Anda di halaman 1dari 46

LAPORANKASUS MANDIRI

KOASISTENSI ILMU BEDAH DAN RADIOLOGI

COLOPEXY PADA ANJING HIMAWARI

Disusun oleh :

DEPARTEMEN ILMU BEDAH DAN RADIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................i
PENDAHULUAN...................................................................................................1
TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................3
Anjing...................................................................................................................3
Anatomi Kolon Anjing.........................................................................................4
Colopexy..............................................................................................................6
Premedikasi dan Anestesi.................................................................................... 7
Teknik Operasi.....................................................................................................8
Manajemen Pasca Operasi.................................................................................12
Mekanisme Kesembuhan Luka..........................................................................12
MATERI DAN METODE.....................................................................................17
Materi.................................................................................................................17
Metode................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................21

1
BAB I
PENDAHULUAN
Domestikasi anjing oleh manusia yang termanifestasi dalam bentuk

hewan kesayangan (pet animal) berdampak besar pada sistem pengaturan proses

metabolisme pada anjing. Campur tangan manusia dapat menyebabkan

ketergantungan secara reversibel terhadap anjing dan sebaliknya. Gangguan pada

sistem pencernaan hewan merupakan salah satu hal yang penting untuk

diperhatikan karena berkaitan langsung dengan pertumbuhan serta perkembangan

hewan. Gangguan pada sistem pencernaan yang dapat terjadi salah satunya ialah

prolapsus rektum. Prolapsus rektum adalah tonjolan keluar jaringan rektum

melalui anus. Penyebab kejadian ini adalah proses pengejanan kuat yang terjadi

saat proses defekasi pada diare kronis, proses partus terutama pada kasus dystocia

juga dapat menyebabkan prolaps rektum, penyebab lainnya adalah sembelit,

urolithiasis, obstruksi anus serta obstruksi vesica urinaria.

Penanganan pada kasus prolapsus rektum dapat berupa reposisi

manipulative yaitu secara manual, colopexy hingga amputasi rektal. Colopexy

merupakan salah satu pilihan yang efektif pada kasus prolapsus rektum kronis

untuk mencegah rektum tidak kembali prolaps. Colopexy merupakan tindakan

operasi untuk melekatkan secara permanen kolon descenden dengan dinding

abdomen untuk mencegah prolaps rektum (Fossum, 2002).

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan proposal kasus operasi colopexy adalah untuk

memahami prosedur dan teknik operasi yang meliputi persiapan operasi, cara

anastesi, teknik operasi colopexy, serta perawatan pascaoperasi colopexy.

1
2

Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan proposal kasus operasi colopexy adalah sebagai bahan

pembelajaran tertulis baik bagi penulis ataupun pihak lainnya dalam hal

pemahaman ilmu mengenai prosedur dan teknik operasi colopexy yang meliputi

persiapan operasi, cara anestesi, teknik operasi colopexy, serta perawatan pasca

operasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Anjing
Anjing atau yang dikenal dengan nama ilmiah Canis (lupus) familiaris

merupakan mamalia karnivora yang mengalami domestikasi sejak 15.000

tahunyang lalu berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil dan tes DNA.

Saat inianjing berperan sebagai hewan kesayangan yang dipelihara di rumah.

DiIndonesia populasi anjing sangat berkembang baik anjing-anjing lokal

maupunras.

Anjing termasuk keluarga Canidae dengan nama ilmiah Canis familiaris

ini berdasarkan taksonomi digolongkan dalam ordo Carnivora. Ciri-ciri keluarga

ini antara lain tubuhnya kecil memanjang, telinga dan moncongnya runcing.

Anjing mempunyai indera penciuman tajam dapat berlari jauh lebih cepat

daripada binatang karnivora lain. Ciri khas anggota keluarga Canidae adalah

mempunyai kemampuan berenang (Budiana, 2008).

Proses pencernaan meliputi proses pengambilan makanan yang dilakukan

mulut dan lidah, melalui faring dan kerongkongan, masuk ke dalam lambung. Di

lambung terjadi pencernaan mekanis dan biokimia. Makanan masuk ke usus

halus pencernaan biokimiawi dan mikrobia terjadi. Produk pemecahan organik

bermanfaat diserap tubuh kemudian sisanya masuk ke usus (colon). Dicolon

terjadi penyerapan air dan penghancuran sisa metabolisme oleh mikroba,

selanjutnya dikeluarkan melalui rektum dan anus sebagai feses (Subronto, 2015).

3
4

Anatomi Kolon Anjing

Secara umum usus besar dikenal sebagai sekum. Usus besar dimulai dari

cranial disisi kanan dan dikenal sebagai colon ascenden, kemudian melengkung

dan dikenal sebagai colon transversus dan melanjut ke caudal dan dikenal sebagai

colon descenden. Bagian akhir dari usus besar adalah rektum yang berada di

cavum pelvis dengan ujung rektum disebut dengan anus (Cochran, 2011).

Anjing mempunyai panjang colon ascendens 3-9 cm, colon transversus 6-8

cm dan colon descendens 10-16 cm (Fossum, 2002). Pada anjing jenis Turkish

Shepherd (Karabash) umur 17-18 bulan, berat badan 28,30 ± 1,14 kg dan panjang

tubuh 81,20 ± 2,57 cm mempunyai ukuran colon dengan diameter 28,39 ± 0,76

mm dan panjang 33,32 ± 2,16 cm (Yildiz et al., 2005).

Colon dibagi menjadi kolon ascenden, transfersum dan descenden. Colon

terletak di bagian dorsal dari cavum abdomen.Bagian cranial colon adalah colon

transfersum, bagian dexter yang pendek adalahcolon ascenden. Flexura yang

menyatukan dua bagian ini disebut dengan flexuracoli dextra. Colon trasfersum

melanjut ke colon desecenden pada flexura yangterletak di sisi kiri mesenterium.

Flexura ini disebutb dengan flexura coli sinistra.Colon memiliki diamter 2 cm

dengan panjang 25 cm (Evan et al., 2013)

Colon ascenden dimulai dari istium ileal, dan berakhir pada fluxura colic

dexter. Panjang colon ascenden ini kira-kira 5 cm. Colon ascenden terhubung

dengan mesoduodenum dan lobus kanan pankreas. Colon transversum

membentuk busur yang dimulai dari kanan ke kiri menuju cranial arteri
5

mesenterika dan bagian dorsal mesojejunoileum atau akar dari mesenteri.

Colontransversum memiliki panjang 7 cm (Evan et al., 2013).

Colon desecending merupakan bagian paling panjang dari colon. Segmen

usus ini meluas dari fluxura colic sinister mengarah secara transfersal masuk ke

pelvis dan melanjut sebagai rektum. Panjang colon desecending ini kira-kira 12

cm dengan bentuk cukup lurus (Evan et al., 2013).

Gambar 1. Anatomi sistem pencernaan pada anjing (Aspinal, 2004).

Gambar 2.Intestinal tract dari anjing (Konig , 2004).


6

Colopexy

Colopexy adalah operasi yang dilaksanakan untuk melekatkan secara tetap

permukaan serosa kolon dan dinding abdomen sehingga mencegah pergerakan

kolon dan rektum. Indikasi operasi ini ditujukan untuk mencegah timbulnya

prolapsus rektal (usus keluar / menggantung melalui anus) berulang (Fossum,

2002; Slatter, 2003).

Colopexy adalah prosedur bedah umum untuk (adesi) secara permanen

antara permukaan serosa dari colon descendens dan lateral dinding abdomen yang

menembus peritoneum dan m. transversus abdominis untuk mencegah pergerakan

dari colon dan rectum. Indikasi dari operasi ini ditujukan untuk mencegah

timbulnya prolap rektal dan torsi usus (Zhang, et al., 2012). Beberapa kasus yang

berakibat pada kejadian prolapsus rektal adalah distokia, urolithiasis, neoplasma

intestinal, hernia perineal, konstipasi dan pasca operasi anus atau perineal (Slatter,

2003; Fossum, 2002).

Gambar 3.Prolaps rektal pada anjing cross-bred German Shepherd


(Kumar etal., 2012).
7

Premedikasi dan Anastesi


Atropine Sulfate

Atropine sulfat digunakan guna mengurangi sekresi saliva dan bronkial,

melindungi jantung dari efek vagal inhibition dan mencegah efek muskarinik.

Atropine dapat menurunkan peristaltik intestinal dan menyebabkan dilatasi pupil.

Dosis atropine sulfat 0,02-0,04 mg/Kg BB dengan konsentrasi 0,025%.

Pemberian atropine dapat dikombinasikan dengan ketamin, phencyclidine dan

azaperone, tetapi tidak dianjurkan digunakan saat hewan mengalami takikardia.

Atropine dapat diberikan melalui subkutan atau intramuskular 30-40 menit

sebelum anastesi atau segera sebelum anastesi bila diberikan melalui intravena

(Sardjana et al., 2015).

Ketamine Hydrochloride

Ketamin termasuk golongan anastetik dissosiatif. Dosis untuk anjing 10-

15 ml/Kg BB dengan konsentrasi 10%. Hampir pada semua hewan, pemberian

ketamin dengan pemberian tunggal bukan obat anastetik yang bagus, karena obat

ini tidak dapat merelaksasi muskulus bahkan kadang-kadang tonus sedikit

meningkat. Pemberian ketamin perlu dikombinasikan dengan xylazine. Efek

puncak pada hewan umumnya tercapai dalam waktu 6-8 menit dan anastesi

berlangsung selama 30-40 menit, sedang untuk recovery dibutuhkan waktu 5-8

jam (Sardjana et al., 2015).

Xylazine

Xylazine dapat menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis, selain itu

juga mempunyai efek analgesi. Dosis xylazine adalah 1-2 mg/Kg BB dengan

konsentrasi xylazine 2%. Bila dipakai bersama barbiturate dan ketamine


8

potensiasi yang terjadi dapat mencapai 50%. Efek sedasi tercapai maksimal 20

menit setelah pemberian intramuskular dan berakhir setelah satu jam. Xylazine

yang dipakai untuk tujuan relaksasi muskulus pada umumnya dikombinaskan

dengan ketamine. Efek samping meliputi bradikardia dan penurunan cardiac

output, vomit, tremor, motilitas intestinal menurun tetapi kontraksi uterus

meningkat, selain itu juga mempengaruhi keseimbangan hormonal (menghambat

produksi insulin dan antideuretic hormone (ADH) (Sardjana et al., 2015).

Teknik Operasi Colopexy

Anjing yang datang dipuasakan selama 24 jam dan tidak diberi air minum

12 jam sebelum operasi. Premedikasi diberikan 30 menit sebelum operasi yaitu

atropine sulphate (0,04 mg/kg secara intramuscular), setelahnya berikan

anesthesia.

Anjing diposisikan rebah dorsal sehingga terlihat bagian ventral abdomen, dan

fiksasi keempat kakinya untuk mempertahankan posisi. Pada daerah linea alba

olesi iodine secara sirkuler, dimulai dari tarikan linear sepanjang garis yang akan

diincisi, lalu melingkar kearah luar, tunggu 2-5 menit agar iodine bekerja.

Sementara itu, cuci dan sterilkan tangan untuk memasang duk dari bagian caudal,

lalu lateral sinister, cranial, dan lateral dexter, kemudian pertahankan posisinya

dengan duk klem. Laparotomi dilakukan di daerah caudal midline (Kumar, et al.,

2012).
9

Gambar 4. Laparatomi, incisi lanjutan menggunakan gunting (Tobias, 2010)

Irisan pada dinding abdomen dilakukan lewat kaudal midline tepat di

belakang umbilikus ke arah kaudal ±6-12 cm dengan scalpel blade. Sebelum

dilakukan irisan pada linea alba muskulus yang terletak pada kanan kiri garis

median dijepit dengan allis forceps kemudian dengan menggunakan gunting atau

scalpel dibuat irisan kecil pada linea alba. Dengan menggunakan gunting dan

tangan sebagai pemandu supaya tidak menggunting organ visceral, irisan pada

linea alba diperpanjang secukupnya. Tepi irisan dikuakkan dengan allis forceps

sampai rongga abdomen terbuka dan tarik keluar kolon yang akan dioperasi

( Kumar et al., 2012)

Sepanjang 3-6 cm bagian kolon dilekatkan pada dinding abdomen 2,5 cm

dari linea alba dengan jahitan sederhana tunggal, dengan benang catgut chromic.

Jahitan dilakukan pada permukaan antimesenterik kolon dan menembus lapisan

submukosa. Jahitan jangan sampai menembus mukosa kolon (Fossum, 2002;

Slatter, 2003). Jahitan antara kolon dan musculus transverses (abdominal wall)

dapat menggunakan benang yang diserap, seperti Catgut chromic, Vicryl, Dexon

yang rata-rata mempunyai durasi kekuatan maksimal selama 10-14, dan diserap
10

cukup lama, sehingga memberikan waktu bagi adhesi antara colon dan musculus

transverses abdominal (abdominal wall) (Mann et al., 2011).

Gambar 5. Incisi ringan pada colon(Tobias, 2010)

Untuk menguji kekuatan jahitan, bisa dilakukan penarikan ringan antara

colon dengan dinding jahitan (Kumar, et al.,2012). Kulit atau dinding abdomen

dijahit berturut-turut dalam dan luar yaitu peritoneum dan linea alba dengan

benang catcut chromic secara sederhana tunggal. Subkutan dijahit dengan jahitan

menerus dengan menggunakan catgut plain. Sedangkan kulit dijahit dengan

jahitan sederhana tunggal memakai benang vycryl atau katun, kemudian bekas

jahitan diberi salep iodine.

Gambar 6. Uji kekuatan jahitan (Tobias, 2010)


11

Gambar 7.Penjahitan colon pada dinding abdomen(Kumar et al., 2012 ;Mann


et al., 2011).

Untuk menguji kekuatan jahitan, bisa dilakukan penarikan ringan antara

colon dengan dinding jahitan (Kumar et al., 2012). Kulit atau dinding abdomen

dijahit berturut-turut dalam dan luar yaitu peritoneum dan linea alba dengan

benang catgut chromic secara sederhana tunggal. Subkutan dijahit dengan jahitan

menerus dengan menggunakan catgut plain. Sedang kulit dijahit dengan jahitan

sederhana tunggal memakai benang vycryl atau katun kemudian bekas jahitan

diberi iodine ( Kumar et al., 2012).

Gambar 8. Jahitan pada linea alba dan peritoneum(Mann et al., 2011).


12

Gambar 9.Jahitan subcutan menggunakan pola sederhana menerus

Gambar 10. Jahitan Kulit dengan pola jahitan sederhana tunggal

(Mann et al., 2011).

Manajemen Pasca Operasi

Anjing dan kucing akan merasakan rasa sakit yang sangat setelah paska

operasi laparatomi. Analgesik biasanya diadministrasikan untuk satu hingga tiga

hari paska operasi (Tobias, 2010). Morfin efektif untuk manajemen rasa sakit

paska operasi meskipun antiinflamasi nonsteroid seperti kaprofen, meloksikam,

dan ketoprofen juga sama efektifnya. Morfin paling baik diadministrasikan

sebelum hewan sadar secara intravena dengan dosis 0,1 mg/kg pada anjing dan

0,02 pada kucing. Pelembut seperti laktulosa diberikan paska operasi. Laktulosa

diberikan 1ml/4,5kg secara peroral setiap delapan jam sekali pada awalnya dan

selanjutnya ketika diperlukan (Plumb, 2008). Antibiotik sistemik (Ampicilin

20mg/kg secara intramuskuler setiap 8 jam) diberikan selama lima hari. Perilaku

dan nafsu makan, bersama dengan pemeriksaan fisiologis dilakukan sehari dua
13

kali selama 7 hari paska operasi. Air minum dapat diberikan dua jam paska

operasi, sedangkan makan dapat diberikan enam jam paska operasi (Zhanget al.,

2012).

Mekanisme Kesembuhan Luka

Proses penyembuhan luka terdiri atas beberapa fase yaitu inflamasi,

proliferasi, dan juga remodeling (Sabirin et al., 2013).

1. Fase inflamasi

Fase inflamasi ini terjadi sesaat adanya respon kelukaan atau cedera pada

jaringan. Daerah yang mengalami kelukaan maka jaringan yang rusak akan

mengalami vasodilatasi yang tadinya mengalami vasokontriksi dan hemostasis

(Sabirin et al., 2013). Vasodilatasi ini terjadi karena pada jaringan yang rusak dan

sel mast melepaskan histamin dan mediator lainnya, akibatnya pembuluh darah di

sekelilingnya mengalami vasodilatasi yang mengakibatkan suplai darah ke darah

yang mengalami kelukaan menjadi bertambah. Pada fase ini terjadi peningkatan

permeabilitas vaskular menyebabkan kemotaxis dari sirkulasi sel, pelepasan

sitokin dan faktor pertumbuhan, serta munculnya sel radang makrofag,

neutrofil,limfosit dan fibroblas. Proses ini biasanya berlangsung selama 5 hari

(Morison,2003).

2. Fase proliferasi

Fase proliferasi berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira

akhir minggu ketiga (Balqis et al., 2014). Pada fase ini terjadi proliferasi sel-
14

selfibroblast yang berasal dari sel-sel mesenkim yang belum berdiferensiasi.

Tanda-tanda inflamasi mulai berkurang, terbentuknya jaringan granulasi yang

terbentuk dari gulungan kapiler baru yang menopang kolagen dan substansi dasar

(Morison, 2003). Fase proliferasi dibuktikan dengan angiogenesis, deposisi

jaringan kolagen, pembentukan jaringan granulasi, dan migrasi sel epitel (Sabirin

et al., 2013).

3. Fase maturasi

Fase maturasi atau fase remodeling ditandai dengan terdapat remodeling

jaringan dan kolagen, maturasi epidermis, dan pengerutan luka (Sabirin et al.,

2013). Fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri atas penyerapan kembali

jaringan yang berlebihan, dan akhirnya kembali ke jaringan yang baru (Morison,

2003). Fase ini berlangsung lama sekitar hari ke 24 hingga 1 tahun. fase maturasi

dapat berlangsung berbulan bulan kemudian dan dinyatakan berakhir kalau semua

tanda radang sudah lenyap (Balqis et al., 2014)

Pengobatan Pasca Operasi

Infus Ringer’s Dextrose 5%

Infus dextrose dalam larutan ringer merupakan larutan jernih, tidak

berwarna, steril dan bebas pirogen yang terdiri dari glukosa anhidrat (50 gr/l)

sebagai sumber energi dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. NaCl (8,6

gr) yaitu garam untuk memelihara tekanan osmotik darah dan organ-organ dalam

tubuh, KCl (0,3 gr) yaitu garam yang terpilih untuk mengatasi hipokalemia dan

hipokloremia, CaCl2 (0,48 gr) yaitu garam penting untuk menjaga fungsi syaraf

dan otot. Indikasinya sebagai pengganti cairan elektrolit dan sumber kalori,
15

sebagai penambah volume darah pada keadaan shock, dehidrasi dan perdarahan,

serta untuk mengatasi alkalosis dan asidosis (menormalkan pH darah) (Kirk dan

Bistner, 1985).

Alkohol 70%

Alkohol 70%merupakan antiseptik umum, pelarut yang baik dan

desinfektan. Jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan, alkohol mempunyai

efek anti bakteri dan germicid yang kuat. Alkohol banyak dipakai dalam persiapan

operasi, persiapan penyuntikan dan pencucian alat kedokteran untuk tujuan

sterilisasi. Kombinasi alkohol dengan antiseptik dapat meningkatkan daya bunuh

kuman karena sifatnya sinergik (Brander et al., 1991; Subronto dan Tjahajati,

2004).

Iodium tincture 3%

Iodium tincture 3% sering disebut juga ethyl alkohol solution. Iodium

tincture dipakai sebagai antiseptik pada kulit lecet dan luka serta antiseptik

sebelum tindakan bedah. Kemampuan iodium menembus dinding sel kuman

sangat tinggi sehingga terjadi gangguan metabolisme sehingga protoplasma

kuman akan mati. Kuman mati di dalam larutan 50 ppm selama satu menit, spora

kuman mati dalam waktu 15 menit (Brander et al., 1991).

Larutan penicillin dan streptomicin

Antibiotika campuran antara penicillin dan streptomicin (Penstrep)

mempunyai kerja berspektrum luas. Penicillin bekerja dengan menghambat kerja

enzim transpeptidase pada pembentukan dinding bakteri sehingga hanya efektif

terhadap bakteri gram positif, sedangkan streptomicin bekerja dengan jalan


16

menghambat sintesa protein bakteri langsung pada ribosom sub-unit 30S dan

mengganggu penerjemahan kode genetik sehingga efektif terhadap bakteri gram

negatif (Branderet al., 1991)

Ampicillin

Ampicillin merupakan salah satu derivate penicillin semi sintetik yang

paling penting. Ampicillin mempunyai aktivitas bakterisid broad-spektrum

terhadap bakteri gram positif dan negatif seperti E. coli, Klebsiela dan

Haemophilus. Ampicillin dapat diaktifasikan dengan β-lactamase (penicilinase)

yang dihasilkan oleh bakteri, seperti Staphylococcus aureus, dan sebagian bakteri

gram negative seperti E. coli (Plumb, 1999). Ampicillin mampu melawan banyak

bakteri anaerobic walaupun tidak seaktif penicillin alami. Dosis yang digunakan

adalah 22-33 mg/kg berat badan secara peroral dan dengan dosis 10-20 mg/kg

berat badan pemberian secara parenteral (Plumb, 1999).

Ampicillin yang diberikan peroral diabsorpsi tidak lebih dari setengahnya,

dan lebih rendah lagi jika ada makanan dalam lambung. Pemberian peroral

mencapai puncak konsentrasi setelah dalam jangka waktu dua jam. Distribusi

ampicillin ke seluruh tubuh hanya sebagian kecil yang masuk ke cairan

cerebrospinal dan konsentrasi yang tinggi terdapat di hati dan ginjal (Brander et

al., 1991).
BAB III

MATERI DAN METODE


Materi Operasi

A. Alat operasi standar (satu unit)

2 gunting (bengkok dan lurus), 1 gagang skalpel dan pisau skalpel No.10,

1 needle holder, 2 pinset (chirurgis dan anatomis), 6 mousquito forceps, 6 Allis

forceps, 6 forceps (Rocester pean, carmalt, ochner),6 towel/duk clamp dan jarum

jahit taper-point dan tapercut-point

B. Bahan

1. Duk bahan katun warna hijau, ukuran Panjang 60 inci (150 cm), lebar 36

inci (90 cm) dan lubang duk (1x2 inc; 1,5x3,5 inc; 2x5,5 inc)

2. Benang catgut chromic dan catgut plain (diserap) dan katun (tidak

diserap).

C. Obat

1. Antiseptic : Alcohol 70 %; iodium tincture 3% dan salep isodine

2. Premedikasi : Atropine sulfat 0,025% (antikolinergik) dosis 0,04 mg/Kg

BB dan Xylazine 2% dosis 10 mg/kg BB (sedativa)

3. Anestesi : Ketamine 10% dosis 15 mg/kg BB

4. Antibiotik : Ampicillin 10% dosis 5-10 mg/Kg BB; larutan penicillin

dan streptomicin

5. Infus : Nacl Fisiologis 15 – 20 ml/kg BB

D. Perlengkapan

1. Intra vena catheter

2. Spuit 3 cc

17
18

Metode Operasi

A. Persiapan pra-operasi

Penilaian Fisik Awal

Ambulatoir dan Pemeriksaan Fisik

Catatan tentang latar belakang kesehatan, lingkungan, penyakit

yang

pernah diderita, vaksinasi, alergi obat tertentu dan signalement anjing (breed,

age, sex dan sign patern).

Persiapan Hewan

Sebelum operasi dilakukan, sehari sebelumnya anjing dimandikan terlebih

dahulu. Dilakukan pencukuran pada bagian caudal abdomen. Pencukuran

dilakukan dengan cara rambut dibasahi air sabun, pencukuran dilakukan searah

dengan rebah bulu, setelah dicukur daerah yang akan dioperasi dibersihkan

dengan kapas yang dibasahi air kemudian dikeringkan dengan handuk kering.

Anjing dipuasakan selama 8-12 jam dan tidak diberi minum selam 2-6 jam.

Anjing yang telah siap dibawa ke ruang operasi dan diberi premedikasi atropin

sulfat diinjeksikan subkutan kemudian ditunggu 10-15 menit. Pemasangan infus

dilakukan sebelum pemberian anastesi. Kemudian, pemberian anastesi ketamin

HCL 2% dan xylazin 10% diinjeksikan secara intramuscularis. Setelah anjing

teranastesi, anjing yang ada diatas meja operasi diposisikan rebah dorsal dan

diikatatau difiksasi di meja operasi dengan tali pada masing-masing kaki. Duk

steril dipasang mulai dari caudal searah jarum jam dan difiksir dengan duk klem.
19

Bagian yang akan dioperasi diolesi dengan iodium tincture 3% secara sirkuler

daribagian sentral ke perifer.

Persiapan Alat dan Bahan Operasi

Alat operasi yang telah disterilkan, diletakkan di atas meja alat. Alat

operasi tidak steril dan bahan operasi lainnya diletakkan di bagian bawah meja

alat. Baskom berisi alkohol 70% digunakan untuk merendam gunting dan jarum,

baskom ditutup. Benang silk dipotong sepanjang ± 30 cm dan direndam dengan

iodine. Kain pembungkus alat operasi dibuka. Duk, tampon, benang dan blade

diletakkan bersama-sama dengan alat operasi. Tangan disterilkan dan dilanjutkan

dengan pemasangan blade pada handel scalpel, dan mengambil gunting dari

baskom yang berisi larutan antiseptic. Kemudian dilakukan penataan alat dan

bahan operasi.

Persiapan Operator dan Co-Operator

Operator dan co-operator menggunakan penutup kepala (kopiyah) dan

masker, membersihkan tangan dan celah kuku dengan cara menggosok telapak

tangan sebanyak 40 kali dan celah kuku 20 kali, tangan dicuci dari ujung jari

sampai siku dengan sabun dan disikat. Tangan dibilas dengan air yang mengalir

dan akan lebih baik jika memakai air hangat kemudian dikeringkan dengan

handuk kering dan bersih. Tangan direndam dengan Alkohol 70 % selama 1

menitdan dibiarkan kering sendiri atau dikeringkan dengan handuk steril. Tangan

terangkat (menengadah ke atas). Selanjutnya gaun operasi dipakai oleh operator

dengan bantuan co-operator dengan kondisi tangan sudah steril. Sarung tangan
20

steril dipakai dengan tidak menyentuh bagian luar dan harus menutup lengan gaun

operasi.

Prosedur Operasi

Prosedur operasi dilakukan setelah hewan diberi premedikasi dan

dianastesi. Pasien diposisikan rebah dorsal, diberikan underpad pada meja operasi,

anjing difiksasi di meja, diberi antisepik pada daerah yang akan di incisi, dan

ditutup duk lalu di fiksasi duk klem. Incisi daerah caudal midline, lalu cari bagian

kolon yang akan difiksasi. Colopexy dapat dilakukan dengan teknik appositional

sederhana. Penjahitan dengan teknik appositional menggunakan pola jahitan

sederhana tunggal dengan benang catgut chromic yang dilewatkan dari lapisan

muscularis kolon dan melalui musculus dinding abdominal sebanyak 3 sampai 4

jahitan. Untuk menutup abdomen, penjahitan bagianmusculus abdominalis dengan

benang catgut chromic sederhana tunggal, penjahitan subkutan dilakukan dengan

pola jahitan sederhana menerus dengan benang catgut plain. Kulit dijahit

menggunakan benangsilk dengan pola sederhana tunggal, setelah dijahit bagian

luka incisi diberi antiseptik.


21

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

a.) Ambulatoir
Anjing bernama Himawari dengan jenis kelamin betina berumur 6 bulan

dengan berat badan 8 Kg, domestik dan berwarna coklat. Anjing Himawari ini

mempunyai nafsu makan dan minum baik, belum pernah divaksin dan belum

diberi obat cacing serta tidak diare. Anjing Himawari juga diketahui tidak

memiliki riwayat penyakit. Operasi dilakukan di departemen bedah dan radiologi

FKH UGM. Sebelum dilakukan operasi Anjing Himawari dilakukan pemeriksaan

umum dan fisik dengan hasil sesuai pada Tabel 1.

Tabel 1. Data berdasarkan ambulatoir Anjing Himawari

Indikator Hasil
Frekuensi nafas 56 kali/menit
Frekuensi pulsus 100 kali/menit
Suhu tubuh 38,90C
Kulit dan rambut Rambut tidak rontok, turgor kulit baik
Selaput lendir Konjungtiva pink, ginggiva pink, CRT

< 2 detik.
Kelenjar-kelenjar limfe Lgl. Superficial tidak ada

kebengkakan dan simetris


Pernapasan Cermin hidung lembab, palpasi trakea

tidak ada respon batuk, pernafasan

thoracoabdominal,auskultasi vesikular

pulmonaris
Peredaran darah Sistol dan diastol dapat dibedakan,

ritmis
Pencernaan Mulut bersih, tidak ada lesi, palpasi
22

esophagus tidak ada respon muntah,

peristaltik normal
Kelamin dan Perkencingan Palpasi ren tidak ada respon sakit, vu

kosong
Saraf Reflek palpebra, pedal dan pupil baik
Anggota gerak Berjalan dengan 4 kaki
b.) Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah pada anjing Himawari dilakukan sebelum operasi untuk

melihat keseluruhan gambaran darah sebagai acuan pengamatan terhadap kondisi

awal anjing. Hewan direstrain terlebih dahulu, serta vena cephalica pada kaki

depan anjing dibendung, kemudian menggunakan spuit 3 cc ambil darah anjing

sebanyak 3 cc dan penyimpanan darah diletakkan pada tabung edta steril.

Pemeriksaan darah pada anjing Himawari dilakukan di laboratorium Rumah Sakit

Hewan Soeparwi, Yogyakarta. Berdasarkan hasil pemeriksaan di dapat sesuai dari

data Tabel 2.

Tabel 2. Data pemeriksaan darah anjing Himawari

Indikator Hasil
Eritrosit 10 sel/mm3
6
5,94
Hematokrit (%) 40,5
Hemoglobin g/dL 13,7
MCHC (g/dL) 33,8
MCH (pg) 23,1
MCV (fl) 68,2
Leukosit 103/mm3 17,4
Limfosit sel/mm3 4,8
Monosit 103sel/mm3 0,8
Neutrofil 103sel/mm3 11,7
Basofil (%) 0
Eosinofil (%) 0,1
Trombosit 103/mm3 227
23

Pasca operasi anjing Himawari senantiasa dimonitor dan dikontrol

perubahan suhu, pulsus dan frekuensi nafas, hal ini dilakukan untuk menjaga

kestabilan kondisi hewan pasca operasi. Apabila suhu tidak di monitor secara

berkala hingga mencapai suhu tubuh normal, maka hal berbahaya dapat terjadi

seperti timbulnya hipotermia atau shock pasca operasi. Tabel 3. Memperlihatkan

perubahan suhu, pulsus dan frekuensi napas pasca operasi.

Tabel 3.Monitoring Suhu Pasca Operasi

Waktu ( menit) Pulsus Suhu (˚C) Frekuensi


(kali/menit) nafas
(kali/menit)
15 96 32 24
30 80 33 24
45 84 33,6 24
60 84 33,7 20
75 84 34 36
90 92 34,4 28
105 100 35,3 24
120 100 36,2 32
135 100 37 28
150 114 38,3 32

Data monitoring suhu, frekuensi nafas dan pulsus tidak hanya dilakukan

post operasi setelah suhu stabil namun juga dilakukan pada hari pertama hingga

hari ke-7 pasca operasi. Data monitoring suhu, pulsus, dan frekuensi nafas dapat

dilihat pada Lampiran 4.

Pengobatan pasca operasi diberikan sesuai dengan standar pelaksanaan

yang baik dan benar, namun beberapa tambahan obat diberikan menyesuaikan

kondisi dari hewan yang bersangkutan. Treatment pengobatan tertuang dalam

lembar stasioner pada Lampiran 5.

Pembahasan
24

Ambulatoir
Berdasarkan pengamatan pada hewan didapatkan frekuensi nafas sebanyak

56x/menit, frekuensi pulsus 100x/menit dan suhu tubuh 38,9˚C. Berdasarkan data

normal dalam Surono (2008), mengemukakan bahwa frekuensi nafas normal

anjing berkisar 24-42 x/menit, frekuensi pulsus berkisar 76-148x/menit dan suhu

tubuh berkisar 37,8˚C-39,5˚C. Hasil pengamatan apabila dibandingkan dengan

literatur mengalami peningkatan pada frekuensi napas, hal ini dapat terjadi karena

kondisi anjing Himawari setelah berlari-lari di kandang sehingga frekuensi napas

anjing meningkat.

Pengamatan pada kulit dan rambut tidak ditemukan adanya caplak dan

kutu. Selaput lendir baik dari konjungtiva, vulva, CRT tidak terlihat adanya

kelainan. Menurut Subronto (2015) adanya perubahan warna pucat pada selaput

lendir menandakan adanya anemia serta kemungkinan dehidrasi pada hewan.

Pengamatan pada limfoglandula superficial tidak ada kebengkakan.

Adanya kebengkakan pada limfoglandula menunjukkan adanya penyakit.

Pengamatan pada organ pernapasan dan pencernaan juga tidak ditemukan adanya

permasalahan, sistem peredaran darah diamati dengan proses auskultasi pada

jantung, terdengar suara sistol dan diastol dapat dibedakan. Sistem saraf mulai

dari N.Olfactorius hingga N.Hypoglosus tidak ditemukan adanya gangguan dan

kelainan antar inervasi syaraf. Anggota gerak anjing Himawari tidak mengalami

kelainan berupa fraktur dan tidak ditemukan adanya kepincangan.

Berdasarkan data pemeriksaan darah pra-operasi pada anjing himawari

dapat dilihat adanya perubahan pada Tabel 4.


25

Tabel 4.Perbandingan hasil pemeriksaan dan Data normal hematologi

Indikator Hasil Nilai Interpretasi

rujukan

Eritrosit (106 5,94 5,5-8,5 Normal

sel/mm3)
Hematokrit (%) 40,5 37,0-55,0 Normal
Hemoglobin g/dL 13,7 12,0-18,0 Normal
MCHC (g/dL) 33,8 32,0-36,0 Normal
MCH (pg) 23,1 19,5-26 Normal
MCV (fl) 68,2 60,0-77,0 Normal
Leukosit 17,4 6,0-17,0 Leukositosis

103sel/mm3
Limfosit sel/mm3 4800 1000-4800 Normal
Basofil (sel/mm3) 0 0-100 Normal
Eosinofil(sel/mm3) 1000 1000-1250 Normal
Monosit (sel/mm3) 800 180-1350 Normal
Neutrofil 11700 3000-11.500 Neutrofilia

(sel/mm3)
Trombosit 227000

(sel/mm3)
( Williams, 2000)

Berdasarkan data tabel 4. dapat kita simpulkan bahwa anjing Himawari

mengalami peningkatan leukosit dan neutrofil. Menurut Schalm(2010),nilai

leukosit yang meningkat mengindikasikan adanya perlawanan tubuh melawan

antigen penyakit.

Neutrofil memiliki fungsi yaitu berperan aktif dalam pertahanan tubuh

terhadap invasi bakteri dan benda asing. Neutrofilyang tinggi menandakan adanya

respon imun terhadap infeksi dari bakteri . Menurut Schalm(2010),


26

mengemukakan bahwa neutrofilia berhubungan erat dengan adanya invasi bakteri

dan benda asing, apabila diduga ada invasi bakteri atau ikutan sekunder maka

neutrofil akan naik dan merespon adanya benda asing dengan mekanisme

fagositosis.

Persiapan hewan

Sebelum operasi dilaksanakan, hewan dicukur rambut didaerah yang akan

dioperasi yaitu didaerah caudal midline abdomen. Pencukuran juga dilakukan di

kaki depan tepat pada v.cephalica untuk memudahkan dalam proses pemasangan

infus. Pencukuran dilakukan dengan membasahi rambut yang akan dicukur

dengan air sabun kemudian rambut dicukur searah dengan rebah rambut

menggunakan silet, daerah yang telah dicukur dibilas dengan air bersih dan dilap

kering dengan handuk. Hal ini sesuai pendapat Kumar et al., (2012), bahwa

pencukuran rambut di tempat yang diincisi caudo-midline dengan silet tajam

searah rebah rambut dengan dibasahi air sabun untuk mempermudah pencukuran

dan membersihkan kotoran yang tidak larut air. Pencukuran rambut minimal

sepanjang 15 cm dari tepi luka yang akan diincisi untuk mencegah kontak dengan

daerah non-operasi dan dapat digunakan untuk memodifikasi panjang incisi ketika

melakukan operasi.

Hewan dipuasakan makan selama 12 jam dan puasa minum minimum 6

jam sebelum dilakukan operasi. Menurut Zhang et al., (2012) puasa dilakukan

dengan tujuan untuk mengosongkan gastrium seehingga saat operasi tidak terjadi

muntah makanan maupun minuman. Kemudian puasa dilakukan untuk mencegah

isi lambung tidak penuh, karena lambung yang penuh dapat mengurangi
27

pergerakan diafragma sehingga mengganggu respirasi. Pada hewan kecil,

lambung yang penuh dapat menyebabkan terjadinya vomit sehingga terjadi sleek

pneumonia( Sardjana et al., 2015). Puasa dapat menurunkan kadar darah sehingga

saat hewan teranestesi narkosenya menjadi lama (Subronto,2015).

Sebelum operasi dilaksanakan, hewan diberikan premediksi terlebih

dahulu menggunakan atropin sulfat. Premedikasi dibutuhkan dalam prosedur

pelaksanaan operasi untuk mencegah efek berlebih obat selanjutnya, membuat

hewan menjadi lebih tenang, menekan tonus dan mencegah refleks muntah

(Subronto, 2015). Dosis pemberian atropin sulfat yaitu 0,02- 0,04 ml/kgBB

diberikan melalui subkutan. Untuk anjing Himawari dengan BB 8 kg dibutuhkan

atropin sulfat dengan volume 1,2 ml. Setelah dilakukan pramedikasi dilanjutkan

dengan pemasangan infus Natrium Cloride, Menurut Brander et al., (1991) infus

menggunakan NaCl 0,9% merupakan pilihan yang paling tepat saat akan

melakukan operasi karena NaCl0,9% mengandung garam yang merupakan cairan

isotonis untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotiik tubuh.

Pemberian anastesi menggunakan ketamin dan xylasin. Dosis ketamin

sebanyak 10 ml/kgBB dengan konsentrasi 10 % , volume pemberian pada anjing

Himawari sebanyak 1,2 ml. Sedangkan dosis xylazin sebanyak 1-2 mg/ml dengan

konsentrasi 2 %, volume pemberian Xylazin pada anjing Himawari 0,8 ml. Dalam

kebutuhan anastesi penggunaan Ketamin HCl harus dikombinasikan dengan obat-

obatan golongan alfa agonis baik itu dengan Xylazin, metedomidin dan lainnya,

hal ini disebabkan karena cara kerja ketamin yang menekan kontraksi otot yang
28

berlebihan sehingga membutuhkan obat dengan kerja berlawanan yaitu sebagai

musculo relaxan agar gerakan ritmik jantung stabil (Sardjana et al., 2015).

Efek puncak pada hewan umumnya tercapai dalam waktu 6-8 menit dan

anastesi berlangsung selama 30-40 menit, sedangkan waktu recovery dibutuhkan

waktu 5-8 jam(Sardjana et al., 2015). Sedangkan untuk Xylazine apabila dipakai

dengan golongan barbiturat potensiasi dapat mencapai 50% dan efek sedasi

tercapai 20 menit setelah pemberian intramuscular serta berakhir 1 jam setelah

pemberian(Sardjana et al., 2015). Anjing Himawari sudah mulai teranastesi 10

menit setelah penyuntikan kombinasi ketamin-xylazin, hal ini mungkin

disebabkan kondisi tubuh anjing yang memiliki tingkat kekebalan anastesi

masing-masing terhadap suatu zat anastesi.

Setelah anjing dipastikan tidak sadar, anjing dibawa ke meja operasi yang

telah dialasi dengan underpad. Pemasangan underpad juga difungsikan untuk

menampung urin, feses ataupun darah hewan saat dilakukan operasi atau anastesi

sedang berlangsung. Hewan yang telah teranastesi tersebut direbahkan di atas

meja operasi dengan posisi rebah dorsal. Anjing yang sudah direbahkan difiksasi

dengan meja opersi agar menggunakan tali yang diikatkan dikaki meja operasi.

Kemudian pada bagian daerah yang akan diincisi diolesi iodine povidone lalu di

tutup menggunakan duk steril.

Persiapan alat operasi

Sebelum operasi dimulai semua peralatan operasi harus ditata dengan rapi

agar memudahkan operator saat melakukan operasi. Alat yang perlu disiapkan

yaitu blade dan scalpel, gunting, needle holder, pinset, mosquito forcep, allis
29

forcep, homeostatik forcep, duk clamp, jarum, benang, duk, dan tampon.

Persiapan alat disusun sesuai kebutuhan dan ditata agar memudahkan dalam

penggunaan. Persiapan alat dan penyusunannya dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Persiapan alat operasi

Persiapan operator dan cooperator

Pelaksanaan sebelum operasi operator dan co-operator menggunakan

penutup kepala (kopiah) dan masker terlebih dahulu, sebelumnya membuka gaun

operasi dan pembungkus gloove steril agar memudahkan dalam menggunakannya.

Selanjutnya operator membersihkan tangan dan celah kuku dengan cara

menggosok telapak tangan sebanyak 40 kali dan celah kuku 20 kali, tangan dicuci

dari ujung jari sampai siku dengan sabun dan disikat, tangan dibilas dengan air

yang mengalir kemudian dikeringkan dengan handuk kering dan bersih. Tangan

disemprot dengan Alkohol 70 % selama 1 menit dan dibiarkan kering sendiri atau

dikeringkan dengan handuk steril. Dalam aplikasi alkohol hanya disemprot karena

apabila di rendam perlu membiarkan alkohol menguap ke udara.

Mensucihamakan tangan sangat penting dilakukan untuk menjaga

kesterilan berjalannya operasi serta mencegah terjadinya infeksi akibat proses

operasi yang terkontaminasi benda asing dan bakteri. Sedangkan Alkohol 70%
30

mengandung senyawa antiseptik yang bersifat bakterisidal sehingga

meminimalkan adanya kontaminasi bakteri (Mann et al.,2011).

Pasca mensucihamakan tangan, tangan diposisikan terangkat (menengadah

ke atas). Selanjutnya gaun operasi dipakai oleh operator dengan bantuan co-

operator dengan kondisi tangan sudah steril. Sarung tangan steril dipakai dengan

tidak menyentuh bagian luar dan harus menutup lengan gaun operasi.

Pelaksanaan operasi

Proses operasi dimulai ketika anjing sudah terjadi efek anastesi. Pasien

diposisikan rebah dorsal, selanjutnya difiksasi dengan cara ditalikan keempat kaki

anjing pada bagian meja, selanjutnya diseilakukan pemberian antiseptik povidone

iodine 10% pada bagian yang akan di incisi dengan arah olesan dari arah central

ke perifer. Setelah dilakukan pemberian antiseptik lalu ditutup dengan duk,

selanjutnya duk di fiksasi menggunakan duk klem. Colopexy dapat dilakukan

dengan teknik appositional sederhana. Tingkat keberhasilan untuk kedua teknik

tersebut sama. Menurut Kumar et al.,(2012) menyebutkan bahwa teknik temporer

atau apposisional lebih menguntungkan daripada teknik incisi karena

meminimalkan terjadinya perdarahan, serta tidak melukai dinding colon terlalu

dalam.

Incisi dilakukan pada caudal midline dari daerah abdomen posisi incisi

bagian daerah caudal dari umbilikus, segaris dengan linea alba yang berada

dibagian lapisan bawah subcutan. Menurut Mann et al,. (2011), posisi memegang

scalpel dan blade benar-benar diperhatikan agar dapat dilakukan sayatan langsung

hanya sekali tidak ada pengulangan dalam megincisi kulit dan subkutan agar
31

meminimalkan terjadinya trauma jaringan. Panjangnya incisi yang dapat

dilakukan pada operasi colopexy kurang lebih sepanjang 7 cm dari ujung pangkal

(Kumar, et al., 2012).

Gambar 12. Incisi kulit dan subkutan

Incisi dilanjutkan pada lapisan muskulus dan peritoneum hingga sampai

pada organ. Hal tersebut ditunjukkan pada Gambar 13.

Gambar 13. Incisi musculus dan peritoneum


32

Vesica urinary perlu dikeluarkan dan dilakukan palpasi agar

mempermudah jalanya operasi, karena mempermudah untuk ekspose dari colon

descenden. Hal tersebut dapat ditunjukan pada gambar 14.

Gambar 14. Proses pengeluaran dan pasca palpasi Vesica urinary

Setelah rongga abdomen terlihat , gerakan peristaltik usus dikondisikan

agar dapat memudahkan operator dalam mencari letak colon descendenn. Untuk

memudahkan menemukan colon descenden, co-operator non steril membantu

operator memasukkan termometer pada lubang anus agar tembus rektum, salah

satu operator meraba untuk mencari letak colon descendens. Menurut Evan, et al.,

2013 menyebutkan bahwa colon descendens terletak mengarah transversal masuk

inlet pelvis yang nantinya melanjut menjadi rektum kemudian anus.Gambar

fiksasi colon descenden dapat dilihat pada Gambar 15


33

Gambar 15. Fiksasi colon descenden pada bagian M. Transversus


abdominis sinister

Jahitan fiksasi pada colon dan dinding abdomen dilakukan sebanyak 3

jahitan selanjutnya dilakukan uji kekuatan dengan cara ditarik perlahan dengan

hasil jahitan sudah terfiksasi dengan kuat karena setelah ditarik tidak longgar.

Gambar 16. Uji kekuatan fiksasi colon descenden pada bagian M.


Transversus abdominis sinister
34

Setelah selesai menjahit kolon descenden dan dinding abdomen,

aposisikan letak usus dan sebagainya kembali pada tempat semula,serta tidak lupa

pemberian penstrep selama proses aposisi dan pasca penjahitan colon. Penjahitan

musculus dengan benang silk dengan pola jahitan sederhana tunggal dengan

menggunakan benang catgut chromic

Gambar 17. Penjahitan pada musculus

Penjahitan subkutan dilakukan dengan benang cutgut plain dengan pola

jahitan sederhana menerus. Menurut Tobias et al., 2012 subkutan dapat dijahit

dengan pola jahitan sederhana menerus dengan benang 2 atau 3 poypropylene,

polydioxanone. Kulit dijahit dengan benang katun dengan pola sederhana

tunggal .Menurut Tobias et al.,( 2012) penjahitan pada kulit harus memiliki jarak

dengan.tujuan memberikan ruang untuk terjadinya inflamasi dan mencegah


35

terjadinya infeksi. Pelaksanaan penjahitan dapat dilihat pada gambar 18 dan

gambar 19.

Gambar 18. Penjahitan pada subkutan

Gambar 19. Penjahitan pada kutan (kulit)

Gambar 19. Pemberian povidone iodine

Berdasarkan hasil monitoring suhu, pulsus dan frekuensi napas post

operasi pada tabel 3 dapat disimpulkan terjadi kenaikan suhu yang normal pada
36

kondisi anjing pasca operasi. Menurut Sardjana, 2015 kenaikan suhu pasca

pemberian ketamin xylazin memang terjadi kurang lebih 4-5 jam tergantung

individu, dan pasca anastesi terjadi vasokontriksi pembuluh darah yang membuat

pembuluh darah melambat untuk itulah dibutuhkan penyesuaian suhu lingkungan.

Monitoring Post Operasi


135; 32 32
150; 30
105; 28
30; 24 45; 24
60; 20 90; 20 120; 20
75; 16

Waktu (15;
menit);
0 30;0 0 45; 0 60; 0 75; 0 90; 0 105; 0 120; 0 135; 0 150; 0 0

Gambar 20. Grafik monitoring suhu, pulsus dan frekuensi post operasi

PERAWATAN PASCA OPERASI

Pemberian antibiotik untuk membantu mempercepat penyembuhan luka

harus ada keseimbangan anatar perawatan dari dalam dan luar tubuh. Perawatan

dari dalam tubuh dilakukan dengan pemberian antibiotik Ampicilin secara

berturut-turut selama 3 hari secara intramuscular. Volume Amphicilin yang

disuntikkan pada anjing Himawari sebesar 0,8 ml diberikan pada pagi hari dan

berulang 12 jam kemudian. Amphicilin merupakan antibiotik bersifat bakteriosid

yang bekerja dengan caramenghambat sistesis dinding sel bakteri sehingga bakteri

tidak dapat membelahdiri. Ampicillin bekerja efektif terhadap bakteri gram


37

negatif dan anaerobterutama bakteri yang menghasilkan bekta-laktam (Plumb,

2011).

Awal post operasi anjing Himawari masih infus Nacl 0,9 % untuk

menstabilkan kondisi tubuh pasca operasi tanpa makan dan minum. Apabila

diberikan makan dan minum secara langsung menyebabkan timbulnya gerakan

peristaltik usus yang akan membuat colon juga ikut bergerak. Cairan infus yang

diberikan pada anjing Himawari sebesar 205 cc sesuai kebutuhan daily

maintenance anjing Himawari dengan Rumus DM ( daily maintenance) = 30 x BB

+70 dan didapatkan 320 cc/hari dengan 13.5 cc/ jam.

Untuk kesembuhan luka luar anjing Himawari diberikan Povidone iodine

,pemberian iodine merupakan antiseptik berpelarut air yang sangat stabil terhadap

kelembaban dan cahaya pada penyimpanan. Povidone iodine memiliki manfaat

yang efektif untuk membunuh bakteri dalam waktu sekitar 1 menit (Barzah et al.,

2016).

Kondisi anjing Himawari hari pertama setelah operasi membaik suhu

tubuh normal 38,2˚C , sudah mau makan air kaldu. Luka bekas jahitan setiap

harinya saat pagi dan sore dibersihkan dengan menggunakan iodine.

Kondisi Anjing Himawari hari kedua dan ketiga tercatat suhu tubuh

normal hari kedua (pagi 37,9˚C, sore 38,2˚C), suhu hari ketiga (pagi 37,9˚C, dan

sore38,7˚C), mau makan pakan basah anjing merek pedigree tanpa nasi dan

minum dan sudah melakukan urinasi dan defikasi walaupun mengejan kuat. Luka

bekas jahitan setiap harinya saat pagi dan sore dibersihkan dengan menggunakan

iodine, anjing sering menggaruk pada daerah tepi incisi.


38

Kondisi anjing Himawari hari keempat makan dengan lahap, pemberian.

Suhu tubuh anjing pada pagi dan sore hari normal, feses terlihat padat dan tidak

tercerna secara baik karena makanan terlihat belum hancur, tepi luka berwarna

kemerahan anjing himawari terlihat menggaruk garuk bagian tepi luka.

Gamabr 21. Feses hari keempat

Kondisi anjing Himawari pada hari kelima memiliki nafsu makan dan

minum dengan baik, dan mampu beraktifitas dengan normal, namun mulai

berkurang dalam menggaruk garuk tepi luka.

Kondisi anjing Himawari pada hari keenam memiliki nafsu makan

dan minum dengan baik, dan mampu beraktifitas dengan normal, dan sudah tidak

menggaruk luka.

Kondisi anjing Himawari pada hari ketujuh sudah mau makan pakan padat

dan minum baik, suhu tubuh anjing Himawari normal.


39

Hari kedelapan anjing Himawari mulai ceria, tidak lemas, mau makan nasi

dan ati ayam, minum baik, dan mulai aktif lincah.

.Berikut merupakan foto kesembuhan luka pada anjing Himawari.

A B

C D

E F
40

Gambar 23.Kondisi pasca operasi. (A) kondisi hari pertama,

(B) kondisi hari kedua, (C) kondisi hari ketiga, (D) kondisi hari

keempat, (E) kondisi hari kelima, (F) kondisi hari keenam, (G)

hari pencabutan jahitan

Tabel 5 . Monitoring suhu,pulsus dan frek,napas kesembuhan luka

Tanggal/Hari Waktu Nafas(/menit) Pulsus Suhu (˚C)


(/menit)
Hari kesatu Pagi 30 84 38,8
Sore 32 82 38,2
28 Oktober 2017
Malam 34 88 38,4
Hari kedua Pagi 36 84 38,4
Sore 32 92 38,7
29 Oktober 2107
Malam 36 86 38,4
Hari Ketiga Pagi 32 84 38,2
Sore 32 86 38,5
30 Oktober 2017
Malam 28 86 38,9
Hari Keempat Pagi 28 82 37,9
Sore 32 90 37,8
31 Oktober 2017
Malam 34 96 37,9
Hari Kelima Pagi 28 96 38,4
Sore 36 88 38,8
1 November 2017
Malam 34 86 38,7
Hari Keenam Pagi 32 82 38,8
41

2 November 2017 Sore 34 88 38,5


Malam 32 84 37,9
Hari Ketujuh Pagi 32 84 38,2
Sore 34 82 38,4
3 November 2017
Malam 34 88 38,7

Gambar 24. Grafik perkembangan pulsus,napas dan suhu kesembuhan luka

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
42

Operasi colopexy beserta perawatan pasca operasi sampai hari ketujuh

berjalan lancar dan luka sudah memasuki fase. Grafik monitoring suhu, pulsus,

dan frekuensi napas berjalan stabil tanpa adanya kenaikan yang signifikan.

SARAN

Dibutuhkan evaluasi dan pemantauan setelah dilakukan operasi, antara lain

dibagian kesembuhan luka, respon anjing dalam makan, minum, cara defikasi dan

bentuk feses. Hal ini diperlukan untuk mengetahui keberhasilan operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Balqis, U., Mayitha, D., Febrina, F. 2014. Proses penyembuhan luka bakar dengan
gerusan daun kedondong (Spondias dulcis f.) dan vaselin pada tikus
putih(Rattus norvegicus) secara histopatologis. Jurnal Medika
VeterinariaISSN : 0853-1943 Vol. 8 No. 1.
43

Brander, GC., Pugh, DM., Bywatyer, RJ dan Jenkins, WL. 1991. Veterinary
Applied Pharmacology and Therapeutics 5th edition. The English
Language Book Society and Bailliere Tindall: London. Hal. 180,
582-583.

Budiana, NS. 2008. Anjing. Penebar Swadaya: Jakarta.


Cochran, P.E.2011. Veterinary Anatomy and Physiology: A Clinical Laboratory
Manual, 2ed. USA: Delmar Cengage Learning

Evan, Lahunta, A. 2013. Miller’s Anatomy of the Dog. China: Elsevier.


Fossum, TW. 2002. Small Animal Surgery 2nd edition. CV Mosby Comp.:
Philadelphia
Kirk dan Bistner, SI. 1985, Hand Book of Veterinary Procedures and Emergency
TreatmentFourth Edition. W. B. Saunders Company: Philadelphia

Kumar, V., Ahmad, R.A., dan Amarpal. 2012. Colopexy as a treatment for
recurrent rectal prolapsed in dog. Indian Journal of Canine Pratice.
Volume 4 Issue 2

Konig, H.E, dan Liebich, H.G. 2004. Veterinary Anatomy of Domestic Mammals.
Germany : Schattauer

Mann, F.A ., Constantinescu, G.M., dan Yoon, H.Y. 2011. Fundamental of Small
Animal Surgery. Blackwell Publishing: UK

Morison, M.J. 2003. Manajemen Luka. Jakarta : EGC.drug Handbook3rd edition.


The Iowa University Press. Ames: Iowa. Hal. 64, 362, 648.

Plumb. 2008. Plumbs Veterinary Drugs Handbook 6th Edition. USA. Blackwell
Publishing

Sabirin, I.P.R., Maskoen, A.M., Hernowo, B.S. 2013. Peran Ekstrak EtanolTopikal
Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) pada PenyembuhanLuka
Ditinjau dari Imunoekspresi CD34 dan Kolagen pada Tikus Galur
Wistar. MKB, Volume 45 No. 4, Desember 2013.

Sardjana, I. dan Diah Kusumawati. Bedah Veteriner. Surabaya : Airlangga


University Press

Slatter, D. 2003. Texbook of Small Animal Surgery 3rd edition. Saunders Elseiver
Science: Philadelphia.

Subronto dan Ida Tjahajati. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
44

Subronto. 2015. Ilmu Penyakit Hewan Kesayangan Anjing (Canine Medicine).


Yogyakarat: Gadjah Mada University Press

Tobias, K. M. 2010. Manual of small animal soft tissue surgery. Ames, IA: Wiley
Blackwell

Yildiz, HS., Arslan, K., Yildiz, H. 2005. A Geometric Modeling of Dog Intestine.
Turk. J. Vet. Anim. Sci. 30 (2006) 483-488. T. BUTAK 09.11.2005.

Zhang, S., Zhang, J., Zhang, N., Shi, J., Wang, H. 2012. Comparasion of
Laparoscopic-Asisted and Open Colopexy in Dogs. Bull Vet Inst
Pulawy 56, 415-417