Anda di halaman 1dari 16

MATA KULIAH : PENDIDIKAN DALAM KEPERAWATAN

MAGISTER KEPERAWATAN

KASUS I HASIL DISKUSI TUTORIAL I


LANGKAH-LANGKAH
1. Learning of fact, concepts, and prinsiciples
Learning : pembelajaran
Facta : fakta, concept : kosep, principles : prinsip - gap

Belajar tentang fakta, konsep : konsep pembelajaran(aturan), prinsip : kalau melanggar


salah

Fakta : nyata (penggunaan panca indra : obyektif)


Konsep : abstrak, definisi
Prinsip : ada dalam masyarakat umum yang bisa menjadi sebuah aturan, bersifat
subyektif

Konsep : teori yang kemudian melahirkan konsep dan bisa dibuktikan dengan penelitian
Prinsip : aturan yang harus ada dalam pembelajaran

Fakta : pengalaman masa lalu


Konsep : hasil pemikiran/teori
Prinsip : gabungan antara fakta dan teori

2. a. bagaimana hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip ilmu keperawatan?


b. bagaimana kontribusinya terhadap ilmu keperawatan fakta, konsep, dan prinsip ?
c. mengapa harus belajar tentang fakta, konsep, dan prinsip?
d. bagaimana fakta, konsep, dan prinsip pendidikan ilmu keperawatan ?
e. bagaiamana fakta, konsep, dan prinsip pendidikan ilmu keperawatan di pendidikan dan
klinisi ?
f. bagaimana kualitas pendidikan keperawatan di Indonesia ?
g. bagaimana jika konsep yang dipelajari berbeda dengan fakta yang ada di dunia kerja ?
h. bagaimana sejarah perkembangan ilmu keperawatan di Indonesia ?
i. kapan fakta, konsep, dan prinsip ilmu keperawatan ditetapkan ?
j. siapa yang bertanggung jawab membuat konsep dan prinsip dalam ilmu keperawatan ?

3. a. fakta : hal yang terjadi di lapangan, data yang didapatkan saat pengkajian
konsep : secara teori (patofisiologi), teori untuk menyelesaikan fakta
prinsip : cara untuk mengatasi masalah, bagaimana kita bertindak/menyelesaikan
masalah dengan konsep yang kita punya
prinsip lahir karena konsep yang disesuaikan dengan fakta
(seperti siklus)
Fakta  konsep  prinsip

b. kontribusi dalam bidang keperawatan


membantu perkembangan ilmu keperawatan yang lebih baik/maju
 memunculkan ilmu spesifik ke keperawatan
c. mengapa harus belajar tentang fakta
1. agar perkembangan ilmu keperawatan tidak ketinggalan
2. agar ilmu keperawatan semakin maju
3. agar asuhan keperawatan sesuai dengan EBN
4. meningkatkan kualitas disiplin ilmu keperawatan
d. bagaimana fakta, konsep, prinsip pendidikan ilmu keperawatan di Indonesia
fakta dan prinsip sering kali berbeda,

e. bagaiamana cara fakta, konsep, dan prinsip pendidikan ilmu keperawatan di pendidikan
dan klinisi ?
1. bedset teaching (SCL dan PCC)
2. bersifat asertif
3. up date ilmu pendidikan ke klinik atau sebaliknya

f. bagaimana kualitas pendidikan keperawatan di Indonesia ?


masih kurang karena dari jenjang pendidikan masih SPK
sudah ada langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah

g. bagaimana jika konsep yang dipelajari berbeda dengan fakta yang ada di dunia kerja ?
1. bedset teaching (SCL dan PCC)
2. bersifat asertif
3. up date ilmu pendidikan ke klinik atau sebaliknya

h. bagaimana sejarah perkembangan ilmu keperawatan di Indonesia ?


PKC (setara SMP)  SPK  D3 keperawaatan  S1 keperawatan/D4 Keperawatan
 S2 Keperawatan  S3 Keperawatan

i. kapan fakta, konsep, dan prinsip ilmu keperawatan diterapkan ?


1. ketika membuat sebuah karya ilmiah
2. ketika bekerja melakukan asuhan keperawatan
3. ketika belajar di dunia pendidikan

j. siapa yang bertanggung jawab membuat konsep dan prinsip dalam ilmu keperawatan ?
1. perawat , dalam hal ini PPNI sebagai organisasi profesi
2. departemen kesehatan

LO
Konsep pendidikan dan manajemen asuhan keperawatan
Konsep Konsep pendidikan dan manajemen konfilk
Konsep berubah
Konsep prinsip pendidikan

PERTEMUAN II

Referensi :
1. Pk Setyo : Buku Nursalam (PDK) 2008 Salemba Media, Manajemen Keperawatan
(2014)
2. Mb Endang Nursalam (2008), manajemen konflik (konflik manajemen) 2013,
konsep asuhan kep (jurnal 2006),
3. Bu Ika : Buku Ajar Pendidikan KEp (2009), manajemen Askep (2000), jurnal ttng
pengaruh persepsi perawat manajemen askep (thesis undip) : analisis kompetensi,
konsep berubah 1998, manajemen konflik (leadher ship, 2014),
4. Bu Eti : PDK nursalam, manajemen kep, pendidikan dlm kep
5. Mb Ayu : manajemen kep, pendidikan kep, jurnal2
6. Mb Suci : amajemen kep, jurnal2
7. Mb Eta : daf pendidikan dasar
8. Mb Mustika : jurnal2, buku pengantar prakek profesi,
9. Mb Ira : Jurnal2
10. Pk Trisno : Nursalam, UUD sist pendidikan nas, jurnal2

Konsep pendidikan dan manajemen asuhan keperawatan


 Pendidikan Keperawatan adalah proses pendidikan yang diselenggarakan di Perguruan
Tinggi untuk menghasilkan berbagai lulusan Ahli Madya Keperawatan, Ners, Magister
Keperawatan, Ners Spesialis dan Doktor Keperawatan (Draf Naskah Akademik Sistem
Pendidikan Keperawatan).
 Jenis Pendidikan Keperawatan adalah Pendidikan Vokasi, Akademik dan Profesi
(Gatot, et.al, 2014)
a. Pendidikan Vokasi
Jenis pendidikan Diploma Tiga (D3) keperawatan yang diselenggarakan oleh
Pendidikan TInggi Keperawatan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki
kompetensi sebagai pelaksana asuhan keperawatan. Lulusannya mendapat gelar
AMD.Kep.
b. Pendidikan Akademik
Pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama
pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu. Pendidikan Sarjana plus profesi
lulusannya mendapat sebutan Ners (Nurse), sebutan gelarnya Ns. Sedangkan
pendidikan jenjang Magister Keperawatan lulusannya mendapat gelar M.Kep.
c. Pendidikan Profesi
Pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik
untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus (program spesialis dan
Doctor keperawatan). Pendidikan jenjang spesialis keperawatan terdiri dari Sp.KMB
(Bedah), Sp.Kep.Mat (Maternitas), Sp.Kep.Kom (Komunitas), Sp.Kep,Anak (Anak),
Sp.Kep.Jiwa (Jiwa). Sedangkan untuk jenjang pendidikan Doktor Keperawatan, gelar
lulusannya Dr.Kep.

 Alur perpindahan antara jalur pendidikan vokasi, akademik dan profesi menurut
Kemenristek dikti, dapat digambarkan sebagai berikut :
 Konsep Pendidikan
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional
yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan
undang-undang;
b. Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan
pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan
untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,
nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara
terencana, terarah, dan berkesinambungan;

Sesuai UU No 12 th 2012 tentang Pendidikan Tinggi


a. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
b. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-
nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman.
c. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling
terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
d. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan tertentu.
e. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
f. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan
lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan.
g. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan
potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
h. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan.
i. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan
pendidikan suatu satuan pendidikan
 Fungsi Pendidikan dalam keperawatan menurut Nursalam dan Efendi (2008)
adalah :
1. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan ini ada 3 hal yang perlu mendapat perhatian :
a. Peserta didik dalam hal persyaratan, mekanisme seleksi dan penerimaan, dan daya
tampung peserta didik
b. Proses pendidikan, meliputi tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, proses
pembelajaran, fasilitas sumber daya pendidikan, dan Rumah sakit pendidikan
c. Lulusan, meliputi kualifikasi/persyaratan, mekanisme penilaian akhir/keprofesian,
dan jumlah yang diluluskan dan sebaran lulusan.
2. Fungsi penelitian
a. Berperan aktif dalam riset dasar dan terapan, pengembangan ilmu pengetahuan
keperawatan, pengembangan teknologi keperawatan, meningkatkan mutu dan
memperluas jangkauan pelayanan
b. Memanfaatkan teknologi maju secara tepat dalam rangka meningkatkan mutu dan
memperluas jangkauan pelayanan profesional
c. Melaksanakan berbagai bentuk kegiatan ilmiah yang meliputi ceramah/diskusi
ilmiah, forum ilmiah, tulisan ilmiah
3. Fungsi Pengabdian Masyarakat
a. Pelayanan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk, sifat dan jenjang
pelayanan kepada masyarakat, serta membangun model pelayanan atau asuhan
keperawatan
b. Pendidikan/bimbingan masyarakat dengan cara membina kemampuan masyarakat
mengatasi masalah keperawatan
c. Mengerahkan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir dan melaksanakan
pelayanan atau asuhan keperawatan profesional
d. Memberi konsultasi dalam keperawatan kepada berbagai pihak yang memerlukan

 Sistem Pendidikan Keperawatan Indonesia

Secara umum Pendidikan Keperawatan di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang


(UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mencakup tiga
tahap, yaitu:
1. Pendidikan Vokasional, yaitu jenis Pendidikan Diploma Tiga (D3) Keperawatan yang
diselenggarakan oleh pendidikan tinggi keperawatan untuk menghasilkan lulusan
yang memiliki kompetensi sebagai pelaksana asuhan keperawatan.
2. Pendidikan Akademik, yaitu pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana
yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
3. Pendidikan Profesi, yaitu pendidikan tinggi setelah program sarjana yang
mempersiapkanpeserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian
khusus (program spesialis dan doktor keperawatan).
(Lestari, 2014)

Standard pendidikan diperlukan yg nanti akan berhubungan dengan kompetensi yang


ingin dicapai
Model pembelajaran
SCL : small group (5-10 org, kasus dan diskusi), simulasi (role play), case studi,
discoferi learning (mencari, mengumpulkan, mendiskripsikan pengetahuan), cooperative
learning, CI, PBL, problem PBL, SDL (mendapat bahan sendidri dan mempelajari)

Penddidikan keperawatan __> profesionalisasi kep, fondasi : EBN, kualitas


praktek, pasien safety (proses dalam akademik dan profesi)

Standar praktek Nursing :


Student merupakan sumber
1. Standard praktek : pedomen klinik, klinical thingking
2. Care KOordinator : manajemen kolaborasi
3. Leadhership
4. Peningkatan kulaitas : performa yang baik (komunikasi)

 Manajemen Asuhan Keperawatan

Pemilihan metode di rumah sakit disesuaikan dengan kebijakan rumah sakit, ketersediaan
perawat, jumlah pasien, dan kemampuan atau kompetensi perawat yang tersedia.

Jenis-Jenis Metode Asuhan Keperawatan (MAKP) menurut Nursalam (2017):

a. Fungsional:
 Berdasarkan orientasi tugas
 Biasanya dipilih karena terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat
 Setiap perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi tertentu kepada semua pasien
di bangsal
b. Kasus:
 Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi terhadap pasien tertentu
 Rasio 1:1 (perawat:pasien)
 Perawat dilimpahkan tugas untuk melayani semua kebutuhan pasien pada saat
mereka dinas
 Biasanya dilaksanakan untuk perawat privat, perawatan khusus seperti ruang isolasi
dan ruang intensif
c. Tim
 Berdasarkan kelompok tugas
 Beberapa perawat professional dan perawat pelaksana bekerja terhadap
sekelompok pasien, mereka bekerja sebagai satu tim yang disupervisi oleh ketua
tim
d. Primer:
 Berdasarkan pada tindakan yang komperhensif
 Perawat bertanggungjawab terhadap semua aspek asuhan keperawatan
 Metode ini satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap
asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai pasien keluar dari
rumah sakit.
 Metode ini mendorong kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat
rencana asuhan dan pelaksananya.
 Pelayanan keperawatan mengalami peruhana dapat melalui :
1. Pemberi pelayanan keperawatan melakukan perubahan-perubahan, inovasi dalam
proses keperawatan kemuadian pelayanan keperawatan berubah, atau
2. Keadaan dan situsi yang mengakibatkan pelayanan keperawatan mengalami
perubahan. Apalagi diera globalisasi tuntutan pelayanan keperawatan meningkat,
pengetahuan masyarakat meningkat dan alat-alat semakin canggih.

(Mb Suci)
(pk Setyo)Konsep perawatan secara umum (perencanaan, pengorganisasian pengarahan,
pengendalian)
Penerapan harus mempertimbangkan :
1. Sesuai visi dan misis
2. Dapat digunakan
3. Efektif dan efisien
4. Kepuasan pasien dan perawat
5. Komunikasi efektif
Model asuhan keperawatan yang digunakan sesuai dengan kondisi di RS :
Tim, moduler, fungsional, studi kasus
Mb Endah
Merupakan pengaturan sumber daya dalam proses keperawatan
6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan
(Tomey,Mariner 1996) yaitu :
1. Sesuai dengan visi dan misi institusi
2. Dapat diterapkan proses keperawa-tan dalam asuhan keperawatan.
3. Efisien dan efektif penggunaan biaya.
4. Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat.
5. Kepuasan kinerja perawat.
Bu Ika : manejer ada di KaRu (mampu memotivas)
Perawat professional, syaratnya :
Diharapkan perawat mampu bersikap dan berpandangan professional, berawawasan
keperawatan yang luas, serta mempunyai pengetahuan ilmiah keperawatan yang memadai,
dan menguasai keterampilan professional secara baik dan benar
Kemapuan berfikir kritis dalam mengambil keputusan serta mampu
mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan yang dilakukan merupakan salah satu
factor utama tercapainya kepuasan kerja

Konsep Konsep pendidikan dan manajemen konfilk


Mb Suci :
Pertentangan krn perbedaan pendapat, saling mempertahankan diri dengan pendapat yang sama
Mb Endah :
Situasi 2/lbh mempertahankan persepsinya sendiri
Mb Ira
Jenis konflik
Karakteristik subyek
1. Intra
2. Inter
3. Antar kelompok
Obyek terjadinya
Konfilk tujuan (hasil tidak compatible), kognitif (individu2 menyadari tdk konsisten), dan afektif
(perasaan/emosi tdk kompatibel, saling pertentangan)
Manfaaat : fungsional (keberadaannya menguntungkan organisasi) dan disfungsional
(merugigkan)
Structural : hierarki (pd organisasi), fungsional (berbagai jenis departemen), staf unit (pimpinan
dgn staf), informal (norma yng berlaku di organisasi)dan formal

Beberapa Sumber Konflik menurut Nursalam (2014), dapat disebabkan oleh beberapa hal
berikut :
a. Keterbatasan Sumber Daya
b. Perbedaan Tujuan
c. Ketidakjelasan Peran
d. Hubungan dalam pekerjaan
e. Perbedaan Antar Individu
f. Masalah Organisasi
g. Masalah Dalam Komunikasi

Mb Ira strategi
1. Kompromi : bernegoisasi, salainh mengalah
2. Lose : ada yang kalah, dendam,
3. Kompetsi : ada yang mengalah
4. Akomodasi : menyenangkan pihak lain, menghindari permasalahan
5. Smooting : mencari kesamaan satu dan lainnya
6. Menghindar: tidak memunculkan perbedaan

Konflik terjadi melalui beberapa tahapan. Adapun tahapan konflik adalah :


1. Konflik laten
Tahapan ini merupakan tahapan dimana konflik terjadi secara terus menerus.
Contohnya dalam suatu ruang rawat inap memiliki BOR > 75%, namun perawat yang
bertugas ruangan tersebut ada yang cuti melahirkan 2 orang dan belum di ganti
dengan perawat yang lain karena di ruang yang juga kekurangan perawat. Keadaan
tersebut menimbulkan ketidakstabilan pelayanan keperawatan, walaupun konflik
tidak muncul.
2. Konflik yang dirasakan (felt conflict)
Konflik diatas dapat menimbulkan ancaman, ketakutan, tidak percaya dan marah.
Dalam tahapan ini pemberi pelayanan keperawatan diharapkan untuk dapat
menerima konflik dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai suatu masalah, ancama
terhadap keadaan yang ada.
3. Konflik yang tampak / sengaja dimunculkan
Konflik yang terjadi diatas sengaja dimunculkan agar solusi dalam penyelesaiannya
dapat dicari. Tindakan yang mungkin sudah dilakukan yaitu dengan menghindar
atau mencari penyelesaian untuk mengatasi konflik tersebut. Agar tujuan organisasi
dapat tercapai dalam menyelesaikan konflik diperlukan upaya dan strategi yang
baik, tidak asal dengan cara berdebat, menghindar atau kompetisi.
4. Resolusi konflik
Tahapan resolusi konflik merupakan penyelesaikan masalah konflik yang dapat
memuaskan semua pihak yang terlibat dalam organisasi tersebut, prinsip yang
digunakan dalam tahapan ini adalah win-win solution.
5. Konflik aftermath
Apabila masalah konflik diatas tidak dapat diselesaikan, maka akan menjadi
masalah konflik yang lebih besar dan akan menjadi penyebab konflik yang utama.
Tahapan ini disebut dengan Konflik aftermath.
Manajemen Konflik

Langkah-langkah manajemen konflik menurut Vestal (1994) dalam Nursalam (2017)

1. Pengkajian
 Mengumpulkan fakta-fakta
 Pengkajian masalah secara mendalam
 Melakukan analisis
 Menyusul tujuan spesifik yang akan dicapai
2. Identifikasi
 Mengidentifikasi masalah
 Mengelola perasaan, hindari respon emosional
3. Intervensi
 Masuk pada konflik yang diyakini dapat diselesaikan dengan baik dan
identifikasi hasil positif
 Menyeleksi metode yang paling sesuai dalam penyelesaian konflik

Dampak : positif dan negative


Konflik membutuhkan peran leader  menentukan arah ke mana penyelesaian konfliks.

Konsep berubah
Definisi :
Kegiatan yang membuat sesorang berbeda dengan keadaan sebelumnya.
Perubahan pel kep. Memiliki 2 pilihan : membuat inovasi atau lingkungan yang membuat
berubah
Kondisi yang berubah untuk meningkatkan aktivitas
Tahap berubah
1. Anrefreezing (kepercayaan)
Perlu motivasi untk berubah
2. Moving (action) : mencari dukungan orla
3. Refreezing : mmenstabilkan diri dalam perubahan yg sdh dilakukan
Perubahan dilakukan untuk membuat yujuan yg lebih baik
Teori perubahan Studley
Perubahan terjadi terus menerus dan konstan
Mengenali gejala, mendiagnosa masalah, menganalisa jalan keluar, merencanakan perubahan,
melaksanakan, evaluasi , distabilkan dengan cara digunakan
Konsep Berubah

Bridges Theory

Berdasarkan Bridges Theory dalam jurnal Understanding Change Management yang ditulis oleh
McDeavitt, Wade, Smith, & Worsowicz (2012) menyebutkan bahwa terdapat tiga tahap dalam
proses berubah, yaitu ending, transition zone, dan new beginning.

Ending adalah zona dimana seseorang mengakhiri zona nyamannya dan mulai sadar akan
kebutuhan untuk berubah. Tahap ini seseorang akan mulai mempersiapkan diri, mencari
informasi, dan melakukan upaya untuk berubah. Tahapan ending dilanjutkan dengan tahan
transition zone, dimana perubahan mulai dipahami, diterima, dan dipertahankan dengan
komitmen. Seseorang yang berhasil melewati masa transisi akan memasuki tahap yang terakhir
yaitu new beginning. Tahapan ini seseorang akan memasukkan paradigma yang baru hasil dari
proses perubahan.
Selama proses berubah terjadi peningkatan kecemasan dan penurunan performa. Puncak
kecemasan terjadi di zona transisi, yaitu sampai seseorang dapat menerima perubahan yang
sedang dilakukan, kemudian kecemasan akan menurun setelah mencapai zona awal yang baru.
Sedangkan performa seseorang berbanding terbalik dengan kecemasan yang dirasakan dan
semuanya akan kembali normal saat seseorang berhasil mencapai tahap awal yang baru.

Dibagi 3 daerah : ending, transtation zone, new beginning


Menjelaskan ttng akibat perubahan : kecemasan dan performa

Konsep prinsip pendidikan


Jurnal pendidikan
Konsep pendidikan : pedagogi (anak2)dan androgogi (dewasa)
Pedagogi :
guru bertanggung jawab terhadap peserta didik
pengalaman guru sangat besar peranannya
belajar untuk masa depan sehingga harus ada kesamaan kurikulum
orientasi merupakan ilmu baru
Androgogi :
Pguru melakukan pengarahan
Pengalaman dari peseta didik sdh dimiliki, sharing
Program belajar disusun berdasarkan kebutuhan
Meningkatkan kemampuan diri - terpusat pada kebutuhan/harapan
Kelompok, komunits, individu
Ppeinsip penddidikan : merubah perilaku, perlu ada minat/motivasi peserta didik, perlu keaktivan
pelajar, keterlibatan langsung dari peserta didik, adanya pengulangan, tantangan, feedback,
perbedaan individual,
Prinsip pendidikan
Relevansi ; sesuai tuntunan masyarakat / perkembangan saat ini ?
Efektivitas : keberhasilan dan rencana ? sesuai ?
Efisiensi : perbandingan hasil dan usaha ? mana yg lebih besar ?
Kontinuitas : kesinambungan secara terus menerus
Fleksibilitas : murid dan guru (mengembangkan sesuai kebutuhan)
MASALAH DALAM PENDIDIKAN KEPERAWATAN DI INDONESIA
(Lestari, 2014)

 Dalam Hal Penetapan Kebijakan dalam Keperawatan


Regulasi pendidikan mulai dari perijinan ditangani oleh dua kementrian, yaitu Kemenkes dan
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal ini membawa dampak adanya
kebijakan ganda. Akibatnya, perkembangan jumlah institusi pendidikan tidak terkendali,
terjadi perbedaan standar dan kualitas pengelolaan, serta mutu lulusan yang berimbas pada
kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
Contohnya :
 Kebijakan regulasi pendidikan D3 Keperawatan berupa : perizinan, mekanisme
seleksi, ujian, penerbitan ijazah dan akreditasi pendidikan yang berbeda antara
kebijakan Kemendikbud dan Kemenkes
 Pemberlakuan kebijakan oleh Kemenkes dan masih beraktivitasnya beberapa Poltekes
di Indonesia merupakan suatu pelanggaran terhadap kebijakan Sistem Pendidikan
Nasional (Sisdiknas) yang ada tentang pendirian Poltekes, yakni UU No. 20 Tahun
2003 tentang Pendidikan Kedinasan. Dimana pendirian Poltekes yang langsung
berada dalam wewenang Kemenkes bertujuan dalam mendidik Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS) di bidang kesehatan, sehingga setelah lulus Poltekes akan langsung
diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedangkan saat ini, Poltekes bukan
lagi merupakan lembaga pendidikan kedinasan, sehingga para lulusannya tidak lagi
mendapat ikatan dinas untuk menjadi PNS.
 Dalam Hal Standar Kurikum yang Digunakan
Saat ini, masih banyak tempat penyelenggaraan pendidikan keperawatan yang menghasilkan
kompetensi peserta didik yang tidak seragam, dikarenakan standar pendidikan termasuk
kurikulum yang digunakan sebagai acuan penyelenggaraan pendidikan berbeda satu sama
lainnya. Banyaknya pihak yang membuat kurikulum pendidikan perawat membuat kualitas
tidak seragam. Banyaknya jenjang pendidikan dasar perawat seperti SPK, D3, D4, dan S1
menyebabkan tidak adanya perbedaan antara tugas dan wewenang yang dilakukan dalam
memberikan pelayanan keperawatan.

 Dalam Hal Pengajar , yaitu Guru dan Dosen


UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dalam pasal 46 ayat (2), menyebutkan
kualifiaksi akademik dosen untuk program diploma dan sarjana adalah minimal magister.
Namun demikian, Kemenkes justru mengintruksikan membuka kembali pendidikan D4
diseluruh Poltekes di Indonesia, dengan konsep satu tahun setelah D3 dan lulusan
difungsikan sebagai mitra dokter spesialis. Hal ini tidak sesuai dengan kaidah perkembangan
profesi keperawatan.
 Dalam Hal Akreditasi Pogram Studi
Khusus terkait dengan akreditasi program studi, pada saat ini pelaksanaan akreditasi baru
sebatas pada penyelenggaraan program pada tahap akademik dan belum termasuk pada
penyelenggaraan program profesi. Selain itu pelaksanaan akrediatsi program studi juga masih
bersifat umum untuk semua jenis program studi sehingga kekhasan atau kekhususan program
studi keperawatan belum dapat dinilai. Hal tersebut belum sesuai dengan kaidah pendidikan
profesi keperawatan
 Dalam Hal Standar Kompetensi Keperawatan Indonesia di Rancah Internasional
Standar kompetensi keperawatan di Indonesia masih belum diakui oleh dunia internasional.
Kemampuan bahasa Inggris masih lemah (TOEFL DAN IELTS) dan keterampilan
keperawatan juga masih rendah. Hal ini dilihat dari hasil skoring The National Council
Licensure Examination (NCLEX) yang sekitar 40, padahal yang dibutuhkan untuk bekerja di
Eropa antara 50-70 dan AS antara 70-80. Akibatnya terdapat 700 perawat Indonesia di
Kuwait yang nasibnya terkatung-terkatung dan terancam dideportasi karena terhalang
akreditasi. Hal ini karena masih simpang siurnya pengaturan system pendidikan tinggi
keperawatan dan belum adanya perlindungan hukum yang kuat bagi perawat yang akan
bekerja di luar negeri. Padahal AFTA 2010 yang merupakan aplikasi dari ditandatanganinya
Mutual Recognicon Arrrangement (MRA) di Philipina pada tahun 2006 sudah berlaku.
Dibukanya pasar bebas bagi perawat Indonesia ini tidak diimbangi dengan penataan system
pendidikan keperwatan serta pemberian jaminan perlindungan hokum yang kuat oleh
pemerintah.