Anda di halaman 1dari 12

Sosial Budaya Vol. 13, No. 1, Juni 2016, pp.

89 - 100

MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MASYARAKAT DAN


SEKOLAH

Sodiah

Sekolah Tinggi Agama Islam Ma'izhah Merlung Jambi, Indonesia


sodiah396@gmail.com

Abstrak
Progres lembaga pendidikan Islam memerlukansebuah sistem yang terbuka dari superior ke subordinat.Birokrasi
yang panjang yang harus dilalui dalam implementasi pendidikan mengakibatkan efektifitas dan efisiensi pencapaian
yang kecil. Untuk meningkatkan manajemen lembaga pendidikan islam diterapkan manajemen berbasis
masyarakat dan manajemen berbasis sekolah. Manajemen berbasis masyarakat memberikan peluang yang besar
untuk pembelajaran masyarakat dan juga secara umum dapat digunakan untuk membentuk tujuan pendidikan
islam dan kebijakan pendidikan yang bermanfaat. Oleh karena itu, manajemen berbasis sekolah merupakan hasil
dari hukum otonom demikian sehingga pengelola memiliki otoritas untuk mengatur sumberdaya manusia dan untuk
mencapai tujuan lembaga pendidikan islam.
Kata Kunci: manajemen, masyarakat, pendidikan Islam

Abstract
The institutional Islamic education progress need an open system from superior to subordinate. The longer bureaucracy
has to be passed in an education implementation cause the smaller effectiveness and efficiency achievement. Therefore in
improving institutional Islamic education management is applied society based management and school based
management. The society based management gives large chance for learning community also its general to form Islamic
education purpose and education policy that multi-benefit. Thus school based management as a result from the
autonomy law so that managers have authority to manage sources and human resources for achieving the objective of
institutional Islamic education.
Keywords: management, society, islamic education

PENDAHULUAN (pelibatan masyarakat) dalam rangka kebijakan


pendidikan nasional. Kedua konsep ini sangat
Kebijakan reformasi telah mengubah sistem
membantu lembaga pendidikan untuk mela-
pendidikan yang sentralisasi menjadi desentral-
kukan pengembangan baik kuantitas maupun
isasi. Hal ini berdampak pada semakin
kualitas.
terbukanya kebebasan yang dimiliki masyarakat
Lembaga pendidikan Islam sebagai sebuah
untuk merancang dan melaksanakan pendidikan
lembaga yang menyelenggarakan proses pendi-
sesuai kebutuhan sendiri. Akibatnya, upaya-
dikan umum juga agama juga memiliki kesem-
upaya menyelenggarakan manajemen pendidikan
patan yang sama dengan lembaga pendidikan
berbasis masyarakat (society based management) dan
umum untuk melaksanakan manajemen secara
manajemen berbasis sekolah (school-based
mandiri. Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan
management) dewasa ini menjadi sebuah
kuantitas lembaga pendidikan Islam. Sebagai-
kebutuhan di tengah era desentralisasi.
mana peningkatan kuantitas lembaga ini, maka
Manajemen pendidikan berbasis masyarakat
diharapkan terjadi peningkatan kualitas proses
secara konseptual, merupakan model penyeleng-
pendidikan yang diselenggarakan.
garaan pendidikan yang bertumpu pada prinsip
Pendidikan Islam memiliki peranan strategis
“dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
dalam mewujudkan cita-cita Undang-Undang
masyarakat”. Sedangkan Manajemen Berbasis
Dasar 1945 bahwa “men-cerdaskan kehidupan
Sekolah adalah paradigma baru pendidikan, yang
bangsa”, maka me-lalui lembaga pendidikan
memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah
Islam tujuan yang ingin dicapai yaitu

Sosial Budaya (e-ISSN 2407-1684 | p-ISSN 1979-2603)


Vol. 13, No. 1, Juni 2016 89
Sodiah: Manajemen Lembaga Pendidikan Islam....

‫أ‬ ‫أ‬
mencerdaskan pengetahuan anak bangsa, ِ ‫يُ َدبِّ ُر ٱۡلَمأ َر ِمهَ ٱل َّس َمآ ِء إِلَى ٱۡلَ أر‬
‫ض ثُ َّم يَ أع ُر ُج إِلَ أي ِو فِي‬
membina akhlak anak didik, dan membangun ٥ َ‫يَ أو ٖم َكانَ ِم أقدَا ُر ٓۥهُ أَ ألفَ َسن َٖة ِّم َّما تَ ُع ُّدون‬
jiwa kemandirian. Pada awalnya lembaga
pendidikan Islam yang dikenal hanyalah
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
pesantren kemudian berkembang menjadi
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
madrasah dan dengan adanya modernisasi
kadarnya adalah seribu tahun menurut
muncullah sekolah Islam terpadu.
perhitunganmu. (Q.S. As-Sajadah:5)
Berkembangnya lembaga pendidikan Islam
seiring dengan semakin kompleks kebutuhan
Dalam ayat di atas terdapat kata (‫ )يُ َدبِّ ُر أٱۡلَمأ َر‬yang
masyarakat terhadap pendi-dikan. Perkem-
berarti mengatur urusan. Di dalam Imron Fauzi,
bangan ini menuntut kemudahan pengelolaan
Ahmad Al Syawi menafsirkan bahwa Allah
sistem pendidikan sehingga tepat sasaran.
pengatur alam. Keteraturan alam raya
Dengan adanya manajemen berbasis masyarakat
merupakan bukti kebesaran Allah da-lam
dan manajemen berbasis sekolah maka strategi
mengelola alam. Namun karena manusia
pengelolaan lembaga pendidikan Islam semakin
diciptakan Allah telah dija-dikan sebagai khalifah
bervariasi dan menunjukkan adanya peningkatan
di bumi, dia harus mengatur dan mengelola
kuantitas dan kualitas pendidikan.
bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan
mengatur alam raya (Fauzi, 2012, p.69).
masalah yang diajukan dalam tulisan ini, sebagai
berikut: 1). Bagaimanakah manajemen dalam
Islam? 2). Bagaimanakah konsep manajemen
Manajemen Pendidikan
pendidikan? 3). Bagaimanakah hakikat masya- Manajemen adalah suatu proses yang membeda-
rakat dan sekolah? 4). Bagaimanakah implemen- bedakan atas tindakan perencanaan, pengorgani-
tasi mana-jemen berbasis masyarakat? 5). sasian, penggerakan pelaksanaan, dan pengenda-
Bagaimanakah implementasi mana-jemen lian yang dilakukan untuk menentukan serta
berbasis sekolah? mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-
PEMBAHASAN sumber daya lainnya (Rohman dan Amri, 2012,
11).
Manajemen dalam Islam
Secara universal manajemen adalah penggunaan
Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran
harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan dan kinerja yang tinggi dalam berbagai tipe
teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan organisasi profit maupun nonprofit (Zainal et.
baik dan tidak boleh dilakukan secara asal-asalan al., 2013, p.134). Manajemen merupakan koor-
(Hafifuddin dan Tanjung, 2003, p. 1). Arti dinasi semua sumber daya melalui proses peren-
pentingnya manajemen bagi umat muslim canaan, pengorganisasian, penetapan tenaga ker-
sebagaimana Imam Al Fakh Al Razi dalam ja, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai
Veithzal mengatakan bahwa hidup adalah nik- tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu,
mat pertama yang dianugerahkan oleh Allah sehingga manajemen adalah proses perencanaan,
SWT kepada manusia sebelum nikmat lainnya pengorgan-isasian, pengarahan, dan pengawasan
termasuk nikmat iman karena tanpa kehidupan (Zainal et. al., 2013, pp.134-135). Gambaran
nikmat lain tak bisa diperoleh. Karena itulah proses manajemen dapat dilihat dalam
maka nikmat hidup harus disyukuri dengan Samsuddin (2010:16)
memberdayakannya dan dikelola secara baik Jadi, manajemen pendidikan pada dasarnya
sehingga memiliki makna dan nilai positif adalah upaya mengatur segala sesuatu baik
semaksimal mungkin (Zainal, 2013, p.135). sumber daya maupun sumber daya manusia
Pengertian yang sama dengan hakikat untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan.
manajemen adalah al tadbir (pengaturan) kata ini Dalam mengatur ini kemudian timbul beberapa
derivasi dari kata dabbara (mengatur) masalah. Siapa yang mengatur, mengapa harus
(Ramayulis, 2010, p.261). Dalam Al-Qur’an: diatur, dan apa tujuan dari pengaturan tersebut.
Sehingga manajemen membentuk suatu sistem

90
Sosial Budaya Vol. 13, No. 1, Juni 2016, pp. 89 - 100

yang terintegrasi dari beberapa unsur lembaga gaimana manajemen proyek yang efektif me-
pendidikan yang mampu mencapai tujuan yang mbutuhkan manajer dengan karakteristik:
telah ditetapkan secara efektif. a. Knowledge. This refers to what the project manager
Di dalam proses manajerial terdapat fungsi- knows about project management
fungsi manajemen, terutama adanya proses b. Performance. This refers to what the project manager
kepemimpinan. Untuk mencapai tujuan is able to do or accomplish while applying their project
organisasi terdapat beberapa unsur mendasar, management knowledge
yaitu: c. Personal. This refers to how the project manager
a. Organisasi sebagai wadah utama adanya ma- behaves when performing the project or related
najemen activity. Personal effectiveness encompasses attitudes,
b. Manajer yang memimpin dan memikul tang- core personality characteristic and leadership, the
gung jawab penuh dalam organisasi ability to guide the project team while achieving project
c. Aturan main dalam organisasi yang disebut objectives and balancing the project constraints.
anggaran dasar dan ang-garan rumah tangga (Project Management Institute, 2008, p.13)
d. Tujuan organisasi yang ditetapkan sebe-
lumnya Dari pendapat di atas dipahami bahwa
e. Perencanaan yang di dalamnya mengandung seorang manajer yang berhasil memimpin lem-
berbagai program yang akan dilaksanakan baga harus memiliki pengetahuan, kinerja, dan
f. Pengarahan, yang memberikan ja-lan pada kepribadian. Pengetahuan ini menunjuk kepada
sumber daya manusia yang ada apakah manajer mengetahui hal-hal yang ber-
g. Teknik-teknik dan mekanisme pelaksanaan hubungan dengan manajemen. Kinerja menun-
kegiatan organisasi juk kepada apa yang manajer bisa lakukan ketika
h. Pengawasan terhadap semua aktivitas organi- menerapkan pengetahuan manajemenya. Kepri-
sasi agar tidak menyim-pang dari rencana badian berkenaan dengan bagaimana manajer
yang telah ditetapkan bertindak ketika memainkan projek dan meng-
i. Sarana dan prasarana yang mengandung pe- hubungkan aktivtasnya. Efektivitas kepribadian
laksanaan kegiatan organi-sasi sesuai dengan mencakup sikap, inti karakter kepribadian dan
perencanaan kepemimpinan. Kemampuan ini untuk mem-
j. Penempatan personalitas sesuai dengan kea- bimbing tim untuk mencapai sasaran dan me-
hlian atau profesi-onalitas pekerjaan masing- nyeimbangkan semua kegiatan di dalam
masing lembaga.
k. Evaluasi terhadap semua kegiatan yang telah Maka manajemen lembaga pendi-dikan ada-
dilakukan lah suatu kegiatan mengelola unsur-unsur lem-
l. Pertanggungjawaban akhir dari semua baga pendidikan secara bersama-sama yang
aktivitas yang telah dilak-sanakan sesuai de- terdiri dari tenaga pendidik dan kependidikan,
ngan tugas dan kewajiban personal organisasi sarana dan prasarana, kesiswaan dan pembia-
(Hikmat, 2009, pp.13-14) yaan, yang dimulai dari input, process, sampai
output oleh pemimpin dan anggotanya melalui
Implementasi manajemen terhadap penge- proses perencanaan, penugasan, pelaksanaan,
lolaan lembaga pendidikan haruslah berorientasi hingga pengawasan.
pada efektivitas terhadap segala aspek atau kom-
ponen pendidikan baik dalam pertumbuhan dan Masyarakat dan Sekolah
perkembangan. Lembaga pendidikan memiliki Beberapa pandangan filosofis tentang hakikat
komponen-komponen terikat satu sama lain sekolah itu sendiri dan hakikat masyarakat, dan
yang menentukan keberhasilan lembaga tersebut, bagaimana hubungan antara keduanya, sebagai
jika kepala sekolah dapat menjalankan fungsinya berikut:
secara efektif dalam proses planning, organizing, a. Sekolah adalah bagian yang integral dari
actuating, dan controlling. masyarakat, dan bukan merupakan lembaga
Keberhasilan manajemen lembaga pendidik- yang terpisah dari masyarakat
an tidak terlepas dari peran pemimpin yang me- b. Hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah
miliki integritas dan kredibilitas tinggi. Seba- bergantung pada masyarakat.

91
Sodiah: Manajemen Lembaga Pendidikan Islam....

c. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi e. Para warganya sadar akan kesatuan dan
untuk melayani anggota-anggota masyarakat kewargaan mereka dalam community.
dalam bidang pendidikan. f. Mampu berbuat secara kolektif menurut cara
d. Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat tertentu. (Mukhtar dan Iskandar, 2009, p.198)
saling berkorelasi dan keduanya saling
membutuhkan Peran serta masyarakat, antara lain dapat
e. Masyarakat adalah pemilik sekolah, sekolah berupa keterlibatannya dalam pengambilan
ada karena masyarakat memerlukannya. keputusan, pendelegasian kewenangan, keter-
(Wahjosumidjo, 2008, p.331) libatan pengiriman jasa, konsultasi masalah
sekolah, kehadiran ke sekolah, sumbangan dan
Berdasarkan dimensi kepentingan masyara- pelayanan. Model peran serta masyarakat ini agar
kat, tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak terjadi intervensi yang berlebihan, maka
adalah: haruslah disusun lebih dahulu mekanisme yang
a. Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan disepakati oleh sekolah dengan masyarakat.
masyarakat Karena bagaimanapun juga tentu ada batasan-
b. Memperoleh masukan dari sekolah dalam batasan yang diperlukan agar kinerja sekolah
memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dapat lebih optimal.
masyarakat Bentuk-bentuk partisipasi masya-rakat
c. Menjamin relevansi program sekolah dengan diterapkan pada berbagai aspek lembaga
kebutuhan dan perkembangan masyarakat pendidikan yaitu:
d. Memperoleh kembali anggota ma-syarakat a. Finansial: mengenai (urusan) keuangan,
yang terampil dan makin meningkatkan dalam bentuk ini ma-syarakat disamping
kemampuannya. (Mulyasa, 2011, p.148) sumber keuangannya berasal dari pemerintah
namun yang lebih diharapkan adalah swadaya
Masyarakat yang berhubungan baik dengan masyarakat itu sendiri untuk memajukan
lembaga pendidikan akan memberikan manfaat. proses belajar yang di kelola, dari masyarakat
Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders untuk masyarakat, sehingga tujuan masya-
lainnya akan mengerti dengan jelas tentang visi, rakat belajar dapat dilaksanakan sesuai yang
misi, tujuan dan program kerja sekolah, kema- diinginkan, baik dalam bidang pembangunan
juan sekolah beserta masalah-masalah yang di- fisik ataupun mental.
hadapi sekolah secara lengkap, jelas dan akurat. b. Proteksi: Dalam KBBI merupakan
Sehingga mereka dapat berpartisipasi untuk perlindungan (di perdagangan, industri dsb),
membantu sekolah secara tepat. perlunya masyarakat belajar tidak bisa
Partisipasi aktif masyarakat juga menguntung- terlepas dari harus adanya perlindungan baik
kan pihak sekolah. Sekolah akan mengenal hokum maupun proses pelaksanaannya, hasil
secara mendalam latar belakang, keinginan dan produk juga harus dapat bersaing dan
harapan-harapan masyarakat terhadap sekolah. memenuhi kebutuhan yang diharapkan.
Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua c. Moral: adalah masyarakat yang mampu
murid terhadap sekolah, khususnya sekolah membedakan tentang baik buruk yang
merupakan unsur penting guna menumbuhkan diterima umum mengenai perbuatan, sikap,
dukungan yang kuat dari masyarakat. ke-wajiban, akhlak, budi pekerti, dsb.
Suatu masyarakat disebut com-munity d. Akademis: Bentuk partisipasi ini yang bersifat
menurut Hartono yang dikutip oleh Mukhtar ilmu pengetahuan, yang dapat disumbangkan
bilamana memiliki syarat-syarat sebagai berikut: oleh masyarakat pelaksanaan dari proses
a. Berisi kelompok manusia belajar dan tujuan yang diinginkan, sehingga
b. Menempati suatu wilayah geografis sekolah yang diharapkan oleh masyarakat
c. Mengenal pembagian kerja kedalam spesiali- dapat bermutu.
sasi dengan fungsi-fungsi yang saling e. Sumber Belajar: adalah orang yang dapat
ketergantungan. dijadikan tempat bertanya tentang berbagai
d. Memiliki kebudayaan dan sistem sosial pengetahuan, dalam hal ini bersumber dari
bersama yang menganut kegiatan mereka

92
Sosial Budaya Vol. 13, No. 1, Juni 2016, pp. 89 - 100

masyarakat setempat dimana sekolah atau b. Masyarakat memiliki kesempatan untuk


pendidikan dilaksanakan. mengunjungi sekolah guna mengobservasi
f. IT (ilmu teknologi): Untuk memenuhi program pendidikan dan pembelajaran.
tuntunan zaman IT harus dapat menjadi c. Masyarakat dilibatkan dalam pembuatan
partisipasi dalam membentuk masyarakat keputusan-keputusan sekolah
belajar, karena dengan IT akan terlihat d. Sebagian besar orang tua me-mahami dan
kemampuan pelaksanaan kegiatan sekolah ikut mempromosikan program pembelajaran
masyarakat, meskipun kemampuan dibidang di sekolah.
IT belum dapat sepenuhnya dilaksanakan, e. Masyarakat melalui komite aktif
namun meskipun dalam skala kecil IT dapat melaksanakan peran dan fungsi sesuai aturan
membantu melancarkan program kerja yang
direncanakan masyarakat belajar. It wasn’t difficult to organize community participa-
g. Kelembagaan, menejerial, kepe-mimpinan tion. For example, among the concerned citizens who
yaitu yang bersifat lembaga yang dipimpin regularly attended were members of the local clergy who
seorang menejer, dengan tugas untuk mem- cared deeply about minority participation. Conduct
bentuk program kerja masyarakat belajar yang monthly coordination and implementation meetings at the
diinginkan. (hermawan, et.al., 2008, p205) superintendent’s office with all the players in the room at
the same time. (Lytle, 2010, p.115)
Dalam rangka menggalang part-isipasi masya- Untuk mengelola partisipasi masyarakat
rakat, sekolah dapat mengembangkan berbagai terhadap lembaga pendidikan Islam bukanlah hal
program sebagai berikut: yang sulit. Sebagai contohnya diantara
a. Melaksanakan kegiatan kemasya-rakatan, se- masyarakat yang secara teratur menjadi anggota
perti bakti sosial untuk kebersihan lingkungan aktif bagi lembaga, sekolah, yang
dan membantu lalu lintas di sekitar sekolah. memperhatikan secara mendalam program-
b. Mengadakan open house yang member program sekolah. Keberhasilan mengelola
kesempatan kepada ma-syarakat untuk partisipasi masyarakat juga dapat dilakukan
mengetahui ber-bagai program dan kegiatan dengan melaksanakan pertemuan dan koordinasi
sekolah. setiap bulan pada semua level lembaga
c. Mengembangkan buletin, majalah dan lembar pendidikan Islam dengan semua anggota tiap-
informasi secara berkala. tiap bidang pada waktu yang sama.
d. Menghadirkan tokoh masyarakat untuk
menjadi narasumber, pem-bicara atau Manajemen Berbasis Masyarakat
pembina suatu program sekolah. Konsep dan Implementasi Mana-jemen
e. Membuat program kerjasama sekolah dengan Berbasis Masyarakat
masyarakat. (Mulyasa, 2013, pp.142-143)
Masyarakat dapat dikelompok-kan menjadi tiga,
Penyusunan dan pelaksanaan berbagai yaitu:
program di atas, harus senantiasa melibatkan a. Masyarakat orang tua siswa: orang tua
tokoh masya-rakat, sehingga mereka dapat mem- memiliki anak yang sedang sekolah
promosikan lebih lanjut kepada masyarakat luas. b. Masyarakat yang terorganisasi: kelompok
Secara operasional, kepala sekolah dapat organisasi bisnis, politik, sosial, keagamaan,
menggalang partisipasi masyarakat melalui dan sebagainya
dewan pendidikan, komite sekolah, rapat c. Masyarakat secara luas: pribadi-pribadi dan
bersama, konsultasi, radio dan televisi, surat dan masyarakat secara umum.
telepon, pameran sekolah dan ceramah.
Keterlibatan orang tua dan masyarakat memiliki Keterlibatan masyarakat dalam bidang pendi-
indikator sebagai berikut: dikan merupakan upaya pemberdayaan masya-
a. Sekolah senantiasa menjalin komu-nikasi rakat, yang berarti mengikut sertakan masyarakat
yang harmonis dengan orang tua, dan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawas-
berusaha melibatkan mereka dalam an pendidikan (Tim Pakar Manajemen Pendidik-
pelaksanaan program sekolah. an UNM, 2003, p.122). Manajemen pendidikan

93
Sodiah: Manajemen Lembaga Pendidikan Islam....

berbasis masyarakat secara konseptual, merupa- pembinaan pendidikan yang bertugas membuat
kan model penye-lenggaraan pendidikan yang peraturan perundang-undangan, merumuskan,
bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh menetapkan, dan melaksanakan kebijakan pem-
masyarakat dan untuk masyarakat”. binaan di bidang pendidikan.
Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik- Masyarakat sebagai pengguna hasil pendi-
an memberi jawaban atas kebutuhan masyarakat. dikan yaitu bentuk lulusan yang akan menerap-
Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat kan ilmu yang telah mereka peroleh di lembaga
ditempatkan sebagai subjek/pelaku pendidikan, pendidikan dalam dunia kerja. Baik pemerintah,
bukan objek pendidikan. Pada konteks ini industri, perusahaan, dan lainnya sebagai
masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktif pengguna pendidikan, akan merasakan akibat
dalam setiap program pendidikan. Adapun pendidikan jika tidak bermutu. Oleh karena itu
pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya harus ada kesesuaian antara program layanan
masyarakat diikutsertakan dalam semua program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat
yang dirancang untuk menjawab kebutuhan melalui kerjasama.
mereka. secara singkat dapat dika-takan, bahwa Masyarakat sebagai perencana adalah dalam
masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang bentuk pemberian ide atau masukan pemikiran
dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, yang bermakna untuk mendukung bagi tersu-
membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa sunnya perencanaan yang baik. Peran aktif
yang diperlukan secara spesifik didalam, untuk masyarakat diharapkan dalam penyampaian in-
dan oleh masyarakat sendiri (Zubaidi, 2007, formasi atau terlibat langsung dalam penyam-
p.156). paian informasi atau terlibat langsung dalam dis-
Menurut Resbin L. Sihite dalam M. Rohman kusi penyusunan perencanaan, sehingga lulusan
(2012, p.67), mengemukakan tujuh peran serta akan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja
masyarakat dalam pendi-dikan, yaitu: bersesuaian.
a. Sebagai sumber pendidikan Masyarakat sebagai pengawas untuk pengen-
b. Sebagai pelaku pendidikan dalian agar pelaksanaan program dapat terjamin
c. Pelaksana pendidikan sesuai dengan perencanaan. Pengawasan ini da-
d. Pengguna hasil pendidikan pat dilakukan oleh dewan pendidikan dan ko-
e. Perencanaan pendidikan mite sekolah. Masyarakat sebagai evaluator,
f. Pengawasan pendidikan mengevaluasi program pendidikan untuk
g. Evaluasi program pendidikan mengukur sejauh mana ketercapaian program
dan manfaat program bagi pencapaian tujuan.
Merujuk pendapat diatas, mana-jemen pendi- Sebagai contoh pengukuran yaitu berapa banyak
dikan berbasis masyarakat dapat diimplemen- lulusan suatu sekolah diterima di perguruan
tasikan melalui keterlibatan masyarakat dalam tinggi atau dunia kerja.
kegiatan perencanaan, pengorganisasian, peng-
awasan dan pengembangan yang terus-menerus Keterkaitan masyarakat dengan lembaga
melalui budgeting dan evaluasi. Konteks ber- pendidikan
basis masyarakat disini menunjuk pada derajat Dalam melaksanakan kerjasama dan mening-
kepemilikian masyarakat. Masyarakat memiliki katkan keterlibatan masya-rakat dengan lembaga
otoritas dalam mengambil keputusan dan pendidikan sering muncul beberapa kendala se-
menentukan tujuan pendidikan. perti kurangnya jalinan komunikai dan
Masyarakat sebagai sumber artinya banyak hal kemungkinan usaha masyarakat meng-
yang dapat diambil dari masyarakat untuk eksploitasi keberadaaan lembaga pendidikan,
kepentingan pendidikan. Meskipun masyarakat kegiatan mengkritik dan menyerang yang
punah, tetapi peninggalan mereka dapat diambil bertujuan menja-tuhkan kebijakan lembaga
baik ilmunya, kebudayaannya, dan sebagainya. pendidikan. Misalnya suatu perusahaan bersedia
Masyarakat sebagai pelaku pendidikan artinya menjadi donatur penyelenggaraan suatu lembaga
baik perorangan atau kelompok bertindak selaku pendidikan dengan syarat agar siswa mau
pembelajar. Masyarakat sebagai pelaksana pendi- menggunakan produk tertentu. Untuk mengatasi
dikan melakukan kegiatan penyelenggaraan dan kendala tersebut maka pihak lembaga

94
Sosial Budaya Vol. 13, No. 1, Juni 2016, pp. 89 - 100

pendidikan perlu tanggap dengan cara Siswa, orang tua, staf, dan pekerja tang lain
menganalisis motif diballik pemberian dana mengadakan pertemuan untuk
tersebut. Pimpinan perlu meng-analisis dan menindaklanjuti kegiatan hu-bungan
memecahkan masalah secara bijaksana. lembaga pendidikan dengan masyarakat agar
Berdasarkan Layanan Riset Pendidikan dan semua usaha yang dilakukan dapat
Asosiasi Nasional Kepala Pendidikan Dasar di diarasakan manfaatnya
Alexandria dalam Tim Pakar Manajemen (2003)
merumuskan berbagai tekhnik untuk Untuk mengatasi kendala jalinan komunikasi,
meningkatkan keterlibatan berbagai pihak dalam ada beberapa cara untuk melakukan komunikasi
menyelenggarakan pendidikan, teknik-teknik yang efektif dengan masyarakat sekitar lembaga
tersebut yaitu: yaitu:
a. Layanan masyarakat. a. Memberdayakan orang-orang kunci, yaitu
Mempelajari kebutuhan masyarakat dan orang-orang yang mampu mempengaruhi dan
melihat apa yang bisa diperbuat lembaga dianut oleh orang lain. Seperti: kiyai, sesepuh
pendidikan untuk memenuhi kebutuhan desa, pengusaha, kepala desa, katua RT/RW,
masyarakat, yang akhirnya dapat melayani dan pejabat lainnya. Orang kunci ini
kebutuhan mereka diidentifikasi, dihubungi, diajak diskusi dalam
b. Program pemanfaatan alumni skeolah memecahkan maslah di sekolah, serta
Para senior sekolah dapat dilibatkan dalam diikutkan dalam memikirkan program
kegiatan sekolah, mislanya menjadi pengem-bangan sekolah. Tokoh kunci ini
pembicara kegiatan seminar di sekolah, menjadi media antara sekolah dengan
keberhasilannya dalam menemph karir dapat masyarakat.
diinformasikan kepada siswa sebagai b. Warga sekolah bersifat terbuka terhadap
motivasi sarana dan kritik ma-syarakat. Maka kritik
c. Masyarakat sebagai model yang diterima haruslah selektif, karena perlu
Masyarakat sebagai model yang di contoh diwaspadai kemungkinan kritik yang ingin
siswa di sekolah, terutama masyarakat yang menjatuhkan sekolah.
berhasil dalam kehidupannya c. Melakukan komunikasi dengan masyarakat
d. Open house secara terus menerus, agar harapan dan
Lembaga pendidikan secara terbuka bersedia kebutuhan ma-syarakat dan sekolah dapat
untuk diobservasi oleh masyarakat. sejalan
Masyarakat dapat melihat secara langsung d. Pada saat yang tepat pihak sekolah
proses dan sarana di lembaga pendidikan. malibatkan masyarakat sekitar untuk
Agar masyarakat mengetahui apa dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.
bagaimana penyelengaraan pendi-dikan di Misalnya kegiatan olah-raga, kesenian, dan
lembaga tersebut. sebagainya.
e. Pemberian kesempatan kepada masyarakat.
Masyarakat dapat dengan suka rela Prinsip-Prinsip Peningkatan Keter-libatan
membantu kegiatan di lembaga pendidikan Masyarakat Dalam Mana-jemen Pendidikan
f. Pengiriman pembaca Prinsip ini menitikberatkan pada lembaga
Anggota staf di lembaga pen-didikan yang pendidikan yang mampu berkomunikasi secara
berminat diberi ke-sempatan untuk aktif dengan masyarakat. Dan prinsip yang harus
mempromosikan program dan prestasi diterapkan, yaitu:
lembaga pen-didikan ke masyarakat a. Fleksibilitas. Lembaga pendidikan hendaknya
pengguna lulusan atau calon siswa mempunyai program yang cukup lentur dan
g. Masyarakat sebagai sumber infor-masi beradaptasi secara terus menerus dengan per-
Pihak lembaga pendidikan mena-nyakan ubahan-perubahan layanan lembaga lain di
kepada masyarakat tentang isu-isu yang masyarakat. Perkembangan tuntutan
hangat dan di buat rekomendasinya untuk masyarakat, pengetahuan, tekhnologi, yang
pengem-bangan lembaga begitu cepat perlu diikuti dengan program
h. Diskusi panel yang relevan.

95
Sodiah: Manajemen Lembaga Pendidikan Islam....

b. Relevansi. Peran dan fungsi lem-baga peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga
pendidikan ditentukan sesuai dengan kondisi sekolah dapat mengoptimalkan pe-manfaatan
masyarakat yang menjadi latar belakang sumber daya yang tersedia untuk memajukan
peserta didik. Karena anak setelah seko-lahnya. Kedua, sekolah lebih
menyelesaikan studi akan kembali ke mengetahuikebutuhannya. Ketiga, keterlibatan
masyarakat sebagai pengguna lulusan suatu warga sekolah dan masyarakat dalam
lembaga pendidikan. pengambilan keputusan dapat menciptakan
c. Partisipasi. Lembaga pendidikan bersama transparansi dan demokrasi yang
masyarakat hendaknya mengembangkan sehat(Nurkholis, 206, p.21).
program kegiatan dan layanan guna Menurut Nanang Fatah tujuan penerapan
memperluas, memperbaharui, memadukan MBS memberi leluasa pada pihak pengelola
peng-alaman berbagai kelompok umur pada pendidikan yang seharusnya dilakukandi se-
semua tingkatan. Lembaga harus kolah masing-masing bahkan dalam mengambil
memperhatikan kebutuhan masyarakat ini. keputusan pengelola pendidikan tidak harus
d. Komprehensi. Lembaga pendidikan harus menunggu dari pemerintah. Manajemen ber-
menghubungkan dirinya de-ngan masyarakat basis Sekolah mengubah sistem pengambilan
yang lebih luas, intern bangsa maupun secara keputusan dengan me-mindahkan otoritas dalam
internasional. peng-ambilan keputusan dan manajemen ke
e. Melembaga. Layanan efektif dalam setiap yang berkepentingan di tingkat local
masyarakat pada setiap warga negara hanya (Fatah, 2006, p.23).
dapat dicapai melalui organisasi, terutama Dengan demikian sekolah memiliki
organisasi pendidikan yang dikelola secara kemandirian lebih besar dalam mengelola
baik. sekolahnya (me-netapkan sasaran peningkatan
mutu, menyusun rencana pening-katan mutu,
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH melaksanakan rencana peningkatan mutu, dan
melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan
Konsep Manajemen Berbasis Sekolah
mutu), memiliki fleksibilitas pengelolaan sumber
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau daya sekolah, dan memiliki partisipasi yang lebih
“school-based management” merupakan besar dari kelompok-kelompok yang
paradigma baru pendidikan, yang memberikan berkepentingan dengan Pendidikan Nasional ada
otonomi luas pada tingkat sekolah dalam beberapa alasan yang mendasari penerapan
kerangka kebijakan pendidikan nasional. Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu:
Menurut Edmond dalam Suryosubroto, a. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar
manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah kepada sekolah, maka sekolah akan lebih
(MBS) merupakan alternatif baru dalam inisiatif/kreatif dalam meningkatkan mutu
pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan sekolah.
kepada keman-dirian dan kreatifitas sekolah. b. Dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-
Konsep ini diperkenalkan oleh teori efective keluwesan yang lebih besar kepada sekolah
school yang lebih mem-fokuskan diri pada untuk mengelola sumber dayanya, maka
perbaikan proses pendidikan(Suryosubroto, sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam
2010, p.208). mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya
MBS merupakan paradigma baru pendidikan seko-lah secara optimal untuk meningkatkan
yang memberikan otonomi luas pada tingkat mutu sekolah.
sekolah dengan melibatkan masyarakat dalam c. Sekolah lebih mengetahui keku-atan,
kerangka kebijakan nasional. MBS merupakan kelemahan, peluang, dan ancaman bagi
wujud dari reformasi pendidikan yang mena- dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan
warkan kepada sekolah untuk menyediakan pe-manfaatan sumberdaya yang tersedia
pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi untuk memajukan sekolahnya.
para siswa.(Nurkholis, 206, p.21) d. Sekolah lebih mengetahui kebu-tuhan
Alasan penerapan MBS yaitu Pertama, lembaganya, khususnya input pendidikan
sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, yang akan dikembangkan dan didayaguna-kan

96
Sosial Budaya Vol. 13, No. 1, Juni 2016, pp. 89 - 100

dalam proses pendidikan sesuai dengan tumpang tindih. MBS menuntut kesiapan
tingkat perkem-bangan dan kebutuhan pengelola pendidikan berbagai jenjang untuk
peserta didik. melakukan perannya sesuai dengan kewajiban,
e. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kewenangan, dan tanggung jawabnya.
sekolah lebih cocok untuk memenuhi MBS akan efektif diterapkan jika para
kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah pengelola pendidikan mampu melibatkan
yang paling tahu apa yang terbaik bagi stakeholders terutama pe-ningkatan peran serta
sekolahnya. masyarakat dalam menentukan kewenangan
f. Penggunaan sumberdaya pendi-dikan lebih peng-administrasian, dan inovasi kurikulum yang
efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh dilakukan oleh masing-masing sekolah. Melalui
masya-rakat setempat. komite/dewan sekolah (school council), orang
g. Keterlibatan semua warga sekolah dan tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam
masyarakat dalam pengam-bilan keputusan pembuatan berbagai keputusan. Dengan
sekolah mencip-takan transparansi dan demikian, masyarakat dapat lebih memahami,
demokrasi yang sehat. serta mengawasi dan membantu sekolah dalam
h. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang pengelolaan termasuk kegiatan belajar-mengajar
mutu pendidikan masing-masing kepada (Mulyasa, 2009, p.27).
pemerintah, orang-tua peserta didik, dan Ciri-ciri implementasi MBS di sekolah dilihat
masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan dari berbagai aspek, yaitu:
berupaya semaksimal mungkin untuk a. Aspek organisasi: sekolah menyu-sun rencana
melaksanakan dan men-capai sasaran mutu pengembangan sekolah dan dapat
pendidikan yang telah direncanakan. menggerakkan partisipasi masyarakat dalam
i. Sekolah dapat melakukan persa-ingan yang meningkatkan mutu pendidikan.
sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk b. Pembelajaran: meningkatkan kua-litas belajar
meningkatkan mutu pendidikan melalui siswa, menyeleng-garakan pembelajaran yang
upaya-upaya inovatif dengan dukungan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
orangtua peserta didik, masya-rakat, dan c. Sumber daya manusia: member-dayakan staf
pemerintah daerah setempat. dan menempatkan personil yang dapat
j. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi melayani keperluan siswa, menyediakan
masyarakat dan lingkungan yang berubah kegiatan untuk pengembangan profesi staf
dengan cepat (Mulyasa, 2009, p.13).
(http//www.pdfsearch.com/MBS).
Menurut Mulyasa strategi dalam
Faktor-faktor pendukung keber-hasilan pengimplementasian MBS, yakni:
implementasi MBS ialah: a. Perlu dilakukan pengelompokan sekolah
a. Adanya political will dari pengambil berdasarkan kemampuan manajemen, dengan
kebijakan yang dapat dijadikan dasar hukum mempertim-bangkan kondisi lokasi dan
bagi sekolah kualitas sekolah. Dalam hal ini sedikitnya
b. Finansial atau keuangan yang memadai akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik,
c. Sumber daya manusia yang tersedia sedang, dan kurang, yang tersebar di lokasi-
d. Budaya sekolah lokasi maju, sedang, dan ketinggalan.
e. Kepemimpinan Perbedaan kemampuan manajemen, mengha-
f. Keorganisasian sekolah. ruskan perlakuan yang berbeda ter-hadap
setiap sekolah sesuai dengan tingkat
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah kemampuan masing-masing dalam menyerap
paradigma baru yang ditawarkan MBS;
Untuk merealisasikan MBS diper-lukan
b. Pentahapan implementasi MBS melalui tiga
dukungan tenaga kerja yang terampil dan
tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama
berkulitas untuk mem-bangkitkan motivasi kerja
sampai de-ngan tahun ketiga), jangka
yang lebih produktif dan memberdayakan
menengah (tahun keempat sampai dengan
otoritas daerah setempat, serta mengefisienkan
sistem dan menghilangkan birokrasi yang

97
Sodiah: Manajemen Lembaga Pendidikan Islam....

tahun keenam), dan jangka panjang (setelah yang rumit dan partisipatif ini. Mereka
tahun keenam) kemungkinan besar tidak memiliki
c. Implementasi MBS memerlukan seperangkat pengetahuan dan keterampilan tentang
peraturan dan pedo-man-pedoman hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara
(guidelines) umum yang dapat dipakai sebagai kerjanya, peng-ambilan keputusan,
pedo-man dalam perencanaan, mo-nitoring komunikasi, dan sebagainya.
dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. e. Kebingungan atas peran dan tanggung jawab
Perangkat imple-mentasi ini perlu baru
diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan- Pihak-pihak yang terlibat ke-mungkinan besar
pelatihan yang diselenggarakan sejak telah sangat terkondisi dengan iklim kerja
pelaksanaan jangka pendek.(Mulyasa, 2009, yang selama ini mereka geluti. Pene-rapan
p.13) MBS mengubah peran dan tanggung jawab
pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan
Beberapa hambatan dalam penerapan MBS yang mendadak akan menimbulkan kejutan
(http://diny24.wordpress.com)adalah sebagai dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk
berikut: memikul tanggung jawab pengambilan
a. Tidak berminat untuk terlibat keputusan.
Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam f. Kesulitan koordinasi
kegiatan yang menurut mereka hanya Setiap penerapan model yang rumit dan
menambah beban. Anggota dewan sekolah mencakup kegiatan yang beragam
harus lebih banyak menggunakan waktunya mengharuskan adanya koordinasi yang efektif
dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam
dan anggaran. Akibatnya kepala seko-lah dan akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-
guru tidak memiliki banyak waktu yang masing yang kemungkinan besar sama sekali
tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain menjauh dari tujuan sekolah.
dari pekerjaan mereka. g. Kurangnya pendidikan dan pela-tihan tentang
b. Tidak efisien MBS, Sumber Daya Manusia yang kurang
Pengambilan keputusan yang dilakukan maksimal, partisipasi, transparansi dan
secara partisipatif ada-kalanya menimbulkan akuntabilitas.
frustrasi dan seringkali lebih lamban diban-
dingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para Beberapa faktor keberhasilan MBS
anggota dewan sekolah harus dapat bekerja diantaranya adalah:
sama dan memusatkan perhatian pada tugas, a. Adanya pemerataan pendidikan (berupa
bukan pada hal lain di luar itu. kesamaan kesempatan antara siswa desa-kota,
c. Pikiran kelompok kaya mis-kin, laki-perempuan, cacat-tidak
Setelah beberapa saat bersama, para anggota cacat).
dewan sekolah kemungkinan besar akan b. Kualitas pendidikan (input, pro-ses, output).
semakin kohesif. Di satu sisi hal ini c. Efektivitas dan efisiensi pendi-dikan (angka
berdampak positif karena mereka akan saling kenaikan kelas, angka kelulusan, angka putus
mendukung satu sama lain. Di sisi lain, sekolah).
kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu d. Tata pengelolaan sekolah yang baik (melalui
kom-promis hanya karena tidak merasa enak partisipasi, trans-paransi, tanggung jawab,
berlainan pendapat dengan anggota lainnya. akun-tabilitas, wawasan ke depan, penegakan
Pada saat inilah dewan sekolah mulai hukum, keadilan, demikrasi, prediktif,
terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya kepekaan, profesionalisme, efektivitas dan
karena keputusan yang diambil kemungkinan efisiensi, serta kepastian jaminan hukum
besar tidak lagi realistis. (Depdiknas, 2007, p.59).
d. Memerlukan pelatihan
Pihak-pihak yang berkepen-tingan Pihak sekolah berupaya mengop-timalkan
kemungkinan besar sama sekali tidak atau informasi, kebijakan mening-katkan sumber
belum berpeng-alaman menerapkan model daya manusia, peng-ambilan keputusan diadakan

98
Sosial Budaya Vol. 13, No. 1, Juni 2016, pp. 89 - 100

musya-warah dan menampung aspirasi warga DAFTAR PUSTAKA


sekolah tentang perencanaan kegiatan yang akan Asep Herry Hermawan, dkk. Pengembangan
dilakukan. Pengalaman penerapannya di tempat Kurikulum dan Pembelajaran, cet.9. Jakarta:
lain menun-jukkan bahwa daerah yang paling Univ.terbuka. 2008.
berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan
harapan mereka pada dua maslahat: Depdiknas. Manajemen Berbasis Sekolah.
meningkatkan keter-libatan dalam pengambilan Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan
keputusan dan menghasilkan keputusan lebih Menengah. 2007.
baik. Didin Hafidudin dan Hendri Tanjung.
Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta:
PENUTUP Gema Insani. 2003.
Keterlibatan masyarakat dalam manajemen E. Mulyasa. Manajemen & Kepemimpinan
lembaga pendidikan Islam merupakan upaya Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. 2013.
pemberdayaan masya-rakat, yang berarti
mengikut sertakan masyarakat dalam _______ Manajemen Berbasis Sekolah.
perencanaan, pelak-sanaan dan pengawasan. Bandung: Rosda Karya. 2009.
Masyarakat perlu membantu penyelenggaraan _______ Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep,
pendidikan agar permasalahan dilapangan dapat Strategi, dan Implementasi. Bandung: PT
diatasi dan pelaksanaan proses berjalan lancar Remaja Rosdakarya. 2002.
sehingga kualitas pendidikan dapat meningkat.
Pengelola pendidikan perlu melibatkan semua Hikmat. Manajemen Pendidikan. Bandung:
unsur yang ada di sekolah dan masyarakat Pustaka Setia. 2009.
termasuk perusahaan, lembaga agama, dan Imron Fauzi. Manajemen Pendidikan Ala
lainnya. Masyarakat memiliki otoritas dalam Rasulullah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012.
mengambil keputusan dan menentukan tujuan
James H. Lytle. Working for Kids “Educational
lembaga pendidikan Islam melalui kerja sama
Leadership as Inquiry and Invention”,
yang baik.
(United Kingdom: Rowman & Littlefield
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada
Education. 2010.
hakikatnya adalah penyerasian sumberdaya yang
dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan M. Rohman dan Sofan Amri. Manajemen
melibatkan semua kelompok kepentingan Pendidikan: Analisis Dan Solusi Terhadap
(stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara Kinerja Manajemen Kelas Dan Strategi
langsung dalam proses pengambilan keputusan Pengajaran Yang Efektif. Jakarta: Prestasi
untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu Pustakaraya. 2012.
sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan Mukhtar dan Iskandar. Orientasi Baru Supervisi
nasional.
Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Tujuan penerapan manajemen berbasis 2009.
sekolah pada lembaga pendidikan Islam secara
umum adalah untuk meman-dirikan atau Nanang Fatah. Konsep Manajemen berbasis
memberdayakan sekolah melalui pemberian Sekolah dan Dewan Sekolah. Bandung:
kewenangan (otonomi) kepada sekolah, Pustaka Bani Quraisy. 2006.
pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah Teori,
sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, Model dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia
dan mendorong partisipasi warga sekolah dan Widiasarana Indonesia. 2006.
masyarakat untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Project Management Institute. A Guide to The
Project Management Body of Knowledge.
USA: ANSI. 2008.
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Kalam Mulia. 2010.

99
Sodiah: Manajemen Lembaga Pendidikan Islam....

Sadili Samsudin. Manajemen Sumber Daya Veithzal Rivai Zainal dkk. Islamic Management
Manusia. Bandung: Pustaka Setia. 2010. “Meraih sukses melalui Praktis Manajemen
Gaya Rasulullah secara Istiqomah.
Suryosubroto. Manajemen Pendidikan Di
Yogyakarta: BPFE. 2013.
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
Zubaedi. Pendidikan Berbasis Masyarakat.
Tim Pakar Manajemen Pendidikan UNM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007.
Manajemen Pendidikan: Analisis Substantif
Dan Aplikasinya Dalam Institusi Pendidikan. http//www.pdfsearch.com/MBS
Malang: UNM. 2003. http://diny24.wordpress.com
Wahjosumidjo. Kepemimpinan Kepala Sekolah
(Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya.
Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008.

100