Anda di halaman 1dari 4

POLIO

1. ACTUATING (PELAKSANAAN)
♣ Kegiatan 1: Mengadakan Imunisasi Massal (Mopping Op)

♣ Kegiatan 2 : Kampanye “Pencegahan polio dengan imunisasi”

1) Penyebaran sticker kepada masyarakat

2) Pemasangan spanduk di tempat-tempat umum

♣ Kegiatan 3 : Pelatihan kepada Kader Posyandu dan Pelaksana Imunisasi

♣ Kegiatan 4 : Penyuluhan kepada Masyarakat akan Pentingnya PHBS danSolusi


Pencegahan Penyakit Polio.

♣ Kegiatan 5 : Pelatihan Surveillens Epedemiologi.

♣ Kegiatan 6 : Mengadakan Surveillens Epidemiologi secara Langsung di Daerah


yang Terkena Wabah Polio

♣ Kegiatan 7 : Sweeping terhadap Anak Balita yang Belum Diimunisasi

1) Mengunjungi rumah keluarga yang memiliki balita

2) Memberi penjelasan yang cukup kepada keluarga tentang imunisasi

3) Diskusi dan tanya jawab

4) Memberikan imuunisasi secara langsung

1. V. CONTROLLING (PENGAWASAN)
1. Mencatat frekuensi kunjungan pada saat imunisasi untuk menentukan efektifitas pelaksanaan
kegiatan dan guna menjangkau keseluruhan cakupan/sasaran imunisasi apakah masih ada balita
yang belum diimunisasi.

2. Melihat dan mengawasi hambatan-hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan secara
keseluruhan yang nantinya menjadi cerminan untuk kegiatan kedepan.

3. Mencatat keluhan-keluhan kader posyandu terhadap kegiatan pelatihan dan keluhan-keluhan


masyarakat terhadap kegiatan penyuluhan agar kedepannya dapat dilakukan perbaikan.
4. Melihat dan mengawasi perkembangan pelaksanaan Surveillens Epidemiologi apakah
berlangsung lancar atau terdapat kendala.

1. VI. EVALUATION (EVALUASI)


Evaluasi kegiatan dapat dilakukan dengan melihat hasil atau data :

1) Frekuensi atau jumlah bayi yang diimunisasi

2) Pre-test dan post-test.

3) Data Survei sebelum imunisasi dan setelah imunisasi.

Adapun criteria keberhasilan pelakksanaan kegiatan/program, yakni :

1) Jumlah balita yang diimunisasi berkisar 90 %

2) Peningkatan pengetahuan dan pemahaman kader posyandu dan pelaksana imunisasi


menjadi 90 %

3) Peningkatan Pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pentingnya PHBS menjadi 75


%

4) Diperolehnya data yang akurat pada pelaksanaan Surveillens Epidemiologi yang dapat
dijadikan bahan perencanaan.

DBD  Hingga kini, belum ada vaksin atau obat antivirus bagi penyakit ini. Tindakan paling
efektif untuk menekan epidemi demam berdarah adalah dengan mengontrol keberadaan dan
sedapat mungkin menghindari vektor nyamuk pembawa virus dengue. Pengendalian nyamuk
tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu:
1. Lingkungan
Pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan mengendalikan vektor nyamuk, antara
lain dengan menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu,
mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan
rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di
sekitar rumah, dan perbaikan desain rumah.

2. Biologis
Secara biologis, vektor nyamuk pembawa virus dengue dapat dikontrol dengan menggunakan
ikan pemakan jentik dan bakteri.

3. Kimiawi
Pengasapan (fogging) dapat membunuh nyamuk dewasa, sedangkan pemberian bubuk
abate pada tempat-tempat penampungan air dapat membunuh jentik-jentik nyamuk. Selain itu
dapat juga digunakan larvasida.
Selain itu oleh karena nyamuk Aedes aktif di siang hari beberapa tindakan pencegahan
yang dapat dilakukan adalah menggunakan senyawa anti nyamuk yang mengandung DEET,
pikaridin, atau minyak lemon eucalyptus, serta gunakan pakaian tertutup untuk dapat melindungi
tubuh dari gigitan nyamuk bila sedang beraktivitas di luar rumah.] Selain itu, segeralah berobat
bila muncul gejala-gejala penyakit demam berdarah sebelum berkembang menjadi semakin
parah.
WHO untuk kawasan Asia Tenggara mengembangkan
beberapa strategi untuk mengendalikan dan mencegah demam berdarah
dengan mengedepankan 6 elemen utama, yaitu6 :
1. Meningkatkan sistem surveillance,
2. Manajemen kasus secara cepat dan efektif,
3. Menerapkan manajemen vektor secara terintegrasi,
4. Meningkatkan kerjasama dan perubahan perilaku berkelanjutan, 5. Mengembangkan
kemampuan tanggap darurat dan menguatkan
kemampuan nasional dan regional untuk menjalankan
pengendalian dan pencegahan demam berdarah,
6. Penelitian mengenai pengendalian vektor.
Mengingat vaksin dan obat untuk menyembuhkan DBD belum tersedia, maka cara yang
dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangannya adalah dengan pengendalian vektor
(nyamuk penular). Di Indonesia telah diketahui terdapat dua spesies nyamuk Aedes yaitu Aedes
aegypti dan Aedes albopictus, spesies pertama sebagai vektor utama dan yang kedua sebagai
vektor sekunder. Pengendalian vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa dan jentiknya.
Pada tahun 1969-1980 pengendalian vektor DBD terutama menggunakan insektisida dengan
penyemprotan seperti fogging dan Ultra Low Volume (ULV) bila terjadi wabah atau KLB. Sejak
tahun 1988 selain dengan penyemprotan, juga dilaksanakan larvasidasi massal untuk membunuh
jentik dan dilakukan Sebelum Musim Penularan (SMP). Mulai tahun 1989 telah dilaksanakan
pengendalian DBD secara terpadu yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan kegiatan
3M (menguras, menutup, mengubur), larvasidasi dan penyemprotan. Penyemprotan massal
Sebelum Masa Penularan dihentikan pada tahun 1998 karena dinilai tidak efektif, sehingga
cakupan penyemprotan hanya berdasarkan fokus kasus.

Untuk meningkatkan efektifitas program pengendalian secara terpadu, dipandang perlu


melakukan program pengendalian nyamuk dan jentik nyamuk DBD melalui Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dengan Gerakan 3M dan/ atau Gerakan 3M Plus oleh semua Tatanan
Masyarakat.

Upaya pengendalian DBD di masyarakat difokuskan pada pencegahan penularan kasus DBD
diantaranya melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Pengendalian Vektor Penular
melalui pemasangan Lavitrap dan Penyelidikan Epidemologi (PE). Kemudian, mengenai upaya
pengendalian DBD pada tingkat klinis dilaksanakan pada tingkat Puskesmas dan rumah sakit
yang difokuskan pada deteksi dini dan pencegahan kematian akibat demam berdarah dengan
diagnosa demam dengue.
Untuk terwujudnya keterpaduan penanganan pemberantasan nyamuk dan jentik nyamuk DBD
dimaksud, perlu adanya dukungan pembiayaaan yang berkesinambungan dari Pemerintah
Daerah. Selain dari pada itu perlu adanya suatu peraturan yang harus dipatuhi bersama oleh
semua Tatanan Masyarakat, sehingga dalam pelaksanaannnya nanti dapat berjalan secara
terkoordinasi, selaras dan saling mendukung, untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Beberapa metode pengendalian vektor sebagai berikut:


1. Metode pengendalian fisik dan mekanik
Contohnya:
- modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M, pembersihan lumut,
penenman bakau, pengeringan, pengalihan/ drainase, dll)
- Pemasangan kelambu
- Memakai baju lengan panjang
- Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier)
- Pemasangan kawat

2. Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic


- predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dll)
- Bakteri, virus, fungi
- Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul,dll)
3. Metode pengendalian secara kimia
- Surface spray (IRS)
- Kelambu berinsektisida
- larvasida

4. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) yaitu dengan memanfaatkan kondisi alam
yang dapat mempengaruhi kehidupan vector. Ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama
5. Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan perlindungan bagi kesehatan
manusia dari gangguan vektor. Ini hanya dapat dilakukan sementara.
a. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement)
b. Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) yaitu dengan
modifikasi/manipulasi lingkungan
c. Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan memanfaatkan musuh alamiah
atau pemangsa/predator, fertilisasi
d. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) yaitu dengan karantina
e. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control) (Afrizal, 2010).

Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai
berikut :
a. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap
berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.
b. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata
lingkungan hidup. (Nurmaini, 2001)