Anda di halaman 1dari 17

1. Bagaimana batubara dapat terbentuk pada lingkungan pengendapan sedimen?

Batubara pada dasarnya termasuk ke dalam jenis batuan sedimen. Batuan sedimen terbentuk
dari material atau partikel yang terendapkan di dalam suatu cekungan dalam kondisi tertentu,
dan mengalami kompaksi serta transformasi baik secara fisik, kimia maupun biokimia. Pada
saat pengendapannya material ini selalu membentuk perlapisan yang horizontal.

Proses yang terjadi dimulai dari proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang
dialami oleh material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen yang
berlangsung selama jutaan tahun.

Secara rinci,proses pembentukan batubara dimulai dari :

1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay)


akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa
oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa,
protoplasma, dan pati.
2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan
mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan
berair, misalnya rawa-rawa.
3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami
perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian
akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan
metana (CH4).
4. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan
kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. _Selain itu gaya
tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah
batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka
zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
5. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan
kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada
permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

Terdapat faktor-faktor pendukung lainnya dalam pembentukan batubara. Faktor-faktor


pendukung tersebut diantaranya adalah :

1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu,
yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan
topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari
batubara yang terbentuk. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses
sedimentasi dari material dasar menjadi material sedimen.
2. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut :
 Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan.
Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi
geotektonik.
 Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan
pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat
pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana
batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses
geotektonik.
 Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan
batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum proses
pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat.
3. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk
batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan
mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
4. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama
material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang
diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang
terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang
tinggi.
5. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batubara
dari :
 Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara yang
terbentuk.
 Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau
patahan.

 Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan
batubara yang dihasilkan.

2. Mengapa pada batubara terdapat pengotor (ash content)?

Sebenarnya batubara tidak mengandung abu, melainkan mengandung mineral matter. Namun
sebagian mineral matter dianalisa dan dinyatakan sebagai kadar Abu atau Ash Content.
Mineral Matter atau ash dalam batubara terdiri dari inherent dan extarneous. Inherent Ash ada
dalam batubara sejak pada masa pembentukan batubara dan keberadaan dalam batubara
terikat secara kimia dalam struktur molekul batubara. Sedangkan Extraneous Ash, berasal
dari dilusi atau sumber abu lainnya yang berasal dari luar batubara.

Kadar abu dalam batubara tergantung pada banyaknya dan jenis mineral matter yang
dikandung oleh batubara baik yang berasal dari inherent atau dari extraneous. Kadar abu
relatif lebih stabil pada batubara yang sama. Oleh karena itu Ash sering dijadikan parameter
penentu dalam beberapa kalibrasi alat preparasi maupun alat sampling. Semakin tinggi kadar
abu pada jenis batubara yang sama, semakin rendah nilai kalorinya. Kadar abu juga sering
mempengaruhi nilai HGI batubara

3. Mengapa ketebalan suatu lapisan batubara tidak sama/bervariasi dan dapat


mengalami splitting, Apa penyebabnya?

Ketebalan lapisan batubara adalah unsur penting yang langsung berhubungan dengan
perhitungan cadangan, perencanaan produksi, sistem penambangan, dan umur tambang.
Oleh karena itu perlu diketahui faktor pengendali terjadinya kecenderungan arah perubahan
ketebalan, penipisan, pembajian, splitting, dan kapan terjadinya. Proses-proses yang
berpengaruh selama proses pengendapan, antara lain :

a. Perbedaan kecepatan akumulasi batubara


Syarat untuk terbentuknya formasi batubara antara lain adalah ketika kenaikan muka air
tanah lambat, perlindungan rawa terhadap pantai atau sungai dan energi relatif rendah.
Jika muka air tanah terlalu cepat naik (atau penurunan dasar rawa cepat) maka kondisi
akan menjadi limnik atau bahkan akan terjadi endapan marine. Sebaliknya kalau terlalu
lambat, maka sisa tumbuhan yang terendapkan akan teroksidasi dan terisolasi. Terjadinya
kesetimbangan antara penurunan cekungan (land subsidence) dan kecepatan penumpukan
sisa tumbuhan (kesetimbangan bioteknik) yang stabil akan menghasilkan gambut yang
tebal (Diessel, 1992).
Lingkungan tempat terbentuknya rawa gambut umumnya merupakan tempat yang
mengalami depresi lambat dengan sedikit sekali atau bahkan tidak adapenambahan
material dari luar. Pada kondisi tersebut muka air tanah akan terusmengikuti
perkembangan akumulasi gambut dan mempertahankan tingkatkejenuhannya. Kejenuhan
tersebut dapat mencapai 90 % dan kandungan air menurundrastis hingga 60 % pada saat
terbentuknya brown-coal. Sebagian besar lingkungan yang memenuhi kondisi tersebut
merupakan topogenic low moor. Hanya pada beberapa tempat yang mempunyai curah
hujan sangat tinggi dapat terbentuk rawa ombrogenic (high moor).
b. Perbedaan morfologi dasar cekungan
Lingkungan pengendapan batubara erat kaitannya dengan siogra cekungan pengendapan.
Menurut Stach et al (1982), berdasarkan posisi geografinya, lingkungan pengendapan
batubara dibedakan menjadi zona paralik (tepi pantai) dan limnik (daratan). Batubara di
dunia lebih dari 90% terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan
dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagun, delta, atau juga
aluvial. Selanjutnya pembahasan masing-masing lingkungan pengendapan batubara lebih
mengacu pada pembagian yang dikemukakan oleh Horne et al (1978) adalah sebagai
berikut:
1. Lingkungan Pengendapan Barrier
Barrier terbentuk selama delta mengalami progadasi, dan lalu terjadi pengisian suplai
sedimen dari darat dan laut hingga meluas ke daerah rawa back-barrier (Galloway dan
Hobday, 1983). Lingkungan barrier mempunyai peran penting, yaitu menutup
pengaruh oksidasi dari air laut dan mendukung pembentukan gambut di bagian
dataran.
Ketebalan batubara tipis dengan sebaran memanjang sejajar sistem penghalang atau
sejajar jurus perlapisan, bentuk lapisan melembar karena pengaruh tidal channel
setelah pengendapan atau bersamaan dengan proses pengendapan dan kandungan
sulfur tinggi.
2. Lingkungan Pengendapan Back-Barrier
Karakteristik batuan sedimen pada lingkungan back barrier adalah mengalami
coarsening upward, terdapat serpih abu-abu gelap yang kaya bahan organik, batulanau
dan mengandung batubara yang tipis dengan penyebaran secara lateral yang tidak
menerus serta konkresi siderit. Batubara di daerah lingkungan back–barrier umumnya
tipis, tidak menerus, mengandung banyak sulfur, dan seringkali juga disebut shale
hitam atau bone coal (Renton dan Cecil, 1979 dalam Galloway dan Hobday, 1983).
Lempung pada daerah back-barrier tidak memiliki struktur laminasi dan banyak
mengandung kaolin karena adanya pencucian montmorilinit oleh air asam pada
gambut (Staub dan Cohn, 1978 dalam Galloway dan Hobday, 1983).
Batubara yang terbentuk cenderung menunjukkan bentuk memanjang, berorientasi
sejajar dengan arah orientasi dari penghalang dan sering juga sejajar dengan jurus
pengendapan. Bentuk perlapisan batubara yang dihasilkan mungkin berubah sebagian
oleh aktivitas tidal channel pada post depositional atau bersamaandengan proses
sedimentasi.
3. Lingkungan Pengendapan Lower Delta Plain
Lingkungan lower delta plain didominasi oleh sekuen coarsening upward yang terdiri
dari batulumpur dan batulanau, memiliki ketebalan antara 15-55 m dan penyebaran
lateral 8 hingga 10 km. Bagian bawah dari sekuen sedimen ini adalah batulumpur
abu-abu gelap hingga hitam dan terdapat siderit dan batugamping dengan sebaran
yang tidak teratur. Pada bagian atas sekuen ini sering dijumpai batupasir,
menunjukkan adanya peningkatan energi transportasi pada daerah perairan dangkal
ketika teluk terisi endapan sedimen (Horne et al, 1979 dalam Thomas, 2002). Bila
teluk telah cukup terisi maka tumbuhan akan dapat tumbuh, sehingga dalam kurun
waktu tertentu batubara dapat terbentuk. Namun demikian, tetapi bila teluk tidak terisi
penuh, organisme, batupasir, dan siderit akan terbentuk. Pola umum coarsening
upward atau mengkasar keatas pada interbutary bar di beberapa tempat dapat terputus
oleh detritus creavase splays (Horne et al, 1979, dalam Thomas, 2002).
4. Lingkungan Pengendapan Upper Delta Plain – Fluvial
Upper delta plain merupakan daerah akumulasi gambut dalam jumlah yang tidak
banyak, namun lingkungannya relatif stabil. Endapannya didominasi oleh bentuk
linier, tubuh batupasir lentikuler yang memiliki ketebalan hingga 25 m dan lebar 11
km. Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-
pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky, sedangkan tumbuhan pada
lower delta plain didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan
batubara berlapis.
5. Lingkungan Pengendapan Transitional Lower Delta Plain
Zona diantara lower dan upper delta plain adalah zona transisi yang mengandung
karakteristik litofasies dari sekuen tersebut yang merupakan juga sekuen bay-ll yang
dicirikan oleh litologi yang berbutir halus dan lebih tipis (1,5 – 7,5 m) daripada
sekuen lower delta plain (Horne et al, 1978). Perkembangan rawa pada lingkungan
transisi lower delta plain sangat intensif, karena adanya pengisian sedimen pada
daerah "interdistributary bay" sehingga dapat terbentuk lapisan batubara yang tersebar
luas dengan kecenderungan agak memanjang sejajar dengan jurus perlapisan.
c. Channel
Endapan Channel diendapkan di lingkungan delta plain. Singkapan endapanendapan
tersebut di lapangan tertutup oleh endapan batupasir Sand Bar. Gangguan sedimentasi
batubara terutama aktifitas pergerakan channel bisa menyebabkan terjadi washout, parting
dan splitting batubara.
d. Proses Karst
e. Sesar
Sesar dalam cekungan sedimen bisa menerus dan aktif kembali sehingga bisa
mempengaruhi lapisan batubaranya, seperti : ketebalan serta karakter susunan lapisan
sedimennya. Pengaruh sesar growth fault dalam cekungan tektonik bisa menyebabkan
penebalan lapisan batubara secara setempat, hal ini disebabkan penurunan cekungan
akibat pensesaran. Sedangkan di daerah paparan relatif stabil dan kecepatan penurunan
relatif lebih lambat. Dengan demikian kecepatan progradasi pengendapan sedimen yang
dikontrol oleh growth fault relatif lebih cepat dibandingkan pengendapan di daerah
paparan. Sesar growth fault berpengaruh terhadap proses pengendapan sedimen, bidang
sesar growth fault tersebut merupakan zona bidang gelincir (failure) menyebabkan gravity
sliding berupa longsoran sedimentasi di cekungan tersebut. Tekanan yang sangat kuat
terhadap batupasir lempungan yang belum kompak menyebabkan gradient patahannya
besar. Bagian atasnya curam dan landai ke arah bidang lapisan patahan (flexure) di
sepanjang roof lapisan batubara. Sesar-sesar tersebut akan mengerosi sebagian, sebelum
sedimennya longsor ke bawah. Lapisan batubara yang mengalami splitting (bercabang)
merupakan petunjuk adanya sesar growth fault. Reaktivasi kembali sesar-sesar tersebut
dapat menghasilkan bentuk lapisan batubara yang melengkung ke bawah dan ke atas, dan
selanjutnya diikuti lapisan sedimen non batubara yang bentuknya melengkung juga.

Ketidakstabilan cekungan batubara di beberapa tempat, menyebabkan reaktifasi kembali


sesar normal half graben, terjadi longsoran gravity sliding

Proses-proses yang berpengaruh setelah proses pengendapan batubara setelah pengendapan


adalah

a. Sesar
Sesar dapat menyebabkan seretan (drag) sepanjang bidang patahan, sehingga batuan
sekelilingnya juga bergeser sepanjang arah pergeseran dari sesar tersebut. Apabila berupa
sesar besar (major fault) maka sesar tersebut dapat menggeser seluruh lapisan batuan dan
batubara hingga beberapa meter, dimana zona sesar tersebut berupa bidang hancuran dan
bisa terlihat di high wall tambang batubara terbuka.
Pembentukan sesar normal dalam skala besar disebabkan oleh gaya tension yang tertarik
karena regangan (rifting) di continental crust, searah dengan sesar-sesar normal yang
terjadi secara di lokal area, sesar normal skala besar tersebut membentuk struktur geologi
half grabben.
b. Erosi Permukaan
Erosi permukaan adalah dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik
berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi
terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

Selain hal diatas, ketebalan batubara juga berhubungan dengan

a. Gross coal thickness


Gross coal thickness adalah ketebalan batubara kotor yang didalamnya masing terdapat
parting
b. Net coal thickness
Net coal thickness adalah ketebalan batubara bersih, dimana batubara tersebut tidak
memiliki parting
c. Mineable thickness
Mineable thickness adalah ketebalan batubara yang dapat ditambang.
Penyebab splitting pada batubara

Splitting merupakan lapisan batubara yang bercabang atau terbelahnya lapisan batubara
(secara lateral) dimana jarak antar percabangannya relatif dekat, dimana jarak antar belahan
batubara tersebut diisi oleh sedimen bukan batubara (umumnya berupa channel batupasir).
Splitting terjadi disaat pembentukan awal batubara, dimana pada saat batubara terendapkan,
terjadi tidal channel pada batubara yang juga ikut membawa sedimen bukan batubara.
Splitting terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu :
a. Simple splitting ; adalah split sederhana yang terjadi akibat kehadiran tubuh lentikuler
yang besar dari sedimen bukan batubara
b. Progressive splitting ; hal ini dicirikan bila terdiri dari beberapa lensa, maka splitting
dapat berkembang secara terus menerus.
c. Zig-zag splitting : Lapisan batubara yang terbelah kemudian bergabung lagi dengan
lapisan batubara yang lain.
1. Wash Out

Washed Out adalah terdapatnya cut out pada lapisan batubara. Cut out sendiri didefenisikan
sebagai batu lempung atau batu serpih yang mengisi bagian tererosi dalam lapisan batubara.
Menurut Robert Stefanko, 1983, washed out adalah hilangnya sebagian atau seluruh lapisan
batubara yang kemudian tergantikan oleh endapan sedimen lain akibat adanya erosi dan
pengendapan. Hilangnya lapisan batubara tersebut bias disebabkan oleh pengikisan sungai
purba maupun sungai recent, ataupun gletser.

Ukuran washout bervariasi baik tebal maupun pelamparannya. Washout mungkin dengan luas
yang kecil, channel yang tidak beraturan pada atap lapisan, biasanya disebut roof rolls
sebagai akibat palechannel utama.

Sebagian besar struktur washout diisi oleh batupasir, meskipun kerikil batubara atau
konglomeratt kerikilan dapat juga hadir. Hal ini mencerminkan meander cut off dan
paleochannel.

Washout dan roof rolls merupakan masalah utama dalam operasi penambangan. Ketebalan
lapisan dan ketidakmenerusan lapisan batubara akibat terisi channel, sehingga itu tentu
memerlukan kebijaksanaan. Demikian juga dengan peralatan yang digunakan untuk menggali
batubara sering menemui kesulitan untuk menembus material bukan batubara yang telah
menggantikan posisi lapisan batubara, terutama pada tambang bawah tanah.

Struktur washout merupakan bagian mendasar dalam penelitian geologi untuk kepentingan
perencanaan penambangan dan pengembangannya.

Gambar 1. Wash out karena erosi sungai

2. Floor Roll

Floor roll terdiri dari material batuan yang berupa punggungan, panjang, sempit, dan
subparalel, yang menonjol kedalam lapisan batubara dari dasar lapisan. Seperti halnya roof
rolls, floor roll akan mangakibatkan ketebalan lapisan batubara berkurang.
Floor roll sering diterangkan sebagai intrusi lapisan ke dalam lapisan lain akibat
pengembangan hidrasi and aktivitas tektonik. Menurut Diessel dan Moelle (1970), roof roll
dibentuk oleh kegiatan sungai selama tahap awal akumulasi tanah gambut.

3. Variasi Ketebalan Batubara

Ketebalan lapisan batubara adalah unsur penting yang langsung berhubungan dengan
perhitungan cadangan, perencanaan produksi, sistem penambangan, dan umur tambang.
Oleh karena itu perlu diketahui faktor pengendali terjadinya kecenderungan arah perubahan
ketebalan, penipisan, pembajian, splitting, dan kapan terjadinya. Proses-proses yang
berpengaruh selama proses pengendapan, antara lain :

a. Perbedaan kecepatan akumulasi batubara


Syarat untuk terbentuknya formasi batubara antara lain adalah ketika kenaikan muka air
tanah lambat, perlindungan rawa terhadap pantai atau sungai dan energi relatif rendah.
Jika muka air tanah terlalu cepat naik (atau penurunan dasar rawa cepat) maka kondisi
akan menjadi limnik atau bahkan akan terjadi endapan marine. Sebaliknya kalau terlalu
lambat, maka sisa tumbuhan yang terendapkan akan teroksidasi dan terisolasi. Terjadinya
kesetimbangan antara penurunan cekungan (land subsidence) dan kecepatan penumpukan
sisa tumbuhan (kesetimbangan bioteknik) yang stabil akan menghasilkan gambut yang
tebal (Diessel, 1992).
Lingkungan tempat terbentuknya rawa gambut umumnya merupakan tempat yang
mengalami depresi lambat dengan sedikit sekali atau bahkan tidak adapenambahan
material dari luar. Pada kondisi tersebut muka air tanah akan terusmengikuti
perkembangan akumulasi gambut dan mempertahankan tingkatkejenuhannya. Kejenuhan
tersebut dapat mencapai 90 % dan kandungan air menurundrastis hingga 60 % pada saat
terbentuknya brown-coal. Sebagian besar lingkungan yang memenuhi kondisi tersebut
merupakan topogenic low moor. Hanya pada beberapa tempat yang mempunyai curah
hujan sangat tinggi dapat terbentuk rawa ombrogenic (high moor).
b. Perbedaan morfologi dasar cekungan
Lingkungan pengendapan batubara erat kaitannya dengan siogra cekungan pengendapan.
Menurut Stach et al (1982), berdasarkan posisi geografinya, lingkungan pengendapan
batubara dibedakan menjadi zona paralik (tepi pantai) dan limnik (daratan). Batubara di
dunia lebih dari 90% terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan
dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagun, delta, atau juga
aluvial. Selanjutnya pembahasan masing-masing lingkungan pengendapan batubara lebih
mengacu pada pembagian yang dikemukakan oleh Horne et al (1978) adalah sebagai
berikut:
1. Lingkungan Pengendapan Barrier
Barrier terbentuk selama delta mengalami progadasi, dan lalu terjadi pengisian suplai
sedimen dari darat dan laut hingga meluas ke daerah rawa back-barrier (Galloway dan
Hobday, 1983). Lingkungan barrier mempunyai peran penting, yaitu menutup
pengaruh oksidasi dari air laut dan mendukung pembentukan gambut di bagian
dataran.
Ketebalan batubara tipis dengan sebaran memanjang sejajar sistem penghalang atau
sejajar jurus perlapisan, bentuk lapisan melembar karena pengaruh tidal channel
setelah pengendapan atau bersamaan dengan proses pengendapan dan kandungan
sulfur tinggi.
2. Lingkungan Pengendapan Back-Barrier
Karakteristik batuan sedimen pada lingkungan back barrier adalah mengalami
coarsening upward, terdapat serpih abu-abu gelap yang kaya bahan organik, batulanau
dan mengandung batubara yang tipis dengan penyebaran secara lateral yang tidak
menerus serta konkresi siderit. Batubara di daerah lingkungan back–barrier umumnya
tipis, tidak menerus, mengandung banyak sulfur, dan seringkali juga disebut shale
hitam atau bone coal (Renton dan Cecil, 1979 dalam Galloway dan Hobday, 1983).
Lempung pada daerah back-barrier tidak memiliki struktur laminasi dan banyak
mengandung kaolin karena adanya pencucian montmorilinit oleh air asam pada
gambut (Staub dan Cohn, 1978 dalam Galloway dan Hobday, 1983).
Batubara yang terbentuk cenderung menunjukkan bentuk memanjang, berorientasi
sejajar dengan arah orientasi dari penghalang dan sering juga sejajar dengan jurus
pengendapan. Bentuk perlapisan batubara yang dihasilkan mungkin berubah sebagian
oleh aktivitas tidal channel pada post depositional atau bersamaandengan proses
sedimentasi.
3. Lingkungan Pengendapan Lower Delta Plain
Lingkungan lower delta plain didominasi oleh sekuen coarsening upward yang terdiri
dari batulumpur dan batulanau, memiliki ketebalan antara 15-55 m dan penyebaran
lateral 8 hingga 10 km. Bagian bawah dari sekuen sedimen ini adalah batulumpur
abu-abu gelap hingga hitam dan terdapat siderit dan batugamping dengan sebaran
yang tidak teratur. Pada bagian atas sekuen ini sering dijumpai batupasir,
menunjukkan adanya peningkatan energi transportasi pada daerah perairan dangkal
ketika teluk terisi endapan sedimen (Horne et al, 1979 dalam Thomas, 2002). Bila
teluk telah cukup terisi maka tumbuhan akan dapat tumbuh, sehingga dalam kurun
waktu tertentu batubara dapat terbentuk. Namun demikian, tetapi bila teluk tidak terisi
penuh, organisme, batupasir, dan siderit akan terbentuk. Pola umum coarsening
upward atau mengkasar keatas pada interbutary bar di beberapa tempat dapat terputus
oleh detritus creavase splays (Horne et al, 1979, dalam Thomas, 2002).
4. Lingkungan Pengendapan Upper Delta Plain – Fluvial
Upper delta plain merupakan daerah akumulasi gambut dalam jumlah yang tidak
banyak, namun lingkungannya relatif stabil. Endapannya didominasi oleh bentuk
linier, tubuh batupasir lentikuler yang memiliki ketebalan hingga 25 m dan lebar 11
km. Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-
pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky, sedangkan tumbuhan pada
lower delta plain didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan
batubara berlapis.
5. Lingkungan Pengendapan Transitional Lower Delta Plain
Zona diantara lower dan upper delta plain adalah zona transisi yang mengandung
karakteristik litofasies dari sekuen tersebut yang merupakan juga sekuen bay-ll yang
dicirikan oleh litologi yang berbutir halus dan lebih tipis (1,5 – 7,5 m) daripada
sekuen lower delta plain (Horne et al, 1978). Perkembangan rawa pada lingkungan
transisi lower delta plain sangat intensif, karena adanya pengisian sedimen pada
daerah "interdistributary bay" sehingga dapat terbentuk lapisan batubara yang tersebar
luas dengan kecenderungan agak memanjang sejajar dengan jurus perlapisan.
c. Channel
Endapan Channel diendapkan di lingkungan delta plain. Singkapan endapanendapan
tersebut di lapangan tertutup oleh endapan batupasir Sand Bar. Gangguan sedimentasi
batubara terutama aktifitas pergerakan channel bisa menyebabkan terjadi washout, parting
dan splitting batubara.
d. Proses Karst
e. Sesar
Sesar dalam cekungan sedimen bisa menerus dan aktif kembali sehingga bisa
mempengaruhi lapisan batubaranya, seperti : ketebalan serta karakter susunan lapisan
sedimennya. Pengaruh sesar growth fault dalam cekungan tektonik bisa menyebabkan
penebalan lapisan batubara secara setempat, hal ini disebabkan penurunan cekungan
akibat pensesaran. Sedangkan di daerah paparan relatif stabil dan kecepatan penurunan
relatif lebih lambat. Dengan demikian kecepatan progradasi pengendapan sedimen yang
dikontrol oleh growth fault relatif lebih cepat dibandingkan pengendapan di daerah
paparan. Sesar growth fault berpengaruh terhadap proses pengendapan sedimen, bidang
sesar growth fault tersebut merupakan zona bidang gelincir (failure) menyebabkan gravity
sliding berupa longsoran sedimentasi di cekungan tersebut. Tekanan yang sangat kuat
terhadap batupasir lempungan yang belum kompak menyebabkan gradient patahannya
besar. Bagian atasnya curam dan landai ke arah bidang lapisan patahan (flexure) di
sepanjang roof lapisan batubara. Sesar-sesar tersebut akan mengerosi sebagian, sebelum
sedimennya longsor ke bawah. Lapisan batubara yang mengalami splitting (bercabang)
merupakan petunjuk adanya sesar growth fault. Reaktivasi kembali sesar-sesar tersebut
dapat menghasilkan bentuk lapisan batubara yang melengkung ke bawah dan ke atas, dan
selanjutnya diikuti lapisan sedimen non batubara yang bentuknya melengkung juga.

Ketidakstabilan cekungan batubara di beberapa tempat, menyebabkan reaktifasi kembali


sesar normal half graben, terjadi longsoran gravity sliding (slumping)

Proses-proses yang berpengaruh setelah proses pengendapan batubara setelah pengendapan


adalah

a. Sesar
Sesar dapat menyebabkan seretan (drag) sepanjang bidang patahan, sehingga batuan
sekelilingnya juga bergeser sepanjang arah pergeseran dari sesar tersebut. Apabila berupa
sesar besar (major fault) maka sesar tersebut dapat menggeser seluruh lapisan batuan dan
batubara hingga beberapa meter, dimana zona sesar tersebut berupa bidang hancuran dan
bisa terlihat di high wall tambang batubara terbuka.
Pembentukan sesar normal dalam skala besar disebabkan oleh gaya tension yang tertarik
karena regangan (rifting) di continental crust, searah dengan sesar-sesar normal yang
terjadi secara di lokal area, sesar normal skala besar tersebut membentuk struktur geologi
half grabben.
b. Erosi Permukaan
Erosi permukaan adalah dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik
berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi
terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

Selain hal diatas, ketebalan batubara juga berhubungan dengan

a. Gross coal thickness


Gross coal thickness adalah ketebalan batubara kotor yang didalamnya masing terdapat
parting
b. Net coal thickness
Net coal thickness adalah ketebalan batubara bersih, dimana batubara tersebut tidak
memiliki parting
c. Mineable thickness

Mineable thickness adalah ketebalan batubara yang dapat ditambang.

4. Efek Makro Struktural dan Efek Mikrostruktural


a. Efek Makro Struktural
Gabungan akumulasi ketebalan sedimen dan kecepatan penurunan cekungan
menyebabkan ketidak stabilan terutama di bagian tepi cekungan. Akibat adanya struktur
pembebanan ketika sedimen masih dalam bentuk fluida, menyebabkan sedimen pembawa
batubara terlihat berbentuk struktur slumping, ciri lain seperti: injeksi sedimen ke dalam
lapisan bagian atas dan bawah (klastik dike) Contoh injeksi lapisan batubara yang
menerobos lapisan sedimen seperti di high wall Binungan Blok 7, PIT K seam O.
Kehadiran perselingan mudstone, sandstone dan batubara dibawah kondisi struktur
pembebanan, bisa menyebabkan perubahan variasi lapisan batubara seperti : erosi di
bagian dasar lapisan batubara oleh channel sandstone, flame structure, distorted dan
dislocated ripples, fold and contorted bedding (Gambar 1). Gangguan ketidakstabilan
lingkungan pengendapan, merupakan salah satu petunjuk adanya reaktifasi kembali sesar-
sesar normal akibat struktur pembebanan dari akumulasi sedimen di cekungan, umumnya
menghasilkan sedimen sistem aliran gravitasi (gravity flow).
Ketidakstabilan cekungan batubara di beberapa tempat, menyebabkan reaktifasi kembali
sesar normal half graben, terjadi longsoran gravity sliding (slumping).

b. Efek Mikro Struktural


Sesar dalam cekungan sedimen bisa menerus dan aktif kembali sehingga bisa
mempengaruhi lapisan batubaranya, seperti : ketebalan serta karakter susunan lapisan
sedimennya. Pengaruh sesar growth fault dalam cekungan tektonik bisa menyebabkan
penebalan lapisan batubara secara setempat, hal ini disebabkan penurunan cekungan
akibat pensesaran. Sedangkan di daerah paparan relatif stabil dan kecepatan penurunan
relatif lebih lambat. Dengan demikian kecepatan progradasi pengendapan sedimen yang
dikontrol oleh growth fault relatif lebih cepat dibandingkan pengendapan di daerah
paparan. Sesar growth fault berpengaruh terhadap proses pengendapan sedimen, bidang
sesar growth fault tersebut merupakan zona bidang gelincir (failure) menyebabkan gravity
sliding berupa longsoran sedimentasi di cekungan tersebut. Tekanan yang sangat kuat
terhadap batupasir lempungan yang belum kompak menyebabkan gradient patahannya
besar. Bagian atasnya curam dan landai ke arah bidang lapisan patahan (flexure) di
sepanjang roof lapisan batubara. Sesar-sesar tersebut akan mengerosi sebagian, sebelum
sedimennya longsor ke bawah. Lapisan batubara yang mengalami splitting (bercabang)
merupakan petunjuk adanya sesar growth fault. Reaktivasi kembali sesar-sesar tersebut
dapat menghasilkan bentuk lapisan batubara yang melengkung ke bawah dan ke atas, dan
selanjutnya diikuti lapisan sedimen non batubara yang bentuknya melengkung juga.

Menjelaskan kemungkinan terbentuknya splitting lapisan batubara yang disebabkan


perubahan pergerakan sesar selama pengendapan gambut berlangsung

Keterangan gambar dari bawah ke atas adalah sebagai berikut :


Gambar (A), Pergerakan sesar mengakibatkan pelengkungan lapisan batubara.
Gambar (B), Ketika lapisan gambut mengalami pelengkungan, di atasnya diendapkan
sedimen mudstone, dan setelah aktifitas berhenti akumulasi gambut
berkembang lagi menyesuaikan level semula dari bagian top lapisan
gambut yang tidak mengalami splitting.
Gambar (C), Pergerakan sesar terhadap lapisan batubara memberikan 2 pengertian,
sebagian mengalami pengangkatan sebagai awal batubara tersebut akan
splitting dan sebagian mengalami penurunan menghasilkan splitting
batubara

Growth fold bisa mempengaruhi pola pengendapan cekungan batubara, adanya kecepatan
erosi dan sedimentasi menyebabkan pengendapan batubara di beberapa tempat. Adanya
pemotongan channel oleh suplai rombakan sedimen yang terus membumbung dapat
membentuk sand bar.

Akumulasi gambut yang terus berkembang dalam runtunan lapisan sedimen mudstone
yang tebal, membentuk lipatan oversteeply, hal ini disebabkan mudstone tersebut
terkompresi ke arah bawah di kedalaman tertentu, menyebabkan lapisan sedimen tertekan
ke atas, akibatnya secara setempat di daerah tersebut membentuk antiklin- sinklin, selain
itu terlihat intrusi sedimen klastik dari bawah menorobos lapisan sedimen di atasnya.

Sub-Cekungan Batubara Berau, umumnya pola strukturnya tersusun stabil di batuan yang
berumur Tersier. Bentuk antiklinnya mulai dari landai hingga curam atau bahkan
menunjam dan merupakan satu kesatuan antara sesar normal dan steep reverse fault yang
berada di sekitar sumbu lipatan.

Sinklin yang terbentuk relatif luas dan lebar dengan kemiringan dip kecil, sedangkan
transisi antara dua struktur tersebut merupakan dasar adanya representasi jenis sesar steep
reverse fault. Pembentukan lipatan growth fold disebabkan oleh sliding gravity melalui
bidang sesar steep reverse fault. Lipatan growth fold terbentuk karena gravity sliding
yang telah lanjut dan berasosiasi dengan akumulasi sedimen yang sangat tebal seperti di
Sub-Cekungan Batubara Berau serta pengaruh tegasan tension akibat rifting.

Progradasi pengendapan sedimen di lingkungan delta berlangsung cepat sesuai dengan


arah pengendapannya (resultant) hingga menuju lingkungan fluvial (fase regresi),
menyebabkan jumlah lapisan batubara menjadi multiple seam.