Anda di halaman 1dari 20

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi perikanan

melimpah, namun baru sebagian kecil dimanfaatkan dengan baik. Di samping itu,

Indonesia juga mempunyai potensi perikanan darat yang baik dikembangkan

untuk budidaya, penangkapan, pengolahan serta pemasaran. Selanjutnya dengan

diakuinya Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia telah menambah potensi perikanan

laut.

Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah Negara Republik yang

sebagian besar wilayahnya sekitar 329.867,61 km dengan luas lautnya 2

35.306 km (71,33%) sedangkan daratan hanya sekitar 94.561,6 km (28,67%)

.Kondisi perairan yang sangat menjadikan sektor perikanan dapat menjadi sektor

andalan setalah sektor migas.Pada akhir tahun 2004 dicatat hasil produksi

perikanan budi daya berupa Tambak sebanyak 1.050,6 ton, kolam 15.974,9 ton,

keramba 2.362,6 ton dan perikanan sawah mencapai 9,4 ton (Dinas Perikanan dan

Kelautan Provinsi Sumatera Barat, 2004)

Dinamika populasi merupakan konsep batasan indentifikasi populasi dan

stok serta parameter peubahnya yaitu pendugaan parameter pertumbuhan,

rekruitmen, mortalitas alami dan penangkapan. Para ahli perikanan harus

menelaah dinimika populasi ikan dengan tepat, agar sumberdaya perikanan pada

suatu perairan jangan sampai menurun. Untuk memahami dinamika populasi ikan,

pengetahuan tentang konsep perikanan sangat diperlukan, yaitu meliputi tiga unit

factor yang berinteraksi yaitu : biota, habitat dan manusia.


2

Dalam dinamika populasi yang dimaksud dengan biota adalah semua jenis

ikan, phytoplankton, zoo-plankton, bentos serta tumbuhan air tertentu. Factor

habitat terdiri dari komponen fisik seperti kualitas air, substrat, morpometri, dan

geografi perairan yang saling berinteraksi. Komponen manusia meliputi semua

manipulasi sumberdaya biota yang dapat diperbaharuia, pengaruh manusia

terhadap habitat dan biota bias berupa usaha perikanan rekreasi dan komersial,

industry, pertanian, dan berbagai limbah domestic yang dibuang keperairan.

Masalah utama dalam perikanan sebagian besar berasal dari kegiatan manusia

seperti penangkapan, masyarakat perikanan, nelayan, dan pengusaha termasuk

rantai pemasarannya.

Ilmu statistic dalam mempelajari dinamika populasi sangat membantu,

mengevaluasi, memprediksi dan merupakan dasar dari semua percobaan. Seperti

pendugaan kelimpahan stok dan untuk mengembangkan hubungan secara

matematik dalam bidang perikanan. Disamping itu juga diperlukan aplikaasi dari

berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti ilmu kimia perairan, ilmu teknik, ilmu

ekonomi, ilmu social dan ilmu komputerisasi.

1.2. Tujuan dan Manfaat Praktikum

Tujuan melakukan praktikum dinamika populasi adalah untuk mengetahui

stok serta gambaran populasi ikan yang terdapat di Perairan Karan Aur Pariaman

dan untuk mengetahui sifat-sifat sosial di daerah tersebut serta mahasiswa mampu

menjelaskan tentang populasi ikan, faktor-faktor dinamikannya, seleksi alat serta

cara-cara perhitungan populasi ikan


3

Manfaat praktikum adalah agar mahasiswa dapat mengetahui secara

langsung dinamika populasi ikan ditempat tersebut, dan bisa mengetahui keadaan

pelabuhan Karan Aur Pariaman dan menambah pengetahuan dan wawasan

praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai perikanan


4

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sumberdaya Perairan menurut Kasry (2003) menyatakan bahwa perairan

umum adalah bagian dari permukaan bumi yang secara permanen atau berkala

digenangi air, baik air tawar, air payau, maupun air laut. Perairan tawar menyebar

mulai dari air laut surut terendah kearah daratan dan badan air tersebut terbentuk

secara alami atau buatan (waduk/ kolam).

Laut mempunyai berbagai fungsi diantaranya adalah sebagai sarana

transfortasi, usasaha budidaya, aktivas penduduk seperti MCK, usaha

penangkapan dan lain sebainya. Selain itu perairan laut merupakan lingkungan

hidup yang berfungsi sebagai media tempat tumbuh organisme, tempat

berkembang biak, untuk pergerakan pembawa zat hara serta pelarut gas-gas dan

mineral (Soesono, 1977). Sedangkan menurut Odum (1971), sungai dapat

menerima bahan-bahan asing dari luar yang menyebabkan berubahnya kualitas

air, sehingga hidro-biota yang hidup di dalamnya mengalami gangguan.

Teluk Bungus terletak sekitar 20 kilometer di sebelah selatan kota Padang.

Untuk mencapainya harus melalui jalan ke Teluk Bayur dan terus ke arah selatan

melalui jalan berliku di perbukitan di tepi pantai. Sepanjang jalan di punggung

bukit ini terlihat pemandangan yang indah dan memukau. Terutama pemandangan

ke arah lautan Hindia yang luas terbentang, dengan warna biru berkilau. Teluk

Bungus merupakan sebuah teluk yang cukup luas, bahkan lebih luas dari

pelabuhan Teluk Bayur, dan menjadi objek wisata yang sangat popular di kota

Padang. Dikelilingi oleh perbukitan, bibir pantai Teluk Bungus terlihat agak

sempit di bagian utara dan selatan. Jalan masuk ke pantai di teluk ini terletak di
5

bagian tengah teluk, menurun dari bukit ke arah pantai yang lebih lebar di bagian

ini. (http://www.cimbuak.net/content/view/1042/6/)

Dinamika stok ikan dapat didefenisikan sebagai suatu kelompok

organisme dari suatu spesies ikan yang mempunyai karakteristik yang sama dan

menempati suatu daerah tertentu. Pada prinsipnya suatu stok adalah kelompok

ikan atau udang yang batas geografisnya persebarannya dapat ditentukan,

demikan pula kegiatan perikanan.

Gulland (1975), menyatakan stok ikan merupakan suatu sub kelompok

dari suatu spesies dapat diperlakukan sebagai satu stok jika perbedaan-perbedaan

dalam kelompok tersebut dan pencampuran dengan kelompok lain mungkin dapat

diabaikan tanpa membuat kesimpulan yang tidak absah.

Leonart (2002), menyatakan bahwa stok assement merupakan suatu

kegiatan pengaplikasian ilmu statistika dan matematika pada sekelompok data

untuk mengetahui status stok ikan secara kuantitatif untuk kepentingan pendugaan

stok ikan dan alternatif kebijakan kedepan. Dapat dikelompokkan menjadi empat

kelompok: metode Indirect, Survay, Marking, Ecological Approach.

Jumlah stok ikan di suatu perairan selalu berubah-ubah setiap tahunnya.

Hal ini disebabkan perpindahan ikan tersebut ke tempat lain untuk memijah atau

mencari makan sehingga Pendugaan kelimpahan suatu stok sangat diperlukan

untuk menduga berbagai parameter lainnya sperti untuk menduga laju

penangkapan, untuk menduga dampak pengolahan sumberdaya ikan terhadap

populasi ikan, mortalitas, dan rekrutmen dari suatu stok. (Gulland, J.A. 1973)

Rekrutmen dapat didefenisikan sebagai jumlah ikan dari suatu kohort

tertentu atau kelas umur (year class) yang masuk ke dalam fase eksploitasi dari
6

suatu perikanan dimana individu-individu yang berukuran lebih kecil dari stok

tersebut pada periode waktu tertentu akan bertumbuh menjadi besar. Dengan kata

lain bahwa jumlah ikan dari suatu kohort atau kelas umur yang akan siap untuk

diekploitasi dalam suatu periode waktu (contohnya dalam tahun). Rekrutmen

penting untuk orang perikanan karena mempunyai efek langsung pada kelimpahan

ikan berikutnya, dan besarnya hasil yang dapat ditangkap atau dipanen dari suatu

stok tertentu.

Sejumlah faktor-faktor biotik dan abiotik mempunyai pengaruh yang

sangat besar terhadap rekrutmen dari suatu stok. Faktor-faktor biotik termasuk

banjir, musim kemarau, angin ribut, temperatur, salinitas, tingkat oksigen, lapisan

kedalaman yang berbaur (mixed layer depth), kandungan unsur hara dalam air dan

pertimbangan faktor lingkungan lainnya. Faktor-faktor biotik termasuk

kelimpahan mangsa atau kelimpahan suplai makanan, kelimpahan pemangsa,

kelimpahan pesaing (competitor), parasit dan penyakit, kanibalisme, fekunditas,

ketersediaan lokasi (habitat) pemijahan, ukuran stok/pemijah, dan banyak faktor

lainnya. Hubungan yang paling umum yang dipelajari dari rekrutmen adalah

bagaimana hubungan antara ukuran dari stok dan konsekuensi rekrutmennya.

Pada kenyataannya bahwa efek terbesar dari perikanan tereksploitasi adalah

ukuran dari stok. Dari sini, adalah sangat berpengaruh terhadap intervensi

manajemen.

Berdasarkan pada situasi rekrutmen, maka Ricker (1975) menyatakan

bahwa ada 3 tipe rekrutmen, yaitu:

1). Rekrutmen ujung pisau (knife edge recruitment). Semua ikan dari kelas umur

tertentu akan mudah tertangkap pada suatu waktu tertentu, dan


7

kemudahan tertangkapnya ini adalah sama dengan sisa hidupnya (atau

sekurang-kurangnya dua tahun penuh berturut-turut). Populasi ikan yang

sedikit ideal bagi tipe ini.

2). Rekrutmen dengan platon (recruitment by platoon). Kemudahan tertangkap

suatu kelas umur bertambah secara gradual dalam waktu dua tahun atau lebih,

tetapi setiap tahun selama musim penangkapan setiap individu ikan tertangkap

maupun lolos dari tangkapan. Jadi suatu kelas umur dapat dibagi menjadi dua

platon yang berbeda, yaitu yang terrekrut dan tidak-terrekrut. Ikan pada platon

terrekrut dalam hidupnya akan berukuran lebih besar dari tidak-terrekrut, akan

tetapi sering terjadi tumpang-tindih ukuran. Rekrutmen platon akan menjadi

jelas ketika penangkapan terhadap ikan yang melakukan suatu ruaya pemijahan

( a breeding migration) dan ikan yang matang tidak bercampur dengan yang

tidak matang.

3). Rekrutmen kontinu (continuous recruitment). Penambahan gradual yang

bertahap dari kemudahan tertangkap anggota kelas umur ikan tertentu selama

dua tahun atau lebih yang mana berhubungan dengan penambahan ukuran

individu ikan, atau perubahan tingkah laku ataupun distribuinya, atau juga

kombinasi keduanya. Setiap individu ikan akan mudah tertangkap jika

bertumbuh dan menjadi semakin tua hingga mencapai batas maksimum

tertangkap.

Hubungan yang umum antara stok ikan dewasa dengan rekrutmen yaitu

antara jumlah pemijah (spawner) dan yang terrekrut. Hubungan ini

diperhadapkan dengan faktor: a). jika tidak ada pemijah maka tidak ada yang

rekrut, b). setiap stok mempunyai kesempatan untuk bertumbuh, kecuali stok yang
8

telah punah, c). stok di alam jumlahnya terbatas yang mana disebabkan oleh

faktor alam yang sewaktu-waktu bisa mempercepat laju mortalitas, sebaliknya

juga dengan pertumbuhannya.

Runtuhnya beberapa perikanan dunia disebabkan karena kegagalan

rekrutmen. Cushing (1973) menyarankan agar masalah penangkapan yang

berlebihan, yang dijelaskan pada pola pertumbuhan, harus digantikan dengan

masalah yang lebih serius, yaitu rekrutmen dimana mempengaruhi pengurangan

stok akibat penurunan rekrutmen.

Kepadatan Populasi merupakan jumah individu suatu spesies persatuan

luas atau volume dalam kurun waktu dan tempat tertentu, yang dipengaruhi oleh

aju natalitas (N), aju mortalitas (M), laju imigrasi (I), dan laju emigrasi (E).

Perikanan merupakan suatu usaha atau kegiatan manusia untuk

memanfaatkan sumberdaya hayati perairan. Ditinjau dari kegiatan pemanfaatan

sumberdaya perikanan pada umumnya dapat dibagi atas dua, yaitu : 1)

penangkapan ikan dan binatang lainnya yang dilakukan oleh para nelayan di laut,

rawa, sungai dan danau yang dikenal dengan usaha penangkapan ikan dan 2)

pemeliharaan ikan dan binatang lainnya yang dilakukan oleh petani ikan di kolam,

sawah, perairan umum dan di tepi pantai. Usaha ini lebih dikenal dengan usaha

budidaya perikanan (Effendi, 1979).

Secara umum perikanan didefenisikan sebagai suatu kegiatan ekonomi

yang menyangkut; (1) kegiatan produksi yang menyangkut cara mengasilkan ikan

baik dengan cara penangkapan maupun budidaya.(2) Kegiatan pengolahan yaitu

melakukan sesuatu terhadap ikan yang telah dihasilkan sehingga merubah

keadaan, bentuk dan nilai ekonomisnya.(3) Pemasaran ikan yang menyangkut


9

segala kegiatan memperdagangkan ikan mulai dari produsen sampai ke konsumen

(Fauzi,1985).

Dirjen Perikanan (1978) menyatakan bahwa yang menjadi dasar utama

dalam memajukan dan mengembangkan perikanan adalah dengan peningkatan

pengenalan jenis- jenis ikan serta pengetahuan tentang habitat, penyebaran dan

biologinya. Salah satu usaha memajukan dan mengembangkan perikanan adalah

dengan melakukan penelitian tentang biologi ikan.

Penangkapan

Sesuai dengan banyaknya alat penangkapan yang digunakan di Indonesia,

maka Subani dan Barus (1988) menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak

jenis alat penangkapan untuk ikan, udang dan biota laut lainnya, dimana

kehadiran alat tangkap ini tidak secara bersamaan, tetapi secara bertahap sesuai

dengan perkembangan usaha perikanan dan menurut komoditi yang diperlukan.

Usaha penangkapan ikan merupakan suatu usaha manusia untuk

menghasilkan suatu hasil tangkapan baik itu berupa ikan maupun organisme

lainnya di suatu perairan. Ayodhyoa, (1981) .

2.8. Pengolahan Ikan

Ikan merupakan produk yang sangat mudah mengalami pembusukan.

Menurut Murniyati dan Sunarman (2000) secara umum kerusakan atau

pembusukan ikan dan hasil olahnya dapat digolongkan pada: (1) kerusakan

biologi, (2) kerusakan enzimatis, (3) kerusakan fisika, (4) kerusakan kimiawi.
10

Ikan segar atau ikan basah adalah ikan yang belum atau tidak diawetkan

dengan apapun kecuali semata- mata didinginkan dengan es. Penangan ikan segar

ini dilakukan sejak ikan ditangkap sampai saat diterima oleh pemakainya

(konsumen) (Murniyati dan Suharman, 2000). Dan dijelaskan oleh keduanya pula

prinsip- prinsip dalam pencegahan pembusukan, yaitu dengan mengurangi jumlah

bakteri dan enzim, membunuh atau mengambat kegiatan bakteri dan enzim serta

melindungi ikan dari pencemaran.

2.9. Pemasaran Perikanan

Menurut Syamsudin (1980), ada beberapa faktor yang mempengaruhi

pemasaran perikanan Indonesia antara lain (1). Usaha masih bersifat sambilan,

(2). Terbatasnya modal yang dimiliki, (3). Kurangnya bimbingan dari pihak yang

berwenang, (4). Terbatasnya pendidikan yang dimiliki oleh petani ikan. Oleh

karena itu pemerintah perlu memperhatikan beberapa hal adalah: (1) Pengadaan

dan penyediaan serta penyederhanaan sarana dan prasarana usaha perikanan, (2).

Sarana pendidikan bagi petani, (3). Pendidikan, dan latihan penyuluhan dalam

rangka alih ekonomi teknologi bagi para petani.

2.10. Permasalahan dalam Perikanan

Pembangunan perikanan pada dasarnya merupakan proses upaya manusia

untuk memanfaatkan sumber dayahati perikanan dan sumberdaya perairan melalui

kegiatan ikan, pembudidayaan ikan, seiring dengan pengembangan sumberdaya

manusia, pemanfaatan modal, pengembangan dan kesejahteraan, peningkatn kerja


11

dan berusaha serta peningkatan devisa Negara, disertai upaya-upaya pemeliharaan

dan pelestarian sumberdaya hayati dan lingkungan secara alami (Malik, 1998).

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai Dinamika populasi dilaksanakan pada hari Senin, 6

Maret 2017 pukul 02.00 WIB sampai dengan pukul 04.30 WIB bertempat di

Laboratorium Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas

Riau, Kampus Bina Widya KM.12,5 Simpang Baru, Panam, Pekanbaru.

3.2. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam praktikum Dinamika Populasi ini adalah

kamera untuk mendokumentasikan gambar, kuisioner, dan alat-alat tulis untuk

mencatat data primer dan data sekunder yang didapat dari lokasi praktikum.

3.3 Metode Penelitian

Metode praktikum yang digunakan adalah metode survey yaitu melakukan

pengamatan langsung ke lokasi praktek serta wawancara dengan beberapa orang

masyarakat perikanan atau nelayan yang ada di lokasi tersebut. Data yang
12

dikumpulkan terdiri dari: 1) data primer yaitu data hasil observasi di lokasi dan

wawancara langsung dengan para petani ikan yang mencakup, penangkapan,

pengolahan, dan penjual ikan. 2) data sekunder yaitu data yang diperoleh dari

Dinas Kelautan dan Perikanan atau instansi yang terkait.

3.4 Prosedur Praktikum

Adapun prosedur dari praktikum ini yaitu untuk data primer praktikan

melakukan wawancara atau tanya jawab kepada masyarakat perikanan atau para

nelayan yang ada disekitar Tpi Karan Aur Pariaman seputar aktivitas perikanan

yang mereka lakukan. Sedangkan untuk data sekunder praktikan memperolah data

dari pegawai dinas terkait.

Pada hari pertama, semua praktikan mengikuti presentasi seputar kegiatan

perikanan yang ada di Tpi Karan Aur Pariaman Sumatera Barat oleh salah seorang

pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan. Melalui seminar yang dilengkapi dengan

diskusi ini, para praktikan memperoleh data sekunder yang cukup lengkap dan

memuaskan.

Selanjutnya seluruh praktikan mulai berinteraksi dengan para nelayan

yang kapalnya sedang bersandar di pelabuhan untuk mendapatkan data primer.

Secara bergantian praktikan menanyakan banyak hal seputar aktivitas mereka

ketika melakukan penangkapan. Mulai dari persiapan, anggaran, bahan logistik,

waktu penangkapan, lama penangkapan, alat penangkapan dan lain-lain.

Pada hari kedua kembali praktikan melengkapi data primer dengan

mewawancarai lagi nelayan yang berbeda. Kebetulan pada hari kedua ada sebuah
13

kapal yang baru kembali dari penangkapan. Sehingga praktikan memperoleh

pengalaman dan informasi baru.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Ikan Lele adalah salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk ke dalam

ordo Siluriformes dan digolongkan ke dalam ikan bertulang sejati. Lele dicirikan

dengan tubuhnya yang licin dan pipih memanjang, serta adanya sungut yang

menyembul dari daerah sekitar mulutnya. Nama ilmiah Lele adalah Clarias spp.

yang berasal dari bahasa Yunani "chlaros", berarti "kuat dan lincah". Dalam

bahasa Inggris lele disebut dengan beberapa nama, seperti catfish, mudfish dan

walking catfish.

Klasifikasi ikan lele berdasarkan Saanin (1984) dalam Hilwa

(2004) yaitu sebagai berikut:

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Subkelas : Teleostei

Ordo : Ostarophysi

Subordo : Siluroidae
14

Famili : Clariidae

Genus : Clarias

Berikut adalah rupa darah secara makroskopis dan mikroskopsis sebelum

dan sesudah haemolis:

Tabung A Tabung B Tabung C

Darah 1 ml + 1 ml aquades Darah 1 ml + 1 ml NaCl 3 % Darah 1 ml

Gambar 2. Darah dalam tabung percobaan 1

Tabung A : Darahnya tembus cahaya, sel darahnya mengembang.

Tabung B : Darahnya lebih pekat, tidak tembus cahaya, dan sel darahnya

mengkerut

Tabung C : Darahnya pekat, tidak tembus cahaya dan terjadi penggumpalan

darah

Percobaan 2 secara mikroskopis:


15

Tabung A2 Tabung B2

Darah 1 ml + 1 ml aquades Darah 1 ml + 1 ml NaCl

3% + 1 ml NaCl 3 % + 1 ml aquades

Gambar 3. Darah dalam tabung percobaan 2

Tabung A2 : Sel darah kembali pada keadaan normal

Tabung B2 : Sel darah kembali pada keadaan normal

Percobaan yang dilakukan pada penentuan tekanan osmotik sel-sel

darah merah, yaitu:


16

4.2. Pembahasan

Butir-butir darah merah adalah suatu gepeng (seperti cakram) yang berisi

cairan interaseluler,(Windarti,at.,al.2012). Pada saat percobaan pertama rupa

darah makrokopis dan mikrokopis sebelum dan sesudah haemolisis dapat kita

ketahui bahwa darah + NaCl 3 % maka bentuk darahnya akan mengkerut, larutan

ini tidak tembus cahaya dan terdapat endapan di permukaan larutannya.

Sedangkan darah + aquadest maka hasil yang terjadi adalah tidak mengkerut, sel

darah tidak rapat disebabkan karena sel darah pecah sehingga larutan tersebut

dapat tembus cahaya. Ini berarti air dapat mengalir melalui membran sel, oleh

karena itu bila darah dimasukan kedalam larutan yang hipertonis maka sel darah

merah akan mengembang kemudian pecah (Usman, 2002).

Bila sel-sel darah dimasukkan kedalam suatu cairan yang hypertonis atau

hypotonis terhadap cairan interaseluler, maka terjadi proses osmasa dan difusi.

Bila tekanan osmosa cairan diluar sel sama dengan didalam sel , maka sel darah

tidak mengalami perubahan. jika cairan didalam sel hypertonis terhadap cairan

didalam selmaka sel-sel akan kehilangan cairan sehingga mengakibatkan sel

mengalami peng kerutan, (Windarti,at.,al.2012).

Untuk percobaan menentukan tahanan osmotik sel-sel darah merah, bila

darah dimasukan kedalam larutan hipertonis (NaCl 0,9% dan NaCl 3%) maka sel

darah merah akan mengkerut (mengkisut) karena tekanan osmosa cairan lebih
17

tinggi dari tekanan osmosa darah. Sedangkan bila darah dimasukan kedalam

larutan hypotonis (NaCl 0.3%) maka sel darah akan mengembang dan pecah.

Fujaya (2004) menyatakan, membran sel darah merah sifatnya permiabel

terhadap air, glukosa dan urea, tetapi impermiabel terhadap garam-garam. Air

dapat mengalir melalui membran sel, oleh karena itu bila darah dimasukan

kedalam larutan yang hipotonis maka sel darah merah akan pecah. Peristiwa

pecahnya sel darah merah hingga isinya menyebar keseluruh larutan disebut

Haemolisis. Namun apabila darah dimasukkan kedalam larutan yang isotonis

(larutan fisiologis untuk ikan NaCl 0,6%) maka sel darah tidak akan mengalami

perubahan.
18

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Setelah praktikum tentang rupa darah secara makrokopis dan mikrokopis

sebelum dan sesudah haemolisis dilaksanakan maka dapat disimpulkan

bahwa apabila darah dimasukan dalam larutan NaCl 0.9%, 3% yang hypertonis

(larutan yang tekanan osmosanya lebih tinggi dari tekanan osmosa darah)

maka plsma darah akan megalir keluar sehingga membran sel darah merah akan

mengkerut. Dan apabila darah ditambahkan dengan larutan aquadest dan NaCl

0,3% yang hypotonis (tekanan osmosa lebih rendah dari tekanan osmosa darah),

maka larutan di luar sel akan masuk kedalam sel, sehingga sel akan mengembang

dan pecah. Tetapi jika darah dimasukan kedalam larutan NaCl 0,6% yang isotonis

maka sel darah tidak akan mengalami perubahan dari betuk semula.

5.2. Saran

Agar praktikum ini yang akan datang berjalan dengan lancar, hendaknya

lama waktu praktikum ikhtiologi ditambah lagi agar lebih efektif dan efisien,
19

Diharapkan agar asisten dapat membantu dan membimbing praktikan. Mudah-

mudahan sarana dan prasarana laboratorium lebih memadai sehingga tujuan dari

praktikum lebih terarah dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B.2000. BudidayaIakn Air Tawar. Yoyakarta:Kanisius.

Endang, SriMulyani. 2000 Menggalakkan Perikanan Laut. Bandung: SaranaCipta

Ilmu

Fujaya,Yushinta.2004.Fisiologi Ikan.Bogor: Rineka Cipta

Hendra, eka putra . 2008 . Sistem Peredaran Darah Pada Vertebrata. Jakarta:

Gramedia Pustaka

Igo.2006.Mengenal Jenis Ikan .Bandung: Titian Ilmu.

Mudjiman, A. 2001.MakananIkan Dan SistemDarah. Jakarta: PT. Penebar

swadaya.

Pulungan, chaidir.P, Windarti, Ridwan Manda.P, 2010 Penuntun Praktikum

Ikhtiologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau (Tidak

diterbitkan)

Rahardjo, S. 1980. Oseanografi Perikanan I. Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. 141 hal.

Susanto, Heru. 2004. Budidaya Ikan di Perkarangan. Penebar Swadaya, Jakarta.


20

150 hal.

Windarti, dkk. 2011. Buku Ajar Fisiologi Hewan Air. Universitas Riau,

Pekanbaru. 70 hal.