Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TERSTRUKTUR

MANAJEMEN TERNAK POTONG

“Manajemen Pemilihan Bibit Sapi Potong”

Disusun Oleh :

Nama : FINA LISTIANA

NIM : D1A016163

Kelas : A 2016

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Daging sapi merupakan salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat di Indonesia. Kebutuhan daging sapi sebagai salah sau sumber pemenuhan gizi
semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya
gizi yang bersumber dari protein hewani yang seimbang. Hal tersebut merupakan kemajuan
yang perlu diimbangi dengan upaya pemenuhan kebutuhan daging di Indonesia. Salah satu
upaya untuk memenuhi kebutuhan daging yaitu dengan meningkatkan produksi, populasi
dan produktivitas sapi potong.

Salah satu faktor produksi yang perlu diperhatikan yaitu manajemen pemelihan bibit sapi
potong. Pemilihan bibit akan menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya
mendukung terpenuhinya kebutuhan daging sapi, sehingga diperlukan upaya yang maksimal
dalam pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelanjutan. Untuk menjamin
ketersediaan sapi potong dan menjamin keberlanjutannya maka dibutuhkan bibit sapi potong
yang berkualitas secara berkesinambungan.

Kemampuan penyediaan atau produksi bibit sapi potong di nusantara masih sangat perlu
ditingkatkan dari segi kualitas maupun kuantitas. Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut perlu
adanya partisipasi dan kerjasama antara pemerintah, masyarakat peternak dan stakeholders
terkait. Pemerintah mendorong dan membina usaha pembibitan sapi potong secara menyeluruh
baik pada usaha peternakan rakyat, swasta, maupun di Unit Pelaksana Teknis milik pemerintah.
Salah satu pelaku usaha pembibitan yaitu peternak, peternak memiliki peranan yang penting
dalam penyediaan bibit nasional karena lebih dari 95% sapi potong dimiliki dan dipelihara
oleh masyarakat tersebut. Dalam pengembangan pembibitan sapi potong masih perlu perbaikan
manajemen antara lain pemuliabiakan ternak yang terarah dan berkesinambungan sehingga
mampu memproduksi bibit sesuai standar yang ada.

Pemilihan bibit sapi potong perlu mendapat perhatian khusus agar menghasilkan bibit
terbaik. Untuk memperoleh bibit ternak berkualitas unggul dan bermutu tinggi diperlukan
proses yang tepat dalam manajemen pemeliharaan, pemuliabiakan (breeding), pakan dan
kesehatan hewan ternak. Produksi bibit ternak tersebut diarahkan agar dapat menghasilkan
bibit ternak yang memenuhi persyaratan mutu untuk didistribusikan dan dikembangkan lebih
lanjut oleh instansi pemerintah, masyarakat maupun badan usaha lainnya yang memerlukan
dalam upaya pengembangan peternakan secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pakan hijauan dapat berpengaruh terhadap kadar lemak susu ?
2. Bagaimana pemberian hijauan yang baik untuk meningkatkan kualitas susu dilihat dari
kadar lemaknya ?
II. PEMBAHASAN

Perbibitan sapi nasional dalam sistem produksinya masih tergantung pada petemakan
rakyat baik bibit sapi betina maupun sapi jantan. Bibit sapi jantan terbanyak masih berupa
pejantan untuk di kawin silang dan sebagian kecil berupa semen beku yang dihasilkan BIB
Lembang dan BIB Singosari. Pejantan unggul yang digunakan untuk menghasilkan semen
beku masih bergantung pada sapi-sapi jantan import. Untuk pejantan sapi lokal, semen sapi
yang diproduksi yaitu sapi Bali, sapi Madura dan sapi Ongole. Hanya pejantan sapi Bali yang
merupakan hasil seleksi melalui program P3Bali. Perdagangan sapi bibit lebih banyak secara
regional dan penghargaannya sama dengan semua sapi yaitu hanya didasarkan pada bobot
hidup, belum ada ukuran mutu genetik yang riil. Perdagangan bibit sapi antar pulau hanya
didasarkan pada tinggi pundak. Sebenarnya dilihat dari program pada tingkat makro, pola
pengembangan pembibitan sapi pedaging nasional sudah cukup bagus. Akan tetapi uraian
pelaksanaannya dalam program ditingkat yang lebih rendah masih sangat tertinggal dan kurang
operasional. Program-program yang ada masih terlalu berorientasi pada proyek dan
pemerataan, sehingga tidak menghasilkan pertisipasi petemakan dan tidak muncul kreativitas
kearah kemandirian (Siregar,2000).
Untuk memperoleh bibit ternak yang unggul diperlukan sistem pemeliharaan yang baik.
Pemeliharaan persiapan yang harus dilakukan sebelum memulai memelihara ternak sapi
potong adalah membersihkan kandang dengan desinfeksi. Demikian juga dalam penggunaan
alat harus memenuhi baik faktor higienis, keamanan ternak maupun efisiensi.
Induk yang sedang bunting sama dengan sapi yang sedang berproduksi, membutuhkan
makanan yang cukup mengandung protein, mineral dan vitamin. Induk bunting harus
dipisahkan dengan kelompok sapi yang tidak bunting dan pejantan. Semua induk bunting
hendaknya dikumpulkan menjadi satu. Apabila sudah dekat masa melahirkan harus dipisahkan
di kandang tersendiri yang bersih, kering, dan terang. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah
lantai kandang yang harus diberi alas dengan dengan jerami atau rumput. Jika “pedet” (anak
sapi umur 0 – 8 bulan) sewaktu membersihkan lendir pada tubuh, peternak harus menekan-
nekan dada pedet untuk merangsang pernapasan. Selanjutnya tali pusar dipotong, disisakan
sepanjang 10 cm dan diberi desinfektan dengan yodium tincture 10 persen. Tiga puluh menit
sesudah lahir, biasanya pedet sudah mulai bisa berjalan dan menyusu pada puting induk.
Tempat dimana pedet itu berbaring harus diberi alas jerami atau rumput kering yang bersih dan
hangat.
Menurut (Anonimb 2010), ada 3 cara pemeliharaan sapi antara lain sebagai berikut :
1. Pemeliharaan Secara Ekstensif
Pemeliharaan sapi secara ekstensif biasanya terdapat di daerah-daerah yang mempunyai
padang rumput yang luas, seperti di Nusa tenggara, Sulawesi selatan, dan Aceh. Sepanjang hari
sapi digembalakan di padang penggembalaan, sedangkan pada malam hari sapi hanya
dikumpulkan di tempat-tempat tertentu yang diberi pagar, disebut kandang terbuka.

2. Pemeliharaan Secara Intensif


Pemeliharaan secara intensif yaitu ternak dipelihara secara terus menerus di dalam kandang
sampai saat dipanen sehingga kandang mutlak harus ada. Seluruh kebutuhan sapi disuplai oleh
peternak, termasuk pakan dan minum. Aktivitas lain seperti memandikan sapi juga dilakukan
serta sanitasi dalam kandang.
3. Pemeliharaan Secara Semi Intensif
Pemeliharaan sapi secara semi intensif merupakan perpaduan antara kedua cara pemeliharaan
secara ekstensif. Jadi, pada pemeliharaan sapi secara semi intensif ini harus ada kandang dan
tempat penggembalaan dimana sapi digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada
malam hari.
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diungkapkan dari perumusan masalah pada


laporan Praktek KeIja Lapangan ini adalah:
• Pemilihan bibit sapi potong untuk penggemukan harus mengenali hentuk
sapi dari fisik luamya agar diperoleh daging yang optimal.
• Petemak hams mengetahui pada umur herapa sapi potong tepat untuk
dipelihara, herapa lama pemeliharaannya dan kapan sapi harus dijual.
Saran yang dapat diungkapkan selama Praktek KeIja Lapangan adalah
sebagai herikut:
• Menentukan penilaian fisik luar sapi potong sebaiknya menggunakan
perbandingan lebih dari dua ekor sapi supaya lebih mudah.
• Menejemen kesehatan sapi sebaiknya lebih diperhatikan.
• Sanitasi kandang sapi harus lebih diperhatikan lagi.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
a. Sapi potong merupakan jenis ternak yang mempunyai nilai jual tinggi diantara ternak – ternak
lainnya. Pada umumnya masyarakat membutuhkan hewan ini untuk di konsumsi, karena
kandungan protein yang tinggi. Laju pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut
ketersediaan daging yang juga meningkat. Oleh karena itu usaha sapi potong merupakan salah
satu usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
b. Dalam usaha ternak sapi potong, ada beberapa tahap untuk menghasilkan sapi-sapi yang
mempunyai produktifitas tinggi, diantaranya dengan mengetahui tatalaksana perkandangan
yang sesuai, pakan yang cukup, tatalaksana reproduksi , tatalaksana penggemukan, pasca panen
serta pemasarannya.
DAFTAR PUSTAKA

Siregar, A.R., K. Diwyanto., G. Putu., C. Talib., H. Panjaitan. 2000. Pola Pengembangan Bibit
Sapi Potong di Indonesia (Pengadaan Pejantan Unggul)