Anda di halaman 1dari 5

1

Pancasila Truly Indonesia

Nama : Rahmat Khairul Saleh

Prodi : Statistik

Fakultas :Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

E-mail : rahmatkhairul097@gmail.com

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan


politik para founding fathers ketika negara Indonesia didirikan. Nilai-nilai dan isi
yang terkandung dalam Pancasila sudah dipertimbangkan dengan baik supaya bisa
sejalan dengan pandangan dan sifat bangsa Indonesia. Pancasila sering
digolongkan ke dalam ideologi tengah di antara dua ideologi besar paling
berpengaruh di dunia. Pancasila tidak berpaham komunisme dan tidak berpaham
kapitalisme. Pancasia berusaha untuk mengambil sisi baik dan menghapus sisi
buruk yang terkandung dalam kedua ideologi itu. Selain itu Pancasila juga mampu
bersifat fleksibel terhadap perkembangan zaman. Hingga sekarang pada era
globalisasi Negara Indonesia tetap berpegang teguh kepada pancasila sebagai
dasar negara.

Di era globalisasi ini peran pancasila sangat penting untuk tetap menjaga
eksistensi kepribadian bangsa indonesia, karena dengan adanya globalisasi
batasan-batasan diantara negara seakan tak terlihat, sehingga berbagai kebudayaan
asing dapat masuk dengan mudah ke masyarakat. Hal ini dapat memberikan
dampak positif dan negatif bagi bangsa indonesia, jika kita dapat memfilter
dengan baik berbagai hal yang timbul dari dampak globalisasi tentunya globalisasi
itu akan menjadi hal yang positif karena dapat menambah wawasan dan
mempererat hubungan antar bangsa dan negara didunia. Tapi jika kita tidak dapat
memfilter dengan baik sehingga hal-hal negatif dari dampak globalisasi dapat
merusak moral bangsa dan eksistensi kebudayaan indonesia.

Dari faktor-faktor tersebutlah di butuhkan peranan pancasila sebagai dasar


dan pedoman negara dalam menghadapi tantangan global yang terus meningkat di
2

era globalisasi. Dahulu pada saat tangan terbuka untuk menerima masuknya
pengaruh budaya hindu, islam, serta masuknya kaum barat yang akhirnya
melahirkan kolonialisme merupakan pengalaman pahit. Kolonialisme tentu sangat
tidak meyenangkan untuk kembali terulang. Patut diingat bahwa pada zaman
modern sekarang ini wajah kolonialisme dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk
fisik, tetapi dalam wujud lain seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski
tidak berwujud fisik, tetapi penguasaan politik dan ekonomi oleh pihak asing akan
berdampak sama seperti penjajahan pada masa lalu, bahkan akan terasa lebih
menyakitkan.

Pada era globalisasi ini yang paling penting adalah bagaimana bangsa dan
rakyat indonesia mampu menyaring informasi yang masuk agar hanya nilai-nilai
kebudayaan yang baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa saja yang terserap.
Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai apalagi merusak tata nilai budaya
nasional mesti ditolakdengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan tersebut terletak
pada pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Bila rakyat dan bangsa
indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka nilai-nilai budaya dari
luar akan yang tidak baik akan tertolak dengan sendirinya. Akan tetapi,
masalahnya dalam kondisi yang serba terbuka seperti saat ini justru membuat jati
diri bangsa indonesia berada pada titik nadir.

Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya


sendiri sehingga budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun tidak
sesuai terserap bulat-bulat. Nilai-nilai yang datang dari luar serta merta dinilai
bagus, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam
hati sanubari rakyat dinilai usang. Lihat saja sistem demokrasi yang kini tengah
berkembang di Tanah Air yang mengarah kepada paham liberalisme. Padahal,
negara Indonesia seperti yang ditegaskan dalam pidato Bung Karno di depan
Sidang Umum PBB menganut paham demokrasi Pancasila yang berasaskan
gotong royong, kekeluargaan,serta musyawarah dan mufakat.

Sistem politik yang berkembang saat ini sangat gandrung dengan paham
liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila yang
seharusnya dibangun dan diwujudkan oleh rakyat dan bangsa Indonesia. Terlihat
3

jelas betapa demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak Asasi
Manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya
dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya dari
luar, khususnya paham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri
bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal
memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Akibatnya,
seperti terlihat saat ini, konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite
politik tampak hanya memikirkan kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.

Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan
hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-
nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila
sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada
diatas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat
memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan
jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu
bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi
serta mencari solusi dari persoalan tersebut.

Untuk mengatasi globalisasi juga dapat dilakukan dengan menumbuhkan


kembali rasa nasionalisme bangsa agar masyarakat dapat mencintai negaranya.
Langkah-langkah dapat dilakukan antara lain yaitu:

1. Menyaring budaya asing yang masuk ke negara kita harus yang sesuai dengan
kepribadian bangsa.
2. Mencintai atau membeli produk dalam negeri sendiri.
3. Meningkatkan produksi dalam negeri agar dapat bersaing dengan produksi
negara negara maju.
4. Berusaha mengikuti perkembangan IPTEK dan yang paling penting
meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan YME.
5. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat
mencintai produk dalam negeri.
6. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik-
baiknya.
4

7. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.


8. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam
arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
9. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi,
sosial budaya bangsa.
Dalam bidang teknologi dan informasi, langkah yang dapat ditempuh adalah
dengan menyaring informasi yang baik dan bermanfaat. Selain itu juga
diperlukan adanya pengawasan dari semua pihak agar informasi yang beredar di
masyarakat tidak membawa dampak negatif terutama untuk kalangan muda.
Masyarakat juga harus berusaha mengikuti perkembangan IPTEK agar tidak
tertinggal dari negara lain dan tidak mudah dibodohi oleh informasi-informasi
yang masuk dari luar. Dalam bidang budaya, masyarakat harus selektif memilih
budaya dari luar dengan mengambil kebudayan-kebudayaan yang sesuai dengan
kebudayaan lokal. Budaya lokal juga harus diangkat kembali dengan mengadakan
berbagai macam pameran, seminar, lomba-lomba kebudayaan, dan sebagainya.
Dalam bidang pendidikan juga tidak jauh berbeda. Pendidikan tidak akan
pernah luput dari komponen-komponen yang saling memiliki keterkaitan yaitu
pendidik (guru), peserta didik (murid), orang tua (keluarga), dan lingkungan. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh semua komponen tersebut dalam
menghadapi globalisasi di dunia pendidikan. Pendidik (guru) mempunyai tugas
utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik dijalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Guru adalah orang yang bertanggung jawab atas
peningkatan moral pelajar dan kemerosotannya. Oleh karena itu, tugas guru tidak
terbatas pada kegiatan mengajar tapi yang terpenting adalah mencetak karakter
murid. Dengan cara mendidik yang baik maka dapat terbentuk karakter murid
yang baik dan kritis. Pembentukan karakter ini diperlukan agar murid dapat
menanggapi dan menyaring pengaruh globalisasi dengan tepat. Hal tersebut juga
dapat diperkuat dengan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Kedua
komponen ini harus lebih kuat menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dalam
masyarakat karena dengan penanaman tersebut anak akan lebih mempunyai sifat
nasionalisme. Pengawasan juga harus dilakukan agar anak tidak terpengaruh oleh
pihak luar dengan mudah.
5

Daftar Pustaka
http://jurnal.ubharajaya.ac.id/index.php/kamnas/article/download/41/34
http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/citizenship/article/download/1076/940
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=69792&val=4879