Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

“PROLAPSUS UTERI”

DISUSUN OLEH :

ANNISA’USH SHOLIHAH ( 201706009 )

AYU GALUH PUSPITASARI ( 201706013 )

DAYA PRATAMA ( 201706018 )

NUNING RAHAYU ( 201706045 )

SRI SISTARI WAHYU N ( 201706060 )

PROGRAM PROFESI NERS

STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN

2017 / 2018
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan acara penyuluhan (SAP) prolapsus uteri di Poli Kandungan dan


Poli Asih RSUD dr Soedono Madiun yang telah disusun oleh mahasiswa dari
Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun sebaga salah atu tugas praktik keperawatan
maternitas yang telah disetujui oleh :

Madiun, Oktober 2017

Pembimbing Pembimbing
Akademik Ruangan

( (
) )
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Pokok Bahasan : Prolapsus uteri

Sub Pokok Bahasan : Prolapsus uteri

Sasaran : Pasien dan keluarga di poli kandungan di


RSUD dr. Soedono Madiun
Kompetensi Dasar : Saran mengetahui apa itu prolaps uteri
Tempat : Di poli kandungan dan poli asih
Waktu : 30 menit
Penyaji Materi : Mahasiswa Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun

I. TUJUAN
A. Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan
peserta dapat mengerti, memahami tentang apa itu porlapsus uteri
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 30 menit, diharapakan
peserta mampu :
1. Peserta mengetahui tentang pengertian prolapsus uteri
2. Peserta mengetahui tentang etiologi prolapsus uteri
3. Peserta mengeta gejala prolapsus uteri
4. Peserta mengetahui tentang komplikasi prolapsus uteri
5. Peserta mengetahui tentang pencegahan prolapsus uteri
6. Peserta mengetahui tentang pengobatan prolapsus uteri
II. MANFAAT
1. Mengetahui tentang pengertian prolapsus uteri
2. Mengetahui tentang etiologi prolapsus uteri
3. Mengetahui gejala prolapsus uteri
4. Mengetahui tentang komplikasi prolapsus uteri
5. Mengetahui tentang pencegahan prolapsus uteri
6. Mengetahui tentang pengobatan prolapsus uteri

III. METODE
1. Ceramah tentang konsep prolapsus uteri
2. Diskusi dan Tanya jawab

IV. MEDIA
1. Leaflet
V. Langkah Penyuluhan

Langkah Kegiatan Waktu


Pendahuluan 1. Mengucapkan salam dan perkenalan 5 menit
2. Mengadakan kesepakatan dan kontrak dalam penyuluhan
3. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien tentang prolasus uteri
4. Menjelaskan tujuan umum dan khusus
Inti 1. Menjelaskan tentang pengertian prolapsus uteri 15 menit
2. Menjelaskan tentang etiologi prolapsus uteri
3. Menjelaskan gejala prolapsus uteri
4. Menjelaskan tentang komplikasi prolapsus uteri
5. Menjelaskan tentang pencegahan prolapsus uteri
6. Menjelaskan tentang pengobatan prolapsus uteri

Penutup 1. Menyimpulkan hasil penyuluhan 10 menit


2. Menanyakan kembali kepada pasien tentang materi penyuluhan yang
telah dibahas
3. Menutup promosi kesehatan dan member salam
VI. MATERI
PROLAPSUS UTERI

A. PENGERTIAN

Prolapsus uteri adalah keadaan yang terjadi akibat otot penyangga uterus

menjadi kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser kebawah dan dapat

menonjol keluar dari vagina (Widjanarko, 2009).

B. ETIOLOGI

Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan

penyulit, merupakan penyebab prorapsus genetalis, dan memperburuk prolaps

yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan pada janin pada pembukaan

yang belum lengkap, perasat crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta,

dan sebagainya. Jadi, tidaklah mengherankan jika prolapsus genatalia dapat

terjadi segera sesudah partus atau dalam masa nifas. Ascites dan tumor-tumor di

daerah pelvis mempermudah terjadinya prolapsus genetalis. Bila prolapsus uteri

dijumpai pada nulipara, faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa

kelemahan jaringan penunjang uterus.

C. GEJALA

Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:

1. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia

eksterna.
2. Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita

berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang.

3. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:

a. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari, kemudian

bila lebih berat juga pada malam hari.

b. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya

c. Stress incontinence, yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk,

mengejan.Kadang-kadang dapat terjadi retensio urinae pada sistokel yang

besar sekali.

4. Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:

a. Obstipasi karena faeses berkumpul dalam rongga rektokel

b. Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada rektokel dari vagina.

5. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut :

a. Pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan

dan bekerja. Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai

luka dan dekubitus pada portio uteri.

b. Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena

infeksi serta luka pada portio uteri.

6. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa

penuh di vagina.
D. KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat menyertai prolapsus uteri adalah :

1. Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri.

2. Dekubitus

3. Hipertrofi serviks uteri dan elangasio kolli

4. Gangguan miksi dan stress incontinence

5. Infeksi jalan kencing

6. Kemandulan

7. Kesulitan pada waktu partus

8. Haemorroid

9. Inkarserasi usus halus

E. PENCEGAHAN

1. Pemendekan waktu persalinan, terutama kala pengeluaran dan kalau perlu

dilakukan elektif (umpama ekstraksi forseps dengan kepala sudah di dasar

panggul), membuat episiotomi, memperbaiki dan mereparasi luka atau

kerusakan jalan lahir dengan baik, memimpin persalinan dengan baik agar

dihindarkan penderita meneran sebelum pembukaan lengkap betul,

menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta (perasat crede), mengawasi

involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat, serta mencegah atau
mengobati hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan intraabdominal seperti

batuk-batuk yang kronik.

2. Menghindari mengangkat benda-benda yang berat.

3. Menganjurkan agar penderita jangan terlalu banyak punya anak atau sering

melahirkan.

F. PENGOBATAN

1. Pengobatan Medis

a. Latihan-latihan otot dasar panggul

Latihan ini sangat berguna pada prolapsus enteng, terutama yang

terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk

menguatkan otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi

miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan.

Caranya : Penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan dasar

panggul seperti biasanya setelah selesai berhajat, atau penderita disuruh

membayangkan seolah-olah sedang mengeluarkan air kencing dan tiba-

tiba menghentikannya. Latihan ini bisa menjadi lebih efektif dengan

menggunakan perineometer menurut Kegel. Alat ini terdiri atas obturator

yang dimasukkan kedalam vagina, dan yang dengan suatu pipa

dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan demikian, kontraksi otot-

otot dasar panggul dapat diukur.

b. Stimulasi otot-otot dengan alat listrik


Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan

alat listrik, elektrodenya dapat dipasang dalam pressarium yang

dimasukkan ke dalam vagina.

c. Pengobatan dengan pessarium

Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni

menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh karena jika pessarium

diangkat, timbul prolapsus lagi.

Prinsip pemakaian pessarium:

Alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas,

sehingga vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati

vagina bagian bawah. Jika pessarium terlalu kecil atau dasar panggul

terlalu lemah, pessarium akan jatuh dan prolapsus uteri akan timbul lagi.

Pessarium yang paling baik adalah pessarium cincin, terbuat dari plastik.

Jika dasar panggul terlalu lemah dapat digunakan pessarium Napier, yang

terdiri dari suatu gagang (steam) dengan ujung atas suatu mangkok (cup)

dengan beberapa lobang dan diujung bawah 4 tali. Mangkok ditempatkan

di bawah serviks dan tali-tali dihubungkan dengan sabuk pinggang untuk

memberi sokongan kepada pessarium. Sebagai pedoman untuk mencari

ukuran yang cocok, diukur dengan jari jarak antara forniks vagina dengan

pinggir atas introitus vaginae, ukuran tersebut dikurangi dengan 1 cm

untuk mendapat diameter dari pessarium yang akan dipakai. Pessarium


diberi zat pelicin dan dimasukkan miring sedikit ke dalam vagina. Setelah

bagian atas masuk kedalam vagina, bagian tersebut ditempatkan ke forniks

vagina posterior. Apabila pessarium tidak dapat dimasukkan, sebaiknya

dipakai pessarium dari karet dengan per di dalamnya. Pessarium ini dapat

dikecilkan dengan menjepit pinggir kanan dan kiri antara 2 jari, dan

dengan demikian lebih mudah dimasukkan ke dalam vagina. Untuk

mengetahui setelah dipasang, apakah ukurannya cocok, penderita disuruh

batuk atau mengejan. Jika pessarium tidak keluar, penderita di suruh jalan-

jalan, apabila ia tidak meras nyeri, pessarium dapat dipakai terus.

Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja penderita

diawasi secara teratur. Periksa ulang sebaiknya dilakukan 2-3 bulan sekali;

vagina diperiksa inspekulo untuk menentukan ada tidaknya perlukaan;

pessarium dibersihkan dan disucihamakan, dan kemudian dipasang

kembali. Apabila pessarium dibiarkan dalam vagina tanpa pengawasan

yang teratur, dapat timbul komplikasi ulserasi, dan terpendamnya sebagian

dari pessarium dalam dinding vagina, malahan bisa terjadi fistula

vesikovaginalis atau fistula rektovaginalis.

Kontraindikasi pemakaian pessarium: Adanya radang pelvis akut atau

subakut dan karsinoma.

Indikasi penggunaan pessarium :


a. Kehamilan

b. Bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi

c. Sebagai terapi tes, menyatakan bahwa operasi harus dilakukan

d. Penderita menolak untuk dioperasi, lebih suka terapi konsevatif

e. Untuk menghilangkan simptom yang ada, sambil menunggu waktu

operasi dapat dilakukan.

2. Pengobatan Operatif

Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari

beberapa faktor seperti umur penderita, keinginanya untuk masih

mendapatkan anak atau untuk mempertahankan uterus, tingkat prolapsus dan

adanya keluahan.

Macam-Macam Operasi

1. Ventrofiksasi

Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih menginginkan anak

dilakukan operasi untuk membuat uterus ventrofiksasi dengan cara

memendekkan ligamentum rotundum atau mengikatkan ligamentum

rotundum ke dinding perut atau dengan cara operasi Purandare.

2. Operasi Manchester

Pada operasi ini biasanya dilakukan amputasi serviks uteri, dan penjahitan

ligamentum kardinale yang telah dipotong, di muka serviks; dilakukan

pula kolporafia anterior dan kolpoperineoplastik. Amputasi serviks


dilakukan untuk memperpendek serviks yang memanjang (elo ngasio

kolli). Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas, abortus, partus

prematurus, dan distosia servikalis pada persalinan. Bagian yang penting

dari operasi Manchester adalah penjahitan ligamentum kardinale didepan

serviks karena dengan tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek,

sehingga uterus akan terletak dalam posisi anteversifleksi dan turunnya

terus dapat dicegah.

3. Histerektomi vaginal

Opersi ini tepat untuk dilakukan pada prolapsus uteri dalam tingkat lanjut,

dan pada wanita yang telah menopause. Setelah uterus diangkat, puncak

vagina digantungkan pada ligamentum rotundum kanan kiri atas pada

ligamentum infundibulo pelvikum, kemudian operasi akan dilanjutkan

dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi untuk mencegah prolaps

vagina dikemudian hari.

4. Kolpokleisis (opearsi Neugebauer-Le Fort)

Pada waktu obat-obat serta pemberian anestesi dan perawatan pra/pasca

operasi belum baik untuk wanita tua yang seksual tidak aktif lagi dapat

dilakukan operasi sederhana dengan menjahitkan dinding vagina depan

dengan dididing belakang, sehingga lumen vagina tertutup dan uterus

terletak di atas vagina. Akan tetapi operasi ini tidak memperbaiki sistokel
dan rektokelnya sehingga dapat menimbulkan inkontinensia urine,

obstipasi serta keluhan prolaps lainnya juga tidak hilang.

VII.Evaluasi
Pertanyan :
1. Apa yang dimaksud dengan prolpsus uteri?
Jawaban :
Prolapsus uteri adalah keadaan yang terjadi akibat otot penyangga uterus

menjadi kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser kebawah dan

dapat menonjol keluar dari vagina (Widjanarko, 2009).

2. Sebutkan penyebab prolapsus uteri?


Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan

penyulit, merupakan penyebab prorapsus genetalis, dan memperburuk

prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan pada janin pada

pembukaan yang belum lengkap, perasat crede yang berlebihan untuk

mengeluarkan plasenta, dan sebagainya. Jadi, tidaklah mengherankan jika

prolapsus genatalia dapat terjadi segera sesudah partus atau dalam masa

nifas. Ascites dan tumor-tumor di daerah pelvis mempermudah terjadinya

prolapsus genetalis. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nulipara, faktor

penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan

penunjang uterus.

3. Sebutkan penanganan atau pengobatan untuk prolaps uteri


Pengobatan Medis
Latihan-latihan otot dasar panggul
Stimulasi otot-otot dengan alat listrik
Pengobatan dengan pessarium
Pengobatan Operatif
Macam-Macam Operasi
Ventrofiksasi
Operasi Manchester
Histerektomi vaginal
Kolpokleisis (opearsi Neugebauer-Le Fort)
DAFTAR PUSTAKA

Sulistyawati, Ari. 2009. Buku ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas.Yogyakarta.
Penerbit Andi

Rohani, Reni saswita, Marisah. 2010. Asuahan Kebidanan pada Masa Persalinan.
Yogyakarta. Salemba Medika

Mengetahui,

Pembimbing Ruangan Poli


Kandungan

(
)