Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR I
I. NAMA PERCOBAAN :I
II. NOMOR PERCOBAAN : Pengamatan Ilmiah
III. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Memperoleh pengalaman dalam mencatat dan menjelaskan pengamatan
percobaan.
2. Mengembangkan keterampilan dalam menangangi alat kaca dan
memindah- kan bahan kimia padat maupun cair.
3. Membiasakan diri dengan tata cara keselamatan kerja di laboratorium.
IV. DASAR TEORI
Mipa atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang berkembang
berdasarkan hasil penyelidikan terhadap gejala atau benda-benda (materi/ zat) di
alam semesta, mengikuti langkah-langkah metode ilmiah. Langkah penting dalam
proses penyelidikan tersebut adalah kegiatan pengamatan diperoleh, dilanjutkan
dengan pengukuran, dan pengolahan data, sampai diperoleh kesimpulan dalam
bentuk konsep, prinsip dan hukum-hukum yang membangun IPA. Pembelajaran
berbasis pendekatan ilmiah itu menurut Kemdikbud lebih efektif hasilnya
dibandingkan dengan pembelajaran tradisional dalam hal retensi informasi dari
guru serta perolehan pemahaman kontekstual materi pelajaran.
Proses pembelajaran disebut ilmiah jika substansi atau materi pembelajaran
berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau
penalaran tertentu, serta mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir
secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami,
memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
Dalam pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuan transformasi substansi atau materi ajar agar kita tahu mengapa,
bagaimana dan apa. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara
kemampuan soft skills, dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan.Pendekatan ilmiah (scientific appoach) yang
dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, dan menciptakan.
Melalui pendekatan ilmiah, kitadilatih untuk mampu berfikir logis, runut dan
sistematis, dengan menggunakan kapasitas berfikir tingkat tinggi berdasarkan
fakta, seperti diungkapkan Combie White dalam bukunya “Tidak ada yang lebih
penting, selain fakta“.Fakta yang akurat diperolehberdasarkan pengamatan.Oleh
sebab itu dalam setiap pembelajaran IPA, selayaknya, pengamatan merupakan
basis dari suatu pembelajaran.
Pengamatan atau observasi dapat diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan
manusia, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan
kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan
pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan
informasi-informasi yang dibutuhkan sehingga penelitian dapat dilanjutkan.
Keterampilan mengobservasi merupakan keterampilan yang dikembangkan
dengan menggunakan semua indera yang kita miliki untuk mengidentifikasi dan
memberikan nama dan sifat dari objek atau kejadian yang ada. Mengobservasi
artinya mengunakan segenap panca indera untuk memperoleh informasi atau data
mengenai benda atau kejadian (Putra, 2014).
Manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta secara terus menerus,
ingin mengetahui dirinya dan dunia sekitarnya.Supaya manusia terus hidup baik
secara fisik maupun emosional. Pengetahuan seperti itu memungkinkan kita
memahami tempat kita di dunia ini, meramalkan reaksi orang lain tentang kita,
serta mengambil keputusan untuk tindakan kita selanjutnya. Keinginan untuk
dapat meramalkan dalam kehidupan ini merupakan motivasi manusia yang
sifatnya persuasif.
Kemampuan berfikir manusia menyebabkan rasa ingin tahu yang
berkembang. Dengan kemampuan mengingat dan berfikir, manusia dapat
mendayagunakan pengetahuannya yang terdahulu dan kemudian menggabungkan
dengan pengetahuannya yang di proleh hingga menghasilkan pengetahuan yang
baru, peroses seperti ini terus berlangsung. Akibatnya terjadi akumulasi
pengetahuan seperti yang kita rasakan sekarang ini.Dalam budaya barat, penelitian
ilmiah merupakan cara dominan dalam usaha memperoleh pengetahuan handal
tentang diri dan lingkungannya.Sementara pendekatan ilmiah yang dipakai untuk
menjelaskan dunia didasarkan atas tiga asumsi dasar, diantaranya:Para ilmuan
beranggapan bahwa semua objek penelitian ilmiah dapat diamati (observable)
secara langsung maupun tidak langsung karena fenomena ilmiah memiliki rujukan
empiris, maka kita dapat mengamati keberadaan fenomena itu atau menarik
kesimpulan berdasarkan pengamata tersebut.Metode ilmiah beranggapan bahwa
fenomena dalam dunia empiris terpola dan tersusun secara teratur (ordenly), tidak
acak atau kacau.Pengetahuan ilmiah berasumsi bahwa fenomena empiris dapat
dijelaskan dengan mengacu pada fenomena anteseden alami.
Hal-hal yang harus dipenuhi dalam ruang lingkup ilmiah adalah : objektif,
artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya.Metodik artinya pengetahuan itu
di peroleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan
terkontrol.Sistematik artinya satu sama lainnya saling berkaitan dan saling
menjelaskan.Berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku beberapa
orang saja, tetapi berlaku untuk semua orang. Pengetahuan yang di dapat melalui
metode ilmiah biasanya memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, yaitu
rasional dan teruji kebenarannya.Selain ketentuan-ketentuan itu metode ilmiah
tersebut peneliti juga harus mampu berfikir secara deduktif dan induktif.Penelitian
adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-
prinsip suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu (Khatibah,
2011).
Ilmu kimia sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang
mempelajari tentang susunan,struktur,sifat-sifat, dan perubahan materi serta
energi yang menyertainya. Ilmu kimia akan lebih baik jika diberikan dengan
penampilan gejala- gejala atau peristiwa-peristiwa yang nyata daripada diberikan
dalam bentuk teori saja.Pembelajaran kimia harus mampu merangsang berfikir,
bersikap ilmiah dan kreatif serta tanggap praktik-praktik dalam kehidupan sehari-
hari yang relevan.Secara psikologis setiap siswa mempunyai daya yaitu daya fikir,
daya ingat dan daya-daya lain yang dapat dikembangkan dengan latihan-latihan
tertentu.Penggunaan daya-daya tersebut dapat dikembangkan dengan memperkuat
pemahaman atas prinsip yang mendasari suatu permasalahan. Dengan kata lain
dalam suatu proses pemecahan masalah diperlukan persyaratan berupa konsep
yang menjadi dasar pemecahan masalah setiap ilmu, termasuk ilmu sosial,
menggunakan metode ilmiah (scientific method) suatu pendekatan sistematik
untuk melakukan penelitian. Sebagai contoh, seorang psikolog yang ingin
mengetahui bagaimana suara berisik dapat mempengaruhi kemampuan orang
untuk mempelajari kimia dan seorang kimiawan yang tertarik untuk mengukur
panas yang dihasilkan ketika gas hidrogen terbakar di udara akan mengikuti
prosedur yang mirip dalam melakukan penyelidikan. Langkah pertama adalah
mendefinisikan masalahnya secara hati-hati.Langkah berikutnya mencakup
pelaksanaan percobaan, melakukan pengamatan secara hati-hati, dan mencatat
informasi.atau data, tentang system yaitu ruang lingkup penelitian. (Dalam kedua
contoh ini, sistemnya berupa sekelompok orang yang di kaji oleh psikolog, dan
berupa campuran homogen hidrogen dan udara).
Data yang diperoleh dalam penelitian bisa bersifat kualitatif (qualitative),
terdiri atas hasil-hasil pengamatan umum tentang sistemnya, maupun bersifat
kuantutatif (quantitative), yang berupa angka-angka yang diperoleh lewat
berbagai pengukuran terhadap sistem. Kimiawan umumnya menggunakan
lambang-lambang dan persamaan baku dalam mencatat hasil pengukuran dan
pengamatanya. Bentuk penyajian seperti ini bukan hanya akan menyederhanakan
proses pencatatan, tetapi juga menyediakan dasar bersama untuk berkomunikasi
dengan kimiawan lain. Ketika percobaan telah selesai dan data sudah dicatat,
langkah berikutnya dalam metode ilmiah adalah penafsiran (interprestasi), yang
berarti bahwa ilmuwan berusaha untuk menjelaskan fenomena yang
teramati.Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti merumuskan hipotesis
(hypothesis), atau penjelasan sementara (tentatif) untuk sekelompok hasil
pengamatan. Percobaan lanjutan dirangcang untuk menguji keabsahan hipotesis
dengan sebanyak mungkin cara, dan prosesnya dimulai dari awal kembali.
Setelah sejumlah besar data terkumpul, seringkali diharapkan untuk
merangkumkan informasi itu dengan cara yang ringkas, sebagai suatu hukum.
Dalam sains, hukum (law) adalah suatu pernyataan matematis atau pernyataan
verbal yang ringkas tentang hubungan antar fenomena-fenomena yang selalu sama
dalam keadaan yang sama. Hipotesis atau keabsahanya telah teruji melalui
berbagai uji percobaan lama kelamaan dapat berkembang menjadi teori.Teori
adalah suatu prinsip penyatu yang menjelaskan sekumpulan fakta dan atau
hukum-hukum yang diperoleh berdasarkan fakta-fakta itu.Toeri itu sendiri terus-
menerus diuji.Jika suatu teori disanggah melalui percobaan, maka teori itu harus
disingkirkan atau diubah sehingga konsisten dengan data percobaan.Pembuktian
atau penyanggahan suatu teori dapat memakan waktu bertahun-tahun, bahkan
berabad-abad, sebagian disebabkan ketiadaan teknologi yang
mendukung.Perkembangan ilmu amat jarang dibuat dalam pendekatan langkah-
langkah yang kaku. Kadang suatu hukum mendahului teori; kadang kebalikanya
(Chang, 2005).
Korosi merupakan penurunan kualitas yang disebabkan oleh reaksi kimia
bahan logam dengan unsur-unsur lain yang terdapat di alam. Korosi yang
berdasarkan proses elektrokimia (electrochemical process) terdiri dari
empatkomponen utama yaitu anoda, biasanya terkorosi dengan melepaskan
elektron-elektron dari atom-atom logam netral untuk membentuk ion-ion yang
bersangkutan. Ion-ion ini mungkin tetap tinggal dalam larutan atau bereaksi
membentuk hasil korosi yang tidak larut.Katoda, biasanya tidak mengalami
korosi, walaupun mungkin menderita kerusakan dalam kondisi-kondisi
tertentu.Reaksi yang terjadi pada katoda berupa reaksi reduksi.Reaksi pada katoda
tergantung pada pH larutan yang bersangkutan.Elektrolit adalah larutan yang
mempunyai sifat menghantarkan listrik.Elektrolit dapat berupa larutan asam, basa
dan larutan garam.Larutan elektrolit mempunyai peranan penting dalam korosi
logam karena larutan ini dapat menjadikan kontak listrik antara anoda dan katoda,
anoda dan katoda harus terhubung secara elektris.Antara anoda dan katoda harus
ada hubungan listrik agar arus dalam sel korosi dapat mengalir. Hubungan secara
fisik tidak diperlukan jika anoda dan katoda merupakan bagian dari logam yang
sama (Sidiq,2013).
Larutan terdiriatas cairan yang melarutkan zat (pelarut) dan zat yang larut di
dalamnya (zat terlarut). Pelarut tidak harus cairan, tetapi dapat berupa padatan
atau gas asal dapat melarutkan zat lain. Sistem semacam ini disebut sistem
dispersi.Untuk sistem dispersi, zat yang berfungsi seperti pelarut disebut medium
pendispersi, sementara zat yang berperan seperti zat terlarut disebut dengan zat
terdispersi (dispersoid).Baik pada larutan ataupun sistem dispersi, zat terlarut
dapat berupa padatan, cairan atau gas.Bahkan bila zat terlarut adalah cairan, tidak
ada kesulitan dalam membedakan peran pelarut danzat terlarut bila kuantitas zat
terlarut lebih kecil dari pelarut.Namun, bila kuantitas zat terlarut danpelarut, sukar
untuk memutuskan manakah pelarut mana zat terlarut (Takeuchi, 2006).
Dalam pengamatan ilmiah, perlu diperhatikan K3.K3 itu sendiri
kepanjangan dari kesehatan, keselamatan kerja.Ada dua keilmuan yaitu kesehatan
dan keselamatan.Keduanya memiliki peran dari fungsi dalam kerangka K3. Posisi
kesehatan kerja berada pada lingkup pekerja dan lebih menekankan pada aspek
promosi terhadap kesehatan para pekerja sementara posisi keselamatan berada
pada aspek interaksi yang ada dalam sistem kerja atau proses kerja. Peran
kesehatan dan keselamatan dalam ilmu kesehatan kerja berkontribusi dalam upaya
perlindungan kesehatan para pekerja dengan upaya promosi kesehatan,
pemantauan dan survei lain kesehatan serta upaya peningkatan daya tubuh dan
kebugaran pekerja. Sementara peran keselamatan adalah menciptakan sistem kerja
yang aman atau yang mempunyai potensi resiko yang rendah terhadap terjadinya
kecelakaan dan menjaga asset perusahaan dan kemungkinan kerugian.
Fungsi dari kesehatan kerja antara lain, identifikasi dan melakukan penilaian
terhadap resiko dari bahaya kesehatan di tempat kerja, memberikan saran terhadap
perencanaan dan pengorganisasian dan praktek kerja termasuk desain tempat
kerja, memberikan saran, informasi, pelatihan, dan edukasi tentang kesehatan
kerja dan APD, melaksanakan survei lain terhadap kesehatan kerja, terlibat dalam
proses rehabilitasi dan mengelolah P3K dan tindakan darurat. Fungsi dari
keselamatan kerja, yaitu antisipasi, identifikasi dan evaluasi kondisi dan praktek
berbahaya, buat desain pengendalian bahaya, metode, prosedur dan program,
terapkan, dokumentasikan dan informasikan rekan lainnya dalam hal
pengendalian bahaya, ukur, periksa kembali keefektifitas pengendalian bahaya
dan program pengendalian bahaya (Indrayani dan Sulianti, 2014).
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
- Tabung Reaksi 5 mL
- Gelas Piala 250 mL
- Pipet Tetes
- Sudip
- Gelas ukur 50 mL
B. Bahan
- Gula Pasir
- Asam Sulfat pekat
- Ammonium Klorida
- Kalsium Klorida
- Logam Kalsium
- Tembaga (II) Sulfat
- Merkuri (II) Sulfat
- Kalium Iodida
- Akuades
- Paku besi
- Paku tembaga
VI. PROSEDUR PERCOBAAN
6.1 Busa Hitam

Gula Pasir
- dimasukkan ke dalamgelas
piala 150 mL
- ditambahkan 5
mLasamsulfat pekat

Busa hitam
- diamati

6.2 Panas dan Dingin


- Panas - Dingin
Seujung Sudip Seujung Sudip Kalsium
Ammonium Klorida Klorida
- dimasukkan air - dimasukkan air
ke dalam ½ ke dalam ½
tabung reaksi tabung reaksi
Larutan Panas Larutan Dingin

- dipegang - dipegang
bagianbawah bagianbawah
tabung tabung

6.3 Aktif dan Tidak Aktif


- Tidak Aktif - Aktif

Air ½ gelas piala Air ½ gelas piala

- dimasukkan - dimasukkan
paku besi logam Ca

Larutan tidak aktif Larutan aktif


- diamati - diamati
perubahan yang perubahyangter
terjadi jadi
6.4 Paku Tembaga

Temabaga (II) Sulfat ½ gelas piala


- dimasukan paku tembaga
- dicatat pengamatan

6.5 Ada danhilang

10 mL Merkuri (II) Sulfat


- dimasukkan ke dalam gelas piala
- ditambahkan

20 mL Kalium Iodida
- diamati perubahan yang terjadi
- ditetesi

Kalium Iodida
- diamati perubahan yang terjadi
- dicatat hasil pengamatan

VII. PERTANYAAN PRAPRAKTEK


1. Bagaimana caranya mengamati reaksi yang menghasilkan gas,
cairan, dan padatan?
Jawab :
a. Gas
- Melihat tanda reaksinya.
- Melihat golongannya.
- Mengeluarkan gelembung gas bila dicampurkan dengan reaksi
lain.
b.Cairan
- Melihat warna larutannya.
- Menghasilkan uap ketika dipanaskan.
- Merasakan suhunya.
c. Padatan
- Melihat endapan larutannya.
- Melihat warnanya.
- Apabila dibakar menghasilkan bau.
2. Mana dari bahan kimia yang diperlakukan dengan hati-hati dan
sebutkan bahayanya : alkohol, ammonium nitrat, kalsium klorida,
bahan kimia organik, dan air suling.
Jawab :
a. Alkohol
- Jika tertelan menyebabkan pusing, kantuk, dan gejala
keracunan.
- Jika terkena kulit menyebabkan iritasi, berbahaya jika terserap
dalam jumlah banyak.
- Jika terkena mata menyebabkan iritasi dan pedih.
- Jika terhirup akan sesak nafas.
b.Ammonium Nitrat
- Jika tertelan menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk,sakit
tenggorokan.
- Jika terkena kulit akan terasa pedih dan panas.
- Jika terkena mata menyebabkan iritasi dan pedih.
- Jika terhirup akan sesak nafas.
c. Kalsium Klorida
- Jika terkena kulit akan terasa gatal dan menimbulkan
kemerahan.
- Jika terhirup menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan
dan rasa sakit, pembengkakan.
- Jika terkena mata menyebabkan iritasi, cedera kornea mata, dan
memungkinkan luka besar pada mata.
- Jika tertelan menyebabkan parah iritasi pencernaan, mual,
muntah dan luka bakar.
d.Bahan Kimia Organik
- Bila zat masuk ke dalam sel darah akan menyebabkan kematian.
- Terkena mata akan iritasi bahkan kebutaan.
- Terhirup akan menyebabkan keracunan dan kematian.
- Tertelan menyebabkan keracunan.
- Terkena kulit menyebabkan iritasi.
e. Air suling
- Apabila tertelan tanpa penyaringan dapat berbahaya bagi tubuh
dan membuat tubuh menjadi lemas.
- Menyebabkan tekanan darah tinggi.

VIII. DATA HASIL PENGAMATAN


Nama
NO Sampel Hasil Pengamatan
Pengamatan
1 Busa Hitam C6H12O6 + H2SO4 - Busa berwarna
hitam
2 Panasdan Dingin -Panas : - Bagian bawah
CaCl2 + H2O tabung reaksi
terasa panas saat
dipegang

-Dingin : - Bagian bawah


NH4Cl + H2O tabung reaksi
terasa dingin
saat dipegang
3 Aktif dan Tidak -Aktif - Membentuk
Aktif Fe + Ca + H2O gelembung
- Mengalami
perubahan warna
dari bening ke putih
susu.

-Tidak Aktif - Reaksinya Lambat


Fe + H2O
2+
4 Paku Tembaga Fe + CuSO 4 - Paku mengalami
perkaratan atau
korosi
5 Ada dan Hilang Hg(NO3)2 + KI - Terbentukendap
anberwarna
orange, semakin
hilang atau
homogen

IX. REAKSI DAN PERHITUNGAN


1. Busa Hitam
C6H12O6 + 2H2SO4 5C + CO2 + 8H2O + 2SO4
2. Panas dan Dingin
- Panas :
CaCl2 + H2OCa(OH)2 + HCl
-Dingin :
NH4Cl + H2ONH4(OH)2 + HCl
3. Aktif dan Tidak Aktif
-Aktif
Ca + 2H2OCa(OH)2 + H2
- Tidak Aktif
Fe + H2O
4. Paku Tembaga
2+ 2+
Fe + CuSO 4FeSO 4 + Cu

+2 Oksidasi +6

2+ 2+
Fe + CuSO 4FeSO 4 + Cu

+6
Reduksi +2

5. Ada dan Hilang


Hg(NO3)2 + 2KI HgI2 + 2KNO3

X. PEMBAHASAN
Praktikum pengamatan ilmiah, dilakukan lima percobaan atau pengamatan
ilmiah. Percobaan pertama, praktikan melakukan percobaan busa hitam,
glukosa direaksi kan dengan asam sulfat pekat, hasil pereaksinya terbentuk
busa berwarna hitam karena asam sulfat larutan tingkat kereaktifannya tinggi
dan ketika di campurkan dengan glukosa menyebabkan ikatan atom karbon
terputus pada glukosa tersebut.
Percobaan kedua, amonium klorida direaksikan dengan akuades pada tabug
pertama, pada tabung reaksi pertama larutannta berubah menjadi hangat
dikarenakan reaksi ini terjadi akibat reaksi eksoterm, dimana energi dilepas ke
lingkungan sehingga suu menjadi naik. Pada tabung reaksi kedua, larutan
menjadi dingin dikarenakan adanya reaksi penyerapan kalor dari lingkungan
sehingga suhunya menjadi turun
Percobaan ketiga, aktif dan tidak aktif. Pada reaksi ini paku besi dimasukkan
bersamaan akuades. Pada reaksi kedua logam kalsium di reaksikan dengan
akuades hasilnya tabung reaksi pertama tidak terjadi reaksi apapun karena paku
besi tidak reaktif terhadap air. Pada reaksi kedua terbentuk gelembung halus
atau kecil-kecil dikarenakan logam kalsium bersifat reaktif terhadap air.
Percobaan keempat, paku tembaga direaksikan pada sebuah paku besi
dengan tembaga dua sulfat, menghasilkan paku besi mengalami pengkorosian
atau menjadi berkarat karena adanya reaksi redoks. Dalam larutan tembaga
sulfat berperan sebagai oksidator dan mengoksidasi logam besi sehingga paku
besi menjadi berkorosi.
Percobaan kelima, ada dan hilang. Merkuri dua Sulfat direaksikan dengan
Kalium Iodida pada sebuah gelas beker. Larutan tersebut perlahan-lahan
mengendap dan membentuk endapan berwarna oren. Tetapi beberapa lama
warna menjadi hilang dan menjadi larutan bening, hal ini disebabkan karena
reaksi terebut mencapai kesetabilan, dikarenakan terjadinya eksitasi elektron.
Eksitasi elekron dimana perpindahan suatu energi dari energi rendah menuju
energi yang lebih tinggi sehingga tidak mencapai kesetabilan energi turun lagi
kebawah dan memantulkan gelombang cahaya berupa warna.
Praktikum pengamatan ilmiah ini menggunakan analisa kualitatif dimana
dalam pengaplikasiannya analisa ini menggunakan panca indera.Panca indra
yang digunakan seperti indera penglihatan, indera penciuman, dan indera
peraba. Analisa yang digunakan berupa pengamatan, pengamatannya berupa
perubahan suhu, perubahan wujud, perubahan warna, dan lain-lain.Contoh
analisa kualitatif pada percobaan pengamatan ilmiah ini seperti pengamatan
pada perubahan warna pada percobaan yang pertama berupa busa
hitam.Perubahan suhu pada percobaan pengamatan ilmiah ini terletak pada
prosedur kedua yang berupa panas dan dingin dimana yang menjadi sampel
pada percobaan ini berupa ammonium klorida dan kalsium klorida. Didapatkan
bahwa yang bersuhu dingin setelah dicampurkan dengan air berupa kalsium
klorida dan yang bersuhu panas setelah dicampurkan dengan air berupa
ammonium klorida.

XI. KESIMPULAN
1. Asam sulfat bersifat reaktif atau memiliki tingkat keaktifan tinggi sehingga
menyebabkan karbon ikatan yang terdapat pada gula terputus.
2. Reaksi eksoterm dimana perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan,
sedangkan reaksi endoterm dimana penyerapan kalor.
3. Logam kalsiem bersifat reaktif sedangkan besi tidak. Gelembung yang terjadi
karena kalsium mengalami reaksi sehingga menghasilkan gas Hidrogen.
4. Reaksi osidasi antara Tembaga (II) Sulat yang berperan sebagai oksidator
dapat mengoksidasi besi.
5. Larutan berwarna karena terjadinya eksitasi elektron.
DAFTAR PUSTAKA

Chang, R. 2005. Kimia Dasar Jilid I. Jakarta : Erlangga.


Indrayani dan Sulianti, I. 2014.Kajian Penerapan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3).Jurnal Teknik Sipil. 1 (10): 28.
Khatibah. 2011. Penelitian Kepustakaan. Jurnal Iqro’. 5 (1) : 36 - 38.
Putra, A. 2014.Pembelajaran IPA Berbasis Pengamatan melalui Pendekatan
Ilmiah Di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Penelitian Pendidikan. 5 (1)
: 31 – 33.
Sidiq, M. 2013. Analisa Korosi dan Pengendaliannya. Jurnal Foundry. 1 (3 ): 25-
26.
Takeuchi, Y. 2006. Pengantar Kimia. Tokyo: Iwanami Shoten.

Anda mungkin juga menyukai