Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN
“Uji Kemasakan Buah (Peran Etilen)”

Oleh:

DIA AYU FAUZIAH


NIM. D1B1 16 065
AGROTEK A

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2017
I. PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Buah merupakan suatu makanan yang memiliki sumber vitamin, mineral


dan zat-zat lainnya yang berperan dalam menunjang kecukupan gizi yang
dikonsumsi sehari-hari, sehingga perdagangan komoditi hortikultura menjadi
penting. Buah setelah panen masih melakukan proses kimia atau metabolisme
seperti respirasi, sehingga perlu penanganan yang benar dan selanjutnya perlu
diketahui atau dipelajari sifat-sifat fisiologinya.
Buah-buahan yang telah dipanen akan mengalami proses respirasi.
Respirasi menyebabkan terjadinya pematangan pada buah dan pada akhirnya buah
tersebut akan mengalami perubahan seperti pelayuan dan pembusukan.
Pematangan merupakan suatu proses perubahan yang terjadi pada buah meliputi
perubahan rasa, kualitas, warna dan tekstur. Pematangan berhubungan dengan
perubahan pati menjadi gula. Sifat pematangan buah ditentukan dengan melihat
pola respirasi pada buah tersebut. Respirasi sendiri merupakan perombakan bahan
organik yang lebih komplek seperti pati, asam organik dan lemak menjadi produk
yang lebih sederhana (karbondioksida dan air) dan energi dengan bantuan
oksigen. Aktivitas respirasi penting untuk mempertahankan sel hidup buah. Buah-
buahan dengan laju respirasi tinggi cenderung cepat mengalami kerusakan.
Percepatan respirasi ini juga dipengaruhi oleh keberadaan etilen, etilen sendiri
merupakan salah satu hormone pengatur pertumbuhan pada tanaman.
Hormon tanaman kadang-kadang juga disebut fitohormon, tetapi istilah
ini lebih jarang digunakan. Dengan berkembangnya pengetahuan biokimia dan
dengan majunya industri kimia maka ditemukan banyak senyawa-senyawa yang
mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Senyawa-
senyawa sintetik ini pada umumnya dikenal dengan nama zat pengatur tumbuh
tanaman (ZPT = Plant Growth Regulator).
Zat pengatur tumbuh merupakan hormon sintesis yang diberikan pada
organ tanaman yang dalam konsentrasi rendah berperan aktif dalam pertumbuhan
dan perkembangan tanaman. Zat pengatur tumbuh memiliki berbagai fungsi
dalam proses fisiologis tanaman diantaranya mempercepat perkembangan dan
pematangan buah, dalam hal pematangan inilah terdapat agen yang berperan
penting yang disebut dengan istilah agen pematangan.
Agen pematangan yang paling efektif adalah dengan penggunaan etilen.
Etilen merupakan hormon tumbuh yang dalam keadaan normal berbentuk gas
serta mempunyai struktur kimia yang sangat sederhana, yaitu terdiri dari 2 atom
karbon dan 4 atom hidrogen. Etilen digolongkan sebagai hormon yang aktif dalam
proses pematangan.
Berdasarkan urain di atas, maka perlu dilakukan praktikum mengenai uji
kemasakan buah (peran etilen) guna mengetahui bagaimana proses yang terjadi
selama pematangan buah yang dalam hal ini peran dari etilen sebagai suatu zat
pengatur pertumbuhan tanaman.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini, yaitu bagaimana mengetahui


pengaruh zat pengatur pertumbuhan ethylene pada pemasakan buah pada berbagai
konsentrasi.

C. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui pengaruh zat pengatur
pertumbuhan etilen pada pemasakan buah pada berbagai konsentrasi.
Kegunaan pada praktikum ini yaitu untuk memahami pengaruh zat
pengatur pertumbuhan etilen pada pemasakan buah pada berbagai konsentrasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Pematangan merupakan suatu proses perubahan yang terjadi pada buah


meliputi perubahan rasa, kualitas, warna, dan tekstur. Pematangan berhubungan
dengan perubahan pati menjadi gula. Sifat pematangan buah ditentukan dengan
melihat pola respirasi pada buah tersebut. Hal tersebut dibedakan menjadi buah
klimakterik dan buah non klimakterik. Buah klimakterik merupakan buah yang
apabila seudah dipanen akan memasuki fase klimakterik yaitu peningkatan dan
penurunan laju respirasi secara tiba-tiba. Selama pematangan memancarkan etilen
untuk meningkatkan laju respirasi. Buah non klimakterik merupakan buah yang
menjelang kematangan laju respirasi menurun lalu tidak menunjukkan adanya
fase klimakterik. Buah tersebut tidak menunjukkan respon apabila diberi
perlakuan etilen. Buah tersebut memiliki kandungan etilen yang sedikit
(Masilungan, 2012).
Etilen adalah senyawa hidrokarbon tidak jenuh yang pada suhu kamar
berbentuk gas. Senyawa ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan
penting dalam proses pertumbuhan dan pematangan hasil-hasil pertanian. Etilen
dalam defenisi lain merupakan salah satu hormon yang mempengaruhi proses
pertumbuhan tanaman dan pematangan buah terutama buah yang tergolong
klimaterik. Dalam keadaan normal, etilen akan berbentuk gas dan struktur
kimianya sangat sederhana sekali. Di alam etilen akan berperan apabila terjadi
perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. Hormon ini akan berperan dalam
proses pematangan buah dalam fase klimaterik (Andan, 2017).
Klimaterik adalah suatu periode mendadak yang unik bagi buah tertentu
dimana selama proses itu terjadi pembuatan etilen disertai dengan dimulainya
proses pematangan buah, buah menunjukkan peningkatan CO2 yang mendadak
selama pematangan buah, sehingga disebut buah klimaterik. Bila pola respirasi
berbeda karena setelah CO2 dihasilkan tidak meningkat tetapi turun secara
perlahan, buah tersebut digolongkan non klimaterik. Berdasarkan sifat
klimakteriknya, proses klimakterik dalam buah dapat dibagi dalam 3 tahap yaitu
klimakterik menaik, puncak klimakterik dan klimakterik menurun. Buah-buah
yang mengalami proses klimakterik diantaranya yaitu tomat, alpokat, mangga,
pepaya, peach dan pear karena buah-buahan tersebut menunjukkan adanya
peningkatan CO2 yang mendadak selama pematangan buah. Buah-buah yang
mengalami pola berbeda dengan pola diatas diantaranya yaitu ketimun, anggur,
limau, semangka, jeruk, nenas dan arbei (Singal, 2012).
Selain buah klimaterik, juga terdapat buah non klimaterik. Buah non
klimakterik akan memberikan respon terhadap perlakuan etilen eksogen pada
setiap tingkat kematangan. Efek pemberian gas etilen pada buah non klimakterik
adalah meningkatkan laju respirasi sehingga laju pematangan buah juga
meningkat. Laju respirasi dan laju pematangan dipengaruhi oleh konsentrasi gas
etilen yang digunakan dan pemberian etilen tidak akan berpengaruh terhadap
waktu terjadinya puncak klimakterik. Pemberian etilen dalam bentuk gas lebih
efektif dari pada pemberian dalam bentuk larutan ethepon (Efrida, 2012).
Kecepatan pemasakan buah terjadi karena zat tumbuh mendorong
pemecahan tepung dan penimbunan gula. Proses pemecahan tepung dan
penimbunan gula tersebut merupakan proses pemasakan buah dimana ditandai
dengan terjadinya perubahan warna, tekstur buah dan bau pada buah atau
terjadinya pemasakan buah. Kebanyakan buah tanda kematangan pertama adalah
hilangnya warna hijau. Kandungan klorofil buah yang sedang masak lambat laut
berkurang. Saat terjadi klimaterik klorofilase bertanggung jawab atas terjadinya
penguraian klorofil. Penguraian hidrolitik klorofilase yang memecah klorofil
menjadi bagian vital dan inti porfirin yang masih utuh, maka klorofilida yang
bersangkutan tidak akan mengakibatkan perubahan warna. Bagian profirin pada
molekul klorofil dapat mengalami oksidasi atau saturasi, sehingga warna akan
hilang. Lunaknya buah disebabkan oleh adanya perombakan photopektin yang
tidak larut. Pematangan biasanya meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang
memberi rasa manis (Synge, 2013).
Kemasakan (ripening) adalah suatu proses fisiologis, yaitu terjadinya
perubahan dari kondisi yang tidak menguntungkan ke kondisi yang
menguntungkan, ditandai dengan perubahan tekstur, warna, rasa dan aroma.
Proses pematangan buah pisang merupakan proses pengakumulasian gula dengan
merombak pati menjadi senyawa yang lebih sederhana, tidak seperti buah pada
umumnya yang mengakumulasi gula secara langsung dari pengiriman asimilat
hasil fotosintesis di daun yang umumnya dikirim ke organ lain dalam bentuk
sukrosa. Inisiasi proses pematangan buah klimakterik seperti pisang dikontrol oleh
tingkat kandungan etilen endogen (Dhillon, 2011).
Kematangan buah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kematangan
tingkat komersil dan kematangan tingkat fisiologi. Kematangan komersil
merupakan tingkat keatangan yang biasa dijumpai di sekitar kita, seperti pada
mini market, swalayan, pasar maupun pada pedagang eceran. Sehingga
berdasarkan hal tersebut ada yang dikatakan suatu umur produk. Umur simpan
produk pangan didefinisikan sebagai rentang waktu antara produk mulai dikemas
atau diproduksi dengan saat mulai digunakan dan mutu produk masih memenuhi
syarat untuk dikonsumsi. Sejalan dengan definisi tersebut maka umur simpan
buah diartikan sebagai rentang waktu sejak buah dipanen sampaimasih layak
dikonsumsi (Dwi, 2015).
Pada proses pematangan buah juga sering terjadi penundaan waktu
pematangan. Penundaan waktu pematangan buah sendiri akan memperpanjang
waktu pemasaran, sehingga buah dapat dipasarkan dalam waktu yang lebih lama
dan jarak yang jauh. Oleh karena itu diperlukan adanya proses yang dapat
mempercepat kematangan buah, setelah penundaan kematangan, sehingga buah
dapat dipasarkan dalam kondisi kematangan yang tepat dan siap dikonsumsi.
Beberapa hormon pemacu pematangan diantaranya adalah etilen, ethepon,
kalsium karbida dan asetilen. Etilen adalah suatu senyawa kimia yang dapat
menguap, yang dihasilkan oleh tanaman selama proses pemasakan. Asetilen
merupakan suatu hidrokarbon yang dalam golongan alkuna memiliki rumus kimia
C2H2 dan dihasilkan dari kalsium karbida (Kajima, 2012).
Pada buah klimaterik terjadi peningkatan laju respirasi yang mencolok
bersamaan proses pematangan disertai dengan perubahan-perubahan fisik maupun
kimiawi pada buah tersebut. Kondisi ini menyebabkan buahbuah klimaterik dapat
dipanen sebelum terjadi pematangan. Pemeraman dilakukan oleh para pedagang
agar buah mencapai tingkat kematangan yang seragam serta sifat fisik dan kimia
yang seragam pada saat buah sampai di tangan konsumen. Stimulasi pematangan
sering dilakukan dengan gas etilen, karbit, dan ethrel/ethepon. Zat-zat perangsang
pematangan ini akan memicu kerja etilen pada buah untuk kemudian memicu
proses pematangan pada buah tersebut (Shahila, 2015).
Agen pematangan yang paling efektif adalah dengan penggunaan etilen.
Agen tersebut dapat mematangkan pisang dalam waktu yang singkat. Zat etilen
tersedia secara komersial dalam bentuk gas atau cair. Alternatif lain yang
digunakan untuk mempercepat kematangan buah adalah penggunaan bioetilena
atau etilena dari sumber alami. Penggunaan daun segar kakawate, daun saman dan
buah belimbing dapat digunakan sebagai agen untuk pematangan buah. Bio etilen
juga bisa didapatkan dari buah-buahan dan sayuran yang kulit mengeluarkan
jumlah yang relatif tinggi etilena. Proses pematangan pada buah sangat
berhubungan dengan perubahan warna,permeabilitas membran, kandungan
hormon, produksi uap, respirasi dan pelembutan dinding sel (Winarno, 2015).
Perubahan warna buah merupakan indikator pemasakan buah yang
ditunjukkan dengan hilangnya warna hijau. Penyimpanan buah pada suhu rendah
dapat memperlambat kecepatan reaksi metabolisme sehingga akan
memperpanjang umur simpannya. Perbedaan buah yang matang dan masak
adalah, apabila buah yang matang (mature) yaitu buah dengan tingkat kematangan
optimum dengan warna kuning kemerahan dan tekstur yang masih keras, serta
buah yang masak (ripe), yaitu buah yang sudah berwarna merah dan tekstur yang
sudah agak lunak. Bahan lainnya adalah bahan kimia untuk analisis kadar vitamin
C dan total asam (Julianti, 2011).
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan Pada hari Senin, 13 November 2017 pukul


08.00 WITA-selesai. Bertempat di Laboratorium Agroteknologi Unit Agronomi
Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu hand sprayer 2 botol,
mikropipet 1 ml, wadah penyimpanan buah, kamera dan label.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alpukat masak komersil
16 buah, alpukat masak fisiologis 4 buah, etilen dan aquades.

C. Prosedur Psercobaan

Adapun percobaan pada praktikum ini yaitu:


1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Menyiapkan buah yang disemprot oleh spray yang berisi air 500 ml sebagai
kontrol dengan 4 ulangan.
3. Menyiapkan buah yang disemprot larutan etilen 2 cc/l pada 500 ml dengan 4
ulangan.
4. Menyiapkan buah yang disemprot larutan etilen 5 cc/l pada 500 ml dengan 4
ulangan.
5. Menyimpan pada suhu kondisi kamar.
6. Melakuakan pengamatan setiap hari dengan menggunakan skor nilai antara
lain:
a. Skor warna kulit
1 = Hijau terang
2 = Hijau
3 = Hijau agak gelap
4 = Hijau gelap
5 = Hijau lebih gelap
b. Warna daging buah
1 = Kuning pucat
2 = Kuning
3 = Kuning kehijauan
4 = Kuning kehijauan + lembek
c. Skor kekerasan
1 = Keras
2 = Agak keras
3 = Lunak
4 = Sangat lembek/busuk
d. Rasa tingkat kemasakan
1 = Sepat/ bergetah
2 = Agak manis
3 = Manis
4 = Manis agak pahit
B. Pembahasan

Buah dalam lingkup pertanian dapat diartikan sebagai organ pada


tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah
(ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan
bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai
pemencar biji tumbuhan. Sedangkan ditinjau dari segi manfaatnya, buah
merupakan suatu makanan yang kaya akan sumber vitamin, mineral dan zat-zat
lain yang dapat menunjang kecukupan gizi.
Pematangan merupakan suatu proses perubahan yang terjadi pada buah
meliputi perubahan rasa, kualitas, warna, dan tekstur. Pematangan berhubungan
dengan perubahan pati menjadi gula. Sifat pematangan buah ditentukan dengan
melihat pola respirasi pada buah tersebut. Hal tersebut dibedakan menjadi buah
klimakterik dan buah non klimakterik. Buah klimakterik merupakan buah yang
apabila seudah dipanen akan memasuki fase klimakterik yaitu peningkatan dan
penurunan laju respirasi secara tiba-tiba. Selama pematangan memancarkan etilen
untuk meningkatkan laju respirasi. Buah non klimakterik merupakan buah yang
menjelang kematangan laju respirasi menurun lalu tidak menunjukkan adanya
fase klimakterik. Buah tersebut tidak menunjukkan respon apabila diberi
perlakuan etilen. Buah tersebut memiliki kandungan etilen yang sedikit.
Untuk menguji pengaruh etilen terhadap pematangan buah-buahan,maka
pada praktikum kali ini yaitu uji kemasakan buah (peran etilen), digunakan 4
perlakuan untuk memperoleh perbandingan dari keempat perlakuan tersebut. Pada
perlakuan pertama tanpa perlakuan (kontrol), perlakuan kedua menggunakan 2cc
larutan etilen, pada perlakuan ketiga menggunakan 5cc larutan etilen dan
perlakuan terakhir menggunakan etilen dari buah alpukat matang fisiologi. Cara
ini banyak digunakan oleh pedagang buah yang pada saat sekarang ini sudah
banyak menggunakan etilen (karbit) untuk membantu pematangan buah dengan
cepat.
Berdasarkan hasil pengamatan awal (H0) dapat diketahui bahwa pada
perlakuan kontrol atau tanpa pelakuan warna kulit buahnya yaitu hijau (2) dengan
warna daging buah yaitu kuning (2), tingkat kekerasan yaitu agak keras (2) serta
tingkat rasa kemasakan yaitu sepat/bergetah (1). Pada perlakuan 2 yaitu
penggunaan 2cc larutan etilen, warna kulit yang tampak yaitu hijau terang (1),
dengan warna daging buah yaitu kuning (2), dengan tingkat kekerasan yaitu keras
(1) serta tingkat rasa kemasakan yaitu sepat/bergetah (1). Pada perlakuan ke-3
dengan menggunakan 5cc larutan etilen maka diperoleh hasil bahwa warna kulit
yang tampak yaitu hijau (1), dengan warna daging buah yaitu kuning (2), dengan
tigkat kekerasan yaitu agak kerasa (2) serta tingkat rasa kemasakan yaitu
sepat/bergetah (1). Sedangkan pada perlakuan terakhir, yaitu menggunakan etilen
buah masak diperoleh hasil dengan warna kulit yaitu hijau terang (1), dengan
warna daging buah yaitu kuning pucat (1), dengan tingkat kekerasan yaitu keras
(1) serta tingkat rasa kemasakan yaitu sepat/bergetah (1). Sehingga dapat
diketahui bahwa buah alpukat ini masih dalam kondisi masak komersil.
Pada pengamatan (H1) diperoleh hasil pada perlakuan kontrol warna kulit
buahnya yaitu hijau (2) artinya belum mengalami perubahan dari pengamatan
pertama, dengan warna daging buah masih sama yaitu kuning (2), tingkat
kekerasan yang sama pada pengamatan pertama yaitu agak keras (2) serta tingkat
rasa kemasakan yaitu agak manis (2). Pada perlakuan 2 yaitu warna kulit yang
tampak masih sama yaitu hijau terang (1), dengan warna daging buah yang masih
sama yaitu kuning (2), dengan tingkat kekerasan yaitu agak keras (2) serta tingkat
rasa kemasakan yaitu berunah menjadi agak manis (2). Pada perlakuan ke-3
diperoleh hasil bahwa warna kulit yang tampak yaitu hijau terang (2), dengan
warna daging buah yaitu kuning kehijauan (3), dengan tigkat kekerasan yaitu
lunak (3) serta tingkat rasa kemasakan yaitu agak manis (2). Sedangkan pada
perlakuan terakhir, yaitu warna kulit yaitu hijau (2), dengan warna daging buah
yaitu kuning pucat (1), dengan tingkat kekerasan yaitu keras (1) serta tingkat rasa
kemasakan yaitu sepat/bergetah (1).
Pada pengamatan ke-3 (H2) diperoleh hasil pada perlakuan kontrol warna
kulit buahnya yaitu hijau gelap (4) artinya mengalami perubahan dari
pengamatan kedua, dengan warna daging buah yaitu kuning kehijauan + lembek
(4), tingkat kekerasan yaitu sangat lembek/busuk (4) serta tingkat rasa kemasakan
yaitu manis (3). Pada perlakuan 2 yaitu warna kulit yaitu hijau gelap (4), dengan
warna daging buah yaitu kuning kehijauan + lembek (4), dengan tingkat
kekerasan yaitu lunak (3) serta tingkat rasa kemasakan yaitu manis (3). Pada
perlakuan ke-3 diperoleh hasil bahwa warna kulit yang tampak yaitu hijau gelap
(4), dengan warna daging buah yaitu kuning kehijauan + lembek (4), dengan
tigkat kekerasan yaitu sangat lembek/busuk (4) serta tingkat rasa kemasakan yaitu
manis agak pahit (4). Sedangkan pada perlakuan terakhir, yaitu warna kulit yaitu
hijau agak gelap (3), dengan warna daging buah yaitu kuning pucat (1), dengan
tingkat kekerasan yaitu keras (1) serta tingkat rasa kemasakan yaitu sepat/bergetah
(1).
Pada pengamatan ketiga (H3) diperoleh hasil pada perlakuan kontrol
warna kulit buahnya yaitu hijau gelap (4), dengan warna daging buah yaitu kuning
kehijauan + lembek (4), tingkat kekerasan yaitu sangat lembek/busuk (4) serta
tingkat rasa kemasakan yaitu manis agak pahit (4). Pada perlakuan 2 yaitu warna
kulit yaitu hijau lebih gelap (5), dengan warna daging buah yaitu kuning
kehijauan (3), dengan tingkat kekerasan yaitu lunak (3) serta tingkat rasa
kemasakan yaitu manis (3). Pada perlakuan ke-3 diperoleh hasil bahwa warna
kulit yang tampak yaitu hijau agak gelap (3), dengan warna daging buah yaitu
kuning kehijauan (3), dengan tigkat kekerasan yaitu keras (1) serta tingkat rasa
kemasakan yaitu sepat/bergetah (1). Sedangkan pada perlakuan terakhir, yaitu
warna kulit yaitu hijau lebih gelap (4), dengan warna daging buah yaitu kuning
kehijauan + lembek (4), dengan tingkat kekerasan yaitu lunak (3) serta tingkat
rasa kemasakan yaitu manis agak pahit (4).
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut maka dapat diketahui bahwa
pematangan buah tanpa perlakuan (kontrol) membutuhkan waktu selama 3-4 hari
untuk mendapatkan kematangan buah secara fisiologi, ini dibuktikan pada data
pengamatan diperoleh hasil bahwa pada (H2) dan (H3) mengalami perubahan
yang meningkat artinya baru mengalami kematangan fisiologi, begitupun halnya
dengan perlakuan yang menggunakan 2cc dan 5cc larutan etilen memiliki hasil
yang sama setelah dirata-ratakan.
Berbeda halnya dengan perlakuan keempat yang menggunakan etilen buah
masak sedikit berbeda karena untuk mencapai kematangan fisiologi memerlukan
waktu selama 4 hari, ini dibuktikan pada data hasil pengamatan diperoleh hasil
bahwa pada pengamatan (H3) baru mengalami perubahan sedikit meningkat.
Namun untuk uji kemasakan buah sendiri pada praktikum kali ini, tergantung
pada buah sendiri karena dalam satu perlakuan buah yang digunakan memiliki
tingkat kemasakan atau kondisi yang masing-masing berbeda, sehingga apabila
ingin memperoleh hasil yang sesuai harus menggunakan buah yang kondisi
kemasakannya yang sama sebelum diberikan perlakuan agar bisa diketahui secara
nyata perbandingannya.
Ini dikarenakan berdasarkan hasil yang diperoleh, pada setiap pengamatan
(setiap hari) dengan buah yang berbeda meciptakan hasil yang berbeda. Artinya
bahwa perubahan yang terjadi tidak konsisten, karena kondisi kematangan buah
sebelum diberikan perlakuan memiliki kondisi yang berbeda. Sehingga jika
digambarkan dengan grafik, maka grafik yang muncul akan berbentuk “S” atau
mengalami kenaikan, lalu mengalami penurunan hingga mengalami kenaikan lagi
pada skor penilaian. Lain halnya apabila menggunakan buah yang kondisinya
sama sebelum diberikan perlakuan, maka hasil pengamatan setiap harinya akan
menunjukkan hasil yang konsisten, karena buah yang digunakan dengan kondisi
yang sama, sehingga kurva perbandingannya akan meningkat seiap harinya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasasrkan hasil pengamatan di atas, maka dapat diketahui bahwa,


selama proses pematangan buah mengalami beberapa perubahan nyata terhadap
warna kulit, tekstur dan bau yang menunjukkan terjadi perubahan dalam
susunannya. Indikator kematangan buah alpukat adalah warna kulit buah
mengalami perubahan dari warna hijau terang kemudian mulai mengalami
perubahan secara bertahap menjadi warna hijau lebih gelap, kemudian
berdasarkan warna daging buah yang awalnya berwarna kuning pucat menjadi
kuning kehijauan + lembek, berdasarkan tingkat kekerasan yang awalnya keras
menjadi sangat lembek hingga busuk, serta tingkat rasa kemasakan dari rasa
sepat/bergetah menjadi manis agak pahit. Hal ini terjadi karena adanya perubahan
nyata dari proses fisiologi yang terjadi dalam buah yaitu dari perubahan kadar air,
laju respirasi, keasaman, karbohidrat, pektin, protopektin dan tanin. Dari hasil
pengamatan tersebut diketahui bahwa pematangan buah tanpa perlakuan (kontrol)
membutuhkan waktu selama 3-4 hari untuk mendapatkan kematangan buah secara
fisiologi, begitupun halnya dengan perlakuan yang menggunakan 2cc dan 5cc
larutan etilen memiliki hasil yang sama setelah dirata-ratakan. Sedangkan
perlakuan keempat yang menggunakan etilen buah masak sedikit berbeda karena
untuk mencapai kematangan fisiologi memerlukan waktu selama 4 hari, ini
dibuktikan pada data hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa pada pengamatan
(H3) baru mengalami perubahan sedikit meningkat.

B. Saran

Saran saya pada praktikum ini, agar dapat dilaksanakan lebih tepat waktu
sesuai dengan jadwal yang telah di sepakati sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Andan, R, P, G,. dan Charloq, F, E, T, S. 2017. Respon Produksi Lateks Dalam


Berbagai Waktu aplikasi Pada Klon Karet MetabolismeTinggi
Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang. Jurnal
Agroekoteknologi FP US. 5 (2): 454- 461.

Dhillon. 2011. Ethylene and Ethephon Induced Fruit Ripening in Pear. Journal of
Stored Products and Postharvest Research. 2(3), pp. 45-51.
Dwi, D, N., Cicih, S dan Asropi. 2015. Aplication Of Ethylene Absorben
Packaging On Guava (Psidium Guajava L.) Storage. Jurnal Teknik
Pertanian Lampung. 4 (3) : 227- 234.

Efrida, Y, A, P,. Elisa, J,. dan Mimi, N. 2012. Pengaruh Zat Perangsang
Pematangan Terhadap Mutu Buah Terung Belanda (Cyphomandra
Betacea). Jural Rekayasa Pangan dan Pertumbuhan. 1 (1) : 27-34.

Julianti. 2011.Pengaruh Tingkat Kematangan dan Suhu Penyimpanan Terhadap


Mutu Buah Terong Belanda (Cyphomandra betacea). Jurnal
Hortikultura Indonesia. 2(1):14-20.

Kajima, J, S,. Elisa, J,. dan Ridwansyah. 2012. Aplikasi Perangsang Pematangan
Pada Buah Pisang Barangan (Musa Paradisiacal L) yang Dikemas
dengan Kemasan Atmosfir Termodifikasi. Jurnal Rekayasa Pangan
dan Pertumbuhan. 1 (1) : 58-69.

Masilungan,G.D.and Wella L. Absulio.2012.Fruits of Bilimbi (Averrhoa bilimbi


L.) as a New Natural Source of Ethylene for Ripening of ‘Saba’
Banana (Musa balbisiana BBB). Phillipp Agriculture Scientist. 2 (95)
: 406-410.
Shahila, P, R,. Elisa, J,. dan Linda, M, L. 2015. Pengaruh Pemberian Ethepon
Sebagai Bahan Perangsang Pematangan Terhadap Mutu Buah Pisang
Barangan (Musa Paradisiaca L.). Jurnal Rekayasa Pangan dan
Pertumbuhan. 3 (1) : 1-13.
Singal, S., Madan Kumud, dan Seema Thakral. 2012. Application of apple as
ripening agents for banana. Indian Journal of Natural Products and
Resource. 3(1) : 61-64.
Synge, P.M. 2013.Horticulture. Growth Regulation by Chemicals. Diakses pada
tanggal 14 November 2017.

Winarno dalam Midyantini, W., Endang, A. dan Puji, R. 2015. Penghambatan


Pemasakan Buah Srikaya Dengan Suhu Rendah Dan Pelapisan
Penghambatan Pemasakan Buah Srikaya (Annona Squamosa L.)
Dengan Suhu Rendah Dan Pelapisan Kitosan. Jurnal Agric. 27 (2) :
23 – 29.