Anda di halaman 1dari 23

Makalah keperawatan anak

(Asuhan Keperawatan pada Penderita Hipospdiamdan Epispadia)

Di susun oleh :

Amelia dewi

Mario keranz

Rifan sidik

Sisilia riska

D III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS

Padalarang – Bandung Barat

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada TuhanYME karena berkat-Nya lah kami dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “asuhan keperawatan pada penderita hipospadia dan
epispadia”. Semoga makalah ini bisa menjadi manfaat bagi dan menjadikan referensi bagi
kita sehingga lebih profesional dalam menjalankan tugas sebagai tenaga kerja kesehatan.
Karya tulis ini juga sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan anak.
Ditunjukan kepada masyarakat umum terutama tenaga kesehatan dan semua yang membaca
makalah ini.

Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun untuk perbaikan makalah ini.Kami mohon maaf apabila ada
kesalahan penulisan makalah. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang sudah
membantu dalam terselesaikannya makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi masyarakat umum khususnya
bagi tenaga kesehatan dan semua yang membaca karya tulis ini.

Bandung, April 2015

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

Latar belakang
Kelainan pada alat kelamin pria (penis) merupakan salah satu masalah yang dialami
pria, Secara fisiologis organ tersebut memiliki beberapa fungsi salah satunya yaitu untuk sebagai
saluran pembuangan urine dan sebagai organ seksual bagi kaum pria. Berikut salah satu kelainan
yang dialami pria adalah hipospadi dan epispadia.
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana uterus uretra eksternal terletak
dipermukaan ventral penis dekat ujung glans penis. Sedangkan epispadia merupakan suatu
kelainan bawaan dimana lubang kencing uretra terdapat dibawah punggung penis dan tidak
adanya dinding uretra sebelah atas atau letak susunan dorsal pada meatus uretra. Maka dari itu
kelompok akan membahas mengenai kelainan tersebut dan cara mengatasinya sampai
penatalaksanaanya dari hipospadia dan epispadia.

Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari kelainan hipospadia dan epispadia?


2. Bagaimana tanda dan gejala dari kelainan tersebut ?
3. Apa penatalaksanaan dari kelainan hipospedia dan epispadia?

Tujuan
- Dapat mengetahui pengertian dari hipospadia dan epispadia
- Bisa mengetahui tanda dan gejala dari kelainan tersebut
- Dapat mengetahui penatalaksanaan dari hipospadia dan epispadia
BAB II

ISI

Anatomi dan Fisiologi Sisitem Reproduksi

Genitalia eksternal pria

 Penis

Secara anatomi, organ penis terdiri atas dua bagian, yaitu pars occulta dan pars
libera. Pars occulta disebut juga radiks penis atau pars fiksa, yaitu terdiri atas dua krura
penis dan satu bulbus penis, sementara itu, pars libera terdiri atas korpus penis dan glans
penis.

1. Pars occulta
Pars occulta yang disebut juga radiks atau pars fiksa adalah bagian penis yang
tidak bergerak, terletak dalam spatium perinei superfisialis. Pars occulta merupakan
jaringan erektil.
Pars occulta terdiri atas dua krura penis dan satu bulbus penis. Krura penis
melekat pada bagian kaudal sebelah dalam dari ramus inferior ossis ischii ventral dari
tuber iskiadikum. Masing-masing krus penis ini tertutup oleh muskulus
isckiokavernosus dan selanjutnya kaudal dari simfisis pubis, kedua krura tersebut
bergabung dan disebut sebagai korpora kavernosa penis dan ikut membentuk korpus
penis. Sementara itu, bulbus penis terletak antara kedua krura penis dalam spatium
perinei superfisialis. Fascies superiornya melekat pada fasia diafragma urogenital
inferior, sedangkan fascies lateralis dan inferiornya tertutup oleh muskulus
bulbokavernosus. Ke arah kaudal berubah menjadi korpus spongiosum penis yang
juga ikut membentuk korpus penis.
2. Pars libera
Pars libera terdiri atas korpus penis dan glans penis. Korpus penis terdiri atas
dua korpora kavernosa penis dan satu korpus sponggiosa penis. Jaringan subkutisnya
dinamakan fasia penis superfisialis yang terdiri atas jaringan ikat kendur dan di
antaranya terdapat jaringan otot polos, sama sekali tidak ada jaringan lemak. Fasia ini
adalah lanjutan dari tunika dartos dari skrotum dan fasia perinei superfisialis. Glans
penis merupakan bagian yang dipisahkan dari korpus oleh suatu penyempitan yang
dinamakan kollum, sedangkan peninggian dibagian distal yang membatasinya
dinamakan korona glandis. Lubang yang terletak pada ujung glans penis disebut
orifisium uretrae eksternum. Preputium penis adalah lipatan kulit yang menutupi
glans penis mulai dari kollum glandis sampai orifisium uretrae eksternum. Frenulum
proaeputii di bagia median, kaudal (ventral) dari glans penis, menghubungkan
praeputium dengan glans penis. Praeputium penis terdiri atas dua lapis kulit (luar dan
dalam). Lapisan dalam tidak ada rambut sama sekali, hanya mengandung kelenjar-
kelenjar lemak yang dinamakan glandula praeputialis dari tyson, yang menghasilkan
smegma praeputii penis merupakan bagian yang dipotong saat sirkumsisi atau sunat.

Vaskularisasi penis

1. Jaringan arteri penis


Aliran darah arteri penis dimulai dari arteri bulburalis penis dan masuk ke
dalam jaringan erektil bulbus menuju korpus spongiosum penis. Arteri profunda penis
masuk ke dalam krura penis, masuk kevernosa penis, dan memelihara jaringan erektil
pada korpora kavernosa tersebut.
Arteri dorsalis penis berjalan profundus dari fasia profunda penis pada dorsum
penis antara vena dorsalis penuju jaringan erektil di korpura kavernosa dan korpus
spongiosum penis, kemudian beranastomosis dengan cabang-cabang arteri profunda
penis, dan cabang-cabang arteri bulbaris penis akhirnya memperdarahi glans penis.
Cabang-cabang kecil arteria (prekapiler) terutama dari arteri profunda penis di daerah
krura berjalan di dalam trabeluka disebut arteri helicinae yang akhirnya masuk ke
dalam sinus kavernosus.
2. Jaringan vena penis
Aliran vena penis dimulai dari vena dorsalis penis (subfasialis) menerima
darah ke glans penis dan praeputium penis, korpura kavernosa penis dan korpus
kavernosa uretrae (korpus spongiosum penis) masuk kedalam pleksus venosus
prostatikus akhirnya ke vena iliaka internal.
Vena dorsalis penis subkutanea (kutanea) menerima dari jaringan kutis san
subkutis akhirnya ke vena safena magna.
3. Aliran limfa
Aliran limfa penis dimulai dari kutis dan praeputium ke nodus limfa inguinalis
superfisialis.
 Skrotum

Secara anatomi, skrotum merupakan suatu kantong yang terdiri atas jaringan kulit
dan subkutis yang terletak dorsal dari penis dan kaudal dari simfisis pubis. Selain itu,
skrotum juga terbagi atas dua bagian dari luar raphe scroti, dan dari dalam oleh septum
skrotum scroti. Masing-masing kantong skrotum rungan berisi testis, epididymis, dan
sebagai funikulus spermatikus.

Bentuk dari skrotum tergantung dari kontraksi dan relaksasi tunika dartos. Lapisan
otot tunika dartos akan berkontraksi pada keadaan lingkungan yang dingin. Ketika
berolahraga atau saat ada rangsangan seksual, maka kulit skrotum akan mengerut dan
skrotum mengecil. Sebaliknya, lapisan otot tunika dartos akan relaksasi saat cuaca panas,
maka kulit skrotum lebih halus/rata sehingga skrotum akan memanjang/mengendor.

Skrotum sinistra lebih rendah daripada dekstra. Lapisan skrotum terdiri atas lapisan
kulit dan subkkutis.

1. Lapisan kutis
Lapisan kutis merupakan lapisan kulit yang sangat tipis mengandung pigmen lebih
banyak daripada kulit sekitarnya sehingga gelap warnanya. Terdapat sedikit rambut,
tetapi memiliki kelenjar sebasea dan kelenjar keringan yang lebih banyak.
2. Lapisan subkutis
Lapisan subkutis disebut juga tunika dartos. Lapisan subkutis terdiri atas serabut-
serabut otot polos dan tidak didapatkan jaringan lunak. Lapisan subkutis melekat erat
pada jaringan kutis suprafisialnya dan merupakan lanjutan dari fasia superfisialis dan
fasia penis superfisialis.

Genitalia internal pria

 Testis

Secara anatomis, testis merupakan organ bentuk ovoid dengan jumlah dua buah,
biasanya testis sebelah kiri lebih berat dan lebih besar daripada yang kanan.berat testis
10-14 g, panjangnya 4cm, diameter antero-psteriornya kurang lebih 3cm, dan memiliki
ketebalan (dari medial ke lateral) kurang lebih 2,,5cm. Testis merupakan kelenjar
eksokrin (sitogenik) dan endokrin, disebut kelenjar eksokrin karena pada pria dewasa
menghasilkan spermatozoa, dan disebut kelenjar endokrin karena menghasilkan hormon
untuk pertumbuhan genitalia eksterna.

Testis terbungkus olelh tunika albuginea yang terdiri atas jaringan ikat padat, letaknya
profundus dari tunika vaginalis (epiorchium). Pada permukaan dalam tunika albuginea
membentuk septula testis yang arahnya konvergen ke epididimis sehingga testis terbagi
menjadi lobulus-lobulus (kurang lebuh 200-400). Basis dari lobulus ini mengarah ke
perifer, sedangkan apeksnya menuju ke fasies posterior dimana septula testis bertemu
dan membentuk jaringan yang dinamakan mediastinum testis. Pada bagian dalam
lonulus-lobulus tersebut terletak jaringa parenkim yang membentuk tubuli seminiferi
kontorti (saluran yang berkelok-kelok). Pada waktu memncapai mediastinum testis,
tubulus-tubulus ini berubah menjadi tubuli semeniferi recti (lurus), jalannya kurang lebih
20-30 tubulus di mana mereka membentuk anyaman sehingga disebut sebagai rete testis
(halleri). Dari rete ini keluar kurang lebih 15-20 duktuli efferentes yang masuk ke dalam
kaput epididimis. Spermatozoa dihasilkan oleh seminiferi kontorti, sedangkan sel
interstitial yang terletak antara septula dan tubuli-tubuli tersebut membentuk hormon
androgen (testosteron).

Organ testis dikontrol oleh dua hormon gonadotropik, yaitu luteinizing hormone
(LH) dan follicle stimulating hormone (FSH) diekskresikan oleh hipofisis anterior.
Hormon LH bekerja pada sel Leydig untuk mengatur sekresi testosteron. Sedangkan
hormon FSH bekerja pada tubulus seminiferosa, terutama pada sel sertoli untuk
meningkatkan spermatogenesis.

 Epididimis

Secara anatomi, epididimis merupakan organ berbentuk huruf C, terletak pada


fascies posterior testis dan sedikit fascies lateralis. Secara fisiologis, fungsi dari
epididimis adalah untuk menyimpan spermatozoa sampai penuh, kemudian dialirkan ke
dalam duktus epididimis.

1. Kaput epididimis
Kaput epididmis merupakan bagian terbesar di bagian proksimal, terletak pada bagian
superior testis dan menggantung. Lobulus hanya terletak di bagian kaput dan septa-
septanya berasal dari tunika albuginea. Duktuli efferentes testis yang pada awalnya
memiliki jalan mulus setelah sampai apada kaput epididimis menjadi berbelok-belok
pada bagian dalam kaput ini terbentuk lobulus epididimis di mana apeksnya menuju
ke arah testis. Tiap duktuli tersebut bermuara ke dalam duktus epididimis yang
panjangnya kurang lebih 6 meter tetapi jalannya berkelo-kelok.
2. Korpus epididimis
Korpus epididimis melekat pada fascies posterior testis, terpisah dari testis oleh suatu
rongga yang disebut: sinus epididimis (bursa testikularis) celah ini dibatasi oleh
epiorchium (pars viseralis) dari tunika vaginalis.
3. Kauda epididimis
Kauda epididimis merupakan bagian paling distal dan terkecil di mana duktus
epididimis mulai membesar dan berubah jadi duktus deferens. Di samping itu masih
terdapart struktur-struktur kecil (sisa) yang perlu diketahui karena bila membesar
dapat membentuk cysta, meskipun kadang-kadang tidak dijumpai.
ASKEP DENGAN HIPOSPADIA DAN EPISPADIA

1. Pengertian

Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa
terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal
(ujung glans penis) (Mansjoer, 2000 : 374). Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi
hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke 10 sampai ke 14 yang
mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara
skrotum dan glans penis (Markum, 1991 :257).

Hiposadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian
bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 :288). Hypospadia adalah merupakan
kongenital anomali yang mana uretra bermuara pada sisi bawah penis atau perineum.
Epispadia adalah suatu kelainan bawaan berupa tidak adanya dinding uretra sebelah atas atau
letak susunan dorsal pada meatus uretra. Epispadia adalah kelainan anatomi di mana meatur
uretra berada pada sisi atas penis atau klitoris.

2. Etiologi

Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui


penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap
paling berpengaruh antara lain :

a. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon


b. Genetika
c. Lingkungan

3. patofisiologi
- Hypospadia dan epispadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra
dalam utero.
- Paling umum pada hypospadia adalah lubang uretra bermuara pada tempat frenum,
sedang frenumnya tidak terbentuk, tempat normalnya meatus(bukaan) urinarius
ditandai pada glans penis sebagai celah buntu.
- Hypospadia dimana lubang uretra terletak pada perbatasan penis dan skrotum, ini
dapat berakibat dengan chordee kongenital.
- Epispadia terbukanya uretra di sebelah ventral. Kelainan ini dapat meliputi leher
kandung kemih (epispadia total ) atau hanya uretran( epispadia parsial )
- Epispadia dimana lubang uretra terdapat pada permukaan dorsal penis, dan tampak
sebagai celah atau alur tanpa tutup.
- Epispadia parsialis dimana muara uretra terdapat di sebelah atas dan dibelakang glans
penis, permukaan dorsal penis biasanya bertakik sampai ujungnya tetapi lubang uretra
dapat berakhir pada corona atau disebelah proksimalnya.
- Extrophy kandung kemih merupakan hasil dari kegagalan dinding, abdominal untuk
membentuk bagian bawah umbilikus atau di bagian simpisis pubis dan struktur yang
membatasi termasuk dinding ventral pada kandung kemih (uretra menyatu dengan
dinding simpisis pubis ). Sehingga saluran perkemihan bagian bawah terbuka dan
tampak lubang uretra yang kemerahan melalui dinding abdomen.

Pada kelainan bawaan ini kandung kemih berada di luar rongga perut. Kelainan
ini disebabkan oleh karena dinding perut sebelah bawah tidak terbentuk, antara pusat dan
tulang simfisis pubis yang terdapat celah sehingga kandung kemih keluar dari celah
tersebut. Kelainan ini pada umumnya terdapat pada anak laki-laki dan biasanya disertai
kelainan bentuk penis berupa lekukan-lekukan sehingga bentuk penis menjadi pendek dan
berkeriput.

Bila ekstrofi kandung kemih terjadi pada bayi wanita, kelainan berupa labia
mayora yang terpisah dan kelentit terbelah. Kandung kemih tersebut tidak berfungsi biasa
dan biasanya segera dilakukan pemindahan ureter yang dimasukkan ke dalam kolon.
Dengan tindakan tersebut berarti urine tidak tertampung dahulu (di dalam kandung
kemih) sehingga urine akan keluar tanpa adanya refleks ingin berkemih, maka yang
dijumpai bahwa popok bayi selalu basah. Keadaan demikian jika tidak diperhatikan akan
menimbulkan iritasi pada kulit sekitar anus/bokong.
4. Manifestasi Klinis
a. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
b. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis
c. Adanya chordae, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar
d. Kulit penis bagian bawah sanga tipis
e. Tunika dartos, fasia buch dan korpus spongiosum tidak ada
f. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis
g. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok
h. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum)
i. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal
j. Terbuka urethral pada saat lahir, posisi ventral atau dorsal
k. Adanya chordee (penis melengkung ke bawah ) dengan atau tanpa ereksi
l. Adanya lekukan pada ujung penis

5. Klasifikasi kelainan Hipospadia

Tipe dari kelainan kongenital berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/meatus :


a. Tipe sederhana/tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus
terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik
dan tidak dilakukan dilatasi atau meatotomi.
b. Tipe penil/tipe middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe
ini, meatus terletak antara glans penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan
penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat
melengkung ke bawah atau glans penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini.
Diperlukan intervensi tindakan bedah secara tidak ada maka sebaiknya pada bayi
tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah selanjutnya.
c. Tipe posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, kadan disertai dengan skrotum bifida, meatus
uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.

6. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan


tambahan untuk mendukung diagnosis hipospasdi dan epispadia. Tetapi dapat dilakukan
pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal.

7. Komplikasi
Komplikasi dari kelainan kongenital yaitu :
 Infertility
 Risiko hernia inguinalis
 Gangguan psikososial

8. Penataklaksanaan

Penatalaksanaan kelainan kongenital ini adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan


prosedur pembedahan pada hipospadia adalah :

 Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee


 Membuat uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis (uretropasti )
 Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna

Pembedahan dilakukan berdasarkan keadaan malformasinya. Pada hipospadia


glanular uretra distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk seperti
ini dapat direkonstruksi dengan flap lokal ( misalnya, prosedur santanelli, flip flap,
MAGPI [menatal advance and glanuloplasty], termasuk preputium plasty ). Pembedahan
epispadia perbaikannya fokus pada rekontruksi leher bladder.

9. ASUHAN KEPERAWATAN

Praoperasi
Genitourinaria
 Tidak ada kulit katan (foreskin) ventral
 Lesung atau alur pada puncak penis
 Glans penis berbentuk sekop
 Kemungkinan chordee (menekuk ke bawah) dengan atau tanpa disertai ereksi
 Muara uretra pada sisi ventral (hipospadia) atau sisi dorsal (epispedia) penis

Pascaoperasi
Genitoirinaria
 Pembengkakan penis
 Pendarahan pada sisi pembedahan
 Disuria
Neurologis
 Iritabilitas
 Gelisah

Pengkajian
- Pemeriksaan genetalia
- Palpasi abdomen untuk melihat distensi bladder atau pembesaran pada ginjal
- Kaji fungsi perkemihan
- Adanya lekukan pada ujung penis
- Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
- Terbukanya urethral pada ventral (hypospadia ) atau dorsal (epispadia ).
- Pengkajian setelah pembedahan ; pembengkakan penis, perdarahan, dysuria, drainage

Diagnosa keperawatan
1. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa, prosedur
pembedahan, dan perawatan setelah operasi
2. Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter
3. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan
4. Risiko injury berhubungan dengan pemasangan kateter atau pengangkatan kateter.

Perencanaan
1. Orang tua memahami tentang hypospadia dan epispadia dan alasan pembedahan, serta
orang tua akan aktif dalam perawatan setelah operasi
2. Anak akan bebas dari infeksi dengan ditandai analisa urine normal, dan temperatur
tubuh di bawah 37,8 C
3. Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan tidak ada tangisan, kegelisahan dan
tidak ada ekspresi nyeri
4. Anak akan bebas dari injury yang ditandai dengan pemasangan kateter tetap bertahan
hingga dilepas oleh dokter atau perawat
Implementasi
1. Memberikan pengajaran dan penjelasan pada orang tua sebelum operasi tentang
prosedur pembedahan, perawatan setelah operasi, pengukuran tanda-tanda vital,
pemasangan kateter
- Kaji tingkat pemahaman orang tua
- Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan prosedur pemasangan
kateter menetap, mempertahankan kateter dan perawatan kateter, pengosongan
kantong urine, keamana kateter, monitor urine; warna dan kejernihan, dan perdarahan
- Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan;efek samping dan serta waktu pemberian
- Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang kelainan penis
- Ajarkan orang tua untuk partisipasi dalam perawatan sebelum operasi (pre dan post)
2. Mencegah infeksi
- Pemberian air minum yang adekuat
- Monitor intake dan output (pemasukan dan pengeluaran )
- Kaji gaya gravitasi urine atau berat jenis urine
- Monitor tanda-tanda vital kaji urine, drairinage, purulen, bau, warna
- Gunakan teknik aseptik untuk perawatan kateter
- Pemberian antibiotik sesuai program
3. Meningkatkan rasa nyaman
- Pemberian analgesik sesuai program
- Perhatikan setiap saat yaitu posisi kateter tepat atau tidak
- Monitor adanya “kink kink” (tekukan pada kateter ) atau kemacetan
- Pengaturan posisi tidur anak sesuai kebutuhannya
4. Mencegah injury
- Pastikan kateter pada anak terbalut dengan benar dan tidak lepas.
- Gunakan “restrain” atau pengaman yang tepat pada saat anak tidur atau gelisah
- Hindari alat-alat tenun atau tidak lainnya yang dapat mengkontaminasi kateter dan
penis
Perencanaan pemulangan
 Ajarkan tentang perawatan kateter dan pencegahan infeksi dengan disimulasikan
 Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan lapor segera ke dokter atau
perawat
 Jelaskan pemberian obat antibiotik dan tekankan untuk kontrol ulang (follow up

10. Rencana Asuhan Keperawatan Hipospadia dan Epispadia

Diagnosis Keperawatan
Ansietas (anak dan orang tua) yang berhubungan dengan prosedur pembedahan (uretroplasti).

Hasil yang diharapkan


Anak dan orang tua mengalami penurunan rasa cemas yang ditandai oleh ungkaan
pemahaman prosedur bedah.

Intervensi Rasional
1. Jelaskan kepada anak dan oreang tua 1. Menjelaskan rencana pembedahan
prosedur bedah dan perawatan dan pascaoperasi membantu
pascaoperasi yang diharapkan. meredakan rasa cemas dan takut,
Gunakan gambar dan boneka ketika dengan membiarkan anak dan orang
menjelaskan prosedur kepada anak. tua mengantisipasi dan
Jelaskan bahwa pembedahan mempersiapkan peristiwa yang akan
dilakukan dengan cara memperbaiki terjadi. Simulasi dengan
letak muara uretra. Jelaskan juga mempergunakan gambar dan boneka
bahwa kateter urine menetap akan untuk menjelaskan prosedur dapat
dipasang, dan bahwa anak perlu membuat anak memahami konsep
direstrein untuk mencegah supaya yang rumit.
anak tidak berusaha melepas kateter. 2. Mengekspresikan rasa takut
Beri tahu mereka bahwa anak memungkinkan anak menghilangkan
mungkin dipulangkan dengan rasa takutnya, dan member anda
keadaan terpasang kateter. kesempatan untuk mengkaji tingkat
2. Beri anak kesempatan utnuk kognitif dan kemampuan untuk
mengekspersikan rasa takut dan memahami kondisi, serta perlunya
fantasinya dengan menggunakan pembedahan.
boneka dan wayang.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Risisko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan pemasangan kateter menetap.

Hasil yang diharapkan


Anak tidak mengainfeksi yang ditandai oleh urinalisis normal dan suhu tubuh kurang dari
37,8° C.

Intervensi Rasional
1. Pertahankan kantong drainase kateter 1. Mempertahankan kantong drainase
dibawah kantung kemih dan pastikan tetap pada posisi ini mencegah infeksi
bahwa terdapat simpul dan kusut. dengan mencegah infeksi dengan
2. Gunakan teknik aseptic ketika mencegah urine yang tidak steril
mengosongkan kantung kateter. mengalir balik ke dalam kandung
3. Pantau urine anak untuk pendeteksian kemih.
kekeruhan dan sedimentasi. Juga 2. Teknik aseptic mencegah kontaminasi
periksa balutan bedah setiap 4 jam, masuk ke dalam traktus urinarius.
untuk mengkaji bila tercium bau 3. Tanda ini dapat mengindikasikan
busuk atau drainase purulen; laporkan infeksi.
tanda- tanda tersebut kepada dokter 4. Peningkatan asupan cairan dapat
dengan segera. mengencerkan urine dan mendorong
4. Anjurkan anak untuk minum untuk berkemih.
sekurang kurangnya 60 ml/jam. 5. Pemantauan yang demikian
5. Beri obat antibiotic profilaktik membantu menentukan kemanjuran
program, untuk membantu mencegah obat antibiotic dan toleransi anak
infeksi. Pantau anak untuk efek terhadap obat tersebut.
terapeutik dan efek samping

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Nyeri yang berhubungan dengan pembedahan.

Hasil yang diharapkan


Anak akan memperlihatkan peningkatan rasa nyaman yang ditandai oleh menangis, gelisah,
dan ekspresi nyeri berkurang.
Intervensi Rasional
1. Beri obat analgesic sesuai program. 1. Pemberian obat analgesic untuk
2. Pastikan kateter anak dipasang meredakan rasa nyeri.
dengan benar, serta bebas dari simpul. 2. Penempatan kateter yang tidak teoat
dapat menyebabkan nyeri, akibat
drainase yang tidak adekuat, atau
gesekan akibat tekanan pada balon
yang digenbungkan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko cedera yang berhubungan dengan kateter urine dicabut atau keteter urine diangkat.

Hasil yang diharapkan


Anak tidak mengalami cedera yang ditandai oleh anak dapat mempertahankan penempatan
yang benar sampai diangkat oleh perawat atau dokter.

Intervensi Rasional
1. Fiksasikan kateter pada penis anak 1. Sebuah balutan pengaman dapat
ddengan memakai balutan dan mengurangi kemungkinan slang lepas
plester. tanda disengaja.
2. Tempatkan restrein pada lengan anak, 2. Restrein mencegah anak menarik atau
ketika ia tidak diawasi atau sedang melepas kateter.
tidur. 3. Dengan menghindarkan posisi linen
3. Gunakan pengait tempat tidur untuk tempat tidur tidak menyentuh kateter
menghindarkan linen bersentuhan dan penis, mencegah slang lepas
dengan kateter dan penis. tanpa sengaja.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis anak setelah pembedahan.

Hasil yang diharapkan


Orang tua akan mengalami penurunan rasa cemas yang ditandai oleh pengungkapan perasaan
mereka tentang kelainan anak.

Intervensi Rasional
1. Anjurkan orang tua untuk 1. Membiarkan orang tua
mengekspreiskan perasaan dan mengekspersikan perasaan serta
kekhawatiran mereka tentang ketidak kekhawatiran mereka, dapat
sempurnaan fisik anak. Fokuskan memberikan perasaan didukung dan
pada pertanyaan tentang seksualitas dimengerti sehingga mengurangu rasa
dan reproduksi cemas mereka. Mereka cenderung
2. Bantu orang tua melalui proses merasa sangat khawatir terhadap efek
berduka yang normal. kelainan, pada aspek seksualitas dan
3. Rujuk orang tua kepada kelompok reproduksi.
pendukung yang tepat, jika 2. Proses berduka memungkinkan orang
diperlukan. tua dapat melalui kecemasan dan
4. Apabila memungkinkan, jelaskan perasaan distress mereka.
perlunya menjalani pembedahan 3. Kelompok pendukung daoat
multiple dan jawab setiap pertanyaan membantu orangtua mengatasi
yang muncul dari orangtua. ketidak sempurnaan fisik anak.
4. Perbaikan yang dilakukan melalui
pembedahan perlu berlangsung secara
bertahap. Dengan mendiskusikan hal
ini dengan orang tua dan member
kesempatan mengekspresikan perasan
mereka, dapat mengurangi
kecemasan.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan perawatan di rumah.

Hasil yang diharapkan


Orang tua mengekspresikan pemahaman tentang instruksi perawatan di rumah, dan
mendemonstrasikan prosedur perawatan di rumah.

Intervensi Rasional
1. Ajarkan orang tua tanda serta gejala 1. Mengetahui tanda dan gejala infeksi
infeksi saluran kemih atau infeksi orang tua mencari pertolongan medis
pada area insisi, termasuk ketika membutuhkanya
peningkatan suhu, urine keruh, dan 2. Informasi semacam ini dapat
drainase purulen dari insisi. meningkatkan kepatuhan terhadap
2. Ajarkan orang tua cara merawat penatalaksanaan perawatan di rumah
kateter dan penis, termasuk dan membantu mencegah kateter
membersihkan daerah sekeliling lepas serta infeksi.
kateter, mengosongkan kantung 3. Posisi mengangkang dapat
drainase, dan memantau warna serta menyebabkan kateter terlepas dan
kejernihan urine. merusak area operasi.
3. Anjurkan orang tua untuk mencegah 4. Obat analgesic dapat mengendalikan
anak untuk tidak mengambil posisi rasa nyeri. Spasme kandung kemih
mengangkang, saat mengendarai dapat terjadi akibat iritasi kandung
sepeda atau menunggang kuda. kemih. Dengan mengetahui efek
4. Apabila dibutuhkan, ajarkan orang samping mendorong orang tua
tua tentang tujuan penggunaan obat mencari pertolongan medis ketika
antibiotic serta obat obatan, untuk membutuhkan.
spasme kandung kemih, jelaskan juga
perincian tentang pemebrian, dosis,
dan efek samping.
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Hipospadia dan epispadia merupakan suatu kelainan kongenital pada muara uretra pria
dan biasanya tampak disisi ventral dan dorsal penis. Terapi untuk kelainan tersebut adalah
dengan cara pembedahan, dari kelainan tersebut akan terjadi komplikasi antara lain:
Infertility (ketidakmampuan mempunyai keturunan), Risiko hernia inguinalis dan Gangguan
psikososial.

B. SARAN

Setelah kita mempelajari apa yang telah dibahas, maka kita perlu menerapkan dalam
profesi kita sebagai seorang tenaga kesehatan, dan kita dapat bisa mengaplikasikan asuhan
keperawatan hipospadia dan epispadia secara kompheratif.
DAFTAR PUSTAKA

Wijayaningsih sari, 2013. Asuhan keperawatan anak. Jakarta : CV.trans info


media

Suriadi. (2010). Asuhan keperawatan pada anak edisi 2. Jakarta: CV SAGUNG


SETO

Mashudi, Sugeng.2011.buku ajar anatomi dan fisiologi dasar aplikasi model


pembelajaran peta konsep jil.1.jakarta:salemba medika.

www.Kamus kesehatan.com