Anda di halaman 1dari 11

Kilau Permata di Tengah Belantara Cycloop

Dua Burung Cenderawasih dengan sayap warna-warni, mata bening kehijauan, dan
ekornya yang keemasan sedang bertengger di atas dahan pohon akasia. Terlihat begitu anggun,
megah, dan menakjubkan, ketika satu diantaranya mengaparkan sayap yang cantik, dan
kemudian terbang masuk dalam belantara di kaki Gunung Cycloop. Burung yang satunya pun
kemudian terbang, menyusul si cantik cenderawasih tadi. Kini, 2 pasang burung yang begitu
elok itu telah terbang, menghilang ditelan dekapan cycloop yang memberi kehangatan pelukan
alam saat malam tiba.

Keagungan Tuhan memang sangat besar dan tak terbatas. Nikmat keindahannya
tersebar dimuka bumi tanpa meminta bayaran dari manusia sedikitpun. Akan tetapi, betapa
sedikitnya manusia yang mau bersyukur apalagi menjaga keindahan alam yang sungguh
mempesona ini. “Dasar manusia! Serakah, egois, tak mau menjaga alam , dan bisanya merusak
saja” . Gerutu seorang remaja berusia 15 tahun yang sedari tadi mengamati dua burung cantik
yang telah terbang dan menghilang dalam belantara. Ya, dialah satu-satunya anak remaja dari
suku Sentani di Papua yang mengklaim manusia sebagai makhluk egois dan rakus. Ia seringkali
tidak sejalan bahkan hatinya memberontak jika ada kerabat maupun rekannya yang berburu
burung cenderawasih, kasuari, ataupun babi hutan. Dia adalah sosok yang sangat menyayangi
alam. Putra mutiara hitam yang satu ini benar-benar berbeda dari teman sebayanya.

Selain kepribadiannya yang mengagumkan, Ia juga memiliki paras yang rupawan, unik,
dan manis. Jika disandingkan dengan penyanyi terkenal Bruno Mars dan Chris Brown, dia masih
unggul 1 tingkatan lagi. Hidungnya mancung. Dagunya runcing dan sedikit terbelah. Ia juga
memiliki lesung pipi di kiri dan kanan. Dengan giginya yang gingsul, rambut ikal, serta bulu mata
yang lentik membuatnya terlihat begitu memesona dan memilki daya tarik tersendiri . Tak
heran jika semua gadis di kampungnya, yakni di perkampungan Genyem menaruh hati
padanya. Tak hanya parasnya yang mengagumkan, namun ia juga cerdas, berwibawa,
penyayang, periang dan pekerja keras.

“ Yohaaan,, ko1 sudah pasang jerat Lao-Laonya2 kah? ” teriak seorang pemuda
berbadan kekar dan berkulit hitam legam kepada seorang temannya yang tak lain adalah
Yohan. Panggilan itu mengagetkan Yohan yang masih tersihir oleh kepakan sayap indah dua
ekor burung cenderawasih tadi.

1
Kata ganti ‘kamu’ yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

2
Binatang endemik Papua sejenis musang, tetapi mirip dengan kangguru ; bahasa lain ‘Kuskus’.
“ Iyo, kawan. Saya sudah pasang jerat tadi. Ko tenang saja disitu. “ jawab pemuda yang
bernama Yohan dengan sedikit melirik kearah temannya berdiri di bawah rerimbunan Pohon
Sagu, kira-kira 20 m darinya.

Dari jarak yang tidak terlalu dekat ini dan ditambah dengan gelapnya belantara cycloop
di senja hari,Yohan berharap apa yang ia lakukan tidak diketahui temannya. Dengan sigap, ia
menyibak belukar serta daun-daun sagu yang telah mengering dan kemudian melilitkan jerat
yang dibawanya pada ranting kering yang tidak mungkin dilalui Lao-Lao ataupun binatang lain.
Sambil tersenyum lega, Yohan berjalan menuju kearah temannya dan berkata,

“ Martin, kita pulang dulu e. Saya sudah lelah berdiri terlalu lama, terus saya juga belum makan
ini. Besok pagi baru kita berdua datang lihat jeratnya lagi, bagaimana ? “

“ Ok, kawan. Hutan juga sudah mau gelap ini. Harus cepat sampai dirumah.”

“ Nanti malam ko menginap saja dirumahku, Martin. Mama ada masak papeda bungkus3
dengan Ikan Gastor4 tu. Ko pulang kerumah besok siang saja, ko punya rumah kan jauh .”

“Adohh,, kawan. Ko baik sekali. Iyo, saya juga takut menyebrang kekampung Ayapo5 malam-
malam begini. Saya menginap dulu di ko punya rumah e kawan. Besok pagi setelah kita dua
ambil hasil buruan, baru saya kembali ke kampung ”. Ungkap Martin dengan senyum lebar.
Kampung Ayapo letaknya memang cukup jauh. Harus menyebrangi Danau Sentani
menggunakan perahu kecil untuk mencapai perkampungan itu.

“ Bahhh… Ko mau pulang pagi-pagi, iyo? Besok ko tidak sekolah kah?”

“Aeh, ko sekolah sendiri saja eh. Saya bosan belajar . Mau ikut Bapa cari ikan di Danau Sentani
saja. Nanti kalau saya tidak ikut bapa, dia bisa marah saya jadi.” Jawab Martin tanpa beban.

Martin memang tidak terlalu tertarik dengan pelajaran disekolah. Dia tergolong anak
yang malas dan lemah dalam akademik. Di umurnya yang menginjak 17 tahun ini, dia masih saja
duduk dikelas 9 SMP, bukan sepenuhnya karena dia tidak mampu dalam akademik tetapi
karena dia harus bekerja keras membantu sang Ayah menafkahi keempat adiknya. Selama ini,
yang selalu memotivasi dan menjadi pelita penyemangat Martin adalah Yohan.

3
Papeda bungkus: makanan tradisional Papua dari sagu yang telah didinginkan dan dibungkus dengan daun. 4ikan
Gastor : ikan gabus besar yang hidup di Danau Sentani. 5 Perkampungan yang terletak di sekitar Danau Sentani.
Yohan dan Martin pun segera mengemasi barang bawaan mereka sepertai tali jerat,
tombak, dan panah, kemudian mereka berjalan kaluar dari gelapnya hutan Cycloop menuju
rumah Yohan yang letaknya sekitar 15 km dari Hutan Cycloop bagian Selatan.. Dalam
perjalanan, Yohan merasa sedikit lega karena telah mengurangi satu kemungkinan binatang
dalam hutan itu terkena perangkap buatan manusia. Ia sengaja merusak jerat yang dibawanya
dan kemudian dililitkan pada ranting kering, agar tidak ada Lao-lao yang terperangkap. Dia
tidak tega melihat binatang-binatang tersebut menjerit kesakitan, atau bahkan lebih tragis lagi
ada diantara binatang itu yang dibakar dan dijadikan santapan makan malam.

Pemandangan di sepanjang jalanan Pegunungan Cycloop menuju Kampung Genyem


benar-benar dinikmati Yohan. Kicauan Burung Cenderawasih yang bersahutan, bunyi desis ular
diantara belukar, burung hantu yang mulai saling memanggil, serta berbagai suara binatang
yang tak asing ditelinganya terdengar begitu sempurna. Perpaduan nada-nada alam dengan
suara binatang-binatang yang merdu seolah ingin mengungkapkan syukur kepada Tuhan dan
memohon perlindungan padaNya di kala malam mencekam.

Sambil berlari dan berlompat kecil, kedua sahabat tersebut menyanyikan lagu
penyemangat dengan merdu. Guratan lelah diwajah mereka tertutupi senyum riang dan
semangat Putra Mutiara Hitam yang membara.

Hey, yamko rambe yamko aronawaa kombee..

Hey Yamko rambe yamko aronawa kombe…

Te mi ne ki be ku bano kubembo ko, yumano bungo awe adee..

Te mi ne ki be ku bano kubembo ko, yumano bungo Awee adee..

Hongke-hongke, hongke riro .. hongke jumbe jumbe Riro..6

***

“Yohaaan!!! ko dari mana saja ?!! “ seorang wanita berkulit gelap, namun nampak
bersih,dan manis. Dagu runcing dan rambutnya yang di Anyam7 rapi, menunjukkan guratan
wajah cerdas dan berkarakter kuat. Usianya sekitar 36 tahun.

6 7
“ Yamko Rambe Yamko”, lagu daerah Papua yang isinya memberikan semangat pada para pemuda. Anyam:
rambut yang dikepang rapi, dari atas hingga ujung rambut.
Dengan logat Papuanya yang khas, dia berteriak saat dilihat anak satu-satunya pulang
dengan keringat bercucuran . Matanya yang bening melotot kearah Yohan, seolah ingin
menerkamnya. Namun dibalik matanya yang melotot itu, terlihat jelas kekuatiran dan rasa
takut kalau terjadi apa-apa pada anak kesayangannya.

“ Saya tadi dari hutan Cycloop dengan Martin, Mama. “

“ Ohh.. Terus Martin menginap disini to?, soalnya tadi tanta dengar ada yang bilang Air Danau
sedang naik jadi. Nanti bahaya kalau ko mnyebrang kekampung Ayapo”

“Iya tanta8. “ jawab Martin

“Yo,, sekarang kamu dua mandi sana. Sebelum dingin. Setelah mandi baru makan.” Sahut
wanita tadi, yang tak lain adalah ibu Yohan itu dengan sangat ramah dan penuh kehangatan.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Yohan berjalan dari kamarnya menuju bilik kecil
dibagian depan rumah. Di bilik itu, semuanya telah berkumpul. Ayah, Ibu, serta adik ayah Yohan
dan juga Martin tengah duduk sambil tertawa terpingkal-pingkal karena mendengar MOB9 dari
Martin. Bilik atau beranda ini, biasa digunakan jika ada pertemuan keluarga, makan bersama,
ataupun jika ada tamu yang datang.

Rumah dengan ukuran 6 x 12 m ini, tergolong rumah yang cukup besar bila dibanding
rumah-rumah disekitarnya. Gaya tradisional Rumah adat suku Sentani, tidak terlalu Nampak
kuat dalam rumah ini. Kolaborasi alam, adat, dan modern telah dipadukan sehingga meski
sangat sederhana, namun terlihat unik dan nyaman. Rumah ini berbentuk panggung, dinding
dari kayu, serta lantainya juga terbuat dari kayu yang apabila diinjak akan sedikit bergoyang
serta mengeluarkan bunyi. Celah kecil diantara susunan kayu dinding, memudahkan angin dari
pegunungan Cycloop merasuk dan merajuk seolah ingin ikut bersama perkumpulan ini
menikmati Papeda bungkus, dan ikan gastor kuah kuning yang masih mengepulkan asap .
Aromanya begitu wangi, lezat, dan menggoda setiap hidung yang menangkap baunya. Semua
yang ada dibilik kecil itu seolah telah tersihir oleh mantra kelezatan Papeda bungkus khas
Sentani tersebut.

****

8 Tanta: sebutan untuk seorang wanita yang telah kita kenal dan anggap saudara sendiri.

9
Mob : Cerita-cerita konyol dan lucu yang berisi kisah sehari-hari masyarakat Papua. Merupakan cerita yang sangat
digemari dikalangan remaja, anak, maupun orang tua.
Setelah selesai makan, dan membantu ibunya membersihkan bilik serta piring kotor,
Yohan masuk kekamarnya disusul oleh Martin. Tanpa pikir panjang, Yohan segera merebahkan
badannya yang letih dikasur setebal hanya 5cm. Matanya menerawang ke langit-langit kamar,
membayangkan wajah elok binatang-binatang yang tadi dilihatnya di Belantara Cycloop.
Hatinya bergetar, takjub sekaligus kuatir saat mengingat tatapan mata bening burung
cenderawasih senja tadi. Burung itu seoalah menjerit meminta tolong kepadanya agar
dilindungi dari kerakusan manusia. Pelita dalam hati Yohan, mulai menyala dan pikiran
briliannya terbakar pelita tersebut sehingga memunculkan mimpi yang begitu besar…. Pelita di
hati itu kini telah mulai menyala, dan akan menjadi Obor bagi dunia.

***

“KEBAKARAN,, KEBAKARAN… adaa KEEBAKARANN “ teriak warga kampung Genyem


yang terdengar menyayat hati. Mendengar teriakan tersebut, Pak Albertinus Kaigere yang tak
lain adalah ayah Yohan segera berlari keluar dari rumahnya. Pukul 5.30 WIT , kabut tebal
menyelimuti hampir seluruh tubuh raksasa Gunung Cycloop. Kabut itu berasal dari kobaran api
yang melahap habis belantara Cycloop bagian selatan. Angin yang kencang ditambah dengan
Saat ini sedang musim kemarau, seolah ikut bersorai memberi dukungan pada Api itu untuk
melahap seluruh ladang, bahkan menjilat beberapa rumah warga yang letaknya dekat dengan
ladang.

Albertinus masih termangu tak percaya akan apa yang terjadi. Tiba-tiba ranting kering
yang dilumat api terbang kearahnya. Untung ia segera menunduk sehingga kepalanya selamat
dari ranting api tersebut. Seraya menghela napas lega, ia berbalik hendak masuk kedalam
rumah. Betapa tersentaknya ia ketika melihat rumah yang dibangunnya dari kayu itu telah
terbakar . Ternyata, kayu yang tadi hampir mengenainya kini telah menyapu atap rumahnya .
Secepat kilat ia langsung berlari masuk kedalam rumah untuk menyelamatkan istri dan anaknya
yang masih tertidur pulas.

“ Yohaaan, bangun nak!! Teriaknya sambil berusaha mendobrak pintu kamar Yohan
yang masih terkunci. Sialnya, balok diatas pintu itu terjatuh dan mengenai pundaknya.

“ARRGGGHH..” jerit Albert spontan karena tak kuat menahan panas, melepuh, perih, dan dia
merasakan tulang belikatnya remuk.

Meski tubuh kekarnya merasa sangat sakit, dia tetap berusaha kuat mendobrak pintu
kamar Yohan dan akhirnya berhasil masuk kedalamnya. Asap tebal telah memenuhi kamar
sempit itu. Martin yang ketakutan, menangis sambil berusaha keras menggendong Yohan yang
pingsan karena penyakit asma nya kambuh.
10
nama penyakit pada saluran pernapasan.
Yohan memang memiliki penyakit Asma sejak masih SD. Ia paling tak tahan terhadap
cuaca dingin, debu, apalagi asap. Albertinus langsung menggendong Yohan sambil menarik
martin. Dengan tangkas, dia membawa lari dua anak laki-laki itu keluar dari lahapan Si Jago
Merah.

Setelah keluar dari rumah dan meletakkan Yohan yang masih pingsan diatas
rerumputan, ia kembali masuk untuk menolong istrinya yang masih terperangkap di dalam
rumah. Tak ada yang bisa menahannya agar tidak masuk kembali kerumah itu. Bagi Albert, istri
dan anaknya adalah harta terbesar yang tidak boleh hilang dalam hidupnya. Apapun resikonya,
ia tak lagi pikir panjang. Kobaran api yang kian menggila sama sekali tak mengikis niat tulusnya
menyelamatkan sang istri. 10 menit berlalu, rumah kecil itu kini telah lenyap tertelan raja api ,
dan wajah Albert kini sudah tak nampak lagi.

****

Semua tetangga yang rumahnya tidak terbakar, datang dan memberi bantuan pada
Yohan yang masih tergeletak tidak sadarkan diri. Seorang Bapak setengah baya berkulit sawo
matang dan berambut lurus, segera menggendong dan membawa Yohan kemushola dekat
rumahnya. Ia menggoyang pelan tubuh Yohan yang lemah. Tak lama kemudian, Yohan
terbangun dan merintih kesakitan. Nafasnya masih sangat tersengal-sengal, dan sedikit
kesulitan dalam bernafas.Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga nak” sambut pak Riyadi
dengan senyum yang sangat ramah.

“ Bapa, Mama,,, Mamaaa! Teriak Yohan sambil menangis menyadari ayah dan ibunya
tidak ada.

“ Sudah, kamu istirahat saja dahulu. Nanti Bapa dengan mama mu datang untuk jemput
kamu.” Kata Pak Riyadi menenangkan.

“ Iyo, Yohan.. batul yang dibilang Pak Guru Riyadi…Tanta sama Om baik-baik.” Martin
yang sedari tadi ikut menjaga Yohan pun ikut berbicara untuk menenangkan hati Yohan.

Mendengar kata-kata Martin, hati Yohan agak sedikit terhibur. Ia pun berusaha duduk
dan berkata, “ Pak Guru, terima kasih banyak karena sudah tolong saya.” Katanya kepada Pak
Riyadi.

“ Iya, Yohan. Tidak usah sungkan. Bapak kan tetanggamu sekaligus Guru Matematikamu
disekolah. Jadi, anggap saja Bapak ini orang tuamu, Nak.”

“ Sekali lagi terimakasih banyak, Pak Guru”


“ Sekarang kamu minum teh baru makan “

“ Baiklah, Pak.”

****

Tak terasa, sudah hampir 5 hari Yohan tinggal bersama Pak Riyadi. Mereka tinggal
berdua saja, karena Martin telah dijemput keluarganya pulang ke kampung Ayapo diseberang
Danau Sentani. Yohan telah mengetahui semua kejadian yang menimpa kedua orang tuanya
dari para tetangga. Sore itu, air matanya mengalir saat ngilu dihati kembali menghampiri. Dia
sangat merindukan Ayah dan Ibunya. Kenangan-kenangan masa kecil, gurauan canda-tawa,
nasihat, bahkan bentakan dari sang Ayah begitu lekat di ingatannya. Hatinya perih. Lidahnya
kelu, tak dapat berkata sepatah katapun. Ia merasa cita dan harapannya pudar. Tak ada
semangat untuk berjuang, tidak pula bersemangat mewujudkan mimpi besarnya. Ia kini tak
berani lagi menyalakan pelita di hatinya, karena takut pelita itu akan membakar segalanya.
Seperti yang dialami ayah dan ibunya. …

“ Allahuakbar, Allahu’Akbar! 2X Assyhadu’alaa Illa ha Ilallah…”

Suara Adzan Maghrib dari mushola samping rumah Pak Riyadi, berkumandang begitu indah.
Tanpa disadari, hati Yohan terasa begitu sejuk dan tenang. Tak ada lagi rasa ngilu dalam hati,
tak ada rasa kehilangan, dan tidak ada pula air mata yang menetes dipipinya. Yohan yang
jarang, bahkan tak pernah mendengar Adzan sebelumnya langsung berdiri dan mencari Pak
Riyadi di kamarnya.

“ Pak Guru… Engg..ngg..” kata-katanya terhenti. Ia bingung. Kaku, tak tahu ingin mengatakan
apa.

“ Ada apa, Yohan? Apakah kamu lapar”

“ emmm,, Saa.. saya mau ikut Pak guru pergi ke Musala ( maksudnya Mushola)”

Bagai disambar petir, Pak Riyadi yang memang beragama muslim tersebut kaget sekaligus
bahagia mendengar kata-kata Yohan.

“ Kenapa tiba-tiba mengatakan ini, Nak..?”

“ Iya, Pak. Saya juga tidak tahu mengapa, tetapi hati saya tenang saat mendengar Nyanyian
tadi. Kita biasa kalau Ibadah di Gereja, menyanyi juga. Tapi rasanya berbeda.
“ oh,, Haha.. itu bukan nyanyian, Yohan tetapi suara Adzan. Kalau kamu ingin belajar agama itu,
yakni agama Islam bapak akan dengan senang hati mengajarkannya. Pada dasarnya, semua
agama itu sama. Tujuannya juga sama. Hanya caranya saja yang sedikit berbeda. Jadi, kalau
kamu ragu dan setengah-setengah, lebih baik kamu tetap teguh pada keyakinanmu dari kecil
saja. Bapak tidak mau kalau nantinya, kau merasa agama Islam agak sedikit lebih berat.”

“Saya benar-benar niat, pak. Tolong ajarkan saya”

Sejak saat itu, Yohan telah berSyahadat dan belajar mendalami ilmu Agama islam. Dia
belajar Al-Qur’an, As Sunah, Al- hadist dan terutama mengenai Tauhid. Ia sangat rajin Shalat 5
waktu, dan belajar untuk berpuasa Sunnah serta menjalankan Shalat malam. Karena Yohan
telah menjadi seorang muslim, maka Pak Riyadi memberinya nama baru yakni : Yohan Al Fatih
Kaigere.

Kini, Yohan telah kembali bersekolah, setelah hampir satu minggu tak hadir karena
masih terpukul oleh kejadian yang menimpa keluarganya. Wajah khas sentaninya kini terlihat
lebih bercahaya, bersinar, dan selalu tersenyum pada siapa saja. Tatapannya yang lembut, kata-
katanya yang santun, serta otaknya yang cerdas, menjadikannya terlihat seperti permata yang
berkilauan. Masalah demi masalah dihapinya dengan senyum dan kesabaran. Nilai - nilai
akademiknyapun tak ada yang mendapat dibawah 9. Apalagi untuk mata pelajaran IPA ia selalu
mendapat nilai Excellent. Decak kagum dan pujian bertubi-tubi singgah ditelinganya. Setiap
hatinya meninggi dan berbangga, ia langsung beristighfar dan mengucap lafadz “
A’uudzubillahiminassyaitan Nirrajjim” . begitulah yang diajarkan oleh Pak Riyadi, yang kini
menjadi orang tua angkatnya.

Waktu berlalu begitu cepat, Ujian Akhir Sekolah untuk jenjang SMP telah dilaksanakan.
Tibalah waktunya diumumkan Hasil Ujian Akhir Nasional. Malam harinya, Yohan begitu gugup
mendenganr hasil esok pagi. Ia pun kemudian bergegas mengambil air Wudhu, dan shalat
Tahajud. Ia bermunajat kepada Sang Illahi Robbi agar diberi hasil yang terbaik. Ia ingin
membanggakan Ayah, Ibu, serta Pak Riyadi yang merupakan guru disekolah sekaligus orang tua
angkatnya.

Hari ini, adalah hari pengumuman kelulusan sekaligus pengumuman nilai tertinggi.
Betapa bahagianya Yohan ketika namanya, YOHANNES JHORDY KAIGERE disebut sebagai Siswa
teladan sekaligus pembawa nama harum sekolah dan kampungnya. Kepala sekolahnya, sampai
tak kuat menahan tangis bangga saat mengumumkan bahwa Yohan adalah juara 1
UjianNasional tingkat SMP se Kab. Jayapura dan se-Provinsi Papua. Yohan langsung sujud
Syukur, dan berlari ke arah Pak Riyadi. Dengan senyum bangga, dipeluknya Yohan erat-erat dan
ia member ucapan selamat.

***
“ Yohan, bapak ingin berbicara mengenai masa depanmu”. Kata Pak Riyadi pada suatu
malam, diteras rumah. Hati Yohan tiba-tiba terasa sangat gugup. Di dalam otaknya, ia menebak-
nebak ada hal penting apa yang hendak di sampaikan ayah angkatnya.

“ Iya, pak. “ jawab Yohan, pendek.

Pak Riyadi menghela nafas panjang. “ Nak, kamu kan tahu kalau bapak hanya pendatang
di Papua ini. Istri dan anak-anak bapak sedang menunggu bapak di Jogja. Minggu depan,
Insyaallah bapak berangkat ke Jawa. Surat pindah tugas telah diurus dan hanya menunggu SK
keluar. Bapak ingin sekali mengajakmu, tetapi bapak juga tak ingin menghalangi Cita-cita
besarmu. Bapak tau, Cycloop dan semua yang ada didalamnya adalah bagian terpenting dalam
hidupmu.”

Mendengar kata-kata Pak Riyadi, mata Yohan terasa sangat panas. Dadanya sesak,
kepalanya terasa begitu berat, ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya dan merengek agar
ayah angkatnya tidak pulang ke Jawa. Namun ia sadar, dia bukanlah siapa-siapa Pak Riyadi. Ia
tak berhak menahan beliau untuk terus berada disisinya. Kali ini, pikiran Yohan benar-benar
kacau. Tak bisa berkata apa-apa. Hanya isak tertahan yang keluar dari bibir yang selalu
tersenyum itu.

“ Jangan bersedih, Nak.. bapak juga tak ingin berpisah denganmu” lanjut Pak Riyadi
dengan mata berkaca-kaca.

“ Bapak telah mencarikan Beasiswa untukmu. Kamu akan diterima di SMA Bertaraf
Internasional tanpa biaya. Bapak sudah ajukan proposalnya, dan Alhamdulillah disetujui.

Mendengar hal ini, tangis Yohan tak dapat dibendung lagi. Dipeluknya erat-erat tubuh
Pak Riyadi. Lelaki berusia 45 tahun ini pun tak sanggup menahan tangisnya. Ia sangat
menyayangi Yohan dan sudah menganggapnya seperti anak kandung.

Keduanya terlarut dalam tangis. Suasana haru menggerogoti Rumah kecil bercatkan biru
muda itu. Tak ada kata-kata. Tak ada solusi untuk masalah ini.

***
Seusai Shalat Subuh berjama’ah di Mushola, Yohan langsung menghampiri Pak Riyadi
dan mencium tangannya. Dengan sedikit tegas, dan penuh keyakinan ia pun membuka
perbincangannya.

“ Pak, saya sudah putuskan untuk ikut ke Jogja dan menjadi anak bapak selamanya. Izinkan saya
berbakti pada bapak. Saya akan menyimpan impian saya menjadi malaikat pelindung Cycloop.
Akan saya wujudkan impian itu menjadi mimpi yang lebih besar”

Mendengar pernyataan Yohan hati Pak Riyadi dibanjiri rasa gembira dan ungkapan
syukur pada Allah karena telah dihadiahi putra angkat yang cerdas, santun, soleh, dan berbakat.
Tak ada kata yang terucap, selain senyum rasa bangga dan tepukan di bahu Yohan yang terasa
begitu hangat dan bermakna.

Hari Senin, pukul 06.20 WIT mereka berdua telah sampai di bandara Sentani untuk
Check In. Pesawat Lion Air yang mereka naiki itu Take Off pada pukul 07.30 WIT menuju
Bandara Hassanudin, Makassar. Dari balik kaca pesawat, Yohan melihat kebawah dimana
terlihat hamparan Pegunungan Cycloop yang tertutup kabut dan Awan. Danau Sentani yang
sangat indah juga tak lepas dari pandangan Yohan. Danau yang dikelilingi perkampungan kecil
Ayapo itu terlihat begitu menakjubkan.

Hati Yohan hanya bisa bertasbih, melihat keindahan ini. Ia berjanji akan belajar
semaksimal mungkin agar bisa membangun Papua. Ia akan menjadikan Cycloop sebagai tempat
wisata yang dikenal dunia. Ia akan membuat bangga almarhum kedua orang tuanya, dan
seluruh orang Papua. Itulah janjinya. Janji inilah yang menjadi korek pelita yang telah lama
surut, bahkan hampir padam.

***
Lima belas tahun kemudian….

“ Hello, Prof. Yohannes Al Fatih Kaigere… how are you..?” Sapa seorang berkebangsaan
Jerman yang merupakan teman Yohan ketika berkuliah S2 di Delft University Of Technology,
Belanda. Mereka berdua bertemu di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.

“ Oh, Hai.. Prof. Ducth je Rain. I’m fine.” Jawab Yohan dengan senyum bersahaja sambil
menjabat tangan teman lamanya itu.

“ Apakah kesibukan anda saat ini, Profesor?” Tanya nya dalam bahasa Indonesia.

“ Saat ini, saya bekerja sebagai Team Leader Of Mechine in PT Freeport sekaligus di
Kementrian Umum pengelolaan Sumber daya Alam. “

“ Wow, that’s great! Okay, Profesor yohan saya mohon diri karena penumpang
penerbangan ke Singapura harus segera Check in. Bye…!”

“ Good Luck, Prof. Dutche.. !”

Yohan melambaikan tangannya. Dia pun segera bergegas dan berjalan menyusuri pintu
keluar. Dilihatnya Airin tersenyum menghampiri. Istrinya yang merupakan anak kandung Pak
Riyadi itu Nampak begitu cantik dan anggun. Airin 4 tahun lebih muda dari Yohan. Mereka
menikah setelah Yohan menyelesaikan S2 nya. Mereka berencana untuk pulang ke Papua, dan
membangun Papua.

Kini, mimpi Yohan bukanlah sekedar mimpi. Ia bisa mewujudkannya. Belantara Cycloop
yang dulu mengerikan, sekarang menjadi tempat wisata Cagar Alam yang terkenal sampai ke
Negara tetangga, Australia dan Papua Niu Ginue. Pelita yang dulu hanya menyala dihatinya,
telah berkobar menjadi pelita dunia. Keindahan Alam Cycloop kini dapat dinikmati manusia
tanpa harus merusaknya. Inilah ke Agungan Tuhan. Permata di Belantara Cycloop kini telah
berkilau hingga kemanca Negara.

__________ ****__________

BY: Ai Setyarini