Anda di halaman 1dari 2

Survei Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan properti residensial nasinal sebesar

3,61% (qtq) pada kuartal II-2017, melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya
yang sebesar 4,16% (qtq). Indikasi perlambatan penjualan properti, terlihat dari
perlambatan pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada kuartal II-2017. Dengan
catatan Rp 377,3 triliun atau hanya meningkat 0,55% (qtq) dan dibandingkan tahun
sebelumnya melambat 1,84%.

BI menyatakan, faktor utama penyebab rendahnya pertumbuhan kegiatan properti ini


menurut sebagian besar responden adalah, suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah
(KPR) di perbankan yang masih tinggi. Sehingga mempengaruhi permintaan
masyarakat terhadap rumah hunian. Sementara itu indeks Harga Properti Residensial
triwulan II-2017 yang tumbuh sebesar 1,18% (qtq), turun dari 1,23% (qtq) pada triwulan
sebelumnya. Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tipe kecil,
dengan kenaikan tertinggi terjadi di Jabodebek dan Banten. Peningkatan harga rumah
terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya perizinan.

Bandung yang masuk dalam daftar lima kota terbesar di Indonesia, menjadi daya tarik
tersendiri bagi para pengembang properti. Apalagi ekonomi Kota Kembang kian mekar
dalam beberapa tahun terakhir. Alhasil, permintaan properti, terutama residensial di Ibu
Kota Jawa Barat ini pun cukup tinggi. Meski sudah terbilang padat, para pengembang
masih terus mengembangkan proyek di Bandung. , apalagi ada pembangunan jalur
kereta cepat Jakarta-Bandung. Nantinya waktu tempuh akan semakin cepat dan
menambah daya tarik investor. Salah satu kawasan yang kini menjadi incaran mereka
adalah Bandung Selatan, yang relatif belum banyak digarap pengembang.
Pengembangan kawasan Bandung Selatan memang belum sebanyak di daerah
Bandung lainnya. Magnet kawasan Bandung Selatan bertambah setelah pembangunan
jalan Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja). “Pembukaan tol ini menambah alternatif jalan
dari Bandung ke arah Ciwidey atau dari Jakarta langsung ke Ciwidey tanpa melewati
Bandung,

Potensi lonjakan permintaan tanah di Bandung Selatan tak lepas dari pembangunan
infrastruktur oleh pemerintah. Ditambah dengan perbaikan tempat wisata yang sudah
ada dan pengembangan tempat wisata baru. Pengembangan tempat wisata maupun
industri memberi kontribusi besar pada ekonomi daerah sehingga akhirnya berimbas
pada kenaikan penjualan properti. Potensi ini lah yang dilirik para pengembang yang
dengan sigap mencari lahan untuk dikembangkan menjadi penginapan baik hotel
maupun vila. Di sisi lain, permintaan properti baik untuk tempat tinggal maupun
investasi juga tinggi., harga properti kisaran harga Rp 500 juta-Rp 700 juta per unit di
kawasan Bandung Selatan banyak diminati oleh kalangan menengah. Minat yang tinggi
juga ditujukan untuk rumah dengan harga di kisaran Rp 300 juta-Rp 400 juta. “Untuk
kawasan Selatan yang agak jauh dari kota seperti Bojongsoang masih banyak rumah di
bawah Rp 500 juta. Itu daerah industri dan banyak peminat kalangan menengah
bawah,” Tetapi, secara umum, tren kenaikan harga properti beberapa tahun terakhir
memang terbatas., World Market Research, menyatakan, kenaikan harga properti di
Bandung dalam lima tahun terakhir hanya berkisar antara 10%-18% per tahun.

Kenaikan harga berbeda di masing-masing wilayah Kabupaten Bandung. Pertumbuhan


pun melambat dari tahun ke tahun. Bahkan setahun terakhir, harga properti di Bandung
cenderung stabil. Kondisi ekonomi yang masih lesu belakangan ini mempengaruhi
pasar properti. Dengan demikian, investor tidak bisa berharap kenaikan harga tinggi
dalam waktu dekat.

Anda mungkin juga menyukai