Anda di halaman 1dari 27

Reni Pratiwi

G41113303

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu bagian dari siklus hidrologi adalah sungai. Sungai dan anak-anak
sungai tersebut berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air
yang berasal dari curah hujan serta sumber air lainnya. Sungai yang mengalirkan
air tawar dari hulu (sumber) ke hilir (muara) secara terus menerus memberi
manfaat bagi sekitarnya, baik untuk keperluan pertanian, dan bahan baku air
minum.
Wilayah suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang
melaluinya disebut daerah aliran sungai (DAS). Akhir-akhir ini, persoalan seperti
erosi, sedimentasi, longsor dan banjir pada DAS intensitasnya semakin
meningkat. Persoalan-persoalan tersebut merupakan bentuk respon negatif dari
komponen-komponen DAS terhadap kondisi curah hujan.
Debit (kecepatan aliran) dan sedimen merupakan komponen penting yang
berhubungan dengan permasalahan DAS seperti erosi, sedimentasi, banjir dan
longsor. Oleh harena itu, pengukuran debit dan sedimen harus dilakukan dalam
pemantauan DAS.
Kegiatan yang dilakukan dalam pengukuran debit adalah pembuatan profil
melintang sungai dan pengukuran kecepatan aliran. Profil melintang sungai atau
bentuk geometri saluran sungai berpengaruh terhadap besarnya kecepatan aliran
sungai, sehingga dalam perhitungan debit perlu dilakukan pembuatan profil
Kecepatan aliran sungai diperoleh dari rata-rata kecepatan aliran pada tiap
bagian penampang sungai tersebut. Idealnya, kecepatan aliran rata-rata diukur
dengan menggunakan 'current meter'. Alat ini dapat mengetahui kecepatan aliran
pada berbagai kedalaman penampang.
Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen. Kandungan sedimentasi
berpengaruh pada kecepatan aliran dan kedalaman sungai. Untuk menghitung
kandungan sedimentasi pada air sungai dan debit air, maka praktikum “Metode
Pengukuran Debit” dilakukan.
Reni Pratiwi
G41113303

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan percobaan ini adalah untuk mengukur debit air (jumlah air yang
mengalir dari suatu penampang tertentu persatuan waktu), serta menghitung
kandungan sedimentasi pada air sungai sehingga dapat menganalisis pengaruh
sedimentasi terhadap debit aliran.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu setiap mahasiswa mengerti dan
mengetahui cara-cara mengukur debit air menggunakan current meter.
Reni Pratiwi
G41113303

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DAS (Daerah Aliran Sungai)

DAS adalah daerah tertentu yang bentuk dan sifat alaminya sedemikian rupa
sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang
melaluinya. Sungai dan anak-anak sungai tersebut berfungsi untuk menampung,
menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan serta sumber air
lainnya. Penyimpanan dan pengaliran air dihimpun dan ditata berdasarkan hukum
alam di sekelilingnya sesuai dengan keseimbangan daerah tersebut. Proses
tersebut dikenal sebagai siklus hidrologi (Rahayu, et al., 2009).

Gambar 1. Siklus Hidrologi dalam Lanskap Daerah Aliran Sungai.


(Sumber: Rahayu, 2010)

Karakteristik fisik DAS merupakan variabel dasar yang menentukan proses


hidrologi pada DAS, sedangkan karakteristik sosial ekonomi dan budaya
masyarakat adalah variabel yang mempengaruhi percepatan perubahan
kondisi hidrologi DAS. Oleh karena itu, pemahaman mengenai karakteristik
fisik DAS, dalam hal ini terrain dan geomorfologi, pola pengaliran dan
penyimpanan air sementara pada DAS, dapat membantu mengidentifikasi daerah
yang memiliki kerentanan tinggi terhadap terjadinya persoalan DAS,
serta perancangan teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan kondisi
setempat. Komponen yang ada di dalam sistem DAS secara umum dapat
dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu komponen masukan yaitu curah hujan,
komponen output yaitu debit aliran dan polusi atau sedimen, dan komponen
proses yaitu manusia, vegetasi, tanah, iklim, dan topografi (Subekti, 2009).
Reni Pratiwi
G41113303

2.2 Debit

Pengertian debit adalah besaran yang menyatakan volume fluida yang


mengalir melalui suatu penampang tertentu dalam satuan waktu tertentu. Dalam
hidrologi dikemukakan, debit air sungai adalah tinggi permukaan air sungai
yang terukur oleh alat ukur pemukaan air sungai. Pengertian yang lain debit atau
aliran sungai adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu
penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI besarnya
debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/s) (Hidayat, 2010).
Q = V.t ………………………….(pers. 1)
Dimana: Q = debit aliran (m3/s)
V = volume (m2)
t = selang waktu (s)
Debit adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu
penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI besarnya
debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/dt). Data debit atau
aliran sungai merupakan informasi yang paling penting bagi pengelola
sumberdaya air. Debit puncak (banjir) diperlukan untuk merancang bangunan
pengendali banjir. Sementara data debit aliran kecil diperlukan untuk perencanaan
alokasi (pemanfaatan) air untuk berbagai macam keperluan, terutama pada
musim kemarau panjang. Debit aliran rata-rata tahunan dapat memberikan
gambaran potensi sumber daya air yang dapat dimanfaatkan dari suatu daerah
aliran sungai (Subekti, 2009).
Pengukuran debit di lapangan dapat dilakukan dengan membuat stasiun
pengamatan atau dengan mengukur debit di bangunan air seperti bendung dan
peluap. Pada pembuatan stasiun pengamatan debit, paramater yang diukur
adalah tampang lintang sungai, elevasi muka air, dan kecepatan aliran
Selanjutnya, debit aliran dihitung dengan mengalikan luas tampang dan kecepatan
aliran. Untuk mendapatkan hasil yang teliti, lebar sungai dibagi menjadi sejumlah
pias dan diukur kecepatan aliran (Triatmodjo, 2010).
Debit aliran sungai diberi notasi Q adalah jumlah air yang mengalir melalui
tampang lintang sungai tiap satu satuan waktu, yang biasanya dinyatakan dalam
m3/s. Debit sungai, dengan distribusinya dengan ruang dan waktu, merupakan
Reni Pratiwi
G41113303

informasi penting yang diperlukan dalam perencanaan bangunan air dan


pemanfaatan sumber daya air. Mengingat bahwa debit aliran sangat bervariasi dari
waktu ke waktu maka diperoleh data pengamatan debit dalam waktu yang
panjang. Debit aliran (Q) diperoleh dengan mengalikan luas tampang aliran (A)
dengan percepatan aliran (v). Kedua parameter tersebut dapat diukur pada suatu
tampang lintang (stasiun) di sungai. Luas tampang aliran diperoleh dengan
mengukur elevasi permukaan air dan dasar sungai. Kecepatan aliran diukur
dengan menggunakan alat ukur kecepatan current meter (Subekti, 2009).
Menurut Nababan (2012), faktor yang memengaruhi distribusi aliran
langsung dan limpasan permukaan adalah sebagai berikut:
1. Intensitas curah hujan, yang merupakan faktor paling penting yang
berpengaruh terhadap aliran langsung. Curah hujan besar akan melebihi
kapasistas infiltrasi permukaan tanah sehingga menghasilkan aliran
permukaan yang besar, sedang curah hujan dengan intensitas lebih kecil akan
lebih banyak diserap ke dalam tanah.
2. Lama hujan, bila lama hujan adalah sama atau lebih besar dari waktu
perjalanan rata-rata maka potensi kelbihan hujan adalah maksimum
sedangkan apabila lama hujan lebih kecil dari waktu perjalanan rata-rata
maka potensial kelebihan hujan adalah lebih kecil dari maksimum.
Maksimum karena seluruh daerah tangkapan curah hujan akan memberikan
kontribusi kepada aliran permukaan sebelum curah hujan berkurang.
3. Distribusi curah hujan, dengan volume curah hujan tertentu secara seragam
terdistribusi di seluruh DAS akan memunyai intensitas yang lebih rendah dan
kurang menghasilkan aliran permukaan daripada dengan volume curah hujan
yang sama jatuh di daerah yang kecil pada suatu lokasi tertentu dari DAS.

2.2.1 Profil Melintang Sungai

Pengukuran dilakukan perlahan untuk mendapatkan profil melintang sungai


yang dibutuhkan. Pengukuran penampang profil melintang sungai bertujuan untuk
mendapatkan luas area pada penampang sungai. Pengukuran ini dilakukan karena
sangat dibutuhkan pada pengolahan data dan termasuk salah satu parameter yang
dibutuhkan (Samitra, 2013).
Reni Pratiwi
G41113303

Pengukuran profil sungai bertujuan agar luas penampang sungai dapat


diketahui. Luas penampang sungai (A) merupakan penjumlahan seluruh bagian
penampang sungai yang diperoleh dari hasil perkalian antara interval jarak
horisontal dengan kedalaman air. Kecepatan aliran sungai pada satu penampang
saluran tidak sama. Kecepatan aliran sungai ditentukan oleh bentuk aliran,
geometri saluran dan faktor-faktor lainnya. Kecepatan aliran sungai diperoleh dari
rata-rata kecepatan aliran pada tiap bagian penampang sungai tersebut. semakin
dalam sungai, maka semakin besar kecepatan alirannya (Rahayu, et al., 2009).

2.2.2 Metode Pengukuran Debit Air

Distribusi kecepatan aliran di dalam alur tidak sama arah horisontal maupun
arah vertikal. Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama dengan
tengah alur, dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan
kecepatan pada dasar alur (Hidayat, 2010).

Gambar 2. Distribusi Kecepatan Aliran.


(Sumber: Hidayat, 2010)
Keterangan :
A : teoritis
B : dasar saluran kasar dan banyak tumbuhan
C : gangguan permukaan (sampah)
D : aliran cepat, aliran turbulen pada dasar
E : aliran lambat, dasar saluran halus
F : dasar saluran kasar/berbatu
Reni Pratiwi
G41113303

Kecepatan aliran dapat diukur dengan beberapa metode salah satunya


adalah metode current-meter. Current meter adalah alat untuk mengukur
kecepatan aliran (kecepatan arus). Prinsip pengukuran kecepatan dengan current
meter yaitu luas penampang basah ditetapkan berdasarkan pengukuran kedalaman
air dan lebar permukaan air. Kedalaman dapat diukur dengan mistar pengukur,
kabel atau tali (Hidayat, 2010).
Menurut Hidayat(2010), untuk menentukan menggunakan current meter
v = n.a + b ……………………(Pers. 2)
Dimana: v = kecepatan aliran
n = Jumlah putaran per detik
a dan b = konstanta yang diperoleh dari kaibrasi alat

Table 1. Pengukuran Kecepatan dan Kecepatan Rata-rata


Tipe Kedalaman Titik pengamatan dari Kecepatan rata-rata

Air (d) permukaan pada vertical

Satu titik 0,3 – 0,6 m 0,6 v=v

Dua titik 0,6 – 3 m 0,2 dan 0,8 d v = ½ (v2 + v8)

Tiga titik 3–6m 0,2 ; 0,6 dan 0,8 d v = ¼ (v2 + 2v6 + v8)

Lima titik >6 m s; 0,2 ; 0,6 ; 0,8 ; dan b v = 1/10

(vs+3v2 +2v6+3v8+vb)

Sumber: Rahayu, et al (2010).

Metode selanjutnya yang digunakan dalam pengukuran debit adalah metode


tidak langsung. Cara tidak langsung digunakan jika pengukuran secara langsung
tidak dapat dilakukan. Di dalam zat cair ideal, tidak terjadi gesekan, sehingga
kecepatan aliran (v) sama di setiap titik pada tampang lintang (Rahayu, 2009).

2.3 Sedimentasi

Sedimentasi yaitu proses pengendapan dari suatu material yang berasal dari
angin, erosi air, gelombang laut. Material yang dihasilkan dari erosi yang dibawa
oleh aliran dapat diendapkan di tempat lebih rendah. Selanjutnya jika sedimentasi
Reni Pratiwi
G41113303

terjadi, maka perubahan kedalaman (pendangkalan) juga akan terjadi yang


mengakibatkan kemungkinan terjadi banjir (Pangestu, 2008).
Menurut Supangat (2014), faktor yang menentukan laju sedimentasi DAS :
a. Jumlah dan intensitas hujan
b. Tipe tanah dan formasi geologi
c. Penutupan tanah dan penggunaan lahan, dan topografi
d. Kondisi drainase alami yang meliputi: bentuk, jaringan, kerapatan, gradien,
ukuran, dan run off
e. Karakteristik sedimen, seperti ukuran butir dan mineralogi; dan hidrolika
saluran (sungai)
Sedimen di sungai dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sedimen
melayang (suspended load) dan sedimen merayap (bed load). Pengukuran
sedimen melayang dapat dilakukan dengan mengambil contoh air sungai melalui
metode pengambilan langsung di permukaan (grab sample; untuk sungai yang
homogen) atau metode integrasi kedalaman (depth integrated; untuk sungai dalam
dan tidak homogen). Sedangkan sedimen merayap diambil dengan metode
perangkap (Rahayu, et al., 2009).
Aliran pada sungai, secara umum membawa sejumlah sedimen, baik
sedimen suspensi (suspended load) maupun sedimen dasar (bed load). Adanya
perubahan angkutan sedimen dasar (bed load) akan disertai dengan perubahan
konsentrasi sedimen suspensi. Konsentrasi sedimen suspensi (dan distribusi
kecepatan) diketahui berubah dari tengah ke arah tepi saluran. Adanya sedimen
suspensi dapat mempengaruhi bentuk distribusi kecepatan, yang akan
mempengaruhi besaran kecepatan gesek yang ditimbulkannya. Adanya bed load
yang diketahui mempengaruhi kandungan konsentrasi sedimen suspensi, dan juga
mempengaruhi bentuk distribusi kecepatan, diperkirakan juga mempengaruhi
besarnya kecepatan gesek (Kironoto, 2007).
Sedimen melayang akan dialirkan lebih jauh dibandingkan dengan sedimen
merayap. Disamping itu sedimen melayang biasanya juga mengadung partikel-
partikel lain seperti zat hara atau bahan lain yang dapat mencemari air. Oleh
karena itu penetapan hasil sedimen melayang lebih sering dilakukan dibandingkan
sedimen merayap (Rahayu, et al., 2009).
Reni Pratiwi
G41113303

Menurut Rahayu, et al., (2009), untuk mengetahui berapa jumlah sedimen


melayang di sungai dapat dilakukan dengan cara:
1. Mengambil contoh air sungai dengan volume tertentu kemudian diendapkan
dan dikeringkan dalam oven.
2. Menimbang berat kering sedimen. Dari berat kering tersebut bisa diukur
konsentrasi sedimen dalam contoh air. Selanjutnya, dengan data debit dapat
diketahui hasil sedimen.
Peningkatan muatan sedimen di permukaan sungai mempengaruhi debit
suatu sungai. Penumpukan sedimen dalam jumlah besar di dasar sungai umumnya
menyebabkan debit sungai akan menurun. Namun permukaan tebing sungai yang
tidak rata (bergelombang) membuat debit sungai tetap konstan. Penumpukan
sedimen yang tinggi berpotensi mengurangi kapasitas tampung sungai terhadap air
hujan yang berintensitas besar terutama saat musim hujan (Maulana, et al., 2014).
Sifat debit pada sungai yang terbuka yaitu apabila semakin ke hilir aliran
airnya semakin kuat sehingga jumlah sedimen yang tersuspensi dalam aliran
sungai tersebut menjadi semakin besar terutama jika hujan turun pada bagian hulu
sungai dalam waktu yang cukup lama. Hujan yang terjadi pada daerah aliran
sungai akan menyebabkan daya angkut yang kuat untuk membawa muatan
suspensi yang banyak sampai ke muara dan mengikis material tanah yang
dilaluinya sehingga muatan suspensinya juga semakin banyak. Semakin cepat
aliran debit, jumlah sedimen yang tersuspensi dalam aliran debit sungai tersebut
menjadi semakin besar. Daerah aliran sungai yang mempunyai bentuk lahan
terbuka pada umumnya akan memberikan sumbangan suspensi yang relatif lebih
besar dari daerah aliran sungai yang terdiri atas lahan-lahan tertutup, misalnya
hutan (Aryanto, 2010).
Menurut Supangat (2014), perhitungan hasil sedimentasi meliputi:
a. Debit (Q) adalah volume air yang mengalir melalui suatu penampang
melintang sungai per satuan waktu, dalam satuan (m³/detik)
b. Konsentrasi sedimen (Cs) = kandungan sedimen
Konsentrasi sedimen (Cs) = (b-a) / vol. air ….(pers. 3)
a = berat gelas ukur / kertas saring kosong
b = berat gelas ukur / kertas saring isi
Reni Pratiwi
G41113303

c. Data Cs diperoleh dengan cara mengambil sampel/contoh air dan membawa


ke laboratoriun untuk dapat diketahui konsentrasi sedimen dalam satuan
mg/liter atau ppm.
d. Debit sedimen (Qs) adalah perkalian antara debit (Q, m3/dt) dengan
konsentrasi sedimen (CS, mg/l). Perhitungan debit suspensi (Qs).
1. Perhitungan debit suspensi sesaat/harian
Qsi = Csi x Qi ….… (pers. 5)
Qsi = debit sedimen setiap saat (m³/detik)
Qi = debit aliran (m³/detik)
Csi = kandungan sedimen
2. Perhitungan lengkung debit suspensi untuk beberapa sampel air yang
diambil pada berbagai variasi dan debit pada periode waktu tertentu
(musim atau tahunan).

2.4 Current Meter

Kecepatan aliran dapat diukur dengan beberapa metode salah satunya


adalah metode current meter. Current meter adalah alat untuk mengukur
kecepatan aliran (kecepatan arus).Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-
baling (propeler type) dan tipe canting (cup type) (Farista, 2009).
Current meter harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan
setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air. Selain itu, current meter
keakuratan harus sesuai dengan komponen kecepatan, tahan lama, mudah
dilakukan pemeliharaan, dan mudah digunakan dengan kondisi lingkungan yang
berbeda-beda. (Farista, 2009).
Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan
partikel air yang melewatinya.Jumlah putaran propeler per waktu pengukuran
dapat memberikan kecepatan arus yang sedang diukur apabila dikalikan dengan
rumus kalibrasi propeler tersebut. Jenis alat ini yang menggunakan sumbu
propeler sejajar dengan arah arus disebut ott-propeler curent meter dan yang
sumbunya tegak lurus terhadap arah arus disebut price-cup current meter.
Peralatan sumbu vertikal ini tidak peka terhadap arah aliran (Farista, 2009).
Reni Pratiwi
G41113303

Gambar 3. Bagian Current Meter.


(Sumber: Farista, 2009)
Reni Pratiwi
G41113303

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum pengukuran debit aliran pengambilan data di lakukan di sub DAS


sungai Tello, Makassar pada tanggal 9 April 2016 pukul 10.00-14.30 WITA.
Pengolahan sampel sedimentasi dilakukan pada 16 April 2016 pukul 16.30
WITA sampai selesai di Laboratarium Hidrologi, Jurusan Teknologi Pertanian,
Universitas Hasanuddin, Makassar.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengukuran debit aliran
yaitu meteran, patok, tali rafia, current meter, payung, botol 600 mL 4 buah,
mesin pengering/oven, timbangan elektronik ion scales EPS05, gelas ukur, tabung
ukur, kawat jaring, gunting serta laptop.
Bahan yang digunakan yaitu kertas saring, air, sampel sedimen,
alumininium foil, dan kertas label.

3.3. Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari praktikum pengukuran debit aliran adalah sebagai berikut:
3.3.1 Pengukuran Profil Penampang Sungai dan Kecepatan Aliran
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Membentangkan tali rafiah dan mengikat ujung tali dengan patok yang
telah di pasang di pinggir sungai.
c. Mengukur lebar sungai kemudian menetukan titik yang akan diukur.
d. Menentukan posisi tempat pengukuran dengan membagi sungai
menjadi lima segmen dengan jarak (lebar) yang sama.
e. Memberi tanda pada posisi pengukuran dengan menggunakan tali rafia.
f. Mengukur kedalaman sungai setiap segmen menggunakan meteran.
g. Menentukan titik pengukuran kecepatan dengan cara mengalikan hasil
ketinggian muka air sungai dengan 0,6.
h. Mengukur kecepatn aliran sungai pada setiap segmen pengukuran
menggunakan current meter dan mencatat nilai yang terbaca pada alat.
Reni Pratiwi
G41113303

i. Mengambil sampel sedimen melayang disetiap titik pengukuran dengan


menggunakan botol aqua tepat disamping alat current meter dan
pengambilan sampel tidak melawan arus sungai.
j. Mengulangi prosedur f-g untuk titik selanjutnya.
k. Melakukan perhitungan debit aliran berdasarkan data pengukuran.

3.3.2 Pengolahan Sampel Sedimen


a. Menggunting kertas saring dengan ukuran yang sama besar sebanyak 4
bagian.
b. Menimbang setiap kertas saring yang telah digunting dengan
menggunakan timbangan.
c. Membuat nampan dari aluminium foil dan kawat jaring dan
menimbangnya dengan menggunakan timbangan.
d. Mengocok sampel sedimentasi kemudian dituang kedalam gelas ukur
untuk mengetahui volume yang didapatkan dari setiap sampel.
e. Membagi setiap sampel sedimentasi yang telah diambil dilapangan
menjadi 6 (satuan volume) dengan menggunakan gelas ukur.
f. Menyaring setiap sampel sedimen dengan menggunakan kertas saring.
g. Memasukkan hasil saringan setiap sampel kedalam oven selama
beberapa menit yang disimpan diatas loyang aluminium foil dan kawat
jaring yang telah dibuat dan memeriksa sampel hingga kering.
h. Mengeluarkan sampel dari oven apabila sampel telah kering.
i. Mengukur berat yang dihasilkan dari hasil pengeringan setiap sampel
sedimentasi dengan menggukan timbangan.
j. Melakukan perhitungan debit sedimentasi disetiap titik berdasarkan
data pengukuran.
Reni Pratiwi
G41113303

3.4 Rumus yang Digunakan

3.4.1 Penentuan Debit


a. Metode Langsung
v1 + v2
Q= A
2

Keterangan:
Q = Debit Aliran (m3/s)
A = Luas Penampang (m2)
v = Kecepatan Aliran (m/s)
b. Metode Manning
Mencari kecepatan aliran terlebih dalu setelahnya menghitung debit
v = 1/n r2/3 S1/2
Q = A.v
Keterangan:
v = Kecepatan Aliran (m/s)
r = Jari-jari Hidrolik (m)
S = Slope (m)
Q = Debit Aliran (m3/s)
A = Luas Penampang (m2)

3.4.2 Penetuan Sedimen Melayang


Cs = (W2-W0)/L
Qs = Cs x Qtot
Keterangan:
Cs = Jumlah Sedimen (g/m3)
W0 = Berat Kertas Saring (g)
W = Berat Kertas Saring Basah (g)
W2 = Berat Kertas Saring Kering (g)
L = Jumlah Air (mL)
Qtot = Debit Total Sungai Melalui Metode Langsung dan
Manning (m3/s)
Qs = Debit Sedimen (m3/s)
Reni Pratiwi
G41113303

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Profil Melintang Sungai

Profil Melintang Sungai


Segmen Sungai
0 1 2 3 4 5 6 7
0
0.1
A B C D E
0.2
Kedalaman

0.3
0.4
0.5
0.6
0.7

Gambar 4. Profil Melintang Sungai

4.1.2 Sedimen Melayang


Tabel 2. Jumlah dan Debit Sedimen
Debit Sedimen (m3/s)
Jumlah Sedimen
Segmen Metode Metode
(g/m3)
Langsung Manning
B 0.00195 0.004095 0.002028
C 0.00292 0.006132 0.003037
D 0.00297 0.006237 0.003089
E 0.00096 0.002016 0.000998
Sumber: Data primer setelah diolah Hidrologi Teknik, 2016.

4.2 Pembahasan

Praktikum metode pengukuran debit dilakukan dengan menggunakan


metode current meter. Hal yang pertama kali dilakukan adalah membagi lebar
sungai menjadi lima segmen sehingga didapatkan profil melintang sungai. Profil
melintang sungai dibutuhkan karena bertujuan untuk mendapatkan bentuk
penampang sungai agar luas area pada profil sungai dapat diketahui. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Samitra (2013) bahwa pengukuran penampang profil
melintang sungai bertujuan untuk mendapatkan luas area pada penampang sungai.
Reni Pratiwi
G41113303

Setelah membagi lebar sungai menjadi lima segmen, kedalaman masing-


masing segmen diukur kemudian menempatkan current meter disetiap titik
pengamatan agar kecepatan aliran setiap titik terukur. Data yang diperoleh
menunjukkan semakin dalam kedalaman sungai, semakin cepat aliran debit. Hal
ini sesuai dengan pendapat Rahayu (2010), bahwa kecepatan aliran sungai
diperoleh dari rata-rata kecepatan aliran pada tiap bagian penampang sungai
tersebut, semakin dalam sungai, maka semakin besar kecepatan alirannya.
Pengukuran debit dapat dilakukan dengan metode pengukuran secara
lansung dan tidak langsung menggunakan rumus koefisien Manning. Tabel 2
menunjukkan adanya perbedaan antara pengkuran debit secara langsung dan
pengukuran debit secara tidak langsung. Perbedaan tersebut karena kecepatan
aliran pada sungai diasumsikan bahwa zat cairnya merupakan zat cair ideal
sehingga tidak terjadi gesekan, jadi kecepatan di setiap segmen diasumsikan sama.
Hal ini sesuai dengan Rahayu (2009), yang menyatakan bahwa cara tidak
langsung umumnya dipakai jika pengukuran secara langsung tidak dapat
dilakukan. Di dalam zat cair ideal, tidak terjadi gesekan, sehingga kecepatan
aliran (v) sama di setiap titik pada tampang lintang.
Aliran sungai membawa material sedimen. Tabel 2 menunjukkan semakin
cepat aliran, material sedimen yang terbawa semakin banyak. Hal ini sesuai
dengan Aryanto (2010), bahwa semakin besar volume aliran debit, jumlah
sedimen yang tersuspensi dalam aliran debit sungai tersebut menjadi semakin
besar.
Material sedimen berpengaruh terhadap kedalaman sungai. Berdasarkan
hasil pengukuran, semakin dalam kedalaman sungai, semakin sedikit kandungan
sedimen dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pangestu (2013),
bahwa jika sedimentasi terjadi, maka perubahan kedalaman (pendangkalan) juga
akan terjadi yang mengakibatkan kemungkinan terjadi banjir.
Reni Pratiwi
G41113303

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum pengukuran debit aliran, dapat disimpulkan


bahwa:
1. Pengukuran penampang profil melintang sungai bertujuan untuk mendapatkan
luas area pada penampang sungai.
2. Semakin dalam kedalaman sungai, semakin cepat kecepatan alirannya.
Sebaliknya, semakin dangkal sungai, kecepatan alirannya semakin berkurang.
3. Semakin besar volume aliran debit, jumlah sedimen yang tersuspensi dalam
aliran debit sungai tersebut menjadi semakin besar.
4. Perbedaan kecepatan berdasarkan metode langsung dan tidak langsung karena
kecepatan aliran pada metode tidak langsung diasumsikan bahwa zat cairnya
merupakan zat cair ideal sehingga tidak terjadi gesekan, jadi kecepatan di
setiap segmen diasumsikan sama.

5.2 Saran
Reni Pratiwi
G41113303

DAFTAR PUSTAKA

Farista, B., 2009. Oseanografi Fisika. http://website-dadang.blogspot.com/2009-


08-01-archive.html. Diakses pada tanggal 24 April 2016 pukul 20.00
WITA.

Aryanto, A.F. 2010. Pengaruh Perubahan Penutup Lahan terhadap Debit Aliran
Permukaan di Sub DAS Keduang Kabupaten Wonogiri. UNS: Surakarta.

Hidayat, A., 2010. Modul Perkuliahan Mekanika Fludia dan Hidrolika.


Universitas Mercubuana: Jakarta.

Kironoto, B. A., 2007. Pengaruh Angkutan Sedimen Dasar (Bed Load) terhadap
Distribusi Kecepatan Gesek Arah Transversal pada Aliran Seragam
Saluran Terbuka. Forum Teknik Sipil, XVII(2), pp. 566-579.

Maulana, R. A., Lubis, K. S. & Marbun, P., 2014. Uji Korelasi antara Debit
Aliran Sungai dan Konsentrasi Sedimen Melayang pada Muara Sub DAS
Padang di Kota Tebing Tinggi. Jurnal Online Agroekoteknologi, II(4), pp.
1518-1528.

Pangestu, H. & Haki, H., 2013. Ananlisis Angkutan Sedimen Total pada Sungai
Dawas Kabupaten Musi Banyuasin. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan,
I(1), pp. 103-109.

Rahayu, S. Rudy Harto Widodo, Meine van Noordwijk, Indra Suryadi dan Bruno
Verbist., 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. World
Agroforestry Center: Bogor.

Samitra, A., 2013. Pengaruh Aliran Terhadap Formasi Bed Load di Sungai
Cikapudung. Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung.

Subekti. 2009 . Monitoring Air Di Aliran Sungai. Tikah Atikah: Bogor.

Supangat, A. B., 2014. Perhitungan Sedimen. Balai Penelitian Teknologi


Kehutanan Pengelolaan DAS: Surakarta.

Trihatmojo, Bambang. 2010. Hidrologi Terapan. Beta Offset: Yogyakarta.


Reni Pratiwi
G41113303

Lampiran 1

A. Penampang Melintang Sungai

Profil Melintang Sungai


0 01 2 3 4 5 0
6 7
0
0.1 A B C D E
0.2
Kedalaman

0.3
0.4
0.56 0.55
0.5
0.65 0.62
0.6
0.7
Lebar Sungai (cm)

Gambar 5. Penampang Melintang Sungai

B. Tabel

Tabel 3. Data Lebar dan Kedalaman Sungai


Titik Lebar Sungai (cm) Kedalaman (cm)
1 134 0
2 134 55.9
3 134 65.2
4 134 62.2
5 134 55.1
6 134 0
Sumber : Data primer sebelum diolah, 2016.

Tabel 4. Data Titik Pengamatan dan Kecepatan Aliran Current Meter


Titik Pengamatan
Titik Kecepatan (m/s)
(cm)
1 0 0
2 33.5 0.4
3 39.1 0.5
4 37.3 0.6
5 33 0.5
6 0 0
Sumber : Data primer sebelum diolah, 2016.
Reni Pratiwi
G41113303

C. Pengukuran Debit

1. Luas Total 1.34 m

Segmen A
1 A
AA = ((2) x alas x tinggi) 0.559 m
1
= ( ) x 1.34 m x 0.559 m
2
= 0.374 m2
1.34 m
Segmen B
1
AB = (( ) x tinggi x (garis sejajar)) 0.559 m B 0.652 m
2
1
= (( ) x 1.34 x (0.559 + 0.652))
2
= 0.811 m2

Segmen C 1.34 m
1
AC = (( ) x tinggi x (garis sejajar))
2
0.652 m C 0.622 m
1
= (( ) x 1.34 x (0.652 + 0.622))
2
= 0.806 m2

Segmen D 1.34 m
1
AD = (( ) 𝑥 tinggi x (garis sejajar))
2
1 0.622 m D 0.551 m
= (( ) x 1.34 𝑥 (0.622 + 0.551))
2
= 0.786 m2

Segmen E 1.34 m
1
AE = ( ) x alas 𝑥 tinggi
2
1 E
= ( ) x 1.34 x 0.551 0.551 m
2
= 0.369 m2

Luas Total Penampang Sungai (𝐀 𝐭𝐨𝐭 )


𝐀 𝐭𝐨𝐭 = Segmen A + Segmen B + Segmen C + Segmen D + Segmen E
= 0.374 m2 + 0.811 m2 + 0.806 m2+ 0.786 m2+ 0.369 m2
= 3.147 m2
Reni Pratiwi
G41113303

2. Keliling Basah (P)


1.34 m
Segmen A

PA = √(1.342 + 0.5592 ) A
PA = √(1.7956 + 0.312481) 0.559 m

PA = √2.108081
PA = 1.45 m

Segmen B
PB = √(1.342 + (0.652 − 0.559)2 1.34 m
PB = √(1.7956 + 0.0932 )
0.559 m B 0.652 m
PB = √1.7956 + 0.008649
PB = √1.804249
PB = 1.34 m

Segmen C
PC = √(1.342 + (0.652 − 0.622)2
1.34 m
PC = √(1.7956 + 0.032 )
PC = √1.7956 + 0.0009 0.652 m C 0.622 m

PC = √1.7965
PC = 1.34 m

Segmen D
PD = √(1.342 + (0.622 − 0.551)2
1.34 m
PD = √(1.7956 + 0.0712 )
PD = √1.7956 + 0.005041 0.622 m 0.551 m
D
PD = √1.800641
PD = 1.34 m

Segmen E
1.34 m
PE = √(1.342 + 0.5512 )

PE = √(1.7956 + 0.303601) E
0.551 m
PE = √2.099201
PE = 1.44 m
Reni Pratiwi
G41113303

Luas Total Penampang Sungai (𝐏𝐭𝐨𝐭 )


Ptot = PA + PB + PC + PD + PE
Ptot = 1.45 + 1.34 + 1.34 + 1.34 + 1.44
Ptot = 6.91 m

3. Jari-jari Hidrolik (r)


Atot
r=
Ptot
3.147 m2
r=
6.91 m
r = 0.45 m

4. Kemiringan (S)
Dik: Panjang saluran = 15 m
Kedalaman paling dangkal = 0.48 m
Kedalaman terdalam = 0.84 m
Peny:
Kedalaman paling dalam − Kedalaman paling dangkal
𝑆=
Panjang saluran
0.84 − 0.48
𝑆=
15
𝑆 = 0.024 m

5. Kecepatan Koefisien Manning


Dik: r = 0.45
S = 0.024
v1 + v2 + v3 + v4 + v5 + v6
vRata−rata =
Jumlah Titik
0 + 0.4 + 0.5 + 0.6 + 0.5 + 0
vRata−rata =
6
vRata−rata = 0.33 m/s

Menghitung koefisien n:
1 1
v = ( ) x r x 𝑆2
n
1 2 1
0.33 = ( ) x 0.45 3 x 0.0242
n
1
0.33 = ( ) x 0.59 x 0.15
n
Reni Pratiwi
G41113303

1
n=( ) x 0.59 x 0.15
0.33
n = 0.27
1 2 1
vManning = ( ) x R 3 x S 2
n
1 2 1
vManning = ( ) x 0.28 3 x 0.024 2
0.27
1
vManning = ( ) x 0.59 x 0.15
0.27
v Manning = 0.33 m/s

6. Debit (Q)
a. Data Lapangan (Secara Langsung)
v1 + v2
1) Q A = 2
A1
0 + 0.4
QA = 0.374
2
Q A = 0.075 m3/s
v2 + v3
2) Q B = A2
2
0.4 + 0.5
QB = 0.811
2
Q B = 0.527 m3/s
v3 + v4
3) Q C = 2
A3
0.5 + 0.6
QC = 0.806
2
Q C = 0.645 m3/s
v4 + v5
4) Q D = A4
2
0.6 + 0.5
QD = 0.786
2
Q D = 0.668 m3/s
v5 + v6
5) Q E = 2
A5
0.5 + 0
QE = 0.369
2
Q E = 0.185 m3/s

Q tot = Q A + Q B + Q C + Q D + Q E
Q tot = 0.075 + 0.527 + 0.645 + 0.668 + 0.185
Q tot = 2.1 m3/s
Reni Pratiwi
G41113303

b. Secara Manning
Q𝑀𝑎𝑛𝑛𝑖𝑛𝑔 = v𝑀𝑎𝑛𝑛𝑖𝑛𝑔 x A𝑡𝑜𝑡
Q𝑀𝑎𝑛𝑛𝑖𝑛𝑔 = 0.33 x 3.147
Q𝑀𝑎𝑛𝑛𝑖𝑛𝑔 = 1.04 m3 /s

D. Sedimen
Dik: W0 = 0.7 g
W2 = 1 g
L = 102.5 L (sampel B), 102.5 L (sampel C), 100.8 L (sampel D),
103.3 L (sampel E)

1. Jumlah Sedimen
Sampel Segmen B
CSB = (W2-W0)/L2
CSB = (0.9 g – 0.7 g )/ 0.1025 x 10-3 m3
CSB= (0.2 g)/ 0.1025 x 10-3 m3
CSB = 0.00195 g/m3

Sampel Segmen C
CSc = (W2-W0)/L2
CSc = (1 g – 0.7 g )/ 0.1025 x 10-3 m3
CSc= (0.3 g)/ 0.1025 x 10-3 m3
CSc = 0.00292 g/m3

Sampel Segmen D
CSD = (W2-W0)/L2
CSD = (1 g – 0.7 g )/ 0.1008 x 10-3 m3
CSD= (0.3 g)/ 0.1008 x 10-3 m3
CSD = 0.00297 g/m3

Sampel Segmen E
CSE = (W2-W0)/L2
CSE = (0.8 g – 0.7 g )/ 0.1033 x 10-3 m3
CSE= (0.1 g)/ 0.1033 x 10-3 m3
CSE = 0.00096 g/m3
Reni Pratiwi
G41113303

2. Debit Sedimen
a. Berdasarkan data debit (Qtot) langsung
Segmen B
QSB = CSB x Qtot
QSB = 0.00195 g/m3 x 2.1 m3/s
QSB = 0.004095 g/s

Segmen C
QSC = CSC x Qtot
QSC = 0.00292 g/m3 x 2.1 m3/s
QSC = 0.006132 g/s

Segmen D
QSD = CSD x Qtot
QSD = 0.00297 g/m3x 2.1m3/s
QSD = 0.006237 g/s

Segmen E
QSE = CSC x Qtot
QSE = 0.00096 g/m3x 2.1m3/s
QSE = 0.002016 g/s

b. Menggunakan data debit (Qtot) secara Manning


Segmen B
QSB = CSB x QManning
QSB = 0.00195 g/m3 x 1.04 m3 /s
QSB = 0.002028 g/s

Segmen C
QSC = CSC x QManning
QSC = 0.00292 g/m3 x 1.04 m3 /s
QSC = 0.003037 g/s

Segmen D
QSD = CSD x QManning
QSD = 0.00297 g/m3 x 0.61 m3 /s
QS3 = 0.003089 g/s
Reni Pratiwi
G41113303

Segmen E
QSE = CSE x QManning
QSE = 0.002016 g/m3 x 0.61 m3 /s
QSE = 0.000998 g/s
Reni Pratiwi
G41113303

Lampiran 2

Dokumentasi

Gambar 6. Pengukuran Debit dengan Menggunakan Current Meter

Gambar 7. Pengambilan Sampel Sedimen

Gambar 8. Proses Pengolahan Sampel Sedimen

Gambar 9. Sedimen yang Telah Dikeringkan