Anda di halaman 1dari 21

MANFAAT

• bahan makanan: minyak goreng, bahan baku margarin, kue dsb.


• kandungan terbesar adalah lemak, yang berfungsi sebagai:
1)sumber energi
2)pembawa vitamin A,D,E,K
3) mengandung asam lemak esensial terutama asam lemak tak jenuh
• Bahan baku industri lain :
• Sabun
• cat
• Vernish
• kosmetik (sampo, lipstick, cream, dll)
• Pelumas
• Plastik
• detergen
notes:
• Memberikan asupan lemak
• Asam lemak tak jenuh: mengurangi kolestrol dalam darah spt (linoleat, linolenat, oleat)
• Keperluan industry: dari tanaman jarak
• Industri dan konsumsi: kelapa dan kelapa sawit
• Konsumsi: minyak kelapa, sawit, kedelai, kacang tanah,kapas, matahari

Penggolongan Minyak
• Golongan jenuh: as lemak jenuh
• Golongan mono-poli: tidak jenuh
Palmitat, oleat dan linoleat: bnyk di biji kelapa sawit

Kandungan dari Minyak kelapa sawit

• FFA: Asam Lemak Bebas (ALB) atau free fatty acid (FFA), adalah asam yang di
bebaskan pada hidrolisa dari lemak (di kelapa sawit: asam palmitat)
• Semakin rendah nilai FFA, maka semakin tinggi kualitas minyak jelantah
• Asam lemak bebas adalah asam lemak yang telah lepas dari molekul gliserol. Seharusnya,
asam lemak tersebut berikatan dengan gliserol membentuk trigliserida (gliserol yang
mengikat 3 asam lemak). Trigliserida akan bereaksi dengan alkohol, dibantu katalis basa,
menghasilkan biodiesel. Namun jika asam lemak terlepas dari gliserol, asam lemak bebas
akan bereaksi dengan katalis basa membentuk sabun, produk samping yang tidak kita
inginkan.
Lemak trans adalah salah satu jenis lemak tak jenuh yang umum ditemukan di alam namun bisa
disintesis secara buatan (trans fatty acid: FTA)

SIFAT FISIKA
Sifat fisik
• Warna : https://www.scribd.com/document/248509985/Sifat-Minyak-Goreng
zat warna alamiah dan warnadari hasil degradasi zat warna alamiah
b. Warna alamiah
c. Warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat dalam minyak.
 Bau: Lemak atau bahan pangan berlemak, dapat menghasilkan bau tidak enak disebabkan
oleh interaksi trimetilamineoksida dengan ikatan rangkap dari lemak tidak jenuh.
• Kelarutan : Kelarutan diengaruhi oleh nilai polaritas dari masing-masing minyak nabati.
Minyak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (castor oil), dan
minyaklarut dalam alkohol, etileter, karbon disulfide dan pelarut-pelarut halogen d.
Kelarutan : non polar kelarutan kecil Polar  kelarutan besar
• titik leleh: Titik leleh yang tajam disebabkan bentuk kristal minyak yang berupa
polimorfisme.
Polimorfisme pada minyak adalah suatu keadaan dimana terdapat > 1 kristal didalamnya.
Asam lemak yang bertitik leleh rendah pada umumnya merupakan asam lemak tidak jenuh
sedangkan asam lemak bertitik leleh tinggi berasal dari asam lemak jenuh.
• Titik didih: Titik didih dari asam lemak akan semakin meningkat dengan bertambahnya
rantai karbon asam lemak tersebut
• Titik lunak: Untuk identifikasi minyak dan lemak. Ditentukan dengan penggunaan tabung
kapiler yang diisi dengan minyak.
• Sliping point: Cara penetapannya yaitu dengan mempergunakan suatu silinder kuningan
yang kecil, yang diisi dengan leak padat, kemudian disimpan dalam bak yang tertutup dan
dihubungkan dengan thermometer. Untuk pengenalan minyak dan lemak serta pengaruh
komponen-komponenya
• Sort melting point: Yaitu temperatur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak atau
lemak
• Bobot jenis: minyak kelapa (0,919.0,937), minyak sawit (0,921-0,947)
• Berat jenis:
Massa jenis (ρ) menurun jika berat molekul minyak/ lemak atau derajat kejenuhan lemak /
minyak meningkat. Oksidasi cenderung memperbesar ρ, sedang keberadaan asam lemak be
bas cenderung menurunkan.
• Titik asap, titik nyala, titik api
• Titik asap adalah temperatur pada saat minyak atau lemak menghasilkan asap pada
pemanasan
• titik nyala adalah temperatur pada saat campuran uap dari minyak dengan udara mulai
terbakar. Sedangkan
• titik api adalah temperatur pada saat dihasilkan pembakaran yang terus menerus
• Indeks bias:
membesar indeks bias jika rantai lebih panjang, ikatan rangkap lebih banyak, atau derajat k
onjugasi lebih besar. Untuk menguji kemurnian minyak
• Bilangan iod: Semakin tinggi bilangan iodin, semakin banyak pula ikatan C=C yang ada
pada lemak tersebut. untuk menentukan jumlah ketidakjenuhan dalam asam lemak (Kisaran:
16-173)
• Titk keruh: (turbidity point)
Ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran minyak atau lemak dengan pelarut lemak Ø
Dipanaskan sampai terlarut sempurna Ø Dibiarkan sampai minyak dan pelarut terpisah dan
mulai keruh Ø Suhu diukur pada saat terbentuk keruh

http://titisfahreza.lecture.ub.ac.id/files/2012/09/MINYAK-DAN-LEMAK_ibm1_revised.pdf

PEMBUATAN MINYAK KEDELAI


a) Ekstraksi:
- Pengepresan hidrolik
- Pengepresan berulir
- Ekstraksi dengan pelarut (Kedelai). Pelarut heksana
b) Degumming
Fosfotida (lesitin), protein, residu, karbohidrat, air dan resin (30-60 menit T=70 C)
Penyaringan Alkali
Pengambilan kotoran oleh Naoh, untuk membuat asam lemak bebas, fosfotida dan gum,
pewarnaan zat yang tidak terlarut dan materi lainnya (0,10-0,13%) T= 38 C
Saponifikasi : hidrolisis asam lemak dgn adanya basa kuat (penyabunan). Dipanaskan (75) lalu
disentrifuse (pemisahan dgn naoh) trs d saring
c) Bleaching
Penghilangan zat warna. Pake tanah serap (fuleris earth) sekitar 1% atau karbon aktif (actived
carbons) seperti arang
P: 15 incHg, t: 7-10 menit, T: 104-166 C
d) Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah proses pengolahan minyak atau lemak dengan jalan menambahkan hidrogen
pada ikatan rangkap dari asam lemak, sehingga akan mengurangi tingkat ketidakjenuhan
minyak atau lemak. Selain itu, hidrogenasi pada minyak kedelai dapat meningkatkan titik
cair, stabilitas minyak dari efek oksidasi dan kerusakan rasa dengan cara mengubah asam
linolenat menjadi asam linoleat dan asam linoleat menjadi asam oleat.
e) Deodorasi
Penghilangan bau. dengan uap panas dalam tekanan atmosfer atau keadaan vakum. Asam lemak
bebas yang terbuang juga akan meningkatkan kestabilan minyak.
f) Winterisasi
Winterisasi adalah proses pemisahan bagian gliserida jenuh atau bertitik cair tinggi dari
trigliserida bertitik cair rendah. Winterisasi merupakan bentuk dari fraksinasi atau
pemindahan materi padat pada suhu yang diatur. T: 6 C, t: 24 jam hasil 75-80%
g) Dewaxing
Dewaxing dan pelarut terfraksinasi digunakan untuk menjernihkan minyak dengan memeras atau
menekan minyak dari lemak padat dengan pengepresan hidraulik sehingga menghasilkan
mentega yang keras.
h) Inter-esterifikasi
Interesterifikasi dapat digambarkan sebagai pertukaran gugusan antara dua buah ester dimana hal
ini hanya dapat terjadi apabila terdapat katalis Dalam reaksi ini ion logam natrium atau
kalium akan menyebabkan terbentuknya ion enolat yang selanjutnya diikuti dengan
pertukaran gugus alkil. Interesterifikasi banyak digunakan oleh industri untuk menggantikan
proses hidrogenasi dalam menurunkan asam lemak trans.

FRAKSINASI MINYAK KELAPA SAWIT


Proses fraksinasi yang dilakukan oleh PT Salim Ivomas Pratama Tbk dibagi menjadi 2 tahapan.
Tahapan pertama adalah proses pengkristalan atau yang sering disebut tahap crystallization,
tujuan utamanya adalah untuk memisahkan komponen minyak padat dengan komponen
minyak cair berdasarkan perbedaan titik beku minyak. Hal ini sesuai dengan teori dari
Basiron (2005) yang mengatakan bahwa proses fraksinasi memiliki tujuan untuk
memisahkan trigliserida dalam minyak yang memiliki titik leleh yang berbeda, sehingga
minyak kelapa sawit dapat dipisahkan dari fraksi padat (fraksi jenuh dengan titik leleh yang
tinggi) dengan fraksi cair (fraksi dengan titik leleh lebih rendah). Tahap kedua adalah tahap
filtrasi, tahap filtrasi bertujuan untuk memisahkan bagian stearin (minyak padat) dan olein
(minyak cair) menggunakan membrane filter dengan tekanan tinggi. Dari proses fraksinasi
yang dilakukan oleh PT Salim Ivomas ada beberapa titik terpenting yang dapat
mempengaruhi terjadinya proses fraksinasi:
1. Pre heating
Tahapan awal pada proses fraksinasi adalah tahap pemanasan awal, target pada tahapan pre
heating ini adalah agar minyak RBDPO sudah pernah berada pada suhu 70oC. Tujuannya
adalah ingin mengkondisikan minyak agar minyak lebih mudah mengalir ke crystallizer dan
untuk menghasilkan kristal minyak yang memiliki bentuk yang sama nantinya.
2. Crystallization
Tahap crystallization merupakan tahapan paling terpenting dalam proses fraksinasi, target utama
dari tahapan ini adalah untuk memisahkan stearin (minyak padat) dengan olein (minyak cair)
berdasarkan perbedaan titik lelehnya dengan tahapan pembentukan kristal. Pada tahap ini,
PT Salim Ivomas menggunakan dua macam suhu yaitu suhu cooling yang berasal dari
cooling tower dan suhu chiller yang berasal dari freon/pendingin. Dari grafik pembentukan
kristal di atas, terjadi penurunan suhu minyak RBDPO dari suhu 70oC sampai suhu ± 57oC,
suhu ini merupakan suhu kristalisasi yang akan membentuk inti kristal. Kemudian minyak
RBDPO akan mengalami melting point pada suhu 32-38oC, Holding Temperature Setelah
terjadi pembentukan kristal, maka setelah itu akan masuk ke dalam proses holding
temperature tujuannya adalah untuk menjaga kristal yang terbentuk agar memiliki ukuran
dan bentuk yang tetap sama.
3. Filtrasi
Tahap filtrasi ini bertujuan untuk untuk memisahkan stearin dan olein yang sudah terbentuk
selama proses crystallization. Proses filtrasi yang dilakukan oleh PT Salim Ivomas Pratama
dengan menggunakan membrane plate filter. Menurut O’Brien (2004) proses filtrasi dengan
membrane plate filter meliputi tahapan yaitu: (1) close filter, (2) filtration atau loading, (3)
squeezing, (4) blowing filtrate, (5) cake discharge atau release. Close filter merupakan
tahapan awal dari proses filtrasi, prosesnya adalah mesin akan tertutup kembali setelah
proses release stearin dari proses sebelumnya. Loading adalah tahapan pengisian mesin oleh
minyak yang sudah mengalami proses pengkristala, kemudian tahap selanjut adalah
squeezing yang tahapan pengepresan minyak dengan dibantu menggunakan udara yang
bertekanan tinggi. Pada tahapan ini terjadi pembesaran membrane plate oleh udara yang
ditahan oleh chamber plate. Tujuannya untuk memfiltrasi olein yang masih tertinggal di
dalam kristal. Lalu tahap selanjutnya adalah blowing, yang merupakan tahapan pembersihan
jalur minyak yang masuk dan olein. Kemudian pada tahap terakhir cake relase atau release
terjadi proses pelepasan stearin ke dalam bak stearin (O’Brien, 2004).
4. Penyaringan
Setelah melewati tahapan filtrasi minyak olein yang dihasilkan akan masuk ke dalam tank
penyimpanan olein setelah itu dilakukan penyaringan terakhir dengan menggunakan filter
bag tujuannya adalah untuk mencegah adanya stearin yang mungkin masuk ke pipa selama
proses pemfilteran. Setelah itu minyak dipanaskan 29 dengan menggunakan air panas dan
kemudian minyak olein akan masuk ke dalam ruang pengemasan untuk di kemas dan siap
diproduksi. Tahap filtrasi merupakan salah satu tahapan yang perlu diperhatikan karena pada
tahap filtrasi ini, stearin harus benar-benar dipastikan terpisah dengan olein. Jika terdapat
stearin masih lolos dari membran filter dan bercampur dengan olein, maka setelah produk
didistribusikan ke pasar swalayan yang menggunakan air conditioner, pada produk minyak
akan muncul kristal-kristal kecil stearin. Ketika konsumen melihat produk minyak tersebut,
konsumen akan mengira bahwa kualitas produk minyak tersebut berkurang.

SIFAT KIMIA MINYAK


• a. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, minyak atau lemak akan berubah menjadi asam lemak bebas dan
gliserol. Hal ini dapat merusak minyak karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak atau
lemak yang mengakibatkan ketengikan.

• b. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau
minyak, hal ini akan menyebabkan bau tengik pada lemak atau minyak.
• c. Esterifikasi
Proses esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida,menjadi bentuk
ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau
penukaran ester yang didasarkan pada prinsip transesterifikasi Fiedel-Craft.


• d. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila
penyabunan telah lengkap,lapisan air yang mengandung gliserol di pisahkan dan gliserol
dipulihkan dengan penyulingan.

e. Pembuatan keton
Keton dihasilkan melalui penguraian dengan cara hidrolisa ester.
f. Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah proses yang menggunakan gas hidrogen untuk mengubah minyak nabati cair
menjadi olesan/margarin. Proses ini menstabilkan minyak dan mencegah basi akibat
oksidasi.
Reaksi hidrogenasi bersifat sensitif terhadap beragam faktor yang dapat berdampak negatif pada
waktu batch, masa pakai katalis, kecepatan produksi, dan selektivitas. Selain merupakan
pemasok hidrogen terkemuka di dunia, Air Products dapat membantu mengoptimalkan
reaksi hidrogenasi Anda dan mengurangi biaya melalui pemilihan mode pasokan terbaik
serta evaluasi dan optimisasi termodinamika atau kinetika reaksi.
Bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak atau
lemak
Sifat minyak :
- disebut minyak bila pada temperatur kamar
cair, dan lemak bila padat
- jika banyak mengandung ikatan rangkap
– C = C – atau asam lemak tidak jenuh
berbentuk cair, dan sebaliknya
- jika gliserida mengandung banyak lemak
dengan rantai pendek, akan berupa cair
(minyak), meskipun gugusan asam jenuh
Kandungan kelapa sawit dan keuntungannya
Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki
kandungan karoten tinggi.
Minyak Kelapa Sawit juga mengandung energi sebesar 902 kilokalori, protein 0 gram,
karbohidrat 0 gram, lemak 0 gram, kalsium 0 miligram, fosfor 0 miligram, dan zat besi 0
miligram. Selain itu di dalam Minyak Kelapa Sawit juga terkandung vitamin A sebanyak
60000 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0 miligram. Minyak sawit mengandung
41% lemak jenuh, minyak inti sawit 81%.
Kadar asam lemak dari minyak sawit
Jenis asam lemak persen
Asam miristat, jenuh, C14   1.0%
Asam palmitat, jenuh, C16   43.5%
Asam stearat, jenuh, C18   4.3%
Asam oleat, tak jenuh tunggal,
  36.6%
C18
Asam linoleat, tak jenuh ganda,
  9.1%
C18
Lainnya   5.5%
hitam: jenuh; abu-abu: tak jenuh tunggal; biru: tak jenuh
ganda

Kandungan kelapa dan keuntungannya


Minyak kelapa murni (VCO) mengandung asam lemak yang dapat berfungsi sebagai antijamur.
asam lemak yang terkandung dalam VCO tersebut yaitu asam kaproat (0,187%), asam oktanoat
(1,12%), asam siklopropanapentanoat (0,54%), asam laurat (32,73%), asam miristat
(28.55%), asam palmitat (17,16%), asam oleat (14,09%), dan asam stearat (5,68%). Asam
lemak jenuh dan tidak jenuh dalam VCO terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur
Candida albicans.

Pembuatan minyak kelapa murni ini memiliki banyak keunggulan, yaitu:

 tidak membutuhkan biaya yang mahal, karena bahan baku mudah didapat dengan harga
yang murah
 pengolahan yang sederhana dan tidak terlalu rumit, serta
 penggunaan energi yang minimal, karena tidak menggunakan bahan bakar, sehingga
 kandungan kimia dan nutrisinya tetap terjaga terutama asam lemak dalam minyak.

Kandungan minyak pada daging buah kelapa muda dalah sebanyak 34,7%.
Proses Pengolahan Pabrik Kelapa Sawit

Kualitas hasil minyak CPO (Rendemen) yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisis
buah (TBS) yang diterima dan diproses oleh pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam
pabrik hanya berfungsi meminimalkan kehilangan (loses) dalam proses pengolahannya.

Tandan Buah Segar Sawit

Tandan buah Segar (TBS) yang telah dipanen dari kebun diangkut ke lokasi Pabrik
pengolahan Minyak Sawit dengan menggunakan truk. Sebelum dimasukan ke dalam
Loading Ramp, Tandan Buah Segar tersebut harus ditimbang terlebih dahulu pada
jembatan penimbangan (Weighing Brigde) untuk mengetahui jumlah Tonase dari TBS
yang diterima oleh Pabrik.

Jembatan Timbang

Hal ini sangat sederhana, sebagian besar jenis jembatan timbang sekarang menggunakan
sel-sel beban, dimana tekanan beban menyebabkan variasi pada sistem listrik yang diukur.
Pabrik Kelapa Sawit sekarang ini pada umum nya sudah menggunakan jembatan timbang
yang terintegrasi langsung dengan sistem komputer.

Prinsip kerja dari jembatan timbang yaitu truk yang melewati jembatan timbang berhenti 5
menit, kemudian dicatat berat truk awal sebelum TBS dibongkar dan sortir, kemudian
setelah dibongkar truk kembali ditimbang, selisih berat awal dan akhir adalah berat TBS
yang diterima dipabrik.

TBS yang telah ditimbang kemudian diterima oleh bagian Loading ramp, untuk dilakukan
penyortiran. Hal ini dilakukan untuk memisahkan antara TBS yang layak diolah atau tidak.

Penyortiran TBS
Penyortiran

Kualitas buah / TBS yang diterima pabrik harus diperiksa tingkat kematangan nya. Jenis
buah yang masuk ke PKS pada umumnya jenis Tenera dan jenis Dura. Kriteria matang
panen merupakan faktor penting dalam pemeriksaan kualitas buah pada stasiun penerimaan
TBS (Loading Ramp / penampungan TBS).

Kematangan TBS mempengaruhi terhadap rendemen minyak dan ALB (Asam Lemak
Bebas / FFA = Free Fatty Acid) yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Kematangan buah, Rendamen minyak (%), Kadar ALB (%)

 TBS Mentah, Rendemen berkisar antara 11% – 14%, Kadar ALB = 1,3% – 2,0%
 TBS Setengah matang / Mengkal, Rendemen 14% – 18%. ALB = 1,7% – 2,4%
 TBS Matang, Rendemen 18% – 23%. ALB = 2,2% – 3%
 TBS lewat matang 23% – 26%. ALB = 3,0% – 3,6%

Catatan : Kadar Rendemen yang diperoleh dan besaran persentase ALB tergantung pada
jenis TBS yang diolah dan juga bergantung pada berapa lama TBS masuk ke tahap
pengolahan sejak dipanen dari kebun. Setelah TBS di panen, semakin lama waktu jeda
untuk diolah, semakin tinggi kadar ALB yang akan dihasilkan.

Perebusan

Setelah disortir, TBS yang layak olah lalu dimasukkan ke dalam lori rebusan yang terbuat
dari plat besi / baja berlubang-lubang (cage) dan langsung dimasukkan ke
dalam Sterilizer yaitu bejana perebusan yang menggunakan uap air yang bertekanan antara
2.6 sampai 3.0 Kg/cm2.

Proses perebusan ini dimaksudkan untuk mematikan enzim-enzim yang dapat menurunkan
kualitas minyak CPO. Disamping itu, juga dimaksudkan agar buah sawit mudah lepas dari
tandannya (berondolan) dan memudahkan pemisahan daging buah sawit dari cangkang dan
inti.

Tujuan perebusan :

a) Mengurangi peningkatan asam lemak bebas.


b) Mempermudah proses pembrodolan pada threser.
c) Menurunkan kadar air.
d) Melunakan daging buah, sehingga daging buah mudah lepas dari biji.

Sterilizer memiliki bentuk panjang 26 m dan diameter pintu 2,1 m (hal ini tergantung dari
design yang dipakai oleh pabrik). Dalam sterilizer dilapisi Wearing Plat setebal 10 mm
yang berfungsi untuk menahan uap / steam yang berasal dari Boiler. Dibawah sterilizer
terdapat lubang yang gunanya untuk pembuangan air condesat agar pemanasan didalam
sterilizer tetap seimbang.

Proses perebusan ini biasanya berlangsung selama 90 menit dengan menggunakan uap air
yang berkekuatan antara 280 sampai 290 Kg/ton TBS. Proses ini dapat
menghasilkan condensat (cairan) yang mengandung sekitar 0.5% minyak. Condensat ini
kemudian dimasukkan ke dalam Fat Pit, nanti nya dapat digunakan dalam membantu
proses Pressan daging sawit.

Tandan buah yang sudah selesai direbus dimasukan ke dalam Threser, yang berfungsi
untuk memisahkan antara berondolan sawit dengan janjangan / tandan nya, dengan
menggunakan Hoisting Crane atau Fruit Elevator (hal ini tergantung pada design yang
digunakan oleh Pabrik).

Perontokan Buah dari Tandan / Threser

Pada tahapan mesin Threser, buah yang masih melekat pada tandannya akan dipisahkan
dengan menggunakan prinsip bantingan, sehingga buah tersebut terlepas (kemudian
ditampung dan dibawa oleh Fruit Conveyor ke Digester).
Tujuan mesin Threser adalah untuk memisahkan brondolan dari tangkai tandan. Alat yang
digunakan pada mesin ini adalah drum berputar (rotari drum thresher). Hasil stripping
(perontokan) tidak selalu 100%, artinya masih ada brondolan yang melekat pada tangkai
tandan, ini yang disebut dengan USB (Unstripped Bunch). Untuk mengatasi hal ini, maka
dipakai sistem “Double Threshing”.

Sistem 'Double Thresing' bekerja dengan cara janjang kosong / EFB (Empty Fruit Bunch)
dan USB yang keluar dari thresher pertama, tidak langsung dibuang, tetapi masuk ke
threser kedua, supaya sisa berondolan yang masih tertinggal dari proses thresing pertama
dapat terambil.
Pengolahan Minyak dari Daging Buah
Digester

Buah yang sudah terlepas (berondolan) yang dibawa oleh Fruit Conveyor dimasukkan ke
dalam Digester atau peralatan pengaduk. Tujuan dari penggunaan Digester adalah untuk
memisahkan daging buah sawit terlepas dari biji (nut) nya. Dalam proses pengadukan
Digester ini digunakan uap air yang temperaturnya selalu dijaga agar stabil antara 80° –
90°C.

Fungsi Digester :

1. Melumatkan daging buah.


2. Memisahkan daging buah dengan biji.
3. Mempersiapkan Feeding Press.
4. Mempermudah proses di Press.
5. Membantu menaikkan Temperatur pada Screw Press.

Didalam digester tersebut buah atau berondolan yang sudah terisi penuh diputar atau
diaduk dengan menggunakan pisau pengaduk yang terpasang pada bagian poros,
sedangkan pisau bagian dasar sebagai pelempar atau mengeluarkan buah dari digester ke
screw press.

Daging buah dari Digester yang telah diaduk secara bertahap dengan bantuan pisau – pisau
pelempar dimasukkan kedalamfeed screw conveyor dan mendorongnya masuk kedalam
mesin pengempa (twin screw press) kemudian dimasukkan ke dalam alat pengepresan
(Screw Press) untuk memisahkan minyak keluar dari biji dan Serat (fibre).

Screw Press

Fungsi dari Screw Press adalah untuk memeras berondolan yang telah dicincang, dilumat
dari digester untuk mendapatkan minyak kasar. Oleh adanya tekanan screw yang ditahan
oleh cone, massa tersebut diperas sehingga melalui lubang – lubang press cage minyak
dipisahkan dari serabut dan biji. Selanjutnya minyak menuju stasiun clarifikasi, sedangkan
ampas dan biji masuk ke stasiun kernel.
Untuk memudahkan proses pengepresan ini perlu tambahan air panas (+ air Condensat dari
hasil perebusan) sekitar 10% s/d 15% terhadap kapasitas pengepresan. Dari pengepresan
tersebut akan diperoleh minyak kasar dan ampas / serat fiber serta biji.

Minyak kasar tersebut ditampung pada Crude Oil Tank, untuk dilakukan pemisahan
kandungan pasirnya pada Sand Trap yang kemudian dilakukan penyaringan
menggunakan Vibrating Screen. Sedangkan ampas dan biji yang masih mengandung
minyak (oil sludge) dikirim ke pemisahan ampas dan biji (Depericarper).

Dalam proses penyaringan minyak kasar perlu ditambahkan air panas untuk melancarkan
penyaringan minyak. Minyak kasar (Crude Oil) kemudian dipompakan ke dalam
mesin Decanter guna memisahkan Solid (kotoran padat) dan Effluent (kotoran cair).

Pada Effluent masih terkandung unsur minyak, air dan masa jenis ringan lain nya,
kemudian ditampung pada Continious Settling Tank. Minyak dialirkan ke Oil Tank dan
pada fase berat (sludge) yang terdiri dari air dan padatan yang terlarut ditampung ke dalam
Sludge Tank yang kemudian dialirkan ke Sludge Separator untuk memisahkan (mengutip)
minyak yang masih terkandung didalam nya.

Minyak dari oil tank kemudian dialirkan ke dalam Oil Purifier untuk memisahkan kotoran
/ solid yang mengandung kadar air. Selanjutnya dialirkan ke Vacuum Drier untuk
memisahkan air sampai pada batas standard. Kemudian melalui Sarvo Balance, minyak
sawit dipompakan ke tangki timbun (Oil Storage Tank).

Proses Pemurnian Minyak Kelapa Sawit

Setelah melewati proses Screw Press maka didapatlah minyak kasar / Crude Oil dan ampas
press yang terdiri dari fiber. Kemudian Crude Oil masuk ke stasiun Clarifikasi.
Proses pengolahan nya adalah sebagai berikut :

Sand Trap Tank ( Tangki Pemisah Pasir)

Setelah di press maka Crude Oil yang mengandung air, minyak, lumpur masuk ke Sand
Trap Tank. Fungsi dari Sand Trap Tank adalah untuk menampung pasir. Temperatur pada
sand trap mencapai 95 derajat Celcius.

Vibro Seperator / Vibrating Screen

Fungsi dari Vibro Separator adalah untuk menyaring Crude Oil dari serabut dan atau
kotoran lain nya yang dapat mengganggu proses pemisahan / pemurnian minyak. Sistem
kerja mesin penyaringan itu sendiri dengan sistem getaran – getaran berkelanjutan pada
Vibro kontrol melalui penyetelan pada bantalan yang di ikat pada elektromotor. Getaran
yang kurang stabil dapat mengakibatkan pemisahan tidak efektif.

Oil Tank

Fungsi dari Oil Tank adalah untuk tempat penampungan sementara Crude Oil sebelum
diolah oleh Purifier. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan Steam Coil untuk
mendapatkan temperatur yang diinginkan yakni 95 derajat Celcius. Kapasitas yang dapat
diolah Oil Tank sekitar 10 Ton / Jam.

Oil Purifier

Fungsi dari Oil Purifier adalah untuk mengurangi kadar air dalam minyak dengan cara
sentrifugal. Pada saat alat ini dilakukan proses diperlukan temperatur suhu 95 derajat
Celcius.

Vacuum Dryer

Fungsi dari Vacuum Dryer adalah untuk mengurangi kadar air dalam minyak produksi.
Sistem kerjanya sendiri adalah minyak disimpan kedalam bejana melalui Nozel. Suatu jalur
resirkulasi dihubungkan dengan suatu pengapung didalam bejana. Vacuum dryer lalu
melakukan proses sedemikian rupa sehinggan kadar air yang masih terkandung didalam
minyak dapat diserap dan dibuang melalui pipa pembuangan.

Sludge Tank

Fungsi dari Sludge Tank adalah tempat sementara sludge (bagian dari minyak kasar yang
terdiri dari kotoran padatan dan zat cair yang masih mengandung minyak) sebelum diolah
oleh sludge seperator. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan sistem injeksi untuk
mendapatkan temperatur yang diinginkan yaitu 90 - 95 derajat Celcius.

Sand Cyclone / Pre- cleaner

Fungsidari Sand Cyclone adalah untuk menangkap pasir yang terkandung dalam sludge
dan untuk memudahkan proses selanjutnya.

Sludge Seperator

Fungsi dari Sludge Seperator adalah untuk mengambil minyak yang masih terkandung
dalam sludge dengan cara sentrifugal. Dengan gaya sentrifugal, minyak yang berat
jenisnya lebih kecil akan bergerak menuju poros dan terdorong keluar melalui sudut –
sudut ruang tangki pisah.
Storage Tank

Fungsi dari Storage Tank adalah untuk penyimpanan sementara minyak produksi yang
dihasilkan sebelum dikirim atau dijual. Didalam Storage tank terdapat pipa-pipa yang
dialiri oleh uap steam, untuk menjaga supaya suhu minyak CPO dalam tanki penyimpanan
tetap terjaga stabil antara 45-50 derajat Celcius.

Storage Tank harus dibersihkan secara terjadwal dan pemeriksaan kondisi pipa Steam
harus dilakukan secara rutin, karena apabila terjadi kebocoran pada pipa uap Steam dapat
mengakibatkan naiknya kadar air pada CPO.

Depericarper

Fungsi dari Depericarper adalah untuk memisahkan fiber dengan nut dan membawa fiber
untuk menjadi bahan bakar boiler. Fungsi kerjanya adalah tergantung pada berat massa,
yang massanya lebih ringan (fiber) akan terhisap oleh fan tan. Yang massanya lebih berat
(nut) akan masuk ke Nut Polishing Drum.

Pertama-tama bahan baku yang digunakan oleh plant fisika adalah crude palm oil (CPO) dari
tangki penyimpan CPO (storage tank). CPO dialirkan dengan rate 35-60 ton/jam.
Temperatur inisial CPO Crude Palm Oil (CPO) Crude Palm Oil (CPO)adalah 40 – 60 oC.
Umpan dipompa melalui sistem yang mengembalikan panas (heat recovery system), yang
plate heat exchanger bertambah menjadi 60-90 oC.
Setelah itu, kira-kira 20 % umpan CPO menjadi slurry dan campur dengan bleaching earth (6 –
12 kg/ton CPO) menjadi bentuk slurry (CPO + Bleaching earth). Pengaduk dalam tank
slurry mencampur CPO dengan bleaching earth secara sempurna. Kemudian slurry menuju
bleacher.
Pada waktu yang sama, 80 % CPO dipompa melalui plate heat exchanger (PHE) dan pemanas
steam menaikkan temperatur CPO menjadi 90 – 130 oC (temperature yang diharapkan
untuk reaksi antara CPO dan asam fosfat). Kemudian, Umpan CPO dipompa ke mixer
static dan asam fosfat dengan dosis 0,35 -0,45 kg/ton. Di dalamnya, pengadukan secara
intensif dengan minyak mentah untuk mempresipitasi gum (getah). Presipitasi gum akan
meringankan proses filtrasi nantinya, mencegah pembentukan scale dalam deodorizer dan
panas permukaan. Degumming CPO kemudian menuju bleacher.
Dalam bleacher, ada 20 % slurry dan 80 % CPO yang didegumming dicampur bersama dan
proses bleaching terjadi. Proses bleaching termasuk penambahan bleaching earth untuk
menghilangkan beberapa impurities yang tidak diinginkan (semua pigment, trace metals,
produk oksidasi) dari CPO dan akan memperbaiki rasa aslinya, bau akhir, dan kestabilan
oksidasi produk. Hal ini juga membantu mengatasi masalah proses berikutnya dengan
adsorpsi trace sabun, pro-oxidant metal ion, dekomposisi peroxide, pengurangan warna,
dan adsorb impurities minor. Temperatur dalam bleacher harus sekitar 100-130 oC untuk
mendapatkan proses bleaching optimum untuk periode bleaching 30 menit. Steam dengan
tekanan rendah dimasukkan dalam bleacher untuk menggerakkan slurry berkonsentrasi
untuk kodisi bleaching yang lebih baik.
Slurry mengandung minyak dan bleaching earth kemudian melalui filter Niagara agar bersih,
bebas dari partikel bleaching earth. Temperatur dijaga pada 80 – 120 oC untuk proses
filtrasi yang baik. Pada filter Niagara, slurry melewati lembaran filter dan bleaching earth
terjebak dalam lembaran filter. Sebenarnya, bleaching earth harus bersih dari filter Niagara
setelah 45 menit operasi untuk mendapatkan filtrasi yang baik. Bleached palm oil (BPO)
dari filter Niagara dipompa menuju tank buffer yang sebagai storage sementara sebelum
proses lebih lanjut
Pada umumnya, dicheck pada filter kedua, perangkap filter yang digunakan dengan filter
Niagara untuk menjamin bahwa tidak ada bleaching earth lolos terjadi. Adanya bleaching
earth mencemari deodorizer, mengurangi stabilitas oksidasi dari produk minyak dan
berlaku sebagai katalis untuk aktifitas dimerizaition dan polimerisasi. Karena itu, beberapa
koreksi dapat diambil secepatnya.
BPO keluar dari filter dan melalui rangkaian sistem pengembalian panas (heat recovery
system), Schmidt plate heat exchanger dan spiral (termal minyak: 250-305 oC) heat
exchanger memanaskan BPO dari 80 – 120 oC sampai 210 – 250 oC.
BPO panas dari spiral heat exchanger kemudian diproses ke tahap selanjutnya dimana FFA dan
warna dikurangi dan lebih penting, menghilangkan bau menghasilkan produk yang stabil
dan bau yang berkurang.
Dalam kolom pre-stripping dan deodorizing, proses deacidification dan deorization terjadi
secara bersamaan. Deodorisasi pada temperature tinggi, vakum yang tinggi, dan proses
destilasi vakum. Operasi deodorizer dengan alat:
1. Dearasi minyak,
2. Memanaskan minyak,
3. Steam strips minyak,
4. Mendinginkan minyak sebelum meninggalkan sistem.
Semua material adalah stainless steel.
Pada kolom, minyak umumnya dipanaskan kira-kira 240 – 280 oC di bawah vakum. Vakum
kurang dari 10 torr biasanya dijaga oleh ejector dan booster. Panas bleaching minyak
terjadi pada temperatur ini melalui perusakan termal pigmen karotenoid. Penggunaan
steam langsung (direct steam) menjamin pembuangan residu FFA, aldehida dan keton yang
tidak diharapkan rasa dan baunya. Berat molekul yang lebih rendah dari fatty acid yang
teruapkan naik ke kolom dan tertarik keluar oleh sistem yang vakum. Uap fatty acid
meninggalkan deodorizer didinginkan dan dikumpulkan dalam kondensor fatty acid
sebagai fatty acid. Fatty acid kemudian didinginkan dalam fatty acid cooler dan
dikeluarkan menuju storage tank fatty acid dengan temperature sekitar 60 – 80 oC sebagai
destilat asam lemak kelapa sawit (palm fatty acid distillate/ PFAD), by produk dari proses
refinery.
Produk bawah (bottom product) dari pre-stripper dan deodorizer adalah refined, bleached,
deodorized palm oil (RBDPO). RBDPO panas (250-280 oC) dipompa melalui Schimidt
Heat Exchanger untuk memindahkan panasnya ke BPO yang masuk dengan temperature
rendah. Lalu, melalui perangkap filter lainnya untuk mendapat minyak akhir (120 – 140
oC) untuk mencegah earth trace dari reaching tangki produk. Setelah itu, RBDPO melalui
RBDPO cooler dan plate heat exchanger untuk memindahkan panas ke umpan CPO.
RBDPO dipompa ke storage dengan temperatur 50 – 80 oC. (Galz-dari Refinery of Palm
Oil)
PRODUK
1. Minyak jagung adalah minyak yang didapat dari hasil ekstraksi biji jagung dan dimurnikan
melalui proses destilasi., dengan warna kekuning-kuningan dan digunakan untuk membuat
sabun, pelumas, kosmetik, minyak goreng bahkan sebagai pakan ternak. Salah satu
manfaatnya adalah Mengobati kanker karena kandungan asam fenolik.
https://manfaat.co.id/manfaat-minyak-jagung
2. Minyak wijen dibuat dengan mengambil ekstrak biji wijen yang telah disangrai lalu di
press menggunakan mesin. Minyak wijen mengandung vitamin E, vitamin A, vitamin B,
kalsium, asam amino dan magnesium. Salah satu manfaatnya Menurunkan tekanan
darah tinggi. https://www.bukumedis.com/30-manfaat-minyak-wijen-efektif-untuk-
kesehatan-dan-kecantikan/
3. Minyak kedelai diekstraksi dari biji kedelai yang merupakan sumber lemak, termasuk asam
lemak omega-3 dan lemak tak jenuh ganda. Salah satu manfaatnya adalah Menjaga
penghlihatan. http://nutrisains.com/manfaat-minyak-kedelai-untuk-kesehatan/
SAWIT
 Secara garis besar buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti
(kernel).
 Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan luar atau kulit buah yang
disebut eksocarp, lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau pulp dan lapisan paling
dalam disebut endocarp.
 Inti kelapa sawit terdiri dari endosperm dan embrio.
 Mesocarp mengandung kadar minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung
minyak sebesar 44%, dan endocarp tidak mengandung minyak.
MINYAK KELAPA SAWIT
1. CPKO: crude palm kernel oil. Yang banyak mengandung asam laurat dan asam miristat.
Sedangkan, CPO: crude palm oil. Banyak mengandung asam palmitat dan lebih banyak
diproses untuk menjadi minyak goreng. Perbedaan antara CPO dan CPKO ada pada warna
(minyak inti sawit tidak memiliki karotenoid sehingga tidak berwarna merah/ kemerahan),
dan kadar lemak jenuhnya. Minyak sawit mengandung 41% lemak jenuh sedangkan
minyak inti sawit 81% lemak jenuh.
Komposisi utama yaitu Trigliserida dan nontrigliserida:
 Minyak kelapa sawit terdiri atas trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dengan
tiga molekul asam lemak. Apabila ketiga asam lemak penyusunnya sama maka
trigliserida ini disebut trigliserida sederhana, dan apabila salah satu atau lebih asam
lemak penyusunnya tidak sama maka disebut trigliserida campuran.
 Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon yang setiap atom karbonnya mengikat satu atau
dua atom hydrogen. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap
disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada rantai
hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh.
 Selain trigliserida masih terdapat senyawa non trigliserida dalam jumlah kecil. Yang
termasuk senyawa non trigliserida ini antara lain : motilgliserida, diglisrida, fosfatida,
karbohidrat, turunan karbonidrat, protein, dan bahan-bahan berlendir atau getah (gum)
serta zat-zat berwarna yang memberikan warna serta rasa dan bau yang tidak diinginkan.
Dalam proses pemurnian dengan penambahan alkali (biasanya disebut dengan
proses penyabunan) beberapa senyawa non trigliserida ini dapat dihilangkan, kecuali
beberapa senyawa yang disebut dengan senyawa yang tak tersabunkan seperti
tercantum dalam tabel 3.
TABEL 1
 Ketengikan terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau
oksidasi menjadi hidrokarbon, alkana, atau keton. Untuk mencegah terjadinya proses
ketengikan pada minyak, CPO yang dihasilkan disimpan didalam storage tank, dimana
suhu di storage tank dijaga pada suhu 50-55 oC dan kadar air CPO harus rendah, apabila
terdapat sejumlah air didalam minyak dapat menyebabkan terjadinya reaksi hidrolisis
yang dapat mengakibatkan ketengikan.
 Fosfatida dalam minyak merupakan ester asam lemak dengan lemak, dimana pada
saat yang sama juga membentuk ester dengan asam fosfor.
 Proses oksidasi dimulai dari pembentukan peroksida dan hidroperoksida juga terurainya
asam-asam lemak yang disertai dengan berubahnya hidroperoksida menjadi aldehid.
Aldehid inilah yang dapat menyebabkan ketengikan pada minyak kedelai.
TABEL 3
 Bilangan yodium adalah ukuran derajat ketidakjenuhan. Lemak yang tidak jenuh dengan
mudah dapat bersatu dengan yodium (dua atom yodium ditambahkan pada setiap ikatan
rangkap dalam lemak). Semakin banyak yodium yang digunakan semakin tinggi derajat
ketidakjenuhan. Biasanya semakin tinggi titik cair semakin rendah kadar asam lemak tidak
jenuh dan demikian pula derajat ketidakjenuhan (bilangan yodium) dari lemak
bersangkutan. Asam lemak jenuh biasanya padat dan asam lemak tidak jenuh adalah cair;
karenanya semakin tinggi bilangan yodium semakin tidak jenuh dan semakin lunak lemak
tersebut.
 Bilangan penyabunan adalah jumlah miligram KOH yang di perlukan untuk
menyabunkan satu gram lemak atau minyak.
 Bilangan asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas, serta dihitung berdasarkan
berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak . Bilangan asam dinyatakan
sebagai jumlah milligram KOH yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas
yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak.
WARNA
 Pigmen berwarna kuning disebabkan oleh karoten yang larut didalam minyak. Karoten
merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh, dan jika minyak dihidrogenasi, maka
karoten tersebut juga berikut terhidrogenasi sehingga intensitas warna kuning berkurang .
Karetonoid bersifat tidak stabil pada asam di suhu tinggi dan jika minyak dialiri uap panas,
maka Warna kuning akan hilang, dan karetonoid juga bersifat asseptor proton (menerima
proton) .
 Untuk keperluan industri dan pemakaian secara umum, pengukuran warna dilakukan
dengan alat Lovibond – Tinto meter yang telah mempunyai standar internasional yang
dipakai oleh seluruh industry minyak.
 Penyimpangan warna:
 Warna gelap ini disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E). Jika
minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat kloroifil yang berwarna hijau turut
terekstraksi bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit dipisahkan dari minyak.
 Warna kuning selain disebabkan oleh adanya karoten yang merupakan zat warna
alamiahnya, juga dapat terjadi akibat proes absorbsi dalam minyak tidak jenuh. Warna ini
timbul selama penyimpanan dengan intensitas warna bervariasi dari kuning sampai ungu
kemerah merahan. Umumnya warna yang timbul akibat degradasi zat warna alamiah amat
sulit dihilangkan, timbulnya warna ini dapat diindentifikasikan bahwa telah terjadi
kerusakan pada minyak. Maka untuk mencegah hal ini, pada proses umumnya
ditambahkan zat anti oksidan sedangkan minyak kelapa sawit itu sendiri telah mengandung
zat anti oksidan walaupun dalam jumlah sedikit .
STANDAR MUTU
Standar mutu merupakan hal yang penting untuk menentukan bahwa minyak tersebut bermutu
baik. Ada beberapa faktor yang menentukan standar mutu, yaitu:
1. Kandungan air dan kotoran
2. Kandungan asam lemak bebas
3. Warna
4. Bilangan peroksida
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi standar mutu adalah sebagai berikut:
1. Titik cair
2. Kandungan gliserida
3. Refining loss (kehilangan pada saat pengolahan)
4. Plastisitas (kelenturan)
5. Spreadability (kemudah-tersebaran)
6. Kejernihan
7. Kandungan logam berat
8. Bilangan penyabunan

Mutu minyak kelapa sawit yang baik, umumnya mempunyai kriteria sebagai berikut:
1) Kadar air < 0,1%
2) Kadar kotoran < 0,01%
3) Kandungan asam lemak bebas, serendah mungkin yaitu < 2%
4) Bilangan peroksida < 2
5) Bebas dari warna merah & kuning, tidak berwarna hijau, harus berwarna pucat jernih
6) Kandungan logam berat serendah mungkin, bahkan bebas dari ion logam.

 Asam Lemak Bebas (ALB) adalah asam yang dibebaskan pada hidrolisis dari lemak.
Terdapat berbagai macam lemak, tetapi untuk perhitungan, kadar ALB minyak sawit
dianggap sebagai Asam Palmitat (berat molekul 256).
 Kadar air adalah banyaknya kandungan air yang terdapat di dalam sampel. Kadar air dapat
mempengaruhi mutu CPO, semakin tinggi kadar air, maka semakin rendah mutu CPO.
 Kadar zat Pengotor adalah bahan yang tak larut dalam minyak, yang dapat disaring setelah
minyak dilarutkan dalam suatu pelarut.

PEGEMASAN
Pada ruang bottling, pengisian minyak sudah dilakukan secara otomatis dengan menggunakan
mesin. Proses pertama yaitu minyak olein dipompa menuju buffer tank di bottling untuk
ditampung, untuk selanjutnya akan diisi dengan mesin filling yang sudah otomatis dimulai
dari pembukaan kemasan, filling 1, filling 2, hingga proses penutupan kemasan. Kemudian
produk yang sudah dikemas, akan dibawa oleh konveyor dan dikemas ke dalam kemasan
karton yang selanjutnya produk tesebut akan disimpan dalam gudang produk jadi.

MACAM MACAM LIMBAH


 Berdasakan studi literatur yang ada, bahwa limbah kelapa sawit dapat berupa limbah
kering yang terdiri atas tandan kosong kelapa sawit (TKKS), Cangkang (shell) dan Serabut
(fiber) secara keseluruhan dapat dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat yaitu dijadikan
energi terbarukan contohnya bioetanol, biodiesel dan sebagai bahan bakar
pembangkit listrik tenaga Biomassa(PLTB).
 Untuk pembuatan bioetanol limbah yang digunakan dari hasil proses pengolahan kelapa
sawit yaitu tandan kosong kelapa Sawit (TKKS) berdasarkan literatur dan hasil analisis
laboratorium yang sudah ada, tandan kosong kelapa sawit ini banyak mengandung
Selulosa sebesar 41,30% s/d 46,50%, Hemicellulose 25,3% s/d 33,8% dan
mengandung lignin sebanyak 27,60% s/d 32,50% serta mengadung glukosa. Adapun
proses pembuatan pada dasarnya merupakan proses fermentasi yang merubah glukosa atau
pati yang enzim amilase kemudian selanjutnya adalah proses hidrolisis pada unit mesin
hidrolisa sesudah itu ada proses inokulum (pengedapan) selama beberapa jam sebelum
enzim amilase difermentasi pada unit fermentasi selama beberapa hari kemudian
dilakukan destilasi yaitu pemisahan kadar air dari kadar etanol pada unit destlasi dan untuk
meningkatkan persen (%) kadar etanol menjadi lebih tinggi dilakukan proses dehidrasi
pada unit destilasi.
 Selain pemanfaatan limbah untuk bahan bakar pembangkit listrik. Penggunaan limbah
untuk mendukung prasarana dan sarana transporatasi dalam hal ini limbah kelapa sawit
juga dapat diolah menjadi bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) untuk
menggerakan alat transportasi yaitu sepeda motor dan mobil.

PENGOLAHAN LIMBAH
1. PUPUK ORGANIK
Pembuatan Pupuk Organik :Proses awal pembuatan pupuk organik tandan kosong kelapa sawit
yaitu tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dicincang sampai halus untuk mempercepat
dekomposisi. Selanjutnya larutan EM4 dibuat dengan komposisi air, EM4, dan gula.
Kemudian larutan EM4 diaduk beberapa saat, lalu didiamkan beberapa menit. Setelah itu
larutan EM4 dicampurkan pada bahan organik yang tandan kosong kelapa sawit, lalu
dilakukan pengomposan (bahan dimasukkan ke dalam terpal dan ditutup dengan rapat)
sampai bahan organik tersebut menjadi pupuk organik yang matang dengan ciri berwarna
kehitaman, tidak berbau dan suhunya konstan (tidak melebihi 50oC).
2. BIODIESEL
Limbah cair yang dihasilkan terutama limbah cair yang langsung diambil dari pipa
pembuangan (kondisi panas 400C s/d 50 0C ) masih mengandung lemak/CPO parit. (129
mg/l) Dengan demikian sampel limbah cair bisa dimanfaatkan pada PLTD biodiesel.
 PEMBUATANNYA MELIPUTI : Proses esterifikasi yaitu mereaksikan methanol
(CH3OH) dengan CPO parit dengan bantuan katalis asam yaitu asam sulfat (H2SO4).
Dalam pencampuran ini, asam lemak bebas akan bereaksi dengan methanol membentuk
ester. Pencampuran ini menggunakan perbandingan rasio molar antara FFA dan methanol
yaitu 1 : 20, dengan jumlah katalis asam sulfat yang digunakan adalah 0,2% dari FFA
(Warta PPKS, 2008). Kadar methanol yang digunakan adalah 98% (% b) sedangkan kadar
asam sulfat yaitu 97%. Reaksi berlangsung selama 1 jam pada suhu 63 0C dengan konversi
98% (Warta PPKS, 2008). Kemudian sebelum diumpankan ke reaktor transesterifikasi,
hasil reaksi dipisahkan dalam sentrifuse selama 15 menit. Lapisan ester, trigliserida, dan
FFA sisa diumpankan ke reaktor transesterifikasi sedangkan air, methanol sisa, dan katalis
diumpankan ke methanol recovery.