Anda di halaman 1dari 5

ARYENTI WULANDARI 030870944

TUGAS 1

Banyak orang berpendapat bahwa sebenarnya fear of


crime itu sangat perseptual, tergantung bagaimana
individu yang bersangkutan mengukur kerentanan dirinya
untuk menjadi korban kejahatan. Setiap orang mempunyai
saat-saat rawan dalam kehidupannya dan pelaku tidak
boleh melakukan kejahatan hanya karena adanya saat-saat
rawan tersebut.

1. Dapatkah Anda menjelaskan pernyataan


tersebut dengan dilengkapi contoh ilustrasi
Anda agar jawaban Anda lebih jelas?

Jawaban :

Penelitian James Garofalo dalam The Fear Of


Cream: Causes and Consequenses. Journal of
criminal law and criminology (1973) vol. 7 no. 2 hal.
839-857. Pada penelitian yang di paparkan oleh
Garofalo adalah mencari sebab akibat tentang rasa
takut akan kejahatan. Garofalo menjelaskan rasa
takut sebagai reaksi emosional ditandai dengan rasa
bahaya dan kecemasan, hubungan rasa takut
dengan kerugian adalah reaksi yang ditimbulkan
atas potensi kerugian material dan potensi bahaya
fisiknya (rasa kuatir).
Lebih lanjut dijelaskan Garofalo, dalam
konseptualisasi dan pengukuran rasa takut akan
kejahatan bahwa individu harus tetap menjaga dan
mengingat perbedaan antara ketakutan yang nyata
dan antisipasi terhadap ketakutan.pengukuran yang
memadai dari takut akan kejahatan tidak hanya jenis
situasi dimana orang akan mengalami rasa takut,
tetapi juga seberapa sering mereka menemukan diri
mereka dalam situasi tersebut dan seberapa kuat
mereka bereaksi terhadap situasi tersebut di masa
lalu. Dijelaskan oleh Garofalo (1981) dalam jurnal
tersebut adalah dengan membedakan rasa takut
akan kejahatan dalam beberapa hal, yaitu:
a) Kekuatiran tentang kejahatan sebagai
masalah social atau politik
b) Persepsi tingkat kejahatan
c) Penilaian subyektif dari kemungkinan menjadi
korban

Garofalo mengemukakan model umum


tentang fear of crime, yang dijelaskan dalam “A
General Model of the fear of crime and its
Consequenses” (1981:843). Faktor – faktor yang
menyebabkan fear of crime adalah posisi individu
didalam kehidupan social (usia, jenis kelamin,
pendapatannya, lokasi geografisnya, gaya hidup dll),
hal ini yang mempengaruhi informasi tentang
kejahatan yang didapatkan dari:

1) Pengalaman Langsung (sebagai korban atau


saksi)
2) Hubungan interpersonal dengan individu
lainnya secara langsung atau pengalaman
langsung dari orang lain, dan
3) Media massa

Tiga hal yang dikemukakan diatas merupakan


sikap dan kepentingan yang mempengaruhi selektif
informasi terhadap individu, CONTOHNYA,
bagaimana individu cenderung berprasangka
melihat pelaku kejahatan yang ditayangkan dalam
berita di media massa tentang kejahatan, dan
berfikir bahwa orang tersebut jahat. Dan informasi
tentang kejahatan sebagai faktor – faktor yang
menyebabkan fear of crime terhadap kejahatan
terorisme yang mempengaruhi intensitas aktifitas
masyarakat di tempat yang pernah terjadi kejahatan
terorisme. Informasi tentang kejahatan tersebut
membuat individu menggambarkan kejahatan dalam
beberapa hal yaitu:

a. Tingkat kejahatan (saat itu maupun pada


lingkungannya)
b. Sifat kejahatan (proporsi yang relatif dari
berbagai jenis kejahatan)
c. Karakteristik dari pelaku
d. Konsekwensi dari kejahatan (luka, kerugian
dan stigma)

Gambaran ini member informasi kepada


individu tentang isyarat bahaya tentang kejahatan
yang dapat disimpulkan oleh individu seperti
kehadiran orang asing atau “ketidak sopanan” di
lingkungannya.

Kemudian gambaran tentang kejahatan ini


memberikan persepsi tentang risiko terhadap
kejahatan. Ada 4 pertimbangan yang dilakukan
Garofalo dalam menjelaskan gambaran tentang fear
of crime berdasarkan penilaian risiko, yaitu:

a. Prevalensi (beberapa jenis kejahatan di


tempat – tempat dan situasi tertentu)
b. Kemungkinan (menjadi target)
c. Kerentanan (melihat karakteristik individu
sehingga menjadi target)
d. Konsekwensi (luka dan kerugian)

2. Perdagangan anak untuk tujuan prostitusi


adalah mengeksploitasi anak dengan
menjadikannya sebagai pekerja seks dalam
bisnis pelacuran. Coba jelaskan mengapa hal
tersebut dikelompokkan dalam eksploitasi
anak?
Jawaban :

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)


eksploitasi adalah:
eks·ploi·ta·si /éksploitasi/ n 1 pengusahaan;
pendayagunaan: – nikel di daerah itu dilakukan
oleh perusahaan asing; 2 pemanfaatan untuk
keuntungan sendiri; pengisapan; pemerasan
(tenaga orang): – atas diri orang lain merupakan
tindakan yg tidak terpuji.
 Eksploitasi anak adalah pemanfaatan untuk
keuntungan sendiri melalui anak dibawah umur.
Dengan kata lain anak-anak digunakan sebagai
media untuk mencari uang.
 Jadi, Eksploitasi anak itu hanya menguntungkan
pihak atau orang yang memberdayakannya,
sedangkan bagi sang anak itu sendiri yang dia
dapatkan hanyalah kerugian semata. Dalam hal
ini kerugiannya berupa Fisik Dan Psikis anak itu
sendiri.