Anda di halaman 1dari 5

DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, adanya riwayat atopi, dan


pemeriksaan penunjang (Widyastuti dan Siregar, 2016). Pasien dengan konjungtivitis vernal dapat
mengeluhkan satu atau lebih dari gejala berupa rasa gatal, terbakar, menyengat, berair, mata
merah dan bengkak. Mata merah dan rasa gatal merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan
oleh penderita konjungtivitis vernal. Rasa gatal merupakan tanda khas konjungtivitis vernal,
diagnosis konjungtivitis vernal harus dipertanyakan jika seorang pasien tidak mengeluhkan gatal.
Sekret pada konjungtivitis vernal biasanya banyak, cair seperti air, dan jernih. Sekret bisa saja
mengandung sedikit mucus sehingga dapat salah diagnosis menjadi konjungtivitis bakteri.
Karena mukosa hidung dan mata bereaksi terhadap allergen dengan cara yang sama, kebanyakan
pasien dengan keluhan di mata juga dapat mengeluhkan gejala pada hidungnya (Bielory, 2011)

Riwayat Medis dan Riwayat Paparan

Riwayat medis yang diperlukan untuk mendiagnosis adalah adanya riwayat atopic seperti rhinitis
alergi, hay fever, astma, dan dermatitis atopik. Riwayat penyakit autoimun sistemik juga penting
untuk ditanyakan seperti adanya riwayat rheumatoid arthtritis dan Sjogren’s syndrome dapat
komorbid dengan keratotokonjungtivitis sicca atau dry eye. Terpapar dengan pasien penderita
konjungtivitis atau infeksi saluran nafas di rumah, sekolah, dan tempat kerja sebelum munculnya
keluhan juga perlu ditanyakan. Riwayat penggunaan obat topikal termasuk air mata buatan atau
dekongestan dapat menyebabkan iritasi atau inflamasi pada mata (Baudouin, 2010)

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dicurigai konjungtivitis vernal meliputi, inspeksi periokular dan
ocular yaitu: (Bielory, 2013)

1. Periorbital edema: pembengkakan pada kelopak mata karena alergi biasanya lebih terlihat
pada palpebral inferior karena adanya efek gravitasi
2. Allergic shiner: kulit yang gelap dibawa mata penderita alergi akibat adanya kongesti
vena
3. Injeksi konjungtiva ringan sampai sedang
4. Kemosis, biasanya terlihat paling jelas pada plika semilunaris
5. Kojungtiva palpebral tampak pucat, dapat terlihat nodul kecil bervaskularisasi (papillae)

Gambar . Kemosis (konjungtiva bulbar) pada konjungtivitis vernal (Photograph courtesy of


R. Thomas.)

Gambar . Injeksi konjungtiva bulbar dan palpebral pada konjungtivitis vernal


(Photograph courtesy of L. Bielory.)
Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar IgG serum, IgE serum dan air mata,
kadar histamin serum dan air mata meningkat; dan adanya IgE spesifik. Pemeriksaan
mikroskopik dari scraping konjungtiva, patognomonik konjungtivitis vernal bila dijumpai > 2 sel
eosinofil dengan pembesaran lensa objektif 40x (Widyastuti dan Siregar, 2016).
Hasil uji kulit umumnya positif terhadap alergen tertentu, terutama serbuk bunga, debu
rumah, tungau debu rumah; namun kadang-kadang uji kulit dapat memberikan hasil yang negatif

DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding konjungtivitis vernal adalah konjungtivitis alergika musiman,


keratokonjungtivitis atopik, dan giant papillary conjungtivitis. Pada konjungtivitis alergi
musiman, bersifat akut, mereda saat musim dingin, terdapat edem konjungtiva, jarang disertai
perubahan pada kornea. Pada keratokonjungtivitis atopik tidak ada perbedaan usia atau jenis
kelamin, adanya sekret yang jernih, letak kelainan lebih sering di palpebra inferior, tidak terdapat
eosinophil pada scraping konjungtiva, Pada giant papillary conjunctivitis kelainan juga terdapat
di konjungtiva tarsal superior namun dengan ukuran diameter papila yang lebih dari 0,3 mm,
penyebab tersering iritasi mekanik yang lama terutama karena penggunaan lensa kontak
(Widyastuti dan Siregar, 2016).

Gambar . Keratokonjungtivitis atopic disertai injeksi konjungtiva dan eyelid edema


Gambar. Giant papillae pada kelopak mata atas disertai sekret fibrinous (Batlett, 2012)
DAFPUS

1. Bielory, L., Meltzer, E. O., Nichols, K. K., Melton, R., Thomas, R. K., & Bartlett, J. D. (2013, September).
An algorithm for the management of allergic conjunctivitis. In Allergy and asthma proceedings (Vol. 34,
No. 5, pp. 408-420). OceanSide Publications, Inc.
2. Bielory L. Ocular allergy. Mt Sinai J Med 78:740 –758, 2011.
3. Baudouin C, Labbe A, Liang H, et al. Preservatives in eyedrops: The good, the bad and the ugly. Prog
Retin Eye Res 29:312–334, 2010.
4. Bartlett JD (ed.) Antiallergy and decongestant agents. In Ophthalmic Drug Facts. St. Louis, MO: Wolters
Kluwer Health, 2012.