Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMASI FISIKA


”PENENTUAN VISKOSITAS LARUTAN”

Disusun Oleh :
Kelompok Praktikum : 3
Gelombang Praktikum B
Nama Kelompok : Feni Sulestari (16040075)
Putri Meilani (16040044)
Yuliyani (16040038)
Ulfi Khaerun Nisa (16040083)
Puput Yunita Sari (16040073)
Heru Setyo N. (16040045)
Ferdyan Ido P (16040082)
Andine (16046901)

Dosen Pengampu : Abdul Aziz Setiawan, S.Si.,M.Farm.,Apt.

LABORATORIUM FISIKA FARMASI


SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
TANGERANG
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah praktikum farmasi fisika tentang Penentuan Viskositas
Larutan.
Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu,
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik yang membangun dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang penentuan viskositas
larutan dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Tangerang, April 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar belakang 1
1.2 Rumusan masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Definisi 3
2.2 Sifat aliran Newton 7

BAB III METODOLOGI 12


3.1 Alat dan bahan 12
3.2 Cara kerja 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 15
4.1 Hasil 15
4.2 Pembahasan 22
BAB V PENUTUP 24
5.1 Kesimpulan 24
5.2 Saran 25
DARTAR PUSTAKA 26
LAMPIRAN 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kekentalan adalah sifat dari suatu zat cair (fluida) disebabkan adanya
gesekan antara molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair
tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang menghambat aliran zat cair. Besarnya
kekentalan zat cair (viskositas) dinyatakan dengan suatu bilangan yang
menentukan kekentalan suatu zat cair. Hukum viskositas newton menyatakan
bahwa untuk laju perubahan bentuk sudut fluida yang tertentu maka tegangan
geser berbanding lurus dengan viskositas.
Viskositas adalah gesekan interval, gaya viskos melawan gerakan
sebagai fluida relatif terhadap yang lain. Viskositas adalah alasan
diperlukannya usaha untuk mendayung perahu melalui air yang tenang, tetapi
juga merupakan suatu alasan mengapa dayung bisa bekerja. Pelumasan
bagian dalam mesin fluida viskos cenderung melekat pada permukaan zat
yang bersentukan dengannya.
Diantara salah satu sifat zat cair adalah kental (viskos) dimana zat cair
memiliki kekentalan yang berbeda-beda materinya, misalnya kekentalan
minyak goreng dengan kekentalan oli. Dengan sifat ini zat cair banyak
digunakan dalam dunia otomotif yaitu sebagai pelumas mesin. Telah
diketahui bahwa pelumas yang dibutuhkan tiap-tiap mesin membutuhkan
kekentalan yang berbeda-beda.
Suatu zat memiliki ketentuan tertentu hingga suatu padatan yang
dimasukan kedalamnya mendapat gaya tekananan yang diakibatkan peristiwa
gesekan antara permukaan padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh,
apabila kita memasukan sebuah bola kecil kedalam zat cair, terlihatlah batu
tersebut mula-mula turun dengan cepat kemudian melambat hingga akhirnya
sampai di dasar zat cair. Bola kecil tersebut pada saat tertentu mengalamai
sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus beraturan. Gerakan bola
kecil menjelaskan bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki suatu zat
cair sehingga kecepatan bola berubah. Mula-mula akan mengalami percepatan

1
yang digerakan gaya beratnya tetapi denga sifat kekentalan cairan maka
besarnya percepatannya akan semakin berkurang dan akhirnya nol. Pada saat
tersebut kecepatan bola tetep dan disebut kecepatan terminal. Hambatan-
hambatan dinamakan sebagai kekentalan (viskositas). Akibat viskositas zat
cair itulah yang menyababkan terjadinya perubahan yang cukup drastis
terhadap kecepatan batu. Aliran viskos, dalam berbagai masalah ketehnikan
pengaruh viskositas pada aliran kecil, dan dengan demikian di abaikan.
Cairan kemudian dinyatakan sebagai tidak kental (invisid) atau sering kali
ideal dan di ambil sebesar nol. Tetapi jika istilah aliran viskos dipakai, ini
berati bahwa viskositas tidak di abaikan. Untuk benda homogen yang di
celukpak kedalam zat cair ada tiga kemungkinan yaitu tenggelam, meyalang,
dan terapung. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan agar praktikan dapat
mengukur viskositas berbagai jenis zat cair. Karena semakin besar nilai
viskositas dari larutan maka tingkat kekentalan larutan tersebut semakin besar
pula.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana mahasiswa menentukan viskositas larutan newton dengan
viskometer ostwald?
2. Bagaimana menjelaskan pengaruh kadar larutan terhadap viskositas
larutan newton?
3. Bagaimana menentukan sifat alir beberapa cairan dengan viskometer
stormer?

1.3 Tujuan Praktikum


1. Setelah mengikuti praktikum mahasiswa diharapkan dapat
menentukan viskositas larutan newton dengan viskometer ostwald.
2. Setelah mengikuti praktikum mahasiswa diharapkan dapat
menjelaskan pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan
newton.
3. Setelah mengikuti praktikum mahasiswa diharapkan dapat
menentukan sifat alir beberapa cairan dengan viskometer stormer.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian Viskositas

Viskositas (kekentalan) berasal dari perkataan Viscou, Suatu


bahan apabila dipanaskan sebelum menjadi cair terlebih dulu menjadi
viscous yaitu menjadi lunak dan dapat mengalir pelan-pelan. Viskositas
dapat dianggap sebagai gerakan di bagian dalam (internal) suatu
fluida. Jika sebuah benda berbentuk bola dijatuhkan ke dalam fluida
kental, misalnya kelereng dijatuhkan ke dalam kolam renang yang
airnya cukup dalam, nampak mula-mula kelereng bergerak dipercepat.

Tetapi beberapa saat setelah menempuh jarak cukup jauh, nampak


kelereng bergerak dengan kecepatan konstan (bergerak lurus beraturan).
Ini berarti bahwa di samping gaya berat dan gaya apung zat cair masih
ada gaya lain yang bekerja pada kelereng tersebut. Gaya ketiga ini adalah
gaya gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida. Khusus untuk
benda berbentuk bola, gaya gesekan fluida secara empiris dirumuskan
sebagai Persamaan Fs= 6πηrv dengan ηmenyatakan koefisien kekentalan,
r adalah jari-jari bola kelereng, dan v kecepatan relatif bola terhadap
fluida (Anwar, 2008).

Setiap zat cair memiliki kekentalan atau viskositas. Kekentalaan


yang dimiliki setiap zat berbeda-beda, hal ini bergantung pada
konsentrasi dari zat cair atau fluida tersebut. Viskositas suatu fluida
juga dipengaruhi oleh suhu. Unsur gas memiliki nilai viskositas yang
mudah berubah terhadap perubahan suhu. Pada umumnnyazat cair akan
mengalami pengurangan viskositas jika suhu dinaikan. Hal ini berkaitan
dengan struktur molekul dalam cairan tersebut (Maria, 2012).

Sifat cairan sebagai besar ditentukan oleh resistansinya untuk


mengalir, yang dinamakan viskositas. Suatu fluida berviskositas rendah

3
mengalir dengan mudah dan membuang sedikit energi, tetapi menaikan
rugi-rugi kebocoran. Suatu fluida kental dapat menyekat dengan baik,
tetapi fluida tipe ini cukup seret dan menyebabkan rugi energi dan
tekanan sekitar sistem, fluida hidrolik haruslah merupakan suatu medium
yang berada an tara ektrim-ekstrim ini, jadi dibutuhkan suatu cara
untuk mendefinisikan viskositas (Gunawan, 2013).

Adanya zat makro molekul akan menaikan viskositas larutan


bahkan pada konsentrasi rendahpun, efeknya besar, karena molekul besar
mempengaruhi aliran fluida pada jarak jauh. Pada konsentrasi rendah,
viskositas larutan berhubungan dengan viskositas pelarut murni.
Viskositas diukur dengan beberapa cara. Dalam “viskometer Ostwald”
waktu yang dibutuhkan oleh larutan untuk melewati pipa kapiler dicatat
dan dibandingkan dengan sampel standar (Atkins, 1996).

Aliran cairan dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe. Yang


pertama adalah aliran laminar atau aliran kental, yang secara umum
menggambarkan laju aliran kecil melalui sebuah pipa dengan garis
tengah kecil. Aliran yang lain adalah aliran turbulen, yang
menggambarkan laju aliran yang besar melalui pipa dengan diameter
yang lebih besar (Dogra, 2009).

Rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran cairan dan


deformasi. Ilmu ini digunakan oleh ahli fisiologi untuk menentukan
sirkulasi darah, dan untuk para dokter dipakai untuk menentukan aliran
larutan injeksi, sedangkan untuk ahli farmasi digunakan untuk menentukan
aliran suatu sediaan misalnya emulsi, suspensi, dan salep (Kosman, 2005).
Beberapa tahun terakhir ini prinsip dasar rheologi telah digunakan
dalam penyelidikan cat, tinta, berbagai adonan, bahan-bahan untuk
pembuat jalan, kosmetik, produk hasil peternakan, serta bahan-bahan lain.
Penyelidikan viskositas dari cairan sejati, larutan dan sistem koloid baik
yang encer maupun kental jauh lebih bersifat praktis dari pada bernilai
teoris (Martin, 1993).

4
Reologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan
kedalam wadah, pemindahan sebelum digunakan, apakah dicapai
dengan penuangan dari botol, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari s
uatu jarum suntik. Reologi dari suatu produk tertentu yang dapat berkisar
dalam konsistensi dari bentuk cair ke semisolid sampai kepadatan, dapat
mempengaruhi penerimaan bagi si pasien, stabilitas fisika, dan bahkan
afailabilitas biologis. Jadi viskositas telah terbukti mempengaruhi laju
absorbsi obat dari saluran cerna (Martin, 1993).
Hukum aliran dari Newton perbedaan kecepatan (dv) antara dua
bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dv) adalah
“perbedaan kecepatan” atau rate of shear, dv/dr. gaya persatuan luas F’/A
diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini disebut shearing stress. Newton
adalah orang pertamayang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara
kuantitatif. Diamenemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan.
Akan makin besar pulagaya persatuan luas (shearing stress) yang
diperlukan untuk menghasilkan suaturate of shear tertentu. Oleh karena itu,
rate of shear harus berbanding langsungdengan shearing stress atau
F’/A = η dv/dr
Dimana η adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan
sebagaiviskositas saja. Persamaan sering kali ditulis sebagai (Martin,
1993):
η = F/ G

Dimana F = F’/A dan G = dv/dr .


Adanya zat terlarut mekromolekul akan menaikkan viskositas
larutan. Bahkan pada konsentrasi rendahpun, efeknya besar, karena
molekul besar mempengaruhi aliran fluida pada jarak jauh. Viskositas
diukur dengan beberapa cara. Dalam “Viskometer Ostwald”, waktu yang
diperlukan oleh larutan untuk melewati pipa kapiler dicatat dan
dibandingkan dengan sampel standar. Metode ini cocok untuk penentuan (
η ), karena perbandingan viskositas larutan dan pelarut murni, sebanding

5
dengan waktu pengaliran t dan t’ setelah dikoreksi untuk perbedaan antara
rapatan ρ dan ρ’ (Atkins, 1997).
Viskometer dalam bentuk silinder konsentris yang berotasi juga
digunakan untuk pengukuran viskositas. Tenaga putar pada silinder dalam
monitor di saat silinder luas dirotasikan. “Viskometer drum Berotasi” ini
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis Ostwald yaitu: Gradien
geser antara kedua silinder ini lebih sederhana daripada dalam pipa kapiler
(Atkins,1997).
Karena viskositas berubah-ubah tergantung pada temperature,
maka penentuan temperatur jadi penting; umumnya viskositas cairan berku
rang dengan meningkatnya temperatur. Penentuan viskositas dalam istilah
poise atau centipoise menghasilkan perhitungan viskositas absolute.
Kadang-kadang lebih sesuai memakai skala kinetik. Dimana unit-unit
viskositas diukur dengan Stokes dan centistokes. Viskositas kinematik di
dapat dari viskositas absolute dibagi bobot jenis cairan pada temperatur
yang sama (Ansel,1989). Viskositas Kinematik = viskositas absolut /
Bobot jenis.
Untuk larutan viskositasnya bergantung pada konsentrasi atau
kecepatan larutan. Umumnya larutan yang konsentrasinya tinggi.
Viskositasnya juga tinggi. Sebaliknya larutan yang konsentrasinya rendah
viskositasnya juga akan rendah. Adapun hubungan viskositas atau
kekentalan dengan konsentrasi itu penting karena dapat digunakan untuk
mengetahui konsentrasi sel darah. Pada darah normal, kekentalan terjadi
dua kali dan bila konsentrasi darah meningkat mencapai 70 kali di atas
normal, maka kekentalan darah mencapai 20 kali air. Dengan alasan
demikian, aliran darah merah sangat rendah atau viskotasnya turun.
Sebaliknya pada penderita polyathemia (kadar sel darah merah
meningkat), aliran darah sangat lambat karena viskositasnya naik
(Kosman,2007).
Setiap fluida mempunyai viskositas yang berbeda-beda yang
harganya bergantung pada jenis cairan dan suhu. Cairan mempunyai
viskositas lebih besar daripada gas, karena memiliki gaya gesek untuk

6
mengalir lebih besar. Pada kebanyakan cairan viskositasnya turun dengan
naiknya suhu. Menurut teori lubang terdapat kekosongan dalam cairan dan
molekul bergerak secara kontinu ke dalam kekosongan ini. Sehingga
kekosongan akan bergerak keliling. Proses ini menyebabkan aliran, tetapi
memerlukan energi karena ada energi pengaktifan yang harus dipunyai
suatu molekul agar dapat bergerak ke dalam kekosongan energi
pengaktifan lebih mungkin terdapat pada suhu yang lebih tinggi dan
dengan demikian cairan lebih mudah mengalir (Yasul, 2003).Viskositas
mula-mulai diselidiki oleh Newton, yaitu dengan menggambarkan zat cair
sebagai berikut (Martin, 2008): Balok zat cair ini terdiri lapisan-lapisan
molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan terbawah tetap diam,
sedangkan lapisan diatasnya bergerak dengan kecepatan konstan, sehingga
setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding langsung
dengan jaraknya terhadap lapisan terbawah yang tetap. Perbedaan
kecepatan dv antara dua lapisan yang dipisahkan dengan jarak dx disebut
dv/dx atau kecepatan geser (rate of shear). Sedangkan gaya per satuan luas
F/A atau tekanan geser (Shearing stress) (Martin, 2008).
Ahli farmasi kemungkinan besar lebih sering menghadapi cairan
non- Newton dibanding dengan cairan biasa. Oleh karena itu mereka harus
mempunyai metode yang sesuai untuk mempelajari zat-zat kompleks. Ini.
Non- Newtonian bodies adalah zat yang tidak mengikuti persamaan aliran
Newton, disperse heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid,
emulsi,suspensi cair, salep dan produk-produk serupa masuk dalam kelas
ini. Jika bahan-bahan Non-Newton dianalisis dalam suatu viskometer yang
dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsentrasi yang
menggambarkan adanya tiga kelas aliran yakni : plastis, pseudoplastis dan
dilatan (Martin, 1993).
2.2 Sifat Aliran Newton
Berdasarkan grafik sifat aliran (Rheogram) cairan Newton dibagi
atas 2 kelompok, yaitu (Martin, 2008):
1. Cairan yang sifat alirnya tidak dipengaruhi oleh waktu, kelompok ini
terbagi atas tiga bagian yaitu:

7
a. Aliran plastik Cairan yang mempunyai aliran plastik tidak akan
mengalir sebelum suatu gaya tertentu dilampauinya. Gaya
tersebut adalah “yieldvalue” atau “f”. Pada tekanan di bawah
yieldvalue cairan tersebut bertindak sebagai bahan plastik,
sedangkan di atas harga ini aliran mengikuti hukum Newton.
b. Aliran Pseudoplastik
Viskositas cairan psedoplastik akan berkurang dengan
naiknya kecepatan geser, berbeda dengan aliran plastik, di sini
tidak ada yieldvalue, karena kurva tidak mempunyai bagian yang
linier, maka cairan akan mempunyai aliran pseudoplastik tidak
mempunyai harga viskositas yang absolut.
c. Aliran Dilatan
Viskositas cairan akan naik dengan naiknya kecepatan
geser karena volumenya akan naik bila ia bergeser. Alat untuk
mengukur voskositas dan rheology suatu zat cair disebut
viscometer. Ada dua jenis viscometer yaitu:
1. Viskometer satu titik : Viskometer kapiler, viscometer bola
jatuh, penatrometer, palte plastometer.
2. Viskometer banyak titik : viscometer rotasi tipe stromer,
brokfield. Cara menentukan viskositas suatu zat
menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada
beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain:
a. Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan
mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut
untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir karena
gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari
cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang
dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah
diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut
(Moechtar,1990).

8
b. Viskometer Hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola
maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek =
gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah
menggelindingkanz bola ( yang terbuat dari kaca )
melalui tabung gelas yang berisi zat cair yang diselidiki.
Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga
resiprok sampel (Moechtar,1990).
c. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan
antaradinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup
dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan
viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang
disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling
bagian tube sehingga menyebabkan penurunan
konsentrasi. Penurunan konsentras ini menyebabkab
bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini
disebut aliran sumbat (Moechtar,1990).
d. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan
ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi
di bawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan
bermacam kecepatan dan sampelnya digeser di dalam
ruang semitransparan yang diam dan kemudian kerucut
yang berputar (Moechtar,1990).
Nilai viskositas dinyatakan dalam viskositas spesifik, kinematik
dan intrinsik. Viskositas spesifik ditentukan dengan membandingkan
secara langsung kecepatan aliran suatu larutan dengan pelarutnya.
Viskositas kinematik diperoleh dengan memperhitungkan densitas larutan.
Baik viskositas spesifik maupun kinematik dipengaruhi oleh konsentrasi
larutan. Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan
viskometer Ubbelohde yang termasuk jenis viskometer kapiler. Untuk

9
penentuan viskometer larutan polimer, viskometer kapiler yang paling
tepat adalah viskometer Ubbelohde. (Rochima, 2007).
Gliserol adalah senyawa yang netral, dengan rasa yang manis, tidak
berwarna,cairan kental dengan titik lebur 20oC dan memiliki titik didih
yang tinggi yaitu 290oC.Gliserol dapat larut sempurna dalam air dan
alkohol, tapi tidak dalam minyak.Sebaliknya, banyak zat dapat lebih
mudah larut dalam gliserol dibanding dalam air maupun alkohol. Oleh
karena itu, gliserol merupakan pelarut yang baik (Petruci, 1989).

10
11
BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

1. Viskometer 6. Pro pipet


Ostwald 7. Piknometer
2. Beaker glass 250 8. Baskom
ml 9. Thermometer
3. Batang pengaduk 10. Viscometer stormer
4. Pipet ukur 5 ml 11. Anak timbangan
5. Stopwatch
3.1.2 Bahan

1. Alcohol 5. larutanCMC 1%
2. Aquadest 6. Larutan CMC 0,1% dengan
3. Es batu veegum 2%
4. Larutan gula 20%,
40%, 60%, dan X%

3.2 Prosedur Kerja

A. Penentuan Viskositas Larutan Newton

1. Tentukan kerapatan dari cairan berikut dengan menggunakan alat


piknometer.

a. aquadest

12
b. alkohol

c. larutan gula 20%, 40%, 60%, dan X%

Caranya:

a. Penentuan volume piknometer pada suhu percobaan

Timbang piknometer yang bersih dan kering dengan seksama

Isi piknometer dengan aquadest hingga penuh, buka tutup kapilernya

Rendam dalam air es hingga suhunya turun kira-kira 2oC di bawah


suhu percobaan, tambahkan aquadest hingga piknometer kembali
penuh.

Angkat dari es, biarkan suhunya naik hingga suhu percobaan,


kemudian tutup pipa kapilernyacepat-cepat.

Usap air yang menempel, kemudian timbang dengan seksama.

B. Penentuan Kerapatan Zat Cair

Lakukan penimbangan zat cair yang akan dicari kerapatannya dengan


piknometer, sama seperti percobaan A.

Tentukan viskositas cairan-cairan tersebut dengan viscometer Ostwald.

13
Caranya: masukkan 3 ml cairan tersebut ke dalam viscometer Ostwald,
hisap dengan karet hisap hingga cairan berada di atas garis batas.
Hitung waktu yang dibutuhkan oleh cairan untuk turun ke bawah
dengan gaya gravitasi melewati 2 tanda batas.

Hitung secara teoritis viskositas larutan gula 45%

C. Penentuan Viskositas Larutan Non Newton

Tentukan sifat alir zat cair berikut dengan viscometer stormer:

1. Larutan CMC 1%

2. Larutan CMC 0,1% dengan veegum 2%

Aliran di kalibrasi mengguanakan aquadest. Tentukan beban pada saat


rotor mulai berputar. Catat beban awal sebagai titik 0.

Tambahkan berat beban anak timbangan tiap kali 5-10 gram. Agar tidak
terjadi aliran turbulen, kecepatan putar rotor jangan sampai melampaui
150 rpm (10 detik/25 putaran)

Untuk menghitung kecepatan tersebut, tentukan waktu yang diperlukan


rotor untuk memutar 25 kali putaran.

14
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil yang diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil massa piknometer kosong dan piknometer dengan sampel

No Larutan Massa Massa


Piknometer Piknometer +
kosong (g) Zat (g)
1 Aquadest 22,808 43,066
2 Gula 20 % 22,676 54,034
3 Gula 40 % 22,808 48,990
4 Gula 60 % 19,479 53,276
5 Gula x % 21,002 42,587
6 Na-CMC 12,503 36,427
7 Etanol 70 % 21,002 41,785

Tabel 2. Hasil Viskositas menggunakan Viskometer Lamy menggunakan


Spindel R-3, dengan speed 150 rpm dan waktu yang di butuhkan 15 detik.

No Larutan Viskositas
1 Aquadest 0,827 cPoises
2 Gula 20 % 1,815 cPoises
3 Gula 40 % 2,895 cPoises
4 Gula 60 % 7,950 cPoises

15
5 Gula x % 10,52 cPoises
6 Na-CMC 23,75 cPoises
7 Etanol 70 % 38,78 cPoises

Perhitungan:

X% 10,52 cPoises
% kadar gula X =
20% 1,815 cPoises
20% X 10,52
X% =
1,815

X% = 115,92%

Tabel 3. Hasil Viskositas menggunakan viscometer Ostwald

No Larutan T (waktu alir) Rata-rata waktu


1 Aquadest
Percobaan 1 9,86 s
Percobaan 2 10,02 s 9,51 s
Percobaan 3 8,66 s
2 Gula 20 %
Percobaan 1 14,15 s
Percobaan 2 14,51 s 14,34 s
Percobaan 3 14,36 s
3 Gula 40 %
Percobaan 1 25,54 s
Percobaan 2 24,94 s 25,33 s
Percobaan 3 25,51 s
4 Gula 60 %
Percobaan 1 60 s
54,33 s
Percobaan 2 54 s

16
Percobaan 3 49 s
5 Gula x %
Percobaan 1 12,58 s
Percobaan 2 12,46 s 12,58 s
Percobaan 3 12,71 s
6 Na-CMC
Percobaan 1 31,73 s
Percobaan 2 45,07 s 36,64 s
Percobaan 3 33,12 s
7 Etanol 70%
Percobaan 1 14,98 s
Percobaan 2 21,67 s 17,93 s
Percobaan 3 17,14 s

a. Perhitungan
1. Massa jenis
a) Aquadest
Dik : Pikno kosong = 22,808 gram
Pikno isi = 43,066 gram
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (43,066-22,808)
v 25
= 0,81 gram/ml
b) Etanol 70%
Dik : Pikno kosong = 21,002
Pikno isi = 41,785
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (41,785-21,002)
v 25
= 0,83 gram/ml

17
c) Gula x %
Dik : Pikno kosong = 21,002
Pikno isi = 42,587
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (42,587-21,002)
v 25
= 0,86 gram/ml
d) Gula 20%
Dik : Pikno kosong = 22,676
Pikno isi = 54,034
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (54,034-22,676)
v 25
= 1,25 gram/ml

e) Gula 40%
Dik : Pikno kosong = 22,808
Pikno isi = 48,990
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (48,990-22,808)
v 25
= 1,05 gram/ml
f) Gula 60%
Dik : Pikno kosong = 19,479
Pikno isi = 53,276
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (53,276-19,479)
v 25
= 1,35 gram/ml

18
g) CMC
Dik : Pikno kosong = 12,503
Pikno isi = 36,427
Volume = 25 ml
Jawab : ρ = m = (36,427-12,503)
v 25
= 0,44 gram/ml

2. Viskometer Oswald
a) Aquadest
Dik : ρ zat = 0,81 gram/ml
t zat = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat
n zat 0,81 .9,51
=
0,827 0,81 .9,51

n zat = 0,83
b) Gula 20%
Dik : ρ gula 20% = 1,25 gram/ml
t gula 20% = 14,34 s
ρ air = 0,81 gram/ml
t air = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat
n zat 1,25 . 14,34
=
1,815 0,81 .9,51

n zat = 4,22
c) Gula 40 %
Dik : ρ zat = 1,05 gram/ml
t zat = 25,33 s
ρ air = 0,81 gram/ml

19
t air = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat
n zat 1,05 . 25,33
=
2,895 0,81 .9,51

n zat = 10
d) Gula 60 %
Dik : ρ zat = 1,35 gram/ml
t zat = 54,33 s
ρ air = 0,81 gram/ml
t air = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat
n zat 1,35 . 54,33
=
7,950 0,81 .9,51

n zat = 75,73
e) Gula x %
Dik : ρ zat = 0,86 gram/ml
t zat = 12,58 s
ρ air = 0,81 gram/ml
t air = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat
n zat 0,86 .12,58
=
10,52 0,81 .9,51

n zat = 14,78
f) Na-CMC
Dik : ρ zat = 0,44 gram/ml
t zat = 36,64 s
ρ air = 0,81 gram/ml
t air = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat

20
n zat 0,44 .36,64
=
23,75 0,81 .9,51

n zat = 79,72
g) Etanol 70%
Dik : ρ zat = 0,83 gram/ml
t zat = 17,93 s
ρ air = 0,81 gram/ml
t air = 9,51 s
n zat ρ zat
Jawab : =
n aqadest ρ zat
n zat 0,83 . 17,93
=
28,78 0,81 .9,51

n zat = 74,95

Viskositas
80

70

60

50

40
Viskositas
30

20

10

0
aquadest gula 20% gula 40% gula 60% gula x% Na-CMC alkohol
70%

Gambar 1. Kurva viskositas

21
4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini kita melakukan penentuan viskositas larutan.


Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan untuk melakukan praktikum ini. Pertama yang dilakukan adalah
menimbang piknometer kosong dan piknometer dengan sampel. Hasil berat
piknometer kosong berturut-turut aquadest, gula 20%, gula 40%, gula 60%,
gula x%, Na-CMC, etanol 70% adalah 22.808, 22.676, 22.808, 19.479,
21.002, 12.503, 21.002. Sampel berturut-turut 43.066, 54.034, 48.990, 53.276,
42.587, 36.427, 41.785.

Penentuan viskositas yang pertama menggunakan viskometer lamy.


Masukkan 200 ml aquadest kedalam erlenmeyer lalu letakkan erlenmeyer
pada viskometer lamy. Atur viskometer dengan kecepatan 150 rpm selama 15
detik dengan menggunakan spindle R-3. Setelah itu tekan start dan tunggu
selama 15 detik. Hasil viskositas dari aquadest sebesar 0,827 cPoises cps.
Lakukan juga pada gula x%, 20%, 40%, 60% , larutan CMC 1%, dan etanol
70%. Dan hasilnya viskositas pada larutan gula x% sebesar 10,52 cPoises,
larutan gula 20% sebesar 1,815 cPoises, larutan gula 40% sebesar 2,895
cPoises, larutan gula 60% sebesar 75,73 cPoises, larutan CMC 1% sebesar
cPoises 23,75 cps dan etanol 70% sebesar 74,95 cPoises.

Penentuan viskositas yang kedua menggunakan viskometer ostwald.


Diperoleh waktu alirnya, aquadest 9.51 s, gula 20% 14.34 s, gula 40% 10, s
gula 60% 75.73 s, gula x% 14.78 s, CMC 1% 49,72 s, dan etanol 70% 74,95 s.
Kemudian menghitung massa jenis dan viskometer ostwald pada aquadest,
etanol, larutan gula x %, larutan gula 20 %, larutan gula 40 %, larutan gula 60
% dan larutan CMC. Hasil yang didapat setelah melakukan perhitungan yaitu
pada massa jenis aquadest sebesar 0,81 gram/ml, massa jenis etanol sebesar
0,83 gram/ml, massa jenis larutan gula x % sebesar 0,86 gram/ml, massa jenis
larutan gula 20 % sebesar 1,25 gram/ml, massa jenis larutan gula 40 %

22
sebesar 1,05 gram/ml, massa jenis larutan gula 60 % sebesar 1,35 gram/ml
dan massa jenis larutan CMC sebesar 0,44 gram/ml.

Pada viscometer Ostwald aquadest sebesar 0,83 cps, viscometer


Ostwald etanol 70% sebesar 74,95 cps, viscometer Ostwald larutan gula x %
sebesar 14,78 cps, viscometer Ostwald larutan gula 20 % sebesar 4,22 cps,
viscometer Ostwald larutan gula 40 % sebesar 10 cps, viscometer Ostwald
larutan gula 60 % sebesar 75,73 cps, dan CMC sebesar 49,72 cps. Kemudian
kami membuat grafik hasil pada viskositas dan didapat kesimpulan dari grafik
tersebut yaitu semakin pekat larutan maka ia mempunyai viskositas lebih
besar begitupula sebaliknya.

23
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Viskositas adalah ukuran yang menyatakan kekentalan suatu cairan
atau fluida. Kekentalan merupakan sifat cairan yang berhubungan erat dengan
hambatan untuk mengalir. Beberapa cairan ada yang dapat mengalir cepat,
sedangkan lainnya mengalir secara lambat. Cairan yangmengalir cepat seperti
air, alkohol dan bensin mempunyai viskositas kecil. Sedangkan cairan yang
mengalir lambat seperti gliserin, minyak castor dan madu mempunyai
viskositas besar.
Pada hukum aliran viskositas, Newton menyatakan hubungan antara
gaya – gaya mekanika dari suatu aliran viskos sebagai : Geseran dalam
(viskositas) fluida adalah konstan sehubungan dengan gesekannya.
Viskometer adalah alat untuk mengukur kekentalan suatu fluda berdasarkan
kecepatan alir fluida tersebut. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa
digunakan antara lain, viskometer kapiler / ostwald, viskometer hoppler,
viskometer cup dan bob, dan viskometer cone dan plate.
Hasil viskositas lamy yang diperoleh: Hasil viskositas dari aquadest x%, 20%,
40%, 60% , larutan CMC 1%, dan etanol 70% adalah sebesar 0,827 10,52
cPoises, 1,815 cPoises, 2,895 cPoises, 75,73 cPoises, 23,75 cPoises dan 74,95
cPoises. Hasil viskositas Ostwald aquadest sebesar 0,83 cps, viscometer
Ostwald etanol 70% sebesar 74,95 cps, viscometer Ostwald larutan gula x %
sebesar 14,78 cps, viscometer Ostwald larutan gula 20 % sebesar 4,22 cps,
viscometer Ostwald larutan gula 40 % sebesar 10 cps, viscometer Ostwald
larutan gula 60 % sebesar 75,73 cps, dan CMC sebesar 49,72 cps. Jadi
kesimpulannya yaitu semakin pekat larutan maka ia mempunyai viskositas
lebih besar begitu pula sebaliknya.

24
6.2 Saran
Agar praktikum yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik, maka
perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Mahasiswa harus memahami terlebih dahulu materi yang akan di


praktikumkan.
2) Alat dan bahan yang digunakan harus dalam keadaan baik dan lengkap
agar tidak salah dalam perhitungan.
3) Praktikan harus teliti dalam pembacaan agar data yang dihasilkan
sesuai.
4) Tersedianya alat pengukur suhu agar bahan bisa langsung diukur
suhunya tanpa harus menunggu.

25
DAFTAR PUSTAKA

Atkins P.W. 1996. Kimia Fisika edisi keempat. Jakarta: Erlangga


Dogra, S. Dogra. 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta: UI-Press

Prasetyo, Gunawan. 2013. Hidrolisis dan Peneumatika. Jakarta: Erlangga


Budianto, Anwar, 2008. Metode Penelitian koefisien kekentalan Zat Cair Dengan
Menggunakan Regresi Linear Hukum Stokes. (http://jurnal.sttn-
batan.ac.id/wp- content/uploads/2008/.../12-anwar157-166.pdf). Diakses
pada jum’at, 22 April 2018 Pukul. 09:44 WIB.
Hermawati, maria yeni. 2013. Uji Viskositas Fluida Menggunakan Transduser
Ultrasonik Sebagai Fungsi Temperatur dan Akui Sisinya Pada Komputer.
(http://jurnal.fmipa.unila.ac.id/index.php/jtaf/article/download/483/378).
Diakses pada jum’at, 1April 2014 Pukul 09:46 WAB
Moechtar, 1990, Farmasi Fisik,Yogyakarta: UGM-press
Petrucci. 1989. Kimia Dasar Prinsip-Prinsip dan Terapan Modern.Jakarta : Erlangga
Rochime., E., et al., 2007. Viskositas dan Berat Molekul Kitosan Hasil Reaksi
Enzimatis Kitin Deasetilase Isolat Bacillus Papandayan .Bandung : Seminar
Nasional dan Kongres Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia
(PATPI)
Anonim, 2012.Penuntun Praktikum Farmasi Fisika.,Makassar:Universitas Muslim
Indonesia
Anonim, 2007.Penuntun Praktikum Farmasi Fisika.,Makassar:Universitas Muslim
Indonesia
Ansel. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.Jakarta:UI Press
Atkins. 1997.Kimia Fisika. Erlangga.Jakarta:UI Press
Kosman, R. 2012.Farmasi Fisika. Makassar: Universitas Muslim Indonesia
Martin, Alfred. 2008.Farmasi Fisika II .Jakarta:UI Press
Martin, Alfred, 1993.Farmasi Fisik.Jakarta:Universitas Indonesia Press
Yazid, Estien, 2004.Kimia Fisika untuk Paramedis.Yogyakarta :Andi

26
LAMPIRAN

Bahan yang digunakan Penimbangan sampel Penimbangan sampel

Penimbangan sampel Penimbangan sampel Penimbangan sampel

Penentuan viskositas dengan Piknometer dengan Penentuan viskositas


viscometer ostwald sampel dengan Viskometer lamy

27

Anda mungkin juga menyukai