Anda di halaman 1dari 7

1.

Rekombinasi DNA
Rekombinasi DNA merupakan teknik pemisahan dan penggabungan DNA dari satu
spesies dengan DNA dari spesies lain dengan tujuan mendapatkan sifat baru yang lebih
unggul. Berikut ini beberapa produk yang dihasilkan dari rekombinasi gen.

a. Pembuatan Insulin
Insulin ini dihasilkan dari rekombinasi DNA sel manusia dengan plasmid
bakteri E.Coli. Insulin yang dihasilkan lebih murni dan baik diterima oleh tubuh manusia
karena mengandung protein manusia dibandingkan dengan insulin yang disintesis dari
gen pankreas hewan.

b. Pembuatan Vaksin Hepatitis


Vaksin hepatitis dihasilkan dari rekombinan DNA sel manusia dengan sel
ragi Saccharomyces. Vaksin yang dihasilkan tersebut berupa virus yang dilemahkan dan
jika disuntikkan ke dalam tubuh manusia akan membentuk antibodi sehingga kebal
terhadap serangan hepatitis.

2. Fusi Sel
Istilah lain fusi sel dikenal dengan nama teknologi hibridoma. Fusi sel merupakan
peleburan dua sel yang berbeda menjadi satu kesatuan menjadi protein yang sangat
baik yang mengandung gen asli dari keduanya yang disebut hibridoma. Hibridoma sering
digunakan untuk memperoleh antibodi dalam pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.
Misalnya kita ambil contoh fusi sel manusia dengan sel tikus. Tujuan fusi tersebut ialah
menghasilkan hibridoma berupa antibodi yang mampu membelah dengan cepat. Sifat
tersebut didapatkan dari sel manusia berupa antibodi yang difusikan dengan sel kanker
tikus berupa mieloma yang mampu membelah dengan cepat.

3. Transfer Inti (Kloning)


Kloning merupakan suatu proses reproduksi yang bersifat aseksual untuk menciptakan
replika yang tepat bagi suatu organisme. Teknik kloning akan menghasilkan suatu
spesies baru yang secara genetik persis sama dengan induknya yang biasanya
dikerjakan di dalam laboratorium. Spesies baru yang dihasilkan tersebut disebut klon.
Klon tersebut diciptakan oleh suatu proses yang disebut transfer inti sel somatik.
Transfer inti sel somatik ini merupakan suatu proses yang mengacu pada transfer inti
dari sel somatik ke sel telur. Sel somatik tersebut adalah semua sel di tubuh kecuali
kuman. Adapun mekanismenya, inti sel somatik akan dihapus dan dimasukkkan ke
dalam telur yang tidak dibuahi yang memiliki inti yang telah dihapus. Telur dengan
intinya tersebut akan tetap dijaga hingga menjadi embrio. Embrio ini kemudian akan
ditempatkan di dalam ibu pengganti dan berkembang di dalam ibu pengganti.

Keberhasilan kloning adalah kloning pada domba “Dolly”. Domba Dolly direproduksi
tanpa bantuan domba jantan, melainkan diciptakan dari sebuah kelenjar susu yang
diambil dari seekor domba betina. Kelenjar susu dari domba finndorset dimanfaatkan
sebagai donor inti sel dan sel telur domba blackface sebagai resipien. Penggabungan
kedua sel tersebut memanfaatkan tegangan listrik 25 Volt yang pada akhirnya terbentuk
fusi antara sel telur domba blackface tanpa nukleus dengan sel kelenjar susu domba
finndorsat. Di dalam tabung percobaan hasil fusi ini akan berkembang menjadi embrio
yang selanjutnya akan dipindahkan ke rahim domba blackface. Sehingga spesies baru
yang dilahirkan ialah spesis dengan ciri yang identik dengan domba finndorset.

C. PROSES DAN TEKNIK REKAYASA GENETIKA


Secara sederhana proses rekayasa genetika dapat meliputi tahapan-tahapan berikut ini.
 Mengindetifikasikan gen dan mengisolasi gen yang diinginkan,
 Membuat DNA/AND salinan dari RNAd,
 Pemasangan cDNA pada cincin plasmid,
 Penyisipan DNA rekombinan kedalam tubuh/sel bakteri,
 Membuat klon bakteri yang mengandung DNA rekombinan,
 Pemanenan produk.
PROSES REKAYASA GENETIKA

Proses rekayasa genetika diatas, praktiknya mengadopsi prinsip dari teknik rekayasa
beikut ini.
1. Kloning Gen
Kloning gen merupakan tahapan awal dari rakayasa genetika. Adapun tahapan-tahapan
dalam kloning gen, diataranya pemotongan DNA menjadi fragmen-fragmen dengan
ukuran beberapa ratus hingga ribuan kb (kilobase), kemudian fragmen tersebut
dimasukkan ke dalam vektor bakteri untuk kloning. Berbagai macam vektor disesain
untuk membawa DNA dengan panjang yang berbeda. Setiap vektor hanya mengandung
satu DNA yang kemudian teramplifikasi membentuk suatu klon di dalam dinding bakteri.
Dari setiap klon sejumlah fragmen DNA akan diisolasi yang kemudian akan
diekspresikan. DNA rantai tunggal akan diubah menjadi rantai ganda dengan bantuan
DNA polimerase. Fragmen DNA yang dihasilkan selanjutnya dikloning ke dalam plasmid
untuk menghasilkan bank cDNA.

2. Sequensing DNA
Sekuensing merupakan teknik penentuan urutan basa suatu fragmen DNA yang
membutuhkan proses dan waktu yang lama. Saat ini proses ini sudah bersifat
automatis, dalam artian sekuensing yang dilakukan memungkinkan dalam skala industri
hingga ribu kilobasa per hari.

3. Amplifikasi gen secara in-vitro


Proses amplifikasi DNA untuk mensitesis komplementer suatu fragmen DNA yang
dimulai dari suatu rantai primer dikenal dengan teknik PCR (Polimerase Chain Reaction).

4. Konstruksi Gen
Setiap gen terdiri dari promotor (daerah yang bertanggungan jawab utuk transkripsi gen
yang berakhir pada wilayar terminator), gen pendanda dipilih (gen yang berperan
sebagai resistensi antibiotik yang membantu dalam memebedakan perubahan sel), dan
terimanator. Konstruksi gen mengandung sedikitnya daerah promotor, daerah transkrip,
dan daerah terminator. Oleh sebab itu, konstruksi gen kemudian disebut vektor
ekspresi.

Konstruksi gen mengimplikasikan penggunaan elemen-elemen seperti enzim restriksi


yang memotong DNA pada daerah spesifik, sistesis nukleotida secara kimiawi,
amplifikasi fragmen DNA secara in vitro menggunakan teknik PCR, serta menyambungn
fragmen DNA yang berbeda dengan ikatan kovalen menggunakan enzim ligase.
Kemudian fragmen tersebut ditambahkan dalam plasmid yang selanjutnya ditransfer ke
dalam bakteri membentuk klon bakteri. Klon bakteri ini akan diseleksi dan diamplifikasi.

Peambahan elemen dalam konstruksi gen bergantung pada tujuan eksperimen,


terutama dimana jenis sel konstruksi tersebut akan diekspresikan.

5. Transfer gen ke dalam sel


Suatu gen hasil isolasi dapat ditranskripsikan secara in vitro dan mRNA nya juga dapat
ditranskripsikan pada suatu sistem bebas sel. Untuk dikodekan secara efektif dan
ditranslasikan menjadi protein, suatu gen harus ditransfer ke dalam sel yang secara
alami dapat mengandung semua faktor yang diperlukan dalam proses transkripsi dan
translasi. Transfer gen sendiri dalam praktiknya terdiri atas variasi teknik, diantaranya
fusi sel, penggunaan senyawa kimia, elektroporasi, mikroinjeksi, dan injeksi
menggunakan vektor virus.

D. MANFAAT REKAYASA GENETIKA


Perkembangan rekayasa genetika memberikan banyak manfaat bagi manusia dalam
berbagai aspek kehidupan. Adapun manfaat rekayasa genetika jika ditinjau berdasarkan
aspeknya, meliputi:
1. Bidang Industri
Di bidang industri, prinsip rekayasa genetika dimanfaatkan dalam upaya pengkloningan
bakteri untuk beberapa fungsi tertentu seperti melarutkan logam-logam langsung dari
dalam bumi, menghasilkan bahan mentah kimia seperti etilen yang diperlukan untuk
pembuatan plastik, menghasilkan bahan kimia yang digunakan sebagai pemanis pada
pembuatan berbagai macam minuman, dan lain sebagainya.

2. Bidang Farmasi
Dalam bidang farmasi, rekayasa genetika dimanfaatkan dalam usaha pembuatan
protein yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan. Protein ini merupakan gen hasil
pengkloningan bakteri yang berperan dalam mengongtrol sintesis obat-obatan yang jika
diproduksi secara alami akan membutuhkan biaya yang mahal.

3. Bidang Kedokteran
Lahirnya rekayasa genetika memberikan banyak manfaat dalam perkembangan ilmu
medis, diantaranya:
a. Pembuatan Insulin
Insulin yang dulunya disintesis hewan mamalia sudah dapat dihasilkan dengan
melakukan pengkloningan bakteri. Insulin yang dihasilkan ini pun jauh lebih baik dan
lebih dapat diterima oleh tubuh manusia dibandigkan insulin yang disintesis dari hewan.

b. Pembuatan Vaksin terhadap Virus AIDS


Mengingat AIDS merupakan virus yang berbahaya dan dapat menyerang sistem
kekebalan tubuh, maka dalam upaya pencegahan penyakit tersebut peneliti membuat
suatu vaksin memanfaatkan rekayasa genetika dalam upaya proteksi diri terhadap
penularan virus AIDS.

c. Terapi Gen
Rekayasa genetika juga dimanfaatkan dalam upaya terapi kelainan genetik dengan
disisipkannya beberapa gen duplikat secara langsung ke dalam sel seseorang yang
mengalami kelainan genetis.

4. Bidang Pertanian
Di bidang pertanian, rekayasa genetika banyak dimanfaatkan dalam upaya penyisipan
gen ke dalam sel sel tumbuhan sehingga memberikan banyak keuntungan seperti:
 Menghasilkan tanaman yang mampu menangkap cahaya dengan lebih efektif untuk
meningkatkan efisiensi fotosintesis.
 Menghasilkan tanaman yang mampu menghasilkan pestisida sendiri.
 Menggantikan pemakaian pupuk nitrogen yang mahal namun banyak digunakan dengan
melakukan fiksasi nitrogen secara alamiah seperti pada tanaman padi.
 Dapat digunakan untuk menadapatkan tanaman baru yang lebih menguntungkan lewat
pencangkokan gen, seperti pada golongan solanaceae.

5. Bidang Peternakan
Serupa halnya dengan pemanfaatan rekayasa genetika di bidang pertanian, di bidang
peternakan juga dilakukan penyisipan gen ke dalam sel-sel hewan tertentu dengan
menerapkan prinsip rekayasa genetika. Hewan yang paling banyak digunakan ialah
sapi. Rekayasa di bidang peternakan memberikan banyak manfaat, seperti:
 Diperoleh vaksin yang dapat mencegah mencret ganas pada anak babi.
 Diperoleh vaksin yang efektif terhadap penyakit kuku dan mulut, yang merupakan
penyakit ganas dan menular pada sapi, domba, kambing, rusa dan babi.
 Sedang dilakukan pengujian hormone pertumbuhan tertentu untuk sapi yang diharapkan
dapat meningkatkan produksi susu.

E. DAMPAK REKAYASA GENETIKA


Rekayasa genetika sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengertahuan di
berbagai bidang kehidupan. Namun, penggunaan rekayasa genetika tidak memberikan
keuntungan semata melainkan juga timbul dampak tertentu yang tidak diinginkan.
Adapun dampak dari penerapan rekayasa genetika diantaranya, meliputi:
Tanaman transgenik tertentu dapat memungkinkan keracunan, alergi, perbedaan nutrisi
dan komposisi, serta adanya kemungkinan menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia
menjadi resisten terhadap antibiotik tertentu.

Terlepasnya organisme transgenik di alam bebas tanpa pengawasan dapat


menghasilkan pencemaran biologis yang berdampak pada terganggunya ekosistem dan
meningkatnya prevalensi penyakit tertentu.

Menyisipkan DNA atau gen organisme lain yang tidak berkerabat, dianggap sebagai
pelanggaran terhadap hukum alam dan masih sulit di terima oleh masyarakat. Oleh
sebab itu, rekayasa genetika yang dilakukan pada manusia dianggap sebagai
penyimpangan moral dan pelanggaran etik.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa rekayasa genetika tidak selalu memberikan manfaat
dalam penerapannya. Berbagai dampak merugikan juga dapat timbul yang akan sangat
mempengaruhi kehidupan. Oleh sebab itu, penggunaan rekayasa genetika harus sangat
bijak dalam upaya meminimalisir dampak negatif dari rekayasa genetika.