Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

STIMULASI SENSORI : MENONTON VIDEO


DI RSJD ABEPURA

Disusun Oleh : Kelompok II


1. Bangkit Fandana S.Kep
2. Damaris Hutagaol S.Kep
3. Dwi Ismiati S.Kep
4. Enik Kotimah S.Kep
5. Harlyn Bunawir S.Kep
6. Selly Muntoir S.Kep
7. Ribka Hubby S.Kep
8. Yoce Wally S.Kep

PROGRAM STUDY PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JAYAPURA
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi
dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan,
perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan
emosi. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan oleh perorangan, lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat
yang didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti
keluarga dan lingkungan sosial. Lingkungan tersebut selain menunjang upaya
kesehatan jiwa juga merupakan stressor yang dapat mempengaruhi kondisi
jiwa seseorang, pada tingkat tertentu dapat menyebabkan seseorang jatuh
dalam kondisi gangguan jiwa (Videbeck, 2008).
Meningkatnya pasien dengan gangguan jiwa ini disebabkan banyak
hal. Kondisi lingkungan sosial yang semakin keras diperkirakan menjadi salah
satu penyebab meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami gangguan
kejiwaan. Apalagi untuk individu yang rentan terhadap kondisi lingkungan
dengan tingkat kemiskinan terlalu menekan.
Penatalaksanaan keperawatan Pasien dengan gangguan jiwa adalah
pemberian terapi modalitas yang salah satunya adalah Terapi Aktifitas
Kelompok (TAK). Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi
modalitas yang dilakukan perawat pada sekelompok Pasien yang mempunyai
masalah keperawatan yang sama. Aktifitas digunakan sebagai terapi, dan
kelompok digunakan sebagai target asuhan (Fortinash & Worret, 2004).
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika Pasien ditemui
dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan
tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri (self-awareness). Peningkatan
hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.
Kelompok adalah suatu system social yang khas yang dapat
didefinisikan dan dipelajari. Sebuah kelompok terdiri dari individu yang saling

2
berinteraksi, interelasi, interdependensi dan saling membagikan norma social
yang sama (Stuart & Sundeen, 1998).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar pasien dapat merespon terhadap stimulus panca indera pendengaran
dan penglihatan
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat menikmati menonton video
b. Klien menceritakan makna video yang di tonton.
C. Manfaat
1. Meningkatkan keterampilan ekspresi diri
2. Meningkatkan keterampilan social
3. Meningkatkan kemampuan empati
4. Meningkatkan kemampuan atau pengetahuan pemecahan masalah
5. Membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan efektif

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Teori Halusinasi


Halusinasi adalah pengalaman sensorik tanpa rangsangan eksternal
terjadi pada keadaan kesadaran penuh yang menggambarkan hilangnya
kemampuan menilai realitas.(Sunaryo, 2004)
Halusinasi adalah penerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada
panca indra seorang klien, yang terjadi dalam keadaan sadar ataupun bangun.
Dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. (maramis,
2005, hal 119). Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai
adanya rangsangan diluar (yosep, 2007, hal 79).
Halusinasi adalah kesan atau pengalaman sensori yang salah (Stuart,
2007). Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan ditelinganya
padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).
Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli mengenai
halusinasi, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa halusinasi
adalah persepsi sensori klien terhadap lingkungan tanpa ada stimulus yang
nyata.
Jenis-jenis halusinasi
Halusinasi dapat diklasifikasikan menjadi 7 macam (Stuart dan Laraia, 2001,
hal 409) :
1. Halusinasi pendengaran : mendengar suara-suara atau bisikan paling
sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai
kata-kata yang jelas berbicara tentang klien. Pikiran yang terdengar
dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien disuruh untuk
melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan.
2. Halusinasi penglihatan : stimulus visual dalam bentuk kelihatan cahaya,
bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bisa menyenangkan atau
menakutkan seperti melihat monster.

4
3. Halusinasi penciuman : membaui bau-bauan tertentu umumnya bau-
bauan yang tidak menyenangkan.
4. Halusinasi pengecapan : Merasakan sesuatu yang tidak nyata seperti rasa
darah, urine, feses.
5. Halusinasi perabaan : mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa
stimulus yang jelas.
6. Halusinasi Cenesthetic : merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di
vena atau arteri, pencernaan makanan.
7. Halusinasi Kinesthetic : merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa
bergerak.

TABEL 2.1
Fase-fase Halusinasi, Karakteristik dan Perilaku Klien

Fase Halusinasi Karakteristik Perilaku Klien


1 2 3
Fase 1 : Klien mengalami perasaan Tersenyum atau tertawa yang
mendalam seperti ansietas, tidak sesuai, menggerakkan
Comforting kesepian, rasa bersalah takut bibir tanpan suara, pergerakan
dan mencoba untuk berfokus mata yang cepat, respon
Ansietas sedang, pada pikiran yang verbal yang lambat jika
menyenangkan untuk sedang asik, diem dan asik
Halusinasi meredakan ansietas. sendiri.
menyenangkan
Individu mengenali bahwa
pikiran-pikiran dan
pengalaman sensori jika
ansietas dapat ditangani.
Fase 2 : Pengalaman sensori yang Meningkatnnya sistem saraf
menjijikan dan menakutkan otonom akibat ansietas seperti
Condemi klien mulai lepas kendali dan peningkatan denyut jantung,
mungkin mencoba untuk pernafasan dan tekanan darah.
Ansietas bera, mengambil jarak dirinnya Rentang perhatian
Halusinasi menjadi dengan sumber yang menyempit. Asik dengan
menjijikan dipersepsikan. Klien mungkin pengalaman sensori dan
mengalami dipermalukan oleh kehilangan kemampuan
pengalaman sensori dan membedakan halusinasi
menarik diri dari orang lain. dengan realita.
Fase 3 : Klien berhenti menghentiksn Kemampuan yang
perlawanan terhadap dikendalikan halusinasi akan

5
halusinasi dan menyerah lebih diikuti. Kesukaran
Conntroling terhadap halusinasi tersebut. berhubungan dengan orang
Isi halusinasi menjadi lain. Rentang perhatian hanya
Ansietas berat, menarik. Klien mungkin beberapa detik atau menit.
pengalaman sensori mengalami pengalaman Adannya tanda-tanda fisik
menjadi berkuasa kesepian jika sensori ansietas berat : berkeringat,
halusinasi berhenti. tremor, tidak mampu
mematuhi perintah.
Fase 4 : Pengalaman sensori menjadi Prilaku teror akibat panik.
mengancam jika klien Potensi kuat suicide atau
Conquering, panik mengikuti perintah halusinasi. homicide, aktivitas fisik
umumnya menjadi Halusinasi berakhir dari merefleksikan isi halusinasi
melebur beberapa jam atau hari jika seperti perilaku kekerasan,
dalamhalusinasi tidak ada intervensi terapiutik agitasi, menarik diri atau
katatonia. Tidak mampu
berespon terhadap perintah
yang kompleks. Tidak mampu
berespon lebih dari satu
orang.

Menurut Yani (2005), gejala halusinasi adalah :


a. Bicara, senyum, tertawa sendiri.
b. Menggerakkan bibir tanpa suara.
c. Pergerakan mata yang cepat.
d. Respon verbal lambat.
e. Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
f. Tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata.
g. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah.
h. Perhatian dengan lingkungan kurang
i. Sulit berhubungan dengan orang lain.
j. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan marah.
k. Tidak mampu mengikuti perintah perawat.
l. Tampak tremor dan berkeringat.
m. Perilaku panik agitasi atau katakon
n. Tidak dapat mengurus diri sendiri.

6
B. Pengertian Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)
Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu upaya untuk memfasilitasi
psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau
dan meningkatkan hubungan antar anggota (Depkes RI, 1997).
Terapi aktivitas kelompok adalah aktivitas membantu anggotanya
untuk identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah tingkah laku
yang maladaptive (Stuart & Sundeen, 1998).
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah
keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagi terapi, dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan (Kelliat, 2005)

C. Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)


Depkes RI (1997) mengemukakan tujuan terapi aktivitas kelompok
secara rinci sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
a. Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan yaitu memperoleh
pemahaman dan cara membedakan sesuatu yang nyata dan khayalan.
b. Meningkatkan sosialisasi dengan memberikan kesempatan untuk
berkumpul, berkomunikasi dengan orang lain, saling memperhatikan
memberikan tanggapan terhadap pandapat maupun perasaan ortang
lain.
c. Meningkatkan kesadaran hubungan antar reaksi emosional diri sendiri
dengan prilaku defensif yaitu suatu cara untuk menghindarkan diri dari
rasa tidak enak karena merasa diri tidak berharga atau ditolak.
d. Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis
seperti fungsi kognitif dan afektif.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan identifikasi diri, dimana setiap orang mempunyai
identifikasi diri tentang mengenal dirinya di dalam lingkungannya.

7
b. Penyaluran emosi, merupakan suatu kesempatan yang sangat
dibutuhkan oleh seseorang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Di
dalam kelompok akan ada waktu bagi anggotanya untuk menyalurkan
emosinya untuk didengar dan dimengerti oleh anggota kelompok
lainnya.
c. Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk kehidupan sehari-
hari, terdapat kesempatan bagi anggota kelompok untuk saling
berkomunikasi yang memungkinkan peningkatan hubungan sosial
dalam kesehariannya.

D. Indikasi dan Kotra Indikasi Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)


Adapun indikasi dan kontra indikasi terapi aktivitas kelompok (Depkes RI
(1997) adalah :
1. Semua klien terutama klien rehabilitasi perlu memperoleh terapi aktifitas
kelompok kecuali mereka yang : psikopat dan sosiopat, selalu diam dan
autistic, delusi tak terkontrol, mudah bosan.
2. Ada berbagai persyaratan bagi klien untuk bisa mengikuti terapi aktifitas
kelompok antara lain : sudah ada observasi dan diagnosis yang jelas, sudah
tidak terlalu gelisah, agresif dan inkoheren dan wahamnya tidak terlalu
berat, sehingga bisa kooperatif dan tidak mengganggu terapi aktifitas
kelompok.
3. Untuk pelaksanaan terapi aktifitas kelompok di rumah sakit jiwa di
upayakan pertimbangan tertentu seperti : tidak terlalu ketat dalam tehnik
terapi, diagnosis klien dapat bersifat heterogen, tingkat kemampuan
berpikir dan pemahaman relatif setara, sebisa mungkin pengelompokan
berdasarkan problem yang sama.

8
E. Komponen Kelompok
Kelompok terdiri dari delapan aspek, sebagai berikut (Kelliat, 2005) :
1. Struktur kelompok.
Menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan
hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas
dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam
kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota, arah komunikasi
dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
2. Besar kelompok.
Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang
anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jika angota kelompok terlalu besar
akibbatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan
perasaan, pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil, tidak cukup
variasi informasi dan interaksi yang terjadi (Kelliat, 2005).
3. Lamanya sesi.
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit bagi fungsi kelompok
yang rendah dan 60-120 menit bagi fungsi kelompok yang tinggi.
Banyaknya sesi bergantung pada tujuan kelompok, dapat satu kali/dua kali
perminggu, atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan (Kelliat,
2005).

F. Jenis Terapi Kelompok


Kegiatan kelompok dibedakan berdasarkan kegiatan kelompok sebagai
tindakan keperawatan pada kelompok dan terapi kelompok. Menurut kelliat,
2005 membagi kelompok menjadi tiga yaitu :
1. Terapi kelompok.
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam
rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan
tertentu. Focus terapi kelompok adalah membuat sadar diri, peningkatan
hubungan interpersonal, membuat perubahan atau ketiganya.

9
2. Kelompok terapeutik.
Membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik krisis, tumbuh kembang,
atau penyesuaian social, misalnya kelompok ibu hamil yang akan menjadi
ibu, individu yang kehilangan, dan penyakit terminal. Banyak kelompok
terapeutik dikembangkan menjadi self-help-group. Tujuan dari kelompok
ini adalah sebagai berikut : mencegah masalah kesehatan, mendidik dan
mengembangkan potensi anggota kelompok, meningkatkan kualitas
kelompok. antara anggota kelompok saling membantu dalam
menyelesaiakan masalah.
3. Terapi aktivitas kelompok (TAK).
Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah terapi yang
menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman
atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi
kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternative penyelesaian
masalah. Tujuan umum terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
adalah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang
diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya. Sedangkan tujuan
khususnya adalah klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan
kepadanya dengan tepat, klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul
dari stimulus yang dialami.

Aktivitas terapi kelompok stimulasi persepsi dibagi dalam empat (4)


bagian yaitu :
a. Aktivitas mempersepsikan stimulus nyata sehari-hari.
Klien yang mempunyai indikasi aktivitas ini adalah klien dengan
perubahan perubahan persepsi sensori dan klien menarik diri yang
telah mengikuti terapi aktivitas kelompok sosialisasi. Aktivitas dibagi
dalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu aktivitas
menonton televisi, aktivitas membaca majalah/Koran/artikel dan
aktivitas melihat gambar.

10
b. Aktivitas mempersepsikan stimulus nyata dan respon yang dialami
dalam kehidupan.
Klien yang mempunyai indikasi aktivitas ini adalah klien dengan
perilaku kekerasan yang telah kooperatif. Aktivitas dibagi dalam
beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu : aktivitas mengenal
kekerasan yang biasa dilakukan, aktivitas mencegah kekerasan melalui
kegiatan fisik, aktivitas mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi
social asertif, aktivitas mencegah perilaku kekerasan melalui
kepatuhan minum obat, aktivitas mencegah perilaku kekerasan melalui
kegiatan ibadah.
c. Aktivitas mempersepsikan stimulus nyata yang menyebabkan harga
diri rendah.
Klien yang mempunyai indikasi aktivitas ini adalah klien
gangguan konsep diri : harga diri rendah. Aktivitas ini dibagi dalam
beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu : aktivitas
mengidentifikasikan aspek yang membuat harga diri rendah dan aspek
positif kemempuan yang dimiliki selama hidup (di rumah dan di rumah
sakit), aktivitas melatih kemampuan yang dapat digunakan di rumah
sakit dan di rumah.
d. Aktivitas mempersepsikan stimulus tidak nyata dan respon yang
dialami dalam kehidupan.
Klien yang mempunyai indikasi aktivitas ini adalah klien yang
mengalami perubahan persepsi sensori : halusinasi. Aktivitas ini dibagi
dalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu : aktivitas
mengenal halusinasi, aktivitas mengusir/menghardik halusinasi,
aktivitas mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan, aktivitas
mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap, aktivitas mengontrol
halusinasi dengan patuh minum obat.

11
G. Kriteria Pasien

1. Pasien dengan masalah keperawatan halusinasi pendengaran

2. Pasien dalam kondisi stabil

3. Pasien dapat diajak kerjasama (kooperatif)

H. Proses Seleksi

1. Mengobservasi pasien yang masuk kriteria.

2. Pasien yang mengikuti TAK ini tidak mengalami perilaku agresif atau

mengamuk, dalam keadan tenang.

3. Pasien dengan perubahan persepsi sensori; halusinasi

4. Memilih Pasien yang masuk kriteria sebanyak 6 orang

5. Membuat kontrak dengan pasien yang setuju ikut TAK, meliputi &

menjelaskan tujuan TAK pada pasien.

I. Uraian Struktur Kelompok

1. Tempat Pertemuan

Lapangan RSJD Abepura dengan setting tempat : di ruang kronis pria 2,

duduk membentuk setengah lingkaran, fasilitator berada di samping pasien

(berselang-seling dengan pasien). Leader dan Co leader berada di

lingkaran. Observer berada di luar dari lingkaran untuk mengawasi

jalannya kegiatan.

12
Observ Leader Co leader Operator
.

Pasien
Pasien
Fasilitator 4
Fasilitator 2
Pasien
Pasien

Pasien Pasien
Dokumentator
Fasilitator 1

2. Waktu Pelaksanaan

a. Hari/ tanggal : Kamis, 23 Agustus 2018

b. Waktu : 09.00 – 09.45 WITA

c. Lamanya : 45 menit

d. Alokasi Waktu :

1) Perkenalan dan pengarahan : 10 menit

2) Terapi : 30 menit

3) Penutup : 5 menit

3. Jumlah Pasien : .. orang

a. Tn. …

b. Tn. …

c. Tn. …

d. Tn. …

13
e. Tn. …

f. Tn. …

4. Metode dan Media

a. Metode : Diskusi

b. Media : 2 file video yang berjudul : - Bangau dan Kepiting

 Infocus

 Laptop

J. Pengorganisasian

1. Leader : Dwi Ismiati

Tugas :

a. Membuka acara dan memperkenalkan diri serta mempersilahkan

peserta lain untuk memperkenalkan diri

b. Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan

c. Menetapkan dan menjelaskan aturan permainan

d. Memotivasi peserta TAK untuk menjawab pertanyaan

2. Co. Leader : Yoce Wally

Tugas :

a. Membantu leader

b. Mengingatkan hal-hal yang mungkin terlewatkan oleh leader

3. Fasilitator 1 : Damaris Hutagaol

4. Fasilitator 2 : Harlyn Bunawir

5. Fasilitator 3 : Enik Kotimah

6. Fasilitator 4 : Selly Muntoir

14
7. Fasilitator 5 : Ribka Huby

Tugas :

a. Memotivasi peserta yang kurang aktif

b. Menjadi contoh anggota kelompok selama kegiatan

8. Observer : Bangkit Fandana

Tugas :

a. Mengamati proses kegiatan

b. Menilai jalannya TAK

c. Menyimpulkan hasil kegiatan

K. Proses Pelaksanaan

Sesi 1 : menonton video yang berjudul bangau dan kepiting

1. Persiapan

a. Memilih pasien sesuai dengan indikasi, yaitu pasien dengan perubahan

sensori persepsi : halusinasi pendengaran

b. Membuat kontrak dengan pasien yang dilakukan oleh fasilitator isi

topik, waktu, dan tempat pelaksanaan kegiatan

c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

d. Mengevaluasi kemampuan Pasien dalam melakukan diskusi

15
2. Orientasi

a. Salam terapeutik

1. Salam dari terapis kepada pasien

Leader membuka acara dan memberi salam kepada pasien

"Selamat pagi bapak-bapak, bagaimana kabarnya hari ini" ?masih

tetap semangat kan?”

b. Evaluasi/validasi

Menanyakan perasaan pasien saat ini "Bagaimana perasaan Bapak

hari ini ?

c. Kontrak

Terapis menjelaskan aturan main berikut :

a) Jika ada pasien yang ingin meninggalkan kelompok, seperti ke

wc harus minta izin kepada terapis dan diharapkan setelah itu

kembali keruangan ini

"Sebelumnya saya akan menjelaskan aturan mainnya bapak

bapak, jika ada bapak-bapak yang ingin meninggalkan

kelompok, harus minta izin kepada perawat pendamping yang

di sebelah kanan bapak, seperti ke wc serta di harapkan bapak

bapak kembali lagi mengikuti kegiatan terapi aktivitas

kelompok dari awal hingga akhir."

b) Lama kegiatan 45 menit

"Waktu yang kita butuhkan selama terapi aktivitas kelompok

kurang lebih 45 menit ya pak."

16
c) Setiap pasien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

3. Tahap kerja

"Sesuai janji kita kemarin, kita akan melanjutkan Terapi Aktivitas

Kelompok menonton video dengan judul video Bangau dan

Kepiting. Baiklah bapak-bapak perkenalkan nama suster Dwi saya

sendiri sebagai leader, dan teman saya ada (memperkenalkan satu

per satu)”.

a. Menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu menonton

video yang berjudul bangau dan kepiting

“Baiklah bapak-bapak, sebelum menonton video saya akan

memberikan 3 tugas kepada bapak-bapak. Yang pertama bapak-

bapak harus menceritakan isi cerita dalam video, kedua

meceritakan makna dari video dan ketiga menjelaskan makna

positif yang dapat diambil dari menonton video”

b. Setelah selesai menonton video, masing-masing klien diberi

kesempatan untuk menjawab tugas yang telah diberikan tadi.

“Sekarang dimulai dengan bapak … untuk menceritakan tugas tadi

yang saya beri dengan di dampingi perawat …. Pre memori…

bagus sekali pak, sudah bisa menjelaskan tugas yang saya beri

tadi”.

4. Tahap terminasi

a) Evaluasi

1) Terapis menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti TAK

17
"Bagaimana perasaan bapak setelah mengikuti terapi aktivitas

kelompok menonton video? "

2) Terapis Memberikan pujian kepada kelompok

"Baiklah pak kita tepuk tangan buat kita semua"

b) Tindak lanjut

Terapis meminta pasien memasukan kegiatan yang telah dilakukan pada

jadwal kegiatan sehari hari

"Bapak bapak tadi kita sudah melakukan terapi aktivitas kelompok,

bapak bapak diharapkan memasukkan kegiatan yang dilakukan pada

jadwal kegitatan yang sudah saya sediakan"

c) Kontrak yang akan datang

1) Menyepakati TAK yang akan datang

"Baiklah, Bapak-bapak untuk TAK selanjutnya akan diadakan oleh

perawat disini lagi, untuk jadwal nanti mengikuti saja. Saya harap

dengan TAK ini bapak bisa mengontrol halusinasi pendengaran bapak.

Saya akhiri TAK hari ini, Selamat Pagi.”

5. Evaluasi dan Dokumentasi


Nama Peserta TAK
No Aspek Yang Dinilai

1 Menceritakan isi dalam video

2 Menceritakan makna dari


video
3 Menjelaskan makna positif
dari video

Petunjuk : Dilakukan = 1 Tidak dilakukan = 0

18
A. Program Antisipasi Pendidikan Kesehatan :
1. Antisipasi waktu : dari jam
2. Antisipasi tempat :
3. Antisipasi pasien dan terapis : Jika pasien berhalangan akan
digantikan dengan pasien lain, juga terapis/leader berhalangan
akan digantikan oleh terapis/perawat yang bersedia dan siap.
4. Antisipasi media /alat : mangganti alat tulis lain seperti pulpen dan
pensil.

Program antisipasi secara umum


a. Penanganan klien yang tidak aktif saat aktivitas klompok
Intervensi :
1. Memanggil klien,
2. Memberi kesempatan kapada klien tersebut untuk menjawab
sapaan perawat atau klien yang lain
b. bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :
Intervensi :
1. Panggil nama klien
2. Tanya alasan klien meninggalkan permainan
3. Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan
penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan
keperluannya setelah itu klien boeh kembali lagi.
b. Bila ada klien lain ingin ikut
Intervensi :
1. Berikan penjelasan bahwa permainan ini di tujukan pada klien
yang telah di pilih
2. Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang
mungkin dapat di ikuti oleh klien tersebut
3. Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan
tidak memberi peran pada permainan tersebut

19
c. Pasien tidak ingin ikut TAK
Intervensi :
Fasilitator berusaha membujuk agar klien tetap di tempat untuk
mengikuti TAK hingga selesai. Jika tidak bisa maka fasilitator
mengantarkan kembali ke ruangannya.

20
DAFTAR PUSTAKA

Keliat BA, Akemat. 2004. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok.


Jakarta: EGC

Keliat, B.A. 2002. Model Praktik Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Herawaty, Netty. 1999. Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta : EGC

Stuart, Gail Wiscart & Sandra J. Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa.
Edisi 3. Jakarta : EGC

21