Anda di halaman 1dari 5

Pembahasan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk melakukan analisis sampel dengan uji
pendahuluan (organoleptis, uji tetes, uji tabung) hingga uji KLT serta mampu mengambil data,
menginterpretasi, dan mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder dalam sampel.
Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-senyawa metabolit
sekunder. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas berbagai macam metabolit sekunder yang
berperan dalam aktivitas biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasi dengan
pereaksi-pereaksi yang mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari metabolit sekunder
(Harborne, 1987).
Pada praktikum kali ini hal yang pertama dilakukan adalah uji pendahuluan yaitu
uji tabung. Pada sampel B3 analisis yang pertama dilakukan adalah analisis pada jalur mevalonat
yaitu uji
1. Jalur mevalonat
a. Pada uji terpenoid dimasukan 1 ml ekstrak sampel dan dicampur dengan 0,5 ml kloroform.
Dan dengan hati-hati ditambahkan asam sulfat pekat melalui dinding tabung yang membentuk
suatu lapisan. Dengan adanya asam sulfat maka akan terjadi pengoksidasian asam. Dan hasil
positif yang diperoleh dari uji ini adalah dengan terbentuknya warna merah tua pada kedua lapisan
(Claus, 1970). Dari hasil pengamatan diperoleh hasil yang negative.
b. Pada uji steroid yang juga merupakan bagian dari steroid 0,5 ml larutan ekstrak etanol
ditambahkan dengan 1ml asam asetat anhidrat dan dilanjutkan dengan meneteskan asam sulfat
pekat melalui dinding. Metode ini hampir sama dengan uji terpenoid yang mana akan terjadi
pengoksidasian asam dari asam sulfat dan dibantu dengan adanya asam asetat anhidrat. Selain itu
asam asetat anhidrat juga berfungsi sebagai penghilang bercak air agar terjadinya oksidasi yang
baik. Hasil positif dari percobaan ini adalah perubahan warna ungu kebiruan atau biru kehijauan
(Claus, 1970). Hasil postif, ada perubahan warna ungu kebiruan (kehijauan)
2.Jalur Poliketida
Uji antrakinon yang dilakukan adalah dengan memasukan 0,5 ml ekstrak kedalam tabung.
Selanjtunya ditambahkan dengan larutan amonia 10% dan digojog campurannya. Pada percobaan
ini antrakuinon bebeas akan bereaksi dengan amonia tersebut. Hasil positif dari uji ini adalah
adanya warna merah jambu menandakan adanya antrakuinon bebas (Claus, 1970). hasil yang
diperoleh pada percobaan ini adalah negatif.
3. Jalur Sikimat
a. Uji selanjutnya adalah mengidentifikasi ada tindaknya senyawa kumarin dalam
sampel . uji yang dilakukan adalah dengan memasukan ekstrak kedalam tabung dan ditambahkan
1 ml etanol dan 0,5 ml larutan amonia 10%. Dan ditetesi di atas kertas saring dan diamati dibawah
sinar UV 366. Kumarin akan berflourosensi pada sinar UV 366 dan warna yang terlihat adalah
warna kuning (Claus, 1970). Dari hasil yang diperoleh pada pengamatan UV 366 tidak terlihat
warna kuning. Sehingga hasil negative.
b. Uji selanjutnya adalah uji ada tidaknya senyawa flavonoid didalam sampel. Uji
yang dilakukan adalah dengan memasukan 1 ml ekstrak kedalam tabung. Kemudian ditambahkan
magnesium dan selanjutnya ditambah dengan HCl pekat yang berfungsi sebagai pereduksi
flavonoid. Hasil positif dari percobaan ini adalah terjadinya warna merah jambu (Claus, 1970).
Hasil yang dihasilkan adalah negatif.
4. Alkaloid
Uji selanjutnya adalah menguji apakah sampel merupakan golongan alkaloid atau
bukan. Uji yang dilakukan dengan menambahkan 0,5 ml ekstrak. Dan dilanjutkan dengan
penambahan 1 ml asam klorida 0,1% dan dilanjutkan dengan pemanasan. Dan ditambahkan 1-2
tetes pereaksi wagner dan mayer, muncul endapan menunjukkan adanya alkaloid (Claus, 1970).
Hasil negative.

Pada sampel A3 analisis yang pertama dilakukan adalah analisis pada jalur mevalonat yaitu
uji
1. Jalur mevalonat
a. Pada uji terpenoid dimasukan 1 ml ekstrak sampel dan dicampur dengan 0,5 ml kloroform.
Dan dengan hati-hati ditambahkan asam sulfat pekat melalui dinding tabung yang membentuk
suatu lapisan. Dengan adanya asam sulfat maka akan terjadi pengoksidasian asam. Dan hasil
positif yang diperoleh dari uji ini adalah dengan terbentuknya warna merah tua pada kedua lapisan
(Claus, 1970). Dari hasil pengamatan diperoleh hasil yang negative.
b. Pada uji steroid yang juga merupakan bagian dari steroid 0,5 ml larutan ekstrak etanol
ditambahkan dengan 1ml asam asetat anhidrat dan dilanjutkan dengan meneteskan asam sulfat
pekat melalui dinding. Metode ini hampir sama dengan uji terpenoid yang mana akan terjadi
pengoksidasian asam dari asam sulfat dan dibantu dengan adanya asam asetat anhidrat. Selain itu
asam asetat anhidrat juga berfungsi sebagai penghilang bercak air agar terjadinya oksidasi yang
baik (Claus, 1970). Hasil positif dari percobaan ini adalah perubahan warna ungu kebiru atau biru
kehijauan, hasil negative.
2.Jalur Poliketida
Uji antrakinon yang dilakukan adalah dengan memasukan 0,5 ml ekstrak kedalam tabung.
Selanjtunya ditambahkan dengan larutan amonia 10% dan digojog campurannya. Pada percobaan
ini antrakuinon bebeas akan bereaksi dengan amonia tersebut. Hasil positif dari uji ini adalah
adanya warna merah jambu menandakan adanya antrakuinon bebas (Claus, 1970). Hasil yang
diperoleh pada percobaan ini adalah negatif.
5. Jalur Sikimat
c. Uji selanjutnya adalah mengidentifikasi ada tindaknya senyawa kumarin dalam
sampel . uji yang dilakukan adalah dengan memasukan ekstrak kedalam tabung dan ditambahkan
1 ml etanol dan 0,5 ml larutan amonia 10%. Dan ditetesi di atas kertas saring dan diamati dibawah
sinar UV 366. Kumarin akan berflourosensi pada sinar UV 366 dan warna yang terlihat adalah
warna kuning (Claus, 1970). Dari hasil yang diperoleh pada pengamatan UV 366 tidak terlihat
warna kuning. Sehingga hasil negatif.
d. Uji selanjutnya adalah uji ada tidaknya senyawa flavonoid didalam sampel. Uji
yang dilakukan adalah dengan memasukan 1 ml ekstrak kedalam tabung. Kemudian ditambahkan
magnesium dan selanjutnya ditambah dengan HCl pekat yang berfungsi sebagai pereduksi
flavonoid (Claus, 1970). Hasil positif dari percobaan ini adalah terjadinya warna merah jambu.
Hasil yang dihasilkan adalah negatif.
6. Alkaloid
Uji selanjutnya adalah menguji apakah sampel merupakan golongan alkaloid atau
bukan. Uji yang dilakukan dengan menambahkan 0,5 ml ekstrak. Dan dilanjutkan dengan
penambahan 1 ml asam klorida 0,1% dan dilanjutkan dengan pemanasan. Dan ditambahkan 1-2
tetes pereaksi wagner dan mayer, adanya endapan menunjukkan adanya alkaloid (Claus, 1970).
Hasil positif ada endapan.
Kesimpulan sementara adalah sampel A3 mengandung senyawa alkaloid. Sampel B3
mengandung steroid. Selanjutnya adalah pengidentifikasian menggunakan Kromatografi Lapis
Tipis. Setelah didapatkan dugaan sementara bahwa sampel mengandung senyawa alkaloid dan
terpenoid, langkah selanjutnya adalah melakukan Uji KLT. Sampel akan dielusi dengan KLT
menggunakan fase gerak yang sesuai dengan hasil dugaan dari uji pendahuluan. Perlakuan ini
bertujuan untuk menganalisis kandungan senyawa pada sampel apakah betul sesuai dengan dugaan
sementara. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan dengan metode
kromatografi lapis tipis (KLT).Pada KLT, fase diam yang digunakan pada percobaan ini ialah
silica gel F254 yang bersifat polar.Silica gel F254 yaitu suatu lempeng KLT yang dibuat dengan
melapiskan silica gel pada permukaan lapisan aluminium dengan ketebalan 250μm. Permukaan
silika gel yang digunakan untuk menotolkan senyawa berwarna putih dan gel tersebut dapat
berflourosensi pada panjang 254 nm. Dari hasil uji pendahuluan, sampel yang diperoleh diduga
mengandung alkaloid dan terpenoid. Oleh karena itu, uji KLT dilakukan dengan dua plat KLT
yang masing-masing untuk identifikasi golongan steroid dan identifikasi golongan alkaloid. Uji
dengan KLT diawali dengan memberi tanda garis mulai dan titik untuk tempat penotolan masing-
masing sampel. Jaraknya 1 cm dari ujung bawah. Kemudian dilakukan penotolan sampel. Masing-
masing senyawa ditotolkan menggunakan pipa kapiler dengan penotolan sebanyak 3 kali dan
setiap penotoloan lebih baik ditunggu hingga kering dahulu baru ditotolkan kembali.Hal ini agar
saat elusi tidak didapatkan hasil yang tailing dimana bercak menumpuk/blur. Pada uji identifikasi
golongan alkaloid, pembanding yang digunakan adalah nikotin (alkaloid golongan piridin).
sedangkan pada uji identifikasi golongan steroid, pembanding yang digunakan adalah
stigmasterol.
Selanjutnya masing-masing lempeng dimasukkan ke dalam bejana tertutup yang telah
jenuh dan berisi fase gerak sesuai dengan golongannya untuk dielusi. Fase gerak yang digunakan
biasanya bersifat nonpolar. Fase gerak yang digunakan untuk identifikasi golongan alkaloid adalah
campuran dari etil asetat-metanol-ammonia pekat-air (80:25:0,2:15,8 v/v/v/v), sedangkan fase
gerak yang digunakan untuk identifikasi golongan steroid adalah campuran n-heksan-etil asetat
(4:1). Mekanisme pemisahan pada KLT melibatkan interaksi partisi antara senyawa (analit)
dengan fase diam dan fase geraknya.
Selama proses elusi, fase gerak akan naik perlahan dengan sifat kapilaritas dan mengelusi
sampel hingga membentuk bercak-bercak halus yang memisah. Ketika fase gerak sudah bergerak
ke atas hingga mencapai batas (± 1 cm dari batas atas), lempeng KLT segera diambil dan diberi
tanda garis akhir. Garis akhir ini bertujuan untuk nanti dapat menghitung harga Rf dari bercak
yang didapat. Pembuatan garis akhir bertujuan agar fase gerak tidak bergerak hingga membasahi
seluruh lempeng KLT setelah mencapai bagian atas, fase gerak dapat menguap. Hal ini
memungkinkan senyawa yang terbawa oleh fase gerak juga dapat hilang. Kemudian ditunggu
hingga mengering lempeng KLT dan diamati bercak yang terbentuk. Pengamatan langsung ini
dianggap sebagai pengamatan dengan sinar tampak. Selain itu, pengamatan juga dilakukan
dibawah sinar UV λ 254 (gelombang pendek) dan UV λ 366. (gelombang panjang).
Kemudian, diamati apakah ada bercak yang terbentuk dan pada jarak berapa dari garis
awal. Pengamatan yang dilakukan pada analisis ini adalah dengan membandingkan bercak anatara
sampel dengan pembandingnya apakah terlihat pada jarak dan warna yang sama. Setelah didapat
jarak bercak, sampel disemprot dengan reagen tertentu sesuai dengan golongan ujinya.
Pada sampel A3 karna diduga alkaloid piridina maka dilakukan penyemprotan Dragendorff
(Wagner,1996), lalu dilakukan penyinaran pada UV 254 nm dan UV 366, didapat rf pada 254 dan
366 nm adalah 0,14 dan 0,98 pada 254nm dia meredam dan pada 366nm dia berfluoresensi
(kuning). Diduga sampel A3 mengandung alkaloid piridin, karna melalui uji pendahuluan
menunjukkan endapan dan uji KLT Rf 0,14 dan 0,98 pada UV 254 (meredam) dan muncul warna
sama dengan pembanding (asam nikotinat) (sama-sama meredam pada Rf yang sama)
Pada sampel B3 diduga steroid maka dilakukan penyemprotan anisaldehid-asam sulfat lalu
dipanaskan 110oC selama 5 menit (Wagner 1996), lalu muncul bercak warna ungu. Diduga sampel
B3mengandung steroid, karna melalui uji pendahuluan menunjukkan perubahan warna dari ungu
menjadi biru kehijauan, lalu pada uji KLT muncul Rf 0,54 dan warna yang sama dengan
pembanding stigmasterol (ungu).
Setelah proses skrining fitokimia selesai, diinformasikan kandungan senyawa pada tiap
sampel. Pada sampel A3 ternyata mengandung alkaloid piridina yaitu berasal dari nikotin dari
sampel tembakau. Sedangkan pada sampel B3 ternyata mengandung steroid yaitu berasal
stigmasterol dari sampel Rhizoma Pacing.
Dengan struktur kimia :

Sampel B3 (Anonim,1997) Sampel A3 (Anonim, 1997)

Daftar Pustaka
Anonim, 1979, Materia Medika Indonesia, Jilid III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Claus, E.P., Tyler V.E, Bradley, L.R., 1970, Pharmacognosy 6th ed., Philadelphia : Lea and
Febiger.
Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, ITB, Bandung.
Wagner, H. dan Bladt, S., 1996, Plant Drug Analysis, A Thin Layer Chromatography Atlas,
Second Edition, Springer, Germany.

Yogyakarta, 28 November 2017

Ivan Antony K FA/10457


Natalia Kristanti FA/10454
Pratiwi Saputri FA/10457