Anda di halaman 1dari 16

PENGEMBANGAN KURIKULUM SD

“Konten Kurikulum”

Dosen Pengampu : Teguh Prasetyo M.Pd.

Disusun oleh :

Chicy Sri Rachmawati ( H.1610208 )

Iis Naenia ( H.1610005)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Makalah ini
disusun sebagai tugas pendalaman materi Pengembangan Kurikulum SD.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi,
namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen, teman-taman serta orang
tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi. Semoga makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun dari
pembaca sangat penulis harapkan.

Bogor, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
C. Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 3
A. Konsepsi Konten ..................................................................................................... 3
B. Kriteria Penetapan Konten. ..................................................................................... 8
C. Analisis Tugas ....................................................................................................... 11
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 12
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 12
B. Saran ..................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini kebijakan pengembangan kurikulum pada tingkat satuan
pendidikan sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan, untuk itu
pihak sekolah diberi keluasan untuk dapat mengembangkan kurikulum sesuai
dengan potensi yang dimilikinya. Pihak pengembangan kurikulum dalam hal
ini guru, harus benar-benar memiliki pemahan yang luas tentang konten atau
isi kurikulum sebelum mengimplementasikannya kepada peerta didik. Sebab
pemahaman tersebut sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan
kualitas kurikulum yang dikembangkan serta implementasinya.
Konten kurikulum pada hakekatnya merupakan isi dari kurikulum
yang sangat penting dan menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Kedudukan konten kurikulim ini sangat vital bahkan menjadi syarat mutlak
dan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses pendidikan sehingga
sangatlah sulit dibayangkan bagaimana bentuk pelaksanaan pendidikan dan
pembelajaran pada satuan pendidikan jika tidak memiliki kurikulum. Dengan
demikian pada dasarnya konten kurikulim ini bukan hanya guru yang harus
memahaminya tetapi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan
di sekolah idealnya dapat memahami konten kurikulum sesuai dengan bidang
tugas masing-masing.
Dalam maalah ini dijelaskan pemahaman mengenai komponen-
komponen kurikulum yang didalamnya memuat tentang konten atau isi dari
kurikulum itu sendiri. Pemahaman mengenai komponen kurikulum yang berisi
tentang konten menjadi landasan untuk menciptakan pembelajaran yang
efektif serta pencapaian tujuan pendidikan yang hakiki.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa
masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan konsepsi konten ?

1
2. Apa saja yang ada dalam konsepsi konten ?
3. Apa saja kriteria yang dijadikan sebagi konten kurikulum ?
4. Bagaimana analisis tugas dari konten kurikulum ?

C. Tujuan
1. Memahami pengertian konsepsi konten kurikulum.
2. Memahami hal-hal yang terkandung dalam konsepsi konten.
3. Mngetahui kriteria yang menjadi konten kurikulum.
4. Memahami analisis tugas dari konten kurikulum.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsepsi Konten
1. Definisi Konten

Beberapa sinonim “konten” dalam literature pendidikan adalah


pelajaran (subject matters), pengetahuan, pengalaman belajar (learning
experience) atau informasi. Pada dasarnya semua istilah itu mengacu pada
data, konsep, geberalisasi, prinsip, mata pelajaran, dan sebagainya, yang
adalah “bodies of knowledge” yang bias dikenal dengan “disiplin ilmu”
(Zais, 1976 : 329). Saylor dan Alexander (1966) mengajukan definisi yang
agak luas tentang konten kurikulum, konten adalah fakta, observasi, data,
klasifikasi, desain, sensibility, dan pemecahan masalah yang telah
dihasilkan pengalaman dan hasil pikiran manusia yang tersusun dalam
bentuk ide-ide, konsep, generalisasi, prinsip-prinsip, kesimpulan,
perencanaan, dan solusin (Zais, 1976 : 329).

Hyman (9173) mengemukakan definisi yang lebih lengkap; konten


ialah mata pelajaran seperti pengetahuan (missal: fakta, keterangan,
prinsip-prinsip, definisi), keterampilan dan proses (seperti membaca,
menulis, berhitung, menari, berpikir kritis, berkomunikasi), dan nilai-nilai
(seperti konsep tentang hal-hal baik, buruk, betul dan salah, indah dan
jelek). Tiap masyarakat menciptakan dan memakai konten budaya masing-
masing yang unik. Ada tumpang tindih mata pelajaran pada suatu
masyarakat dan masyarakat lain. Dari pengetahuan masyarakat itulah
konten kurikulum dipilih guru. (Hyman, 1973:4).

Definisi Hyman menyimulkan bahwa konten kurikulum mencakup


tiga ranah taksonomi pendidikan, yaitu pengetahuan (cognitive), proses
(psychomotor), dan nilai-nilai (affective). Ketiga ranah itu harus
terintegrasi dalam diri siswa untuk menjadi pengetahuan yang bermanfaat
dan bermakna bagi hidupnya. Ada empat elemen pokok konten,
diantaranya pengetahuan, kegiatan belajar, pengalaman, dan kompetensi

3
sebagai komponen konten kurikulum. Kaitan antara konten dan keempat
komponen itu ialah, dalam proses pembelajaran di sekolah siswa
difaasilitasi untuk mengembangkan konten kurikulum menjadi
pengetahuan, pengalaman, atau kompetensi, melalui keggiatan siswa
mempelajari sendiri konten (dengan atau tanpa fasilitas guru), bukan saja
mendengar sajian guru tentang konten itu.

Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan


pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan
kajian dan mata pelajaran. Isi kurikulum adalah mata pelajaran pada proses
belajar mengajar, seperti pengetahuan, ketarampilan dan nilai-nilai yang
diasosiasikan dengan mata pelajaran. Pemilihan isi menekankan pada
pendekatan mata pelajaran (pengetahuan) atau pendekatan proses
(keterampilan)

2. Variable Konten
Kegiatan Belajar. Pada awal abad ke-20, istilah kegiatan belajar
(learning activities) dan pengalaman belajar (learning experiences), atau
pengalaman pendidikan (educational experinces) belum muncul dalam
literature pendidikan, yang ada saat itu ialah tugas-tugas (taks) seperti
hafalan, latihan, contoh, dan masalah (Zais, 1976:351). Semua tugas itu
merupakan bagian dari proses pengajaran yang harus dilakukan siswa.
Kegiatan belajar yang disebut Ornstein & Hunkins (2013) instructional
strategies atau educational activities, termasuk antara lain menonton film
atau video, melakukan eksperimen, interaksi dengan program computer,
studi lapangan. Termasuk dalam kategori ini adalah semua kegiatan
pendidikan yang melibatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi (high –
ranking thingking skills) siswa, seperti pengalaman belajar yang
meningkatkan nilai-nilai dan sikap siswa , kemampuan berfikiir kritis dan
kreatif, serta peningkatan keinginan belajar individual dan bersama
(Ornstein & Hunkins, 2013:203). Menurut Zais (1976: 351), walau suatu
kurikulum mempunyai tujuan yang baik, konten yang penting dan

4
prosedur yang benar, tetapi jika kegiatan siswa itu tidak menghasilkan
pengalaman pendidikan, maka kurikulum tersebut dianggap disfungsional.
Kurikulum disfungsional dapat menjadi fungsional jika konten dan
kegiatan belajar merupakan satu kesatuan yang integral dalam proses
pembelajaran (Zais, 1976:353). Ini berarti untuk membuat kurikulum
fungsional (efektif) sebagai instrumen perubahan konten menjadi
pengetahuan, siswa harus diberi kesempatan untuk mempelajari (learning
activities) konten sampai siswa itu sendiri memahami konten itu sebagai
pengetahuannya. Maka kegiatan belajar merupakan factor krusial dalam
membelajarkan siswa sehingga learning activities (kegiatan belajar)
dijuluki the heart of curriculum, jantung pendidikan (Zais, 1976 : 350)
Konten dan Pengetahuan. Terlihat perbedaan besar antara konten
dan pengetahuan. Bagi siswa, konten atau materi ajar hanya sekedar
informasi tentang konten (data, pengetahuan, teori, dan lain-lain); belum
menjadi pengetahuannya , sebelum ia mempelajari sendiri terebih dahulu
konten kurikulum. Bagi John Deway (1916) konten ialah recard of
knowledge (catatan tentang pengetahuan) sepeti symbol, grafik, rekaman,
informasi dan lain-lain, sedangkan pengetahuan adalah hasil pemahaman
individu tentang konten tersebut melalui interaksinya dengan pengalaman
individu (Zais, 1976 : 325). Artinya konten bisa menjadi pengetahuan
siswa setelah ia aktif terlibat penuh mempelajari dan mendalami sendiri
konten itu tanpa atau dengan fasilitas guru. Konten tidak dipilih sebagai
materi ajar saja, tetapi selalu dipilih karena onten itu berpotensi menjadi
pengetahuan (Zais, 1976 : 325). Karena itu, adalah tugas guru untuk
membelajarkan (to empower) siswa dengan memberikan kesempatan
belajar (learning opportunities) kepada siswa sampai ia dapat
mentransformasi konten menjadi pengetahua dan menjadi pengalamannya.
Pengetahuan dan Pengalaman, pengembangan kurikulum perlu
menetapkan kompetensi apa yang harus dikuasai siswa agar ia berhasil
dalam hidupnya (Orstein & Hunkins, 2013 : 199). Pengalaman pendidikan
(pengalaman belajar) yang berasal dari transformasi konten atau materi,

5
merupakan hasil kurikulum yang penting, karena jika siswa memiliki
pengalaman dia akan dapat melakukan hal-hal yang baru sebagai hasil
konten yang sudah dipelajarinya (Wiles, 2009:3) dan hal itu
memungkinkan siswa dalam memperoleh makna dari keterlibatannya
mempelajari konten tersebut (Orstein & Hunkins, 1988 : 210).
Pengalaman dan Kompetensi, pengetahuan pada hakikatnya
terbentuk dari combining taxonomies (Shambaugh & Magliaro, 2006 : 57)
atau integrasi ketiga ranah yang terdapat dalam konten mata pelajaran.
Melalui kegiatan belajar ketiga ranah tersebut terintegrasi dalam struktr
kognitif siswa sampai ketiganya ditransformasi menjadi composite skills
berupa pengetahuan, pengalaman, dan kemudian secara akumulatif
menjadi kompetensi.
Melalui kegiatan belajar yang mengintegrasikan kegiatan ranah
taksonomi pendidikan, siswa yang sudah memperoleh pengalaman tentang
suatu konten kurikulum sebagai hasil interaksinya dalam pengetahuan
dalam struktur kognitif siswa, akan berkembang menjadi kompetensi.
Kompetensi merupakan kemampuan individu melakukan sesuatu dengan
baik. Dengan kompetensi yang dimilikinya, siswa mampu mengaplikasi
pengetahuan yang telah dipelajari dalam hidupnya, bukan sekedar
mengetahui materi atau tori semata. Kompetensi itu yang memugkinkan
orang berkiprah dengan baik dlam hdupnya.
3. Pengetahuan sebagai konten
Menurut Parker dan Rubin (1966), jika kita bicara tentang konten
kita mengacu pada compendium (intisari) disiplin ilmu. Disiplin ilmu itu
terdiri atas fakta, konsep hukum, generalisasi, prinsip, da teori pada tingkat
pendidikan tertentu pada mata pelajaran yang tersusun sesuai konten
kurikulum atau materi ajar seperti pada mata kuliah tradisional sains, atau
pada deskripsi even seperti di mata pelajaran sejarah atau pada susunan
bagian tertentu dari pengetahuan manusia. (Parker & Rubin, 1966 : 1)
Menurut Phenix (1964), disiplin ilmu adalah a body of knowledge
yang terpercaya dan penting sebagai dasar penyusunan kurikulum, karena

6
pengetahuan berasal dari pemakaian konsep dan metode ilmiah
pengembangan ilmu (Zais, 1976 : 330). King and Brownell (1966)
mengartikan disiplin sebagai “Masyarakat” karena disiplin mengacu
kepada sekelompok manusia yang berkomitmen intelektual tinggi untuk
berkontribusi positif pada pemikiran dan persoalan kehidupan manusia
(Zais, 1976 : 331).
4. Proses Sebagai Konten

Menurut Ravitch dan Finn (1987), (the whats) apa yang dipelajari
siswa tidak penting dibandingkan dengan bagaimana (the ways) siswa
belajar; sebab keterampilan bisa dipelajari tanpa memikirkan konten; dan
konten tidak relevan asalkan keterampilan dikembangkan dan dilatihkan
(Brandt, 1988 : 3). Tentu saja, dikontomi antara proses dan konten sangat
tidak tepat, karena konten dan proses, menurut Zais (1976:327) merupakan
an indivisible blend (satu kesatuan yang tak terpisahkan). Karena proses
dan konten merupkan satu kesatuan yang tak terpisahkan, perlu kedua
karakteristik konten tersebut dijadkan kriteria penetapan konten kurikulum
dan pembelajaran.

5. Kegiatan sebagai Konten

Sehubungan dengan ini, Dewey (1916) menegaskan, hanya hanya


kalau siswa telah memiliki personal meaning terhadap suatu materi atau
informasi mungkin berpengaruh pada tingkah laku manusia (Zais, 1976 :
351). Karena itu tidak heran jika pemompaan informasi, data, fakta,
prinsip, dalil, dll melalui pengajaran berpengaruh sedikit sekali pada
tingkah laku atau pengembangan kepribadian siswa. Ini berarti, kegiatan
belajar dan konten harus terintegrasi menjadi satu kesatuan pada tiap
proses pembelajaran. Artinya, siswa harus diberi kesempatan mempelajari
sendiri mater ajar, yang berarti meminimalkan waktu penyajian materi
oleh guru, tetapi memaksimalkan waktu kepada siswa untuk mempelajari
materi agar bisa menjadi pengetahuan atau pengalaman siswa.
Disimpulkan ialah perlu ditemukan metode pembelajaran konten yang

7
lebih banyak membelajarkan daripada mengajar siswa sehingga timbul
proses pembelajaran yang mengoptimalkan pembelajaran siswa dan
meminimalkan pengajaran guru.

6. Pengalaman sebagai Konten

Pengalaman belajar tidak akan tumbuh pada diri siswa yang


sekedar mendengar materi atau konten yang diajarkan guru. Maka siswa
harus terlibat aktif mempelajari dan mendalami konten untuk bisa
mentransformasikannya menjadi pengalaman; tidak memadai jika ia hanya
mendengar konten itu dari guru. Sudah tentu tiap kegiatan belajar
mensyaratkan sumber daya dan alat bantu belajar yang memfasilitasi
proses pembelajaran untuk menghasilkan pengalaman belajar yang
diinginkan (Wiggins & McTighe, 2006 : 31) dengan demikian, terlihat
kegiatan belajar memegang peran strategis, sebab tanpa kegiatan belajar
siswa hanya akan memperoleh informasi tentang konten yang diajarkan
guru tanpa memperoleh makna dari konten itu.

B. Kriteria Penetapan Konten


Pada umumnya konten kurikulum dipandang sebagai informasi yang
terkandung dari bahan-bahan yang dicetak, rekaman audio dan visual,,
computer dan alat-alat elektronik lainnya atau yang ditransmisikan secara
lisan. Konten kurikulum seperti ini sebenarnya sangat potensial bagi siswa.
Informasi menjadi konten pembelajaran untuk siswa dalam memberikan suatu
pengertian yang bermanfaat untuk pembelajaran. Konten kurikulum untuk
jenjang pendidikan dasar biasanya mencakup enam bidang konten kurikulum
akademik yaitu bahasa ( membaca, menulis, bercaap-cakap dan mendengar),
matematika, sains, studi social, bahasa asing dan seni. Asumsi pokok yang
mendasari kajian bidang-bidang konten kurikulum lain adalah keinginan.
Kurikulum menyediakan ruang bagi pelajaran lain selain keenam bidang
konten tersebut, antara lain bagi pendidikan kesehatan dan jasmani, serta
berbagai pelajaran keterampilan yang dibutuhkan oleh banyak siswa.

8
Kriteria dalam pemilihan isi kurikulum yaitu :

1. Signifikan, yaitu seberapa penting isi kurikulum pada suatu disiplin ilmu
atau tema studi.
2. Validalitas, yang bekaitan dengan keotentikan dan keakuratan isi
kurikulum.
3. Relevansi social, keterkaitan isi kurikulum dengan nilai moral, cita-cita,
permasalahan social, isu kontroversial dan sebagainya untuk membantu
siswa menjadi anggota yang efektif dalam lingkungan masyarakat.
4. Utility atau kegunaan (daya guna), berkaitan dengan kegunaan isi
kurikulum dan mempersiapkan siswa menuju kehidupan dewasa.
5. Learnability atau kemampuan untuk dipelajari
Kriteria learnability terkait konten yang bisa dipelajari siswa sesuai
dengan tingkat kemampuan siswa tertentu sehingga tidak begitu sukar
dipahaminya. Kriteria ini sangat jelas dan logis, karena tidak mungkin
siswa dapat mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan tingkat
perkembangan dan tidak akrab denga lingkungan kehidupan siswa masing-
masing.
6. Minat
Yang berkaitan dengan minat siswa terhadap isi kurikulum tersebut.
Materi yang didasarkan pada minat siswa merupakan salah satu usaha
untuk membuat kurikulum lebih relevan dengan siswa. Kriterian ini
berdasarkan pada aliran desain terpusat siswa (learner-centered design)
sebagai kriterian yang penting, karena membuat konten bermanfaat dan
bermakna bagi siswa (Ornstein & Hunkins, 2013 : 201). Minat siswa
sebagai kriteria seleksi konten dikritik karena terkait kenyataan bahwa
umumnya siswa belum matang untuk menentukan minat yang
sesungguhnya. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa minat merupakan
landasan yang tepat untuk menentukan konten kurikulum (Zais, 1976 :
346)
7. Perkembangan Manusia.

9
Perkembangan manusia yang dmaksud adalah perkembangan bagi setiap
individu anak dan juga perkembangan anak secara keseluruhan dalam
kehidupan bermasyarakat. Zais (1976), melanjutkan bahwa konten yang
termasuk kedalam kriteria perkembangan manusia, yaitu kajian mengenai
nilai-nilai moral dan ide-ide seperti masalah social, emosi dan kemajuan
berpikir kritis. Lanjut Zais, konten yang dipilih berdasarkan kriteria ini
terpusat pada kajian tentang nilai-nilai moral dan cita-cita (ideals), isiu-isu
kontroversial, dan lain-lain (Zais, 1976 : 347). Artinya, tanggung jawab
rekontruksi social itu dilakukan melalui pendidikan anak. Kurikulum
berdasarkan kriteria ini dikritik karena dianggap terlalu berorientasi bidang
studi sosial, seperti ditunjukkan oleh hal pada kriteria ini lebih banyak
memasukan konten sejarah, sosiologi, ekonomi, dan ilmu politik. Padahal
mata pelajaran seperti biologi dan kimia yang secara netral social atau
nilai-nilai dikesampingkan (zais, 1976 : 347)
8. Struktur disiplin ilmu
Menurut Bruner (1960), setiap disiplin ilmu mempunyai struktur
tersendiri, dank arena itu materi kurikulum harus mencakup presentasi
atau kajian yang memungkinkan siswa memahami struktur bidang-bidang
ilmu tertentu (Schubert, 1986 : 218). Sasaran utama materi berorientasi
struktur disiplin ilmu adalah agar tamatan sekolah dapat menjadi ilmuan,
peneliti, prosedur pengetahuan, bukan sebagai consumer ilmu
pengetahuan. Schubert (1986) mengkritik bahwa tidak semua bidang studi
memiliki struktur tertentu seperti literature, bahasa perancis, poetry bahasa
inggris, sejarah Amerika, psikologi, sosiologi, melukis modern,
manajeman bisnis dan pendidikan.lebih lanjut menurut Schubert (1986)
selain beberapa ilmu dasar ternyta pakar matematika dan ilmu fisik lainnya
mengalami kesulitan, dank arena itu mereka sepakat tentang dimensi
struktur disiplin ilmu masing-masing (Schubert, 1986)
9. Kelayakan
Kriteria kelayakan ( feasibility) mengharuskan pengembangan kurikulum
untuk mempertimbangkan waktu tersedia, sumber-sumber yang ada,

10
keahlian staf pengajar, dan factor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
kelayakan konten yang masuk kurikulum. Yang juga penting ialah
tersedianya perangkat alat bantu belajar beserta tenaga professional untuk
mengoprasikannya dan memfasilitasi pembelajaran yang memerlukan
perangkat keras tersebut.

C. Analisis Tugas
Ornstein & Hunkins (2013 : 184) mengemukakan bahwa analisis tugas
bermanfaat untuk membantu identifikasi konten kurikulum esensial sebagai
cara penting untuk menetapkan tujuan kurikulum dan pembelajaran bagi
pelaksana tugas rill di luar sekolah. Maka analisis tugas yang mencakup
analisis mata pelajaran dan analisis belajar, bisa membantu pengembangan
kurikulum dan pendidik mengidentifikasi, seleksi, dan menetapkan konten
kurikulum yang tepat bagi populasi siswa.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan kajian
dan mata pelajaran.
2. Dalam setiap proses pembelajaran, penyajian konten tanpa kegiatan siswa
mempelajari konten itu, proses pembelajaran akan mudah tergelincir
menjadi pembelajaran tentang konten ayau tentang pengetauan, bukan
memperoleh pengetahuan, pengalaman, atau kompetensi.
3. Konten kurikulum terdiri atas tiga ranah teksonomi yaitu pengetahuan
(kognitif), keterampilan (psikomotor), dan nilai-nilai (afektif). Kriteria
konten kurukulum ada 9 yaitu :
a. Signifikasi
b. Validitas
c. Relevansi social
d. Utility
e. Learnability
f. Minat
g. Perkembangan manusia
h. Struktur disiplin ilmu
i. Kelayakan.
4. Analisis tugas yang mencakup analisis mata pelajaran dan analisis belajar,
bisa membantu pengembangan kurikulum dan pendidik mengidentifikasi,
seleksi, dan menetapkan konten kurikulum yang tepat bagi populasi siswa.

B. Saran
Untuk menyempurnakan pendalaman materi. kami menyarankan kepada para
pembaca agar mencari sumber referensi lain agar wawasan pembaca semakin
luas.

12
DAFTAR PUSTAKA

Hamalik Oemar. 2013. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT


Remaja Rosdakarya.

Hermawan Asep Herry, dkk. 2014. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran


di SD. Tanggerang : Universitas Terbuka.

Ansyar Mohamad. 2015. Kurikulum. Jakarta : Kencana Prenadamedia Grup

13