Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Munculnya berbagai persoalan dalam masyarakat setiap waktu tanpa henti dengan
bentuk dan modus yang beraneka ragam telah menuntut ahli hukum untuk berijtihad,
guna menjawab persoalan tersebut dengan ketentuan hukum yang jelas. Setiap
persoalan harus segera diberikan ketetapan hukum untuk menghindari kekosongan dan
kegamangan hukum dalam masyarakat. Sesuai fungsinya hukum adalah untuk
mengendalikan perilaku masyarakat supaya terarah sesuai dengan prinsip keadilan dan
kesejahteraan. Di sisi yang lain hukum merupakan alat untuk merubah dan merekayasa
struktur sosial masyarakat dari suatu bentuk kepada bentuk lainnya yang lebih baik dan
terarah.

Tanpa adanya hukum sulit untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang ideal,
bahkan sebaliknya kehidupan masyarakat akan semakin kacau balau tidak terkendali.
Ketiadaan hukum atau lemahnya sistem hukum masyarakat merupakan masalah yang
krusial, semua aspek kehidupan masyarakat akan mengalami kekacauan, karena
terjadinya penyalahgunaan hak dan wewenang secara bebas oleh individu dan kelompok
dalam masyarakat.

Agama Islam merupakan solusi bagi kehidupan dengan menghadirkan jawaban-


jawaban hukum untuk setiap persoalan lewat petunjuk Alquran dan Hadist. Manusia
dapat mengakses berbagai informasi hukum yang berkaitan dengan persoalan hidupnya
yang berkaitan dengan masalah ibadah, muamalah, munakahat, jinayat dan lain
sebagainya. Setidaknya kedua sumber hukum tersebut telah memberikan isyarat tentang
ihwal kehidupan manusia, serta berbagai ketentuan yang mengaturnya. Tugas manusia
adalah mengelaborasi lebih jauh kandungan nash untuk menetapkan hukum yang
kongkrit bagi penyelesaian persoalan yang muncul.

Dalam upayanya mencari jawaban hukum, umat Islam membutuhkan seperangkat


metode atau teknik yang disebut juga dengan Kaidah Ushul Fiqh. Kaidah tersebut
digunakan untuk menetapkan hukum. Dalam kegiatan ijtihad, seorang mujtahid harus
menggunakan kaidah usul fiqh, guna memahami bentuk hukum yang akan diputuskan.
Kaidah ushul fiqh merupakan acuan penetapan hukum yang harus diikuti oleh mujtahid.
Setidaknya ada tiga langkah dalam penetapan hukum Islam, yaitu: Pertama, mencari
nash yang berkaitan dengan permasalahan; Kedua, menentukan metode istinbath yang
relevan dan Ketiga, memperhatikan implikasi atau akibat dari hukum yang dibuat.
Dalam mencari jawaban hukum bagi suatu permasalahan, seorang mujtahid terlebih

1
dahulu mencari nash yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, baik nash khusus
maupun umum. Jika nash ditemukan, maka petunjuknya harus diikuti oleh mujtahid.

Setelah menemukan nash, mujtahid melakukan analisis ushul fiqh dengan


menggunakan salah satu kaidah yang relevan. Biasanya kaidah yang digunakan sesuai
dengan permasalahan. Jika permasalahan tersebut mengandung manfaat yang tidak
disentuh langsung oleh nash, maka mujtahid dapat menggunakan kaidah istislahiah
untuk menguji manfaat tersebut apakah sesuai dengan prinsip syara’ atau tidak.

Jika suatu permasalahan berkaitan dengan kebiasaan atau tradisi masyarakat,


maka untuk menganalisisnya dapat menggunakan kaidah ‘urf guna menguji apakah
kebiasaan tersebut dapat dianggap sebagai ‘urf sahih sehingga dapat dijadikan
pertimbangan dalam pembentukan hukum ataupun termasuk ‘urf fasid yang harus
ditolak. Demikianlah seterusnya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan hukum
lainnya, mujtahid dapat menganalisisnya dengan kaidah ushul fiqh yang relevan.
Hukum yang ditetapkan juga harus diperhatikan implikasinya terhadap keberlangsungan
hidup masyarakat. Setiap hukum harus berdampak positif bagi masyarakat dalam
rangka menanggulangi berbagai permasalahan. Keberadaan hukum harus menjadi solusi
bagi masalah masyarakat, bukan malah sebaliknya menjadi bomerang dalam
masyarakat.

Setelah melalui tiga proses di atas, suatu hukum telah dapat ditetapkan dan
diformalkan untuk dijadikan ketetapan hukum masyarakat. Banyak ketentuan hukum
ternyata harus ditolak, direvisi bahkan direkonstruksi ulang karena tidak memenuhi
syarat.

Penetapan hukum Islam telah mencapai tahap yang mudah, karena telah adanya
berbagai metode yang dikembangkan oleh para mujtahid berupa kaidah ushul fiqh.
Kaidah-kaidah tersebut dikembangkan oleh ulama lewat perenungan terhadap nilai-nilai
yang terkandung dalam nash, seperti keadilan, kasih sayang, keselamatan, kewajiban,
larangan dan lain sebagainya. Nilai-nilai tersebut lalu diaktualisasikan dalam bentuk
kaidah usul fiqh yang bersifat praktis. Kaidah itu kemudian digunakan oleh mujtahid
untuk menetapkan hukum.

B. ALASAN PENULISAN MAKALAH

Ilmu Fiqh merupakan ilmu yang sangat penting bagi manusia terutama umat
islam, agar didalamnya manusia dapat mengetahui hukum-hukum syara’ yang
membatasi kehendaknya, dengan bertujuan membuat ketentraman dan keteraturan
dalam hidup serta ketenangan jiwa.

Pertumbuhan Ushul Fiqh tidak terlepas dari perkembangan hukum Islam sejak
zaman Rasulullah SAW. sampai pada zaman tersusunnya ushul fiqh sebagai salah satu

2
bidang ilmu pada abad ke-2 Hijriah. Di zaman Rasulullah SAW, sumber hukum islam
hanya dua, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Apabila muncul suatu kasus, Rasulullah SAW
menunggu turunnya wahyu yang menjelaskan hukum dari kasus tersebut. Apabila
wahyu tidak turun, maka beliau menetapkan hukum kasus tersebut melalui sabdanya,
yang kemudian dikenal dengan hadits atau Sunnah.

Dengan diwajibkannya setiap orang memahami ilmu Fiqh, maka banyak


pertanyaan mengenai dasar hukum-hukum syara’ yang berlaku pada
ilmu Fiqh, sehingga muncul sebuah kajian mengenai dasar-dasar pada hukum Fiqh,
yang kita kenal sebagai kajian Ushul Fiqh.

Atas dasar tersebut dan tentunya karena melalui beban tugas mata kuliah yang
diberikan, maka penulis menyusun makalah ini. Penulis juga berharap dapat sedikit
memberi bantuan dan manfaat kepada setiap pembaca khususnya, untuk dapat lebih
mengenal tentang ilmu fiqh serta kaidah-kaidah ushul fiqh.

C. PENGERTIAN JUDUL (ILMU FIQH DAN USHUL FIQH)

Ushul fiqh terdiri atas dua kata yang masing-masing mempunyai arti cukup luas,
yaitu ushul dan fiqh. Dilihat dari tata bahasa Arab, rangkaian kata Usul dan kata Fiqh
dinamakan dengan struktur tarkib idafah, sehingga susunan dari rangkaian dua kata itu
memberi pengertian usul bagi fiqh.

Dalam bahasa arab kata ushul merupakan jama’ dari Asl yang artinya fondasi
sesuatu. Sedangkan fiqh berarti pemahaman secara mendalam yang membutuhkan
pergerakan potensi akal atau ilmu yang menjelaskan tentang hukum syar’iyah yang
berhubungan dengan segala tindakan manusia, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang
diambil dari nash-nash yang ada, atau dari mengistinbath dalil-dalil syariat Islam.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ushul fiqh merupakan seperangkat
ilmu yang membahas secara komprehensif berkaitan dengan penetapan hukum Islam,
baik berkaitan dengan dalil, metode istinbath maupun persyaratan seorang mujtahid.
Pemahaman terhadap ushul fiqh akan membuat seseorang mampu memahami dalil-dalil
hukum syara’ yang bersifat asl (primer) maupun furu’ (sekunder). Dalil primer hukum
Islam adalah berupa Alquran dan Hadis, sedangkan dalil sekunder adalah ijma’, qiyas,
istihsan, maslahah mursalah dan lain sebagainya.

D. POKOK PERMASALAHAN

1. Pembatasan Masalah

Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi cakupan masalah yang


dibahas melalui makalah ini dalam beberapa poin yaitu: Objek, Tujuan, Manfaat
dan Sejarah singkat Ilmu Fiqh dan ushul Fiqh.

3
2. Rumusan Masalah

a. Apa itu objek atau Ruang Lingkup Fiqh dan Ushul Fiqh?

b. Apa saja tujuan dari ilmu fiqh dan ushul fiqh?

c. Apa manfaat yang didapat dari mempelajari ilmu fiqh dan ushul fiqh?

d. Bagaimana sejarah singkat ilmu fiqh dan ushul fiqh?

E. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN MAKALAH

1. Tujuan Penulisan Makalah

a. Untuk mengenal dan mengetahui pengertian serta perbedaan Ilmu Fiqh dan
Ushul Fiqh.

b. Untuk mengetahui Objek atau ruang lingkup yang dipelajari dalam Ilmu
Fiqh dan Ushul Fiqh.

c. Mengetahui tujuan dan manfaat mempelajari Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh.

d. Mengetahui secara singkat mengenai sejarah Ilmi Fiqh dan Ushul Fiqh.

2. Manfaat Penulisan Makalah

a. Agar dapat mengenal dan mengetahui pengertian serta perbedaan Ilmu Fiqh
dan Ushul Fiqh.

b. Agar dapat mengetahui Objek atau ruang lingkup yang dipelajari dalam
Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh.

c. Agar dapat mengetahui tujuan dan manfaat mempelajari Ilmu Fiqh dan
Ushul Fiqh.

d. Agar dapat mengetahui secara singkat mengenai sejarah Ilmi Fiqh dan
Ushul Fiqh.

4
BAB II
OBJEK, TUJUAN, MANFAAT DAN SEJARAH ILMU FIQH DAN USHUL FIQH

A. OBJEK PEMBAHASAN ILMU FIQH

Ulama Syafi’iyah mendefinisikan usul fiqh sebagai ilmu tentang dalil-dalil hukum
syara’ secara umum, metode penetapan hukum dari dalil dan kriteria seorang mujtahid.
Sedangkan ulama Hanafiyah, Malikiyyah dan Hanabilah mendefinisikan ushul fiqh
adalah kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengistinbatkan hukum dari dalil tafsili
(terperinci), dengan kata lain ushul fiqh adalah ilmu tentang kaidah-kaidah tersebut.1

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ushul fiqh merupakan seperangkat
ilmu yang membahas secara komprehensif berkaitan dengan penetapan hukum Islam,
baik berkaitan dengan dalil, metode istinbath maupun persyaratan seorang mujtahid.
Pemahaman terhadap ushul fiqh akan membuat seseorang mampu memahami dalil-dalil
hukum syara’ yang bersifat asl (primer) maupun furu’ (sekunder). Dalil primer hukum
Islam adalah berupa Alquran dan Hadist, sedangkan dalil sekunder adalah ijma’, qiyas,
istihsan, maslahah mursalah dan lain sebagainya.

Tidak sebatas itu, seseorang juga akan memahami pengertian dari dalil maupun
sumber hukum, serta hubungan antara dalil, seperti hubungan Alquran dengan Hadist,
hubungan ijma’ dengan nash, hubungan qiyas dengan nash dan seterusnya. Berkaitan
dengan hubungan dalil cukup penting diketahui, guna memahami hirarkis dalil dan dalil
mana yang harus lebih diutamakan saat dalil saling bertentangan.

Berdasarkan penjelasan diatas maka Objek kajian Fiqh dapat diartikan segala
sesuatu yang menjadi sasaran syara’, yang pada kenyataanya tersusun dari dua bagian.
Yang pertama, hukum-hukum syara’ amaliah dan kedua, dalil-dalil tafshiliyah (yang
jelas) mengenai hukum itu. Ruang lingkup ilmu Fiqh, meliputi berbagai bidang di
dalam hukum-hukum syara’, antara lain :

1. Ruang lingkup Ibadat, ialah cara-cara menjalankan tata cara peribadatan kepada
Allah SWT.

2. Ruang lingkup Mu’amalat, ialah tata tertib hukum dan peraturan hubungan antar
manusia sesamanya.

3. Ruang lingkup Munakahat, ialah hukum-hukum kekeluargaan dalam hukum nikah


dan akibat-akibat hukumnya.

1
Haroen, Nasrun, Ushul Fiqh 1, Ciputat, PT LOGOS Wacana Ilmu,1996. Hlm. 8

5
4. Ruang lingkup Jinayat, ialah tindak pelanggaran atau penyimpangan dari aturan
hukum Islam sebagai tindak pidana kejahatan yang dapat menimbulkan bahaya
bagi pribadi, keluarga, masyarakat, dan Negara.

B. KANDUNGAN DARI OBJEK PEMBAHASAN ILMU USHUL FIQH

Sedangkan mengenai kandungan dari objek pembahasan Ilmu Ushul Fiqh itu meliputi :

1. Pembahasan Tentang Dalil.

Pembahasan tentang dalil dalam Ilmu Usul Fiqh adalah secara global. Disini
dibahas tentang macam-macam dalil, rukun atau syarat masing-masing dari
macam-macam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya. Dalam Ilmu Ushul
Fiqh tidak dibahas satu per-satu dalil bagi setiap perbuatan.

Dalam konteks ilmu usul fiqh, maka kategori dalil dapat berupa dalil yang
berupa nash-nash shara‘ yang disebut dalil alistinbaty; dalil ini dari teks ayat al-
Quran, teks Hadis, dan Ijma’; dan dalil-dalil yang terbentuk dari olah pikir yang
sehat, rasional dan hasil dari penelitian hukum yang mendalam. Dalil ini disebut
sebagai dalil al-istidlaly. Misalnya, al-Qiyas, al-Istihasan, al-Maslahah dan
lainnya.

2. Pembahasan Tentang Hukum.

Pembahasan tentang hukum dalam Ilmu Usul Fiqh adalah secara umum,
tidak dibahas secara terperinci hukum bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang
hokum ini, meliputi pembahasan tentang macam-macam hukum dan syarat-
syaratnya.

Pihak yang menetapkan hukum, sebagai sang Legislator Utama (al-hakim),


orang yang dibebani dengan Perintah Hukum, atau Subyek Hukum (al-mahkum
'alaih) dan syarat-syaratnya, ketetapan hukum (al-mahkum bih) dan macam-
macamnya dan status perbuatan-perbuatan yang dikenakan hukum (al-mahkum
fih) serta syarat-syaratnya.

3. Pembahasan Tentang Kaidah.

Pembahasan tentang kaidah-kaidah yang digunakan sebagai jalan/media


untuk memperoleh hukum dari dalil-dalilnya, antara lain mengenai macam-
macam kaidah kebahasaan, misalnya: kaidah fi‘il amar, fi‘il nahy, nakirah dan
ma‘rifah, Am dan khas, Mutlaq dan Muqayyad dan kehujjahan / argumentasinya,
dan kaidah-kaidah kemaslahatan umum dan tujuan dasar hukum Islam dalam
mengamalkannya. Misalnya konsep Maqasid al-Shariah dan Penyelesaian
Ta’arud al-adillah.

6
4. Pembahasan Tentang Ijtihad.

Dalam pembahasan ini, dibicarakan tentang macam-macamnya, syarat-


syarat bagi orang yang boleh melakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan mujtahid
dilihat dari kacamata ketentuan ijtihad dan hukum melakukan ijtihad dan
metodologi yang benar bagi mujtahid.

C. TUJUAN MEMPELAJARI ILMU FIQH

Tujuan mempelajari fiqh ialah untuk menerapkan hukum Syara’ pada setiap
perkataan dan perbuatan Mukallaf yaitu orang yang telah dibebankan kewajiban
Syariah, maka tujuan akhirnya sebagai seorang muslim yang mukallaf adalah untuk
mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan melaksanakan syari’ah-Nya di muka bumi
ini, sebagai pedoman hidup individual, hidup berkeluarga, maupun hidup
bermasyarakat. karena itu ketentuan- ketentuan itulah yang dipergunakan untuk
memutuskan segala perkara dan yang menjadi dasar fatwa, dan bagi setiap mukallaf
akan mengetahui hukum syara’ pada setiap perkataan dan perbuatan yang mereka
lakukan.

Selain itu, tujuan mempelajari ilmu fiqh lainnya yaitu untuk menerapkan hukum-
hukum syariat islam terhadap perbuatan dan ucapan manusia, seperti rujukan seorang
hakim dalam keputusannya, rujukan seorang Mufti dalam fatwanya, dan rujukan
seorang mukallaf untuk mengetahui hukum syariat dalam ucapan dan perbuatannya.

Tujuan yang hendak dicapai dari ilmu ushul fiqh adalah ialah untuk dapat
menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dalil syara’ yang terinci agar sampai kepada
hukum-hukum syara’ yang bersifat ‘amali yang ditunjuk oleh dalil-dalil itu. Dengan
kaidah ushul serta bahasannya itu dapat dipahami nash-nash syara’ dan hukum yang
terkandung didalamnya.Demikian pula dapat dipahami secara baik dan tepat apa-apa
yang dirumuskan ulama mujtahid dan bagaimana mereka sampai kepada rumusan
tersebut.

Memang dengan metode tersebut para ulama telah berhasil merumuskan hukum
syara dan telah terjabar secara rinci dalam kitab-kitab fiqh. Lantas untuk apa lagi, ushul
fiqh itu bagi umat yang datang kemudian, dalam hal ini ada dua maksud mengetahui
ushul fiqh itu.

Pertama, bila kita sudah mengetahui metode ushul fiqh yang dirumuskan ulama
terdahulu, maka bila suatu ketika kita menghadapi masalah baru yang tidak mungkin
ditemukan hukumnya dalam kitab-kitab fiqh terdahulu,maka kita dapat mencari
jawaban hukum terhadap masalah baru itu dengan cara menerapkan kaidah-kaidah hasil
rumusan ulama terdahulu itu.
7
Kedua, bila kita mengadapi masalah hukum fiqh yang terurai dalam kitab-kitab
fiqh, tetapi mengalami kesukaran dalam penerapannya karena sudah begitu jauhnya
perubahan yang terjadi, dan kita ingin mengkaji ulang rumusan fuqaha lama itu atau
ingin merumuskan hukum yang sesuai dengan kemaslahatan dan tuntutan kondisi yang
menghendakinya, maka usaha yang harus ditempuh adalah merumuskan kaidah baru
yang memungkinkan timbulnya rumusan baru dalam fiqh. Kaji ulang terhadap suatu
kaidah ataumenetukan kaidah baru itu tidak mungkin dapat dilakukan bila tidak
mengetahui secara baik usaha dan cara ulama lama dalam merumuskan kaidahnya. Hal
itu akan diketahui secara baik dalam ilmu ushul fiqh.

Sehingga, tujuan Ilmu Fiqh, ialah sebagai batasan-batasan pemahaman umat


tentang hukum-hukum syara’ yang berlaku dalam kehidupan beragama dan
bermasyarakat. Yang biasanya berpautan dengan masalah-masalah amaliah, yang
dikerjakan oleh para mukkalaf sehari-hari.

Tujuan Ushul Fiqh, ialah agar para mukallaf mengetahui hokum-hukum syara’
yang bersifat amaliah yang diperoleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci. Adapun
menurut para Ulama Syafi’iyyah, dalil-dalil yang harus diketahui itu bersifat global dan
harus tau pula cara penggunaanya, serta mengetahui keadaan orang yang
menggunakannya (mujtahid).

D. TUJUAN ILMU FIQH

Tujuan dari ilmu fiqh adalah menerapkan hukum-hukum syariat terhadap


perbuatan dan ucpan manusia. Jadi ilmu fiqh itu adalah tempat kembali seorang hakim
dan keputusannya, tempat kembali seorang mufti dalam fatwanya, dan tempat kembali
seorang mukallaf untuk dapat mengetahui hukum syara’ yang berkenaan dengan ucapan
dan perbuatan yang muncul dari dirinya.

Jadi maksud akhir yang hendak dicapai dari ilmu fiqih adalah penerapan hukum
syariat kepada amal perbuatan manusia, baik tindakan maupun perkataannya. Dengan
mempelajarinya orang akan tahu mana yang diperintah dan mana yang dilarang, mana
yang sah dan mana yang batal, mana yang halal dan mana yang haram, dan lain
sebagainya.2

2
Prof. Dr. H. Alaiddin Koto, M.A. Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih (Sebuah Pengantar). (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2009) Hlm. 10

8
E. MANFAAT ILMU FIQH

Mempelajari ilmu fiqh besar sekali faedahnya bagi manusia. Dengan mengetahui
ilmu Fiqh menurut yang dita’rifkan ahli ushul, akan dapat diketauhi mana yang disuruh
mengerjakan dan mana pula yang dilarang mengerjakannya.

Dan mana-mana yang haram, mana yang halal, mana yang sah, mana yang batal,
dan mana pula yang fasid.

Ilmu Fiqh juga memberikan petunjuk kepada manusia tentang pelaksanaan nikah,
thalaq, rujuk, dan memelihara jiwa harta benda serta kehormatan. Juga mengetahui
segala hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia.

Yang dibahas oleh fiqh ialah perbuatan orang-orang mukallaf, tentunya yang telah
diberati dari ketetapan-ketetapan hukum agama Islam, berarti sesuai dengan tujuannya.

Adapun hasil mahmul atau hasil pembicaraan ilmu fiqh salah satunya ialah hukum
lima, antara lain:

1) Ijab (wajib)

2) Nadab (anjuran)

3) Tahrim (haram)

4) Karahah ( menuntut meninggalkan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak


pasti.)

5) Ibahah (membolehkan di buat atau ditinggalkan)

F. MANFAAT ILMU USHUL FIQH


Para ulama ushul Fiqh menyimpulkan bahwa tujuan utama ushul iqh ialah
mengetahui dalil-dalil syara’, yang menyangkut persoalan ‘aqidah, ibadah, mu’amalah,
‘uqubah, dan akhlak.

Pengetahuan tentang dalil-dalil tersebut pada gilirannya dapat diamalkan, sesuai


dengan kehendak syari’ (Allah SWT dan Rasul-Nya). Oleh sebab itu, para ulama ushul
fiqh menyatakan bahwa ushul fiqh bukan merupakan “tujuan”, melainkan sarana untuk
mengetahui hukum-hukum Allah pada setiap kasus sehingga dapat dipedomani dan di
amalkan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, yang menjadi tujuan yang sebenarnya ialah mempedomani dan
mengamalkan hukum-hukum Allah yang diperoleh melalui kaidah-kaidah ushul fiqh
tersebut.

Secara sistematis, para ulama ushul fiqh mengemukakan kegunaan ilmu ushul
fiqh, yaitu antara lain:

9
1) Mengetahui kaidah-kaidah dan cara-cara yang digunakan mujtahid dalam
memperoleh hukum melalui metode ijtihad yang mereka susun.

2) Memberikan gambaran mengenai syarat-syarat yang harus dimiliki seorang


mujtahid, sehingga ia dengan tepat dapat menggali hukum-hukum syara’ dari
nash.

3) Menentukan hukum melalui berbagai metode yang dikembangkan para mujtahid

4) Memelihara agama dari penyalah gunaan dalil

5) Menyusun kaidah-kaidah umum yang dapat diterapkan.

6) Mengetahui kekuatan dan kelemahan suatu pendapat sejalan dengan dalil yang
digunakan dalam berijtihad.

G. TUJUAN MEMPELAJARI USHUL FIQH

Dengan menggunakan analogi ushul fiqh sebagai bagian dari proses produksi,
sulit membayangkan suatu barang/produk dapat dihasilkan, tanpa adanya alat/ mesin
produksi yang menghasilkan suatu produk, dimana ushul fiqh berperan sebagai mesin
produksi tersebut. Karena itu, secara metodologis dapat dikatakan, seseorang baru dapat
dikatakan sebagai ahli hukum islam/ulama fiqh, apabila menguasai ilmu ushul fiqh.
Sebaliknya, orang yang hanya mengetahui ilmu fiqh tanpa menguasai ilmu ushul fiqh,
dapat dengan mudah keliru dan salah dalam menerapkan pengetahuannya pada kasus-
kasus hukum yang dihadapkan kepadanya. Sebab, pengetahuan fiqhnya itu hanya
berdasarkan hafalan saja, tanpa landasan yang kokoh dan pemahaman yang mendalam
terhadap prinsip-prinsip hukum islam.

Berdasarkan uraian di atas, secara singkat dapat dikatakan, tujuan utama


mempelajari ushul fiqh ialah, untuk menerapkan kaidah-kaidah ushul fiqh pada dalil-
dalil syara’, baik Alqur’an maupun sunnah sehingga menghasilkan hukum-hukum
syara’

Keberhasilan seorang ulama yang menerapkan ilmu ushul fiqh untuk


menghasilkan hukum-hukum syara’ itu sendiri mengandung tiga kemungkinan sebagai
berikut.

Kemungkinan pertama, hukum-hukum yang dihasilkan itu pada hakikatnya


merupakan pengulangan dari apa yang telah dihasilkan para ulama mujtahid terdahulu.
Dalam hal ini, penerapan ilmu ushul fiqh yang dilaksanakan mengandung makna,
memahami cara-cara menemukan hukum melalui ushul fiqh yang dipraktikan para
ulama mujtahid yang lalu.

10
Kemungkinan kedua, dengan menerapkan ilmu ushul fiqh, dapat menghasilkan
hukum-hukum yang berbeda dengan apa yang ditemukan ulama terdahulu.
Kemungkinan ini dapat terjadi, disebabkan adanya perbedaan waktu atau tempat atau
keadaan dari peristiwa hukum yang terjadi pada masa ulama yang dahulu dengan waktu
atau tempat atau keadaan yang dialami sekarang ini. Dengan demikian, meskipun secara
sepintas terlihat bahwa peristiwanya sama, tetapi hukum yang dihasilkan dapat berbeda.

Kemungkinan ketiga, hukum-hukum yang dihasilkan itu sama sekali baru, dan
belum pernah dihasilkan oleh para mujtahid dahulu. Dalam konteks ini, ushul fiqh
digunakan untuk menjawab persoalan hukum atas peristiwa-peristiwa yang baru muncul
dewasa ini, di mana pada masa lalu sama sekali belum pernah terjadi peristiwanya,
sehingga terhadap peristiwa itu tidak ditemukan hukumnya dalam kitab-kitab fiqh
warisan para ulama sebelumnya. Misalnya, hukum-hukum fiqh yang berkaitan dengan
bidang kedokteran, ekonomi, dan politik.

Disamping tiga kemungkinan di atas, maka dengan mempelajari ilmu ushul fiqh,
kita dapat pula menggunakan ushul fiqh sebagai alat untuk melakukan perbandingan
(muqaranah, comparative) terhadap hukum-hukum fiqh yang telah ada. Pada gilirannya
langkah ini dapat pula menghasilkan pendapat yang dianggap paling kuat dan relevan
dengan kebutuhan hukum masa kini.3

H. TUJUAN USHUL FIQH

Ushul fiqh ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam ilmu syariat,karena
hukum syar’i sebagiannya hanya mengatur permasalahan hal pokok-pokoknya dan tidak
secara mendetail. Maka tujuan ushul fiqh ini adalah untuk memecahkan permasalahan-
permasalahan baru yang belum ada nashnya yang jelas dengan melakukan ijtihad
berdasarkan dalil-dalil yang ada dalam al-quran atau sunnah nabi saw.

Jika seorang hendak berijtihad ,maka ushul fiqh mutlak harus dikatahui sebab
ushul fiqih merupakan alat atau keahlian untuk melakukan istimbath hukum dan ushul
fiqh ini merupakan ilmu sistem hukum silam dalam menetapkan.

Jadi tujuannya adalah dapat sampainya kepada istimbath hukum syara’ dari
dalilnya serta dapatnya menerapkan hukum-hukum syari’at ats perbuatan manusia dan
perkataannya.

3
Rahman Dahlan, Abd. Ushul Fiqh, Jakarta: AMZAH, 2010. Halaman 18-20

11
I. OBJEK PEMBAHASAN USHUL FIQH

Objek kajian ushul fiqh adalah pembahasan dalil-dalil yang dipergunakan dalam
menggali dalil-dalil syarak. Dalil-dalil syarak tersebut ada yang disepakati oleh semua
ulama, yaitu Al-Qur'an dan sunnah, dan ada yang disepakati oleh kebanyakan ulama,
yaitu ijma' dan qiyas. Ada pula yang diperselisihkan oleh mereka tentang
kehujjahannya, seperti istihsan, istishab ( memberlakukan hukum yang ada sejak
semula), al-maslahah al-mursalah, sadd az-zariah ( mencari inti permasalahan dan
dampak suatu perbuatan ), 'urf ( adat istiadat ).

1. Pembahasan dalil-dalil yang bertentangan dan bagaimana cara men-tarjih


(menguatkan), seperti pertentangan antara al-Qur'an dan sunnah atau antara sunah
dan pendapat akal.
2. Pembahasan ijtihad yakni syarat-syarat dan sifat-sifat seorang mujtahid.
3. Pembahasan syarak itu sendiri, apakah yang bersifat tuntutan ( melakukan atau
meninggalkan ), yang sifatnya boleh memilih atau yang sifatnya wad'i ( sebab,
syarat, dan halangan ).
4. Bagaimana cara berhujah dengan dalil-dalil tersebut, apakah dari segi lafal dalil
itu sendiri atau melalui mafhum ( pemahaman ) terhadap nas.

Menurut ulama mazhab Syafi'ie yang menjadi obyek kajian para ushul fiqh adalah
dalil-dalil yang bersifat global seperti kehujahan ijmak dan qias, cara menetapkan
hukum dari dalil-dalil tersebut, dan status orang yang mengali dalil serta pengguna
hukum tersebut. Untuk yang disebut ini mencakup syarat-syarat mujtahid serta syarat-
syarat taklid.

Muhammad Mustafa az-Zuhalli (ahli fiqh dan ushul fiqh dari Suriah) menyatakan
bahwa yang menjadi obyek kajian ushul fiqh adalah sebagai berikut :

1. Mengkaji sumber hukum Islam atau dalil-dalil yang digunakan dalam menggali
hukum syarak, baik yang disepakati (seperti kehujahan Al-Qur'an dan sunah Nabi
SAW), maupun yang diperselisihkan (seperti kehujahan istihsan al-maslahah al-
mursalah [kemaslahatan yang tidak ada ketentuannya dalam syarak]
2. Mencarikan jalan keluar dari dalil-dalil yang secara lahir dianggap bertentangan,
baik melalui al-jam'wa at-taufiq (pengompromian dalil), tarjih al-adillah, nasakh,
atau tasaqut ad-dalilain (pengguguran kedua dalil yang bertentangan). Misalnya,
pertentangan ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, atau hadis dengan pendapat
akal.
3. Pembahasan ijtihad, syarat-syarat, dan sifat-sifat orang yang melakukannya
(mujtahid), baik yang menyangkut syarat-syarat umum maupun syarat-syarat
khusus keilmuan yang harus dimiliki mujtahid.

12
4. Pembahasan tentang hukum syar'I (nas dan ijmak), yang meliputi syarat dan
macam-macamnya, baik yang bersifat tuntutan untuk berbuat, meninggalkan suatu
perbuatan, memilih untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak, maupun yang
berkaitan dengan sebab, syarat, mani', sah, fasid, serta azimah dan rukhsah. Dalam
pembahasan hukum ini juga dibahas tentang pembuat hukum (al-mahkum alaih),
ketetapan hukum dan syarat-syaratnya, serta perbuatan-perbuatan yang dikenai
hukum.
5. Pembahasan tentang kaidah-kaidah yang digunakan dan cara menggunakannya
dalam meng-istinbat-kan hukum dari dalil-dalilnya, baik melalui kaidah bahasa
maupun melalui pemahaman terhadap tujuan yang akan dicapai oleh suatu nas
(ayata/hadis).

J. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FIQH

Saat Rasulullah saw masih hidup, umat Islam tidak memerlukan kaidah-kaidah
tertentu dalam memahami hukum syara’. Sebab sumber hukum pada masa Rasulullah
Saw, wahyu Allah SWT dalam Al-Qur'an atau melalui Al-Sunnah (Al-Hadist), yang
mana semua permasalahan dapat langsung ditanyakan kepada beliau yang di ilhamkan
kepadanya. Para sahabat menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan turunnya
wahyu baik al-Quran maupun Hadits, disamping itu mereka merupakan ahli bahasa,
memiliki kecerdasan berpikir serta jiwa yang bersih sehingga sangat mudah memahami
hukum.

Kita dapat menemukan diantara sunnah-sunnahnya ada yang memberi kesan


bahwa beliau melakukan ijtihad. Beliau melakukan qiyas terhadap peristiwa yang
dialami oleh Umar bin Khattab RA, sebagai berikut:

ُ‫صن َعت‬
َ ‫الیوْ َُم‬
َ ‫ل‬ َُ ‫امْ ًرا هلل یا َ َرسو‬ َ ُ‫ائمُْ َوأنَُا َ ق َبلَْت‬
َ ‫ع ِظی ًما‬ ِ ‫ص‬ َُ َ ‫صلىُ هلل َرسول ل َُھ فقَا‬
َ ‫ل‬ َ ‫هلل‬
ُ‫لیْ ِھ‬
َ ‫ع‬َ ُ‫سلم‬
َ ‫ایْتَُ َو‬
َ َْ‫أر‬
َ ُْ‫َلو‬
َُ‫تمَْ ض َمضت‬
َ ُ‫ائمُْ َوأنَ ْتَُ ِبمَْ اء‬
ِ ‫ص‬ َ , ُ‫ل ِلكَُ ب ُِذ البَأَس فقَلت‬
َُ َ ‫صلىُ هلل َرسولُ فقَا‬
َ ‫لیْ ُِھ هلل‬
َ ‫ع‬َ
ُ‫سلم‬
َ ‫ َو‬: ُ‫فصْم‬
َ
Artinya : “Wahai Rasulullah, hari ini saya telah melakukan perbuatan yang besar; saya
mencium isteri saya, padahal saya sedang berpuasa. Maka Rasulullah Saw. bersabda
kepadanya: Bagaimana pendapatmu, seandainya kamu berkumur-kumur dengan air
dikala kamu sedang berpuasa? Saya menjawab : Tidak apa-apa. Dengan yang
demikian, kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Maka tetaplah kamu berpuasa!”
(HR.Abu Dawud).

13
Pada hadis di atas Rasulullah Saw. menetapkan tidak batal puasa seseorang karena
mencium isterinya dengan mengqiyaskan kepada tidak batal puasa seseorang karena
berkumur-kumur saat wudhu‘. Juga seperti hadis Rasulullah Saw:

ُ‫أشْقُ أنَ ُْ َلوْ َال‬


َ ‫لى‬ َ ُ‫اك َال َمَْ رتھْمُ ا ُّمَْ تي‬
َُ ‫ع‬ ُِ ‫صال ُة َ ك‬
ُِ ‫ل ِعند باِلس َِو‬ َ
Artinya: ”Seandainya tidak akan memberatkan terhadap umatku niscaya kuperintahkan
kepada mereka bersiwak (bersikat gigi) setiap akan melakukan shalat”. (H.R. Abu
Dawud dari Zaid bin Khalid al-Juhanniy).

K. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU USHUL FIQH

Dalam menetapkan hukum dari berbagai kasus di zaman Rasulullah SAW.Yang


tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an, para ulama ushul fiqh menyimpulkan bahwa
ada isyarat bahwa Rasulullah SAW. Menetapakannya melalui ijtihad. Hal ini dapat
diketahui melalui sabda Rassulullah SAW. :

Artinya :“Sesungguhnya saya adalah manusia (biasa), apabila saya perintahkan


kepadamu sesuatu yang menyangkut agamamu, maka ambillah dia. Dan apabila aku
perintahkan kepadamu sesuatu yang berasal dari pendapatku, maka sesungguhnya aku
adalah manusia (biasa)”. (H.R. Muslim dari RAfi’ ibn Khudaij).

Hasil ijtihad Rasulullah SAW. Ini secara otomatis menjadi sunnah sebagai sumber
hukum dan dalil bagi umat Islam.

Dalam beberapa kasus, Rasulullah SAW. Juga menggunakan qiyas ketika


menjawab pertanyaan para sahabat.Misalnya, beliau qiyas ketika menjawab pertanyaan
‘Umar ibn al-Khathab tentang batal-tidaknya puasa seseorang yang mencium istrinya.
Rasulullah SAW. Ketika itu bersabda :

Artinya :“Apabila kamu berkumur-kumur dalam keadaan puasa, apakah


puasamu batal ?” ‘Umar menjawab, ‘Tidak apa-apa’ (tidak batal). Rasulullah SAW.
Kemudian bersabda, “Maka teruskan puasamu.” (H.R. al-Bukhari, Muslim, dan Abu
Daud).

Rasulullah SAW. Dalam hadits ini, menurut para ushul fiqh, mengqiyaskan
hukum mencium istri dalam keadaan berpuasa.Jika berkumur-kumur tidak membatalkan
puasa, maka mencium istri pun tidak membatalkan puasa.

Cara-cara Rasulullah SAW. Dalam menetapkan hukum inilah yang menjadi bibit
munculnya ilmu ushul fiqh ada bersamaan dengan hadirnya “fiqh”, yaitu sejak zaman
Rasulullah SAW. Bibit ini semakin jelas di zaman para sahabat, karena wahyu dan
Sunnah Rasul tidak ada lagi, sementara persoalan yang mereka hadapi semakin
berkembang.

14
Para tokoh mujtahid yang termasyhur di zaman sahabat, diantaranya ‘Umar ibn al-
Khaththab, ‘Ali ibn Abi Thalib, dan ‘Abdullah ibn Mas’ud. Dalam berijtihad, ‘Umar ibn
al-Khathab seringkali mempertimbangkan kemaslahatan umat, dibanding sekedar
menerapkan nash secara zhahir, sementara tujuan hukum tidak tercapai. Misalnya, demi
kemaslahatan rakyat yang ditaklukan pasukan Islam disuatu daerah, ‘Umar ibn al-
Khathab menetapkan bahwa tanah di daerah tersebut tidak diambil pasukan Islam,
melainkan dibiarkan digarap oleh penduduk setempat, dengan syarat setiap panen harus
diserahkan sekian persen kepada pemerintahan Islam. Sikap ini diambil ‘Umar ibn al-
Khathhab didasarkan atas pemikiran bahwa apabila tanah pertanian didaerah itu diambil
pemerintah Islam, maka rakyat di daerah tersebut tidak memiliki mata pencaharian,
yang akibatnya bisa memberatkan beban Negara. Para ulama ushul fiqh berpendapat
bahwa landasan pemikiran ‘Umar ibn al-Khaththab dalam kasus ini adalah demi
kemaslahatan (mashlahah).

‘Ali ibn Abi Thalib juga melakukan ijtihad dengan menggunakan qiyas yaitu
meng-qiyas-kan hukuman orang yang meminum khamar dengan hukuman orang yang
melakukan qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina). Alasan ‘Ali ibn Abi Thalib
adalah bahwa seseorang yang mabuk karena meminum khamar akan mengigau. Apabila
ia mengigau, maka ucapannya tidak bisa dikontrol, dan akan menuduh orang lain
berbuat zina. Hukuman bagi pelaku qadzaf adalah 80 kali dera. Oleh sebab itu,
hukuman orang meminum khamar sama dengan hukuman menuduh orang lain berbuat
zina. Perkembangan permasalahan di zaman sahabat ini memerlukan upaya ijtihad yang
semakin luas.

Selain bertebarnya para sahabat diberbagai daerah yang saling berbeda budaya,
dalam kasus yang sama, hukum di satu daerah dapat berbeda dengan di daerah lainnya.
Perbedaan hukum ini berawal dari perbedaan cara pandang dalam menetapkan hukum
pada kasus tersebut.

Di zaman tabi’in, permasalahan hukum yang muncul pun semakin kompleks.Para


tabi’in melakukan ijtihad diberbagai daerah Islam.Di Madinah muncul berbagai fatwa
berkaitan dengan berbagai persoalan baru, sebagaimana dikemukakan Sa’id ibn al-
Musayyab.Di Irak muncul ‘Alqamah ibn Waqqas, al-Laits dan Ibrahim al-Nakha’i.Di
Bashrah muncul pula mujtahid di kalangan tabi’in, seperti Hasan al-Bashri.

Titik tolak para Ulama tersebut dalam menetapkan hukum bisa berbeda; yang satu
melihat dari sudut mashlahat, sementara yang lain menetapkan hukumnya melalui qiyas.
Ulama ushul fiqh Irak lebih dikenal dengan penggunaan ra’yu, dalam setiap kasus yang
dihadapi mereka berusaha mencari berbagai ‘illat-nya; sehingga dengan ‘illat ini mereka
dapat menyamakan hukum kasus yang dihadapi dengan hukum yang ada nash-
nya.Sikap ulama Irak ini bukan berarti meninggalkan Sunnah Rasulullah SAW, tetapi
15
sikap itu mereka ambil karena sangat sedikit Sunnah Rasulullah SAW. Yang bisa
mereka temukan. Adapun para ulama Madinah banyak menggunakan Hadits-hadits
Rasulullah SAW, karena mereka dengan mudah dapat melacak Sunnah Rasulullah
SAW di daerah tersebut.

Di sinilah awal perbedaan dalam mengistinbathkan hukum dikalangan ulama fiqh.


Akibatnya, muncul tiga kelompok ulama, yaitu Madrasah al-‘Iraq, Madrasah al-
Kufah, dan Madrasah al-Madinah. Penamaan ini menunjukkan perbedaan cara dan
metode yang dugunakannya dalam menggali hukum. Pada perkembangan selanjutnya,
Madrasah al-‘Iraq dan Madrasah al-Kufah lebih dikenal dengan sebutan Madrasah al-
Ra’yi, sedangkan Madrasah al-Madinah dikenal dengan sebutan Madrasah al - Hadits.

Setelah itu muncul para Imam Mujtahid, khususnya Imam Mazhab yang empat :

1. Nu’man ibn al-Tsabit yang lebih dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah (80-
150 H/699-767 M),

2. Malik ibn Anas, yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik (93-179 H/712-
795 M),

3. Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, yang lebih populer dengan sebutan Imam al-
Syafi’i (150-204 H/767-820 M),

4. Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H/780-855 M).

Masing-masing imam merumuskan metode ushul fiqh sendiri, sehingga terlihat


dengan jelas perbedaan antara satu imam dengan imam lainnya dalam mengistinbathkan
hukum dari al-Qur’an dan Sunnah.Imam Abu Hanifah mengemukakan urutan dalil
dalam mengistinbathkan hukum sebagai berikut :al-Qur’an; Sunnah; fatwa yang
didasarkan atas kesepakatan para sahabat; fatwa para tabi’in yang sejalan dengan
pemikiran mereka;qiyas dan istihsan. Imam Malik, disamping berpegang kepada al-
Qur’an, Sunnah, juga banyak mengistinbathkan hukum berdasarkan amalan penduduk
Madinah (‘amal ahl al-madinah). Akan tetapi Imam Malik juga banyak menolak
mengamalkan Sunnah, apabila terjadi pertentangan Sunnah dimaksud dengan al-Qur’an.

Selanjutnya Imam al-Syafi’i dengan metode-metode ijtihadnya dan sekaligus buat


petama sekali membukukaan ilmu ushul fiqh yang dibarengi dengan dalil-dalilnya.
Kitab ushul fiqh yang disusun Imam al-Syafi’i tersebut bernama al-Risalah.Kitab ini
disusun berdasarkan khazanah fiqh yang ditinggalkan para sahabat, tabi’in, dan Imam-
imam mujtahid sebelumnya. Imam al-Syafi’I berupaya mempelajari secara seksama
perdebatan yang terjadi antara ahl al-hadits yang bermarkas di Madinah dengan ahl al-
ra’yi di Irak. Dari kedua aliran ini Imam al-Syafi’i berusaha untuk mengompromikan
pandangan kedua aliran tersebut, serta menyusun teori-teori ushul fiqhnya. Dalam
kitabnya, al-Risalah, Imam al-Syafi’i berusaha memperlihatkan pendapat yang shahih
16
dan pendapat yang tidak shahih, setelah melakukan berbagai analisis dari pandangan
kedua aliran, Irak dan Madinah. Berdasarkan analisisnya inilah dia membuat teori ushul
fiqh; yang diharapkan dapat dijadikan patokan umum dalam mengistinbathkan hukum,
mulai dari generasinya sampai generasi selanjutnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat kalangan ushul fiqh (termasuk di kalangan


Imam Mazhab yang empat), tentang berbagai metode ijtihad yang ada, para analisis
ishul fiqh menyatakan bahwa pada masa keempat Imam Mazhab tersebut ushul fiqh
menemukan bentuknya yang “sempurna”, sehingga generasi-generasi sesudahnya
cenderung hanya memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan kasus yang
mereka hadapi pada zamannya masing-masing.

Pada saat munculnya munculnya empat pendiri madzhab fiqh dan kumpulan hasil-
hasil karya mereka inilah diperkirakan istilah fiqh dipakai secara spesifik sebagai satu
disiplin ilmu hokum Islam sistematis yang dipelajari secara khusus sebagaimana
dibutuhkannya spesialisasi untuk mendalami disiplin-disiplin ilmu yang lain.

Setelah tahun 241 hijriah atau 855 masehi yaitu tahun wafatnya pendiri madzhab
fiqh terakhir, Imam Hanbali, maka berakhir pulalah era para pakar hokum Islam yang
independen (Arab, mujtahid mutlaq). Secara factual para ahli fiqh setelah itu cukup
berafiliasi pada salah satu metode pengambilan hokum (ushul fiqh) yang ditetapkan
oleh Imam madzhab yang empat di muka.

Pada saat yang sama kompilasi serta studi kritis terhadap Hadits-hadits Nabi
mulai mendapatkan momentum. Dari sini muncullah nama-nama perawi (pengumpul)
Hadits terkenal seperti Abu Abdullah Muhammad Abu Ismail al-Bukhari atau Imam
Bukhari (w.256 h.), Muslim Ibn al-Hajjaj atau Imam Muslim (w.261 h.), Tirmidzi
(w.279 h.), Abu Dawud (w.279 h.), Ibnu Majah (w.273), Nasai’I (w.303 h.). Kumpulan
Hadits-hadits mereka terkenal dengan sebutan Kutub as-Sittah atau Enam Kitab
Kumpulan Hadits-hadits Nabi. Enam kodifikasi Hadits ini oleh para pakar fiqh pasca
Imam Madzhab yang empat diambil sebagai salah satu sumber rujukan utama di dalam
membuat aktifitas hokum Islam.

17
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Objek kajian Fiqh dapat diartikan segala sesuatu yang menjadi sasaran syara’,
yang pada kenyataanya tersusun dari dua bagian. Yang pertama, hukum-hukum syara’
amaliah dan kedua, dalil-dalil tafshiliyah (yang jelas) mengenai hukum itu. Ruang
lingkup ilmu Fiqh, meliputi berbagai bidang di dalam hukum-hukum syara’: ibadat,
mu’amalat, ruang munakahat, jinayat.

Tujuan mempelajari fiqh ialah untuk menerapkan hukum Syara’ pada setiap
perkataan dan perbuatan Mukallaf yaitu orang yang telah dibebankan kewajiban
Syariah, maka tujuan akhirnya sebagai seorang muslim yang mukallaf adalah untuk
mencapai keridhoan Allah SWT. Selain itu, tujuan mempelajari ilmu fiqh lainnya yaitu
untuk menerapkan hukum - hukum syariat islam terhadap perbuatan dan ucapan
manusia, seperti rujukan seorang hakim dalam keputusannya, rujukan seorang Mufti
dalam fatwanya, dan rujukan seorang mukallaf untuk mengetahui hukum syariat dalam
ucapan dan perbuatannya.
Mempelajari ilmu fiqh besar sekali faedahnya bagi manusia. Dengan mengetahui
ilmu Fiqh menurut yang dita’rifkan ahli ushul, akan dapat diketauhi mana-mana yang
haram, mana yang halal, mana yang sah, mana yang batal, dan mana pula yang fasid.
Para ulama ushul Fiqh menyimpulkan bahwa tujuan utama ushul fiqh ialah
mengetahui dalil-dalil syara’, yang menyangkut persoalan ‘aqidah, ibadah, mu’amalah,
‘uqubah, dan akhlak.

Objek kajian ushul fiqh adalah pembahasan dalil-dalil yang dipergunakan dalam
menggali dalil-dalil syarak. Dalil-dalil syarak tersebut ada yang disepakati oleh semua
ulama, yaitu Al-Qur'an dan sunnah, dan ada yang disepakati oleh kebanyakan ulama,
yaitu ijma' dan qiyas. Ada pula yang diperselisihkan oleh mereka tentang
kehujjahannya, seperti istihsan, istishab (memberlakukan hukum yang ada sejak
semula), al-maslahah al-mursalah, sadd az-zariah ( mencari inti permasalahan dan
dampak suatu perbuatan ), 'urf ( adat istiadat ).

B. SARAN

Kami selaku insan biasa tak luput dari kesalahan, dan masih banyak kekurangan
dalam penulisan makalah, oleh karena itu saran dan masukan dari kawan-kawan akan
sangat membantu dalam penyempurnaan makalah ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Haroen, Nasrun, Ushul Fiqh 1, Ciputat, PT LOGOS Wacana Ilmu,1996.

Bakry,Nazar, Fiqh dan Ushul Fiqh, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1993.

Djamali, R.Abdul, Hukum Islam, Bandung, Penerbit Mandar Maju, 1997.

Hasbi Ash Shiddiqy, Teungku Muhammad, Pengantar Ilmu Fiqh, Semarang, PT Pustaka
Rizki Putra,1992.

Abu zahrah, Muhamad, Ushul Fiqh, Jakarta, Penerbit Pustaka Firdaus, 1994.

Rahman Dahlan, Abd. Ushul Fiqh, Jakarta: AMZAH, 2010.

19