Anda di halaman 1dari 13

1

zoster by one-half and the


Chapter 194 :: incidence of PHN by two-thirds.
Herpes Zoster BAB 194
:: Kenneth E. Schmader HERPES ZOSTER
Kenneth E. Schmander & Michael
& N. Oxman
Michael N. Oxman
SEKILAS TENTANG HERPES ZOSTER
HERPES ZOSTER AT A GLANCE

 Herpes zoster is characterized by  Herpes zoster ditandai dengan lesi


unilateral,dermatomal pain, and unilateral, nyeri sesuai dermatom
rash that results from reactivation dan ruam akibat reaktivasi dan
and multiplication of endogenous multiplikasi dari virus varicela-
VZV that had persisted in latent zoster endogen yang telah
form within sensory ganglia melewati masa laten pada ganglion
following an earlier attack of sensorik setelah mendapat serangan
varicella. varicela.
 The erythematous, maculopapular,  Lesi eritema, makulopapul dan lesi
and vesicular lesions of herpes vesikuler pada herpes zoster lebih
zoster are clustered rather than banyak berkelompok daripada
scattered because virus reaches the tersebar, karena virus memasuki
skin via sensory nerves rather than kulit melalui saraf sensori daripada
viremia. melaui fase viremia.

 Herpes zoster is most common in  Herpes zoster lebih banyak terjadi


older adults andimmunosuppressed pada orang dewasa dan pasien
individuals. imunosupresif.
 Pain is an important clinical  Nyeri adalah manifestasi klinis
manifestation of herpes zoster, and yang penting dari herpes zoster,
the most common debilitating dan komplikasi yang sering terjadi
complication is chronic pain or adalah nyeri kronis atau neuralgia
postherpetic neuralgia (PHN). posherpetik.

 Antiviral therapy and analgesics  Terapi antiviral dan analgetik


reduce acute pain; lidocaine patch mengurangi nyeri akut, dimana
(5%), high dose capsaicin patch, penggunaan lidocaine (5%), dosis
gabapentin, pregabalin, opioids, tingggi dari capcaisin, gabapentin
and tricyclic antidepressants may pregabalin, opioid dan obat anti
reduce the pain of PHN. depresi tricyclic bisa mengurangi
nyeri dari neuralgia posherpetik.
 A live attenuated zoster vaccine
reduces the incidence of herpes  Vaksi virus zoster yang
dilemahkan dapat menurunkan ½

1
2

insiden dari herpes zoster dan 2/3


kasus neuralgia posherpetik.
EPIDEMIOLOGY OF HERPES ZOSTER EPIDEMIOLOGI GERPES ZOSTER

Herpes zoster occurs sporadically Herpes zoster terjadi secara


throughout the year without seasonal sporadik sepanjang tahun tanpa tergantung
prevalence. The occurrence of herpes musim. Kejadian herpes zoster tidak
zoster is independent of the prevalence of terkait dengan varicela, dan tidaj terdapat
varicella, and there is no convincing bukti nyata bila herpes zoster didapat dari
evidence that herpes zoster can be kontak langsung dengan penderita varicela
acquired by contact with other persons atau herpes zoster. Namun, insiden herpes
with varicella or herpes zoster. Rather, the zoster ditentukan dari faktor yang
incidence of herpes zoster is determined mempengaruhi hubungan penjamu dan
by factors that in"uence the host-virus virus.
relationship.
Salah satu faktor herpes zoster
One strong risk factor is older age. adalah usia lanjut. Menurut penelitian di
The incidence of herpes zoster is 1.5–3.0 Eropa dan Amerika Utara, insiden herpes
per 1,000 personyears in all ages and 7–11 zoster sebanyak 1,5-3 per 1000 orang per
per 1,000 per year in persons over 60 years tahun pada semua umur, dan 7-11 per
of age in European and North American 1000 orang per tahun pada usia di atas 60
studies.13–22 It is estimated that there are tahun. Diperkirakan pada 1 juta kasus
more than a million new cases of herpes herpes zoster baru di Amerika setiap
zoster in the United States each year, more tahunnya, lebih dari setengah kasus terjadi
than half of which occur in persons '60 pada orang yang berumur di atas 60 tahun
years of age, and this number will increase dan angka bertambah sesuai dengan
as the population ages. bertambahnya umur populasi.

Another major risk factor is Faktor resiko lainnya adalah


cellular immune dysfunction. disfungsi dari imunitas seluler. Pada umur
Immunosuppressed patients have a 20–100 yang sama, pasien imunosupresi
times greater risk of herpes zoster than memounyai resiko 20-30 kali lebih tinggi
immunocompetent individuals of the same menderita herpes zoster daripada individu
age. Immunosuppressive conditions dengan imunokompeten. Kondisi
associated with high risk of herpes zoster imunosupresi yang menjadi resiko tinggi
include HIV infection, bone marrow terjadinya herpes zoster adalah infeksi
transplant, leukemia and lymphoma, use of HIV, transplantasi susmsum tulang,
cancer chemotherapy, and use of leukimia dan limfoma, penggunaan
corticosteroids. Herpes zoster is a kemoterapi pada kanker dan penggunaan
prominent and early “opportunistic kortikosteroid. Herpes zoster menonjol dan
infection” in persons infected with HIV, in dapat menjadi infeksi oportunistik pada
whom it is often the !rst sign of immune pasien HIV, sebagai akibat penurunan sistem
de!ciency. Thus, HIV infection should be imun. Jadi, harus diperhatikan penderita
considered in individuals who develop herpes zoster dengan infeksi HIV.
herpes zoster.

2
3

Other factors reported to increase Faktor lain yang disebutkan dapat


the risk of herpes zoster include female meningkatkab resiko terjadinya herpes
sex, physical trauma in the affected zoster adalah jenis kelamin perempuan,
dermatome, IL-10 gene polymorphisms, trauma fisik pada kulit yang mengenai
and white race. Exposure to children and dermatom, gen polimorpik IL-10, dan ras
contact with cases of varicella have been kulit putih. Infeksi pada anak-anak dan
reported to increase levels of VZV-CMI ketok dengan kasus varicela dilaporkan
and confer protection against herpes meningkatkan cell-mediated imunology,
zoster. yang merupakan pertahanan terhadap
herpes zoster.
Second episodes of herpes zoster
are uncommon in immunocompetent Serangan kedua dari herpes zosterjl
persons, and third attacks are very rare. jarang terjadi pada pasien imunokompeten
Persons suffering more than one episode san serangan ketiga sangat jarang terjadi.
may be immunocompromised. Pada pasien imunokompromais bisa
Immunocompetent patients suffering terkena lebih dari satu serangan. Pada
multiple episodes of herpes zoster-like pasien imunokompromais yang terkena
disease are likely to be suffering from serangan berulang herpes zoster, biasanya
recurrent zosteriform herpes simplex virus dapat mengalami serangan berulang herpes
infections. simplek yang menyerupai herpes zoster.

The effect of the marked reduction Efek dari penurunan insiden varicela
in the incidence of varicella, due to yang berhubunhan dengan pemberian vaksin
widespread varicella vaccination of varicela pada anak-anak secara epidemiologi
children, on the epidemiology of herpes masih belum jelas. Dalam jangka panjang,
zoster is unclear. In the long term, the saat dewasa inseden herpes zoster cenderung
incidence of herpes zoster is likely to menurun pada kelompok anak yang
decline as the cohorts of children now sekarang menerima vaksin varicela, herpes
receiving varicella vaccine become adults; zoster mungkin jarang terjadi dan tidak
vaccine virus-associated herpes zoster will terlalu parah pada orang dewasa tua,
probably be less frequent and less severe dibandingkan herpes zoster yang terpapa
virus wild type (tipe liarl) karena virus pada
in older adults than wild-type virus-
vaksin sudah dapat dilemahkan. Pada jangka
associated herpes zoster because the
pendek, insiden herpes zoster dapat
vaccine virus is highly attenuated. In the meningkat karena penurunan insiden
short term, the incidence of herpes zoster varicela akan mengurangi paparan polusi
could increase because a decline in the orang dewasa terhadap VZV, yang akan
incidence of varicella will reduce the adult menurunkan peningkatan imunitas,
population’s exposure to VZV thereby mempercepat penurunan imunitas terkait
reducing immune boosting, hastening the usia terhadap VZV, dan pada akhirnya
age-related decline in immunity to VZV, meningkatkan resiko usia spesifik pada
and thus increasing the age-specific risk of herpes zoster. Namun, penelitian terkini
herpes zoster. However, recent studies of herpes zoster dalam populasi dengan
herpes zoster in populations with high angakat vaksinasi varicela yang tinggi,
rates of varicella vaccination have shown hanya menunjukkan sedikit/ tidaj
little or no increase in the incidence of terdapatnya peningkatan insiden herpes
herpes zoster zoster.

3
4

ETIOLOGY AND ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


PATHOGENESIS

VZV is a member of the Virus varicela-zoster termasuk


herpesvirus family. Other members dalam golongan virus herpes. Kelompok
pathogenic for humans include herpes virus yang lain anatara lain virus herpes
simplex viruses type 1 (HSV-1) and type 2 simplek tipe I (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-
(HSV-2); cytomegalovirus (CMV); 2), cytomegalovirus (CMV), Eipstein-Barr
Epstein–Barr virus (EBV); human virus (EBV), human herpesvirus-6 (HHV-
herpesvirus-6 (HHV-6) and human 6) dan human herpesvirus 7 (HHV-7),
herpesvirus-7 (HHV-7), which cause yang dapat menyebabkan roseola, atau
roseola; and Kaposi’s sarcoma-associated human herpesvirus-8 yang menyebabkan
herpesvirus, also called human herpesvirus Kaposi sarcoma. Semua golongan virua
type 8. All herpesviruses are herpes sulit dibedajan secara morfologi
morphologically indistinguishable and dan mempunyai kemampuan membentuk
share a number of properties, including the infeksi laten untuk bertahan hidup.
capacity to establish latent infections that
persist for life.

The VZV genome encodes about Genom virus varicella-zoster


70 unique genes, most of which have DNA (VZV) mengandung 70 gen unik yang
sequence and functional homology to memiliki rantai DNA dan fungsi gen yang
genes of the other herpesviruses. sama dengan virus herpes lain. Produk
Immediate early (IE) gene products yang dikeluarkan gen untuk mengatur
regulate VZV replication. Early gene replikasi dari virus varicela-zoster antara
products, such as the virus-specific lain thymidine kinase dan DNA
thymidine kinase and the viral DNA polymerase. Produksi akhir gen adalah
polymerase, support viral replication. Late protein yang berfungsi untuk melawan
genes encode virus structural proteins that antibodi dan respon inmun seluler.
serve as targets for neutralizing antibodies
and cellular immune responses.

There is only one VZV serotype. Hanya ada satu serotipe dari virus
However, there are multiple VZV varicela-zoster. Namun terdapat beberapa
genotypes that display geographic genotipe VZV menunjukkan segresi
segregation and recombination, and minor geografis dan rekombinasi, serta variasi
variations in their nucleotide sequences minor rantai nukleotida dapat
allow one to distinguish wild type from mengidentifikasi virus yang terisolasi,
vaccine virus strains, and to “fingerprint” menjadi tupe ganas dan tidak ganas.
viruses isolated from individual patients.

4
5

PATHOGENESIS OF HERPES ZOSTER PATOGENESIS HERPES ZOSTER

During the course of varicella, Selama varicela berlangsung, VZV


VZV passes from lesions in the skin and melewati lesi kulit dan permukaan mukosa
mucosal surfaces into the contiguous menuju ujung saraf sensoris sampai serat
endings of sensory nerves and is sensoris ganglion sensoris. T sel yang
transported centripetally up the sensory terinfeksi juga membawa virus menuju
!bers to the sensory ganglia. Infected T ganglion sensoris melalui aliran darah.
cells may also carry virus to sensory Pada ganglion, virus membentuk infeksi
ganglia hematogenously. In the ganglia, laten untuk bertahan hidup. Herpes zoster
the virus establishes a latent infection that terjadi pada dermatom tempat ruam
persists for life. Herpes zoster occurs most varicell paling banyak terbentuk,
often in dermatomes in which the rash of umumnya pada daerah yang diinervasi
varicella achieves the highest density— oleh saraf oftalmikus dari saraf trigeminus
those innervated by the first (ophthalmic) dan ganglion sensoris spinal dari T1
division of the trigeminal nerve and by samoai L2.
spinal sensory ganglia from T1 to L2.

Although the latent virus in the Walaupun fase laten virus pada
ganglia retains its potential for full ganglion mempertahankan masa infeksi,
infectivity, reactivation is sporadic and reaktivasi bersifat jarang dan terbatas,
infrequent, and infectious virus does not sehingga infeksi virus tidak selalu
appear to be present during latency. The terbentuk saat fase laten. Mekanisme
mechanisms involved in reactivation of reaktivasi dari VZV belum jelas, tetapi
latent VZV are unclear, but reactivation reaktivasi berhubungan dengan
has been associated with imunosupresi, stres emosional, radiasi
immunosuppression; emotional stress; spinal column, tumor spinal cord dan
irradiation of the spinal column; tumor ganglion dorsalis serta organ sekitarnya,
involvement of the cord, dorsal root operasi spinal, sinusitis frontalis (akibat
ganglion, or adjacent structures; local zoster oftalmikus). Imunitas selular yang
trauma; surgical manipulation of the spine; spesifik terhadap VZV terjadi seiring
and frontal sinusitis (as a precipitant of bertambahnya umur.
ophthalmic zoster). Most important,
though, is the decline in VZV-specific
cellular immunity that occurs with
increasing age.

VZV may also reactivate without Reaktivasi virus dapat terjadi tanpa
producing overt disease. The small ada penyakit sebelumnya. Sejumlah kecil
quantity of viral antigens released during antigen virus dikeluarkan selama
such contained reactivations would be reaktivasi diharapkan merangsang
expected to stimulate and sustain host timbulnya imunitas humoral untuk VZV.
immunity to VZV.

5
6

PATHOGENESIS OF PAIN IN HERPES PATOGENESIS HERPES-ZOSTER DAN


ZOSTER AND POSTHERPETIC NEURALGIA POSTHERPATIK (PHN)
NEURALGIA

Pain is a major symptom of herpes zoster. Nyeri adalah gejala utama pada herpes
It often precedes and generally zoster. Nyeri lebih sering muncul lebih
accompanies the rash, and it frequently dahulu dan umumnya disertai ruam, dan
persists after the rash has healed—a gekala menetap setelah ruam kulit sembuh
complication known as postherpetic - komplikasi ini dikenal dengan neuralgia
neuralgia (PHN). A number of different posherpetik. Mekanisme patogenesis nyeri
but overlapping mechanisms appear to be pada herpes zoster berbeda dengan
involved in the pathogenesis of pain in neuralgia posherpetik.
herpes zoster and PHN.

Injury to the peripheral nerve and Kerusakan pada saraf perifer dan
to neurons in the ganglion triggers afferent pada neuron dalam ganglion memicu nyeri
pain signals. In"ammation in the skin aferen. Inflamasi pada kulit memicu sinyal
triggers nociceptive signals that further nosiseptif yang memperkuat nyeri pada
amplify cutaneous pain. The abundant kutaneus. Rangsangan berlebih dari produksi
release of excitatory amino acids and asam amino dan neuropeptida rangsangan
neuropeptides induced by the sustained saraf afferent, selama fase prodormal dan
barrage of afferent impulses during the fase akut, dapat menyebabkan kerusakan
prodrome and acute phase of herpes zoster eksosotik dan hilangnya interneuron
may cause excitotoxic injury and the loss inhibitor dalam cornu dorsalis. Kerusakan
of inhibitory interneurons in the spinal neuro pada spinal cord, ganglion, dan saraf
dorsal horn. Damage to neurons in the perifer, sangat penting dalam patogenesis
PHN. Kerusakan saraf aferen primer pusat
spinal cord and ganglion, and to the
dapat dipicu oleh rangsangan perifer dan
peripheral nerve, is important in the
aktivasi saraf simpatis. Aktivitas nociceptor
pathogenesis of PHN. Damaged primary
berlebih dan rangsangan ektopik dapat
afferent nerves may become spontaneously merangsangan neurom sistem saraf pusat,
active and hypersensitive to peripheral memperpanjang dan merubah respon central
stimuli, and also to sympathetic dari stimulus non-nosiseptif menjadi
stimulation. Excessive nociceptor activity stimulus nosiseptif. Secara klinis, hasil
and ectopic impulse generation may, in mekanisme ini allodynia ( nyero dan/atau
turn, sensitize CNS neurons, augmenting sensasi tidak nyaman ditimbulkan oleh
and prolonging central responses to stimulus yang secara normalnya tidak
innocuous as well as noxious stimuli. menyebabkan nyeri, contohnya karena
Clinically, these mechanisms result in sentuhan halus), dengan sedikit atau tanpa
allodynia (pain and/or unpleasant kehilangan efek sensoris.
sensations elicited by stimuli that are
normally not painful, e.g., light touch)
with little or no sensory loss.

6
7

CLINICAL MANIFESTATIONS OF MANIFESTASI KLINIS HERPES


HERPES ZOSTER ZOSTER
GEJALA PRODROMAL HERPES
PRODROME OF HERPES ZOSTER. ZOSTER. Nyeri dan parestesia pada
Pain and paresthesia in the involved dermatom yang terlibat sering mengikuti
dermatome often precede the eruption by erupsi setelah beberapa hari dan beragam
several days and vary from superficial dari gatal di permukaan, kesemutan, atau
itching, tingling, or burning to severe, rasa terbakar hingga nyeri berat, dalam
deep, boring, or lancinating pain. The pain atau menusuk nusuk. Nyeri bisa menetap
may be constant or intermittent and it is atau intermiten dan sering diikuti dengan
often accompanied by tenderness and nyeri tekan dan hiperanestesi kulit pada
hyperesthesia of the skin in the involved dennatom yang terlibat. Nyeri preempsi
dermatome. The preeruptive pain of herpes herpes zoster dapat menyerupai pleurisy,
zoster may simulate pleurisy, myocardial infark miokard,ulkus duodenum,
infarction, duodenal ulcer, cholecystitis, kolesistitis,kelik bilier atau renal,
biliary or renal colic, appendicitis, apendisitis,prolapse diskus intervertebralis,
prolapsed intervertebral disk, or early atau glaucoma dini, dan hal ini dapat
glaucoma, and this may lead to serious iimengarah pada kesalahan diagnosis yang
misdiagnosis and misdirected serius serta intervensi yang salah.Nyeri
interventions. Prodromal pain is prodromal tidak biasa pada orang yang
uncommon in immunocompetent persons memiliki daya tahan tubuh yang baik
under 30 years of age, but it occurs in the dengan usia dibawah 30 tahun, tetapi
majority of persons with herpes zoster terkadi pada mayoritas pasien dengan
over the age of 60 years. A few patients herpes zoster pada usia 60 tahun. Beberapa
experience acut segmental neuralgia pasien mengalami acute segmental
without ever developing a cutaneous neuralgia tanpa pernah mengalami erupsi
eruption—a condition known as zoster kulit-suatu kondisi yang dikenal sebagai
sine herpete. zoster sine herpete.
RASH OF HERPES ZOSTER. Ruam Herpes Zoster. Tampilan paling
The most distinctive feature of herpes berbeda dari herpes zoster adalah
zoster is the localization and distribution lokalisasi dan distribusi ruam, yang mana
of the rash, which is nearly always biasanya selalu unilateral dan umumnya
unilateral and is generally limited to the terbatas pada daerah kulit yang diinervasi
area of skin innervated by a single sensory oleh ganglion sensoris tunggal (gambar
ganglion. The area supplied by the 194-4A). Daerah yang disuplai oleh nervus
trigeminal nerve, particularly the uigeminalis, terutama cabang ophtalmikus
ophthalmic division, and the trunk from T3 dan percabangan dari T3 hingga L2 yang
to L2 are most frequently affected; the paling sering terkena; daerah thorax
thoracic region alone accounts for more sendiri terlibat dalam lebih dari setengah
than half of all reported cases, and lesions dari seluruh kasus yang dilaporkan, dan
rarely occur distal to the elbows or knees. lesi jarang terjadi di distal siku atau lutut.
Although the individual lesions of Meskipun lesi individual pada
herpes zoster and varicella are herpes zoster dan varicela tidak dapat
indistinguishable, those of herpes zoster dibedakan, lesi yang terjadi pada herpes
tend to evolve more slowly and usually zoster cenderung berubah lebih lambat dan
consist of closely grouped vesicles on an biasanya terdiri dari vesikel yang
erythematous base, rather than the more berkelompok berdekatan.
discrete, randomly distributed
vesicles of varicella.

7
8

This difference reflects intraneural spread Perbedaan ini menunjukkan penyebaran


of virus to the skin in herpes zoster, as intraneural virus pada kulit dalam kasus
opposed to viremic spread in varicella. herpes zoster, yang berlawanan dengan
Herpes zoster lesions begin as penyebaran viremia pada varicella. Lesi
erythematous macules and papules that herpes zoster bermula sebagai suatu makula
often first appear where super!cial eritema dan papul yang sering pertama kali
branches of the affected sensory nerve are muncul dimana cabang superiisial saraf
given off, for example, the posterior sensoris yang terkena ditemukan, contohnya,
primary division and the lateral and cabang primer posterior dan lateral, serta
anterior branches of the anterior primary cabang anterior cabang primer anterior
nervus spinalis. Vesikel terbentuk dalam 12-
division of spinal nerves. Vesicles form
24 jam dan berubah menjadi pustul dihari
within 12–24 hours and evolve into
ketiga. Pustul ini mengering dan menjadi
pustules by the third day. These dry and krusta dalam 7 hingga 10 hari. Krusta
crust in 7–10 days. The crusts generally umumnya bertahan selama 2 hingga 3
persist for 2–3 weeks. In normal minggu. Pada individu normal, lesi baru
individuals, new lesions continue to appear terus bermunculan selama 1-4 hari (biasanya
for 1–4 days (occasionally for as long as 7 selama 7 hari). Ruam lebih parah dan
days). The rash is most severe and lasts bertahan lebih lama pada orang berusia
longest in older people, and is least severe lanjut, dan tidak begitu parah, serta memiliki
and of shortest duration in children. durasi terpendek pada anak-anak.

Between 10% and 15% of reported Antara 10% dan 15% dari kasus
cases of herpes zoster involve the herpes zoster dilaporkan melibatkan nervus
ophthalmic division of the trigeminal trigeminal cabang opthalmikus. Ruam pada
nerve. The rash of ophthalmic zoster may zoster ophtalmikus dapat meluas dari mata
extend from the level of the eye to the hingga vertex tengkorak, tetapi terhenti pada
vertex of the skull, but it terminates garis tengah dahi. Ketika hanya cabang
sharply at the midline of the forehead. supratroklear dan supraorbital yang terlibat,
When only the supratrochlear and mata biasanya tidak terlibat. Keterlibatan
supraorbital branches are involved, the eye cabang nasocilliary, yang mempersaraii
is usually spared. Involvement of the mata juga ujung serta sisi hidung,
nasociliary branch, which innervates the mengakibatkan VZV memperoleh akses
eye as well as the tip and side of the nose, langsung ke struktur intraokuler. Dengan
demikian, ketika Zoster ophtalmicus
provides VZV with direct access to
melibatkan ujung dan sisi hidung, perhatian
intraocular structures. Thus, when
seksama harus diberikan terhadap kondisi
ophthalmic zoster involves the tip and the mata. Mata terlibat dalam 20-70% pasien
side of the nose, careful attention must be dengan zoster ophtalmikus. Sensasi kornea]
given to the condition of the eye. The eye umumnya terganggu dan ketika
is involved in 20%–70% of patients with gangguannya parah, hal ini dapat
ophthalmic zoster. Corneal sensation is mengakibatkan keratitis neurotropik dan
generally impaired and when impairment ulkus kronik.
is severe, it may lead to neurotrophic
keratitis and chronic ulceration.

8
9

Herpes zoster affecting the second and third Herpes zoster yang mempengaruhi cabang
divisions of the trigeminal nerve as well as kedua dan ketiga nervus trigeminalis juga
other cranial nerves may produce symptoms nervus cranialis lain dapat mengakibatkan
and lesions in the mouth, ears, pharynx, or gejala dan lesi di mulut (gambar 194-5),
larynx. The so-called Ramsay Hunt telinga, faring, atau laring. Sindrom Ramsay
syndrome (facial palsy in combination with Hunt ( facial palsy dikombinasikan dengan
herpes zoster of the external ear or tympanic herpes zoster telinga luar atau membran
membrane, with or without tinnitus, vertigo, timpani dengan atau tanpa tinnitus, vertigo
and deafness), results from involvement of dan ketulian), merupakan akibat dari
the facial and auditory nerves. keterlibatan nervus facialis dan auditorius.

PAIN OF HERPES ZOSTER. Although the NYERI PADA HERPES ZOSTER.


rash is important, pain is the cardinal Meskipun ruam itu penting, nyeri
problem posed by herpes zoster, especially merupakan permasalahan utama yang di
in the elderly. Most patients experience ditemukan pada herpes zoster, khususnya
dermatomal pain or discomfort during the pada orang tua. Kebanyakan pasien
acute phase (The first 30 days following rash mengalami nyeri dermatomal atau
onset) that ranges from mild to severe. ketidaknyamanan selama fase akut (30 hari
Patients describe their pain or discomfort as pertama yang mengikuti onset ruam) yang
burning, deep aching, tingling, itching, or memiliki rentang dari ringan hingga berat.
stabbing. For some patients, the pain Pasien menggambarkan nyeri atau
intensity is so great that words like horrible ketidaknyamanan yang mereka alami
or excruciating are used to describe the sebagai rasa terbakar, nyeri dalam,
experience. Acute herpes zoster pain is kesemutan, gatal, atau seperti ditusuk tusuk.
associated with decreased physical Untuk beberapa pasien, intensitas nyeri
functioning, emotional distress, and dideskripsikan dengan kata seperti
decreased social functioning. mengerikan atau luar biasa nyeri. Nyeri
herpes zoster akut dihubungkan dengan
punurunan fungsi fisik, tekanan emosional,
dan penurunan fungsi sosial.

HERPES ZOSTER IN THE HERPES ZOSTER PADA PASIEN


IMMUNOCOMPROMISED HOST. Except IMMUKOMPROMAIS. Terkecuali PHN,
for PHN, most serious complications of kebanyakan komplikasi Herpes Zoster yang
herpes zoster occur in immunocompromised serius terjadi pada orang yang
persons. These complications include immunokompromais. Komplikasi ini
necrosis of skin and scarring and cutaneous mencakup nekrosis kulit dan jaringan parut
dissemination with an incidence as high as (dan diseminasi kutaneus dengan insiden
25%–50%. Patients with cutaneous mencapai 25 hingga 50%. Pasien dengan
dissemination also manifest widespread, diseminasi kutaneus juga bennanifestasi
often fatal, viscera dissemination, dengan diseminasi yang luas, fatal dan
particularly to the lungs, liver, and brain. mencapai visceral, khususnya paru, hati, dan
otak.

9
10

HIV-infected patients are fairly unique in Pasien yang terinfeksi HIV biasanya
their tendency to suffer multiple recurrences memiliki kecendenmgnn yang unik dalam
of herpes zoster as their HIV infection menderita kekambuhan multiple untuk kasus
progresses; herpes zoster may recur in the herpes zoster bersamaan dengan
same or different dermatomes or in several perkembangan infeksi HW mereka; herpes
contiguous or noncontiguous dermatomes. tester dapat kambuh pada deniratome yang
Herpes zoster in patients with AIDS may be sama atau berbeda atau pada dematom yang
severe, with cutaneous and visceral menular maupun yang tidak menular. Herpes
dissemination. Patients with AIDS may also master pede pasien dengan AIDS dapat
develop chronic verrucous, hyperkeratotic, mengalami diseminasi kuinneus dan
or ecthymatous cutaneous lesions caused by visceral. Pasien dengan AIDS juga dapat
acyclovirresistant VZV. mengalami lesi menyerupai veruka,
hiperkatosis atau kulit seperti ektimn yang
diakibatkan oleh VZV resisten asiklovir

CLINICAL DIAGNOSIS OF DIAGNOSIS KLINIS HERPES ZOSTER


HERPES ZOSTER Pada stadium sebelum erupsi, nyeri
In the preeruptive stage, the prodromal pain prodromal herpes zoster sering
of herpes zoster is often confused with other dibingungkan dengan penyebab nyeri
causes of localized pain. Once the eruption terlokalisir lainnya. Ketika erupsi muncul,
appears, the character and dermatomal karakter dan lokasi dermatom ruam, bersama
location of the rash, coupled with dengan nyeri dermatomal atau abnormalitas
dermatomal pain or other sensory sensoris lainnya, biasanya membuat
abnormalities, usually makes the diagnosis diagnosis menjadi jelas (gambar 194-4 dan
obvious. A cluster of vesicles, particularly 194-5). Kumpulan vesikel, biasanya dekat
near the mouth or genitals, may represent dengan mulut atau genital, dapat mewakili
herpes zoster, but it may also be recurrent herpes zoster, tetapi hal ini juga bisa
HSV infection. Zosteriform herpes simplex merupakan infeksi HSV yang kambuh.
is often impossible to distinguish from Zosteriform Herpes Simpleks sering tidak
herpes zoster on clinical grounds. A history mungkin dapat dibedakan dengan hespes
of multiple recurrences at the same site is zoster berdasakan klinis. Riwayat
common in herpes simplex but does not kekambuhan berkali kali pada lokasi yang
occur in herpes zoster in the absence of sama sering terjadi pada herpes simpleks
profound and clinically obvious immune tetapi tidak terjadi pada herpes zoster tanpa
deficiency. adanya defisiensi imun yang parah dan jelas
secara klinis.

10
11

TREATMENT OF HERPES ZOSTER TERAPI HERPES ZOSTER

TOPICAL THERAPY. TERAPI TOPIKAL

During the acute phase of herpes zoster, Selama fase akut herpes zoster, pemberian
the application of cool compresses, kompres dingin, calamine lotion, tepung
calamine lotion, cornstarch, or baking soda atau bakng soda dapat membantu untuk
may help to alleviate local symptoms and meringankan gejala lokal dan
hasten the drying of vesicular lesions. mempercepat pengeringan lesi vaskuler.
Occlusive ointments should be avoided, Salep oklusif harus dihindari dan krim atau
and creams or lotions containing lotion yang mengandung glukokortikoid
glucocorticoids should not be used. sebaiknya tidak digunakan. Seperinfeksi
Bacterial superinfection of local lesions is bakteri lesi lokal jarang dan harus
uncommon and should be treated with ditangani dengan peredam panas, selulitis
warm soaks; bacterial cellulitis requires bakteri memerlukan terapi antibiotik
systemic antibiotic therapy. Topical sistemik. Pengobatan topikal dengan
treatment with antiviral agents is not antivirus tidak efektif.
effective.

ANTIVIRAL THERAPY. TERAPI ANTIVIRUS

The major goals of therapy in patients with Tujuan utama terapi pada pasien dengan
herpes zoster are to (1) limit the extent, herpes zoster adalah untuk (1) membatasi
duration, and severity of pain and rash in tingkat, durasi, dan beratnya nyeri dan
the primary dermatome; (2) prevent ruam di dermatom primer (2) mencegah
disease elsewhere; and (3) prevent PHN. penyakit di tempat lain dan (3) mencegah
PHN
Normal Patients.
Pasien Normal
Table 194-3 lists the current
recommendations for treatment of herpes Tabel 194-3 berisi rekomendasi saat ini
zoster. Randomized controlled trials untuk pengobatan herpes zoster. Percobaan
indicate that oral acyclovir (800 mg five terkontrol acak menunjukkan bahwa
times a day for 7 days), famciclovir (500 asiklovir oral (800mg lima kali sehari
mg q 8 hours for 7 days), and valacyclovir selama 7 hari), famciclovir (500 mg setiap
(1 g three times a day for 7 days) reduce 8 jam selama 7 hari) dan valasiklovir 9 1g
time to rash healing, and the duration and tiga kali sehari selama 7 hari) mengurangi
severity of acute pain in older adults with waktu untuk penyembuhan ruam, dan
herpes zoster who are treated within 72 durasi dan keparahan nyeri akutpada orang
hours of rash onset. In some studies, the dewasa yang lebih tua dengan herpes
duration of chronic pain was also reduced, zoster yang dirawat dalam waktu 72 jam
but the FDA has not approved these agents dari onset ruam. Dalam penelitian, durasi
for the prevention of PHN. nyeri kronis juga berkurang, namun FDA
belum menyetujui agen ini untuk
pencegahan PHN

11
12

Randomized controlled trials comparing Percobaan terkontrol acakmembandingkan


acyclovir tovalacyclovir, acyclovir to asiklovir dan valasiklovir ,asiklovir dan
famciclovir, and valacyclovir to famsiklovir, dan valasiklovir dan
famciclovir demonstrated equivalent famsiklovir menunjukkan hasil yang setara
results in rash healing, acute pain, and the dalam penyembuhan ruam, nyeri akut, dan
duration of chronic pain. All three drugs durasi nyeri kronis.Ketiga obat adalah
are acceptable agents for older adults, with agen diterima untuk orang dewasayang
cost and dosing schedule determining the lebih tua, denganbiaya dan jadwal dosis
choice of agent. However, the reduced menentukan pemilihan agen. Namun,
sensitivity of VZV compared with HSV, berkurangnya sensitivitas VZV
the existence of barriers to the entry of dibandingkan dengan HSV, adanya
antiviral agents into tissues that are sites of hambatan untuk masuknya agen antivirus
VZV replication, and the higher and more yang dicapai lebih tinggi dan lebih baik
reliable blood levels of antiviral activity diandalkan pada aliran darah, membuat
achieved, make famciclovir or famsiklovir atau valasiklovir lebih baik
valacyclovir preferable to acyclovir for daripada asiklovir untuk pengobatan oral
oral treatment of herpes zoster. herpes zoster.

Because of the lower risk of PHN, Karena rendahnya resikoPHN,


antiviral therapy is less valuable or terapi antivirus kurang berharga atau
necessary for treatment of uncomplicated diperlukan untuk pengobatan herpes zoster
herpes zoster in healthy people younger tanpa komplikasi pada orang sehat yang
than 50 years of age. The utility of lebih muda dari 50 tahun. Pemanfaatan
antiviral agents is unproven if treatment is agen antivirus belum terbukti jika
initiated more than 72 hours after rash pengobatan dimulai lebih dari 72 jam
onset. Nevertheless, we believe that it is setelah onset ruam. Namun demikian,kami
prudent to initiate antiviral therapy even if percaya bahwa adalah bijaksana untuk
more than 72 hours have elapsed after rash memulai terapi antivirus bahkan jika lebih
onset in patients who have herpes zoster dari 72 jam telah berlalu setelah onset
involving cranial nerves (e.g., ophthalmic ruam pada pasien yang memiliki herpes
zoster) or who continue to have new zoster yang melibatkan saraf kranial
vesicle formation. (misalnya zoster ophtalmikus) atau yang
terus mengalami pembentukan vesikel
baru.

12
13

13