Anda di halaman 1dari 7

PROPOSAL HOME VISITE

PADA KLIEN DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN

DI RSJD ABEPURA

STASE JIWA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK V

AGUS SURISNO, S.Kep

AGUSTINUR, S.Kep

ARIANTJE MAMBIEW, S.Kep

BIN SADYA SARWOM, S.Kep

MUDAYATI, S.Kep

WAWAN SETIAWAN, S.Kep

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

JAYAPURA

2017
PRE PLANING HOME VISITE

A. LATAR BELAKANG

Cita-cita bangsa Indonesia dan tujuan nasional Indonesia adalah untuk melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpa darah Indonesia dan untuk menunjukan kesejahteraan
umum yang berarti mewujudkan suatu tingkat kehidupan masyarakat secara optimal dan
memenuhi dasar manusia termasuk kesejahteraan. Kesehatan jiwa bagi integral dan
upaya kesehatan bertujuan untuk mencapai kondisi yang memungkinkan perkembangan
jiwa yang sehat secara optimal baik intelektual maupun emosional melalui kesehatan,
kerja, lingkungan keluarga serta dalam lingkungan masyarakat (Depkes, 2006).
Dalam rangka meningkatkan kesehatan pelayanan keperawatan kepada klien yang
mengalami gangguan jiwa. Dukungan dari pihak keluarga merupakan unit yang paling
dekat dengan klien dengan gangguan jiwa kepada keluarga mengenai masalah yang
sedang dihadapi oleh klien dan mencegah terjadinya kekambuhan.

B. TUJUAN KUNJUNGAN RUMAH

1. Tujuan umum
Untuk melengkapi dan mengklarifikasi data yang didapat dari klien serta
melakukan asuhan keperawatan, yaitu memberi penyuluhan kesehatan jiwa kepada
keluarga khususnya keperawatan yang dihadapi klien.

2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi riwayat kesehatan klien yaitu :
 Riwayat penyakit yang diderita klien baik sebelum maupun sesudah dirawat
di RSJD Abepura.
 Mengidentifikasikan riwayat kesehatan keluarga, apakah ada yang menderita
gangguan jiwa.
 Mengidentifikasi tentang klien, apakah klien mempunyai masalah dalam
keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja.
b. Mengkaji masalah keluarga dalam merawat klien dengan halusinasi pendengaran.
c. Mengkaji penyebab, tanda dan gejala dan akibat halusinasi pendengaran.
d. Memberikan pendidikan kesehatan dan cara merawat klien dengan halusinasi
pendengaran
e. Pemberikan penkes dalam rangka persiapan klien pulang

C. PELAKSANAAN

 Hari : Sabtu
 Tanggal : 20 mei 2017
 Sasaran : Keluarga
 Tempat : Polimak

D. METODE
 Ceramah
 Diskusi

E. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Kondisi Klien
 Data Objektif : Klien tampak mondar-mandir dan terkadang berbicara melantur.

 Data Subjektif : Klien mengatakan bahwa suara- suara itu benar ada, seperti ada
yang membisikan untuk bangun dari tidur dan klien saat dikaji mengatakan ingin
segara pulang.
2. Diagnosa Keperawatan
 Halusinasi pendengaran
3. Tujuan Keperawatan
 Keluarga mampu merawat klien dengan halusinasi pendengaran dirumah dan
menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien serta keluarga mampu
menjelaskan tentang klien dengan halusinasi pendengaran.
4. Tindakan Keperawatan
 Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien
 Jelaskan tentang halusinasi pendengaran : pengertian, tanda dan gejala dan cara
merawat pasien dengan halusinasi pendengaran (cara berkomunikasi, pemberian
obat, pemberian aktivitas pada pasien dan bermain peran).

F. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK

SP 1 Keluarga: Pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi


yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat
pasien halusinasi.
 Orientasi :
“Selamat pagi bapak/ibu, kita dari kelompok yang merawat bapak A”
“Bagaimana perasaan ibu hari ini? Apa pendapat ibu tentang bapaka A?”
“hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yamg bapak A alami dan bantuan
apa yang ibu bisa berikan.”
“Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang tamu? Berapa lama waktu
ibu? Bagaimana kalau 30 menit?”
 Kerja :
“Apa yang ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat bapak A. Apa yang ibu
lakukan?”
“Ya, gejala yang dialami oleh bapak A itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar
atau melihat sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya.”
“tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri, atau marah-marah tanpa sebab.”
“Jadi kalau anak bapak/ibu mengatakan mendengar suara-suara, sebenarnya suara
itu tidak ada.”
“kalau bapak A mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu
tidak ada.”
“Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara untuk
membantu bapak A mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut antara lain:
Pertama, dihadapan bapak A, jangan membantah halusinasi atau menyokongnya.
Katakan saja ibu percaya bahwa nak tersebut memang mendengar suara atau
melihat bayangan , tetapi ibu sendiri tidak melihatnya atau mendengarnya.”
“Kedua, jangan biarkan bapak A melamun dan sendiri, karena kalau melamun
halusinasi akan muncul lagi. Uapayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya.
Buat kegiatan keluarga seperti makan bersama, beribadah bersama. Tentang
kegiatan, saya telah melatih bapak A untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
Tolong ibi pantau pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia melakukannya.”
“Ketiga, bantu bapak A minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat tanpa
konsultasi. Terkait dengan obta ini, saya juga sudah melatih bapak A untuk minum
obat secara teratu. Jadi ibu dapat mengingatkan kembali. “Terakhir, bila ada tanda-
tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi bapak A dengan cara menepuk
punggung bapak A. Kemudian suruhlah bapak menghardik suara tersebut. Bapak A
sudah kita ajarkan cara menghardik halusinasinya.”
 “Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi bapak. Sambil menepuk punggung
bapak, katakan: bapak, sedang apa kamu? Kamu ingatkah apa yang diajarkan
perawat bila suara-suara itu datang? Ya.. usir suara itu, bapak tutup telinga mudan
katakan pada suara itu “saya tidak mau dengar”. Ucapkan berulang-ulang, pak.”
“Sekarang coba ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan.”
“bagus bu.”
 Terminasi :
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi
bapak A?”
“Sekarang ibu sebutkan kembali tiga cara merawat bapak A?”
“bagus sekali bu.”

2. SP 2 Keluarga: Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien


halusinasi.
 Orientasi :
“Selamat pagi, bagaimana perasaan bapak pagi? “Apakah bapak masih ingat
bagaimana cara memutuskan halusinasi bapak yang sedang menagalami
halusinasi?” sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan
mempraktekan cara memutuskan halusinasi langsung dihadapan bapak.”
“Mari kita datangi bapak A.”
 Kerja :
“Selamat pagi pak,” “pak, orang tua bapak sangat ingin membantu bapak
mengendalikan suara-suara yang sering bapak dengar.” “untuk itu pagi ini orang tua
bapak akan mempraktekan cara memutuskan suara-suara yang bapak dengar.”
“Pak, nanti kalau sedang denar suara-suara bicara atau tersenyum-senum sendiri,
maka ibu akan mengingatkan seperti ini.”
“Sekarang coba bapak peragakan cara memutus halusinasi yang sedang bapak
alami, seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tepuk punggung bapak lalu
suruh bapak mengusir suara dengan menutup telinga dan menghardik suara
tersebut” (saudara mengobservasi apa yang dilakukan keluarga terhadap pasien)
bagus sekali lagi!”
“Bagaimana pak?”
“senang dibantu ibu, nah bapak atau ibu ingin melihat jadwal harian bapak. (pasien
memperlihatkan dan dorong keluarga memberikan pujian). “Baiklah.
 Terminasi :
“Bagaimana perasaan bapak setelah mempraktekan cara memutus halusinasi
langsung dihadapan bapak?”
“Diingat-ingat pelajaran kita hari ini ya pak, bapak dapat melakukan cara itu bila
bapak mengalami halusinasi.”
3. SP 3 Keluarga : Menjelaskan proses lanjutan
 Orientasi:
“Selamat pagi bu, sesuai dengan janji kita tadi, sekarang kita akan membicarakan
jadwal bapak selama di rumah.” “Nah sekarang kita bicarakan yang di rumah, mari
kita duduk di ruang tamu!”
“Berapa lama ibu ada waktu ?” “Bagaimana kalau 30 menit?”
 Kerja
“Ini jadwal kegiatan bapak yang telah disusun. Jadwal ini dapat dilanjutkan. Coba
ibu lihat mungkinkah dilakukan. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan
mengingatkan?” “A jadwal yang telah dibuat tolong dilanjutkan, baik jadwal
aktivitas maupun jadwal minum obatnya.”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh
bapak selama di rumah. Misalnya kalau bapak terus menurus mendengar suara-
suara yang menggangu dan tidak memperhatiakn perbaikan, menolak minum obat
atau memperhatikan perilakumembahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera
bawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan ulang dan diberikan tindakan.”
 Terminasi:
“Bagaimana ibu? Ada yang ingi ditanyakan? Coba ibu sebutkan cara-cara merawat
bapak!”
“Bagus (jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya. Sampai
jumpa.”