Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN

DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Disusun Oleh :
Renanda Tri Amanda

Dosen Pembimbing : Firman Hidayat M.Kep., Ns,Sp. Kep.J

KEPERAWATAN JIWA PROFESI NERS


STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jln. Cut Nyak Dhien No.16 Desa Kalisapu Kab Tegal 52416 Telp. (0283)
6197570, 6197571
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Posisi Indonesia hampir mendekati negara-negara bunuh diri, seperti
Jepang, dengan tingkat bunuh diri mencapai lebih dari 30.000 orang per tahun
dan China yang mencapai 250.000 per tahun.
Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup
tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005,
sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya.
Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per
harinya. Namun laporan di Jakarta menyebutkan sekitar 1,2 per 100.000
penduduk dan kejadian bunuh diri tertinggi di Indonesia adalah Gunung Kidul,
Yogyakarta mencapai 9 kasus per 100.000 penduduk.
Adapun kejadian bunuh diri tertinggi berada pada kelompok usia remaja
dan dewasa muda (15 – 24 tahun), untuk jenis kelamin, perempuan melakukan
percobaan bunuh diri (attemp suicide) empat kali lebih banyak dari laki laki.
Cara yang populer untuk mencoba bunuh diri pada kalangan perempuan adalah
menelan pil, biasanya obat tidur, sedangkan kaum lelaki lebih letal atau
mematikan seperti menggantung diri.
Kelompok yang beresiko tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri
adalah mahasiswa, penderita depresi, para lansia, pecandu alcohol, orang-orang
yang berpisah atau becerai dengan pasangan hidupnya, orang-orang yang hidup
sebatang kara, kaum pendatang, para penghuni daerah kumu dan miskin,
kelompok professional tetentu, seperti dokter, pengacara, dan psikolog.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan harga diri rendah?
2. Apa saja etiologi dari harga diri rendah?
3. Apa manifestasi klinis klien dengan harga diri rendah?
4. Bagaimana proses terjadinya masalah?
5. Bagaimana rentang respon klien dengan harga diri rendah?
6. Apa saja masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan
harga diri rendah?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan harga diri rendah?

2
1.3 Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Setelah membahas kasus ini diharapkan mengerti dan memberikan
asuhan keperawatan pada pasien resiko bunuh diri.
b. Tujuan Khusus
Setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Memahami konsep dasar asuhan keperawatan jiwa pada pasien resiko
bunuh diri
2. Melakukan pengkajian pada klien dengan resiko bunuh diri
3. Merumuskan diagnosa untuk klien dengan resiko bunuh diri
4. Membuat perencanaan untuk klien dengan resiko bunuh diri
5. Melakukan implementasi pada klien dengan resiko bunuh diri

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. MASALAH UTAMA
Resiko bunuh diri

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Pengertian
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir
dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4)
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, 2007. Dikutip Dez, Delicious,
2009. DEZ’S blok just another place to share. http://dezlicious blogspot.com)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bunuh diri adalah suatu
tindakan yang dapat merusak diri sendiri dan dapat mengakibatkan kematian
,dan bahkan bisa menciderai orang lain.

C. PENYEBAB
a. Faktor predisposisi bunuh diri
Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang
perilaku resiko bunuh diri meliputi:
1) Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat pasien berisiko untuk bunuh diri
yaitu gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
2) Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko
bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
3) Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan
yang dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting
yang berhubungan dengan bunuh diri.
4) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
resiko untuk perilaku resiko bunuh diri
5) Faktor biokimia
Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapat
menimbulkan perilaku resiko bunuh diri.

4
b. Faktor presipasi bunuh diri
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya seringkali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun
percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut
menjadi sangat rentan.
c. Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam
kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini
secara sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh
diri berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun budaya.
Struktur social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan
mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi social dapat
menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang untuk
melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat
lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif
dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
d. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme
koping yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan
diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping
alternatif.
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping.
Ancaman bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk
mendapatkan pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang
terjadi merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada diri
seseorang.

D. RENTANG RESPON (YOSEP, IYUS : 2009)


1. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh
seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai
loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
2. Beresiko destruktif

5
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja
ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah
melakukan pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap
situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya,
karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka
seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan
tidak optimal.
4. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya
hilang.
Perilaku bunuh diri menurut (Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria,
Nita, 2009) dibagi menjadi tiga kategori yang sebagai berikut.
1. Upaya bunuh diri (scucide attempt) yaitu sengaja kegiatan itu sampai
tuntas akan menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah tanda
peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang hanya berniat
melakukan upaya bunuh diri dan tidak benar-benar ingin mati mungkin
akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
2. Isyarat bunuh diri (suicide gesture) yaitu bunuh diri yang direncanakan
untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
3. Ancaman bunuh diri (suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara
langsung verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang mengupayakan
bunuh diri. Orang tersebut mungkin menunjukkan secara verbal bahwa
dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau juga mengungkapkan secara
nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, dan sebagainya. Kurangnya
respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikan sebagai dukungan
untuk melakukan tindakan bunuh diri.

E. TANDA DAN GEJALA


Menurut Carpenito dan Keliat tanda dan gejalanya adalah:
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan
terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak
setelah mendapat terapi sinar pada kanker.

6
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya
segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri.
c. Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya
orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
d. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu
dengan orang lain, lebih suka sendiri.
e. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang
memilih alternatif tindakan.
f. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram,
mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

F. PSIKOPATOLOGI
Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya. Orang yang
siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak
kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan mempunyai niat untuk
melakukannya. Prilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 4 kategori :
1. Isyarat Bunuh Diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berprilaku secara tidak
langsung ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan:”tolong jaga anak-
anak karena saya akan pergi jauh!” atau” segala sesuatu akan lebih baik
tanpa saya.”
Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk
mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan
bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa
bersalah/sedih/marah/putus asa/tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan
hal-hal negative tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
2. Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut
mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi
seseorang tentang kematian, kurangnya respon positif dapat ditafsirkan
seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Ancaman bunuh diri pada umumnya diucapkan oleh pasien, berisi
keinginan untuk mati,disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan
dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien
telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan
percobaan bunuh diri.
3. Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh
individu yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah. Pada

7
kondisi ini pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri, minum
racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi
yang berat akibat suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya.
4. Bunuh Diri
Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan
atau terabaikan. Orang yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak
langsung ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak
diketahui tepat pada waktunya.

G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan medis
a. Memeriksa pasien yang berusaha bunuh diri.
b. Pada pasien dengan gangguan depresi berat mungkin diobati sebagai
pasien rawat jalan jika keluarganya dapat mengawasi mereka secara ketat
dan pengobatannya dapat dimulai secar cepat.
c. Proses terapi
1) Pendekatan Psikodinamika
2) Pendekatan Behavioral
3) Pendekatan Kognitif
4) Pendekatan Biologis
a) Kemoterapi (Chemotherapy)
b) Antianxiety Drugs, Anti Depressant, Antipsychotic
c) Electroconvulsive
d) Psychosurgery
2. Penatalaksanaan keperawatan
a. Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan
pada diri sendiri, dengan cara :
1) Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang, rendah.
2) Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup,
dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang bisa
mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.
b. Berikan lingkungan yang aman (safety) berdasarkan tingkatan resiko ,
managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi
1) Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan
didekat ruang perawatan yang mudah di monitor oleh perawat.
2) Mengidentifikasi dan mengamankan benda – benda yang dapat
membahayakan klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel
listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.

8
c. Membantu meningkatkan harga diri klien
1) Tidak menghakimi dan empati
2) Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
3) Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain
4) Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan
control impuls yang rendah
5) Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila
diindikasikan.
d. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
1) Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien
membutuhkan dukungan social yang adekuat
2) Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai
termasuk jejaring sosial yang bisa di akses.
3) Dorong klien untuk melakukan aktivitas social
e. Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positip.
1) Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
2) Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
3) Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi ‘ apa yang terjadi
sebelum anda memiliki pikiran bunuh diri’
4) Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
5) Explorasi perilaku alternative
6) Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai

ASUHAN KEPERAWATAN TEORI


A. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan utama dari proses keperawatan,
pengkajian mereflesksikan isi, proses dan informasi yang berhubungan dengan
kondisi bilogis, psikologis, sosial dan spiritual klien yang terdiri atas
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan masalah pasien ( Keliat, 2006 ).
Untuk menyaring data di perlukan format pengkajian yang didalamnya
berisi: identitas pasien, alasan masuk rumah sakit, faktor predisposisi,
pemeriksaan fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang,
mekanisme koping, masalah psikososial, lingkungan pengetahuan, maupun aspek
medik.

1. Identitas Klien
Meliputi Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan, dan dari penanggung jawab.
2. Keluhan utama dan alasan masuk

9
Keluhan utama atau alasan masuk ditanyakan pada keluarga/ klien, apa
yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke rumah sakit.
3. Faktor predisposisi
Faktor yang mempengaruhi harga diri, penampilan peran dan identitas diri.
4. Faktor presipitasi
Faktor internal dan eksternal : trauma dan ketegangan peran ( transisi peran
: perkembangan, situasi, dan sehat sakit ).
5. Aspek fisik
Mengukur dan mengobservasi TTV, ukur TB dan BB, aktivitas sehari-hari,
pola tidur, pola istirahat, rekreasi dan kaji fungsi organ tubuh bila ada
keluhan.
6. Aspek psikososial
a. Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi.
b. Konsep diri :
- Citra tubuh : Persepsi klien terhadap tubuhnya.
- Identitas diri : Status dan posisi klien sebelum dirawat
- Peran diri : Tugas yang diemban dalam keluarga
- Ideal diri : Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas dll.
- Harga diri : Hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan
penghargaan orang lain terhadap dirinya.
c. Hubungan social
Tanyakan orang yang paling berarti dalam hidup klien, tanyakan
upaya yang biasa dilakukan bila ada masalah, tanyakan kelompok apa
saja yang diikuti dalam masyarakat, keterlibatan atau peran serta
dalam kegiatan kelompok / masyarakat, hambatan dalam berhubungan
dengan orang lain, minat dalam berinteraksi dengan orang lain.
d. Spiritual
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah / menjalankan keyakinan,
kepuasan dalam menjalankan keyakinan.
7. Status mental
a. Penampilan
Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki apakah
ada yang tidak rapih, penggunaan pakaian tidak sesuai, cara
berpakaian tidak seperti biasanya, kemampuan klien dalam
berpakaian, dampak ketidakmampuan berpenampilan baik /
berpakaian terhadap status psikologis klien.

10
b. Pembicaraan
Amati pembicaraan klien apakah cepat, keras, terburu-buru, gagap,
sering terhenti / bloking, apatis, lambat, membisu, menghindar, tidak
mampu memulai pembicaraan.
c. Aktivitas motorik
a) Lesu, tegang, gelisah.
b) Agitasi : gerakan motorik yang menunjukan kegelisahan
c) Tik : gerakan-gerakan kecil otot muka yang tidak terkontrol
d) Grimasem : gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak
terkontrol klien
e) Tremor : jari-jari yang bergetar ketika klien menjulurkan tangan
dan merentangkan jari-jari
f) Kompulsif : kegiatan yang dilakukan berulang-ulang
d. Alam perasaan
a) Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan
b) Ketakutan : objek yang ditakuti sudah jelas
c) Khawatir : objeknya belum jelas
e. Afek
a) Datar : tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus
yang menyenangkan atau menyedihkan.
b) Tumpul : hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang sangat kuat
c) Labil : emosi klien cepat berubah-ubah
d) Tidak sesuai : emosi bertentangan atau berlawanan dengan
stimulus
f. Interaksi selama wawancara
a) Kooperatif : berespon dengan baik terhadap pewawancara
b) Tidak kooperatif : tidak dapat menjawab pertanyaan pewawancara
dengan spontan
c) Mudah tersinggung
1. Bermusuhan : kata-kata atau pandangan yang tidak
bersahabat atau tidak ramah
2. Kontak kurang : tidak mau menatap lawan bicara
3. Curiga : menunjukan sikap atau peran tidak percaya kepada
pewawancara atau orang lain.
g. Persepsi
Jenis-jenis halusinasi dan isi halusinasi, frekuensi gejala yang tampak
pada saat klien berhalusinasi.

11
h. Proses piker
a) Sirkumtansial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai pada
tujuan
b) Tangensial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai
pada tujuan
c) Kehilangan asosiasi : pembicaraan tidak ada hubungan antara satu
kalimat dengan kalimat lainnya
d) Flight of ideas : pembicaraan yang meloncat dari satu topik ke
topik yang lainnya.
e) Bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan dari luar
kemudian dilanjutkan kembali
f) Perseferasi : kata-kata yang diulang berkali-kali
g) Perbigerasi : kalimat yang diulang berkali-kali
i. Isi fikir
a) Obsesi : pikiran yang selalu muncul walaupun klien berusaha
menghilangkannya.
b) Phobia : ketakutan yang patologis / tidak logis terhadap objek /
situasi tertentu.
c) Hipokondria : keyakinan terhadap adanya gangguan organ tubuh
yang sebenarnya tidak ada.
d) Depersonalisasi : perasaan klien yang asing terhadap diri sendiri,
orang lain dan lingkungan.
e) Ide yang terkait : keyakinan klien terhadap kejadian yang terjadi
dilingkungan yang bermakna yang terkait pada dirinya.
f) Pikiran magis : keyakinan klien tentang kemampuannya
melakukan hal-hal yang mustahil atau diluar kemampuannya.
a. Tingkat kesadaran
a) Bingung : tampak bingung dan kacau ( perilaku yang tidak
mengarah pada tujuan).
b) Sedasi : mengatakan merasa melayang-layang antara sadar atau
tidak sadar
c) Stupor : gangguan motorik seperti kekakuan, gerakan yang
diulang-ulang, anggota tubuh klien dalam sikap yang canggung
dan dipertahankan klien tapi klien mengerti semua yang terjadi
dilingkungannya
d) Orientasi : waktu, tempat dan orang
e) Jelaskan apa yang dikatakan klien saat wawancara

12
b. Memori
a) Gangguan mengingat jangka panjang : tidak dapat mengingat
kejadian lebih dari 1 bulan.
b) Gangguan mengingat jangka pendek : tidak dapat mengingat
kejadian dalam minggu terakhir.
c) Gangguan mengingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian
yang baru saja terjadi.
d) Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan
memasukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan
daya ingatnya.
c. Tingkat konsentrasi
a) Mudah beralih : perhatian mudah berganti dari satu objek ke
objek lainnya.
b) Tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu minta agar pertanyaan
diulang karena tidak menangkap apa yang ditanyakan atau tidak
dapat menjelaskan kembali pembicaraan.
c) Tidak mampu berhitung : tidak dapat melakukan penambahan
atau pengurangan pada benda-benda yang nyata
d. Daya tilik diri
a) Mengingkari penyakit yang diderita : klien tidak menyadari
gejala penyakit (perubahan fisik dan emosi) pada dirinya dan
merasa tidak perlu minta pertolongan / klien menyangkal keadaan
penyakitnya, klien tidak mau bercerita tentang penyakitnya
b) Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain atau
lingkungan yang menyebabkan timbulnya penyakit atau masalah
sekarang
8. Kebutuhan persiapan pulang
a. Makan
Tanyakan frekuensi, jumlah, variasi, macam dan cara makan, observasi
kemampuan klien menyiapkan dan membersihkan alat makan.

b. Buang Air Besar dan Buang Air Kecil


Observasi kemampuan klien untuk Buang Air Besar (BAB) dan Buang
Air Kecil (BAK), pergi menggunakan WC atau membersihkan WC.
c. Mandi
Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi,
cuci rambut, gunting kuku, observasi kebersihan tubuh dan bau badan
klien.

13
d. Berpakaian
Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan
mengenakan pakaian, observasi penampilan dandanan klien.
e. Istirahat dan tidur
Observasi dan tanyakan lama dan waktu tidur siang atau malam,
persiapan sebelum tidur dan aktivitas sesudah tidur.
f. Penggunaan obat
Observasi penggunaan obat, frekuensi, jenis, dosis, waktu, dan cara
pemberian.
g. Pemeliharaan kesehatan
Tanyakan kepada klien tentang bagaimana, kapan perawatan lanjut,
siapa saja sistem pendukung yang dimiliki.
h. Aktivitas di dalam rumah
Tanyakan kemampuan klien dalam mengolah dan menyajikan
makanan, merapikan rumah, mencuci pakaian sendiri, mengatur
kebutuhan biaya sehari-hari.
i. Aktivitas di luar rumah
Tanyakan kemampuan klien dalam belanja untuk keperluan sehari-
hari, aktivitas lain yang dilakukan di luar rumah.
9. Mekanisme koping
Bila diberikan pilihan dengan bantuan minimal klien dapat menyelesaikan
masalah dengan bantuan perawat atau keluarga. Mekanisme koping pada
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression, dan magical thinking.
10. Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.
11. Pengetahuan
Dapat didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap bagian
yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.
12. Aspek medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa ECT, terapi lain seperti terapi
psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi
okupasi, dan terapi lingkungan, TAK, serta rehabilitasi ( Khaidir Muhaj,
2009 ).

14
B. ANALISA DATA
Diagnosa Data Subjektif Data Objektif
Resiko a. Mengatakan hidupnya tak a. Ekspresi murung
bunuh berguna lagi b. Tak bergairah
diri b. Ingin mati c. Ada bekas percobaan
c. Menyatakan pernah bunuh diri
mencoba bunuh diri d. Perubahan kebiasaan hidup
d. Mengancam bunuh diri e. Perubahan perangai
e. Mengatakan ada yang
menyuruh bunuh diri

Isriolasi a. Mengungkapkan tidak a. Ekspresi wajah kosong


social : berdaya dan tidak ingin b. Tidak ada kontak mata
Menarik hidup lagi ketika diajak bicara
di b. Mengungkapkan enggan c. Suara pelan dan tidak jelas
berbicara dengan orang
lain
c. Klien malu bertemu dan
berhadapan dengan orang
lain
Gangguan a. Mengungkapkan ingin a. Merusak diri sendiri
konsep diakui jati dirinya b. Merusak orang lain
diri : b. Mengungkapkan tidak c. Menarik diri dari hubungan
harga diri ada lagi yang peduli sosial
rendah c. Mengungkapkan tidak d. Tampak mudah
bisa apa-apa tersinggung
d. Mengungkapkan dirinya e. Tidak mau makan dan
tidak berguna tidak tidur
e. Mengkritik diri sendiri

C. MASALAH KEPERAWATAN
a. Resiko bunuh diri
b. Isolasi sosial : Menarik diri
c. Harga diri rendah

15
D. POHON MASALAH

Resiko Bunuh Diri


(Core Problem)

Isolasi sosial : Menarik diri

Harga diri rendah

Koping kelurga tidak efektif

E. DIAGNOSA EPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang diangkat berdasarkan pohon masalah adalah :
1. Resiko bunuh diri
2. Isolasi sosial : Menarik diri
3. Harga diri rendah

F. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa 1 : Resiko bunuh diri
Tujuan umum :
Klien dapat mengontrol tingkah laku bunuh diri
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau
berjabat tangan,mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk
berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi
Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik:
1) Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.
2) Perkenalkan diri dengan sopan.
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
4) Jelaskan tujuan pertemuan
5) Jujur dan menepati janji
6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7) Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

16
2. Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Kriteria evaluasi :
Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Tindakan :
a. Jauhkan klien dari benda-benda yang dapat membahayakan.
b. Tempatkan klien diruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
c. Awasi klien secara ketat setiap saat
3. Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Kriteria evaluasi :
Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan :
a. Dengarkan keluhan yang dirasakan klien.
b. Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan
keputusasaan.
c. Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaannya.
d. Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan
keinginan untuk hidup.
4. Klien dapat meningkatkan harga diri
Kriteria evaluasi :
Klien dapat meningkatkan harga dirinya
Tindakan :
a. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
b. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
c. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal : hubungan antar
sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).
5. Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan :
a. Ajarkan mengidentifikasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.
b. Bantu untuk mengenali hal-hal yang ia cintai dan yang ia sayangi dan
pentingnya terhadap kehidupan orang lain.
c. Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain.
6. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan dukungan sosial.
Tindakan :
a. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber eksternal individu.
b. Kaji sistem pendukung keyakinan yang dimiliki klien.

17
c. Lakukan rujukan sesuai indikasi (pemuka agama).
7. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan obat dengan tepat
Tindakan :
a. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping
minum obat).
b. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.
c. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan oleh
klien.
d. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

Diagnosa 2 : Harga diri rendah


Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi
a. Ekspresi wajah bersahabat
b. Ada kontak mata
c. Mau berjabat tangan
d. Mau menyebutkan nama
e. Mau duduk berdampingan dengan perawat
f. Mau mengutarakan masalah yang dihadapi
Tindakan :
a. Sapa ramah klien (verbal, non verbal)
b. Perkenalan diri dengan sopan
c. Tanya nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur, menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Beri klien perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien
2. Klien Dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang di miliki
Kriteria evaluasi :
a. Kemampuan yang dimiliki klien
b. Aspek positif keluarga
c. Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien
Tindakan :
a. Diskusikan kemampaun dan aspek positif yang dimiliki klien

18
b. Setiap bertemu klien, hindarkan memberi penilaian yang negatif
c. Utamakan memberi pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Kriteria evaluasi :
Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
a. Diskusikan dengan klien kemampian yang masih dapat di gunakan
selama sakit
b. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya
4. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan
yang di miliki
Kriteria Evaluasi :
Klien dapat membuat rencana kegiatan harian
Tindakan :
a. Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat di lakukan setiap hari
sesuai kemampuan : Kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan
sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total
b. Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi klien
c. Beri contoh cara pelaksanan kegiatan yang boleh di lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Kriteria Evaluasi:
Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan :
a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah di
rencanakan
b. Beri pujian atas keberhasilan klien
c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada dikeluarga.
Kriteria Evaluasi :
Kilen memanfaatkan sistem pendukung yang ada dikeluarga
Tindakan :
a. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
dengan Harga Diri Rendah.
b. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah.

19
Diagnosa 3 : Isolasi Sosial
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Kriteria Evaluasi :
Klien dapat menerima kehadiran perawat.

Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan prilaku menarik diri.
Kriteria Evaluasi :
f. Klien dapat menyebutkan penyebab/ alasan menarik diri.
Tindakan :
a. Kaji pengetahuan klien tentang menarik diri.
b. Diskusikan bersama klien tentang prilaku menarik diri.
c. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
3. Klien dapat mengetahui keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
Kriteria Evaluasi :
g. Klien dapat menebutkan 2 dari 3 manfaat berhubungan dengan orang
lain.
Tindakan :
a. Diskusikan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
b. Dorong dan bantu klien berhubungan dengan orang lain secara
bertahap.
c. Beri pijian terhadap kemampuan klien dalam menyebutkan manfaat
berhubungan dengan orang lain.
4. Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
Kriteria Evaluasi :
h. Klien dapat menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
a. Dorong klien untuk menyebutkan cara berhubungan dengan orang
lain.
b. Dorong dan bantu klien berhubungan dengan orang lain secara
bertahap.
c. Libatkan klien dalam kegiatan TAK dan ADL ruangan.
d. Reinforcement positif atas keberhasilan yang telah dicapai.

20
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan
orang lain.
Kriteria Evaluasi :
i. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan
orang lain : diri sendiri dan orang lain
Tindakan :
a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan
dengan orang lain.
b. Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang
lain.
c. Beri reinfircement positif atas kemampuan klien mengungkapkan
manfaat berhubungan dengan orang lain.
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga mampu
mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain.
Kriteria Evaluasi :
Keluarga dapat : menjelaskan perasaannya, menjelaskan cara merawat
klien menarik diri, mendemonstrasikan cara perawatan klien menarik diri,
berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri.
Tindakan :
a. Bisa berhubungan saling percaya dengan keluarga : salam perkenalkan
diri, sampaikan tujuan, buat kontrak, eksplorasi perasaan keluarga.
b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang : perilaku menarik diri,
penyebab perilaku menarik diri, akibat yang akan terjadi jika perilaku
menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi klien menarik
diri.
c. Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
untuk berkomunikasi dengan orang lain.
d. Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk
klien minimal 1 minggu sekali.
e. Beri reinforcement atas hal – hal yang telah dicapai oleh keluarga.

G. IMPLEMENTASI
Tindakan keperawatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan rencana
keperawatan yang telah disusun. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah
direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana
tindakan masih sesuai dengan kebutuhannya saat ini (here and now). Perawat
juga meniali diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal,
intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai

21
kembali apakah aman bagi klien, jika aman maka tindakan keperawatan boleh
dilaksanakan.

H. EVALUASI
1. Ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah berkurang
dalam sifat, jumlah asal atau waktu.
2. Klien menggunakan koping yang adaptif.
3. Klien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri.
4. Prilaku klien menunjukan kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi
dan kesejahteraan sosial.
5. Sumber koping klien telah cukup dikaji dan dikerahkan.

22
STRATEGI PELAKSANAAN PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah utama : Resiko bunuh diri


Hari/tanggal : 7 April 2015
Pertemuan ke : 1 (satu)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
a. Data Obyektif :
Tampak sedih dan gelisah, mudah marah, tidak dapat mengontrol
dirinya, ada isyarat untuk melakukan bunuh diri, pernah mencoba bunuh
diri.
b. Data Subyektif :
Merasa putus asa, merasa tidak bahagia, tidak mempunyai harapan lagi
untuk hidup, ingin mati saja karena tidak ada gunanya hidup.
2. Diagnosa keperawatan
Resiko bunuh diri

B. STATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Tujuan umum
Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
2. Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien mendapat perlindungan dari lingkungannya
c. Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam
atau mencoba bunuh diri
3. Tindakan keperawatan :
1) Sapa klien dengan ramah sambil berjabat tangan
2) Perkenalkan diri dengan pasien
3) Temani pasien sampai dia dapat dipindahkan ketempat yang aman
4) Jauhkan semua benda yanga berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, tali
pinggang)
5) Jelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak
ada keinginan bunuh diri
6) Eksplor keluhan yang dirasa klien
7) Beri dorongan untuk mengungkapkan harapannya
8) Masukkan dalam jadwal harian.
SP I : Percakapan untuk melindungi pasien dari isyarat bunuh diri

23
ORIENTASI
Salam terapeutik :
“Selamat pagi pak, Apakah benar ini Bapak.Y”
“Baiklah Pak.Y, perkenalkan nama saya adalah perawat x, saya biasa dipanggil
perawat x, saya bertugas pada shift pagi mulai pukul 07.00-14.00”.
Evaluasi dan validasi :
“Bagaimana perasaan bapak hari ini?”
“Saya akan selalu menemani bapak disini mulai dari pukul 07.00-14.00, nanti akan
ada perawat yang menggantikan saya untuk menemani bapak selama dirawat di
rumah sakit ini”.
Kontrak :
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang bapak rasakan selama ini,
saya siap mendengarkan sesuatu yang ingin bapak sampaikan”.
“Bagaimana kalau kita lakukan disini saja”.
“Jam berapa kita akan berbincang – bincang? Bagaimana kalau jam 13.00 setelah
makan siang pak?”.
KERJA
“Bagaimana perasaan bapak setelah kejadian itu terjadi”
“Apakah dengan kejadian tersebut bapak merasa paling menderita di dunia ini?”
“Apakah bapak kehilangan kepercayaan diri?”
“Apakah bapak merasa tidak berharga dan lebih rendah dari pada orang lain?”
“Apakah bapak sering mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi?”
“Apakah bapak berniat untuk menyakiti diri sendiri seperti ingin bunuh diri atau
berharap bapak mati?”
“Apakah bapak mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya?”
(Jika klien telah menyampaikan ide bunuh diri, segera memberikan tindakan untuk
melindungi klien)
“Baiklah tampaknya bapak memerlukan bantuan untuk menghilangkan keinginan
untuk bunuh diri. Saya perlu memeriksa seluruh kamar bapak untuk memastikan
tidak ada benda-benda yang membahayakan bapak”.
“Nah, karena bapak tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk
mengakhiri hidup bapak, maka saya tidak akan membiarkan bapak sendiri”.
“Apakah yang akan bapak lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul? Ya, saya
setuju. Bapak harus memaggil perawat yang bertugas di tempat ini untuk membantu
bapak. Saya percaya bapak dapat melakukannya”.
TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bincang – bincang selama ini?”
“Coba bapak sebutkan cara tersebut?”

24
“Bapak, untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan tentang meningkatkan
harga diri pasien isyarat bunuh diri. Jam berapa bapak bersedia bercakap-cakap
lagi? mau berapa lama? Bapak, mau dimana tempatnya?”

SP 1 Keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh Diri


ORIENTASI
“Assalamu’alaikum”
“Selamat pagi Ibu. Benar ini adalah suami dari Bapak.Y?”
“Kenalkan saya perawat x yang merawat suami Anda selama disini.”
“Sekarang kita akan mendiskusikan tentang tanda dan gejala bunuh diri dan cara
melindungi dari bunuh diri”.
“Dimana kita akan mendiskusikannya? Berapa lama bapak dan ibu ingin
mendiskusikannya?”
KERJA
“Apa yang ibu lihat dari perilaku suami ibu selama ini?”
“Ibu sebaiknya lebih sering memperhatikan tanda dan gejala bunuh diri. Pada
umumnya orang yang akan melakukan tindakan bunuh diri menunjukkan tanda
melalui percakapannya seperti “ saya tidak ingin hidup lagi”. Apakah pak.Y sering
mengatakannya bu?”
“Kalau ibu mendengarkan suami ibu berbicara seperti itu, maka sebaiknya ibu
mendengarkan secara serius. Pengawasan terhadap kondisi pak.Y perlu ditingkatkan,
jangan biarkan suami ibu mengunci diri di kamar. Ibu perlu menjauhkan benda
berbahaya seperti gunting, silet, gelas dan lain-lain. Hal ini sebaiknya perlu
dilakukan untuk melindungi bapak.Y dari bahaya dan memberi dukungan untuk tidak
melakukan tindakan tersebut.
“Usahakan 5 hari sekali ibu memuji dengan tulus”.
“Tetapi kalau sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya ibu mencari bantuan
orang lain. Apabila tidak dapat diatasi segeralah ke rumah sakit terdekat untuk
mendapatkan perawatan yang lebih serius. Setelah kembali ke rumah, ibu perlu
membantu bapak terus berobat untuk mengatasi keinginan bunuh diri”.
TERMINASI
Evaluasi Subjektif: ”Bagaimana ibu ada yang mau ditanyakan?”
Evaluasi objektif: “Ibu dapat mengulangi lagi cara-cara merawat anggota keluarga
yang ingin bunuh diri? Ya, Bagus. Jangan lupa untuk selalu mengawasi suami ibu ya
bu jika ada tanda-tanda keinginan bunuh diri segera menghubungi kami. Terima
kasih Ibu. Selamat Siang”.

25
STRATEGI PELAKSANAAN PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah utama : Resiko bunuh diri


Hari/tanggal : 10 April 2015
Pertemuan ke : 2 (dua)

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
a. Data Obyektif :
Sedih dan gelisah mulai berkurang, masih sedikit mudah marah, sudah
mulai bisa mengontrol dirinya, masih ada isyarat untuk melakukan
bunuh diri, pernah mencoba bunuh diri.
b. Data Subyektif :
Merasa putus asa, merasa tidak bahagia, harapan hidup muali tumbuh
lagi.
2. sDiagnosa keperawatan
Resiko bunuh diri

B. STATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Tujuan umum
Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
2. Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien mendapat perlindungan dari lingkungannya
c. Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam
atau mencoba bunuh diri
3. Tindakan keperawatan :
a. Sapa klien dengan ramah sambil berjabat tangan
b. Perkenalkan diri dengan pasien
c. Temani pasien sampai dia dapat dipindahkan ketempat yang aman

26
d. Jauhkan semua benda yanga berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, tali
pinggang)
e. Jelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai
tidak ada keinginan bunuh diri
f. Eksplor keluhan yang dirasa klien
g. Beri dorongan untuk mengungkapkan harapannya
h. Masukkan dalam jadwal harian.

SP 2 Percakapan untuk meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh diri


ORIENTASI
“Selamat pagi pak, masih ingat dengan saya?”
“Ya betul sekali. Bagaimana perasaan bapak saat ini?”
“Masih adakah dorongan mengakhiri kehidupan?”
“Baik, sesuai janji kita kemarin sekarang kita akan membahas tentang rasa syukur
atas pemberian Tuhan yang masih bapak miliki. Mau berapa lama?”
“Dimana?”
KERJA
“Apa saja dalam hidup bapak yang perlu disyukuri?”
“Siapa saja kira-kira yang sedih dan rugi kalau bapak meninggal?”
“Coba bapak ceritakan hal-hal yang baik dalam kehidupan bapak. Keadaan yang
bagaimana yang membuat bapak merasa puas?”
“Bagus. Ternyata kehidupan bapak masih ada yang baik yang patut bapak syukuri”.
“Coba bapak sebutkan kegiatan apa yang masih dapat bapak lakukan selama ini.
Bagaimana kalau bapak mencoba melakukan kegiatan tersebut, Mari kita latih”.
TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap?”
“Bisa sebutkan kembali apa-apa saja yang bapak patut syukuri dalam hidup bapak?”
“Ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan bapak jika terjadi dorongan
mengakhiri kehidupan. Bagus bapak.
“Coba bapak ingat lagi hal-hal lain yang masih bapak miliki dan perlu di syukuri!”
“Nanti jam 2 siang kita bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik”.
“Tempatnya dimana?”
“Baiklah, tetapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali segera hubungi
saya ya!”

SP II Keluarga: Perencanaan pulang bersama keluarga/Aktivitas di rumah


dengan pasien resiko bunuh diri
ORIENTASI

27
“Assalamu’alakum ibu, hari ini suami ibu sudah boleh pulang, maka sebaiknya kita
membicarakan jadwal bapak Y selama dirumah”
“Berapa lama kita bias diskusi?”
“Baik mari kita diskusikan.”
KERJA
“Ibu, ini jadwal bapak Y selama dirumah sakit, coba perhatikan, dapatkah dilakukan
dirumah?’ tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum
obatnya”
“Hal-hal yang perlu diperhatikanlebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh
bapak Y selama dirumah”.
“Kalau misalnya suami ibu mengatakan terus menerus ingin bunuh diri, tampak
gelisah dan tidak terkendali serta tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum
obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, tolong ibu sekeluarga
hubungi perawat di puskesmas terdekat dari rumah ibu, ini nomor telpon puskesmas
yang bisa di hubungi (0370) 140791.
TERMINASI
“Bagaimana ibu ada yang belum jelas?”
“Ini jadwal kegiatan harian suami ibu untuk dibawah pulang. Ini surat rujukan untuk
perawat di puskesmas Selaga Alas, jangan lupa kontrol ke puskesmas sebelum obat
habis atau ada gejala yang tampak”.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bunuh diri adalah suatu tindakan yang dapat merusak diri sendiri dan
dapat mengakibatkan kematian ,dan bahkan bisa menciderai orang lain.
Fokus pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh
diri adalah sebagai upaya untuk mengekspolasikan perasaanya kepada orang lain,
sehingga dengan fokus pelaksaan tersebut dapat mengatasi masalah isolasi sosial
dan juga masalah imefektif koping individu, sehingga dua masalah tersebut dapat
teratasi secara langsung.

3.2 Saran
Hendaknya perawat memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengetahui
ciri-ciri pasienyang mengalami resiko bunuh diri sehingga dapat mengantisipasi
terjadinya komplikasi dari pasien tersebut. Hendaknya perawat melibatkan
keluarga dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
jiwa.

28
DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino
Gondoutomo.2003
Carpenito, LJ (2008). Nursing diagnosis : Aplication to clinical practice, Mosby St
Louis.
Stuart, dkk 2006, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3 Jakarta : EGC
Sulistiyowati, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta : EGC
Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.
Bandung : RSJPBandung. 2000
Townsend, M. C, 2002, Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada
KeperawatanPsikiatti, Edisi 3 Jakarta : EGC
pada tanggal 6 April 2015 jam 15.00 WIB
Yansyah,R (2013) Strategi pelaksanaan resiko bunuh diri. Kalimantan. Diakses
melalui http://ahlinyajiwa.blogspot.com/2013/02/strategi-pelaksanaan-resiko-
bunuh-diri.html pada 6 April 2015 jam 15.40 WIB
Doni,E (2014) Asuhan keperawatan resiko bunuh diri. Jakata. Diakses melalui
http://erwandoni.blogspot.com/2014/02/asuhan-keperawatan-resiko-bunuh-
diri.html

29