Anda di halaman 1dari 125

BUKU AJAR

PENALARAN DAN ARGUMENTASI HUKUM


KODE MATA KULIAH: BII 7265

TIM PENYUSUN
Dr. I Gusti Ayu Putri Kartika,SH,MH.
Prof. Dr. I Dewa Gede Atmadja, SH.,MS.
Prof. Dr. I Gusti Ayu Agung Ariani, SH.,MS
Dr. I Ketut Wirawan, SH.,MH.
Dr. I Wayan Novy Purwanto, S.H., MKn.
I Nyoman Bagiastra, SH.,MH.
Drs. Yuwono, SH.,MSi
Drs. Suhirman, SH.,MH
Ayu Putu Laksmi Danyati, SH.,Mkn
Dewa Gede Pradnya Yustiawan, SH.,MH
Pande Yogantara S, SH.,MH.
I Dewa Ayu Dwi Mayasari, SH.,MH

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

1
I IDENTITAS MATA KULIAH
Nama Mata Kuliah : Penalaran dan Argumentasi Hukum
Kode Mata Kuliah : BII 7265
SKS : 2 SKS
Semester : VII
Status Mata Kuliah : Wajib
Tim Pengajar :
Dr. I Gusti Ayu Putri Kartika,SH,MH.
Prof. Dr. I Dewa Gede Atmadja, SH.,MS.
Prof. Dr. I Gusti Ayu Agung Ariani, SH.,MS
Dr. I Ketut Wirawan, SH.,MH.
Dr. I Wayan Novy Purwanto, S.H., MKn.
I Nyoman Bagiastra, SH.,MH.
Drs. Yuwono, SH.,MSi
Drs. Suhirman, SH.,MH
Ayu Putu Laksmi Danyati, SH.,Mkn
Dewa Gede Pradnya Yustiawan, SH.,MH
Pande Yogantara S, SH.,MH.
I Dewa Ayu Dwi Mayasari, SH.,MH

II DESKRIPSI SUBSTANSI PERKULIAHAN


Substansi mata kuliah Penalaran dan Argumentasi Hukum
mencakup karakter normatif ilmu hukum, penalaran hukum, analisis
terhadap konsep-konsep hukum, penyelesaian terhadap inharmonis
hukum, penemuan hukum dan penafsiran hukum dan kesesatan dalam
penalaran hukum.
Dalam karakter normatif ilmu hukum akan diuraikan tentang arti
pentingnya ilmu hukum, konsep dasar ilmu hukum dan struktur ilmu
hukum. Dalam karakter normatif ilmu hukum, meliputi pengertian dari kata
ilmu dan kata hukum termasuk karakter ilmu hukum itu sendiri termasuk
bahasa yang digunakan disini yaitu bahasa hukum atau bahasa undang-

2
undang Kemudian penalaran hukum menjelaskan tentang cara berpikir
lurus untuk mencapai suatu kebenaran dalam hukum. Selanjutnya, pada
analisis terhadap konsep-konsep hukum diuraikan mengenai hak,
kewajiban, hubungan hukum, akibat hukum dan tanggung jawab.
Sehubungan dengan analisis terhadap konsep hukum tersebut, biuraikan
mengenai penyelesaian terhadap inharmonisasi hukum yang meliputi
penafsiran hukum dan penemuan hukum. Dalam penafsiran hukum dapat
dibagi menjadi beberapa macam penasiran antara lain penafsiran
gramatika, penafsiran autentik, penafsiran sosiologis dan lain-lain.
Penafsiran ini dilakukan apabila oleh hakim pengadilan dalam menangani
suatu perkara ditemukan adanya norma kabur, sedangkan dalam konflik
norma hukum, hakim dapat menggunakan salah satu dari beberapa asas
yaitu asas lex specialis derogat legi generali, asas lex superior derogat
legi priori dan lex posterior derogat legi inferiori. Kemudian apabila terjadi
kekosongan norma maka hakim dapat melakukan konstruksi hukum,
hakim pengadilan dapat menempuh beberapa metode untuk menemukan
hukum yaitu dengan argumentum a contrario, argumentum per analogiam
dan penghalusan hukum dan jika terjadi kesesatan dilakukan dengan
beberapa metode.
Pengkajian dalam penalaran hukum ini selain mengacu pada
ketentuan peraturan perundang-undangan juga mengacu pada hukum
yang tidak tertulis. Hakim dalam menangani suatu perkara apabila
hukumnya tidak ada maka hakim dapat menggali nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat.

III. CAPAIAN PEMBELAJARAN


Pada akhir perkuliahan, Mahasiswa memahami dan menguasai
konsep-konsep dasar dalam menggunakan logika hukum. Melalui
partisipasi pada mata kuliah Penalaran dan argumentasi hukum ini
mahasiswa diharapkan mampu memperoleh capaian pembelajaran
dengan cara dapat menganalisa isu-isu hukum dengan menggunakan

3
penalaran hukum dan mampu memberikan argumentasi hukum yang
benar. Maksudnya, dalam melakukan penalaran hukum, mahasiswa
diharapkan dapat mengkaji isu-isu hukum dengan menggunakan hukum
yang berlaku, baik hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis serta
dapat menganalisa berbagai perkembangan dalam hukum positif di
Indonesia

IV. MANFAAT MATA KULIAH


Mata Kuliah Penalaran dan Argumentasi Hukum ini merupakan
mata kuliah wajib institusional. Dengan demikan, mata kuliah Penalaran
dan Argumentasi Hukum ini dapat bermanfaat bagi Mahasiswa dalam
menganalisa isu-isu hukum yang aktual sebab suatu penalaran tersebut
dilakukan untuk mencapai kebenaran. Suatu kebenaran yang dicapai itu
tentunya disesuaikan dengan tujuan hukum itu sendiri. Dengan terarahnya
penalaran Mahasiswa dalam menganalisa isu-isu hukum yang terjadi
dalam masyarakat, maka alur pikir Mahasiswa akan dapat mencapai
kebenaran serta searah dengan tujuan hukum itu sendiri.

V. PERSYARATAN MENGIKUTI MATA KULIAH


Sebagai dasar mahasiswa yang akan menempuh mata kuliah ini
sebaiknya terlebih dahulu harus telah lulus mata kuliah Filsafat Hukum.
Secara substantif, mata kuliah ini mensyaratkan adanya pemahaman yang
mendalam dan penguasaan mahasiswa terhadap materi-materi dasar
dalam Filsafat Hukum yang meliputi konsep-konsep hukum,
perkembangan penalaran hukum dalam mazhab-mazhab hukum, hakekat
hukum, serta dasar filosofis kepatuhan hukum.

VI. ORGANISASI MATERI


Materi Penalaran dan Argumentasi Hukum terdiri dari 6 (enam)
pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan yaitu:
I. ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU SUI GENERIS

4
1.1. Karakter Normatif Ilmu Hukum
1.2. Terminologi Ilmu Hukum
1.3. Jenis Ilmu Hukum
1.4. Lapisan Ilmu Hukum

II. KAIDAH HUKUM DAN BAHASA HUKUM


2.1. Pengertian Kaidah Hukum
2.2. Pengertian Bahasa Hukum
2.3. Hubungan Kaidah Hukum dan Bahasa Hukum

III. LOGIKA HUKUM


2.1. Konsep dan Terminologi dalam Logika Hukum
2.2. Prinsip Dasar Logika Dalam Penalaran Hukum
2.3. Menggunakan Logika Dalam Penalaran Hukum

IV. PENALARAN HUKUM


3.1. Konsep dan Terminologi Dalam Penalaran Hukum
3.2. Unsur-unsur Dalam Penalaran Hukum
3.3. Hubungan Antara Konsep, Proposisi dan Penalaran Hukum
3.4. Jenis-jenis Penalaran Hukum

V. MAZHAB-MAZHAB PENALARAN HUKUM


4.1. Mazhab Hukum Alam
4.2. Mazhab Hukum Positif
4.3. Mazhab Utilitarianisme
4.4. Mazhab Sejarah
4.5. Mazhab Sosiological Jurisprudence
4.6. Pragmatic Legal Realism

VI. ANALISA TERHADAP KONSEP-KONSEP HUKUM


5.1. Hak

5
5.2. Kewajiban
5.3. Hubungan Hukum
5.4. Akibat Hukum
5.5. Tanggung Jawab

VII. PENYELESAIAN TERHADAP INHARMONIS HUKUM


6.1. Interpretasi Hukum
6.2. Penemuan Hukum
6.3. Kesesatan Dalam Penalaran Hukum

VII. METODE, STRATEGI, DAN PELAKSANAAN PROSES


PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran mata kuliah Penalaran dan Argumentasi
Hukum menggunakan metode PBL (Problem Based Learning). Dalam
proses perkuliahan yang diselenggarakan, Mahasiswa terpusat pada
masalah hukum atau isu-isu hukum. Dalam hal ini, Dosen tidak
memberikan perkuliahan seperti didalam kelas sebagai pengajar
(teaching), tetapi memfasilitasi mahasiswa belajar.
Pelaksanaan perkuliahan dikombinasikan dengan tutorial.
Perkuliahan dilakukan oleh dosen pengampu mata kuliah sebanyak 6
(enam) kali, untuk memberikan orientasi materi perkuliahan setiap pokok
bahasan. Begitu pula dalam kelas tutorial dilaksanakan sebanyak 6
(enam) kali. Untuk mengetahui hasil belajar Mahasiswa, dilakukan dengan
penilaian melalui ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester
(UAS) yang diselenggarakan masing-masing satu kali pertemuan.
Penilaian juga dilakukan melalui pemberian tugas-tugas selama masa
perkuliahan sebelum dan setelah UTS. Dengan demikan, keseluruhan
tatap muka pertemuan untuk perkuliahan, tutorial dan ujian-ujian
berjumlah 16.
Perkuliahan atas pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok
bahasan dipaparkan dengan alat bantu papan tulis, power point, dan

6
penyiapan bahan bacaan (reader) tertentu yang dipandang sulit diakses
oleh mahasiswa. Mahasiswa sudah mempersiapkan diri sebelum
mengikuti perkuliahan dengan mencari bahan materi, membaca, dan
memahami pokok-pokok bahasan yang akan dikuliahkan sesuai dengan
arahan dalam Block Book. Perkuliahan dilakukan dengan proses
pembelajaran dua arah, yakni pemaparan materi dari Dosen, tanya jawab,
dan diskusi. Mahasiswa mengerjakan tugas-tugas tutorial, terdiri atas
discussion task, study task, dan problem task. Tugas-tugas dikerjakan
sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada setiap jenis tugas-tugas.
Kemudian presentasi dan berdiskusi di kelas tutorial.

VIII. TUGAS-TUGAS
Mahasiswa diwajibkan untuk membahas, mengerjakan dan
mempersiapkan tugas-tugas yang ditentukan di dalam Buku Ajar. Tugas-
tugas terdiri dari tugas mandiri yang dikerjakan di luar perkuliahan, tugas
yang harus dikumpulkan, dan tugas yang harus dipresentasikan.

IX. UJIAN-UJIAN DAN PENILAIAN


Ujian-ujian terdiri dari ujian tertulis dalam bentuk essay dalam masa
tengah semester dan akhir semester. Ujian tengah semester (UTS) dapat
diberikan pada saat tutorial atas materi perkuliahan nomor 1 dan 2. UTS
dapat diganti dengan menggunakan nilai tutorial 1, 2, 3 dan 4 dari
perkuliahan 1 dan 2. Sedangkan ujian akhir semester ( UAS ) dilakukan
atas materi perkuliahan 3 dan 4 serta tutorial 5, 6, 7 dan 8 yang dilakukan
pada pertemuan 16. Ujian dapat dilakukan secara lisan jika memenuhi
persyaratan pelaksanaan ujian lisan yang ditentukan dalam Peraturan
Akademik Fakultas Hukum Universitas Udayana.
Penilaian meliputi aspek hard skills dan aspek soft skills. Penilaian
hard skill dilakukan melalui tugas-tugas (TT), UTS, dan UAS. Penilaian
soft skill meliputi penilaian atas kehadiran, keaktifan, kemampuan
presentasi, penguasaan materi, argumentasi hukum, disiplin, etika dan

7
moral berdasarkan pada pengamatan dalam tatap muka selama
perkuliahan dan tutorial. Nilai soft skill ini merupakan nilai tutorial yang
dijadikan sebagai nilai tugas. Nilai Akhir Semester diperhitungkan
menggunakan rumus seperti pada Buku Pedoman Pendidikan FH UNUD
2013, yaitu:
Penilaian akhir dari proses pembelajaran ini berdasarkan rumus
Nilai Akhir (NA) sesuai buku pedoman tahun 2013, yaitu:

Skala Nilai Penguasaan Keterangan dengan skala


Kompetisi nilai
Huruf Angka 0-10 0-100

A 4 Sangat baik 8,0-10,0 80-100


B 3 Baik 6,5-7,9 65-79
C 2 Cukup 5,5-6,4 55-64
D 1 Sangat kurang 4,0-5,4 40-54
E 0 Gagal 0,0-3,9 0-39

X. BAHAN PUSTAKA
Bahan hukum yang digunakan dalam buku ajar ini terdiri dari Bahan
Hukum
Primer dan Bahan Hukum Sekunder yang digunakan sebagai referensi
dalam
perkuliahan. Bahan Hukum Primer, yaitu:
1. Atmadja,I Dewa Gede, “Perdebatan Akan Derajat Keilmuan Dari
Ilmu Hukum : Suatu Renungan Filsafat Hukum, dalam Kertha
Patrika, Nomor : 58 Tahun XVIII, Maret, 1992.

8
2. -------, “Manfaat Filsafat Hukum Dalam Studi Ilmu Hukum”, dalam
Kertha Patrika, Nomor : 62-63 Tahun XIX Maret – Juni, 1993.
3. , Penafsiran Konstitusialam Rangka Sosialisasi Hukum, Pidato
Pengenalan Jabatan Guru Besar Dalam Bidang Ilmu Hukum Tata
Negara Pada Fakultas Hukum Universitas Udayana, 10 April 1996.
4. , Penalaran Hukum (Legal Reasoning), Pengertian, Jenis, Dan
Penerapannya, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar,
2006.
5. Gie, The Liang, Teori-teori Keadilan, Super, Yogyakarta, 1979.
6. Hadjon, Philipus M, 1994, “Pengkajian Ilmu Hukum Dogmatik
(Normatif)”, dalam Yuridika, Nomor 6 Tahun IX, November-
Desember 1994.
7. -------, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta, 2005.
8. -------, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi Hukum , Bali
Age, Denpasar, 2009.
9. Loudoe, John Z., Menemukan Hukum melalui Tafsir dan Fakta,
Bina Aksara, Jakarta, 1985.
10. Marzuki, Peter Mahmud, , “Penelitian Hukum”, dalam Yuridika, Vol.
16, No. 1, Maret-April, 2001.
11. Mertokusumo, Sudikno, Bab-bab tentang Penemuan Hukum, Citra
Aditya Bakti, 1993.
12. Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto, Perihal Kaedah
Hukum, Alumni, Bandung, 1979.
13. Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
14. Sidharta, Bernard Arief, Refleksi Tentang Hukum, Refika Aditama,
Bandung, 2008.
15. , Pengantar Logika, Refika Aditama, Bandung, 2008.
16. Simorangkir, J.C.T., et al., Kamus Hukum, Aksara Baru, Jakarta,
1980.

9
17. Sumaryono, Dasar-dasar Logika, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
18. Sutiyoso, Bambang, Metode Penemuan Hukum, UII Press,
Yogyakarta, 2006.

XI JADWAL PERKULIAHAN
NO. MINGGU TOPIK KEGIATAN
1. I ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU SUI Perkuliahan
GENERIS
1.1. Karakter Normatif Ilmu
Hukum
1.2. Terminologi Ilmu Hukum
1.3. Jenis Ilmu Hukum
1.4. Lapisan Ilmu Hukum

2. II Task mengenai Karakter Normatif Tutorial


Ilmu Hukum
3 III KAIDAH HUKUM DAN BAHASA Perkuliahan
HUKUM
2.1. Pengertian Kaidah Hukum
2.2. Pengertian Bahasa Hukum
2.3. Hubungan Kaidah Hukum dan
Bahasa Hukum
4 IV Task mengenai Hubungan Kaidah
Hukum dan Bahasa Hukum
5. V LOGIKA HUKUM Perkuliahan
1. Konsep dan Terminologi dalam
Logika Hukum
2. Prinsip Dasar Logika Dalam
Penalaran Hukum
3. Menggunakan Logika Dalam

10
Penalaran Hukum

6. VI Task mengenai Logika Hukum Tutorial


7. VII Ujian Tengah Semester Ujian Tertulis
8. VIII PENALARAN HUKUM Perkuliahan
1. Konsep dan Terminologi Dalam
Penalaran Hukum
2. Unsur-unsur Dalam Penalaran
Hukum
3. Hubungan Antara Konsep,
Proposisi dan
Penalaran Hukum
4. Jenis-jenis Penalaran Hukum
9. IX Task Mengenai Penalaran Hukum Tutorial
10. X MAZHAB-MAZHAB PENALARAN Perkuliahan
HUKUM
1. Mazhab Hukum Alam
2. Mazhab Hukum Positif
3. Mazhab Utilitarianisme
4. Mazhab Sejarah
5. Mazhab Sosiological
Jurisprudence
6. Pragmatic Legal Realism
11. XI Task mengenai Mazhab-mazhab Tutorial
Penalaran Hukum
12. XII ANALISA TERHADAP KONSEP- Perkuliahan
KONSEP HUKUM
1. Hak
2. Kewajiban
3. Hubungan Hukum

11
4. Akibat Hukum
5. Tanggung Jawab
13. XIII Task mengenai Analisa Terhadap Tutorial
Konsep-konsep Hukum
14. XIV PENYELESAIAN TERHADAP Perkuliahan
INHARMONIS HUKUM
1. Interpretasi Hukum
2. Penemuan Hukum
3. Kesesatan Dalam Penalaran
Hukum
4. Metode Menemukan Kebenaran
Dalam Hukum
15. XV Task mengenai Penyelesaian Tutorial
Terhadap Inharmonisasi Hukum
16. XVI Ujian Akhir Semester Ujian Tertulis

12
PERTEMUAN I : PERKULIAHAN KE-1
ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU SUI GENERIS

1. Pendahuluan
Pada pertemuan pertama, perkuliahan disajikan adalah Ilmu
Hukum Sebagai Ilmu Sui Generis. Bahan kajian ini memberikan
pemahaman kepada mahasiswa mengenai ilmu hukum sebagai ilmu
yang memiliki jenis tersendiri. Paparan materi diawali dengan pemahaman
atas peristilahan ilmu hukum sebagai ilmu sui generis, kemudian
memaparkan tentang karakter normatif ilmu hukum serta terminologi ilmu
hukum. Selanjutnya, setelah mengetahui ketiga hal tersebut, dijelaskan
materi mengenai jenis ilmu hukum dan pentingnya lapisan ilmu hukum.
Capaian pembelajaran yang diharapkan dari pertemuan
perkuliahan pertama adalah mahasiswa mampu menguraikan mengenai
ilmu hukum sebagai ilmu sui generis, karakter normatif ilmu hukum,
terminologi ilmu hukum, jenis ilmu hukum dan pentingnya lapisan ilmu
hukum. Selain itu, mahasiswa dapat mendiskusikan materi-materi tersebut
sehingga dapat memperoleh pengetahuan yang mendalam.
Materi perkuliahan Penalaran dan Argumentasi Hukum ini sangat
penting dipahami untuk memudahkan mahasiswa dalam menyelesaikan
tugas-tugas tutorial dalam pertemuan kedua dan ketiga. Selain itu juga
menghindari terjadinya pengulangan penjelasan terhadap konsep-konsep
yang berulang kali diketemukan dalam bahan kajian pada perkuliahan
berikutnya.
2. Ilmu Hukum Sebagai Ilmu Sui Generis
Dalam bidang ilmu hukum, terdapat perbedaan pandangan di
masyarakat, dalam memasukkan ilmu hukum ke dalam suatu kelompok
bidang ilmu. Apakah ilmu hukum masuk cabang Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA), apakah ilmu hukum masuk cabang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),
apakah ilmu hukum masuk cabang humaniora. Secara umum ilmu hukum

13
digolongkan kedalam ilmu pengetahuan sosial. Pendapat ini, didasarkan
pada hakekat hukum yang selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat.
Secara etimologi, pengertian sui generis berasal dari kata sum dan
genus. Kata sum berarti sendiri dan genus berarti jenis. Jadi secara
keseluruhan Sui generis berarti jenis sendiri. 1 Dengan demikian Ilmu
hukum sebagai ilmu sui generis, artinya ilmu hukum merupakan ilmu jenis
sendiri. Dikatakan ilmu jenis sendiri karena ilmu hukum dengan kualitas
ilmiah sulit dikelompokkan dalam salah satu cabang pohon ilmu.
Menelaah sifat khas ilmu hukum sebagai ilmu sui generis, yaitu karakter
normatif ilmu hukum, terminologi ilmu hukum, jenis ilmu hukum, dan
lapisan ilmu hukum.
Pengelompokan yang kurang tepat bagi Ilmu Hukum ke dalam Ilmu
Pengetahuan Sosial mempunyai pengaruh di bidang akademis. Gelar
yang diberikan pada Strata dua (S2) ternyata mengalami perkembangan.
Mulai dari Magister Science (MS), Magister Humaniora (M Hum) terakhir
menjadi Magister Hukum (MH). Ketidakpastian ini menurut Philipus M
Hadjon, merupakan salah satu sebab terjadinya berbagai keracuan dalam
usaha pengembangan ilmu hukum. Sebagian yuris Indonesia kehilangan
kepribadiannya dan konsekuensi selanjutnya ialah pembangunan hukum
melalui pembentukan hukum yang tidak ditangani secara profesional.
Pendidikan hukum tidak jelas arahnya. 2 Ilmu hukum adalah ilmu yang
memiliki kepribadian yang khas (sui generis). Ciri ilmu hukum sebagai sui
generis, adalah :
1. Karakter normatif ilmu hukum
2. Terminologi ilmu hukum
3. Jenis ilmu hukum
4. Lapisan ilmu hukum3

1
Philipus M. Hadjon, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta, 2005, h. 1.
2
Ibid.
3
Ibid.

14
3. Karakter Normatif Ilmu Hukum
Ilmu hukum merupakan ilmu yang memiliki jenis tersendiri.
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa ilmu hukum memiliki sesuatu yang
khas. Kekhasannya itu terletak pada karakternya yang bersifat normatif.
Sulit untuk mengkategorikan ilmu hukum ke dalam kelompok ilmu yang
mana, sehingga lebih tepat jika ilmu hukum adalah ilmu yang suigeneris.
Ilmu hukum mempunyai tiga lapisan , jika dalam tataran dogmatik hukum
dapatlah dikatakan bahwa ilmu hukum termasuk ilmu praktis, karena
bertujuan untuk problem solving. Tetapi dalam tataran teori hukum, ilmu
hukum masuk ilmu normatif. Dalam tataran filsafat, tidak dapat ilmu hukum
dipertanyakan masuk apa karena filsafat bukan ilmu, tetapi filsafat adalah
induk dari ilmu. Tidaklah cukup suatu penelitian hukum hanya melihat
adanya perbedaan antara norma dan kenyataan di masyarakat. Di dalam
kajian Ilmu Hukum haruslah mementingkan metode penelitian yang
berlaku di dalam Ilmu Hukum sendiri.
Kesalahan selanjutnya dikatakan oleh Philipus M Hadjon bahwa
mereka memaksa format penelitian ilmu sosial dalam penelitian hukum
normatif. Penelitian hukum normatif tidak menggunakan analisis kuantitatif
(Statistik), serta merta penelitian hukum dikualifikasikan sebagai penelitian
kualitatif.
Penelitian kualitatif ataupun kuantitatif termasuk ke dalam kategori
Ilmu a posteriori. Sedangkan Ilmu Hukum merupakan suatu Ilmu a priori.
Antara Ilmu a priori maupun a posteriori sama-sama mencari hukum,
prinsip, rumusan dalam mengendalikan seluruh detil dan partikular
pengetahuan. Disebutkan oleh Muhamad Zainuddin tentang pengertian
Ilmu a posteriori adalah rangakaian pengetahuan yg diperoleh dari
pengamatan inderawi dan eksperimen. Sedangkan Ilmu a priori :
rangkaian pengetahuan yang diperoleh tidak dari pengamatan inderawi
dan eksperimen tapi bersumber dari akal sendiri.4 Penekanan dari

4
I Gusti Ayu Putri Kartika dan Asri Wijayanti, Belajar Argumentasi
Hukum,Humanika Cerdas Harmoni, Surabaya, 2010, h. 23.

15
perbedaan itu dari sudut pandangnya, bersumber dari panca indera atau
bukan. Adapun karakteristik pengetahuan secara umum dikatakan
sebagai ilmu apabila memenuhi criteria :
1. logico hipotetico verificative
2. generalized understanding.
3. theoretical construction
4. information about why and how (something behind).
- Karakteristik ilmu
Diterima nalar pembaca
1. Logico hypotetico verificative
a. Didukung bukti (tdk selalu yg tampak)
b. Diuji
2. Generalized understanding.
a. Pembaca bisa membayangkan urutan peristiwanya ,
b. Punya makna reproducable
c. Dapat diulang / dilakukan juga di tempat yang lain
3. Theoretical construction
a. Teori : penjelasan hubungan dua konsep/variable/kejadi
b. Cara : deduktif, induktif , dpt didukung comparacy, analogy,
synthesis information about why and how (deskripsi).5
Bentuk kejanggalan itu secara umum ada tiga yaitu adanya kata
Tanya dalam rumusan masalah, sumber data, serta populasi. Ketiga
kejanggalan itu memaksakan format penelitian ilmu sosial dalam
penelitian hukum normatif.
Kejanggalan pertama yaitu adanya keharusan rumusan masalah
dalam kalimat tanya. Kata-kata bagaimana, seberapa jauh, dan lain-lain,
dipaksakan dalam rumusan masalah penelitian hukum normatif.
Pertanyaan yang boleh di dalam penelitian hukum adalah pertanyaan
yang hanya dapat di jawab “ya” atau “tidak. Apabila pertanyaan dijawab

5
Ibid, h. 30.

16
dengan ya maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Ya . 6 Dengan
demikian akan dicari alasannya. Alasan dari jawaban itu harus berpangkal
dari ketentuan norma hukum tertentu. Contoh pertanyaan hukum adalah :
Apakah pembantu rumah tangga berhak atas ketentuan upah minimum
propinsi / kota ? Pertanyaan itu hanya dapat dijawab ya atau tidak tidak
mungkin dijawab dengan ya dan tidak. Dalam hal ini asas-asas logika
dapat diberlakukan. Hal ini akan dijelaskan dalam Bab selanjutnya.
Kejanggalan kedua yaitu berkaitan dengan bahan hukum. Oleh
Philipus M. Hadjon dikatakan bahwa sumber data, teknik pengumpulan
data dan analisis data. Tanpa disadari bahwa data bermakna empiris,
sedangkan penelitian hukum normatif tidak mengumpulkan data. 7
Kejanggalan ketiga yaitu berkaitan dengan Populasi dan sampling.
Oleh Philipus M. Hadjon dikatakan bahwa seorang peneliti hukum normatif
tidak boleh membatasi kajiannya hanya pada satu undang-undang. Dia
harus melihat keterkaitan undang-undang tersebut dengan perundang-
undangan lainnya. Dengan demikian populasi dan sampling tidak dikenal
dalam penelitian hukum normatif.8 Penelusuran penelitian hukum lebih
dikenal dengan sistem penarikan peraturan atau norma hukum secara
vertikal dan horisontal. Dapat dengan ketentuan yang lebih tinggi atau
yang lebih rendah. Supaya memudahkan pemahaman dapat dijelaskan
dalam Skema di bawah ini :

6
Ibid. h. 31.
7
Philipus M. Hadjon, Op cit., h. 2.
8
Op. cit.

17
Ketentuan hukum yang lebih tinggi
Undang-Undang Dasar 1945

(Kasus yang sedang dihadapi)


UU Pasal ……. Dari UU No… Tahun….. UU
Ketentuan di bawahnya
Peratuan Pemerintah
Peraturan Presiden
a. Hukum kebiasaan
b. Yurisprudensi
c. Traktat / perjanjian
d. Doktrin
Apabila kita melakukan penelitian atau kajian Ilmu Hukum maka
metode yang dipakai adalah metode penelitian hukum. Ada dua
pendekatan ialah :
a. Pendekatan dari sudut filsafat ilmu
b. Pendekatan dari sudut pandang teori hukum.
Untuk menjelaskan hakikat keilmuwan hukum apabila pendekatan
ditinjau dari sudut filsafat ilmu dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Pandangan positivistis ….Ilmu empiris
- sociolological jurisprudence
- socio legal jurisprudence

Ilmu hukum empiris


- penelitian kualitatif-kuantitatif
( the gab is described but is rarely explained )
2. Pandangan normatif

Ilmu normatif

18
Ilmu hukum normatif

Pendekatan dari sudut teori hukum dibagi atas tiga lapisan utama,
yaitu : dogmatik hukum, teori hukum (dalam arti sempit) dan filsafat
hukum. Diantara ketiga lapisan ilmu hukum semuanya memberikan
dukungan pada praktik hukum. Ilmu mencakup aspek proses (scientific
research), prosedural (scientific method) dan produk (scientific
knowledge). Ketiganya membentuk segi tiga konotasi ilmu (the trifold
connotation of science).9 Memang pegelompokan ilmu terdapat
bermacam- macam pendapat. Shidarta membagi ilmu pada dasarnya ada
dua yaitu ilmu formal dan ilmu empiris (Ilmu Positif). Perbedaan ilmu- ilmu
Formal dan empiris dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Ilmu-Ilmu Ilmu-Ilmu Empiris


Formal

Hal yang Sistem Gejala Faktual


diselidiki penalaran dan
perhitungan

Pendekatan Formal Material


kebenaran

Pengetahuan Apriori Aposteriori


yang dihasilkan

9
Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks Keindonesiaan, CV.
Utomo, Bandung, 2006, h. 41.

19
Ilmu yang Logika, Ilmu-Ilmu
termasuk Matematika dan Alam (Naturwissenchsften) danIlmu-
kelompok ini teori sistem Ilmu kemanusiaan

( Geites-wissenchsften)

Menurut van Melsen, Ilmu Hukum pada hakikatnya adalah seni


praktis yang berasal dari keperluan kongkrit untuk mengadili (seni
kehakiman). Terhadap terjemahan dari pendapat van Melsen ini
seharusnya “ars”tidak diartikan sebagai seni kehakiman tetapi sebagai
kemampuan berkeahlian hukum di bidang kehakiman. Ilmu Praktis
merupakan lawan dari ilmu teoritis.10 Perbedaan antara ilmu- ilmu teoritis
dengan ilmu-ilmu praktis dapat digambarkan dalam tabel 2 berikut ini :
Tabel 2.
Perbedaan Ilmu-ilmu Teoritis dan Ilmu-ilmu Praktis
Ilmu-Ilmu Teoritis Ilmu-Ilmu Praktis
Nomologis Normologis Normologis
Imputasi
Dalil logika Bisa kausalitas Kausalitas
/imputasi
Contoh ilmu yang Ilmu- Ilmu formal dan Ilmu Otoritatif :
termasuk kelompok ilmu-ilmu empiris kedokteran, ilmu Hukum
ini Ilmu
Non
Tekhnik,
otoritatif :
Ilmu
Etika
Managemen,
Pedagogi
Ilmu
Komunikasi,

10
AGM van Melsen, Ilmu Pengetauan dan Tanggung Jawab Kita, terjemahan K
Bertens, Gramedia, Jakarta : 1985, h. 56.

20
Palemologi.

Tujuan Sekedar menambah Menawarkan penyelesaian


pengetahuan atas suatu yang problema
konkret
Penggunaan Produknya tidak Produknya merupakan
produknya digunakan sendiri tawaran penyelesaian
untuk memecahkan langsung atas suatu
problema konkret ( problem konkret.
diserahkan kepada
ilmu lain untuk
menggunakannya)
Kerjasama dengan Cenderung tidak Menjadi keharusan
ilmu lain dilakukan (multidisipliner)
(monodisipliner)
Kandungan seni Tidak mengandung Mengandung
sifat seni (ars)
Sumber: ……………….
Dari tabel diatas, posisi Ilmu Hukum tampaknya memang
merupakan bagian dari ilmu praktis yang normologis. Pendapat itu kurang
tepat. Ilmu hukum mempunyai tiga lapisan , jika dalam tataran dogmatic
hukum dapatlah dikatakan bahwa ilmu hukum termasuk ilmu praktis,
karena bertujuan untuk problem solving . Tetapi dalam tataran teori hukum
ilmu hukum masuk ilmu normatif. Dalam tataran filsafat, tidak dapat ilmu
hukum dipertanyakan masuk apa karena filsafat bukan ilmu, tetapi filsafat
adalah induk dari ilmu.

21
4. Terminologi Ilmu Hukum
Apabila kita berbicara mengenai terminologi ilmu hukum maka kita
akan menelursuri kembali asal kata dasi suatu istilah. Dalam bahasa
Belanda, Jerman dan bahasa Inggris digunakan istilah berikut :
- Rechtswetenschap (Belanda)
- Rechtstheorie (Belanda)
- Jurisprudence (Inggris)
- Legal science (Inggris)
- Jurisprudenz (Jerman)11
JJ.H Bruggink menggambarkan perbedaan antara ilmu hukum
empiris dengan ilmu hukum normatif sebagai berikut :

Tabel 3.
Perbedaan Ilmu Hukum Empiris dan Ilmu Hukum Normatif
Pandangan normatif :
Pandangan positivistic:
Ilmu hukum normatif
ilmu hukum empirik

Hubungan dasar Subyek – obyek Subyek – subyek


Sikap ilmuwan Penonton Partisipan
(toeschouwer) (doelnemer)
PERSPEKTIF EKSTERN INTERN
Teori kebenaran Korespondensi Pragmatik
Proposisi Hanya informative atau Normatif dan
empiris evaluatif
Metode Hanya metode yang Juga metode lain
bisa diamati panca
indra

11
Sidharta, Bernard Arief, Refleksi Tentang Hukum, Refika Aditama, Bandung,
2008, h. 127.

22
Moral Non kognitif Kognitif
Hubungan antara Pemisahan tegas Tidak ada
moral dan hukum pemisahan
Ilmu Hanya sosiologi hukum Ilmu hukum dalam
empiris dan teori hukum arti luas
empiris

Apabila dilihat dari beberapa istilah tersebut dapat diidentikkan


dengan kajian yang bersifat empirik. Sedangkan kenyataannya hukum
bukanlah kajian yang empirik.12 Penggunaan teori kebenaran dari ilmu
hukum yang pragmatis, ternyata masih belum ada kesepakatan diantara
ahli hukum. Masih ada perdebatan tentang penggunaan teori kebenaran
yang dipakai dasar, antara koherensi dengan pragmatis. Mereka
berpendapat, apabila suatu aturan hukum dibuat dengan hanya
mendasarkan teori kebenaran yang pragmatis, akan mengakibatkan
timbulnya kesesatan. Sebagai contoh pada wakil rakyat kita yang duduk di
DPR, apabila mereka akan menggunakan dasar kebenaran pragmatis
dengan menekankan hanya pada konsensus di antara anggota DPR
tanpa memperhatikan konsep dan teori hukum akibatnya produk hukum
jauh dari rasa keaadilan. Hal ini mengingat suara wakil rakyat kita yang
duduk di DPR hanya menyarakan suara Partai atau ada kepentingan di
balik itu. Tetap kebenaran yang dipakai adalah koherensi. Prinsip teori
kebenaran koherensi adalah dikatakan benar apabila sesuai dengan yang
seharusnya.

12
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2005, h. 20.

23
5. Jenis Ilmu Hukum
Apabila ditinjau dari segi objeknya dikenal ada dua jenis ilmu
hukum yaitu :
a. Ilmu Hukum Normatif
b. Ilmu Hukum Empiris

1. Ilmu Hukum Normatif


Dalam ilmu hukum normatif, objek kajiannya adalah norma. Dengan
demikian, norma menjadi fokus kajian dari ilmu normatif. Dalam penelitian
terhadap norma, baik norma tertulis maupun tidak tertulis. Hukum dapat
diartikan sebagai norma tertulis yang dibuat secara resmi dan
diundangkan oleh pemerintah dari suatu masyarakat. Disamping hukum
yang tertulis tersebut terdapat norma di dalam masyarakat yang tidak
tertulis tetapi secara efektif mengatur perilaku para anggota masyarakat.
Norma tersebut pada hakekatnya bersifat kemasyarakatan, dikatakan
demikian karena norma selain berkaitan dengan kehidupan
bermasyarakat juga merupakan hasil dari kehidupan bermasyarakat.
Norma merupakan manifestasi dari sistem nilai yang dianut oleh
masyarakat yang bersangkutan. Melalui sosialisasi yang panjang norma-
norma tersebut diinternalisasikan pada seluruh anggota masyarakat.
Norma atau kaidah berisi kehendak yang mengatur perilaku
seseorang, sekelompok orang, atau orang banyak dalam hubungannya
dengan orang lain atau dengan makhluk lain, dan alam sekelilingnya. Di
dalam kehidupan manusia terdapat berbagai macam norma seperti;
norma moral, norma susila, norma etika, norma agama, norma hukum,
dan lain-lain. Di antara norma-norma tersebut norma hukum merupakan
norma yang paling kuat berlakunya, karena bagi pelanggarnya dapat
diancam sanksi pidana atau sanksi pemaksa oleh kekuasaan negara, oleh
karena itu norma hukum mempunyai sifat keberlakuan yang heteronom
sedang norma-norma lain mempunyai sifat keberlakuan yang otonom.

24
Norma hukum sebagaimana halnya dengan norma-norma lainnya
tersusun secara hierarkis dan berjenjang ke atas berhadapan dengan
norma hukum yang membentuknya, dan ke bawah berhadapan dengan
norma hukum yang dibentuknya. Susunan tersebut berpuncak pada
norma tertinggi yang disebut sebagai norma dasar yang tidak dibentuk
oleh norma yang lebih tinggi lagi, melainkan ditetapkan terlebih dahulu
oleh masyarakat yang bersangkutan. Norma hukum berisi kehendak yang
dikategorikan dengan Das Sollen, yaitu suatu kategori yang bersifat
imperatif. Kehendak itu dapat berupa suruhan atau larangan, dan dapat
juga berupa pem" bebasan dari suruhan atau pengecualian dari larangan.
Norma hukum selain berfungsi mengatur perilaku, juga berfungsi memberi
kuasa kepada norma hukum lain untuk mengatur perilaku atau berfungsi
mengubah atau mengganti norma hukum lain, menurut Bruggink
(1996:100), norma hukum sebagai norma perilaku berisi:
(a) Perintah (gebod); yaitu kewajiban masyarakat untuk melakukan
sesuatu.
(b) Larangan (verbod); yaitu kewajiban masyarakat untuk tidak
melakukan sesuatu.
(c) Pembebasan/Dispensasi (vrijfstelling); yaitu pembolehan khusus
untuk tidak melakukan sesuatu yang secara umum diharuskan.
(d) Izin (toestemming); yaitu pembolehan (perkenan) atau pengecualian
khusus untuk melakukan sesuatu yang secara umum dilarang.
Muatan norma hukum yang mengatur perilaku ini dapat dilihat dari
dua sisi: Pertama, dilihat dari orang-orang yang diatur perilakunya, pada
tataran ini norma bersifat umum dan individual. Kedua, dilihat dari perilaku
yang diaturnya, pada tataran ini norma bersifat abstrak dan konkrit.
Dengan demikian muatan norma hukum yang sifatnya umum dan abstrak
dirumuskan dalam undang-undang dan norma hukum yang sifatnya
konkrit dan individual dimuat dalam Keputusan Tata Usaha Negara.
Selanjutnya menurut Hart sebagaimana dikutip Bruggink disamping norma
perilaku terdapat sekelompok norma yang menentukan sesuatu

25
berkenaan dengan kaidah perilaku itu sendiri yang disebut dengan meta
norma, yaitu:13
a) Norma Pengakuan (Rules of Recognition); yaitu norma yang
menetapkan norma perilaku mana yang di dalam suatu masyarakat
hukum tertentu harus dipenuhi.
b) Norma Perubahan (Rules of Change); yaitu norma yang menetapkan
bagaimana sesuatu norma perilaku dapat diubah.
c) Norma Kewenangan (Rules of Adjudication); yaitu norma yang
menetapkan oleh siapa dan dengan melalui prosedur yang mana
norma perilaku ditetapkan dan bagaimana suatu kaidah perilaku harus
diterapkan jika dalam suatu kejadian tertentu terdapat ketidakjelasan.
Norma hukum berhubungan dengan asas-asas hukum, hubungan
tersebut terletak dalam proses pembentukan norma hukum, sebab asas-
asas hukum sebagai ketentuan moral mempengaruhi pembentukan
hukum, jadi norma hukum bertumpu pada asas hukum. Mengenai asas
hukum ada perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan hukum, pendapat
pertama menyatakan bahwa asas hukum merupakan bagian dari sistem
hukum. Jadi sebagaimana halnya norma hukum maka asas hukum
mengikat masyarakat, pendapat kedua menyatakan asas hukum tidak
merupakan bagian dari sistem hukum, karenanya tidak mengikat
masyarakat. Terlepas dari pandangan mana yang dianut, tidak dibahas
lebih lanjut dalam buku ini, sebab kedua pendapat tersebut baik pendapat
pertama maupun kedua, sama-sama merupakan bidang kajian dari
penelitian ilmu hukum normatif.
Penelitian ilmu hukum normatif sejak lama telah digunakan oleh
ilmuwan hukum untuk mengkaji masalah-masalah hukum. Penelitian ilmu
hukum normatif meliputi pengkajian mengenai:
(a) Asas-asas hukum-,
(b) Sistematika hukum;
(c) Taraf sinkronisasi hukum;

13
Bernard Arief Sidharta, Op cit. h. 102.

26
(d) Perbandingan hukum;
(e) Sejarah hukum.
Penelitian berupa inventarisasi perundang-undangan yang berlaku,
berupaya mencari asas-asas atau dasar falsafah dari perundang-
undangan tersebut, atau penelitian yang berupa usaha penemuan hukum
yang sesuai dengan suatu kasus tertentu.

2. Ilmu Hukum Empiris


Ilmu hukum dalam penerapannya tidak hanya berdiri sendiri,
terdapat juga bidang ilmu lain yang memiliki hubungan erat dengan Ilmu
hukum. Kendati kesemuanya memiliki objek perhatiannya sendiri, terdapat
hubungan tertentu dengan ilmu hukum sehingga membuat materi hukum
lebih luas dan beragam. Adapun berbagai bidang ilmu tersebut memiliki
keterkaitan dengan ilmu hukum sehingga timbul istilah-istilah baru seperti
sejarah hukum, psikologi hukum, sosiologi hukum, antropologi hukum dan
sebagainya. Pada materi ini akan dibahas mengenai Ilmu Hukum Epiris,
yakti bidang-bidang hukum yang dibentuk terhubung dengan bidang ilmu
yang lain.

1. Sosiologi Hukum
Hukum berhubungan erat dengan masyarakat, sosiologi adalah
merupakan ilmu yang membahas mengenai kemasyarakatan. Sosiologi
Hukum mengkaji hukum sebagai hubungan antar manusia, mengenai
hukum dengan masyarakat. Masyarakat merupakan sesuatu yang sangat
mempengaruhi perkembangan hukum, kehidupan masyarakat yang
semakin kompleks membuat hukum harus menyesuaikan diri dengan
perkembangan zaman. Nyatanya hukm dan masyarakat memiliki hubunga
yang sangan erat, bagaimana hukum mempengaruhi masyarakat ataupun
sebaliknya, menjadikan sosiologi hukum sebagai bidang ilmu yang penting
dan menari untuk dipelajari.

27
2. Antropologi hukum
Antropologi hukum berkaitan dengan kebudayaan, berbeda dengan
sosiologi hukum yang berkaitan dengan perkembangan hukum dengan
masyarakat di era modern, antropologi hukum lebih memfokuskan diri
mengenai hukum yang berkembang melalui kebudayaan dalam lingkup
masyarakat tradisional.
3. Sejarah Hukum
Berkaitan dengan mempelajari hukum dalam aspek sejarahnya,
mempelajari bagaimana perkembangan hukum dari masa ke masa, serta
melakukan perbandingan dengan penerapan hukum pada masa lalu
dengan masa sekarang. Sejarah hukum menjadi penting untuk dipelajari
berkaitan dengan pemilihan sistem ataupun aturan hukum apa yang
efektif untuk diterapkan di dalam masyarakat pada saat ini. Karena melalui
sejarah, kita dapat mengetahui dan mengkaji aturan hukum seperti apa
yang efektif diterapkan ataupun belajar dari kesalahan-kesalahan pada
waktu yang lampau.
4. Psikologi Hukum
Seperti yang kita ketahui, psikologi merupakan bidang ilmu yang
berhubungan dengan kejiwaan (Ilmu jiwa). Lalu apa hubungannya dengan
ilmu hukum ? Psikologi Hukum memusatkan perhatian pada individu.
Bagaimana seorang berperilaku, karakter seseorang, cara berpikir,
tingkah laku manusia dan sebagainya sangat membantu dalam
merumuskan aturan hukum yang sesuai dan tepat untuk diterapkan.
Bagaimanapun juga, individu atau orang perseorangan adalah bagian
terkecil dalam masyarakat yang secara spesifik terlibat langsung dengan
hukum.
5. Perbandingan Hukum
Perbandingan Hukum merupakan penggunaan metode
perbandingan terhadap hukum. Dalam tujuan mencari produk hukum yang
sesuai, ataupun mengkaji produk hukum yang sedang berlaku apakah
pelaksanaannya baik atau tidak, salah satu metode yang digunakan

28
adalah dengan Perbandingan Hukum. Perbandingan hukum berusaha
menbandingkan produk hukum baik dari masa yang lampau dengan
sekarang, ataupun dari wilayah-wilayah tertentu. Dengan
membandingankan produk hukum tersebut dapat diketahui produk hukum
mana yang baik penerapannya, ataupun dalam memilih produk hukum
yang sesuai.

6. Lapisan Ilmu Hukum


Ilmu hukum dari segi segi objek dapat dibedakan atas ilmu hukum
dalam arti sempit, yang dikenal dengan ilmu hukum dogmatic (ilmu hukum
normative) dan ilmu hukum dalam arti luas, dalam arti luas ilmu hukum
dapat ditelaah dari sudut pandangan sifat pandang ilmu maupun dari
sudut pandangan tentang lapisan ilmu hukum seperti yang dilakukan oleh
J. Gijssels dan Mark van Hoecke.
Dari sudut pandang ilmu dibedakan pandangan positivism dan
normative. Dari sudut pandang ini dibedahkan menjadi dua yaitu ilmu
hukum normatif dan empiris. Sifat keilmuan dapat dilihat dari tiga aspek
yaitu; proses, produk dan produsen (ilmuwan). Adapun pembagian dari
jenis ilmu hukum antara lain :
1. Filsafat Hukum
Filsafat Hukum adalah filsafat atau bagian dari filsafat yang
mengarahkan refleksinya terhadap ukum atau gejala, sebagai mana di
kemukakan J. Gegssels Hukum adalah filsafat umum yang diterapkan
pada hukum dan gejala hukum.
2. Teori Hukum
Teori Hukum dalam lingkungan berbahasa Inggris disebut dengan
jurisprudence atau legal Theory. Teori hukum merupakan ilmu eksplanasi
hukum yang sifatnya interdisipliner. Eksplanasi dalam teori hukum sifatnya
eksplanasi analisis sedangkan dalam dogmatik hukum merupakan
eksplanasi teknik yuridis dan dalam bidang filsafat sebagai eksplanasi
reflektif.

29
3. Dogmatik Hukum
Dogmatik Hukum merupakan ilmu hukum dalam arti sempit titik
fokusnya adalah hukum positif. D.H.M Meuwissen memberikan batasan
pengertian dogmatik hukum sebagai memaparkan, menganalisis,
mengistematisasi dan menginterprestasi hukum yang berlaku atau hukum
positif.
4. Praktek Hukum
Menerapkan hukum berarti memberlakukan peraturan yang sifatnya
umum ke dalam suatu kasusu yang sifatnya konkret. Roscue Pound
menjelaskan langkah penerapan hukum menjadi tiga bagian , yaitu :
a. menemukan hukum, artinya menetapkan pilihan di antara sekian
banyak hukum yang sesuai dengan perkara yang akan diperiksa oleh
hakim.
b. menafsirkan kaedah hukum dari hukum yang telah di pilih. Sesuai
dengan makna ketika kaidah itu dibentuk.
c. menerapkan kaedah yang telah ditemukan dan ditafsirkan kepada
perkara yang akan diputuskan oleh hakim.
Menurut Philipus M Hadjon, dogmatik hukum (ilmu hukum positif)
adalah ilmu hukum praktis. Fungsi ilmu praktis adalah problem solving.
Dengan demikian, dogmatik hukum sebagai ilmu hukum praktis tujuannya
adalah legal problem solving. Untuk tujuan tersebut dibutuhkan ars, yang
merupakan ketrampilan ilmiah. Ars itu dibutuhkan para yuris untuk
menyusun legal opinion sebagai output dari langkah legal problem solving.
Ars yang dimaksud adalah legal reasoning atau legal argumentation, yang
hakekatnya adalah giving reason.14 Giving reason dapat dilakukan dengan
melalui tahap pembentukan hukum positif atau penerapan hukum positif.
Pada pembentukan hukum pada dasarnya dilakukan apabila norma
hukum positif belum ada. Pada penerapan hukum dilakukan apabila
noema hukum positif sudah ada untuk diterapkan pada suatu kasus yang

14
Ibid, h. 12.

30
ada tetapi masih memerlukan interpretasi, kekosongan hukum, antinomi,
norma kabur.

7. Penutup
Paparan materi perkuliahan diatas pokok-pokoknya akan
dikemukakan kembali dalam rangkuman untuk memudahkan mahasiswa
memahami materi secara komprehensif. Kemudian untuk mengetahui
capaian pembelajaran, maka akan diberikan latihan yang harus dikerjakan
oleh mahasiswa.

Rangkuman
Ilmu hukum sebagai ilmu sui generis, artinya ilmu hukum
merupakan ilmu jenis sendiri karena ilmu hukum dengan kualitas ilmiah
sulit dikelompokkan dalam salah satu cabang pohon ilmu. Sifat khas ilmu
hukum sebagai ilmu sui generis, yaitu karakter normatif ilmu hukum,
terminologi ilmu hukum, jenis ilmu hukum, dan lapisan ilmu hukum.
Kekhasan dalam ilmu hukum itu terletak pada karakternya yang
bersifat normatif. Sulit untuk mengkategorikan ilmu hukum ke dalam
kelompok ilmu yang mana, sehingga lebih tepat jika ilmu hukum adalah
ilmu yang sui generis. Dengan karakternya yang bersifat normatif, maka
ilmu hukum merupakan ilmu yang mempelajari norma.
Dalam terminologi ilmu hukum maka kita akan menelusuri kembali
asal kata dasi suatu istilah. Dalam bahasa Belanda, Jerman dan bahasa
Inggris digunakan istilah berikut Rechtswetenschap (Belanda),
Rechtstheorie (Belanda), Jurisprudence (Inggris), Legal science (Inggris),
Jurisprudenz (Jerman).
Apabila ditinjau dari segi objeknya dikenal ada dua jenis ilmu
hukum yaitu Ilmu Hukum Normatif dan Ilmu Hukum Empiris. Dalam ilmu
hukum normatif, objek kajiannya adalah norma. Dengan demikian, norma
menjadi fokus kajian dari ilmu normatif. Dalam penelitian terhadap norma,
baik norma tertulis maupun tidak tertulis. Hukum dapat diartikan sebagai

31
norma tertulis yang dibuat secara resmi dan diundangkan oleh pemerintah
dari suatu masyarakat. Disamping hukum yang tertulis tersebut terdapat
norma di dalam masyarakat yang tidak tertulis tetapi secara efektif
mengatur perilaku para anggota masyarakat.
Adapun pembagian dari lapisan ilmu hukum yaitu filsafat hukum,
teori hukum, dogmatik hukum dan praktek hukum.

Latihan
Diskusikan dalam kelompok dan buatlah jawaban atas pertanyaan
di bawah ini:
1. Apa yang dimakksud dengan ilmu hukum adalah ilmu yang sui generis
? Jelaskan.
2. Di dalam pengelompokan ilmu, ilmu hukum termasuk dalam kelompok
bidang ilmu apa ? Jelaskan berdasarkan pendapat ahli hukumnya !
3. Dalam kepustakaan Indonesia, Ilmu Hukum sering disalah artinya
dengan Rechtswetenschap (Belanda), Rechtstheorie (Belanda),
Jurisprudence (Inggris), Legal science (Inggris) dan Jurisprudenz.
Jelaskan perbedaan istilah-istilah itu !
4. Berikan contoh kasus penelitian Sociological jurisprudence dan Socio
legal studies !
5. Jelaskan mengenai lapisan ilmu hukum serta hubungan antara lapisan
itu dengan menyebut karakteristiknya !
6. Apakah ars dapat diartikan sebagai seni ? legal argumentation pada
dasarnya merupakan suatu ars. Jelaskan arti dari kalimat itu !

Bahan Pustaka
1. Bernard Arief Sidharta, Refleksi Tentang Hukum, Refika
Aditama, Bandung, 2008.
2. Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta,
2005.

32
3. Philipus M. Hadjon, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi
Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
4. Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.

PERTEMUAN II : TUTORIAL KE-1


1. Pendahuluan
Pada kegiatan tutorial 1, mahasiswa bediskusi didalam kelompok
atas tugas discussion task yang mengilustrasikan materi perkuliahan
kesatu terutama mengenai ilmu hukum sebagai ilmu sui generis, karakter
normatif ilmu hukum, terminologi ilmu hukum, jenis dan lapisan ilmu
hukum. Dengan demikian diharapkan mahasiswa dengan rasa tanggung
jawab, jujur dan demokratis mampu:
a. Menguraikan pengertian dan maksud dari sui generis, karakter normatif
ilmu hukum.
b. Membedakan pandangan dari para ahli dalam memasukkan ilmu
hukum ke dalam suatu kelompok bidang ilmu.

2. Tugas: Discussion Task – Study Task


Discussion Task
1. Diskusikan perbedaan pendapat diantara para ahli dalam
memasukkan ilmu hukum ke dalam suatu kelompok bidang ilmu.
2. Diskusikan tentang adanya keraguan yang disebabkan oleh sifat
normatif dari ilmu hukum tersebut bukanlah ilmu empiris.

Study Task
Apakah Ilmu Hukum dikatakan bersifat preskriptif dengan karakter
sui generis ?

33
3. Penutup
Mahasiswa menyusun Laporan Hasil Diskusi dan dikumpulkan di
akhir tutorial.
Bahan Pustaka: Lihat Bahan Pustaka Perkuliahan 1.

PERTEMUAN III : PERKULIAHAN KE-2


KAIDAH HUKUM DAN BAHASA HUKUM

1. Pendahuluan
Materi perkuliahan Kaidah Hukum dan Bahasa Hukum terdiri dari
pengertian kaidah hukum, pengertian bahasa hukum dan hubungan
antara kaidah hukum dengan bahasa hukum.
Capaian pembelajaran yang ingin diwujudkan dengan perkuliahan
kaidah hukum dan bahasa hukum ini adalah mahasiswa mampu
memahami dan menjelaskan pengertian dari kaidah hukum dan bahasa
hukum serta mampu menjelaskan hubungan antara kaidah hukum dan
bahasa hukum.
Materi perkuliahan kaidah hukum dan bahasa hukum ini sangat
penting dipahami untuk memudahkan mahasiswa dalam menyelesaikan
tugas-tugas tutorial dalam pertemuan keempat. Selain itu, materi ini
memberikan dasar-dasar bagi bahan kajian kaidah hukum dan bahasa
hukum dalam kaitannya dengan logika hukum yang akan dibahas pada
pokok bahasan berikutnya.

2. Pengertian Kaidah Hukum


Kaidah hukum adalah peraturan yang dibuat atau yang dipositifkan
secara resmi oleh penguasa masyarakat atau penguasa negara, mengikat
setiap orang dan berlakunya dapat dipaksakan oleh aparat masyarakat
atau aparat negara, sehingga berlakunya kaidah hukum dapat
dipertahankan. Kaidah hukum ditujukan kepada sikap lahir manusia atau

34
perbuatan nyata yang dilakukan manusia. Kaidah hukum tidak
mempersoalkan apakah sikap batin seseorang itu baik atau buruk, yang
diperhatikannya adalah bagaimana perbuatan lahiriyah orang itu. 15 Coba
kita pikirkan contoh berikut, ada seorang pria menikahi seorang wanita
dengan sah sesuai dengan aturan agama dan negara tetapi sebenarnya
didalam hatinya ada niat buruk untuk menguras harta kekayaan si pihak
wanita dan lain-lain. Dari contoh tersebut secara lahiriyah sesuai dengan
kaidah hukum karena dia menikahi dengan jalur tidak melanggar hukum
tapi sebenarnya batin pria tersebut adalah buruk.
Adanya suatu kaidah hukum maka hukum dapat dipandang
sebagai kaidah. Hukum sebagai kaidah adalah sebagai pedoman atau
patokan sikap tindak atau perikelaku yang baik atau diharapkan. Pada
konteks ini masyarakat memandang bahwa hukum merupakan patokan-
patokan atau pedoman-pedoman yang harus mereka lakukan atau tidak
boleh mereka lakukan. Pada makna ini aturan-aturan kepala adat atau
tetua kampung yang harus mereka patuhi bisa dianggap sebagai hukum,
meskipun tidak dalam bentuk tertulis. Kebiasaan yang sudah lumrah
dipatuhi dalam suatu masyarakat pun meskipun tidak secara resmi
dituliskan, namun selama ia diikuti dan dipatuhi dan apabila yang
mencoba melanggarnya akan mendapat sanksi, maka kebiasaan
masyarakat ini pun dianggap sebagai hukum.
Kaidah hukum merupakan segala peraturan yang ada yang telah
dibuat secara resmi oleh pemegang kekuasaan , yang sifatnya mengikat
setiap orang dan pemberlakuannya merupakan paksaan yang harus
ditaati dan apabila telah terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi
tertentu.Kaidah hukum lahir dan hidup di lingkungan manusia sejak
manusia tersebut dilahirkan, oleh karenanya kaidah hukum juga disebut
dengan sikap lahir seseorang.

15
Onesimus, Pengertian Kaidah Hukum,
http://ones88.blogspot.co.id/2008/02/pengertian-kaidah-hukum.html, 12 November 2016.

35
Kaidah hukum tidak mempersoalkan apakah sikap batin seseorang
itu baik atau buruk, yang diperhatikannya adalah bagaimana perbuatan
lahiriyah orang itu. Sebagai contoh seseorang pria menikah dengan
wanita sah dimata hukum dan agamanya akan tetapi terdapat niat buruk
dari pria tersebut untik menguras harta wanitanya. Coba cermatilah
sekilas seseorang tersebut secara lahiriyah sudah memenuhi kaidah
hukum akan tetapi batin pria terseput sangat buruk. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa kaidah hukum merupakan suatu pedoman atau
patokan sebagai perilaku lahiriyah dan batiniyah yang baik.
Kebiasaan yang sudah biasa dilakukan meskipun tidak tertulis akan
dipatuhi masyarakat dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi.
Menurut sifatnya kaidah hukum dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Hukum yang imperatif, maksudnya kaidah hukum itu bersifat a
priori harus ditaati, bersifat mengikat dan memaksa.
b. Hukum yang fakultatif maksudnya ialah hukum itu tidak secara
apriori mengikat. Kaidah fakultatif bersifat sebagai pelengkap.

3. Pengertian Bahasa Hukum


Bahasa merupakan salah satu alat penting bagi manusia yaitu
“sebagai alat komunikasi”. Melalui bahasa manusia mampu
mengembangkan penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi bagi
kehidupan manusia. Bahasa dapat didefinisikan sebagai rangkaian simbol
yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan gagasan, pendapat
serta perasaan orang kepada orang lainnya. Untuk dapat
mengkomunikasikan gagasan, pendapat atau perasaan maka orang harus
mempunyai bahasa yang sama.
Dengan memperhatikan konsep hukum yang khas dengan
sendirinya bahasa dalam hukum mempunyai kekhasan. Kekhasan bahasa
dalam hukum terletak dalam fungsinya yang normatif. Dalam bahasan
normatif dirumuskan norma-norma yang berisi : perintah, larangan, izin,
dan dispensasi.

36
Perintah (gebod) adalah kewajiban umum untuk melakukan
sesuatu. Contoh : ”Agar bisa mengikuti ujian, mahasiswa harus hadir
dalam kuliah 75 %”. Larangan (verbod) adalah kewajiban umum untuk
tidak melakukan sesuatu. Misalnya, ”Dilarang membangun pada jalur
hijau”.16
Dispensasi (pembebasan, vrijstelling) adalah pembolehan (verlof)
khusus untuk tidak melakukan sesuatu yang secara umum diharuskan.
Misalnya, mahasiswa diberikan dispensasi karena ditugaskan oleh
Fakultas dalam upacara wisuda”.
Izin (toestemming, permisi) adalah pembolehan khusus untuk
melakukan sesuatu yang secara umum dilarang. Misalnya, warga
masyarakat diberikan izin mengemudi, izin mendirikan bangunan.
Jadi, bahasa mempunyai arti yang penting dalam penalaran karena
tanpa bahasa orang tidak dapat melakukan penalaran.
Karakteristik bahasa hukum Indonesia terletak pada istilah-istilah,
komposisi serta gaya bahasanya yang khusus dan kandungan artinya
yang khusus. Bahasa hukum yang kita pergunakan sekarang masih
bergaya orde lama, masih banyak yang kurang sempurna semantik kata,
bentuk dan komposisi kalimatnya, masih terdapat istilah-istilah yang tidak
tetap dan kurang jelas.17 Hal mana dikarenakan para sarjana hukum di
masa yang lalu, tidak pernah mendapatkan pelajaran bahasa hukum yang
khusus dan tidak pula memperhatikan dan mempelajari syarat-syarat dan
kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Kelemahan ini dikarenakan bahasa hukum yang kita pakai
dipengaruhi istilah-istilah yang merupakan terjemahan dari bahasa hukum
Belanda yang dibuat oleh para sarjana hukum Belanda yang lebih
menguasai tata bahasa belanda daripada tata bahasa Indonesia.

16
I Dewa Gede Atmadja, Pengantar Penalaran Hukum, dan Argumentasi Hukum
(Legal Reasoning And Legal Argumentation an Introduction), Bali Aga, Bali, Agustus,
2009, h. 25.
17
Rose, Materi Tentang Hukum, http://rosepasca.blogspot.co.id/2012/09/bahasa-
hukum.html, tanggal 6 November 2016.

37
Selanjutnya harus kita akui dibanding dengan bahasa asing yang kaya
dengan istilah, maka bahasa kita masih miskin dalam istilah. Sehingga
dalam menterjemahkan istilah Belanda para sarjana hukum membuat
istilah sendiri, hal ini menyebabkan seringkali terdapat pemakaian istilah
yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya. Adakalanya dua atau lebih
istilah hukum asing kita terjemahkan hanya dengan satu istilah atau satu
istilah kita terjemahkan menjadi beberapa istilah hukum Indonesia. Untuk
mengatas kekeliruan pengertin maka seringkali kita dapati dalam
kepustakaan hukum penulisnya mencatumkan bahasa aslinya didalam
tanda kurung.
Terjemahan itu kadang-kadang menimbulkan pertanyaan bagi
orang awam, misalnya istilah didalam hukum adat disebut kawin lari,
sebagai terjemahan dari vlucthuwelijk dan wegloophuwelijk. Tentu orang
awam berkata mana ada kawin lari. Yang dimaksud kawin lari adalah
berlarian untuk kawin yang dilakukan oleh bujang gadis seperti berlaku di
Batak, Lampung dan Bali. Kalau di Makassar dikenal dengan silariang.
Contoh lain didalam istilah hukum perdata, dalam istilah hukum perdata
Belanda ada dikenal verbindtenis ada yang menterjemahkan perikatan
ada yang menterjemahkan perjanjian. Ada juga istilah hukum Belanda
overeenkomst ada yang menterjemahkan perjanjanjian ada yang
menterjemahkan persetujuan, hal ini tentu akan membingungkan orang
awam dan bagi mereka yang baru belajar hukum. Begitupula dalam
hukum pidana terdapat istilah hukum Belanda yang disebut straafbaarfeit,
ada yang menterjemahkan peristiwa pidana ada yang menterjemahkan
perbuatan pidana dan ada pula yang menterjemahkan tindak pidana,
sedangkan maksud sebenarnya adalah peristiwa yang dapat dihukum.
Kemudian ada istilah yang telah menadarah daging di kalangan hukum
ialah barangsiapa terjemahan dari kata Hij die, yang dimaksud tentunya
bukan barang kepunyaan siapa, tetapi dia yang (berbuat) atau siapapun
yang berbuat.

38
3.1. Kegunaan Bahasa Hukum
Mempelajari asas-asas dan kaidah-kaidah bahasa Indonesia bagi
kalangan hukum bertujuan untuk mengatasi kekurangan sempurnaan
dalam penggunaan bahasa hukum dalam berbicara atau mengumakakan
pendapat tentang hukum, di dalam membuat karangan ilmiah tentang
hukum, aturan hukum, surat pengaduan, tuduhan, kesaksian, tuntutan,
pembelaan keputasaan atau untuk membuat surat-surat perjanjian, akta-
akta, surat gugatan, memori banding, kasasi, putusan, dan sebagainya.
Disamping itu harus diperhatikan dan diingat bahwa bahasa hukum itu
memiliki sifat-sifat yang khusus yang bagi orang awam tidak mudah
dipahami. Kekhususan itu ada kalanya menyimpang dari ketentuan-
ketentuan yang umum dalam bahasa Indonesia, misalnya sebagaimana
dikemukakan Soerjono Seokanto, apabila ada kalimat yang berbunyi
“Badu memukul Tatang, maka menurut ketentuan ilmu bahasa “Badu”
Badu adalah subyek, memukul adalah predikat dan “Tatang” adalah obyek
dari kalimat tersebut. Tetapi didalam kalimat ilmu hukum “tatang itu tidak
mungkin menjadi obyek, tetapi ia adalah subyek (hukum) oleh karena ia
adalah manusia. Di dalam ilmu hukum hanyalah benda atau yang bukan
subyek hukum yang menjadi obyek hukum”.
Kekhususan lain dari bahasa hukum nampak pada kata-kata atau
istilah-istilah hukumnya, kemudian arti dan tafsirnya yang dapat dilihat dari
berbagai segi pandangan hukum. Mengartikan dan mnafsirkan istilah-
istilah dan susunan kalimat dalam bentuk kaidah-kaidah atau dalam
bentuk analisa hukum, dasar dan kedudukann hukumnyua dari apa yang
dikemukakan itu merupakan seni hukum tersendiri.
Adapun pengertian mendasar dalam bahasa hukum yakni antara
lain :
1. Semantik Hukum
Semantik Hukum adalah ilmu pengatahuan yang menyelidiki makna
atau arti kata-kata hukum, perhubungan dan perubahan-perubahan arti
kata-kata itu dari zaman ke zaman menurut waktu tempat dan keadaan.

39
Misalnya istilah hukum perdata yang sekarang kita pakai sebagai
terjemahan dari istilah hukum Belanda privaatrecht berasal dari kata Arab
(Islam) yaitu hukum (hukum) dan istilah Jawa (Hindu) yaitu pradata.
Jika kita sekrang mengartikan perkara perdata adalah perkara yang
mengatur hubungan hukum antar orang dengan orang lain, baik orang
dalam arti hukum manusia maupun dalam arti badan (hukum), maka lain
halnya dizaman kerajaan Mataram, yang pada zaman itu disebut perkara
pradata pada umumnya perkara yang membahayakan mahkota, yang
sifatnya mengganggu keamanan dan ketertiban negara. Perkara demikian
menjadi urusan peradilan raja, yang sekarang merupakan hukum publik ,
sedangkan hukum privat ketika itu adalah perkara padu dan tidak menjadi
urusan raja melainkan urusan rakyat di daerah-daerah dengan peradilan
adatnya.
Selama ini susunan perundang-undangan atau peraturan-peraturan
yang dibuat pada umumnya terdiri dari pertimbangan (konsideran), pasal-
pasal aturannya, dan penjelesannya. Dengan sistem demikian,
pembentuk undang-undang berusaha menguraikan alasan-alasan,
maksud dan tujuan peraturan itu, hal yang diatur dan dibagi kedalam
berbagai bab dan pasal serta ayat-ayatnya, kemudian dikemukakan
penjelasan dari setiap pasal yang memerlukan penjelasan.

2. Kaidah Hukum
Kaidah Hukum mengandung kata-kata perintah dan larangan, apa
yang mesti dilakukan dan apa yang mesti tidak dilakukan, tidak sedikit
yang mengandung paksaan. Kaidah hukum tidak hanya berbentuk kaidah
perundangan yang berwujud bahasa tulisan, tetapi juga berwujud bahasa
lisan, bahasa yang tidak tertulis dalam bentuk perundangan , seperti
terdapat dalam hukum adat dan hukum kebiasaan.
Adakalanya apa yang tersirat dalam hukum adat itu tersirat dalam
perundangan. Misalnya di dalam bagian umum IV penjelasan UUD 1945,
yang memakai istilah semangat. Istilah ini adalah istilah hukum adat yang

40
menujukkan kepribadian bangsa Indonesia yang semangatnya lebih
menujukkan asa kekeluargaan daripada asas perorangan yang lebih
mengutamakan kepentingan sendiri.

3. Konstruksi Hukum
Konstruksi Hukum (rechtsconstructie) yang merupakan alat-alat
yang dipakai untuk menyusun bahan hukum yang dilakukan secara
sistematis dalam bentuk bahasa dan istilah yang baik. Menyusun yang
dimaksud adalah menyatukan apa yang termasuk dalam satu bidang yang
sama, satu pengertian yang sama.
Istilah pencurian misalnya adalah suatu konstruksi hukum, yaitu
suatu pengertian tentang semua perbuatan mengambil barang dengan
maksud untuk dimiliki secara melawan hukum (Pasal 362 KUHP). Jadi
apakah perbuatan itu disebut maling, nyolong, nyopet, apakah ia
mengambil benda tidak berwujud (listrik) atau berwujud, kesemuanya
apabila dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, maka
perbuatan itu disebut pencurian.

4. Fiksi Hukum
Fiksi Hukum adalah sesuatu yang khayal yang digunakan dalam
ilmu hukum dalam bentuk kata-kata, istilah-istilah yang berdiri sendiri atau
dalam bentuk kalimat yang bermaksud untuk memberikan suatu
pengertian hukum. Bentuk fiksi hukum banyak dipakai dalam hukum adat
melalui peribahasa sedangkan dalam hukum perundangan memakai
bentuk kalimat pasal demi pasal.
Di dalam hukum adat Banetn misalnya dikatakan banteng anut ing
sapi sapi jantan mengikuti sapi betina, kiasan hukumnya dikarenakan
suami ikut menatap di tempat isteri, maka kedudukan suami lebih banyak
dipengaruhi oleh hukum dipihak isteri, sehingga dalam hukum kewarisan
rumah diwariskan kepada anak wanita.

41
Didalam hukum perudangangan misalnya dipakai istilah badan
hukum (rechtperson) yang dikiaskan sebagai orang bukan manusia,
maksudnya suatu badan pendukung hak dan kewajiban yang bukan
manusia yang merupakan subjek hukum, misalnya koperasi, yayasan, PT,
dll. Sehingga didalam ilmu hukum terdapat pengertian orang (person)
yang asli yaitu manusia pribadi dan manusia semu yaitu badan hukum.
Begitupula dengan istilah barang tetap seperti bidang tanah dan barang
tidak tetap seperti perhiasan.

5. Pembentukan Hukum
Pada masyarakat di masa lampau yang belum pesat kemajuan
hidupnya, seperti pada masyarakat adat yang tradisional di masa sebelum
kemerdekaan, pembentukan hukum lebih banyak mengandung hal-hal
yang bersifat seni , menggunakan kata-kata yang indah dalam bentuk
puisi atau prosa, lukisan atau lambang , pepatah atau peribahasa. Pada
masyarakat modern cara-cara lama itu sudah tidak sesuai lagi dengan
keadaan masyarakatnya.
Bukan saja karena kebutuhan masyarakat modern sudah semakin
luas, tetapi juga manusia sekarang nampaknya sduah banyak yang tidak
bisa lagi diberikan pengertian dengan kata sindiran atau kata kiasan yang
abstrak.
Masyarakat yang berkripadian Indonesia seperti halnya pada
masyarakat hukum adat masih mengenal, menghormati dan
menggunakan bahasa hukum adat dan seni hukum adatnya. Di kalangan
orang-orang tua, para pemuka masyarakat adat dan musyawarah kerabat,
pepatah dan peribahasa hukum masih sering digunakan.
Misalnya peribahasa melayu ; Berstaunya air itu karena ada
penyalur, bersatunya kata karena sepakat. Kiasan hukumnya : Di dalam
musyawarah biasa terjadi perbedaaan pendapat, namun dengan adanya
pipminan rapat yang bijaksana dan rasa kebersamaan antara peserta,
saling pengertian menimbulkan kesepakatan.

42
Didalam peribahasa Bugis dikatakan : Tidak ada orang yang akan
menghujani garamnya. Artinya tidak ada orang yang akan menceritakan
keberukannya. Kisaran hukumnya : di dalam pemeriksaan perkara di
muka pengadilan tidak semua orang akan mengemukakan kesalahannya.
Kemudian dalam bentuk bahasa lambang, misalnya dalam istila
Lampung dikenal Mebali yang artinya memberi tanda dengan ranting kayu
ytang diikat dengan rotan, dengan belahan bambu atau sabuk enau dan
sebagainya, pada batang pohon tertentu di hutan. Maksudnya
menujukkan bahwa bidang tanah hutan di sekitar pohon itu telah dikuasai
seseorang yang akan membukanya menjadi tanah peladangan.
Peraturan-peraturan hukum modern yang dibentuk oleh pembentuk
undang-undang atau keputusan-keputusan hakim yang dibentuk dibuat
oleh para hakim di muka pengadilan atau juga dalam lembaga-lembaga
resmi atau swasta dapat dilihat dari segi politik dan teknik hukumnya.
Politik hukum yang dimaksud adalah kehendak yang tertera dalam
kalimat-kalimat yang menetapkan tujuan dan isi peraturan itu. Sedangkan
teknik hukum yang dimaksud adalah cara perumusan kaidah hukum
dengan menempatkan kata-kata dan kalimat-kalimat yang dibuat secara
sederhana sedemikian rupa sehingga maksud dari pembentukan hukum
itu jelas dapat diketahui didalamnya.

5. Penafsiran Hukum
Penafsiran bertujuan untuk mencari dan menemukan kehendak
pembentuk undang-undang yang telah dinyatakan oleh pembuat undang-
undang itu secara kurang jelas.
a. Penafsiran Autentik
Jenis ini adalah penafsiran yang pasti terhadap arti kata-kata itu
sebagaimana yang diberikan oleh pembentuk UU, atau penafsiran ini
sudah ada dalam penjelasan pasal demi pasal, misalnya Pasal 98 KUHP
: arti waktu ”malam” berarti waktu antara matahari terbenam dan matahari
terbit; Pasal 101 KUHP: “ternak” berarti hewan yang berkuku satu, hewan

43
memamah biak dan babi (periksa KUHP Buku I Titel IX). Dikatakan
penafsiran otentik karena tertulis secara resmi dalam undang-undang
artinya berasal dari pembentuk UU itu sendiri, bukan dari sudut pelaksana
hukum yakni hakim. Dalam penafsiran bermakna hakim kebebasannya
dibatasi. Hakim tidak boleh memberikan arti diluar dari pengertian
autentik. Sedangkan diluar KUHP penafsiran resmi dapat dilihat dari
ketentuan-ketentuan umum dan penejelasan pasal demi pasal.

b. Penafsiran Tata Bahasa


Hakim harus memperhatikan arti yang lazim suatu perkataan di
dalam penggunaan bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat yang
bersangkutan, atau hubungan antara suatu perkataan dengan perkataan
lainnya. Bekerjanya penafsiran ini ialah dalam hal untuk mencari
pengertian yang sebenarnya dari suatu rumusan norma/unsurnya.
Sebagai contoh dapat dikemukakan hal yang berikut : Suatu
peraturan perundangan melarang orang memarkir kendaraannya pada
suatu tempat tertentu. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apakah yang
dimaksudkan dengan istilah “kendaraan” itu. Orang lalu bertanya-tanya,
apakah yang dimaksudkan dengan perkataan “kendaraan” itu, Apakah
hanya kendaraan bermotor saja ataukah termasuk juga sepeda. Contoh
lain kata “dipercayakan” sebagaimana dirumuskan dalam dalam pasal 432
KUHP secara gramatikal diartikan dengan “diserahkan”, kata
“meninggalkan” dalam pasal 305 KUHP diartikan secara gramatikal
dengan “menelantarkan”.

c. Penafsiran Historis
Sejarah hukumnya, yang diselidiki maksudnya berdasarkan sejarah
terjadinya hukum tersebut. Sejarah terjadinya hukum dapat diselidiki dari
memori penjelasan, laporan-laporan perdebatan dalam DPR dan surat
menyurat antara Menteri dengan Komisi DPR yang bersangkutan,

44
misalnya rancangan UU, memori tanggapan pemerintah, notulen
rapa/sidang, pandangan-pandangan umum, dan lain-lain.
Sejarah undang-undangnya, yang diselidiki maksud pembentuk UU
pada waktu membuat UU itu, misalnya denda f 25.-, sekarang ditafsirkan
dengan uang Republik Indonesia sebab harga barang lebih mendekati
pada waktu KUHP.

d. Penafsiran Sosiologi
Penafsiran oleh hakim dengan memperhatikan keperluan yang ada
di dalam masyarakat, dengan catatan bahwa hakim harus menjaga jangan
sampai mereka mengambil alih tugas dan kewenangan badan legislatif.

4. Hubungan Antara Kaidah Hukum dan Bahasa Hukum


Kaidah hukum memiliki hubungan yang sangat erat dengan bahasa
hukum. Hubungan tersebut terletak pada bahasa hukum yang terdapat
dalam aturan hukum, seperti undang-undang, peraturan pemerintah,
peraturan daerah, bahkan kebijakan-kebijakan pemerintah. Bahasa
hukum tentunya memiliki kekhasan yang sangat melekat pada bunyi dari
suatu kaidah hukum dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam menyusun rancangan peraturan perundang-undangan
tersebut, bahasa hukum merupakan suatu hal yang utama karena bahasa
hukum harus dapat memberikan kejelasan dari setiap pasal yang
tercantum dalam aturan tersebut. Kejelasan ini akan menimbulkan
kepastian terhadap pengertian yang diberikan oleh aturan tersebut.
Dengan demikian, suatu aturan itu tidak menimbulkan banyak penafsiran.
Apalagi penafsiran yang jauh menyimpang dari yang dimaksudkan oleh
aturan tersebut. Sehingga dengan menggunakan bahasa hukum yang
baik maka suatu aturan akan dapat memberikan kepastian hukum
terhadap masyarakat.
Melalui pengertian atau proposisi yang benar maka aturan hukum
akan dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat. Proposisi adalah

45
suatu pernyataan yang terdiri dari satu atau lebih dari satu konsep atau
variabel (hubungan yang logis antara dua konsep).
Teori ilmiah adalah hipotesis yang telah teruji kebenarannya
secara empiris. Hukum adalah pernyataan yang menyatakan hubungan
sebab akibat antara dua variabel atau lebih.
Prinsip adalah pernyataan yang berlaku secara umum bagi
sekelompok gejala-gejala tertentu yang mampu menjelaskan kejadian
yang terjadi.
Asumsi adalah :
- pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat dibuktikan.
- pernyataan-pernyataan yang berperan sebagai titik tolak untuk
mempelajari suatu gejala atau hubungan diantara variabel.
Aksioma adalah suatu pernyataan yang sudah diterima sebagai
sesuatu hal yang dianggap benar atau berlaku. Keberlakuannya sudah
tidak diragukan lagi sehingga tidak perlu diuji lagi. Demikian juga halnya
“postulasi”. Pengertian istilah aksioma dengan postulasi pada dasarnya
“sama”. Istilah aksioma lebih mempunyai konotasi matematis (cenderung
lebih banyak digunakan pada studi ilmu eksakta) [dan digunakan biasanya
untuk pernyataan yang benar berdasarkan definisi]. Istilah postulasi
adalah lebih sering digunakan untuk pernyataan yang kebenaran atau
keberlakuannya telah dibuktikan secara empiris. Premis merupakan dasar
pendapat sebagai pangkal pembicaraan.
Menurut J.H.P.Bellefroid, asas adalah “aturan pokok (hoofdregel)
yang didapatkan dengan generalisasi daripada sejumlah aturan-aturan
hukum”. Menurut Satjipto Rahardjo, asas hukum adalah “unsur yang
penting dan pokok dari peraturan hukum. Asas hukum adalah jantungnya
peraturan hukum karena ia merupakan landasan yang paling luas bagi
lahirnya peraturan hukum atau ia adalah sebagai ratio legisnya peraturan
hukum”. Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa asas hukum
adalah “dasar-dasar umum yang terkandung dalam peraturan hukum,
dasar-dasar umum tersebut merupakan sesuatu yang mengandung nilai-

46
nilai etis”. Kita mengetahui bahwa aturan hukum adalah ketentuan konkret
tentang cara bersikap tindak dalam kehidupan masyarakat dan bernegara.
Hukum merupakan realitas dari asas hukum. Pantaslah jika diantara pakar
hukum ada yang mengidentikan asas hukum dengan jiwa dari norma
hukum. Dengan demikian pada akhirnya semua peraturan hukum harus
dapat dikembalikan pada asas hukumnya.
Teorem adalah suatu pernyataan yang dideduksikan dari sejumlah
aksioma atau postulasi. Kebenaran atau keberlakuan suatu teorem erat
kaitannya dengan kebenaran atau keberlakuan aksioma maupun postulasi
darimana teorem tersebut dideduksikan.
Untuk dapat berbuat lebih lanjut terhadap sesuatu, maka tindakan
“mengerti” merupakan langkah awal yang perlu dilakukan. Untuk
mengkomunikasikan lebih lanjut apa yang dimengerti tersebut digunakan
“bahasa”, digunakan “kata-kata”. Untuk dapat berpikir lebih lanjut secara
tepat diperlukan pengertian-pengertian yang tepat pula. Akal budi yang
memanfaatkan panca indra untuk menangkap gambaran tentang
sesuatulah yang menimbulkan pengertian. Jadi, pengertian adalah
tanggapan atau gambaran yang dibentuk oleh akal budi tentang
kenyataan yang dimengertinya melalui tangkapan pancaindra. Pengertian
disebut pula sebagai konsep. Untuk bisa mengkomunikasikan pengertian
yang diperolehnya secara lebih bermakna maka diperlukan alat pemikiran
lebih lanjut yaitu “pernyataan atau proposisi”.

5. Penutup
Paparan materi dikemukakan kembali dalam rangkuman untuk
memudahkan memahami secara komprehensif. Kemudian untuk
mengetahui capaian pembelajaran, maka akan diberikan latihan yang
harus dikerjakan oleh mahasiswa.
Rangkuman
Kaidah hukum merupakan segala peraturan yang ada yang telah
dibuat secara resmi oleh pemegang kekuasaan yang sifatnya memaksa

47
dan mengikat setiap orang dan pemberlakuannya. Menurut sifatnya
kaidah hukum dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Hukum yang imperatif, maksudnya kaidah hukum itu bersifat a
priori harus ditaati, bersifat mengikat dan memaksa.
b. Hukum yang fakultatif maksudnya ialah hukum itu tidak secara
apriori mengikat. Kaidah fakultatif bersifat sebagai pelengkap.
Bahasa Hukum adalah bahasa aturan dan peraturan yang
bertujuan untuk mewujudkan ketertiban dan keadilan, untuk
mempertahankan kepentingan umum dan kepentingan pribadi di dalam
masyarakat. Namun dikarenakan bahasa hukum adalah bagian dari
bahasa Indonesia yang modern, maka dalam penggunannya I aharus
tetap, terang, monosemantik, dan memenuhi syarat ektetika bahasa
Indonesia.
Hubungan antara kaidah hukum dengan bahasa hukum terletak
pada penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan, bahasa
hukum merupakan suatu hal yang utama karena bahasa hukum harus
dapat memberikan kejelasan dari setiap pasal yang tercantum dalam
aturan tersebut. Kejelasan ini akan menimbulkan kepastian terhadap
pengertian yang diberikan oleh aturan tersebut. Dengan demikian, suatu
aturan itu tidak menimbulkan banyak penafsiran. Apalagi penafsiran yang
jauh menyimpang dari yang dimaksudkan oleh aturan tersebut. Sehingga
dengan menggunakan bahasa hukum yang baik maka suatu aturan akan
dapat memberikan kepastian hukum terhadap masyarakat.

Latihan: jawablah pertanyaan di bawah ini:


1. Uraikan tentang kaidah hukum serta berikan satu buah contoh !
2. Uraikan tentang bahasa hukum serta berikan satu buah contoh !
3. Jelaskan hubungan antara kaidah hukum dan bahasa hukum !
4. Adakah pentingnya kita mempelajari kaidah hukum dan bahasa
hukum?

48
Bahan Pustaka
1. I Dewa Gede Atmadja, 2006, Penalaran Hukum (Legal
Reasoning), Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas
Hukum Universitas Udayana, Denpasar.
2. -------, 2009, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi
Hukum , Bali Age, Denpasar.
3. Hadjon, Philipus M, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi
Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
4. Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.

PERTEMUAN IV : TUTORIAL KE-2


KAIDAH HUKUM DAN BAHASA HUKUM

1. Pendahuluan
Tutorial ini merupakan pendalaman atas materi kaidah hukum dan
bahasa hukum serta hubungan antara kaidah hukum dengan bahasa
hukum. Setelah selesai tutorial ini, mahasiswa diharapkan dengan rasa
tanggung jawab, jujur dan demokratis mampu menjelaskan pengertian
dari kaidah hukum dan pengertian bahasa hukum serta mampu
memaparkan hubungan antara kaidah hukum dengan bahasa hukum.
Disamping itu pula, Mahasiswa diharapkan mampu memberikan contoh
keterkaitan antara kaidah hukum dengan bahasa hukum tersebut.

2. Tugas: Study Task


1. Berikan dua buah contoh pasal dalam undang-undang serta tunjukkan
perbedaannya antara kaidah hukum dengan bahasa hukum.
2. Bagaimanakah hubungan antara kaidah hukum dengan bahasa hukum
dalam pasal tersebut ?

49
3. Apakah pasal tersebut telah memberikan kejelasan bahasa hukum ?
Jelaskan !

3. Penutup
Mahasiswa menyusun Laporan Hasil Diskusi. Laporan dikumpulkan
pada saat selesai tutorial.

Bahan Pustaka: sama dengan Bahan Pustaka Perkuliahan 2.

PERTEMUAN V : PERKULIAHAN KE-3


LOGIKA HUKUM

1. Pendahuluan
Bahan kajian Logika Hukum memuat konsep dan terminologi dalam
logika hukum, prinsip dasar logika dalam penalaran hukum dan
menggunakan logika dalam penalaran hukum. Diawali dengan memahami
aspek-aspek logika yang fundamental dan bersifat general seperti istilah
dan pengertian logika, prinsip dasar logika dan manfaat menggunakan
logika hukum. Hal-hal itu sangat penting sebagai dasar untuk memahami
logika hukum dalam melakukan penalaran hukum.
Dengan selesainya perkuliahan ini diharapkan mampu mewujudkan
capaian pembelajaran yang telah ditentukan bahwa, mahasiswa secara
bertanggung jawab, jujur dan demokratis mampu memecahkan
permasalahan-permasalahan hukum.

2. Konsep dan Terminologi dalam Logika Hukum


Logika adalah bahasa Latin berasal dari kata “logos” yang berarti
perkataan atau sabda”. Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar
ungkapan serupa “alasannya tidak logis, argumentasinya logis, kabar itu
tidak logis”. Yang dimaksud dengan “logis” adalah masuk akal dan tidak

50
logis adalah tidak masuk akal. Prof Thaib Thair A.Mu’in membatasi logika
sebagai “Ilmu untuk menggerakkan pikiran kepada jalan yang lurus dalam
memperoleh suatu kebenaran”. Demikian juga dalam buku “Logic and
Language of Education” dari George F.Kneller (New York, 1966) Logika
disebut sebagai “penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode
berpikir benar sedangkan dalam kamus Munjid disebut sebagai “hukum
yang memelihara hati nurani dari kesalahan dalam berfikir”. 18 Dengan
demikian, dapatlah dikatakan bahwa logika adalah suatu pertimbangan
akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa.
Logika berkaitan dengan aktivitas berpikir dan Psikologi juga
berkaitan dengan aktivitas berpikir. Oleh karena itu, kita hendaknya
berhati-hati melihat persimpangannya dari kedua konsep ini. Psikologi
mempelajari pikiran dan kerjanya tanpa menyinggung sama sekali urusan
benar-salah. Sebaliknya urusan benar-salah menjadi masalah pokok
dalam logika. Logika tidak mempelajari cara berpikir dari semua ragamnya
tetapi pemikiran dalam bentuk yang paling sehat dan praktis.
Banyak jalan pemikiran kita dipengaruhi oleh keyakinan, pola
berpikir kelompok, kecenderungan pribadi, pergaulan dan sugesti. Juga
banyak pikiran yang diungkapkan sebagai harapan emosi seperti caci
maki, kata pujian atau pernyataan kekaguman. Ada juga pemikiran yang
diungkapkan dengan argumen yang secara selintas kelihatan benar untuk
memutarbalikkan kenyataan dengan tujuan memperoleh keuntungan
pribadi maupun golongan. Logika menyelidiki, menyaring dan menilai
pemikiran dengan cara serius dan terpelajar dan bertujuan mendapatkan
kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan.

3. Prinsip Dasar Logika Dalam Penalaran Hukum


Dalam aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan pokok
yang oleh logika disebut “asas berpikir”. Asas sebagaimana kita ketahui

18
I Dewa Gede atmadja, Op. cit. h. 13.

51
adalah “pangkal atau asasl dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti”.
Maka asas pemikiran adalah pengetahuan di mana pengetahuan lain
muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi kelurusan berpikir adalah
mutlak dan salah-benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana
tidaknya asas-asas ini. Ia adalah dasar dari pengetahuan dan ilmu. Asas
pemikiran ini dapat dibedakan menjadi :19
1. Asas identitas atau principium identitatis atau law of identity.
Ia adalah dasar dari semua pemikiran dan bahkan asas pemikiran
yang lain. Kita tidak mungkin dapat berpikir tanpa asas ini. Prinsip ini
menyatakan bahwa “Sesuatu itu adalah dia sendiri bukan lainnya”. Jika
kita mengetahui bahwa sesuatu itu “Z” maka ia adalah Z dan bukan A, B,
atau C. Jika kita beri rumusan akan berbunyi : “Bila proposisi itu benar
maka benarlah ia”.
2. Asas kontradiksi atau principium contradictoris atau law of contradiction.
Prinsip ini menyatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin
sama dengan pengakuannya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan
A maka tidak mungkin pada saat itu ia adalah A sebab realitas ini hanya
satu sebagaimana disebut oleh asas identitas. Dengan kata lain, “dua
kenyataan yang kontradiktoris tidak mungkin bersama-sama secara
simultan. Jika hendak kita rumuskan akan berbunyi : “Tidak ada proposisi
yang sekaligus benar dan salah”.
3. Asas penolakan kemungkinan ketiga atau principium exclusi tertii atau
law of excluded middle.
Asas ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran
kebenarannya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran
merupakan pertentangan mutlak, karena itu di samping tidak mungkin
benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Mengapa tidak
mungkin salah keduanya ?
Jika pernyataan dalam bentuk positifnya salah berarti ia
memungkiri realitasnya atau dengan kata lain, realitas ini bertentangan

19
Philipus M. Hadjon, Op cit. h. 48.

52
dengan pernyataannya. Dengan begitu maka pernyataan berbentuk
ingkarlah yang benar karena inilah yang sesuai dengan realitas. Juga
sebaliknya, jika pernyataan ingkarnya salah berarti ia mengingkari
realitasnya maka pernyataan positifnya yang benar karena ia sesuai
dengan realitasnya. Pernyataan kontradiktoris kebenarannya terdapat
pada salah satunya (tidak memerlukan kemungkinan ketiga). Jika kita
rumuskan akan berbunyi “Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar
atau salah”. Asas-asas pemikiran yang telah diuraikan disebut juga
“Hukum Dasar Logika” yakni kebenaran umum yang berlaku dalam bidang
logika sebagai patokan berpikir atau kaidah pemikiran. John Stuart Mill
(1806-1873) menyebutnya sebagai “Postulat Universal Penalaran
(Universal Postu-lates of All Reasoning)” sedangkan Friedrich Uberweg
(1826-1871) menamainya “Aksioma Inferensi (Axioms of Inference).
Ketiga postulat universal penalaran yang telah diuraikan
dirumuskan oleh Aristoteles sedangkan yang keempat dirumuskan oleh
Gottfried Wilhelm Leibniz yakni :20
4. Principium rationis sufficientis atau law of sufficient reason.
Principium rationis sufficientis atau law of sufficient reason berarti
“hukum cukup alasan adalah kaidah yang melengkapi hukum kesamaan
(principium identitatis). Hukum cukup alasan menyatakan bahwa “Jika
perubahan terjadi pada sesuatu maka perubahan itu haruslah memiliki
alasan yang cukup. Hal ini berarti bahwa tidak ada perubahan yang terjadi
begitu saja tanpa alasan rasional yang memadai sebagai penyebab
perubahan itu.

4. Menggunakan Logika Dalam Penalaran Hukum


Ada dua cara berpikir yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan
kebenaran yaitu melalui metode induksi dan deduksi.

20
I Dewa Gede Atmadja, Penalaran Hukum (Legal Reasoning), Pengertian,
Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, 2006, h. 22.

53
Induksi
Induksi adalah cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang
bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini
dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas dan
diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa “Proses berpikir induksi adalah berdasarkan proposisi
khusus ke proposisi umum”.
Contoh :
- Besi dipanaskan memuai.
- Seng dipanaskan memuai.
- Emas dipanaskan memuai. --- Simpulan : Jadi, semua logam jika
dipanaskan memuai.
Contoh lain :
- Si A karena kealpaannya sehingga menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan hukuman penjara (kurungan) paling lama lima tahun.
- Si B karena kealpaannya sehingga menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan hukuman penjara (kurungan) paling lama lima tahun.
- Si C karena kealpaannya sehingga menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan hukuman penjara (kurungan) paling lama lima tahun.
Simpulan : Jadi, setiap orang (semua orang) karena kealpaannya
sehingga menyebabkan orang lain mati, diancam dengan hukuman
penjara (kurungan) paling lama satu tahun.
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik kesimpulan umum
dari berbagai kasus yang bersifat individual, selain itu metode induksi
ialah cara penanganan terhadap suatu objek tertentu dengn jalan menarik
kesimpulan yang bersifat umum atau bersifat lebih umum berdasarkan
atas pemahaman atau pengamatan terhadap sejumlah hal yang bersifat
khusus. Logika induktif merupakan suatu ragam logika yang mempelajari
asas-asas penalaran yang betul dari sejumlah hal khusus sampai pada
suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi. Kesimpulan yang
bersifat umum ini penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan.

54
Keuntungan yang pertama ialah bahwa pernyataan yang bersifat umum ini
bersifat ekonomis.
Kehidupan yang beranekaragam dengan berbagai corak dan segi
dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang
dikumpulkan manusia bukanlah merupakan koleksi dari berbagai fakta
melainkan esensi dan fakta-fakta tersebut. Demikian juga dalam
pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak
bermaksud membuat reproduksi dari obyek tertentu, melainkan
menekankan kepada struktur dasar yang menyangga wujud fakta
tersebut. pernyataan bagaimanapun lengkap dan cermatnya tidak bisa
mereproduksikan betapa manisnya semangkuk kopi atau pahitnya sebutir
pil kina. Pengetahuan cukup puas dengan pernyataan elementer yang
bersifat kategoris bahwa kopi itu manis dan pil kina itu pahit. Pernyataan
seperti ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam
kehidupan praktis dan berpikir teoritis.
Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersifat umum
adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif
maupun deduktif. Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang
bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat lebih umum
lagi. Melihat dari contoh bahwa semua binatang mempunyai mata dan
semua manusia mata, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua makhluk
mempunyai mata. Penalaran ini memungkinkan disusunnya pengetahuan
secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang
makin lama makin bersifat fudamental.
Deduksi
Deduksi adalah kegiatan berpikir yang merupakan kebalikan dari
penalaran induksi. Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan yang
bersifat umum menuju kesimpulan yang bersifat khusus atau dengan kata

55
lain “Proses berpikir deduksi adalah berdasarkan proposisi umum ke
proposisi khusus”.21
Logika deduksi merupakan cara berpikir dimana dari pernyataan
yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, selain itu
metode deduksi ialah cara penanganan terhadap sesuatu objek tertentu
dengan jalan menarik kesimpulan mengenai hal-hal yang bersifat umum.
Logika deduktif adalah suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas
penalaran yang bersifat deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan
suatu kesimpulan sebagai kemestian dari pangkal pikirnya sehingga
bersifat betul menurut bentuk saja.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan
pola pikir yang dinamakan silogismus. Pernyataan yang mendukung
silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai
permis mayor dan permis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan
yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua permis tersebut.
Logika deduktif membicarakan cara-cara untuk mencapai kesimpulan-
kesimpulan bila lebih dahulu telah diajukan pertanyaan-pertanyaan
mengenai semua atau sejumlah ini di antara suatu kelompok barang
sesuatu. Kesimpulan yang sah pada suatu penalaran deduktif selalu
merupakan akibat yang bersifat keharusan dari pertnyaan-pertanyaan
yang lebih dahulu diajukan. Pembahasan mengenai logika deduktif itu
sangat luas dan meliputi salah satu di antara persoalan-persoalan yang
menarik.
Guna memenuhi dan membatasi maksud logika deduktif bagian
terkenal sebagai logika Aristoteles. Cabang loka ini membicarakan
pernyataan-pernyataan yang dapat dijadikan bentuk ‘S’ adalah ‘P’,
misalnya, “manusia (adalah) mengenal mati. Tampaklah pada kita bahwa
‘S’ merupakan huruf pertama perkataan ‘Subjek’ dan ‘P’ merupakan huruf
pertama perkataan ‘Predikat’. Dari pernyataan-pernyataan semacam itu,

21
Shidarta, Op cit., h. 74.

56
kita dapat memilah empat cara pokok untuk mengatakan sesuatu dari
setiap atau sementara subjek yang dapat diterapi simbol ‘S’.
Setiap S adalah P
Setiap S bukan/tidaklah P
Sementara S adalah P
Sementara S bukan/tidaklah P.

Contoh Deduksi
Contoh membuat silogismus sebagai berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan udara (Premis mayor)
Dewi adalah makhluk hidup (Premis minor)
Jadi Dewi memerlukan udara
(Kesimpulan)

Kesimpulan yang diambil bahwa si Dewi memerlukan udara adalah


sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditasrik secara logis
dari dua permis yang mendukungnnya. Pertanyaan apakah kesimpulan itu
benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga
adalah benar. Mungkin saja kesimpulan itu salah, meskipun kedua
premisnya benar, sekiranya cara penarikan kesimpulannya adalah tidak
sah.
Dengan demikian maka ketepatan penarikan kesimpulan
tergantung dari tiga hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis
minor dan keabsahan pengambilan kesimpulan.
Sebagaimana dijelaskan diatas, penalaran deduktif merupakan
suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum,yang
kebenarannya telah diketahu dan diyakini, dan berakhir pada suatu
kesimpulan atau pengetahuan yang baru yang bersifat lebih khusus.
Metode ini diawali pembentukan teori, hipotesis, definisi oprasional,
instrumen dan oprasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu
gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala

57
tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian lapangan. Dengan demikian
konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata
kunci untuk memahami suatu gejala atau peristiwa.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan
adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi
(khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup
konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Konsep dan Simbol dalam Penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk
mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan
dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan
berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak
dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang
digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan
simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran
konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran
manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada
proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi.
Bersama-sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan
terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai
premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar
dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian
pengertian.
Syarat-syarat Kebenaran dalam Penalaran :
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah
untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat
dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki
seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang

58
salah. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi
adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus
meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal
berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-
aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang
dijadikan sebagai premis tepat.

5. Penutup
Bagian Penutup terdiri dari Rangkuman atasmateri perkuliahan
yang dikemukakan diatas dan latihan untuk mengetahui capaian
pembelajaran.

Rangkuman
Logika berasal dari kata “logos” yang berarti perkataan atau sabda”.
Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan serupa
“alasannya tidak logis, argumentasinya logis, kabar itu tidak logis”. Yang
dimaksud dengan “logis” adalah masuk akal dan tidak logis adalah tidak
masuk akal.
Asas pemikiran ini dapat dibedakan menjadi empat yaitu :
1. Asas identitas atau principium identitatis atau law of identity.
2. Asas kontradiksi atau principium contradictoris atau law of contradiction.
3. Asas penolakan kemungkinan ketiga atau principium exclusi tertii atau
law of excluded middle.
4. Principium rationis sufficientis atau law of sufficient reason.
Cara berpikir yang dapat kita gunakan untuk memperoleh
kebenaran yaitu melalui metode induksi dan deduksi. Metode induksi yaitu
suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang betul dari
sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat
boleh jadi. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya sebab
mempunyai dua keuntungan. Sedangkan metode deduksi yaitu suatu
ragam logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang bersifat

59
deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan
sebagai kemestian dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut
bentuk saja.

Latihan
1. Jelaskan tentang konsep dan terminologi dalam penalaran hukum!
2. Sebut dan jelaskan prinsip-prinsip dasar logika dalam hukum !
3. Jelaskan manfaat logika dalam penalaran hukum !
4. Uraikan tentang logika induksi dan deduksi dalam hukum !
5. Berikan masing-masing satu bua contoh logika induksi dan deduksi
dalam hukum !

Bahan Pustaka :
1. Atmadja,I Dewa Gede, 2006, Penalaran Hukum (Legal
Reasoning), Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas
Hukum Universitas Udayana, Denpasar.
2. -------, 2009, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi
Hukum , Bali Age, Denpasar.
3. Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
4. Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.

PERTEMUAN VI : TUTORIAL KE-3


LOGIKA HUKUM

1. Problem Task
Berikan satu buah ilustrasi kasus perdata dengan menggunakan
logika dalam penalaran hukum !

60
1. Dari ilustrasi tersebut, tunjukkan alur logika yang anda gunakan
dalam mengkaji kasus tersebut.
2. Berdasarkan alur logika yang anda gunakan, berikan jawaban
saudara dengan menunjuk dasar hukumnya !

Literatur:
1. Atmadja,I Dewa Gede, 2006, Penalaran Hukum (Legal
Reasoning), Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas
Hukum Universitas Udayana, Denpasar.
2. -------, 2009, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi
Hukum , Bali Age, Denpasar.
3. Hadjon, Philipus M, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi
Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
4. Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
5. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

PERTEMUAN VII : UJIAN TENGAH SEMESTER

PERTEMUAN VIII : PERKULIAHAN KE-4


PENALARAN HUKUM

1. Pendahuluan
Bahan kajian Penalaran Hukum memuat konsep dan terminologi
dalam penalaran hukum, prinsip dasar dalam penalaran hukum dan
menggunakan penalaran hukum. Diawali dengan memahami aspek-aspek
penalaran hukum yang fundamental dan bersifat general seperti istilah
dan pengertian penalaran hukum, prinsip dasar penalaran hukum dan
manfaat menggunakan penalaran hukum. Konsep dan terminologi dalam
penalaran hukum, unsur-unsur dalam penalaran hukum, hubungan antara
konsep, proposisi dan penalaran hukum dan jenis-jenis penalaran hukum.

61
Hal-hal itu sangat penting sebagai dasar untuk memahami penalaran
dalam melakukan penalaran hukum.
Dengan selesainya perkuliahan ini diharapkan mampu mewujudkan
capaian pembelajaran yang telah ditentukan bahwa, mahasiswa secara
bertanggung jawab, jujur dan demokratis mampu memecahkan
permasalahan-permasalahan hukum.

1. Konsep dan Terminologi


Dalam Penalaran Hukum
Legal Reasoning adalah penalaran tentang hukum yaitu pencarian
“reason” tentang hukum atau pencarian dasar tentang bagaimana seorang
hakim memutuskan perkara/ kasus hukum, seorang pengacara meng-
argumentasi-kan hukum dan bagaimana seorang ahli hukum menalar
hukum.22 Namun pengertian sederhana ini menjadi tidak lagi sederhana
apabila pertanyaan dilanjutkan kepada: apakah yang dimaksud dengan
hukum dan bagaimana sebenarnya atau seharusnya seorang hakim
memutuskan suatu perkara/ kasus hukum dan bagaimana seorang
pengacara meng-argumentasi-kan hukum?
Pengertian lainnya yang sering diberikan kepada Legal Reasoning
adalah: suatu kegiatan untuk mencari dasar hukum yang terdapat di
dalam suatu peristiwa hukum, baik yang merupakan perbuatan hukum
(perjanjian, transaksi perdagangan, dan lain-lain) ataupun yang
merupakan kasus pelanggaran hukum (pidana, perdata, ataupun
administratif) dan memasukkannya ke dalam peraturan hukum yang ada.
Bagi para hakim legal reasoning ini berguna dalam mengambil
pertimbangan untuk memutuskan suatu kasus. Sedangkan bagi para
praktisi hukum legal reasoning ini berguna untuk mencari dasar bagi suatu
peristiwa atau perbuatan hukum dengan tujuan untuk menghindari
terjadinya pelanggaran hukum di kemudian hari dan untuk menjadi bahan
argumentasi apabila terjadi sengketa mengenai peristiwa ataupun

22
Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Citra
Aditya Bakti, Jakarta, 1993, h.

62
perbuatan hukum tersebut.23 Bagi para penyusun undang-undang dan
peraturan, legal reasoning ini berguna untuk mencari dasar mengapa
suatu undang-undang disusun dan mengapa suatu peraturan perlu
dikeluarkan. Sedangkan bagi pelaksana, legal reasoning ini berguna untuk
mencari pengertian yang mendalam tentang suatu undang-undang atau
peraturan agar tidak hanya menjalankan tanpa mengerti maksud dan
tujuannya yang hakiki.
Bagi beberapa ahli hukum formulasi tentang legal reasoning
sebagaimana disebutkan di atas mengandung pengertian yang ambigu
mengenai apakah legal reasoning adalah reasoning tentang hukum, yaitu
apakah reasoning tersebut mengenai: (a) reasoning untuk mencari dasar
tentang substansi hukum yang ada saat ini, atau (b) reasoning yang
diambil dari substansi hukum yang ada itu yang harus diterapkan pada
putusan yang harus diambil terhadap perkara yang dihadapkan kepada
hakim saat ini.24
Para ahli juga berbeda pandangan mengenai formulasi tentang
bagaimana hakim memutuskan perkara, yang menurut mereka
mengandung juga ambigu, yaitu apakah dalam memutus perkara, hakim
harus mencari reasoning dari substansi hukum positif yang ada mengenai
kasus tersebut ataukah hakim harus mempertimbangkan semua aspek
yang ada termasuk isu mengenai moral dan lain-lain? Dengan perbedaan
ini para ahli teori hukum mengambil tiga pengertian tentang legal
reasoning yaitu:
-Reasoning untuk mencari substansi hukum untuk diterapkan dalam
masalah yang sedang terjadi.
-Reasoning dari substansi hukum yang ada untuk diterapkan terhadap
putusan yang harus diambil atas suatu perkara yang terjadi.
-Reasoning tentang putusan yang harus diambil oleh hakim dalam suatu
perkara, dengan mempertimbangkan semua aspek.

23
Ibid.
24
Simorangkir, J.C.T., et al., Kamus Hukum, Aksara Baru, Jakarta1980, h. 42.

63
2. Kerangka Analitis tentang Legal Reasoning
a. Reasoning melalui contoh
Pola dasar legal reasoning adalah reasoning melalui contoh.
Namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang menjadi
bahan perdebatan di antara pada ahli hukum terutama di negara yang
menganut case law (common law).
Pembatasan terhadap kebebasan para Hakim untuk tidak keluar dari
contoh legal reasoning yang di peroleh dari pengadilan terdahulu. Hal ini
oleh para ahli hukum di Amerika Serikat sebagai membatasi kebebasan
para hakim untuk menggunakan kemampuannya untuk melihat kasus
yang di adilinya.
Akibat doktrin yang kaku ini para hakim seakan kehilangan kebebasannya
untuk mencari perbedaan di dalam suatu kasus dengan kasus-kasus yang
sudah diputuskan terdahulu. Dalam perkembangan teori hukum para ahli
mengharapkan bahwa hakim tidak hanya berupaya melihat kasus melalui
“mata” para pendahulunya, akan tetapi juga harus dapat melihat kasus
yang diadilinya melalui matanya sendiri. Di negara yang yang menganut
sistem hukum common law seperti Amerika Serikat dan Inggris juga terjadi
perdebatan mengenai penerapan legal reasoning yang didasarkan pada
doktrin “stare decisis” yang mewajibkan para hakim untuk tetap mengacu
kepada preseden dari kasus terdahulu.
Di Inggris, Prof. Montrose misalnya telah menyatakan secara
explisit bahwa dalam kerangka analitis reasoning melalui contoh,
pandangan kebanyakan hakim di Inggris, terutama pada dekade akhir-
akhir ini, adalah bahwa praktek peradilan Inggris modern membatasi
kebebasan hakim Inggris untuk mengesampingkan reasoning yang
diajukan oleh pengadilan terdahulu.25 Sementara Mr. Cross menyatakan
keberatannya bahwa akibat dari penerapan doktrin preseden tersebut
secara kaku adalah bahwa hakim-hakim sering harus melihat hukum
melalui mata para pendahulunya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa ia

25
Ibid, h. 45

64
tidak sepakat bahwa tugas hakim di Amerika hanya untuk melihat hukum
sebagai suatu yang tetap secara keseluruhan, dan menurutnya melihat
hukum melalui matanya sendiri dan bukan melalui mata para
pendahulunya tidak akan membawa kepada pola yang secara dominan
merupakan penolakan dari reasoning yang diajukan oleh hakim terdahulu
atau membuat perbedaan apabila tidak terdapat alasan untuk
membedakan peristiwa yang terjadi.

2. Unsur-unsur Dalam Penalaran Hukum


Penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang paling
umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada
suatu kesimpuan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain
yang telah diketahui. Dalam pernyataan-pernyataan itu terdiri dari
pengertia-pengertian sebagai unsurnya yang antara pengertian satu
dengan yang lain ada batas-batas tertentu untuk menghindarkan
kekabutan arti.
Unsur-unsur di sini bukan merupakan bagian-bagian yang
menyusun suatu penalaran tetapi merupakan hal-hal sebagai prinsip yang
harus diketahui terlebih dahulu, karena penalaran adalah suatu proses
yang sifatnya dinamis tergantung pada pangkal pikirnya. Unsur-unsur
penalaran yang dimaksudkan adalah tentang pengertian, karena
pengertian ini merupakan dasar dari semua bentuk penalaran. Untuk
mendapatkan pengertian sesuatu dengan baik sering juga dibutuhkan
suatu analisa dalam bentuk pemecah-belahan sesuatu pengertian umum
ke pengertian yang menyusunnya, hal ini secara teknis disebut dengan
istilah pembagian. Dan selanjutnya diadakan pembatasan arti atau
definisi. Mendefinisikan sesuatu masalah bukanlah hal yang berlebihan,
tetapi untuk memperjelas sebagai titik tolak penalaran, sehingga
kekaburan arti dapat dihindarkan. Definisi dan pembagian merupakan dua
hal yang saling melengkapi. Untuk mendapatkan definisi yang baik sering

65
membutuhkan suatu pembagian. Demikian juga untuk memudahkan
mengadakan pembagian, suatu definisi sering juga dibutuhkan.
Dalam proses pemikiran yang berbentuk penalaran, antara
pengertian satu dengan yang lain dapat dihubungkan dan seterusnya
diungkapkan dalam bentuk kalimat, dan kalimat ini ada yang disebut
kalimat tertutup atau disebut juga dengan pernyataan. Dan pernyataan
inilah merupakan bentuk terakhir yang akan di perbandingkan dalam
penalaran. Oleh karena itu, dalam bab ini sebagai awal pembicaraan
logika akan diuraikan berturut-turut tentang pengertian dan term,
pembagian dan definisi, serta tentang pernyataan dan penalaran.

3. Hubungan Antara Konsep, Proposisi dan Penalaran Hukum


Untuk dapat berbuat lebih lanjut terhadap sesuatu, maka tindakan
“mengerti” merupakan langkah awal yang perlu dilakukan. Untuk
mengkomunikasikan lebih lanjut apa yang dimengerti tersebut digunakan
“bahasa”, digunakan “kata-kata”. Untuk dapat berpikir lebih lanjut secara
tepat diperlukan pengertian-pengertian yang tepat pula. Akal budi yang
memanfaatkan panca indra untuk menangkap gambaran tentang
sesuatulah yang menimbulkan pengertian. Jadi, pengertian adalah
tanggapan atau gambaran yang dibentuk oleh akal budi tentang
kenyataan yang dimengertinya melalui tangkapan pancaindra. Pengertian
disebut pula sebagai konsep. Kemudian konsep adalah ide-ide,
penggambaran hal-hal atau benda-benda ataupun gejala sosial yang
dinyatakan dalam “istilah atau kata”. Untuk bisa mengkomunikasikan
pengertian yang diperolehnya secara lebih bermakna maka diperlukan
alat pemikiran lebih lanjut yaitu “pernyataan atau proposisi”.
Contoh :
a. Dalam Pasal 362 KUH Pidana ditentukan bahwa :
“Barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau
sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki secara

66
melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara
paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”.
b. Dalam Pasal 372 KUH Pidana ditentukan bahwa :
“Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku
sebagai milik sendiri (zich toeeigenen) barang sesuatu yang seluruhnya
atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam
kekuasaannya bukan karena kejahatan, diancam, karena penggelapan,
dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling
banyak enam puluh rupiah”.
Sehubungan dengan pengertian dapat terjadi beberapa
kemungkinan sebagai berikut :
a. sinonim.
b. istilah bermakna ganda.
c. pengertian yang kabur.
Sinonim adalah istilah yang menyatakan pengertian yang sama.
Sinonim terdapat baik dalam bahasa pergaulan (misalnya, goal = tujuan)
maupun bahasa hukum misalnya vonis sama artinya dengan putusan
hakim. Kemudian istilah bermakna ganda, misalnya desa di Bali dapat
bermakna desa adat (desa pakraman) dan desa dinas (desa administrasi).
Pengertian yang kabur maksudnya, pengertian yang isinya tidak dapat
ditetapkan secara persis sehingga lingkupannya tidak jelas. Dalam
penjelasan umum Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah ditentukan bahwa “Peraturan Daerah dapat
dibatalkan jika bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan
yang lebih tinggi”. Kepentingan umum mempunyai makna yang kabur.
Penalaran dalam hukum beranjak dari pengertian atau konsep.
Salah satu cara yang seringkali digunakan untuk menjelaskan konsep
adalah definisi. Definisi lazimnya dibedakan atas definisi nominal dan
definisi riil. Definisi nominal terdiri atas tiga macam definisi yakni definisi
leksikal, presisi dan definisi stipulatif. Dalam bidang hukum definisi yang

67
populer adalah definisi presisi dan stipulatif. Namun demikian, ketiga
definisi ini akan diuraikan sebagai berikut :
a. Definisi leksikal.
Ini adalah penentuan isi suatu pengertian berdasarkan pemakaian
yang lazim dari istilah itu. Kebanyakan hal ini berkenaan dengan
pemakaian istilah itu dalam bahasa pergaulan, tetapi juga dalam bahasa-
bahasa teknikal pemakaian yang mapan (ajeg) dari istilah-istilah tertentu
dengan isi yang khusus adalah mungkin. Definisi jenis ini sering
ditemukan dalam kamus-kamus.
b. Definisi presisi.
Dalam bahasa sehari-hari sebuah kata atau frase seringkali
mempunyai lebih dari satu arti dalam rumusan leksikal. Untuk kepastian
hukum dan penegakan hukum secara fair dibutuhkan suatu batasan yang
pasti tentang suatu konsep hukum. Sebagai contoh “keputusan tata usaha
negara”. Rumusan KTUN harus pasti sehingga tidak menyulitkan dalam
penetapan apakah suatu tindak pemerintahan termasuk kompetensi
absolut Peradilan Tata Usaha Negara. Unsur kepastian tercermin dalam
elemen-elemen yang mendukung konsep itu. Sebagai contoh, rumusan
KTUN menurut Pasal 1 angka 3 UU Nomor 5 Tahun 1986 didukung oleh
enam unsur sebagai berikut :
1. penetapan tertulis;
2. oleh badan atau pejabat tata usaha negara;
3. merupakan tindakan hukum tata usaha negara;
4. bersifat konkret dan individual;
5. final;
6. menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
Definisi presisi mengandung unsur leksikal dan stipulatif. Pada satu
sisi definisi presisi beranjak dari suatu konsep yang sudah lazim dalam
bahasa sehari-hari, dalam contoh keputusan tata usaha negara kiranya
istilah keputusan sudah merupakan hal yang lazim dikenal. Unsur

68
stipulatifnya pada penegasan unsur-unsur baru yang sifatnya untuk
memberikan makna khusus yang baru seperti nampak dalam unsur
konkret dan individual.
c. Definisi stipulatif.
Definisi stipulatif dapat berupa pengenalan terminologi baru atau
memberikan pengertian baru terhadap term yang sudah ada.
Dalam perkembangannya agar semakin banyak memperoleh
pengertian yang berdasarkan pengamatan empirik, dalam pemikiran tidak
hanya terbentuk pengertian-pengertian saja tetapi juga terjadi
penggabungan dan perangkaian terhadap berbagai pengertian tersebut.
Rangkaian pengertian disebut “proposisi atau pernyataan”.
Contoh : Si A dihukum penjara dua bulan karena ia mencuri ayam.
Apa yang dinyatakan dalam preposisi di atas adalah fakta yakni
pengamatan yang dapat diuji kecocokannya secara empirik dengan
menggunakan indera. Karena proposisi ini didasarkan atas pengamatan
empirik maka disebut proposisi empirik. Tidak semua proposisi merupakan
proposisi empirik tetapi ada yang kebenaran atau kesalahannya langsung
nampak dalam pikiran sehingga oleh karenanya harus diterima. Proposisi
demikian disebut proposisi mutlak (absolute statement atau necessary
statement). Proposisi mutlak adalah jelas benar dengan sendirinya (self
evident).
Misalnya :
- Duda itu adalah laki-laki yang pernah kawin.
Proposisi atau pernyataan itu lambangnya dalam bahasa adalah
berupa kalimat berita. Hanya kalimat beritalah yang dapat “benar atau
salah”. Kalimat tanya atau kalimat perintah bukan lambang proposisi.
Kalimat tanya masih mencari apakah ada hubungan diantara subyek dan
predikat. Kalimat perintah justeru menuntut adanya hubungan diantara
subyek dan predikat yang belum ada. Kalimat tanya dan kalimat perintah
tidak menyatakan adanya suatu kaitan diantara subyek dan predikat
padahal itulah yang merupakan inti dari proposisi.

69
4. Jenis-jenis Penalaran Hukum
Dalam hidup ini diliputi oleh berbagai masalah yang merupakan
hambatan atau tantangan yang mewajibkan seseorang untuk
memecahkannya. Kemampuan untuk memecahkan masalah ini, banyak
ditunjang oleh kemampuan menggunakan penalaran, kemampuan dalam
hubungan kausal.. Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran
mempunyai ciri-ciri tertentu sebagai berikut :
a. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika atau
dapat dikatakan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses
berpikir logis di mana berpikir logis di sini harus diartikan sebagai
kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu atau dengan kata lain
menurut logika tertentu.
b. Adanya sifat analitik dari proses berpikir manusia. Penalaran
merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada
suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis
tersebut adalah logika.26
Dalam kaitannya dengan peningkatan kemampuan berpikir logis
atau penalaran dalam pemecahan masalah, ada enam hal yang perlu
diperhatikan sebagai berikut :
1. Kemampuan berpikir logis atau penalaran dari seseorang dapat
dikembangkan melalui training di mana kemampuan potensial
merupakan dasarnya.
2. Pemecahan masalah harus bersifat obyektif.
3. Haruslah bersifat ilmiah scientific. Menghadapi sesuatu masalah
haruslah dipelajari, apa sebab hal itu terjadi dan apa akibat yang akan
terjadi dengan adanya masalah tersebut. Demikian juga dalam mencari
alternatif pemecahan haruslah dilihat hubungan kausal dari setiap
alternatif pemecahan tersebut.
4. Mempelajari fakta dalam konteks pemecahan masalah. Seringkali
dalam hubungan kausal harus didukung oleh beberapa fakta empiris di

26
Simorangkir, J.C.T., et al., Kamus Hukum, Aksara Baru, Jakarta1980, h. 42.

70
mana fakta tersebut harus dipelajari dalam hubungan kausal. Makin
jauh kita mempelajari fakta (dalam hubungan pemecahan masalah),
makin dalam dapat dianalisis masalah itu dan makin tepat dari
kesimpulan yang dibuat. Bahkan lebih dari itu, kejelian dalam mencari
dan mengidentifikasi masalah/fakta serta ketelitian dalam melihat arti
(implikasi) sesuatu fakta terhadap maslah yang dipecahkan dapat
memperjauh jangkauan perkiraan (prediksi) dalam mengemban
kemampuan berpikir kreatif dan intuitif. Kemampuan berpikir kreatif
maksudnya yang bersangkutan mempunyai kemampuan
memperkirakan dan membuat kesimpulan yang baru.
5. Tidak selalu menerima secara apriori setiap idea atau teori. Bila
mempelajari suatu idea atau teori janganlah langsung diterima tanpa
diuji lebih dahulu, baik dengan penalaran maupun dengan fakta. Hal ini
dapat membantu dalam menunjang kemampuan berpikir dalam segala
hal.
6. Menggunakan seluruh kemampuan baik yang potensial (intelegensi,
kemampuan berpikir dan mental lainnya), maupun yang akademik (dari
hasil belajar). Arti intelegensi adalah kemampuan memecahkan
masalah termasuk kemampuan berpikir dan menggunakan
penalaran.27
Penalaran (reasoning) adalah suatu bentuk pemikiran. Selain
penalaran, bentuk pemikiran yang lebih sederhana adalah pengertian atau
konsep dan proposisi atau pernyataan. “Tidak ada proposisi tanpa
pengertian dan tidak ada penalaran tanpa proposisi”.
Hakikat Penalaran
Hakikat sama dengan kebenaran, kenyataan, yang sebenarnya.
Hakikatnya sama dengan sebenarnya, sesungguhnya. Penalaran adalah
sebuah proses mental di mana kita (melalui akal budi) bergerak dari apa
yang telah kita ketahui menuju ke pengetahuan yang baru (hal yang
belum kita ketahui). Atau kita bergerak dari pengetahuan yang kita miliki

27
Sidharta, Op. cit., h. 108.

71
menuju ke pengetahuan yang baru yang berhubungan dengan
pengetahuan yang telah kita miliki tersebut.
Semua bentuk penalaran selalu bertolak dari sesuatu yang sudah
ada atau sudah kita ketahui. Kita tidak mungkin menalar bertolak dari
ketidaktahuan. Selalu ada sesuatu yang tersedia yang kita pergunakan
sebagai titik tolak untuk menalar. Titik tolak tersebut kita namakan “yang
telah diketahui” yaitu sesuatu yang dapat dijadikan sebagai premis,
evidensi, bukti, dasar bahkan alasan-alasan dari mana hal-hal yang belum
diketahui “dapat disimpulkan”. Kesimpulan itu disebut konklusi. Inilah
kiranya yang merupakan alasan mengapa penalaran dapat juga
didefinisikan sebagai “berpikir konklusif” atau “berpikir untuk menarik
kesimpulan”.
Jadi, penyimpulan dapat dimengerti sebagai sebuah proses mental
di mana kita bergerak dari satu proposisi atau lebih menuju ke proposisi
lain yang mempunyai hubungan dengan proposisi sebelumnya. Ini
merupakan proses penggabungan sejumlah proposisi dan proposisi baru
yaitu konklusi dapat diturunkan darinya. Dengan kata lain, inilah yang
merupakan sebuah proses penarikan kesimpulan dari sebuah premis atau
kombinasi sejumlah premis.

5. Penutup
Bagian Penutup terdiri dari Rangkuman atasmateri perkuliahan
yang dikemukakan diatas dan latihan untuk mengetahui capaian
pembelajaran.

Rangkuman
Penalaran adalah sebuah proses mental di mana kita (melalui akal
budi) bergerak dari apa yang telah kita ketahui menuju ke pengetahuan
yang baru (hal yang belum kita ketahui). Atau kita bergerak dari
pengetahuan yang kita miliki menuju ke pengetahuan yang baru yang
berhubungan dengan pengetahuan yang telah kita miliki tersebut. Legal

72
reasoning yang telah tersusun melalui kasus yang sudah diputuskan oleh
hakim terdahulu diikuti oleh hakim yang mengadili kasus yang terjadi
sesudahnya dengan kegiatan mencari dan membangun legal reasoning
secara kasus per kasus. Jadi meskipun telah terjadi suatu kasus yang
sejenis berkali-kali, namun dalam menyusun argumentasi di dalam
opininya, hakim harus mendasarkan legal reasoning secara khusus untuk
setiap kasus tertentu.
Untuk dapat berpikir lebih lanjut secara tepat diperlukan pengertian-
pengertian yang tepat pula. Akal budi yang memanfaatkan panca indra
untuk menangkap gambaran tentang sesuatulah yang menimbulkan
pengertian. Jadi, pengertian adalah tanggapan atau gambaran yang
dibentuk oleh akal budi tentang kenyataan yang dimengertinya melalui
tangkapan pancaindra. Pengertian disebut pula sebagai konsep. analisis
legal reasoning ini terlalu banyak menekankan kepada perbandingan
antara suatu kasus dengan kasus yang lainnya dan sedikit sekali
penekanan kepada penciptaan konsep-konsep hukum (legal concepts).
Memang benar bahwa persamaan antara suatu kasus dengan kasus lain
adalah terlihat dalam susunan kata-kata, dan ketidakmampuan untuk
mengungkapkan kesamaan atau perbedaan akan menghambat
perubahan hukum.
Penciptaan konsep hukum yang terjadi sebagaimana diutarakan di
atas yaitu dengan membandingkan suatu kasus dengan kasus-kasus
yang lain, kemudian tahap yang kedua adalah periode di mana konsep
tersebut sedikit banyaknya menjadi suatu yang tetap, meskipun reasoning
melalui contoh terus berlangsung untuk mengklasifikasikan hal-hal yang
ada di luar dan di dalam konsep tersebut. Tahap ketiga adalah tahap di
mana terjadi keruntuhan konsep tersebut, apabila reasoning melalui
contoh kasus telah bergerak ke depan dan membuktikan bahwa ketetapan
yang dibuat melalui kata-kata tidak lagi diperlukan, dan dimulai lagi
penciptaan konsep hukum yang baru, dan kemudian mengalami

73
reasoning kembali, demikian seterusnya yang terjadi sebagai suatu
lingkaran yang tak terputus.

Latihan. Jawablah pertanyaan di bawah ini:


1. Sebut dan jelaskan tentang konsep dan terminologi dalam penalaran
hukum!
2. Sebut dan jelaskan tentang unsur-unsur dalam penalaran hukum!
3. Jelaskan hubungan antara konsep, proposisi dan penalaran hukum !
serta berikan satu buah contoh !
4. Sebut dan jelaskan jenis-jenis penalaran hukum !

Bahan Pustaka :
1. I Dewa Gede Atmadja, Penalaran Hukum (Legal Reasoning),
Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas Hukum
Universitas Udayana, Denpasar, 2006.
2. Sidharta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
3. Simorangkir, J.C.T., et al., 1980, Kamus Hukum, Aksara Baru,
Jakarta
4. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan
Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993.

PERTEMUAN IX : TUTORIAL KE-4


PENALARAN HUKUM

1. Pendahuluan
Tutorial ke-4 merupakan pendalaman atas materi “Penalaran
Hukum”. Bahan kajian menggunakan visualisasi bertopik “Polisi
Investigasi Kasus Pencurian Sepatu Ronaldo”, yang didalamnya memuat
permasalahan-permasalahan pencurian sepatu milik bintang sepak bola
klub Real Madrid yaitu C. Ronaldo. Mahasiswa agar melakukan diskusi di

74
dalam kelompok untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Dengan selesainya tutorial ini diharapkan mampu mewujudkan
capaian pembelajaran yaitu mahasiswa secara bertanggung jawab, jujur,
dan demokratis mampu berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan
pencurian sepatu yang terdapat di dalam wacana. Dengan demikian,
dapat dievaluasi aspek hard skills dan soft skills mahasiswa.

2. Tugas: Problem Task


“Polisi Investigasi Kasus Pencurian Sepatu Ronaldo”
Diberitakan sebelumnya, pencuri telah mengambil tiga pasang
sepatu bintang Madrid, Cristiano Ronaldo, dan tiga pasang sepatu lainnya
yang merupakan milik Mesut Oezil dan Karim Benzema. Selain sepatu,
para pencuri yang diduga berjumlah lebih dari satu orang itu juga
mengambil kaus milik para pemain Real Madrid itu. Kawanan pencuri itu
diduga menggandakan kunci kamar ganti sehingga bisa memasukinya
dengan mudah. Selain itu, mereka leluasa melakukan aksinya karena
ruang ganti di stadion tersebut tidak terpasang kamera CCTV. Ofisial tim
berjuluk "Los Blancos" itu pun segera melaporkan kejadian ini kepada
Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). (SS)
Sumber : Kompas, Kamis, 19 April 2012.
1. Tunjukkan konsep yang digunakan dalam kasus tersebut !
2. Buatlah suatu proposisi dari kasus tersebut !
3. Berdasarkan proposisi tersebut, buatlah suatu penalaran induktif
dan deduktif dalam hukum !
3. Penutup
Mahasiswa menyusun Laporan Hasil Diskusi. Laporan dikumpulkan
pada saat selesai tutorial.

Bahan Pustaka
Bahan pustaka materi ini sama dengan Bahan Pustaka Perkuliahan ke-4.

75
PERTEMUAN X : PERKULIAHAN KE-5
MAZHAB-MAZHAB PENALARAN HUKUM

1. Pendahuluan
Pada pertemuan kesepuluh ini, perkuliahan disajikan adalah
Mazhab-mazhab Penalaran Hukum. Bahan kajian ini memberikan
pemahaman kepada mahasiswa mengenai perkembangan pemikiran
ilmu hukum dari mazhab hukum alam, mazhab hukum positif, mazhab
utilitarianisme, mazhab sejarah, mazhab Sosiological Jurisprudence, dan
Pragmatic Legal Realism. Paparan materi diawali dengan pemahaman
atas masing-masing mazhab tersebut, kemudian memaparkan tentang
pandangan-pandangan dari para filsuf atau para ahli hukum serta
perkembangan pemikiran tentang ilmu hukum dari mazhzab hukum alam
sampai pada Pragmatic Legal Realism.
Capaian pembelajaran yang diharapkan dari pertemuan
perkuliahan ini adalah mahasiswa mampu menguraikan mengenai
pandangan-pandangan dari para ahli hukum serta teori-teori yang
diciptakan oleh para filsuf ilmu hukum. Selain itu, mahasiswa dapat
mendiskusikan materi-materi tersebut sehingga dapat memperoleh
pengetahuan yang mendalam.
Materi perkuliahan Penalaran dan Argumentasi Hukum ini sangat
penting dipahami untuk memudahkan mahasiswa dalam menyelesaikan
tugas-tugas tutorial dalam pertemuan kesebelas. Selain itu juga
menghindari terjadinya pengulangan penjelasan terhadap konsep-konsep
yang berulang kali diketemukan dalam bahan kajian pada perkuliahan
berikutnya.

76
2. Mazhab Hukum Alam
Dalam mazhab hukum alam memiliki ciri utamanya adalah
universal dan abadi, bersifat otonom yang validitasnya bersumber pada
nilainya sendiri. Dalam kajian ontologi Hukum Alam dapat dibedakan
dalam tiga macam yaitu rasionalisme, irasionalisme dan empirisme.
Rasionalisme
Menurut Hugo De Groot sumber hukum adalah rasio manusia
karena karakteristik yang membedakan manusia dan mahluk lain adalah
kemampuan akalnya,seluruh kehidupan manusia harus berdasarkan pada
kemampuan akalnya dan hukum alam adalah hukum yang muncul sesuai
kodrat manusia yang tidak mungkin dapat diubah oleh tuhan sekalipun
karena hukum alam diperoleh manusia dari akalnya tetapi tuhanlah yang
memberikan kekuatan mengikatnya. Landasan-landasan pembatasan
terhadap hukum yang dibuat manusia harus dibatasi dengan tiang hukum
alam sebagai mana dikemukan oleh Grotius yakni: semua prinsip kupunya
dan kau punya. Milik orang lain harus dijaga, prinsip kesetiaan pada janji;
prinsip ganti rugi dan prinsip perlunya hukuman karena pelanggaran atas
hukum alam.28 Dengan demikian hukum akan ditaati karena hukum akan
memberikan suatu keadilan sesuai dengan porsinya.
Irasionalisme
Thomas Aquinas berkaitan erat dengan teologia yang mengakui
bahwa disamping kebenaran wahyu juga terdapat kebenaran akal.
Menurutnya ada dua pengetahuan yang berjalan bersama-sama yaitu
pengetahuan alamiah (berpangkal padaakal) dan pengetahuan iman
(berpangkal pada wahyu ilahi).29 Sementara untuk ketentuan hukum.
Aquinas mendefinisikannya sebagai ketentuan akal untuk kebaikan umum
yang dibuat oleh orang yang mengurus masyarakat. Ada empat macam
hukum yang diberikanAquinas yaitu :a. lex aeterna (hukum rasio tuhan
yang tidak dapat ditangkap oleh pancainderamanusia). b. lex divina
28
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Ilmu Hukum Dan Filsafat Hukum
Syudi Pemikiran Ahli Hukum Sepanjang Zaman, Yogyakarta, 2007, h. 81.
29
Ibid, h. 96.

77
(hukum rasio tuhan yang dapat ditangkap oleh pancaindera manusia).c.
lex naturalis (hukum alam, yaitu penjelmaan lex aeterna ke dalam rasio
manusia).d. lex positivis (penerapan lex naturalis dalam kehidupan
manusia di dunia).
Menurut John Salisbury, jikalau masing-masing penduduknya
bekerja untuk kepentingannya sendiri, kepentingan masyarakat akan
terpelihara dengan sebaik-baiknya. Salisbury juga melukiskan kehidupan
bernegara itu seperti kehidupan sarang lebah, yang sangat memerlukan
kerja sama dari semua unsur,suatu pandangan yang bertitik tolak dari
pendekatan organis.
Empirisme
Menurut Locke, seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman
manusia. Posisi ini adalah posisi empirisme yang menolak pendapat kaum
rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan manusia yang terutama
berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian, rasio atau
pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan.
Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia
mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau
masih kosong. Situasi tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah kertas
putih (tabula rasa) yang kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman
yang dijalani oleh manusia itu. Rasio manusia hanya berfungsi untuk
mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan
sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah
pengalaman.
J. Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni
pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman
batiniah (internal sense atau reflection). Pengalaman lahiriah adalah
pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas
material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian
pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap
aktivitasnya sendiri dengan cara 'mengingat', 'menghendaki', 'meyakini',

78
dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan
membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya.30
3. Mazhab Hukum Positif
Lahirnya positivisme hukum pada abad ke-19, setelah mazhab
hukum alam mengalami kemunduran dan kegagalan. Hukum alam pada
waktu itu tidak bisa lagi memberikan tuntutan di tengah-tengah gugatan
terhadap kepercayaan sosial dan moral pada saat itu.
Menurut paham positivisme, setiap norma hukum harus eksis
dalam alamnya yang obyektif sebagai norma-norma yang positif, serta
ditegaskan dalam wujud kesepakatan kontraktual yang konkret antara
warga masyarakat atau wakil-wakilnya. Disini hukum bukan lagi
dikonsepsikan sebagai asas-asas moral metayuridis yang abstrak tentang
hakikat keadilan, melainkan ius yang telah mengalami positivisasi sebagai
lege atau lex, guna menjamin kepastian mengenai apa yang terbilang
hukum, dan apa pula yang sekalipun normatif harus dinyatakan sebagai
hal-hal yang bukan terbilang hukum.31
Sebelum lahirnya aliran ini, sebenarnya telah berkembang suatu
pemikiran dalam ilmu hukum yang dinamakan aliran Legisme. Pemikiran
aliran hukum ini berkembang semenjak abad pertengahan dan telah
banyak berpengaruh di berbagai negara. Inti dari ajaran Legisme ialah
bahwa hukum diidentikan dengan undang-undang. Dengan kata lain tidak
ada hukum di luar undang-undang.
Dalam penulisan paper ini, Penulis akan memfokuskan pada
beberapa penganut aliran/mazhab positivisme hukum seperti, John
Austin, Hans Kelsen dengan teorinya (The pure theory of Law), H.L.A.
Hart, dan juga membahas sedikit tesis yang dikemukakan Ronald Dworkin
di mana pemikirannya juga tidak lepas atau berkaitan dengan
aliran/mazhab positivisme.

30
Ibid. h. 112.
31
I Dewa Gede Atmadja, Filsafat Hukum Dimensi Tematis dan Historis, Setara
Press, Malang, 2013, h. 132.

79
John Austin adalah seorang positivis yang utama mempertahankan
bahwa satu-satunya sumber hukum adalah kekuasaan yang tertinggi
dalam suatu negara. Austin mengartikan ilmu hukum (yurisprudence)
sebagai teori hukum positif yang otonom dan dapat mencukupi dirinya
sendiri. Ilmu hukum hanyalah untuk menganalisa unsur-unsur yang secara
nyata ada dari sistem hukum moderen. dalam legal positivisme dan
analitic yurisprudence Inggris dan Amerika. Dalam teorinya, Austin mulai
dengan membedakan “law properly so called” dan “law improperly so
called”. Yang disebut pertama, adalah selalu “a species of command”,
suatu ekspresi dari keinginan (wish) atau hasrat, pertanggungjawaban,
untuk menerima hukuman atau sanksi dan superioritas. Sanksi menurut
Austin adalah semata-mata sebagai suatu bentuk membebankan
penderitaan (punishment bukan reward). Yang disebut terakhir, membawa
Austin pada analisisnya tentang “kedaulatan” yang terkenal dan
berpengaruh; “law strictly so called” (kaidah-kaidah hukum positif) adalah
perintah-perintah dari mereka yang secara politik berkedudukan lebih
tinggi (political superiors) kepada mereka yang secara politik
berkedudukan lebih rendah (political inferiors).32
Hans Kelsen adalah seorang eksponen utama dari positivisme.
Dipengaruhi dari epistemology Neo-Kantian, Kelsen dimasukan sebagai
kaun Neo-Kantian karena ia menggunakan pemikiran Kant tentang
pemisahan bentuk dan isi. Kelsen membedakan secara tajam antara
“yang ada” (is) dan “yang seharusnya” (the ought), dan secara konsekuen
antara ilmu-ilmu alam dan disiplin-disiplin, seperti ilmu hukum yang
mempelajari fenomena “normative” jadi bagi Kelsen hukum berhubungan
dengan bentuk (formal), bukan isi (material). Jadi, keadilan sebagai isi
hukum berada di luar hukum, dengan demikian hukum dapat saja tidak
adil, tetapi ia tetaplah hukum karena dikeluarkan oleh penguasa.
Inti ajaran yang disampaikan Hans Kelsen seperti dalam bukunya
The Pure Theory of Law, adalah: “bahwa hukum itu harus dibersihkan dari

32
Ibid., h. 133.

80
anasir-anasir yang tidak yuridis seperti etika, sosiologi, politik, sejarah, dan
lain sebagainya”. Selanjutnya menurut Kelsen bahwa orang menaati
hukum karena ia merasa wajib untuk menaatinya sebagai suatu kehendak
negara. hukum itu tidak lain merupakan suatu kaidah ketertiban yang
menghendaki orang menaatinya sebagaimana seharusnya. Sebagai
contoh, yang membeli barang seharusnya membayar. Apakah dalam
kenyataannya si pembeli itu membayar atau tidak, itu soal yang
menyangkut kenyataan dalam masyarakat dan hal itu bukan menjadi
wewenang ilmu hukum.
Hans Kelsen juga terkenal dengan grundnorm yang menjadi motor
penggerak seluruh sistem hukum, menjadi dasar mengapa hukum itu
harus dipatuhi, dan menjadi dasar pertanggungjawaban mengapa hukum
harus dilaksanakan. Dari konsep grundnorm Kelsen sebagai pencetus
teori hukum murni juga berjasa mengembangkan teori jenjang
(stufentheorie) yang semula dikemukakan oleh Adolf Merkl (1836-1896).33
Teori ini melihat hukum sebagai suatu sistem yang terdiri dari susunan
norma berbentuk piramida yang menyatakan bahwa sistem hukum pada
hakikatnya merupakan sistem hierarki dari peringkat terendah hingga ke
peringkat tertinggi.34 Semakin tinggi peringkat kedudukannya, semakin
abstrak dan umum sifat norma yang dikandungnya, dan semakin rendah
peringkatnya semakin konkret operasional sifat kandungan normanya.
Norma yang lebih rendah memperoleh kekuasaannya dari norma yang
lebih tinggi. Norma yang paling tinggi yang menduduki puncak piramida,
oleh Kelsen disebut Grundnorm (norma dasar)
4. Mazhab Utilitarianisme
Utilitarianisme atau Utilisme adalah aliran yang meletakan
kemanfaatkan sebagai tujuan utama hukum. Kemanfaatan disini diartikan
sebagai kebahagiaan (happiness). Jadi baik buruk atau adil tidaknya

33
B. Arief Sidharta, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum,
Teori Hukum, Dan Filsafat Hukum, Refika Aditama, Bandung, 2007, h. 68.
34
I Dewa Gede Atmadja, Op. cit., h. 138.

81
suatu hukum, tergantung kepada apakah hukum itu memberikan
kebahagiaan kepada manusia atau tidak.
Kebahagiaan ini selayaknya dapat dirasakan oleh setiap individu.
Tetapi jika tidak mungkin tercapai (dan pasti tidak mungkin), diupayakan
agar kebahagiaan itu dinikmati oleh sebanyak mungkin individu dalam
masyarakat (bangsa) tersebut (the greatest happiness for greatest number
of people).35
Aliran ini sesungguhnya dapat pula dimasukan kedalam Positivisme
Hukum, mengingat faham ini pada akhirnya sampai pada kesimpulan
tujuan hukum adalah menciptakan ketertiban masyarakat, di samping
untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada jumlah orang
yang terbanyak. Ini berarti hukum merupakan pencerminan perintah
penguasa juga, bukanpencerminan dari rasio semata.
Pendukung Utilitarianisme yang paling penting adalah :
a. Jeremy Bentham (1748-1832)
Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagian dan
kesusahan. Manusia selalu berusaha memperbanyak kebahagiaan dan
mengurangi kesusahannya. Kebaikan adalah kebahagian, dan kejahatan
adalah kesusahan. Ada keterkaitan yang erat antara kebaikan dan
kejahatan dengan kebaikan dan kesusahan. Tugas hukum adalah
memlihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Tegasnya, memelihara
kegunaan.
Pandangan Bentham sebenarnya beranjak dari perhatiannya yang
besar terhadap individu. Ia menginginkan agar hukum pertama-tama
dapat memberikan jaminan kebahagiaan individu-individu, bukan
langsung ke masyarakat secara keseluruhan. Walaupun demikian,
Bentham tidak menyangkal bahwa di samping kepentingan individu,
kepentingan masyarakat pun perlu diperhatikan. Agar tidak terjadi
bentrokan, kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan sebesar-

35
Ibid, h. 70.

82
besarnya itu perlu dibatasi. Jika tidak, akan terjadi apa yang disebut homo
homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia lain).
Untuk menyeimbangkan antar kepentingan (individu dan
masyarakat), Bentham menyarankan agar ada “simpati” dari tiap-tiap
individu. Walaupun demikian, titik berat perhatian harus tetap pada
individu itu, karena apabila setiap individu telah memperoleh
kebahagiaannya, dengan sendirinya kebahagiaan (kesejahteraan)
masyarakat akan dapat diwujudkan secara simultan.
b. Jhon Stuar Mill (1806-1873)
Ia menyatakan bahwa tujuan manusia adalah kebahagiaan.
Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan itu melalui hal-hal yang
membangkitkan nafsunya. Jadi yang ingin dicapai oleh manusia bukan
benda atau sesuatu hal tertentu, melainkan kebahagiaan yang dapat
ditimbulkannya.
c. Rudolf von Jhering (1818-1892)
Baginya tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingan-
kepentingan. Dalam mendefinisikan “kepentingan” ia mengikuti Bentham,
dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari
penderitaan.36
5. Mazhab Sejarah
Abad kesembilan belas merupakan masa keemasan bagi lahirnya
ide-ide baru dan gerakan intelektual dimana manusia mulai menyadari
kemampuannya untuk merubah keadaan dalam semua lapangan
kehidupan. Kesadaran tersebut telah membawa perubahan cara pandang
dalam melihat eksistensi manusia. Pada masa ini manusia dipandang
sebagai wujud dinamis yang senantiasa berkembang dalam lintasan
sejarah.
Di bidang hukum, abad kesembilan belas dapat dikatakan sebagai
tonggak lahirnya berbagai macam aliran atau mazhab hukum yang
pengaruhnya bisa dirasakan sampai saat ini. Aliran atau mazhab hukum

36
B. Arief Sidharta, Op., cit. h. 72.

83
yang lahir pada masa ini secara sederhana dapat diklasifikasi menjadi tiga
aliran yaitu mazhab positivisme, mazhab utilitarianisme dan mazhab
historis atau sejarah.
Dalam rentang sejarah, perkembangan aliran pemikiran hukum
sangat tergantung dari aliran pemikiran hukum sebelumnya, sebagai
sandaran kritik dalam rangka membangun kerangka teoritik berikutnya. Di
samping itu kelahiran satu aliran sangat terkait dengan kondisi lingkungan
tempat suatu aliran itu pertama kali muncul. Dengan kata lain lahirnya satu
aliran atau mazhab hukum dapat dikatakan sebagai jawaban fundamental
terhadap kondisi kekinian pada zamannya. Sebagai contoh dapat
dikemukakan kritik positivisme dan aliran sejarah terhadap aliran hukum
alam atau kritik kaum realis terhadap positivistik. Demikian juga halnya
dengan kritik yang ditujukan oleh postmodernisme terhadap kemapanan
modernisme.37
Kelahiran mazhab sejarah dipelopori oleh Friedrich Carl von
Savigny (1779-1861) melalui tulisannya yang berjudul Von Beruf unserer
Zeit fur Gesetzgebung und Rechtwissenschaft (Tentang Pekerjaan pada
Zaman Kita di Bidang Perundang-undangan dan Ilmu Hukum),
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pertama ajaran Montesqueu dalam
bukunya L’ esprit des Lois dan pengaruh faham nasionalisme yang mulai
timbul pada awal abad ke-19. Di samping itu, munculnya aliran ini juga
merupakan reaksi langsung dari pendapat Thibaut yang menghendaki
adanya kodifikasi hukum perdata Jerman yang didasarkan pada hukum
Perancis (Code Napoleon).
Menurut Friedmann aliran ini juga memberikan aksi tertentu
terhadap dua kekuatan besar yang berkuasa pada zamannya. Kedua hal
tersebut menurut Friedmann adalah :
1) Rasionalisme dari abad ke-18 dengan kepercayaan terhadap
hukum alam, kekuasaan akal dan prinsip-prinsip pertama yang semuanya
dikombinasikan untuk meletakkan suatu teori hukum dengan cara deduksi

37
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim, Op. cit. h. 137.

84
dan tanpa memandang fakta historis, ciri khas nasional, dan kondisi
sosial.
2) Kepercayaan dan semangat revolusi Perancis dengan
pemberontakannya terhadap tradisi, kepercayaan pada akal dan
kekuasaan kehendak manusia atas keadaan-keadaan zamannya.
Sedangkan menurut Lili Rasjidi kelahiran alairan/mazhab sejarah
merupakan reaksi tidak langsung dari terhadap aliran hukum alam dan
aliran hukum positif. Hal pertama yang mempengaruhi lahirnya mazhab
sejarah adalah pemikran Montesqueu dalam bukunya L’ esprit des Lois
yang mengatakan tentang adanya keterkaitan antara jiwa suatu bangsa
dengan hukumnya.38
Menurut W. Friedman gagasan yang benar-benar penting dari
L’esprit des Lois adalah tesis bahwa hukum walaupun secara samar
didasarkan atas beberapa prinsip hukum alam mesti dipengaruhi oleh
lingkungan dan keadaan seperti iklim, tanah, agama, adat-kebiasaan,
perdagangan dan lain sebagainya. Berangkat dari ide tersebut
Montesqueu kemudian melakukan studi perbandingan mengenai undang-
undang dan pemerintahan. Gagasan Montesquieu tentang sistem hukum
merupakan hasil dari kompleksitas berbagai faktor empiris dalam
kehidupan manusia. Ketika Montesquieu membahas penyebab suatu
negara mempunyai perangkat hukum atau struktur sosial dan politik
tertentu, dikatakan bahwa hal itu dikarenakan oleh dua faktor penyebab
utama yang membentuk watak masyarakat yaitu faktor fisik dan faktor
moral.39 Montesquiue melihat adanya dua kekuatan yang bekerja dalam
individu secara biologis; kekuatan egoistis yang mendorong manusia
untuk menuntut hak-haknya, dan kekuatan moral yang membuatnya
sebagai anggota dari kelompok sosial yang terikat pada berbagai
kewajiban disamping adanya hak-hak.

38
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, Mandar Maju,
Bandung, 2002, h. 53
39
Ibid, h. 54.

85
6. Mazhab Sosiological Jurisprudence
Aliran ini berkembang di Amerika, pada intinya aliran ini hendak
mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan
hukum yang hidup dalam masyarakat. Kata “sesuai” diartikan sebagai
hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat.
Menurut aliran Sociological Jurisprudence ini, hukum yang abik haruslah
hukum yang sesuai dengan yang hidup di masyarakat. Aliran ini
memisahkan secara tegas antara hukum positif (the positive law) dan
hukum yang hidup (the living law).
Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan sosiologi hukum.
Dengan rasio demikian, sosiologi hukum merupakan cabang sosiologi
yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial, sedangkan Sociological
Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang
mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan
sebaliknya. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari
pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala
yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga
diselidiki juga pengaruh sebaliknya, yaitu pengaruh hukum terhadap
masyarakat. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence
dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Sociological
jurisprudence, cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada
masyarakat, sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari
masyarakat kepada hukum.
Tokoh utama aliran Sociological Jurisprudence, Roscoe Pound
menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial dan alat control
masyarakat (Law as a tool of social engineering and social controle) yang
bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat
memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat.
Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak
memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang
bersangkutan. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan

86
paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Pendapat/pandangan dari
Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen
Jurisprudence. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat
“pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens
forschung und Lebens bewertung), atau secara konkritnya lebih
memikirkan keseimbangan kepentingan-kepentingan (balancing of
interest, private as well as public interest).
Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan
synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah.
Maksudnya, kedua liran tersebut ada kebenarannya. Hanya hukum yang
sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Yang menjadi
unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal
yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman.40
Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman.
Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum.
Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal,
yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat
undang-undang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang
berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu.
Tokoh lain aliran Sociological Jurisprudence adalah Eugen Ehrlich
(1862-1922), ia beranggapan bahwa hukum tunduk pada ketentuan-
ketentuan sosial tertentu. Hukum tidak mungkin efektif, oleh karena
ketertiban dalam masyarakat didasarkan pengakuan sosial terhadap
hukum, dan bukan karena penerapannya secara resmi oleh Negara.41
7. Pragmatic Legal Realism
Gerakan realis mulai melihat apa sebenarnya yang dikehendaki
hukum dengan menghubungkan kedua sisinya, seperti fakta-fakta dalam
kehidupan sosial. Realisme yang berkembang di Amerika Serikat
menjelaskan bagaimana pengadilan membuat putusan. Penemuan

40
I Dewa Gede Atmadja, Op. cit., h. 161.
41
Lily Rasyidi, Op. cit, h. 64.

87
mereka mengembangkan formula dalam memprediksi tingkah laku hakim
(peradilan) sebagai suatu fakta (kenyataan). Jadi, hal yang pokok dalam
ilmu hukum realis adalah “gerakan dalam pemikiran dan kerja tentang
hukum”. Ciri-ciri dari gerakan ini, Llewellyn menyebut beberapa hal, yang
terpenting diantaranya :
1) Tidak ada mazhab realis, realisme adalah gerakan dalam
pemikiran dan kerja tentang hukum.
2) Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah dan alat
untuk tujuan-tujuan sosial, sehingga tiap bagian harus diuji tujuan dan
akibatnya. Realisme mengandung konsepsi tentang masyarakat yang
berubah lebih cepat daripada hukum.
3) Realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara
hukum yang ada dan yang seharusnya ada untuk tujuan-tujuan studi.
Pendapat-pendapat tentang nilai harus selalu diminta agar tiap
penyelidikan ada sasarannya, tetapi selama penyelidikan, gambaran
harus tetap sebersih mungkin, karena keinginan-keinginan pengamatan
atau tujuan-tujuan etis.
4) Realisme tidak percaya pada ketentuan-ketentuan dan konsepsi-
konsepsi hukum, sepanjang ketentuan dan konsepsi itu menggambarkan
apa yang sebenarnya dilakukan oleh pengadilan-pengadilan dan orang-
orang. Realisme menerima peraturan-peraturan sebagai “ramalan-
ramalan umum tentang apa yang akan dilakukan oleh pengadilan-
pengadilan.”
5) Realisme menekankan pada evolusi tiap bagian dari hukum
dengan mengingat akibatnya.
Llewellyn sebagai salah satu tokoh pragmatic legal realism,
mengalisa perkembangan hukum di dalam kerangka hubungan antara
pengetahuan-pengetahuan hukum dengan perubahan-perubahan
keadaan masyarakat. Hukum merupakan bagian dari kebudayaan yang
antara lain mencakup kebiasaan, sikap-sikap maupun cita-cita yang
ditransmisikan dari suatu generasi tertentu ke generasi berikutnya.

88
Dengan kata lain, hukum merupakan bagian kebudayaan yang telah
melembaga. Lembaga-Lembaga tersebut telah terorganisir dan
harapannya terwujud di dalam aturan-aturan eksplisit yang wajib ditaati
serta didukung oleh para ahli.
Jadi yang namanya hukum itu bukan hanya yang tertulis dalam
undang-undang atau ketentuan dan peraturan tertulis, namun lebih besar
ditentukan oleh hakim di pengadilan yang pada umumnya didasarkan
pada kenyataan di lapangan. Hakim punya otoritas untuk menentukan
hukum ketika menjatuhkan putusan di pengadilan, meskipun putusannya
itu dalam beberapa hal tidak selalu sama dengan apa yang tertulis dalam
undang-undang atau aturan lainnya. Sehubungan dengan itu moralitas
hakim sangat menentukan kualitas hukum yang merupakan hasil putusan
pengadilan itu. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengatakan
bahwa suatu kasus tidak dapat diadili karena belum ada hukum tertulis
yang mengaturnya.
Realisme Amerika Serikat adalah merupakan pendekatan seara
pragmatis dan behaviouristis terhadap lembaga-lembaga sosial. Para ahli
hukum Amerika mengembangkan cara pendekatan tersebut dengan
meletakkan tekanan pada putusan-putusan pengadilan dan tindakan-
tindakan hukum.
Sumber hukum utama aliran ini adalah putusan hakim, hakim lebih
sebagai penemu hukum daripada pembuat hukum yang mengandalkan
peraturan perundang-undangan, apabila dibandingkan dengan cara
berpikir aliran positivisme sangat bertentangan karena memang aliran
relisme ini merupakan reaksi dari aliran positivisme yang lebih menekan
hukum hanya sebagai segala sesuatu yang tertuang dalam undang-
undang dan aliran realisme ini berusaha untuk merubah cara pandang
para ahli hukum di Amerika. Kaum realisme Amerika menganggap bahwa
hukum itu sebagai praktek (law in action) hukum itu adalah suatu
pengalaman dan menganggap hukum itu harus bebas dari nilai-nilai.

89
8. Penutup
Bagian Penutup terdiri dari Rangkuman atas materi perkuliahan
yang dikemukakan diatas dan latihan untuk mengetahui capaian
pembelajaran.
Rangkuman
Demikian pembahasan tentang mazhab-mazhab dalam penalaran
hukum yang merupakan inti dari penalaran hukum itu sendiri. Dengan
mengetahui pokok-pokok mazhab-mazhab tersebut, sekaligus juga dapat
diamati berbagai corak pemikiran tentang hukum. Dengan demikian,
sadarlah kita betapa kompleksnya hukum itu dengan berbagai sudut
pandangnya. Hukum dapat diartikan bermacam-macam, demikian juga
tujuan hukum. Setiap mazhab berangkat dari argumentasinya sendiri.
Akhirnya, pemahaman terhadap mazhab-mazhab tersebut dapat membuat
wawasan kita makin kaya dan terbuka dalam memandang hukum dan
masalah-masalahnya.
Latihan
Jawablah pertanyaan di bawah ini:
1. Sebut dan jelaskan pandangan masing-masing mazhab dalam
penalaran hukum!
2. Jelaskan perbedaan pandangan masing-masing mazhab dalam
penalaran hukum!
3. Berikan kritik saudara terhadap pandangan Hans Kelsen tentang Teori
Hukum Murni !
4. Apakah perbedaan pandangan sosiological jurisprudence dengan
pandangan pragmatic legal realism?

Bahan Pustaka :
1. Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 2002, h. 53-69.

90
2. Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Ilmu Hukum Dan
Filsafat Hukum Syudi Pemikiran Ahli Hukum Sepanjang Zaman,
Yogyakarta, 2007, h. 81-151.
3. B. Arief Sidharta, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum,
Ilmu Hukum, Teori Hukum, Dan Filsafat Hukum, Refika Aditama,
Bandung, 2007, h. 68-78.

PERTEMUAN XI : TUTORIAL KE-5


MAZHAB-MAZHAB PENALARAN HUKUM

1. Pendahuluan
Tutorial ke-5 merupakan pendalaman atas materi “Mazhab-mazhab
Penalaran Hukum”. Bahan kajian memahami lebih mendalam tentang
pandangan-pandangan para filsuf hukum dari mazhab ke mazhab serta
dapat membedakan pandangan filsuf yang satu dengan yang lainnya dan
mahasiswa dapat mengkritik pandangan dari filsuf tersebut. Mahasiswa
agar melakukan diskusi di dalam kelompok untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan permasalahan tersebut.
Dengan selesainya tutorial ini diharapkan mampu mewujudkan
capaian pembelajaran yaitu mahasiswa secara bertanggung jawab, jujur,
dan demokratis mampu berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan.
Dengan demikian, dapat dievaluasi aspek hard skills dan soft skills
mahasiswa.

2. Discussion Task
1. Adakah pentingnya kita mempelajari mazhab-mazhab dalam
penalaran hukum ?
2. Bandingkan penalaran hukum dalam setiap mazhab tersebut !

91
3. Problem Task
Adakah pengaruh yang diberikan oleh penalaran hukum dalam
mazhab-mazhab tersebut terhadap masa dewasa ini ?
4. Bahan Pustaka:
Lihat Bahan Pustaka Perkuliahan ke-5.

PERTEMUAN XII : PERKULIAHAN KE-6


ANALISA TERHADAP KONSEP-KONSEP HUKUM

1. Pendahuluan
Pada pertemuan kesepuluh ini, perkuliahan disajikan adalah
Analisa Terhadap Konsep-konsep Hukum. Bahan kajian ini memberikan
pemahaman kepada mahasiswa mengenai hak, kewajiban, hubungan
hukum, akibat hukum, dan tanggung jawab. Paparan materi diawali
dengan pemahaman atas masing-masing konsep hukum tersebut.
Kemudian memaparkan tentang pandangan-pandangan dari para filsuf
atau para ahli hukum serta perkembangan pemikiran tentang ilmu hukum
dalam menganalisa dengan menggunakan konsep-konsep hukum.
Capaian pembelajaran yang diharapkan dari pertemuan
perkuliahan ini adalah mahasiswa mampu menguraikan mengenai
pandangan-pandangan dari para ahli hukum serta konsep-konsep hukum
oleh para filsuf ilmu hukum. Selain itu, mahasiswa dapat mendiskusikan
materi-materi tersebut sehingga dapat memperoleh pengetahuan yang
mendalam.
Materi perkuliahan analisa terhadap konsep-konsep hukum ini
sangat penting dipahami untuk memudahkan mahasiswa dalam
menyelesaikan tugas-tugas tutorial dalam pertemuan kesebelas. Selain itu
juga menghindari terjadinya pengulangan penjelasan terhadap konsep-
konsep yang berulang kali diketemukan dalam bahan kajian pada
perkuliahan berikutnya.

92
2. Hak
Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang
semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak
dapat oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut
secara paksa olehnya.
Menurut Soerjono Soekanto, hak dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Hak searah atau relatif, muncul dalam hukum perikatan atau perjanjian.
Misal hak menagih atau melunasi prestasi.
2. Hak jamak arah atau absolut, terdiri dari :
a) Hak dalam HTN (Hukum Tata Negara) pada penguasa menagih
pajak, pada warga hak asasi;
b) Hak kepribadian, hak atas kehidupan, hak tubuh, hak kehormatan
dan kebebasan;
c) Hak kekeluargaan, hak suami istri, hak orang tua, hak anak;
d) Hak atas objek imateriel, hak cipta, merek dan paten.
Hak dalam bahasa Belanda disebut Subjectief recht, sedangkan
objectief recht artinya Hukum.
1. Hak Mutlak (absolut), ialah memberikan kekuasaan atau wewenang
kepada yang bersangkutan untuk bertindak, dipertahankan dan
dihormati oleh orang lain.
a) Hak asasi manusia;
b) Hak publik, misal hak atas kemerdekaan atau kedaulatan, hak
negara memungut pajak;
c) Hak keperdataan, hak menuntut kerugian, hak kekuasaan
orang tua, hak perwalian, hak
pengampuan, hak kebendaan dan hak imateriel.
2. Hak relatif (nisbi), ialahmemberikan hak kekuasaan atau wewenang
kepada orang tertentu untuk menuntut kepada orang kain tertentu untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu, dan menyerahkan sesuatu.
a) Hak publik relatif, hak untuk memungut pajak atas pihak
tertentu;

93
b) Hak keluarga relatif, hak suami istri;
c) Hak kekayaan relatif, hak dalam hukum perikatan atau
perjanjian misal jual-beli.

2. Kewajiban
Kewajiban berasal dari kata wajib. Wajib adalah beban untuk memberikan
sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh pihak
tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang pada prinsipnya
dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan. Kewajiban
adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Kewajiban dikelompokan menjadi 5, yaitu :
1. Kewajiban mutlak, tertuju kepada diri sendiri maka tidak berpasangan
dengan hak dan nisbi melibatkan hak di lain pihak;
2. Kewajiban publik, dakam hukum publik yang berkorelasi dengan hak
publik ialah wajib mematuhi hak publik dan kewajiban perdata timbul
dari perjanjian berkorelasi dengan hak perdata;
3. Kewajiban positif, menghendaki dilakukan sesuatu dan kewajiban
negatif, tidak melakukan sesuatu;
4. Kewajiban universal atau umum, ditujukan kepada semua warga
negara atau secara umum, ditujukan kepada golongan tertentu dan
kewajiban khusus, timbul dari bidang hukum tertentu, perjanjian;
5. Kewajiban primer, tidak timbul dari perbuatan melawan hukum, misal
kewajiban untuk tidak mencemarkan nama baik dan kewajiban yang
bersifat memberi sanksi, timbul dari perbuatan melawan hukum misal
membayar kerugian dalam hukum perdata.

3. Hubungan Hukum
Hubungan hukum ialah hubungan antara dua atau lebih subyek
hukum. Dalam hubungan hukum ini, hak dan kewajiban pihak yang satu
akan berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain. Dengan
demikian hukum memberikan suatu hak kepada subyek hukum untuk

94
berbuat sesuatu atau menuntut sesuatu yang diwajibkan oleh hak
tersebut. Pada akhirnya terlaksananya hak dan kewajiban itu dijamin oleh
hukum. Setiap hubungan hukum mempunyai dua segi, yaitu
kewenangan/hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini keduanya timbul
dari satu peristiwa hukum dan lenyapnya pun bersamaan. Unsur-unsur
hubungan hukum setidaknya ada tiga hal, yaitu adanya para pihak, obyek,
dan hubungan antara pemilik hak dan pengemban kewajiban atau adanya
hubungan atas obyek yang bersangkutan. Sementara Jenis-jenis
Hubungan Hukum, antara lain:
1. Hubungan hukum yang bersegi satu.
Dalam hal ini hanya satu pihak yang memiliki hak sedangkan lainnya
hanya memiliki kewajiban.
2. Hubungan hukum bersegi dua.
Contohnya ialah perjanjian, dimana kedua belah pihak masing-masing
memiliki hak dan kewajiban.
3. Hubungan antara subyek hukum dengan beberpa subyek hukum
lainnya. Contoh dalam hal sewa-menyewa, maka si pemilik memiliki hak
terhadap beberapa pihak / subyek hukum lainnya, yang menyewa atas si
pemilik.
Dalam hukum adat jenis Hubungan Hukum terbedakan menjadi
dua, yaitu:
1. Hubungan sederajat (nebeinander) dan beda derajat (nacheinander.)
Hubungan sederajat, misal : hubungan suami-isteri, hubungan antara
provinsi yang satu dengan yang lain. Hubungan beda derajat, misal :
hubungan orangtua dengan anak, hubungan antara pemerintah dengan
rakyat.
2. Hubungan timbal balik dan hubungan timpang.
Hubungan timbal balik terjadi karena para pihaknya sama-sama memiliki
hak dan kewajiban. Hubungan Timpang terjadi jika hanya satu pihak saja
yang memiliki hak, sedangkan pihak lain yang memiliki kewajiban.

95
Dalam hal ini hubungan sederajat tidak selalu menimbulkan
hubungan timbal balik, contoh: pinjam meminjam merupakan hubungan
sederajat, tetapi timpang. Sedangkan hubungan beda derajat kadang
menimbulkan hubungan timbal balik, contoh: hubungan buruh dengan
majikannya.
4. Akibat Hukum
Pengertian akibat hukum secara umum adalah segala akibat yang
terjadi dari segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum
terhadap objek hukum ataupun akibat-akibat lain yang disebabkan karena
kejadian-kejadian tertentu yang oleh hukum yang bersangkutan sendiri
telah ditentukan atau dianggap sebagai akibat hukum.
Akibat hukum inilah yang selanjutnya merupakan sumber lahirnya
hak dan kewajiban lebih lanjut bagi subjek-subjek hukum yang
bersangkutan.
Suatu akibat yang ditimbulkan oleh adanya suatu hubungan
hukum. Suatu hubungan hukum memberikan hak dan kewajiban yang
telah ditentukan oleh undang-undang, sehingga kalau dilanggar akan
berakibat, bahwa orang yang melanggar itu dapat dituntut di muka
pengadilan. Suatu hubungan pergaulan persahabatan biasa seperti ingkar
janji untuk menonton bioskop bersama tidak membawa akibat hukum.
Namun secara non-hukum misalnya ganjalan dan tidak enak dari yang
dijanjikan bisa saja terjadi.
Contoh :
Akibat hukum yang terjadi, karena perbuatan hukum yang
dilakukan oleh subjek hukum terhadap objek hukum, misalkan segala
akibat perjanjian yang telah diadakan pihak tertentu mengenai sesuatu hal
tertentu. Dengan telah diadakannya suatu perjanjian, maka berarti telah
lahir suatu akibat hukum yang melahirkan lebih jauh segala hak dan
kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para subjek hukum yang
bersangkutan dalam menepati isi perjanjian tersebut.

96
Akibat hukum yang timbul karena adanya kejadian-kejadian tertentu
yang oleh hukum yang bersangkutan sendiri telah diakui dan dianggap
sebagai akibat hukum, misalkan :
Keadaan darurat yang telah terjadi, yang mengakibatkan hukum
terpaksa membenarkan para subjek hukum untuk melakukan tindakan-
tindakan tertentu yang dianggap perlu untuk mengatasi atau menghadapi
keadaan darurat tersebut, meskipun di dalam keadaan yang wajar
tindakan-tindakan tersebut mungkin terlarang menurut hukum.
Sebagai contoh :
Dalam keadaan kebakaran di mana seseorang sudah terkepung
oleh api, maka orang tersebut bisa saja merusak atau menjebol tembok,
pintu, jendela atau apa saja untuk jalan keluar bagi dirinya untuk
menyelamatkan dirinya.
Dalam keadaan terpaksa, demi keselamatan dirinya seseorang
oleh hukum dapat dibenarkan untuk lebih dahulu membunuh orang lain
sebelum orang tersebut mendahului membunuh dirinya.
Demikianlah penjelasan mengenai pengertian subjek hukum, objek
hukum, dan akibat hukum. semoga tulisan ini bermanfaat.
5. Tanggung Jawab
Tanggung jawab Hukum adalah kesadaran manusia akan tingkah
laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan
kewajibannya.
Ridwan Halim mendefinisikan tanggung jawab hukum sebagai
sesuatu akibat lebih lanjut dari pelaksaan peranan, baik peranan itu
merupakan hak dan kewajiban ataupun kekuasaan. Secara umum
tanggung jawab hukum diartikan sebagai kewajiban untuk melakukan
sesuatu atau berprilaku menurut cara tertentu tidak menyimpang dari
pertaturan yang telah ada.
Purbacaraka berpendapat bahwa tanggung jawab hukum
bersumber atau lahir atas penggunaan fasilitas dalam penerapan

97
kemampuan tiap orang untuk menggunakan hak atau/dan melaksanakan
kewajibannya. Lebih lanjut ditegaskan, setiap pelaksanaan kewajiban dan
setiap penggunaan hak baik yangn dilakukan secara tidak memadai
maupun yang dilakukan secara memadai pada dasarnya tetap harus
disertai dengan pertanggung jawaban, demikian pula dengan pelaksanaan
kekuasaan.
Pengertian tanggung jawab hukum menurut hukum
perdataTanggung jawab hukum dalam hukum perdata berupa tanggung
jawab seseorang terhadap perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan
melawan hukum memiliki ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan
dengan perbuatan pidana. Perbuatan melawan hukum tidak hanya
mencakup perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang pidana
saja, akan tetapi jika perbuatan tersebut bertentangan dengan undang-
undang lainnya dan bahkan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang
tidak tertulis. Ketentuan perundang-undangan dari perbuatan melawan
hukum bertujuan untuk melindungi dan memberikan ganti rugi kepada
pihak yang dirugikan.
Menurut pasal 1365 KUHPerdata, maka yang dimaksud dengan
perbuatan melanggar hukum adalah perbuatan yang melawan hukum
yang dilakukan oleh seseorang yang karena salahnya telah menimbulkan
kerugian bagi orang lain. Dalam ilmu hukum dikenal 3 katagori dari
perbuatan melawan hukum, yaitu sebagai berikut:
- Perbuatan melawan hukum karena kesengajaan
- Perbuatan melawan hukum tanpa kesalahan (tanpa unsur
kesengajaan maupun kelalaian)
- Perbuatan melawan hukum karena kelalaian
Maka model tanggung jawab hukum adalah Tanggung jawab
dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan kelalaian) sebagaimanapun
terdapat dalam pasal 1365 KUHPerdata, yaitu: “tiap-tiap perbuatan
melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain,

98
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut”.
Tanggung jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian
sebagaimana terdapat dalam pasal 1366 KUHPerdata yaitu: “setiap orang
bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau
kurang hati-hatinya. Tanggung jawab mutlak (tanpa kesalahan)
sebagaimana terdapat dala pasal 1367 KUHPerdata yaitu Seseorang
tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena
perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugain yang disebabkan karena
perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan
oleh barang-barang yang berada dibawah pengawasannya;
Orang tua dan wali bertanggung jawab tentang kerugian, yang
disebabkan oleh anak-anak belum dewasa, yang tinggal pada mereka dan
terhadap siapa mereka melakukan kekuasaan orang tua dan wali;
Majikan-majikan dan mereka yang mengangkat orang-orang lain
untuk mewakili urusan-urusan mereka, adalah bertanggung jawab tentang
kerugian yang diterbitkan oleh pelayan-pelayan atau bawahan-bawahan
mereka di dalam melakukan pekerjaan untuk mana orang-orang ini
dipakainya;
Guru-guru sekolah dan kepala-kepala tukang bertanggung jawab
tentang kerugian yang diterbitkan oleh murid-murid dan tukang-tukang
mereka selama waktu orang-orang ini berada dibawah pengawasan
mereka;
Tanggung jawab yang disebutkan diatas berkahir, jika orangtua,
wali, guru sekolah dan kepala-kepala tukang itu membuktikan bahwa
mereka tidak dapat mencegah perbuatan untuk mana mereka seharusnya
bertanggung jawab.
6. Penutup
Demikian uraian tentang hak, kewajiban, hubungan hukum, akibat
hukum dan tanggung jawab.

99
Rangkuman
Hak dibedakan menjadi dua yaitu hak searah atau relatif, muncul
dalam hukum perikatan atau perjanjian. Misal hak menagih atau melunasi
prestasi dan hak jamak arah atau absolute. Sedangkan kewajiban
dibedakan menjadi lima yakni kewajiban mutlak, tertuju kepada diri sendiri
maka tidak berpasangan dengan hak dan nisbi melibatkan hak di lain
pihak, kewajiban publik, dakam hukum publik yang berkorelasi dengan
hak publik ialah wajib mematuhi hak publik dan kewajiban perdata timbul
dari perjanjian berkorelasi dengan hak perdata, kewajiban positif,
menghendaki dilakukan sesuatu dan kewajiban negatif, tidak melakukan
sesuatu, kewajiban universal atau umum, ditujukan kepada semua warga
negara atau secara umum, ditujukan kepada golongan tertentu dan
kewajiban khusus, timbul dari bidang hukum tertentu, perjanjian,
kewajiban primer, tidak timbul dari perbuatan melawan hukum.
Hubungan hukum ialah hubungan antara dua atau lebih subyek
hukum. Dalam hubungan hukum ini, hak dan kewajiban pihak yang satu
akan berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain. Dengan
demikian hukum memberikan suatu hak kepada subyek hukum untuk
berbuat sesuatu atau menuntut sesuatu yang diwajibkan oleh hak
tersebut.
Akibat hukum secara umum adalah segala akibat yang terjadi dari
segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum terhadap
objek hukum ataupun akibat-akibat lain yang disebabkan karena kejadian-
kejadian tertentu yang oleh hukum yang bersangkutan sendiri telah
ditentukan atau dianggap sebagai akibat hukum.
Tanggung jawab hukum sebagai sesuatu akibat lebih lanjut dari
pelaksaan peranan, baik peranan itu merupakan hak dan kewajiban
ataupun kekuasaan. Secara umum tanggung jawab hukum diartikan
sebagai kewajiban untuk melakukan sesuatu atau berprilaku menurut cara
tertentu tidak menyimpang dari pertaturan yang telah ada.

100
Latihan: Jawablah soal di bawah ini
1. Jelaskan tentang hak, kewajiban, hubungan hukum, akibat hukum dan
tanggung jawab ! serta berikan masing-masing contoh!
2. Berikan satu buah contoh hubungan hukum perdata dan hubungan
hukum pidana!
3. Berikan satu buah contoh bentuk tanggung jawab hukum dalam hukum
perdata!

Bahan Pustaka :
1. Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 2002, h. 109-121.
2. Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Ilmu Hukum Dan
Filsafat Hukum Syudi Pemikiran Ahli Hukum Sepanjang Zaman,
Yogyakarta, 2007, h. 38-42.

PERTEMUAN XIII : TUTORIAL KE-6


ANALISA TERHADAP KONSEP-KONSEP HUKUM

1. Discussion Task
1. Uraikan macam-macam hak dan berikan masing-masing
contohnya !
2. Diskusikan karakteristik penalaran dari hak dan kewajiban !
3. Bagaimanakah hubungan antara hak dengan teori kepentingan,
teori kekuatan dan teori fungsi sosial ?
Bahan Pustaka :
- Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 2002.

101
PERTEMUAN XIV : PERKULIAHAN KE-7
PENYELESAIAN TERHADAP INHARMONIS HUKUM

1. Pendahuluan
Bahan kajian penyelesaian terhadap inharmonisasi hukum ini,
diawali dengan memahami aspek-aspek penalaran hukum yang
fundamental dan bersifat general seperti Asas Preferensi, Penemuan
Hukum, Kesesatan Dalam Penalaran Hukum, Metode Menemukan
Kebenaran Dalam Hukum. Hal-hal itu sangat penting sebagai dasar untuk
memahami penalaran dalam melakukan penalaran hukum.
Dengan selesainya perkuliahan ini diharapkan mampu mewujudkan
capaian pembelajaran yang telah ditentukan bahwa, mahasiswa secara
bertanggung jawab, jujur dan demokratis mampu memecahkan
permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan inharmonisasi
hukum.

2. Interpretasi Hukum
Penafsiran hukum adalah suatu upaya yang pada dasarnya
menerangkan, menjelaskan, menegaskan baik dalam arti memperluas
maupun membatasi/ mempersempit pengertian hukum yang ada dalam
rangka penggunaannya untuk memecahkan masalah atau persoalan yang
sedang dihadapi. Istilah lain untuk penafsiran hukum adalah interpretasi
hukum.
Penafsiran autentik atau penafsiran resmi yaitu suatu penafsiran
hukum yang secara resmi terhadap maksud dari ketentuan suatu
peraturan hukum dimuat dalam peraturan hukum itu sendiri karena
penafsiran tersebut secara asli berasal dari pembentuk hukum itu sendiri.
Penafsiran gramatikal yaitu suatu penafsiran hukum yang
didasarkan pada maksud pengertian perkataan-perkataan yang tersusun
dalam ketentuan suatu peraturan hukum, dengan catatan bahwa

102
pengertian maksud perkataan yang lazim bagi umumlah dipakai sebagai
jawabannya.
Penafsiran sistematis yaitu penafsiran hukum yang didasarkan atas
sistematika pengaturan hukum dalam hubungannya antarpasal atau ayat
dari peraturan hukum itu sendiri dalam mengatur masalahnya masing-
masing.
Penafsiran sosiologis adalah penafsiran hukum yang didasarkan
atas situasi dan kondisi yang dihadapi dengan tujuan untuk sedapat
mungkin berusaha untuk menyelaraskan peraturan-peraturan hukum yang
sudah ada dengan bidang pengaturannya berikut segala masalah dan
persoalan yang berkaitan di dalamnya, yang pada dasarnya merupakan
masalah baru bagi penerapan peraturan hukum yang bersangkutan.
Penafsiran historis adalah penafsiran hukum yang dilakukan
terhadap isi dan maksud suatu ketentuan hukum yang didasarkan pada
jalannya sejarah yang mempengaruhi pembentukan hukum tersebut.
Penafsiran ekstensif yaitu suatu penafsiran hukum yang bersifat
memperluas ini pengertian suatu ketentuan hukum dengan maksud agar
dengan perluasan tersebut, hal-hal yang tadinya tidak termasuk dalam
ketentuan hukum tersebut sedangkan ketentuan hukum lainnya pun
belum ada yang mengaturnya, dapat dicakup oleh ketentuan hukum yang
diperluas itu.
Penafsiran restriktif adalah penafsiran hukum yang pada dasarnya
merupakan lawan atau kebalikan dari penafsiran ekstensif. Kalau
penafsiran ekstensif bersifat memperluas pengertian suatu ketentuan
hukum, maka penafsiran restriktif justru bersifat meretriksi atau membatasi
atau memperkecil pengertian suatu ketentuan hukum dengan maksud
agar dengan pembatasan tersebut, ruang lingkup pengertian ketentuan
hukum tersebut tidak lagi menjadi terlalu luas sehingga kejelasan,
ketegasan dan kepastian hukum yang terkandung di dalamnya akan lebih
mudah diraih.

103
3. Asas Preferensi
Dalam penangan perkara atau sengketa hukum, langkah awal
adalah langkah induksi untuk mengumpulkan fakta. Setelah fakta
dirumuskan diikuti dengan penerapan hukum. Langkah penerapan hukum
adalah langkah deduksi. Langkah penerapan hukum diawali dengan
identifikasi (penyamaan, meneliti dan menetapkan nama sesungguhnya)
aturan hukum dan seringkali dijumpai keadaan aturan hukum sebagai
berikut :
1. kekosongan hukum (leemten in het recht).
2. antinomi (konflik norma hukum).
3. norma yang kabur (vage normen).
Dalam menghadapi kekosongan hukum, orang berpegang pada
asas “ius curia novit”. Dengan asas ini hakim dianggap tahu hukum
sehingga dia tidak boleh menolak suatu perkara karena alasan tidak ada
aturannya atau aturannya tidak jelas. Hal ini sesuai dengan Pasal 16 ayat
(1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
yakni “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan
memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak
ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan
mengadilinya”. Akan tetapi, hakim wajib menggali nilai-nilai hukum yang
hidup dalam masyarakat. Inilah langkah rechtsvinding. Hal ini sesuai
dengan Pasal 28 ayat (1) undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman yakni “Hakim wajib menggali, mengikuti, dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat”. Dalam usaha mengisi kekosongan hukum, pegangan dasar
adalah “ratio hukum” dari hukum positif.
Dalam kaitannya dengan antinomi (konflik norma hukum), ilmu hukum
mengetengahkan asas-asas sebagai penyelesaian konflik sebagai berikut:
a. asas lex posterior (lex posterior derogat legi priori) : undang-undang
kemudian menga-lahkan yang terdahulu.

104
b. asas lex specialis (lex specialis derogat legi generali) : undang-undang
khusus menga- lahkan yang umum.
c. asas lex superior (lex superior derogat legi inferiori) : undang-undang
yang lebih tinggi mengalahkan yang lebih rendah.
Dalam menghadapi norma hukum yang kabur, langkah pertama
juga harus berpegang pada rasio hukum yang terkandung dalam aturan
hukum itu dan selanjutnya menetapkan metode interpretasi apakah yang
paling tepat untuk menjelaskan norma yang kabur itu.

4. Penemuan Hukum
Penemuan hukum adalah proses pembentukan hukum oleh hakim
atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan
hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang konkrit. Hal ini
merupakan proses konkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang
bersifat umum dengan mengingat peristiwa konkrit. Dapat dikatakan
bahwa penemuan hukum adalah proses konkretisasi atau individualisasi
peraturan hukum (das sollen) yang bersifat umum dengan mengingat
akan peristiwa konkrit (das sein) tertentu. Penemuan hukum terutama
dilakukan oleh hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara,
penemuan hukum oleh hakim ini dianggap yang mempunyai wibawa.
Penemuan hukum, pada hakekatnya mewujudkan pengembanan hukum
secara ilmiah dan secara praktikal. Penemuan hukum sebagai sebuah
reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam
peristilahan hukum berkenaan dengan dengan pertanyaan-pertanyaan
hukum (rechtsvragen), konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa
hukum. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penyelesaian-
penyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkret. Terkait padanya
antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang penjelasan (tafsiran)
dan penerapan aturan-aturan hukum, dan pertanyaan-pertanyaan tentang
makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan.

105
Penemuan hukum berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian-
penyelesaian dan jawaban-jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum.
Penemuan hukum termasuk kegiatan sehari-hari para yuris, dan
terjadi pada semua bidang hukum, seperti hukum pidana, hukum perdata,
hukum pemerintahan dan hukum pajak. Ia adalah aspek penting dalam
ilmu hukum dan praktek hukum. Dalam menjalankan profesinya, seorang
ahli hukum pada dasarnya harus membuat keputusan-keputusan hukum,
berdasarkan hasil analisanya terhadap fakta-fakta yang diajukan sebagai
masalah hukum dalam kaitannya dengan kaidah-kaidah hukum positif.
Sementara itu, sumber hukum utama yang menjadi acuan dalam proses
analisis fakta tersebut adalah peraturan perundangan-undangan. Dalam
hal ini yang menjadi masalah, adalah situasi dimana peraturan Undang-
undang tersebut belum jelas, belum lengkap atau tidak dapat membantu
seorang ahli hukum dalam penyelesaian suatu perkara atau masalah
hukum. Dalam situasi seperti ini, seorang ahli hukum tidak dapat begitu
saja menolak untuk menyelesaikan perkara tersebut. Artinya, seorang ahli
hukum harus bertindak atas inisiatif sendiri untuk menyelesaikan perkara
yang bersangkutan. Seorang ahli hukum harus mampu berperan dalam
menetapkan atau menentukan apa yang akan merupakan hukum dan apa
yang bukan hukum, walaupun peraturan perundang-undangan yang ada
tidak dapat membantunya.
4. Kesesatan Dalam Penalaran Hukum
Kesesatan dalam penalaran apabila terjadi karena sesat dan
kelihatan tidak masuk akal. Seseorang yang mengemukakan penalaran
yang sesat tidak akan melihat kesesatan dalam penalarannya sendiri atau
paralogis. Namun jika penalran yang sesat itu memang sengaja untuk
memperngaruhi orang lain maka disebut sofisme. Penalaran juga dapat
sesat jika tidak ada hubungan yang logis antara premis dan konklusi.
Model lainnya adalah kesesatan bahasa.
R.G Soekadji memaparkan lima model kessatan hukum yakni
argumentum ad ignorantium ,argumentum ad verecumdiam, argumentum

106
ad hominem, argumentum ad misericordiam, argumentum ad baculum.
Lima model kesesatan itu juga dikemikakan oleh Irving M. Copy. Model
tersebut jika digunkan secvra tepat dalam bidanh hukum justru bukanlah
suatu kesesatan dalam penalaran hukum yaitu:
a. Argumentum ad ignorantium, kesesatan ini apabila proposisi sebagi
benar karena tidak terbukti salah dan begitu juga sebaliknya,dalam
bidang hukum sendiri model ini dimungkinkan dalam bidang hukum
acara. Misalanya dalam hukum perdata pasal 1865 BW penggugat
harus membuktikan kebenran dalilnya untuk dapat membuktikan dalil
gugatanya.
b. Argumentum ad verecundium, menerima atau menolak suatu
argumentasu bukan karena nilai penalaranya namun karena uang
mengemukankanya adalah orang yang berkuasa atau orang yang ahli.
Dalam bidang hukum argumentasi demikan tidak sesat jika suatu
yurisprudensi menjadi yurisprudensi tetap.
c. Argument ad hominem, menolak atau menerima rgumentasi hukum
atau usul karena keadaan orangnya. Dalam bidang hukum
argumentasi demikian bukanlah kessatan apabila digunakan untuk
mendiskreditkan seorang saksi yang pada dasarnya tidak mengetahuiu
kejadian secra jelas.
d. Argumentum ad misericordiam, adalah argumentasi yang bertujuan
menimbulkan belas kasihan. Argumentasi ini haya dibenarkan dalam
hukum untuk meringankan hukumuan bukan untuk pembuktian tidak
bersalah.
e. Argumentum ad baculum, menerima atau menolak argumentasi hukum
karena suatu ancaman. Dalam bidang hukum ancaman demikina tidak
sesat jika digunakan untuk mengingatkan orang tentang ketentuan
hukum.

107
5. Penutup
Demikian uraian tentang interpretasi hukum, asas preferensi,
penemuan hukum dan kesesatan dalam penalaran hukum. Mahasiswa
diharapkan memahami tentang konflik norma, kekaburan norma dan
kekosongan norma. Selain itu, mahasiswa diharapkan dapat memahami
kesesatan dalam penalaran hukum. Sehingga dalam menganalisa
masalah-masalah hukum, Mahasiswa tidak mengalami kesesatan berpikir.

6. Rangkuman
Penafsiran hukum adalah suatu upaya yang pada dasarnya
menerangkan, menjelaskan, menegaskan baik dalam arti memperluas
maupun membatasi/ mempersempit pengertian hukum yang ada dalam
rangka penggunaannya untuk memecahkan masalah atau persoalan yang
sedang dihadapi. Istilah lain untuk penafsiran hukum adalah interpretasi
hukum.
Dalam kaitannya dengan antinomi (konflik norma hukum), ilmu
hukum mengetengahkan asas-asas sebagai penyelesaian konflik sebagai
berikut :
a. asas lex posterior (lex posterior derogat legi priori) : undang-undang
kemudian menga-lahkan yang terdahulu.
b. asas lex specialis (lex specialis derogat legi generali) : undang-undang
khusus menga- lahkan yang umum.
c. asas lex superior (lex superior derogat legi inferiori) : undang-undang
yang lebih tinggi mengalahkan yang lebih rendah.
Penemuan hukum adalah proses konkretisasi atau individualisasi
peraturan hukum (das sollen) yang bersifat umum dengan mengingat
akan peristiwa konkrit (das sein) tertentu. Penemuan hukum terutama
dilakukan oleh hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara,
penemuan hukum oleh hakim ini dianggap yang mempunyai wibawa.
Kesesatan dalam penalaran apabila terjadi karena sesat dan
kelihatan tidak masuk akal. Seseorang yang mengemukakan penalaran

108
yang sesat tidak akan melihat kesesatan dalam penalarannya sendiri atau
paralogis. Namun jika penalran yang sesat itu memang sengaja untuk
memperngaruhi orang lain maka disebut sofisme.
Latihan : Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini.
1. Tunjukkan norma yang konflik, norma kabur dan kekosongan norma !
2. Apakah yang dimaksudkan dengan penemuan hukum itu? berikan satu
buah contoh !
3. Berikan satu buah contoh tentang masing-masing kesesatan !

7. Bahan Pustaka
1. I Dewa Gede Atmadja, Penalaran Hukum (Legal Reasoning),
Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas Hukum
Universitas Udayana, Denpasar, 2006.
2. Sidharta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
3. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan
Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993.
4. Hadjon, Philipus M, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi
Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.

PERTEMUAN XV : TUTORIAL KE-7


PENYELESAIAN TERHADAP INHARMONIS HUKUM

1. Pendahuluan
Tutorial ke-7 merupakan pendalaman atas materi “Penyelesaian
Terhadap Inharmonisasi Hukum”. Bahan kajian menggunakan visualisasi
bertopik “Festival "Ciuman Muda-mudi" Meriahkan Bali Usai Nyepi”, yang
didalamnya memuat permasalahan-permasalahan tentang budaya omed-
omedan di Desa Sesetan Kota Denpasar. Dalam omed-omedan tersebut
terjadi ciuman missal, tentunya hal ini mengundang kontroversial dalam

109
aturan hukum positif. Mahasiswa agar melakukan diskusi di dalam
kelompok untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Dengan selesainya tutorial ini diharapkan mampu mewujudkan
capaian pembelajaran yaitu mahasiswa secara bertanggung jawab, jujur,
dan demokratis mampu berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan
omed-omedan yang terdapat di dalam wacana. Dengan demikian, dapat
dievaluasi aspek hard skills dan soft skills mahasiswa.

2. Problem Task
Festival "Ciuman Muda-mudi" Meriahkan Bali Usai Nyepi

Tradisi omed-omedan ini dimulai pada abad ke-17.


Sebelumnya tradisi ini dilakukan pada saat hari raya Nyepi, namun
pada tahun 1978 diputuskan untuk menggantinya pada saat
Ngembak Geni, atau sehari pasca Nyepi.
Festival ciuman muda-mudi atau lebih dikenal dengan istilah
Omed-omedan kembali digelar di Banjar Kaja, Desa Sesetan,
Denpasar, Sabtu (24/03/2012). Tradisi ini selalu dilakukan kaum
muda-mudi setempat sehari usai Nyepi untuk melestarikan warisan
leluhur. Dalam tradisi ini, puluhan muda-mudi Banjar Kaja dibagi 2
kelompok yakni pria dan wanita. Kedua kelompok membuat barisan
memanjang dan saling berhadapan. Kelompok pria dan wanita
menyiapkan wakilnya 1 orang yang akan diarak ke depan untuk

110
saling berciuman. Jika para "tetua" atau orang yang dituakan di
Banjar tersebut memberi aba-aba mulai, barisan kedua kelompok
maju ke depan dan wakil pria dan wanita dari kedua kelompok
berciuman di hadapan ratusan warga dan wisatawan yang hadir
menyaksikan tradisi unik ini. Untuk mendinginkan suasana, kedua
muda-mudi yang berciuman ini diguyur dengan air oleh para tetua
Banjar. Omed-omedan tahun ini sedikit berbeda dibanding
sebelumnya. Jika biasanya hanya satu kelompok pria dan wanita,
kali ini ada 2 kelompok dan 2 wakil pria serta wanita yang diarak
untuk berciuman. Kesan berbeda dirasakan setiap peserta Omed-
omedan ini. "Takut, karena baru pertama kali. Malu juga karena
belum kenal dan diliatin banyak orang," ujar Desy, salah seorang
peserta wanita yang baru pertama ikut Omed-omedan. Saya gak
gugup, biasa aja karena uda kenal, temen satu banjar," tutur Putra,
yang telah mengikuti Omed-omedan beberapa kali.
Ciuman di depan umum masih merupakan hal yang tabu
bagi sebagian masyarakat bangsa ini bahkan hal tersebut
dikatakan bertentangan dengan undang-undnag pornografi. Tidak
terkecuali gadis Bali yang mengikuti tradisi omed omedan.
Sebagian gadis itu malu-malu saat harus berciuman. Namun
lainnya santai saja.
Sumber : Kompas, Kamis, 26 April 2012

Literatur:
1. I Dewa Gede Atmadja, Penalaran Hukum (Legal Reasoning),
Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas Hukum
Universitas Udayana, Denpasar, 2006.
2. Sidharta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
3. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan
Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993.

111
4. Hadjon, Philipus M, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi
Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
5. Undang-undang Nomor 44 Tahunm 2008 Tentang Pornografi

PERTEMUAN XVI : UJIAN AKHIR SEMESTER

112
LAMPIRAN I : SILABUS
SILABUS
1. Fakultas/Program Studi : Hukum/ Sarjana Ilmu Hukum
2. Mata Kuliah (MK) : Penalaran dan Argumentasi Hukum
3. Kode MK : BII 7265
4. Semester : V (Lima)
5. SKS : 2 SKS
6. Deskripsi Mata Kuliah :
Substansi mata kuliah Penalaran dan Argumentasi Hukum
mencakup karakter normatif ilmu hukum, penalaran hukum, analisis
terhadap konsep-konsep hukum, penyelesaian terhadap inharmonis
hukum, penemuan hukum dan penafsiran hukum dan kesesatan dalam
penalaran hukum.
Dalam karakter normatif ilmu hukum akan diuraikan tentang arti
pentingnya ilmu hukum, konsep dasar ilmu hukum dan struktur ilmu
hukum. Dalam karakter normatif ilmu hukum, meliputi pengertian dari kata
ilmu dan kata hukum termasuk karakter ilmu hukum itu sendiri termasuk
bahasa yang digunakan disini yaitu bahasa hukum atau bahasa undang-
undang Kemudian penalaran hukum menjelaskan tentang cara berpikir
lurus untuk mencapai suatu kebenaran dalam hukum. Selanjutnya, pada
analisis terhadap konsep-konsep hukum diuraikan mengenai hak,
kewajiban, hubungan hukum, akibat hukum dan tanggung jawab.
Sehubungan dengan analisis terhadap konsep hukum tersebut, biuraikan
mengenai penyelesaian terhadap inharmonisasi hukum yang meliputi
penafsiran hukum dan penemuan hukum. Dalam penafsiran hukum dapat
dibagi menjadi beberapa macam penasiran antara lain penafsiran
gramatika, penafsiran autentik, penafsiran sosiologis dan lain-lain.
Penafsiran ini dilakukan apabila oleh hakim pengadilan dalam menangani
suatu perkara ditemukan adanya norma kabur, sedangkan dalam konflik
norma hukum, hakim dapat menggunakan salah satu dari beberapa asas
yaitu asas lex specialis derogat legi generali, asas lex superior derogat

113
legi priori dan lex posterior derogat legi inferiori. Kemudian apabila terjadi
kekosongan norma maka hakim dapat melakukan konstruksi hukum,
hakim pengadilan dapat menempuh beberapa metode untuk menemukan
hukum yaitu dengan argumentum a contrario, argumentum per analogiam
dan penghalusan hukum dan jika terjadi kesesatan dilakukan dengan
beberapa metode.
Pengkajian dalam penalaran hukum ini selain mengacu pada
ketentuan peraturan perundang-undangan juga mengacu pada hukum
yang tidak tertulis. Hakim dalam menangani suatu perkara apabila
hukumnya tidak ada maka hakim dapat menggali nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat.

7. CapaianPembelajaran :
Melalui partisipasi pada proses belajar-mengajar dalam mata kuliah
Penalaran Dan Argumentasi Hukum, diharapkan:
1. Mahasiswa memperoleh pemahaman teoritis mengenai penalaran
hukum dan argumentasi hukum secara baik.
2. Mahasiswa mempunyai keterampilan menganalisis berbagai isu
hukum dalam kasus-kasus dan persoalan konkrit yang terjadi
dalam kehidupan masyarakat.

8. Bahan Kajian
Bahan Kajian mata kuliah terdiri dari ilmu hukum sebagai ilmu
sui generis, logika hukum, penalaran hukum, konsep dan terminologi
dalam penalaran hukum, unsur-unsur dalam penalaran hukum, hubungan
antara konsep, proposisi dan penalaran hukum, jenis-jenis penalaran
hukum, mazhab-mazhab penalaran hukum, analisa terhadap konsep-
konsep hukum dan penyelesaian terhadap inharmonisasi hukum.

114
10. Referensi
1. Atmadja,I Dewa Gede, “Perdebatan Akan Derajat Keilmuan Dari
Ilmu Hukum : Suatu Renungan Filsafat Hukum, dalam Kertha
Patrika, Nomor : 58 Tahun XVIII, Maret, 1992.
2. -------, “Manfaat Filsafat Hukum Dalam Studi Ilmu Hukum”, dalam
Kertha Patrika, Nomor : 62-63 Tahun XIX Maret – Juni, 1993.
3. , Penafsiran Konstitusialam Rangka Sosialisasi Hukum, Pidato
Pengenalan Jabatan Guru Besar Dalam Bidang Ilmu Hukum Tata
Negara Pada Fakultas Hukum Universitas Udayana, 10 April 1996.
4. , Penalaran Hukum (Legal Reasoning), Pengertian, Jenis, Dan
Penerapannya, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar,
2006.
5. Gie, The Liang, Teori-teori Keadilan, Super, Yogyakarta, 1979.
6. Hadjon, Philipus M, 1994, “Pengkajian Ilmu Hukum Dogmatik
(Normatif)”, dalam Yuridika, Nomor 6 Tahun IX, November-
Desember 1994.
7. -------, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta, 2005.
8. -------, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi Hukum , Bali
Age, Denpasar, 2009.
9. Loudoe, John Z., Menemukan Hukum melalui Tafsir dan Fakta,
Bina Aksara, Jakarta, 1985.
10. Marzuki, Peter Mahmud, , “Penelitian Hukum”, dalam Yuridika, Vol.
16, No. 1, Maret-April, 2001.
11. Mertokusumo, Sudikno, Bab-bab tentang Penemuan Hukum, Citra
Aditya Bakti, 1993.
12. Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto, Perihal Kaedah
Hukum, Alumni, Bandung, 1979.
13. Rasjidi, Lili, dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 2002.

115
14. Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
15. Sidharta, Bernard Arief, Meuwissen Tentang Pengembanan
Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, Dan Filsafat Hukum, Refika
Aditama, Bandung, 2007.
16. , Refleksi Tentang Hukum, Refika Aditama, Bandung, 2008.
17. , Pengantar Logika, Refika Aditama, Bandung, 2008.
18. Simorangkir, J.C.T., et al., Kamus Hukum, Aksara Baru, Jakarta,
1980.
19. Sumaryono, Dasar-dasar Logika, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
20. Sutiyoso, Bambang, Metode Penemuan Hukum, UII Press,
Yogyakarta, 2006.
21. Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Ilmu Hukum Dan
Filsafat Hukum Syudi Pemikiran Ahli Hukum Sepanjang Zaman,
Yogyakarta, 2007.

Peraturan Perundang-undangan
1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
2. Kitab Undang-undang Hukum Perdata
3. Undang-undang Nomor 44 Tahunm 2008 Tentang Pornografi

Surat Khabar
- Kompas

Pengampu Mata Kuliah

116
LAMPIRAN II: RENCANA PPEELAJARAN SEMESTER (RPS)
RPP PERTEMUAN KE I
ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU SUI GENERIS
1. Fakultas/Program Studi : Hukum/ Sarjana Ilmu Hukum
2. Mata Kuliah (MK) : Penalaran dan Argumentasi Hukum
3. Kode MK : BII 7265
4. Semester : V (Lima)
5. SKS : 2 SKS
6. CapaianPembelajaran :
Capaian pembelajaran yang diharapkan dari pertemuan
perkuliahan pertama adalah mahasiswa menguasai pengetahuan
mengenai peristilahan, pengertian tentang sui generis, karakter normatif
ilmu hukum, kaidah hukum dan bahasa hukum. Selain itu, mahasiswa
dengan rasa tanggung jawab, jujur dan demokratis terampil
mengemukakan pandangan mengenai ilmu hukum sebagai ilmu sui
generis, karakter normatif ilmu hukum, kaidah hukum dan bahasa hukum.

7. Indikator Pencapaian
a. Mahasiswa mampu menguraikan mengenai istilah ilmu hukum sebagai
ilmu sui generis, karakter normatif ilmu hukum, kaidah hukum dan
bahasa hukum.
b. Mahasiswa dengan pikiran yang matang, jujur dan terbuka mampu
mendiskusikan sebagai ilmu sui generis, karakter normatif ilmu hukum,
rasionalitas ilmu hukum, konsep dasar ilmu hukum, struktur ilmu
hukum, kaidah hukum dan bahasa hukum, kaidah hukum, bahasa
hukum, hubungan kaidah hukum dan bahasa hukum.

8. Materi Pokok
a. Ilmu Hukum Sebagai Ilmu Sui Generis
b. Karakter Normatif Ilmu Hukum
c. Rasionalitas Ilmu Hukum

117
d. Konsep Dasar Ilmu Hukum
e. Struktur Ilmu Hukum

9. Metode Pembelajaran
a. Pendekatan: Stundent Centered Learning (SCL).
b. Metode: Problem Based Learning (PBL).
c. Tenik: Ceramahan, diskusi, presentasi, dan tanya jawab.

10. Media, Alat dan Sumber Belajar


a. Power point presentation.
b. LCD, white board, spidol.
c. Bahan bacaan/pustaka

11. Tahapan Kegiatan Pembelajaran


Kegiatan Deskripsi Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu
Pendahuluan Dosen mengkondisikan mahasiswa untuk siap menerima
perkuliahan, menemukan perilaku awal mahasiswa, menjelaskan RPS,
RPP, Silabus, dan Kontrak Perkuliahan. Memberikan ulasan umum isi
Block Book dan materi Dasar-dasar Penalaran dan Argumentasi Hukum.
Memfasilitasi pembentukan kelompok diskusi (FGD) untuk tutorial 20
menit Kegiatan Inti Dosen melalui media pembelajaran LCD
mendeskripsikan mengenai ruang lingkup Dasar-dasar Hukum Penalaran
dan Argumentasi Hukum dan perananannya bagi masyarakat.
Mahasiswa dengan rasa ingin tahu, tangung jawab dan jujur
menganalisis, mendeskripsikan dalam bentuk catatan serta
menambahkan informasi pelengkap dari sumber. Mahasiswa secara
mandiri dengan cerdas dan tanggun jawab menyajikan secara lisan
mengenai hasil analisis terkait dengan Penalaran dan Argumentasi
Hukum perananannya bagi masyarakat 60 menit. Penutup Dosen
bersama mahasiswa secara bertanggung jawab dan logis menyimpulkan
proses dan hasil pembelajaran. Dosen memberikan penguatan, evaluasi,

118
dan tugas untuk mempelajari lebih mendalam Penalaran dan Argumentasi
Hukum untuk
memahami materi dalam tutorial pada pertemuan berikutnya.

12. Tugas
menganalisa isu-isu hukum yang terdapat dalam tutorial.

13. Pedoman Penskoran


a. Skor 0: Jika mahasiswa tidak menjawab.
b. Skor 0,5: Jika jawaban mahasiswa sebagian yang sesuai dengan
indikator jawaban dosen.
c. Skor 1: Jika jawaban mahasiswa semuanya sesuai dengan indikator
yang dibuat oleh dosen.

14. Evaluasi Soft Skills


No Aspek Yang Dinilai 3 2 1 Keterangan
1 Kejujuran
2 Tanggung jawab
3 Disiplin
4 Kreativitas
5 Berkomunikasi

15. Sumber Belajar


1. I Dewa Gede Atmadja, Penalaran Hukum (Legal Reasoning),
Pengertian, Jenis, Dan Penerapannya, Fakultas Hukum
Universitas Udayana, Denpasar, 2006.
2. Sidharta, Karakteristik Penalaran Hukum Dalam Konteks
Keindonesiaan, CV. Utomo, Bandung, 2006.
3. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan
Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993.

119
4. Hadjon, Philipus M, dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi
Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.
5. Undang-undang Nomor 44 Tahunm 2008 Tentang Pornografi

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (2)

LAMPIRAN III: KONTRAK KULIAH


KONTRAK KULIAH
1. Fakultas/Program Studi : Hukum/ Sarjana Ilmu Hukum
2. Mata Kuliah (MK) : Penalaran dan Argumentasi Hukum
3. Kode MK : BII 7265
4. Semester : V (Lima)
5. SKS : 2 SKS
6. Manfaat Mata Kuliah:
Pada masa ini sering terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam
penggunaan logika hukum dalam memecahkan masalah-masalah hukum.
Maksudnya, Penalaran yang digunakan tidak sesuai dengan langkah-
langkah dalam penalaran hukum. Sehingga muncul kesesatan dalam
penalaran hukum dan argumentasi yang dihasilkanpun menjadi
argumentasi hukum yang sesat. Mata kuliah ini dikonstruksikan untuk
secara teoritis, mahasiswa memperoleh pengetahuan mengenai metode
penalaran hukum dan metode argumentasi hukum dan secara praktis,
mahasiswa diharapkan mampu menganalisis isu-isu hukum dengan
menggunakan metode penalaran dan argumentasi hukum.

7. Deskripsi Mata Kuliah:


Substansi mata kuliah Penalaran dan Argumentasi Hukum
mencakup karakter normatif ilmu hukum, penalaran hukum, analisis
terhadap konsep-konsep hukum, penyelesaian terhadap inharmonis
hukum, penemuan hukum dan penafsiran hukum dan kesesatan dalam
penalaran hukum.

120
Dalam karakter normatif ilmu hukum akan diuraikan tentang arti
pentingnya ilmu hukum, konsep dasar ilmu hukum dan struktur ilmu
hukum. Dalam karakter normatif ilmu hukum, meliputi pengertian dari kata
ilmu dan kata hukum termasuk karakter ilmu hukum itu sendiri termasuk
bahasa yang digunakan disini yaitu bahasa hukum atau bahasa undang-
undang Kemudian penalaran hukum menjelaskan tentang cara berpikir
lurus untuk mencapai suatu kebenaran dalam hukum. Selanjutnya, pada
analisis terhadap konsep-konsep hukum diuraikan mengenai hak,
kewajiban, hubungan hukum, akibat hukum dan tanggung jawab.
Sehubungan dengan analisis terhadap konsep hukum tersebut, biuraikan
mengenai penyelesaian terhadap inharmonisasi hukum yang meliputi
penafsiran hukum dan penemuan hukum. Dalam penafsiran hukum dapat
dibagi menjadi beberapa macam penasiran antara lain penafsiran
gramatika, penafsiran autentik, penafsiran sosiologis dan lain-lain.
Penafsiran ini dilakukan apabila oleh hakim pengadilan dalam menangani
suatu perkara ditemukan adanya norma kabur, sedangkan dalam konflik
norma hukum, hakim dapat menggunakan salah satu dari beberapa asas
yaitu asas lex specialis derogat legi generali, asas lex superior derogat
legi priori dan lex posterior derogat legi inferiori. Kemudian apabila terjadi
kekosongan norma maka hakim dapat melakukan konstruksi hukum,
hakim pengadilan dapat menempuh beberapa metode untuk menemukan
hukum yaitu dengan argumentum a contrario, argumentum per analogiam
dan penghalusan hukum dan jika terjadi kesesatan dilakukan dengan
beberapa metode.
Pengkajian dalam penalaran hukum ini selain mengacu pada
ketentuan peraturan perundang-undangan juga mengacu pada hukum
yang tidak tertulis. Hakim dalam menangani suatu perkara apabila
hukumnya tidak ada maka hakim dapat menggali nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat.

121
8. Capaian Pembelajaran:
Melalui partisipasi pada proses belajar-mengajar dalam mata kuliah
Penalaran Dan Argumentasi Hukum, diharapkan untuk mencapai :
1. Mahasiswa memperoleh pemahaman teoritis mengenai penalaran
hukum dan argumentasi hukum secara baik.
2. Mahasiswa mempunyai keterampilan menganalisis berbagai isu
hukum dalam kasus-kasus dan persoalan konkrit yang terjadi
dalam kehidupan masyarakat.

9. Organisasi Materi
I. PENDAHULUAN
1.1. Karakter Normatif Ilmu Hukum
1.1.1. Rasionalitas Ilmu Hukum
1.1.2. Konsep Dasar Ilmu Hukum
1.2.3. Struktur Ilmu Hukum
II. KAIDAH HUKUM DAN BAHASA HUKUM
2.1. Kaidah Hukum
2.2. Bahasa Hukum
2.3. Hubungan Kaidah Hukum dan Bahasa Hukum
III. LOGIKA HUKUM
3.1. Konsep dan Terminologi dalam Logika Hukum
3.2. Prinsip Dasar Logika Dalam Penalaran Hukum
3.3. Menggunakan Logika Dalam Penalaran Hukum
IV. PENALARAN HUKUM
4.1. Konsep dan Terminologi Dalam Penalaran Hukum
4.2. Unsur-unsur Dalam Penalaran Hukum
4.3. Hubungan Antara Konsep, Proposisi dan Penalaran Hukum
4.4. Jenis-jenis Penalaran Hukum

V. MAZHAB-MAZHAB PENALARAN HUKUM


5.1. Mazhab Hukum Alam

122
5.2. Mazhab Hukum Positif
5.3. Mazhab Utilitarianisme
5.4. Mazhab Sejarah
5.5. Mazhab Sosiological Jurisprudence
5.6. Pragmatic Legal Realism
VI. ANALISA TERHADAP KONSEP-KONSEP HUKUM
6.1. Hak
6.2. Kewajiban
6.3. Hubungan Hukum
6.4. Akibat Hukum
6.5. Tanggung Jawab
VII. PENYELESAIAN TERHADAP INHARMONIS HUKUM
7.1. Interpretasi Hukum
7.2. Penemuan Hukum
7.3. Kesesatan Dalam Penalaran Hukum
7.4. Metode Menemukan Kebenaran Dalam Hukum

10. Strategi Perkuliahan


Kegiatan pembelajaran menggunakan metode PBL. Pelaksanaan
perkuliahan dikombinasikan dengan tutorial. Perkuliahan dilakukan
sebanyak 6 (enam) kali, untuk memberikan orientasi materi perkuliahan
per-pokok bahasan. Tutorial dilaksanakan sebanyak 6 (enam) kali. Hasil
belajar mahasiswa diketahui dari penilaian melalui ujian tengah semester
(UTS) dan ujian akhir semester (UAS) yang diselenggarakan masing-
masing satu kali pertemuan. Penilaian juga dilakukan melalui pemberian
tugas-tugas selama masa perkuliahan sebelum dan dan setelah UTS.
Dengan demikan, keseluruhan tatap muka pertemuan untuk perkuliahan,
tutorial dan ujian-ujian berjumlah 14 kali. Penilaian meliputi aspek hard
skills dan soft skills.

123
11. Tugas-tugas
Tugas-tugas dalam perkuliahan dalam satu semester terdiri dari:
a. tugas-tugas latihan yang terdapat pada setiap sesi penutup kegiatan
pembelajaran seagai media evaluasi atas capaian pembelajaran atas
satubahan kajian; dan
b. tugas-tugas yang terdapat pada setiap kegiatan tutorial yang
divisualisasi dengan kasus-kasus untuk mencapai capaian
kemampuan akhir yang direncanakan pada setiap pertemuan.

12. Kriteria Penilaian


Penilaian dilakukan sesuai dengan ketentuan yang terdapat
Pedoman Pendidkan Fakultas Hukum Unud tahun 2013.

13. Jadwal Perkliahan


Jadwal perkuliahan sudah ditentukan di dalam Block Book.

14. Tata Tertib Perkuliahan


a. Tata tertib perkuliahan sesuai dengan Pedoman Etika Dosen,
Pegawai (Administrasi) dan Mahasiswa yang ditetapkan dalam
Buku Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum Universitas
Udayana Tahun 2013, Bab VII, poin 4 huruf c.
b. Batas toleransi keterlambatan yaitu 15 menit. Apabila dosen dan
mahasiswa terlambat daripada batas toleransi, maka akan
dikenakan sanksi, kecuali ada pemberitahuan atas
keterlambatan tersebut.

124
Koordinator Kelas, Dosen Pengampu,
………………………………………. …………………………………
Mengetahui
Ketua Bagian Dasar-dasar Ilmu Hukum

Dr. I Gusti Ayu Putri Kartika,SH,MH.

125