Anda di halaman 1dari 15

RANGKUMAN MATERI

PEROLEHAN DAN PELEPASAN ASET TETAP

Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Akuntansi Keuangan

Nama : Muhammad Iqbal

JURUSAN MAGISTER AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM

2018
A. ASET TETAP
Istilah aset yang umum digunakan adlah aset tetap (fixed aset). Aset tetap
didefinisikan sebagai aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam
kegiatan produksi atau penyediaan barang dan jasa, untuk disewakan kepada
orang lain, atau untuk tujuan administratif; aset-aset tersebut diharapkan
dapat digunakan selama lebih dari satu periode. (1). Aset termasuk tanah,
struktur bangunan (kantor, pabrik, gedung), dan peralatan (mesin, ferniture,
dan alat). Karakteristik utama dari aset tetap adalah sebagai berikut :
1. Aset-aset tersebut diperoleh untuk dipergunakan dalam operasi dan tidak
untuk dijual kembali.
2. Aset-aset tersebut bersifat jangka panjang dan biasanya disusutkan
3. Aset-aset tersebut memiliki substansi fisik
B. PEROLEHAN ASET TETAP
Sebagian besar perusahaan menggunakan biaya historis sebagai dasar untuk
menilai aset tetap. Biaya historis mengukur harga kas atau setara kas yang
dikeluarkan untuk memperoleh aset dan membawanya ke lokasi dan
mempersiapkan kondisi yang diperlukan untuk digunakan. Perusahaan
mengakui aset tetap ketika biaya perolehan aset dapat diukur secara andal
dan besar kemungkinan bahwa perusahaan akan mendapatkan manfaat
ekonomik masa depan. Secara umum perusahaan melaporkan biaya-biaya
berikut sebagai aset tetap :
1. Harga pembelian, termasuk bea impor, pajak pembelian non refundable,
diskon perdagangan dan rabat
2. Biaya yang timbul untuk membawa aset ke lokasi dan mempersiapkan
kondisi yang diperlukan untuk dipergunakan dengan cara yang
dimaksudkan oleh perusahaan.
1. Biaya Perolehan Tanah
Semua pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh tanah dan
mempersiapkannya untuk penggunaan dianggap sebagai bagian dari
biaya perolehan tanah. Ketika suatu perusahaan membeli tanah untuk
membangun toko baru, biaya perolehan tanah biasanya mencakup
a. Harga pembelian
b. Biaya legal
c. Biaya yang dikeluarkan dalam mengolah tanah
d. Hak gadai, hipotek, atau kasus sitaan atas properti
e. Peningkatan lahan tambahan
2. Biaya perolehan bangunan
Biaya perolehan bangunan meliputi :
a. Bahan baku, tenaga kerja, overhead
b. Biaya jasa profesional dan ijin bangunan
3. Biaya perolehan peralatan
Istilah peralatan dalam akuntansi termasuk peralatan transportasi,
peralatan kantor, mesin, perabot, perlengkapan, peralatan pabrik, dan
aset tetap sejenis. Biaya perolehan tersebut meliputi harga pembelian,
biaya pembelian, penanganan yang terjadi, asuransi atas perlatan saat
oengiriman, biaya pondasi husus jika diperlukan, biaya perakitan dan
pemasangan, dan biaya pengujian perlatan.
C. ASET DIBANGUN SENDIRI
Perusahaan dapat menangani overhead dengan salah satu dari dua cara
berikut :
1. Tidak boleh menetapkan overhead tetap ke biaya perolehan aset yang
dibangun
2. Menetapkan seluruh dari overhead ke proses kontruksi

D. BIAYA BUNGA SELAMA KONSTRUKSI


1. Tidak mengapitaliasi biaya bunga selama konstruksi
2. Memasukan dalam konstruksi dengan segala biaya atas dana yang dapat
digunakan, baik dapat diidentifikasi maupun tidak dapat diidentifikasi
3. Kapitalisasi hanya biaya bunga selama konstruksi

Untuk menerapkan pendekatan umum ini, perusahaan mempertimbangkan


tigak hal berikut :
1. Aset kualifikasian
2. Periode kapitalisasi
3. Jumlah yang dikapitalisasi
E. PENILAIAN ASET TETAP
1. Diskon tunai
Salah satu pendekatan menganggap diskon, baik diambil atau tidak,
sebagai biaya pengurangan biaya perolehan aset. Argumrn untuk
pendekatan ini adlah bahwa biaya riil dari aset adalah setara kas dari
aset. Selain itu beberapa pihak berpendapat bahwa termin diskon tunai
sangat menarik, sehingga kegagalan memanfaatkan diskon tersebut
mengindikasikan kesalahan atau inefisisensi manajemen.
2. Kontrak pembayaran Tangguhan
Perusshaan sering membeli aset tetap dengan kontrak kredit jangka
panjang dengan menggunakan wesel, hipotek, obligasi, atau kewajiban
perlatan. Untuk mencerminkan biaya perolehan dengan tepat,
perusahaan mencatat aset yang dibeli dengan kontrak kredit jangka
panjang pada nilai sekarang dari kompensasi yang dipertukarkan antara
kedua belah pihak pada tanggal transaksi
3. Pembelian Lumsum
Maslah khusus dalam penilaian aset tetap adlah ketika perusahaan
membeli sekelompok aset pada satu harga lumsum. Ketika situasi ini
terjadi perusahaan mengalokasikan total biaya antara berbagai aset atas
dasar nilai wajar relatif
4. Peneribitan saham
Ketika perusahaan mendapatkan peralatan dengan cara menerbitkan
saham,seperti saham biasa,nilai par atau yang ditetapkan dari saham
tersebut tidak bisa secara tepat mengukur biaya perolehan dari peralatan
itu. Jika penjualan saham itu aktif,harga pasar dari saham-saham yang
diterbitkan itu adalah biaya wajar dari peralatan yang diakui.Saham
merupakan suatu ukuran yang bagus dari kas ekuivalen harga kini.
Misalnya,Upgrade Living.Co memutuskan untuk membeli tanah yang
berlokasi didekatnya untuk mengembangkan operasi carpet dan
lemarinya. Dalam mengganti pembayaran kas dalam membeli tanah
itu,Perusahaan menerbitkan 5000 lembar saham biasa (nilai par $10)
kepada Deedland Company,dimana saham itu memiliki harga pasar $12
per lembar. Upgrade Living Co. Melakukan pembukuan sebagai berikut:

Land (5,000 X $12) 60,000

Share capital-ordinary 50,000

Share premium-ordinary 10,000

Jika perusahaan tidak bisa menentukan nilai wajar dari saham yang
dipertukarkan(berdasarkan harga pasar),Perusahaan harus mengestimasi
nilai wajar dari peralatan tersebut.Kemudian menggunakan nilai
peralatan itu sebagai dasar pencatatan aset dan penerbitan saham
tersebut.

5. Pertukaran Aktiva Non-Moneter


Akuntansi yang tepat untuk pertukaran aktiva non-moneter, seperti
property pabrik dan peralatan sangat controversial. Beberapa berpendapat
bahwa perusahaan harus mencatat pertukaran berdasarkan nilai wajar aktiva
yang diserahkan atau yang diterima, dengan pengakuan laba atau rugi.
Sementara yang lain percaya bahwa aktiva harus diperhitungkan berdasarkan
nilai tercatat (nilai buku) aktiva yang diserahkan, dengan tidak mengakui laba
atau rugi. Dan yang lain masih mendukung pendekatan pengakuan kerugian
dan menangguhkan keuntungan.
Pada umumnya, perusahaan mencatat pertukaran aktiva berdasarkan nilai
wajar aktiva yang diterima atau diberikan, yang lebih jelas(6). Sehingga,
perusahaan sebaiknya mengakui laba atau rugi secara langsung dari
pertukaran aktiva tersebut. Alasan untuk mengakui secara langsung adalah
karena setiap transaksi memberikan Subtansi komersial dan karena itu rugi
dan laba harus diakui.
1. Pengertian Subtansi Komersial
Pertukaran memberikan subtansi komersial apabila dapat
mempengaruhi cash flow di masa depan sebagai efek dari transaksi
tersebut. Dengan kata lain, apabila dua pihak mengalami perubahan
keadaan ekonomi, maka transaksi tersebut memberikan subtansi
komersial.
2. Pertukaran – keadaan jika rugi
Ketika perusahaan menukarkan aset non-moneter dan
menghasilkan kerugian, perusahaan mengakui kerugian dengan segera.
Alasan : perusahaan seharusnya tidak menilai aset pada harga yang
melebihi ekivalen kasnya; jika kerugian ditangguhkan, aset akan
overstated. Oleh karena itu, perusahaan mengakui kerugian dengan
segera apakah pertukaran itu memiliki substansi komersial atau tidak.
3. Pertukaran situasi untung
a) Mempunyai substansi komersial. Sekarang, pertimbangkan
situasi dimana pertukaran aset non moneter mempunyai
substansi komersial dan menghasilkan keuntungan. Dalam hal
ini, perusahaan biasanya mencatat harga aset non moneter
untuk ditukarkan dengan aset non moneter lainnya pada nilai
wajar aset yang dilepas. Dan segera mengakui keuntungan.
b) Tidak mempunyai substansi komersial. Kita sekarang
mengasumsikan bahwa pertukaran yang dilakukan Interstate
Transportation Company tidak mempunyai substansi
komersial. Sehingga posisi ekonomi Interstate tidak berubah
secara signifikan akibat pertukaran tersebut. dalam hal ini,
Interstate menangguhkan keuntungan sebesar $7,000 dan
mengurangi basis semi truk.

6. Hibah Pemerintah (Government Grant)


Banyak perusahaan yang menerima hibah pemerintah. Hibah Pemerintah
adalah bantuan yang diterima dari pemerintah berupa penyerahan sumber
daya untuk perusahaan sebagai imbalan untuk pemenuhan masa lalu atau
masa depan dengan kondisi tertentu yang berkaitan dengan kegiatan operasi
perusahaan.
Dengan kata lain, hibah pemerintah sering merupakan beberapa jenis aset
(seperti uang tunai, surat berharga, aset, dan peralatan; atau penggunaan
fasilitas) yang disediakan sebagai subsidi untuk perusahaan. Hibah
pemerintah juga terjadi ketika hutang dimaafkan atau pinjaman yang
diberikan kepada perusahaan dengan suku bunga di bawah pasar. Isu-isu
akuntansi utama mengenai hibah pemerintah adalah untuk menentukan
metode yang tepat dalam pencatatan transfer tersebut pada buku perusahaan
dan bagaimana harus menyajikannya dalam laporan keuangan.

1. Pendekatan Akuntansi
Ketika perusahaan memperoleh aset seperti properti, pabrik, dan
peralatan melalui hibah pemerintah, konsep biaya ketat menyatakan bahwa
penilaian aset harus nol. Namun, berangkat dari prinsip biaya tampaknya
dibenarkan karena biaya yang dikeluarkan (biaya lainnya dan pengeluaran
kecil yang relatif) bukan dasar akuntansi yang memadai untuk aset yang
diperoleh. Untuk merecord ketiadaan adalah dengan mengabaikan realitas
ekonomi dari peningkatan kekayaan dan aset. Oleh karena itu, sebagian
besar perusahaan menggunakan nilai wajar aktiva untuk menetapkan
nilainya dalam pembukuan.
Lalu apa akuntansi yang tepat untuk kredit yang berkaitan dengan
hibah pemerintah ketika nilai wajar aktiva yang digunakan? Ada dua
pendekatan yang disarankan, yaitu pendekatan modal/ekuitas
(capital/equity approach) dan pendekatan pendapatan (income approach).
Para pendukung pendekatan ekuitas percaya bahwa kredit harus pergi
langsung ke ekuitas karena seringkali tidak ada pembayaran kembali hibah
yang diharapkan. Selain itu, hibah tersebut merupakan insentif oleh
pemerintah - mereka tidak diperoleh sebagai bagian dari operasi normal
dan seharusnya tidak mengurangi biaya operasi pada laporan laba rugi.

2. Pendekatan Pendapatan
IFRS memakai pendekatan pendapatan dan menunjukkan bahwa
aturan umum adalah hibah harus diakui dalam pendapatan secara
sistematis yang cocok dengan biaya terkait yang mereka dimaksudkan
untuk kompensasi. Hal ini dicapai dalam salah satu dari dua cara untuk
aset seperti property, plant and equipment:

a. Mencatat hibah sebagai pendapatan hibah ditangguhkan, yang diakui sebagai


pendapatan secara sistematis selama masa manfaat suatu aset, atau
b. Dikurangi hibah dari nilai tercatat aktiva yang diterima dari hibah, dalam

kasus hibah diakui sebagai pendapatan yang mengurangi beban penyusutan

Untuk menggambarkan penerapan pendekatan pendapatan, pertimbangkan


tiga contoh berikut :
contoh 1 : contoh hibah peralatan laboratorium. AG. Company menerima subsidi
sebesar €500.000 dari pemerintan untuk membeli peralatan laboratorium pada
tanggal 2 januari 2011. Biaya perolehan laboratorium adalah €2.000.000,
memiliki umur manfaat lima tahun, dan disusutkan secara garis lurus.

Seperti yang ditunjukan, AG dapat mencatat hibah ini dengan salah satu dari dua
cara : (1). Mengkreditkan pendapatan hibah tangguhan atas subsidi tersebut dan
mangamortisasi pendapatan hibah tangguhan selama periode lima tahun. (2).
Mengkreditkan peralatan laboratorium atas subsidi dan menyusutkan jumlah ini
selama periode lima tahun.

Jika AG memilih untuk mencatat pendapatan tangguhan sebesar $500.000, maka


perusahaan mengamortisasi jumlah ini selama periode lima tahun menjadi
pendapatan ($100.000 pertahun). Pengaruh laporan keuangan pada tanggal 31
Desember 2011 ditunjukan dalam ilistrasi 10-17.
Jika AG memilih untuk mengurangi biaya perolehan peralatan laboratorium, maka
AG melaporkan peralatan sebesar €1.500.000 (€2.000.000- €500.000) dan
menyusutkan jumlah ini selama periode lima tahun. Pengaruh terhadap laporan
keuangan pada tanggal 31 Desember 2011 ditunjukan dalam ilustrasi 10-18

Jumlah beban neto adalah sama untuk kedua situasi tersebut ($300.000), tetapi
penyajiannya dalam laporan keuangan berbeda.

Contoh 2 : Hibah atas kerugian masa lalu.

Pemerintah kota Plentiville memberikan hibah uang tunai sebesar $1.000.000


kepada maskapai untuk membayar kepada kreditor sehingga diharapkan dapat
melanjutkan pelayanan kepada pelanggan. Oleh karena itu hibah tersebut
diberikan untuk membayar sejumlah yang terutang kepada kreditor atas kerugian
masa lalu. Flyaway airlines harus mencatat pendapatan pada periode dimana hibah
tersebut diterima. Jurnal untuk mencatat hibah ini adalah sebagai berikut :

Kas 1.000.000
Pendapatan hibah 1.000.000

Contoh 3. Hibah untuk biaya pinjaman. Kota puerto aloa memberiksn pinjaman
bebas bunga sebesar $10.000.000 yang dibayarkan pada akhir 10 tahun dari
sekarang. Asalkan TechSmart mau mengambil setidaknya 50% kariawannya dari
masyarakat lokal puerto aloa selama 10 tahun ke depan. Tingkat suku bunga
pinjaman inkremental techSmart adalah 8%. Oleh karena itu, nilai sekarang dari
utang pinjaman masa depan ($10.000.000) adalah $6.499.300
($10.000.000*0,64993). Jurnal untuk mencatat pinjaman adalah sebagai berikut :

Kas 6.499.300

Wesel Bayar 6.499.300

Selain itu dengan menggunakan pendapatan tangguhan, perusahaan mencatat


hibah sebagai berikut :

Kas 3.500.700

Wesel Bayar 3.500.700

TechSmart kemudian menggunakan suku bunga efektif untuk menentukan beban


bungan sebesar $519.944 (8%*$6.499.300) pada tahun pertama perusahaan juga
menurunkan pendapatan hibah tangguhan dan menaikan pendapatan hibah sebesar
$519.944. akibatnya beban neto yang terkait dengan pinjaman berjumlah nol
setiap tahunnya.

Biaya setelah perolehan

Setelah memasang aset tetap dan mempersiapkannya untuk digunakan,


berbagai biaya tambahan akan timbul yang berkisar dari perbaikan biasa sampai
penambahan yang signifikan. Dalam menentukan bagaimana biaya harus
dialokasikan setelah perolehan, perusahaan mengikuti kriteria yang sama yang
digunakan untuk menentukan biaya awal aste tetap. Artinya , perusahaan
mengakui biaya setelah perolehan sebagai aset bila biaya tersebut dapat diukur
secara andal dan besar kemungkinan bahwa perusahaan akan mendapatkan
manfaat ekonomik masa depan. Bukti daripada manfaat ekonomik masa depan
mencakup peningkatan : (1). Umur manfaat (2) kuantitas produk yang
dihasilkan(3) kualitas produk yang dihasilkan.

Umumnya perusahaan akan dikenakan empat jenis pengeluaran utama relatif


terhadap aset yang ada :

1. Penambahan
Menurut definisi, perusahaan mengapitalisasi setiap penambahan untuk
aaset tetap karena terdapat aset baru yang dibuat. Misalnya penambahan
bangunan selasar dirumah sakit atau sistem pendingin udara dikantor,
meningkatkan potensi pelayanan fasilitas tersebut.
2. Perbaikan dan penggantian
Perusahaan menggantikan salah satu aset dengan aset lain melalui
perbaikan dan penggantian. Perbaikan adalah sustitusi aset yang lebih baik
untuk menggantikan aset yang saat ini digunakan (misalnya lantai beton
menggantikan lantai kayu)
3. Pengaturan ulang dan reorganisasi
Perusahaan dapat dikenakan biaya pengaturan ulang dan biaya
reorganisasi atau beberapa asetnya. Pertanyaannya adalah apakah biaya
yang dikeluarkan dalam pengaturan ulang atau reorganisasi ini harus
dikapitalisasi atau di bebankan. IFRS menunjukan bahwa pengakuan biaya
berhenti setelah aset sudah berada dilokasi dan pada kondisi yang
diperlukan untuk memulai operasi sebagaimana yang dimaksudkan oleh
manajemen. Akibatnya biaya reorganisasi atau pengaturan ulang aset tetap
yang ada tidak dikapitalisasi, tapi dibebankan pada saat terjadinya.
4. Perbaikan kembali
a. Perbaikan biasa
Perusahaan melakukan perbaikan biasa (ordianry repairs) untuk
menjaga aset tetap agar dalam kondisi operasi. Perusahaan
membebankan biaya perbaikan biasa ke akun beban pada periode
terjadinya, atas dasar bahwa periode tersebut adalah periode utama
yang merasakan manfaatnya. Biaya pemeliharaan yang terjadi secara
rutin termasuk penggantian suku cadang minor, pelumasam dan
penyesuaian peralatan, pengecatan dan pembersihan. Perusahaan
memperlakukan biaya ini sebagai perbaikan biasa.
b. Perbaikan besar
Beberapa perusahaan, seperti maskapai ryanair (IRL) atau Lufthansa
(DEU) atau perusahaan pelayaran seperti A.P Moller-Maersk (DEN)
atau CMA CGM Group (FRA) memiliki biaya overhaul yang besar
yang terkait dengan pesawat terbang atau kapal yang dimilikinya.
Misalnya asumsikan Shipaway company baru saja membeli kapal baru
seharga $200 juta. Umur manfaat kapal ini adalah 20 tahun. Tetapi
setiap 4 tahun sekali perusahaan itu harus masuk galangan dan
dilakukan overhaul besar. Diperkirakan bahwa overhaul tersebut akan
memakan biaya $4 juta. Overhaul tersebut harus diperhitungkan
sebagai komponen terpisah dari biaya perolehan kapal (menggunakan
penyusutan komponen) dan disusutkan selama 4 tahun.

F. Pelepasan aset tetap


1. Penjualan aset tetap
Perusahaan mencatat penyusutan untuk periode waktu antara tanggal
dicatatan jurnal penyusutan terakhir dan tanggal penjualan aset. Untuk
ilustrasi diasumsikan bahwa barret Company mencatat penyusutan atas
mesin seharga $18.000 untuk sembilan tahun dengan tarif penyusutan
sebesar $7,000, maka barret mencatat penyusutan sampai tanggal berikut
:
Beban penyusutan ($1.200*1/2) 600
Akumulasi Penyusutan-Mesin 600
Jurnal untuk penjualan aset adalah sebagai berikut :
Kas 7000
Akumulasi penyusutan-mesin 11.400
[($1200*9) +$600]
Mesin 18.000
Keuntungan atas pelepasan mesin 400
Nilai buku mesin pada saat penjualan adalah $6.600 ($18.000-
$11.400). oleh karena mesin dijual seharga $7000. Jumlah keuntungan
dari penjualan ini adalah $400 ($7000-$6000)
2. Konversi Paksaan
Terkadang jasa ast diakhiri melalui beberapa jenis kejadian konversi
paksaan (involuntary converention) seperti kebakaran, banjir, pencurian,
atau mpenggusuran. Perusahaan melaporkan selisih antara jumlah
dipulihkan (misalnya, dari ganti rugi prnggusuran atau klaim asuransi),
jika ada, dan nilai buku aset sebagai keuntungan atau kerugian.
Perusahaan memperlakukan keuntungan atau kerugian tersebut pada jenis
pelepasan aset lainnya.
Untuk mwngilustrasikan, Camel transportation corp. Harus menjual
pabrik yang terletak pada property perusahaan yang berdiri langsung
dijalur jalan tol. Selam beberapa tahun, pemerintah telah berusaha
untuk membeli tanah tempat pabrik tersebut berdiri, tetapi perusahaan
terus menolak. Pemerintah akhirnya menggunkan haknya secara paksa,
yang kasusnya disetujui oleh pengadilan. Dalam penyelesasiannya,
Camel menerima ganti rugi sebesar $500.000, jumlah yang secara
substansial melebihi nilai buku pabrik dan tanah sebesar $200.000
(biaya perolehan $400.000 dikurangi akumulasi penyusutan $200.000).
Camel membuat jurnal sebagai berikut :
Kas 500.000
Akumulasi penyusutan-aset tetap 200.000
Aset tetap 400.000
Keuntungan atas pelepasasn aset tetap 300.000