Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN DEHIDRASI


DI INSTANSI GAWAT DARURAT
RST Tk. II SOEPRAOEN MALANG

MINGGU KE - 3

UNTUK MEMENUHI TUGAS PROFESI NERS

DEPARTEMEN EMERGENCY

DISUSUN OLEH :

INNANI WILDANIA HUSNA

150070300011138

PROFESI NERS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017
LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh kehilangan cairan elektrolit yang sangat
dibutuhkan organ-organ tubuh untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

B. ETIOLOGI
Dehidrasi terjadi karena:
a. Muntah
b. Diare
c. Hilangnya nafsu makan karena sakit
d. Berkeringat berlebihan
e. Tubuh kehilangan air dan garam seperti natrium, kalium, kalsium bikarbonat
dan fosfat

C. KLASIFIKASI
a. Dehidrasi Hipertonik
yaitu hilangnya air lebih banyak dari natrium. Dehidrasi hipertonik ditandai dengan
tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/liter) dan peningkatan
osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter).
b. Dehidrasi Isotonik
yaitu hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama. Dehidrasi isotonik ditandai
dengan normalnya kadar natrium serum (135-145 mmol/liter) dan osmolalitas efektif
serum (270-285 mosmol/liter).
c. Dehidrasi Hipotonik
yaitu hilangnya natrium yang lebih banyak dari pada air. Dehidrasi hipotonik ditandai
dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135 mmol/liter) dan osmolalitas
efektif serum (kurang dari 270 mosmol/liter).
D. TANDA DAN GEJALA
1. Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan)
a) Muka memerah
b) Rasa sangat haus
c) Kulit kering dn pecah-pecah
d) Volume urine berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya
e) Pusing dan lemah
f) Kram otot terutama pada kaki dan tangan
g) Kelenjar air mata berkurang kelembabannya
h) Sering mengantuk
i) Mulut dan lidah kering dan air liur berkurang
2. Dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan)
a) Tekanan darah menurun
b) Pingsan
c) Kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, punggung
d) Kejang
e) Perut kembung
f) Gagal jantung
g) Ubun-ubun cekung
h) Denyut nadi cepat dan lemah
3. Dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan)
a) Kesadaran berkurang
b) Tidak buang air kecil
c) Tangan dan kaki menjadi dingin dan lembab
d) Denyut nadi semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba
e) Tekanan darah menurun drastis hingga tidak dapat diukur
f) Ujung kuku, mulut, dab lidah berwarna kebiruan

E. DERAJAT DEHIDRASI
Menurut banyak cairan yang hilang, dehidrasi pada anak dapat dibagi berdasarkan :
1. Kehilangan BB
a. Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan BB 0-2,5 %
b. Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan BB 2,5-5 %
c. Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan BB 5-10 %
d. Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan BB 10 % atau lebih
e. Syok, bila terjadi penurunan BB 15% - 20%
2. Skor Maurice King
Bagian tubuh Nilai untuk gejala yang ditemukan
yang diperiksa
0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, apatis, cengeng, Mengigau, koma/syok
ngantuk
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong
Ubun-ubun Normal Sedikit cekung Sangat cekung
besar
Mulut Normal Kering Kering dan sianosis
Denyut Kuat Sedang (120-140) Lemah > 140
nadi/menit <120
Keterangan:
 Pada anak-anak =UUB sudah menutup , diganti produksi urine.
 Untuk kekenyalan kulit, kembali
1 detik = dehidrasi ringan
1-2 detik = dehidrasi sedang
2 detik/> =dehidrasi berat
Berdasar skor yang didapat, derajat dehidrasi ditentukan dengan :
 jika mendapat nilai 0-2 : dehidrasi ringan
 jika mendapat nilai 3-6 : dehidrasi sedang
 jika mendapat nilai 7-12 : dehidrasi berat
3. Modifikasi (Haroen Noerasid)
a. Dehidrasi ringan : rasa haus, oliguri ringan
b. Dehidrasi sedang : turgor kulit turun, ubun-ubun besar cekung, mata cekung
c. Dehidrasi berat : nadi cepat sekali, somnolen, stupor, koma, kusmaul, renjatan.

F. PENANGANAN DEHIDRASI

Perawatan diare berdasar pada derajat dehidrasi, dibedakan dalam :

1. Dehidrasi ringan
 Dihentikannya pemberian susu yang diganti dengan campuran glukosa elektrolit
 Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang hari dan 4 jam pada malam hari,
selama 24 jam
 Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali, dengan ditingkatkannya
pemberian susu jumlah campuran glukosa elektrolit diturunkan secara seimbang
 Sukrosa hanya ditambahkan jika feses mulai berbentuk
2. Dehidrasi sedang
 Penggantian deficit cairan dan elektrolit serta koreksi gangguan asam basa baik
per oral / iv
 Pemeriksaan biokimia dan observasi klinis untuk menentukan status elektrolit
 Dimulai pemberian cairan per oral / susu
 Pengangkatan kanula iv dan perawatan luka
 Penimbangan berat badan harian dan pengumpulan urin (uji harian)
3. Dehidrasi berat
 Infuse IV dengan larutan yang sesuai
 Infuse plasma untuk menggantikan penurunan volume plasma
 Koreksi asidosis metabolic dengan pemberian secara IV 8,4 % Natrium
bicarbonate dengan penilaian kembali status asam basa
 Pemberian susu secara berangsur
 Selama fase akut, bayi dirawat di incubator, diberi oksigen dan diobservasi
secara seksama, karena penurunan kadar kalium dapat menimbulkan perubahan
aktivitas jantung dan peningkatan kalium secara cepat membawa resiko henti
jantung

RESUSITASI CAIRAN

 Tahap rehidrasi
Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian
oralit sesuai dengan defisit yang terjadi:
a. Dehidrasi ringan : 50 ml/kg ( 4 – 6 jam pada bayi )
: 30 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )
b. Dehidrasi sedang : 50 –100 ml /kg ( 4 – 6 jam pad bayi )
: 60 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )
c. Dehidrasi berat
o Tentukan defisit
o Atasi syok: cairan infus 20 ml/kg dalam . - 1 jam, dapat diulangi
o Sisa defisit:
 50 % dalam 8 jam pertama
 50 % dalam 16 jam berikutnya
 Cairan: Ringer Lactate (RL) atau NaCl 0,9 % (RL adalah cairan
paling fisiologis untuk tubuh)
 Tahap rumatan
Dalam tahap rumatan ini meliputi untuk memenuhi kebutuhan cairan rumatan dan
kebutuhan perubahan cairan rumatan yang disebabkan oleh kehilangan cairan yang
sedang berjalan ( ongoing losses )
Kebutuhan Rumatan.
Terdapat beberapa model untuk menghitung kebutuhan cairan rumatan :
berdasarkan berat badan, luas permukaan, atau pengeluaran kalori yang seperti kita
ketahui bahwa 1 ml air diperlukan setiap 24 jam bagi setiap kalori yang dikeluarkan
dan bahwa kebutuhan metabolik menentukan penggunaannya dari cadangan tubuh.
Kalori yang dikonsumsi setiap kesatuan berat badan, atau tingkat metabolik menurun
dengan bertambah besarnya dan usia anak.
< 10 Kg = 100 cc/KgBB/hari
10- 20 Kg = 1000cc + 50cc (BB-10Kg)/hari
>20 Kg = 1500cc + 20cc (BB-20Kg)/hari
 Oralit merupakan cairan elektrolit–glukosa yang sangat esensial dalam pencegahan
dan rehidrasi penderita dengan dehidrasi ringan–sedang

G. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Data Subjektif
1) Kaji batasan karakteristik
a) Asupan cairan (jumlah dan jenis)
b) Kulit (kering dan turgor)
c) Penurunan berat badan (jumlah dan lamanya)
d) Haluaran urine (berkurang dan meningkat)
2) Kaji faktor-faktor yang berhubungan
a) Diabetes melitus (diagnosa dan riwayat keluarga/diabetes insipdus)
b) Penyakit jantung
c) Penyakit ginjal
d) Gangguan atau bedah gastrointestinal
e) Pengobatan: laksatif/enema, diuretik dan efek samping yang mengiritasi
saluran pencernaan (antibiotik dan kemoterapi)
f) Penggunaan alkohol
g) Alergi (makanan dan susu)
h) Panas tinggi/kelembaban
i) Olahraga yang terlalu banyak mengeluarkan keringat
j) Depresi
k) Nyeri
Data objektive
1) Kaji batasan karakteristik
a) Berat badan sekarang dan sebelum sakit
b) Asupan (1-2 hari terakhir)
c) Haluaran (1-2 hari terakhir)
d) Tanda-tanda dehidrasi
- Kulit : mukosa bibir kering, lidah berkerut atau kering, turgor kulit kurang
elastis, warna kulit pucat atau memerah, kelembaban kering atau diforesis,
fontanel bayi cekung dan bola mata cekung.
- Haluaran urine : jumlah bervariasi sangat banyak atau sedikit, warna
kuning tua atau kuning jernih dan berat jenis naik atau turun.
2) Kaji faktor-faktor yang berhubungan
a) Kehilangan GI abnormal : muntah, penghisapan NG, diare, drainase
intestinal.
b) Kehilangan kulit abnormal: diaforesis berlebihan sekunder terhadap demam
atau latihan, luka bakar, ibrosis sistik.
c) Kehilangan ginjal abnormal: terapi diuretik, diabetes insipidus, diures osmotik
(bentuk poliurik), insufisiensi adrenal, diuresis osmotik (DM tak terkontrol,
pasca penggunaan zat kontras.
b. Diagnosa
1. Ketidakefektifan pola nafas
2. Deficit volume cairan dan elektrolit
3. Resiko syok Hypovolemik
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth. 2001. Keperawatan medikal bedah.(edisi 8). Jakarta: EGC
Guyton AC, Hall J A. Fisiologi Kedokteran, Edisi 9. Jakarta: EGC.1997.
http://organisasi.org/fungsi-cairan-tubuh-manusia-gejala-dehidrasi-dan-cara-mengatasi-
kehilangan-cairan-tubuh
Medlineplus.2007. Dehydration. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000982.htm
Rice, Henry. Fluid Therapy for Pediatric Surgical Patient. www.emedicine. com. 2004