Anda di halaman 1dari 3

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA –

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER


UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
Jalan Dipatiukur No. 112-116, Telp +62 22 2504119 Kota Bandung 40132, Jawa Barat.

Nama : Niwang Nafisah A

Nomor Induk Mahasiswa : 10615024

Kelas : PWK-1

Prodi : Perencanaan Wilayah dan Kota

CONTOH EVALUASI FORMAL


Kasus:
Penanggulangan dampak bencana Lumpur lapindo adalah salah satu bagian dari dampak
bencana Nasional, sebagai evaluasi kebijakan perancang bersama melalaui program
pembangunan pemerintah daerah setempat bersama pemerintah Pusat secara kerja sama
(defakto), untuk penanggulangan dampak kebanjiran lumpur panas komoditas terbentuk
telaga Lumpur itu. Diarahkan untuk tercapainya tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia
mewujudkan suatu masyarakat adil, merata dan makmur baik materil dan spritual mencapai
kemakmurannya, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Evaluasi:
Evaluasi kebijakan daerah dan nasional tentang penangulangan pertanggung jawaban
terhadap dampak bencana alam dan dampak bencana sosial lainnya telah termuat dalam UU
No. 32 Thn 2004 di khususkan pada pasal 185-191, tentang evaluasi kebijakan
pertanggungjawaban secara standar nasional dan UU No 33 Thn 2004 tentang perimbangan
keuangan antara pusat dan pemerintah daerah, dan berdasarkan peraturan pemerintah daerah
No.3 Thn. 2005. Dalam UU itu telah termuat sebagai landasan hukum untuk penanggulangan
dampak bencana Lumpur lapindo serta dampak bencana lainnya secara efisien efektifitas
sesuai objektifitas yang ada. Maka yang dimaksudkan dengan evaluasi dalam pasal ini adalah
bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional untuk
tanggung jawab bersama penanggulangan dampak yang sedang melanda di tengah
masyarakat Indonesia di daerah Sidoarjo jawa timur ini.
Telah ditekankan bahwa pemerintah republik Indonesia perlu ambil langkah melalui
keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur, serta untuk meneliti sejauh
mana APBD propinsi bertentangan dengan kepentingan umum peraturan yang lebih tinggi
dengan perda lain secara de vacto-nya menuju pembrantasan dampak social sedang melanda
ini. Evaluasi terhadap kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU) dilakukan dalam waktu yang
relatif pendek dengan didasarkan pada argumentasi-argumentasi yang bersifat subyektif dari
sebagian Pemerintah Daerah.
Idealnya evaluasi terhadap kebijakan di laksanakan dalam kurun waktu antara 3 sampai
5 tahun, sehingga memberikan waktu pada proses inplementasi untuk melakukan interpretasi
terhadap tujuan kebijakan secara tepat. Dalam hal ini terdapat 3 tujuan utama dalam evaluasi,
yaitu : politicalevaluation (evaluasi yang bersifat politis); organizational evaluation (evaluasi
yang bersifat organisasi); substantive evaluation (evaluasi yang bersifat substantive atau
nyata) Berdasar ketiga tujuan inilah untuk mengurus mengimplementasi dana alokasi di
tempat sasaran yang terjadi dampak bencana itu. Namun Evaluasi dapat di lakukan secara
efektif apa apabila terdapat ketersediaannya data kuantitatif, data kualitatif dan berbagai bukti
empiris yang memadai, sehingga dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat
dipertanggung jawabkan.
Seperti pada penanggulangan dampak bencana alam beserta dengan dampak sosial yang
terjadi di Sidoarjo, untuk ganti rugi barang dan jasa yang terkena dampak bencana Lumpur
lapindo secara terencana. Evaluasi terhadap dana alokasi umum adalah merupakan evaluasi
yang bersifat subtansi di fokuskan pada dua hal utama yaitu : seberapa jauh ketercapaiaan
tujuan kebijakan dalam memenuhi kebutuhan fiscal daerah yang terkena bencana. berapa
besar dampak yang di timbulkan oleh kebijakan Dana Alokasi Umum terhadap permasalahan
desentralisasi fiscal. Focus evaluasi terhadap dana allokasi umum tersebut tidak diarahkan
terhadap formula pembagian, tetapi diarahkan pada subtansi kebijakan, yaitu Dana Alokasi
Umum merupakan bentuk alokasi untuk memenuhi kebutuhan fiscal atau alokasi untuk
melakukan pemerataan fiscal. Demikian berdasarkan penjelasan tersebut diatas ini sebagai
alur jalan bagi yang sedang mengurus secara evaluasi untuk mengambil kebijakan
penanggulangan Lumpur panas lapindo di Sidoarjo itu.
Dan untuk pemerinhtah daerah setempat kejadian dampak bencana tersebut harus
secepat ambil langkah untuk mengatisipasi semua beban-beban dan keluhan masyarakat
dapat secepat diatasi perorangan. Namun permasalahan ini bagian dari masalah nasional yang
di atasi dan yang tangani oleh pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat
untuk menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi,
transparansi akuntablitas, good governance, efisiensi dan efektifitas.Mencapai masyakat yang
adil dan makmur, dan setia pada aktifitas-aktifitas daerah setempat mereka, serta setia pada
pancasila dan UU. Maka perlu di terapkan good governance menuju masyarakat adil dan
merata, karena prinsip good govermence merupakan prinsip yang bersifat internasional
terhadap pelaksanaan dan pembrantasan penangan dampak bencana Lumpur panas lapindi di
sidoharjo yang sedang melanda semua melumpuhkan aktifitas-aktifitas mereka, dan juga
kehilangan fasilitas-fasilitas tempat tinggal mereka serta lebih utama kesehatan pada manusia
yang sedang terkena bencana Lumpur panas lapindo tersebut.