Anda di halaman 1dari 82

FREE

EDISI 27/2010

EDISI XXVII / 2010 1


www.thelightmagz.com
THEEDITORIAL THEEDITORIAL

KETIDAKMUNGKINAN YANG MUNGKIN


Dalam konsep ‘ubermensch’ (manusia ultra atau manusia super), terkandung kemauan bagi manusia untuk mengatasi keterba-
tasan dirinya, baik mental, pikiran, maupun tubuh. Lalu bagaimana mungkin manusia yang dirinya inferior itu mampu menjelma
menjadi manusia superior? Dalam ajaran filsafat yaitu dengan melakukan penciptaan. Penciptaan akan sesuatu yang melampaui
dirinya.

Misalnya, pandangan Baudrillard mengenai konsep hyper (baca: melampaui) mungkin koheren dengan konsep ultra/super
COVER BY: dalam pemikiran Nietzsche. Perkembangan teknologi informasi terkini seperti cyberspace merupakan contoh dari apa yang dise-
THOMAS HERBRICH but hyper-mind dimana prinsip cyberspace sebagai suatu jaringan-jaringan pikiran manusia yang bersatu membentuk pikiran-
pikiran lebih tinggi. Di masa lalu, itu adalah ketidakmungkinan, tetapi sekarang apa yang dinyatakan dalam pemikiran-pemikiran
mereka adalah keniscayaan yang menjadi keseharian kita.

Mewujudkan mimpi menjadi sesuatu yang “nyata” adalah keinginan manusia sejak masa purba, meskipun mimpi juga kenyataan
PT Imajinasia Indonesia, itu sendiri karena setiap manusia bermimpi. Rama Surya, menjelmakan mimpi kanak-kanak dan masa remajanya dalam fotograf-
www.thelightmagz.com
fotograf hitam putihnya. Penciptaan dunia baru dalam mengatasi ketidakmungkinan pengabadian momen yang menentukan
sebelum fotografi lahir.
PEMIMPIN PERUSAHAAN:
Ignatius Untung,
Agus Pande adalah fotografer dari Bali yang membalikkan ketidakmungkinan persaingan fotografer lokal dengan fotografer bule
PEMIMPIN REDAKSI: yang selalu mendapatkan bayaran lebih tinggi. Kualitas dan sikap yang berani mendidik klien adalah metodenya. Ada pula foto-
Siddhartha Sutrisno, grafer Singapura, Deanna Ng yang tertarik membuat fotograf-fotograf tentang pasar kemanapun ia pergi, satu lagi kemungkinan
KONTRIBUTOR: yang sebagian dari kita mengatakan tidak mungkin.
Thomas Herbrich, Rama Surya,
Agus Pande, Deanna Ng, Memiliki sikap otentik, pada banyak fotografer, pemula sampai profesional selalu dianggap ketidakmungkinan dengan argumen-
Siddhartha Sutrisno, Ignatius tasi tak mengikuti trend berarti “bunuh diri”. Sikap otentik adalah seumpama “silent road” yang jika tidak pernah dijalani sebena-
Untung rnya tak berhak atas klaim bunuh diri tadi. Selalu ada kemungkinan “menarik” di jalan sunyi.
WEBMASTER:
Gatot Suryanto Kemunculan messiah fotografi Indonesia dalam pandangan skeptis jangka pendek adalah ketidakmungkinan. Tetapi ‘uber-
LAYOUT & GRAPHIC: mensch’ selalu dirundung keinginan mewujudkannya dalam keniscayaan. The Light bersama-sama mencoba mewujudkannya
Imagine Asia Indonesia
dalam event yang akan segera hadir di bulan Maret. Perjuangkan takdirmu!

Selamat membaca

“Hak cipta semua foto dalam majalah ini milik fotografer yang bersangkutan dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatannya, serta dilindungi oleh Undang-undang. Penggunaan foto-foto dalam
majalah ini sudah seijin fotografernya. Dilarang menggunakan foto dalam majalah ini dalam bentuk / keperluan apapun tanpa ijin tertulis pemiliknya.”

2 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 3


WHERETOFIND WHERETOFIND

public relation
dokter produser
designer make up artist masinis
mantri kuli pangul tokoh agama
akuntan
tukang kain mahasiswa
tukang becak
DJ
menteri tukang sol sepatu aktor aktris
jaksa koki tukang ojeg satpam
presiden
guru pemulung
dosen
bankirtukang batu tukang bajaj
nahkoda model
filsuf
politikus
sutradara sopir pramuka
bartender kasir
manager tukang tukang patri
loak pengacara tukang bakso
tentara pilot perawat polisi tukang kayu
pengangguran
dukun musisi
direktur
pelayan wartawan

bisa menjadi...

good talent deserves chances

4 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 5


www.indonesiasnexttopphotographer.com
MASTERTOM MASTERTOM

The bank buildings are very well- the tedious rituals of gaining approval
known in Germany, so it was easy to to take photos from various property
use them as symbolic objects. When administration offices, I prefer to look
standing directly in front of them around for tower buildings under
though, one can only photograph construction. We were in luck: one was
them with a very wide angle lens and just being built directly on the river
slightly distorted, which makes it diffi- Main, and already had all thirty storeys
cult to portray a group of buildings. So finished. Yes, of course the obligatory
I had to take the photos from a greater “KEEP OUT! PARENTS ARE RESPONSIBLE

The Bank Crisis


distance and height, i.e. from a high- FOR THEIR CHILDREN!” sign was clearly
rise building. We drove to Frankfurt on posted on the site fence, but I didn’t
a Sunday. Rather than going through have my mother with me ...

At the moment everyone’s talking about the “bank crisis”, so I made a picture to
go with it. I chose downtown Frankfurt as the location, as Frankfurt is Germany’s
financial centre.

I love spectacular scenes and I’ve already made quite a number of “catastrophe
photos”. As long as one is not in the middle of the real scenario, that’s easy to do ...
My idea this time was to show the demise of the banking world, as it gets washed
away by a huge storm flood..

6 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 7


MASTERTOM MASTERTOM

line required a victim: the banker. I could have made that really spooky, but I pre-
ferred a bizarre setting. A man holding on to a street lamp certainly looks weird.
He’s looking into the camera and seems to be on the point of slipping away. This
final, surprised look I copied from Laurel & Hardy.

Unfortunate, though, that we had to carry our equipment right up to the rooftop
on foot. And up there on the windy, unsecured rooftop, I realised why this was
absolutely no place for children! Anyway, I got good pictures of all the important
banks. Citizens of Frankfurt: please forgive me for not positioning them properly
within the finished picture, but in this case the directive was “story before truth”.
My brother Markus (you know: my universal studio genius) built a huge copper
pipe as the lamppost. Our friend Andreas gave his all in my studio to represent
Now to the foreground: to give the picture more depth and to prevent it from
the drowning banker in wet clothing. It’s hard to imagine just how difficult it is to
looking merely like a dramatised landscape, I needed a person in there. The story-
hang on to a smooth pipe in soaking wet gear!

8 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 9


MASTERTOM MASTERTOM

For the water effects, I only It took me 11/2 days to create the flood wave and include the buildings – all in
had to search in my large ar- all, the composition contains 35 pictures. Have you noticed that I assembled all
chives where I have plenty of the buildings slightly crookedly? Not one of them is straight. That may not really
photos of waterfalls, wild wa- be logical, but it’s important for the atmosphere. And because the press is always
ters etc. There I found ample present in such situations, there’s a helicopter hovering in the background ...
storm flood material for this
fairly complex photo composi-
tion (I actually combined more
than 20 water photos here).

My archive also contains various rain


photos, so I put one of those over the
entire scenery. For the lamp head I
used my daughter’s braces box. That
was much quicker than trying to find
a real lantern – we simply didn’t have
time for that. So ... hang a lamp here,
do a bit of retouching there, and it
already looks pretty real.

This playful way of working is so typical


for me. It arouses the “little boy” in me
and turns my studio into the best pro-
fessional playground of the world!

Let there be light!


MasterTOM
(Thomas Herbrich)

10 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 11


MASTERTOM MASTERTOM

12 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 13


MASTERTOM MASTERTOM

14 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 15


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

Deanna Ng,
Berburu
momen,
keluar
masuk pasar
Beberapa tahun yang lalu seorang fotografer kenamaan Indonesia yang tinggal di
jerman mengaku melewati masa di mana selama bertahun-tahun ia hanya mau
memotret satu obyek saja yaitu besi. Kapanpun dan kemanapun ia pergi hanya
besi lah yang membuatnya berhenti dan memotret.
Beberapa fotografer memang berkeyakinan bahwa konsistensi dan keuletan
dalam menekuni suatu bidang dan bahkan satu object saja dalam satu periode
waktu akan mengasah kita untuk menemukan hal-hal yang tidak ditemui orang
lain. Untuk itu pada kesempatan kali ini kami mendatangkan seorang fotografer
wanita yang berdomisili di Singapore yang begitu tertarik membuat foto-foto
tentang pasar ke manapun ia pergi. Deanna Ng sudah pergi ke beberapa Negara
untuk memotret gambaran pasar melalui kameranya. Beberapa pasar di Indo-
nesia pun tidak luput dari sasarannya. Dan mudah-mudahan kesempatan untuk
menimba pemikiran dan pengalaman darinya bisa mengajarkan kita banyak hal
yang baik akan kesabaran dan konsistensi.

16 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 17


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

How did you know photography? Tell


us from the beginning please.
tography in Singapore. The course was
meant to challenge the participants “I could be doc-
to find their own story in Singapore. It umenting end
In 1999, I went on a holiday travel- opened my eyes to what photography of life issues
“I learnt Pho- ing around Greece for a month with a could do. As a medium for story telling
in Singapore
tography on friend. I saw how beautiful the pictures
from my friend turned out to be. So i
and not just pretty pictures.
or document-
film and i re- decided that when i go back to Singa- I think by nature, photography is very ing women in
membered the pore, I was going to pick up photog- voyageristic. It allows you to peek into
micro financ-
days when we raphy. I started with a basic class in other people’s lives. It’s almost a privi-
ing in Indone-
had to write Photography. I learnt Photography on
film and i remembered the days when
lege. I could be documenting end of
life issues in Singapore or documenting sia or hanging
down our aper- we had to write down our aperture and women in micro financing in Indonesia out with Afri-
ture and shut- shutter speed after each picture so that or hanging out with African American
can American
ter speed after we can find out what went wrong with
our pictures.
kids on their front porch in Missouri.
By doing so, I learn a little more about kids on their
each picture so life and the world around me. front porch in
that we can find Missouri. By
My first camera was an old rollei SLR

out what went


doing so,
from my father with a 50 mm lens and

wrong with our that was my only lens for about 2 years. How do you find photography on

I learn a
influencing us to see how’s life. Do
pictures.” you think by doing a human interest
What interest you on photography? photography a photographer become
little more
about
more sensitive to humanity, or in
Like most amateur photographers, contrary photographer should be more

life and
I spent my weekends going to the sensitive to humanity in order to have
Singapore Botanical Gardens to pho- good capability doing human interest
tograph nature or to beach to photog-
raphy landscape. After a while, i got
photography? Please explain.
the world
bored and wanted to do more with my I think a photographer has to be sensi-
around
me.”
photographer. I took a course, called tive first because you need to be able
Shooting Home in 2004 with objec- to relate to your subjects to tell their
tives, a centre for filmmaking and pho- story. It’s not your story but theirs, so

18 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 19


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

20 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 21


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

22 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 23


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

24 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 25


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

“I wanted
Photography so that youth could start enced by the photography art of
earlier in life than i did. I started teach- seeing? Please explain how they can be

to share ing in my own alma master secondary


school. I grew up thinking that I had to
influence in term of humanity sensibil-
ity.

with my get good grades in school, go to the

students
university and get a stable 9-5 jobs. I Photography offers them a different
did all that but i wasn’t happy. way of looking at life. Sometimes, they

that there Maybe it’s the way that we were


might not realize it but by expressing
their ideas that they have, I think they

are alter- brought up in Singapore and it seemed are actually reflecting on their sur-

natives in
like a mainstream process in life. Like roundings. For example, a student of
a manufacturing line. I wanted an mine wanted to photograph a series

life.”
alternative and it turned out to be of pictures of how everyone is always
photography. I wanted to share with plugged into their ear phones and lost
my students that there are alternatives in the their own world. It was interest-
in life. ing to see how she saw the world and
maybe that sense of disconnection
Do you think is it good for youth to with the people around her. In this era when digital photography
learn photography and to be influ- grows rapidly, so many people start to
we need to understand their lives be-
fore we even begin to photograph. It’s buy a DSLR camera and start shooting.
a two way street, When the people that But most of them interest more to fash-
you are photographing open up their “I think a photographer has to be ion & sexy kind of photography rather

sensitive first because you need to


lives to you, you need to be open with than the essence of photography itself.
What do you think about that?
them too. In the process, I find that i
learn more about life. be able to relate to your subjects
to tell their story. It’s not your sto- Hahaha.... when i first started photogra-
You teach youth photography. How did
ry but theirs, so we need to under- phy, i also shot the standard stuff such
as flowers in the park and landscapes
you do that, what thought you share to
them except technical. stand their lives before we even so i don’t think i should judge others.
begin to photograph.” Each to their own.
It’s a double edged sword. With DSLR
I started photography late in life and
i discovered what Photography could becoming cheaper and cheaper, most
do even later in life. I want to teach people are getting into the medium

26 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 27


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

28 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 29


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

30 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 31


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

32 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 33


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

“The cam-
of photography. It raises interest for
photography which is actually good for
photographers as it creates awareness.
era is just
I think most of my students realize how
a piece
of equip-
hard it is to get a good picture and it’s
not always about the camera. It makes
them appreciate photography bet-
ter. It’s not just point and shoot. The ment.
camera is just a piece of equipment.
What’s
more im-
What’s more important is the idea of
the photographer.

Shooting in crowded place like pasar/


portant is
dirty market is more difficult than in
the studio since everything are uncon- the idea of
trollable. How did you do it?
the pho-
I’m actually more comfortable in the
market than in a studio where every-
tographer.”
thing is controlled! I guess it’s my na-
ture. I like to walk around and observe.
I have full respect for photographers
who can work in the studio and come
up with amazing pictures but it’s just
not for me. I work best in chaos and like
the energy in the markets. The people
are unpretentious and real. There’s
no bullshit about it. No slick tourism
marketing. What you see is what you
get. It’s as close to the lives of the locals
as you can be before we start dig in
deeper.

34 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 35


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

When shooting documentary, portrai-


ture what points you try to achieve?

I try to look for a moment or something


that tells their story. If language is not
a barrier, i talk to the person to get a
sense of the personality. Sometimes,
when i travel and i can’t speak the
language, i will just sit and observe. The
person could be pensive or shy and
I will try to portray it as close to their
nature as possible.

Mention one word that describes your


photos.

Oh dear..... I can’t describe it. Maybe, What kind of picture deserves labeled
Real? I try to keep it real. as the great one.

I wanted to give you a diplomatic


answer that there are so many great
photos and it’s hard to choose from. I
do like the works of Sebastian Salgado
and Eugene Richards. I don’t think
people realize how hard a documen-
tary photographer’s job is but i have
total respect for the work that Salgado
and Eugene Richards do and the stories
that they tell.

36 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 37


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

38 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 39


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

40 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 41


DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

42 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 43


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

44 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 45


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

Indonesia’s Next Top Photographer


Pertumbuhan peminat fotografi di tanah air meningkat pesat dari tahun ke tahun. setiap tahun. Namun angka ini menin-
Semakin terjangkaunya ongkos teknologi menjadi salah satu alasan kuat yang gkat pada era tahun 90an. Setidaknya
mendorong pertumbuhan sporadis ini. Jika 10 tahun yang lalu kamera SLR masih satu fotografer professional yang
menjadi monopoli mereka yang serius menggeluti fotografi secara super serius, mampu eksis dan menunjukkan deter-
kini kita mendapati banyak orang yang memiliki dan menggunakan kamera minasinya dalam berfotografi muncul
DSLR sebagai alat untuk merekam potongan kisah hidup kita. Di acara-acara setiap tahunnya. Bahkan di beberapa
pernikahan, kini DSLR bukan hanya menjadi monopoli fotografer yang ditugasi tahun muncul lebih dari satu nama
dan dibayar untuk meliput momen penting itu, tapi juga tamu dan sanak famili dalam setiap tahunnya. Era ini pun
dari pasangan yang menikah juga menggunakan DSLR. Hal serupa juga dapat terus bertahan hingga awal 2000an.
kita temui di ajang pameran komersil, tempat wisata, acara kantor, begitu ban-
yak orang-orang menggunakan DSLR yang dulu seolah-olah menjadi identitas Entah apa penyebabnya, era keemasan
seorang serious photographer. ini (jika boleh dikatakan demikian)
sepertinya harus berakhir dan mulai
Kaum positifisme mungkin akan melihat hal ini sebagai sesuatu yang menggem- menunjukan downtrending antikli-
birakan. Semakin banyak orang yang memotret semakin banyak orang yang maks. Setelah setiap tahun Indonesia
mengetahui standar apresiasi fotografi yang lebih layak dan manusiawi. Bahwa menelorkan satu orang fotografer
foto bagus bukan menjadi monopoli kamera DSLR mungkin kita setujui bersama, professional yang layak diberi title “the
namun fenomena tumbuhnya pengguna berbagai jenis kamera dan khususnya real contender” frekuensi kelahiran
DSLR menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan manfaat dan akibatnya. fotografer-fotografer professional yang
Apakah benar pertumbuhan jumlah orang yang menggunakan kamera DSLR “bertaji” pun mulai jarang. Ini terlihat
secara otomatis akan mendongkrak standar apresiasi fotografi Indonesia baik dari dari hanya 1 nama yang layak diang-
sisi kualitas maupun kuantitas? gap sebagai the real contender dalam
kurun waktu 3 tahun dari 2004 hingga
Jika kita berkaca ke masa lalu sedikit untuk sejenak melihat lahirnya fotografer 2007. Dan angka ini pun sepertinya
professional yang seringkali dianggap sebagai benchmark dan tolak ukur maju- belum menunjukkan sentimen positif
nya kualitas fotografi sebuah peradaban maka dapat kita temui hal yang seba- ketika lagi-lagi tidak ada satu nama
liknya. Pada era tahun 80an akhir jumlah fotografer professional tidak terlalu ban- baru yang muncul dengan tajinya yang
yak. Kemunculan nama-nama baru ke dalam jajaran title fotografer professional cukup menggemparkan dari kurun
yang mampu eksis dan mengejutkan pemain-pemain lama pun tidak dilakukan 2007 hingga awal 2010 ini.

46 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 47


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

“Sosok Stephen Jika kita menggunakan fotografer pro-


fessional sebagai cerminan pertumbu-
The Light sebagai salah satu media
yang selalu mengambil posisi kritis
Chow dalam han kualitas fotografi secara keseluru- dalam dunia fotografi akhirnya men-
film Kungfu han, maka regenerasi yang melambat gambil inisiatif untuk mengadakan

Hustle yang dari fotorgafer professional yang baik sebuah event fotografi terbesar yang

berubah dari
sepertinya menjadi sinyal utama yang belum pernah ada di Indonesia. Event
menginformasikan bahwa walaupun ini berupa pencarian bakat dalam
nothing men- secara kuantitas fotografi Indonesia bidang fotografi untuk nantinya di-

jadi something mengalami kemajuan, namun secara arahkan melalui serangkaian pelatihan

tanpa dugaan kualitas belum menunjukan trend


positif. Segala upaya untuk mencari,
intensif yang melibatkan orang-orang
yang dianggap mampu mengarahkan
dan tanpa sen- mencetak dan mengorbitkan bakat- dan mendidik benih-benih fotografi
gaja juga bisa bakat fotografi baru pun harus segera masa depan untuk menjadi Indonesia’s

terjadi di foto- dimulai. Next Top Photographer.

grafi. Di mana Proses pencarian bakat-bakat foto- Indonesia’s Next Top Photographer
jangan-jangan grafer muda seharusnya semakin tidak akan memulai debutnya melalui se-

sosok fotografer menjadi kendala mengingat secara rangkaian promo roadshow ke empat

terbaik Indo- kuantitas pelaku fotografi bertambah.


Aksi yang diperlukan selanjutnya
kota, yaitu Jakarta, Bandung, Yogya-
karta dan Surabaya pada bulan maret
nesia nantinya adalah mengerahkan segenap ke- 2010 untuk “membangunkan” pelaku
juga akan lahir mampuan dan pikiran serta memberi fotografi Indonesia untuk memper-

secara tidak ter- kesempatan seluas-luasnya kepada juangkan kesempatan mereka menjadi

duga dan tidak


berbagai kemungkinan yang mungkin Indonesia’s Next Top Photographer.
dan bahkan yang tidak mungkin untuk Mereka yang tidak berada di empat
sengaja dari so- menyiapkan jalan kepada diproduksin- kota tersebut bisa mendaftarkan diri

sok-sosok yang ya kembali fotografer-fotografer yang dan mengirimkan persyaratan berupa

sangat amat baik yang diharapkan bisa menjadi


dongkrak yang mampu membakar
10 buah foto portfolio mereka (apapun
bidangnya) dan juga sebuah tulisan es-
jauh dari foto- kembali semangat berfotografi setiap say mengenai alasan mengapa mereka
grafi.” orang dari sekedar ramai-ramai men-
jadi ramai dan berkualitas.
layak untuk diterima dalam program
ini. Peserta hanya diminta membayar
uang pendaftaran sebesar maksi-

48 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 49


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

mal Rp.125.000 dan minimal Rp.50.000 untuk kelas-kelas dan kondisi tertentu.
“Ini jauh sangat murah jika mereka terpilih menjadi 5 orang yang akan mengi-
kuti pelatihan intensif selama 6 bulan penuh tanpa libur yang meliputi bidang
fotografi baik teknis maupun artistic, apresiasi seni, bisnis, dan bidang-bidang
lain yang terkait dengan fotografi seperti digital imaging, fashion & food styling,
make up dan bidang-bidang lainnya.” Ungkap Ignatius Untung, founder The Light
magazine yang juga menjadi penggagas ide program social ini.

Program ini akan melibatkan beberapa nama yang sudah dikenal dalam bidang
fotorgafi, bisnis dan seni dan hebatnya mereka semua mengajar tanpa dibayar
karena misi sosial yang diemban program ini.

Tema yang diusung dalam pelaksanaan Indonesia’s Next Top Photographer yang
pertama ini menyinggung tentang memberi kesempatan kepada semua orang.
“Di film Kungfu Hustle kita melihat bahwa seorang jago silat nomor satu dilahir- Chow dalam film Kungfu Hustle yang berubah dari nothing menjadi something
kan secara tidak sengaja dalam sosok Stephen Chow yang tidak terduga sebel- tanpa dugaan dan tanpa sengaja juga bisa terjadi di fotografi. Di mana jangan-
umnya. Stephen Chow memerankan tokoh pemuda pengangguran yang ingin jangan sosok fotografer terbaik Indonesia nantinya juga akan lahir secara tidak
menunjukkan eksistensinya sebagai orang yang dihormati. Tiga perempat dari terduga dan tidak sengaja dari sosok-sosok yang sangat amat jauh dari fotografi.”
cerita tersebut sama sekali membuat Sambungnya. “Tukang becak, dosen filsafat, polisi, tukang sampah, pengacara,
kita tidak menduga bahwa Stephen bankir, pekerja pelabuhan, pemulung bisa saja menjadi sosok-sosok yang jangan-
Chow itulah yang akhirnya menjadi jangan sudah digariskan untuk menjadi Indonesia’s Next Top Photographer. Dan
seorang jago silat nomor satu di dunia dengan mengabaikan sosok-sosok yang sangat jauh dari fotografi seperti mereka
setelah terkena pukulan maha dah- sama saja dengan mencegah lahirnya sosok Indonesia’s Next Top Photographer.”
syat dari lawannya. Cerita yang sama Lanjutnya lagi.
bisa kita temui pada bidang fotografi.
Menganggap bahwa fotografer terbaik Maka dari itu, materi visual promosi yang digunakan untuk mengkampanyekan
Indonesia masih belum dilahirkan program ini mengobarkan spirit keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan.
(karena selalu ada yang lebih baik) Spirit memberikan kesempatan bahkan kepada setiap ketidakmungkinan inilah
membuat Indonesia’s Next Top Photog- yang dirasa mampu membangkitkan takdir yang jangan-jangan hampir terbatal-
rapher membuka berbagai kemungki- kan mengenai kelahiran sosok fotografer professional terbaik Indonesia.
nan untuk mencari dan menemukan Tertarik untuk mencoba memberikan diri anda kesempatan untuk menyingkap
sosok Indonesia’s Next Top Photogra- kebenaran mengenai sosok fotografer terbaik Indonesia yang jangan-jangan bisa
pher.” Jelas Untung. “Sosok Stephen saja anda? Kungjungi www.indonesiasnexttopphotographer.com

50 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 51


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

public relation
dokter produser
designer make up artist masinis
mantri kuli pangul tokoh agama
akuntan
tukang kain mahasiswa
tukang becak
DJ
menteri tukang sol sepatu aktor aktris
jaksa koki tukang ojeg satpam
presiden
guru pemulung
dosen
bankirtukang batu tukang bajaj
nahkoda model
filsuf
politikus
sutradara sopir pramuka
bartender kasir
manager tukang tukang patri
loak pengacara tukang bakso
tentara pilot perawat polisi tukang kayu
pengangguran
dukun musisi
direktur
pelayan wartawan

bisa menjadi...

good talent deserves chances

52 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 53


www.indonesiasnexttopphotographer.com
COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

Agus Pande, Melejit berkat


satu box kartu nama
Bali dikenal dengan budaya dan alam- banyak membaca buku-buku tentang Tapi ketika saya belajar di Brooks, saya

“Saya bisa
nya yang indah. Dan hal itu pulalah fotografi. Tekadnya untuk “nyemplung” rajin. Saya tidak pernah bolos.” Ke-
yang seolah-olah membuat Bali keban- secara lebih serius ke dunia fotografi nangnya. Selama bersekolah di Brooks,

memotret jiran fotografer budaya dan landscape.


Dari 100 orang fotografer bali mungkin
semakin bulat ketika pada suatu saat
ia berpacaran dengan seorang model
Agus merasa perkembangan yang
pesat akan kemampuan fotografinya,

dengan sekitar 80 orang diantaranya meru- dan harus mengantarkan sang kekasih namun di sisi lain ia merasa mengalami

teknik
pakan gabungan keduanya. Sementara ke sebuah sesi pemotretan. Ia menyak- kemunduran. “Saya bisa memotret
di bidang komersil Bali masih menye- sikan daya tarik tersendiri dari peker- dengan teknik yang lebih bagus tapi

yang lebih diakan tempat bagi fotografer komer-


sil untuk eksis. Salah satu fotografer
jaan memotret. saya merasa kreatifitas saya mandek.”
Ungkapnya. Akhirnya, tanpa menyele-

bagus tapi komersil terkemuka yang berdomisili di Tahun 1990 Agus tinggal di Singapore saikan sekolahnya, Agus pun memu-

saya mera-
Bali adalah Agus Pande. untuk mempersiapkan diri untuk tuskan untuk kembali ke Indonesia dan
belajar fotografi di Brooks Institute, setelah sempat bekerja selama 1 tahun

sa kreati-
Lelaki yang mengenal fotografi dari Amerika Serikat. Di sana ia sudah mem- di Jakarta ia kembali ke Bali.
pamannya yang membawa sebuah persiapkan diri dengan lebih banyak

fitas saya kamera sepulangnya dari Jepang ini


melalui proses perjalanan yang pan-
lagi mengakses media-media fotografi
yang jauh lebih mudah didapatkan di
Agus pun memulai karirnya sebagai
fotografer professional di Bali. “Waktu

mandek.” jang hingga akhirnya berlabuh menjadi


seorang fotografer. Berawal dari iseng-
iseng mencoba kamera pamannya itu,
Singapore dibandingkan dengan di
Indonesia.
Selama berkuliah di Brooks, Agus untuk
itu industri foto di Bali belum jalan.
Kecuali untuk interior. Sayangnya
ketika ada bom Bali, bisnis hotel pun
Agus mulai lebih serius mendalami pertama kalinya merasakan kondisi ambruk. Satu-satunya bidang foto-
fotografi. Kamera-kamera temannya di mana ia begitu bersemangat untuk grafi yang masih bisa jalan adalah
pun dijadikan bahan percobaannya. belajar. “Sebelumnya saya sangat ma- dengan memotret fashion dan jew-
Untuk menambah pengetahuan ia juga las. Saya suka bolos dan malas belajar. elry.” Kenangnya. Agus pun menjalani

54 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 55


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

56 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 57


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

58 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 59


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

60 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 61


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

“Jangan
karirnya di bidang fotografi walaupun
tanpa ada jaminan masa depan yang
jelas. Hingga pada suatu saat sebuah
kejadian merubah peruntungan Agus bikin
di bidang fotografi. “Waktu itu saya
cuma
satu. Bikin
dapat kerjaan untuk memotret restoran
yang tidak besar. Saya pikir, kenapa
tidak saya kerjakan saja. Dan benar saja
setelah saya kerjakan ternyata klien satu box
saya puas dan ia mau memberikan
dan kasih
ke saya
pekerjaan memotret untuk bisnisnya
yang lain.” Ungkapnya. “Suatu saat saya

semuan-
dimintai kartu nama. Dan karena saya
belum punya maka saya bilang apa
adanya. Klien saya itu pun menyuruh
saya untuk membuat kartu nama dan ya. Nanti
memberikan kepadanya. Saya pun
saya bagi-
bagikan ke
pulang dan membuat kartu nama. Es-
oknya saya kembali dan menyerahkan
selembar kartu nama seperti yang dim-
inta. Klien saya pun tertawa dan bilang. teman-te-
Jangan bikin cuma satu. Bikin satu box
dan kasih ke saya semuanya. Nanti saya
bagi-bagikan ke teman-teman saya.
man saya.”
Dan mulai saat itu secara perlahan tapi
pasti saya mendapat banyak pekerjaan
komersil.” Lanjutnya. Berkaca dari pen-
galaman tersebut Agus teringat akan
pesan seorang gurunya, bahwa untuk
mau maju harus mau berkorban juga
termasuk keluar uang.

Walaupun sudah eksis menjalani pro-

62 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 63


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

“Kalau di-
fesi sebagai fotografer komersil, Agus
masih merasakan persaingan yang

anggap terkadang kurang fair dengan fotor-


gafer lain terutama bule. “Beberapa kali

remeh, ada klien ngomong ke saya, “kok harga

jangan
kamu lebih mahal dari bule.” Saya jadi
bingung, kenapa seolah-olah jadi saya

kecil hati. yang salah? Saya yang kemahalan atau


si bule yang kemurahan?” kenangnya.

Tetaplah Menghadapi diskriminasi terhadap

percaya
fotografer-fotografer bule, Agus
mengedepankan rasa percaya diri dan

diri dan
kemauan yang keras untuk membuk-
tikannya. “Kalau dianggap remeh, jan-

yang pal- gan kecil hati. Tetaplah percaya diri dan


yang paling penting buktikan bahwa

ing pent- percaya diri kita berdasar, supaya ng-

ing bukti-
gak cuma dianggap bluffing.” Tegasnya.
Agus berpendapat ketika kita bisa

kan bahwa membuktikan diri walaupun sebelum-


nya disepelekan maka biasanya klien

percaya malah berbalik mengidolakan kita

diri kita
dan mereferensikan kepada teman-
temannya. “Dan untungnya di Bali klien

berdasar,
relatif lebih loyal.” Lanjutnya.

supaya ng- Walau begitu Agus berpendapat


bahwa fotorgafer bule memiliki satu

gak cuma keuntungan yang dijadikan keung-

dianggap
gulan dalam mencari nafkah di Bali.
“Menangnya orang asing adalah begitu

bluffing.” mereka lihat bali mereka melihat ses-


uatu yang menarik karena tidak setiap

64 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 65


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

66 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 67


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

68 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 69


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

70 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 71


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

“Seringkali
hari mereka jumpai. Tidak seperti
orang Bali sendiri yang sudah kehilan-
gan kepekaan dalam melihat Bali, ini
karena mereka menyaksikan dan hidup saya mera-
di tengah-tengahnya setiap harinya.”
sa sering
menang
Ungkapnya.
Agus melihat fotografi di Bali belum
mendapat respek yang cukup baik dari
pendatang, berbeda dengan bidang perang
lain seperti surfing. “Di Bali, hanya surf-
ketika
menang
inglah yang mendapat penghormatan
yang luar biasa. Ketika juara dunia surf-

pitch-
ing ke Bali, walaupun lebih hebat dari
surfer Bali tapi mereka tetap hormat
dengan surfer lokal. Dan itu belum
terjadi di fotografi.” Ungkapnya. ing, tapi
kok masih
struggle
Berada di barisan papan atas fotografer
komersil Bali tidak membuat Agus
puas dan berhenti untuk menjadi lebih
baik lagi. Agus pun mengaku bahwa hidupnya.
ia masih lemah dalam pengetahuan
Artinya
masih
bisnis. “Saya suka ikut seminar bisnis.
Saya merasa masih sangat lemah di

ada yang
situ.” Akunya. “Seringkali saya merasa
sering menang perang ketika menang
pitching, tapi kok masih struggle
hidupnya. Artinya masih ada yang
salah.” Lanjutnya. Untuk itulah Agus
salah.”
berusaha memperkaya pengetahuan-
nya mengenai bisnis. “Bisnis is about
how much you can afford to loose.”
Tegasnya. “Untuk itu sebelum memu-

72 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 73


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

74 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 75


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

76 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 77


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

78 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 79


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

“Bisnis is
lai bisnis kita harus siap untuk kalah
dulu. Kalau kita tidak siap untuk kalah

about how akhirnya bisnis yang dijalankan adalah


bisnis asal menang. Menang tapi tidak

much you merasakan kemenangan yang sesung-

can afford
guhnya.” Sambungnya lagi. Dalam
menjalani bisnis fotografinya Agus

to loose?” pantang untuk bergantung pada satu


klien. “Jangan bergantung hanya pada
satu klien yang dominan. Karena kalau
klien tersebut memutuskan untuk tidak
memakai jasa kita lagi, maka selesailah
kita.” Tegasnya.

Tergolong cukup sukses dalam bisnis


fotografi komersilnya di Bali ternyata ti-
dak membuat Agus tertarik untuk me-
lebarkan sayapnya ke Jakarta. “Jakarta
terlalu keras persaingannya. Belum lagi
ada unsur politik yang bermain. Saya
malah lebih tertarik ke Malaysia, Singa-
pore atau Bangkok.” Ungkapnya.

Berbicara mengenai fotografer-foto-


grafer muda, Agus berpendapat bahwa
pada umumnya fotografer muda me-
miliki 3 kelemahan. Kelemahan yang
pertama adalah inginnya cepat-cepat.
“Kalau motret maunya buru-buru dan
cepat puas. Ada hal-hal yang sebena-
rnya masih bisa diperbaiki malah dit-
inggalkan dengan alasan bisa diperbai-
ki di komputer. Padahal mengerjakan

80 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 81


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

82 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 83


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

84 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 85


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

86 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 87


COMMERCIALPHOTOGRAPHY COMMERCIALPHOTOGRAPHY

88 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 89


COMMERCIALPHOTOGRAPHY THEEVENT

“Banyak yang di komputer juga memakan waktu, jadi


kalau bisa selesai di lapangan ya har-
mau ngerjain usnya dioptimalkan di situ.” Tegasnya.
sesuatu yang Kelemahan kedua adalah maunya

maunya lang- instan. “Banyak yang mau ngerjain

sung jadi. Ka-


sesuatu yang maunya langsung jadi.
Kalau dia tidak melihat ada gunanya ya
lau dia tidak sudah langsung ditinggalkan, padahal

melihat ada nggak semua yang terlihat nggak ada

gunanya ya su- gunanya benar nggak ada gunanya.”


Lanjutnya. Dan kelemahan ketiga
dah langsung adalah tidak focus. “yang muda-muda
ditinggalkan, maunya masih ke sana ke mari. Belum

padahal nggak focus. Mungkin sebagian masih nggak

semua yang ter-


yakin bahwa fotografi bisa menghidu-
pi, padahal memang bisa kalau mereka
lihat nggak ada mau focus. Dan ini pulalah mengapa

gunanya benar seringkali kita tertinggal dengan orang

nggak ada gu- asing. Bule-bule itu walaupun di nega-


ranya bukan fotografer, tapi karena
nanya.” mereka melihat peluang di sini, mereka
focus, dan total maka akhirnya jadi.”
Ungkapnya. “Kalau kita focus dan total,
apapun yang kita lakukan pasti kita
bisa lakukan. Dan jangan takut akan
tekanan. Justru tekananlah yang bikin
kita kreatif.” Tutupnya.

90 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 91


THEINSPIRATION THEINSPIRATION

92 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 93


THEINSPIRATION THEINSPIRATION

Generasi Budak Opini


Di awal masa-masa reformasi, ketika
saya masih duduk di bangku kuliah,
erasan. KPK yang sudah berulangkali
hadir sebagai pemeran utama dalam “Saya dalam
sebuah semboyan baru muncul, “suara cerita negeri ini dengan aksi heroiknya posisi tidak
rakyat adalah suara Tuhan”. Mungkin menangkap koruptor-koruptor kakap memperma-
saja kalimat tersebut bukan kali- dengan bukti-bukti yang meyakinkan
salahkan kepu-
tusan mendu-
mat baru, tapi mungkin saja karena untuk sekali lagi seolah-olah tampil se-
kekurang tahuan saya kepada dunia bagai pemeran utama yang membuat
politik dan sejarahnya maka kalimat semua penonton (baca: masyarakat) ti- kung atau tidak
tersebut menjadi baru. Setelah kalimat dak rela jika sang pemeran utama dizo-
mendukung,
tersebut didengung-dengungkan ber-
ulangkali kalimat tersebut makin jadi
limi. Akhirnya gerakan-gerakan moral
mulai dari penjaminan dari beberapa namun men-
populer dan makin digjaya karena seo- tokoh politik dan kemasyarakatan atas gapa anda men-
lah-olah berhasil menjadi senjata yang diri kedua pimpinan KPK yang ditahan dukung, men-
ampuh untuk menghadapi penguasa hingga pada pembentukan groups
gapa anda tidak
mendukung
atau lawan debat. Gerakan-gerakan atau pages di situs jejaring social yang
demonstrasi pun menjadikan kalimat berisi dukungan untuk pembebasar
tersebut sebagai senjata utama, dan kedua pimpinan KPK pun dibanjiri oleh dan sejauh apa
sekonyong-konyong gerakan demon- jutaan pendukung.
pengetahuan
strasi apapun waktu itu membawa
suara rakyat sehingga harus dituruti. Masih dalam kurun waktu yang kurang anda mengenai
lebih sama, sebuah perselisihan antara duduk perma-
Beberapa bulan yang lalu ketika bang- seorang ibu dengan sebuah rumah salahan itulah
sa yang baru saja melewati kondisi
gonjang-ganjing politik akibat pemilu,
sakit yang berujung pada ditahannya
sang ibu yang kecewa akan pelayanan
yang penting”
gejolak politik dan keamanan kembali rumah sakit tersebut yang didistribusi-
terjadi ketika dua pimpinan KPK di- kan melalui email ke beberapa orang
tahan oleh polisi dengan dugaan pem- teman. Kisah perselisihan murni ini pun

94 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 95


THEINSPIRATION THEINSPIRATION

Groups-groups dukungan
berlanjut dengan mulai dimunculkan atas kerugian tersebut. Rombongan
dramanya ketika media mengangkat pendemo ini terdiri dari lebih dari 10
latar belakang kehidupan sang ibu
yang sedang memiliki anak di bawah terhadap salah satu pihak bis dengan penumpang penuh bahkan
sampai berdiri di atas. Terlihat pula be-
6 bulan. Dalam waktu singkat dukun-
yang akhirnya mendapat berapa buah truk pengangkut sound

dukungan banyak orang


gan masyarakat luas kepada ibu yang system dengan daya yang sangat besar
dianggap dizolimi ini pun mengalir sehingga sepanjang jalan pendemo
melalui situs jejaring social Facebook.
Begitu juga ketika sang ibu dijatuhi hu- seolah-olah mencoba bisa melakukan orasi melalui pengeras
suara yang dibawa oleh truk-truk terse-
kuman perdata untuk membayar ganti
membentuk opini bahwa but dan didengar oleh seluruh orang

“inilah suara Tuhan, kare-


rugi sebesar 204 juta rupiah. Ribuan yang melewati jalan itu. Lagi-lagi situs
orang atau bahkan jutaan menyisihkan jejaring social Facebook pun digu-

na ini suara rakyat”. Lalu


koin mereka untuk disumbangkan nakan untuk mengkomunikasikan apa
kepada ibu muda ini. yang ingin mereka sampaikan.

Masih hangat dalam pembicaraan saya berpikir lagi, kalau Dalam kesempatan kali ini saya tidak
bagaimana Negara ini masih disibuk-
memang itu suara Tuhan, tertarik untuk mengomentari apalagi

mengapa banyak Tuhan-


kan oleh dugaan skandal century yang membahas keempat kasus di atas.
dianggap merugikan Negara hingga Salah satunya karena hingga detik di
6,7 triliun rupiah. Pada suatu hari di
saat mantan gubernur Bank Indone- Tuhan (baca: rakyat) yang mana tulisan ini dibuat, majalah ini
masih majalah fotografi dan bukan
sia yang disangka menjadi salah satu
tidak berpikir dan tahu per- majalah politik apalagi gossip. Na-

masalahannya terlebih da-


pihak yang harus bertanggung jawab mun (tanpa perlu membahas mana
datang memenuhi panggilan tim pan- yang benar dan mana yang salah dari

hulu sebelum memberikan


sus Angket DPR, seorang mahasiswa setiap kasus itu), tren perang persepsi
berhasil menyelinap dan meneriak- melalui pembentukan opini menjadi
kan tuduhan keras. Sehari setelahnya
ketika saya sedang dalam perjalanan atau menolak untuk mem- menarik bagi saya. Dalam keempat
kasus tersebut dukungan masyarakat
ke sebuah meeting, saya bertemu den-
gan rombongan massa yang sedang
menuju ke gedung DPR/MPR untuk
berikan dukungan? sangat besar kepada setidaknya salah
satu pihak yang berselisih. Salah satu
penyebabnya adalah karena dikam-
mendemo menteri keungan yang saat panyekan melalui situs jejaring social.
itu juga dituduh bertanggung jawab Groups dan halaman yang berisi

96 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 97


THEINSPIRATION THEINSPIRATION

dukungan terhadap salah satu pihak yang berselisih pada keempat kasus di atas istilah “mental kerumunan”. Mental
mengalir dengan sangat deras. Permasalahannya, dari sekian banyak orang yang kerumunan yang saya tangkap adalah
mendukung groups/halaman-halaman tersebut berapa persen yang memang sikap yang selalu mendukung keru-
menyetujui dengan modal pengetahuan yang cukup akan duduk persoalan dan munan, gerombolan, mayoritas, siapa
aturan hukum yang berlaku? yang banyak, tanpa bisa menjelaskan
dengan jelas dan detail mengapa ia
Jujur saja, banyak dari teman saya yang mendukung hal-hal tersebut hanya memilih untuk bergabung dengan
karena diundang oleh temannya, kenalannya, kliennya, pacarnya, keluarganya, dll kerumunan itu. Groups-groups dukun-
tanpa mengetahui detail permasalahannya. Akhirnya dukungan yang mengalir gan terhadap salah satu pihak yang
pun dukungan yang “asal banyak”. Saya dalam posisi tidak mempermasalahkan akhirnya mendapat dukungan banyak
keputusan mendukung atau tidak mendukung, namun mengapa anda men- orang seolah-olah mencoba memben-
dukung, mengapa anda tidak mendukung dan sejauh apa pengetahuan anda tuk opini bahwa “inilah suara Tuhan,
mengenai duduk permasalahan itulah yang penting. karena ini suara rakyat”. Lalu saya
berpikir lagi, kalau memang itu suara
Di awal-awal majalah ini terbit, seorang teman yang kini sudah bergabung Tuhan, mengapa banyak Tuhan-Tuhan
bersama kami sebagai pemimpin redaksi pernah memperkenalkan kepada saya (baca: rakyat) yang tidak berpikir dan
“...bahwa akan
tahu permasalahannya terlebih dahulu
sebelum memberikan atau menolak banyak hal-
untuk memberikan dukungan? hal baik tidak
muncul ke per-
Baiklah, supaya kita tidak terlalu dibuat
mukaan dan
berkembang
jengah oleh topik-topik politik terse-
but, mari kita bicarakan korelasinya
dengan dunia fotografi. serta meng-
Saya melihat seringkali seseorang me-
hasilkan hal
milih kamera tertentu karena banyak
penggunanya. Seringkali saya melihat yang baik bagi
pelaku fotografi memilih bergabung semua hanya
dengan satu komunitas dan menjadi karena dibunuh
FANATIK pada komunitas itu tanpa
oleh gerakan
kerumunan dan
tahu komunitas di luar itu. Seringkali
saya melihat pelaku fotografi mengelu-
elukan satu atau beberapa nama di bi- keroyokan.”
98 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 99
THEINSPIRATION FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

Rama Surya,
mental keroyokan.

Pembentukan opini dan persepsi

Mengejar
memang seringkali menjebak kita
kepada suatu keputusan yang ternyata
tidak terlalu tepat, terutama ketika kita

mimpi ke
memilih hanya atas dasar ikut-ikutan,
solidaritas, dll. Mengutip perkataan
seorang kontributor di edisi lalu,
bahwa akan banyak hal-hal baik tidak

negeri Cina
muncul ke permukaan dan berkem-
bang serta menghasilkan hal yang baik
bagi semua hanya karena dibunuh oleh
gerakan kerumunan dan keroyokan.

Mungkin sudah saatnya bagi saya,


Apresiasi dan peminat terhadap dunia fine art atau yang juga biasa disebut seni
anda dan kita semua untuk kem-
dang fotografi Indonesia/dunia sebagai murni di Indonesia memang masih jauh tertinggal dibandingkan Negara-negara
bali bertanya lagi akan alasan atas
idolanya tanpa tahu betul mengenai di Eropa. Ini bisa kita lihat dari masih harus dengan susah payahnya para seniman
pilihan-pilihan kita. Atas dasar apa kita
fotografi yang benar. mendapat tempat dan apresiasi yang cukup di ruang umum. Seni murni seolah-
melakukan fotografi, atas dasar apa
olah masih menjadi konsumsi segelintir orang saja. Walaupun di bidang fotografi
kita membeli kamera tipe dan merk itu,
Tanpa bermaksud menyinggung banyak sekali pengguna kamera yang berani mengklaim dirinya sebagai seniman.
atas dasar apa kita mempelajari foto-
nama/sosok tertentu (karena beberapa Dari jumlah fotografer yang tertarik untuk menggeluti atau setidaknya mengko-
grafi dengan cara itu, atas dasar apa
kali tulisan-tulisan sejenis berdampak laborasikan unsur seni ke dalam karya fotonya muncul nama Rama Surya. Rama
kita memilih mengidolakan sosok itu
pada tersinggungnya beberapa pihak), Surya pernah cukup dikenal oleh mereka yang dengan serius menekuni fotografi
sebagai panutan dalam bidang foto-
saya ingin sekali lagi menegaskan terutama yang berhubungan dengan jurnalistik, dan dokumenter. Fotografer
grafi, atas dasar apa kita memilih untuk
bahwa apa pilihan anda masing-mas- yang sejak tahun 1991 banyak melakukan sparing dengan Erik Prasetya ini pun
berguru fotografi pada kursus/sekolah
ing bukanlah masalah bagi saya. Tapi kami anggap cukup sukses mengkolaborasikan sentuhan seni ke dalam foto-foto
tertentu, dan ratusan atau bahkan ri-
alasan mengapa anda memilih pilhan dokumenternya.
buan pertanyaan sejenis lainnya. Bukan
andalah yang harusnya bisa dipertang- pilihannya yang menjadi masalah, tapi
gung jawabkan, dan bukan sekedar Keterceburan Rama di bidang fotografi berawal dari ketidak sengajaan. Niatnya
mudah-mudahan kita memilih bukan
ikut-ikutan. Lebih parah lagi, ada yang untuk bersekolah di Institut Kesenian Jakarta selepasnya dari bangku SMA ditolak
sebagai korban mental kerumunan.
bahkan tidak memiliki alasan atas oleh orang tuanya. “Kebetulan paman saya pelukis dan hidupnya susah. Jadi
pilihannya. Hahahahaha, benar-benar mungkin orang tua saya takut saya akan sama susahnya seperti paman saya itu.”

100 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 101


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

102 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 103


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

104 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 105


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

106 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 107


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

“Kebetu-
Kenangnya. Rama pun tidak hilang Selama menetap di Yogya, Rama
akal, ia pun menimba ilmu di Institut banyak menghasilkan foto-foto yang
“Dalam berfoto-
lan paman Seni Fotografi dan Design Bandung. akhirnya dipamerkan di Zurich. Dan
dari pameran itu, Rama ditawari untuk grafi, kejelian
saya pe- Ketertarikan Rama akan dunia fotografi membuat foto untuk buku tentang
dan kesiapan
lukis dan sangatlah perlu.
berawal dari hobby membaca buku- Bali. Rama pun menerimanya dan ia
buku petualangan. “Karena saya suka pun sekali lagi pindah ke Bali pada ta-
Fotografer yang
hidupnya bepergian melihat tempat lain saya
sempat keliling Sumatra Barat dengan
hun 2001. Bali, Rediscover Paradise dan
Eye Of Bali, sebuah buku yang pengu-
jeli seolah-olah
susah. Jadi sepeda ketika saya SMP.” Kenangnya. pas kehidupan masyarakan Bali pasca
bisa merasakan
mungkin
Rama pun bertekad untuk pergi ke Bom Bali adalah dua buku yang sudah
tempat lain yang belum pernah ia dihasilkan oleh Rama. momen yang
akan terjadi se-
orang tua
kunjungi setelah SMA dan di jenjang-
jenjang berikutnya. Dari hobby Dalam berkarya, Rama banyak ter-
hingga ia telah
saya ta- bepergiannya itu Rama mendapati
kenikmatan tersendiri dalam bepergian
inspirasi oleh berbagai hal mulai
dari tulisan, puisi, foto, kejadian, dan bersiap-siap se-
kut saya sambil berfotografi. juga adegan-adegan dalam film. Dan belum momen
itu terjadi.”
akan sama
sensitifitasnya dalam mencerna dan
Tahun 1994, Rama bekerja di majalah merekam hal-hal yang bisa menjadi

susahnya fotografi Fotomedia. Dan setelah em-


pat tahun bekerja di Fotomedia Rama
trigger itu sendiri yang membuatnya
selalu terinspirasi dalam berfotografi.

seperti pa- pun pindah ke Yogya untuk belajar ba- “Dalam berfotografi, kejelian dan

man saya
hasa Inggris. “Waktu kerja di Fotomedia kesiapan sangatlah perlu. Fotografer
saya merasa bahasa Inggris saya sangat yang jeli seolah-olah bisa merasakan

itu.”
payah. Dan karena waktu itu saya baru momen yang akan terjadi sehingga ia
saja terpilih sebagai fotografer of the telah bersiap-siap sebelum momen itu
year di majalah Foto Magazin (Ger- terjadi.” Ungkapnya. “Dan ketika terjadi
man) yang berhadiah kamera Leica kita tinggal mengambilnya saja. Karena
dan 6 buah lensanya, maka saya pun seringkali momen-momen menarik
memutuskan untuk pindah ke Yogya sangat mirip dengan paragraph dari
dan menggunakan sebagian hadiah novel tertentu atau adegan dalam film
tersebut sebagai ongkos dan biaya tertentu. Jadi secara imajinasi nyam-
hidup di Yogya. bung dan tertriger. Walaupun ini harus

108 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 109


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

110 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 111


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

112 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 113


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

114 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 115


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

“Dalam
dilatih.” Lanjutnya.

Mengenai hal ini Rama berpendapat,


“Dalam hidup manusia banyak momen hidup
berulang. Untuk itu kita harus selalu
manusia
banyak
siap.” Tegasnya. Rama berpendapat
bahwa berfotografi terutama sebagai
profesi tidak harus dalam posisi pasif
menunggu assignment, tapi justru se- momen
baliknya kitalah yang harus membuat.
berulang.
Untuk itu
Intinya adalah tidak pernah berhenti
berkarya dan memperkaya portfolio.

kita ha-
“Tapi memang harus diakui di Indone-
sia banyak yang hanya berpikir untuk
bikin portfolio jangka pendek, portfolio
jualan.” Ungkapnya. Namun begitu rus selalu
Rama melihat hal ini terjadi karena
proses pembuatan portfolio yang besar
dan jangka panjang memang sulit dan
siap.”
memakan waktu dan biaya yang tidak
sedikit. Sehingga tidak banyak yang
mau meluangkan waktu dan menjaga
semangat serta mendapatkan dukun-
gan untuk mewujudkannya.

Sadar akan perlunya portfolio besar


jangka panjang, Rama pun menceri-
takan project besarnya yang sudah
dilakukan sejak tahun 2006. “Sejak
tahun 2006 hingga sekarang saya
sering bolak-balik ke Cina. Di sana
bisa tinggal berbulan-bulan untuk
memotret.” Akunya. Obyek yang dicari

116 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 117


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

118 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 119


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

120 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 121


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

mengenai Cina semakin diperkuat oleh


hobbynya menonton film-film karya
sutradara kondang Zhang Yimao yang
secara fotografi dan artistic sangat
spektakuler.

Proses pembuatan seri foto tentang


Cina itu pun tidak berjalan dengan
mudah. “Saya mulai ke sana tahun 2006
dengan bermodalkan sebuah kamus
praktis bahasa Mandarin. Saya tinggal
di hostel untuk para backpacker su-
paya saya bisa mengirit biaya dan bisa
tinggal lebih lama di sana. Semuanya
saya lakukan dengan biaya sendiri.
Proses pencariannya pun panjang,
walaupun mulai dari tahun 2006, baru
tahun 2009 saya menemukan yang
saya suka. Dan hingga hari ini saya ma-
sih terus mencari.” Ungkapnya. “Setiap
hari saya berkeliling ke kota-kota kecil
Rama di negeri tirai bambu itu adalah untuk mencari scenery-scenery yang
scenery-scenery yang ia dapatkan di ada di benak saya.” Lanjutnya.
film-film kungfu klasik yang ia tonton
ketika masih remaja. “Dulu saya sering Perjalanan panjangnya tersebut
nonton film-film klasik mandarin. Dan menghasilkan banyak foto dan banyak
adegan-adegan serta scenery-scenery sampah. “kalau ditanya banyak nggak
dalam film itu melekat erat di benak sampah (foto sampah – red.) yang di-
saya dan menjadi kenangan tersendiri hasilkan, saya mengakui banyak sekali.
bagi saya. Dan saya berusaha meng- Tapi untungnya masih ada yang bisa
hadirkan kenangan-kenangan itu ke dipakai.” Ungkapnya. Rama pun meya-
dalam foto-foto saya.” Sambungnya. kini hanya keuletan dalam berkarya
Niat Rama untuk membuat foto series yang bisa menuntunnya mendapat-

122 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 123


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

124 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 125


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

126 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 127


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

128 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 129


FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY FINEART & JURNALISM PHOTOGRAPHY

kan karya-karya fotografi yang baik.


“Berkarya itu berhubungan dengan
jam terbang. Makin diasah makin
tajam. Jadi banyak latihan, start bikin
banyak sampah. Tapi semakin lama
harus semakin sedikit sampahnya.”
Ujarnya.
Namun begitu Rama tidak pernah
memotret menggunakan continous
mode. “saya tidak percaya keberuntun-
gan. Yang saya percaya adalah kesia-
pan dari fotografernya. Artinya walau-
pun pakai mode continous, kalau tidak
dipersiapkan ya tidak akan bisa dapat “saya tidak per-
foto yang diinginkan juga.” Tegasnya. caya keberun-
tungan. Yang
Dalam berfotografi Rama tertarik untuk
saya percaya
adalah kesia-
memanfaatkan media black & white. Ia
merasa bahwa keberbedaan dari dunia
nyata yang ditemui dalam foto-foto pan dari foto-
black & white yang menarik. “Black &
grafernya. Arti-
white bukanlah realita. Dalam kehidu-
pan sehari-hari kita melihat kehidupan nya walaupun
dalam warna, tidak dalam black & pakai mode
white.” Ungkapnya. “Dan non realita itu- continous, ka-
lah yang membuat foto-foto menjadi
lau tidak diper-
siapkan ya tidak
menarik buat saya karena seolah-olah
seperti membuat dunia baru. Dunia
mimpi, persis seperti mimpi kita yang akan bisa dapat
tidak berwarna, hanya hitam putih.”
foto yang di-
Tutupnya.
inginkan juga.”

130 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 131


CULTUREPHOTOGRAPHY CULTUREPHOTOGRAPHY

132 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 133


THELEPASAN THELEPASAN

ROMEO, JULIET DAN SHAKESPEARE


Seperti Romeo dan Juliet, karya
fotografi dan kritik fotografi tidak bisa
dapat mengubah lanskap fotografi
secara radikal. Perkembangan fotografi Barangkali lan-
Sampai kini hidup tanpa satu sama lain. Mereka dibayangkan terbentuk oleh serang- taran tidak ada
orang menung-
melekat erat di awal abad kesembilan kaian penemuan seperti yang berlang- karya yang
gu munculnya
belas, aspirasi fotografi terlegitimasi sung dalam ilmu pengetahuan.
benar-benar
menggugah
sebagai bentuk seni telah begitu tegas

karya-karya terikat pada kereta modernisme. Sampai kini orang menunggu muncul-
maka tak mun-
besar seperti
Sebagai konsekuensi dari hubungan nya karya-karya besar seperti menanti

menanti so-
kodependen ini, maka kritik fotografi, sosok para Messiah yang dapat mem-
cul tulisan kritik
sok para Mes-
untuk sebagian orang, menjadi makh-
luk jahat bagi dunia fotografi, hantu
berikan pencerahan sejarah. Tentu, jika
dilihat dari sudut pandang tersebut, yang meng-
siah yang dapat penyelundup yang akan merayu foto- orang dapat mengatakan bahwa tak gugah pula.
grafi untuk tujuan egois tertentu, apa ada perkembangan selama satu tahun
memberikan pun konsekuensinya. Mitos ini terus terakhir bahkan dua puluh tahun Fotografi kita berjalan sebagai kegiatan

pencerahan se- berlangsung, walaupun kenyataan- terakhir, kecuali perkembangan teknik rutin dan datar-datar saja. Beberapa

jarah. nya bahwa karya fotografi memainkan yang itu pun lebih kepada tiru-tiru. buku fotografi tetap terbit. Foto-foto
peran ”lebih penting”. terpampang di surat kabar-surat kabar

Gairah edisi sebagai pelengkap berita heboh


soal-soal politik dan gosip ini itu, mem-
Sampai tutup tahun 2009, bagaimana
Anda melihat perkembangan fotografi memotret terus perindah lay-out. Memang di sana-sini
Indonesia, baik dari sisi karya maupun mengalir de- muncul beberapa fotografer baru di
pemikiran? Adakah yang membeda- ras. Akan tetapi, antara fotografer lama yang tetap aktif

tetap saja “pen-


kan perkembangannya dengan tahun memotret. Bahkan dapat dikatakan
bahwa kini semua orang seolah-olah
emuan besar”
sebelumnya? Sebagian pengamat dan
pelaku fotografi cenderung meman- dapat memotret. Anak-anak sekolah
dang perkembangan fotografi dengan itu tak kunjung dasar dengan kamera ponsel, ibu-
ukuran “kebaruan” yang mengacu pada
kemunculan karya-karya fenomenal
muncul. ibu arisan, para pesohor yang sambil
menyanyi memotret penontonnya,
sebagai suatu “penemuan besar” yang anggota DPR, guru matematika,

134 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 135


THELEPASAN THELEPASAN

Tiang-tiang pe- bahkan tukang becak, dapat mencip-


takan foto-foto. Gairah memotret terus
Gejala itu dapat diandaikan sebagai
bentuk “pelecehan” bahasa visual,
nyangga foto- mengalir deras. Akan tetapi, tetap saja disengaja maupun tidak. Dalam tahun-
grafi Indone- “penemuan besar” itu tak kunjung tahun terakhir ini gejala tersebut kian

sia tak pernah muncul. merajalela dengan semakin canggih-

benar-benar
nya alat fotografi yang ternyata harga
Bagaimana pun para pemotret yang mahal itu tetap dapat terjangkau. Silah-
didirikan den- kian banyak jumlahnya itu adalah kan pergi ke toko-toko alat fotografi,

gan niat yang produsen gambar dan ”pembaca” dijamin ramai pembeli. Akan tetapi,

”lempeng”.
Jika karya
adalah konsumennya. Azas supply- tentu ada beberapa karya yang tidak
demand-lah yang menggerakkan. terseret oleh bombardir “pelecehan”
Yang jelek sela-
fotografi
Fotografi menjadi kegiatan ekonomi tersebut. Dalam karya-karya jenis ini
lu lebih banyak. biasa. Dalam konteks kegiatan situasi saya melihat gejala yang menarik,

Atau barangkali
ketidak menger-
pasar semacam itu akan semakin ban-
yak orang yang memotret, tetapi kian
yakni, terjadinya pergeseran atau per-
luasan dari apa yang ingin saya sebut adalah Ro-
tian, ketidak
jarang yang dapat memotret dengan sebagai “bobot kehadiran” teks. Foto
meo, kritik
fotografi
baik. Maksudnya, foto-foto mereka itu adalah teks, pertautan antar elemen

mampuan pen- tak ubahnya hanya foto biasa yang yang konstruksinya diperhitungkan

gelola. Pertan-
yaannya, jika
dicetak dalam macam-macam bentuk
dan disebarluaskan sebagai dagangan
layaknya sebuah rangkaian kata, te-
nunan, bangunan. adalah Ju-
tidak mampu
ataukoleksi pribadi. Maka, tak akan
liet, maka
sekolah
banyak yang benar-benar serius ber- Kritik

mengapa buka gumul dengan kemungkinan-kemung- Selama 2009, saya tak menemukan

sekolah? fotografi
kinan yang disediakan oleh bahasa tulisan yang layak disebut sebagai
fotografi. Bahkan mereka rata-rata tak kritik fotografi. Yang banyak adalah
menguasai tekniknya, bisnisnya (untuk
komersial) bahasa ungkapnya, seninya.
ulasan ringkas di surat kabar tertentu
mengenai suatu karya dan tulisan- adalah
Keterampilan pengungkapan mereka tulisan pengantar pada buku fotografi,
Shake-
speare.
rata-rata lemah. Itu juga terjadi pada pengantar pada pameran fotografi
fotografer yang –maaf- berpengalaman dari para kurator yang tentu saja-
sekalipun,yang kemampuan teknisnya memuji. Tulisan-tulisan tersebut tak
–maaf lagi- selangit pun. jauh berbeda dengan yang terbit pada
masa-masa sebelumnya. Barangkali

136 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 137


THELEPASAN THELEPASAN

media penerbitan buku. Saya yakin hal jadi medan tempur antara kekacauan sebagai karya maupun kritik tak kan
itu juga berlaku dalam fotografi kita, dan eksperimentasi dengan daya-daya sanggup berdiri tanpa ketangguhan
setidaknya sampai beberapa tahun yang melekat padanya berupa kenis- masyarakatnya, manusia-manusia yang
ke depan. Majalah-majalah fotografi cayaan untuk menata suatu dunia terdidik. Sementara harus diakui pen-
semacam The Light sejujurnya masih yang terkontrol dan dibayangkan didikan fotografi berupa kursus-kursus
dipandang sebelah mata, ”perbawa- utuh. Sementara itu, eksperimentasi maupun yang menempel di perguruan
nya” banyak diragukan meski dirindu- membawa pada perluasan “bobot tinggi banyak yang salah urus, mulai
kan. Barangkali karena dianggap dana kehadiran” dan kekacauan membawa dari kurikulum sampai manajemen-
produksinya rendah dan gratis. Pada- pada keteledoran, kesembronoan yang nya. Prosentase sekolah fotografi
hal, kritik fotografi dan karya fotografi kelewatan dalam mengolah bahasa yang bobrok jauh lebih banyak dari
di era pos sosial tak lagi perlu media ungkap. Fotografi berjibaku pada garis yang benar-benar ingin memberikan
lama, walaupun khusus karya fotografi tegangan antara kejelasan dan ketida- sumbangan bagi sumber daya manu-
seolah ”lebih bergengsi” jika dipresen- kjelasan. Dalam tahun 2009 ini yang sia fotografi Indonesia, yang berarti
tasikan dalam bentuk cetak. tampak kuat adalah ketidakjelasan. kebobrokan itu akan melahirkan sum-
lantaran tidak ada karya yang benar-
Barangkali ini bukan hanya terjadi pada ber daya yang tak mampu bersaing
benar menggugah maka tak muncul
Perkembangan Fotografi Ke Depan fotografi, tetapi juga pada berbagai dengan cara yang tepat. Tiang-tiang
tulisan kritik yang menggugah pula.
Dalam hal fotografi, dapat diduga sektor kehidupan yang lain. Fotografi penyangga fotografi Indonesia tak
Jadi, pada 2009 ini dapat dikatakan tak
gejala pergeseran “bobot kehadiran” pernah benar-benar didirikan dengan
ada perkembangan baru dalam kritik
seperti yang disebutkan tadi akan terus niat yang ”lempeng”. Yang jelek selalu
fotografi Indonesia.
berlanjut pada tahun-tahun men- lebih banyak. Atau barangkali ketidak
datang. Pada satu pihak mungkin akan mengertian, ketidak mampuan penge-
Tahun-tahun belakangan, media cyber
semakin banyak muncul karya yang lola. Pertanyaannya, jika tidak mampu
menjadi ruang baru untuk melaku-
berani mencoba mengembangkan mengapa buka sekolah?
kan mediasi karya. Media cyber atau
dimensi-dimensi lain tanpa harus men-
dunia maya memang dapat menjadi
egasi sepenuhnya teknik,estetika, atau Jika karya fotografi adalah Romeo,
wahana penyebaran fotografi secara
bahasa ungkap. Di dalamnya termasuk kritik fotografi adalah Juliet, maka
lebih bebas dan mandiri. Akan tetapi,
kekuatan ”deksripsi” terhadap peristiwa sekolah fotografi adalah Shakespeare.
karya-karya penting di Eropa, Amerika,
tanpa dibebani oleh berbagai tendensi Lalu siapa yang gemas dengan pertun-
dan negara-negara maju lainnya, tak
moral yang berlebihan. jukan ini? Diskusi ini menjadi tak layak
lahir dari dunia maya. Para fotografer
Di lain pihak gejala “pelecehan” terha- dilanjutkan jika yang fundamental saja
dan kritikus penting di sana tetap
dap bahasa visual barangkali akan kian belum dibenahi.
muncul dari majalah cetak, jurnal, atau
menjadi-jadi. Akan tetapi di situlah
surat kabar-surat kabar yang menye-
terletak paradoksnya. Fotografi men- WA
diakan rubrik fotografi, juga melalui

138 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 139


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

DAVID LA CHAPELLE:
GAMBAR-GAMBAR
BERSIMBAH DRAMA
“Aku menanak segala kemungkinan dalam kualiku. Dan setelah kemungkinan- di komik-komik itu dengan sebelah pribadi saya ketika menjadi subyek
kemungkinan itu benar-benar matang, barulah kuterima sebagai pengananku. tangan memegang sebentuk hati pemandang foto-foto dalam buku-bu-
Betul, suatu kemungkinan kadang datang dengan pongahnya, tapi kemudian dengan mahkota duri, seorang lelaki ku David La Chapelle. Catatan-catatan
ia akan bersimpuh meratap-ratap memohon perlindungan dan perkenan cinta yang kita kenali mungkin berdasarkan ini sifatnya potongan-potongan,
dariku”. tafsir Da Vinci akan sosok Yesus melalui kata kerennya adalah aforisma, yang
(Also Sprach Zarathustra, Friedrich Nietzsche) Jacques de Molay berada di jalan raya mungkin saja antar paragraf yang demi
di kelilingi belasan anak muda dari penyusunan tulisan untuk Anda seolah
Patut dikatakan terlebih dahulu, tulisan perasaan Anda ketika melihat gam- rapper sampai pemain skateboard, tak beraturan, tapi sebisa mungkin
ini bukanlah puja-puji kepada David bar kepala seorang Daniel Day-Lewis seorang lelaki berkulit hitam bertubuh saya urutkan. Saya percaya dengan
La Chapelle, sang pencipta foto-foto berada dalam kubus kaca, Leonardo kekar bak binaragawan nungging pencerapan Anda yang baik akan
dalam ”Hotel La Chapelle” dan beber- Di Caprio memandangi pisau yang dari –maaf- pantatnya muncul seikat dapat melihat benang merahnya.
apa buku lainnya. Dalam bahasa yang menancap di meja, ia dalam gambar kembang dengan perempuan kauka-
pura-pura serius ini hanyalah sekedar lain berpakaian macam Marlon Brando sia memunggunginya seolah meng- Pertama, dalam salah satu pengertian-
ikut meramaikan tafsir kajian budaya atau Indiana Jones Junior, Pamela gambarkan frigiditas dalam hubungan nya, seni adalah sebuah kosmos yang
akan kematian makna. Saya katakan Anderson yang tetap dengan dada seksual, Mark Wahlberg memegang tercipta dari semacam khaos, penataan
pura-pura, bukankah rubrik saya hanya tumpah ruahnya tergeletak melongo sebatang rokok dihimpit ratusan buah dari dunia yang tak teratur. Dalam
anekdot saja, asik-asik saja... di depan mercedes tua dengan kepala dada perempuan. Wuihhh... kalimat Albert Camus, seni tak putus
gundul pacul gembelengan, Madonna dirundung mimpi untuk “menyem-
Apa yang ada dalam pikiran dan dengan lingkar cahaya malaikat seperti Saya ingin membagi catatan-catatan purnakan dunia”. Membaca karya seni

140 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 141


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

seni tak pu- berarti mencoba memasuki sebuah


kosmos tertentu, “menyetubuhi”
Kedua, teks visual dalam foto-fotonya
sering datang dan pergi seumpama
tus dirundung sebuah dunia yang hendak “disem- keriuhan di pasar-pasar, memben-
mimpi untuk purnakan”. Mungkin Anda langsung tuk semacam timbunan teks. Sering

“menyempur- teringat Geometri Fraktalnya Benoit tidak terdapat kaitan logis di antara

nakan dunia”.
Mandelbrot. Apakah saya hendak elemen-elemennya, berserakan seperti
mengatakan bahwa gambar-gambar kain perca, tanpa ujung pangkal, tapi
Membaca karya David La Chapelle adalah fotografi fantastik. Saya menyebut teks, dengan

seni berarti seni? Nanti dulu...Jika yang dimaksud pikiran saya yang sok naif, mohon jan-

mencoba me- dalam istilah-istilah umum, barangkali


saya akan ditertawakan anak TK yang
gan dibaca teks sebagi tulisan secara
harfiah karena setiap rangkaian adalah
masuki sebuah dengan senang hati saya terima, hanya teks, dalam pengertiannya yang pal-
kosmos terten- saja saya tak punya keberanian untuk ing purba. Membacai foto-foto dalam

tu, “menyetu- mengatakan bahwa pembuatnya tidak buku-buku La Chapelle mengingatkan

buhi” sebuah
mengerti seni, juga dalam tataran yang saya dengan karya sastra “Le Diable
disebut akademis dimana kita tahu Amoureux” karya Cazotte tahun 1772.
dunia yang hen- bersama bahwa La Chapelle adalah Le Diable Amoureux yang berkisah

dak “disempur- anak sekolahan. Richard Avedon –saya tentang setan yang jatuh cinta pada

nakan”. yakin nama ini akrab di telinga Anda-


mengatakan bahwa karya-karya La
manusia adalah cikal bakal cerita
genre fantastik. Fantastik adalah genre
- Albert Camus - Chapelle bisa dikategorikan dalam yang lahir untuk melawan klasisisme
”genre Magritte”. Tentulah yang disebut yang penuh aturan dan rasionalistis di
Magritte itu seorang pelukis surealis Perancis. Berbeda dengan cerita-cerita
termashyur, Rene Magritte. Lukisan- Marveillux –dongeng negeri entah
lukisan Magritte, misalnya ”The Son berantah- seperti Alice in Wonderland
of Man” mempengaruhi seniman atau The Wizzard of Oz, genre fantastik
kondang dalam seni populer bernama selain menakjubkan karena sifatnya
Andy Warholl dan Warholl inilah yang yang ekstra-natural, ia menggunakan
”pertama kali” memberi pekerjaan sebagian tokoh, lokasi, waktu dan
kepada David La Chapelle. Setidaknya peristiwa yang kita kenal dalam ke-
dalam catatan saya untuk coba-coba hidupan nyata. Pembaca akan bertanya
mengaitkan, kira-kira demikian adanya. apakah cerita-cerita itu benar-benar
terjadi? Jadi, bagi saya, foto-foto La

142 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 143


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

Meminjam istilah Seno Ajidarma dalam novel si-


latnya yang berjudul Naga Bumi, ini adalah jurus
tanpa bentuk, ini fantastik atau Jan Cornall mengi-
dentifikasi sebagai realisme magis baru, itu adalah
persoalan subyek pemandang foto.

Chapelle menjadi semacam interteks membuat mual. Di foto itu dia tergele- saja pembacaan cara saya tak akan Fotografi adalah halaman permainan
yang dalam ajaran Julia Kristeva berarti tak di depan mercedes tua yang seolah sama dengan pembacaan cara Anda. kebebasan La Chapelle, permainan me-
menunjuk pada transposisi satu – atau menabraknya, kepala Pamela gundul, Saya melihatnya sekaligus sebagai su- mang mengasyikkan, bagi siapapun.
beberapa- sistem tanda ke dalam meski kita tetap mengenalinya sebagai ara kata, ceracau dan kegelisahan, serta
sistem tanda lainnya, yang di dalamnya Pamela Anderson dengan ekspresi igauan. Dengan sengaja La Chapelle Ketiga, foto-fotonya datang
tempat pengujaran dan obyek yang dungunya yang khas, di sampingnya merusak logika plot sebagai strategi seperti semburan, semprotan dan saya
dirujuk tidak pernah tunggal, selesai, seorang lelaki tampak syok meng- narasi. Walau begitu, patut diakui foto- sempat tenggelam dalam pusaran
dan identik dengan dirinya sendiri; hadap ke kamera, entah syok karena fotonya merupakan sebuah manifestasi ekstase visual. Saya tidak peduli lagi
akan tetapi selalu plural, cerai berai bak Pamela tertabrak, atau syok karena kemampuan ungkap bahasa visual apakah di dalamnya terdapat semacam
kain perca tadi, meskipun bisa disatu- paparazi lebih memilih memotret dalam mencipta mitos-mitos baru logika dan koherensi tertentu. Yang
kan bagai tambalan-tambalan pakaian daripada menolong. Fantastik bukan? dari serpihan realita maupun sejarah, saya cari adalah semacam kenik-
gembel. Foto-fotonya adalah Interteks Foto itu hanyalah sebuah contoh dari sejarah Yesus dengan belasan murid- matan visual dari sesuatu yang acak,
dari karya seni lain seperti sastra dan cerita yang membangun cerita. Seperti nya, misalnya. Sementara di sisi lain tanpa pola, suatu kilasan-kilasan imaji,
lukisan, juga foto.Seperti yang saya dalam pembacaan terhadap karya La dapat saya sebut sebagai foto puitis sabetan-sabetan impresi, terasa seperti
tulis di atas, kita mengenali seorang Chapelle, kali ini adalah suatu fenom- dengan sifat puisi yang bebas bermain, memahami penderita skizofrenia. De-
Pamela Anderson yang mampu mem- ena opera aperta yakni teks sebagai kepala Day-Lewis di dalam kubus kaca leuze dan Guattari menuliskan bahwa
buat mata Anda melotot, tak peduli karya terbuka. Terbuka untuk diper- atau Di Caprio hendak meyentuh ujung skizofrenik melintas dari satu kode ke
jenis kelamin Anda, sekaligus mampu lakukan sebebas-bebasnya yang tentu pisau yang menancap berdiri di meja. kode lainnya, bahwa ia dengan sengaja

144 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 145


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

yang mengganja, melenakan, mema- ogah struktur seperti dalam logika


bukkan. literer. Citra yang berkelindan dengan
citra, gambar yang tumpah dalam
Neil Postman, menyebut buncahan, muncratan dan potongan-
gejala yang saya alami sebagai gelom- potongan gambar, cukuplah diterima
bang pasang ingar-bingar dunia tipo- sebagai geletar sensasi yang me-
grafis di mana salah satu implikasinya nyentuh indra penglihatan, tak perlu
adalah suatu sikap yang cenderung diungkap hal ihwal di baliknya, tak
tidak peduli terhadap kepaduan dan penting benar apakah ada maknanya
koherensi teks. Yang saya cari justru atau sekadar omong kosong. Sempat
keterpecahan, ketercerai-beraian, terpikir, David La Chapelle ”bermain-
fragmentasi, segregasi, benturan-ben- main serius dengan ini”. Dalam hemat
turan acak, suatu histeria yang diam- saya, sebagai anak sekolahan, dari
diam menghasilkan semacam sikap sekolah bergengsi, bergaul dengan
kaum intelektual dan pesohor, dia
mengaduk-aduk semua kode, yang paham betul tentang karakter, alur,
dengan secara kilat berpindah dari satu dan hal-hal yang membuat sebuah
kode ke kode yang lainnya, bergan- karya menjadi struktur narasi yang
tung pada pertanyaan yang diajukan benar dalam kacamata konvensional.
padanya, yang tidak pernah memberi- ”Tapi, kalau sudah tahu segalanya itu
kan penjelasan yang sama dari satu mau ngapain?” Tanya benak naif saya
hari ke hari berikutnya. Terdapat foto menjawab kritik saya sendiri tentang
kaki perempuan mencuat dari permu- konstruksi foto-foto itu. Meminjam
kaan laut yang memerah darah ber- istilah Seno Ajidarma dalam novel
campur air. Pertama melihatnya saya silatnya yang berjudul Naga Bumi, ini
menafsirkan si perempuan dihabisi dua adalah jurus tanpa bentuk, ini fantas-
ekor hiu yang terlihat hanya siripnya, tik atau Jan Cornall mengidentifikasi
kedua kali melihat semacam seseorang sebagai realisme magis baru, itu adalah
yang sedang berlatih renang indah, persoalan subyek pemandang foto.
ketiga kali melihat seperti mimpi buruk Barangkali, andai La Chapelle tetap
di siang bolong, entah apa yang saya li- setia pada struktur-struktur lama yang
hat untuk keempat kalinya nanti. Itulah bahkan sudah dikuasainya, dia tak akan
gelombang visual seolah tanpa jejak kemana-mana. Bandingkan dengan
yang menyeret dalam sensasi-sensasi permainan anak-anak mengasah pisau

146 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 147


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

yang sederhana itu. Apakah dia akan


”Bahwa seandainya Mulai kini, adalah peta yang menda-
mengulang-ulang yang seperti itu? Se-
bagai fotografer dengan reputasi inter- pun ada satu sum- hului wilayah, precession of simulacra.
Marylin Manson menjadi polisi lalu
nasional, rasa-rasanya tidak, entah jika ber yang tunggal, lintas, Naomi Campbell adalah mummi
”Sebuah teks
kalaupun ada satu
dia sedang mabuk kecubung! Apakah
permainan La Chapelle mencari bentuk fondasi dari segala
tanggung, Elton Jhon telah menjadi
pawang macan sambil main piano den- bukanlah se-
yang kemudian melanggar batasan- hal ihwal, maka gan kaki dan mendamba pisang. baris kata-kata
batasan kaku itu sebagai pemberon-
sumber atau fon- yang menampil-
takan, penggoyahan, atau goncangan
dasi itu sesuatu Keempat, melesat berpendaran di
kan sebuah
yang bergerak makna teologis
terhadap makna yang terlanjur mapan. benak saya kalimat Nietzsche, ”Bahwa
Saya tak ragu untuk meng-iya-kan, seandainya pun ada satu sumber yang
tetapi semua terserah Anda. senantiasa, men- tunggal, kalaupun ada satu fondasi tunggal – pesan
cipta senantiasa, dari segala hal ihwal, maka sumber
pengarang atau
Lalu terasakan, yang saya cari adalah berubah senan- atau fondasi itu sesuatu yang bergerak
Tuhan – me-
jouissance, yakni suatu kenikmatan tiasa, seperti penari senantiasa, mencipta senantiasa,
yang dihasilkan dari permainan bentuk
dalam satu koreo- berubah senantiasa, seperti penari lainkan sebuah
yang semata-mata indrawi, dangkal
grafi yang mem- dalam satu koreografi yang membersit
ruang multi-
dan mentah, bukannya suatu plaisir
bersit dari dalam dari dalam diri sendiri, tanpa mengi-
dimensi yang
di dalamnya
yang dapat menghasilkan semacam kuti pakem dan bentuk, tanpa tujuan
kenikmatan intelektual. Suatu per- diri sendiri, tanpa yang dipatok.” Juga Barthes yang
mainan visual untuk tujuan permainan mengikuti pakem mengatakan,”Sebuah teks bukanlah beraneka ra-
itu sendiri, dan di situ tak diperlukan dan bentuk, tanpa sebaris kata-kata yang menampilkan
gam tulisan, tak
koherensi dalam bentuk apa pun, tujuan yang dipa- sebuah makna teologis tunggal –
satupun darinya
layaknya sebuah simulasi dalam
arisan-arisan keluarga. Kemudian saya
tok.” pesan pengarang atau Tuhan – melain-
kan sebuah ruang multidimensi yang yang orisinal,
teringat dengan Jean Baudrillard yang
- Nietzshe -
di dalamnya beraneka ragam tulisan,
bercampur
mengatakan bahwa simulasi bukan lagi tak satupun darinya yang orisinal,
aduk, dan saling
berbenturan.”
wilayah, sebuah wujud, atau substansi bercampur aduk, dan saling berben-
referensial. Ia adalah penciptaan lewat turan. Teks (baca:foto) adalah sebuah
model-model sesuatu yang real, yang jaringan kutipan-kutipan yang diambil
tanpa asal-usul atau realitas: sebuah dari pusat-pusat kebudayaan yang tak
hipereal. Wilayah tidak lagi mendahului terhingga banyaknya.
- Barthes -
peta, tidak juga mempertahankannya.

148 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 149


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

Sikap diam be- Memandangi foto-foto La Chapelle adalah model-model Tuhan seperti

rarti membiarkan tertunjukkan bahwa apa saja yang dulu


dianggap bernilai dan bermakna kini
ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip
logika, rasio, sejarah dan, progress.
diri didikte oleh sudah mulai memudar dan menuju Matinya Tuhan menunjuk pada run-
keadaan nihilistik keruntuhan. Krisis ini akan berlangsung Tidak ada kebena- tuhnya jaminan absolut, yaitu Tuhan,
atau krisis terus- terus menerus secara tak terelakkan, ran absolut. Ke- yang merupakan sumber pemaknaan
menerus. Sikap ini nihilisme. Nihilisme sebagai runtuh- benaran adalah dunia dan hidup manusia. Ia menyebut
akan menghantar nya seluruh nilai dan makna meliputi semacam keke- situasi ini sebagai nihilisme. Namun,

manusia ke dalam seluruh bidang kehidupan manusia. liruan yang tan- lebih dari itu, ia sebenarnya mengar-

situasi dekaden Seluruh bidang ini dapat dibagi men-


panya kita tidak tikan kata “Tuhan” lebih luas daripada

yang tak tertahank-


jadi dua: yaitu keagamaan (termasuk
moral) dan ilmu pengetahuan. Runtuh-
dapat hidup. Kalau pengertian sebagaimana dipahami
orang-orang. Baginya “Tuhan” hanyalah
an. Dekaden adalah nya dua bidang ini membuat manusia suatu nilai atau suatu model untuk menunjuk setiap
sikap tak berani kehilangan jaminan dan pegangan kebenaran sudah bentuk jaminan kepastian untuk hidup
berkata “Ya” pada untuk memahami dunia dan hidupnya, mengarah menjadi dan dunia. Karena itu sekalipun orang
hidup. Amor Fati, termasuk akunya. Singkatnya, nihil- absolut, manusia sudah membunuh Tuhan, orang belum

menjalani hidup isme mengantarkan manusia kepada harus mening- tentu tidak menghidupkan tuhan-

dengan sepenuh situasi krisis atau kepada hari yang


galkannya. Kalau tuhan lainnya. Ia menolak sikap diam

kasih sayang.
menjadi “gelap terus menerus”, karena
seluruh kepastian hidupnya runtuh.
sampan kita sudah dalam menghadapi nihilisme. Sikap
diam berarti membiarkan diri didikte
Nietzsche memaklumkan situasi ini aus dan tak dapat oleh keadaan nihilistik atau krisis terus-
dengan mengatakan: “Tuhan sudah digunakan berlayar menerus. Sikap ini akan menghantar
mati! Tuhan terus mati! Kita telah lagi, sampan itu manusia ke dalam situasi dekaden
membunuhnya!” “Gott ist tot! Gott harus dihancurkan yang tak tertahankan. Dekaden adalah
bleibt tot! Und wir haben ihn geto- dan diganti den- sikap tak berani berkata “Ya” pada hid-
tet!” Ucapan yang kemudian menjadi
gan sampan baru. up. Amor Fati, menjalani hidup dengan
sangat terkenal itu dipakai Nietzsche
untuk mengawali perang melawan
Menurutnya, hanya sepenuh kasih sayang. Alternatif yang
diajukan Nietzsche adalah sikap tidak
setiap bentuk jaminan kepastian yang dengan semangat tinggal diam, yaitu mengatasi nihilisme
sudah mulai pudar. Jaminan yang inilah kita dapat tanpa harus menolak nihilisme. Usaha
pertama adalah Tuhan sebagaimana menikmati nihil- ini dilakukan dengan mengadakan
diwariskan oleh agama-agama. Dan isme. Dan inilah pembalikan nilai-nilai. Cara ini akan
jaminan-jaminan kepastian lainnya, nihilisme aktif. menghasilkan nihilisme aktif. Dilihat

150 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 151


WATCHER’SANECDOTES WATCHER’SANECDOTES

La Chapelle, telah sudah aus dan tak dapat digunakan nya lewat efek-efek modulasi pertan-

mengayuh sam- berlayar lagi, sampan itu harus dihan-


curkan dan diganti dengan sampan
daan & makna yang jauh lebih besar
ketimbang apa yang ada dalam realitas
pan barunya meski baru. Menurutnya, hanya dengan sendiri. Semacam intensifikasi realitas,
mungkin masih semangat inilah kita dapat menikmati peningkatan efek, ekstrimitas makna
mendayung den- nihilisme. Dan inilah nihilisme aktif. yang menghasilkan ungkapan hiper-
gan cara Magritte La Chapelle, telah mengayuh sampan bolis. Tanda-tanda superlatif ini dengan
dan Warholl. Gam- barunya meski mungkin masih menda- mudah dapat ditemukan dalam hampir

bar-gambar fantas- yung dengan cara Magritte dan War- keseluruhan foto-foto La Chapelle,

tik dalam foto-foto holl. Gambar-gambar fantastik dalam


foto-foto La Chapelle adalah tarian
yang didalamnya hasrat kekerasan,
gairah seks, efek ketakutan, dan rona
La Chapelle adalah Nietzsche, tarian yang ringan, terbang, kematian ditarik ke arah perwujudan
tarian Nietzsche, bermain, bahkan tertawa. simbolik yang paling ekstrim, sehingga
tarian yang ringan, semuanya melampaui apa yang dapat
terbang, bermain, Kelima, foto-foto La Chapelle me- dibayangkan akal sehat.
bahkan tertawa. numpahkan semangat produksi terus
menerus permainan tanda-tanda Hipersemiotika adalah sebuah ke-
sebagai komoditi, tanpa merasa perlu cenderungan melampaui semiotika
mengikatkan diri pada sebuah sistem konvensional/struktural, yang berop-
dari sudut ini, filsafat Nietzsche dapat yang tetap, semata dalam rangka
disebut sebagai filsafat nihilisme, dan menghasilkan pesona, kesenangan,
Nietzsche adalah seorang nihilis sejati. gairah, dan ekstasi dalam bermain itu
sendiri. Dengan demikian ia menggu-
“Kita kadang-kadang memerlukan nakan amunisi bernama hyperreality
nilai-nilai baru, namun kadang-kadang dalam ranah hipersemiotika. Hiperse-
pula kita harus melepaskan nilai-nilai miotika dengan demikian adalah mesin
yang sudah kita punyai”. Demikian pembunuh makna, a semiotic killing
pula sikap Nietzsche pada kebenaran. machine, yang didalamnya makna
Tidak ada kebenaran absolut. Kebena- tidak mendapatkan ruang hidup
ran adalah semacam kekeliruan yang disebabkan hegemoni permainan
tanpanya kita tidak dapat hidup. Kalau bebas pada tingkat permukaan tanda/
suatu nilai atau kebenaran sudah men- penanda. Tanda yang ditampilkan
garah menjadi absolut, manusia harus dalam sebuah model pertandaan yang
meninggalkannya. Kalau sampan kita ekstrim -hyper signification- khusus-

152 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 153


WATCHER’SANECDOTES PHOTOCONTEST

”Kita telah meninggalkan dan sudah


menuju kapal! Kita sudah membakar
LOMBA FOTO BULANAN:

TAK ADA
jembatan di belakang kita dan lagi, kita
juga sudah menghanguskan daratan di
belakang kita! Dan kini, hati-hatilah kau

PEMENANG DI
kapal mungil! Samudera raya men-
gelilingimu: memang benar, dia tidak
senantiasa mengaum, dan kadang-
kadang dia tampak lembut bagai

BULAN INI
sutera, emas dan mimpi yang indah.
Namun akan tiba waktunya, bila kau
ingin tahu, bahwa dia tidak berbatas.
Oh burung yang malang yang merasa
Sebelumnya, The Light mengucapkan terimakasih kepada peserta atas kerja keras
bebas dan kini menabrak dinding-
dalam memotret dan mengirimkannya dalam tantangan foto The Light yang
dinding sarangnya! Ya, bila kau merasa
bekerjasama dengan Ayo Foto. Kali ini Tim Juri harus bekerja lebih keras, berpikir
rindu akan daratanmu yang seolah
lebih cermat, melakukan pertimbangan berkali-kali untuk menghasilkan keputu-
menawarkan kebebasan lebih banyak
san yang ”paling bijaksana”.
dan tak ada ’daratan’ lagi”.
erasi dalam sebuah kebudayaan
yang didalamnya dusta, kepalsuan, Sayangnya, kami tidak menemukan foto-foto yang memenuhi standar untuk
Keenam, maaf jika Anda mual kare-
kesemuan, kedangkalan, imanensi, didaulat sebagai pemenang. Di saat melakukan penjumlahan dari setiap juri
nanya...
permainan, artifisialitas, superlatifitas, dengan pertimbangan teknis, estetis, komunikasi, kesesuaian dengan tema dan
dirayakan sebagai semangat utamanya sebagainya, panitia tidak mendapatkan nilai standar minimum untuk foto-foto
SS
dan sebaliknya, kebenaran, otentisitas, pemenang.
kedalaman, transendensi, metafisika
ditolak sebagai penghambat kreatifitas Perlu dijelaskan, jika ada pertanyaan apakah mungkin suatu lomba tetapi tanpa
dan produktifitas budaya. Hipersemio- pemenang? Kami lebih memilih kemungkinan itu. Lomba ini memiliki sifat inde-
tika adalah semangat jaman postmod- penden, tidak mengacu kepada ”sponsor” apa pun kecuali sumbangsih kepada
ern. Kira-kira David La Chapelle dengan dunia fotografi Indonesia. Tidak adanya pemenang hanyalah sebuah ”kebetulan”,
kuatnya memiliki spirit itu. Kita berpikir sebuah kemungkinan yang tak terhindarkan dari sebuah proses untuk menuju
keras menafsir foto-fotonya, barangkali pada pemahaman bahasa fotografi, dalam hal ini adalah ”medan” yang kami se-
ia tertawa-tawa sembari menyanyikan diakan untuk bersama-sama melihatnya dalam kacamata yang paling mendasar.
lirik Nietzsche: Tim Juri kali ini belum menemukan penguasaan teknik yang memadai, gambar
yang bermakna, foto yang unik, penyampaian dalam bahasa fotografi yang khas

154 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 155


PHOTOCONTEST PHOTOCONTEST

atau foto yang bagus. Belum ada. fotografi memang tak lagi persoalan
sederhana dan bukan hal mudah. Foto-
Dan seperti sudah berkali-kali kami tekankan bahwa bobot mayoritas penjurian grafi denga F besar tidak sama dengan
dalam lomba ini adalah kemampuan konseptual dari foto yang disertakan dalam fotografi dengan f kecil. Lomba ini
lomba. Tema ”balance” atau ”kesimbangan” sekilas merupakan konsep yang mu- adalah fotografi dengan F besar. Foto
dah, sederhana, dangkal, cetek. Namun justru karena begitu sederhana dan dang- yang menang adalah representasi atas
kalnya konsep itu memaksa peserta untuk lebih keras lagi mengolah imajinasinya standar penilaian, bukan lagi suka dan
agar karya yang disertakan tidak sekedar memenuhi artian harafiah dari konsep tidak suka yang variabel ukurnya men-
tersebut. Karena konsep yang begitu sederhana memang menjebak orang untuk jadi sumir. Lomba ini milik bersama dan
cenderung menggampangkan dan akhirnya mengikutsertakan foto-foto yang karena itu tak pantas jika kemenangan
dangkal sedangkal temanya. Dan karena dangkal makanya predictable, dan tidak harus dipaksakan.
unik karena juga terpikir oleh peserta lain. ”Balance” atau keseimbangan tidak
harus diterjemahkan sebagai suatu kejadian yang membutuhkan keseimbangan Ini adalah sebuah tantangan, bukan
seperti orang yang berjalan di atas tali. Keseimbangan juga tidak harus diter- untuk mengecilkan semangat peserta
jemahkan dalam visual kembar identik seperti pada visual-visual di mana bagian di waktu-waktu mendatang. Jalani
kiri dan kanan foto relatif identik dan similar sehingga dianggap balance. Foto- takdir Anda, kami menunggu dan Ayo
foto seperti itu memang tidak salah jika ditinjau dari kesesuaian tema, namun melukis dengan Cahaya.
bukanlah lomba jika sebuah foto yang terpikir oleh banyak orang atau biasa kami
sebut dengan label ”predictable” terpaksa dimenangkan.

Jika harus menggunakan visual-visual keseimbangan yang harafiah, setidaknya LOMBA INI TERSELENGGARA ATAS KERJASAMA:
balance bisa digambarkan dengan visual yang unik, misalnya bajaj yang salah
satu rodanya terangkat ketika sedang berbelok dengan kencang. Atau visual se-
buah bus yang walaupun miring karena banyaknya penumpang yang bergelan-
tungan namun masih tetap bisa berjalan. Setidaknya gambar-gambar semacam
itu layak untuk diganjar juara 2 atau 3.

Ide lain yang lebih ”beyond” adalah keseimbangan yang tidak harafiah, seperti
visual-visual yang menggambarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat,
miskin dan kaya, dosa dan pahala, hidup dan mati, beauty and the beast dan
semacamnya.

Dalam kondisi semacam ini, setidaknya kita belajar untuk memahami bahwa

156 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 157


LIPUTANUTAMA LIPUTANUTAMA

158 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 159


WHERETOFIND WHERETOFIND

JAKARTA JakSel 12930; XL Photograph Jl. Mega Square Lt. 1 Blok B2 28-29, Jkt; Neep’s VIII No.2, Semarang 50243
Telefikom Fotografi Universitas Prof. Kuningan Kav. E4-7 No. 1 JakSel; Free- Art Institute Jl. Cideng Barat 12BB,
Dr. Moestopo (B) Jalan Hang Lekir Phot (Freeport Jakarta Photography Jakarta ; POIsongraphy ConocoPhil- SOLO
I, JakSel; Indonesia Photographer Community) PT Freeport Indonesia lips d/a Ratu Prabu 2 Jl.TB.Simatupang HSB (Himpunan Seni Bengawan)
Organization (IPO) Studio 35, Rumah Plaza 89, 1st Floor Jl. Rasuna Said Kav kav 18 Jakarta 12560; NV Akademie Jl. Jl. Tejomoyo No. 33 Rt. 03/ 011, Solo
Samsara, Jl.Bunga Mawar, no. 27, X-7 No. 6 PSFN Nothofagus (Perhim- Janur Elok VIII Blok QG4 No.15 Kelapa 57156; Lembaga pendidikan seni dan
Jakarta punan Seni Fotografi PT Freeport Gading permai Jakarta 14240 design visimedia college Jl. Bhay-
Selatan 12410; Unit Seni Fotografi Indonesia) PT Freeport Indonesia angkara 72 Solo, FISIP Fotografi Club
IPEBI (USFIPEBI) Komplek Perkantoran Plaza 89, 1st Floor Jl Rasuna Said Kav BANDUNG (FFC) UKM FFC
BankIndonesia, Menara Sjafruddin- X-7 No. 6; CybiLens PT Cyberindo PAF Bandung Kompleks Banceuy Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Prawiranegara lantai 4, Jl.MH.Thamrin Aditama, Manggala Wanabakti IV, 6th Permai Kav A-17,Bandung 40111; Je- Universitas Sebelas Maret Jl Ir Sutami
No.2, Jakarta; UKM mahasiswa IBII, floor. Jl.Gatot Subroto, jakarta 10270; \ pret Sekretariat Jepret Lt. Basement 36A 57126 Solo, Jawa Tengah
Fotografi Institut Bisnis Indonesia FSRD Trisakti, Kampus A. Jl. Kyai Tapa, Labtek IXB Arsitektur ITB, Jl Ganesha
(FOBI) Kampus STIE-IBII, Jl Yos Su- Grogol. Surat menyurat: jl.Dr. Susilo 2B/ 10, Bandung Spektrum (Perkumpulan YOGYAKARTA
darsoKav 87, Sunter, Jakarta Utara; 30, Grogol, Jakbar; SKRAF (Seputar Unit Fotografi Unpad) jl. Raya Jati- Atmajaya Photography club Gedung
Perhimpunan Penggemar Fotografi Kamera Fikom) Universitas SAHID nangor Km 21 Sumedang, Satyabodhi PUSGIWA kampus 3 UAJY, jl. babarsari
Garuda Indonesia(PPFGA) PPFGA, Jl. Jl. Prof. Dr.Soepomo, SH No. 84, Jak- Kampus Universitas Pasundan Jl. Se- no. 007 yogyakarta; “UKM MATA” Aka-
Medan Merdeka SelatanNo.13, Gedung Sel 12870 One Shoot Photography tiabudi No 190, Bandung Air Photog- demi Seni Rupa dan Desain MSD Ja-
Garuda Indonesia Lt.18 ; Komunitas FIKOM UPI YAI jl. Diponegoro no.74, raphy Communications Jalan Taman lan Taman Siswa 164 Yogyakarta 55151;
Fotografi Psikologi Atma Jaya, JKT Jl. JakPus Lasalle College Sahid Office Pramuka 181 Bandung 40114 Unif Fotografi UGM (UFO)Gelang-
Jendral Sudirman 51, Jakarta.Sekre- Boutique Unit D-E-F\ (komp. Hotel gang mahasiswa UGM,Bulaksumur,
tariat Bersama Fakultas Psikologi Atma Sahid Jaya). Jl. Jend Sudirman Kav. 86, PURWOKERTO Yogya; Fotografi Jurnalistik Club
Jaya Ruang G. 100; Studio 51 Unver- Jakarta 1220 Jurusan Ilmu Komuni- ECOLENS Sekretariat Bersama FE Kampus 4 FISIP UAJY Jl Babarsari
sitas Atma Jaya, Jl. Jendral Sudirman kasi Universitas Al-Azhar Indonesia UNSOED, Jl HR Bunyamin No.708 Pur- Yogyakarta; FOTKOM 401 gedung
51, Jakarta; Perhimpunan Fotografi Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran baru, wokerto 53122 Ahmad Yani Lt.1 Kampus FISIPOL UPN
Tarumanegara Kampus I UNTAR Blok Jak-Sel, 12110; LSPR Photography “Veteran” Jl Babasari No.1, Tambak-
M Lt. 7 Ruang PFT. Jl. Letjen S. Parman Club London School of Public Rela- SEMARANG bayan, Yogyakarta, 55281; Jurusan
I JakBar; Pt. Komatsu Indonesia Jl. tion Campus B (Sudirman Park Office PRISMA (UNDIP) PKM (Pusat Ke- Fotografi Fakultas Seni Media Rekam
Raya Cakung Cilincing Km. 4 Jakarta Complex) Jl. KH Mas Mansyur Kav 35 giatan Mahasiswa) Joglo Jl. Imam Institut Seni Indonesia Jl. Parangtritis
Utara 14140; LFCN (Lembaga Foto- Jakarta Pusat 10220 FOCUS NUS- Bardjo SH No. 1 Semarang 50243 Km. 6,5 Yogyakarta Kotak Pos 1210;
MATA Semarang Photography Club UKM Fotografi Lens Club Universitas
grafi Candra Naya) Komplek Green ANTARA Jl. KH Hasyim Ashari No. 18,
FISIP UNDIP Jl. Imam Bardjo SH. No.1, Sanata Dharma Mrican Tromol Pos 29
Ville -AW / 58-59, Jakarta Barat 11510; Jakarta; e-Studio Wisma Starpage,
Semarang; DIGIMAGE STUDIO Jl. Yogyakarta 55281
HSBC Photo Club Menara Mulia Lt. 22, Salemba Tengah No. 5, JKT 10440; Roxy
Setyabui 86A, Semarang Jl. Pleburan
Jl. Jendral Gatoto Subroto Kav. 9-11,

160 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 161


WHERETOFIND WHERETOFIND

SURABAYA BALI BALIKPAPAN AMBON


Himpunan Mahasiswa Penggemar Magic Wave Kubu Arcade at Kuta Total Photography Club (TPC). Performa (Perkumpulan Fotografer
Fotografi (HIMMARFI) Jl. Rungkut Bungalows Bloc A3/A5/A6 Jl. Benesari, ORSOSBUD - Seksi Budaya Total E&P Maluku) jl. A.M. Sangadji No. 57 Am-
Harapan K / 4, Surabaya; AR TU PIC; Legian-kuta Indonesie bon.(Depan Kantor Gapensi
UNIVERSITAS CIPUTRA Waterpark Jl. Yos Sudorso Balikpapan kota Ambon/ Vivi Salon)
Boulevard, Citra Raya. Surabaya 60219; MEDAN
FISIP UNAIR JL. Airlangga 4-6, Suraba- Medan Photo Club Jl. Dolok Sanggul KALTIM ONLINE PICK UP
ya; Perkumpulan Senifoto Surabaya Ujung No. 4 Samping Kolam Paradiso Badak Photographer Club (BPC) ICS POINTS:
(PSS), jln Basuki Rahmat 42 Surabaya. Medan, Sumatra Utara Department, System Support Section, www.thelightmagz.com
20213 UKM FOTOGRAFI USU Jl. Per- PT BADAK NGL, Bontang, www.ayofoto.com
MALANG pustakaan no.2 Kampus USU Medan Kaltim, 75324; KPC Click Club/PT Kaltim www.estudio.co.id
MPC (Malang Photo Club) Jl. Pahla- 20155 Prima Coal Supply Department (M7 Bu- http://charly.silaban.net/;
wan Trip No. 25 Malang JUFOC (Jur- liding), PT Kaltim Prima Coal, Sangatta www.studiox-one.com ;
nalistik Fotografi BATAM http://www.focusnusantara.
Club) student Centre Lt. 2 Universi- Batam Photo Club Perumahan Muka SAMARINDA com/articles/thelightmag.php
tas Muhammadiyah Malang. Jl. Raya kuning indah Blok C-3, Batam 29435 MANGGIS-55 STUDIO (Samarinda
Tlogomas No. 246 malang, 65144; UKM Photographers Community) Jl. Mang- MAILING LIST:
KOMPENI (Komunitas Mahasiswa PADANG gis No. 55 Voorfo, Samarinda thelightmagz-subscriber@
Pecinta Seni) kampus STIKI (Sekolah KOMUNITAS FOTOGRAFI SINKRO Kaltim yahoogroups.com
Tinggi Informatika Indonesia) Malang, Jl. Komplek Monang B/16 Lubuk Buaya
Jl. Raya Tidar 100 Padang - Sumatra Barat
SOROWAKO
JEMBER PEKANBARU Sorowako Photographers Society
UFO (United Fotografer Club) Perum CCC (Caltex Camera Club) PT. Chevron General Facilities & Serv. Dept - DP. 27,
taman kampus A1/16 Jember 68126, Pasific Indonesia, SCMPlanning, Main (Town Maintenance) - Jl.
Jawa Timur;Univeritas Jember (UKPKM Office 229, Rumbai, Pekanbaru 28271 Sumantri Brojonegoro, SOROWAKO
Tegalboto) Unit Kegiatan Pers Kam- 91984 - LUWU TIMUR, SULAWESI SELA-
pus Mahasiswa Universitas Jember LAMPUNG TAN
jl. Kalimantan 1 no 35 komlek ged. PKM Malahayati Photography Club Jl.
Universitas Jember 68121 Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lam- GORONTALO
pung, 35153. Lampung-Indonesia. Telp. Masyarakat Fotografi Gorontalo
(0721) 271114 Graha Permai Blok B-18, Jl.Rambutan,
Huangobotu,Dungingi, Kota Gorontalo

162 EDISI XXVII / 2010 EDISI XXVII / 2010 163