebagai pihak yang melanggar
perjanjian.
Dengan alasan inilah pihak PT SDP setempat melakukan penutupan COMBI
Furniture secara paksa dan menggugat Tamrin Kusno di Pengadilan Negeri Surabaya. Dan
jika kita kaitkan dengan Undang-undang yang ada dalam BW, tindakan Pihak PT SDP bisa
dibenarkan. Dalam pasal 1240 BW, dijelaskan bahwa : Dalam pada itu si piutang adalah
behak menuntut akan penghapusan segala sesuatu yang telah dibuat berlawanan dengan
perikatan, dan bolehlah ia minta supaya dikuasakan oleh Hakim untuk menyuruh
menghapuskan segala sesuatuyang telah dibuat tadi atas biaya si berutang; dengan tak
mengurangi hak menuntut penggantian biaya, rugi dan bunga jika ada alasan untuk itu.
Dari pasal diatas, maka pihak PT SDP bisa menuntut kepada Tarmin Kusno yang
tidak memenuhi suatu perikatan dan dia dapat dikenai denda untuk membayar semua tagihan
bulanan kepada PT Surabaya Delta Plaza.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Perikatan adalah suatu hubungan hukum, antara dua orang atau dua pihak atau lebih, dimana
pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji pada orang lain untuk
melaksanakan suatu hal. Peristiwa itu timbul dari suatu hubungan yang dinamakan perikatan.

Macam-macam perikatan salah satunya ialah : perikatan bersyarat, perikatan yang


digantungkan pada suatu ketetapan waktu, perikatan yang membolehkan memilih alternatif.

Suatu perjanjian bisa batal jika tidak memenuhi syarat subjektif maupun syarat objektif.

3.2 Saran

Demikian makalah kami dapat kami selesaikan.Kami berharap agar makalah yang kami
susun ini menjadi bermanfaat bagi penulis maupun pembaca dan menambah wawasan
mengenai hukum perdata,khususnya permasalahan hukum perjanjian dan hukum perikatan
ini.Namun,dalam penyususnan ini kami membutuhkan kritik dan saran yang konstruktif dari
pembaca dan pembimbing.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Ladydeeana91.blogspot.co.id/2012/04/hukum-perikatan-dan-perjanjian.html
2. Drs.H.Suharyono,M.Si.,Ak.Fakutas Ekonomi Univeritas Mulawarman.Edisi
terbaru.hlm.25.

13