Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R., D.S. Sjafei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Iktiologi. Suatu Pedoman
Kerja Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Alamsjah, Z. 1974. Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas


Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
.
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Brotowidjoyo. 1995. Zoologi. Surabaya: penebar Swadaya.

Campbell, N.A. 2004. Biologi. Jakarta : Erlangga

Djuhanda,T. 1981. Dunia Ikan. Bandung: Penerbit Armiko

FishBase Team. 2014.http://www.fishbase.org/search.php. Stokholm, Sweden.

Kimball, john. 1985. Biologi jilid 3. Jakarta : Erlangga

Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, and S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited, Hong Kong.

Kumaran, M. And J. E. Randell. 1984. Upeneus sulphureus. http://fishbase.org,

Puspowardoyo, H. dan Djarijah A.S. 2002. Pembentukan dan pembesaran ikan lele Dumbo
Hemat Air. Bandung: Kanisius

Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

Retno, Kentoro. Ikan gabus konsumsi dan khasiatnya. http://www.soneta.org. diakses pada 6
Maret 2014.

Rifai, Sjamsudin Adang, dkk. 1983. Biologi Perikanan 2. Jakarta; Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan.
Sjafei, D.S., M.F. Rahardjo, R. Affandi, dan M. Brodjo. 1989. Bahan Pengajaran Sistematika
Ikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat
Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Storer, T.J. and R.L. Usinger. 1957. General Zoology. McGraw Hill Book
Company, Inc., New York.

Yasin, Maskoeri. 1984. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya : Sinar
Wijaya.
DAFTAR PUSTAKA
Pengembangan Program Perkuliahan Biologi Umum Berbasis Inkuiri Bagi Calon
Amori,1996.
Guru Biologi. Disertasi UPI Bandung: tidak diterbitkan
Drs. Rusna Ristasa A., 2002, Biologi, Lubuk Agung : Bandung
John W Kimball, 1983, Biologi,Erlangga : Jakarta
Pipit Pitriana & Diah Rahmatia, 2008, Bioekspo, PT Wangsa Jatra Lestari : Solo
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, T. 2016. Laporan Praktikum Oceanografi (Gelombang, Pasut, Arus, &

Kualitas Air) on http://taufiqabd.blogspot.co.id/2016/09/laporan-praktikum-

oceanografi-gelombang.html di akses pada 12 juni 2017


Affandi, Ridwan. 2002. Fisiologi Hewan Air . Pekanbaru: Unri Press.
Alamikan. 2012. Bagian Sirip Ikan dan Fungsinya.On http://www.alamikan.com/2012/11/sirip-
ikan.html?m=1 diakses pada 15 juni 2017.
Anonym. 1999. Canadian Council of Ministers of the Environment. 1999. Canadian water quality
guidelines for the protection of aquqtic life: Salinity (marine).In: Canadian environmental
quality guiselines, 1999. Canadian Council of Ministers of the Environment, Winnipeg
Burhanuddin, A Iqbal. 2008. Ikhtiologi. Yayasan Citra Emulsi. Makassar
De Becker, G., dan Hariyanti, R. 2007. Atlas Binatang: Pisces, Reptilia, Amfibi. Tiga Serangkai. Jakarta
Dubois, M. et al. 1956. Colorimetric method for determination of sugars and related substances.
Analytical Chemistry.
Djawad, M. I, Ambas, I, Yusri, K. 2007. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan Air. Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armiko, Bandung.
Dwijayanti, D. R. 2011. Laporan Praktikum Anatomi Histologi Hewan Anatomi Eksternal Dan Internal
Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Laboratorium Fisiologi Hewan Jurusan Biologi Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya. Malang.
Eckertt R., Randall D., Augustine G., 1988. Animal Physiology, Mechanism and Adaptations . WH
Freeman and Company New York. Third Edition.
Fajlan. 2016. Sistem Osmoregulasi Ikan, Sistem Homeostatis Dan Konsumsi Oksigen Pada Ikan.
Onhttp://fajlan25.blogspot.com/2016/04/sistem-osmoregulasi-ikan-sistem.html?m=1. Diakses
pada 5 April 2016.
Firdaus. 2011. Budidaya perikanan . Tira Pustaka, Jakarta.
FKUI. 2010. Informasi Umum Ilmu Anatomi.
http://www.fk.ui.ac.id/?page=content.view&alias=departemenanatomi. Diakses tanggal 12
Maret 2011
Fujaya, Yusinta. 1999. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Fujaya, Yusinta. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Fujaya, Yusinta. 2008. Fisiologi ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Khairuman, Amri K. 2008. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Khairuman, Khairul Amri. 2013. Pembesaran Nila Di Kolam air Deras . Agromedia. Jakarta.
Kordi. K. G. H. 2007. Budidaya Ikan Nila di Kolam Terpal. Penerbit Andi. Jakarta.
Lantu, Sartje. 2010. Osmoregulasi Pada Hewan Akuatik . Diakses pada tanggal 15 April 2016 pukul
20:12 WIT. Makassar.
Palallo, Alfian. 2010. Pratikum 1 Osmoregulasi . Diakses pada tanggal 5 April 2016 pukul 19:16
WIT. Makassar.
Paridi, et al. 2011. Makalah Teknik Budidaya Ikan Hias “Ikan Mas Koki”. Diakses pada tanggal 5
April 2016 pukul 19:18 WIT. Makassar.
Putri, Sabillah et al. 2011. Sistem Osmoregulasi Pada Ikan . Diakses pada tanggal 5 April 2016 pukul
19:16 WIT. Makassar.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci identifikasi ikan. Jilid I dan II. Bina cipta. Bandung.
Setyo, Bambang Pramono. 2006. Efek Konsentrasi Kromium (Cr+3) dan Salinitas berbeda terhadap
Efisiensi Pemanfaatan Pakan untuk Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus).
Eprints.undip.ac.id. Diakses pada tanggal 5 April 2016, pukul 17:32 WIT. Makassar.
Sokolova, Inna M., Markus Frederich, Rita Bagwe. 2012. Energy homeostasis as an integrative tool
for assessing limits of environmental stress tolerance in aquatic invertebrates. Marine
Environmental Research. 79: 1-15
Sucipto, Adi. 2007. Fisiologi Hewan Air. Diakses pada tanggal 5 April 2016 pukul 19:20 WIT.
Makassar.
Suyanto SR. 2010. Pembenihan dan pembesaran nila. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suyanto, Rachmatun. 2008. Budidaya Ikan Nila. Jakarta: Penebar Swadaya
Zonneveld, 1991. Anatomi Ikan. PT intermasa, Jakarta
DAFTAR PUSTAKA

 Abas siregar,2004.mila gift.penelitian karikus:Jakarta


 Anak ciramai,2008.makalah biologi tentang keragaman hewan,http:// www.anak ciramai.com/
2008/07/ makhluk-biologi-tentang-keragaman-hewan.html diakses tanggal 05 oktober 2011
pukul 21.30 WIB
 Devitri,2010.sistematika anatomi fisiologi dan morfologi ikan
nila http://www.devitririaalhikmah.blogspot.com/2010/12/sistematika-anatimi-fisiologi dan
morfologi-ikan nila.html. diakses tanggal 15 oktober 2011 pukul 21.25 WIB
 Khoirul Amri,2004.budidaya ikan nila.Amerika pustaka:Jakarta
 Meitanisyah,2009.Anatomi dan fisiologi ikan
nila http://www.meitasnisyah.wordpress.com/2009/04/07.html. Diakses tanggal 05 oktober 2011
Dhewi, 2008 Kualitas Ikan Nila. Graha Ilmu: Jakarta
Dwisang, 2008. Struktur Tubuh Ikan Nila: Yogyakarta
Image. 2009. Caudal of Nila Fish. http://aquaviews.net
Diakses tanggal 07 Oktober 2011 pukul 09.31 WIB
Image, 2009. Gambar ikan Nila. http://meitanisyah.wordpress.com
Diakses tanggal 07 Oktober 2011 pukul 09.36 WIB
Image, 2009. Sisik Ikan Nila. http://australianmuseum.net.au
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.16 WIB
Indhie. 2009. Ikan Nila. http://indhie.wordpress.com
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukuol 16.30 WIB
Trewavas.Dr, 2009 Klasifikasi Nila. http://meitanisyah.wordpress.com
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.19 WIB
Meitanisyah, 2010 Anatomy of Fish. Erlangga: Jakarta
Pratama, 2009. Morfologi Ikan Nila. Airlangga. Jakarta
Putra, adriansyah, 2010. Macam-macam sisik ikan nila. Graha Ilmu: Jakarta
Rustidja,1996. Pola warna dan genetika ikan. Jakarta
Santoso. Budi 1996. Budidaya Ikan Nila. Kasinius: Yogyakarta
Santoso,budi,1996. Sistem reproduksi. Kasinius: Yogyakarta
Seaworld. 2011. Jenis ekor Ikan. http://seaworld.org/aquaviews/tetra/mbuthfish.htm
Diakses pada tanggal 7 Oktober 2011 pukul 13.01 WIB

Saanin, H. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta. 520 hal.

Suyanto, S.R., 2003. Nila. Penebar Swadaya. Jakarta. 105 halaman.

Wikipedia. 2010. Ikan Nila. http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_nila. Di akses pada Maret 2011.

Djauhariya, Endjo. 2003. Mengkudu (Morinda citrifolia L) Tanaman Obat Tradisional. Perkembangan Teknologi
15(1): 18-23.

Rukmana. R. 2003. Ikan nila, Budidaya dan Prospek Agribisnis. Kanisius. Yogyakarta. 95 halaman.
Ikhtyologi merupakan cabang dari ilmu hayat (Biologi) dan secara tepatnya
merupakan salah satu cabang dari ilmu Binatang (Zoologi). Ichtyologi dengan arti
singkatnya merupakan suatu ilmu yang khusus mempelajari tentang ikan. Ichtyologi
asal mulanya dari bahasa Greek atau Yunani dan disebut Ichtyologia, dimana dalam
perkataan Ichty berarti ikan dan logos berarti ilmu. Maka ichtyologi berarti ilmu
pengatahuan yang khusus mempelajari ikan dengan segala aspek kehidupannya (Saanin,
1986).
Ikan adalah suatu makhluk hidup yang hidup di dalam air dan mempunyai darah
dingin. Mempunyai darah dingin artinya panas badannya mengikuti panas air dimana
ikan tersebut berada. Ikan bernapas terutama dengan mengisap hawa dari air dengan
mempergunakan insang-insangnya yang terdapat di kanan dan kiri kepalanya. Pada
suatu waktu secara darurat ikan mengambil hawa dari permukaan air, jika di dalam air
terdapat hawa yang kurang. Zat yang penting dalam hal pernapasan ini dinamakan zat
asam arang yang bagi ikan tidak berguna bahkan membahayakan kalau terlalu banyak
adanya di dalam air (Achjar, 1999).
Ikan mempunyai jenis ikan yang terpisah dan jelas yang di depan disokong oleh
jari-jari keras sedangkan sirip punggung yang belakang memiliki jari-jari yang lemah.
Pada beberapa jenis ikan terdapat sirip tambahan, misalnya pada sirip punggung dan
sirip duburnya. Sirip ekor berbentuk cabang dan lekukan yang sangat dalam. Sirip di
bagian duburnya lebar dan panjang yang ukurannya sama dengan sirip punggung bagian
belakang. Bentuk bagian sirip perutnya agak ke bawah, bentuk dari sirip dada bagian
tengah dan bagian depan mlengkung, menciut dengan bagian pangkalnya yang lbar dan
kuat (Muniarti, 1994).
Tubuh ikan terdiri atas caput, truncus, dan cauda. Yang diantaranya tidak ada
batas yang nyata sebagai batas antara caput, truncus, dan tepi caudal. Tepi caudal,
operculum dan sebagai batas antara truncus dan ekor pada anus. Ikan yang terdapat di
aliran air cepat berbentuk seperti torpedo kulit atau curis yang terdiri atas korium atau
dermis dan jaringan epidermis. Corium terdiri atas jaringan pengikat pada epidermis.
Yang melapisinya sebelah luar adalah epitelium. Diantara sel-sel epitelium terdapat
kelenjar uniseluler di mana dapat mengeluarkan kelenjar atau lendir. Lendir ini
menyebabkan kulit ikan menjadi licin (Poetra, 1991).
Yang biasa digunakan sebagai pengawet ikan adalah formalin 4 %. Untuk ikan

yang lebih besar dipergunakan konsentrasi yang lebih tinggi misalnya 5 % dan untuk
ikan kecil dapat dipergunakan konsentrasi yang lebih rendah misalnya 2 1/2 – 3 %. Ikan

yang lebih besar dari 50 cm sebelum diawetkan dalam formalin, terlebih dahulu sisi
perut sebelah kanan di turis dengan pisau agar bahan pengawet lebih mudah masuk

kedalam rongga perut. Pengawetan dengan formalin cukup dilakukan selama satu

minggu. Untuk penyimpanan selanjutnya, terutama bagi jenis ikan yang penting

formalin harus di keluarkan lagi dari daging ikan dengan merendam selama dua hari di

dalam air biasa yang sering diganti. Untuk menghilangkan bau formalin pada ikan yang

akan diperiksa, ikan tersebut terlebih dahulu dimasukan selama beberapa menit ke
dalam larutan NaHSO2 dan Na2SO3dalam perbandingan 60 gram NaHSO3 dan 40 gram

Na2SO3 untuk tiap-tiap liter air ( Effendi, 1992 ).


Penyebaran ikan merupakan yang terluas diantara semua organisme yang ada di

muka bumi ini. Hal ini disebabkan luasnya perairan yang terdapat di muka bumi ini

yaitu sekitar 0,75 % dari total permukaan bumi. Akan tetapi, perairan yang terdapat di

muka bumi ini mempunyai sifat yang berlainan yang secara garis besar dibedakan atas

perairan darat yang bersifat tawar dan lautyang bersifat asin. Dan penyebaran ikan di

muka bumi itu tidak selamanya baik. Dalam hal ini di sebabkan oleh adanya penghalang

baik secara kimia, fisika maupun biologi. Berdasarkan perbedaan yang terdapat pada

perairan dan sifatnya maka dapat menyebabkan ikan yang ada di suatu perairan harus
beradaptasi dengan lingkungan. Agar ikan dapat bertahan hidup di perairan tersebut

adaptasi yang dilakukan ikan terjadi dalam beberapa segi antara lain segi morfologi dan
segi anatomi (Effendi, 1997).

Pada ikan bertulang keras tubuhnya tertutup sisik dan banyak mengandung
kelenjar lendir. Lendir yang dapat dihasilkannya menyebabkan ikan menjadi licin.

Keadaan disaat demikian memudahkan ikan bergerak di dalam air, alat geraknya berupa
sirip yang berpasangan dan juga sirip tunggal (Robert, 1989).
Ikan mudah mengapung karena mempunyai gelembung renang atau pnematekis.

Pada gelembung renang ada suatu alat pengukur atau pengatur udara yang disebut
hidrostatik yang berfungsi untuk mengetahui tekanan air. Ikan mempunyai suatu alat

indrera khusus yaitu terdapat berderet-deret di sisi tubuh ikan dan disebut dengan gurat
sisi atau linealateralis. Ada jenis ikan yang mempunyai gurat sisi berbentuk satu garis,

ada pula yang berupa garis terputus-putus (Weber, 1973).


Bagian pokok kerangka ikan adalah tulang punggung yang dihuungkan dengan

jaringan pengikat yang lentur. Pada bagian bawah tulang-tulang punggung ini terdapat

rusuk yang arahnya ke bawah. Tiap jenis ikan memiliki ukuran yang berlainan. Bagian

luar tulang punggung terdapat tulang yang berlainan pula. Pada tulang ikan terdapat

kranium, kranium merupakan bagian belakang tulang kepala yang berhubungan dengan

tlang belakang (Achjar, 1990).


Organ yang sangat berperan dalam ekskresi dari sisa hasil metabolisme adalah

ginjal yang berbentuk ramping dan memanjang, berwarna merah tua terletak di atas
rongga perut (di luar peri tonium) dan di bawah punggung. Kegiatan penyingkiran

dilakukan oleh ginjal posterior, sedangkan bagian anterior dapat mensekresikan

hormon. Hasil buangan yang dikeluarkan oleh ginjal antara lain urea, asam urikat dan

trimetiman okida (Raharjo, 1986).

Perkembangan embriotik tengkorak ikan berasal dari 3 sumber, yaitu

chondrocranium (neurocranium), dermocranium, splanchocranium. Chondrocranium


adalah pembungkus otak yang awalnya berasal dari tulang rawan. Dermocranium adalah

tengkorak yang berasal dari rangka sisik yang berfungsi pada kulit atau dermis atau
corium kulit. Splanchocranium yaitu tulang yang berasal dari rangka visceral (tulang

yang menyokong lengkung insang) (Utoma, 1990).


Secara garis besar, ikan mempunyai 3 (tiga) macam yang disebut dengan otot

daging. Otot daging itu adalah otot daging atau otot bergaris, otot licin, otot jantung,

setiap blok dari daging atau otot-otot tersebut dinamakan dengan myotome (miotome

atau miomer) yang tampak seperti garis-garis zig-zag dan dilapisi oleh myoseptum
(miosepta), potongan tubuh ikan secara melintang menampakkabn garis dan di dalam
garis tersebut dikonsentrasi miotoma, sehingga disetiap lokasi tampak mioseptanya

(Hisbi, 2001).
Ikan memiliki ikan yang terpisah dan jelas yang di depan disokong oleh jari-jari

keras sedangkan sirip punggung yang belakang memiliki jari-jari yang lemah. Pada
beberapa jenis ikan terdapat sirip tambahan, misalnya pada sirip punggung dan sirip

duburnya. Sirip ekor berbentuk cabang dan lekukan yang sangat dalam. Sirip di bagian
duburnya lebar dan panjang yang ukurannya sama dengan sirip punggung bagian

belakang. Bentuk bagian sirip perutnya agak ke bawah, bentuk dari sirip dada bagian

tengah dan bagian depan melengkung, menciut dengan bagian pangkalnya yang ebar

dan kuat (Muniarti, 1994).

Bagian kepala, termasuk mulut dibagi antara mata dan ujung rahang atas

operculum atau tutup insang di pipi bagian antara mata dan sudut preoperculum di
membran brankiostegal, di bawah operculum dagu dan bagian antara orbit. Sifat-sifat

khusus kepala yang bermacam-macam, yang dimaksud sebagai pengetahuan untuk


dijadikan paduan dan untuk mengenal spesies ikan, yaitu dalam mengkaji sistematika

dan menilai tingkah laku hidup ikan (Ridwan, 1990).

Secara umum tubuh ikan dibangun atas tiga bagian diantaranya tulang, daging

dan otot. Daging dan otot ikan, biasanya banyak terdapat pada bagian tubuhnya dan

berupa jaringan-jaringan pengikat yang meliputi bagian dari perutnya, bagian

punggung, pangkal sirip dada, pangal sirip ekor, pangkal sirip belakang, pangkal di
bagian kepala. Dagong serta otot pada ikan mempunyai struktur yang mirip dengan

hewan mamalia darat (Susanto, 1992).


Bagian-bagian urat daging bergaris yang ada di tubuh ikan yaitu :

1. Urat daging oculomotor : terdapat tiga pasang mata.


2. Urat daging hypobrancial : terdapat pada dasar pharynx rahang dan hyoid, lengkung

insang.

3. Urat daging branciomerik : pada muka rahang dan pada lengkung insang (berfungsi

sebagai pengerut).
4. Urat daging eppindecular : berfungsi untuk mengerakkan sirip.
Urat daging yang menutupi horizontal skeletegeneous septum adalah musculus

lateralis superficialis. Urat daging yang terdapat pada kedua sisi tubuh ikan dibedakan
menjadi dua bagian :

1. Bagian atas (epaxial)


2. Bagian bawah (hypaxial)

Urat daging yang meliputi dan disebut juga dengan urat daging licin, yang
terdapat pada :

1. Urat daging usus (melingkar atau memanjang)

2. Urat daging terdapat pada arteri

3. Urat daging pada saluran ekskresi dan sistem reproduksi.

Ciri-ciri urat daging jantung :

1. Berwarna merah tua.


2. Kontraksi otot bersifat involuntary.

3. Myocardium dilapisi oleh pericardium dan endocardium (Yusfihana, 2002).


Secara umumorgan-organ internal (dalam tubuh ikan) meliputi beberapa organ

yaitu :

1. Alat pencernaan yang terdiri dari esophagus dan perut besar, hati dan pankreas.

2. Jantung

3. Gonada

4. Kandung urine
5. Ginjal

Ikan mempunyai sirip ekor yang bermacam-macam. Dimana pada ikan bertulang
belakang rawan ekornya berbentuk non simetris. Dan ikan yang bertulang keras ekornya

menjadi bentuk simetris.


Ikan bertulang rawan mempunyai ciri kerangka ikan yang khusus, tulang

belakangnya mempunyai bagian yang lentur bagian ini berhubungan dengan duri sirip

dan rusuk selain terdapat bagian yang disebut notochord yang berisi suatu substansi

seperti jeli. Kedua dari ujung belakang tersebut memanjang sepanjang tulang belajang
dan banyak dijumpai pada ikan air laut. Tulang-tulang rawan juga dipakai pada kranium

yang disebut parasfeonoda. Bagian di atas kranium ditutup oleh tulang-tulang lembut
yang kuat dari tulang-tulang yang menutupi badan (sisik) juga merupakan bagian dari

tulang rawan. Tulang tengkorak (kranium) pada bagian belakang berfungsi untuk
melindungi otak dan menjadikan di dalam alat indera sebagai alat panca indera.

Sedangkan di dalam tengkorak bagoan depan tersusun dari lengkung insang yang
sebagian menjadi tempat insang dan sebagian lain membentuk rahang dan organ-organ

yang lain yang bertempat di daerah-daerah kepala.


Tubuh ikan dibedakan menjadi tiga bagian yaitu : kepala yaitu mulai dari ujung

mulut sampai pangkal operculum (tutp insang), bagian badan mulai dari belakang

operculum sampai pangkal sirip anus, bagian ekor mulai dari pangkal sirip anus sampai

dengan bagian ujung ekor.

Anatomi ikan merupakan ilmu dasar yang penting untuk diketahui dan dipelajari

oleh mereka yang berkecimpung pada penelitian tersebut. Tiap sirip ikan mempunyai
fungsi yang berbeda dalam tiap tugasnya. Misalnya, sirip berpasangan (sirip pada bagian

dada dan sirip bagian perut) untuk gerakan maju dan mundur, dan sirip tunggal
penyeimbang dari sirip ekor yang berfungsi sebagai alat pengemudi.

Tubuh ikan ditutupi oleh selaput tipis yang tembus cahaya (transparan). Kulit

ikan banyak mengandung lendir yang dihasilkan oleh kelenjar lendir pada kulit. Sisik

dalam tubuhnya dianggap kerangka luar (Eksoskeleton), dan susunan pada sisik ikan

seperti susunan gunting dengan bagian pada belakangnya bebas atau tidak melekat

sehingga ada bagian sisi tertutup oleh sisi lainnya.


Ikan juga mempunyai peredaran darah tunggal. Di dalam peredaran darah ini, di

dalam sekali beredar darah hanya melewati satu kali. Jenis ikan dapat dibagi dalam
beberapa bagian yaitu ikan bertulang rawan atau bisa disebut dengan elasmobrankii dan

ikan bertulang keras atau disebut dengan teleostei. Pada jenis ikan bertulang rawan
insangnya terbuka, seangkan pada ikan yang mempunyai tulang keras memiliki insang

tertutup oleh operculum. Ada juga jenis ikan yang bernapas dengan paru-paru dan

disebut dengan dipnei.

Di dalam tubuh ikan terdiri dari beberapa organ yaitu jantung, hati, empedu, alat
pencernaan makanan, limpa, gonad, vertebrae, dan lain-lain.