Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu risiko penting yang dihadapi oleh organisasi kontemporer adalah risiko
fraud. Ketika fraud itu muncul – apakah itu fraud internal, penipuan pihak ketiga, atau
penipuan kolusi, dapat menimbulkan dampak keuangan yang signifikan serta merusak
reputasi serius pada organisasi. Dalam banyak kasus, terjadinya penipuan dengan cepat
mengarah pada penurunan harga saham dan kapitalisasi pasar, dan merupakan indikator
awal kesulitan keuangan, yang akhirnya menyebabkan kebangkrutan atau kehancuran
perusahaan. Memang, fraud dan kesulitan keuangan tampaknya berhubungan satu sama
lain seperti “ayam-dan-telur” dengan semacam cara: Penipuan dapat menyebabkan
kesulitan keuangan, tapi kesulitan keuangan sering memicu terjadinya fraud. Mengingat
konsekuensi ekonomi yang serius mengenai fraud, manajemen senior dari banyak
organisasi berada di bawah tekanan untuk mengatasi meningkatnya ekspektasi kunci yang
terkait dengan bisnis, kepatuhan terhadap peraturan dan penggerak dalam mengembangkan
program antifraud dan pengendalian aktivitas. Fokus global diperbaharui pada tata kelola
perusahaan yang berasal dari kesadaran bahwa laporan keuangan dengan mudah dapat
dipalsukan bagi organisasi mana pun. Sejak tahun 2002, penekanan pada perbaikan tata
kelola perusahaan telah menjadi tren yang semakin global, pada beberapa negara seperti
Inggris, Perancis, dan Jerman (dan Eropa pada umumnya), Kanada, Indonesia, Afrika
Selatan, Australia, India, Jepang yang mengadopsi regulasi dan peraturan baru. Jelas, faktor
pendorong di belakang peraturan tersebut adalah untuk menjaga kepercayaan pasar dengan
langsung menangani mitigasi dan risiko penipuan pelaporan keuangan. Akibatnya, penjaga
integritas keuangan, di antara internal auditor, telah mencapai keunggulan yang signifikan

1|Page
dan semakin sering diminta untuk memainkan peran kunci dalam mencegah, menghalangi,
dan mendeteksi fraud dalam organisasi laba, pemerintah, dan organisasi nirlaba global.
Pada tingkat internasional, standar relevan pemberian pedoman bagi auditor adalah
International Standar on Auditing (ISA) Nomor 240: Tanggung Jawab Auditor untuk
Pertimbangkan Penipuan dan Kesalahan dalam Audit Laporan Keuangan, yang dikeluarkan
oleh Federasi Akuntan Internasional (IFAC). Walaupun standar ini berlaku terutama untuk
auditor independen di luar, auditor internal juga akan mendapatkan keuntungan dari
penelaahan atas isi dan bimbingan. Fraud, penyia-nyiaan, dan penyalahgunaan juga
menjadi perhatian besar dalam pemerintahan, dan baru-baru ini direvisi dan diperbarui
Generally Accepted Goverment Auditing Standards (GAGAS) di Amerika Serikat - juga
dikenal sebagai Buku Kuning – mencurahkan beberapa bagian tanggung jawab pemerintah
auditor internal di daerah ini. Selain itu, individu-individu dan organisasi yang dibebankan
dengan lebih-melihat manajemen senior (misalnya, komite audit) dan mereka yang
bertanggung jawab untuk pelaporan keuangan dan pemantauan pengungkapan yang
memiliki harapan tinggi sehubungan dengan auditor internal untuk mencegah suatu
penipuan. Penelitian terbaru dalam tata kelola perusahaan perbandingan menemukan bahwa
reformasi pemerintahan adalah tren global, dan internal auditor di seluruh dunia sedang
menghadapi meningkatnya ekspektasi dalam memerangi fraud.
Mengingat fokus utama profesi akuntansi publik pada audit laporan keuangan,
sekarang berkembang di Amerika Serikat untuk termasuk audit pengendalian internal atas
pelaporan keuangan berdasarkan Section 404 dari undang-undang Sarbanex-Oxley tahun
2002, tidak mengherankan bahwa AICPA membahas konsep fraud dengan mengevaluasi
hubungannya dengan, dan efek, laporan keuangan organisasi. Dengan demikian, definisi
AICPA - diambil dari Statement on Auditing (SAS) 99 yang berlaku efektif untuk audit
laporan keuangan setelah 15 Desember 2002 - menggambarkan dua jenis penipuan: salah
saji yang timbul dari penipuan laporan keuangan (distorsi laporan keuangan) dan salah saji
yang timbul dari penyalahgunaan aset (pencurian atau penyalahgunaan aset organisasi).

2|Page
Penipuan pelaporan keuangan melibatkan salah saji disengaja atau kelalaian dari
jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan yang dirancang untuk mengelabui
pengguna laporan keuangan. Sifat dari salah saji atau kelalaian adalah kegagalan laporan
keuangan yang akan disajikan dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Penipuan pelaporan keuangan yang dapat dicapai
sebagai berikut:
 Manipulasi, pemalsuan, atau perubahan catatan akuntansi atau dokumen pendukung
dari laporan keuangan yang disusun.
 Keliru dalam, atau kelalaian yang disengaja dari, laporan keuangan peristiwa,
transaksi, atau informasi penting lainnya.
 Kesalahan yang disengaja dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan
jumlah, klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan.
Salah saji yang timbul dari penyalahgunaan aset (kadang-kadang disebut sebagai
polferage, penggelapan, dari penyalahgunaan kepercayaan) melibatkan pencurian atas
aktiva suatu entitas yang mempengaruih penyebab laporan keuangan tidak untuk
disampaikan, dalam semua hal yang material, sesuai dengan GAAP. Penyalahgunaan aset
dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menggelapkan penerimaan, mencuri aset,
atau menyebabkan suatu entitas membayar untuk barang atau jasa yang belum diterima.
Penyalahgunaan aset bisa disertai dengan catatan palsu atau menyesatkan dokumen, atau
bukti yang mungkin dibuat untuk menghindari kegiatan pengawasan internal. Sering, kolusi
dengan karyawan yang lain atau pihak ketiga juga mungkin terlibat.
Belakangan yang gencar sedang dibahas adalah masalah fraud pada PT. Sunprima
Nusantara Pembiayaan (SNP Finance), Perusahaan pembiayaan yang berada di bawah
naungan Columbia Group tersebut di atas kertas terlihat dalam kondisi baik-baik saja.
Rating utang perseroan sempat mendapatkan rating idA atau stabil dari Pefindo pada Maret
2018. Namun, kondisi perusahaan berubah 180 derajat. Rating utang perseroan berubah
drastis dari stabil menjadi idSD (selective default) pada 9 Mei 2018 lantaran salah satu

3|Page
kupon Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkan SNP gagal bayar. Imbasnya, Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) membekukan kegiatan usaha SNP karena perseroan gagal membayar
bunga MTN senilai Rp6,75 miliar pada 14 Mei 2018 melalui Surat Deputi Komisioner
Pengawas IKNB II No. S-247/NB.2/2018. PT Bank Mandiri Tbk angkat bicara mengenai
kasus pembobolan dana di 14 bank oleh Lembaga pembiayaan PT Sunprima Nusantara
Pembiayaan (SNP Finance) yang merupakan anak usaha Columbia. Bank Mandiri termasuk
salah satu bank tersebut yang mana memberi kredit pada SNP Finance dalam bentuk joint
financing.
Diduga pihak SNP Finance tidak menyampaikan laporan keuangan dengan benar
alias fiktif, sehingga perusahaan pemeringkat dan auditor tidak mengeluarkan peringatan
atau warning sebelum gagal bayar terjadi. Persoalan laporan keuangan ini sangat vital dan
seringkali menjadi keruwetan bagi sebuah perusahaan bila tak dikelola dengan baik. OJK
juga mengusulkan untuk pengenaan sanksi bagi Delloite sebagai auditor SNP Finance yang
diduga melanggar standar operasional prosedur (SOP). Namun langkah ini harus diambil
setelah melakukan investigasi. Walaupun sebenarnya Kementerian Keuangan sudah
memberikan sanksi kepada Delloite untuk memperbaiki SOP. Dalam kasus ini, Slamet juga
melihat terdapat opsi penyelesaian utang SNP Finance kepada Bank. Setelah PKPU akan
diketahui jumlah cash flow nasabah SNP Finance. Dana tersebut ditambah dengan aset SNP
Finance dapat digunakan untuk membayar kredit. Dari total pelaku tindak pidana itu,
pelaku dari non-pejabat eksekutif bank mencapai 77 persen atau sebanyak 51 orang.
Disusul, direksi sebanyak 7 orang, pejabat eksekutif bank 4 orang, kepala kantor cabang 2
orang, komisaris 1 orang, dan pemegang saham 1 orang.

4|Page
B. Rumusan Masalah
Berkaitan dengan hal tersebut, maka penelitian ini dirumuskan dalam tiga masalah
pokok yaitu:
1. Apa jenis fraud yang terjadi di SNP Finance?
2. Apa motif dibalik terjadinya kasus gagal bayar SNP Finance ini?
3. Bagaimana peran audit internal dalam mengantisipasi gagal bayar tersebut?
4. Bagaimana saran yang tepat agar permasalahan ini tidak terjadi lagi?

5|Page
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian fraud

Pengertian dari kata “fraud” segera menunjukkan pengkhianatan kepercayaan dan


penemuan kesalahan. Pertimbangkan pengalaman anda sendiri ketika mendengar istilah
“fraud” yang digunakan untuk mengekspresikan kemarahan moral dalam konteks umum,
misalnya. "Dia penipu!" atau "Tapi, tunggu-bukankah itu penipuan?" Memang, penipuan
membangkitkan kemarahan banyak orang benar dan emosi karena menunjuk pada
ketidakadilan, orang yang tidak jujur dengan sengaja menipu orang lain. Bahkan, profesi
audit AS, dengan cara sipil dan profesional, terus melihat penipuan sebagai "penyimpangan
akuntansi" sampai sebelum abad ke-21. Pada saat itu, kecurangan laporan keuangan telah
meningkat secara dramatis dalam insiden dan dampaknya, dan itu menjadi perlu untuk
membuang eufemisme dan menyebutnya dengan pantas.
Organisasi yang mewakili profesional khusus seperti auditor internal dan auditor
eksternal, serta penguji fraud, telah berusaha untuk mendefinisikan fraud dan menggariskan
peran dan tanggung jawab anggota masing-masing konstitusi. Selain gelar Certified
Internal Auditor (CIA), pelatihan auditor internal sering disebut sebutan lainnya seperti
Certified Public Accountants (CPA), atau Chartered Accountant di yurisdiksi non-US, dan
Certified Fraud Examiner (CFE). Dengan demikian, definisi fraud dinyatakan oleh
Institute of International Auditors (IIA), the American Institute of Certified Public
Accountants (AICPA), dan Asspciation of Certified Fraud Examiner (ACFE), akan dibahas
di bawah ini.
Menurut Institute of Internal Auditor's (IIA) menyatakan definisi fraud dalam
kerangka praktik profex`sional sebagai berikut:
“Setiap tindakan ilegal ditandai dengan penipuan, penyembunyian atau pelanggaran
kepercayaan. Tindakan ini tidak tergantung pada aplikasi kekerasan atau ancaman
6|Page
kekerasan fisik. Penipuan yang dilakukan oleh partai dan organisasi untuk
memperoleh kekayaan uang, atau jasa; untuk menghindari pembayaran atau
hilangnya layanan, atau untuk mengamankan keuntungan pribadi atau bisnis”.

Pengertian lain dijelaskan Association of Certified Fraud Examiner (ACFE),


Penggunaan pekerjaan seseorang untuk peng-kayakan pribadi melalui penyalahgunaan
yang disengaja atau penyalahgunaan sumber daya organisasi atau aset. Penipuan kerja
mencakup berbagai kesalahan oleh karyawan, manajer, dan eksekutif. Skema penipuan
kerja dapat yang digambarkan secara sederhana seperti pencurian kas kecil atau serumit
penggelapan laporan keuangan. Empat unsur dari penipuan kerja, seperti:
- Apakah rahasia (yaitu, kerahasiaan dan curiga).
- Melanggar tugas untuk organisasi.
- Apakah berkomitmen untuk manfaat keuangan langsung atau tidak langsung bagi
pelaku.
- Biaya aktiva organisasi yang mempekerjakan, nilai atau cadangan.

2.2 Jenis Jenis Fraud


ACFE (Association of Certified Fraud Examiner) dalam Report to the Nations on
Occupational Fraud and Abuse melaporkan bahwa kasus fraud dan penyalahgunaan yang
terjadi pada tahun 2016 mencapai angka 2.410 fraud ditempat kerja yang terjadi pada 114
negara di seluruh dunia. ACFE yang berbasis di Amerika Serikat merupakan asosiasi yang
beranggotakan para penguji tindakan fraud.
Berikut adalah beberapa jenis fraud menurut Association of Certified Fraud
Examiners (ACFE):
1. Korupsi (Corruption)
• Benturan kepentingan (skema pembelian, skema penjualan, dan lainnya)
• Penyuapan (invoice kickback, bid rigging)
• Pemberian ilegal (sering disebut gratifikasi)
• Pemerasan

7|Page
2. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)
Penyalahgunaan aset bisa secara tunai maupun nontunai. Ada tiga bentuk
penyalahgunaan aset, yaitu:
• Cash Misappropriation – Penyelewengan terhadap aset yang berupa kas (Misalnya:
penggelapan kas, nilep cek dari pelanggan, menahan cek pembayaran untuk vendor)
• Non-cash Misappropriation – Penyelewengan terhadap aset yang berupa non-kas
(Misalnya: menggunakan fasilitas perusahaan/lembaga untuk kepentingan pribadi).

3. Pernyataan Palsu (Fraudulent Statement)


ACFE membagi jenis fraud ini menjadi 2 macam, yaitu: (a) financial; dan (b) non-
financial. Saya lebih suka mengatakan: segala tindakan yang membuat Laporan
Keuangan menjadi tidak seperti yang seharusnya (tidak mewakili kenyataan), tergolong
kelompok fraud terhadap laporan keuangan. Misalnya:
 Memalsukan bukti transaksi
 Mengakui suatu transaksi lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya,
 Menerapkan metode akuntansi tertentu secara tidak konsisten untuk menaikan atau
menurunkan laba
 Menerapkan metode pangakuan aset sedemikian rupa sehingga aset menjadi
nampak lebih besar dibandingkan yang seharusnya.
 Menerapkan metode pangakuan liabilitas sedemikian rupa sehingga liabilitas
menjadi nampak lebih kecil dibandingkan yang seharusnya.

2.3 Motif Fraud


Motif dapat diartikan sebagai factor pendprong seseorang melakukan atau turur
serta melakukan perbuatan fraud. Motif tidak lepas dari tujuan dari melakukan atau turut
serta melakukan perbuatan fraud. Menurut Yayasan Pendidikan Internal Indonesia
menyatakan bahwa factor pendorong nya adalah:

8|Page
1. Economic
Yang mana ingin mengambil keuntungan ekonomi secara materil atau manfaat
lainnya, baik yang bersifat aset kas atau aset non-kas. Kebanyakan fraud ini ada di
tingkatan operasional untuk alasan menutup kebutuhan hidup (need reason).
2. Egocentric
Melekat pada seseorang yang memiliki kekuasaan tanpa penyeimbang atau bersifat
otoriter sehingga ia mudah mengabaikan atau mengacuhkan tata kelola dan
pengendalian intern.
3. Psychosis
Hal ini lebih ke masalah psikis pelaku fraud, apabila fraud dilakukan berulang kali
dan menjadi kebiasaan maka pelaku tidak menyadari perbuatannya adalah salah.
4. Ideological
Biasanya hal ini dikarenakan adanya pola piker yang salah, yang mana saat ada
aturan, dia akan mengacuhkanya dan akan bertindak sesuai apa yang dia mau.

2.4 Pelaku Fraud

Pelaku kecurangan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu


manajemen dan karyawan/pegawai. Pihak manajemen melakukan kecurangan biasanya
untuk kepentingan perusahaan, contoh kecurangan yang dilakukan oleh manajemen yaitu
salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from
fraudulent financial reporting). Sedangkan karyawan/pegawai melakukan kecurangan
bertujuan untuk keuntungan individu, misalnya salah saji yang berupa penyalahgunaan
aktiva (misstatements arising from misappropriation of assets). Kecurangan pelaporan
keuangan biasanya dilakukan karena dorongan dan ekspektasi terhadap prestasi kerja
manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan terhadap pelaporan keuangan lebih
dikenal dengan istilah irregularities (ketidakberesan). Bentuk kecurangan seperti ini
seringkali dinamakan kecurangan manajemen (management fraud), misalnya berupa

9|Page
manipulasi, pemalsuan, atau pengubahan terhadap catatan akuntansi atau dokumen
pendukung yang merupakan sumber penyajian laporan keuangan. Kesengajaan dalam
salah menyajikan atau sengaja menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi,
kejadian, atau informasi penting dari laporan keuangan.
Terdapat beberapa fakta pelaku fraud sebagai berikut:
 Jenjang Pendidikan
Fraud tidak hanya dilakukan oleh orang yang berpendidikan rendah tetapi juga
orang yang berpendidikan tinggi.
 Jenjang Jabatan
Peluang fraud melekat pada jabatan dan kekuasaan atau kewenangan dan seperti
halnya pendidikan, kompleksitas perbuatan fraud juga sangat berkorelasi dengan
jabatan.
 Lama Bekerja
Semakin lama pelaku fraud bekerja, semakin memiliki kapabilitas dan
pengetahuan tentang celah kelemahan atau peluang melakukan fraud
 Usia
Jika usia semakin meningkat kapabilitasnya untuk melakukan fraud turut
meningkat.
 Jenis Kelamin
Fraud didominasi oleh laki-laki. Fakta ini sebenarnya berkorelasi dengan jumlah
laki-laki yang lebih banyak memegang jabatan.

Kecurangan penyalahgunaan aktiva biasanya disebut kecurangan karyawan


(employee fraud). Salah saji yang berasal dari penyalahgunaan aktiva meliputi
penggelapan aktiva perusahaan yang mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan
sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penggelapan aktiva
umumnya dilakukan oleh karyawan yang menghadapi masalah keuangan dan dilakukan
karena melihat adanya peluang kelemahan pada pengendalian internal perusahaan serta

10 | P a g e
pembenaran terhadap tindakan tersebut. Contoh dari kecurangan karyawan (employee
fraud) mengacuh pada Sawyers dalam “The Practice of Modern Internal Audit” yang telah
dialih bahasakan oleh Amin Widjaja, ada 10 bentuk kecurangan karyawan, antara lain:
1. Pemalsuan cap stempel
2. Mencuri barang dagangan, peralatan, persediaan, dan barang-barang
perlengkapan lainnya
3. Mengambil sejumlah kecil uang kas dari mesin kasir
4. Tidak mencatat penjualan barang dan mengantongi uangnya
5. Menciptakan kelebihan dana kas dan register dengan melakukan kurang
pencatatan
6. Pembebanan berlebihan pada akun-akun pengeluaran atau menggunakan uang
muka untuk kepentingan pribadi
7. Memutar penagihan atas rekening pelanggan
8. Membiayakan rekening pelanggan dan mencuri uangnya
9. Mengeluarkan kredit untuk klaim dan pengembalian oleh pelanggan palsu
10. Tidak memberikan setoran harian ke bank, atau menyetorkan sebagian dari uang
saja

2.5. Gejala Adanya Fraud


Fraud (kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit
ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu,
perludiketahui gejala-gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut, Bologna
mendefinisikan gejala tersebut sebagai red flag. Menurut Ditama Binbangkum red flag/
gejala dapat dideteksi dengan melihat beberapa hal berikut ini:
1. Gejala kecurangan pada manajemen :
a. Ketidakcocokan diantara manajemen puncak perusahaan
b. Rendahnya moral dan motivasi karyawan

11 | P a g e
c. Kurangnya staf Departemen akuntansi pada suatu perusahaan
d. Tingkat komplai yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak
konsumen, pemasok, atau badan otoritas
e. Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi
f. Penjualan/laba menurun sementara itu hutang dan piutang dagang
meningkat
g. Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka
waktu yang lama
h. Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan
i. Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun
buku
2. Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai :
a. Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa
perincian/ penjelasan pendukung
b. Pengeluaran tanpa dokumen pendukung
c. Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar
d. Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung
pembayaran
e. Kekurangan barang yang diterima
f. Kemahalan harga barang yang dibeli
g. Adanya faktur ganda
h. Penggantian mutu barang

2.6. Unsur-unsur Fraud


Kecurangan dianggap terjadi apabila memenuhi setiap unsur-unsur dari kecurangan.
Apabila salah satu unsur tidak ada maka kecurangan dianggap tidak terjadi. Berikut unsur-
unsur kecurangan:

12 | P a g e
1. Harus terdapat salah saji (misrepresentation)
2. Dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present)
3. Fakta bersifat material (material fact)
4. Dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly or
necklessly)
5. Harus ada korban (there is a victim)
6. Harus ada yang dirugikan (there is a lost)
7. Tindakan illegal (illegal act)

2.7 Tanggung Jawab Internal Auditor


Tanggungjawab internal auditor dalam pencegahan, pendeteksian dan
menginvstigasi perbuatan kecurangan masih menjadi perdebatan yang berkepanjangan
dalam profesi audit, khususnya pada lembaga audit internal. Namun demikian tidak bisa
dibantah baha internal auditor memegang peranan penting dalam mendukung
penerapan good corporate governance. Keterlibatan internal auditor dengan aktivitas
operasional sehari-hari termasuk keterlibatan dalam proses pelaporan transaksi keuangan
dan struktur pengendalian intern memberi kesempatan internal auditor untuk melakukan
penilaian secara berkala dan menyeluruh atas aspek-aspek kegiatan/operasional perusahaan
yang memiliki risiko tinggi. Efektivitas peran internal auditor dalam mencegah dan
mendeteksi kecurangan sangat tergantung pada besar kecilnya status kewenangan yang
dimiliki dan mekanisme pelaporan hasil investigasi kecurangan yang dapat dijalankan,
karena belum semua jajaran direksi mau memberikan kewenangan penuh dalam proses
pencegahan, pendeteksian dan investigasi kecurangan pada internal auditor.
Standar Profesi Audit Internal (1210.2) menyatakan bahwa internal audit harus
memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti, dan menguji adanya
indikasi kecurangan. Sejalan dengan hal tersebut, pernyataan standar internal audit (SIAS)
No. 3 menyatakan bahwa internal audit diwajibkan untuk mewaspadai kemungkinan

13 | P a g e
terjadinya ketidakwajaran penyajian, keslahan, penyimpangan,
kecurangan, inefficiency, konflik kepentingan dan ketidakefektifan pada suatu aktivitas
perusahaan, pada saat pelaksanaan audit. Audit internal juga diminta untuk
menginformasikan kepada pejabat yang berwenang dalam hal diduga telah terjadi
penyimpangan, dan menindaklanjutinya untuk meyakinkan bahwa tindakan yang tepat telah
dilakukan untuk memperbaiki masalah yang ada. Terdapat 4 pilar utama dalam memerangi
kecurangan, yaitu:
1. Pencegahan kecurangan (fraud prevention)
2. Pendeteksian dini kecurangan (early fraud detection)
3. Investigasi kecurangan (fraud investigation)
4. Penegakan hukum atau penjatuhan sanksi (follow-up legal action)
Berdasarkan 4 pilar utama dalam rangka memerangi kecurangan tersebut, peran
penting dari internal auditor dalam ikut membantu memerangi perbuatan kecurangan
khususnya mencakup:
- Preventing Fraud (mencegah kecurangan)
- Detecting Fraud (mendeteksi kecurangan)
- Investigating Fraud (melakukan investigasi kecurangan)
Secara garis besar pencegahan dan pendeteksian serta investigasi merupakan
tanggung jawab manajemen, akan tetapi internal auditor diharapkan dapat melakukan tiga
hal tersebut di atas sebagai bagian dari pelaksanaan tugas manajemen. Dalam
perkembangannya penugasan dalam memerangi kecurangan saat ini telah mengarah pada
profesi tersendiri, seperti Certified Fraud Examiners (CFE) ataupun akuntan forensic.
Dalam menjalankan tugas auditnya, internal auditor harus waspada terhadap setiap
hal yang menunjukkan adanya peluang atau kemungkinan terjadinya kecurangan. Dalam
kenyataannya, kewaspadaan dan sifat skeptic yang pada tempatnya, mungkin merupakan
dua keterampilan yang penting bagi inernal auditor. Penyelidikan yang kritis terhadap
kemungkinan kecurangan, harus diikuti oleh penilaian terhadap pengendalian yang ada,
praktik pengendalian dan seluruh lingkup pengendaliannya yang potensial. Untuk
14 | P a g e
menyelidiki kecurangan yang terjadi dalam suatu perusahaan/organisasi, sering kali
dibutuhkan kombinasi keahlian seorang auditor terlatih dan penyelidik criminal.
Internal auditor harus bertindak secara proaktif dalam mencegah dan mendeteksi
terjadinya kecurangan, khususnya keterlibatan secara aktif dalam mengevaluasi struktur
pengendalian intern perusahaan dan status organisasi. Efektivitas internal auditor dalam
mencegah dan mendeteksi kecurangan sering kali terkendala oleh waktu dan besarnya
biaya untuk menilai/menguji prosedur, kebijakan manajemen dan pengujian atas
pengendalian.
Internal auditor barada dalam posisi yang penting untuk memonitor secara terus
menerus struktur pengendalian intern perusahaan melalui identifikasi dan deteksi atas
tanda-tanda (red flags) yang mengindikasikan adanya suatu kecurangan. Internal auditor
berada pada posisi yang tepat untuk memehami seluruh aspek tentang struktur organisasi,
tempat pelatihan yang tepat, pemahaman mereka tentang sumber daya manusia yang ada,
memahami kebijakan dan prosedur operasi, dan memahami kondisi bisnis dan lingkungan
pengendalian intern yang memungkinkan untuk mengidentifikasi dan menilai tanda-tanda
atau gejala (symptom ataupun red flag) kemungkinan terjadinya kecurangan.
Kecurangan biasanya tidak hanya dilakukan oleh karyawan pada tingkat bawah,
tetapi jug adapt dilakukan oleh jajaran direksi (top management) baik secara individual
maupun bersama-sama (fraud management) yang dalam cakupan penugasan audit mungkin
luar jangkauan kewenangan internal auditor. Pada dasarnya dalam menjalankan tugas audit
regular, internal auditor perlu mewaspadai terjadinya kecurangan yang dapat
mempengaruhi kualitas, integritas dan keandalan pelaporan transaksi keuangan perusahaan.
Dalam hal ini, internal auditor harus menginvestigasi secara menyeluruh kemungkinan
terjadinya kecurangan dan mengkomunikasikan kepada komite audit terhadap adanya
indikasi kecurangan. Dengan demikian, hubungan kerjasama yang erat antara komite audit
dengan fungsi audit internal, khususnya melalui pertemuan-pertemuan antara ketua komite
audit dengan kepala Satuan Pemeriksa Intern (SPI), akan dapat meingkatkan kualitas hasil
kerja internal auditor dan mengurangi keungkinan terjadinya kecurangan. Hubungan
15 | P a g e
kerjasama antara internal auditor dengan eksternal auditor dapat membawa keterlibatan
internal auditor dalam proses penilaian terhadap (kemungkinan) terjadinya kecurangan
pada area peran internal auditor yang sangat terbatas, misalnya pada level terjadinya
kecurangan melibatkan manajemen lini menengah dan atas (middle/top management).
Sehingga secara tidak langsung internal auditor akan lebih mampu berperan dalam
memantau kemungkinan terjadinya kecurangan pada level pembuat kebijkan. Situasi
demikian ini akan memberikan peluang bagi internal auditor untuk berperan aktif dalam
pengujian integritas, kualitas, dan keandalan proses pembuatan hingga implementasi
kebijakan yang dilakukan oleh top manajemen. Bahkan dalam laporannya pada tahun 1999,
COSO (Committee of Sponsoring Organizations) mendorong agar internl auditor mampu
dan dapat berperan secara aktif dalam menilai kualitas, keandalan dan integritas manajemen
puncak dalam pembuatan dan implementasi kebijakan agar terbebas dari unsur perbuatan
kecurangan.
Berkenaan dengan peran dan tanggung jawab sebagaimana diuraikan di atas,
Pernyataan Standar Internal Auditor (SIAS) No.3 menguraikan mengenai tanggungjawab
internal auditor untuk pencegahan kecurangan, yaitu : “memeriksa dan menilai kecukupan
dan efektivitas system pengendalian intern, berkaitan dengan pengungkapan risiko
potensial pada berbagai bentuk kegiatan/operasi organisasi”. Standar ini secara jelasa
mengemukakan bahwa pencegahan kecurangan adalah tanggungjawab manajemen.
Meskipun demikian, internal auditor harus menilai kewajaran dan efektivitas tindakan yang
dilakukan oleh manajemen terhadap kemungkinan penyimpangan atas kewajiban tersebut.
Dapat kita lihat bahwa SIAS N0.3 menjelaskan tanggungjawab internal auditor dalam
mendeteksi kecurangan yang mencakup:
Pertama, internl auditor harus memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang
memadai atas kecurangan agar dapat mengidentifikasi kondisi yang menunjukkan tanda-
tanda fraud yang mungkin akan terjadi.
Kedua, internal auditor harus mempelajari dan menilai struktur pengendalian
perusahaan untuk mengidentifikasi timbulnya kesempatan terjadinya kecurangan, seperti
16 | P a g e
kurangnya perhatian dan efektivitas tehadap system pengendalian intern yang ada. Dalam
kaitannya dengan pendeteksian kecurangan yang efektif, internal auditor harus mampu
melakukan, antara lain hal-hal berikut:
- Mengkaji system pengendalian intern untuk menilai kekuatan dan kelemahannya.
- Mengidentifikasi potensi kecurangan berdasarkan kelemahan yang ada pada siste
pengendalian intern.
- Mengidentifikasi hal-hal yang menimbulkan tanda tanya dan transaksi-transaksi
diluar kewajaran (non procedural).
- Membedakan factor kelemahan dan kelalaian manusia dari kesalahan yang
bersifat fraud.
- Berhati-hati terhadap prosedur, praktik dan kebijakan manajemen.
- Dapat menetapkan besarnya kerugian dan membuat laporan atas kerugian karena
kecurangan, untuk tujuan penuntutan pengadilan (litigasi), penyelesaian secara
perdata, dan penjauhan sanksi internal (skorsing hingga pemutusan hubungan
kerja).
- Mampu melakukan penelusuran dan mengurai arus dokumn yang mendukung
transaksi kecurangan.
- Mencari dokumen pendukung untuk transaksi yang dipertanyakan (dispute).
- Mereview dokumen yang sifatnya aneh/mencurigakan.
- Menguji jalannya implementasi motivasi dan etika organisasi di bidang pencegahan
dan pendeteksian kecurangan.
Sedangkan dalam kaitannya dengan investigasi kecurangan, SIAS No.3
merekomendasikan agar investigasi kecurangan dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri
dari internal auditor, bagian hukum, investigator, petugas security dan ahli-ahli lainnya baik
dari dalam maupun dari luar organisasi. Tanggungjawab internal auditor berkaitan dengan
investigasi kecurangan adalah:
- Menetapkan apakah pengendalian yang ada telah cukup memadai dan efektif untuk
mengungkap terjadinya kecurangan
17 | P a g e
- Merancang suatu prosedur audit untuk mengungkap dan mencegah terulangnya
kembali terjadinya kecurangan atau penyimpangan
- Mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk menginvestigasi kecurangan yang
sering terjadi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keahlian seorang internal auditor
dalam pengungkapan terjadinya kecurangan, harus memiliki kemampuan mirip dengan
yang dimiliki seorang penyidik criminal dan keberadaan keduanyaadalah untuk mencari
kebenaran melalui pengungkapan bukti pendukung perbutan fraudnya. Dalam
pengungkapan kecurangan seorng internal auditor harus mempunyai rasa ingin tahu dan
suka akan tantangan pada hal-hal yang muncul secara tidak lazim. Dengan kata lain angin
tahu pada hal-hal yang bertentangan dengan logika atau apa yang diharapkan secara wajar.

2.7.1. International Standards On Auditing (ISA) No. 240


International Standards On Auditing (ISA) adalah standar profesi yang
mengatur pelaksanaan audit atas informasi (Laporan) keuangan. ISA diterbitkan oleh
International Federation Of Accountants (IFAC). Dalam ISA 240, auditor diwajibkan
untuk:
a) Mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji laporan keuangan yang material
yang disebabkan fraud.
b) Merancang prosedur audit lebih lanjut untuk mendapatkan bukti audit yang
tepat dan cukup terhadap risiko fraud yang dinilai
c) Merancang langkah tindak lanjut atas fraud yang terdeteksi.
Terdapat dua jenis fraud yang terkait pada penugasan audit laporan
keuangan adalah terjadinya salah saji material pada laporan keuangan yang
disebabkan oleh pelaporan yang di fraud – kan dan penyalahgunaan atau pengelapan
aset.

18 | P a g e
Jika auditor tidak mampu melanjutkan penugasan audit akibat adanya fraud
atau dugaan fraud maka auditor harus:
1) Menentukan tanggung jawabnya yang dibebankan oleh undang undang dan
profesi termasuk mengkomunikasikan hal ini kepada pihak yang memberikan
penugasan dan regulator,
2) Jika diizinkan oleh hukum yang berlaku, putuskan apakah menarik diri dari
penugasan audit dan jika memutuskan menarik diri maka auditor
mendiskusikan penarikan dirinya beserta alasanya dengan manajemen dan
pihak yang bertanggung jawab.

2.7.2. Sarbanes-Oxley Act (SOX)


Sox adalah kejengkelan masyarakat Amerika Serikat terhadap sejumlah
reaksi karena adanya mega fraud (Skandal) akuntansi dan laporan keuangan yang
terjadi di perusahaan besar antara lain Enron, Tyco International, Adelphia, dan
Worldcom. Fraud tersebut menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena
runtuhnya harga saham perusahaan tersebut. Hal itu lah yang menjadi dasar muncul
nya undang undang Sox ini. Berikut ini beberapa aturan SOX yang penting:
1. Sarbanes-Oxley Section 302: Kontrol pengungkapan laporan keuangan
(Disclosure controls)
Mewajibkan adanya prosedur intern yang dibuat untuk menjamin keakuratan
pengungkapan laporan keuangan. Auditor independen diwajibkan menerbitkan
opini apakah pengendalian inter yang efektif atas pelaporan keuangan telah
dipelihara dalam segala hal yang material oleh manajemen.
2. Sarbanes-Oxley Section 303: Perbuatan yang tidak benar yang dapat
memepengaruhi pelaksanaan audit (Improper influance on conduct of audits)
Menyatakan sebagai perbauatan melawan hukum bila ada pejabat atau director
perusahaan melakukan perbuatan mempengaruhi, memaksa, memanipulasi,
menyesatkan akuntan publik yang melaksanakan audit atas laporan keuangan

19 | P a g e
sehingga penyajian laporan keuangan menjadi salah atau menyesatkan secara
material.
3. Sarbanes-Oxley Section 401: Pengungkapan padalaporan periodik (Disclosure
in periodic reports (off-balance sheet items))
Mewajibkan pengungkapan semua off-balance sheet items yang material.
4. Sarbanes-Oxley Section 404: Penilaian atas pengendalian intern
Mewajibkan manajemen dan auditor independen untuk melaporkan kecukupan
pengendalian intern keuangan / internal control financial reporting (ICOFR).
5. Sarbanes-Oxley Section 802: sanksi pidana tidak lebih dari 20 tahun atau sanksi
denda atau keduanya bagi yang mempengaruhi investigasi atau administrasi yang
dilakukan pemerintah.
6. Sarbanes-Oxley Section 906: Sanksi krimina untuk sertifikasi laporan
keuangan oleh CEO/CFO
Kegagalan pejabat perusahaan mensertifikasi laporan keuangan yaitu ternyata
laporan tidak memenuhi persyaratan yang diwajibkan agar laporan periodik telah
menyajikan secara wajar seluruh kondisi keuangan dan hasil operasi yang material
akan dikenakan denda tidak lebih dari USD 1.000.000 atau penjara tidak lebih dari
10 tahun atau dijatuhi sanksi keduanya, dan bila pensertifikasian yang salah
tersebut dilakukan dengan sengaja akan dikenakan denda tidak lebih dari USD
5.000.000 atau penjara tidak lebih dari 20 tahun atau dijatuhi sanksi keduanya.
7. Sarbanes-Oxley Section 1107: sanksi pidana apabila terjadi pembalasan
(retaliation) terhadap pelapor (whistleblower) yang memberikan informasi yang
benar kepada penegak hukum AS tentang fraud akan dikenakan denda, pidana
penjara tidak lebih dari 10 tahun atau keduanya.

20 | P a g e
2.8.1 Risiko Fraud dan Manajemen Fraud
2.8.1 Fraud Detterence (Menjerakan Fraud)
Menjerakan fraud yaitu fraud tidak menjadi massif, calon pelaku takut perbuatan
fraudnya dapat segera terdeteksi dan terungkap, pelaku fraud tau sanksi hukum yang tegas
dan konsisten akan diterapkan, dan tidak ada toleransi terhadap siapapun pelaku fraud.
Tujuan utama membangun dan mengimplementasikan program antifraud adalah
menumbuhkan fraud deterrence.

Ada dua risiko pengendalian fraud melekat yang dihadapi organisasi:

a. Collusion: dua orang atau lebih bermufakat jahat untuk melakukan fraud.
b. Management’s override of controls: bila manajemen mengabaikan atau
memerintahkan pengabaian pengendalian yang ada.

2.8.2 Pengertian Risiko dan Risiko Fraud


Risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan
kerugian bagi suatu entitas atau organisasi atau singkatnya adalah potensi kerugian akibat
terjadinya suatu peristiwa tertentu (events). Resiko fraud berarti potensi terjadinya suatu
peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian bagi suatu entitas atau organisasi yang
disebabkan karena fraud.

2.8.3 Pengertian dan Elemen Manajemen Risiko Fraud (Fraud Risk Management)
Penting bagi organisasi memiliki program antifraud yang kuat. Merujuk pedoman
Managing the Business Risk of Fraud tahun 2008 dari IIA, ACFE, dan AICPA, yang
didukung juga oleh beberapa asosiasi profesi, program anti fraud atau program
pengendalian fraud disebut juga sebagai Fraud Risk Management (FRM).

1. Peranan Dewan Komisaris dalam Memberantas Fraud


Keterlibatan dewan komisaris pada FRM mencangkup bukan hanya mendapat
pemahaman penuh tentang apa yang manajemen lakukan untuk mencegah dan

21 | P a g e
mendeteksi fraud atau hanya sekedar kertas konsep tetapi yang terpenting adalah
aksi nyatanya. Laporan-laporan dari manajemen tentang pengendalian anti fraud
yang diterapkan akan tidak memili makna jika manajemen eksekutif dan
manajemen lini menengah tidak memberi contoh suri tauladan. Hal ini disebut
“tone at the top”. Menerapkan “tone at the top” dengan tepat memperkuat posisi
dewan komisaris tehadap fraud bahwa mereka bukan hanya sebatas ngomong tetapi
diwujudkan dalam aksi nyata.
2. Fondasi Fraud Risk Management (FRM)
Untuk menjamin fondasi yang tepat untuk aktivitas FRM di organisasi, Dewan
Komisaris harus bekerja sama dengan erat dengan manajemen untuk secara jelas
mendefinisikan dan secara formal mendokumentasikan kedalam kebijakan antifraud
atau kebijakan FRM organisasi:
 Harapan Dewan Komisaris kepada manajemen dalam mengelola risiko
fraud;
 Tanggung jawab yang jelas kepada Dewan Komisaris dan manajemen pada
FRM;
 Kepemilikan dan pertanggungjawaban risiko pada manajemen eksekutif,
manajemen senior, dan semua tingkatan manajer.
 Tujuan program FRM

3. Prinsip-Prinsip dalam Mengelola Risiko Fraud


Menurut Pedoman Managing The Business Risk of Fraud, lima prinsip kunci
yang secara proaktif membentuk suatu lingkungan yang secara efektif mengelola
risiko fraud meliputi:
 Fraud Risk Governance
 Fraud Risk Assessment (FRA)
 Pencegahan Fraud

22 | P a g e
 Pendeteksian Fraud
 Pelaporan & Investigasi Fraud, serta Langkah Perbaikan

2.9 Mendeteksi Fraud


2.9.1 Memahami Gejala (Red Flag) Fraud
Gejala fraud adalah kondisi atau fenomena yang tidak lazim, tidak patut,
menyimpang dari yang seharusnya yang mengarah pada perbuatan yang merugikan
organisasi.

2.9.2 Faktor Kunci Kemampuan Mengenali Red Flag

Faktor kunci kemampuan mengenali gejala fraud terletak pada diri individu auditor
intern mengasah analisisnya, ketelitiannya, dan nalurinya dalam :

 Mengevaluasi dan menilai kualitas atau keefektifan lingkungan pengendalian


dan GCG.
 Mengevaluasi dan menilai kualitas atau keefektifan elemen pengendalian intern
untuk suatu siklus transaksi, proses bisnis atau business flow, dan detail
transaksi.
 Menentukkan titik krisis yang rawan atau sangat rawan untuk di fraud kan dari
kedua langkah diatas.
 Mengevaluasi atau memeriksa suatu dokumen dan laporan khususnya yang
terkait titik kritis.
 Mencari pembanding yang tepat dari dari asset fisik atau informasi pihak
ketiga, khususnya untuk mendapatkan pembanding data yang terkait titik kritis.
 Membayangkan cara pelaku fraud menyembunyikan perbuatan fraud-nya
termasuk cara berkolusi.

23 | P a g e
2.9.3 Mengenali Red Flag
Hal hal yang menjadi pemicu terjadinya fraud yang berhubungan dengan individu
yaitu green (keserakahan) dan need (kebutuhan), yang berhubungan dengan organisasi
opportunity (kesempatan) dan exposure (pengungkapan).

1. Red Flag pada Organisasi (Faktor Generik)


Faktor generik adalah faktor risiko yang berada dalam pengendalian organisasi
(perusahaan) yang seharusnya dapat dikelola dengan maksimal, yang
mencakup:
 Kesempatan atau adanya peluang bagi pelaku kecurangan
(opportunity).
 Kemungkinan bahwa fraud akan dapat segera diketahui dan
diungkapkan (exposure).
2. Red Flag pada Individu (Faktor Individu)
Faktor ini melekat pada diri seseorang yang melakukan fraud. Faktor ini
dikategorikan menjadi dua:
 Moral yang berhubungan dengan keserakahan (greed).
 Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan (need).

2.9.4 Hubungan Red Flag dan Risiko Fraud


Risiko fraud bersifat laten dan dalam perjalanan menjadi fraud akan melalui
beberapa tahapan dan pasti akan menimbulkan gejala-gejala fraud berupa antara lain:

 Kejanggalan pada perilaku pegawai


 Anomali finansial
 Kejanggalan pada dokumen, catatan dan laporan
 Kelemahan pengendalian intern dan/atau tata kelola

24 | P a g e
2.9.5 Teknik Mendeteksi Red Flag
Pendeteksian fraud seperti halnya pencegahan fraud adalah aktivitas yang wajib
dilaksanakan secara rutin berkesinambungan. Pendeteksian fraud adalah pagar pengaman
kedua dalam FRM yang diwujudkan dalam aktifitas pengendalian dan pemantauan
(monitoring).

Teknik-teknik pendeteksian fraud yang sangat layak diterapkan:

1. Critical Point Auditing (CPA)


2. Analisis Keuangan (Prosedur Analitis)
3. Prosedur Pengujian Khusus
4. Job Sensitivity Analysis (JSA)
5. Metode Pendekatan
6. Pengawasan Rutin/Pengawasan Melekat
7. Karakter dan Perilaku Pribadi (Behavior Analysis)
8. Data Mining dan Analytics
9. Continuous Auditing/Monitoring
10. Sistem Pelaporan Pengaduan (Whistle Blower System)
2.10. Respon Atas Insiden Fraud
2.10.1 Fraud Incidence Response (FIR)

Setiap organisasi pernah dan akan mengalami fraud atau korupsi. Baik berupa
gejala (red flag) atau fraud yang terjadi tanpa didahului red flag. Maka dari itu, semestinya
setiap organisasi menyusun kebijakan dan prosedur untuk menanganinya, yang disebut
fraud incidence handling, disesuaikan dengan ukuran dan kompleksitas masing-masing.
Investigasi dilakukan untuk mengungkap gejala dan indikasi fraud. Investigasi
menurut ketentuan hukum acara pidana di Indonesia dikenal sebagai penyelidikan dan
penyidikan. Teknik investigasi merupakan metode/teknik yang digunakan dalam audit
investigatif. Untuk keperluan penegakan hukum, audit investigatif adalah salah satu cara

25 | P a g e
atau teknik untuk mengungkapkan fraud atau korupsi dan menemukan alat-alat bukti dan
barang bukti.

2.10.2 Penerapan Audit Forensik / Audit Investigatif

Audit investigatif mencakup penelaahan dokumentasi keuangan untuk tujuan


tertentu, yang mungkin saja berhubungan dengan masalah litigasi dan pidana. Pemeriksaan
secara profesional terhadap fraud dimulai dengan tiga aksioma, sebagai berikut:

a. Fraud pada hakekatnya tersembunyi.


b. Untuk mendapatkan bukti bahwa fraud tidak terjadi, orang harus juga berupaya
membuktikan fraud telah terjadi.
c. Setiap proses audit investigatif atas fraud diasumsikan akan berakhir hingga
tahap litigasi.

1. Pendekatan dan Prinsip Audit Investigatif


Pendekatan ini didasarkan pada penilaian yang logis terhadap individu dan
segala sesuatu/benda yang terkait dengan tindak fraud tersebut. Beberapa
prinsip-prinsip investigasi termasuk audit investigatif adalah sebagai berikut:
a. Audit investigatif merupakan tindakan mencari kebenaran.
b. Kegiatan audit investigatif mencakup pemanfaatan sumber-sumber
bukti.
c. Auditor mengumpulkan fakta-fakta sedemikian rupa
d. Bukti fisik merupakan bukti nyata, yang sampai kapan pun akan
selalu mengungkapkan hal-hal yang sama
2. Tahapan Audit Investigatif
Pengetahuan tentang proses investigasi terhadap fraud yang terdeteksi serta
keterampilan menerapkan teknik-teknik yang relevan untuk mengungkapkan
dan menuntaskan suatu kasus, sangatlah dibutuhkan.

26 | P a g e
3. Perencanaan
Informasi tentang kasus yang diduga mengandung unsur fraud dapat berasal
dari berbagai sumber, sehingga diperlukan pengembangan/pendalaman lebih
lanjut dengan menganalisis. Hal tersebut dilakukan dengan menguraikan
unsur-unsur 5W + 1H.
4. Pengumpulan dan Evaluasi Bukti
Pembuktian dalam audit bertujuan untuk mendapatkan kebenaran
berdasarkan fakta. Penentuan kecukupan jumlah bukti audit dan jenis bukti
audit yang diperlukan, dan pengevaluasian apakah informasi yang diaudit
sesuai dengan kriteria yang ditetapkan merupakan suatu bagian yang kritis
dalam setiap audit.
5. Jenis Bukti Audit
Alvin A. Arens and James K. Loebbecke mengklasifikasikan bukti audit
menjadi 7 jenis, yaitu:
a. Pengujian fisik (physical examination)
b. Konfirmasi (confirmation)
c. Dokumentasi (documentation)
d. Observasi (observation)
e. Tanya jawab dengan auditan (inquires of the client)
f. Pelaksanaan ulang (reperformance)
g. Prosedur analitis (analytical procedures)
6. Tingkatan Bukti Audit :
a. Bukti utama (primary evidence)
b. Bukti tambahan (secondary evidence)
c. Bukti langsung (direct evidence)
d. Bukti tidak langsung (circumstantial evidence)
e. Bukti pendukung (corroborative evidence)

27 | P a g e
7. Sistem Pembuktian menurut KUHAP
Menurut Ketentuan Umum Hukum Acara Pidana (KUHAP), pembuktian
adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang
cara-cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan
yang didakwakan.
8. Teori / Sistem Pembuktian
Terdapat empat sistem pembuktian yaitu:
a. Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim (conviction-in
time)
b. Sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif
c. Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang
logis (conviction-raisonce)
d. Sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif
9. Alat Bukti menurut KUHAP
Alat bukti yang sah menurut Pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu:
a. Keterangan saksi;
b. Keterangan ahli;
c. Surat;
d. Petunjuk;
e. Keterangan terdakwa.
10. Hubungan Bukti Audit dengan Alat Bukti Hukum
Bukti audit merupakan pendukung Laporan Hasil Audit Investigatif (LHAI),
tidak dapat digunakan secara langsung untuk pembuktian suatu tindak
pidana. Namun, bukti audit tersebut dalam hubungannya dengan tindak
pindana, dapat dikembangkan oleh penyidik.
11. Metode dan Teknik Pengumpulan Bukti
Teknik-teknik audit yang sering digunakan dalam pengumpulan bukti adalah
sebagai berikut :
28 | P a g e
a. Pengujian fisik (physical examination)
b. Wawancara (interview)
c. Bukti dokumen (document)
12. Evaluasi Bukti
Bukti yang diperoleh perlu dianalisis untuk menilai kesesuaian bukti
(relevansi) dengan hipotesis fraud serta sebagai landasan perlu tidaknya
mengembangkan bukti lebih lanjut.
13. Kualitas Bukti
Dalam evaluasi bukti, penilaian yang dilakukan mencakup keseluruhan
unsur yang mendukung kualitas bukti yakni relevansi, materialitas dan
kompetensi dari suatu bukti.
14. Kuantitas Bukti
Kuantitas bukti yang diperoleh dianggap cukup apabila dengan bukti-bukti
tersebut auditor dapat menggambarkan apa, siapa, dimana, bilamana,
mengapa, kapan, dan bagaimana suatu kejadian fraud.
15. Pelaporan
Laporan Hasil Audit Investigatif (LHAI) memuat simpulan auditor perihal
terjadi tidaknya penyimpangan atas suatu kegiatan yang diaudit. Simpulan
tersebut harus didukung dengan bukti-bukti audit.
16. Prinsip-prinsip Pelaporan
a. Pengungkapan atas arti penting
b. Kegunaan informasi dan ketepatan waktu pelaporan
c. Objektifitas informasi yang disajikan
d. Tingkat keyakinan penyajian
e. Penyajian yang ringkas, sederhana, namun jelas dan lengkap

29 | P a g e
17. Format Laporan
Laporan digunakan dalam pengambilan keputusan tindak lanjut oleh
pemakai laporan dan juga dapat dipergunakan pada proses tindak lanjut
hukum.
2.11 Aspek Hukum
2.11.1 Hukum Perdata
Hukum perdata adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang
satu dengam orang lainnya sebagai anggota masyarakat dan menitikberatkan kepentingan
perorangan yang bersifat pribadi.
1. Perikatan yang terjadi dari perjanjian
2. Perikatan yang terjadi karena undang-undang
2.11.2 Hukum Pidana
Hukum pidana merupakan hukum publik yaitu hukum yang mengatur kepentingan
umum, yakni mengatur hubungan hukum antara orang dengan negara, antara badan atau
lembaga negara satu sama lain dengan menitikberatkan kepada kepentingan masyarakat
dengan negara. Ketentuan Perundang-undangan lainnya ketentuan materil pada hukum
pidana dan/atau perdata yang dapat menjadi acuan dalam menyelesaikan fraud, terdapat
berbagai lex specialis yang dapat atau harus menjadi acuan karena fraud yang diinvestigasi
memiliki dimensi perbuatan melawan hukum yang lebih sesuai dengan lex specialis
ketimbang hukum pidana dan/atau perdata yang merupakan lex generalis

Untuk menciptakan rasa keadilan dan menimbulkan rasa jera, setiap perbuatan fraud
akan dikenakan sanksi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi pelanggarnya.

1. Sanksi berdasarkan ketentuan perusahaan


2. Sanksi berdasarkan ketentuan instansi pemerintah
3. Sanksi berdasarkan ketentuan hukum pidana
4. Sanksi berdasarkan undang-undang tindak pidana korupsi

30 | P a g e
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Meski kasus SNP Finance tidak membawa potensi risiko sistemik bagi industri
multifinance nasional, ternyata membawa potensi risiko bagi beberapa bank sebagai
kreditur. kasus itu juga menjadi pelajaran berharga bagi OJK untuk lebih selektif dalam
memberikan izin bagi multifinance dalam menerbitkan surat utang.

3.1 Jenis fraud dalam kasus gagal bayar PT. Sunprima Finance

Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), terdapat 3 jenis fraud,


yaitu korupsi, penyalahgunaan asset, dan pernyataan palsu. Dalam kasus PT. Sunprima
Finance ini, masuk dalam jenis fraud korupsi dan pernyataan palsu, dapat di uraikan
sebagai berikut:

1. Korupsi (Benturan Kepentingan)


Jelas dalam kasus ini ada benturan kepentingan, yang mana PT. SNP ini ingin
mempercantik laporan keuangan audit nya melalu Kantor Akuntan Publik
Akuntan Publik Marlinna dan Akuntan Publik Merliyana Syamsul agar tetap
dapat pembiayaan melalui joint financing melalui 14 bank dan juga dapat
mengelabui peringkat efek yang dikeluarkan Pefindo agar tetap di kategori idA-
/stable.
2. Penyataan Palsu
Dalam temuan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), ada keterlibatan
audit internal dari PT. SNP dan juga keterlibatan auditor eksternal yang mana
dalam ha ini sistem pengendalian mutu yang dimiliki KAP mengandung
kelemahan karena belum dapat melakukan pencegahan yang tepat atas ancaman
kedekatan berupa keterkaitan yang cukup lama di antara personel senior, yakni
manajer tim audit dalam perikatan audit pada klien yang sama untuk suatu
31 | P a g e
periode yang cukup lama. Kementerian Keuangan menilai hal tersebut
berdampak pada berkurangnya skeptisisme profesional. Ini lah yang menjadi
sebab agar PT. SNP bisa mengajukan kredit lagi melalui joint financing dengan
bank untuk bisa membayar Medium Term Notes (MTN). Maka dari itulah titik
dimana kesalahan besar dilakukan oleh manajemen dan audit eksternal untuk
membuat laporan keuangan secara fiktif.

3.2 Motif fraud dalam kasus gagal bayar PT. Sunprima Finance

Menurut Yayasan Pendidikan Internal Indonesia menyatakan bahwa factor


pendorong nya adalah Economic, Egocentric, Psychosis dan Ideological, dalam kasus ini
jelas bahwa masuk dalam motif economic yang mana ingin mengambil keuntungan
ekonomi secara materil atau manfaat lainnya baik yang bersifat aset kas atau aset non-kas.
Kebanyakan fraud ini ada di tingkatan operasional untuk alasan menutup kebutuhan hidup
(need reason). SNP Finance dalam hal ini ingin mendapatkan pinjaman dikeluarkan oleh 14
bank memakai metode joint financing untuk nantinya diteruskan kepada nasabah/pengguna.
Untuk mendapatkan kredit ini, terlebih dulu ditunjuk auditor publik yang bertugas
memeriksa laporan keuangan. Auditor yang ditunjuk adalah Kantor Akuntan Publik (KAP)
Deloitte yang menilai kondisi keuangan SNP Finance. Kemudian seiring dengan turunnya
bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut mengalami permasalahan menjadi Non
Performing Loan (NPL). Lalu Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk
mengatasi kredit bermasalah tersebut adalah melalui penerbitan Medium Term Note
(MTN), yang diperingkat oleh Pefindo berdasarkan laporan keuangan SNP yang diaudit
DeLoitte. Sebelumnya diketahui jika SNP Finance mendapatkan peringkat efek periode
Desember 2015-2017 idA-/stable dari Pefindo. Kemudian pada Maret 2018, rating SNP
Finance naik menjadi idA/stable. Namun Pefindo kembali menurunkan rating SNP Finance
sebanyak 2 kali. Pertama pada bulan Mei 2018, diturunkan menjadi idCCC/credit watch
negative dan pada bulan yang sama menurunkan lagi ke peringkat idSD/selective default.
Akhirnya, saat terjadi permasalahan, SNP Finance mengajukan penundaan kewajiban
32 | P a g e
pembayaran utang (PKPU) terhadap kewajibannya sebesar kurang lebih Rp 4,07 triliun,
yang terdiri dari kredit perbankan Rp 2,22 triliun dan MTN sebesar Rp 1,85 triliun.

3.3 Peran audit internal dalam kasus gagal bayar PT. Sunprima Finance
Internal auditor memegang peranan penting dalam mendukung penerapan good
corporate governance. Keterlibatan internal auditor dengan aktivitas operasional sehari-
hari termasuk keterlibatan dalam proses pelaporan transaksi keuangan dan struktur
pengendalian intern memberi kesempatan internal auditor untuk melakukan penilaian
secara berkala dan menyeluruh atas aspek-aspek kegiatan/operasional perusahaan yang
memiliki risiko tinggi.

Kasus SNP Finance ini menjadi tanda tanya besar karena peran audit internal nya
yang tidak menyoroti atau mengingatkan adanya resiko gagal bayar jika SNP Finance terus
meminjam ke bank dan mengeluarkan medium term notes, seharusnya audit internal bisa
melihat aktivitas penjualan atau turunnya aktivitas bisnis dari Columbia yang mana SNP
sebagai anak usaha dari Columbia tersebut, jika aktivitas bisnis Columbia menurun
otomatis jual beli tidak menggunakan pembiayaan SNP Finance tidak lancar, dari situ
seharusnya audit internal untuk bisa mengendalikan aliran uang dari pinjaman, karena di
takutkan di dalam neraca keuangan perusahaan di sisi passiva terjadi ketimpangan antara
sisi ekuitas dan sisi liabilitas, yang mana akan tergambar bahwa SNP Finance menjalankan
aktivitas bisnis nya menggunakan hutang, yang mana hal tersebut jelas buruk bagi sebuah
perusahaan pembiayaan.

33 | P a g e
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Fraud adalah tindakan yang disengaja oleh anggota manajemen perusahaan, pihak
yang berperan dalam governance perusahaan, karyawan, atau pihak ketiga yang melakukan
pembohongan atau penipuan untuk memperoleh keuntungan yang tidak adil atau illegal.
Dalam kasus ini jelas mengandung fraud yang sudah direncanakan oleh manajemen untuk
memperpanjang roda bisnis perusaahan. Peran audit internal seharusnya lebih sakral atau
sensitive terhadap kasus seperti ini yang mana menjadi pihak yang mengontrol aktivitas
yang dijalankan manajemen dengan tidak menyeleweng dari aturan yang sudah di tetapkan
pemerintah atau organisasi terkait.

4.2 Saran

Berikut ini adalah saran penulis secara kongkrit agar kejadian seperti yang di alami
SNP Finance tidak terjadi lagi, yaitu:

1. Perlu ada sertifikasi untuk Direktur Utama dan Direktur Keuangan mengenai
permasalahan keuangan dan akuntansi, karena akan menjadi modal pertahanan
paling mendasar dari terciptanya kredibilitas laporan keuangan. IAI pun
menyarankan hal tersebut karena sertifikasi ini bisa mengingatkan penyusun laporan
keuangan bahwa ada kode etik yang harus selalu dipegang teguh, dan kalau
melanggar sanksinya berat. Contoh nya sertifikasi Certified Accountant (CA) yang
mana harus melewati beberapa uji atau tes sebelum dapat mendapatkan sertifikasi
tersebut. Karena IAI menilai Direktur Keuangan adalah posisi yang memegang
peranan yang penting bagi kesuksesan suatu perusahaan, memerlukan pemahaman

34 | P a g e
yang menyeluruh tentang akuntansi dan keuangan guna menopang strategi dan
operasi bisnis.
2. Pemilihan Auditor Eksternal harus menjadi titik vital, karena seperti kasus SNP
Finance ini adanya hubungan kerabat antara auditor dengan jajaran manajemen SNP
Finance, maka sudah terlihat bahwa tidak ada lagi sisi independensi dalam
pemeriksaan laporan keuangan tersebut. IAI selaku fasilitator untuk Kantor Akuntan
public dan PPPK sebagai pemeriksa standar pengendalian mutu kantor akuntan
publik harus lebih diperketat mengenai aturan dan konsekuensi nya jika melanggar
peraturan tersebut.
3. Perlu ada kontrol dari pemerintah atau organisasi terkait, mengenai peran audit
internal, karena terlihat dalam kasus ini manajemen begitu leluasa untuk
memainkan laporan keuangan. Selain itu tidak ada warning dari audit internal
mengenai resiko gagal bayar yang diakibatkan pinjaman yang melebihi batas.

35 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Association of Certified Fraud Examiners, 2014 International Edition. Fraud Examiners
Manual.
Association of Certified Fraud Examiners,1996-2012. Report to The Nation
George A. Manning. 2005. Financial Investigation and Forensic Accounting. 2nd Ed. CRC
Press Center.
Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Leonard W. Vona. 2008. Fraud Risk Assessment: Building a Fraud Audit Program. John
Wiley & Sons.
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan RI No. 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara.
Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil
Yayasan Pendidikan Internal Audit. “Fraud, Risk, and Control”. 2015

36 | P a g e