Anda di halaman 1dari 9

Industry hygiene

Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA) (1998),


higene industri adalah ilmu tentang antisipiasi, rekognisi/pengenalan, evaluasi dan
pengendalian kondisi tempat kerja yang dapat menyebabkan tenaga kerja mengalami
kecelakaan kerja dan atau penyakit akibat kerja. Higene industri menggunakan
metode pemantauan dan analisis lingkungan untuk mendeteksi luasnya tenaga kerja
yang terpapar. Higene industri juga menggunakan pendekatan teknik, pendekatan
administratif dan metode lain seperti penggunaan alat pelindung diri, desain cara kerja
yang aman untuk mencegah paparan berbagai bahaya di tempat kerja. Menurut UU
no. 14 tahun 1969 Higene perusahaan adalah Lapangan kesehatan yang ditunjukan
kepada pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, dilakukan
dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan tenaga kerja yang sakit, mengatur
persediaan tempat, cara dan syarat ntuk pencegahan penyakit baik akibat kerja
maupun umum serta menetapkan syarat-syarat kesehatan perumahan tenaga kerja.
Ahli higene industri memfokuskan perhatiannya pada evaluasi kondisi
kesehatan yang optimal dari lingkungan kerja dan merekomendasikan perbaikan
prosedur kerja untuk melindungi kesehatan, berdasarkan data kuantitatif yang
lengkap, pengalaman dan pengetahuannya yang mendalam. Rekomendasi ahli higene
industri bisa juga berupa pengisolasian sumber bahaya, substitusi bahan dari yang
berbahaya ke bahan yang kurang berbahaya dan juga mendesain prosedur kerja yang
aman.
Untuk memastikan kondisi kesehatan lingkungan kerja dan lingkungan lain
yang terkait, ahli higene industri terfokus pada recognition (pengenalan), evaluation
(pengukuran) dan control (pengendalian dari stresor lingkungan kerja yang bisa
berbentuk stressor fisik, kimia, biologi, ergonomis maupun psikologis yang dapat
menyebabkan penyakit akibat kerja, penurunan kesehatan atau ketidaknyamanan
ketika bekerja). Stressor fisik bisa berbentuk kebisingan, getaran, tekanan suhu dan
tekanan udara yang ekstrim tinggi atau ekstrim rendah, serta radiasi elektromagnetik
dan radiasi yang mengion. Stressor kimia bisa berbentuk gas, debu, kabut, serbuk,
spray, cairan atau uap air. Stressor biologis bisa berasal dari bakteri, jamur, serangga,
tungau, virus, tikus, nyamuk dan lain-lain. Stressor ergonomik bisa berbentuk gerakan
kerja yang berulang, tekanan kerja, kelelahan kerja, posisi tubuh ketika bekerja,
monotoni/kebosanan akibat kerja yang monoton dan berbagai kekhawatiran. Secara
skematis dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Menurut Suma’mur (1999) tujuan utama penyelenggaraan higene perusahan dan
kesehatan kerja adalah : Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja
yang tinggi, dan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas.

1. a. Apa saja tugas dari ketua departemen HSE ?

Tugas

1. Membuat program kerja K3 dan perencanaan pengimplementasian


2. Memastikan berjalannya program SMK3 dan membuat dokumentasikannya
3. Membuat laporan dan menganalisis data statistik SHE
4. Melakukan peninjauan resiko assessment, SOP/SWP dan JSA
5. Melakukan pemeriksaan pada peralatan kerja, tenaga kerja, kesehatan tenaga
kerja serta lingkungan kerja
6. Meninjau keselamatan kerja dan pelatihan keselamatan
7. Mampu melakukan penanggulangan kecelakaan kerja dan melakukan
penyelidikan penyebabnya
8. Memastikan tenaga kerja telah bekerja sesuai dengan SOP
9. Meninjau dan mengarahkan karyawan bekerja sesuai kewajiban dan sesuai
dengan sistem operasi perusahaan

Berikut ini penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab HSE manager, yaitu:
a. HSE Manager harus memastikan bahwa perusahaan secara efektif
melaksanakan program K3. Karena itulah, dalam prakteknya, manajer harus
mengecek prinsip plan, do, check, dan act berjalan secara efektif. Selain itu,
manajer juga harus mengintegrasikan prinsip K3 ini ke dalam praktek
manajemen standar perusahaan.
b. Tujuan utama pelaksanaan semua program K3 dalam perushaan adalah untuk
memastikan bahwa sistem K3 bekerja dengan baik. Sehingga kerugian yang
diakibatkan kecelakaan kerja dapat dihindari.
c. HSE Manager bukan hanya memastikan kontrol yang tepat untuk tindakan
pencegahan kecelakaan di tempat kerja, namun juga mengeluarkan kebijakan
yang tepat, proses yang efektif, orang yang kompeten, budaya kerja yang
benar. Sehingga semuanya berkontribusi dalam penciptaan lingkungan kerja
yang aman.
d. Untuk mengelola program K3 secara efektif, manajer harus melibatkan semua
unsur dalam perusahaan. Penting diingat, bahwa kesuksesan pelaksanaan
program K3 ini hanya dapat dilakukan bersama semua orang. Melibatkannya
secara efektif akan membuat proses pelaksanaannya menjadi lebih dinamis
dan konstruktif.
e. Mematuhi hukum penting, namun tetap lebih dari itu program K3 perlu dilihat
sebagai bagian kinerja bisnis utama, bukan hanya tambahan atau sekedar
mematuhi peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Untuk itu, tugas HSE
manajer serta manajer lainnya perlu mengelolanya seperti hasil bisnis lainnya,
dengan melakukan langkah-langkah yang mendukung peningkatan kinerja,
dengan menciptakan sistem, budaya, praktek kerja yang aman dan evaluasi
proses K3

3. a. Bagaimana proses penjernihan air limbah ?

Water Treatment
Air merupakan sumber alam yang sangat penting di dunia, karena tanpa air kehidupan
tidak dapat berlangsung. Air juga banyak mendapat pencemaran.
Berbagai jenis pencemar air berasal dari :
a) Sumber domestik (rumah tangga), perkampungan, kota, pasar, jalan, dan
sebagainya.
b) Sumber non-domestik (pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan, serta
sumber-sumber lainnya.
Water treatment adalah bagian dari unit utilitas yang sangat vital, yaitu sebagai
unit yang berfungsi dalam pengolahan air yang digunakan untuk mendukung kegiatan
dari produksi itu sendiri antara lain untuk kebutuhan make up cooling water,
pembuatan air demin dan untuk memenuhi keperluan air bersih dan air minum baik
untuk kompleks maupun untuk pabrik itu sendiri. Masalah air limbah tidak
sesederhana yang dibayangkan karena pengolahan air limbah memerlukan biaya
investasi yang besar dan biaya operasi yang tidak sedikit.
Untuk itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan cermat, dimulai dari
perencanaan yang teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) atau unit pengolahan limbah (UPL) yang benar, serta pengoperasian
yang cermat. Pada umumnya kebutuhan pabrik akan air sangat banyak dan perlu
sehingga lokasi pabrik dipilih dekat dengan sumber air.

Proses Water Treatment


Ada dua proses yang terjadi pada water treatment yaitu proses secara umum
dan proses secara khusus.
1. Proses secara umum
Water treatment merupakan unit yang berguna dalam pembersihan air dari air
kotor menjadi air bersih, yaitu dengan cara proses klarifikasi yaitu proses
penghilangan suspended solid. Proses tersebut dapat berjalan dengan 3 proses yaitu :
a. Proses koagulasi
Yaitu partikel koloid yang bermuatan sama dinetralisir melalui koagulan.
Tahap-tahap koagulasi:
1) Rapid mixing , yaitu adanya tumbukan menjadi netralisasi sempurna distribusi
koagulan merata.
2) Netralisasi muatan
3) Tumbukan partikel
b. Proses flokulasi
Yaitu suatu mekanisme dimana flok kecil yang sudah terbentuk dalam proses
koagulasi tadi melalui suatu media flokulan digabungkan menjadi flok yang lebih
besar sehingga cukup berat untuk bisa mengendap. Di dalamnya juga terdapat rantai
yang panjang dan banyak cabangnya yang berguna sebagai jembatan penghubung.
Hal yang dapat menyebabkan putusnya rantai tersebut adalah pengadukan yang cepat
(rapid mixing). Faktor lain yang dapat mengganggu adalah kondisi tingkat keasaman
lingkungan sekitarnya sehingga perlu menginjeksikan chemical’s NaOH sebagai pH
adjuster.
c. Sedimentasi
Dasar teori yang dipakai untuk proses sedimentasi adalah hukum stoke, yaitu
floks yang besar tersebut mengalami pengendapan. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhinya yaitu antara lain :
1) Dosis koagulan dan flokulan.
2) Mixing, pH, temperatur, warna air baku
3) Level interface dan blowndown lumpur di klarifier.

2. Proses secara khusus


Air baku yang berasal dari sungai disebut dengan raw water intake yang
dipompa melalui unit RPA untuk diproses lebih lanjut ke unit operasi water treating
plant. Raw water intake masuk melalui bagian bawah clarifier. Setelah itu air melalui
wilayah yang disebut dengan sand filter untuk mendapatkan perlakuan penyaringan
atau filtrasi dengan menggunakan pasir (sand), koral (gravel) dan antrasit yang
berfungsi untuk menghilangkan atau mereduksi zat tersuspensi yang terikut didalam
air umpan. Secara periodik (24 jam) saringan harus di backwash untuk
menghilangkan flok yang tertangkap selama filtrasi di permukaan filter.
Air yang keluar (yang merupakan air bersih) dari sand filter kemudian
dipompakan ke tanki pengumpul (storage tank). Untuk menjaga agar pH air bersih
tersebut on specification (7,5-8,5) maka diinjeksikan NaOH liquid. Di dalam storage
tank terdapat juga kation exchanger (H2SO4), anion exchanger (NaOH), dan mix bed
(H2SO4 + NaOH). Kemudian didapatkanlah treat water atau air bersih yang telah
dapat untuk didistribusikan.
3. k. Bagaimana food safety dan hygiene perusahaan yang baik ?

The five key principles of food hygiene, according to WHO, are:

1. Prevent contaminating food with pathogens spreading from people, pets, and
pests.
2. Separate raw and cooked foods to prevent contaminating the cooked foods.
3. Cook foods for the appropriate length of time and at the appropriate
temperature to kill pathogens.
4. Store food at the proper temperature.
5. Use safe water and safe raw materials

3. m. pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pad tes kesehatan rutin pada


perusahaan?

Pemeriksaan kesehatan atau Medical Check Up (MCU) sendiri adalah suatu


rangkaian uji kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh dengan tujuan
mengetahui kondisi kesehatan secara berkala. MCU dapat dilakukan sedini
mungkin, namun umumnya dilakukan pada usia dewasa. Terlebih jika seseorang
mempunyai kemungkinan mendapat penyakit keturunan, seperti diabetes/kencing
manis, kolesterol tinggi, serangan jantung dan mempunyai risiko obesitas dan
penyakit yang berpotensi menular atau mempunyai gaya hidup tidak sehat seperti
perokok, kurang olahraga, sering mengomsumsi makanan cepat saji/junk food, dll,
dianjurkan untuk melakukan MCU sekurang-kurangnya 2 kali setahun.

Manfaat MCU bagi perusahaan :

 Menghemat biaya perusahaan


 Melaksanakan Peraturan Pemerintah, sesuai peraturan dalam UU nomor 1
tahun 1970, UU nomor 21 tahun 2003, dan UU nomor 13 tahun 2003.
 Kinerja perusahaan menjadi optimal
 Mendeteksi penyakit sejak dini
 Karyawan lebih terjamin dan nyaman
 Meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan

Manfaat MCU bagi karyawan :

 Mengetahui sedini mungkin kondisi kesehatan kita secara terperinci


 Mencegah berkembangnya suatu kelainan atau penyakit
 Melakukan pengobatan segera
 Mencegah atau menunda terjadinya komplikasi penyakit
 Menghemat biaya pengobatan
 Memperpanjang usia produktif dan usia harapan hidup
 Meningkatkan kualitas hidup

Persiapan sebelum Medical Check Up :

1. Puasa
Anjuran puasa dilakukan untuk jangka waktu 10 – 12 jam. Beberapa
pemeriksaan laboratorium yang mewajibkan puasa antara lain : pemeriksaan
glukosa, kolesterol, urea, dan asam urat.
2. Konsumsi Obat
Beberapa obat memiliki dampak langsung terhadap hasil tes darah. Obat dari
golongan steroid, misalnya, berdampak pada peningkatan kadar kolesterol.
3. Olahraga
Anjuran untuk tidak berolahraga atau melakukan aktivitas yang berat sebelum
menjalani MCU juga berdasarkan alasan dampaknya terhadap tekanan darah.
4. Tidur Cukup
Kualitas dan kuantitas tidur juga memiliki kaitan pada tekanan darah. Waktu
tidur yang ideal untuk orang dewasa berusia 18 – 64 tahun adalah 7 sampai 9
jam (National Sleep Foundation).
5. Waktu Tes
Pada dasarnya tubuh memiliki waktu biologis, pagi hari adalah keadaan terbaik
tubuh setelah beistirahat penuh dan aktivitas yang dilakukan tubuh pada pagi
hari belum terlalu berat. Harapannya, MCU akan memberikan hasil yang akurat

5. a. Bagaimana langkah- langkah melakukan HSE risk management ?


umumnya terdiri dari langkah-langkah berikut:

1. Identifikasi bahaya kesehatan dan efek kesehatannya yang berbahaya

2. Identifikasi individu dan kelompok yang terekspos

3. Identifikasi proses, tugas, dan area di mana paparan berbahaya dapat


terjadi

4. Menilai, mengukur, atau memverifikasi eksposur

5. Menganalisis efektivitas tindakan pengendalian yang ada

6. Analisis potensi risiko kesehatan dari paparan berbahaya (misalnya,


bandingkan terhadap batas pemaparan dalam pekerjaan)

7. Memprioritaskan risiko kesehatan (tinggi, sedang, dan rendah)

8. Mengantisipasi potensi risiko kesehatan baru dan yang muncul

9. Buat daftar risiko

10. Tetapkan prioritas untuk tindakan

11. Mengembangkan, menerapkan dan memantau rencana tindakan


pengendalian risiko atau meninjau yang ada rencana aksi pengendalian risiko

12. Mempertahankan catatan HRA yang akurat dan sistematis atau


mengubah Risiko yang ada
13. Kontrol Rencana Aksi dan gunakan alternatif dan / atau tindakan
kontrol tambahan

14. Tinjau dan ubah secara berkala atau sebelumnya jika ada perubahan
pada proses atau perkembangan baru diusulkan

15. Panduan Praktik yang Baik tentang Penilaian Risiko Kesehatan Kerja

Ramdan, Iwan Muhammad. 2013. Higiene Industri. Yogyakarta: Penerbit Bimotry.