Anda di halaman 1dari 6

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN

Hari/tanggal : 15 oktober 2018


Nama klien : Tn. Y
No. MR :
Dx / SP ke / Pertemuan ke :I
Nama perawat pelaksana : Perawat wulan
Harga diri rendah

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien : klien tampak sering melamun, tidak bersemangat, lebih suka menyendiri, tampak
sedih, tidak menatap lawan bicara, bicara lambat, dan nada suara lemah
2. Diagnosa : harga diri rendah
3. Tujuan umum : mengatasi gangguan harga diri rendah klien.
4. Tujuan khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
c. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
d. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan.
5. Tindakan :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Tindakan :
 Bina hubungan saling percaya : Salam terapeutik, Perkenalan diri, Jelaskan tujuan inteniksi,
Ciptakan lingkungan yang tenang, Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik
pembicaraan).
 Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
 Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
 Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab
serta mampu menolong dirinya sendiri.
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan :
 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
 Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang
realistis.
 Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
c. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :
 Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
d. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :
 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan.
Tindakan :
 Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
 Beri pujian atas keberhasilan
 Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.

B. STRATEGI PELAKSANAAN
1. Orientasi :
 Salam Teraupetik
P: “ Om Swastiastu, Selamat pagi pak… Saya perawat yang bertugas pada pagi ini, perkenalkan
nama saya perawat wulandari, Bapak bisa memanggil saya perawat wulan saja. Saya adalah
mahasiswa dari Poltekkes denpasar. Tujuan saya kesini adalah untuk mengetahui perkembangan
Bapak. Kalau boleh saya tahu Nama Bapak siapa? “
K: “Yusuf Pratama”
P: “Bapak senangnya dipanggil siapa?”
K: “Yusuf saja sus... “
 Evaluasi/validasi
P: “Oke Bapak Yusuf, bagaimana perasaan Bapak hari ini? “ semalam tidurnya nyenyak?”
K: “biasa saja sus, tidur saya tidak terlalu nyenyak sus.”

 Kontrak
P: “Adakah yang Bapak pikirkan? Bagaiman kalau kita bercakap-cakap tentang perasaan yang
Bapak rasakan?”
K:“hmmmm...boleh sus”
P:”Mau berapa lama, Pak? bagaimana kalau 30 menit? Kita bicaranya disini saja ya, Pak....
K: “iya, sus...”

2. Kerja :
P: “Nah...sekarang coba Bapak ceritakan apa yang Bapak rasakan saat ini”
K: “Bagaimana ya, sus. Sebenarnya saya malu menceritakannya pada suster.”
P: “Tidak apa-apa, Pak. Tidak usah malu, saya akan mencoba membantu Bapak semampu saya”
K: “Begini, sus. Saya....... saya merasa tidak berguna lagi hidup didunia ini, saya merasa tidak
berarti lagi, saya.....saya....ingin mati saja suster”
P: “Jangan bicara seperti itu Bapak, sebenarnya ada masalah apa sebenarnya sehingga Bapak jadi
punya pikiran seperti itu?”
K: “hmmmmmm......sebenarnya saya dulu adalah seorang penyanyi yang lumayan terkenal sus.
Bagi saya menyanyi adalah segalanya, oleh karena itu saya selalu menyempatkan latihan dimana
saja. Tapi, ternyata karena terlalu berlebihan, saya mengalami radang tenggorokan akut. Padahal
2 hari kemudian saya akan ada konser. Karena kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya konser
pertama saya itu dibatalkan. Semua penonton saat itu kecewa dan banyak juga yang marah.”
P: “Bagaimana perasaan Bapak saat itu?”
K: “Hufffff... saya benar-benar terpukul saat itu. Itu adalah konser yang saya tunggu-tunggu
setelah 5 tahun berjuang untuk meniti karir diseni musik. Namun semuanya lenyap sudah. Tidak
hanya sampai disitu, pihak penyelenggara konser marah besar dan menuntut ganti rugi karena
pembatalan konser dan biaya kerusakan akibat penonton yang mengamuk. Terpaksa hasil kerja
keras saya selama ini digunakan untuk membayar gantu rugi tersebut. Yang membuat saya
semakin terpukul, pihak label rekaman saya memutuskan kerjasama kami karena menganggap
saya sudah tidak dapat diharapkan lagi. Saya jatuh bangkrut dan tidak dapat membiayai orang tua
dan sekolah adik saya lagi sehingga adik saya harus putus sekolah dan selalu diolok-olok teman-
temannya kalau dia adalah adik dari penyanyi gagal sehingga adik saya tidak mau bertemu lagi
dengan saya...saya benar-benar seorang anak dan kakak yang tidak berguna suster. Saya gagal
membahagiakan Ibu dan adik saya. Saya hanya meninggalkan malu bagi mereka...”.
P: “Bapak...jangan berbicara seperti itu. Bapak adalah orang yang luarbiasa, Bapak bisa
menghadapi cobaan seperti ini. Tidak semua orang bisa mampu menghadapi masalah ini seperti
Bapak. Ibu Bapak pasti bangga memiliki anak yang pekerja keras, berbakti, dan penyayang seperti
Bapak. Nah..tanggapan Ibu Bapak terhadap masalah ini bagaimana?”
K: “Ibu saya selalu menguatkan saya, sus”
P: “Tu kan...benar...Ibu Bapak bangga dengan Bapak dan berharap Bapak dapat menghadapi
masalah ini dengan tegar dan bisa meraih kesuksesan kembali. Oy, suara Bapak sekarang sudah
sembuh kan? Bapak tidak mau mencoba bernyanyi lagi?”
K: “Tidak suster. Saya sudah trauma dan tidak percaya diri lagi untuk bernyayi. Saya takut
kejadian yang dulu terulang kembali. Saya takut nantinya ditertawakan lagi sebagai penyanyi gagal
oleh orang-orang. Apalagi saya kan sudah berumur, sus. Saat ini kan penyanyi yang disukai itu
adalah penyanyi muda yang ganteng dan gagah. Saya sendiri sudah tidak muda lagi dan tidak
ganteng pula tu”
P: “wah...siapa bilang Bapak tidak ganteng dan gagah? Juga tidak semua orang yang melihat
penyanyi dari tampangnya, Pak. Masih banyak kok yang menyukai penyanyi yang sudah berumur
tapi memiliki kualitas yang bagus. Tidak ada salahnya mencoba kan, Pak. Mungkin pada
kesempatan kali ini Allah memberikan karunianya kepada Bapak sehingga Bapak bisa berhasil”
“kalau Bapak tidak mau jadi penyanyi lagi, lalu Bapak rencananya mau mencoba bidang apa?
Kalau boleh tahu apa bakat Bapak yang lain?”
K: “Saya merasa tidak punya bakat lain, sus. sejak kecil saya hanya suka menyanyi. Bagi saya
musik sudah menjadi bagian dari hidup saya”.
P: “Hmmm...begini Bapak. Coba Bapak ingat, apa yang membuat label rekaman Bapak dulu
percaya untuk mengorbitkan Bapak, padahal kan banyak sekali saingan yang hebat?”
K: “kata pihak label, waktu saya ikut audisi dulu, mereka tertarik dengan semangat saya untuk
menjadi penyanyi. Semangat pantang menyerah saya yang terus berjuang mencapai impian selama
bertahun-tahun dan sudah sering ditolak. Selain itu, katanya saya orang yang pekerja keras dan
tidak mudah puas.”
P: “Wah....benar kan, Bapak punya banyak kemampuan dan semangat yang luar biasa. Bapak
memiliki banyak aspek positif yang dapat mendukung Bapak.”
Lalu menurut Bapak dengan potensi dan aspek positif seperti itu apakah Bapak dapat meraih
impian Bapak lagi?”
K: “ Bisa sih sus”
P: “Menurut Bapak bagaimana caranya?”
K: “ya... saya bisa berlatih menyanyi lagi dan mencoba ikut audisi lagi atau menghubungi teman
saya yang juga seorang musisi untuk membantu”
P: “Nah...sekarang Bapak sudah tahu kan kalau dengan melihat aspek posistif dan potensi yang
Bapak miliki, kita bisa mencari pemecahan masalah yang Bapak hadapi”
K: “iya, sus. Ternyata saya selama ini terlalu berpikiran sempit dan kurang menghargai diri sendiri,
sus. “

3. Terminasi :
 Evaluasi
Evaluasi subjektif:
P: “Oke Bapak, tidak terasa kita sudah berbincang begitu lama, bahkan sudah lewat sedikit dari
30 menit janji kita ya, Pak.” Bagaimana perasaan Bapak setelah kita berbincang tadi?”
K: “ Wah...saya sangat senang dan lega, suster. Ternyata ada banyak hal yang saya miliki yang
tidak saya sadari dapat membantu saya untuk dapat bangkit kembali”
P: “yop, benar sekali Bapak....

Evaluasi objektif
P: “coba Bapak sebutkan lagi apa saja hal positif dan potensi Bapak tadi”
K: “ saya mempunyai semangat yang tinggi, pantang menyerah, dan pkerja keras, sus...hehehehe
P: “lalu bagaimana hubungan dengan kemampuan pemecahan masalah Bapak?”
K: “kalau saya mampu melihat aspek positif dan potensi saya, tentu saya bisa mencari jalan keluar
dari masalah saya, suster”
P: “ benar....sekali, Pak”
 Tindak lanjut
P:“Nah Bapak, dari hasil perbincangan kita yang seru tadi, Bapak bertekad akan mulai latihan
bernyanyi lagi untuk mencoba menggapai impian Bapak lagi. Selain itu, Bapak juga bisa lebih
menggali dan mengasah lagi kemampuan dan potensi Bapak yang lain yang Bapak miliki.”

 Kontrak yang akan datang


P: “ok Bapak, besok saya akan kesini lagi untuk membicarakan tentang apa saja hal yang dapat
meningkatkan harga diri Bapak. Bagaimana kalau kita berbincang disini lagi pada jam yang sama,
Pak?
K: “Boleh suster, saya akan seang sekali, sus”
P: “Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak. Sampa bertemu besok. Assalamualaikum.......
K: “waalaikumsalam sus....”