Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nitrit ( NO2 ) merupakan salah satu bentuk senyawa Nitrogen, dalam hal ini nitrit
adalah derivat senyawa nitrogen. Nitrit dalam bentuk senyawa ionik di simbolkan dengan
NO2- yang merupakan hasil oksidasi senyawa ammonia (NH3 dan NH4+ ). Di peraian, nitrit
(NO2-) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit lebih sedikit dari pada nitrat,
karena tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Nitrit (NO2-) merupakan bentuk peralihan
antara amonia dan nitrat. Keberadaan nitrit menggambarkan oksigen terlarut rendah. Sumber
nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. Pada manusia, konsumsi nitrit
berlebihan akan mengakibatkan terganggunya proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin
darah, yang selanjutnya membentuk methemoglobin yang tidak mampu mengikat oksigen.Di
samping itu, NO2- juga menimbulkan nitrosamin pada air buangan tertentu, nitrosamin
tersebut dapat menyebabkan kanker. Untuk mengetahui total kadar nitrit di perairan perlu
diketahui mengingat bahaya nitrit apabila terdapat dalam jumlah yang besar.
Latar belakang dilaksanakannya praktikum ini adalah kekurangpahaman praktikan
mengenai cara menggunakan spektrofotometer dengan baik, kekurangpahaman praktikan
terhadap analisa konsentrasi dan absorbansi larutan nitrit, dan untuk memenuhi kompetensi
akademik mata kuliah Kimia Analitik dan Analisa Lanoratorium Air Laut.

1.2 Tujuan dan Manfaat


1.2.1 Tujuan
1. Membuat larutan yang dibutuhkan dalam analisa nitrit
2. Menganalisis kandungan nitrit dalam sampel air dengan menggunakan
spektrofotometer
1.2.2 Manfaat
1. Mahasiswa dapat membuat larutan yang dibutuhkan dalam analisa nitrit
2. Madasiswa dapat menganalisis kandungan nitrit dalam sampel air dengan
menggunakan spektrofotometer

1.3 Waktu dan Tempat Praktikum


Hari, Tanggal : Sabtu, 1 Oktober 2016
Waktu : 08.00 – 11.00 WIB
Tempat : Laboratorium Pesisir dan Oseanografi Tropis Gedung E Lantai 1
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Nitrit


Nitrit (NO2) merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat (nitrifikasi) dan
antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi) oleh karena itu, nitrit bersifat tidak stabil
dengan keberadaan oksigen. Kandungan nitrit pada perairan alami mengandung nitrit sekitar
0.001 mg/L. kadar nitrit yang lebih dari 0.06 mg/L adalah bersifat toksik bagi organisme
perairan. Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan
bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah (Sanusi, 2006).

2.2 Sumber Nitrit


Nitrit biasanya ditemukan sangat sedikit di perairan alami, kadarnya lebih kecil dari
nitrat karena bersifat tidak stabil. Nitrit merupakan senyawa antara hasil oksidasi amonia.
Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat(nitrifikasi), antara nitrat dan gas
nitrogen (denitrifikasi). Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis
perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut sangat rendah. Sumber nitrit
dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil
karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0,001 mg/L
(Effendi, 2003).

2.3 Distribusi Nitrit


Konsentrasi nitrit di lapisan permukaan lebih kecil daripada lapisan dekat dasar
perairan. Distribusi vertikal nitrit semakin tinggi sejalan dengan bertambahnya kedalaman
laut dan semakin rendahnya kadar oksigen, sedangkan distribusi horizontal kadar nitrit
semakin tinggi menuju kearah pantai dan muara sungai (Hutagalung, 1997).

2.4 Peranan Nitrit di Perairan


Pada sistem budidaya perairan khususnya tambak udang, senyawa nitrit sangat
berbahaya. Senyawa tersebut akan menghambat masuknya oksigen kedalam tubuh hewan
budidaya (udang). Senyawa nitrit masuk dalam tubuh organisme lain melalui insang, pada
kondisi oksigen yang cukup (oxic), nitrit akan berubah menjadi nitrat. Sedangkan pada
kondisi kurang oksigen (anoxic) nitrit akan berubah menjadi amonia. Hal ini disebabkan
karena nitrit merupakan nitrogen yang tidak stabil. Keberadaan nitrit menggambarkan
berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen
terlarut yang rendah. Nitrit yang dijumpai pada air minum dapat berasal dari bahan inhibitor
korosi yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari sistem distribusi PDAM. Nitrit juga
bersifat racun karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak
dapat mengangkut oksigen, disamping itu juga nitrit membentuk nitrosamin (RRN-NO) pada
air buangan tertentu dan dapat menimbulkan kanker. Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah
ion-ion anorganik alami, yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. Aktifitas mikroba di
tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama
menjadi ammonia, kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. Oleh karena nitrit dapat
dengan mudah dioksidasikan menjadi nitrat, maka nitrat adalah senyawa yang paling sering
ditemukan di dalam air bawah tanah maupun air yang terdapat di permukaan (Effendi, 2003).
III. MATERI DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan


Tabel 1.Alat
NO Nama Gambar Fungsi
1. Labu ukur Wadah untuk melakukan pengenceran
100 ml

2. Pipet tetes Memindahkan larutan dalam volume kecil

3. Gelas Beker Wadah larutan sementara


100 ml

4. Botol Sampel Wadah sampel

5. Cuvet Sebagai wadah larutan saat di uji dalam


Spektrofotometer

6. Spektrofotom Untuk menghitung nilai absorbansi larutan


eter UV-Vis
7. Botol Wadah aquades
aquades

8. Tabung Tempat untuk menyimpan larutan


reaksi

9. Gelas ukur Untuk mengukur volume larutan


10 ml

Tabel 2.Bahan

NO Nama Gambar Fungsi


1 Larutan Standar nitrit 10 µmol Sebagai sampel

2 Larutan sulfanilamide Sebagai


indikator

3 Larutan NED ((N – 1 – Sebagai


Napthyl) – indikator
EtylenDiaminedehidrochloride)
4 Aquades Sebagai
pengencer

3.2 Metode
3.2.1 Pembuatan Larutan Standar Nitrit
1. Disiapkan larutan induk nitrit 10 µmol dan 3 buah labu ukur dengan ukuran 100
ml.
2. Larutan induk nitrit diencerkan menjadi konsentrasi 1 µmol, 10µmol, dan
1.5µmol. Larutan induk nitrit dimasukkan dalam labu ukur 100 ml secukupnya dan
ditambahkan aquades secukupnya sesuai perhitungan yang telah dilakukan dengan
rumus pengenceran. Dikocok sampai homogen, diberi label konsentrasi pada tiap
labu ukur.
3. Larutan nitrit masing-masing diambil sebanyak 10 ml dan ditempatkan pada
tabung reaksi yang berbeda.
4. Pada masing-masing larutan nitrit tersebut kemudian ditambahkan 4 tetes larutan
sulfanilamide lalu dihomogekan. Ditunggu sampai 10 menit supaya reagen
tersebut bereaksi secara sempurna.
5. Kemudian pada masing-masing larutan nitrit ditambah 4 tetes larutan NED ((N – 1
– Napthyl) – Etylen Diaminedehidrochloride) lalu dihomogenkan. Ditunggu
selama 20 menit supaya reagen tersebut bereaksi secara sempurna.
6. Masing-masing larutan fosfat dimasukkan ke dalam cuvet yang berbeda sampai
batas tera segitiga.

3.2.2 Pengukuran Nilai Absorbansi


1. Spektrofotometer dinyalakan, ditunggu selama 15 menit.
2. Larutan nitrit dimasukkan sesuai urutan konsentrasi (Larutan blank pada sel B,
Konsentrasi 1 µmol pada sel 1, konsentrasi 10 µmol padasel 2, dan konsentrasi
1.5 µmol pada sel 3) kemudian diaktifkan sel yang akan digunakan.
3. Panjang gelombang pada spektrofotometer diatur dengan panjang gelombang 543
nm.
4. Dipilih measure button, maka akan ditampilkan hasil absorbansi larutan-larutan
tersebut.
5. Nilai absorbansi dari semua larutan dicatat dan dibuat grafik kalibrasi curve
dengan menggunakan Ms. Excel
6. Dibuka Ms. Excel, dan diinput nilai absorbansi dengan menyertakan konsentrasi.
7. Dibuka menu insert, chart, scatter, dan dipilih scatter with smooth lines.
8. Pada kotak grafik yang kosong diklik kanan dan dipilih select data. Pada sumbu X
dimasukkan semua data absorbansi dan pada sumbu Y dimasukkan semua data
konsentrasi.
9. Untuk menampilkan persamaan garis regresi, diklik kanan pada kurva dan dipilih
add trendline. Diceklis display equation on chart dan display R-squared value on
chart.

3.2.3 Diagram Alir Praktikum


3.2.3.1 Larutan Nitrit 1 µmol

Mulai

Diambil 10 ml larutan nitrit 10 µmol dan ditempatkan


pada labu ukur 100 ml

Ditambahkan aquades hingga batas tera lalu digojok


hingga homogen

Larutan diambil 5 ml dan ditaruh pada


tabung reaksi

Ditambahkan sulfanilamide 4 tetes dan


ditunggu 5 menit

Ditambahkan NED 4 tetes dan ditunggu


20 menit

Dimasukkan dalam cuvet dan diukur


nilai absorbansinya dengan
spektrofotometer
Selesai

3.2.3.2 Larutan Nitrit 10 µmol

Mulai

Diambil 12.5 ml larutan nitrit 10 µmol dan ditempatkan


pada labu ukur 100 ml

Ditambahkan aquades hingga batas tera lalu digojok


hingga homogen

Larutan diambil dengan sutikan sebanyak 10 ml

Diambil NH4Cl dengan suntikan hingga


volumenya menjadi 20 ml

Direduksikan dengan kolom reduksi secara perlahan

Larutan diambil 5 ml dan ditaruh pada


tabung reaksi

Ditambahkan sulfanilamide 4 tetes dan


ditunggu 5 menit

Ditambahkan NED 4 tetes dan ditunggu


20 menit

Dimasukkan dalam cuvet dan diukur


nilai absorbansinya dengan
spektrofotometer

Selesai
3.2.3.3 Larutan Nitrat 1.5 µmol

Mulai

Diambil 10 ml larutan nitrit 10 µmol dan ditempatkan


pada labu ukur 100 ml

Ditambahkan aquades hingga batas tera lalu digojok


hingga homogen

Larutan diambil dengan sutikan sebanyak 10 ml

Larutan diambil 5 ml dan ditaruh pada


tabung reaksi

Ditambahkan sulfanilamide 4 tetes dan


ditunggu 5 menit

Ditambahkan NED 4 tetes dan ditunggu


20 menit

Dimasukkan dalam cuvet dan diukur


nilai absorbansinya dengan
spektrofotometer

Selesai
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut
4.1.1 Tabel Data Praktikum
Tabel 3. Data Praktikum Nitrit OSE A Shift 1
Larutan yang diamati Nilai Panjang Konsentrasi
absorbansi gelombang (nm) (µmol)
Larutan Blank 0 543 0
Larutanstandar 1 0.015 543 1
Larutanstandar 2 0.012 543 10
Larutanstandar 3 0.02 543 1.5
Tabel 4. Data Praktikum Nitrit OSE A Shift 2
Larutan yang diamati Nilai Panjang Konsentrasi
absorbansi gelombang (nm) (µmol)
Larutan Blank 0 543 0
Larutanstandar 1 0.033 543 2
Larutanstandar 2 0.035 543 0.05
Larutanstandar 3 0.036 543 2.5
Tabel 5. Data Praktikum Nitrit OSE B Shift 1
Larutan yang diamati Nilai Panjang Konsentrasi
absorbansi gelombang (nm) (µmol)
Larutan Blank 0 543 0
Larutanstandar 1 0.089 543 0.01
Larutanstandar 2 0.069 543 0.05
Larutanstandar 3 0.375 543 0.1
Tabel 6. Data Praktikum Nitrit OSE B Shift 2
Larutan yang diamati Nilai Panjang Konsentrasi
absorbansi gelombang (nm) (µmol)
Larutan Blank 0 543 0
Larutanstandar 1 0.007 543 0.3
Larutanstandar 2 0.01 543 0.5
Larutanstandar 3 0.024 543 1
4.1.2 Perhitungan Konsentrasi Larutan Standar
Kelompok 1 ose b
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 10 micro mol = 100 ml . 0.01 micro mol
100 ml .0.01 micro mol
V1 = 10 micro mol

V1 = 0.1 ml
Kelompok 2 ose b
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 10 micro mol = 100 ml . 0.05 micro mol
100 ml .0.05 micro mol
V1 = 10 micro mol

V1 = 0.5 ml
Kelompok 3 ose b
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 10 micro mol = 100 ml . 0.1 micro mol
100 ml .0.1 micro mol
V1 = 10 micro mol

V1 = 1 ml
Kelompok 4 ose b
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 10 micro mol = 100 ml . 0.3 micro mol
100 ml .0.3 micro mol
V1 = 10 micro mol

V1 = 3 ml
Kelompok 5 ose b
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 10 micro mol = 100 ml . 0.5 micro mol
100 ml .0.5 micro mol
V1 = 10 micro mol

V1 = 5 ml
Kelompok 6 ose b
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 10 micro mol = 100 ml . 1 micro mol
100 ml .1 micro mol
V1 = 10 micro mol

V1 = 10 ml
Kelompok 1 ose a
𝑉1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2
𝑉1 × 10 𝜇𝑚𝑜𝑙 = 100 𝑚𝑙 × 1 𝜇𝑚𝑜𝑙
100 𝑚𝑙 × 1 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 =
10 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 = 10 𝑚𝑙
Kelompok 2 ose a
𝑉1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2
100 × 1,25 𝜇𝑚𝑜𝑙 = 𝑉2 × 10 𝜇𝑚𝑜𝑙
100 𝑚𝑙 × 1,25 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 =
10 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 = 12,5 𝑚𝑙
Kelompok 3 ose a
𝑉1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2
𝑉1 × 10 𝜇𝑚𝑜𝑙 = 100 𝑚𝑙 × 1,5 𝜇𝑚𝑜𝑙
100 𝑚𝑙 × 1,5 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 =
10 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 = 15 𝑚𝑙

Kelompok 4 ose a

𝑉1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2
𝑉1 × 10 𝜇𝑚𝑜𝑙 = 100 𝑚𝑙 × 2 𝜇𝑚𝑜𝑙
100 𝑚𝑙 × 2 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 =
10 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 = 20 𝑚𝑙
Kelompok 5 ose a
𝑉1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2
𝑉1 × 10 𝜇𝑚𝑜𝑙 = 100 𝑚𝑙 × 0,05 𝜇𝑚𝑜𝑙
100 𝑚𝑙 × 0,05 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 =
10 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 = 0,5 𝑚𝑙
Kelompok 6 ose a
𝑉1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2
𝑉1 × 10 𝜇𝑚𝑜𝑙 = 100 𝑚𝑙 × 2.5 𝜇𝑚𝑜𝑙
100 𝑚𝑙 × 2.5 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 =
10 𝜇𝑚𝑜𝑙
𝑉1 = 25 𝑚𝑙
4.1.3 Tabel Absorbansi
Tabel 7. Data Nitrit OSE A Shift 1
Larutan yang diamati Nilaiabsorbansi Panjanggelombang Konsentrasi
LarutanStandar 1 0.015 543 1
LarutanStandar 2 0.012 543 10
LarutanStandar 3 0.02 543 1.5

R2 0.3827
PersGarisRegresi Y = 38.265x + 0.6505
Tabel 8. Data Nitrit OSE A Shift 2
Larutan yang diamati Nilaiabsorbansi Panjanggelombang Konsentrasi
LarutanStandar 1 0.033 543 2
LarutanStandar 2 0.035 543 0.05
LarutanStandar 3 0.036 543 2.5

R2 0.9643
PersGarisRegresi Y = 160.71x – 3.3214
Tabel 9. Data Nitrit OSE B Shift 1
Larutan yang diamati Nilaiabsorbansi Panjanggelombang Konsentrasi
LarutanStandar 1 0.089 543 0.01
LarutanStandar 2 0.069 543 0.05
LarutanStandar 3 0.375 543 0.1

R2 0.7548
PersGarisRegresi Y = 3.2984x + 0.0018
Tabel 10. Data Nitrit OSE B Shift 2
Larutan yang diamati Nilaiabsorbansi Panjanggelombang Konsentrasi
LarutanStandar 1 0.007 543 0.3
LarutanStandar 2 0.01 543 0.5
LarutanStandar 3 0.024 543 1

R2 0.9868
PersGarisRegresi Y = 0.025x – 0.0013
4.1.4 Grafik Absorbansi

Gambar 1. Grafik Absorbansi OSE A Shift 1

Gambar 2. Grafik Absorbansi OSE A Shift 2

Gambar 3. Grafik Absorbansi OSE B Shift 1


Gambar 4. Grafik Absorbansi OSE B Shift 2

4.2 Pembahasan
4.2.1 Perbandingan Nilai Konsentrasi Larutan Standar
Pada Shift 1 Ose A, dilakukan pengenceran terhadap larutan standar nitrit 10 µmol
menjadi larutan nitrit berkonsentrasi 1µmol, larutan nitrit berkonsentrasi 1.5 µmol dan larutan
nitrit berkonsentrasi 10µmol. Pada Shift 2 Ose A, dilakukan pengenceran terhadap larutan
standar nitrit 10 µmol menjadi larutan nitrit berkonsentrasi 2 µmol, larutan nitrit
berkonsentrasi 0.05 µmol dan larutan nitrit berkonsentrasi 2.5 µmol.
Pada Shift 1 Ose B, dilakukan pengenceran terhadap larutan standar nitrit 10 µmol
menjadi larutan nitrit berkonsentrasi 0.01µmol, larutan nitrit berkonsentrasi 0.05µmol, dan
larutan nitrit berkonsentrasi 0.1µmol. Pada Shift 2 Ose B, dilakukan pengenceran terhadap
larutan standar nitrit 10 µmol menjadi larutan nitrat berkonsentrasi 0.3µmol, larutan nitrat
berkonsentrasi 0.5µmol dan larutan nitrat berkonsentrasi 1µmol.
Semakin tinggi konsentrasi maka volume yang dibutuhkan untuk pengenceran juga
semakin besar. Karena dalam konsentrasi yang tinggi ikatan antar ion dan molekul semakin
besar dan semakin kuat seingga untuk memutuskan ikatannya diperlukan pelarut yang banyak
agar ikatan yang ada menjadi renggang dan akhirnya terpisah. Pengenceran dengan
konsentrasi yang berbeda-beda pada tiap shift tersebut dimaksudkan untuk perhitungan nilai
absorbansi dengan spektrofotometer dan kemudian dibuat kurva regresinya. Dimana
seharusnya nilai konsentrasi kecil akan mempunyai nilai absorbansi yang kecil pula dan
begitu juga sebaliknya.
4.2.2 Perbandingan Nilai Absorbansi
Pada shift 1 Ose A terjadi kesalahan, nilai absorbansinya tidak sebanding dengan nilai
konsentrasi yaitu larutan nitrit 1µmol memiliki absorbansi sebesar 0.015, larutan nitrit
10µmol memiliki absorbansi sebesar 0.012, dan larutan nitrit 1.5µmol memiliki absorbansi
sebesar 0.02. Hal yang sama terjadi pada shift 2 Ose A, nilai absorbansinya tidak sebanding
dengan nilai konsentrasi. Larutan nitrit 2µmol memiliki absorbansi sebesar 0.033, larutan
nitrit 0.05 µmol memiliki absorbansi sebesar 0.035, dan larutan nitrit 2.5µmol memiliki
absorbansi sebesar 0.036. Hal ini mungkin diakibatkan kekurangtelitian praktikan saat
mengukur volume larutan untuk pengenceran atau pemilihan cuvet yang kurang tepat dan
banyak goresan. Pengisian larutan pada cuvet yang melebihi batas tera juga mungkin
berpengaruh. Faktor lain mungkin karena kebersihan alat yang kurang terjaga sehingga
larutan tercampur larutan lain yang seharusnya dibilas bersih terlebih dulu.
Pada shift 1 Ose B juga terjadi kesalahan, nilai absorbansinya tidak sebanding dengan
nilai konsentrasi yaitu larutan nitrit 0.01µmol memiliki absorbansi sebesar 0.086, larutan nitrit
0.05µmol memiliki absorbansi sebesar 0.069, dan larutan nitrit 0.1µmol memiliki absorbansi
sebesar 0.375. Hal tersebut dapat dikarenakan faktor-faktor di atas. Pada shift 2 Ose B
percobaan berhasil, nilai absorbansinya sebanding dengan nilai konsentrasi yaitu larutan nitrit
0.3µmol memiliki absorbansi sebesar 0.007, larutan nitrit 0.5µmol memiliki absorbansi
sebesar 0.01, dan larutan nitrit 1µmol memiliki absorbansi sebesar 0.024. Semakin besar
konsentrasi, nilai absorbansi suatu larutan semestinya semakin besar.

4.2.3 Perbandingan Nilai Regresi


Nilai regresi kurva yang dibuat pada data masing-masing shift diketahui sebesar
0.3827 untuk Ose A shift 1, 0.9643 untuk Ose A shift 2, 0.7548 untuk Ose B shift 1, dan
0.9868 untuk Ose B shift 2. Dapat dilihat bahwa tidak ada satu kelompok pun yang memiliki
nilai regresi 1 yang mana nilai regresi suatu grafik dikatakan baik apabila nilainya satu. Nilai
regresi ini cukup rendah dan dapat disimpulkan bahwa praktikum nitrit ini tidak berjalan
sempurna. Akan tetapi juga dapat dilihat terdapat dua shift yang memiliki nilai regresi
mendekati 1 yaitu Ose B shift 2 dan Ose A shift 2. Terdapat dua grafik nitrit dari Ose B shift
1 dan Ose A shift 1 yang bentuknya tidak menyerupai maupun mendekati garis lurus tetapi
cukup melenceng jauh. Grafik regresi yang paling baik adalah Ose B shift 2, lalu Ose A shift
2, Ose B shift 1, dan yang memiliki nilai terendah adalah Ose A shift 1. Dari hasil tersebut,
diketahui bahwa praktikan kurang cermat dan teliti, serta perlakuannya terhadap alat dan
bahan praktikum cenderung ceroboh.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

4.3 Kesimpulan
1. Pada shift 1 Ose A, dilakukan pengenceran terhadap larutan nitrit menjadi
konsentrasi 1 µmol, 10 µmol, dan 1.5 µmol. Pada shift 2 Ose A, dilakukan
pengenceran terhadap larutan nitrit menjadi konsentrasi 2 µmol, 0.05µmol, dan 2.5
µmol. Pada shift 1 Ose B, dilakukan pengenceran terhadap larutan nitrit menjadi
konsentrasi 0.01 µmol, 0.05 µmol, dan 0.1µmol. Pada shift 2 Ose B, dilakukan
pengenceran terhadap larutan nitrit menjadi konsentrasi 0.3µmol, 0.5µmol, dan 1
µmol.
2. Analisis larutan nitrit dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 543 nm
diperoleh nilai absorbansi 0.015, 0.012, dan 0.02 untuk Ose A shift 1 dan
regresinya 0.3827. Nilai absorbansi ose A shift 2 adalah 0.033, 0.035, dan 0.036
dan regresinya 0.9643. Nilai absorbansi ose B shift 1 adalah 0.089, 0.069, dan
0.096 dan regresinya 0.7548. Nilai absorbansi ose B shift 2 adalah 0.007, 0.01, dan
0.024 dan regresinya 0.9868.

4.4 Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, disarankan kepada mahasiswa untuk
lebih teliti dan hati-hati saat praktikum agar mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Hutagalung, Horas P, Deddy Setiapermana, dan Hadi Riyono. 1997. Metode Analisis Air
Laut,Sedimendan Biota. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Sanusi, Harpasis. 2006. Kimia Laut Proses Fisik Kimia dan Interaksinya dengan Lingkungan.
Institut Pertanian Bogor : Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Bogor.