Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

Pancasila adalah warisan dari jenius Nusantara. Sesuai dengan karakteristik


lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau
(archipelago), jenius Nusantara juga merefleksikan sifat lautan. Sifat lautan adalah
menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungannya. Sifat
lautan juga dalam keluasannya, mampu menampung segala keragaman jenis dan
ukuran.
Sebagai “negara kepulauan” terbesar di dunia, yang membujur di titik
strategis persilangan antarbenua dan antarsamudera, dengan daya tarik kekayaan
sumber daya yang berlimpah, Indonesia sejak lama menjadi titik-temu penjelajahan
bahari yang membawa pelbagai arus perubahan. Maka, jadilah Nusantara sebagai
tamansari peradaban dunia.
Seturut dengan itu, jenius Nusantara adalah kesanggupannya untuk
menerima dan menumbuhkan. Di sini, apa pun budaya dan ideologi yang masuk,
sejauh dapat dicerna oleh sistem sosial dan tata nilai setempat, dapat berkembang
secara berkelanjutan.
Penindasan ekonomi-politik oleh kolonialisme-kapitalisme memang
banyak menggerus sifat-sifat kemakmuran, kosmopolitan, religius, toleransi, dan
kekeluargaan dari tanah air. Persenyawaan antara anasir karakter asal yang
mengendap laten dalam jiwa penduduk dan visi emansipasu baru itu diidealisasikan
oleh para pendiri bangsa sebagai sumber jati diri, dasar falsafah, dan pandangan
hidup bersama.
Alhasil, prinsip-prinsip dasar negara Indonesia merdeka yang
dirumuskan oleh para pendiri bangsa itu tidaklah dipungut dari udara, melainkan
digalu dari bumi sejarah keindonesiaan, yang tingkat penggaliannya tidak berhenti
sampai zaman gelap penjajahan, melainkan menerobos jauh ke belakang hingga ke
zaman kejayaan Nusantara.
Fase Pembuahan
Sejak tahun 1924, Perhimpunan Indonesia (PI), di Belanda, mulai
merumuskan konsepsi ideologi politiknya bahwa tujuan kemerdekaan politik
haruslah di-dasarkan pada empat prinsip: persatuan nasional, solidaritas, non-
kooperasi, dan kemandirian (self help).
Konsepsi ideologis PI ini pada kenyataanya merupakan sebuah sintesis dari
ideologi-ideologi terdahulu. Persatuan Nasional merupakan tema utama dari
Indische Partj, non-kooperasi merupakan platform politik kaum komunis, dan
kemandirian merupakan tema dari Sarekat Islam. Sementara solidaritas merupakan
simpul yang menyatukan ketiga tema utama tersebut.
Sekitar tahun yang sama, tokoh pejuang yang lain Tan Malaka mulai
menulis buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Dia
percaya bahwa paham kedaulatan rakyat (demokrasi) memiliki akar yang kuat
dalam tradisi masyarakat Nusantara. Keterlibatannya dengan organisasi komunis
internasional tidak melupakan kepekaannya untuk memperhitungkan kenyataan-
kenyataan nasional dengan kesediaannya untuk menjalin kerjasama dengan unsur-
unsur revolusiener lainnya.
Hampir bersamaan dengan itu, Tjokroaminoto mulai mengidealisasikan
suatu sintesis antara Islam, sosialisme, dan demokrasi, “Jika kita, kaum Muslim,
benar-benar memahami dan secara sungguh-sungguh melaksanakan ajaran Islam,
kita pastilah akan menjadi para demokrat dan sosialis sejati”
(Tjokroaminoto,1924;1925: 155).
Seperti halnya para aktivis mahasiswa di luar negeri yang terobsesi dengan
ide blok nasional,Soekarno dan para mahasiswa aktivis lainnya di Hindia juga me-
nganut ideal yang sama. Pada 1926, Soekarno menulis esai dalam majalah Indone-
sia Moeda, dengan judul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang mengi-
dealkan sintesis dari ideologi-ideologi besar tersebut demi terciptanya senyawa
antarideologi dalam kerangka konstruksi kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
Dalam pandangan Soekarno, pergerakan rakyat Indonesia mempunyai tiga
sifat: ‘nasionalistis, islamistis, dan marxistis’. Paham-paham ini pula, menurutnya,
yang menjadi roh pergerakan-pergerakan di Asia.
Pada awal tahun 1930-an, dia mulai merumuskan sintesis dari substansi
ketiga unsur ideologi tersebut dalam istilah “sosio-nasionalisme” dan “sosio-
demokrasi”. Sosio-nasionalisme yang dimaksudkan adalah semangat kebangsaan
yang menjunjug tinggi perikemanusiaan ke dalam dan ke luar. Adapun “sosio-
demokrasi” adalah demokrasi yang memperjuangkan keadilan sosial, yang tidak
hanya me-medulikan hak-hak sipil dan politik, melainkan juga hak ekonomi.
Monumen dari usaha intelektual untuk mencari sintesis dari keragaman an-
asir keindonesiaan itu adalah “Sumpah Pemuda” (28 Oktober 1928), dengan visi-
nya yang mempertautkan segala keragaman itu ke dalam kesatuan tanah air dan-
bangsa dan dengan menjunjung bahasa persatuan.
Endapan pemikiran sebagai hasil pergumulan sejarah yang tersimpan di laci
ingatan para pendiri bangsa itu mempermudah mereka dalam merespons tantangan
untuk merumuskan dasar negara. Dengan mengurai kembali jaringan memori
kolektif ke belakang dan ke samping, meresapi persamaan nasib dan impian
kemerdekaan serta pertautan genealogis dan kesatuan geo-politik, masing-masing
pendukung aliran politik memahami titik-titik persamaannya secara substantif,
sehingga dapat mengatasi perbedaan identitas masing-masing.
Fase Perumusan
Peurmusan dasar negara Indonesia merdeka mulai dibicarakan pada masa
persidangan pertama BPUPK (29 Mei- 1 Juni 1945). BPUPK sendiri didirikan pada
29 April 1945, menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso,
pada 7 September 1944, yang mengucapkan janji historisnya bahwa Indonesia pasti
akan diberi kemerdekaan “pada masa depan”. Tugas BPUPK hanyalah melakukan
usaha-usaha penyelidikan kemerdekaan, sementara tugas penyusunan rancangan
dan penetapan UUD menjadi kewenangan PPKI. Tetapi skenario ini berubah karena
keberanian dan kreativitas para pemimpin bangsa yang berhasil menerobos batas-
batas formalitas.
Jumlah keanggotaan badan ini semula 63 orang, kemudian bertambah
menjadi 69 orang. Jepang membagi anggota BPUPK menjadi lima golongan:
golongan pergerakan, golongan Islam, golongan birokrat (kepala jawatan), wakil
kerajaan (kooti), pangreh praja (residen/wakil residen, bupati, wali kota), dan
golongan peranakan: peranakan Tionghoa (4 orang), peranakan Arab (1 orang), dan
peranakan Belanda (1 orang). Tidak semua anggota BPUPK ini terdiri dari kaum
pria, karena ada 2 orang perempuan (Ny. Maria Ulfa Santoso dan Ny. R.S.S
Soenarjo Mangoenpoespito). Oleh karena itu,istilah founding fathers tidaklah tepat.
Unsur-unsur perwakilan BPUPK cukup merepresentasikan keragaman golongan
sosial-politik yang ada di Indonesia pada masa itu.
Dalam merespons permintaan Radjiman mengenai dasar negara Indonesia,
sebelum pidato Soekarno pada 1 Juni, anggota-anggota BPUPK lainnya telah
mengemukakan pandangannya. Pentingnya nilai ketuhanan sebagai fundamen
kenegaraan antara lain dikemukakan oleh Muhammad Yamin, Wiranatakoesoema,
Soerio, Soesanto Tirtoprodjo, Dasaad, Agoes Salim, Abdoelrachim Pratalykrama,
Abdul Kadir, K.H. Sanoesi, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Soepomo, dan Mohammad
Hatta. Pentingnya nilai kemanusiaan sebagai fundamental kenegaraan antara lain
dikemukakan oleh Radjiman Wediodiningrat, Muhammad Yamin, Sosrodiningrat,
Wiranatakoesoema, Woerjaningrat, Soerio, dan Soesanto Tirtoprodjo, A. Rachim
Pratalykrama, dan Soekiman, Abdul Kadir, Soepomo, Dahler, dan Ki Bagoes
Hadikoesoemo. Pentingnya nilai-nilai demokrasi permusyawaratan sebagai
fundamental kenegaraan antara lain dikemukakan oleh Muhammad Yamin,
Woerjaningrat, Soesanto Tirtoprodjo, Abdoelrachim Pratalykrama, Ki Bagoes
Hadikoesoemo, dan Soepome. Pentingnya nilai-nilai keadilan/kesejahteraan sosial
sebagai fundamen kenegaraan dikemukakan antara lain oleh Muhammad Yamin,
Soerio, Abdoelrachim Pratalykrama, Abdul Kadir, Soepomo, dan Ki Bagoes
Hadikoesomo. Dengan demikian, tampak jelas bahwa secara substantif, semua
prinsip dasar negara yang diajukan itu sama-sama diusung baik oleh mereka yang
berasal dari golongan kebangsaan maupun dari golongan Islam.
Meski demikian, prinsip-prinsip yang diajukan itu masih bersifat serabutan,
belum ada yang merumuskannya secara sistematis dan holistik sebagai suatu dasar
negara yang koheren. Muhammad Yamin dan Soepomo barangkali agak mendekati
apa yang diminta oleh Radjiman. Secara eksplisti atau implisit, Yamin dan
Soepomo mengemukakan pentingnya prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan,
permusyawaratan, dan keadilan/kesejahteraan sebagai fundamen kenegaraan.
Masalahnya dalam kategorisasi yang dikemukakan Yamin, tidak semua prinsip itu
dia masukan sebagai dasar negara.
Betatapun juga, pandangan-pandangan tersebut memberikan masukan
penting bagi Soekarno dalam merumuskan konsepsinya. Masukan-masukan ini,
yang dikombinasikan dengan gagasan-gagasan ideologisnya yang telah
dikembangkan sejak 1920-an dan refleksi historisnya, mengkristal dalam pidatonya
pada 1 Juni 1945. Dalam pidatonya yang monumental itu, Soekarno menjawab
permintaan Radjiman Wediodiningrat akan dasar negara Indonesia itu dalam
kerangka “dasar falsafah” (philosofische grondslag) atau “pandangan dunia”
(weltanschauung) dengan penjelasannya yang runtut, solid, dan koheren.
Menurut pengakuannya di kemudian hari, pada malam menjelang 1 Juni,
dia bertafakur, menjelajahi lapis demi lapis lintasan sejarah bangsa, menangkap
semangat yang bergelora dalam jiwa rakyat, dan akhirnya menengadahkan tangan
meminta petunjuk kepada Tuhan agar diberi jawaban yang tepat atas pertanyaan
tentang dasar negara yang hendap dipergunakan untuk meletakkan Negara
Indonesia merdeka di atasnya.
Dalam kesempatan lain, Soekarno mengatakan bahwa kita dalam
mengadakan Negara Indonesia Merdeka itu, “harus dapat meletakkan negara itu
atas suatu meja statis yang dapat mempersatukan segenap elemen di dalam bangsa
itu, tetapi juga harus mempunyai tuntunan dinamis ke arah mana kita gerakkan
rakyat, bangsa dan negara ini. “Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang, ini yang
nyata menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia. Satu waktu ini lebih timbul, lain
waktu itu yang lebih kuat, tetapi selalu schakering itu lima ini” (Soekarno, 1958;
II: 8-15)
Kelima prinsip meja statis dan Leitstar dinamis itulah yang dia uraikan
dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Kelima prinsip yang menjadi titik persetujuan
(common denominator) segenap elemen bangsa itu, dalam pandangan Bung Karno
meliputi : 1. Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme, atau Perikemanusiaan,
3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang
Berkebudayaan.
Kelima prinsip itu disebut Soekarno dengan Panca Sila. “Sila artinya asas
atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal,
dan abadi.” Mengapa dasar meja statis dan Leitstar dinamis yang mempersatukan
bangsa itu dibatasi lima? Jawaban Soekarno, selain kelima unsur itulah yang
memang berakar kuat dalam jiwa bangsa Indonesia, dia juga mengaku suka pada
simbolisme angka lima. Angka lima memiliki nilai “keramat” dalam antropologi
masyarakat Indonesia. Asosiasi dasar negara dengan bintang ini digunakan
Soekarno dalam penggunaan istilah Leitstar (bintang pimpinan).
Sungguh pun Soekarno telah mengajukan lima sila dari dasar negara, dia
juga menawarkan kemungkinan lain, sekiranya ada yang tidak menyukai bilangan
lima, sekaligus cara beliau menunjukkan dasar dari segala dasar kelima sila
tersebut. Alternatifnya bisa diperas menjadi Tri Sila bahkan bisa dikerucutkan lagi
menjadi Eka Sila: Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi
satu, maka dapatlah saya satu perkatakan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan
“gotong royong ”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-
royong.
Dengan kata lain, dasar dari semua sila Pancasila adalah gotong-royong.
Maknanya adalah: prinsip ketuhanan, internasionalisme, kebangsaan, demokrasi,
kebangsaan, kesejahteraan harus berjiwa gotong-royong. Pidato Soekarno tentang
Pancasila itu begitu heroik, empatik, dan sistematik, sehingga mendapatkan
sambutan yang meriah dari para anggota BPUPK.
Namun demikian, betapapun hebatnya uraian Soekarno tentang dasar
negara itu, dia menolak dirinya disebut sebagai pencipta Pancasila. Selain itu,
betapapun hebatnya hasil penggalian dan uraian Soekarno itu, eksposisinya masih
merupakan pandangan pribadi.
Di akhir masa persidangan pertama, Ketua BPUPK membentuk Panitia
Kecil beranggotakan delapan orang (Panitia Delapan) di bawah pimpinan
Soekarno. Terdiri dari 6 orang wakil golongan kebangsaan dan 2 orang wakil
golongan Islam.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Panitia Kecil, di masa reses, Soekarno
melakukan pelbagai inisiatif, yang menurut pengakuannya sendiri, di luar kerangka
formalitas. Dia memanfaatkan masa persidangan Chuo Sangi In ke VIII (18-21
Juni) di Jakarta untuk mengadakan pertemuan yang terkait dengan Tugas Panitia
Kecil.
Di akhir pertemuan tersebut, Soekarno juga mengambil inisiatif informal
lainnya, dengan membentuk Panitia Kecil (“tidak resmi”) yang beranggotakan 9
orang, yang kemudian dikenal sebagai “Panitia Sembilan”. Panitia ini bertugas
untuk menyusun rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia, yang di dalamnya termuat Dasar Negara. Komposisi Panitia Sembilan
ini lebih seimbang ketimbang Panitia Delapan (bentukan resmi BPUPK), yakni 5
orang wakil golongan kebangsaan (termasuk Soekarno sebagai penengah) dan 4
orang wakil golongan Islam. Dengan komposisi yang lebih seimbang antara dua
golongan tersebut, Panitia ini berhasil merumuskan dan menyetujui rancangan
Pembukaan UUD itu, yang kemudian ditandatangani oleh setiap anggota Panitia
Sembilan pada 22 Juni. Oleh Soekarno, rancangan Pembukaan UUD ini diberi
nama “Mukaddimah”, oleh M. Yamin dinamakan “Piagam Jakarta”, dan oleh
Sukiman Wirjosandjojo disebut “Gentlemen’s Agreement".
Ujung kompromi bermuara pada alinea terakhir yang mengandung rumusan
dasar negra berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila. Islam tidak dijadikan dasar
negara (dan agama negara), tetapi terjadi perubahan dalam tata urut Pancasila dari
susunan yang dikemukakan Soekarno pada 1 Juni. Prinsip “Ketuhanan” dipindah
dari sila terakhir ke sila pertama, ditambah dengan anak kalimat “dengan kewajiban
menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” (kemudian dikenal dengan
istilah “tujuh kata”.
Selain itu, prinsip “Internasionalisme atau peri-kemanusiaan” tetap
diletakkan pada sila kedua, namun redaksinya mengalami penyempurnaan menjadi
“Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Prinsip “Kebangsaan Indonesia” berubah
posisinya dari sila pertama menjadi sila ketiga. Bunyinya menjadi “Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.
Prinsip “Kesejahteraan sosial” berubah posisinya dari sila keempat menjadi sila
kelima. Bunyinya menjadi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Menurut Mohammad Hatta, dengan perubahan posisi prinsip Ketuhanan
dari posisi pengunci ke posisi pembuka, “ideologi negara tidak berubah karenanya,
melainkan negara dengan ini memperkokoh fundamennya, negara dan politik
negara mendapat dasar moral yang kuat”. Dengan demikian, fundamen moral
menjadi landasarn dari fundamen politik (dari sila kedua sampai dengan kelima).
Hasil rumusan Piagam Jakarta dan pelbagai urusan yang berhasil dihimpun
selama reses itu kemudian dilaporkan dan didiskusikan pada masa persidangan
kedua BPUPK (10-17 Juli 1945). Menurut rancangan Jepang, tugas BPUPK
hanyalah melakukan usaha-usaha penyelidikan kemerdekaan, adapun tugas
penyusunan rancangan dan penetapan UUD menjadi kewenangan PPKI.
Hasil rumusan Piagam Jakarta itu mendapat respons yang tajam dari
Laturharhary. Dalam tanggapannya pada 11 Juli, dia menyatakan keberatan atas
pencantuman “tujuh kata” itu. Di luar persoalan “tujuh kata” yang masih
mengganjal, seluruh anggota BPUPK dapat menerima pokok-pokok pikiran dalam
rancangan Pembukaan UUD 1945 itu, yang disepakati pada 11 Juli.
Dalam perkembangannya terdapat beberapa tahap yang terjadi dalam
pembentukan rancangan UUD. Pada 11-12 Juli panitia kecil mulai merancang
batang dari UUD yang kedua dan hasil rancangan atau rumusannya itu
diperbicarakan pada rapat besar panitia perancang yang diketuai oleh Soekarno
pada tanggal 13 Juli 1945. Setelah diperbincangkan rapat besar panitia perancang,
lahirlah rancangan pertama UUD, setelah rancangan pertama dibahas dalam rapat
besar BPUPK pada 14 Juli, lahirlah rancangan kedua UUD. Rancangan ini
kemudian mendapatkan masukan-masukan baru lagi pada rapat besar BPUPK pada
tanggal 15-16, maka lahirlah rancangan ketiga UUD (terakhir).
Berlandaskan pada Piagam Jakarta, panitia ini merumuskan lima pokok
pikiran yang terkandung dalam pembukaan UUD. Diantaranya yaitu : 1. Negara
yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dengan berdasar pada persatuan, 2. Negara yang berdasar atas hidup kekeluaargaan,
3. Negara yang berkedaulatan rakyat, 4. Negara berdasar atas ke-Tuhanan, 5.
Negara Indonesia memperhatikan penduduk mayoritasnya, dalam konteks ini
adalah umat Muslim.
Yang selanjutnya dikatakan bahwa “pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana
kebatinan dari undang-undang dasar negara Indonesia”. Selain itu, “pokok-pokok
yang mewujudkan cita-cita hukum yang menguasai hukum dasar negaara, baik
hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. UUD mendapatkan sebuah
masukan baru yang terpapar pada pasal 28 (rancangan terakhir). Dengan
penerimaan itu pula rancangan UUD 1945 mengandung semangat pemulihan hak-
hak dasar yang luas dan visioner. Demikianlah, hingga akhirnya masa persidangan
BPUPK telah berakhir (17 Juli), di luar skenario Jepang, BPUPK telah berhasil
menyusun dasar negara (pancasila), dalam pembukaan UUD -versi piagam Jakarta
sebagai norma dasar, yang menjiwai perumusan (batang tubuh) undang-undang
dasar sebagai aturan dasar.
Fase Pengesahan
Namun demikian, betapa pun terjadi konsensus secara luas dan rancangan
UUD telah disepakati oleh sekalian anggota BPUPK pada 16 Juli, kecuali satu
orang (Muhammad Yamin), dibawah permukaan rupanya masih tetap ada sesuatu
yang mengganjal. Bagi anggota-anggota dari golongan kebangsaan, pencantuman
“tujuh kata” dalam Piagam Jakarta yang mengandung perlakuan khusus bagi umat
Islam dirasa tidak cocok dalam suatu hukum dasar yang menyangkut warga negara
secara keseluruhan.
Suasana kebatinan seperti itulah yang akan mewarnai sidang Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Panitia ini didirikan pada 12 Agustus
1945, yang bertugas untuk mempercepat upaya persiapan terakhir bagi sebuah
pemerintahan Indonesia merdeka, termasuk menetapkan konstitusi.
Pada awalnya PPKI terdiri dari 21 anggota yang diketuai (lagi-lagi) oleh
Soekarno dengan Mohammad Hatta dan Radjiman Wediodiningrat sebagai wakil
ketua. Dari 21 anggota ini, 12 di antaranya bisa diklasifikasikan sebagai para
pemimpin golongan kebangsaan generasi tua.
Pertemuan pertama PPKI dilaksanakan pada 18 Agustus 1945. Pada saat itu,
suasana kebatinan dan situasi politik Indonesia telah berubah secara dramatis,
menyusul proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Pada tanggal 18
Agustus 1945, PPKI memilih Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan
Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada saat yang sama, PPKI menyetujui naskah
“Piagam Jakarta” sebagai pembukaan UUD 1945, kecuali “tujuh kata” (“dengan
kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) di belakang sila
Ketuhanan. “Tujuh kata” itu dicoret lantas diganti dengan kata-kata “Yang Maha
Esa”. Sehingga selengkapnya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sebagai
ikutan dari pencoretan “tujuh kata” ini, dalam batang tubuh UUD 1945 disetujui
pula Pasal 6 ayat : “Presiden ialah orang Indonesia asli”, tidak ada tambahan kata-
kata “yang beragama Islam”.
Tentang pencoretan “tujuh kata” tersebut, Mohammad Hatta punya andil
besar, seperti diakui sendiri dalam otobiografinya, Memoir Mohammad Hatta
(1979). Pagi hari menjelang dibukanya rapat PPKI, Hatta mendekati tokoh-tokoh
Islam agar bersedia mengganti kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam rancangan Piagam Jakarta dengan
kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Alasannya demi menjaga persatuan bangsa.
Dengan pelbagai argumen persuasi yang dikemukakan, akhirnya Ki
Bagus,Teuku Hasan,dan Kasman bersedia menerima usul perubahan itu. Dengan
demikian, kubu Islam akhirnya menerima pencoretan “tujuh kata” itu.
Meskipun pencoretan “tujuh kata” itu menimbulkan kekecewaan di
sebagian golongan Islam, karena dianggap melanggar kompromi sebelumnya,
secara de facto dan de jure pencoretan “tujuh kata” itu mencerminkan realitas
politik yang ada dan memiliki keabsahan. Kekuatan representasi politik Islam di
PPKI nyatanya memang tidak seberapa, sedangkan yang berwenang menetapkan
UUD tidak lain adalah PPKI bukan BPUPK.
Kekecewaan sebagian pemimpin golongan Islam lebih merefleksikan masih
menggeloranya semangat “politik identitas”, yang pada umumnya lebih
didefinisikan oleh ingatan pedih ke belakang, ketimbang oleh visi ke depan.
Dengan pencoretan “tujuh kata” itu, moral “gotong royong” sebagai dasar
dari Pancasila serta moral “kekeluargaan” sebagai dasar sistematik UUD
memperoleh kepenuhannya. Negara Indonesia benar-benar menjadi negara
persatuan yang mengatasi paham perseorangan dan golongan. Dalam penjelasan
Pembukaan UUD 1945, setelah disahkan pada 18 Agustus, tidak ada lagi pokok
pikiran kelima, yang memberikan keiistimewaan kepada penduduk yang beragama
Islam, seperti sebelumnya dinyatakan Panitia Perancang Hukum Dasar.
Dengan pencoretan pokok pikiran kelima, moral ketuhanan tetap dijunjung
tinggi dalam kehidupan bernegara seperti tercermin pada pokok pikiran keempat,
namun diletakkan dalam konteks negara “kekeluargaan” yang egaliter, yang
mengatasi paham perseorangan dan golongan; selaras dengan visi kemanusiaan
yang adil dan beradab, persatuan kebangsaan, demokrasi-permusyawaratan yang
menekankan konsensus, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila sebagai Karya Bersama
Demikianlah proses sejarah konseptualisasi Pancasila, yang melintasi
rangkaian panjang fase “pembuahan”, fase “perumusan”, dan fase “pengesahan”.
Fase “pembuahan” setidaknya dimulai pada 1920-an dalam bentuk rintisan-rintisan
gagasan untuk mencari sintesis antarideologi dan gerakan, seiring dengan proses
“penemuan” Indonesia sebagai kode kebangsaan bersama (civic nationalism). Fase
“perumusan” dimulai pada masa persidangan pertama BPUPK dengan Pidato
Soekarono (1 Juni) sebagai creme de la creme-nya yang memunculkan istilah Panca
Sila, yang digodok melalui pertemuan Chuo Sangi In dengan membentuk “Panitia
Sembilan” yang menyempurnakan rumusan Pancasila dari pidato Soekarno dalam
versi Piagam Jakarta (yang mengandung “tujuh kata”). Fase “pengesahan” dimulai
sejak 18 Agustus 1945 yang mengikat secara konstitusional dalam kehidupan
bernegara.
Setiap fase konseptualisasi Pancasila itu melibatkan partisipasi pelbagai
unsur dan golongan. Oleh karena itu, Pancasila benar-benar merupakan karya
bersama milik bangsa. Meski demikian, tidak bisa dimungkiri, bahwa dalam karya
bersama itu ada individu-individu yang memainkan peranan penting.
Dalam lintasan panjang proses konseptualisasi Pancasila itu, dapat
dikatakan bahwa 1 Juni merupakan hari kelahiran Pancasila. Pada hari itulah, lima
prinsip dasar negara dikemukakan dengan diberi nama Panca Sila, dan sejak itu
jumlahnya tidak pernah berubah. Rumusan Pancasila sebagai dasar negara yang
secara konstitusional mengikat kehidupan kebangsaan dan kenegaraan bukanlah
rumusan Pancasila versi 1 Juni atau 22 Juni, melainkan versi 18 Agustus 1945.
Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila
Sejak disahkan secara konstitusional pada 18 Agustus 1945, Pancasila dapat
dikatakan sebagai dasar (falsafah) negara, pandangan hidup, ideologi nasional, dan
ligatur (pemersatu) dalam perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.
Singkat kata, Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang
penuntun (Leitstar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa dalam mencapai
tujuannya. Dalam posisinya seperti itu, Pancasila merupakan sumber jati diri,
kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa.
Dengan demikian, Negara Indonesia memiliki landasan moralitas dan
haluan kebangsaan yang jelas dan visioner. Suatu pangkal tolak dan tujuan
pengharapan yang penting bagi keberlangsungan dan kejayaan bangsa.
Sebagai basis moralitas dan haluan kebangsaan-kenegaraan, Pancasila
memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kuat. Setiap sila
memiliki justifikasi historitas, rasionalitas, dan aktualitasnya, yang jika dipahami,
dihayati, dipercayai, dan diamalkan secara konsisten dapat menopang pencapaian-
pencapaian agung peradaban bangsa.
Pokok-pokok moralitas dan haluan kebangsaan-kenegaraan menurut alam
Pancasila dapat dilukiskan sebagai berikut.
Pertama, menurut alam pemikiran Pancasila, nilai-nilai ketuhanan
(religiositas) sebagai sumber etika dan spritualitas (yang bersifat vertikal-
transendental) dianggap penting sebagi fundamen etik kehidupan bernegara.
Kedua, menurut alam pemikiran Pancasila, nilai-nilai kemanusiaan
universal yang bersumber dari hukum Tuhan, hukum alam, dan sifat-sifat sosial
manusia (yang bersifat horizontal) dianggap penting sebagai fundamen etika-politik
kehidupan bernegara dalam pergaulan dunia.
Ketiga, menurut alam pemikiran Pancasila, aktualisasi nilai-nilai
kemanusiaan itu terlebih dahulu harus mengakar kuat dalam lingkungan pergaulan
kebangsaan yang lebih dekat sebelum menjangkau pergaulan dunia yang lebih jauh.
Keempat, menurut alam pemikiran Pancasila, nilai ketuhanan, nilai
kemanusaan, dan nilai serta cita-cita kebangsaan itu dalam aktualisasinya harus
menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam semangat permusyawaratan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
Kelima, menurut alam pemikiran Pancasila, nilai ketuhanan, nilai
kemanusiaan, nilai dan cita kebangsaan, serta demokrasi permusyawaratan itu
memperoleh kepenuhan artinya sejauh dapat mewujudkan keadilan sosial.
Jika diletakkan dalam perspektif teoretis-komparatif, gagasan keadilan
sosial menurut Pancasila merekonsiliasikan prinsip-prinsip etik dalam keadilan
ekonomi baik yang bersumber dari hukum alam, hukum Tuhan, dan sifat-sifat sosial
manusia yang dikonseptualisasikan sejak pemikiran para filsuf Yunani, pemikiran-
pemikiran keagamaan, teori-teori Marxisme-sosialisme, sosial-demokrasi, hingga
“Jalan ketiga”.
Demikianlah,para pendiri bangsa ini telah mewariskan kepada kita suatu
dasar falsafah dan pandangan hidup negara yang begitu visioner dan tahan banting
(durable). Suatu dasar falsafah yang memiliki landasan ontologis, epistemologis,
dan aksiologis yang kuat, yang jika dipahami secara mendalam, diyakini secara
teguh, dan diamalkan secara konsisten dapat mendekati perwujudan “Negara
Paripurna”.
BAB 2
KETUHANAN YANG BERKEBUDAYAAN
Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terdapat suatu pengakuan
yang rendah hati dan penuh syukur bahwa kemerdekaan Indonesia bisa dicapai
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Dengan pengakuan ini, pemenuhan
cita-cita kemerdekaan Indonesia untuk mewujudkan suatu kehidupan kebangsaan
yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, mengandung kewajiban moral.
Dalam lintasan sejarah Nusantara, agam tidak pernah sekadar mengurusi
urusan pribadi, tetapi juga terlibat dalam urusan publik. Masyarakat kepulauan ini
pun tidak pernah berpengalaman sepahit Eropa dalam hal keterlibatan agama di
wilayah politik. Lebih dari itu, penyemaian sekularisasi politik oleh rezim kolonial
berjalan secara stimultan dengan peran publik agama dalam mengobarkan gerakan
perlawanan dan kebangkitan nasional.
Secara historis, hidup religius dengan kerelaan menerima keragaman telah
lama diterima sebagai kewajaran oleh penduduk Nusantara. Sejak zaman kerajaan
Majapahit, doktrin agama sipil untuk mensenyawakan keragaman telah
diformulasikan oleh Mpu Tantular dalam Sutasoma, “Bhineka Tunggal Ika tan
Hana Dharma Mangrwa”, berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran yang mendua
(Tantular, 2009:505).
Perspektif Historis
Sejak zaman purbakala hingga pintu gerbang (kemerdekaan) negara
Indonesia, masyarakat Nusantara telah melewati ribuan tahun pengaruh agama-
agama lokal, (sekitar) 14 abad pengaruh Hinduisme dan Budhisme, (sekitar) 7 abad
pengaruh Islam, dan (sekitar) 4 abad pengaruh Kristen.
Sejak zaman batu hingga pengaruh kebudayaan perunggu, masyarakat
prasejarah Nusantara telah mengembangkan kepercayaan tersendiri, yang secara
umum lazim disebut bercorak animisme dan dinamisme.
Sistem penyembahan dari kepercayaan ini berkembang seiring dengan
perkembangan cara hidup manusia. Ketika manusia masih tergantung sepenuhnya
pada alam, fenomena-fenomena alam (bulan-bintang-matahari, petir/thor,
angin/lampor, laut/ratu kidul) menjadi sembahannya. Ketika manusia mulai bisa
mendomestikasi binatang, hewan-hewan tertentu menjadi sembahan. Ketika
manusia mulai bisa bertani, timbul sistem penyembahan kepada zat yang menguasai
pertanian seperti Dewi Laksmi, Dewi Sri, Saripohaci, dan lain-lain. Penyembahan
kepada dewa-dewi ini pada perkembangannya membentuk sistem keagamaan
politeistik.
Sekitar abad ketiga dan keempat masehi, mulai masuk pengaruh agama
sejarah dari India (Hindu dan Buddha), disusul oleh pengaruh Islam dari Timur
Tengah yang dibawa masuk oleh para pedagang dari pelbagai ras (Arab, India,
China, dan lain-lain) mulai sekitar abad ke-7 dan tersebar luas setidaknya sejak abad
ke-13. Hampir bersamaan dengan penyebaran Islam, masuk pula pengaruh
keagamaan dari China (Konghucu), menyusul kemudian pengaruh Kristen dari
Eropa setidaknya sejak abad ke 16.
Sebegitu jauh, Tuhan telah menyejarah dalam ruang publik Nusantara,
meski usaha-usaha untuk mencerabutnya pernah diusahakan dalam penggalan akhir
periode kolonial. Pada (hampir) semua sistem religio-politik tradisional di muka
bumi, agama memiliki peran sentral dalam pendefinisian institusi-institusi sosial.
Negosiasi antara Sekularisasi dan Religiosasi Negara
Pada mulanya otoritas VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang
mengontrol bagian-bagian Kepulauan Nusantara selama hampir 200 tahun (1602-
1800), tidak memiliki kepentingan untuk mencampuri persoalan keagamaan dan
institusi tradisional kaum pribumi.
Dalam perkembangan lebih lanjut, terdapat ketegangan antara pandangan
sekuler pemerintah kolonial dengan upaya pemerinah kolonial untuk melumpuhkan
potensi-potensi perlawanan yang berbasis keagamaan. Karena itulah politik
“netralitas” terhadap agama berdiri di atas landasan yang rapuh. Konsolidasi
pemerintahan kolonial sangat berkepentingan untuk melucuti peran sosial-politik
keagamaan (terutama Islam). Upaya melucuti peran politik Islam dengan
membatasinya pada urusan peribadatan menimbulkan gangguan padas sistem
regio-politik tradisional. Upaya pemutusan peran politik keagamaan ini merupakan
awal dari proses sekularisasi politik (Smith, 1970: 10).
Sekularisasi Politik Indonesia
Tonggak terpenting dari proses sekularisasi ini adalah berkuasanya
pemerintahan Liberal pada paruh kedua abad ke-19. Memperoleh basis dukungan
dari pengusaha swasta dan kelas menengah, rezim liberal bertanggung jawab dalam
mempromosika “ruang publik” sekuler di Hindia Belanda. Ruang publik ini
menjelma dalam bentuk institusi dan kolektivitas sosial baru: sekolah-sekolah
sekuler, klub-klub dan asosiasi bergaya Eropa, lembaga penelitian, pers vernakular,
dan pelbagai kapitalisme penerbitan (print capitalism), serta sarana komunikasi
modern.
Peralihan ke penduduka Jepang tidak mencegah proses sekularisasi.
Meskipin terkesan lebih akomodatif terhadap Islam, sejauh menyangkut politik
Islam, pemerintahan Jepang meniru sikap kolonial sebelumnya. Dalam pola yang
sama dengan cetak biru Snouck Hurgronje yang memisahkan Islam dari politik,
pihak Jepang dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan menoleransi
perkawinan antara Islam dan politik (Benda, 1958: 111-113).
Hal ini tampak dalam penyusunan anggota Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), yang pendiriannya disponsori pemerintahan
Jepang pada 29 April 1945. Dari 63 (kemudian bertambah menjadi 69) anggota
BPUPK, hanya sekitar 13 orang wakil golongan Islam. Dominannya para politisi
“sekuler” (baca: netral agama) dalam Panitia ini mencerminkan preferensi pihak
Jepang untuk menyerahkan kedaulatan negara kepada orang-orang Indonesia (yang
menurut mereka) sanggup memerintah negara modern.
Religiosasi Politik Indonesia
Proyek sekularisasi masyarakat dan politik Nusantara oleh rezim kolonial
pada kenyataanya tidak menyurutkan peran publik agama. Perjumpaan komunitas
agam dengan kolonialisme berikut proyek sekularisasinya justru merupakan
pemicu utama munculnya kecenderungan ideologisasi agama dan pengerahan
perannya dalam arena publik-politik.
Dengan kemunculan intelegensia sebagai elite baru pada awal abad ke-20,
yang disusul oleh pergeseran daru gerakan mileniarisme menuju gerakan ideologis,
peran politik agama tidaklah surut.
Sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, “ulama-intelek” dan
“intelek-ulama” (dari kalangan modernis dan tradisionalis) memainkan peran
penting dalam mengembangkan ruang publik modern di Nusantara.

Dengan kemampuan untuk menyentuh pluralitas kondisi manusia,


kehadiran SI mempersatukan ragam imajinasi sosio-politik. SI dengan segera
menjadi perhimpunan pribumi pertama yangmenjangkau gugusan kepulauan
Nusantara, yang beroperasi dengan ideology nasionalis berwarna agama. Dengan
demikian, ideology dan pergerakan Sarekat Islam memberi landasan bagi
pengembangan ide “nasionalisme baru” bersama kemunculan pergerakan dan partai
politik sejak tahun 1920-an, di bawah kepemimpinan inteligensia.

Ketuhanan dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi

Kuatnya saham keagamaan dalam formasi kebangsaan Indonesia, membuat


arus besar pendiri bangsa tidak bisa membayangkan ruang publik hampa Tuhan.
Sejak decade 1920-an, ketika Indonesia mulai dibayangkan sebagai komunitas
politik bersama, mengatasi komunitas kultural dari ragam etnis dan agama, ide
kebangsaan tidak terlepas dari Ketuhanan.

Perbedaan pandangan antara kubu Tan Malaka dan Soepomo, selain karena
perbedaan latar pergerakan, hingga taraf tertentu mencerminkan perbedaan
lingkungan pengetahuan. Mereka yang menyuarakan ide negara Islam pada
umumnya berasal dari lingkungan pendidikan Islam yang kurang bersentuhan
dengan diskursus negara modern dan nasionalisme kewargaan. Rujukan utama
yang mereka kemukakan berasal dari tradisi politik masa kejayaan Islam, dengan
kecenderungan interpretasi sejarah yang meneyabngunkan antara komunitas
keagamaan dan komunitas politik.

Secara lebih lanjut, di kemukakan bahwa dalam sejarah Islam, memang


tidak dikenal pemisahan atau pertentangan antara agama dengan negara, karena
Islam memang tidak mengenal kependetaan. Paling-paling, pertentangan terjadi
dalam memperjuangkan perebutan jabatan kepala negara.

Kekecewaan yang muncul lebih merefleksikan masih menggeloranya


semangat “politik identitas”, yang pada umumnya lebih di definisikan oleh ingatan
pedih ke belakang, ketimbang oleh visi ke depan. Seperti tersirat dari pernyataan
Prawoto Mangkoesasmito, kubu Islam sesungguhnya sepakat dengan semua sila
Pancasila, namun tetap menuntut agar “tujuh kata” dipertahankan karena hal tu
menandai hal yang penting bahwa Islam yang selama zaman colonial terus
dipinggirkan, akan mendapat tempat yang layak dalam negara Indonesia merdeka.

Dalam situasi yang lebih jernih, tanpa perasaan terancam, tokoh-tokoh


Islam juga memiliki kelapangan hati untuk mengutamakan perdamaian, bersedia
menerima konstruksi komunitas politik egaliter, yang menjamin kesejahteraan hak
dan kewajiban bagi setiap warga negara tanpa memandang latar agama dan
golongan. Dalam kedudukan Muslim yang kuat, dengan suku-suku Badui yang
mulai mengalihkan dukungannya ke pihak Muslim, Nabi lebih memilih
kemenangan melalui perjanjian damai ketimbang pemaksaan dan kekerasan.

Perbedaan pandangan dalam relasi agama dan negara terjadi baik di siding-
sidang DPR maupun di Dewan Konstituante. Akan tetapi, bobot perselisihan di
persidangan konstituante lebih genting, karena menyangkut penyusunan dan
penetapan Konstitusi baru yang lebih permanen bagi masa depan Republik.
Betapapun dalam setiap golongan terjadi friksi internalnya masing-masing, namun
sejauh menyangkut persoalan dasar negara, terjadi konsolidasi internal yang
menciptakan pengkubuan.

Berdasarkan kenyataan ini, Negara Indonesia berdasarkan Pancasila-sila


Ketuhanan Yang Mahaesa-bukanlah negara yang terpisah dari agama, tetapi juga
tidak menyatu dengan agama. Tidak terpisah, karena negara, seperti dikatakan
Roeslan Abdoelgani, “secara aktif dan dinamis membimbing, menyokong,
memelihara, dan mengembangkan agama”, khususnya melalui departemen agama.
Tidak pula menyatu dengan negara, karena negara tidak didikte atau mewakili
agama tertentu, bahkan tidak pula memberikan keistimewaan kepada salah satu
agama. Secara lazim dikatakan, “Indonesia bukan ‘negara sekuler’ dan juga bukan
‘negara agama’.

Perspektif Teoretis-Komparatif

Betapapun, titik kompromi dalam hubungan agama dan negara di Indonesia


itu dicapai melalui konfrontasi pemikiran yang sengit dan pengorbanan yang sulit
diterima, tetapi dalam perkembangan waktu, hal itu membawa berkah tersembunyi
berupa “titik-tengah keemasan” yang member Indonesia prasyarat untuk menjadi
negara modern demokrasi.
Dalam hal ini, kita bisa bercermin dari trayek sejarah modernisasi dan
demokratisasi negara di Dunia Barat. Dalam trayek ini, bisa diamati bahwa proses
modernisasi dan demokratisasi memerlukan prakondisi berupa adanya kompromi
antara otoritas sekuler dan keagamaan.

Koreksi terhadap Tesis “Separasi” Agama dan Negara

Mengenai misinterpretasi dalam hubungan agama dan negara, Stepan


menunjukkan bahwa kelatahan umum tentang keniscayaan sekularisme (oemisahan
institusi agama dan negara) bagi negara demokrasi modern tidak menemukan bukti
empiris yang kuat. Di Irlandia, Polandia, dan Belgia, perkembangan kenegaraannya
beridentifikasi dengan Katolikisme dalam menghadapi kekuatan dominan negeri
tetangga yang berbeda agama. Bagi nasionalisme Belgia, seterunya adalah Belanda
dengan geraja Calvin-nya.

Pada abad ke-20, barangkali hanya ada dua contoh kasus pemisahan agama
dan negara di Eropa Barat yang paling bermusuhan. Hal ini terjadi pada 1931 di
Spanyol dan pada 1905 di Perancis. Akan tetapi, pada saat ini, kedua negara tersebut
mengembangkan “pemisahan” yang bersahabat. Situasi demikian harus dipenuhi
bahkan ketika suatu negeri memiliki agama negara.

Koreksi terhadap Tesis “Privatisasi” Agama

Negoisasi antara proses sekularisasi dan religiosasi mengandung


konsekuensi bahwa agama tidak disudutkan hanya melulu mengurusi ruang privat,
tetapi juga punya kemungkinan keterlibatan dalam ruang publik. Teori sekularisasi
dan doktrin liberal yang menyatakan bahwa keyakinan keagamaan akan memudar
dan kehilangan relevansinya dalam ruang publik, seiring dengan pendalaman
proses modernisasi dan keperluan adanya “kemandirian konsepsi keadilan” di luar
agama, menuai banyak bantahan.

Alih-alih terjadinya proses privatisasi agama, bangkitnya gerakan-gerakan


tradisional keagamaan pada era 1980-an dan 1990-an, mulai dari politik Islam
hingga teologi pembebasan Katolik, yang membawa agama keluar dari ruang privat
ke ruang publik, mengindikasikan bahwa yang sedang berlangsung justru terjadinya
proses deprivatisasi. Kecenderungan deprivatisasi ini, menurutnya, tidak hanya
berlaku dalam dunia Barat Kristen, melainkan juga dalam dunia Islam, Yahudi,
Hindu, dan Budhha.

Dari Separasi dan Privatisasi ke Diferensiasi

Bila sekularisasi sebagai proses pemudaran dan pemisahan peran agama


tidak memiliki bukti empiris yang kuat, teori modernisasi menyisakan satu asumsi
yang bisa diterima, yakni sekularisasi sebagai proses “pembedaan”. Hal ini merujuk
pada perbedaan fungsional antara institusi-institusi keagamaan dari ranah lain
dalam masyarakat modern, terutama negara, ekonomi dan sains.
Konsepsi “diferensiasi” juga sesungguhnya punya akar yang kuat dalam
tradisi Islam. Seperti telah dikemukakan oleh Mohammad Hatta di atas, Islam tidak
memiliki unit otoritas keagamaan per se, “Kerk”. Oleh karena itu, dokrin pemisahan
gereja dan negara, dengan batas yang tegas, tidak bisa diterapkan untuk konteks
Islam.

Ketiadaan sistem kependetaan berarti juga tidak ada otoritas yang memiliki
kewenangan untuk memutuskan bentuk Islam resmi. Tidak adanya otoritas
keagamaan dalam Islam, mengandung konsekuensi bahwa agama tidak bisa
memonopoli ruang publik. Dalam pandangan Casanova, diferensiasi modern
menjadi penyangkal dari asumsi pemudaran agama, karena ternyata berperan
penting dalam menumbuhkan gairah keagamaan dalam masyarakat modern.

Membumikan Ketuhanan dalam Kerangka Pancasila

Dalam mengamalkan komitmen etis Ketuhanan ini, Pancasila harus


didudukkan secara proporsional, bahwa ia bukanlah agama yang berpretensi
mengatur sistem keyakinan, sistem peribatan, sistem norma, dan identitas
keagamaan dalam ranah privat dan ranah komunitas agama masing-masing.
Proposisi bahwa “Indonesia bukan negara sekuler dan bukan negara agama” ini
memperoleh kontekstualisasinya dalam konsepsi “diferensiasi”.

Nilai-nilai Ketuhanan yang dikehendaki Pancasila adalah nilai Ketuhanan


yang positif, yang digali dari nilai-nilai profetis agama-agama yang bersifat
inklusif, membebaskan, memuliakan keadilan dan persaudaraan. Dalam pancasila,
wawasan teosentris akan memperkuat etos kerja karena kualitas kerjanya
ditransendesikan dalam batasan hasil kerja materinya. Dibawah panduan nilai-nilai
Ketuhanan, Pancasila bisa memberikan landasan moral dan filosofis bagi sistem
demokrasi yang hendak kita kembangkan. Sila Ketuhanan mengajak bangsa
Indonesia untuk mengembangkan etika sosial dalam kehidupan publik-politik
dengan memupuk rasa kemanusiaan dan persatuan, mengembangkan hikmah
permusyawaratan dan keadilan sosial.
BAB III
KEMANUSIAAN UNIVERSAL

Dalam kesadaran kemanusiaan secara universal, Indonesia hanyalah


sebagian kecil di muka bumi, tetapi tetap merupakan bagian penting dari planet ini.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, yang menjadi lokasi strategis
persilangan antar benua dan antar samudera. Dengan daya tarik berupa kekayaan
sumberdaya yang berlimpah, Indonesia menjadi titik temu yang membawa proses
penyerbukan silang-budaya dari pelbagai arus peradaban dunia.
Indonesia sejak lama dipengaruhi dan memngaruhi realitas global, dan oleh
karena itu, Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari komitmen kemanusiaan
universal. Komitmen perjuangan ini secara ideal bersifat universal namun
pelaksanaannyasecara historis-sosiologis bersifat partikular. Dengan demikian
,komitmen untuk menjunjung tinggi kemanusiaan universal (humanity) yang adil
dan beradab itu mengandung implikasi ganda. Disatu sisi seperti diungkapkan oleh
Soekarno , “Kebangsaan yang kita anjurkan bukanlah kebangsaan yang menyendiri,
bukan chauvinisme” melainkan kebangsaan yang menuju pada kekeluargaan
bangsa-bangsa” (internasionalisme). Disisi lain nilai-nilai kemanusiaan universal
itu hanyalah bermakna sejauh bisa dikebumikan dalam konteks sosio-historis
partikularitas bangsa-bangsa yang heterogen. Dengan demikian, bab ini akan
menguraikan konstektualisasi sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan Yang Adil dan
Beradab”, dalam politik kebangsaan Indonesia.

Perspektif Historis
Wilayah Nusantara yang berada di sekitar garis khatulistiwa, sejak zaman
es telah menjadi tempat yang kondusif bagi kehidupan manusia purba dan menjadi
jalur persinggahan terpenting dalam arus migrasi homosapiens, sebelum menyebr
ke tempat lain di muka bumi. Itu sebabnya Indonesia dinyatakan sebagai cikal-
bakal peradaban di muka bumi.
Indonesia pun memiliki tiga dari empat gunung berapi di dunia yang
letusannya dinilai paling dahsyat dan paling berpengaruh sepanjang sejarah
manusia. Gunung berapi itu adalah Gunung Toba (Sumsel), Gunung Tambora
(Sumbawa), dan Gunung Krakatau (Selat Sunda). Letusan dari ketiga gunung
tersebut memiliki dampak yang sangat besar, bahkan ketika Gunung Tambora
meletus pada 1815, sekitar 100.000 manusia punah, karena dampak letusan
mengakibatkan kelaparan dan rusaknya persawahan. Kemudian Indonesia adalah
satu-satunya bangsa yang menamai negerinya dengan sebutan “Tanah Air” karena
segala jurusan di Nusantara ini terpotong oleh jalan-jalan air. Berkenaan dengan hal
itu, posisi strategis Indonesia ini menjadi faktor yang menarik kedatangan pelbagai
arus peradaban dunia.
Nusantara sebagai Perintis Jalan Globalisasi
Sebagai titik singgung dalam persilangan perdagangan dan budaya
antarbangsa, Nusantara pernah mencapai kemegahannya sebagai kesatuan maritim,
sebagai kekuatan laut yang jaya. Pada saat itu lautan di Nusantara menjadi faktor
penghubung yang mempertautkan hubungan komunikasi sosial antarpulau dan
kemudian antarbenua.
Sebelum masehi, nenek moyang bangsa Indonesia, dengan teknologi perahu
bersistem cadik, telah menyeberangi 70 kilometer laut lepas untuk mencapai
Australia. Para penjelajah Nusantara ini berperan penting sebagai katalis
perniagaan antara Romawi, India, dan Timur Jauh- khususnya dalam perniagaan
rempah-rempah. Dalam penjelajahan Samudera Hindia ini, para pelaut Nusantara
bukan hanya singgah di Afrika, tetapi juga meninggalkan banyak jejak kebudayaan
di benua tersebut: memperkenalkan jenis tanaman baru, musik, seni yang
pengaruhnya masih bisa ditemukan dalam budaya Afrika sekarang.
Sebagai pemula dalam penjelajahan samudera, dan sebagai kekuatan
maritim yang jaya pada saat kontak-kontak antarbenua berbasis laut, dapat
dikatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia merupakan perintis dari
“globalisasi purba”
Arus Balik: Globalisasi di Nusantara
Arus-arus peradaban nyatanya tidaklah bergerak satu arah. Perjumpaan
antar peradaban membawa proses saling belajar. Teknologi pelayaran Nusantara
dipelajari dan dikembangkan oleh komunitas-komunitas peradaban lain.
Sebaliknya, para penjelajah Nusantara mengambil dan mengembangkan nilai-nilai
dan pengetahuan dari peradaban lain.
Melalui proses persilangan budaya dan perdagangan, terjadilah arus masuk
nilai-nilai budaya dan agama ke Nusantara, terutama dari India, Arab, Persia,
China, dan Eropa. Internalisasi nilai ini baru berjalan simultan dengan arus masuk
armada-armada perdagangan lintas-benua, yang tertarik datang karena letaknya
sebagai titik persilangan, serta kekayaan alamnya.
Pengaruh Indianisasi (Hindu-Budha) mulai dirasakan pada abad ke-5,
bersama kemunculan dua kerajaan yang terkenal, Kerajaan Mulawarman di Kaltim
dan Tarumanegara di Jawa. Pengaruh Islamisasi pun mulai dirasakan secara kuat
pada abad ke-13 dengan kemunculan kerajaan-kerajaan Islam awal seperti Kerajaan
Samudera Pasai di sekitar Aceh. Pengaruh China mulai dirasakan sejak abad ke-14
pada zaman Dinasti Ming di China. Pengaruh pemberatan mulai dirasakan pada
abad ke-16 dimana negara-negara kolonial mulai berdatangan seperti Portugis,
kemudian disusul dengan Belanda dan Inggris.
Memasuki paruh kedua abad ke-19, pergulatan pengaruh peradaban global
di Nusantara mengalami proses intensifikasi, kecuali pengaruh arus indianisasi
secara umum mengalami pemudaran. Intensifikasi ini didorong oleh luberan
konflik sosial dan ideologi pada tingkat global . Meskipun menimbulkan
ketegangan antar dan intraperadaban, intensifikasi penetrasi global ini juga
membawa efek peniruan bagi masyarakat Nusantara yang menimbulkan perubahan
mentalitas dan harapan kemajuan.
Stimulus Pembaratan bagi Kesadaran Kemajuan
Di Barat (Eropa dan Amerika Utara), proyek kolonialisme yang bersahutan
dengan revolusi industri membawa perubahan besar dalam dunia kerja dan
kehidupan yang membawa konflik dalam hubungan eksternal dan internal bangsa-
bangsa di kawasan ini. Yang ditimbulkan bukan hanya konflik antar bangsa dalam
memperebutkan tanah jajahan, , sumber daya, dan pasar internasional, melainkan
juga konflik antar kelas secara internal di bangsa masing-masing.
Inilah masa ketika pelbagai paham ideologi mulai dirumuskan sebagai
ikhtiar emansipasi. Di satu sisi ada usaha arus balik ke masa praindustrial dengan
memimpikan restorasi tatanan dunia lama. Di sisi lain, ada arus visi ke depan
dengan pengadopsian tatanan baru yang sepadan dan relevan dengan tantangan
industrial.
Dampak perkembangan sains dan teknologi bagi masyarakat bukan hanya
membuat “perorganisasian secara terencana” merupakan suatu keharusan, tetapi
juga menuntut penggantian kelas penguasa tradisional,yang bersifat aristokatis dan
berwawasan pedesaan, oleh elit baru yang mewakili kekuatan ekonomi dan
intelektual baru.
Era kolonialisme tidak berlangsung lama, menjelang akhir abad ke-19,
kejadian-kejadian sosio-ekonomi dan politik, baik di negeri Belanda maupun
Hindia-Belanda, membawa kredo liberalisme menjadi seruan yang usang.
Stimulus Islam bagi Kesadaran Kemajuan
Pusat-pusat Islam di pelbagai belahan bumi bereaksi dalam rangka
menghadirkan respons tandingan atas hegemoni Barat di Dunia Muslim. Penetrasi
Barat pada mulanya direspons melalui mekanisme defensif yang menolak secara
apriori Barat seraya berseru supaya umat Islam kembali ke ortodoksi Islam yang
dikenal sebagai gerakan “reformisme Islam”. Paham reformasi ini menyerukan
pemurnian terhadap keyakinan dan praktik Islam sesuai dengan Qur’an, hadits, dan
fiqih yang dikombinasikan dengan asketisisme Sufi. Dalam hal ini, para pembaru
mengidealkan nabi Muhammad sebagai teladan yang sempurna. Karena itu, mereka
berusaha menghapuskan pemujaan terhadap wali serta kultus dan upacara
keagamaan yang dianggap bid’ah, membuang semua kepercayaan atas takhayul dan
sihir, serta menentang para penguasa di negeri-negeri Muslim untuk bekerjasama
dengan kaum Kolonial.
Pada paruh kedua abad ke-19, muncullah gerakan “modernisme Islam”
yang mencoba memadukan unsur-unsur positif dari dunia Barat dan dunia Islam.
Gerakan inteektual baru itu terinspirasi oleh ajaran dari seorang pemikir Islam
bernama Jamal al-Din al-Afghani. Sejak saat itu, gerakan Pan-Islam menjadi
sebuah perwujudan dari apa yang dulu diimpikan al-Afghani sebagai solidaritas
Islam. Di mata al-Afghani, Pan-Islam dan Nasionalisme bisa saling melengkapi
aspek-aspek “pembebasan”-nya. Yang menjadi desain besar dari politik Pan-Islam
dalam jangka panjang adalah pendirian sebuah blok Muslim internasional yang
merupakan konfederasi semi-otonom dari negara-negara Muslim.
Sejak peralihan abaad 19/20, para ulama Nsantara yang terpengaruh oleh
gerakan reformisme-modernisme Islam di Timur Tengah mulai melakukan usaha-
usaha modernisasi terhadap lembaga pendidikan Islam tradisional. Usaha
modernisasi dikembangkan dengan mengadopsi kurikullum, metode pembelajaran,
dan teknologi pendidikan modern model Barat yang dikombinasikan dengan isi dan
semangat pengajaran Islam.
Dari trayek ini, muncullah “ulama-intelek” yang dengan jaringan
madrasahnya mengembangkan pula rumah-rumah penerbitan, institusi-institusi
sosiall, dan organisasi-organisasi keagamaan baru melalui proses apropriaso
terhadap model Barat. Beberapa contohnya adalah pembentukan Sarekat Dagang
Islamiah (2908) dalam bidang sosial ekonomi, Al Moenir (1911) dalam penerbitan,
Muhammadiyah (1912)-dan kemudian Nahdlatul Ulama (1926)-dibidang sosial
budaya serta Sarekat Islam (1912) di bidang sosial-politik. Kehadiran institusi-
institusi tersebut berperan penting dalam meluaskan gerakan kemajuan dan ruang
publik modern di luar orbit priyayi dan sel-sel inti pembaratan.
Stimulus China bagi Kesadaran Kemajuan
Pada abad ke-19 arus imigran keturunan China (Tionghoa) di Nusantara
mengalami peningkatan. Mereka datang untuk dipekerjakan. Meskipun kaum
minoritas, Tionghoa memainkan peran penting, khususnya dalam perekonomian.
Berkat kecakapannya dalam perdagangan, pemerintah kolonial memanfaatkannya
sebagai agen perantara bagi pasar dalam negeri. Kemudian logika kapitalisme
Tionghoa mendorong dan menggerakkan mereka menuju media massa yang
berorientasi kemajuan. Mereka mulai mendirikan pers mereka sendiri, pers itu tidak
sekedar merespon kepentingan-kepentingan komersial saja tapi juga melayani
aspirasi-aspirasi kemajuan. Tionghoa juga mencontoh klub-klub sosial dan sistem
pendidikan bergaya Eropa yang membuat mereka selangkah lebih maju.
Diceritakan pula bahwa Tionghoa semakin termotivasi setelah Dr. Sun Yat Sen
memenangkan revolusi pada 1911, Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok
Merdeka.
Sumber dari inspirasi kebangkitan itu pada kenyataannya bukan hanya dari
Barat yang menjadi penjelmaan kemajuan, namu juga dari Timur. Demikianlah
kemajuan keturunan Tionghoa dan kebangkitan nasionalisme di China serta
pelbagai negeri lainnya di Asia seperti Jepang, memberi inspirasi bagi gerakan-
gerakan kemajuan dan kebangkitan di Tanah Air.
Negosiasi Antarperadaban dalam Konstruksi Kebangsaan Indonesia
Pada dekade kedua di abad ke-20 muncul gerakan-gerakan sosial
inteligensia yang mempresentasikan keragaman peradaban, arkeologi pengetahuan,
dan intensitas kesadaran politik, terutama reaksi terhadap politik segregasi sosial
yang dikembangkan oleh kolonial. Struktur peluang politik pada dekade ini
mencerminkan karakter khas kepemimpinan Gubernur Jenderal Idenburg yang
tergolong kaum Ethici atau kaum yang memiliki kepedulian besar terhadap
kemajuan dan pergerakan di tanah jajahan. Dalam tahun-tahun kepemimpinan
Idenburg, kelompok Kristen mendapatkan banyak bantuan. Usaha Kristenisasi ini
berbenturan dengan intensifikasi Islamisasi. Gerakan revivalisme Islam kini
menjelma menjadi gelombang pasang yang menggerakkan turbin kebangkitan
Islam. Pada dekade ini, organisasi-organisasi keislaman seperti Muhammadiyah
dan Sarekat Islam mulai mengembangkan sayapnya melampaui batas-batas
kedaerahan. Selain aktivitas Kristen dan Islam, intensitas sentimen-sentimen
keagamaan di ruang publik Hindia menjadi memanas oleh adanya kegiatan dakwah
dari ordo-ordo spiritual dan sekte-sekte agama yang baru seperti Perhimpunan
Teosofi, Freemason, dan Ahmadiyah. Perhimpunan keagamaan baru seperti ini
secara aktif merekrut para anggotanya.
Faktor lain yang menyebabkan makin memanasnya ruang publik
adalah meningkatnya kepercayaan diri orang-orang Tionghoa. Meningkatnya
ekspektasi sosial dari kalangan ini didorong oleh menguatnya daya tawar ekonomi
dan tingkat pendidikan mereka yang bertaut dengan kebangkitan nasional yang
terjadi di Tiongkok.
Yang paling penting dari dekade ini yaitu keterlibatan langsung
organisasi-organisasi politik Belanda dalam urusan-urusan politik di Hindia. Benih-
benih Marxisme dan komunisme revolusioner mulai secara sistematis disemaikan
di bumi Hindia. Pada dekade pertama yaitu serikat buruh pegawai pemerintah yang
dipimpin secara eksklusif oleh orang-orang Eropa, sementara pada dekade kedua
beberapa propaganda Marxisme dan Komunisme, terutama mantan aktivis dari
Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP) dan Partai Demokrat Belanda
(SDP).
Proses negosiasi dan persilangan budaya antarperadaban itu mengarah pada
penguatan komitmen bersama pada kebebasan ketika dihadapkan pada situasi
kesengsaraan ekonomi dan penindasan politik yang semakin mencengkeram.
Situasi seperti ini lah yang memunculkan semangat emansipasi yang digali
dari pelbagai unsur peradaban dan pengalaman. Beberapa diantaranya adalah
semangat emansipasi yang digali dari inspirasi keagamaan, etika, dan ilmu
pengetahuan, ideologi, dan dari pengalaman penderitaan itu sendiri. Semangat
emansipasi ini mendorong gerakan anti koloialisme yang mengarah padausaga
penciptaan “komunitas politik impian bersama”.
Dengan kesadaran akan pertautan rasa kemanusiaan antarbangsa, menjadi
jelaslah bahwa sosok nasionalisme yang hendak dikembangkan bangsa Indonesia
ini adalah nasionalisme yang luas, yang berdimensi internasionalisme. Menurut
Soekarno, yang dimaksud internasionalisme ini yaitu nasionalisme yang luas,
bukan nasionalisme yang ditimbulkan dari kesombongan bangsa, bukanlah
chauvinism, dan bukanlah nasionalisme seperti bangsa Barat. Nasionalisme kita
adalah nasionalisme yang yang didalam kelembagaan memberi tempat cinta pada
bangsa-bangsa yang lain.
Kemanusiaan (Internasionalisme) dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi
Sejak hari pertama persidangan (29 mei), Muhammad Yamin telah
menyebutkan soal tujuan kemerdekaan dengan salah satu dasarnya ialah
”kemanusiaan” (Internasionalisme).Dia juga membayangkan “Indonesia menjadi
anggota yang berkedaulatan dalam permusyawaratan bangsa-bangsa Asia Timur
Raya dan dalam Persaudaraan bangsa-bangsa sedunia”.Pada gilirannya, prinsip
kemanusiaan (Internasionalisme) sebagai salah satu dasar Negara Indonesia
merdeka memperoleh formulasinya yang lebih jelas dalam pidato Soekarno ketika
menguraikan Pancasila, pada siding BPUPKI, 1 Juni 1945.
Dalam rancangan pembukaan UUD yang disusun oleh Panitia Sembilan,
peletakan prinsip internasionalisme (perikemanusiaan) sebagai dasar Negara itu
sama seperti dalam pidato Soekarno, yakni sebagai prinsip (sila) kedua dari
Pancasila. Selanjutnya, kata “kemanusiaan” diberi kualifikasi dengan kata sifat
“adil” dan “beradab”, sehingga rumusan selengkapnya menjadi “Kemanusiaan
yang adil dan beradab”. Dengan kesadaran eratnya hubungan antar nasionalisme
dan internasionalisme, orientasi kemanusiaan yang adil dan beradab itu bersifat
ganda: “keluar” (ikut memperjuangkan kedamaian dan keadilan dunia) dan “ ke
dalam” (memuliakan hak hak asasi manusia, sebagai individu maupn kelompok).
Pada pembukaan UUD 1945, komitmen kemanusiaan ini terkandung di
semua alinea, terutama di alinea pertama dan keempat. Alinea pertama
menegaskan, komitmen bangsa Indoenesia pada kemanusiaan universal dengan
menekankan kemutlakan hak merdeka bagi seala bangsa dan (implisit) warganya
tanpa kecuali. Alinea kedua menekankan perjuangan nasionalis meraih
kemerdekaan dan menentukan nasib sendiri (self-determination) serta idealisasi
kemanusiaan di alam kemerdekaan. Alinea ketiga mengembalikan derajat manusia
pada fitrah kesetaraannya dalam berkat penciptaan Tuhan, yang menghendaki
suasana kehidupan kebangsaan yang bebas, dan dengan itu, Indonesia
mendeklarasikan kemerdekaannya. Alinea keempat mengandung dua hal penting.
Pertama, membawa isu-isu kemanusaan kepada tujuan Negara dalam kerangka
pemenuhan kebahagiaan dan hak kolektif maupun (implisit) perseorangan, dalam
kehidupan nasional maupun internasional. Kedua, menjangkarkan isu-isu
kemanusiaan pada dasar Negara, khususnya dasar kedua, yaitu “kemanusiaan yang
Adil dan Beradab”.
Dalam pembukaan ini tampak jelas bahwa para pendiri bangsa mempunya
argumen yang kuat, bukan hanya untuk berdirinya suatu bangsa, melainkan juga
hidup dan “beroprasi”-nya sebuah organisme bernama Negara. Argumen pertama
menegaskan bahwa kolonialisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap
kenyataan bahwa manusia adalah fana dihadapan Tuhan yang mutlak. Argumen
kedua adalah argument self-determination (from alien domination). Argumen ini
menjadi fondasi dari perlindungan hak dasar, yang kemudian dikenal sebagai hak
asasi manusia (HAM).
Hak dasar/asasi manusia (HAM) termuat dalam satu piagam terpisah, tetapi
tersebar dalam beberapa pasal, terutama antara pasal 27-34, pasal pasal mengenai
hak warga Negara terkandung dalam pasal 27 , 30, 31. Adapun pasal pasal
mengenai hak hak asasi yang bersifat universal terkandung pada pasal 28 dan 29.
Hak hak asasi ini juga adakalanya tidak dikemukakan dengan cara tersurat,
melainkan dengan cara tersirat, seperti pasal 33 dan 34, adanya pasal pasal itu
sudah meliputi apa yang kemudia sering disebut tiga generasi hak asasi manusia,
yaitu:
1. Generasi pertama: Hak sipil dan Hak politik
2. Generasi kedua: Hak demokratis
3. Generasi ketiga: hak ekonomi-sosial-kultural-kolektif

Dengan kembalinya Indonesia ke bentuk Negara kesatuan, pasca “Mosi


Integral Natsir” pada 1950, membawa perubahan dalam kebatinan dan
keseimbangan kekuasaan. Peniadaan “hak bertukar agama atau keyakinan” dalam
UUDS 1950 mencerminkan residu aspirasi kelompok islam yang menemukan
kembali peluang untuk menyatakan keberatannya atas pengakuan hak ini yang
dianggapnya bertentangan dengan hukum Islam. Komitmen pada kemanusiaan dan
HAM berlanjut pada sidang Konstituante.
Beberapa berharap agar kemajuan pengakuan konstitusional atas HAM
seperti terkandung dalam Konstitusi RIS dan UUDS 1950 dapat diteruskan. Oe
Tjoe Tat (Baperki) menyatakan agar UUD baru lebih progresif dari UUDS 1950,
Mang Reng Say (Partai Katolik) juga mengucapkan hal senada dengan
mengingatkan bahwa untuk menghasilkan konstitusi yang sesuai dengan kebutuhan
bangsa, Konstituante harus terbuka terhadap dunia luar. Dia juga menekankan
pentingnya jaminan pada hak minoritas dan perorangan sebagai bagian inti
demokrasi yang menentang absolutisme.
Pada 9 September 1958, Konstituante mengadakan pemungutan suara
mengenai judul untuk bagian mengenai HAM. Mayoritas suara (352 dari 443
anggota yang hadir) memilih judul “HAM dan Hak-Hak serta Kewajiban Warga
Negara”. Hal ini mengindikasikan kesadaran Indonesia untuk memuliakan hak-hak
individu (sebagai warga Negara dan manusia) dengan tetap menjunjung tinggi
semangat kekeluargaan.
Pada 9 Desember 1958, Panitia Persiapan Konstitusi berhasil melengkapi
rancangan pasal pasal UUD mengenai HAM. Panitia Persiapan Konstitusi telah
berhasil mencapai keputusan mengenai 22 pasal tentang HAM dalam rancangan
UUD baru. Tiga belas hak dan kewajiban lainnya masih terdapat perbedaan karena
Koalisi Pancasila dan Islam di dalam panitia tersebut masih mempertahankan pasal-
pasal konstitusional versi masing masing. Tetapi dengan UUD 1945 pun tidak
mengurangi komitmen bangsa Indonesia pada persoalan kemanusiaan universal dan
penghormatan hak-hak asasi manusia. Bukan karena telah mengandung tiga
generasi HAM, tetapi tersedianya rujukan sumber hukum tidak tertulis.
Dengan rekam jejak perjalanan bangsa ini, tampak jelas bahwa sila
kemanusiaan yan adil dan beradab memiliki akar yang kuat dalam historisitas
kebangsaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia menghadirkan suatu bangsa yang
memiliki wawasan global dengan kearifan local, memiliki komitmen pada
ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan serta pada
pemuliaan hak hak asasi manusia dalam suasana kekeluargaan kebangsaan
Indonesia.
Perspektif Teoritis-Komparatif
Kemanjuran konsepsi internasionalisme yang berwawasan kemanusiaan
yang adil dan beradab itu menemukan ruang pembuktiannya segera setelah
proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dukungan internasional atas kemerdekaan
dan kedaulatan Indonesia pertama kali muncul dari dunia Arab. Dukungan Palestina
bahkan telah dimulai sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, yakni
segera setelah Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, mengucapkan janji
historisnya pda 7 September 1944 yang akan memberi kemerdekaan kepada
Indonesia. Setelah diproklamasikan , Mesir adalah negara yang pertama kali
mengakui kemerdekaan Indoesia pada 23 Maret 1946, disusul oleh negara-negara
Liga Arab (Irak, Libanon, Arab Saudi, Syria, Yaman, Yordania dan juga Mesir)
dengan mengeluarkan resolusi pada 18 November 1946 yang mengakui Indonesia
sebagai negara yang berdaulat.
Seiring dengan itu, sejak kabinet Sjahrir I (14 November 1945-12 Maret
1946) , mulai dirintis usaha membuka perwakilan Indonesia di luar negeri. Mula-
mula dibuka di Singapura, kemudian di New Delhi, Karachi, Rangoon, Canberra,
Bangkok, Kairo, Baghdad, London, Kabul, New York, yang mencerminkan
dukungan atau setidaknya hospitalis mereka atas kemerdekaan Indonesia.
Dukungan Internasional atas kemerdekaan Indonesia semakin terasa setelah agresi
militer Belanda I (21 Juli 1947-5 Agustus 1947). Dengan agresi itu, pengakuan de
facto atas Indonesia justru berdatangan mengalir dari negara-negara sahabat seperti
Afghanistan, Birma, Arab Saudi, Yaman, dan Rusia. Dunia Internasional menolak
aksi Belanda ini. India dan Australia pada 30 Juli 1947, langsung membawa
masalah Indonesia ke dalam sidang Dewan Keamanan di Lake Succes, Amerika
Serikat.
Baik Indonesia dan Belanda tidak boleh hadir secara resmi di sidang
tersebut. Walau berbagai pihak telah berubaya untuk menyelesaikan persengketaan
Indonesia-Belanda, van Kleffens tetap menganggap bahhwa Dewan Keamanan
tidak berhak mencampuri pertikaian Indonesia-Belanda. Agaknya dia alpa bahwa
keadaan telah berubah. Di satu pihak, Belanda mengakui Indonesia secara de facto
melalui Perjanjian Linggarjati. India, sebagai negara yang mengajukan tuntutan
mengenai pembahasan masalan Indonesia, diundang secara resmi dalam sidang itu.
Baik India maupun Australia secara bersama menganggap bahwa agresi militer
Belanda dapat menganggu perdamaian dan keamanan Internasional.
Ketua delegasi Indonesia , Sutan Sjahrir, tampil ke depan podium guna
menjelaskan perkembangan yang terjadi di Indonesia. Dalam pidatonya, Sjahrir
menguraikan jauh ke belakang. Selama abad 14-15, Kerajaan Majapahit telah
mampu memperluas ruang lingkup wilayah Indonesia, bukan saja mencakup
kepulauan Nusantara melainka juga telah menjangkau ke arah Pulau Madagaskar
(Afrika Timur). Disamping itu, peragangan dengan China dan benua Eropa-
terutama Belanda-berkembang dengan pesatnya. Hubungan dagang dengan
Belanda telah dilakukan semenjak abad 15 melalui perusahaan besar yang dikenal
dengan nama VOC (Verenigde Oost Indische Compaigne). Petani Indonesia
sebagai mitra perdagangan Belanda senantiasa mendapat tekanan. Hal ini mencapai
puncaknya pada abad ke-18 ketika Kerajaaan Belanda mengambil alih peranan
VOC yang kemudian dibubarkan. Jangkauan Belanda pun meluas, dan hingga
mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Ketika datang serbuan bala tentara Jepang dalam Perang Dunia II, pasukan
Belanda lari ketakutan. Ini berbeda dengan Indonesia yang tetap bertahan, Akan
tetapi, ketika Jepang dikalahkan sekutu, Belanda secara bersembunyi datang ke
Indonesia dibelakang pasukan Inggris. Disini terdapat perbedaan pendapat antara
Indonesia dengan Belanda. Rakyat Indonesia menganggap daerah bekas jajahan
Belanda ini milik mereka sebenarnya.. Maka, diproklamasikanlah kemerdekaan
Indonesia pada abad 17 Agustus 1945. Bila Indonesia ini memang milik Belanda,
tutur Sjahrir, seharusnya mereka mempertahankannya dari serangan siapa pun yang
hendak mengambil alih kepulauan ini. Tetapi itu mereka tidak pernah mereka
lakukan.
Pada 23 Agustus 1947, Dewan Keamanan lebih menyetujui rancangan
resolusi Herschel V.Johnson (Amerika Serikat)-sebagaimana halnya keinginan van
kleffes dalam membentuk Komite Jasa-Jasa. Langenhove mengajukan sebuah
rancangan resolusi yang meminta pendapat Pengadilan Tinggi Internasional
tentang Dewan Keamanan dalam menyelesaikan persengketaan Indonesia-
Belanda. Mengingat Dewan Keamanan baru mengetahui wewenang Dewan
Keamanan dalam menyelesaikan sengketa semacam itu. Saat dilakukan
pemungutan suara, Sumitro berusaha menghitung satu per satu suara yang menolak
rancangan resolusi Belgia-Belanda tersebut. Dan hanya empat negara yang tidak
menyetujui resolusi tersebut, yaitu Belgia, Perancis, Inggris, Belanda. Faris el-
Khouri langsung melanjutkan sidang pada hari itu, sebab Dewan Keamanan dengan
demikian dinyatakan berhak membahas dan mengambil keputusan terhadap
Indonesia-Belanda. Polandia masih sempat menggolkan sebuah resolusi lagi yang
isinya mengingatkan agar pihak Indonesia dan Belanda benar-benar menaati
resolusi 1 Agustus 1947, mengenai perintah gencatan senjata dan penciptaan
perdamaian.
Pada 19 Desember 1948, sekali lagi Belanda melancarkan agresi militer II.
Agresi ini menimbulkan kecaman dunia internasuinal, seperti Amerika Serikat, atas
Belanda, sebaliknya semakun memperkuat dukungan internasional atas kedaulatan
Indonesia. Perlawanan gigih tentara Indonesia melalui perang gerily juga membuat
Belanda tidak memiliki pilihan lain kecuali kembali ke meja perundingan.
Konferensi Meja Bundar di Den Haag dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.
Hasilnya, pada 30 Desember 1949, belanda mengakui kedaulatan Republik
Indonesia.
Dekolonisasi, Demokratisasi dan HAM dalam Konteks Perang Dingin
Dalam latar internasional, kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia
itu bertaut dengan gelombang dekolonisasi, terutama di Asia dan Afrika pasca
perang Dunia II. Hasrat untuk menentukan nasib sendiri dan terbebas dari berbagai
bentuk penindasan yang berasosiasi dengan kemenangan negara-negara demokrasi
Barat yang telah mapan dalam Pd II, tampaknya menjadi salah satu alasan pokok
mengapa banyak negara pasca kolonial berpaling kepada sistem pemerintahan
demokratis.
Gelombang demokratisasi ini berdampingan dengan peningkatan kesadaran
akan hak-hak asasi manusia (HAM) pasca PD II, dimulai dengan kemunculan
Piagam PBB sejak 26 Juni 1945 dan menemukan momentumnya setelah Universal
of Human Rights (UHDR) pada 10 Desember 1948. Pernyataan ini terdiri atas 30
pasal berisi pokok-pokok pandangan Majelis Umum PBB tentang jaminan hak-hak
asasi manusia (HAM). Gelombang dekolonisasi, demokratisasi, dan perhatian
internasional pada HAM ini menemukan sandungannya ketika dunia segera
memasuki suasana Perang Dingin. Setelah Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet
(US) bersekutu dan berhasil menghancurkan Jerman Nazi, kedua belah pihak
berselisih paham dalam usaha membangun kembali dunia, khususnya Eropa, pasca
perang. Sejak awal aliansi antara Uni Soviet , negara komunis pertama didunia, di
satu sisi, dngan AS, negara kapitalis terkaya di dunia, dan Britania Raya, kerajaan
terbesar di dunia di sisi yang lain, memang telah diwarnai oleh saling
ketidakpercayaan dan perbedaan ideologis.
Setelah musuh bersama bisa diatasi, segera terjadi konflik, ketegangan, dan
kompetisi antara AS dan sekutunya (disebut blok Barat) dan US beserta sekutunya
(disebut blok Timur), yang terjadi 1947-1991. Periode ini dikenal sebagai Perang
Dingin. Konflik antara kedua blok ini lantas menyebar ke seluruh dunia ketika AS
membentuk sejumlah aliansi dengan berbagai negara, terutama dengan negara di
Eropa Barat, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Meskipun kedua negara adikuasa
itu tidak pernah bertempur secara langsung, konflik diantara keduanya secara
langsung atau pun tidak langsung telah menyebabkan berbagai perang atau
ketegangan, baik dalam hubungan antarbangsa maupun didalam bangsa-bangsa.
Posisi Indonesia dalam Konteks Perang Dingin.
Memasuki suasana Perang Dingin, Indonesia berusaha konsisten dengan
prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab dalam pergaulan antarbangsa. Prinsip
yang menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak setiap bangsa dan warganya,
serta prinsip yang menekankan ko-eksistensi damai yang secara aktif “ikut
melaksanakan ketertiban dunia”. Pilihan Indonesia atas politik luar negeri bebas
aktif itu menempatkannya dalam perpaduan antara perspektif teori “idealisme
politik” (political idealism) dan “realisme politik” (political realism) dlam
hubungan internasional. Sebagai bangsa yang telah lama mengalami penjajahan
serta menghadapi ancaman baru dari poros-poros permusuhan internasional,
Indonesia pun tidaklah naif dalam menyadari realistas-realistas hubungan
internasional, yang jauh dari kerangka idealitas.
Penggunaan politik luar negeri mencerminkan ciri-ciri khas dari kehidupan
politik didalam negeri serta perkembangan dalam reaalitas internasional. Realitas
Internasional juga memengaruhi kontekstualisasi ide-ide demokrasi dan hak-hak
asasi manusia di negeri ini. Sebagai tempat persilangan arus-arus internasional,
Indonesia ikut hanyut dalam gelombang dekolonisasi yang bertaut dengan
gelombang kedua demokratisasi di muka bumi, dengan memroklamasikan
kemerdekaan Republik Indonesia yang bercorak demokratis.
Sebagaimana negara-negara yang baru merdeka lainnya, ketika
dekolonisasi berakhir, Indonesia memerlukan waktu untuk mengembangkan kuktur
politik demokratis. Setelah sekian lama berada dibawah dominasi asing (alien) yang
tidak dijalankan dengan prinsip akuntabilitas yang responsif terhadap kebutuhan
masyarakat koloni, Indonesia mengalami kesulitan untuk mengembangkan
pemerintahan yang memadai dan responsif.
Ketegangan dalam kehidupan nasional yang bertaut dengan ketegangan
internasional lantas di proyeksikan dalam sikap internasionalisme Indonesia.
Memandang kemerdekaan Malaysia sebagai antek neo-kolonialisme, Presiden
Soekarno lantas melancarkan Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Ketika PBB
menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewann Keamanan PBB, Presiden
Soekarno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB pada 20 Januari 1965, dan
sebagai alternatifnya membentuk poros kekuatan baru dalam kerangka Conference
of New Emerging Forces (Conefo). Sebagai tandingan olimpiade, Soekarno bahkan
menyelenggarakan GANEFO (Games of Emerging Forces) yang diselenggarakan
di Jakarta pada 10-20 November 1963. Kembalinya Indonesia ke PBB baru terjadi
setelah Presiden Soeharto mengambil alih tongkat kepimpinan nasional. Pada 19
September 1966, Indonesia mengajukan permohonan kembali sebagai anggota
yang diterima oleh Majelis Umum PBB sejak 28 September 1966.
Perbedaan Perspektif tentang HAM: Universalisme versus Partikularisme.
Kesulitan dan masalah yang melanda Indonesia itu mereflesikan
kecenderungan umum negara-negara Dunia Ketiga yang mengalami hambatan
yang serius untuk melaksanakan HAM dan demokrasi dalam suasana dunia yang
diwarnai oleh bentrokan Timur-Barat serta kesenjangan Utara-Selatan. Ada dua
narasi besar, universalisme dan partikularisme, yang karena perbedaan fundamental
dalam konsepnya mengakibatkan perbedaan pemahaman atas (1) karakter HAM
(apakah internasional atau murni domestik), (2) pentingnya individu sebagai lawan
hak masyarakat, (3) penetuan waktu dan penahapan implementasi HAM dan
penegakannya. Semua titik divergensi itu, dengan potensinya untuk disimpangkan,
dalam pekembangan selanjutnya memunculkan rasa tidak percaya dan ekspresi
permusuhan.
Secara umum dapat dinyatakan, kaum universalisme menegaskan bahwa
HAM adalah hak semua orang. HAM berasal dari “konsep hukum alam yang
menegaskan bahwa manusia memiliki hak ilmiah tertentu untuk hidup, bebas dan
punya kepemilikan. Pada sisi lain, kaum partikularis (kultural relativis) memersepsi
bahwa norma-norma HAM tidak muncul dari ruang hampa melainkan dibentuk
oleh seperangkat pengalaman masyarakat tertentu. Karena setiap masyarakat
memiliki kondisi sejarahnya tersendiri, hanya aspek-aspek HAM tertentu yang
dapat diterapkan pada masyarakat tertentu dan akan berbeda dari suatu masyarakat
ke masyarakat lain.
Dalam perspektif kaum partikularis, doktrin liberal HAM tidak berbicara
mengenai pandangan dunia manusia. Fondasi ontologis budaya dan masyarakat
mereka, dan ketertarikan individu dengan individu lain dan masyarakat, dalam
beberapa hal berbeda secara signifikan. Sebagai negara baru, negara-negara Dunia
Ketiga lebih memerhatikan kedaulatan nasionalnya serta tantangan dalam negeri
dibandingkan dengan agenda internasional.
Titik divergensi ketiga berkenaan dengan isu status komparatif hak individu
dan hak kolektif, karena kaum universalis (Barat) lebih menekankan pada hak
individu sedang kaum partikularis (negara Dunia Ketiga) lebih menekankan pada
hak kolektif. Untuk mendapatkan HAM tidak memerlukan apa pun kecuali
dilahirkan sebagai manusia. Sejumlah pendukungnya menegaskan bahwa “ide
tentang hak mutlak (inalienable rights) kerap ditegaskan oleh para penyair, filsuf,
dan politisi sejak jaman dahulu. Pada sisi lain, kaum partikularis mengajukan
konsepsi antitesis. Mereka menyatakan bahwa “manusia tidak merumuskan diri
mereka dalam posisi sebagai individu otonom, namun mereka lebih mengalami
dirinya sendiri sebagai orang yang mengalami dirinya sendiri sebagai orang yang
memiliki status turunan” (ascribe status) sebagai anggota kelompok yang lebih
besar atau komunitas seperti keluarga, suku, kelas, bangsa, atau kelompok lain.
Titik-titik divergensi di atas kemudian memunculkan perbedaan persepsi
dalam waktu dan tahapan impelementasi dan penegakan HAM dan pematuhannya.
Pada satu sisi, menurut kaum universalis, implementasi HAM harus komprehensif
dan menyatu. Dalam putaran terakhir kontroversi, divergensi seperti itu
mentransformasikan dirinya sendiri ke dalam medan pertempuran. Masing-masing
pihak menunjukan saling tidak percaya dan curiga bahwa lawannya
mengeksploitasi perbedaan guna melegitimasi kepentingannya sendiri. Kaum
universalis (Barat) menuduh pemerintah negara Dunia Ketiga mengekploitasi
argumen partikularis untuk membenarkan “kuatnya” negara sehingga melahirkaan
kebijakan represif dan menerapkan tujuan-tujuan nasional demi kesejahteraan
masyarakat.
Sementara itu, kaum partikularis (pemerintah-pemerintah negara Dunia
Ketiga) mengklaim bahwa alasan universalis digunakan pemerintah-pemerintah
barat sebagai senjata politik guna menekan daya kompetitif ekonomi dalam
pembangunan ekonomi. Mereka juga menuduh pemerintah negsra-negara Barat
tidak konsisten dan menggunakan standar ganda dalam menerapkan prinsip-prinsip
Ham yang universal. Lebih jauh lagi, kaum partikularis (Dunia Ketiga) juga sering
menunjukan pembusukan masyarakat Barat dalam bentuk peningkatan kejahatan,
meningkatnya ketimpangan ekonomi, kemerosotan moral, keterasingan dari proses
politik, dan substansi-substansi lain yang berbahaya.
Akan tetapi, munculnya revolusi teknologi komunikasi, yang menimbulkan
globalisasi kehidupan ekonomi, politik, dan kehidupan sosial kontemporer
mengakibatkan interpenetrasi pengalaman budaya dan kecenderungan, yang
disebut Vattimo sebagai “hibridisasi” antartradisi. Dengan cepat, HAM berubah
menjadi “bahasa ibu” masyarakat global dan membentukbbagian dari jaringan
perspektif luas yang dibagi dan dipertukarkan antara Utara dan Selatan, pusat dan
pinggiran, dalam banyak bentuk, kreatif dan kadang-kadang dalam cara yang
bermuatan konflik.
Persoalan HAM dan Relevansi Internasionalisme di Era Globalisasi
Globalisasi modern dan posmodern menemukan pijakan nya dari
perlombaan gengsi antarnegara adikuasa yang mengarah pada penemuan –
penemuan teknologi mutakhir, terutama di bidang persenjataan yang kemudian
berkelindan dengan bidang telematika. Revolusi di bidang teknologi informasi dan
telekomunikasi membawa “distansiasi ruang–waktu” (time-space distanciation)
sekaligus “pemadatan ruang-waktu” (time-space compression) yang merobohkan
batas – batas ruang dan waktu konvensional (Giddens, 1999; Harvey, 1989).
Dengan fenomena ini, globalisasi merestrukturisasi cara hidup umat manusia secara
mendalam, nyaris pada setiap aspek kehidupan.
Pada ranah negara-bangsa (nation-state), di satu sisi, globalisasi menarik
(pull away) sebagian dari kedaulatan negara-bangsa dan komunitas lokal, tunduk
pada arus global interdependence, yang membuat negara-bangsa dirasa terlalu kecil
untuk bisa mengatasi (secara sendirian) tantangan – tantangan global. Di sisi lain,
globalisasi juga menekan (push down) negara-bangsa, yang mendorong ledakan
desentralisasi dan otonomisasi.
Pada ranah ekonomi, di satu sisi, pergerakan global dari ide – ide, orang,
teknologi dan barang memberi peluang – peluang baru dalam perekonomian,
terutama bagi negara-bangsa dan pelaku ekonomi yang memiliki keunggulan
kompetitif. Di sisi lain, dengan posisi awal dan konsekuensi nya yang tidak sama,
globalisasi membelah dunia ke dalam pihak “yang menang” (winners) dan “yang
kalah” (losers), serta menumbuhkan ketidaksetaraan baik secara internasional
maupun dalam negara-bangsa (Hobsbawm, 2007:3).
Globalisasi juga menjadi kendaraan emas bagi para pendukung pasar bebas
untuk mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi dalam skala mondial.
Globalisasi memang meningkatkan kesadaran akan HAM di Dunia Ketiga, namun
sekaligus juga memasok hambatan baru yang membuat idealisasi HAM itu sulit
diimplementasikan dalam praksis pembangunan. Halangan dalam promosi HAM
muncul sejak tahun ’80-an dari hegemoni ideologi neo-liberalisme yang menyerang
fondasi dasar pada sistem HAM yang telah dibangun: kombinasi hak sipil, politik,
ekonomi, sosial, dan budaya.
Badan HAM PBB telah mencermati dampak negatif dari globalisasi pasar
neo-liberalisme atas HAM, secara khusus pada hak ekonomi, sosial, dan budaya.
Tidak satu pun dari studi ini yang menolak penting nya kerjasama dan perdagangan
global, tetapi studi ini lebih mengarahkan perhatian pada ancaman terhadap
kemanusiaan dan HAM yang ditimbulkan oleh globalisasi pasar yang berbasis
ideologi neo-liberalisme.
Tantangan – tantangan globalisasi pasca-Perang Dingin memerlukan
komitmen dan visi internasionalisme baru yang relevan dengan perkembangan
zaman. Dihadapkan pada tantangan globalisasi modern, reformasi terhadap PBB
mutlak dilakukan untuk membuatnya lebih efektif, representatif, dan bertanggung
jawab dalam memenuhi tantangan global yang semakin kompleks. Reformasi ini
harus mempertimbangkan terjadinya pergeseran dalam kekuatan ekonomi dan
keseimbangan kekuasaan (power politics) di tingkat global. Reformasi juga harus
mempertimbangkan munculnya pelbagai tekanan global atas kapastitas manusia
untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Munculnya organisasi – organisasi supranasional dan perusahaan –
perusahaan multinasional dengan kekuatan modal raksasa memang menyurutkan
peran pemerintah dalam suatu negara-bangsa. Negara-bangsa juga masih memiliki
peran sentral dalam penegakan HAM internasional. Dengan demikian, harus ada
keseimbangan antara komitmen internasionalisme dan nasionalisme,
pemberdayaan international governance dan pemberdayaan negara-bangsa.
Membumikan Kemanusiaan dalam Kerangka Pancasila
Prinsip kedua dari Pancasila mencerminkan kesadaran bangsa Indonesia
sebagai bagian dari kemanusiaan universal. Merasakan kepedihan dan penderitaan
sebagai bangsa yang terjajah selama ratusan tahun lamanya, Indonesia terpanggil
untuk melawan sisi negatif-destruktif dari anasir – anasir internasional yang
merendahkan martabat kemanusiaan. Maka, tidak heran kalau spirit
humanitarianisme dan egalitarianisme yang tumbuh dalam alam pikir yang tengah
bergelora untuk menghantam penjajah yang bersandar pada prinsip perbedaan
derajat atau superioritas suatu bangsa di atas bangsa lain. Dengan demikian, sejak
awal berdirinya, Indonesia dibangun atas kesadaran internasionalisme. Tetapi
paham internasionalisme itu juga diberi sentuhan egalitarianisme. Nasionalisme
Indonesia, dengan demikian, memperjuangkan kesamaan kemanusiaan.
Sebagai falsafah negara yang menjiwai Konstitusi kita, Pancasila
merupakan testamen historis yang membela prinsip kesamaan. Dengan prinsip
kesamaan kemanusiaan yang adil dan beradab, komitmen kemanusiaan dan ikatan
persaudaraan bangsa Indonesia menembus batasan – batasan lokal, nasional, atau
regional, menjangkau persaudaraan antarmanusia dan antarbangsa secara global.
Visi kemanusiaan yang adil dan beradab bisa menjadi panduan (guiding principles)
bagi proses pengadaban (civilizing process), yang meliputi kehidupan
bermasyarakat, bernegara, dan dalam pergaulan antarbangsa.
Sila kedua menunjuk kepada nilai – nilai dasar manusia, yang diterjemahkan
dalam hak – hak asasi manusia, taraf kehidupan yang layak bagi manusia, dan
sistem pemerintahan yang demokratis serta adil. Dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab tidak lain adalah kelanjutan dengan disertai perbuatan dalam praktik hidup
dari dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha
Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab itu menuntut pemerintah
dan penyelenggara negara untuk memelihara budi-pekerti kemanusiaan yang luhur
dan memegang cita – cita moral rakyat yang luhur.
Kesimpulan
Sila perikemanusiaan yang adil dan beradab, apabila digali, merupakan visi
bangsa Indonesia yang mengandung begitu banyak nilai manusiawi yang bisa
dijadikan pegangan dalam mengantisipasi tantangan globalisasi. Pancasila
seharusnya dijadikan sebagai prinsip pemberadaban manusia dan bangsa Indonesia.
Persoalan HAM menjadi tantangan yang serius dalam membuktikan komitmen
kemanusiaan bangsa Indonesia. Di tengah tekanan globalisasi yang semakin luas
cakupan nya, dalam penetrasinya dan instan kecepatannya, sifat masyarakat
Indonesia yang cenderung lentur dalam menerima pengaruh global bisa bersifat
positif maupun negatif. Positif, sejauh yang diserap adalah unsur – unsur positif-
konstruktif yang menguatkan cita – cita kemerdekaan, perdamaian dan keadilan
sosial. Negatif, sejauh yang diserap adalah unsur – unsur negatif-destruktif yang
menimbulkan ketergantungan (neokolonialisme), permusuhan dan ketidakadilan.