Anda di halaman 1dari 2

A.

DILEMA SEKOLAH
Sekolah secara universal diakui sebagai lembaga pendidikan yang paling banyak diminati
sekaligus digunjingkan. Nyaris semua anak manusia yang berakses akan memasuki kampus
sekolah untuk keperluan studi yang lama atau sebentar. Fenomena kekinian menunjukkan,
sekolah menghadapi dua tekanan. Pertama, tekanan animo masyarakat untuk memasuki
organisasi pembelajar itu. Kedua, tekanan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
nyaris selalu meninggalkan kemampuan komunitas sekolah (khususnya guru) dan
kemampuan manajemen sekolah yang sebagian masih relatif lemah untuk
mentransmormasikannya.
Fenomena kekinian dan kedepan membuktikan bahwa kemajuan teknologi dengan
aneka bentuk aplikasinya berlangsung dahsyat dan akan lebih dahsyat lagi. Telah lahirlah
”magis” modern laksana “ilmu telepati” zaman kuno,seperti penggunaan media atau wahana
serba “less” atau label sejenis, seperti wireless, borderless, cableless alias nirkabel, remote
control, wimode, dan sebagainya. Hasil penelitian dan pengembangan dan aneka produk
teknologi pun menjadi luar biasa, yang membuat sekolah selalu berada dibawah tekanan.
Lalu, lahirlah sebuah dilemma untuk tidak desebut dosa. Dilema sekolah adalah
munculnya sebuah masalah yang menawarkan dua kemungkinan, di mana keduanya
sama-sama tidak praktis untuk diterima. Pada satu sisi sekolah harus menjadi wahana
masssal mentranformasikan aneka temuan-temuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan
teknilogi. Pada sisi lain, karena sejatinya sekolah cenderung konservatif, ia tidak pernah akan
sanggup menelan bualat-bulat aneka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu.
Sekolah harus mampu menghasilkan SDM yang berkualitas dan berdaya adaptabilitas
tinggi. Sekolah harus mampu menghadapi gejolak globalisasi yang member penetrasi
terhadap kebutuhan untuk mengkreasi model-model dan proses-proses bagi pencapaian
kecerdasan global (global agility), keefektifan, dan kekompetitifan. Lembaga sekolah atau
satuan pendidikan harus menjadi bagian dari kekuatan bangsa. Kekuatan suatu bangsa
ditakar dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi ruang
angkasa, teknologi bawah laut, rekayasa genetika, pertumbuhan ekonomi dan lain-lain.
Pada banyak tataran pekerjaan, kekuatan fisik makin tersisih dengan kekuatan mental
dan intelektual. Pada dimensi kinerja, bakat kecerdasan intelektual makin dikalahkan oleh
bakat kecerdasan emosional.
Meski harus disadari oleh semua orang, tidak mungkin kecerdasan emosional dapat
berkembang pada orang yang dungu, bodoh, tidak mau belajar, berketerampilan rendah, dan
tidak menjadi pembelajar sejati. Tidak ada gunanya kecerdasan emosional tampa membekali
diri dengan asah intelektual, asah motorik, dan asah spiritual. Bagaimana mungkin orang
yang tidak menjadi pembelajar sejati akan percaya diri, tampil prima, berempati dan memiliki
daya adabilitas yang cerdas.
Ketahanan fisik makin perlu diimbangi dengan ketahanan teknologik, yang justeru
buatan manusia sendiri. Bahkan dalam dongeng dikisahkan bagaimana siput mengalahkan
kancil ketika berlari menyusuri air kali dan gajah dikalahkan kancil ketika mereka tidur
bersama dipinggir jurang. Meski tidak lebih dari sebuah dongeng, hal inibanyak memberi
pelajaran kepada kita bahwa kekuatan fisikal akan dikalahkan oleh kekuatan penaralan dan
siasat yang jitu. Tentu kita tidak harus menjadi licik, penuh tipu muslihat, dan melakukan aksi
kebohongan untuk menjadi pemenang.
Lembaga sekolah atau satuan pendidikan harus menjadi bagian dari kekuatan bangsa.
Kekuasaan suatu bangsa diktakar dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,
termasuk teknologi luar angkasa, teknologi bawah laut, rekayasa genetika, pertumbuhan
ekonomi, kemampuan berswakarya pada multisektor, dan lain-lain bukan dari besarnya
jumlah komunitas bangsa itu. Menghadapi fenomena ini guru harus menumbuhkan diri
menjadi profesional sejati. Namun demikian, tidak yang instan, kalau guru ingin benar-benar
tumbuh secara profesional, menjadi guru teladan, guru yang mengukir prestasi yang
mengembangkan. Salah satu ciri manusia berkualitas adalah memiliki daya suai (adjustment)
yang tinggi terhadap perubahan dan mengkreasi inovasi baru, pelaku perubaha, lebih dari
sekedar bernafsu untuk membangun perubahan, apalagi ingin menguasai keadaan semata-
mata, dibalik ketidakberdayaan masyarakat yang berkecerdasan dan berketerampilan
rendah.